BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum (Tentang) Profesi Kenotariatan 1. Sejarah Singkat Profesi Notaris Istilah Notaris pada dasarnya berasal dari perkataan “notarius" yakni nama yang diberikan kepada orang-orang Romawi di mana tugasnya menjalankan pekerjaan menulis pada masa itu. Ada juga pendapat mengatakan bahwa nama Notaris berasal dari perkataan “nota literia”, berarti tanda atau karakter yang menyatakan suatu perkataan. Notaris dalam pemerintahan gereja sebagai suatu college tertutup dan dikepalai oleh primicerius notarium yang pada mulanya merupakan pejabat administrasi lambat laun telah menjadi kebiasaan bahwa sengketa hukum oleh Paus diserahkan kepada Dewan Konselirnya untuk memutuskan hal tersebut dan notaris ikut memberikan pertimbangan. Tidak hanya dilingkungan gereja saja, istilah notarius pun dikenal dilingkungan kerajaan. Pada abad kelima dan keenam istilah notarius diberikan kepada penulis atau sekretaris raja. Dalam perkembangannya pada akhir abad kelima sebutan notaris diperuntukkan pula bagi pegawai-pegawai istana yang melakukan pekerjaan administratif. Khusus terbatas untuk kepentingan istana, sedangkan untuk kepentingan masyarakat umum dilayani oleh tabelliones pejabat yang memberikan pelayanaan penulisan bagi masyarakat umum. Pada dasarnya peranan pejabat ini kurang lebih sama dengan peranan Notaris pada zaman sekarang, hanya saja tidak bersifat embtelijike sehingga tulisan-tulisan yang dibuatnya tidak otentik. Baru pada abad ketiga belas akta notaris bersifat sebagai akta umum yang diakui, dan pada abad kelima belas akta yang dibuat notaris digunakan untuk kepentingan dan mempunyai kekuatan pembuktian walaupun tidak pernah diakui secara umum.

7

Profesi kenotariatan di Indonesia dibawa masuk dan dikenalkan oleh Belanda diawal abad ke tujuh belas yang waktu itu sudah menjajah Indonesia. Notaris pertama disebut sebagai notarium publicum diangkat dan diambil sumpahnya oleh gubernur Jendral J. P. Coen, maksudnya agar dalam melaksanakan tugas jabatannya sebagai notarium publicum berlaku tulus, setia, baik, dapat dipercaya serta tidak melakukan Frande

(penggelapan/korupsi). Tugas Notaris pertama ini adalah melayani serta melakukan semua libel/smaadschribt (bahasa latin, libellus-buku atau surat, selebaran atau pamflet), surat wasiat dibawah tangan (codcil), akta kontrak perdangangan, perjanjian kawin, surat wasiat (tertament) serta akta-akta dan ketentuan-ketentuan yang perlu dari kota praja untuk kepentingan penjajah Belanda. Dikatakan demikian, karena sebelum Indonesia merdeka lembaga notariat hanya berlaku bagi sebagian Eropah dan mereka yang tunduk. Regulasi pertama kali tentang kenotariatan dikeluarkan pemerintah Belanda dalam bentuk instructive berupa petunjuk atas syarat-syarat jabatan. Dalam instructie tanggal 16 Juni 1625, meliputi 10 pasal yang sarat dengan nilai-nilai etika, antara lain sebagai berikut: 1. Notaris minimal harus memiliki pengetahuan tentang hukum (costumen, statuyten en rechten) dari negeri-negeri dibawah kekuasaan Belanda. 2. Notaris harus diuji lebih dahulu 3. Notaris harus memberi jaminan sanggup tidak melakukan kesalahan atau kealpaan. 4. Notaris harus menyelenggarakan protocol daftar yang setiap waktu diperlihatkannya kepada ketua pengadilan (raet) dan kejaksaan (magis traet) dikota yang bersangkutan. 5. Notaris tanpa pandang pilih harus melakukan jabatan mereka sebaikbaiknya, bila perlu melayani fakir miskin dengan gratis dan prodeo. 6. Notaris tidak akan melakukan atau menerima pemalsuan-pemalsuan (barang, alat, dan lain-lain)

8

7. Notaris memegang teguh rahasia jabatan 8. Notaris tidak akan membuat akta untuk kepentingan atau keperluan pribadi 9. Notaris tidak akan mengeluarkan salinan akta selain untuk yang berkepentingan (belaghebbende) Dalam perkembangannya kemudian, pemerintah Belanda melakukan penyesuaian regulasi jabatan notaris di Indonesia dengan mengeluarkan stb no. 3 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1860. Dikatakan dengan diundangkannya notaris Reglement stb no. 3 1860 ini dianggap sebagai pondasi dan dengan pelembagaan notaris di Indonesia. Dikatakan demikian karena, pemerintah orde reformasi mengeluarkan Undang-undang nomor 30 Tahun 2001 tentang jabatan notaris yang banyak sebagai pengambil jati pertahanan jabatan notariat stb 1860-3 dan Reglement of Het Notaris Ambet in Indonesia (Stb 1860:3) peraturan pemerintah colonial Belanda. Dengan adanya UUJN tersebut para notaris dalam melakukan tugas dan fungsinya dapat mengikuti perkembangan hukum dan kebutuhan masyarakat yang bergerak semakin maju dan menginginkan adanya perlindungan dan jaminan kepastian hukum.

2. Pengertian, kewenangan, dan kewajiban notaris Pengertian notaris menurut pasal 1 Undang-undang Jabatan Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta otentik dan kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini. Menurut pasal 1 UUJN jelas bahwa notaris adalah pejabat umum, artinya orang yang diangkat untuk bertugas menjalankan amanat jabatan-jabatannya dengan maksud dan tujuan melayani kepentingan umum atau masyarakat. Walaupun notaris selaku pejabat umum yang dilengkapi dengan kekuasaan umum (regel) untuk melayani kepentingan umum (public service) serta mempunyai jangkauan publik, tetapi notaris bukanlah pegawai negeri seperti

9

yang dimaksud oleh peraturan dan perundang-undangan yang mengatur kepegawaian. Begitu pula notaris sebagaimana yang dijelaskan didalam pasal 1 angka 1 UUJN tidak dapat digolongkan, atau dipersamakan dengan pejabat tata usaha Negara seperti yang disebutkan didalam pasal 1 angka 1 dan undang-undang no 9 tahun 2004 tentang peradilan tata usaha negara. Kendatipun notaris diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah namun notaris tidak menerima gaji dan pensiun dari pemerintah. Penghasilan notaris didapat dari honorarium kliennya yang biasanya diatur oleh pemerintah. Notaris adalah swasta yang terikat dengan peraturan jabatannya dan notaris bebas menjalankan profesinya. Arti penting profesi notaris menurut undang-undang diberi wewenang menciptakan alat pembuktian mutlak, artinya bahwa apa yang disebut dalam akta otentik itu dianggap benar. Hal ini sangat penting untuk masyarakat yang membutuhkan alat pembuktian untuk maksud dan keperluan tertentu. Selanjutnya menurut pasal 15 UUJN menyatakan bahwa kewenangan notaris adalah sebagaimana berikut ini: (1) Notaris berwenang membuat akta otentik mengenai semua perbuatan perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundangundangan dan atau yang dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan suatu akta otentik, menjamain kepatisan tanggal pembuatan akta, penyimpanan akta memberikan grosse, salinan dan kutipan akta, semuanya sepanjang pembuatan akta-akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang. (2) Notaris berwenang pula: a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat dibawah tanagn dengan mendaftar dalam buku khusus; b. Membukukan surat-surat dibawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus;

10

c. Membuat copi dari asli surat-surat dibawah tangan berupa salinan yang membuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan; d. Melakukan pengesahn kecocokan fotocopi dengan surat aslinya; e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan akta; f. Membuat akta yang berkaitan dengan pertanahan; atau g. Membuat hasil risalah lelang. (3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Maksud dipergunakannya kata berwenang (beveogheid) dalam pasal 15 angka 1 UUJN diatas adalah untuk menegaskan bahwa notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya mempunyai wewenang untuk itu, wewenang notaris meliputi/mencakup empat hal yaitu: 1. Notaris berwenang sepanjang menyangkut isi akta yang dibuat, baik berupa akta partij, maupun akta relaas (ambtelijke acta). 2. Notaris berwenang sepanjang mengenai orang-orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat. 3. Notaris berwenang sepanjang dimana akta itu dibuat. 4. Notaris berwenang sepanjang waktu pembuatan akta itu dibuat.

Kewajiban Notaris Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) Pasal 1868 menyatakan bahwa Akta otentik adalah suatu akta yang didalam bentuk yang ditentukan oleh Undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat dimana akta itu dibuatnya. Akta otentik berfungsi sebagai bukti tertulis, sehingga bila dikaitkan dengan kewenangan yang dimiliki oleh Notaris sebagai pejabat umum yang

11

berwenang membuat akta otentik, maka fungsi Notaris sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam hal adanya kepastian hukum tentang perbuatan-perbuatan dan perjanjian-perjanjian yang masyarakat laksanakan dalam kehidupannya. Untuk maksud ini seharusnya Notaris sebagai penyuluh hukum berkewajiban memberikan penerangan dan penjelasan hukum kepada para pihak/masyarakat yang berkaitan dengan isi materi akta, maksudnya agar para pihak/masyarakat memahami akan kemungkinan-kemungkinan konsekuensi hukum dari akta yang dibuat tersebut. Kewajibannya lainnya sesuai dengan ketentuan pasal 18 angka 1 dan angka 2 serta pasal 19 UUJN bahwa setiap notaris wajib untuk mempunyai tempat kedudukan kantor dan tempat tinggal yang jelas sesuai dengan ketentuan wilayah/daerah penetapan yang diberikan kepadanya. Notaris juga wajib menyimpan aktanya ditempat kedudukan yang ditunjuk baginya. Begitu pula notaris wajib mencatat akta-akta dibawah tangan yang disahkan serta menyampaikan salinannya yang di akui keabsahannya dari repontorium dan daftar-daftar akta-akta yang dibuat pada tahun-tahun yang lampau. Disamping itu, Notaris juga wajib membuat daftar surat wasiat yang dibuatnya serta memberitahukannya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya kepada yang berkepentingan kewajiban lainnya, menurut pasal 37 UUJN bahwa notaris wajib memberikan jasa hukum di bidang kenotarisan secara Cuma-cuma kepada anggota masyarakat yang tidak mampu yang

membutuhkan jasa notariat dengan menyatakan ketidakmampuannya sesuai dengan pasal 875 kitab undang-undang hukum perdata. Di samping itu, menurut Dr. Herlien Budiono, SH klasifikasi

kewajiban lainnya notaris adalah sebagai berikut : *) a. Kewajiban umum: 1. Notaris senantiasa melakukan tugas jabatan menurut ukuran yang tertinggi dengan amanah, jujur, seksama, mandiri dan tidak berpihak;

*). Dr. Herlin Budiono, SH, Spirit Kode Etik Notaris Dan Emplimentasinya, Majalah Notariat, Majalah Informasi Dan Referensi, Edisi 10 Januari 2009, Halaman 42-43.

12

2. Notaris

dalam

menjalankan

jabatannya

jangan

dipengaruhi

olehpertimbangan keuntungan pribadi; 3. Notaris tidak memuji diri sendiri, dan tidak memberikan imbalan atas pekerjaan yang diterimanya; 4. Notaris hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya; 5. Notaris berusaha menjadi penyuluh masyarakat dalam bidang jabatannya; 6. Notaris hendaknya memelihara hubungan sebaik baiknya dengan para pejabat pemerintah terkait maupun dengan para profesional hukum lainnya; b. Kewajiban notaris terhadap klien 1. Notaris wajib bersikap tulus ikhlas terhadap klien dan

mempergunakan segala sumber keilmuannya. Apabila ia tidak (cukup) menguasai bidang hukum tertentu dalam pembuatan akta, maka wajiblah ia berkonsultassi dengan rekan lain yang mempunyai keahlian dalam masalah yang bersangkutan. 2. Notaris wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang masalah klien karena kepercayaan yang telah diberikan kepadanya, bahkan setelah klien meninggal dunia. c. Kewajiban notaris terhadap rekan notaris 1. Notaris memperlakukan rekan notaris sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan. 2. Notaris tidak boleh merebut klian atau karyawan dari rekan notaris. d. Kewajiban notaris terhadap dirinya sendiri 1. Notaris harus memelihara kesehatannya baik rohani dan jasmani. 2. Notaris hendaknya senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tetap setia kepada cita-cita yang luhur.

13

3. AKTA – AKTA NOTARIS Seperti diketahui pentingnya keberadaan notaris menurut UUJN adalah untuk pembuatan akta otentik dalam raangka ketertiban, perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat. Dikatakan demikian karena akta otentik notaris dibuat dalam bentuk menurut itu hukum perdata pasal 1868 yang dari asal mula pembuatannya dengan sengaja secara resmi dibuat untuk pembuktian jika kelak dikemudian hari terjadi sengketa. Artinya akta notaris disusun juga mengikuti dan sesuai dengan kaidah-kaidah hukum pembuktian sebagai akta notaris ini berfungsi sebagai alat bukti tertulis, yang kuat sehingga fungsi akta otentik sebagai pencegahan (preventif) kemungkinankemungkinan masalah hukum terpenuhi dan pada gilirannya akan menjaga ketertiban, perlindungan hukum dan kepastian bagi masyarakat. Dalam kaitan akta otentik notaris sebagai alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian terkuat Prof Dr Abdul Ghofur Anshori, SH, MH dengan menunjuk kepada RI membedakan tiga macam kekuatan pembuktian yaitu : 1. Kekuatan pembuktian lahiriah (Uitwendige bewijskracht) Uitwendige bewijskracht merupakan kekuatan pembuktian dalam artian kemampuan dari akta itu sendiri untuk membuktikan dirinya sebagai akta otentik. Kemampuan ini berdasarkan Pasal 1875 KUH Perdata yang tidak dapat diberikan kepada akta yang dibuat dibawah tangan baru berlaku sah, yakni sebagai yang benar-benar berasal dari pihak, terhadap siapa akta tersebut dipergunakan, apabila yang menandatanganinya mengakui kebenaran dari tanda tangannya itu atau apabila itu dengan cara yang sah menurut hukum yang telah diakui oleh yang bersangkutan. Sementara akta otentik membuktikan sendiri keabsahannya (acta publica probant sese ipsa). Apabila nampak sebagai akta otentik, artinya menandakan dirinya dari luar, dari katakatanya sebagai yang berasal dari seorang dari pejabat umum, maka akta itu terhadap setiap orang dianggap sebagai akta otentik sebagai akta otentik sampai dapat dibuktikan bahwa akta tersebut bukanlah suatu akta otentik.

14

2. Kekuatan pembuktian formal (Formale bewijskracht) Adapun, formale bewijskracht ialah kepastian bahwa sesuatu kejadian dan fakta yang disebut dalam akta betul-betul dilakukan oleh notaris atau diterangkan oleh pihak-pihak yang menghadap. Artinya bahwa pejabat yang bersangkutan telah menyatakan dalam tulisan yang tercantum dalam akta itu sebagai yang dilakukan dan disaksikannya di dalam jabatannya itu. Dalam arti formal, sepanjang mengenai akta pejabat (ambtelijike acte), akta itu membuktikan kebenaran dari apa yang disaksikan, yakni yang dilihat, didengar dan juga dilakukan sendiri oleh notaris sebagai pejabat umum didalam menjalankan jabatannya. Pada akta dibawah tangan kekuatan pembuktian ini hanya meliputi kenyataan bahwa keterangan itu diberikan, apabila tanda tangan yang tercantum dalam akta dibawah tangan itu diakui oleh orang yang menandatanganinya atau dianggap sebagai telah diakui menurut hukum. Dalam arti formal, terjamin kebenaran/kepastian tanggal dari akta otentik tersebut, kebenaran tanda tangan yang terdapat dalam akta itu, identitas dari orang-orang yang hadir (comparanten), demikian juga tempat akta itu dibuat. Sepanjang mengenai acte patij bahwa para pihak yang ada menerangkan seperti yang diuraikan dalam akta itu, sedang kebenaran dari keteranganketerangan itu sendiri hanya pasti antara pihak-pihak sendiri. Pada akta otentik berlaku kekuatan pembuktian formal dan berlaku terhadap setiap orang yakni apa yang ada dan terdapat diatas tanda tangan mereka. Namun terdapat kekecualian atau pengingkaran atas kekuatan pembuktian formal ini. Pertama pihak penyangkal dapat langsung tidak mengakui bahwa tanda tangan yang dibubuhkan dalam akta tersebut adalah tanda tangannya.pihak penyangkal dapat menyatakan bahwa tanda tangan yang kelihatannya sebagai yang dibubuhkan olehnya ternyata dibubuhkan oleh orang lain dan karenanya dalam hal ini terjadi apa yang dikenal sebagai pemalsuan tanda tangan. Kedua, pihak penyangkal dapat menyatakan bahwa

15

Notaris dalam membuat akta melakukan suatu kesalahan atau kehilafan (ten onrechte) namun tidak menyangkal tanda tangan yang ada di dalam akta tersebut. Artinya pihak penyangkal tidak mempersoalkan formalitas akta namun mempersoalkan substansi akta. Dengan demikian yang dipersoalkan adalah keterangan dari Notaris yang tidak benar (intelectuele valsheid). Pihak penyangkal tidak menuduh terdapat pemalsuan namun menuduhkan suatu kehilafan yang mungkin tidak sengaja sehingga tuduhan tersebut bukan pada kekuatan pembuktian formal melainkan kekuatan pembuktian material dari keterangan Notaris tersebut. Dalam membuktikan hal ini menurut hukum dapat digunakan segala hal yang berada dalam koridor hukum formil pembuktian.

3. Kekuatan pembuktian material (materiele bewijskracht) Materiele bewijskracht ialah kepastian bahwa apa yang tersebut dalam akta itu merupakan pembuktian yang sah terhadap pihak-pihak yang membuat akta atau mereka yang mendapat hak dan berlaku untuk umum, kecuali ada pembuktian sebaliknya (tegenbewijs). Artinya tidak hanya kenyataan yang dibuktikan oleh suatu akta otentik, namun isi dari akta itu dianggap dibuktikan sebagai yang benar terhadapa setiap orang, yang menyuruh adakan/buatkan akta itu sebagai tanda bukti terhadap dirinya (preuve preconstituee). Akta otentik dengan demikian mengenai isi yang dimuatnya berlaku sebagai yang benar, memiliki kepastian sebagai yang sebenarnya maka menjadi terbukti dengan sah di antara para pihak oleh karenanya apabila digunakan di muka pengadilan adalah cukup dan bahwa hakim tidak diperkenankan untuk meminta tanda pembuktian lainnya di samping akta otentik tersebut. Hakim terikat dengan alat bukti otentik sebab jika tidak demikian maka dapat dipertanyakan apa gunanya undang-undang menunjuk para pejabat yang ditugaskan untuk membuat suatu akta otentik sebagai alat

16

bukti bila hakim dapat begitu saja mengesampingkan akta yang dibuat oleh pejabat tersebut. Akta otentik dapat dibagi menjadi akta yang dibuat oleh pejabat (acte ambtelijk, procesverbaal acte, verbaalakte) dan akta yang dibuat oleh para pihak (partijakte). Acte ambtelijk merupakan akte yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu, pejabat tersebut menerangkan apa yang dilhat serta apa yang dilakukannya. Inisiatif acte ambtelijk berasal dari pejabat yang bersangkutan dan tidak berasal dari orang yang namanya tercantum dalam akta. Sedangkan partijakte (akte pertij) adalah akta yang dibuat dihadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu. Partijakte dibuat oleh pejabat atas permintaan pihak-pihak yang berkepentingan. Mengenai dua macam akta ini dapat dikemukakan perbedaan dari sisi sifatnya. Dalam acte ambtelijk, akta ini masih sah sebagai suatu alat pembuktian apabila ada satu atau lebih di antara penghadapnya tidak menandatangani, asal saja oleh Notaris disebutkan apa sebabnya ia atau mereka tidak menandatanganinya. Sedangkan dalam partijakte hal yang demikian itu akan menimbulkan akibat yang lain. Sebab apabila dalam partijakte salah satu pihak tidak menandatangani aktanya, misalnya dalam perjanjian kerjasama, sewa menyewa dan lain sebagainya maka tidak menandatanganinya salah satu pihak dapat diartikan bahwa pihak tersebut tidak menyetujui perjanjian tersebut kecuali apabila tidak menandatanganinya itu didasarkan atas alasanalasan yang kuat, terutama dalam bidang fisik. Artinya tidak

ditandatanganinya akta tersebut tidak karena alasan yang dapat diartikan bahwa pihak tersebut tidak menyetujui perjanjian itu. Alasan demikian harus dicantumkan dengan jelas oleh Notaris dalam akta yang bersangkutan.

Macam-macam Akta Notaris Ditinjau dari segi prosedur dan proses praktik pembauatannya ada dua macam akta otentik Notaris, yaitu pertama, Akta Relaas atau Akta Berita atau

17

(Ambtelijk Acte) adalah akta yang berisi berupa uraian Notaris tentang hal-hal yang dilihat dan disaksikan sendiri oleh Notaris atas permintaan para pihak agar tindakan dan perbuatan yang dilakukan para pihak dituangkan oleh Notaris kedalam bentuk akta Notaris. Kedua, Akta Para Pihak (Partij Acte) adalah akta yang dibuat dihadapan (ten overstaan) Notaris yang berisi uraian keterangan dan pernyataan yang diberikan/disampaikan para pihak

kepada/dihadapan Notaris agar uraian, keterangan dan pernyataan tersebut dituangkan kedalam bentuk akta Notaris. Dari uraian diatas nampak bahwa kedua akta tersebut, baik akta relaas maupun akta para pihak dibuat berdasarkan permintaan dan kemauaan para pihak, bukan karena keinginan dan kehendak Notaris. Bila keinginan dan permintaan para pihak tidak ada maka Notaris tidak akan membuat akta yang dimaksud. Selanjutnya selain kedua Akta Notaris tersebut, Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshari, SH, MH mengelompokkan Akta Notaris berdasarkan isi materi dan sifat akta Notaris yaitu sebagai berikut : 1. Akta-akta yang menyangkut hukum perorangan (personen recht), Burgerlijk Wetboek Buku I, antara lain : a. Berbagai izin kawin baik dari orang tua ataupun kakek/nenek (harus otentik/Pasal 71 BW). b. Pencabutan pencegahan perkawinan (harus otentik/Pasal 70 BW). c. Berbagai perjanjian berikut perubahannya (harus otentik/Pasal 147, 148 BW dan sebagainya). d. Kuasa melangsungkan perkawinan (harus otentik/Pasal 79 BW). e. Hibah yang berhubungan dengan perkawinan dan penerimaannya (harus otentik/Pasal 176 dan 177 BW). f. Berbagai kuasa/bantuan suami kepada istrinya (Pasal 108 dan 139 BW). g. Pembagian harta perkawinan setelah adanya putusan pengadilan tentang pemisahan harta (harus otentik/Pasal 191 BW).

18

h. Kuasa melepaskan harta campur (Pasal 132 dan 133 BW). i. Pemulihan kebali harta campur yang telah dipisah (harus otentik/Pasal 196 BW). j. Syarat-syarat untuk mengadakan perjanjian pisah meja dan ranjang (Pasal 237 BW). k. Perdamamian antar suami istri yang telah pisah meja dan ranjang (pasal 248 dan 249 BW). l. Keingkaran sah anaknya (Pasal 253 dan 256 BW). m. Pengakuan anak luar kawin (harus otentik/Pasal 281 BW). n. Pengangkatan wali (harus otentik/Pasal 355 BW). o. Pengakuan terima perhitungan dan sebagainya dari/kepada Balai Harta Peninggalan (pasal 412 BW). p. Pengakuan terima perhitungan wali (pasal 412 BW). q. Pembebasan wali dari tanggung jawab (Pasal 412 BW). 2. Akta-akta yang menyangkut hukum kebendaan (zaken recht), Burgerlijk Wetboek Buku II, antara lain : a. Berbagai macam jenis surat wasiat, termasuk di antaranya

penyimpanan wasiat umum, wasiat pendirian yayasan, wasiat umum, wasiat pemisahan dan pembagian harta peninggalan, fideicommis, pengangkatan pelaksana wasiat dan pengurusan harta peninggalan dan pecabutannya (harus otentik/Pasal 874 dan seterusnya BW,

dikecualikan codicil). b. Berbagai kuasa yang menyangkut warisan, seperti kuasa keterangan menimbang, menerima secara terbatas, menolak harta peninggalan (Pasal 1023 dan sebagainya 1044 dan seterusnya BW). c. Berbagai akta pemisahan dan pembagian harta peninggalan/warisan (dalam berbagai hal harus otentik/Pasal 1066 dan seterusnya BW). d. Pencatatan harta peninggalan (Pasal 1073 BW). e. Jaminan kebendaan gadai (Pasal 1150 dan seterusnya BW).

19

f. Jaminan kebendaan hipotik (harus otentik/Pasal 1162 dan seterusnya 1171, 1195 dan 1196 BW juncto peraturan agraria). 3. Akta-akta yang menyangkut hukum perikatan (verbintenissen recht), Burgerlijk Wetboek Buku III, antara lain : a. Berbagai macam/jenis jual beli (Pasal 1457 dan seterusnya BW), untuk tanha dengan PPAT. b. Berbagai macam/jenis tukar menukar (Pasal 1541 dan seterusnya BW), untuk tanah dengan akta PPAT. c. Berbagai macam/jenis sewa-menyewa (Pasal 1548 dan seterusnya BW). d. Macam-macam perjanjian perburuhan/hubungan (Pasal 1601 dan seterusnya BW). e. Aneka perjanjian pemborongan kerja (Pasal 1064 dan seterusnya BW). f. Rupa-rupa persekutuan/perseroan (Maatschap) (Pasal 1618 dan seterusnya BW). g. Berbagai jenis perkumpulan (Pasal 16538 dan seterusnya BW). h. Berbagai hibah (Pasal 1666 dan seterusnya BW), untuk tanah dengan akta PPAT (harus otentik/Pasal 1682 BW). i. Rupa-rupa penitipan barang (Pasal 1694 dan seterusnya BW). j. Aneka perjanjian tentang pinjam pakai (Pasal 1740 dan seterusnya BW). k. Berbagai perjanjian pinjam-meminjam/kredit/hutang uang dan

sebagainya (Pasal 1754 dan seterusnya BW). l. Rupa-rupa pemberian kuasa, khusus maupun umum (Pasal 1792 dan seterusnya BW). m. Penanggungan utang/jaminan pribadi/borgtocht (Pasal 1820 BW). n. Perdamaian dalam berbagai masalah (Pasal 1851 dan seterusnya BW).

20

o. “Seribu satu” (tidak terduga banyaknya macam kontrak inominat atas dasar Pasal 1338 Jis Pasal 1319, 1233, dan seterusnya serta 1313 dan seterusnya BW). 4. Akta-akta yang menyangkut hukum dagang/perusahaan (Wetboek van Koophandel dan lain-lain), antara lain : a. Berbagai perseroan (Maatschap, Firma, Comanditair Vennotschap, Perseroan Terbatas biasa, Penanaman Modal Dalam Negeri dan Penanaman Modal Asing, Persero, Perseroan Indonesia atas Saham, baik pendirian, perubahan, pembekuan maupun pembubarannya serta gabungan beberapa perusahaan atau merger dan lain sebagainya). b. Protes non pembayaran/akseptasi (harus otentik/Pasal 132 dan 143 WvK). c. Berbagai perantara dagang, seperti perjanjian keagenan dagang dan kontrak perburuhan dengan pedangang keliling. d. Akta-akta yang menyangkut badan-badan sosial atau kemanusiaan (zedelijke lichamen), seperti Perkumpulan yayasan (harus/biasa otentik) dan Wakaf.

Kendatipun macam-macam Akta Notaris cukup beragam namun struktur susunan isi akta Notaris nampaknya seragam yaitu memuat/berisi tiga komponen meliputi (1) Awal atau Kepala Akta, (2) Badan Akta dan (3) Akhir atau Penutup Akta, secara rinci isi dari masing-masing komponen adalah sebagai berikut : (1) Awal akta atau kepala akta memuat : a. Judul akta; b. Nomor akta; c. Jam, hari, tanggal, bulan, dan tahun; dan d. Nama lengkap dan tempat kedudukan notaris;

21

(2) Badan akta memuat : a. Nama lengkap, kedudukan dan tanggal lahir, kewarganegaraan, pekerjaan, jabatan, kedudukan, tempat tinggal para penghadap dan/orang yang mereka wakili; b. Keterangan mengenai kedudukan bertindak penghadap (dasar hukum bertindak); c. Isi akta yang merupakan kehendak dan keinginan dari pihak yang berkepentingan; d. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tipa saksi pengenal. (3) Akhir atau penutup akta memuat : a. Uraian tentang pembacaan akta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) huruf I atau Pasal 16 ayat (7) UUJN; b. Uraian tentang penandatanganan dan tempat penandatanganan atau penerjemahan akta apabila ada; c. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, jabatan, kedudukan, dan tempat tinggal dari tiap-tiap saksi akta; dan d. Uraian tentang tidak adanya perubahan yang terjadi dalam pembuatan akta atau uraian tentang adanya perubahan yang terjadi dalam pembuatan akta atau uraian tentang adanya perubahan yang dapat berupa penambahan, pencoretan atanu penggantian.

B. Tinjauan Tentang Moralitas Dan Profesionalisme 1. Pengertian Tentang Moral Dan Moralitas Istilah moralitas umumnya dikenal sebagai suatu sistem peraturanperaturan perilaku sosial, etika hubungan antar orang, baik dan buruk, benar dan salah. Moralitas adalah kesadaran akan loyalitas pada tugas dan tanggungjawab. Moralitas datang dari diri sendiri tentang apa yang baik dan

22

buruk, salah dan benar, yang ukurannya adalah ajaran agama dan kepatutan di masyarakat. Moralitas berasal dari kata moral dari bahasa latin “mos” jamaknya “mores”. Maksud dari moral adalah ajaran-ajaran, pesan, wejangan, khotbah, panutan, kumpulan peraturan dan ketetapan baik tertulis maupun lisan tentang bagaimana manusia sebaiknya hidup, menjalani kehidupan, beprilaku dan bertindak supaya menjadi manusia yang baik, sopan, santun dengan tata krama serta berbudi luhur. Moral mengajarkan bagaiamana manusia harus hidup. Ajaran moral berisi pandangan-pandangan tentang nilai-nilai, normanorma kehidupan manusia. Sumber dari ajaran moral adalah ajaran agama, tradisi atau adat istiadat yang baik dan bijaksana serta ideologi. Norma moral mengajarkan tindakan dan perilaku keseharian hidup seseorang sesuai dengan kebaikannya sebagai manusia dengan derajat kemanusiaan yang berbudi luhur /akhlakul karimah. Moralitas terbagi menjadi dua golongan, yaitu : a. Moralitas obyektif, dan b. Moralitas subyektif.*) Moralitas obyektif adalah moralitas yang melihat perbuatan sebagaimana adanya, terlepas dari segala bentuk modifikasi kehendak bebas pelakunya, misalnya kondisi emosional yang mungkin menyebabkan pelaku lepas kendali, apakah perbuatan itu memang dikehendaki atau tidak. Moralitas obyektif sebagai norma berhubungan dengan semua perbuatan yang pada hakikatnya baik dan jahat, benar atau salah. Sedangkan moralitas subyektif adalah moralitas yang melihat perbuatan karena dipengaruhi oleh pengetahuan dan perhatian pelakunya, latar belakang, stabilitas emosianal, dan perlakuan personal lainnya. Moralitasi ini mempertanyakan apakah perbuatan itu sesuai atau tidak dengan suara hati nurani pelakunya. Moralitas subyektif sebagai norma berhubungan dengan semua perbuatan yang diwarnai oleh niat pelakunya.

*) E. Sumaryono, Etika Profesi Hukum, Norma-norma Bagi Penegak Hukum, Kanisius, Yogyakarta, cet-I, 1995, hal. 27

23

Persoalan moralitas hanya relevan apabila dikaitkan dengan manusia seutuhnya, dimana manusia mempunyai nilai pribadi, kesadaran diri dan dapat menentukan dirinya dilihat dan setiap askpek kemanusiaan. Tidak setiap perbuatan manusia dapat dikategorikan ke dalam perbuatan moral. Perbuatan itu bernilai moral apabila di dalamnya terkandung kesadaran dan kebebasan kehendak pelakunya. Kesadaran adalah suara hati nurani dan kebebasan kehendak berdasarkan kesadaran. Manusia sebagai makhluk cipataan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, apabila dilihat dari frame agama, maka tidak dapat disangkal apabila agama mempunyai hubungan yang sangat erat dengan moralitas. Setiap agama mengandung ajaran moralitas. Agama adalah pernyataan orang yang beriman kepada pencipta-Nya. Ajaran moral yang terkandung dalam agama meliputi dua macam norma, yaitu norma yang berkenaan dengan ibadah yang berbeda di antara berbagai macam agama dan norma etis yang berlaku umum mengatasi perbedaan agama. Semua agama mengakui dan menerima kedua norma tersebut, oleh karena itu moral yang dianut agama-agama besar di dunia pada dasarnya sama. Meskipun harus diakui bahwa banyak manusia yang mengabaikan agama, tidak berarti mereka menolak moralitas. Moralitas bukan monopoli orang yang beragama saja. Perbuatan baik dan buruk, benar dan salah tidak hanya berarti bagi mereka yang beragama saja. Perlu ditekankan lagi bahwa agama yang menguatkan moral, makin tebal keyakinan agama dan kesempurnaan taqwa seseorang, makin baik moralnya yang diwujudkan dalam bentuk perilaku, walaupun itu tidak mutlak. Orang beragama sudah pasti bermoral, tetapi orang bermoral belum tentu mengamalkan agamanya. Agama mengandung nilai moral yang menjadi tolak ukur moralitas perilaku seseorang dan moral memperoleh daya ikat dari agama.

24

2. Pengertian Tentang Profesionalisme Profesionalisme berasal dari kata “profesi”, istilah yang diadopsi dari kata bahasa Inggris “profession”. Perkataan “profesi” digunakan dalam arti yang luas, diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari yang didasari atas kebiasaan, keahlian, keterampilan, kejuruan, pendidikan, dan lain sebagainya, untuk memperoleh nafkah (penghasilan), secara sah maupun tidak sah, secara etika-moral dapat dibenarkan maupun tidak, sesuai dengan peraturan perundangan-perundangan ataupun tidak. Dalam arti seperti, semua pekerjaan apapun jenis dan bentuknya misalnya seperti pengusaha, guru, penyanyi, pengamen, pedagang kaki lima, sampai pembantu rumah tangga, penarik becak, bahkan pencopet disebut menjalankan profesi. Sedangkan dalam pengertian yang lebih sempit, perkataan profesi diartikan sebagai pekerjaan sebagi sumber nafkah (penghasilan), mencari uang, secara berkeahlian (berdasarkan keahlian yang dimilikinya) yang dikaitkan dengan cara menjalankan pekerjaan atau kegiatan dan hasil pekerjaan yang bermutu. Sementara profesional didefinisikan obyek (orang) yang bersangkutan dengan profesi, melakukan kejadian khusus untuk menjalankannya dan mengharuskan adanya pembayaran dalam melaksanakan pekerjaan tersebut. Adapun definisi profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas sesuai dengan profesinya. Lebih lanjut Wignjosoebroto menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian “jasa profesi” (dan bukan okupasi) ialah bahwa kerja seseorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebijakan demi tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan atau mengharapkan imbalan upah materiil; bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, eksklusif dan berat; bahwa kerja seorang profesional diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral harus menundukan diri pada sebuah mekanisme

25

kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan disepakati bersama di dalam sebuah organisasi profesi. Ketiga watak kerja tersebut mencoba menempatkan kaum prosesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasi bukanlah komoditas yang hendak diperjualbelikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia. Kalau di dalam pengamalan profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan (honorarium) yang diterimakan, sebagai “tanda kehormatan” (honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja. sehingga profesionalisme seseorang dalam suatu tindak tanduk sangat berharga dan dengan profesionalisme yang tinggi mempengaruhi nilai atau penghargaan orang lain terhadap profesi yang diembannya.

3. Notaris Sebagai Profesi Seperti diketahui, Notaris adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang membuat akta otentik kecuali jika UU menghendaki lain, artinya Notaris merupakan suatu pekerjaan dengan keahlian khusus yang menuntut pengetahuan luas, serta tanggung jawab yang berat untuk melayani kepentingan umum dan inti tugas Notaris adalah mengatur secara tertulis dan otentik hubungan-hubungan hukum antara para pihak yang secara mufakat meminta jasa Notaris. Orang seseorang agar dapat diangkat menjadi Notaris untuk

melaksanakan tugas jabatan seperti tersebut diatas, harus memiliki beberapa persyaratan, antara lain dan terutama adalah sebagai berikut : a. Kemampuan intelektual, dengan menguasai ilmu pengetahuan dalam bidang hukum, khususnya bidang hukum perdata serta pula menguasai semua peraturan peundangan yang berlaku, dimana kesemuanya itu dipersiapkan dan diperuntukkan sebagai bekal dalam menjalankan tugas jabatannya

26

sebagai notaris, agar kemampuan intelektual ini dapat dipenuhi. Calon Notaris harus memiliki/lulus S1 Fakultas Hukum. b. Kemampuan profesional mempraktekkan ilmu pengetahuan terapan itu, dengan keahlian dan kemahiran serta keterampilannya yang spesifik dan dan sangat khusus, yang hanya dapat diperoleh melalui latihan dan praktek secara terus-menerus. Untuk ini calon Notaris wajib mengikuti pendidikan khusus kenotariatan selama 2 tahun serta program magang selama 1 tahun. c. Memiliki integritas moral yang handal, berbudi pekerti yang luhur, serta berakhlak mulia. d. Kualifikasi seorang Notaris yang ideal dan profesional, mutlak, harus melalui suatu saringan ujian yang diselenggarakan dan berdasarkan penilaian objektif dalam suatu ujian kode etik Kualifikasi tersebut diatas diperlukan karena kewajiban Notaris memberikan penjelasan hukum kepada para pihak yang datang menghadap sehubungan dengan akta yang akan dibuat, karenanya seorang notaris seyogyanya seorang ahli hukum karena Notaris berhadapan dengan masyarakat yang datang menghadap kepadanya dengan membawa masalah yang mereka hadapi yang sedikit banyaknya mempunyai konsekwensi hukum dan mengharapkan agar Notaris dapat memberikan jalan keluar penyelesaian masalah yang mereka hadapi. Artinya dalam salah satu kewajiban Notaris diatas nampak bahwa sesungguhnya Notaris merupakan profesi hukum yang mulia (officium nobile) memberikan penjelasan hukum kepada para pihak dan membantu memberikan jalan keluar penyelesaian masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum. Dikatakan sebagai officium nobile sebab profesi Notaris sangat erat kaitannya dengan kemanusiaan. Akta yang dibuat notaris pada dasarnya adalah merupakan perlindungan hukum bagi para pihak. Kekeliruan atas akta Notaris dapat menyebabkan tercabutnya hak seseorang atau terbebaninya seseorang atas suatu kewajiban *).

27

Dari uraian diatas nampak bahwa sebenarnya Notaris merupakan profesi hukum yang mulia, seperti diketahui. Hakikat keluhuran profesi sangat terkait dengan implementasi nilai-nilai profesional dari profesi tersebut kepada masyarakat. Makin jauh nilai-nilai ini dari harapan masyarakat, makin merosot pula maknda keluhuran profesi itu di mata masyarakat. Profesi luhur (officium nobile) dengan demikian tidak dapat diraih hanya dengan slogan. Profesi luhur adalah profesi pelayanan yang terikat pada kebutuhan-kebutuhan praktis masyarakat. Artinya keluhuran profesi itu akan diuji langsung oleh masyarakat melalui pengalaman-pengalaman konkret mereka berhadapan dengan penyandang profesi ini. Lulus tidaknya mereka dalam ujian itu sangat menentukan layak tidaknya profesi itu untuk tetap disebut sebagai profesi luhur. Profesi hukum di Indonesia, dewasa ini adalah salah satu profesi yang sedang menghadapi “uji kelayakan” demikian. Dalam kaitan dengan implementasi nilai-nilai profesional diatas, Notaris seyogyanya berperilaku profesi sebagai berikut : *) 1. Dalam menjalankan tugas profesinya, seorang Notaris harus mempunyai integritas moral yang mantap. Dalam hal ini, segala pertimbangan moral harus melandasi pelaksanaan tugas profesinya. Walaupun akan memperoleh imbalan jasa yang tinggi, namun sesuatu yang bertentangan dengan moral yang baik harus dihindarkan. 2. Seorang Notaris harus jujur, tidak saja pada kliennya. Juga pada dirinya sendiri. Ia harus mengetahui akan batas-batas kemampuannya, tidak memberi janji-janji sekedar untuk menyenangkan kliennya, atau agar si klien tetap mau memakai jasanya. Kesemuanya itu merupakan suatu ukuran tersendiri tentang kadar kejujuran intelektual seorang Notaris. 3. Seorang Notaris harus menyadari akan batas-batas kewenangannya. Ia harus mentaati ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku tentang seberapa jauh ia dapat bertindak dan apa yang boleh serta apa yang tidak boleh dilakukan. Adalah bertentangan dengan perilaku profesional, apabila seorang Notaris

28

ternyata berdomisili dan bertempat tinggal tidak di tempat kedudukannya, tapi tempat tinggalnya di lain tempat. Seorang Notaris juga dilarang untuk menjalankan jabatannya di luar daerah jabatannya. Apabila ketentuan tersebut dilanggar, maka akta yang bersangkutan akan kehilangan daya otentiknya. 4. Sekalipun keahlian seseorang dapat dimanfaatkan sebagai upaya yang lugas untuk mendapatkan uang, namun dalam melaksanakan tugas profesinya ia tidak boleh semata-mata didorong oleh pertimbangan uang. Seorang Notaris yang Pancasilais harus tetap nerpegang teguh kepada teguh rasa keadilan yang hakiki, tidak terpengaruh oleh jumlah uang. Dan tidak semata-mata hanya menciptakan suatu alat bukti formal mengejar adanya kepastian hukum, tapi mengabaikan rasa keadilan. Disamping itu, nampaknya ada kaidah-kaidah etika khusus yang berlaku pada jabatan/profesi notaris, yaitu : *) 1. Profesi merupakan suatu pelayanan, karena itu mereka harus juga bekerja tanpa pamrih, terutama bagi klien yang tidak mampu. Profesi harus dipandang (dan dihayati) sebagai suatu pelayanan karena itu, maka sifat tanpa pamrih (disintrestedness) menjadi ciri khas dalam mengembangkan profesi. Tanpa pamrih berarti pertimbangan yang menentukan dalam pengambilan keptusan adalah kepentingan pasien atau klien dan kepentingan umum, dan bukan kepentingan sendiri (pengembangan profesi). Jika sifat tanpa pamrih itu diabaikan, maka pengembangan profesi akan mengarah pada pemanfaatan (yang dapat menjurus kepada penyalahgunaan) sesama manusia yang sedang mengalami kesulitan atau kesusahan. 2. Pelayanan profesional dalam mendahulukan kepentingan klien harus mengacu kepada kepentingan atau nilai-nilai luhur sebagai norma kritik yang memotivasi sikap dan tindakan.

29

3. Pengemban profesi harus selalu berorientasi kepada masyarakat secara keseluruhan. 4. Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat sehingga dapat menjamin mutu dan peningkatan mutu pengemban profesi, maka pengembangan profesi harus bersemangat solidaritas antar sesama rekan seprofesi. Kemudian untuk lebih memperkaya landasan moral profesi Notaris, Suhrawardi K. Lubis menambahkan bahwa tugas profesi hukum selain bersifat kepercayaan yang berupa hablumminannas (hubungan horizontal) juga seyogyanya harus disandarkan kepada hablumminaAllah (hubungan vertikal). Hubungan vertikal terwujud dengan cinta kasih, perwujudan cinta kasih kepadaNya tentunya profesional hukum harus melaksanakan sepenuhnya atau mengabdi kepada-Nya direalisasikan dengan cinta kasih antar sesama manusia. Dengan menghayati cinta kasih sebagai dasar pelaksanaan profesi, maka otomatis akan melahirkan motivasi dalam mewujudkan etika profesi hukum sebagai realisasi mengemban tugas (yang pada hakikatnya merupakan amanah) profesi hukum. Dengan demikian pengembang profesi hukum memperoleh landasan keagamaan, sehingga pengemban profesi akan melihat profesi sebagai tugas kemasyarakatan dan sekaligus sebagai ibadah mewujudkan kecintaan kepada Allah SWT dengan tindakan nyata.

4. Pengertian Etika dan Etika Jabatan Notaris a. Pengertian Etika Dari uraian-uraian dimuka namapak bahwa profesi dan profesionalisme harus tidak pernah lepas dari persoalan etika. Etika profesi memang benar-benar merupakan hakikat sinergis non profesi dan profesionalisme *). Tanpa etika, profesi dan profesionalisme akan menjadi liar dan barbar sehingga akan memangsa dengan rakus obyek pekerjaannya.

30

Etika berasal dari bahasa Yunani Kuno, dari kata ethos (tunggal) yang mengandung banyak arti misal seperti kebiasaan, adat, akhlak, watak, sikap, cara berfikir, perasaan sampai pada arti padang rumput, kandang atau tempat tinggal. Bentuk jamak kata ethos adalah ta etha yang berarti adat kebiasaan. Adapun etika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya : 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). 2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. 3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1990: 237). Dari pengertian diatas nampak bahwa, etika memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral dan juga mengarahkan atau menghubungkan penggunaan akal budi individual dengan objektivitas untuk menentukan kebenaran atau keburukkan dari tingkah laku seseorang terhadap orang lain. Pengertian etika dibedakan dengan moralitas, moralitas adalah keseluruhan norma-norma, nilai-nilai, dan sikap moral seseorang atau masyarakat, sedang etika adalah filsafat atau pemikiran kritis normatif tentang moralitas. Dalam kaitan itu, etika dibedakan menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum membahas prinsip-prinsip moral dasar, sedangkan etika khusus menerapkan prinsip-prinsip dasar pada masing-masing bidang kehidupan manusia. Etika khusus ini dibagi menjadi etika individual yang memuat

kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan etika sosial yang mebicarakan tentang kewajiban manusia sebagai anggota umat manusia. Etika dalam pengertiannya yang umum dapatlah diartikan selanjutnya dengan meminjam rumusan Emmet, sebagai “the mores of a given society”. “Ethics in concerned with standards of conduct among people in social groups”, kata Hobbs. Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni hidup dan seni pergaulan suatu kelompok organisasi sosisal

31

tertentu, etika adalah “a systematic code of moral principle’s” yang pada saat dibutuhkan bisa berfungsi sebagai “rationale moral action”. Dari definisi dan batasan konseptual tersebut tersiratlah kepahaman bahwa etika itu sesungguhnya adalah kekuatan normatif yang bergerak “dari dalam” untuk mengendalikan perilaku seseorang atau kelompok orang. Etika adalah refleksi apa yang disebut “self control” dan bukan “social control”. Maka etika berbeda dari hukum atau mekanisme kontrol sosial lain yang bersifat sosial-eksternal dalam kenyataan berikut ini : ialah bahwa etika tidak ditopang oleh kekuatan pemaksa yang berasal dari sumber kekuasaan negara atau aparat pemerintahan, sedangkan hukum, sekalipun mungkin saja dikatakan mengandung juga substansi etik, pada dasarnya hanyalah akan bisa efektif apabila ditopang oleh kekuatan koersif aparat penegak yang dikelola pemerintah. (tepat seperti apa yang dikatakan oleh Black bahwa “law is government’s social control”). Dikatakan dengan fungsinya sebagai pelestari pola normatif kehidupan suatu kelompok profesi, etika tentulah harus pula dimengerti disini sebagai “a systematiccode of moral principles” tersebut di muka. Karena seperti telah kita ketahui, kelompok profesi adalah suatu kelompok yang mendukung kerja yang merefleksikan upaya pengabdian guna merealisasi nilai-nilai tertentu yang dijunjung tinggi dalam masyarakat, maka persoalan etika tak akan pernah lepas dari kehidupan kelompok-kelompok profesional ini. Sejalan dengan hal tersebut, nampak lingkup etika profesi Notaris adalah manusia yang berprofesi sebagai Notaris yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda dan menghasilkan spektrum yang berbeda pula. Etika memandang Notaris dalam segi tindakan dan tingkah laku sengaja dalam menjalankan profesinya yang berkaitan dengan norma. Norma dalam hal ini memiliki fungsi ganda yakni sebelum terjadi sesuatu digunakan sebagai haluan atau pedoman untuk menunjukkan bagaimana sesuatu harus (mesti) terjadi, dan sesudah

32

terjadi sesuatu dipakai sebagai ukuran untuk mempertimbangkan apakah sesuatu itu terjadi sesuai seperti yang seharusnya.

b. Etika Jabatan Notaris dan Kode Etik Notaris Profesi Notaris, sebagaimana profesi hukum, merupakan profesi khusus. Dikatakan khusus karena profesi ini memberikan pelayanan kepada masyarakat. Maksudnya meskipun orang yang menjalankan profesi itu hidup dari profesi tersebut akan tetapi hakikat profesinya menuntut agar bukan nafkah hidup itulah yang menjadi motivasi utamanya, melainkan kesediaan untuk melayani sesama. Untuk melakukan profesi, mereka yang berkecimpung di dalam profesi tersebut dituntut adanya budi luhur dan akhlak yang tinggi. Terdapat dua prinsip etika profesi pada umumnya yang berlaku bagi Notaris sebagai profesional yakni dalam menjalankan profesi Notarisnya yang harus bertanggung jawab dan tidak melanggar hak-hak pihak lain, yaitu : 1. Sikap bertanggung jawab Tuntutan dasar dalam kehidupan manusia dan khusus dalam menjalankan segenap profesi adalah agar manusia selalu bersikap bertanggung jawab. Bertanggung jawab dalam dua arah yaitu : a. Notaris sebagai profesi diharapkan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan dan terhadap hasilnya. Jadi diharapkan agar notaris dapat bekerja sebaik mungkin dan menghasilkan sesuatu yang kualitasnya baik. Dengan kata lain menjalankan sebuah profesi mengandung tuntunan agar hasilnya bermutu. Mutu mempunyai beberapa segi. Notaris harus mengusahakan agar Notaris tersebut menguasai tugas dengan sebaik-baiknya, agar Notaris kompeten. Notaris harus terus menerus meningkatkan penguasaan atas profesi yang dijalankan. Cara bekerja harus efektif dan efisien. Hasil pekerjaan harus sekurang-kurangnya seseuai dengan yang diharapkan oleh klien, tetapi harus diusahakan agar lebih baik lagi.

33

b. Notaris harus bertanggung jwab terhadap dampak pekerjaan pada kehidupan orang lain. Di sini yang perlu diperhatikan adalah antara lain, dampak pelaksanaan profesi pada kepentingan klien serta dampak terhadap kepentingan regional, nasional dan kepentingan negara. Semuanya perlu diperhatikan. 2. Hormat terhadap hak orang lain Prinsip ini tidak lain adalah tuntutan keadilan. Keadilan menuntut profesional memberikan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Dalam konteks profesi notaris tuntutan keadilan itu berarti di dalam

pelaksanaannya Notaris tidak boleh melanggar hak orang, atau lembaga lain ataupun hak negara. Jadi jika pelaksanaan profesi melanggar suatu hak, maka profesional sejati akan menghentikan pekerjaannya. Tuntutan etika profesi dapat dirumuskan dalam sebuah prinsip tanggung jawab yakni dalam segala usaha bertindaklah sedemikian rupa, sehingga akibat-akibat tindakan yang dilakukan tidak dapat merusak, bahkan tidak dapat membahayakan atau mengurangi mutu kehidupan manusia dalam lingkungannya, baik mereka yang hidup pada masa sekarang, maupun generasi-generasi yang akan datang. Dalam sajian diatas nampak Notaris yang berkecimpung dalam bidang hukum tidak boleh melupakan etika meskipun terdapat paham bahwa hukum dan etika harus dibedakan tetapi antara keduanya berkaitan erat. Notaris berpegang erat pada etika serta merta akan mematuhi hukum, sedangkan bila Notaris hanya memperhatikan peraturan perundangundangan semata bisa jadi Notaris akan melanggar etika. Pelanggaran etika akan menyebabkan adanya hak lain yang terlanggar. Lebih lanjut disampaikan bahwa dari pengalaman, pekerjaan Notaris selalu berkecimpung dalam dunia nilai abstrak yang tidak dapat dicerna secara empiris namun keberadaannya dapat dirasakan, misalnya nilai keadilan, nilai kebenaran-kebenaran dan nilai kepatuhan-kepatuhan adalah

34

salah tiga nilai yang bersifat abstrak dan pekerjaan Notaris yang selalu berkecimpung dalam dunia nilai abstrak tersebut akan timpang bila tidak diikuti dengan kesadaran beretika. Berkecimpung pada profesi Notaris memasuki kehidupan yang sarat dengan perilaku etis. Menempuh cara hidup yang etis berarti mempertanggungjawabkan perilaku berdasarkan alasanalasan etis, baik yang berasal rasio maupun alasan rasio-religius. Dengan adanya etika profesi Notaris diharapkan para professional Notaris, mempunyai kemampuan individu tertentu yang kritis, yaitu : 1. Kemampuan untuk kesadaran etis (ethical sensibility) Ethical sensibility dapat dilihat dari kemampuan para professional dalam bidang hokum untuk menentukan aspek-aspek dari situasi-situasi dan kondisi yang mempunyai kepentingan etis. 2. Kemampuan untuk berpikir secara kritis (ethical reasoning) Ethical reasoning yakni kemampuan berfikir secara etis dan rasional menyangkut hal-hal yang berkaitan erat dengan alat-alat dan kerangka-kerangka yang dianggap merupakan keseluruhan pendidikan etika profesi hukum. Untuk hal ini diperlukan pendekatan-pendekatan sebagai berikut : a. Menggunakan pandangan objektif (impartial perspective) Obyektif berarti memancang persoalan secara mendasar. Analisis dilakukan secara obyektif dengan menghilangka unsur subyektif. Pandangan obyektif ini dapat dilakukan dengan cara menempatkan diri pada posisi sebagai orang yang berada dalam keadilan sehingga tidak memihak. Obyektif juga berarti

meninggalkan ikatan kolegial termasuk nepotisme, kolusi, dan korupsi.

35

b. Meningkatkan prinsip-prinsip tindakan pada tingkat yang umum dan universal Profesional harus mampu meletakkan prinsip-prinsip yang merupakan nilai dasar pada persoalan yang dihadapi. Asas umum tersebut misalnya nilai-nilai keadilan (legality), kepatutan (equity), dan kesetaraan (equality). c. Memperhatikan dan mempertimbangkan hak-hak dan kesejahteraan beberapa pihak yang dipengaruhi oleh keputusan Professional hukum mendasarkan alas hak pada kebenaran. Kebenaran menjadi landasan pijak utama dalam penyelesaian persoalan yang dihadapi dan kesetaraan dilandaskan atas dasar hak dan tanggung jawab yang berimbang. 3. Kemampuan untuk bertindak secara etis (ethical conduct) Ethical conduct dimaksudkan merupakan manifestasi dari hati yang tulus. Hal ini akan diperlihatkan dengan tingkah laku yang dilakonkan dalam pegambilan keputusan secara etis dan benar. Kegagalan etis terjadi disebabkan orang yang bersalah tidak ada keberanian untuk mengakui kesalahan secara jujur. Hal ini mungkin disebabkan orang yang bersangkutan takut akan prospek masa depannya. 4. Kemampuan untuk kepemimpinan etis (ethical leadership) Ethical leadership adalah kemampuan untuk melakukan

kepemimpinan secara etis, yang tentunya mempunyai keterkaitan dengan ketulusan hati. Selanjutnya dalam kaitan pentingnya peran dan fungsi etika bagi profesi Notaris agar profesi Notaris ini selalu berlandaskan pada nilai moral maka Ikatan Notaris Indonesia (INI) sebagai organisasi profesi para Notaris Indonesia memandang perlu untuk menetapkan kode etik profesi sebagai

36

panutan, panduan, acuan serta pegangan bagi para Notaris Indonesia dalam melaksanakan tugas pekerjaannya. Secara definisi formal, Ikatan Notaris Indonesia (INI) menyatakan kode etik adalah seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan maupun orang lain yang memangku dan menjalankan jabatan Notaris baik dalam pelaksanaan jabatan maupun dalam kehidupan sehari-hari. Menurut ketentuan Pasal 1 Ketentuan Umum Kode Etik Notaris Ikatan Notaris Indonesia, yang dimaksud dengan Kode Etik adalah : “Seluruh kaidah moral yang ditentukan oleh Perkumpulan Ikatan Notaris Indonesia yang selanjutnya akan disebut “Perkumpulan” berdasar keputusan Kongres Perkumpulan dan/atau yang ditentukan oleh dan diatur dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hal itu dan yang berlaku bagi serta wajib ditaati oleh setiap dan semua anggota Perkumpulan dan semua orang yang menjalankan tugas jabatan sebagai Notaris, termasuk didalamnya para Pejabat Sementara Notaris, Notaris Pengganti dan Notaris Pengganti Khusus”. Selanjutnya fungsi dang kedudukan Kode Etik dijelaskan bahwa : “Kode Etik adalah suatu tuntunan, bimbingan atau pedoman moral atau kesusilaan untuk suatu profesi tertentu atau merupakan daftar kewajiban dalam menjalankan suatu profesi itu sendiri dan mengikat mereka dalam mempraktekkannya. Sehingga dengan demikian Kode Etik Notaris adalah tuntunan, bimbingan, atau pedoman moral atau kesusilaan Notaris baik selaku pribadi maupun pejabat umum yang diangkat pemerintah dalam rangka pemberian pelayanan umum, khususnya dalam bidang pembuatan akta. Dalam hal ini dapat mencakup baik Kode Etik Notaris yang berlaku dalam organisasi (INI), maupun Peraturan Jabatan Notaris di Indonesia yang berasal dari Reglement op het Notaris”. Kode Etik Notaris memuat unsur material tentang kewajiban. Larangan, pengecualian dan sanksi yang akan dijatuhkan apabila terbukti seorang Notaris melanggar kode etik. Selain itu, di dalam Kode Etik Notaris juga diatr mengenai tata cara penegakan kode etik pemecatan sementara sebagai anggota TNI.

37

C. Tinjauan Tentang Lembaga-Lembaga Yang Berwenang Melakukan Pengawasan Dan Pemindahan Terhadap Notaris 1. Notaris Rentan Untuk Melakukan Pelanggaran Dalam undang-undang jabatan notaris diatur bahwa apabila notaris dalam melaksanakan tugas jabatannya kemudian terbukti melakukan pelanggaran, maka notaris dapat dikenai atau dijatuhkan sanksi berupa kemungkinan sanksi perdata, administrasi, kode etik jabatan notaris maupun sanksi pidana tergantung macam kualitas pelanggaran yang dilakukannya. Jika Notaris, terbukti melakukan pelanggaran dan dijatuhi sanksi tersebut diatas, dapat dijadikan dasar Notaris yang bersangkutan diberhentikan sementara dari jabatannya (Pasal 9 ayat [1] UUJN) atau diberhentikan dengan tidak hormat dari jabatannya (Pasal 12 UUJN), seperti: (1) Sanksi Perdata, berupa: a. Dalam proses pailit atau penundaan pembayaran (Pasal 9 ayat [1] huruf a UUJN). b. Dinvatakan pailit berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 12 huruf a UUJN). (2) Sanksi Pidana, berupa dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dengan (ancaman) pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih (Pasal 13 UUJN). (3) Sanksi Kode Etik, berupa: a. Melakukan perbuatan tercela (Pasal 9 ayat [1] huruf c UUJN). b. MeIakukan perbuatan yang merendahkan kehormatan dan martabat jabatan Notaris (Pasal 12 huruf c UUJN). (4) Sanksi Aciministratif, berupa: a. Melakukan pelanggaran terhadap kewajiban dan larangan jabatan (Pasal 9 ayat [11 huruf d UUJN). b. Melakukan pelanggaran berat terhadap kewajiban dan larangan iabatan (Pasal 12 huruf d UUJN).

38

Nampaknya notaris yang juga seorang manusia dengan sifat manusiawinya rentan untuk melakukan pelanggaran dalam melaksanakan tugas jabatannya, misalnya sifat manusiawi manusia notaris yang tergiur untuk mencapai status sosial life style yang lebih tinggi sehingga tanpa disadarinya dia telah melakukan usaha-usaha baik langsung maupun tidak langsung yang menjurus ke arah persaingan yang tidak sesuai dengan sesama rekan notaris. Menurut Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshari, SH, MH, ada kecenderungan aturan yang tersurat dalam suatu kode etik terkadang tidak diindahkan oleh notaris. Pengabaian kode etik notaris disebabkan adanya pengaruh negatif sebagian individu dalam masyarakat maupun dalam hubungan kerja dalam organisasi profesi(*). Disamping itu nampak kecenderungan bahwa kedudukan kode etik pada diri notaris sudah bergeser yang semula diharapkan sebagai value/nilai yang berada dan melekat dalam diri notaris bergeser sebagai ilmu pengetahuan yang harus dipahami dan kemudian kode etik notaris ini diujikan pada setiap calon notaris. Kecenderungan ini semakin nampak manakala motivasi orang seseorang ingin menjadi notaris karena untuk mencari kerja dan bukan karena untuk mengabdi kepada masyarakat dan pemerintah. Motivasi ini menjadikan notaris sekarang rentan untuk melakukan pelanggaran. Lebih lanjut Abdul Ghofur Anshari dengan mengutip pendapat Abdul Kadri Muhammad, menjelaskan terdapat empat alasan mendasar mengapa para profesional termasuk notaris, mengabaikan kode etik, yaitu (1) pengaruh sifat kekeluargaan, (2) pengaruh jabatan, (3) pengaruh konsumerisme, (4) karena lemah iman, selanjutnya dengan mengutip pendapat I Gede .A.B. Wiranata, Abdul Ghofur Anshari menambahkan 8 (delapan) faktor yang mempengaruhi merosotnya moralitas profesi hukum, yaitu (a) penyalahgunaan profesi, (b) profesi menjadi kegiatan bisnis, (c) kurangnya kesadaran dan kepedulian sosial, (d) kontinuasi sistem peradilan, (e) pengaruh jabatan, (f) gaya hidup konsumenisme, (h) faktor keimanan dan pengaruh sifat kekeluargaan.
*) Abdul Ghofur Anshori, Prof Dr, SH, MH, Lembaga Kenotariatan Indonesia, Persfektif Hukum dan Etika, Yogyakarta, UII Press, 2009 – hal 168-169. *) Abdul Ghofur Anshori, Op-Kit hal 169-121.

39

2. Dewan Kehormatan Ikatan Notaris Indonesia dan Kewenangannya Setiap anggota perkumpulan. Penegakan kode etik notaris dilakukan oleh Dewan Kehormatan, sementara Pengurus Perkumpulan dan/atau Dewan kehormatan bekerjasama dan berkoordinasi dengan Majelis Pengawas untuk melakukan upaya penegakan kode etik. Lebih lanjut, Dewan Kehormatan merupakan alat perlengkapan perkumpulan yang terdiri dari beberapa orang anggota yang dipilih dari anggota biasa dan werda Notaris, yang berdedikasi tinggi dan loyal terhadap perkumpulan, berkepribadian baik, arif dan bijaksana, sehingga dapat menjadi panutan bagi anggota dan diangkat oleh kongres untuk masa jabatan yang sama dengan masa jabatan kepengurusan. Dewan Kehormatan berwenang melakukan pemeriksaan atas pelanggaran terhadap Kode Etik dan menjatuhkan sanksi kepada pelanggarannya sesuai dengan kewenangannya dan bertugas untuk :*) a. Melakukan pembinaan, bimbingan, pengawasan, pembenahan anggota dalam menjunjung tinggi Kode Etik; b. Memeriksa dan mengarnbil keputusan atas dugaan pelanggaran ketentuan Kode Etik yang bersifat internal atau. yang tidak mempunyai hubungan dengan masyarakat secara langsung; c. Memberikan saran dan pendapat kepada majelis pengawas atas dugaan pelanggaran Kode Etik dan Jabatan Notaris. Pengawasanan atas pelaksaanaan Kode Etik dilakukan dengan cara sebagai berikut :*) a. Pada tingkat pertama oleh Pengurus Daerah lkatan Notaris lndonesia dan Dewan Kehormatan Daerah; b. Pada tingkat banding oleh Pengurus Wilayah lkatan Notaris Indonesia dan Dewan Kehormatan Wilayah; c. Pada tingkat terakhir oleh Pengurus Pusat Ikatan Notaris lndonesia dan Dewan Kehormatan pusat.
*) Anonim, Himpunan Etika Profesi: Berbagai Kode Etik Asosiasi Indonesia, Pustaka. (Yogyakarta: Yustika, 2006), hal. 123. *) Keputusan Kongres Ikatan Indonesia(I.N.1) tentang Kode Etik

40

3.

Dewan Kehormatan Daerah Untuk tingkatan pertama Pengurus Daerah perkumpulan mempunyai Dewan Kehormatan Daerah pada setiap kepengurusan Pengurus Daerah lkatan Notaris lndonesia. Dewan Kehormatan Daerah terdiri dari 3 (tiga) orang anggota diantaranya, Seorang Ketua, seorang wakil Ketua, dan seorang sekretaris. Yang dapat diangkat menjadi anggota Dewan Kehormatan Daerah adalah anggota biasa yang telah menjabat sebagai Notaris sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan anggota luar biasa (mantan Notaris), yang senantiasa mentaati peraturan perkumpulan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, berdedikasi tinggi, berjasa dan loyal serta mempunyai rasa kepedulian yang tinggi kepada konferensi daerah dapat menentukan lain, terutama mengenai komposisi Notaris dan mantan Noraris. Masa jabatan Dewan Kehormatan Daerah adalah sama dengan masa jabatan anggota Pengurus Daerah. Para anggota Dewan Kehormatan Daerah yang masa jabatannya telah berakhir dapat dipilih kembali, Seorang anggota Dewan Kehormatan Daerah tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus Pusat, Dewan Kehormatan pusat, pengurus wilayah, Dewan Kehormatan wilayah, dan Pengurus Daerah, jika selama masa jabatan karena sesuatu hal terjadi jumlah anggota Dewan Kehormatan Daerah kurang dari jumlah yang ditetapkan, maka Dewan Kehormatan Daerah yang ada tetap sah walaupun jumlah anggotanya berkurang. Dewan Kehormatan Daerah merupakan badan yang bersifat otonom di dalam mengambil keputusan yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan bimbingan dari melakukan pengawasan dalam pelaksanaan serta pentaatan Kode Etik oleh para anggota perkumpulan di daerah masing-masing.

41

Dalam rangka menjalankan tugas dan kewajibannya Dewan Kehormatan Daerah berwenang untuk : a. Memberikan dan menyampaikan usul dan saran yang ada hubungannya dengan Kode Etik dan pembinaan rasa kebersamaan profesi (corpsgeest) kepada pengurus Daerah; b. Memberikan peringatan, baik secara terturis maupun dengan lisan secara langsung kepada para anggota di daerah masing-masing yang melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Kode Etik atau bertentangan dengan rasa kebersamaan profesi; c. Memberitahukan tentang pelanggaran tersebut kepada Pengurus Daerah, Pengurus Wilayah. Dewan Kehormatan Wilavah, Pengurus Pusat dan Dewan Kehormatan Pusat; d. Mengusulkan kepada Pengurus Pusat melalui Dewan Kehormatan Wilayah dan Dewan Kehormatan Pusat untuk pemberhentian sementara (schorsing) anggota perkumpulan yang melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya Dewan Kehormatan Daerah dapat mengadakan pertemuan dengan Pengurus Daerah, Pengurus Wilayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Pusat atau Dewan Kehormatan Pusat. Dewan Kehormatan Daerah dapat mencari fakta pelanggaran atas prakarsa sendiri atau setelah menerima pengaduan secara tertulis dari seseorang anggota perkumpulan atau orang lain dengan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap Kode Etik, setelah menemukan faktafakta pelanggaran Kode Etik atau setelah menerima pengaduan, wajib memanggil anggota yang bersangkutan untuk memastikan apakah betul telah terjadi pelanggaran dan rnemberikan kesempatan kepadanya untuk memberikan penjelasan dan pembelaan. Dari pertemuan tersebut dibuat risalah yang ditandatangani oleh anggota yang bersangkutan dan ketua serta seorang anggota Dewan Kehormatan Daerah.

42

Dewan Kehormatan Daerah diwajibkan untuk memberikan keputusan dalam waktu tiga puluh hari setelah pengaduan diajukan. Terhadap keputusan Dewan Kehormatan Daerah dapat diadakan banding ke Dewan Kehormatan Wilayah. Dewan Kehormatan Daerah wajib memberitahukan tentang

keputusannya itu kepada Pengurus Daerah, Pengurus Wiiayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Pusat dan Dewan Kehormatan Pusat. Dalam menangani atau menyelesaikan suatu kasus, anggota Dewan Kehormatan Daerah harus : a. Tetap menghormati dan menjunjung tinggi martabat yang bersangkutan; b. Selalu menjaga suasana kekeluargaan; c. Merahasiakan segala apa yang ditemukannya. Jika keputusan Dewan Kehormatan Daerah ditolak oleh Kehormatan Dewan Wilayah, baik sebagian maupun seluruhnya maka Dewan Kehorrnatan Daerah diwajibkan untuk rnelaksanakan keputusan Dewan Wilayah dan memberitahukannya kepada anggota yang bersangkutan dan kepada Pengurus Daerah, Pengurus Wilayah dan Dewan Kehormatan Pusat.

4.

Dewan Kehormatan Daerah Pada tingkat banding perkumpulan mempunyai Dewan Kehormatan Wilayah pada setiap kepengurusan Pengurus Wilayah lkatan Notaris Indonesia. Dewan Kehormatan Wilayah terdiri dari 5 (lima) anggota diantaranya seorang ketua, seorang wakil ketua, dan seorang sekretaris dan 2 (dua) anggota. Yang dapat diangkat menjadi anggota Dewan Kehormatan Wilayah adalah anggota biasa yang telah menjabat sebagai Notaris sekurang-kurangnya tujuh tahun dan anggota luar biasa (mantan Notaris), yang senantiasa mentaati peraturan perkumpulan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, berdedikasi tinggi, berjasa dan royal serta mempunyai rasa kepedulian yang tinggi kepada perkumpulan, kecuali untuk wilayah-wilayah tertentu, konferensi

43

wilayah dapat menentukan lain, terutama mengenai komposisi Notaris dan mantan Notaris. Masa jabatan Dewan Kehormatan wilayah adalah sama dengan masa jabatan anggota Pengurus Wiralah. Para anggota Dewan Kehormatan Wilayah yang masa jabatannya telah berakhir dapat dipilih kembali. Seorang anggota Dewan Kehormatan wilayah tidak boleh merangkap sebagai anggota Pengurus Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah, Dewan Kehormatan Daerah, jika selama masa jabatan karena sesuatu hal terjadi jumlah anggota Dewan Kehormatan wilayah kurang dari jumlah yang ditetapkan maka Dewan Kehormatan Wilayah yang ada tetap sah walaupun jumlah anggotanya berkurang. Dewan Kehormatan Wilayah merupakan badan yang bersifat otonom di dalam mengambil keputusan. Dewan Kehormatan Wilayah mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan bimbingan dan melakukan pengawasan dalam pelaksanaan serta pentaatan Kode Etik oleh para anggota perkumpulan di

wilayah masing-masing. Dalam rangka rnenjalankan tugas dan kewajibannya Dewan Kehormatan Wilayah berwenang untuk: a. Memberikan dan menyampaikan usul dan saran yang ada hubungannya dengan Kode Etik dan pembinaan rasa kebersamaan profesi (corpsgeest) kepada Pengurus Wilayah; b. Memberikan peringatan, baik secara tertulis maupun dengan lisan secara langsung kepada para anggota di wilayah masing-masing yang melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Kode Etik atau bertentangan dengan rasa kebersamaan profesi; c. Memberitahukan tentang pelanggaran tersebut kepada Pengurus Wilayah, Pengurus Pusat dan Dewan Kehormatan pusat; d. Mengusulkan kepada Pengurus Pusat melalui Dewan Kehormatan Pusat untuk pemberhentian sementara (schorsing) dari anggota perkumpulan yang melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik.

44

Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya Dewan Kehormatan wilayah dapat mengadakan pertemuan dengan Pengurus wilayah, Pengurus Pusat, Dewan Kehormatan Pusat, Pengurus Daerah atau Dewan Kehormatan Daerah. Dewan Kehormatan wilayah dapat mencari fakta pelanggaran atas prakarsa sendiri atau setelah menerima pengaduan secara tertulis dari seorang anggota perkumpulan atau orang lain dengan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap Kode Etik, setelah menemukan faktafakta pelanggaran Kode Etik atau setelah menerima pengaduan, wajib memanggil anggota yang bersangkutan untuk memastikan apakah betul telah terjadi pelanggaran dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memberikan penjelasan dan pembelaan. Dari pertemuan tersebut dibuat risalah yang ditandatangani oleh anggota yang bersangkutan dan ketua serta seorang anggota Dewan Kehormatan Wilayah. Dewan Kehormatan Wilayah diwajibkan untuk memberikan keputusan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah pengaduan diajukan. Terhadap keputusan Dewan Kehormatan wilayah dapat diadakan banding ke Dewan Kehormatan Pusat. Selanjutnya Dewan Kehormatan wajib memberitahukan tentang

keputusannya itu kepada Dewan Kehormatan Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah. Dalam menangani atau menyelesaikan suatu kasus, anggota Dewan Kehormatan Wilayah harus: a. Tetap menghormati dan menjunjung tinggi martabat anggota yang bersangkutan; b. Selalu menjaga suasana kekeluargaan; c. Merahasiakan segala apa yang ditemukannya. Jika keputusan Dewan Kehormatan Wilayah ditolak oleh Dewan Kehormatan Pusat, baik sebagian maupun seluruhnya maka Dewan Kehormatan Wilayah diwajibkan untuk melaksanakan keputusan Dewan Kehormatan Pusat dan memberitahukannya kepada anggota yang bersangkutan dan kepada Dewan

45

Kehormatan Pusat, Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah. Berikutnya Dewan Kehormatan Wilayah, Dewan Kehormatan Pusat, Dewan Kehormatan Daerah, Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Daerah mengadakan pertemuan berkala, sedikitnya enam bulan sekali atau setiap kali dipandang perlu oleh Pengurus Pusat atau Dewan Kehormatan Pusat atau atas permintaan 2 (dua) Pengurus Wilayah berikut Dewan Kehorrnatan Wilayah atau atas permintaan 5 (lima) Pengurus Daerah berikut Dewan Kehormatan Daerah.

5.

Dewan Kehormatan Pusat Untuk tingkat terakhir kepengurusan perkumpulan mempunyai Dewan Kehormatan Pusat pada tingkat Pusat lkatan Notaris Indonesia. Dewan Kehormatan Pusat terdiri dari 5 (lima) orang anggota, dengan susunan kepengurusan sebagai berikut: Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris. Yarrg dapat diangkat menjadi anggota Dewan Kehormatan Pusat adalah anggota biasa yang telah menjabat sebagai Notaris sekurang-kurangnya sepuluh tahun dan anggota luar biasa (wreda Notaris), yang senantiasa mentaati peraturan perkumpulan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku, berdedikasi tinggi, berjasa dan loyal serta mempunyai rasa kepedulian yang tinggi kepada perkumpulan yang dipilih oleh kongres. Dewan Kehormatan Pusat bertanggung jawab pada kongres atas pelaksaanaan tugas dan kewajibannya, dengan masa jabatan yang sama dengan masa jabatan Pengurus Pusat, Para anggota Dewan Kehormatan Pusat yang masa jabatannya telah berakhir dapat dipilih kembali. Seorang anggota Dewan Kehormatan Pusat tidak boleh merangkap anggota Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah, jika selama masa jabatan Dewan Kehormatan Pusat karena suatu hal terjadi jumlah anggota Dewan

46

Kehormatan Pusat kurang dari jumlah yang ditetapkan, Maka Dewan Kehormatan Pusat yang ada tetap sah walaupun jumlah anggotanya berkurang. Dewan Kehormatan Pusat merupakan badan yang bersifat otonom di dalam mengambil keputusan-keputusan. Dewan Kehormatan Pusat mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan bimbingan dan melakukan pengawasan dalam Pelaksanaan serta pentaatan Kode Etik oleh anggota perkumpulan. Dalam rangka menjalankan tugas dan kewajibannya Dewan Kehormatan Pusat berwenang untuk : a. Memberikan dan menyampaikan usul serta saran yang ada hubungan dengan Kode Etik dan pembinaan rasa kebersamaan profesi (corpsgeest) kepada Pengurus Pusat; b. Memberikan peringatan, baik secara tertulis maupun dengan lisan secara langsung kepada para anggota yang melakukan pelanggaran atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan Kode Etik atau bertentangan dengan rasa kebersamaan profesi; c. Memberitahukan tentang pelanggaran tersebut kepada Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehornratan Daerah; d. Mengusulkan kepada Pengurus Pusat untuk melakukan pemberhentian sementara (schorsing) dari anggota perkumpulan yang melakukan

pelanggaran terhadap Kode Etik; e. Menolak atau menerima pengaduan atas pelanggaran Kode Etik. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, Dewan Kehormatan Pusat dapat mengadakan pertemuan dengan Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah. Dewan Kehormatan Pusat dapat mencari fakta pelanggaran atas prakarsa sendiri atau atas pengaduan secara tertulis dari anggota perkumpulan atau orang lain dengan bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap Kode Etik, setelah menemukan fakta-fakta pelanggaran atau setelah menerima

47

pengaduan, Dewan Kehormatan wajib memanggil anggota yang bersangkutan untuk memastikan apakah betul terjadi pelanggaran dari Dewan Kehormatan Pusat diwajibkan untuk memberitahukan tentang adanya pelanggaran tersebut kepada Pengurus Wilayah, Dewan Kehormatan Wilayah, Pengurus Daerah dan Dewan Kehormatan Daerah secara tertulis. Berdasarkan pertemuan tersebut dibuat risalah yang ditandatangani oleh anggota yang bersangkutan dan Ketua serta seorang anggota Dewan Kehormatan Wilayah. Dewan Kehormatan Pusat wajib memberikan keputusan dalam tingkat banding atas keputusan Dewan Kehormatan Wilayah yang diajukan banding kepadanya oleh anggota yang bersangkutan dalam waktu tiga puluh hari terhitung sejak diterirnanya berkas permohonan, banding. Keputusan Dewan Kehormatan Pusat dalam tingkat banding tidak dapat diganggu gugat. Dalarn menangani atau menyelesaikan suatu kasus, anggota Dewan Kehormatan Pusat harus : a. Tetap menghormati dan menjunjung tinggi martabat anggota yang bersangkutan; b. Selalu menjaga yang bersangkutan; c. Merahasiakan segala apa yang ditemukannya. Dewan Kehormatan Pusat, Dewan Kehormatan Wilayah, Dewan Kehormatan Daerah, Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah, dan Pengurus Daerah mengadakan pertemuan berkala, sedikitnya enam bulan sekali atau setiap kali dipandang perlu oleh Pengurus Pusat atau Dewan Kehormatan Pusat atau atas permintaan dua Pengurus Wilayah berikut Dewan Kehormatan Wilayah atau atas permintaan lima Pengurus Daerah berikut Dewan Kehormatan Daerah.

6.

Sanksi Pelanggaran Kode Etik Bagi Notaris yang melakukan pelanggaran Kode Etik, Dewan Kehormatan berkoordinasi dengan Majelis Pengawas berwenang melakukan pemeriksaan atas pelanggaran tersebut dan dapat menjatuhkan sanksi kepada

48

pelanggarnya, sanksi yang dikenakan terhadap anggota lkatan Notaris Indonesia (lNl), yang melakukan pelanggaran Kode Etik dapat berupa : 1) Teguran; 2) Peringatan; 3) Schorsing (pemecatan sementara) dari keanggotaan Perkumpulan; 4) Onzetting (pemecatan) dari keanggotaan Perkumpulan; 5) Pemberhentian dengan tidak hormat dari keanggotaan Perkumpulan. Penjatuhan sanksi-sanksi sebagaimana terurai di atas terhadap anggota yang melanggar Kode Etik disesuaikan dengan kwantitas dan kwalitas pelanggaran yang dilakukan anggota tersebut.

7. Majelis Pengawas Notaris dan Kewenangannya Sebelum berlaku UUJN, pengawasan dan penjatuhan sanksi terhadap notaris dilakukan oleh Badan Peradilan Umum dan Mahkamah Agung. Tapi setelah berlakunya UUJN, badan peradilan tidak lagi melakukan pengawasan, pemeriksaan, dan penjatuhan terhadap sanksi notaris. Pasal 67 ayat (1) UU Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang jabatan notaris, menetapkan bahwa pengawasan tehadap notaris dilakukan oleh Menteri. Ketentuan pasal ini berkaitan dengan pasal 2 Undang-undang Nomor 30 tahun 2004 yang menetapkan bahwa notaris diangkat dan diberhentikan oleh Menteri. Menurut pasal 1 angka 14 Undang-undang Jabatan Negara yang dimaksud Menteri adalah mentri yang bidang tugas dan tanggung jawabnya meliputi bidang kenotariatan yaitu Menteri Hukum dan HAM. Sejak itu, tugas pengawasan ini dilakukan oleh Mentei Hukum dan HAM dengan membentuk Majelis Pengawas Notaris yang mempunyai kewenangan dan kewajiban untuk melaksanakan pembinaan dan pengawasan terhadap notaris meliputi perilaku notaris dan pelaksanaan jabatan notaris. Sebagaimana diatur pada pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris, Majelis pengawas Notaris adalah badan

49

yang mempunyai fungsi pembinaaan dan pengawasan terhadap Notaris. Kata pembinaan diletakkan di depan dimaksudkan agar mempunyai fungsi sebagai lembaga pengawasan. Dengan demikian fungsi pembinaan ini didahulukan dari pada fungsi pengawasan, tentunya ada makna yang ingin disampaikan oleh pembentuk Undang-Undang Jabatan Notaris kepada para Notaris khususnya dan kepada masyarakat sebagai pengguna jasa Notaris pada umumya. Fungsi pembinaan ini, lebih didahulukan atau diutamakan daripada fungsi pengawasan dikarenakan terkait dengan kedudukan Notaris sebagai jabatan atau profesi yang mulia (offium nobile), yang oleh karena itu seorang Notaris narus mampu menjaga kehormatan, martabat dan tanggungjawab sebagai jabatan yang mulia tersebut. Selanjutnya dalam melaksanakan pengawasan tersebut Menteri

membentuk Majelis Pengawas (Pasal 67 ayat [2] UUJN). Pasal 67 ayat (3) UUJN menentukan Majelis Pengawas tersebut terdiri dari 9 (sembilan) orang, terdiri dari unsur: a. Pemerintah sebanyak 3 (tiga) orang; b. Organisasi Notaris sebanyak 3 (tiga) orang; dan c. Ahli/akademik sebanyak 3 (tiga) orang. Dalam Pasal 3 ayat (1), Pasal 4 ayat (1 ) dan Pasal 5 ayat (l ) Peraturan Menteri ditentukan pengusulan Anggota Majelis Pengawas. Pasal 3 ayat (1) menentukan pengusulan Anggota Majelis Pengawas Daerah (MPD)dengan ketentuan: a. Unsur pemerintah oleh Kepala Divisi Pelayanan Hukum Kantor Wilayah; b. Unsur organisasi Notaris oleh Pengurus Daerah lkatan Notaris lndonesia; c. Unsur ahli/akademis oleh pemimpin fakultas hukum atau perguruan tinggi setempat. Pasal 4 ayat (1) menentukan pengusulan Anggota Majelis Pengawas Wilayah (MPW) dengan ketentuan: a. Unsur pemerintah oleh Kepala Kantor Wilayah;

50

b. Unsur organisasi Notaris oleh pengurus wilayah ikatan Notaris Indonesia; c. Unsur ahli/akademis oleh pemimpin fakultas hukum atau perguruan tinggi setempat. Pasal 5 ayat (1) menentukan pengusulan Anggota Majeris Pengawas Pusat (MPP) dengan ketentuan: a. Unsur pemerintah oleh Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum; b. Unsur organisasi Notaris oleh Pengurus Pusat lkatan Notaris Indonesia; c. Unsur ahli/akademis oleh dekan fakultas hukum universitas yang menyelenggarakan program magister kenotariatan. Menurut Pasal 68 UUJN, bahwa Majelis Pengawas Notaris, terdiri atas: a. Majelis Pengawas Daerah; b. Majelis Pengawas Wilayah; dan c. Majelis Pengawas Pusat.

Majelis Pengawas Daerah (MPD) dibentuk dan berkedudukan di Kabupaten atau Kota (Pasal 69 ayat [1] UUJN), Majelis Pengawas Wilayah (MPW) dibentuk dan berkedudukan di Ibukota Provinsi (pasal 72 ayat [1] UUJN), dan Majelis Pengawas Pusat (MPP) dibentuk dan berkedudukan di Ibukota Negara (Pasal 76 ayat [1] UUJN). Adapun kewenangan masing-masing Majelis Pengawas Notaris tersebut adalah sebagai berikut : 1. Majelis Pengawas Daerah (MPD) Wewenang MPD diatur dalam UUJN, Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10. Tahun 2004, dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39.PW07.10.Tahun 2004. Dalam Pasal 66 UUJN diatur mengenai wewenanq MPD yang berkaitan dengan:

51

(1) Untuk kepentingan proses peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim dengan persetujuan Majelis Pengawas Daerah berwenang: a. Mengambil fotokopi Minuta Akta dan surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; b. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris. (2) Pengambilan fotokopi Minuta Akta atau surat-surat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibuat berita acara penyerahan. Ketentuan Pasal 66 UUJN ini mutlak kewenangan MPD yang tidak dipunyai oleh MPW maupun MPP. Substansi Pasal 66 UUJN imperatif dilakukan oleh penyidik, penuntut umum, atau hakim. Dengan batasan sepanjang berkaitan dengan tugas jabatan Notaris dan sesuai dengan kewenangan Notaris sebagaimana tersebut dalam Pasal 15 UUJN. Ketentuan tersebut berlaku hanya dalam perkara pidana, karena dalam pasal tersebut berkaitan pidana. Jika seorang Notaris digugat perdata, maka izin dari MPD tidak diperlukan, karena hak setiap orang untuk mengajukan gugatan jika ada hak-haknya terlanggar oleh suatu akta Notaris. Dalam kaitan ini MPD harus objektif ketika melakukan pemeriksaan atau meminta keterangan dari Notaris untuk memenuhi permintaan peradilan, penyidik, penuntut umum, atau hakim, artinya MPD harus menempatkan akta Notaris sebagai objek pemeriksaan yang berisi pernyataan atau keterangan para pihak bukan menempatkan subjek Notaris sebagai objek pemeriksaan, sehingga tata cara atau prosedur pembuatan akta harus dijadikan ukuran dalam pemeriksaan tersebut. Dengan demikian diperlukan anggota MPD, baik dari unsur Notaris, pemerintahan, dan akademis yang memahami akta Notaris, baik dari prosedur maupun

52

substansinya. Tanpa ada izin dari MPD penyidik penuntut umum dan hakim tidak dapat memanggil atau meminta Notaris dalam suatu perkara pidana.*) Pasal 70 UUJN mengatur wewenang MPD yang berkaitan dengan: a. Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa adanya dugaaan

pelanggaran Kode Etik Notaris*) atau pelanggaran pelaksanaan jabatan Notaris; b. Melakukan pemeriksaan terhadap Protokol Notaris secara berkala 1 (satu) dalam 1 (satu) tahun atau setiap waktu yang dianggap perlu; c. d. Memberikan izin cuti untuk waktu sampai dengan 6 (enam) bulan; Menetapkan Notaris Pengganti dengan memperhatikan usul Notaris yang bersangkutan; e. Menentukan tempat penyimpanan Protokol Notaris yang pada saat serah terima Protokol Notaris telah berumur 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih; f. Menunjuk Notaris yang akan bertindak sebagai pemegang sementara Protokol Notaris yang diangkat sebagai pejabat negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (4); g. Menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya dugaan

pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran ketentuan dalam undang-undang ini;
*) Notaris danPPAT sebagai institusi yang esoterik,suatu hal yang tepat, jika Notaris dan PPAT diperlakukan secara khusus. Jika Notaris tersangkut dalam suatu perkara pidana, dengan cara pemeriksaan sebagaimana tersebut dalam Pasal 66 UUJN. Tindak lanjut dari ketentuan pasal tersebut telah dibuat Nota Kesepahaman antara Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan lkatan Notaris lndonesia (INI) No.Pol. B/1056/V/2006 dan Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah Indonesia (IPPAT) No.pol. B/1055/V/2006, Nomor: 01/PP-IPPAT/V/2006, tanggal 5 Mei 2006. Dalam hal ini agak kurang tepat jika substansi suatu undang-undang (UUJN) diimplementasikan dalam bentuk Nota Kesepahaman, seharusnya undang-undang tersebut dilaksanakan sebagaimana maksud dan tujuan undang-undang yang bersangkutan. *)MPD seharusnya tidak perlu diberi kewenangan untuk memeriksa adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Jabatan Notaris, karena organisasi jabatan Notaris secara internal sudah mempunyai institusi sendiri, jika ada anggotanya melanggar kode etik jabatan Notaris. MPD mempunyai kewenangan untuk melaksanakan pengawasan menurut UUJN, Dewan Kehormatan Notaris mempunyai kewenangan untuk melaksanakan ketentuan menurut Kode Etik Jabatan Notaris. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 83 ayat (1) UUJN, bahwa Organisasi Notaris menetapkan dan menegakkan Kode Etik Notaris.

53

h.

Membuat dan menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, huruf e, dan g kepada Majelis PengawasWilayah. Kemudian Pasal 71 UUJN mengatur wewenang MPD yang berkaitan

dengan: a. Mencatat pada buku daftar yang termasuk dalam Protokol Notaris dengan menyebutkan tanggal pemeriksaan, jumlah akta serta jumlah surat di bawah tangan yang disahkan dan yang dibuat sejak tanggal pemeriksaan terakhir; b. Membuat berita acara pemeriksaan dan menyampaikannya kepada Majelis Pengawas Wilayah setempat, dengan tembusan kepada Notaris yang bersangkutan, Organisasi Notaris, dan Majelis Pengawas Pusat; c. Merahasiakan isi akta dan hasil pemeriksaan; d. Menerima salinan yang telah disahkan dari daftar akta dan daftar lain dari Notaris dan merahasiakannya; e. Menerima laporan masyarakat terhadap Notaris dan menyampaikan hasil pemeriksaan tersebut kepada Majelis Pengawas Wilayah dalam waktu 30 (tiga puluh) hari, dengan tembusan kepada pihak yang melaporkan, Notaris yang bersangkutan, Majelis Pengawas Pusat, dan Organisasi Notaris. f. Menyampaikan permohonan banding terhadap keputusan penolakan cuti. Wewenang MPD juga diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004, seperti dalam Pasal 13 ayat (1)dan (2), yang menegaskan bahwa, Kewenangan MPD yang bersifat administratif dilaksanakan oleh ketua, wakil ketua, atau salah satu anggota yang diberi wewenang berdasarkan keputusan rapat MPD, yaitu mengenai:

54

a. Memberikan izin cuti untuk jangka waktu sampai dengan 6 (enam) bulan; b. Menetapkan Notaris Pengganti; c. Menentukan tempat penyimpanan Protokol Notaris yang pada saat serah terima Protokol Notaris telah berumur 25 (dua puluh lima) tahun atau lebih; d. Menerima laporan dari masyarakat mengenai adanya pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran ketentuan dalam undang-undang; e. Memberi paraf dan menandatangani daftar akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, daftar surat di bawah tangan yang dibukukan dan daftar surat lain yang diwajibkan undang-undang; f. Menerima penyampaian secara tertulis salinan dari daftar akta, daftar surat di bawah tangan yang disahkan, dan daftar surat di bawah tangan yang dibukukan yang telah disahkannya, yang dibuat pada bulan sebelumnya paling lambat 15 (lima belas) hari kalender pada bulan berikutnya, yang memuat sekurang-kurangnya nomor,tanggal dan judul akta. Wewenang MPD yang bersifat administratif yang memerlukan keputusan rapat MPD diatur dalam Pasal 14 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10. Tahun 2004,yang berkaitan dengan: a. Menunjuk Notaris yang akan bertindak sebagai pemegang Protokol Notaris yang diangkat sebagai pejabat negara; b. Menunjuk Notaris yang akan bertindak sebagai pemegang Protokol Notaris yang meninggal dunia; c. Memberikan persetujuan atas permintaan penyidik, penuntut umum atau hakim untuk proses peradilan;

55

d. Menyerahkan fotokopi Minuta Akta dan/atau surat-surat yang dilekatkan pada Minuta Akta atau Protokol Notaris dalam penyimpanan Notaris; e. Memanggil Notaris untuk hadir dalam pemeriksaan yang berkaitan dengan akta yang dibuatnya atau Protokol Notaris yang berada dalam penyimpanan Notaris. Wewenang MPD dalam Pasal 15 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004, mengatur mengenai pemeriksaan yang dilakukan terhadap Notaris, yaitu: (1) Majelis Pengawas Daerah sebelum melakukan pemeriksaan berkala atau pemeriksaan setiap waktu yang dianggap perlu, dengan terlebih dahulu secara tertulis kepada Notaris yang bersangkutan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja, sebelum pemeriksaan dilakukan; (2) Surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

mencantumkan jam, hari, tanggal, dan nama anggota Majelis Pengawas Daerah yang akan melakukan pemeriksaan; (3) Pada waktu yang ditentukan untuk dilakukan pemeriksaan, Notaris yang bersangkutan harus berada di kantornya dan menyiapkan Protokol Notaris. Wewenang MPD dalam Pasal 16 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004, mengatur mengenai pemeriksaan terhadap Notaris yang dilakukan oleh sebuah Tim Pemeriksa, yaitu: (1) Pemeriksaan secara berkala dilakukan oleh Tim Pemeriksa yang terdiri atas 3 (tiga) orang anggota dari masing-masing unsur yang dibentuk oleh Majelis Pengawas Daerah yang dibantu oleh 1 (satu)orang sekretaris; (2) Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menolak untuk memeriksa Notaris yang mempunyai hubungan perkawinan atau

56

hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah tanpa pembatasan derajat, dan garis lurus ke samping sampai dengan derajat ketiga dengan Notaris; (3) Dalam hal Tim Pemeriksa mernpunyai hubungan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Ketua Majelis Pengawas daerah menunjuk penggantinya. Hasil pemeriksaan Tim Pemeriksa sebagaimana tersebut di atas wajib dibuat Berita Acara dan dilaporkan kepada MPW, pengurus organisasi jabatan Notaris dan MPW, hal ini berdasarkan Pasal 17 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor

M.02.PR.0B.10.Tahun 2004, yaitu: (1) Hasil pemeriksaan Tim Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dituangkan dalam berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh Ketua Tim Pemeriksa dan Notaris yang diperiksa; (2) Berita Acara Pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada Majelis Pengawas Wilayah setempat dengan tembusan kepada Notaris yang bersangkutan, Pengurus Daerah lkatan Notaris Indonesia, dan Majelis Pengawas Pusat. Wewenang MPD juga diatur dalam Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10.Tahun 2004, seperti tersebut dalam angka 1 butir 2 mengenai Tugas Majelis Pengawas Notaris, yaitu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70, 71 UUJN, Pasal 12 ayat (2), Pasal l4, 15, 16, dan 17 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004, dan kewenangan lain, yaitu: (1) Menyampaikan kepada Majelis Pengawas Wilayah tanggapan Majelis Pengawas Daerah berkenaan dengan keberatan atas putusan penolakan cuti;

57

(2) Memberitahukan kepada Majelis PengawasWilayah adanya dugaan unsure pidana yang ditemukan oleh Majelis Pemeriksa Daerah atas laporan yang disampaikan kepada Majelis Pengawas Daerah; (3) Mencatat izin cuti yang diberikan dalam sertifikat cuti; (4) Menandatangani dan memberi paraf Buku Daftar Akta dan buku khusus yang dipergunakan untuk mengesahkan tanda tangan surat di bawah tangan dan untuk membukukan surat di bawah tangan; (5) Menerima dan menatausahakan Berita Acara penyerahan protokol; (6) Menyampaikan kepada Majelis pengawas Wilayah: a. Laporan berkala setiap 6 (enam) buran sekali atau pada bulan Juli dan Januari; b. Laporan insidentil setiap 15 (rima belas) hari setelah pemberian izin cuti.

2. Majelis Pengawas Wilayah (MPW) Wewenang MPW di samping diatur dalam UUJN, juga diatur dalam peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004, dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10.Tahun 2004. Dalam pasal 73 ayat (1) UUJN diatur mengenai wewenang MPD yang berkaitan dengan: a. Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil keputusan atas laporan masyarakat yang disampaikan melalui Majelis Pengawas Wilayah; b. Memanggil Notaris terlapor untuk dilakukan pemeriksaan atas laporan sebagaimana dimaksud pada huruf a; c. Memberikan izin cuti lebih dari 6 (enam) bulan sampai 1 (satu) tahun; d. Memeriksa dan memutus atas keputusan Majelis Pengawas Daerah yang memberikan sanksi berupa teguran lisan atau tertulis;

58

e. Mengusulkan pemberian sanksi terhadap Notaris kepada Majelis Pengawas Pusat berupa: (1) Pemberhentian sementara 3 (tiga) bulan sampai dengan 6 (enam) bulan; atau (2) Pemberhentian dengan tidak hormat. f. Membuat berita acara atas setiap keputusan penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada huruf e dan huruf f. Menurut Pasal 73 ayat (2) UUJN, Keputusan Majelis Pengawas Wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e bersifat final, dan terhadap setiap keputusan penjatuhan sanksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e dan huruf f dibuatkan berita acara (Pasal 73 ayat [3] UUJN). Wewenang MPW menurut Pasal 26 peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.0B.10.Tahun 2004, berkaitan dengan pemeriksaan yang dilakukan oleh MPW, yaitu: (1) Majelis Pemeriksa wilayah memeriksa dan memutus hasil pemeriksaan Majelis Pemeriksa Daerah; (2) Majelis Pemeriksa Wilayah mulai melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeriksaan Majelis Pengawas Daerah dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sejak berkas diterima; (3) Majelis Pemeriksa Wilayah berwenang memanggil Pelapor dan Terlapor untuk didengar keterangannya; (4) Putusan diucapkan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak berkas diterima. Dalam angka 2 butir 1 Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M. 39-PW.07.10.Tahun 2004, mengenai Tugas Majelis Pengawas menegaskan bahwa MPW berwenang untuk menjatuhkan sanksi yang tersebut dalam Pasal 73, 85 UUJN, dan Pasal 26 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10.Tahun 2004. Kemudian angka 2 butir 2

59

Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10.Tahun 2004 mengatur pula mengenai kewenangan MPW, yaitu: (1) Mengusulkan kepada Majelis Pengawas Pusat pemberian sanksi pemberhentian dengan hormat; (2) Memeriksa dan memutus keberatan*) atas putusan penolakan cuti oleh Majelis Pengawas Daerah; (3) Mencatat izin cuti yang diberikan dalam sertifikat cuti; (4) Melaporkan kepada instansi yang berwenang adanya dugaan unsur pidana yang diberitahukan oleh Majelis Pengawas Daerah. Atas laporan tersebut, setelah dilakukan pemeriksaan oleh Majelis Pemeriksa Wilayah hasilnya disampaikan kepada Majelis Pengawas Pusat; (5) Menyampaikan laporan kepada Majelis Pengawas Pusat, yaitu: a. Laporan berkala setiap 6 (enam) bulan sekali dalam bulan Agustus dan Februari; b. Laporan insidentil paling lambat 15 (lima belas) hari setelah putusan Majelis Pemeriksa.

(3) Majelis Pengawas Pusat (MPP) Wewenang MPP di samping diatur dalam UUJN, juga diatur dalam Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10. Tahun 2004, dan Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW.07.10. Tahun 2004. Dalam Pasal 77 UUJN diatur mengenai wewenang MPP yang berkaitan dengan: a. Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil

keputusan dalam tingkat banding terhadap penjatuhan sanksi dan penolakan cuti;
*) Keberatan adalah banding sebagaimana disebut dalam Pasal 31 ayat (3) dan Pasal 71 huruf f UUJN.

60

b. Memanggil

Notaris

terlapor

untuk

dilakukan

pemeriksaan

sebagaimana dimaksud pada huruf a;*) c. Menjatuhkan sanksi pemberhentian sementara; d. Mengusulkan pemberian sanksi berupa pemberhentian dengan tidak hormat kepada Menteri. Selanjutnya wewenang MPP diatur juga dalam Pasal 29 Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.02.PR.08.10. Tahun 2004, yang berkaitan dengan pemeriksaan lebih lanjut yang diterima dari MPW: (1) Majelis Pemeriksa Pusat memeriksa permohonan banding atas putusan Majelis Pemeriksa Wilayah; (2) Majelis Pemeriksa Pusat mulai melakukan pemeriksaan terhadap berkas permohonan banding dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari kalender sejak berkas diterima; (3) Majelis Pemeriksa Pusat berwenang memanggil Pelapor dan Terlapor untuk dilakukan pemeriksaan guna didengar keterangannya; (4) Putusan diucapkan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak berkas diterima; (5) Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus memuat alasan dan pertimbangan yang cukup, yang dijadikan dasar untuk menjatuhkan putusan; (6) Putusan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditandatangani oleh Ketua, Anggota dan Sekretaris Majelis Pemeriksa Pusat; (7) Putusan Majelis Pemeriksa Pusat disampaikan kepada Menteri dan salinannya disampaikan kepada Pelapor, Terlapor, Majelis Pengawas Daerah, Majelis Pengawas Wilayah, dan Pengurus Pusat lkatan Notaris Indonesia, dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak putusan diucapkan.

*) Pasal 77 a UUJN yaitu: menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil keputusan dalam tingkat banding terhadap penjatuhan sanksi dan penolakan cuti.

61

Dalam angka 3 butir 1 Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor M.39-PW,07.10.Tahun 2004,

mengenai Tugas Majelis Pengawas, bahwa MPP berwenang untuk melaksanakan ketentuan yang tersebut dalam Pasal 77 huruf, 84 UUJN*) dan 85 UUJN, dan kewenangan lain, yaitu: (1) Memberikan izin cuti lebih dari 1 (satu) tahun dan mencatat izin cuti dalam sertifkat cuti; (2) Mengusulkan kepada Menteri pemberian sanksi pemberhentian sementara; (3) Mengusulkan kepada Menteri pemberian sanki pemberhentian dengan hormat; (4) Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil putusan dalam tingkat banding terhadap penjatuhan sanksi, kecuali sanksi berupa teguran lisan dan tertulis; (5) Menyelenggarakan sidang untuk memeriksa dan mengambil keputusan dalam tingkat banding terhadap penjatuhan sanksi dan penolakan cuti.

*) Wewenang MPP untuk melaksanakan sanksi perdata sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 UUJN, karena sanksi perdata pelaksanaannya tidak pernah diberikan kepada instansi lain, seperti MPP.

62

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful