Kepmendagri No. 1 Tahun 2002 - Pedoman Susunan Organisasi Dan Tata Kerja RS Daerah

KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

SAKIT DAERAH MENTERI DALAM NEGERI

Menimbang: bahwa dalam rangka pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2001 tentang Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah, perlu ditetapkan pedoman susunan Organisasi dan Tatakerja Rumah Sakit Daerah dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 70, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 1650); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4022); 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2001 tentang Pedoman Kelembagaan dan Pengelolaan Rumah Sakit Daerah. 8. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2000 tentang Pedoman Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah; 9. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 40 Tahun 2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Dalam Negeri.

C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM)

1

Rumah Sakit Daerah berkedudukan sebagai lembaga teknis Daerah atau unsure penunjang Pemerintah Daerah. BENTUK. Kabupaten dan Kota di bidang kesehatan. Rumah Sakit Daerah adalah rumah sakit milik Pemerintah Propinsi. Badan adalah Lembaga Teknis Daerah yang mempunyai fungsi koordinasi dan perumusan kebijakan pelaksanaan serta fungsi pelayanan masyarakat di bidang kesehatan.MEMUTUSKAN Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Kabupaten/Kota yang berlokasi di daerah Propinsi. 2. C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002. 3. 2. Kabupaten dan Kota. Rumah Sakit Daerah dipimpin oleh seorang Kepala dengan sebutan Direktur yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Kedudukan Pasal 2 1. Rumah Sakit Daerah rujukan Propinsi lintas Kabupaten/Kota dikelola oleh Propinsi. Dinas Kesehatan adalah Unsur pelaksana Pemerintah Daerah Propinsi. 4. 3. BAB II KEDUDUKAN.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 2 . Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom lain sebagai badan eksekutif Daerah.

Kelembagaan Rumah Sakit Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Daerah. pemulihan yang dilaksanakan secara serasi. pengelolaan administrasi dan keuangan C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002. e. pelayanan penunjang medis dan non medis. 3. terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan dan melaksanakan upaya rujukan. b. Rumah Sakit Daerah dapat berbentuk Lembaga Teknis Daerah atau Badan Usaha Milik Daerah. Bagian Ketiga Tugas dan Fungsi Pasal 4 Rumah Sakit Daerah mempunyai tugas melaksanakan upaya kesehatan secara berdayaguna dan berhasilguna dengan mengutamakan upaya penyembuhan. pelayanan medis. f.Bagian Kedua Bentuk Pasal 3 1. pelaksanaan penelitian dan pengembangan. c. Rumah Sakit Daerah mempunyai fungsi: a. Pasal 5 Untuk menyelenggarakan tugas tersebut pada Pasal 4. g. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. d. Pembentukan Rumah Sakit Daeah yang berbentuk Badan Usaha Milik Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pelayanan rujukan. pelayanan asuhan keperawatan. 2. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 3 .

Wakil Direktur. Komite Medik berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur. Komite Medik mempunyai tugas membantu Direktur dalam menyusun Standar Pelayanan Medik.BAB III Organisasi Pasal 6 1. Bidang. 3. Direktur. efisiensi dan efektivitas. 2. melaksanakan pembinaan etika C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002. Komite Medik dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih oleh anggotanya dan ditetapkan dengan Keputusan Direktur. serta bersifat hemat struktur dan kaya fungsi.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 4 . g. Komite Keperawatan. 3. azas manfaat. Jumlah Wakil Direktur. BAB IV KOMITE MEDIK. Sekretariat. 4. INSTALASI DAN SATUAN PENGAWAS INTERN Bagian Pertama Komite Medik Pasal 7 1. Susunan Pengawas Intern Wakil Direktur sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. Bidang. Susunan organisasi Rumah Sakit Daerah sekurang-kurangnya terdiri dari: a. e. b. memantau pelaksanaannya. h. Komite Medik merupakan kelompok tenaga medis yang keanggotaannya terdiri dari Ketua-ketua Staf Medik Fungsional. 2. Instalasi. c. Staf Medik Fungsional. KOMITE KEPERAWATAN. 4. Bagan Susunan Organisasi Rumah Sakit Daerah sebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan ini. Sub Bagian dan Sub Bidang pada Rumah Sakit Daerah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Rumah Sakit Daerah berdasarkan beban kerja. dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah masing-masing. i. Komite Medik. STAF MEDIK FUNGSIONAL. f.

2. Bagian Kedua STAF MEDIK FUNGSIONAL Pasal 8 1. 2. 4. Bagian Ketiga KOMITE PERAWATAN Pasal 9 1. Staf Medik Fungsional merupakan kelompok dokter dan dokter gigi yang bekerja di instalasi dalam jabatan fungsional dan bertanggungjawab kepada Ketua Komite Medik. penyuluhan kesehatan. 5. mengatur kewenangan profesi anggota staf medik fungsional dan mengembangkan program pelayanan. C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002. 3. Komite Keperawatan merupakan kelompok profesi perawat/bidan yang anggotanya terdiri dari perawat/bidan. Pembentukan panitia ditetapkan dengan Keputusan Direktur. 4. Dalam melaksanakan tugasnya. melaksanakan pembinaan etika profesi keperawatan. Komite Keperawatan berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur. 5.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 5 . Komite Keperawatan mempunyai tugas membantu Direktur menyusun standar keperawatan. Panitia adalah kelompok kerja khusus yang dibentuk untuk mengatasi masalah khusus. 6. peningkatan dan pemulihan kesehatan. pendidikan dan latihan serta peningkatan dan pengembangan. Komite Medik dapat dibantu oleh panitia medik yang anggotanyanya terdiri dari staf medik fungsional dan tenaga profesi lainnya secara ex-offisio. Dalam melaksanakan tugasnya Staf Medik Fungsional di kelompokkan berdasarkan keahlian. 3. pencegahan akibat penyakit. pengobatan. profesi. Ketua Kelompok Staf Medik Fungsional ditetapkan dengan Keputusan Direktur. Kelompok Staf Medik Fungsional sebagaimana dimaksud ayat (3) dipimpin oleh seorang ketua yang dipilih oleh anggota kelompoknya untuk masa bakti tertentu. pembinaan asuhan keperawatan.5. Ketua Komite Keperawatan diangkat dan ditetapkan dengan Keputusan Direktur. Komite Keperawatan dipimpin oleh seorang Ketua yang dipilih oleh anggotanya. 7. Staf Medik Fungsional mempunyai tugas melaksanakan diagnosis.

bimbingan dan melaksanakan pengawasan terhadap pekerjaan dari unsure-unsur pembantu dan pelaksana yang berada dalam lingkungan satuan kerjanya. Pasal 12 Direktur berkewajiban memberikan petunjuk. Dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. 3. Jumlah dan jenis Instalasi disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Rumah Dakit Daerah dan perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Direktur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Rumah Sakit Daerah mempunyai hubungan koordinatif. 4. 5. BAB V TATA KERJA Pasal 11 1. Instalasi dipimpin oleh seorang Kepala dalam jabatan fungsional Instalasi mempunyai tugas membantu Direktur dalam penyelenggaraan pelayanan fungsional sesuai dengan fungsinya. Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. 2.doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 6 .Bagian Keempat INSTALASI Pasal 10 1. Kepala Instalasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur. Instalasi merupakan unit penyelenggaraan pelayanan fungsional di Rumah Sakit Daerah. 2. kooperatif dan fungsional dengan Dinas Kesehatan. C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002. Rumah Sakit Daerah mempunyai hubungan jaringan pelayanan terkait dengan Institusi pelayanan kesehatan lainnya.

doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 7 .BAB VI KEPEGAWAIAN Pasal 13 1. 2. MM C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002.IP. Kepegawaian dilingkungan Rumah Sakit Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. MBA. Pasal 16 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 24 Januari 2002 MENTERI DALAM NEGERI DR (HC) HARI SABARNO. Pasal 15 Dengan berlakunya Keputusan ini maka Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 22 Tahun 1994 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah dinyatakan tidak berlaku. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN DAN PENUTUP Pasal 14 Kelembagaan Rumah Sakit Daerah yang sudah ditetapkan agar disesuaikan dengan Keputusan ini. Eselonering Rumah Sakit Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. S.

doc (Sri PC per 9/16/02 1:29 PM) 8 .BAGAN SUSUNAN ORGANISASI RUMAH SAKIT DAERAH Lampiran: Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 1 Tahun 2002 Tanggal : 24 Januari 2002 DIREKTUR DEWAN PENYANTUN WAKIL DIREKTUR SEKRETARIAT KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL BIDANG SUB BAGIAN SUB BIDANG C:/Datafile/Undang2/Kepmendagri/Kepmendagri_1_2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful