MINGGU, 9 SEPTEMBER 2012

19

EVENT

Tempa Nyali di Bromo 360
PERNAH mencoba berpetualang dengan dirt bike, sejenis sepeda motor trail, dan melewati trek yang cukup menguji nyali? Sebanyak 1.097 peserta acara Bromo 360 berpetualangan di seputar Gunung Bromo dengan dirt bike pada 2 September lalu. Tepatnya dari Bhakti Alam Farm sampai di Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur. Ajang tersebut merupakan kali kedua silaturahim akbar sesama offroader--sebutan bagi pehobi motor trail. Ribuan peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari DKI Jakarta, Bali, sampai Kalimantan. Di antara peserta ada yang masih pelajar SMP, lo! “Kami berangkat mulai pukul 06.30 WIB. Karena pesertanya banyak, kami bagi-bagi jam berangkatnya. Paling lama pukul 08.00. Tujuannya biar di jalan, misalnya trek hutan, tidak terjadi kemacetan,” ujar Ridho Faisal, kapten Bromo 360. Peserta menelusuri trek sendiri-sendiri atau berkelompok, tergantung kondisi dan jam terbangnya. Trek yang dilalui memiliki tingkat kesulitan berbeda. Ada trek sungai, hutan, padang pasir, dan sebagainya. “Peserta yang mayoritas laki-laki ini ditantang kekuatan fisiknya, kecakapan dengan motor, dan yang paling penting pengendalian emosi, semacam menempa mental dari alam, deh,” ujar cowok yang akrab dipanggil Isal itu. Selama di perjalanan, ada saja kendala yang ditemukan peserta. “Ada yang bermasalah motornya, kelelahan, bahkan nyasar juga,” kata Isal. “Kami menyediakan tim evakuasi untuk mencari peserta yang belum sampai garis finis,” tambah Isal. Wah, seru banget bisa berpetualang dengan dirt bike. Buat kamu-kamu yang penasaran ngerasain serunya tantangan ini, November mendatang tim Merah Putih Project akan menggelar Indonesia Sick Day, berpetualang enam hari dari Jember sampai Bali. Ayo ikutan dan buktikan kamu berani! (*/M-6)

DOK. PRIBADI

Nurul Indriyani saat berdiskusi dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar.

Jangan Nikah Cepat-Cepat, Ya!
Usianya baru 15 tahun. Namun, Nurul Indriyani berkampanye tentang bahaya pernikahan dini dan akses perempuan akan pendidikan.
D IAN P ALUPI
ALAUPUN isu yang diusung terbilang berat, metode yang dilakukan tetap seru, mulai dari bikin film hingga buat mading. Berkat aktivitasnya, Nurul sempat berdiskusi dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar. Dia juga ditunjuk sebagai Duta Because I am A Girl (BIAAG) Indonesia. Bulan depan, Nurul juga akan berangkat ke New York dan berbagi pengalaman dengan duta BIAAG dari berbagai negara. Kok bisa berkampanye tentang isu pernikahan dini? Awalnya saya mendapat inspirasi dari ibu. Beliau menikah ketika masih 15 tahun, melahirkan saya umur 16. Ibu menikah karena percaya anggapan orangtuanya, kalau tidak menikah cepat-cepat, nanti akan dapat suami duda. Apa sih cita-cita kamu? Kebetulan cita-cita saya sama dengan ibu, jadi bidan. Nanti kalau jadi bidan, saya ingin membantu mereka yang tidak punya biaya dan korban pernikahan usia muda. Di sekitar tempat tinggalmu masih banyak ya yang nikah muda? Saya melakukan riset dengan teman-teman, dari 70 perempuan di desa saya, 35 menikah di usia 13-18 tahun. Rata-rata putus s e ko l a h k a r e n a tidak ada biaya. Yang kedua, ada anggapan kalau belum menikah akan dibilang perawan tua atau mendapat duda. Banyak juga yang takut dibilang durhaka. Padahal nyatanya banyak yang sudah punya anak, tapi tetap bergantung hidup pada orangtuanya. Seperti mata
DOK. PRIBADI

rantai yang tidak putus-putus. Faktor lain juga karena pergaulan bebas. Seperti apa sih pergaulannya? Memprihatinkan. Banyak yang pulang sekolah langsung ke warnet. Bilang ke orangtuanya mengerjakan tugas. Nyatanya banyak yang mojok dan pacaran di warnet. Saya sering melihat sendiri. Karenanya, sampai ada yang hamil di luar nikah.

W

Yang kamu lakukan? Saya mengajak mereka ngobrol. Memberi tahu bahaya pacaran kebablasan. Tapi, saya malah dimusuhi. Mereka jawab, “Sekarang kan modern, masak enggak pacaran?” Saya sih enggak menyerah. Saya bawa isu ini ke kelompok anak di desa saya, namanya Persatuan Pelajar Anak Desa Padang. Awalnya banyak yang tidak setuju. Saya meyakinkan mereka dan berhasil. Akhirnya kita membuat seminar sampai beberapa kali pas liburan sekolah. Setiap punya ide, saya diskusikan juga dengan Plan Indonesia dan kadang minta bantuan pembicara yang pas. Bagaimana tanggapan para orangtua di desa kamu? Ada yang berpikir kampanye ini ada benarnya juga. Tapi, ada juga yang bilang, “Ngapain kamu ceritacerita sama saya, buat apa membujuk saya, kan kamu bukan siapa-siapa saya.” Bagaimana cara kamu berkampanye? Banyak cara. Membuat mading, koran selembar, acara gerak jalan, sampai film dokumenter. Film ini kami kirim ke komunitas lain di luar kota juga. Pas pemutaran, kami mengundang remaja, orangtua, dan pejabat desa. Dari ide sampai editing, kami semua yang melakukan. Di kampanye juga kami

selipkan testimoni dari yang sudah menikah. Misalnya ada yang cerai karena faktor ekonomi, cerita sulitnya hidup dengan bekal pengetahuan minim, dan dampak psikologis juga. Ada kawan saya yang selama hamil mengurung diri di rumah, malu dengan teman-temannya. Kamu terpilih jadi Duta Because I am A Girl (BIAAG) dari Plan Indonesia, bagaimana ceritanya sih? Saya ikut seleksi presentasi bersama anak-anak dari daerah lain dan saya ternyata lulus seleksi dan terpilih jadi duta. Duta BIAAG di dunia ada enam orang. Dari Indonesia, saya. Pada 6-14 Oktober saya akan ke New York, hadir di forum PBB untuk mempresentasikan pengalaman di Indonesia. Berat enggak sih menjalani kampanye ini? Isu yang diangkat berat, lo! Jangan dipikir berat duluan. Saya melakukannya bertahap dan terus mencoba. Kalau tidak dijalankan dan hanya mereka-reka konsepnya, ya enggak jalan kampanyenya. Tiap dapat ide, diskusi dengan teman-teman dari Persatuan Pelajar Anak Desa Padang dan Forum Persatuan Anak Kecamatan Grobogan. Pokoknya rajin cari info, bertanya, dan bergerak. Saya ingin setiap anak perempuan mendapatkan akses pendidikan yang layak dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. (*/M-2)

DOK. BROMO 360

EKSIS

MTs Negeri Pamulang Ingin Pertahankan Gelar
IKUTAN ekstrakurikuler musik memang mengasyikkan dan biasanya banyak peminat. Begitu juga dengan Marching Band Gita Cantika (MBGC) dari MTs Negeri Pamulang, Tangerang Selatan. MBGC yang berdiri pada 17 Agustus 2007 kini punya 70 anggota. “Enggak harus bisa alat musik tertentu, kok. Kita di sini kan sama-sama belajar. Tapi, dari kakak pelatihnya kita sudah dipilih dan diseleksi, alat musik apa yang harus kita mainkan,” kata Anggi Puspa Dewi, ketua MBGC. Tuh kan, kamu enggak perlu khawatir. Kamu justru bisa belajar beberapa alat musik di sini. “Iya, selain alat musik yang harus kita mainkan tadi, kita juga bisa belajar memainkan alat musik yang lain. Kalau masih belum terlalu bisa, harus memanfaatkan waktu latihan tambahan untuk belajar dan mengulang dari dasar,” tutur Anggi. Jadwal latihan rutin MBGC setiap Jumat pukul 14.00 sampai selesai. Dalam sebuah marching band, formasi anggota memang banyak. Di MBGC, susunan formasinya 1 field commander, 3 snare drum player, 4 cymbal player, 2 quint tom player, 5 bass drum player, 16 trumpet player, 8 mellophone player, 7 baritone player, 3 tuba player, 10 pit player, dan 11 colour guard player. MBGC sudah sering tampil di berbagai acara, di antaranya acara upacara 17 Agustus di Kecamatan Pamulang, Hari Amal Bakti di Serang, MTQ di Serang, ulang tahun Kementerian Agama, dan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia Indah, beberapa waktu lalu. MBGC juga pernah mengikuti tiga perlombaan dan semuanya juara satu! Wah, keren, ya. “Tahun 2010 kami lomba Darunnajah Marching Band Competition), memperebutkan Piala Wapres. Terus tahun 2010 dan 2011 ikut Grand Prix Junior Band yang memperebutkan Piala Presiden,” cerita Anggi kepada Move. Saat ini, MBGC sedang bersiap mengikuti lomba yang sama pada November untuk mempertahankan Piala Presiden yang mereka miliki. (*/M-6)

Biodata
Nama : Nurul Indriyani. Tempat tanggal lahir : Grobogan, 17 Mei 1997. Alamat : Desa Padang, Dusun Karangsari, Kecamatan Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah. Sekolah : Kelas 1 Madrasah Aliyah Manba’ul Ulum, Demak. Nama Ayah : Pujianto. Pekerjaan Ayah : Petani. Nama Ibu : Siti Musa’adah. Pekerjaan ibu : Ibu Rumah Tangga. Prestasi: Siswi berprestasi Hari Anak Nasional 2012, sebagai motivator penekanan angka pernikahan pada usia anak, kesetaraan gender, dan perluasan hak anak terhadap akses pendidikan. ● Lulusan terbaik Ujian Akhir Sekolah 2012 di sekolahnya. ● Selalu mendapat peringkat pertama dan meraih beasiswa. ● Duta Because I Am A Girl (BIAAG) 2012, mewakili Indonesia.

DOK. MTS NEGERI PAMULANG

Ralat
Pada foto Ikon pekan lalu (2/9), tercantum keterangan foto: Revi Marcelina, seharusnya Sona Febrina.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.