RESPONS MORFOLOGI DAN ANATOMI KECAMBAH KACANG

KEDELAI (Glycine max




FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
RESPONS MORFOLOGI DAN ANATOMI KECAMBAH KACANG
Glycine max (L.) Merill) TERHADAP INTENSITAS CAHAYA
YANG BERBEDA
Oleh :
LISA INDRIED PANTILU
071012017










JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2011
RESPONS MORFOLOGI DAN ANATOMI KECAMBAH KACANG
(L.) Merill) TERHADAP INTENSITAS CAHAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Wanga Kecamatan Motoling Timur Kabupaten Minahasa
Selatan pada tanggal 24 Maret 1989 sebagai anak pertama dari dua bersaudara,
dari pasangan Adrie Pantilu dan Dey Tumanduk. Pendidikan formal yang telah
ditempuh oleh penulis, yakni tahun 2001 penulis lulus dari SD GMIM I Wanga,
dan melanjutkan ke SMP Negeri I Motoling, dan tahun 2004 penulis masuk SMU
Negeri I Motoling. Pada tahun 2007 penulis melanjutkan pendidikan ke perguruan
tinggi dan akhirnya diterima di Universitas Sam Ratulangi sebagai mahasiswa di
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam pada Jurusan Biologi melalui
jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

Selama mengikuti perkuliahan penulis mengikuti kegiatan Bismaba yang
dilaksanakan oleh fakultas dan mengikuti kegiatan Himaju yang dilaksanakan
oleh jurusan Biologi. Selama mengikuti pendidikan di Perguruan Tinggi F-MIPA
UNSRAT, penulis mendapat kesempatan untuk terlibat dalam organisasi
mahasiswa. Penulis pernah menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan
(HIMAJU) Biologi periode 2009-2011. Pada tahun 2010 penulis mengikuti
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan ditempatkan di Kelurahan Uwuran Dua
Kabupaten Minahasa Selatan.





KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus, karena
kasih karunia dan anugerah-Nya yang melimpah, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini disusun berdasarkan
penelitian dengan judul “Respons Morfologi dan Anatomi Kecambah Kacang
Kedelai (Glycine max (L.) Merill) terhadap Intensitas Cahaya yang
Berbeda”.

Dengan penuh rasa hormat penulis persembahkan skripsi ini untuk papa dan
mama tercinta atas kasih sayang, dukungan, doa dan yang senantiasa selalu
memberikan yang terbaik. Kepada adik saya (Dea) yang selalu memberikan
semangat dan doa bagi penulis untuk tetap memberikan yang terbaik dalam segala
hal. Dan kepada keluarga (tua jemmy, tua jolly, opa benny (alm) dan oma nona)
yang sudah banyak membantu melalui biaya, semangat, dan doa.

Dalam menyelesaikan penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang telah menyediakan waktu untuk
memberikan bimbingan, arahan dan motivasi. Pada kesempatan ini dengan
ketulusan hati dan rasa hormat penulis menyampaikan terima kasih kepada Ir.
Feky Mantiri, M.Sc., Ph.D., Dra. Nio Song Ai, M.Si., Ph.D dan Dr. Dingse
Pandiangan, M.Si selaku dosen pembimbing.


Penulis juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Prof. Dr. Ir. Herny E.I. Simbala, M.Si.; Dr. Johanis Pelealu, M.Si. dan Ir.
Marhaenus Rumondor selaku dosen penguji yang telah memberikan saran,
kritik dan informasi kepada penulis demi penyempurnaan skripsi ini.
2. Drs. Marnix L. Langoy, M.Si sebagai dosen pembimbing akademik yang
telah membimbing dan memberikan motivasi kepada penulis selama
kuliah.
3. Prof. dr. Edwin de Queljoe, M.Sc., Sp.And sebagai Dekan Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
4. Ketua Jurusan Biologi, Ir. Feky Mantiri, M.Sc., Ph.D dan Febby E. F.
Kandou, S.Si., M.Kes selaku Sekretaris Jurusan yang telah membantu
dalam pengurusan kelengkapan administrasi serta seluruh Staf Dosen dan
Pegawai jurusan Biologi.
5. Seluruh Staf Dosen F-MIPA UNSRAT yang mendidik, memberikan
arahan, pengajaran, berbagi ilmu, memberikan kritik, dan selalu
memberikan yang terbaik.
6. Dr. Saroyo, M.Si sebagai kepala laboratorium konservasi dan diversitas
yang telah mengijinkan penulis menggunakan laboratorium untuk
pelaksanaan penelitian.
7. Dr. Roni Koneri, S.Pd., M.Si yang telah membantu penulis dalam
peminjaman alat optilab dan mengajarkan cara penggunaan software yang
digunakan dalam penelitian.
8. Keluarga Pondaag Lengkey (kak Rommy Pondaag, SH., MH., kak Marlyn
Lengkey, SIP., misel dan kristy) yang telah memberikan motivasi dan doa
kepada penulis dan tempat tinggal bagi penulis selama kuliah. UntukTria
yang telah menjadi teman serumah yang baik selama kuliah, terima kasih
untuk saran, bantuan dan motivasinya.
9. Keluarga Lombok Tompodung (kak Frenly Lombok, SH., kak Riva
Tompodung, SIP., Queen, dan Miguel) yang telah banyak membantu
selama penulis kuliah. Terima kasih untuk nasehat dan motivasinya.
10. Teman-teman seangkatan Biologi 2007: Eka, Ridho, Billy, Puput, Ria,
Mita, Fitri, Azh, Akbar, Joice, Maria, dan Tiben untuk setiap bantuan,
motivasi, keceriaan dan kebersamaan selama kuliah.
11. Teman-teman yang telah membantu penulis selama penelitian Eka dan
Ridho. Terima kasih untuk bantuan dan dukungannya.
12. Sahabat-sahabatku (Frilly, Okta, Sarah, Edis, Nindy, Tria, Yudy, Ella dan
Tia) yang selalu memberikan dukungan bagi penulis.
13. Teman-teman sepelayanan RUSMAWAYA (Sindy, Okta, Randy, Patly,
Monita, Aquin, Silva, Eby, Nia, Jelmy, Berry, Kiki, David, Fanuel, dan
Vita) yang selalu memberikan semangat, dukungan dan doa.
14. Balai Benih Sulawesi Utara yang telah membantu memberikan benih yang
digunakan dalam penelitian.
15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini, yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Penulis menyampaikan
banyak terima kasih.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu
penulis menerima saran dan kritik yang dapat melengkapi skripsi ini. Satu harapan
bagi penulis, semoga skripsi ini dapat menambah wawasan baru dan dapat
bermanfaat bagi kita semua. Tuhan Yesus Memberkati.



Manado, September 2011


Lisa Indried Pantilu
i

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ............................................................................................. i
DAFTAR TABEL ..................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ iv
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ v
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................ ....... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................. 5
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................ 5
1.4 Manfaat Penelitian .............................................................. 6

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kacang Kedelai (Glycine max (L.) Merill) ........................ 7
2.2 Morfologi Tanaman Kedelai .............................................. 7
2.3 Syarat Tumbuh ................................................................... 10
2.4 Stadium Pertumbuhan Kacang Kedelai .............................. 11
2.4.1 Stadium Vegetatif ............................................. 12
2.4.2 Stadium Reproduktif ......................................... 13
2.5 Pengaruh Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman .......... 15
2.5.1 Tinggi Tanaman ................................................ 18
2.5.2 Luas Daun ......................................................... 19
2.5.3 Jumlah Daun ..................................................... 20
2.5.4 Stomata .............................................................. 20

III. METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ............................................. 22
3.2 Alat dan Bahan .................................................................... 22


ii

3.2.1 Alat ..................................................................... 22
3.2.2 Bahan ................................................................. 22
3.3 Prosedur Penelitian .............................................................. 22
3.3.1 Persiapan ............................................................ 23
3.3.2 Perkecambahan .................................................. 23
3.3.3 Perlakuan ............................................................ 24
3.3.4 Pengamatan ........................................................ 24
3.3.5 Analisis Data ...................................................... 27

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Iklim Mikro Tanaman ......................................................... 28
4.2 Morfologi Tanaman ............................................................. 32
4.2.1 Tinggi Tanaman ................................................. 33
4.2.2 Jumlah Daun ...................................................... 35
4.2.3 Luas Daun .......................................................... 37
4.3 Anatomi Tanaman ............................................................... 40

V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .......................................................................... 44
5.2 Saran .................................................................................... 44

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 45
LAMPIRAN ................................................................................................. 51






iii

DAFTAR TABEL
No. Halaman
1. Rata-rata pengamatan pengaruh naungan terhadap iklim mikro pada
tanaman kacang kedelai ……………………………………………….. 28

2. Rata-rata dan standar deviasi (SD) respons morfologi tanaman kacang
kedelai pada tiga perlakuan cahaya yang berbeda ………………......... 32

3. Rata-rata dan standar deviasi (SD) respons anatomi tanaman kacang
kedelai pada tiga perlakuan cahaya yang berbeda ………………......... 40


















iv

DAFTAR GAMBAR
No. Halaman
1. Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill) ........................................... 7
2. Stadium Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merill) ........ 11












v

DAFTAR LAMPIRAN
No. Halaman
1. Alur Penelitian ................................................................................. 51
2. Iklim Mikro Tanaman Kacang Kedelai ........................................... 52
3. Hasil Pengukuran Rata-rata Tiap Parameter .................................... 53
4. Sidik Ragam untuk Tiap Parameter ................................................. 55
5. Uji BNT 5% untuk Tiap Parameter yang Berbeda Nyata ................ 56
6. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian ............................................... 57
7. Pengamatan Respons Morfologi dan Anatomi Tanaman ................ 58
8. Alat dan Bahan yang Digunakan dalam Penelitian .......................... 61
9. Denah Penelitian .............................................................................. 62
1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati dengan kandungan 39%, dan
2% rakyat Indonesia memperoleh sumber protein dari kedelai. Pada umumnya
petani mengusahakan palawija termasuk kedelai setelah padi di sawah yaitu pada
saat irigasi dihentikan atau saat menjelang kemarau tiba (Agung dan Rahayu,
2004). Pengembangan tanaman kedelai sebagai tanaman sela di bawah tegakan
karet, hutan tanaman industri (HTI), atau tumpangsari dengan tanaman pangan
semusim lain merupakan alternatif andalan untuk meningkatkan produksi kedelai.
Hanya saja kendala utama pengembangan kedelai sebagai tanaman sela atau
tumpangsari tersebut adalah rendahnya intensitas cahaya akibat faktor naungan.
Rata-rata intensitas cahaya berkurang 25-50% di bawah tegakan karet berumur 2-
3 tahun (Chozin et al., 1999), sedangkan pada tumpangsari dengan jagung
berkurang 33% (Asadi et al., 1997) dari rata-rata intensitas cahaya di lingkungan
terbuka 800 kal/cm
2
/hari. Cekaman naungan 50% menyebabkan hasil per hektar
tanaman kedelai menurun 10-40%.

Cahaya merupakan faktor esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan
tanaman. Cahaya berperan penting dalam proses fisiologi tanaman, terutama
fotosintesis, respirasi, dan transpirasi. Unsur radiasi matahari yang penting bagi
tanaman ialah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lamanya penyinaran. Bila
intensitas cahaya yang diterima rendah, maka jumlah cahaya yang diterima oleh
satuan luas permukaan daun dalam jangka waktu tertentu rendah (Gardner et
2

al.,1991). Kekurangan cahaya akan mengganggu metabolisme, sehingga laju
fotosintesis dan sintesis karbohidrat menurun (Chowdury et al., 1994 ; Sopandie
et al., 2003).

Saat kekurangan cahaya, tanaman berupaya untuk mempertahankan agar
fotosintesis tetap berlangsung dengan intensitas cahaya rendah. Keadaan ini dapat
dicapai apabila respirasi juga efisien (Sopandie et al., 2003). Pada kebanyakan
tanaman, kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman intensitas cahaya
rendah tergantung kepada kemampuannya melanjutkan fotosintesis dalam kondisi
kekurangan cahaya, seperti yang dilaporkan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Hale dan Orcutt (1987) menjelaskan bahwa adaptasi tanaman terhadap intensitas
cahaya rendah melalui dua cara, yaitu peningkatan luas daun untuk mengurangi
penggunaan metabolit dan mengurangi jumlah cahaya yang ditransmisikan dan
yang direfleksikan.

Levitt (1980) menggolongkan adaptasi tanaman terhadap naungan melalui dua
mekanisme yaitu mekanisme penghindaran (avoidance) dan mekanisme toleransi
(tolerance). Mekanisme penghindaran berkaitan dengan perubahan anatomi dan
morfologi daun untuk memaksimalkan penangkapan cahaya dan fotosintesis yang
efisien, seperti peningkatan luas daun dan kandungan klorofil b, serta penurunan
tebal daun, rasio klorofil a/b, jumlah kutikula, lilin, bulu daun, dan pigmen
antosianin. Mekanisme toleransi (tolerance) berkaitan dengan penurunan titik
kompensasi cahaya serta respirasi yang efisien. Tanaman naungan ditandai
dengan rendahnya titik kompensasi cahaya sehingga dapat mengakumulasi produk
3

fotosintat pada tingkat cahaya yang rendah dibandingkan dengan tanaman cahaya
penuh.

Taiz dan Zeiger (1991) menyatakan distribusi spektrum cahaya matahari yang
diterima oleh daun di permukaan tajuk (1900 µmol m
-2
s
-1
) lebih besar
dibandingkan dengan daun di bawah naungan (17,7 µmol m
-2
s
-1
). Pada kondisi
ternaungi, cahaya yang dapat dimanfaatkan untuk proses fotosintesis sangat
sedikit. Cruz (1997) menyatakan naungan dapat mengurangi enzim fotosintetik
yang berfungsi sebagai katalisator dalam fiksasi CO
2
dan menurunkan titik
kompensasi cahaya.

Pengaruh intensitas cahaya yang rendah terhadap hasil berbagai komoditi sudah
banyak dilaporkan. Naungan 50% pada genotipe padi yang sensitif menyebabkan
jumlah gabah/malai kecil serta persentase gabah hampa yang tinggi, sehingga
produksi biji rendah (Sopandie et al., 2003). Intensitas cahaya rendah pada saat
pembungaan padi dapat menurunkan karbohidrat yang terbentuk, sehingga
menyebabkan meningkatnya gabah hampa (Chaturvedi et al., 1994). Intensitas
cahaya rendah menurunkan hasil kedelai (Asadi et al., 1997), jagung (Andre et al.,
1993), padi gogo (Supriyono et al., 2000), ubi jalar (Nurhayati et al., 1985), dan
talas (Caiger, 1986 ; Wirawati et al., 2002).

Agar mampu beradaptasi pada lingkungan dengan intensitas cahaya rendah,
tanaman mengalami berbagai perubahan pada tingkat molekuler, biokimia,
anatomi, morfologi, fisiologi, dan agronomi (Sopandie et al., 2001; Khumaida,
4

2002; Juraimi et al., 2004). Pada tanaman padi gogo, dilaporkan bahwa beberapa
karakter anatomi, morfologi, fisiologi dan biokimia (klorofil, karoten, karbohidrat,
enzim rubisco) terkait erat dengan efisiensi fotosintesis. Selain itu terdapat
perbedaan yang jelas antara genotip toleran dan peka dalam mekanisme
adaptasinya terhadap naungan, seperti pada kandungan klorofil, luas daun dan
ketebalan daun (Sopandie et al., 2001, 2003; Khumaida, 2002; Soverda, 2002;
Lautt, 2003).

Pada kondisi lingkungan cahaya rendah, diperlukan morfologi daun yang lebar
dan tipis untuk dapat menangkap cahaya sebanyak mungkin dengan cahaya yang
direfleksikan serendah mungkin. Hasil penelitian Kisman et al. (2007)
menunjukkan bahwa rata-rata luas daun genotip kedelai toleran (Ceneng dan
Pangrango) lebih tinggi dari pada genotip kedelai peka (terutama Godek) pada
semua kondisi cekaman intensitas cahaya rendah. Pemberian kondisi naungan
(L1= 5 hari naungan 50%), recovery (L3= 3 hari naungan 50% + 5 hari cahaya
100%) dan on/off (L4= 3 hari naungan 50% + 3 hari cahaya 100% + 5 hari gelap
total) meningkatkan luas daun sampai 143% dibanding kontrol. Sedangkan
pemberian kondisi 5 hari gelap total (L2), pertambahan luas daun pada genotip
peka lebih kecil dibanding genotip toleran. Daun yang lebar dan tipis
memungkinkan penangkapan cahaya lebih banyak, sehingga kegiatan fotosintesis
berlangsung maksimal.

Tanaman muda (tingkat semai-sapihan) belum diperoleh data. Selain itu,
penelitian mengenai kekhususan sifat akan kebutuhan cahaya pada jenis-jenis
5

tanaman tertentu juga belum dikerjakan. Pengurangan intensitas cahaya sampai
60% (pada screenhouse) berpengaruh positif dan nyata terhadap pertumbuhan
awal tinggi dan diameter semai kapur (Irwanto, 2006). Penelitian pengaruh
intensitas cahaya terhadap pertumbuhan tanaman yang telah dewasa telah banyak
dilakukan, sedangkan pada fase kecambah belum banyak informasinya,
khususnya kacang kedelai. Informasi mengenai respons anatomi tanaman lebih
khusus kacang kedelai masih kurang. Oleh karena itu penelitian ini akan
menggunakan kecambah kacang kedelai pada stadium vegetatif 2 dan vegetatif 3.
Pengamatan ini untuk melihat respons anatomi kecambah kacang kedelai terhadap
intensitas cahaya yang berbeda yaitu jumlah, panjang, dan diameter stomata.
Selain itu, pengamatan akan dilakukan terhadap respons morfologi yaitu tinggi
tanaman, luas daun, dan jumlah daun.

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah respons morfologi (tinggi tanaman, luas daun, dan jumlah daun)
dan anatomi (jumlah, panjang, dan diameter stomata) kecambah kacang kedelai
pada stadium vegetatif 2 dan vegetatif 3 terhadap intensitas cahaya yang berbeda?

1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengamati respons morfologi dan anatomi kecambah kacang kedelai pada
stadium vegetatif 2 dan vegetatif 3 terhadap perbedaan intensitas cahaya.



6

1.4 Manfaat Penelitian
1. Memberikan informasi tentang intensitas cahaya untuk perkembangan
morfologi dan anatomi kecambah kacang kedelai pada khususnya dan
tanaman produksi pada umumnya. Informasi ini dapat dijadikan salah satu
acuan untuk menanam kacang kedelai di bawah pohon-pohon di areal
perkebunan dalam rangka pemanfaatan lahan secara produktif.
2. Memperkaya khasanah pengetahuan struktur dan perkembangan tumbuhan
yang berkaitan dengan variasi intensitas cahaya.


















2.1 Klasifikasi Kacang Kedelai (
Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu
dan Soja max. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang
dapat diterima dalam istilah ilmiah yaitu
Klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut (Anonim , 2009):

Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Classis : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Papilionaceae
Genus : Glycine
Species : Glycine max
Merill

2.2 Morfologi Tanaman Kedelai
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan
tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen
utamanya yaitu akar, daun, batang,
bisa optimal (Anonim,
yang muncul di sekitar mesokotil.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Klasifikasi Kacang Kedelai (Glycine max (L.) Merill)
Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu
. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang
dapat diterima dalam istilah ilmiah yaitu Glycine max (L.) Merill (Gambar1).
Klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut (Anonim , 2009):

Gambar 1. Tanaman Kedelai (Anonim
: Spermatophyta
: Dicotyledoneae

: Papilionaceae

Glycine max (L.)
Morfologi Tanaman Kedelai
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan
tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen
utamanya yaitu akar, daun, batang, polong, dan biji sehingga pertumbuhannya
nonim, 2009). Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji
yang muncul di sekitar mesokotil. Selanjutnya, calon akar tersebut
7
Pada awalnya kedelai dikenal dengan beberapa nama botani yaitu Glycine soja
. Namun pada tahun 1948 telah disepakati bahwa nama botani yang
(L.) Merill (Gambar1).
Klasifikasi tanaman kedelai adalah sebagai berikut (Anonim , 2009):

(Anonim, 2009)
Tanaman kedelai umumnya tumbuh tegak, berbentuk semak, dan merupakan
tanaman semusim. Morfologi tanaman kedelai didukung oleh komponen
polong, dan biji sehingga pertumbuhannya
Akar kedelai mulai muncul dari belahan kulit biji
alon akar tersebut tumbuh dengan
8

cepat ke dalam tanah, sedangkan kotiledon yang terdiri dari dua keping akan
terangkat ke permukaan tanah akibat pertumbuhan hipokotil yang cepat.
Pertumbuhan akar tunggang lurus masuk ke dalam tanah dan mempunyai banyak
akar cabang. Pada akar-akar cabang terdapat bintil-bintil akar berisi bakteri
Rhizobium javonicum yang mempunyai kemampuan mengikat nitrogen (N
2
) dari
udara yang kemudian dipergunakan untuk menyuburkan tanah (Andrianto dan
Indarto, 2004).

Pada proses perkecambahan hipokotil merupakan bagian batang mulai dari
pangkal akar sampai kotiledon. Hipokotil dan dua keping kotiledon yang masih
melekat pada hipokotil akan menerobos ke permukaan tanah. Bagian batang
kecambah yang berada di atas kotiledon tersebut dinamakan epikotil. Titik
tumbuh epikotil akan membentuk daun dan kuncup ketiak. Batang dapat
membentuk 3-6 cabang dan berbentuk semak dengan tinggi 30-100 cm.
Pertumbuhan batang dibedakan atas tipe determinate dan indeterminate.
Pertumbuhan batang tipe determinate ditunjukkan dengan batang yang tidak
tumbuh lagi pada saat tanaman mulai berbunga. Pertumbuhan batang tipe
indeterminate terjadi bila daun masih bisa tumbuh pada pucuk batang tanaman
walaupun tanaman sudah mulai berbunga (Lamina, 1989).

Tanaman kedelai mempunyai dua macam daun yang dominan, yaitu daun tunggal
(2 helai) pada stadium kotiledon yang tumbuh saat tanaman masih berbentuk
kecambah dan daun majemuk berupa daun bertangkai tiga (trifoliate leaves) yang
tumbuh pada stadium vegetatif. Umumnya ada dua macam bentuk daun kedelai,
9

yaitu bulat telur (ovatus) dan lanset (lanceolatus). Kedua bentuk daun tersebut
dipengaruhi oleh faktor genetik. Daun mempunyai stomata yang berjumlah antara
190-320 buah/m
2
. Umumnya, daun mempunyai bulu dengan warna cerah dan
jumlahnya bervariasi (Anonim, 2009).

Kedelai memiliki bunga banci yaitu dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan
(benang sari) dan alat kelamin betina (putik). Bunga berwarna ungu dan putih.
Sekitar 60% bunga rontok sebelum membentuk polong (Fachruddin, 2000).
Periode berbunga pada tanaman kedelai cukup lama yaitu 3-5 minggu untuk
daerah subtropik dan 2-3 minggu di daerah tropik, seperti di Indonesia. Jumlah
bunga pada tipe batang determinate umumnya lebih sedikit dibandingkan pada
batang tipe indeterminate (Anonim, 2009).

Polong kedelai pertama kali terbentuk sekitar 7-10 hari setelah munculnya bunga
pertama. Panjang polong muda sekitar 1 cm. Jumlah polong yang terbentuk pada
setiap ketiak tangkai daun sangat beragam, antara 1-10 buah dalam setiap
kelompok. Pada setiap tanaman, jumlah polong dapat mencapai lebih dari 50
bahkan ratusan. Kecepatan pembentukan polong dan pembesaran biji akan
semakin cepat setelah proses pembentukan bunga berhenti. Ukuran dan bentuk
polong menjadi maksimal pada saat awal periode pemasakan biji. Hal ini
kemudian diikuti oleh perubahan warna polong, dari hijau menjadi kuning
kecoklatan pada saat masak. Kedelai berkeping dua terbungkus kulit biji (testa)
dan tidak mengandung jaringan endosperm. Embrio terbentuk di antara keping
biji. Bentuk biji pada umumnya bulat lonjong, tetapi ada yang bundar dan bulat
10

agak pipih dengan besar dan bobot biji kedelai antara 5-30g/100 biji (Lamina,
1989).

2.3 Syarat Tumbuh
Kedelai adalah tanaman beriklim tropik. Kedelai akan tumbuh subur di daerah
yang bersuhu tinggi, terutama di tempat yang terbuka dan tidak terlindung oleh
tanaman lain (Sugeng, 1983). Pertumbuhan optimum untuk kacang kedelai terjadi
pada suhu 20-25
0
C. Oleh karena itu, kedelai kebanyakan ditanam di daerah yang
terletak kurang dari 400 m di atas permukaan laut. Jadi tanaman kedelai akan
tumbuh baik jika ditanam di daerah berikim kering (Andrianto dan Indarto, 2004).

Kedelai merupakan tanaman berhari pendek, yakni apabila penyinaran terlalu
lama dan melebihi 12 jam tanaman tidak akan berbunga. Hampir semua varietas
tanaman kedelai berbunga dari umur 30-60 hari (Yustika, 1985). Volume air yang
terlalu banyak tidak menguntungkan karena akan mengakibatkan akar membusuk.
Ketersediaan air diperlukan untuk menyesuaikan diri dan digunakan untuk
pertumbuhan tanaman diantaranya untuk peningkatan luas daun. Rendahnya
jumlah air akan menyebabkan terbatasnya perkembangan akar sehingga
mengganggu penyerapan unsur hara yang berakibat pada turunnya produksi.
Translokasi fotosintat ke biji akan terlambat jika tanaman kedelai mengalami
defisit air (Agung dan Rahayu, 2004).




2.4 Stadium Pertumbuhan Kacang Kedelai
Pertumbuhan tanaman kacang kedelai dapat dipengaruhi
lingkungan. Periode
matang. Fase awal pertumbuhan setelah penyemaian benih diatur oleh suhu dan
kelembaban. Suhu dan kelemba
berkecambah dan muncul ke permukaan tanah. Tinggi tempat berkaitan dengan
suhu tanah dan akan mempengaruhi kecepatan
pertumbuhan tanaman selanjutnya (Mugnisjah dan Setiawan, 1995). Stadium
pertumbuhan kacang kedelai (Gambar
fisiologis tanaman, pada setiap tahapnya mempunyai sifat dan tuntutan kebutuhan
yang berbeda. Secara garis besarnya stadium pertumbuhan kedelai terdiri dari
stadium vegetatif dan reproduktif (generatif) yang masing
beberapa stadium.

Gambar 2. Stadium Pertumbuhan Tanaman Kedelai
(Anonim, 2009)



Stadium Pertumbuhan Kacang Kedelai
Pertumbuhan tanaman kacang kedelai dapat dipengaruhi oleh
eriode musim pertumbuhan harus cukup bagi tanaman untuk
atang. Fase awal pertumbuhan setelah penyemaian benih diatur oleh suhu dan
Suhu dan kelembaban yang sesuai akan menjamin benih
berkecambah dan muncul ke permukaan tanah. Tinggi tempat berkaitan dengan
suhu tanah dan akan mempengaruhi kecepatan munculnya benih
pertumbuhan tanaman selanjutnya (Mugnisjah dan Setiawan, 1995). Stadium
pertumbuhan kacang kedelai (Gambar 2) merupakan tahap perkembangan
fisiologis tanaman, pada setiap tahapnya mempunyai sifat dan tuntutan kebutuhan
berbeda. Secara garis besarnya stadium pertumbuhan kedelai terdiri dari
stadium vegetatif dan reproduktif (generatif) yang masing – masingnya terdiri atas

Pertumbuhan Tanaman Kedelai
(Anonim, 2009)
Keterangan :
VE : Stadium kecambah awal
VC : Stadium kecambah akhir
V1 : Stadium vegetati
V2 : Stadium vegetatif 2
V3 : Stadium vegetatif 3
R1 : Stadium reproduktif awal
R3 : Stadium reproduktif
R5 : Stadium pembentukan polong
R8 : Senesen
11
berbagai faktor
musim pertumbuhan harus cukup bagi tanaman untuk
atang. Fase awal pertumbuhan setelah penyemaian benih diatur oleh suhu dan
an yang sesuai akan menjamin benih
berkecambah dan muncul ke permukaan tanah. Tinggi tempat berkaitan dengan
benih dan tahap
pertumbuhan tanaman selanjutnya (Mugnisjah dan Setiawan, 1995). Stadium
2) merupakan tahap perkembangan
fisiologis tanaman, pada setiap tahapnya mempunyai sifat dan tuntutan kebutuhan
berbeda. Secara garis besarnya stadium pertumbuhan kedelai terdiri dari
masingnya terdiri atas
Keterangan :
Stadium kecambah awal
: Stadium kecambah akhir
: Stadium vegetatif 1
: Stadium vegetatif 2
: Stadium vegetatif 3
: Stadium reproduktif awal
: Stadium reproduktif
Stadium pembentukan polong
Senesen
12

2.4.1 Stadium Vegetatif
Periode Vegetatif dihitung sejak tanaman muncul dari dalam tanah sampai awal
pembungaan dengan stadium sebagai berikut (Arsyad, 1995):
1. Stadium Pemunculan (VE = Vegetatif/Epigeous)
Stadium ini ditandai dengan munculnya kotiledon (keping biji) dari dalam
tanah yang disebut dengan Vegetatif Epigeous (VE). Epigeous adalah satu
sifat perkecambahan biji dengan kotiledonnya terangkat ke permukaan tanah
setelah satu atau dua hari biji kedelai ditanam. Pada kelembaban tanah yang
cukup baik, bakal akar akan tumbuh keluar melalui belahan kulit biji di sekitar
mikropil. Bakal akar ini tumbuh cepat ke dalam tanah, kotiledon terangkat ke
atas permukaan tanah karena pertumbuhan hipokotil sangat cepat. Lekukan
yang terbentuk pada bagian atas hipokotil mencapai permukaan tanah lebih
dahulu dan menarik kotiledon ke atas keluar dari dalam tanah dengan
menanggalkan kulit biji.
2. Stadium Cotiledon (VC)
Setelah dua sampai tiga hari kotiledon muncul di permukaan tanah, kedua
lembar daun primer terbuka, tepi daun tidak menyentuh. Pertumbuhan
berikutnya adalah pembentukan daun bertangkai tiga. Bersamaan dengan ini
mulai terbentuk akar-akar sekunder yang tumbuh dari akar tunggang.
3. Stadium Buku Pertama (V1)
Stadium ini dimulai setelah tanaman berumur satu minggu, daun terbuka
penuh pada buku daun tunggal (unifoliolat). Buku pertama tanaman sudah
terlihat jelas. Akar–akar cabang dari akar sekunder sudah mulai tumbuh. Oleh
13

sebab itu pada saat ini perlu persediaan hara yang cukup, terutama nitrogen
untuk pertumbuhan.
4. Stadium Buku Kedua (V2)
Stadium ini dimulai sesudah umur tanaman dua minggu, dan ditandai dengan
terbukanya daun ketiga pada buku di atas buku unifoliolat, akar cabang sudah
mulai berkembang dan berperan dalam menyerap air dan unsur hara. Oleh
sebab itu ketersediaan hara secukupnya di tanah sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhan tanaman.
5. Stadium Buku Ketiga (V3)
Stadium ini biasanya sesudah tanaman berumur tiga minggu. Telah terbentuk
tiga buku batang utama yang dihitung dari buku unifoliolat dengan daun
terurai penuh. Perakaran sudah berfungsi penuh dan bintil akar sudah mulai
berfungsi untuk mengikat nitrogen dari udara. Pada saat ini tanaman
membutuhkan hara secukupnya dan penggemburan tanah serta bersih dari
gulma.

2.4.2 Stadium Reproduktif
Stadium ini dimulai sejak masuk waktu pembungaan sampai saat polong matang.
Setiap uraian stadium diberi tanda R (Reproduktif) dan diikuti dengan angka 1
sampai 8 yang menandakan stadiumnya. Dalam menentukan stadium reproduktif,
batang utama tetap dipakai sebagai dasar seperti uraian berikut (Arsyad, 1995):
1. Stadium mulai berbunga (R1)
Stadium ini ditandai dengan terbukanya bunga pertama. Umur berbunga ini
bervariasi menurut umur varietas tanaman kedelai, biasanya mulai dari umur
14

35 sampai 45 hari. Pada saat ini ketersediaan air harus secukupnya, terlalu
kering dapat menyebabkan bunga kering dan gugur.
2. Stadium Berbunga Penuh (R2)
Stadium ini ditandai terbukanya bunga pada satu buku di atas batang utama
dengan daun terbuka penuh. Biasanya stadium ini pada umur tanaman 45-55
hari.
3. Stadium Mulai Berpolong (R3)
Stadium ini mulai pada umur tanaman 55-65 hari dan ditandai dengan
terbentuknya polong pada salah satu dari empat buku teratas pada batang
utama.
4. Stadium Berpolong Penuh (R4)
Stadium ini umur 60-70 hari dan tergantung pada varietas. Pada saat ini
terbentuk polong sepanjang 2 cm pada salah satu buku dari 4 buku teratas
pada batang utama. Kekurangan air dapat menyebabkan terganggunya stadium
pengisian biji.
5. Stadium Mulai Berbiji (R5)
Stadium ini disebut stadium awal pengisian biji yang umumnya mulai pada
umur 65 –75 hari, yang ditandai dengan terbentuknya biji sebesar 3 mm dalam
polong pada salah satu dari 4 buku teratas.
6. Stadium Biji Penuh (R6)
Pengisian biji penuh pada umur tanaman 70–80 hari, yang ditandai terisi
penuhnya rongga polong dengan sebuah biji hijau pada salah satu dari 4 buku
teratas pada batang utama.

15

7. Stadium Mulai Matang (R7)
Stadium ini dimulai setelah tanaman berumur 80 hari dan ditandai oleh adanya
satu buah polong pada batang utama yang telah mencapai warna matang
(coklat muda atau coklat tua).
8. Stadium Matang Penuh (R8)
Pada saat ini warna polong sudah coklat, sebagian daun menguning dan kering
sehingga kalau terlambat panen daun menggugur.

Uraian stadium vegetatif dan reproduktif tersebut merupakan pertumbuhan suatu
tanaman yang representatif. Sedangkan yang dijadikan pedoman untuk
menetapkan setiap stadium tersebut adalah rata–rata pengamatan apabila kurang
lebih 50% dari tanaman telah mencapai atau melampaui stadium pertumbuhan
tertentu (Hidayat, 1993).

2.5 Pengaruh Intensitas Cahaya terhadap Pertumbuhan Tanaman
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama bagi kehidupan (Wilsie, 1962).
Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh kualitas dan intensitas cahaya. Intensitas
cahaya yang tinggi di daerah tropis tidak seluruhnya dapat digunakan oleh
tanaman. Energi cahaya matahari yang digunakan oleh tanaman dalam proses
fotosintesis berkisar antara 0,5–2,0% dari jumlah total energi yang tersedia. Oleh
sebab itu, hasil fotosintesis berkurang apabila intensitas cahaya kurang dari batas
optimum yang dibutuhkan oleh tanaman dan hal ini tergantung pada jenis tanaman
(Leopold dan Kriedemann, 1975). Pemberian naungan pada tanaman baik secara
alami dan buatan akan mengurangi intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman
16

tersebut. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan maupun hasil tanaman
(Daubenmire, 1962).

Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap morfologi tanaman. Tanaman yang
mendapatkan cahaya matahari dengan intensitas yang tinggi menyebabkan batang
tumbuh lebih cepat, susunan pembuluh kayu lebih sempurna, internodianya lebih
pendek, daun lebih tebal, tetapi ukurannya lebih kecil dibandingkan dengan
tanaman yang terlindung (Wilsie, 1962). Beberapa efek cahaya matahari yang
melebihi kebutuhan optimum akan menyebabkan tanaman layu, laju fotosistesis
menurun, laju respirasi meningkat tetapi cenderung mempertinggi daya tahan
tanaman.

Pengurangan cahaya pada tanaman yang telah memperoleh cahaya, suhu dan
kelembaban yang optimum akan menyebabkan pengurangan pertumbuhan akar
dan tanaman menunjukkan gejala etiolasi (Williams dan Joseph, 1976). Intensitas,
kualitas dan lamanya penyinaran mempengaruhi proses fotosintesis, tetapi yang
terpenting adalah intensitasnya (Daniel et al., 1979). Selanjutnya intensitas cahaya
berpengaruh terhadap pembesaran dan diferensiasi sel (Soekotjo, 1977). Ruas
batang tanaman lebih panjang dan tersusun dari sel-sel berdinding tipis dengan
ruang antar sel lebih besar, jaringan pengangkut dan penguat lebih sedikit.
Intensitas cahaya yang rendah juga membuat tanaman memiliki daun berukuran
lebih besar, lebih tipis, ukuran stomata lebih besar, lapisan sel epidermis tipis,
jumlah daun lebih banyak dan ruang antar sel lebih banyak (Treshow, 1970).

17

Cahaya merupakan faktor penting terhadap berlangsungnya fotosintesis,
sementara fotosintesis merupakan proses yang menjadi kunci dapat
berlangsungnya proses metabolisme yang lain di dalam tanaman. Setiap tanaman
atau jenis pohon mempunyai toleransi yang berlainan terhadap cahaya matahari.
Ada tanaman yang tumbuh baik ditempat terbuka, sebaliknya ada beberapa
tanaman yang dapat tumbuh dengan baik pada tempat teduh/bernaungan. Ada pula
tanaman yang memerlukan intensitas cahaya yang berbeda sepanjang periode
hidupnya (Kramer dan Kozlowski, 1979).

Banyak spesies memerlukan naungan pada awal pertumbuhannya, walaupun
dengan bertambahnya umur, naungan dapat dikurangi secara bertahap. Beberapa
spesies mungkin tidak memerlukan naungan dan spesies yang lain mungkin
memerlukan naungan sejak awal pertumbuhannya. Pengaturan naungan sangat
penting untuk menghasilkan semai-semai yang berkualitas. Naungan berhubungan
erat dengan temperatur dan evaporasi. Oleh karena adanya naungan, evaporasi
dari semai dapat dikurangi. Beberapa spesies lain menunjukkan perilaku yang
berbeda. Beberapa spesies dapat hidup dengan baik pada intensitas cahaya yang
tinggi, tetapi beberapa spesies tidak (Suhardi, 1995).

Menurut Asadi et al. (1997), intensitas cahaya berkurang hingga mencapai 75% di
bawah tegakan tanaman perkebunan dan 33% di bawah tumpangsari dengan
jagung dan sorgum. Tanaman kedelai memerlukan radiasi matahari yang optimum
(sekitar 0,3-0,8 kal/cm
2
/menit setara 431-1152 kal/cm
2
/hari) dengan spekrum atau
panjang gelombang berkisar 400-700 nm (disebut photosynthetically active
18

radiation, PAR) untuk mendapatkan hasil bersih fotosintat yang tinggi (Salisbury
dan Ross, 1992). Selain berperan dominan pada proses fotosintesis, cahaya juga
berfungsi sebagai pengendali, pemicu dan modulator respons morfogenesis
khususnya pada tahap awal pertumbuhan tanaman. Tanaman yang tumbuh di
lingkungan tercekam sulit mengekspresikan potensial genetiknya secara utuh
untuk tumbuh, berkembang dan bereproduksi secara maksimum. Dilaporkan
bahwa hasil kedelai menurun rata-rata 30-60% pada kondisi cekaman naungan
50%, hasil per hektar tanaman kedelai menurun 10-40% (McNellis dan Deng,
1995).

Berikut ini adalah beberapa parameter yang digunakan dalam penelitian ini untuk
melihat pengaruh intensitas cahaya terhadap pertumbuhan tanaman kacang
kedelai.

2.5.1 Tinggi Tanaman
Pertumbuhan tinggi tanaman dipengaruhi oleh cahaya. Pertumbuhan tinggi lebih
cepat pada tempat ternaung daripada tempat terbuka. Sebaliknya, pertumbuhan
diameter lebih cepat pada tempat terbuka daripada tempat ternaung sehingga
tanaman yang ditanam pada tempat terbuka cenderung pendek dan kekar. Sudut
percabangan tanaman lebih besar di tempat ternaung daripada di tempat terbuka
(Marjenah, 2001). Pengaruh cahaya terhadap pembesaran dan diferensiasi sel
berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman (Soekotjo, 1977).

19

Cahaya merupakan faktor penghambat pertumbuhan. Hormon auksin menjadi
tidak aktif ketika ada cahaya. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang ditanam di
tempat terkena cahaya matahari menjadi lebih pendek dibandingkan tumbuhan
yang ditanam di tempat gelap. Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan
menyebabkan gejala etiolasi yaitu batang kecambah akan tumbuh lebih cepat
tetapi lemah dan berwarna kuning pucat. Auksin adalah senyawa asam indol
asetat (IAA) yang dihasilkan di ujung meristem apikal (ujung akar dan batang).
Hormon ini berfungsi untuk mengatur pembesaran sel dan pemanjangan sel di
daerah belakang meristem ujung. Bagian batang yang terkena cahaya memiliki
auksin yang lebih sedikit karena auksin mengalami kerusakan jika terkena cahaya.
Sebaliknya, bagian batang yang tidak terkena cahaya mempunyai lebih banyak
auksin sehingga tumbuh lebih panjang daripada batang yang terkena cahaya.
Auksin juga menyebabkan perpanjangan sel batang dan menghambat
perpanjangan sel akar (Zhamal, 2008).

2.5.2 Luas Daun
Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun. Permukaan daun lebih
besar di bawah naungan daripada jika berada pada tempat terbuka. Luas daun
menjadi penentu utama kecepatan pertumbuhan (Fitter dan Hay, 1992) dan daun-
daun yang mempunyai luas daun yang lebih besar mempunyai pertumbuhan yang
besar pula (Marjenah, 2001). Peningkatan luas daun pada dasarnya merupakan
kemampuan tanaman dalam mengatasi cekaman naungan. Peningkatan luas daun
merupakan upaya tanaman dalam mengefisiensikan penangkapan energi cahaya
untuk fotosintesis secara normal pada kondisi intensitas cahaya rendah (Taiz dan
20

Zeiger, 1991). Daun-daun yang berasal dari posisi terbuka dan ternaung atau dari
tumbuhan toleran dan intoleran, mempunyai morfologi yang sangat bervariasi.
Daun yang terbuka lebih kecil, lebih tebal dan lebih menyerupai kulit dari pada
daun ternaung pada umur dan jenis yang sama (Daniel et al., 1987). Pengaruh
cahaya terhadap pembesaran sel dan diferensiasi sel berpengaruh terhadap ukuran
daun (Soekotjo, 1977).

2.5.3 Jumlah Daun
Jumlah daun tanaman di tempat ternaung lebih banyak daripada di tempat terbuka.
Jumlah daun semakin sedikit pada tanaman yang menerima cahaya dengan
intensitas lebih besar. Intensitas cahaya berpengaruh nyata terhadap jumlah daun
bibit Shorea leprosula. Semakin tinggi intensitas cahaya semakin sedikit jumlah
daunnya. Pertambahan jumlah daun semai maksimum tercapai pada intensitas
kira-kira 50% dari cahaya penuh (Irwanto, 2006).

2.5.4 Stomata
Stomata terletak di bagian epidermis. Stomata merupakan sebuah celah untuk
pertukaran gas antara jaringan dalam tumbuhan dan lingkungannya. Stomata pada
tumbuhan darat, umumnya tersebar pada epidermis bawah. Beberapa tanaman
mempunyai stomata pada kedua permukaan daunnya. Kerapatan stomata daun
berbeda-beda. Kerapatan stomata pada kedelai antara 130-316 per mm
2
(Lersten
dan Carlson, 1987).

21

Naungan dapat mengurangi intensitas cahaya yang diterima olah tanaman.
Intensitas cahaya yang berkurang berpengaruh terhadap hasil fotosintesis dan
morfogenesis. Salah satu contoh bentuk morfogenesis yang dipengaruhi oleh
intensitas cahaya adalah stomata. Intensitas cahaya yang berkurang tidak hanya
mengurangi jumlah stomata tetapi juga sel epidermis. Indeks stomata menyatakan
persentase jumlah stomata dari jumlah total sel epidermis termasuk stomata.
Indeks stomata memberikan informasi tentang kerapatan stomata. Naungan tidak
mengubah bentuk sel epidermis dan tipe stomata (Atmaja, 2010).
















22

III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2011 sampai dengan Juli 2011 di
Kelurahan Bahu (halaman rumah peneliti). Kemudian dilanjutkan dengan
pengamatan di Laboratorium Konservasi Jurusan Biologi, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sam Ratulangi.

3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi: bambu, paku, tali, lem,
kertas A4, pagar bambu, termometer infra merah, mikroskop cahaya, light meter,
skymate, mistar, silet, kaca benda, kaca penutup, pipet tetes, laptop, optilab, alat
tulis menulis, dan scanner.

3.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan yaitu kacang kedelai (Glycine max (L.) Merill), air,
paranet 65%; polybag 20x3 cm sebanyak 27 buah; dan media tanam kompos mix.

3.3 Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL)
dengan satu faktor tunggal yaitu pengaruh cahaya, dengan tiga taraf perlakuan
yaitu P0 (tanpa naungan), P1 (naungan paranet 1 lapis untuk naungan ±50%) dan
23

P2 (naungan paranet 2 lapis untuk naungan ±90%) dalam tiga kali ulangan.
Penelitian ini menggunakan satu varietas kacang kedelai.

Diperoleh kombinasi perlakuan sebanyak 27 kombinasi ulangan, yaitu:
P
0
1 P
1
1 P
2
1
Jumlah ulangan : 18
Jumlah polybag : 27
Jumlah tanaman/polybag : 3
Jumlah tanaman seluruhnya : 81
Jumlah sampel/polybag : 2
Jumlah sampel seluruhnya : 54
P
0
2 P
1
2 P
2
2
P
0
3 P
1
3 P
2
3
P
0
4 P
1
4 P
2
4
P
0
5 P
1
5 P
2
5
P
0
6 P
1
6 P
2
6
P
0
7 P
1
7 P
2
7
P
0
8 P
1
8 P
2
8
P
0
9 P
1
9 P
2
9

3.3.1 Persiapan
Sebelum penelitian dilaksanakan, semua alat dan bahan yang digunakan dalam
penelitian disiapkan. Paranet yang digunakan adalah paranet 65%. Untuk
mendapatkan naungan yang diperlukan dalam penelitian maka dibuat paranet satu
lapis untuk naungan ±50% dan dua lapis untuk naungan ±90%. Halaman yang
digunakan untuk penelitian terlebih dahulu dibersihkan dan dipagari dengan pagar
yang telah disiapkan yang kemudian ditutup dengan paranet sesuai dengan
perlakuan.

3.3.2 Perkecambahan
Kacang kedelai yang digunakan dipilih, kemudian dikecambahkan di polybag.
Polybag diisi dengan media tanam kompos mix sebanyak ¾ dari ukuran polybag.
Polybag yang digunakan berjumlah 27 buah untuk tiga perlakuan. Setiap tingkat
naungan menggunakan 9 polybag. Namun, untuk menjaga kemungkinan adanya
24

kerusakan atau masalah dalam perkecambahan, maka dibuat cadangan 2 polybag.
Sehingga keseluruhan polybag yang digunakan menjadi 45 buah. Benih ditanam
pada kedalaman 1 cm dari permukaan media tanam sebanyak 3 benih per lubang
adalah sebuah cara membuat benih cepat berkecambah. Karena, benih kacang
kedelai sulit tumbuh pada tempat media yang belum pernah ditanami kacang
kedelai. Tiap polybag memiliki 3 lubang. Total benih yang digunakan berjumlah
405 benih. Selanjutnya polybag yang digunakan diletakkan di tempat penelitian
yang telah dipagari. Setelah berkecambah, 3 benih yang berkecambah dengan baik
digunakan dalam perlakuan. Sehingga total kecambah yang digunakan menjadi
135.

3.3.3 Perlakuan
Pada masing-masing perlakuan yaitu paranet 50%, 90%, dan tanpa naungan
diletakkan polybag yang berisi benih kacang kedelai. Dan selama perlakuan
tanaman kacang kedelai disiram dengan air secara teratur.

3.3.4 Pengamatan
1. Setelah 14 hari perlakuan akan dilakukan pengamatan terhadap iklim mikro
tanaman. Pengamatan ini dimaksudkan untuk melihat rata-rata iklim mikro
tanaman selama penelitian yang datanya kemudian digunakan untuk melihat
pengaruhnya terhadap metabolisme tanaman. Pengukuran dilakukan beberapa
kali untuk mendapatkan nilai yang benar-benar tepat demi ketelitian penelitian
ini. Iklim mikro diamati pada hari ke-14 sampai hari ke-18 dengan tiga kali
25

pengukuran yaitu pada jam 07.00 pagi, 12.00 siang, dan 05.00 sore. Iklim
mikro yang diamati yaitu:
a. Intensitas cahaya diukur dengan menggunakan light meter. Pengukuran
dilakukan pada setiap perlakuan. Alat yang digunakan diatur hingga nilai
intensitas yang maksimum (x 100). Light meter di letakkan diatas tanaman
yang diukur, kemudian secara otomatis nilai intensitas cahayanya akan
muncul. Kemudian nilai tersebut dikalikan 100.
b. Temperatur lingkungan diukur dengan menggunakan termometer.
Pengukuran dilakukan pada setiap perlakuan dan lingkungan sekitar
tempat penelitian. Pengukuran pada setiap perlakuan dilakukan sebanyak 3
kali ulangan, kemudian dibuat rata-rata untuk mendapatkan nilai yang
tepat.
c. Temperatur daun diukur menggunakan termometer non-kontak atau
termometer infra merah. Alat yang digunakan dinyalakan dan sinar infra
merah disorotkan ke bagian daun, sehingga secara otomatis nilai suhu
daun muncul. Untuk ketelitian penelitian ini pengukuran suhu daun
dilakukan dengan mengukur 1 daun dari setiap polybag.
d. Kelembaban udara diukur dengan hygrometer. Pengukuran dilakukan pada
setiap perlakuan. Alat yang digunakan diletakkan pada setiap perlakuan
dan didiamkan selama beberapa menit untuk mendapatkan nilai yang
benar-benar tepat.
e. Kecepatan angin diukur dengan menggunakan skymate. Kecepatan angin
diukur disekitar tempat penelitian. Nilainya muncul secara otomatis pada
alat yang digunakan.
26

2. Pertumbuhan tanaman diamati pada hari ke-26. Untuk mengamati
pertumbuhan tanaman digunakan 2 sampel tanaman kacang kedelai di tiap
polybag pada semua perlakuan. Dengan jumlah tanaman sebanyak 54
tanaman. Pengamatan morfologi tanaman ini menggunakan tanaman atau
sampel yang sama untuk semua parameter yang diamati. Oleh karena itu,
pengamatan ini dilakukan pada hari yang sama. Parameter yang diamati
meliputi:
a. Respons morfologi yaitu:
1) Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan mistar. Tinggi tanaman
diukur mulai dari pangkal batang hingga titik tumbuh tanaman.
2) Luas daun
Luas daun diukur dengan menggunakan sebuah software yaitu ImajeJ.
Daun yang digunakan discan. Kemudian hasil daun yang discan,
luasnya diukur menggunakan imajeJ.
3) Jumlah daun
Jumlah daun dihitung dengan menghitung seluruh daun yang telah
membuka sempurna.

b. Respons anatomi yaitu jumlah, panjang dan diameter stomata per satuan
bidang pandang mikroskop. Pengamatan ini menggunakan sampel yang
sama dengan yang digunakan pada pengamatan morfologi tanaman.
Namun, pada pengamatan ini hanya menggunakan 3 kali ulangan untuk
setiap perlakuan, sehingga menjadi 9 preparat. Preparat dibuat irisan
27

memanjang pada bagian bawah daun. Irisan yang telah didapat diletakkan
pada kaca benda, kemudian ditetesi dengan air. Selanjutnya irisan preparat
ditutup dengan kaca penutup dan diamati di mikroskop pada pembesaran
10x10. Kemudian mikroskop dihubungkan dengan optilab setelah
terhubung maka pembesaran berubah menjadi 268x. Setelah mendapat
hasil yang diinginkan kemudian dilakukan pengambilan gambar (Imaje
capture) dengan menggunakan optilab yang hasilnya dapat dilihat
langsung pada monitor laptop. Untuk menghitung jumlah stomata dan
mengukur panjang dan diameter stomata digunakan software yaitu image
raster.

3.3.5 Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan ANOVA. Jika terdapat perbedaan
nyata, akan dilanjutkan dengan uji BNT 5 %.










28

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Iklim Mikro Tanaman
Selama perlakuan tanaman kacang kedelai tumbuh dengan baik. Tanaman kacang
kedelai ditanam dalam polybag dan diletakkan disuatu tempat yang dinaungi
sesuai perlakuan intensitas cahaya berbeda. Tanaman kedelai ini ditanam dengan
suhu rata-rata pada pagi hari 28
0
C, siang hari 33,72
0
C dan sore hari 29,78
0
C, serta
kelembaban udara rata-rata pada pagi hari 82,1%, siang hari 68,96% dan sore hari
78,2%.

Tabel 1. Rata-rata pengamatan pengaruh naungan terhadap iklim mikro pada
tanaman kacang kedelai.
Tingkat
Naungan
Suhu
daun
(
0
C)
Intensitas
Cahaya
(Lux)
Kelembaban
(%)
Suhu
Dalam
(
0
C)
Suhu
Luar
(
0
C)
Kecepatan
Angin (m/s)
P0 28,2 36.840 77,92 30,86
30,33 0,76 P1 27,43 12.886,67 75,33 30,46
P2 27,85 10.026,67 76,04 30,31
Ket : Iklim mikro tanaman diukur selama 5 hari, dengan tiga kali pengukuran
setiap harinya yaitu pagi, siang dan sore hari.

Perbedaan tingkat naungan mempengaruhi intensitas cahaya, suhu udara, dan
kelembaban udara lingkungan tanaman, sehingga intensitas cahaya yang diterima
oleh tanaman berbeda dan mempengaruhi ketersediaan energi cahaya yang akan
diubah menjadi energi panas dan energi kimia. Apabila energi cahaya tidak
dilepaskan kembali ke lingkungannya, energi tersebut akan diubah menjadi energi
29

panas dan akan menaikkan suhu daun sedangkan energi cahaya diubah menjadi
energi kimia yaitu melalui proses fotosintesis dengan menghasilkan karbohidrat
yang digunakan tanaman dalam proses pertumbuhannya. Perlakuan naungan 50%
dan tanpa naungan menyebabkan intensitas cahaya yang diterima tanaman
berkisar antara 12.886,67 lux sampai 36.840 lux. Tanaman kedelai tumbuh
dengan baik dengan intensitas cahaya tersebut, sehingga diperkirakan tanaman
kedelai tumbuh pada intensitas cahaya optimum berkisar pada 36.840 lux.
Intensitas cahaya yang diterima tanaman pada naungan 50% hanya sebesar 35%
dan naungan 90% menerima cahaya 27%, jika dibandingkan dengan intensitas
cahaya pada areal tanpa naungan (Tabel 1).

Semakin besar tingkat naungan semakin kecil intensitas cahaya yang diterima
tanaman maka suhu udara rendah, kelembaban udara semakin tinggi. Namun pada
penelitian ini kelembaban udara pada tanaman yang dinaungi lebih rendah
dibandingkan dengan tanaman yang tidak dinaungi. Hal ini mungkin disebabkan
oleh adanya banyak pohon dan tanaman lain di lokasi penelitian.

Kelembaban udara yang terlalu rendah dan terlalu tinggi akan menghambat
pertumbuhan dan pembungaan tanaman. Kelembaban udara dapat mempengaruhi
pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses fotosintesis. Laju
fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara sekitar tanaman
(Kramer and Kozlowski, 1979).

30

Pertumbuhan optimum untuk kacang kedelai terjadi pada suhu 20-25
0
C
(Andrianto dan Indarto, 2004). Namun pada penelitian ini tanaman kedelai dapat
tumbuh dengan baik hingga suhu 30,31-30,86
0
C. Suhu daun tanaman berkisar
antara 27,43-28,2
0
C. Dari hasil penelitian suhu daun tanaman bergantung dari
besarnya tingkat naungan atau besarnya intensitas cahaya yang diterima tanaman.
Dengan meningkatnya intensitas cahaya maka akan meningkatkan suhu
lingkungan tanaman, yang mengakibatkan respirasi tanaman meningkat.

Pengamatan terhadap iklim mikro tanaman ini penting dilakukan karena iklim
mikro berpengaruh terhadap metabolisme tanaman seperti transpirasi. Transpirasi
dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan
tumbuhan melalui stomata. Kemungkinan kehilangan air dari jaringan tanaman
melalui bagian tanaman yang lain dapat saja terjadi, tetapi porsi kehilangan
tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang hilang melalui stomata. Oleh
sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang hilang dari jaringan
tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui stomata.

Iklim mikro mempengaruhi transpirasi antara lain radiasi cahaya mempengaruhi
membukanya stomata, sehingga transpirasi berjalan lancar. Kenaikan suhu udara
akan mempengaruhi kelembaban. Kelembaban menunjukkan banyak sedikitnya
uap air di udara, makin banyaknya uap air di udara, akan makin kecil perbedaan
tekanan uap air dalam rongga daun dengan di udara maka makin lambat laju
transpirasi. Angin adalah suatu perpindahan masa udara dari satu tempat ke
tempat lain. Dalam perpindahan masa udara ini, angin akan membawa masa uap
31

air yang berada di sekitar tumbuhan, sehingga dapat menurunkan tekanan uap air
di sekitar daun dan dapat mengakibatkan menurunnya transpirasi. Apabila angin
bertiup terlalu kencang, dapat mengakibatkan uap air keluar melebihi kemampuan
daun untuk menggantinya dengan air yang berasal dari tanah, sehingga daun akan
mengalami kekurangan air, turgor sel akan menurun termasuk turgor sel penutup
dan akhirnya stomata dapat menutup (Sasmitamihardja et al., 1996).

Lingkungan juga mempengaruhi laju fotosintesis tanaman, antara lain cahaya dan
suhu. Cahaya sebagai sumber energi untuk reaksi anabolik fotosintesis
berpengaruh terhadap laju fotosintesis. Secara umum, fiksasi CO
2
maksimum
terjadi sekitar tengah hari, yakni pada saat intensitas cahaya mencapai puncaknya.
Penutupan cahaya matahari oleh awan juga akan mengurangi fotosintesis. Kira-
kira 80% radiasi aktif untuk fotosintesis diserap oleh daun. Jumlah yang diserap
ini dipengaruhi oleh struktur dan umur daun. Selebihnya 20% diteruskan atau
dipantulkan. Dari jumlah yang diserap daun, lebih dari 95% hilang dalam bentuk
panas dan hanya kurang dari 5% yang berhasil dimanfaatkan untuk fotosintesis.
Laju fotosintesis tumbuhan cocok ternaung mencapai titik jenuh pada intensitas
cahaya yang lebih rendah dibanding tumbuhan cocok terbuka. Tanaman kacang
kedelai tergolong tumbuhan C-3. Tumbuhan C-3 umumnya mencapai titik jenuh
pada intensitas cahaya sekitar ¼ sampai ½ cahaya matahari penuh (Lakitan,
1993). Selanjutnya, Black (1971) menyatakan titik jenuh cahaya tanaman C-3
pada 100-200 Wm
-2
.

32

Pengaruh suhu terhadap fotosintesis tergantung pada spesies dan kondisi
lingkungan tempat tumbuhnya. Tanaman kedelai tumbuh baik pada daerah
dataran tinggi. Secara umum suhu optimum untuk fotosintesis setara dengan suhu
siang hari pada habitat asal tumbuhan tersebut (Lakitan, 1993).

Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat mengganggu pertumbuhan tanaman
terkait dengan terjadinya fotooksidasi pada klorofil. Naiknya intensitas cahaya
dapat menghambat proses fotosintesis akibat fotooksidasi dan kerusakan enzim.
Proses fotosintesis terhambat sehingga menghasilkan sedikit fotosintat yang di
translokasikan ke seluruh bagian lain dari tumbuhan.

4.2 Morfologi Tanaman
Respons morfologi tanaman kacang kedelai yang diukur pada penelitian ini
meliputi tinggi tanaman, jumlah daun dan luas daun. Hasil penelitian dapat dilihat
pada tabel berikut:

Tabel 2. Rata-rata dan standar deviasi (SD) respons morfologi tanaman kacang
kedelai pada tiga perlakuan cahaya yang berbeda.
No Deskripsi Morfologi
P0 P1 P2
N=18 N=18 N=18
Rata-rata±SD Rata-rata±SD Rata-rata±SD
1. Tinggi Tanaman (cm) 34,85±9,63 a 48,22±17,06 b 73,36±17,57 c
2. Jumlah Daun 13±2,28 a 15±4,86 ab 17±5,19 b
3. Luas Daun (cm
2
) 13,18±2,44 a 11,82±2,41 b 9,83±1,99 b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama dalam baris yang sama
menunjukkan hasil tidak berbeda nyata pada uji BNT 5%.

33

4.2.1 Tinggi Tanaman
Pada penelitian ini tinggi tanaman diamati pada hari ke-26 dengan cara dipanen
secara bersama-sama. Tinggi tanaman yang diukur adalah dari pangkal batang
hingga titik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat
naungan atau intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman berpengaruh pada
tinggi tanaman, yaitu semakin kurang cahaya, tanaman bertumbuh semakin tinggi.

Hasil uji Anova menunjukkan bahwa tinggi tanaman berbeda nyata pada tiga
perlakuan intensitas cahaya yang berbeda. Dengan uji BNT (5%) diperoleh bahwa
tinggi tanaman paling besar terdapat pada perlakuan P2 yaitu 73,36 cm. Tinggi
tanaman P1 adalah 52,13% lebih kecil daripada tinggi tanaman P2 sedangkan
tinggi tanaman P0 38,36% lebih kecil daripada tinggi tanaman P1 (Tabel 2). Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa tinggi tanaman P2 47,87% lebih besar
dibandingkan dengan tinggi tanaman P1. Perbedaan tinggi tanaman disebabkan
oleh besarnya intensitas cahaya yang diterima oleh tanaman dan berkaitan dengan
hormon tanaman yaitu auksin. Tanaman yang tumbuh di bawah naungan
memperoleh intensitas cahaya yang rendah sehingga tidak mengalami kerusakan
auksin. Selain itu, pertumbuhan tinggi tanaman yang terbesar pada P2 merupakan
gejala etiolasi yaitu batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan
berwarna kuning akibat kekurangan cahaya (Zhamal, 2008).

Perbedaan naungan memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman. Hal ini
berkaitan langsung dengan intensitas, kualitas dan lama penyinaran cahaya yang
diterima untuk tanaman melaksanakan proses fotosintesis. Seperti yang
34

dikemukakan oleh Daniel et al. (1992) bahwa cahaya secara langsung
berpengaruh pada pertumbuhan melalui intensitas, kualitas dan lama penyinaran.
Intensitas cahaya tinggi berpengaruh terhadap aktivitas auksin pada meristem
apikal. Apabila intensitas cahaya kurang maka aktivitas auksin meningkat,
sehingga mengakibatkan tanaman tumbuh tinggi. Meristem tunas apikal adalah
tempat utama sintesis auksin. Pada saat auksin bergerak dari ujung tunas ke bawah
ke daerah perpanjangan sel, maka hormon auksin mengstimulasi pertumbuhan sel,
mungkin dengan mengikat reseptor yang dibangun didalam membran plasma.
Konsentrasi auksin lebih besar pada sisi batang yang lebih gelap, sehingga sel-sel
di bagian tersebut tumbuh lebih panjang dibandingkan sel-sel yang terkena
cahaya. Kekurangan cahaya pada saat perkecambahan akan menyebabkan gejala
etiolasi di mana batang kecambah akan tumbuh lebih cepat tetapi lemah dan
berwarna kuning pucat.

Sintesis auksin terkait dengan IAA adalah endogenous auksin yang terbentuk dari
tryptophan yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat
dalam jaringan tanaman. Pemecahan IAA dapat terjadi di alam disebabkan oleh
cahaya. Hal ini adalah sebagai akibat adanya fotooksidasi dan enzim. Dalam
peristiwa fotooksidasi ini, pigmen pada tanaman akan menyerap cahaya,
kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Adapun pigmen yang berperan
dalam fotooksidasi ialah Ribovlavin dan B-Carotene. Kedua pigmen tersebut
menyebabkan inaktifnya auksin. Proses lain yang menyebabkan inaktifnya IAA
ialah karena adanya degradasi oleh fotooksidasi atau aktivitas suatu enzim.
35

Contoh karena adanya pengaruh dari enzim, maka IAA berubah menjadi Indole
Acetyl Aspartic Acid (Abidin, 1990).

Peningkatan tinggi tanaman karena adanya naungan mempunyai dampak negatif
yaitu menurunnya diameter batang dan meningkatkan resiko tanaman menjadi
mudah rebah. Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa tanaman yang
tumbuh pada intensitas cahaya penuh memiliki batang yang kuat dengan diameter
yang lebih besar. Diameter tanaman di bawah naungan mempunyai pertumbuhan
yang kecil akibat terbatasnya cahaya matahari yang diperoleh. Menurut Toumey
dan Korstia (1974) dalam Simarangkir (2000) pertambahan diameter tanaman
berhubungan erat dengan laju fotosintesis yaitu akan sebanding dengan jumlah
intensitas cahaya matahari yang diterima. Akan tetapi pada titik jenuh cahaya,
tanaman tidak mampu menambah hasil fotosintesis walaupun jumlah cahaya
bertambah. Daniel et al. (1992) menyatakan bahwa terhambatnya pertumbuhan
diameter tanaman disebabkan oleh berkurangnya produk fotosintesisnya serta
spektrum cahaya matahari yang kurang merangsang aktivitas hormon dalam
proses pembentukan sel meristematik ke arah diameter batang terutama pada
intensitas cahaya yang rendah.

4.2.2 Jumlah Daun
Hasil analisis tanaman kacang kedelai menunjukkan bahwa perlakuan naungan
90% dengan intensitas cahaya rendah mengakibatkan peningkatan jumlah daun.
Uji BNT 5% menunjukkan jumlah daun tidak berbeda antara perlakuan P0 dengan
P1 dan antara P1 dan P2. Tetapi jumlah daun berbeda nyata antara P0 dan P2
36

yaitu jumlah daun pada P2 32,74% lebih besar dibandingkan dengan jumlah daun
P0 (Tabel 2).

Jumlah daun menjadi penentu utama kecepatan pertumbuhan (Fitter dan Hay
(1992) dalam Marjenah, 2001). Keadaan ini terlihat pada hasil penelitian, yaitu
daun-daun dengan luas daun yang lebih besar mempunyai pertumbuhan yang
besar pula. Morfologi daun yang lebar dan tipis diperlukan pada kondisi
lingkungan cahaya kurang untuk dapat menangkap cahaya sebanyak mungkin
dengan cahaya yang direfleksikan serendah mungkin. Peningkatan luas daun
memungkinkan peningkatan luas bidang tangkapan dan juga menyebabkan daun
menjadi lebih tipis karena sel-sel palisade hanya terdiri dari satu atau dua lapis
(Khumaida, 2002).

Fotosintesis berperan sangat penting dalam manajemen produksi tanaman karena
hampir semua produksi tanaman didominasi oleh komponen karbohidrat yang
merupakan hasil akhir fotosintesis. Sementara itu, metabolisme lipid dan protein
yang juga merupakan komponen hasil utama, memerlukan unsur karbon hasil
fotosintesis. Fotosintesis terjadi terutama pada daun dan menghasilkan
karbohidrat yang kemudian ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman lainnya.
Bertambahnya jumlah daun akibat naungan atau pengurangan cahaya matahari
disebabkan persediaan hasil fotosintesis yang dibentuk pada daun ditranslokasikan
ke seluruh bagian tumbuhan.

37

Fotosintat yang dihasilkan pada daun dan sel-sel fotosintetik lainnya harus
diangkut ke organ atau jaringan lain agar dapat dimanfaatkan oleh organ atau
jaringan tersebut untuk pertumbuhan atau ditimbun sebagai bahan cadangan. Hasil
fotosintesis berupa sukrosa di translokasikan ke seluruh bagian tumbuhan oleh
pembuluh floem. Selain senyawa-senyawa hasil fotosintesis, floem juga
mengangkut senyawa-senyawa organik dan anorganik lainnya. Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa daun-daun pada bagian bawah akan lebih banyak
mengangkut fotosintat ke akar, sedangkan daun-daun bagian atas akan lebih
banyak mengirim fotosintat ke organ hasil seperti biji, buah atau daun-daun muda
yang sedang tumbuh (Lakitan, 1993).

4.2.3 Luas Daun
Daun merupakan organ tanaman tempat berlangsungnya proses fotosintesis. Bila
luas daun meningkat, asimilat yang dihasilkan akan lebih besar pula. Luas daun
yang besar menyebabkan laju asimilasi bersih meningkat, sehingga laju
pertumbuhan juga meningkat. Daun adalah salah satu organ pada tumbuhan yang
memiliki fungsi penting sebagai organ fotosintetik utama. Daun secara langsung
terlibat dalam proses penangkapan cahaya dan perubahan energi cahaya menjadi
energi kimia melalui proses fotosintesis.

Uji Anova menunjukkan terdapat perbedaan luas daun yang nyata antara P0
dengan P1 dan P2 sedangkan P1 dan P2 tidak berbeda. Pada uji BNT 5%
menunjukkan bahwa luas daun P0 11,5% lebih besar dibandingkan dengan luas
daun P1 dan 34,07% lebih besar daripada luas daun P2 (Tabel 2). Luas daun di
38

tempat ternaung lebih kecil dari luas daun pada tempat terbuka. Luas daun pada
tempat terbuka adalah luas yang normal dengan warna yang hijau tua dan tebal.
Daun ditempat ternaung lebih kecil dan tipis, diduga kemungkinan tanaman
beradaptasi dengan meningkatkan jumlah daun bukan dengan luas daun.

Daun di tempat ternaung biasanya lebih lebar dan tipis dan memungkinkan
penangkapan cahaya lebih banyak untuk diteruskan ke bagian bawah daun dengan
cepat, sehingga kegiatan fotosintesis berlangsung maksimal. Penipisan daun
disebabkan oleh berkurangnya lapisan palisade pada sel mesofil daun (Taiz dan
Zeiger, 1991). Selanjutnya, pada genotipe padi gogo dan kedelai toleran naungan
terjadi pengurangan lapisan palisade yang lebih besar akibat cekaman naungan,
sehingga menyebabkan daun menjadi lebih tipis. Perubahan karakter tersebut
diduga merupakan bentuk mekanisme penghindaran terhadap cahaya rendah
(Khumaida 2002; Sopandie et al. 2003). Respons menghindar (shade avoidance
response) pada tanaman yang mengalami cekaman intensitas cahaya rendah
dilakukan dengan memaksimalkan penangkapan cahaya dengan cara mengubah
anatomi dan morfologi daun untuk fotosintesis yang efisien (Evans dan Poorter,
2001).

Penelitian Khumaida (2002) menunjukkan bahwa genotip Ceneng (toleran),
Pangrango (toleran), Orba (moderat) dan Godek (peka) baik pada cahaya penuh
maupun yang ternaungi fotosintesis maksimum dicapai pada intensitas cahaya
yang sama yaitu sekitar 1500 µmol cm
-2
dtk
-1
. Namun, laju fotosintesis dan
fotosintesis maksimum lebih rendah pada kedelai yang ternaungi. Terhambatnya
39

fotosintesis menyebabkan kurangnya karbohidrat pada tanaman untuk proses
perluasan daun.

Jika dihubungkan dengan lingkungan mikro tanaman yaitu kelembaban di tempat
terbuka lebih tinggi dibandingkan di tempat yang ternaung. Kelembaban udara
dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi proses
fotosintesis. Laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya kelembaban udara
sekitar tanaman (Kramer and Kozlowski, 1979). Keadaan ini memungkinkan
terhambatnya proses fotosintesis tanaman di tempat ternaung, sehingga luas daun
di tempat dengan naungan 50 dan 90% lebih kecil daripada di tempat tanpa
naungan.

Selanjutnya proses fotosintesis pula dipengaruhi oleh jumlah cahaya yang di
terima oleh daun. Tanaman kedelai memiliki daun yang berbulu. Bulu daun
merupakan organ yang mampu memantulkan cahaya. Dengan demikian, semakin
sedikit jumlah bulu daun yang ada dipermukaan daun maka peluang untuk
memantulkan cahaya menjadi kecil, sehingga cahaya dapat langsung diterima oleh
daun. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Bjorkman dan Adam (1994) dalam
Xu dan Shen (1999) yang menyatakan bahwa bulu daun berperan sebagai
reflektan, sehingga daun dengan banyak bulu di permukaan atas daun, mempunyai
kemampuan memantulkan cahaya lebih besar. Menurut Levitt (1980)
pengurangan jumlah bulu daun merupakan salah satu mekanisme yang
dikembangkan tanaman untuk menghindari cekaman kekurangan cahaya.

40

4.3 Anatomi Tanaman
Respons anatomi tanaman kacang kedelai yang diukur pada penelitian ini meliputi
jumlah stomata, panjang stomata dan diameter stomata (Tabel 3).

Tabel 3. Rata-rata dan standar deviasi (SD) respons anatomi tanaman kacang
kedelai pada tiga perlakuan cahaya yang berbeda
No Deskripsi Anatomi
P0 P1 P2
N=3 N=3 N=3
Rata-rata±SD Rata-rata±SD Rata-rata±SD
1. Jumlah Stomata 9±2,64 12±4,58 11±4,06
2. Panjang Stomata (µm) 7,3±1,85 7,1±0,6 7,5±0,3
3. Diameter Stomata (µm) 3,5±1,05 3,2±0,6 3,6±0,5

Hasil penelitian menunjukkan bahwa F hitung lebih kecil dari F tabel, sehingga
pengujian tidak dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Perlakuan naungan tidak
memberikan respons atau pengaruh nyata (tidak signifikan) terhadap jumlah
stomata, panjang stomata dan diameter stomata. Ketersediaan cahaya dan
konsentrasi CO
2
menjadi faktor pembatas bagi kecepatan fotosintesis tumbuhan.
Untuk mengefektifkan penerimaan dan penangkapan cahaya susunan sel-sel
palisade dan bunga karang dibuat sedemikian sehingga cahaya bisa terdistribusi
dalam sel mesofil dan penangkapan cahaya secara total optimum. Tumbuhan juga
bisa mengatur letak kloroplas dan mengorientasikan daun sesuai dengan arah
intensitas cahaya. Dalam situasi ternaungi kloroplas mengumpul ke dekat lapisan
epidermis sehingga daun tampak lebih hijau (Taiz dan Zeiger, 1991).

Banyaknya stomata bisa berkurang bila kedelai ditanam di tempat yang cahayanya
kurang (Lersten dan Carlson, 1987). Penurunan stomata karena naungan juga
41

terjadi pada manggis (Garcinia mangostana) (Wiebel et al.,1999) dan Amborella
trichopoda (Field et al., 2001). Penelitian Sopandie et al. (2002) menunjukkan
bahwa naungan 50% menyebabkan penurunan kerapatan stomata. Dalam hal ini
kelompok genotip toleran mengalami penurunan dengan persentase lebih sedikit
dibandingkan dengan genotip peka, yaitu masing-masing 12% dan 32%. Daun
bisa beradaptasi dengan lingkungan untuk meningkatkan fotosintesis melalui
pengaturan laju pertukaran gas. Kecepatan pertukaran gas pada daun tergantung
kepada banyaknya stomata per luas daun dan lebar pembukaan stomata. Stomata
adalah celah yang bisa dilalui gas dan air. Konduktansi stomata mencerminkan
kondisi kemudahan stomata untuk pertukaran gas CO
2
dan air. Semakin banyak
dan lebar pembukaan stomata maka semakin tinggi konduktansi stomata dan
semakin tinggi pertukaran CO
2
per satuan luas daun. Karena itu konduktansi
stomata juga mencerminkan level fotosintesis (Taiz dan Zeiger, 1991).

Sebaliknya Sutarmi (1983) menyatakan bahwa tanaman kacang kedelai dapat
beradaptasi dengan meningkatkan jumlah, panjang dan diameter stomata untuk
meningkatkan hasil fotosintesis. Dengan intensitas cahaya yang rendah, tanaman
menghasilkan daun lebih besar, lebih tipis dengan lapisan epidermis tipis, jaringan
palisade sedikit, ruang antar sel lebih lebar dan jumlah stomata lebih banyak.
Sebaliknya pada tanaman yang menerima intensitas cahaya tinggi menghasilkan
daun yang lebih kecil, lebih tebal, lebih kompak dengan jumlah stomata lebih
sedikit, lapisan kutikula dan dinding sel lebih tebal dengan ruang antar sel lebih
kecil dan tekstur daun keras. Hasil penelitian Morais et al. (2004), menunjukkan
bahwa jumlah stomata daun pada perlakuan tanpa naungan lebih banyak
42

dibandingkan dengan perlakuan naungan. Hasil ini juga sejalan dengan
pernyataan Bolhar Nordenkampf et al. (1993), bahwa tanaman di bawah naungan
memiliki sedikit stomata. Pada beberapa tanaman seperti kimpul (Xanthosoma
sagittifolium), ubijalar (Ipomoea batatas), gembili (Dioscorea esculenta), dan
ubikayu (Manihot esculenta), naungan mengakibatkan pengurangan kepadatan
stomata (Onwueme dan Johnston, 2000).

Menurut hasil penelitian Thomas et al. (2004) panjang stomata, indeks dan
kepadatan stomata dipengaruhi oleh sinar matahari. Hanba et al. (2002)
menyebutkan bahwa ntensitas cahaya tinggi dapat mengakibatkan tingkat
pembukaan stomata rendah. Selanjutnya, Sundari et al. (2008) menyatakan respon
lebar bukaan stomata kelompok genotipe toleran naungan dan kelompok genotipe
sensitif naungan terhadap perlakuan naungan 52% tidak menunjukkan perbedaan.
Pergerakan stomata dikendalikan oleh cahaya, konsentrasi CO
2
didalam rongga
sub-stomata dan kadar air di daun (Bolhar Nordenkampf et al., 1993). Apabila
suplai air di daun cukup dan suhu daun tidak ekstrim, maka kelebihan cahaya
memacu pembukaan stomata. Stomata membuka pada siang hari dan menutup
pada malam hari. Pada intensitas cahaya matahari sedang, stomata sebagian besar
spesies tanaman daerah beriklim sedang membuka maksimum (Noggle dan Fritz,
1977).

Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang nyata. Hal ini
mungkin disebabkan oleh kurangnya waktu yang digunakan dalam perlakuan
43

penelitian ini (stadium vegetatif 3) dan faktor genetik yang dimiliki oleh varietas
yang digunakan.

Hasil penelitian respons morfologi dan anatomi kecambah kacang kedelai tersebut
dipengaruhi oleh tempat pelaksanaan penelitian, yaitu jarak antara perlakuan satu
dengan yang lain terlalu dekat dan terdapat banyak pohon dan tanaman lain di
sekitar tempat tersebut.

















44

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa :
1. Morfologi tanaman kedelai pada stadium vegetatif 3 dipengaruhi oleh
intensitas cahaya. Hasil uji ANOVA yang dilanjutkan dengan BNT (5%)
menunjukkan :
- Tinggi tanaman pada P2 dua kali lebih besar dibandingkan dengan tinggi
tanaman pada P0.
- Jumlah daun tidak berbeda antara perlakuan P0 dengan P1 dan antara P1
dan P2, tetapi jumlah daun pada P2 lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah daun pada P0.
- Luas daun pada P0 lebih besar dibandingkan dengan luas daun P1 dan P2.
2. Anatomi tanaman kedelai (jumlah, panjang, dan diameter stomata) pada
stadium vegetatif 3 tidak dipengaruhi oleh intensitas cahaya.

5.2 Saran
Perlu diadakan penelitian lanjutan mengenai respons morfologi dan anatomi
kacang kedelai terhadap intensitas cahaya yang berbeda dengan membandingkan
beberapa varietas dan dengan waktu yang lebih lama/stadium vegetatif dan
reproduktif berikutnya.



45

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 1990. Dasar-dasar Pengetahuan tentang Zat Pengatur Tumbuhan.
Angkasa. Bandung.

Agung, T dan A.Y. Rahayu. 2004. Analisis Efisiensi Serapan N, Pertumbuhan,
dan Hasil Beberapa Kultivar Kedelai Unggul Baru dengan Cekaman
Kekeringan dan Pemberian Pupuk Hayati. Agrosains 6(2): 70-74.
Semarang.

Andre F.H, S.H Uhart, M.I Frugone. 1993. Intercepted Radiation at Flowering
and Kernel Number in Maize: Shade versus Plant Density Effects. Crop
Sci 33: 482-485.

Andrianto, T.T dan N. Indarto. 2004. Budidaya dan Analisis Usaha Tani
Kedelai, Kacang Hijau, Kacang Panjang. Absolut. Yogyakarta.

Anonim. 2009. Budidaya Tanaman Kedelai. http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2009/03/budidaya_tanaman_kedelai.pdf. Diakses 04 Maret
2011.

Arsyad, D.M. 1995. Kedelai Sumber Pertumbuhan dan Produksi dan Teknik
Budidaya. Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan. Bogor. hal 45.

Asadi, D, M. Arsyad, H. Zahara, Darmijati. 1997. Pemuliaan Kedelai untuk
Toleran Naungan dan Tumpangsari. Buletin Agrobio. Vol. 1.No. 2. Balai
Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Bogor. hal:15-20.

Atmaja, R.P. 2010. Pengaruh Naungan terhadap Indeks Stomata Empat
Varietas dan Satu Genotipe Kedelai [Glycine max (L.) Merill]. Jurusan
Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Negeri Malang. Malang.

Black, C.C. 1971. Ecological Implication of Dividing Plants into Groups with
Distinct Photosynthetic Production Capacities. Adv. Ecol. Res. 7, 87-
114.

Bolhar-Nordenkampf, H.R, G. Draxler. 1993. Functional leaf anatomy. In: D.O.
Hall, J.M.O. Scurlock, H.R. Bolhar – Nordenkampf, R.C.Leegood, S.P.
Long (eds.) Photosynthesis and Production in a Changing Environment.
A Field and Laboratory Manual.Chapman & Hall. London. Glasgow.
New York. Tokyo. Melbourne. Madras. h. 91-112.

Caiger S. 1986. Effect of Shade on Yield of Taro Cultivars in Tuvalu. Agric.
Bulletin 11(2):66-68.


46

Chaturvedi, G.S.P, C. Ram, A.K Singh, P. Ram, K.T Ingram, B.B Singh, R.K
Singh, V.K Singh. 1994. Carbohydrate Status of Rainfed Lowland
Ricein Relation to Submergence, Drought and Shade Tolerance. In
Proceeding: Physiology of Stress Tolerance in Rice. Los Banos: IRRI
Philippines. hal:104-122.

Chowdury P.K, M. Thangaraj, and Jayapragasam. 1994. Biochemical Changes in
Low Irradiance Tolerant and Succeptible Rice Cultivars. Biol.
Plantarum. 36(2): 237-242.

Chozin, M.A., D. Sopandie, S. Sastrosumajo, Sumarno. 1999. Physiology and
Genetic of Upland Rice Adaptation to Shade. Final Report of Graduate
Tem Research Grant, URGE Project. Directorate General of Higher
Education, Ministry of Education and Culture.

Cruz, P. 1997. Effect of Shade on the Growth and Mineral Nutrition of C4
Perennial Grass Under Field Conditions. Plant and Soil 188:227-237.

Daniel, T.W, J.W. Helm and F.S. Baker. 1979. Principles of Silviculture, 2 nd
Ed. Mc.Graw Hill Inc. New York.

Daniel T.W, J.A. Helms and F.S. Baker, 1992. Prinsip-Prinsip Silvikultur
(Terjemahan). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Daubenmire, R.I. 1962. Plant and Environment. A Texbook of Plant Ecology. 2
nd Ed. New York. John Willey and Sons Inc. London. h. 10 – 70.

Evans, J.R., H. Poorter. 2001. Photosynthetic Acclimation of Plants to Growth
Irradiance: The Relative Importance of Specific Leaf Area and
Nitrogen Partitioning in Maximizing Carbon Gain. Plant Cell Environ.
24:755-767.

Fachruddin, L. 2000. Budidaya Kacang-Kacangan. Kanisius. Yogyakarta.

Field, T.S, T. Brodribb, and N.M Holbrook. 2001. Acclimaton of Leaf Anatomy,
Photosynthetic Light Use, and Xylem Hydraulics to Light in Amborella
trichopoda. Int. J. Plant Sci 162:999-1008.

Gardner F.P, R.B Pearce, and R.L Mitchell. 1991. Physiology of Crop Plants.
Diterjemahkan oleh H. Susilo. Jakarta. Universitas Indonesia Press.

Hale, M.G., D.M. Orcutt. 1987. The Physiology of Plants under Stress. John
Wiley and Sons. New York.

Hanba, Y.T, H. Kogami, I. Terashima. 2002. The Effect of Growth Irradiance
on Leaf Anatomy and Photosynthesis in Acer Species Differing in Light
Demand. Plant, Cell & Environment 25(8):1021-1030. Published Online 18
July 2002.
47


Hidayat, O.O. 1993. Morfologi Tanaman Kedelai. Dalam buku Kedelai cetakan
ke-2 Badan Litbang Pertanian, Puslitbangtan. Bogor.

Irwanto. 2006. Pengaruh Perbedaan Naungan Terhadap Pertumbuhan Semai
Shorea sp. di Pesemaian. Pasca Sarjana UGM Jurusan Ilmu Pertanian.
Yogyakarta.

Juraimi, A.S, D.S.H. Drennan, N. Anuar. 2004. The Effects of Shading on The
Growth, Development and Partitioning of Biomass in Bermudagrass
(Cynodondactylon (L.) Pers). J Biol Sci. 4:756-762.

Khumaida, N. 2002. Studies on Adaptability of Soybeanand Upland Rice to
Shade Stress [Dissertation]. Tokyo. The University of Tokyo. 98h.

Kisman, N, Khumaida, Trikoesoemaningtyas, Sobir, dan D. Soepandie. 2007.
Karakter Morfo-Fisiologi Daun, Penciri Adaptasi Kedelai terhadap
Intensitas Cahaya Rendah. Bul. Agron. 35 (2) 96 – 102.

Kramer, P.J. and T.T. Kozlowski. 1979. Physiology of Woody Plant. Academic
Press. New York.

Lakitan, B. 1993. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.

Lamina. 1989. Kedelai dan Pengolahannya. Simpleks. Jakarta.

Lautt, B.S. 2003. Fisiologi Toleransi Padi Gogo TerhadapNaungan: Tinjauan
Karakteristik Fotosintesis Dan Respirasi. Bogor. Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor. 109h.

Leopold, A.C. and P.E. Kriedemann. 1975. Plant Growth and Development The
Dynamic of Growth 2 nd Ed. h. 75 – 105.

Lersten, N.K. and J.B. Carlson. 1987. Vegetative Morphology dalam
J.R.Wilcox (ed). Soybean Improvement, Production, and Uses. Am. Soc.
Agron. Madison. h. 52-94.

Levitt, J. 1980. Responses of Plants to Environmental Stresses.Water,
Radiation, Salt, and Other Stresses. Vol. II. Academic Press, Inc.
London.

Marjenah. 2001. Pengaruh Perbedaan Naungan di Persemaian Terhadap
Pertumbuhan dan Respon Morfologi Dua Jenis Semai Meranti. Jurnal
Ilmiah Kehutanan ”Rimba Kalimantan” Vol. 6. Nomor. 2. Samarinda.
Kalimantan Timur.

48

McNellis, T., X.W. Deng. 1995. Light Control of Seedling Morphogenic
Pattern. The Plant Cell 7:1749-1761.

Mohr, H, P. Schopfer. 1995. Plant Physiology. Translated by Gudrun and D.W.
Lawlor. Springer.

Morais, H., M.E. Medri, C.J. Marur, P.H. Caramori, A.M. de Arrura Ribeiro, J.C.
Gomes. 2004. Modifications on Leaf Anatomy of Coffea Arabica Caused
by Shade of Pigeonpea (Cajanus cajan). Brazilian Archives of Biology
and Technology. 47(6): 863-871.

Mugnisjah, W. dan A. Setiawan. 1995. Produksi Benih. Bumi Aksara. Jakarta.

Noggle, G.R., G.J. Fritz. 1977. Introductory Plant Physiology. How Plants
Grow, Develop, and Interact with Their External Environment. Prentice
Hall of India. New Delhi. Private Limited. 688 p.

Nurhayati A.P, Lontoh, J. Koswara. 1985. Pengaruh Intensitas dan Saat
Pemberian Naungan terhadap Produksi Ubi Jalar (Ipomoea batatas (L.)
Lamp.). Bul. Agr 16:28-38.

Sallisbury F.B and C.W. Ross. l992. Plant Physiology. Wadsworth Publishing
Company Belmont. California.

Sasmitamihardja, W, dan A. Siregar. 1996. Fisiologi Tumbuhan. ITB. Bandung.

Shibels, R.J Secor, and D.M. Ford. 1987. Carbon Assimilation and Metabolism
dalam J.R. Wilcox (ed). Soybean Improvement, Production, and Uses. Am.
Soc. Agron. Madison. pp 535-588.

Simarangkir B.D.A.S, 2000. Analisis Riap Dryobalanopslanceolata Burck
pada Lebar Jalur yang Berbeda di Hutan Koleksi Universitas
Mulawarman Lempake. Frontir Nomor 32. Kalimantan Timur.

Soekotjo, W. 1977. Silvikultur khusus. Akademi Ilmu Kehutanan (AIK).
Bandung.

Sopandie D, M.A. Chozin, S. Sastrosumarjo, T. Juhaeti, dan Sahardi. 2003.
Toleransi Padi Gogo terhadap Naungan. Hayati 10 (2): 71-75.

Sopandie, D., M.A. Chozin, N. Khumaida, T. Takano. 2001. Differential
Shading Tolerance of Upland Rice Genotypes related to Rubisco
Activity and its Gen Expression. dalam: Proceeding of The 1st Seminar
Toward Harmonization between Development and Environmental
Conservation in Biological Production. Tokyo University, February 21-23,
2001.

49

Sopandie, D., Trikoesoemaningtyas, E. Sulistyono, dan N. Heryani. 2002.
Pengembangan Kedelai sebagai Tanaman Sela: Fisiologi dan
Pemuliaan untuk Toleransi terhadap Naungan. Laporan Penelitian
Hibah Bersaing X Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Soverda, N. 2002. Karakteristik Fisiologi Fotosintesis Dan Pewarisan Sifat
Toleran Naungan Pada Padi Gogo. Bogor: Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.

Suhardi. 1995. Effect Of Shading, Mycorrhiza Inoculated And Organic
Matter On The Growth Of Hopea Gregaria Seedling Buletin Penelitian
Nomor 28. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Sundari, T. Soemartono, Tohari, dan W. Mangoendidjojo. 2008. Anatomi Daun
Kacang Hijau Genotip Toleran dan Sensitif Naungan. Bul. Agron. 36
(3) 221 – 228.

Supriyono B, M.A Chozin, D. Sopandie, dan L.K Darusman. 2000. Perimbangan
Pati-Sukrosa dan Aktivitas Enzim Sukrosa Fosfat Sintase pada Padi
Gogo yang Toleran dan Peka terhadap Naungan. Hayati. 7(2):31-34.

Sutarmi, S. 1983. Botani Umum Jilid II. Angkasa. Bandung.

Taiz L and E. Zeiger. 1991. Plant Physiology. Tokyo. The Benyamin/Cumming
Publishing Company Inc. p: 219-247.

Thomas P.W., W.F. Ian, Q.W. Pau. 2004. Systemic Irradiance Signalling in
Tobacco. New phytologist . 161 (1): 321.

Treshow, M.L. 1970. Environment and Plant Response. Mc Graw Hill
Company. New York.

Wiebel, J., E.K. Chacko and P. Ludders. 1994. Influence of Irradiance on
Photosynthesis, Morphologhy, and Growth of Mangosteen Seedling.
Tree Physiol. 14:263-274.

Williams, C.N. and K.T. Joseph. 1976. Climate, Soil And Crop Production In
The Humid Tropes. Oxford University Press. Kuala Lumpur. h. 177.

Wilsie, C.P. 1962. Crop Adaptation and Distribution. Iowa State Univ.
Diterjemahkan oleh Bintoro, M.H. dan Wiroatmodjo. 1978. Adaptasi dan
Distribusi Tanaman Pertanian. Faktor-faktor lingkungan. Dep. Agronomi
Fakultas Pertanian. IPB. Bogor. h. 234.

Wirawati T, B.S. Purwoko, D. Sopandie, I. Hanarida. 2002. Studi Fisiologi
Adaptasi Talas terhadap Kondisi Naungan. Seminar Program Pasca
Sarjana. Program Pasca sarjana, IPB. Bogor.

50

Xu, Da-Quan, Yun-Kang Shen. 1999. Light Stress: Photoinhibition of
Photosynthesis in Plant Under Natural Conditions. In: M. Passarakli
(ed.). Hand book of Plant and Crop Stress. 2 nd. Ed. Marcel Dekker,Inc.
New York. Basel. h. 483-497.

Yustika, S.B. 1985. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Tanaman Kedelai.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.

Zhamal. 2008. Pengaruh Cahaya terhadap Pertumbuhan Biji Kacang Hijau.
http:// catatanzhamal.blogspot.com/. Diakses pada tanggal April 2010.



















51

Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan ANOVA. Jika terdapat perbedaan nyata, akan
dilanjutkan dengan uji BNT 5 %.

Lampiran 1. Alur Penelitian

















Iklim mikro
Diamati pada hari ke-14 hingga hari ke-18,
pada pukul 07.00 pagi; 12.00 siang; dan 05.00
sore, yaitu: Intensitas cahaya, temperatur
lingkungan, temperatur daun, dan kelembaban
udara
Pertumbuhan tanaman
Diamati pada hari ke-26, yaitu responsmorfologi
(tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun); dan
anatomi (jumlah, panjang, dan diameter stomata)

Pengamatan
Dilakukan pada hari ke-14

Naungan 50% Tanpa Naungan Naungan90%
Perlakuan
Perkecambahan
Dikecambahkan dalam polybag 20x3
cm yang berisi media tanam selama
14 hari
Penyortiran
Pemilihan biji yang baik untuk
digunakan

Persiapan
Menyiapkan alat dan bahan yang
digunakan
Kedelai (Glycine max (L.) Merill)
52



Lampiran 2. Iklim Mikro Tanaman Kacang Kedelai

Parameter Perlakuan Pagi Siang Sore Rata-rata
Kecepatan Angin - 0.7 1.42 0.16 0.76
Suhu Luar - 27.87 33.18 29.94 30.33
Suhu Dalam
P0 28.38 34.31 29.89 30.86
P1 28.08 33.48 29.84 30.46
P2 27.92 33.38 29.63 30.31
Kelembaban
P0 82.34 72.26 79.18 77.92
P1 81.8 65.86 78.34 75.33
P2 82.16 68.78 77.18 76.04
Intensitas Cahaya
P0 11440 91600 7480 36840
P1 5680 29700 3280 12886.67
P2 4240 23680 2160 10026.67
Suhu Daun
P0 26.06 30.22 28.34 28.2
P1 26.08 27.6 28.62 27.43
P2 25.9 29.38 28.28 27.85

































53



Lampiran 3. Hasil Pengukuran Untuk Tiap Parameter
a. Tinggi Tanaman
Ulangan P0 P1 P2 Jumlah
1 29.8 49 75
2 29 63 79
3 49 67 107
4 33 39.5 78
5 54 28.5 69
6 48 40 79
7 42 69.5 77
8 36 26 109
9 38 34.5 68
10 44 51.5 67
11 24.5 42 72
12 26.5 90 74
13 27 36 97
14 23.5 70 46
15 23 36 48.5
16 30 43.5 64
17 28 44 57
18 42 38 54
Total 627.3 868 1320.5 2815.8
Rata-rata 34.85 48.22222 73.36111

b. Jumlah Daun
Ulangan P0 P1 P2 Jumlah
1 11 20 22
2 10 14 18
3 17 22 17
4 14 14 20
5 13 17 14
6 12 14 26
7 14 17 29
8 14 15 17
9 13 12 14
10 13 14 13
11 8 11 20
12 11 27 16
13 11 14 13
14 11 23 16
15 12 11 13
16 14 11 12
17 11 11 10
18 17 9 10
Total 226 276 300 802
Rata-rata 12.55556 15.33333 16.66667
54



Lanjutan Lampiran 3
c. Luas Daun
Ulangan P0 P1 P2 Jumlah
1 15.60133 11.725 9.898
2 11.109 10.41933 10.23067
3 15.92767 11.28233 12.60333
4 17.34433 10.11967 10.712
5 12.862 14.53533 11.19167
6 12.56233 16.12867 10.83933
7 12.863 11.32867 9.779333
8 8.254 13.77733 10.123
9 13.22167 11.764 12.62667
10 15.78133 9.867333 11.487
11 11.668 15.66 7.121
12 16.92967 16.23367 8.567333
13 12.053 8.163 7.068667
14 11.213 11.23733 12.86633
15 13.003 9.527 8.432
16 11.23333 10.768 7.659333
17 10.72333 10.518 6.181
18 15.014 9.727 9.584
Total 237.364 212.7817 176.9707 627.1163
Rata-rata 13.18689 11.8212 9.831704

d. Jumlah Stomata
Ulangan P0 P1 P2 jumlah
1 8 8 7

2 7 11 12

3 12 17 15

Jumlah 27 36 34 97
Rata-rata 9 12 11


e. Panjang Stomata
Ulangan P0 P1 P2 jumlah
1 8.2 7.8 7.9
2 5.2 6.7 7.2
3 8.6 6.8 7.4
Jumlah 22 21.3 22.5 65.8
Rata-rata 7.333333 7.1 7.5

f. Diameter Stomata
Ulangan P0 P1 P2 jumlah
1 3.6 3.9 4
2 2.4 2.9 3
3 4.5 2.8 3.9
Jumlah 10.5 9.6 10.9 31
Rata-rata 3.5 3.2 3.63333
55



Lampiran 4. Sidik Ragam Untuk Tiap Parameter

a. Sidik Ragam Untuk Tinggi Tanaman
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 13763.31 6881.65 29.79 3.18
GalatPercobaan 51 11778.9 230.95
Total 53 25542.21

b. Sidik Ragam Untuk Jumlah Daun
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 158.37 79.18 4.25 3.18
GalatPercobaan 51 948.44 18.59
Total 53 1106.81

c. Sidik Ragam Untuk Luas Daun
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 102.48 51.24 9.72 3.18
GalatPercobaan 51 268.70 5.26
Total 53 371.18

d. Sidik Ragam Untuk Jumlah Stomata
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 14.9 7.45 0.5 5.14
GalatPercobaan 6 88.7 14.78
Total 8 103.6

e. Sidik Ragam Untuk Panjang Stomata
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 0.24 0.12 0.09 5.14
GalatPercobaan 6 7.9 1.31
Total 8 8.14

f. Sidik Ragam Untuk Diameter Stomata
SK db JK KT F hitung
F tabel
0.05
Perlakuan 2 0.29 0.14 0.24 5.14
GalatPercobaan 6 3.56 0.59
Total 8 3.85






56



Lampiran 5. Uji BNT 5% untuk tiap parameter yang berbeda nyata

a. Uji BNT 5% Untuk Tinggi
Tanaman
BNT 5% = t(5%)(G.Percobaan)_
2 K1u
n

= t(5%)(51)_
2.230,5
18

= (2,007)_
461,9
18

=(2,007)¸2S,66
=(2,007)(5,06)
=10,15

b. Uji BNT 5% Untuk Jumlah
Daun
BNT 5% = t(5%)(G.Percobaan)_
2 K1u
n

= t(5%)(51)_
2.18,59
18

=(2,007)_
37,18
18

=(2,007)

2,u6
=(2,007)(1,43)
=2,87

c. Uji BNT 5% Untuk Luas Daun

BNT 5% =t(5%)(G.Percobaan)_
2 K1u
n

= t(5%)(51)_
2.5,26
18

=(2,007)_
10,52
18

=(2,007)¸u,S8
=(2,007)(0,76)
=1,52























57



Lampiran 6. Dokumentasi Pelaksanaan Penelitian


Pemeliharaan Tanaman















Lokasi Penelitian



Tanpa Naungan

Naungan 50%

Naungan 90%










58



Lampiran 7. Pengamatan Respons Morfologi dan Anatomi Tanaman
a. Pemanenan Tanaman

Tanpa Naungan Naungan 50% Naungan 90%


b. Pengukuran Tinggi Tanaman

Tanpa Naungan Naungan 50% Naungan 90%







59



c. Pengukuran Luas Daun

Tanpa Naungan Naungan 50%


Naungan 90%




60



d. Pengamatan Jumlah, Panjang dan Diameter Stomata Pembesaran 268X
Dengan Luas Bidang Pandang 392X356 µm


Tanpa Naungan


















Naungan 50%


Naungan 90%








61



Lampiran 8. Alat dan Bahan Yang Digunakan Dalam Penelitian

Thermometer Infra Merah

Skymate digunakan untuk
mengukur suhu lingkungan,
kelembaban udara, dan kecepatan
angin

Light Meter
Media Tanam




Sign up to vote on this title
UsefulNot useful