Cara Jitu Lawan Korupsi ala Anak Muda

Makin Kenal, Makin Tak Sayang.
Cara Jitu Lawan Korupsi ala Anak Muda.
ISBN Terbit pertama --- 2012. Diterbitkan oleh: Transparency International Indonesia Jl. Senayan Bawah www.ti.or.id www.clubspeak.org Logo Speak Didukung oleh: HIVOS Jl. Kemang Selatan XIII No.1 Jakarta Selatan, DKI Jakarta Indonesia Telp: +6221 7892489 Fax: +6221 7808115 www.hivos.nl Logo HIVOS

Kecuali dinyatakan berbeda, seluruh isi buku ini dilindungi dengan lisensi Creative Commons Attribution 3.0.

Cara Jitu Lawan Korupsi ala Anak Muda

K ORUPSI SIBIANG KELADI
(Agnes, 18 tahun, Klaten)

Aku sebagai manusia pastinya pengen hidup dengan aman dan sejahtera tanpa korupsi yang mengganggu kehidupan.

Transparency International Indonesia merupakan bagian dari koalisi global perlawanan korupsi yang mempromosikan transparansi dan akuntabilitas kepada lembaga-lembaga negara, partai politik, bisnis, dan masyarakat sipil. Bersama lebih dari 90 chapter lainnya, TI Indonesia berjuang membangun dunia yang bersih dari praktik dan dampak korupsi. Tujuan buku ini adalah untuk memberi pemahaman mendasar mengenai korupsi bagi anak muda. Selain itu, buku ini juga bertujuan untuk memperkenalkan anak muda kepada aspek-aspek dasar gerakan sosial, khususnya gerakan anti korupsi. Harapan pembuatan buku saku ini adalah untuk memperluas jaringan anak muda yang peduli dengan isu anti korupsi dan dapat membekalinya dengan pengetahuan praktis untuk bergerak secara lebih dinamis. Gunakan buku saku ini secara interaktif, gali lebih dalam informasi yang ada di dalamnya, masuk ke tautan yang dicantumkan dan jangan lupa bertukar informasi dengan temanteman kalian. Kalian akan menemukan banyak informasi yang kemungkinan besar tidak akan dibahas di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

AKU D AN K OR UPSI
Waktu SMP kan sempet jadi bendahara di ekskul. Nah, ga sengaja aku pinjem uang kas tanpa kasih tau ke tementemen yang lain, tapi aku balikin lagi. Nah itu termasuk korupsi ngga? (Nova, 17 tahun, Indramayu)

2. Aku dan Korupsi
Seorang anak muda bernama Adit berasal dari keluarga: yang bisa dibilang berkecukupan. Orangtuanya merupakan karyawan bank swasta dan Pegawai Negeri Sipil di salah satu instansi kepemerintahan. Waktu Adit masih SMP, sekitar dua tahun yang lalu, kehidupan Adit dan keluarga biasa-biasa aja. Tapi, setelah Adit masuk SMA, kehidupan keluarga Adit berubah drastis. Mereka ‘membuang’ mobil keluarga yang sudah berumur dan menggantinya dengan sebuah sedan baru. Bahkan, mereka baru saja memesan satu unit mobil baru lagi. Sekarang, masing-masing orangtua Adit memiliki mobil sendiri, ditambah mobil untuk kakak Adit yang sudah kuliah semester akhir. Adit pun dimasukan ke Sekolah Menengah Atas bergengsi, yang dikenal sebagai salah satu sekolah paling mahal di kota tempat mereka tinggal. Juga, beberapa bagian rumah direnovasi menjadi lebih luas dan mewah. Perabotan rumah tangga baru, peralatan masak canggih, dan fasilitas-fasilitas nomor wahid lainnya secara tiba-tiba ada di rumah Adit. Herannya, ketika Adit bertanya apakah semua ‘pembaharuan’ itu berkat orangtuanya yang naik pangkat, orangtua Adit berkata “bukan” dan tidak menjelaskan apa-apa. Lalu, darimana uang untuk membeli semua yang tidak terbayangkan sebelumnya itu diperoleh? Ini semua benar-benar membuat Adit resah. Seluruh rangkaian peristiwa yang dialami Adit membuatnya berfikir, ditambah dengan berbagai berita yang ia temui sehari-hari, yang hampir selalu terkait dengan korupsi.

Di dalam media
Pemberitaan soal tindakan-tindakan Korupsi yang dilakukan ‘orang penting’ di negeri ini udah jadi makanan sehari-hari; di koran, timeline twitter, dan di televisi – hmm itu sih ngga usah ditanya lagi, sering banget! Makin lama makin gerah sih, tapi belum tau juga harus bersikap bagaimana.

Di dalam lingkup keluarga
Baik pelaku maupun korban tindakan Korupsi , jumlah dan latar belakangnya sama-sama beragam. Bahkan, kakak atau adik sendiri yang sudah sangat-sangat dipercaya dan biasanya luput dari dugaan perilaku ‘nekat’ aja bisa Korupsi, lho. Meski cuma ‘mark up’ harga barang sebesar seribu rupiah, ‘kan tetap aja namanya Korupsi.

Di dalam lingkup pendidikan
Bukti betapa luas dan tidak-pandang-bulu-nya jeratan Korupsi, bisa banget dilihat dari merajalelanya kasus korupsi di dunia pendidikan – Sekolah Menengah Atas. Aduh, bukan buat menjodohkan murid dengan anak guru sih, melainkan agar dapat ‘jaminan’ nilai bagus di rapor. Oh, jangan-jangan ini yang disebut ‘gratifikasi’?

Di dalam masyarakat
Kamu pikir jalan protokol alias jalan raya itu area bebas kesengsaraan akibat Korupsi? Salah besar! Tau nggak, banyak sekali jalan umum yang cepat banget rusak setelah dibetulkan - akibat rendahnya kualitas bahan-bahan bangunan yang digunakan karena harganya murah. Ini terjadi gara-gara ada proses suap-menyuap antara pihak Kontraktor kepada Pemerintah setempat. Motifnya sih bisa dibilang sederhana namun berdampak luar biasa: Kontraktor mau menang tender dan menggarap proyek bernilai besar namun dengan biaya modal minim. Supaya bisa dapatkan proyek tanpa hambatan apa pun, kontraktor menyuap pejabat pemerintah setempat. Alhasil, jalanan sering rusak; menyebabkan macet bahkan sampai kecelakaan. Yang kayak gini jadi berita yang muncul di media!

Mungkin, kita semua pernah merasakan apa yang dialami Adit. Mungkin, dalam taraf tertentu, kita semua bahkan pernah berada dalam situasi yang hampir mirip. Emang deh, korupsi bikin kita tidak tenang. Malah bisa bikin kita sebagai anak muda jadi marah banget. Tapi, coba deh kita renungin sebentar. Jika Soekarno berani bilang “Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia!”, artinya ada ‘sesuatu’ yang spesial nih dari anak muda. Yup! Bukan anak muda namanya kalau gampang nyerah, meskipun butuh berkali-kali diruwat atau diterapi supaya sadar akan kemampuan yang dimiliki. Anak muda harus selalu disadarkan bahwa ia sangat dibutuhkan untuk membuat perubahan di lingkungan sekitar. Lihat yang sederhana sekitar kita, seperti orang kena tilang di jalan raya yang kemudian memberikan ‘salam tempel’ pada polisi, lalu sadar bahwa itu lah yang semakin melanggengkan praktek-praktek korupsi lainnya, ternyata BISA membuat Anak Muda yang tadinya apatis dan pesimis, jadi tercerahkan dan siap melakukan sesuatu untuk memberantas korupsi. Hayoo, kalian pada percaya ngga nih, Anak Muda itu harapan bangsa?

K ORUPSI:
SEBUAH FENOMENA SOSIAL
Waktu SMP ka n s bendaha ra di eks empet jadi ku sengaja aku pinje l. Nah, ga m uang tanpa ka ka sih tau ke teme s temen y nang lain, tapi aku balikin la gi. Nah itu term korupsi asuk ngga? (Nova, 17 tahun, In dramayu )

3. Korupsi: Sebuah Fenomena Sosial
Ternyata, korupsi memang dekat dengan keseharian kita ya. Melihat cerita di atas, kita jadi semakin sadar bahwa korupsi bukan cuma kasus yang muncul di berita dan bukan hanya urusannya polisi, KPK atau pengacara dan aparat hukum lainnya. Di jalan raya, di dalam sekolah atau bahkan di lingkungan rumah kita bisa menemukan kasus korupsi. Korupsi adalah fenomena sosial yang dihadapi anak muda dalam hampir semua sendi hidup keseharian, entah itu ketika sebagai pelajar, aktifis, warga negara, pekerja atau pun sebagai pemilih dan pengguna barang dan jasa alias konsumen. Setiap saat kita berhadapan dengan korupsi. Nah, terkadang kita meremehkan masalah korupsi dan menganggapnya sebagai sebuah kebiasaan. Eits, jangan salah..

Korupsi bukan sekedar....

Masalah pejabat negara Suap di pengadilan Penyelewengan anggaran negara Uang halal/ uang haram/ Uang ‘Damai’ dengan polisi Dan yang pasti, korupsi bukan terjadi begitu saja. Pasti ada sebab dan akibatnya. Korupsi juga bisa dijelaskan dengan sedikit lebih ilmiah loh, seperti yang didefinisikan Robert Klitgard ini :

Corruption = Monopoly + Discretion – Accountability
Dalam bahasa sederhana, korupsi terjadi karena adanya monopoli kekuasan dan diskresi (Diskresi: kebebasan mengambil keputusan sendiri) tanpa akuntabilitas atau tanggung jawab. Contohnya, seorang ketua OSIS yang memanfaatkan kekuasaannya untuk menentukan anggaran acara tanpa ada pertanggungjawaban terhadap anggaran yang ia susun. Untuk lebih jelasnya, lihat pemaparan di bawah.

3.1. Apa itu Korupsi?
Pada dasarnya, korupsi terjadi akibat penyalahgunaan wewenang, atau kepercayaan. Tetapi, sebelum kita mencari tahu definisi formal korupsi, ada baiknya kita bertanya sama anak muda di luar sana. Bagaimanakah mereka mengartikan korupsi? Ryan F. Febrianto, 20 tahun Mahasiswa FISIP Universitas Indonesia
Korupsi itu masalah kecil yang bakal berubah jadi monster kalau kita tetap berpikir bahwa “KORUPSI” itu cuma milik pemimpin-pemimpin kita yang ‘kebablasan’. Jadikan generasi muda sebagai katalis perubahan saat ini dan masa depan, berantas korupsi dari SEKARANG, mulai dari diri sendiri, dari hal kecil dan sederhana disekitar kita.”

Miqdad Darmawan, 16 tahun Siswa Madrasah Aliyah Negeri di Jakarta
Korupsi itu mencuri. Ya intinya ketika kamu curang, itu sama saja mencuri keadilan, dan ketika kamu korupsi, kamu sama saja mencuri hak orang lain.

Nova, 17 tahun Indramayu
Korupsi itu perilaku pejabat ataupun masyarakat yang menghalalkan/melegalkan segala hal khususnya atau yang sering terjadi sih perampasan, pengambilan, dan/atau pemotongan uang yang bukan hak pribadi

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful