75

BAB IV
METODA TAKABEYA
4.1 PENDAHULUAN
Salah satu metoda yang sering digunakan dalam perhitungan konstruksi statis
tak tentu, khususnya pada konstruksi portal yang cukup dikenal adalah perhitungan
konstruksi dengan metoda TAKABEYA. Dibandingkan dengan metoda yang lain,
seperti metoda Cross dan metoda Kani, untuk penggunaan metoda ini terutama pada
struktur portal bertingkat banyak merupakan perhitungan yang paling sederhana dan
lebih cepat serta lebih mudah untuk dipelajari dan dimengerti dalam waktu yang
relatif singkat.
Metoda perhitungan dengan cara Takabeya yang disajikan dalam bagian ini
adalah menyangkut materi perhitungan untuk portal dengan titik hubung yang tetap
dan portal dengan titik hubung yang bergerak ( pergoyangan). Mengenai hal tersebut,
teks ini hanya memberikan dasar-dasar pemahaman tentang metoda Takabeya yang
berhubungan dengan portal-portal yang sederhana dengan atau tanpa mengalami
suatu pergoyangan. Diharapkan dari dasar-dasar ini, kita sudah dapat menghitung
besarnya gaya-gaya dalam berupa momen-momen ujung (momen akhir) dari suatu
batang yang menyusun konstruksi portal yang bentuknya sederhana.
Persamaan - persamaan yang digunakan dalam metoda perhitungan ini hanya
merupakan persamaan dasar dari Takabeya sendiri, dimana persamaan-persamaan
tersebut hanya dapat digunakan khusus untuk portal yang sederhana dan hal-hal yang
berhubungan dengan pergoyangan dalam satu arah saja yaitu pergoyangan dalam
arah horizontal. Mengenai pergoyangan dalam dua arah ( harizontal dan vertikal)
persamaan-persamaan dasar yang digunakan dalam teks ini masih perlu diturunkan
lebih lanjut.
Untuk menganalisa struktur portal yang sederhana, bab ini memberikan
contoh-contoh perhitungan yang sudah disesuaikan dengan langkah-langkah
76
perhitungan yang sesuai dengan prosedur perhitungan dalam metoda Takabeya.
Perhitungan-perhitungan yang dimaksudkan di sini adalah hanya sampai pada
bagaimana menentukan momen-momen ujung ( momen akhir ) dari suatu konstruksi.
Mengenai reaksi perletakan tumpuan dan atau gaya-gaya lintang dan normal yang
terjadi dalam suatu penampang batang serta penggambaran diagram dari gaya-gaya
dalam tersebut, sudah dibahas dalam materi perkuliahan pada Mekanika Rekayasa I
dan Mekanika Rekayasa II semester sebelumnya.
PERSAMAAN DASAR METODA TAKABEYA
Dalam perhitungan konstruksi portal dengan metoda Takabeya, didasarkan
pada asumsi-asumsi Bahwa :
a. Deformasi akibat gaya aksial (Tarik dan Tekan) dan gaya geser dalam
diabaikan (= 0 ).
b. Hubungan antara balok-balok dan kolom pada satu titik kumpul adalah kaku
sempurna.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, maka pada titik kumpul akan terjadi
perputaran dan pergeseran sudut pada masing-masing batang yang bertemu yang
besarannya sebanding dengan momen-momen lentur dari masing-masing ujung
batang tersebut. Gambar 4.1 berikut ini, memperlihatkan dimana ujung batang (titik
b) pada batang ab bergeser sejauh '∆' relatif terhadap titik a. Besarnya momen-
momen akhir pada kedua ujung batang ( M ab dan M ba) dapat dinyatakan sebagai
fungsi dari perputaran dan pergeseran sudut.
77
Gambar 4.1
Kemudian keadaan pada gambar 4.1 tersebut, selanjutnya diuraikan menjadi dua
keadaan seperti terlihat pada gambar 4.2 di bawah ini :
Gambar 4.2
Sehingga menghasilkan suatu persamaan :
M ab = ∆ m ab +
M
ab
M ba = ∆ m ba +
M
ba
Dari prinsip persamaan Slope Deplection secara umum telah diketahui bahwa :
θa = ωa + ψab
θb = ωb + ψab dan
θa =
EI 3
L . ab m ∆
-
EI 6
L . ba m ∆
+ ψab x 2
θb =
EI 6
L . ab m ∆
-
EI 3
L . ba m ∆
+ ψab x 1
2θa + 2θb
EI 2
L . ab m ∆
+ 3ψab
Sehingga :
∆ m ab = 2 EI/L ( 2θa + θb - 3ψab )
∆ m ba = 2 EI/L ( 2θb + θa - 3ψab )
Jika I/L = K untuk batang ab, maka :
Persamaan 4.1
+
78
∆ m ab = 2 E Kab ( 2θa + θb - 3ψab )
∆ m ba = 2 E Kab ( 2θb + θa - 3ψab )
Masukkan Persamaan 4. 2 ke dalam persamaan 4. 1 , diperoleh :
M ab = 2 E Kab ( 2θa + θb - 3ψab ) + ab M
M ba = 2 E Kab ( 2θb + θa - 3ψab ) + ba M
Oleh Takabeya, dari persamaan slope deplection ini disederhanakan menjadi :
M ab = kab (2ma + mb + ab m ) + ab M
M ba = kba (2mb + ma + ba m ) + ba M
Dimana :
ma = 2EKθa ab m = -6 EK ψab
mb = 2EKθb kab = Kab/K
Keterangan :
M ab, M ba = Momen akhir batang ab dan batang ba (ton m).
M
ab,
M
ba = Momen Primer batang ab dan batang ba (ton m).
∆ mab, ∆ mba = Koreksi momen akibat adanya pergeseran pada titik b sejauh ∆
θa, θb = Putaran sudut pada titik a dan titik b
kab = Angka kekakuan batang ab = K ab / K (m
3
)
kab = Faktor kekauan batang ab = I/L (m
3
)
K = Konstanta
ma, mb = Momen parsiil masing-masing titik a dan b akibat putaran sudut
θa dan θb disebut momen rotasi di titik a dan titik b (ton m).
m
ab = Momen parsiil akibat pergeseran titik b relatif terhadap titik a
sejauh ∆ disebut momen dispalcement dari batang ab (ton m ).
Perjanjian Tanda
Momen ditinjau terhadap ujung batang dinyatakan positif ( + ) apabila
berputar ke kanan dan sebaliknya negatif (- ) apabila berputar ke kiri
Arah momen selalu dimisalkan berputar ke kanan pada tiap-tiap ujung batang
dari masing-masing free body. Apabila ternyata pada keadaan yang sebenarnya
Pers. 4.3
Persamaan 4.4
Persamaan 4.2
79
berlawanan (berputar ke kiri), diberikan tanda negatif ( - ) sesuai dengan perjanjian
tanda.
4. 2 PORTAL DENGAN TITIK HUBUNG YANG TETAP
Yang dimaksud dengan portal dengan titik hubung yang tetap adalah suatu
portal dimana pada tiap-tiap titik kumpulnya ( titik hubungnya ) hanya terjadi
perputaran sudut, tanpa mengalami pergeseran titik kumpul. Sebagai contoh :
• Portal dengan struktur dan pembebanan yang simetris
• Portal dimana baik pada struktur balok maupun kolom-kolomnya disokong
oleh suatu perletakan.
Oleh karena portal dengan titik hubung yang tetap tidak terjadi pergeseran
pada titik-titik hubungnya, maka besarnya nilai momen parsiil akibat pergeseran titik
(
.. m
) adalah = 0. Sehingga rumus dasar dari Takabeya (persamaan 4.4 ) akan
menjadi :
M ab = kab (2ma + mb) +
M
ab
M ba = kba (2mb + ma) +
M
ba
Sebagai contoh, penerapan persamaan untuk Takabeya, perhatikan gambar berikut ini
:
Berdasarkan rumus dasar dari Takabeya, maka untuk struktur di atas, diperoleh
persamaan :
M
12
= k
12
(2m
l
+ m
2
) +
M

12
Persamaan. 2.5
Persamaan 4.6
80
M
1A
= k
1A
(2m
1
+ m
A
) +
M1A
M
1C
= k
1C
(2m
l
+ m
C
) +
M1C
M
1E
= k
1E
(2m
1
+ m
E
) +
M1E
Keseimbangan di titik 1 = 0 == ∑ M
1
= 0, sehingga :
M
12
+ M
1A
+ M
1C
+ M
1E
= 0 Persamaan 4. 7
Dari persamaan 4.6 dan persamaan 4.7 menghasilkan :
2m
1
1
1
1
1
]
1

¸

E 1
C 1
A 1
12
k
k
k
k
+
1
1
1
1
]
1

¸

E E 1
C C 1
A A 1
2 12
m . k
m . k
m . k
m . k
+
1
1
1
1
1
]
1

¸

E 1
C 1
A 1
12
M
M
M
M

= 0 

Pers. 4.8
dimana :
2
1
1
1
1
]
1

¸

E 1
C 1
A 1
12
k
k
k
k

= ρ
1
dan
1
1
1
1
1
]
1

¸

E 1
C 1
A 1
12
M
M
M
M

= τ
1
dan
1 E 1 E 1
1 C 1 C 1
1 A 1 A 1
1 12 12
/ k
/ k
/ k
/ k
ρ · γ
ρ · γ
ρ · γ
ρ · γ
Persamaan 4. 8 di atas dpt ditulis sebagai pers. momen rotasi pada titik kumpul 1
persamaan 4.6 dan persamaan 4.7 menghasilkan :
ρ
1
.m
1
= - τ
1
+
1
1
1
1
]
1

¸





E E 1
C C 1
A A 1
2 12
m . k
m . k
m . k
m . k
m
1
= - (τ
1

1
) +
1
1
1
1
]
1

¸

γ −
γ −
γ −
γ −
E E 1
C C 1
A A 1
2 12
m .
m .
m .
m .
 Persamaan 4.9
Untuk persamaan momen rotasi pada titik kumpul yang lainnya dapat dicari/
ditentukan seperti pada persamaan 4.9 di atas, dimana indeks/angka pertama diganti
dengan titik kumpul yang akan dicari dan angka kedua diganti dengan titik kumpul
yang berada di seberangnya. Perlu diingat, bahwa pada suatu perletakan jepit tidak
terjadi putaran sudut sehingga besarnya m
A
= m
B
= m
C
= m
D
= m
E
= m
F
= 0
81
Untuk langkah awal pada suatu perhitungan momen rotasi titik kumpul, maka
titik kumpul yang lain yang berseberangan dengan titik kumpul yang dihitung,
dianggap belum terjadi rotasi. Sehingga :
m
1
= m
1
(0)
= -(τ
1
/ ρ
1
)
m
2
= m
2
(0)
= -(τ
2
/ ρ
2
)
m
1
(1)
= -(τ
1

1
) +
1
1
1
1
1
]
1

¸

γ −
γ −
γ −
γ −
) 0 (
E E 1
) 0 (
C C 1
) 0 (
A A 1
) 0 (
2 12
m .
m .
m .
m .
m
1
(1)
= m
1
(0)

+
1
1
1
1
1
]
1

¸

γ −
γ −
γ −
γ −
) 0 (
E E 1
) 0 (
C C 1
) 0 (
A A 1
) 0 (
2 12
m .
m .
m .
m .
dan seterusnya dilakukan pada titik 2 sampai hasil yang konvergen (hasil-hasil yang
sama secara berurutan pada masing-masing titik kumpul) yang berarti pada masing-
masing titik kumpul sudah terjadi putaran sudut.
Setelah pemberesan momen-momen parsiil mencapai konvergen, maka untuk
mendapatkan momen akhir (design moment), hasil momen parsiil selanjutnya
disubtitusikan dalam persamaan 2. 6 sebagai persamaan dasar. Sebagai contoh :
pemberesan momen parsiil dicapai pada langkah ke-7 maka pada titik kumpul 1
adalah :
M
12
= M
12
(7)
= k
12
(2m
1
(7)
+ m
2
(7)
) +
12 M
M
1A
= M
1A
(7)
= k
1A
(2m
1
(7)
+ m
a
(7)
) +
A 1 M
M
1C
= M
1C
(7)
= k
1C
(2m
1
(7)
+ m
2
(7)
) +
C 1 M
M
1D
= M
1E
(7)
= k
1E
(2m
1
(7)
+ m
a
(7)
) +
E 1 M
Keseimbangan di titik kumpul 1 = 0 == ∑ M
1
= 0
M
12
+ M
1A
+ M
1C
+ M
1E
= 0
Apabila ∑ M
1 ≠
0, maka momen-momen perlu dikoreksi.
82
Koreksi momen akhir :
M
12
= M
12
± [( k
12
/ ( k
12
+ k
1A
+ k
1C
+ k
1E
)) x ∆M]
Berikut ini diberikan beberapa contoh/kasus pada suatu konstruksi portal dengan
titik kumpul yang tetap.
Contoh 1 : Hitung momen akhir dan reaksi perletakan dengan metode Takabeya
Penyelesaian:
A.Menghitung Momen-momen Parsiil.
1. Hitung Angka Kekakuan Batang (k)
K
1A
= I/H = 1/4 = 0,2500 m
3
K
12
= I/L = 1/6 = 0,1667 m
3
K
2B
= I/H = 1/4 = 0,2500 m
3
==Konstanta K diambil =1 m
3
Jadi :
k
1A
= K
1A
/K = 0,2500, k
12
= K
12
/K = 0,1667, k
2B
= K
2B
/K = 0,2500
2. Hitung Nilai p tiap titik hubung :
ρ
1
= 2 (k
1A
+ k
12
) = 2 ( 0,2500 + 0,1667) = 0,8333
ρ
2
= 2 ( k
12
+ k
2B
) = 2 ( 0,1667 + 0,2500 ) = 0,8333
3. Hitung Nilai γ (Koefisien Rotasi) batang :
83
γ
1A
= k
1A
/ ρ
1
= 0,2500 / 0,8333 = 0,3
γ
12
= k
12
/ ρ
1
= 0,1667 / 0,8333 = 0,2
γ
21
= k
21
/ ρ
2
= 0,1667 / 0,8333 = 0,2
γ
2B
= k
2B
/ ρ2 = 0,2500 / 0,8333 = 0,3
4. Hitung Momen Primer (
M
) :
12 M
= - (1/12.q .L
2
+ /8 . P.L) = -(1/12.3.6
2
+1/8.4.6) = -12 tm
21 M
= 12 tm
5. Hitung Jumlah momen primer tiap titik hubung (τ) :
τ
1
=
12 M +
A 1 M = -12 + 0 = -12 tm
τ
2
=
21 M +
B 2 M = 12 + 0 = 12 tm
6. Hitung Momen rotasi Awal (m
0
)
m
1
0
= - (τ
1
/ ρ
1
) = - (- 12 / 0,8333 ) = 14,40 tm
m
2
0
= - (τ
2
/ ρ
2
) = - (12 / 0,8333) = -14,40 tm
B. Pemberesan Momen-momen Parsiil
Pemberesan momen parsiil dimulai dari titik 1 ke titik 2 dan kembali ke titik
1 kemudian ke titik 2 dan seterusnya, secara beraturan.
Langkah 1
m
1
1
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
0
) = 14,40 + (-0,2 . 14,400) = 11,520
m
2
1
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
2
1
) = -14,40 + (-0,2 . 11,520) = -16,704
Langkah 2
m
1
2
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
1
) = 14,40 + (-0,2 . -16,704) = 17,741
m
2
2
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
1
2
) = -14,40 +(- 0,2 . 17,741 ) = -17,948
Langkah 3
m
1
3
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
2
) = 14,40 + (-0,2 . -17,948) = 17,990
m
2
3
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
1
3
) = -14,40 + (-0,2 . 17,990) = -17,998
Langkah 4
m
1
4
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
3
) = 14,40 + (-0,2 . - 17,998)= 18,000
m
2
4
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
1
4
) = -14,40 + (-0,2 . - 17,998)= -18,000
Langkah 5
m
1
5
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
4
) = 14,40 + (-0,2 . -18,000) = 18,000
m
2
5
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
1
5
) = -14,40 + (- 0,2 . 18,000 )= - 18,000
C. Perhitungan Momen Akhir (design moment).
84
M
12
= M
12
(5)
= k
12
(2m
1
(5)
+ m
2
(5)
) +
12 M

= 0,16667 (2. 18,000 + -18,000) + (-12) = -9,000 tm
M
1A
= M
1A
(5)
= k
1A
(2m
1
(5)
+ m
A
(5)
) +
A 1 M
= 0,2500 (2. 18,000 + 0 ) + 0 = 9,000 tm
M
21
= M
21
(5)
= k
21
(2m
2
(5)
+ m
1
(5)
) +
21 M
= 0,16667 (2.-18,000 + 18,000) + (12) = 9,000 tm
M
2B
= M
2B
(5)
= k
2B
(2m
2
(5)
+ m
B
(5)
) +
B 2 M
= 0,2500 (2.-18,000 + 0 ) + 0 = -9,000 tm
M
A1
= M
A1
(5)
= k
A1
(2m
A
(5)
+ m
1
(5)
) +
1 A M
= 0,2500 ( 2.0 + 18,000) + ( 0 ) = 4,5000 tm
M
B2
= M
B2
(5)
= k
B2
(2m
B
(5)
+ m
2
(5)
) +
2 B M
= 0,2500 ( 2.0 + -18,000) + (0) = -4,5000 tm
Catatan : Oleh karena pada suatu perletakan jepit tidak terjadi perputaran
sudut, maka besarnya nilai m
A
= m
B
= 0.
Diagram Fase Body Momen Struktur.

Reaksi Perletakan :
85
∑M
1
= 0 ( tinjau batang 1 A )
H
A
= H
A1
= (M
A1
+ M
1A
) / 4 = ( 4,500 + 9,00 ) / 4 = 3,375 ton ( arah ==)
∑M
2
= 0 ( tinjau batang 2 B )
H
B
=H
B2
= (M
B2
+ M
2
B) / 4 = ( 4,500 + 9,00 ) / 4 = 3,375 ton ( arah == )
∑M
2
= 0 ( tinjau batang 1 2 )
V
12
. 6 - P . 3 – ½ q L
2
+ M
21
– M
12
= 0
V
12
= (P . 3 + ½ q L
2
- M
21
– M
12
) / 6
V
12
= (4 . 3 + ½ . 3 . 6
2
- 9,000 + 9,000 ) / 6 = 11,000 ton
V
A
= V
A1
= V
12
= 11,000 ton
∑M
1
= 0 ( tinjau batang 1 2 )
-V
21
. 6 + P . 3 + ½ q L
2
+ M
21
– M
12
= 0
V
21
= ( P . 3 +
l
/
2
q L
2
+ M
21
– M
12
) / 6
V
21
= ( 4 . 3 + ½ . 3 . 6
2
+ 9,000 - 9,000 ) / 6 = 11,000 ton
V
B
= V
B2
= V
21
= 11,000 ton
Catatan : Arah momen pada diagram freebody di atas sudah merupakan arah
yang sebenarnya, sehingga nilai momen yang digunakan dalam perhitungan sudah
merupakan nilai positif (+).
Contoh 2 :
Suatu portal dengan struktur dan
pembebanan yang simetris, seperti
gambar disamping, dengan masing-
masing nilai / angka-angka kekakuan
batang (k) langsung diberikan
( setelah faktor kekakuan Kab dibagi
dengan konstanta K )
k
1A
= k
16
= k
3C
= k
34
= 1
k
12
= k
23
= k
65
= k
54
= 0,75
k
2B
= k
25
= 1,5
Hitunglah momen-momen ujung
batang dengan metoda takabeya.
Penyelesaian :
86
A. Menghitung momen-momen parsiil.
1. Angka kekakuan batang
(diketahui)
2. Nilai ρ tiap titik hubung
ρ
1
= 2 ( 1+0,75+ 1) = 5,5
ρ
2
= 2 (1,5 + 0,75 + 1,5 + 0,75) = 9
ρ
3
= 2 (l + 0,75 + l) = 5,5
ρ
4
= 2 (l+0,75) = 3,5
ρ
5
= 2 (1,5 + 0,75 + 0,75 ) = 6
ρ
6
= 2 (l+0,75) = 3,5
3. Nilai γ (koefisien rotasi)
batang pada titik hubung
γ
1A
=1/5,5 = 0,1818 γ
2B
= 1,5/9 = 0,1667
γ
3C
= 1/5,5 = 0,1818
γ
12
= 0,75/5,5 = 0,1364 γ
21
= 0,75 / 9 = 0,0833
γ
32
= 0,75/5,5 = 0,1364 γ
23
= 0,75 / 9 = 0,0833
γ
16
= 1/5,5 = 0,1818 γ
61
= 1/3,5 = 0,2857
γ
43
= 1/3,5 = 0,2857 γ
34
= 1/5,5 = 0,1818
γ
52
= 1,5 /6 = 0,2500 γ
25
= 1,5 / 9 = 0,1667
γ
45
= 0,75/3,5 = 0,2143 γ
54
= 0,75 /6 = 0,1250
γ
65
= 0,75/3,5 = 0,2143 γ
56
= 0,75 /6 = 0,1250

4. Momen primer batang (
... M
)
12 M
= -l/12 .6 .5
2
= -12,5 tm
23 M
= -l/12 . 6.5
2
= -12,5 tm
21 M
= 12,5 tm
32 M
= 12,5 tm
65 M
= -1/12 . 3.5
2
= - 6,25 tm
54 M
= -1/12 . 3.5
2
= - 6,25 tm
56 M
= 6,25 tm
45 M
= 6,25 tm
5. Jumlah momen primer
tiap titik hubung (τ)
τ
1
= 0 + (-12,5) + 0 = -12,5 τ
4
= 0 +6,25 = 6,25
τ
2
= 0 + 12,5 + (-12,5) + 0 = 0 τ
5
= 0 +(-6,25) +6,25 = 0
τ
3
= 0 + 12,5 + 0 = 12,5
6. Momen rotasi awal (m
m
1
0
= -(-12,5/5,5) = 2,2727 m
4
0
= -(6,25/3,5) = -1,7857
m
2
0
= - (0 / 9 ) = 0 m
5
0
= - ( 0 / 5,5) = 0
m
3
0
= -(12,5/5,5) = -2,2727 m
6
0
= -(-6,25/3,5) =1,7857
87
B. Pemberesan Momen Parsiil.
Pemberesan momen parsiil dimulai secara berurutan mulai dari titik (1) ke
titik (2), (3), (4), (5), (6) dan kembali ke titik (1), (2), (3), (4), (5) dan
seterusnya.
m
1
1
= + m
1
0
= 2,2727
= + (-γ
12
) (m
2
0
) (-0,1364) ( 0 ) = 0
= + (-γ
16
) (m
6
0
) (-0,1818) ( 1,7857 ) = -0,3246
m
1
1
= 1,9481
m
2
1
= + m
2
0
= 0
= + (-γ
21
) (m
1
1
) (-0,0833) ( 1,9481 ) = -0,1623
= + (-γ
23
) (m
3
0
) (-0,0833) ( -2,2727 ) = 0,1893
= + (-γ
25
) (m
5
0
) (-0,1667) ( 0 ) = 0
m
2
1
= 0,027
m
3
1
= + m
3
0
= -2,2727
= + (-γ
32
) (m
2
1
) (-0,1364) ( 0,027 ) = -0,0037
= + (-γ
34
) (m
4
0
) (-0,1818) ( -1,7857 ) = 0,3246
m
3
1
= -1,9517
m
4
1
= + m
4
0
= -1,7857
= + (-γ
43
) (m
3
1
) (-0,2857) ( -1,9517 ) = 0,5576
= + (-γ
45
) (m
5
0
) (-0,2143) ( 0 ) = 0
m
4
1
= -1,2281
m
5
1
= + m
5
0
= 0
= + (-γ
54
) (m
4
1
) (-0,1250) ( -1,2281 ) = 0,1535
= + (-γ
52
) (m
2
1
) (-0,2500) ( 0,0270 ) = -0,0068
= + (-γ
56
) (m
6
0
) (-0,1250) ( 1,7857 ) = -0,2232
m
5
1
= -0,0765
m
6
1
= + m
6
0
= 1,7857
= + (-γ
65
) (m
5
1
) (-0,2143) ( -0,0765 ) = 0,0164
= + (-γ
61
) (m
1
1
) (-0,2857) ( 1,9481 ) = -0,5566
m
6
1
= 1,2455
Untuk selanjutnya berikut ini diperlihatkan perhitungan secara skematis:
88
m
6
0
= 1.7857 m
5
0
= 0.0000 m
4
0
=-1.7857
m
6
1
= 1.2455 m
5
1
= -0.0765 m
4
1
= -1.2281
m
6
2
= 1.2041 m
5
2
= -0.0090 m
4
2
= -1.1836
m
6
3
= 1.1994 m
5
3
= -0.0013 m
4
3
= -1.1959
m
6
4
= 1.1988 m
5
4
= -0.0003 m
4
4
= -1.1982
m
6
5
= 1.1987 m
5
5
= -0.0001 m
4
5
= -1.1986
m
6
6
= 1.1987 m
5
6
= 0.0000 m
4
6
= -1.1986
m
6
7
= 1.1986 m
5
7
= 0.0000 m
4
7
= -1.1986
m
6
8
= 1.1986 m
5
8
= 0.0000 m
4
8
= -1.1986
m
1
0
= 2.2727 m
2
0
= 0.0000 m
3
0
= -2.2727
m
1
1
= 1.9481 m
2
1
= 0.0270 m
3
1
= -1.9517
m
1
2
= 2.0426 m
2
2
= 0.0052 m
3
2
= -2.0501
m
1
3
= 2.0531 m
2
3
= 0.0013 m
3
3
= -2.0577
m
1
4
= 2.0545 m
2
4
= 0.0005 m
3
4
= -2.0554
m
1
5
= 2.0547 m
2
5
= 0.0001 m
3
5
= -2.0549
m
1
6
= 2.0548 m
2
6
= 0.0000 m
3
6
= -2.0548
m
1
7
= 2.0548 m
2
7
= 0.0000 m
3
7
= -2.0548
m
1
8
= 2.0548 m
2
8
= 0.0000 m
3
8
= -2.0548
C. Perhitungan Momen Akhir (design moment).
Dari hasil perhitungan pemberesan momen parsiil secara skematis pada
halaman depan, dicapai hasil konvergensi pada langkah ke - 8 , dengan nilai-nilai
sebagai berikut:
-0.2143 6
-
0
.
2
8
5
7
-0.1250 5
-
0
.
2
5
0
0
-0.1250 4
-
0
.
2
8
5
7
-0.2143
1
2
3 -0.1364
-
0
.
1
8
1
8
-0.0833
-
0
.
1
6
6
7
-0.0833
-
0
.
1
8
1
8
-0.1364
-
0
.
1
8
1
8
-
0
.
1
6
6
7
-
0
.
1
8
1
8
A B C
89
m
1
8
= 2,0548 m
2
8
= 0,0000 m
3
8
= -2,0548
m
4
8
= -1,1986 m
5
8
= 0,0000 m
6
8
= 1,1986
Untuk perhitungan besarnya momen-momen akhir dari struktur, selanjutnya
dilakukan sebagai berikut:
Titik. 1
M
1A
= k
1A
(2m
1
(8)
+ m
A
(8)
) +
A 1 M
= 1 (2 . 2,0548 + 0 ) + 0 = 4,1096 tm
M
12
= k
12
(2m
1
(8)
+ m
2
(8)
) +
12 M
= 0,75 (2 . 2,0548 + 0 ) + (-12,50) = -9,4178 tm
M
16
= k
16
(2m
1
(8)
+ m
6
(8)
) +
16 M
= 1 (2 . 2,0548 + 1,1986 ) + 0 = 5,3082 tm
∆M = 0 tm
Titik. 2
M
2B
= k
2B
(2m
2
(8)
+ m
B
(8)
) +
B 2 M
= 1,5 (2 .0 + 0 ) + 0 = 0 tm
M
21
= k
21
(2m
2
(8)
+ m
1
(8)
) +
21
M = 0,75 (2 . 0 + 2,0548) + 12,50 = 14,0411 tm
M
23
= k
23
(2m
2
(8)
+ m
3
(8)
) +
23
M = 0,75 (2 . 0 + 2,0548) + (-12,50) =-14,0411 tm
M
25
= k
25
(2m
2
(8)
+ m
5
(8)
) +
25 M
= 1,5 (2 .0 + 0 ) + 0 = 0 tm
∆M = 0 tm
Titik. 3
M
3C
= k
3C
(2m
3
(8)
+ m
C
(8)
) +
C 3 M
= 1 (2 .(-2,0548) + 0)) + 0 = -4,1096 tm
M
32
= k
32
(2m
3
(8)
+ m
2
(8)
) +
32 M
= 0,75 (2 .(-2,0548) + 0) + 12,50 = 9,4178 tm
M
34
= k
34
(2m
3
(8)
+ m4
(8)
) +
34 M
= 1 (2 .(-2,0548) + (-1,1986)) + 0 =-5,3082 tm
∆M = 0 tm
Titik. 4
M
43
= k
43
(2m
4
(8)
+ m
3
(8)
) +
43 M
= 1 (2 .(-1,1986) + (-2,0548)) + 0 = -4,4520 tm
M
45
= k
45
(2m
4
(8)
+ m
5
(8)
) +
45 M
= 0,75 (2 .(-1,1986) + 0) + 6,25 = 4,4520 tm
∆M = 0 tm
Titik. 5
M
52
= k
52
(2m
5
(8)
+ m
2
(8)
) +
52 M
= 1,5 (2 .0 + 0 ) + 0 = 0 tm
M
54
= k
54
(2m
5
(8)
+ m
4
(8)
) +
54 M
= 0,75 (2 .0 + (-1,1986)) + (-6,250) = -7,1490 tm
M
56
= k
56
(2m
5
(8)
+ m
6
(8)
) +
56 M
= 0,75 (2 .0 + 1,1986) + 6,250 = 7,1490 tm
∆M = 0 tm
Titik. 6
M
61
= k
61
(2m
6
(8)
+ m
1
(8)
) +
61 M
= 1 (2 . 1,1986 + 2,0548) + 0 = 4,4520 tm
M
65
= k
65
(2m
6
(8)
+ m
5
(8)
) +
65 M
= 0,75 (2 . 1,1986 + 0) + (-6,25) = -4,4520 tm
∆M = 0 tm
Titik. A
M
A1
= k
A1
(2m
A
(8)
+ m
1
(8)
) +
1 A M
= 1 (2 . 0 + 2,0548 ) + 0 = 2,0548 tm
Titik. B
M
B2
= k
B2
(2m
B
(8)
+ m
2
(8)
) +
2 B M
= 1,5 (2 . 0 + 0 ) + 0 = 0 tm
90
Titik. C
M
C3
= k
C3
(2m
C
(8)
+ m
3
(8)
) +
3 C M
= 1 (2 . 0 + (-2,0548)) + 0 = -2,0548 tm
Gambar diagram freebody moment
Catatan : Nilai Momen disesuaikan dengan arahnya
Analisa sumbu simetri dari suatu struktur dan pembebanan yang simetris.
Suatu struktur dengan pembebanan yang simetris dapat dianalisa sebagian
dari struktur tersebut berdasarkan sumbu simetrinya. Untuk analisa seperti ini,
tergantung apakah sumbu simetri dari struktur tersebut tepat berada pada tumpuan /
kolom tengah (bentangan genap) atau sumbu simetri berada pada bentangan tengah
(bentangan ganjil).
91
Untuk struktur dengan bentang genap, persamaan-persamaan yang ada pada
halaman depan dapat digunakan sedangkan untuk struktur dengan bentangan ganjil,
persamaan yang ada tersebut, haruslah dikoreksi terutama pada hal-hal yang
berhubungan dengan bentangan tengah tersebut.
Berikut ini diperlihatkan satu contoh struktur dengan bentangan ganjil, angka-
angka kekakuan batang langsung pada masing-masing batang pada gambar di bawah
ini. Untuk dapat memahami analisa seperti ini, coba perhatikan langkah-langkah
penyelesaian yang akan diuraikan sebagai berikut :
Contoh. 3 :
A. Menghitung Momen Parsiil.
1. Angka Kekakuan (k) = diketahui (lihat gambar)
2. Hitung Nilai ρ tiap titik hubung.
ρ
1
= 2 (k
1A
+ k
12
) = 2 (1 + 1,5) = 5
ρ
2
= 2(k
21
+k
2B
+k
23
) = 2(1,5 +1+1,5) = 8  p’
2
= ρ
2
– k
23
= 6,5
3. Hitung Nilai γ (Koefisien rotasi) batang.
γ
1A
= k
1A

1
= 1/5 = 0,200
γ
12
= k
l2

1
= 1,5/5 = 0,300
92
γ’
21
= k
21
/ρ’
2
= 1,5/6,5 = 0,231
γ’
2B
= k
2B
/ρ’
2
= 1/6,5 = 0,154
γ’
23
= k
23
/ρ’
2
= 1,5/6,5 = 0,231
4. Hitung Momen Primer (
M
)
12 M
= -1/12 . q . L
2
= -1/12 . 3 . 4
2
= -4 tm 
21 M
= 4 tm
23 M = -1/8 P. L = -1/8 . 4 . 3 = -1,5 tm 
321 M =1,5 tm
5. Hitung Jumlah momen primer tiap titik hubung (τ )
τ
1
=
12 M +
A 1 M = -4 + 0 = -4 tm
τ
2
=
21 M +
B 2 M +
23 M = 4 + 0+ (-1,5) = 2,5 tm
6. Hitung Momen rotasi Awal ( m
0
)
m
1
0
= -(τ
1
/ ρ
1
) = - (-4 / 5) = 0,8000 tm
m
2
0
= -(τ
2
/ ρ’
2
) = - (2,5 / 6,50) = -0,3846 tm
B. Pemberesan Momen-momen Parsiil
Pemberesan momen parsiil dimulai dari titik 1 ke titik 2 dan kembali ke titik
1 kemudian ke titik 2 dan seterusnya, secara berurutan.
Langkah 1
m
1
1
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
0
) = 0,800 + (-0,3 .(-0,3846)) = 0,91538
m
2
1
= m
2
0
+ (-γ
21
. m
1
1
) =-0,3846 + (-0,231 .0,91538) = -0,59605
Langkah 2
m
1
2
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
1
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,59605)) = 0,97882
m
2
2
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
2
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,97882) = -0,61071
Langkah 3
m
1
3
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
2
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,61071)) = 0,98321
m
2
3
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
3
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,98321) = -0,61172
Langkah 4
m
1
4
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
3
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,61071)) = 0,98321
m
2
4
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
4
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,98351) = -0,61179
Langkah 5
m
1
5
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
4
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,61179)) = 0,98354
m
2
5
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
5
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,98354) = -0,61180
Langkah 6
93
m
1
6
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
5
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,61180)) = 0,98354
m
2
6
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
6
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,98354) = -0,61180
Langkah 7
m
1
7
= m
1
0
+ (-γ
12
. m
2
6
) = 0,800 + (-0,3 .(- 0,61180)) = 0,98354
m
2
7
= m
2
0
+ (-γ’
21
. m
1
7
) =-0,3846 + (-0,231 . 0,98354) = -0,61180
C. Perhitungan Momen Akhir (design moment)
Titik. 1
M
1A
= k
1A
(2m
1
(7)
+ m
A
(7)
+
A 1 M
= 1 (2 . 0,98354 + 0) + 0 = 1,96708tm
M
12
= k
12
(2m
1
(7)
+ m
2
(7)
+
12 M
=1,5(2 .0,98354+(-0,61180)+(-4) = -1,96708 tm
∆M = 0 tm
Titik. 2
M
21
= k
21
(2m
2
(7)
+ m
1
(7)
+
21 M
= 1,5 (2 .(0,6118)+ 098354) + 4 = 3,63991 tm
M
2B
= k
2B
(2m
2
(7)
+ m
B
(7)
+
B 2 M
= 1 (2 . (-0,6118) + 0) + 0 = -1,22360 tm
M
23
= k
23
(m
2
(7)
+
23 M
= 1,5 (-0,6118) + (-1,5) = -2,41770 tm
∆M = -0,00139 tm
Pada titik 2 perlu koreksi momen sebagai berikut:
M
21
= 3,63991 – (1,5 / 4) . (-0,00139) = 3,64043
M
2B
=-1,22360 – (1 / 4) . (-0,00139) = -1,22325 ∆M = 0 tm
M
23
=-2,41770 – (1,5 / 4) . (-0,00139) = -2,41718
M
A1
= k
A1
(2m
A
(7)
+ m
1
(7)
+
1 A M
= 1 (2 . 0 + 0,98354) + 0 = 0,98354tm
M
B2
= k
B2
(2m
B
(7)
+ m
2
(7)
+
2 B M
= 1 (2 . 0 + (-0,61180)) + 0 = -0,61180 tm
Catatan:
Harga-harga momen akhir ( design moment ) pada bagian kanan sumbu simetri
hasilnya sama simetris dengan sebelah kiri sumbu simetri ( sama besar tetapi
mempunyai arah yang berlawanan).
Perhatikan diagram free body pada halaman berikut ini:
94
Gambar diagram freebody moment
Catatan : Nilai Momen disesuaikan dengan arahnya
95
4.3 PORTAL DENGAN TITIK HUBUNG YANG BERGERAK
Yang dimaksud dengan portal dengan titik hubung yang bergerak adalah
portal dimana pada masing-masing titik hubungnya terjadi perputaran sudut dan
pergeseran (pergoyangan). Umumnya suatu konstruksi portal bertingkat mempunyai
pergoyangan dalam arah horizontal saja. Beban-beban horizontal yang bekerja pada
konstruksi, dianggap bekerja pada regel-regel (pertemuan balok dengan kolom tepi)
yang ada pada konstruksi tersebut. Untuk menganalisa konstruksi portal dengan titik
hubung yang bergerak, persamaan-persamaan 4.1 sampai dengan persamaan 4.4 pada
halaman depan tetap digunakan. Disamping persamaan-persamaan tersebut,
persamaan-persamaan yang berhubungan dengan pengaruh pergoyangan berikut ini
juga akan sangat membantu dalam penyelesaian dari struktur portal bergoyang
tersebut.
Momen Displacement (
.. m
).
Besarnya nilai
.. m
dipengaruhi oleh jumlah tingkat yang ada pada struktur
portal. Coba perhatikan portal (gambar 4.4), dengan freebody tingkat atas dan bawah
pada gambar 4.4a dan 4.4b berikut ini :
Gambar 4.4
96
Dari freebody pada gbr 4.4a dan 4.4b, diperoleh persamaan sebagai berikut :
Freebody 4-5-6  ∑H=0  W
1
= H
4
+ H
5
+ H
6
----- Pers. 4.11
Freebody 1-6 ∑M
6
= 0 
¹
;
¹
¹
'
¹
16
61
M
M
+ h
1
. H
6
= 0 ----- Pers. 4.12
Freebody 2-5 ∑M
5
= 0 
¹
;
¹
¹
'
¹
25
52
M
M
+ h
1
. H
5
= 0 ----- Pers. 4.13
Freebody 3-4 ∑M
4
= 0 
¹
;
¹
¹
'
¹
34
43
M
M
+ h
1
. H
4
= 0 ----- Pers. 4.14
Dari persamaan 4.11 s/d 4.14, diperoleh :

¹
;
¹
¹
'
¹
16
61
M
M
+
¹
;
¹
¹
'
¹
25
52
M
M
+
¹
;
¹
¹
'
¹
34
43
M
M
+ h
1
. (W
1
) = 0 ----- Pers. 4.15
Bila dimasukkan harga-harga pada persamaan 4.4, maka :
M
61
= k
16
(2m
6
+ m
1
+
61 m
)
M
16
= k
16
(2m
1
+ m
6
+
16 m
)
¹
;
¹
¹
'
¹
16
61
M
M
= 3 k
16
{ m
1
+ m
6
} + 2 k
16.
I m
-------- Persamaan 4.16a
¹
;
¹
¹
'
¹
25
52
M
M
= 3 k
25
{ m
2
+ m
5
} + 2 k
25.
I m
-------- Persamaan 4.16b
¹
;
¹
¹
'
¹
34
43
M
M
= 3 k
34
{ m
3
+ m
4
} + 2 k
34.
I m
-------- Persamaan 4.16c
Catatan :
I m

= m
16
= m
25
= m
34
Dari persamaan 2.16a, 2.16b, 2.16c, maka persamaan 2.15 dapat dituliskan menjadi:
2
I m

¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹
34
25
16
k
k
k
= -h
1
(W
1
) +
¹
¹
¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
¹
¹
'
¹
+ −
+ −
+ −
4 3
{ )
34
3 (
5 2
{ )
25
3 (
6 1
{ )
16
3 (
m m k
m m k
m m k
---- Pers. 2.17
97
Jika :
I
16
T
k 3
= t
16
2
¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹
34
25
16
k
k
k
= T
I
dan
I
25
T
k 3
= t
25
------- Pers. 4.18
I
34
T
k 3
= t
34
Maka Persamaan 4.17 dapat dituliskan menjadi:
I m

= -
I
1 1
T
} W { h

} m m { ) t (
} m m { ) t (
} m m { ) t (
4 3 34
5 2 25
6 1 16
+ − +
+ − +
+ − +
------- Persamaan 4.19
Persamaan 4. 19 disebut persamaan momen displacement pada tingkat atas.
Langkah perhitungan untuk momen displacement dilakukan pertama-tama dengan
anggapan bahwa pada titik-titik kumpul belum terjadi perputaran sudut (m
4
= m
5
=
m
6
= 0) sehingga persamaan tersebut ( persamaan 4.19 ) menjadi :
) 0 (
I
m

= -
I
1 1
T
} W { h
-------- Persamaan 4.20
Dengan cara yang sama ( lihat gambar 2.4c ), maka persamaan momen displacement
untuk tingkat bawah akan diperoleh :
2
I I m

¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹
C 3
B 2
A 1
k
k
k
= -h
2
(W
1
+W
2
)+
¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹
+ −
+ −
+ −
C 3 C 3
B 2 B 2
A 1 A 1
m m { ) k 3 (
m m { ) k 3 (
m m { ) k 3 (
----- Pers. 4.21
Jika :
II
A 1
T
k 3
= t
1A
98
2
¹
¹
¹
;
¹
¹
¹
¹
'
¹
C 3
B 2
A 1
k
k
k
= T
II
dan
II
B 2
T
k 3
= t
2B
-------- Pers. 4.22
II
C 3
T
k 3
= t
3C
Maka Persamaan 4.17 dapat dituliskan menjadi:
II
m

= -
II
2 1 2
T
} W W { h +

} m m { ) t (
} m m { ) t (
} m m { ) t (
C 3 C 3
B 2 B 2
A 1 A 1
+ − +
+ − +
+ − +
------ Persamaan 4.23
Persamaan 4. 23 tersebut di atas disebut persamaan momen displacement pada
tingkat bawah. Langkah perhitungan untuk momen displacement ini dilakukan
pertama-tama dengan anggapan bahwa pada titik-titik kumpul belum terjadi
perputaran sudut (m
1
= m
2
= m
3
= 0) dan pada titik A, B, C dengan m
A
, m
B
dan m
C
sama dengan 0 ( nol ) sehingga persamaan tersebut ( persamaan 4.23 ) menjadi:
) 0 (
II m

= -
II
2 1 2
T
} W W { h +
-------- Persamaan 4.24
Berikut ini diperlihatkan contoh penerapan persamaan-persamaan dari takabeya serta
analisa / penyelesaian contoh soal yang ada.
Contoh. 4 :
Suatu portal dengan struktur
dan pembebanan seperti
gambar di samping, dengan
masing-masing nilai / angka-
angka kekakuan batang (k)
langsung diberikan (setelah
faktor kekakuan Kab dibagi
dengan konstanta K )
k
1A
= k
16
= k
30
= k
34
= 1
k
12
= k
23
= k
65
= k
54
= 0,75
k
2B
= k
25
= 1,5
Hitunglah momen-momen ujung batang dengan metoda takabeya.
Penyelesaian:
99
A. Menghitung momen-momen parsiil.
1. Angka kekakuan batang (diketahui pada gambar struktur)
2. Nilai ρ, γ, M primer, τ dan momen rotasi awal (m
0
)
 perhitungan dapat anda lihat pada contoh. 2 sebelumnya :
ρ
1
= 5,5 ρ
3
= 5,5 ρ
5
= 6
ρ
2
= 9 ρ
4
= 3,5 ρ
6
= 3,5
γ
1A
= 0,1818 γ
2B
= 0,1667 γ
23
= 0,0833 γ
3C
= 0,1818
γ
12
= 0,1364 γ
21
= 0,0833 γ
25
= 0,1667 γ
32
= 0,1364
γ
16
= 0,1818 γ
34
= 0,1818
12 M
= -12,5 tm
23 M
= -12,5 tm
65 M
= -6,25 tm
54 M
= -6,25 tm
21 M
= 12,5 tm
32 M
= 12,5 tm
56 M
= 6,25 tm
45 M
= 6,25 tm
τ
1
= -12,5 τ
3
= 12,5 τ
5
= 0
τ
2
= 0 τ
4
= 6,25 τ
6
= -6,25
m
1
0
= 2,2727 m
3
0
= -2,2727 m
5
0
= 0
m
2
0
= 0 m
4
0
= -1,7857 m
6
0
= 1,7857
B. Momen Displacement.
Tingkat atas  T
I
= 2 (k
16
+ k
25
+ k
34
) = 2 (1+1,5 + 1) = 7
t
16
= 3 k
16
/ T
I
= 3.1/7 = 0,4286
t
25
= 3 k
25
/ T
I
= 3.1,5/7 = 0,6429
t
34
= 3 k
34
/ T
I
= 3.1/7 = 0,4286
0
II m
= -(W
1
. h
1
) / T
I
= -(1,2 . 4) / 7 = -0,6857
Tingkat atas  T
I
= 2 (k
16
+ k
25
+ k
34
) = 2 (1+1,5 + 1) = 7
t
1A
= 3 k
1A
/ T
II
= 3.1/7 = 0,4286
t
2B
= 3 k
2B
/ T
II
= 3.1,5/7 = 0,6429
t
3C
= 3 k
3C
/ T
II
= 3.1/7 = 0,4286
0
II m
= -{h
2
(W
1
+ W
2
)} / T
II
= -{4 (1,2 + 2)} / 7 = -1,8286
100
C. Pemberesan momen parsiil, Momen displacement
Perbesaran momen parsiil langkah 1 dimulai dari titik (1) ke titik (2), (3), (4),
(5), (6)dan dilanjutkan dengan pemberesan momen displacement langkah 1.
m1
1
= + m1
0
= 2,27270
= + (-γ1A) (
0
II m ) (-0,1818) (-1,8286) = 0,33244
= + (-γ12) (
0
2
m ) (-0,1364) (0) = 0
= + (-γ16) (
0
6
m +
0
I m ) (-0,1818) {1,7857 +(-0,6857)} = -0,19998
m1
1
= 2,40516
m2
1
= + m2
0
= 0
= + (-γ21) (
1
1
m ) (-0,0833) (2,40516) = -0,20035
= + (-γ2B) (
0
II m ) (-0,1667) (-1,8286) = 0,30482
= + (-γ23) (
0
3 m (-0,0833) (-2,2727) = 0,18932
= + (-γ25) (
0
5
m +
0
I m ) (-0,1667) {0 +(-0,6857)} = -0,11431
m2
1
= 0,40810
m3
1
= + m3
0
= 2,27270
= + (-γ32) (
1
2
m ) (-0,1364) (0,40810) = -0,05566
= + (-γ3C) (
0
II m ) (-0,1818) (-1,8286) = 0,33244
= + (-γ34) (
0
4
m +
0
I m ) (-0,1818) {(-1,7857) +(-0,6857)} = 0,44930
m3
1
= -1,54662
m4
1
= + m4
0
= -1,78570
= + (-γ43) (
1
3
m +
0
I m ) (-0,2857) {(-1,54662) +(-0,6857)} = 0,63777
= + (-γ45) (
0
5
m ) (-0,2143) (0) = 0
m4
1
= -1,14792
m5
1
= + m5
0
= 0
= + (-γ54) (
1
4
m ) (-0,1250) (-1,14792) = -0,14349
= + (-γ52) (
1
2
m +
0
I m ) (-0,2500) {(0,40810) + (-0,6857)} = 0,06940
= + (-γ56) (
0
6
m ) (-0,1250) (1,7857) = -0,22321
m5
1
= -0,01032
m6
1
= + m6
0
= 1,78570
= + (-γ65) (
1
5
m ) (-0,2143) (-0,01032) = 0,00221
= + (-γ61) (
1
1
m +
0
I m ) (-0,2857) {(2,40516) + (-0,6857)} = -0,49125
m6
1
= 1,29666
Untuk pemberesan momen displacement langkah 1, sebaiknya digunakan
nilai-nilai dari hasil pemberesan momen parsiil langkah 1. Seperti yang dilakukan
sebagai berikut :
Tingkat atas : Langkah. 1
101
1
I m
= +
0
I m
= -0,68570
+(-t
16
) (
1
1
m +
1
6
m ) = (-0,4286)(2,40516 +1,29666) = -1,58660
+(-t
25
) (
1
2
m +
1
5
m ) = (-0,6429)(0,40810 - 0,01032) = -0,25573
+(-t
34
) (
1
3
m +
1
4
m ) = (-0,4286) -1,54662 - 1,14792) = 1,15488
= -1,37315
Tingkat bawah : Langkah 1
1
II m
= +
0
II m
= -0,82860
+ (-t
1A
) (
1
1
m ) = (-0,4286) (2,40516) = -1,03085
+ (-t
2B
) (
1
2
m ) = (-0,6429) (0,40810) = -0,26237
+ (-t
3C
) (
1
3
m ) = (-0,4286) (-1,54662) = 0,66288
= -2,45894
Setelah pemberesan momen displacement pada langkah ke-l selesai, maka
dilanjutkan kembali dengan rotasi momen parsiil pada langkah ke-2. Seperti pada
langkah-1 yang dimulai dari titik 1 ke titik 2, 3, 4, 5 dan titik 6 kemudian pemberesan
momen displacement kembali dilakukan untuk langkah ke-2 . Demikian seterusnya
sampai dicapai hasil yang konvergen, seperti yang diperlihatkan pada skema
perhitungan pada halaman berikut ini.
Catatan :
Sebenarnya, pemberesan rotasi momen parsiil dan rotasi momen displacemen
tingkat, tidak perlu dilakukan sampai hasil yang betul-betul konvergen, akan tetapi
apabila sudah mendekati tingkat konvergensi, maka rotasi momen sudah dapat
dihentikan. Adapun mengenai tidak tercapainya keseimbangan momen pada suatu
titik kumpul, kita akan lakukan koreksi momen dan mendistribusikannya ke batang-
batang bersangkutan.
102
Perhitungan secara skematis dilakukan sesuai dengan rumusan yang telah dijelaskan/
diuraikan sebelumnya, seperti berikut ini:
0
I m = -0.68570 m6
0
= 1.78570 m5
0
= 0.00000 m4
0
=-1.78570
1
I m = -1.37315 m6
1
= 1.29666 m5
1
=-0.01032 m4
1
=-1.14792
2
I m = -1.84463 m6
2
= 1.37711 m5
2
= 0.16704 m4
2
= -0.97924
3
I m = -2.09335 m6
3
= 1.46663 m5
3
= 0.24751 m4
3
= -0.90842
4
I m = -2.21999 m6
4
= 1.51782 m5
4
= 0.28398 m4
4
= -0.86901
5
I m = -2.28394 m6
5
= 1.54446 m5
5
= 0.30162 m4
5
= -0.84774
6
I m = -2.31610 m6
6
= 1.55802 m5
6
= 0.31036 m4
6
= -0.83674
7
I m = -2.33225 m6
7
= 1.56488 m5
7
= 0.31472 m4
7
= -0.83115
8
I m = -2.34034 m6
8
= 1.56832 m5
8
= 0.31689 m4
8
= -0.82834
9
I m = -2.34439 m6
9
= 1.57005 m5
9
= 0.31799 m4
9
= -0.82692
10
I m = -2.34642 m6
10
= 1.57092 m5
10
= 0.31853 m4
10
= -0.82621
11
I m = -2.34744 m6
11
= 1.57136 m5
11
= 0.31880 m4
11
= -0.82586
12
I m = -2.34795 m6
12
= 1.57157 m5
12
= 0.31894 m4
12
= -0.82568
13
I m = -2.34821 m6
13
= 1.57168 m5
13
= 0.31901 m4
13
= -0.82559
14
I m = -2.34833 m6
14
= 1.57174 m5
14
= 0.31904 m4
14
= -0.82555
15
I m = -2.34840 m6
15
= 1.57176 m5
15
= 0.31906 m4
15
= -0.82553
16
I m = -2.34843 m6
16
= 1.57178 m5
16
= 0.31907 m4
16
= -0.82551
17
I m = -2.34845 m6
17
= 1.57179 m5
17
= 0.31907 m4
17
= -0.82551
18
I m = -2.34845 m6
18
= 1.57179 m5
18
= 0.31908 m4
18
= -0.82551
19
I m = -2.34846 m6
19
= 1.57179 m5
19
= 0.31908 m4
19
= -0.82550
20
I m = -2.34846 m6
20
= 1.57179 m5
20
= 0.31908 m4
20
= -0.82550
0
II m = -1.82860 m1
0
= 2.27270 m2
0
= 0.00000 m3
0
= -2.27270
1
II m = -2.45894 m1
1
= 2.40516 m2
1
= 0.40810 m3
1
= -1.54662
2
II m = -2.70961 m1
2
= 2.67797 m2
2
= 0.54629 m3
2
= -1.44185
3
II m = -2.83788 m1
3
= 2.77579 m2
3
= 0.62023 m3
3
= -1.35131
4
II m = -2.90224 m1
4
= 2.81797 m2
4
= 0.65860 m3
4
= -1.30089
5
II m = -2.93432 m1
5
= 2.83815 m2
5
= 0.67848 m3
5
= -1.27604
6
II m = -2.95033 m1
6
= 2.84805 m2
6
= 0.68865 m3
6
= -1.26383
7
II m = -2.95834 m1
7
= 2.85296 m2
7
= 0.69380 m3
7
= -1.25778
8
II m = -2.96235 m1
8
= 2.85540 m2
8
= 0.69640 m3
8
= -1.25476
9
II m = -2.96435 m1
9
= 2.85662 m2
9
= 0.67770 m3
9
= -1.25325
10
II m = -2.96536 m1
10
= 2.85723 m2
10
= 0.69835 m3
10
= -1.25249
11
II m = -2.96586 m1
11
= 2.85753 m2
11
= 0.69867 m3
11
= -1.25211
12
II m = -2.96611 m1
12
= 2.85769 m2
12
= 0.69884 m3
12
= -1.25192
13
II m = -2.96624 m1
13
= 2.85776 m2
13
= 0.69892 m3
13
= -1.25183
14
II m = -2.96630 m1
14
= 2.85780 m2
14
= 0.69896 m3
14
= -1.25178
15
II m = -2.99634 m1
15
= 2.85782 m2
15
= 0.69898 m3
15
= -1.25176
16
II m = -2.96635 m1
16
= 2.85783 m2
16
= 0.69899 m3
16
= -1.25174
17
II m = -2.96636 m1
17
= 2.85784 m2
17
= 0.69900 m3
17
= -1.25174
18
II m = -2.96636 m1
18
= 2.85784 m2
18
= 0.69900 m3
18
= -1.25173
A B C
-0.2143 6
-
0
.
2
8
5
7
5 4
1 2 3
-0.1250 -0.1250 -0.214
-
0
.
2
5
0
0
-
0
.
2
8
5
7
-
0
.
6
4
2
9
-
0
.
4
2
8
6
-
0
.
4
2
8
6
-
0
.
6
4
2
9
-
0
.
4
2
8
6
-
0
.
4
2
8
6
-0.1364 -0.136 -0.0833 -0.0833
-
0
.
1
6
6
7
-
0
.
1
6
6
7
-
0
.
1
8
1
8
-
0
.
1
8
1
8
-
0
.
1
8
1
8
-
0
.
1
8
1
8
103
19
II m = -2.96637 m1
19
= 2.85784 m2
19
= 0.69900 m3
19
= -1.25173
20
II m = -2.96637 m1
20
= 2.85784 m2
20
= 0.69900 m3
20
= -1.25173
104
D. Perhitungan Momen Akhir (design moment).
Dari hasil perhitungan pemberesan momen parsiil dan momen displacement
secara skematis pada halaman depan, dicapai hasil konvergensi pada langkah ke - 20,
dengan nilai-nilai sebagai berikut:
m
1
20
= 2,85784 m
2
20
= 0,69900 m
3
20
= -1,25173
1
I m
= -2,34846
m
4
20
= -0,82550 m
5
20
= 0,31908 m
6
20
= 1,57179
1
II m
= -2,96637
Untuk perhitungan besarnya momen-momen akhir dari struktur, selanjutnya
dilakukan sebagai berikut: ( Lihat Persamaan 2. 4 pada halaman depan)
Titik. 1
M
1A
= k
1A
(2m
1
(20)
+
) 20 (
II m
) +
A 1 M

= 1 {(2 . 2,85784 + (-2,96637)} + 0 = 2,74931 tm
M
12
= k
12
(2m
1
(20)
+ m
2
(20)
) +
12 M

= 0,75 (2 . 2,85784 +0,699) + (12,50) = -7,68899 tm
M
16
= k
16
(2m
1
(20)
+ m
6
(20)
) +
) 20 (
I m
+
16 M

= 1 {(2 .+ 2,85784 + 1,57179+(-2,348646)}0 = 4,93901 tm
∆M = 0,00067 tm
Titik. 2
M
21
= k
21
(2m
2
(20)
+
) 20 (
1 m
) +
21 M

= 0,75 {2 . 0,699+2,85784}+ 12,50 = 15,69188 tm
M
2B
= k
2B
(2m
2
(20)
+
) 20 (
II m
) +
B 2 M

= 1,5 {2 . 0,699+(-2,96637)} + 0 = -2,35256 tm
M
23
= k
23
(2m
2
(20)
+ m
3
(20)
) +
23 M

= 0,75 {2 . 0,699+(-1,25173)}+(-12,50) = -12,39030 tm
M
25
= k
25
(2m
2
(20)
+ m
5
(20)
) +
) 20 (
1 m
)+
25 M

= 1,5 {2 . 0,699+0,31908+(-2,34846)}+0 = -0,94707 tm
∆M = 0,00195 tm
Titik. 3
M
3C
= k
3C
(2m
3
(20)
+
) 20 (
II m
) +
C 3 M

= 1 {2(-1,25173)+(- 2,96637)} + 0 = -5,46983 tm
M
32
= k
32
(2m
3
(20)
+m
2
(20
) +
32 M

= 0,75 {2 (-1,25173)+0,699} + 12,50 = 11,14666 tm
M
34
= k
34
(2m
3
(20)
+ m4
(20)
+
) 20 (
I m
)+
34 M
= 1{2(-1,25173)+(-0,82550)+(-2,34846)}+0 = -5,67742 tm
∆M = -0,00059 tm
Titik. 4
M
43
= k
43
(2m
4
(20)
+ m
3
(20)
+
) 20 (
1 m
)+
43 M
= 1 {2(-0,8255)+(- 1,25173) +(-2,34846)}+0 = -5,25119 tm
M
45
= k
45
(2m
4
(20)
+m
5
(20
) +
45 M

= 0,75 {2 (-0,8255)+0,31908} + 6,25 = 5,25106 tm
∆M = -0,00013 tm
105
Titik. 5
M
52
= k
52
(2m
5
(20)
+ m
2
(20)
+
) 20 (
I m
)+
52 M
= 1,5{2.0,31908+0,699+(-2,34846)}+ 0 = -1,51695 tm
M
54
= k
54
(2m
5
(20)
+m
4
(20
) +
54 M

= 0,75 {2 .0,31908)+(-0,8255)}+(-6,25) = -6,39051 tm
M
56
= k
56
(2m
5
(20)
+m
6
(20
) +
56 M

= 0,75 {2 .0,31908)+1,57179) + 6,25 = 7,90746 tm
∆M = 0,00000 tm
Titik. 6
M
61
= k
61
(2m
6
(20)
+ m
1
(20)
+
) 20 (
I m
)+
61 M
= 1{2.1,57179+2,85784+(-2,34846)}+ 0 = 3,65296 tm
M
65
= k
65
(2m
6
(20)
+m
5
(20
) +
65 M

= 0,75 {2 .1,57179 +0,31908)+(-6,25) = -3,65300 tm
∆M = -0,00004 tm
Dengan ∆M yang relatif kecil sekali, maka pada dasarnya momen-momen ujung
tersebut di atas tidak perlu dikoreksi ======= ∆M ≈ 0
Titik. A
M
A1
= k
A1
(2m
A
(20)
+ m
1
(20)
+
) 20 (
II m
+
1 A M
= 1{2.0 + 2,85784+(-2,96637)}+0 = -0,10853 tm
Titik. B
M
B2
= k
B2
(2m
B
(20)
+ m
2
(20)
+
) 20 (
II m
+
2 B M
= 1,5 (2.0 + 0,699 +(-2,96637)}+0 = -3,40106 tm
Titik. C
M
C3
= k
C3
(2m
C
(20)
+m
3
(20)
+
) 20 (
II m
+
3 C M
=1{2.0 +(-1,25173)+(-2,96637)}+0 = -4,21810 tm
Gambar diagram freebody moment
106
Kontrol ∑H = 0
-1/h2
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸

+
1
]
1

¸

+
1
]
1

¸

3 C
C 3
2 B
B 2
1 A
A 1
M
M
M
M
M
M
- (W
1
+ W
2
) = 0
-1/4
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸



+
1
]
1

¸



+
1
]
1

¸

− 21810 , 4
46983 , 5
40106 , 3
35256 , 2
10853 , 0
74931 , 2
- (1,2 + 2) = 0
-0,25 { 2,64078 + (-5,75362 + (-9,68793)} - (3,2) = 0
0,00019 ≈ 0 Ok
Konstruksi dengan sokongan sendi.
Untuk konstruksi dengan sokongan sendi pada salah satu titik perletakannya, maka
batang-batang yang berkumpul atau bertemu pada salah satu titik kumpul yang
berhubungan dengan perletakan sendi tersebut, maka nilai p digunakan adalah ρ’
dimana :
ρ’ = ρ - 1/2 k batang yang ujungnya sendi.
Dan γ batang yang ujungnya sendi = ½ k batang yang ujungnya sendi / ρ’
Disamping itu, untuk batang yang ujungnya berupa sendi, dimana ada momen
primer, maka pada perletakan sendi tersebut dianggap sebagai perletakan jepit dan
momen-momen primernya disebut
' M
Sebagai contoh:
Sehingga 1 A M = -1/12 . q . L
2
A 1 M = 1/12 . q . L
2

A 1
' M =
A 1 M
- ½
1 A M
dan τ yang digunakan adalah τ’, dimana τ’
1
=
A 1
' M
+ X 1 M
+ Y 1 M
+ Z 1 M

107
sehingga Momen rotasi awal m
(0)
= -τ’
1
/ρ’
1
dan design moment adalah M
1A
= k
1A
(
3/2
m
1
(X)
) +
A 1
' M untuk balok 1A dan sendi di
titik A serta M
1A
= k
1A
(
3/2
m
1
(X)
+½ +
) X (
I m
) +
A 1
' M utk kolom1A sendi di titik A. jika
diperlukan koreksi momen akibat adanya ∆M, maka
M
1A
=M
1A
(X)
-(3/4 k
1A
/ ½ ρ’
1
)∆M dititik 1 ¾ : faktor sendi.
Sebagai contoh analisa, pada halaman berikut ini diberikan suatu contoh struktur
portal dengan sokongan sendi dengan penyelesaiannya.
Contoh. 5
diketahui :
W
1
= W
2
= 1,2 t
k
A1
= k
14
= k
B2
= k
23
= 1
k
12
= k
34
= 0,75
h
1
= h
2
= 4 m
L = 5 m

Penyelesaian:
A. Menghitung momen-momen parsiil.
1. Angka kekakuan batang
( diketahui )
2. Nilai ρ, γ, M primer, τ
dan momen rotasi awal (m
0
)
ρ
1
= 2(k
1A
+ k
12
+ k
14
) = 5,5
ρ
2
= 2(k
21
+k
2B
+k
23
) = 5,5 ρ’
2
= ρ
2
– ½ k
2B
= 5,5 – ½ .1 = 5
ρ
3
= 2(k
23
+ k
34
) = 3,5
ρ
4
= 2(k
43
+ k
41
) = 3,5
γ
1A
= k
1A

1
= 1/5,5 = 0,1818 γ’
2B
= ½ k
2B
/ρ’
2
= ½.1/5=0,1
γ
12
= k
12

1
= 0,75/5,5 = 0,1364 γ’
21
=k
21
/ρ’
2
= 0,75/5 = 0,15
γ
14
= k
14

1
= 1/5,5 = 0,1818 γ’
23
= k
23
/ρ’
2
= 1/5 = 0,2
108
γ
32
= k
32

3
= 1/3,5 = 0,2857 γ
43
=k
43

4
0,751/3,5=0,2143
γ
12
= k
12

1
= 0,75/5,5 = 0,1364 γ
41
= k
41

4
= 1/3,5 = 0,2857
12 M
= -1/12 q L
2
= -1/12 . 6 . 5
2
= -12,5 tm
21 M
= 12,5 tm
43 M
= -1/12 q L
2
= -1/12 . 3 . 5
2
= -6,25 tm
34 M
= 6,25 tm
τ
1
=
12 M +
A 1 M +
14 M = -12,5 tm τ
2
=
21 M +
B 2 M +
23 M = 12,5 tm
τ
3
=
32 M +
34 M = 6,25 tm τ
4
=
41 M +
43 M = -6,25 tm
m
1
0
= - (τ
1

1
) = -(-12,5 / 5,5) = 2,2727
m
2
0
= - (τ
2
/ρ’
2
) = -(12,5 / 5) = -2,5000
m
3
0
= - (τ
3

3
) = -(6,25 / 3,5) = -1,7857
m
4
0
= - (τ
4

4
) = -(-6,25 / 3,5) = 1,7857
B. Momen Displacement.
Tingkat atas  T
I
= 2 (k14 + k
23
) = 2 (1+1) = 4
t
14
= 3 k
14
/ T
I
= 3 . 1/4 = 0,75
0
I m
= -(W
1
.h
1
) / T
I

t
23
= 3 k
23
/ T
I
= 3 . 1/4 = 0,75 = -(1,2 . 4) / 4 = -1,2
Tingkat bawah T
II
= 2 (k
1A
+ k
2B
) = 2 (1 + 1) = 4
T’
II
= T
II
– 3/2 . k
2B
= 4 – 3/2 . 1 = 2,5
t'
1A
= 3 k
1A
/ T’
II
= 3.1 / 2,5 = 1,2
0
II m
= -{h
2
(W
1
+W
2
)} / T’
II
t'
2B
= 3/2 k
2B
/ T’
II
= 3/2 . 1 / 2,5 = 0,6 = -{4 (1,2 + 1,2)} / 2,5 = -3,84
C. Pemberesan momen parsiil Momen displacement
Pemberesan momen parsiil langkah 1 dimulai dari titik (1) ke titik (2), (3), (4)
dan dilanjutkan dengan pemberesan momen displacement langkah 1. Berikut
ini pemberesan momen parsiil langkah 1.
m
1
1
= + m
1
0
= 2,2727
= + (-γ
1A
) (m
II
0
) (-0,1818) (-3,84) = 0,6981
= + (-γ
12
) (m
2
0
) (-0,1364) (-2,5) = 0,3410
= + (-γ
14
) (m
4
0

+m
I
0
) (-0,1818) {1,7857 + (-1,2)} = -0,1065
m
1
1
= 3,2053
m
2
1
= + m
2
0
= -2,5000
= + (-γ’
21
) (m
1
1
) (-0,15) (3,2053) = -0,4808
= + (-γ’
2B
) (m
II
0
) (-0,10) (-3,84) = 0,3840
= + (-γ’
23
) (m
3
0

+m
I
0
) (-0,20) (-1,7857 + (-1,2)) = 0,5971
m
2
1
= -1,9997
m
3
1
= + m
3
0
= -1,7857
109
= + (-γ
32
) (m
2
1
+ m
I
0
) (-0,2857) (-1,9997 + (-1,2)) = 0,9142
= + (-γ
34
) (m
4
0
) (-0,2143) (1,7857) = -0,3827
m
3
1
= -1,2542
m
3
1
= + m
4
0
= 1,7857
= + (-γ
43
) (m
3
1
) (-0,2143) (-1,2542) = 0,2688
= + (-γ
41
) (m
1
1
) + (m
I
0
) (-0,2857) (3,2053 + (-1,2)) = -0,5729
m
4
1
= 1,4816
Setelah pemberesan momen parsiil langkah 1 selesai, selanjutnya pemberesan
momen displacement langkah 1 dilaksanakan. Sebaiknya digunakan nilai-nilai dari
hasil pemberesan momen parsiil pada langkah 1.
Untuk tingkat atas: Langkah. 1
1
I m
= +
0
I m
= -1,2
+ (-t
14
) (m
1
1
+ m
4
1
) (-0,75) (3,2053 + 1,4816) = -3,5151
+ (-t
23
) (m
2
1
+ m
3
1
) (-0,75) (-1,9997 + (-1,2542)) = 2,4404
m
I
1
= -2,2747
Untuk tingkat bawah: Langkah. 1
1
II m
= +
0
II m
= -3,84
+ (-t
1A
) (m
1
1
) (-1,2) (3,2053) = -3,8464
+ (-t
2B
) (m
2
1
) (-0,6) (-1,9997) = 1,1998
m
I
1
= -6,4866
Setelah pemberesan momen displacement pada langkah ke-1 selesai, maka
dilanjutkan kembali dengan rotasi momen parsiil pada langkah ke-2. Seperti pada
langkah-1 yang dimulai dari titik 1 ke titik 2, 3 dan 4 kemudian pemberesan momen
displacement kembali dilakukan untuk langkah ke-2 . Demikian seterusnya sampai
dicapai hasil yang konvergen, seperti yang diperlihatkan pada skema perhitungan
pada halaman berikut ini.
Catatan:
Sebenarnya, rotasi momen parsiil dan rotasi momen displacemen tingkat
tidak perlu dilakukan sampai hasil yang betul-betul konvergen, akan tetapi apabila
sudah mendekati tingkat konvergensi, maka rotasi momen sudah dapat dihentikan.
110
Adapun mengenai tidak tercapainya keseimbangan momen pada suatu titik kumpul,
kita akan lakukan koreksi momen dan mendistribusikannya ke batang-batang
bersangkutan sebanding dengan kekakuannya.
0
I
m = -1.2000 m4
0
= 1.7857 m3
0
= -1.7857
1
I
m = -2.2747 m4
1
= 1.4816 m3
1
= -1.2542
2
I
m = -3.2391 m4
2
= 1.5360 m3
2
= -0.9602
3
I
m = -3.8709 m4
3
= 1.6798 m3
3
= -0.7491
4
I
m = -4.2381 m4
4
= 1.7921 m3
4
= -0.6306
5
I
m = -4.4417 m4
5
= 1.8619 m3
5
= -0.5678
6
I
m = -4.5522 m4
6
= 1.9017 m3
6
= -0.5346
7
I
m = -4.6116 m4
7
= 1.9237 m3
7
= -0.5170
8
I
m = -4.6434 m4
8
= 1.9356 m3
8
= -0.5077
9
I
m = -4.6603 m4
9
= 1.9420 m3
9
= -0.5028
10
I
m = -4.6692 m4
10
= 1.9454 m3
10
= -0.5002
11
I
m = -4.6740 m4
11
= 1.9472 m3
11
= -0.4988
12
I
m = -4.6765 m4
12
= 1.9482 m3
12
= -0.4981
13
I
m = -4.6779 m4
13
= 1.9487 m3
13
= -0.4977
14
I
m = -4.6786 m4
14
= 1.9490 m3
14
= -0.4975
15
I
m = -4.6790 m4
15
= 1.9491 m3
15
= -0.4973
16
I
m = -4.6792 m4
16
= 1.9492 m3
16
= -0.4973
17
I
m = -4.6793 m4
17
= 1.9492 m3
17
= -0.4973
18
I
m = -4.6793 m4
18
= 1.9493 m3
18
= -0.4972
19
I
m = -4.6794 m4
19
= 1.9493 m3
19
= -0.4972
20
I
m = -4.6794 m4
20
= 1.9493 m3
20
= -0.4972
21
I
m = -4.6794 m4
21
= 1.9493 m3
21
= -0.4972
0
II
m = -3.8400 m1
0
= 2.2727 m2
0
= -2.5000
1
II
m = -6.4866 m1
1
= 3.2053 m2
1
= -1.9997
2
II
m = -7.4472 m1
2
= 3.8689 m2
2
= -1.7259
3
II
m = -7.9213 m1
3
= 4.1716 m2
3
= -1.5412
4
II
m = -8.1664 m1
4
= 4.3213 m2
4
= -1.4321
5
II
m = -8.2953 m1
5
= 4.3973 m2
5
= -1.3692
6
II
m = -8.3634 m1
6
= 4.4366 m2
6
= -1.3341
7
II
m = -8.3995 m1
7
= 4.4570 m2
7
= -1.3148
8
II
m = -8.4186 m1
8
= 4.4677 m2
8
= -1.3045
9
II
m = -8.4287 m1
9
= 4.4734 m2
9
= -1.2989
10
II
m = -8.4341 m1
10
= 4.4764 m2
10
= -1.2960
11
II
m = -8.4369 m1
11
= 4.4780 m2
11
= -1.2944
12
II
m = -8.4384 m1
12
= 4.4788 m2
12
= -1.2936
A B
-0.2143 4
-
0
.
2
8
5
7
3
1 2
-0.214
-
0
.
2
8
5
7
-
0
.
7
5
-
0
.
7
5
-
1
.
2
-
0
.
6
-0.1364 -0.15
-
0
.
2
-
0
.
1
-
0
.
1
8
1
8
-
0
.
1
8
1
8
111
13
II
m = -8.4392 m1
13
= 4.4793 m2
13
= -1.2931
14
II
m = -8.4397 m1
14
= 4.4795 m2
14
= -1.2929
15
II
m = -8.4399 m1
15
= 4.4796 m2
15
= -1.2928
16
II
m = -8.4400 m1
16
= 4.4797 m2
16
= -1.2927
17
II
m = -8.4401 m1
17
= 4.4797 m2
17
= -1.2927
18
II
m = -8.4401 m1
18
= 4.4797 m2
18
= -1.2926
19
II
m = -8.4401 m1
19
= 4.4798 m2
19
= -1.2926
20
II
m = -8.4401 m1
20
= 4.4798 m2
20
= -1.2926
21
II
m = -8.4401 m1
21
= 4.4798 m2
21
= -1.2926
112
D. Perhitungan Momen Akhir (design moment).
Dari hasil perhitungan pemberesan momen parsiil dan momen displacement
secara skematis pada halaman depan, dicapai hasil konvergensi pada langkah ke -
20 , dengan nilai-nilai sebagai berikut:
m
1
20
= 4,4798 m
2
20
= -1,2926 m
I
20
= -4,6794
m
3
20
= -0,4972 m
4
20
= 1,9493 m
II
20
= -8,4401
Untuk perhitungan besarnya momen momen akhir dari struktur, selanjutnya
dilakukan sebagai berikut: ( Lihat Persamaan 4. 4 pada halaman depan )
Titik. 1
M
1A
= k
1A
(2m
1
(20)
) +
) 20 (
II m
= 1{2.4,4798+(-8,4401)} = 0,5195 tm
M
12
= k
12
(2m
1
(20)
) +
) 20 (
2
m ) +
12 M
= 0,75 {2. 4,4798+(-l,2926)}+(-12,50) = -6,7498 tm
M
14
= k
14
(2m
1
(20)
) +
) 20 (
4
m ) +
) 20 (
I M
= 1{2. 4,4798+l,9493+(-4,6794)} = 6,2295 tm
M = -0,0008 tm
Titik. 2
M
2B
= k
2B
(3/2m
2
(20)
) + ½
) 20 (
II m
= 1 {3/2(-1,2926) + (1/2.-8,4401)}
= -6,1590 tm
M
21
= k
21
(2m
2
(20)
) +
) 20 (
1
m ) +
21 M
= 0,75 {2.(-1,2926) + 4,4798} + 12,50 = -6,7498 tm
M
23
= k
23
(2m
2
(20)
) +
) 20 (
3
m ) +
) 20 (
I M
= 1{2.(-1,2926) +(-0,4972)+(-4,6794)} = -7,7618 tm
∆M = 0,0002 tm
Titik. 3
M
32
= k
3
(2m
3
(20)
) + m
2
(20)
+
) 20 (
I m
= 1 (2.-0,4972 + -1,2926 + -4,6794 = -6,9664 tm
M
3 4
= k
3
(2m
2
(20)
) +
) 20 (
4
m ) +
34 M
= 0,75 {2.-0,4972 + 1,9493) + 6,25 = 6,9662 tm
∆M = -0,0002 tm
Titik. 4
M
41
= k
41
(2m
4
(20)
) + m
1
(20)
+
) 20 (
I m
= 1 (2.1,9493 + 4,4798 + -4,6794 = 3,6990 tm
M
43
= k
43
(2m
4
(20)
) +
) 20 (
3
m ) +
43 M
= 0,75 {2. 1,9493 + -0,4972) + -6,25 = -3,6990 tm
∆M = 0,0000 tm
Dengan AM yang relatif kecil sekali, maka pada dasarnya momen momen ujung
tersebut di atas tidak perlu dikoreksi =======∆M ≈ 0
Titik A
M
A1
= k
A1
(m
1
(20)
+
) 20 (
II m ) = 1{4,4798+(-8,4401)}= -3,9604 tm
113
M
B2
= 0 ( perletakan sendi)
Kontrol ∑ H = 0

-1/h2
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸

+
1
]
1

¸

2 B
B 2
1 A
A 1
M
M
M
M
- (-W
1
+ W
2
) = 0
-1/4
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸

+
1
]
1

¸

− 0
1590 , 6
9604 , 3
5195 , 0
- (1,2 + 1,2) = 0
-0,25{(-3,4409+(-6,1590}- (2,4) = 0 0,00019 ≈ 0 Ok
Gambar diagram freebody
4.4 RANGKUMAN
Dari pembahasan rumusan - rumusan dasar berikut contoh - contoh soal dan
penyelesaiannya, baik untuk konstruksi portal dengan titik hubung yang tetap
maupun konstruksi portal dengan titik hubung yang bergerak (pergoyangan), dapat
diambil suatu kesimpulan mengenai langkah-langkah perhitungan penyelesaian suatu
portal sebagai berikut:
114
4.4.1 Portal dengan titik hubung yang tetap
Langkah-langkah perhitungan / penyelesaian
A. Menentukan Momen Parsiil.
1. Menghitung angka
kekakuan batang (k).
2. Menghitung nilai p
masing - masing titik hubung.
3. Menghitung nilai
koefisien untuk rotasi momen parsiil (γ) masing - masing batang.
4. Menghitung momen-
momen primer (
M
) masing - masing batang.
5. Menghitung jumlah
momen primer (τ) pada masing - masing titik hubung.
6. Menghitung momen
rotasi awal (m
0
) pada masing - masing titik hubung.
B. Pemberesan Momen Parsiil.
Pemberesan momen parsiil dilakukan secara berurutan pada setiap langkah demi
langkah pemberesan dan dihentikan setelah mencapai hasil yang konvergen.
C. Menghitung Momen Akhir (Design Moment).
4. 4. 2 Portal dengan titik hubung yang bergerak (pergoyangan)
Langkah-langkah perhitungan / penyelesaian
A. Menentukan Momen parsiil.
1. Menghitung angka
kekakuan batang (k).
2. Menghitung nilai p
masing - masing titik hubung.
3. Menghitung nilai
koefisien untuk rotasi momen parsiil ( γ ) masing - masing batang.
115
4. Menghitung momen-
momen primer (
M
) masing - masing batang.
5. Menghitung jumlah
momen primer (τ) pada masing - masing titik hubung.
6. Menghitung momen
rotasi awal (m
0
) pada masing - masing titik hubung.
B. Menghitung Momen Displacement (
m
..).
1. Menghitung kekakuan tingkat (T...).
2. Menghitung koefisien rotasi tingkat (t...) pada masing - masing kolom.
3. Menghitung Momen Displacement awal tingkat (
m
...
0
).
C. Pemberesan Momen Parsiil dan Momen Displacement.
Pemberesan momen parsiil dilakukan secara berurutan pada setiap langkah demi
langkah pemberesan dan dihentikan setelah mencapai hasil yang konvergen.
Pemberesan momen displacement dilakukan setiap selesai satu langkah
pemberesan momen parsiil.
D. Menghitung Momen Akhir (Design Moment).
E. Kontrol gaya - gaya horizontal ======∑H = 0
2.5 SOAL-SOAL LATIHAN
Soal-soal berikut ini (lihat gambar), dapat anda kerjakan di rumah sebagai
latihan. Besarnya nilai dari ukuran yang ada, beban terpusat P dan W maupun beban
terbagi rata q dapat ditentukan sendiri.
116
DAFTAR PUSTAKA
Chu-Kia Wang, Ph.D, Mekanika Teknik “Statically Indeterminate Structure”
Terjemahan
_________________, Analisa Struktur Lanjutan, Jilid 1, Jakarta, Erlangga, 1992.
Heinz Frick, Ir, Mekanika Teknik 2 (Statika dan Kegunaannya), Jilid II, Yogyakarta,
Kanisius, 1979.
Soetomo. HM, Ir, Perhitungan Portal Bertingkat Dengan Cara Takabeya. Jilid I.
Jakarta, Soetomo HM, 1981
_______, Perhitungan Portal Bertingkat Dengan Cara Takabeya. Jilid II. Jakarta,
Soetomo HM, 1981
V. Sunggono. KH, Ir, Buku Teknik Sipil. Bandung, Nova, 1984.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful