Andreano Boris 12G/05

Generasi Pelopor
Waktu terus berjalan, yang tua akan berganti dan generasi kepemimpinan akan bergulir dan berganti. Jaman telah berubah, tokoh-tokoh pemimpin masa lampau pun sudah berganti mulai dari Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Syahrir, Adam Malik, BJ Habibie hingga SBY yang akan segera diganti kedudukannya di pemilu dua tahun lagi. Generasi pemuda sekarang inilah yang nantinya akan menggantikan generasi-generasi pemimpin sebelumnya dan menjadi pemimpin baru. Jaman yang terus berubah dan akibat dari globalisasi membuat seorang pemimpin harus menjadi seorang yang terbuka dan supel akan perkembangan, kemajuan yang pesat membuat seorang pemuda harus memimpin dengan baik dan juga benar kelak. Namun, bergantinya rezim pemerintahan dari masa ke masa seolah hanya menjadi sebuah rutinitas sakral dan ajang pertunjukan kekuasaan. Kesejahteraan masyarakat yang menjadi cita-cita utama perubahan hanya menjadi simbol jualan pasar menuju kekuasaan. Kegagalan generasi muda yang sebelum sekarang ini telah mencorengkan tinta hitam dalam sejarah bangsa ini. Bangsa mana yang akan sejahtera dan senang bila angka kemiskinan di Negara ini masih sebesar 13,3% dari sekitar 31 juta jiwa penduduk negara ini. Bahkan Indonesia merupakan negara terdepan soal korupsi. Melihat kondisi ini, seharusnya kita generasi muda tidak boleh diam. Reformasi dalam kepemimpinan bangsa ini harus segera dilakukan oleh generasi muda. Hal ini dilakukan dengan semangat menjadi seorang pioneer atau pelopor, yaitu menjadi generasi pemimpin baru yang membawa tren positif di era yang serba tak menentu bagi bangsa ini. Tentunya, generasi muda yang akan menjadi pemimpin nantinya harus memiliki sikap yang sudah sangat jarang dimiliki oleh pemimpin sekarang ini, yaitu integritas dalam bekerja. Ini penting sekali untuk mencegah terjadinya KKN dan mencegah pemimpin yang mudah terbawa dalam arus yang buruk. Selain itu pemimpin bukanlah seorang yang hanya bisa menyuruhnyuruh, namun justru pemimpin adalah orang yang bekerja bersama bawahannya, ini sesuai dengan semangat “To be man for and with others.” Ditengah arus globalisasi, perkembangan jaman ini yang sangat pesat dan keadaan bangsa Indonesia sekarang membuat budaya Indonesia mulai mengalami sedikit demi sedikit sinkretisme yang membuat semakin majemuknya bangsa ini. Maka dalam hal ini deperlukanlah seorang pemimpin yang mampu berinovasi dan tidak kaku dengan segala peraturan-peraturan yang telah dibuat, dengan kata lain seorang pioneer. Selain itu, dijaman sekarang ini, pemimpin yang juga diperlukan dalam menghadapi kemajemukan adalah pemimpin yang berani dan juga mampu mengangkat oraganisasi-organisasi yang majemuk tersebut, contohnya FPI(Front Pembela Islam); HKBP(Huria Kristen Batak Protestan); Gereja Katolik; FBR(Front Betawi Rempug); dll, untuk mau melakukan diskusi bersama berdekatan secara langsung. Bukan hanya pemimpin yang Cuma menunggu di belakang meja dan menunggu bawahan untuk mengerjakan

tugas yang diberikan kemudian menunggu hasil, namun justru pemimpin yang mau turun ke lapangan dan bekerja juga turun tangan di lapangan itu sendiri Memang menjadi pemimpin di kondisi sekarang ini tidak mudah, diperlukan sebuah inovasi sebagai seorang pemuda untk bisa memimpin orang-orang yang begitu beragam sekarang ini. Maka, menjadi sedikit “gila” dan berpikir out of the box merupakan salah satu cara bagi pemuda yang akan memimpin bangsa ini kedepannya. Bukankah setiap kemajuan dan inovasi baru berawal dari sebuah kegilaan dan juga pertentangan dengan suatu hal yang telah lama terpatenkan dalam pikiran kita dan menjadi suatu peraturan pasti. Contohnya adalah saat kejadian Galileo Galilei, beliau menyatakan teori heliosentris yang mengatakan bahwa Bumi mengelilingi matahari. Sebuah ide gila pada jaman itu yang bahkan membuat beliau rela di hukum mati. Namun, ternyata yang beliau katakan itu benar. Maka, pemimpin juga harus berani mengambil ide-ide gila dan berinsiatif yang berbeda dengan presepsi-presepsi orang-orang masa kini. Yang dimana ide-ide gila ini nantinya akan menjadi cikal-bakal pembaharuan kedepannya yang akan menorehkan tinta emas bagi bangsa ini. Pemuda bangsa ini sebenarnya juga haruslah memimpin dengan melihat bawahan itu sebagai teman, konteks teman disini adalah mampu bekerja sama seperti teman namun tetap ada sedikit jarak pemisah antara pemimpin dan bawahan. Dan melihat oposisi sebagai sebuah kritikan yang akan semakin membangun kepemimpinan mereka. Ini berkaitan dengan budaya mendengarkan yang tahun-tahun belakangan ini menjadi pertanyaan, bahkan juga sudah mulai mengakar ke pemuda-pemuda sekarang ini. Tanggung jawab, disipli dan juga kompetensi melengkapi itu semua. Untuk menjadi pemimpin, pemuda sekarang harus melewati jalan yang panjang untuk bisa memenuhi syarat-syarat tersebut. Bukan hal yang mudah, namun saya percaya bahwa generasi pemuda sekarang ini mampu berbuat banyak dalam rangka memimpin bangsa dan negara kita ini di masa-masa sulit seperti sekarang ini. Hingga tidak perlu lagi kita bertanya-tanya mengenai ketidaklayakan mengenai pemimpin kita. Generasi penerus pemimpin sekarang ini haruslah menjadi pelopor tren positif dengan integritas, tanggung jawab, disiplin, kompeten, dan juga dengan ide-ide “gila”-nya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful