PROPOSAL SKRIPSI STUDI KOMPARATIF PELAPORAN ASET TETAP SEBELUM DAN SETELAH IMPLEMENTASI IFRS DI PT PUSRI PALEMBANG 1.

Pendahuluan 1.1. Latar Belakang International Financial Reporting Standards (IFRS) menjadi trend topic

yang hangat bagi akuntan dan top manajemen pada perusahaan-perusahaan yang berada di Bursa Efek global dan juga para akademisi serta para Auditor yang akan melakukan pemeriksaan pada perusahaan-perusahaan yang sudah menerapkan IFRS tersebut. Transaksi antar negara dan prinsip-prinsip akuntansi yang berbeda antar negara mengakibatkan munculnya kebutuhan akan standar akuntansi yang berlaku secara internasional. Oleh karena itu muncul organisasi yang bernama International Accounting Standar Board (IASB) yang mengeluarkan International Financial Reporting Standard (IFRS). IFRS kemudian dijadikan sebagai pedoman penyajian laporan keuangan di berbagai negara. Masalah yang selanjutnya muncul adalah bagaimana penerapan IFRS di masing-masing negara mengingat perbedaan lingkungan ekonomi, politik, hukum, dan sosial.

1

Globalisasi membawa implikasi bahwa hal-hal yang dahulunya merupakan kewenagan dan tanggung jawab tiap negara, akan dipengaruhi oleh dunia internasional. Demikian pula dengan pelaporan keuangan dan standar akuntansi suatu negara (Arja Sadjiarto, 1999). Standar akuntansi memberikan gambaran yang jelas dan konsisten kepada pemegang saham, membuat laporan perusahaan lebih dapat dimengerti dan dapat diperbandingkan. Standar akuntansi yang dapat

diperbandingkan sangat diperlukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional, juga oleh para pengguna laporan keuangan yang ingin mengevaluasi kinerja perusahaan skala global dan untuk membantu pengambilan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan sekuritas. Operasi bisnis dan pasar modal yang berkembang mengarah ke internasional, tidak didukung oleh akuntansi dan pelaporannya, karena akuntansi dan pelaporannya masih berorientasi lokal. Adanya operasi bisnis dan pasar modal yang bersifat global tersebut tentu menuntut adanya standar yang bersifat global atau bersifat internasional, karena aturan-aturan akuntansi yang bersifat lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan bisnis dan keuangan internasional. Oleh karena itu, beberapa kelompok profesi berusaha membuat standar akuntansi internasional. Konsep yang ternyata lebih populer dibandingkan standarisasi untuk menjembatani berbagai macam standar akuntansi di berbagai negara adalah konsep harmonisasi. Mega Anjasmoro (2010) menyatakan bahwa harmonisasi standar akuntansi diartikan sebagai meminimumkan adanya perbedaan standar akuntansi di

2

berbagai negara. Harmonisasi juga dapat diartikan sebagai sekelompok negara yang menyepakati suatu standar akuntansi yang mirip, namun mengharuskan adanya pelaksanaan yang tidak mengikuti standar harus diungkapkan dan direkonsiliasi dengan standar yang disepakati bersama. Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah Multinational Corporation (MNC), kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta International Organization of Securities Commissions (IOSCO). Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) Ikatan Akuntan Indonesia mengesahkan tiga Exposure Draft yaitu PSAK No 13 (revisi 2004) Properti Investasi, PSAK No. 16 (revisi 2004) Aset Tetap dan PSAK No. 30 (revisi 2004) Sewa. Pengesahan ketiga PSAK tersebut dilakukan sebagai bagian dari proses konvergensi PSAK terhadap International Financial Reporting Standard (IFRS). Oleh karena itu materi PSAK baru tersebut diambil seluruhnya dari IFRS dengan beberapa penyesuaian karena ada beberapa nomor IFRS yang belum diadopsi di dalam PSAK. Dengan berlaku secara efektif ketiga PSAK tersebut maka PSAK lama yaitu PSAK No. 13 (1994) Akuntansi untuk Investasi, PSAK No. 16 (1994) Aktiva Tetap dan Aktiva lain-lain, PSAK No. 17 (1994) Akuntansi Penyusutan dan PSAK No. 30 (1990) Akuntansi Sewa Guna Usaha menjadi tidak berlaku untuk penyusunan laporan keuangan sebuah entitas.

3

Argumen di atas mengindikasikan bahwa usaha untuk memahami penerapan IFRS pada perusahaan merupakan hal yang sangat menarik mengingat fenomena rencana penerapan full adoption IFRS di Indonesia pada tahun 2012. Penelitian ini difokuskan pada adopsi IFRS di sebuah perusahaan, dalam hal ini adalah PT. Pusri, sebuah BUMN yang beroperasi di bidang produksi dan pemasaran pupuk di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara real bagaimana praktik pelaporan aset tetap sesuai IFRS pada perusahaan tersebut. Alasan pemilihan PT. Pusri sebagai setting penelitian adalah karena PT. Pusri merupakan sebuah perusahaan yang besar dan memiliki hubungan dengan perusahaan asing, sehingga dalam pelaporan keuangannya sudah tentu harus berbasis IFRS. Selain itu, PT. Pusri merupakan perusahaan industri nasional yang berstandar internasional dan sangat berpengaruh di Indonesia mengingat produk yang dihasilkan memuaskan dan memiliki kualitas yang cukup baik, sehingga keeksistensian PT. Pusri tidak diragukan lagi. Mengingat begitu pentingnya IFRS terhadap aset tetap, penulis tertarik untuk mengamati penerapan Internasional Financial Reporting Standard (IFRS) di PT. Pusri dalam bentuk skripsi dengan judul ’’Studi Komparatif Pelaporan Aset Tetap Sebelum dan Setelah Implementasi IFRS di PT. Pusri Palembang’’.

4

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, terlihat bahwa aset tetap mempunyai peranan yang penting bagi perusahaan. Penerapan akuntansi aset tetap yang sesuai dengan standar global yaitu IFRS merupakan suatu keharusan bagi perusahaan- perusahaan besar yang memiliki hubungan dengan perusahaan asing. Maka dari itulah PT. Pusri mau tidak mau harus menerapkan IFRS dalam sistem pelaporan keuangannya. Maka permasalahannya dapat dirumuskan: 1. Bagaimana pelaporan aset tetap PT. Pusri sebelum diberlakukannya IFRS 2. Bagaimana pelaporan aset tetap PT. Pusri setelah diberlakukannya IFRS 3. Kendala apa saja yang dihadapi PT. Pusri dalam mengimplementasikan IFRS 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya satu hal yang diperoleh setelah penelitian. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui bagaimana pelaporan aset tetap sebelum diberlakukannya IFRS pada PT. Pusri 2. Untuk mengetahui bagaimana pelaporan aset tetap setelah diberlakukannya IFRS pada PT. Pusri 3. Untuk mengetahui kendala apa saja yang dihadapi PT. Pusri dalam mengimplementasikan IFRS

5

1.4. Manfaat Penelitian Dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Bagi Akademik Mengembangkan wawasan dan kemampuan mengenai masalah yang berkaitan dengan pelaporan aset tetap berdasarkan PSAK 16 dan IFRS (IAS 16 pada khususnya). 2. Bagi Perusahaan Memberikan informasi kepada pihak manajemen perusahaan, khususnya PT. Pusri tentang bagaimana cara penerapan IFRS terhadap pelaporan aset tetap perusahaan. 3. Bagi Rekan Mahasiswa dan Pembaca Memberikan informasi yang lebih detail kepada pembaca mengenai penerapan IFRS terhadap pelaporan aset tetap, serta sebagai bahan referensi, sumbangan bagi peneliti lain yang ingin melakukan pengamatan secara lebih mendalam, khususnya pada kajian atau permasalahan yang serupa. 1.5 Metodologi Penelitian 1.5.1. Jenis Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparatif. Dengan menggunakan metode ini, peneliti berusaha untuk membandingkan penerapan aset tetap setelah adanya penerapan IFRS (IAS 16) dan sebelum

6

penerapan IFRS yaitu dengan diterapkannya PSAK 16 pada pelaporan keuangan PT. Pusri Palembang 1.5.2. Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan pada PT. Pusri yang bertempat di Jalan Mayor Zen, Palembang 30118, Sumatera Selatan. Perusahaan ini telah menerapkan IFRS atas aset tetapnya pada awal tahun 2012. 1.5.3. Metode Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan dan digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari satu sumber, data diperoleh berupa hasil wawancara. Data primer secara khusus diperoleh dengan cara wawancara langsung dengan pihak bagian keuangan PT. Pusri. b. Data Sekunder Data sekunder adalah data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pihak lain, misalnya informasi yang didapat melalui studi pustaka (library research) dan data dokumentasi perusahaan yang berhubungan dengan topik penelitian. Data ini terdiri antara lain: Daftar Aset Tetap, Neraca, Laporan Laba-Rugi, Daftar Aset Fiskal, Daftar Penyusutan Aset Tetap, Sejarah Singkat Perusahaan, dan Struktur Organisasi Perusahaan.

7

1.5.4 Metode Analisis Data Metode analisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Metode Induktif Data yang diperoleh dari perusahaan dapat ditarik generalisasinya seperti mengumpulkan data penyusutan aset tetap serta menilai sistem pencatatan aset tetap yang digunakan secara manual ataupun komputerisasi pada perusahaan. 2. Metode Deduktif Titik tolaknya adalah ilmu pengetahuan yang telah diklasifikasikan sehingga terlihat pengaruhnya terhadap pelaporan aset tetap perusahaan, yang berpedoman pada buku-buku yang berkaitan dengan akuntansi. 3. Metode Komparatif Membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel yang berbeda. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode komparatif yaitu dengan membandingkan pelaporan aset tetap PT. Pusri setelah adanya penerapan IFRS khususnya IAS 16 dan sebelum penerapan IFRS yaitu berdasarkan PSAK 16. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan ini terdiri dari 5 (lima) bab yang masing-masing bab terbagi dalam beberapa sub bab, untuk dapat memberikan gambaran yang lebih jelas

8

masalah yang akan dibahas, maka dikemukakan sistematika penulisan yang terbagi dalam bab dan sub bab yaitu sebagai berikut:

BAB I

PENDAHULUAN Dalam bab ini, penulis akan menjelaskan secara terperinci mengenai masalah pokok pemikiran yang melandasi permasalahan yang akan dibahas yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA Bab ini berisi pembahasan tentang aset tetap, Internasional Financial Reporting Standard (IFRS) dan tinjauan penelitian terdahulu.

BAB III

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN Dalam bab ini akan dijelaskan kondisi atau gambaran umum objek yang akan diteliti.

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini penulis akan melakukan analisis dan pembahasan mengenai Studi Komparatif Pelaporan Aset Tetap Sebelum dan Setelah Implementasi IFRS di PT. Pusri Palembang .

9

BAB V

PENUTUP Bab ini berisi tentang kesimpulan hasil analisis data dan pembahasan serta saran-saran yang dapat diberikan kepada PT. Pusri.

10

1.6. Tinjauan Pustaka 1.6.1. Tinjauan tentang IFRS 1.6.1.1. Pengertian IFRS IFRS adalah seperangkat standar yang disebarluaskan oleh Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB), yaitu suatu badan penentu standar internasional di London. Dewan Standar Akuntansi Internasional (IASB) menekankan pada pengembangan standar yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang baik, jelas dinyatakan, dari mana interpretasi diperlukan (kadang-kadang merujuk pada prinsip berbasis standar). Hal ini kontras dengan seperangkat standar seperti prinsip akuntansi yang diterima umum (GAAP) di Amerika Serikat, standar akuntansi nasional Amerika Serikat, berisikan pedoman yang lebih menekankan pada penerapan. Standar tersebut kadang-kadang merujuk pada aturan berbasis standar, tetapi benar-benar sebagai standar Amerika Serikat yang juga didasarkan pada prinsip-prinsip yang hanya berisi pedoman yang lebih menekankan penerapan (Ankarath Nandakumar, 2012). Sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standars (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh IASC. Pada bulan April 2001, IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan. International Financial Reporting Standars (Murni Ana Sulfia Situmorang, 2011) mencakup:

11

1. International Financial Reporting Standars (IFRS) – standar yang diterbitkan setelah tahun 2001
2. International Accounting Standars (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001

3. Interpretations

yang diterbitkan oleh International

Financial

Reporting

Interpretations Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001

4. Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) – sebelum tahun 2001

1.6.1.2. Karakteristik IFRS Menurut Rosita Uli Sinaga (2011) karakteristik IFRS adalah sebagai berikut: 1. Menggunakan pendekatan “principle based”. 2. Standar yang memerlukan penelaahan terhadap substansi dari transaksi dan evaluasi apakah perlakuan dan penyajian akuntansi telah mencerminkan realitas ekonomi transaksi tersebut. 3. Memerlukan professional judgement untuk mencapai kesimpulan akuntansi. 4. Penggunaan fair value lebih signifkan sebagai dasar pengukuran.

12

5. Persyaratan pengungkapan dalan Catatan Atas Laporan Keuangan yang lebih extensive. 1.6.1.3. Manfaat IFRS Maanfaat dengan mengadopsi IFRS (Aria Farahmita, 2011) adalah sebagai berikut: 1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar Akuntansi Keuangan yang dikenal secara internasional (enhance

comparability). 2. Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi. 3. Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara global. 4. Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan. Penggunaan standar akuntansi internasional di Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1973 dan Indonesia telah mengalami beberapa perubahan aturan diantaranya: pertama, menggunakan aturan Belanda; kedua menggunakan aturan Generally Accepted Accounting Principles (GAAP) dari Amerika Serikat; dan kemudian yang ketiga atau hingga saat ini menggunakan International Accounting Standards (IAS). Dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi dikenal dengan dua pendekatan (Nunik L.D, 2010), yaitu:

13

1. Principle-Based Accounting Standards:  Mengatur prinsip-prinsip akuntansi untuk suatu jenis transaksi, khususnya terkait dengan pengakuan dan pengukuran, dan tidak mengatur untuk suatu jenis industri tertentu.  Kelebihannya: tidak atau sedikit memberi peluang untuk melakukan kreativitas negatif atas pengaturan akuntansi. Sehingga dua transaksi yang secara substansi sama akan diperlakukan dan dicatat sama oleh dua perusahaan yang berbeda. Serta pengaturan akuntansi yang ada berlaku untuk seluruh perusahaan.  Memerlukan banyak professional judgement yang menuntut kompetensi dan integritas yang tinggi, kesiapan profesi pendukung dengan semakin dominannya fair value accounting.  Digunakan oleh International Accounting Standards Board (IASB).

2. Ruled-Based Accounting Standards:  Mengatur secara lebih detail dan biasanya hanya berlaku untuk suatu industri tertentu.   Kelebihannya: lebih mudah diterapkan karena pengaturan lebih eksplisit. Tidak banyak memerlukan professional judgement. Namun, membuka peluang untuk melakukan sesuatu dengan tujuan sempit.  Digunakan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB).

14

Menurut Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK), tingkat pengadopsian IFRS dapat dibedakan menjadi 5 tingkat: 1. Full Adoption Suatu negara mengadopsi seluruh produk IFRS dan menerjemahkan IFRS word by word ke dalam bahasa yang negara tersebut gunakan. 2. Adopted Mengadopsi seluruh IFRS namun disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut. 3. Piecemeal Suatu negara hanya mengadopsi sebagian besar nomor IFRS yaitu nomor standar tertentu dan memilih paragraf tertentu saja. 4. Referenced Sebagai referensi, standar yang diterapkan hanya mengacu pada IFRS tertentu dengan bahasa dan paragraf yang disusun sendiri oleh badan pembuat standar. 5. Not adopted at all Suatu negara sama sekali tidak mengadopsi IFRS.

15

Tabel 1.6 International Financial Reporting Standard (IFRS) List of IAS Financial Statements : IAS 1, Presentation of Financial Statements IAS 2, Inventories IAS 7, Cash Flow Statements IAS 8, Accounting Policies, Changes in Accounting Estimates and Error IAS 10, Events After the Balance Sheet Date IAS 11, Construction Contracts IAS 12, Income Taxes IAS 14, Segment Reporting IAS 16, Property, Plant, and Equipment IAS 17, Leases IAS 18, Revenue IAS 19, Employee Benefits IAS 20, Accounting for Government Grants and Disclosure of Government Assistance IAS 21, The Effects of Changes in Foreign Exchange Rates IAS 23, Borrowing Costs IAS 24, Related-Party Disclosures IAS 26, Accounting and Reporting by Retirement Benefit Plans IAS 27, Consolidated and Separate Financial Statements IAS 28, Investments in Associates IAS 29, Financial Reporting in Hyperinflationary Economies IAS 31, Interests in Joint Ventures IAS 32, Financial Instruments: Presentation IAS 33, Earnings per Share IAS 34, Interim Financial Reporting IAS 36, Impairment of Assets IAS 37, Provisions, Contingent Liabilities and Contingent Assets IAS 38, Intangible Assets IAS 39, Financial Instruments: Recognition and Measurement IAS 40, Investment Property IAS 41, Agriculture List of SIC SIC 7, Introduction of the Euro SIC 10, Government Assistance—No Specific Relation to Operating Activities SIC 12, Consolidation—Special-Purpose Entities

16

SIC 13, Jointly Controlled Entities—Nonmonetary Contributions by Venturers SIC 15, Operating Leases—Incentives SIC 21, Income Taxes—Recovery of Revalued Nondepreciable Assets SIC 25, Income Taxes—Changes in the Tax Status of an Entity or Its Shareholders SIC 27, Evaluating the Substance of Transactions Involving the Legal Form of a Lease SIC 29, Disclosure—Service Concession Arrangements SIC 31, Revenue—Barter Transactions Involving Advertising Services SIC 32, Intangible Assets—Web Site Costs List of IFRS IFRS 1, First-time Adoption of International Financial Reporting Standards IFRS 2, Share-Based Payment IFRS 3, Business Combinations IFRS 4, Insurance Contracts IFRS 5, Noncurrent Assets Held for Sale and Discontinued Operations IFRS 6, Exploration for and Evaluation of Mineral Resources IFRS 7, Financial Instruments: Disclosures IFRS 8, Operating Segments IFRS 9, Financial Instrument IFRS for Small and Medium-sized Entities (SME’s) Tabel List of IFRIC IFRIC 1, Changes in Existing Decommissioning, Restoration and Similar Liabilities IFRIC 2, Members’ Shares in Cooperative Entities and Similar Instruments IFRIC 3, Emission Rights (withdrawn) IFRIC 4, Determining Whether an Arrangement Contains a Lease IFRIC 5, Rights to Interests Arising from Decommissioning, Restoration and Environmental Rehabilitation Funds IFRIC 6, Liabilities Arising from Participating in a Specific Market—Waste Electrical and Electronic Equipment IFRIC 7, Applying the Restatement Approach under IAS 29 Financial Reporting in Hyperinflationary Economies IFRIC 8, Scope of IFRS 2 IFRIC 9, Reassessment of Embedded Derivatives IFRIC 10, Interim Financial Reporting and Impairment IFRIC 11, IFRS 2—Group and Treasury Share Transactions IFRIC 12, Service Concession Arrangements IFRIC 13, Customer Loyalty Programmes IFRIC 14, IAS 19—The Limit on a Defined Benefit Asset, Minimum Funding

17

Requirements and Their Interaction IFRIC 15, Real Estate Sales, July 2007 IFRIC 16, Hedges of a Net Investment in a Foreign Operation, July 2007 IFRIC 17, Distribution of Non-Cash Assets to Owners IFRIC 18, Asset Transfer from Customers Sumber: Ankarath Nandakumar (2012) 1.6.2. Tinjauan tentang Aset Tetap 1.6.2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 (revisi 2007) paragraf 6 adalah ’’sebagai aset berwujud yang dimiliki untuk

digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.” Menurut Waren Reeve Fees (2008:440) asset tetap merupakan asset jangka panjang atau asset yang relative permanent. Mereka merupakan asset berwujud (tangible asset) kaena terlihat secara fisik. Aset tersebut dimiliki dan digunakan oleh perusahaan serta tidak dimaksudkan untuk dijual sebagai bagian dari operasi normal. Nama-nama deskriptif lain dari asset-aset ini adalah asset pabrik (plant assets), atau property, pabrik, dan peralatan (property, plant, and equipment).

18

1.6.2.2. Pengelompokkan Aset Tetap Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2009:16.7) suatu kelompok asset tetap adalah pengelompokan asset yang memiliki sifat dan kegunaan yang serupa dalam operasi normal entitas. Berikut ini adalah contoh dari kelompok asset yang terpisah: 1. Tanah 2. Tanah dan bangunan 3. Mesin 4. Kapal 5. Pesawat udara 6. Kendaraan bermotor 7. Perabotan; dan 8. Peralatan kantor 1.6.2.3. Perolehan Aset Tetap Menurut Wareen Reeve Fees (2008:451) biaya yang dikeluarkan untuk asset tetap dapat diklasifikasikan menjadi empat tahap: pendahuluan, pra-perolehan, perolehan atau konstruksi, dan pemakaian. 1. Tahap Pendahuluan Tahap pendahuluan terjadi sebelum manajemen yakin akan kemungkinan dilakukannya pembelian asset tetap. Selama tahap ini, perusahaan mungkin akan melakukan studi kelayakan, studi pasar, dan analisis keuangan untuk menentukan

19

kelayakan perolehan asset tetap. Biaya ini tidak dapat dikaitkan dngan asset tetap tertentu, sehingga diperlakukan sebagai pengeluaran pendapatan. 2. Tahap Pra-Perolehan Kemungkinan pembelian asset tetap menjadi sangat besar, namun belum terjadi. Biaya yang terjadi dalam tahap ini, seperti biaya survei, penetapan wilayah, dan studi teknis, dapat dikaitkan dengan asset tetap tertentu dan harus diberlakukan sebagai pengeluaran modal. Seperti dinyatakan sebelumnya, pengeluaran modal adalah biaya perolehan, konstruksi, penambahan, atau penggantian asset tetap. 3. Tahap Perolehan Dalam tahap perolehan atau konstruksi, pembelian tanah terjadi atau konstruksi telah dimulai, namun asset tetap tersebut belum siap untuk digunakan. Biaya yang bisa diidentifikasikan langsung dengan asset tetap tertentu selama tahap ini harus dikapitalisasi dalam akun asset tetap atau akun pekerjaan dalam penyelesaian. Biaya ini didebit kedalam akun beban administrasi dan umum. Ketika asset tetap siap dimanfaatkan, biaya yang dikapitalisasi harus ditransfer dari akun pekerjaan dalam penyelesaian ke akun asset tetap berkaitan. 4. Tahap Pemakaian Dalam tahap pemakaian, asset tetap telah selesai dan siap digunakan. Selam tahap ini, asset tetap harus disusutkan seperti yang dijabarkan dalam bagian sebelumnya. Sebagai tambahan, aktivitas perbaikan dan pemeliharaan yang normal,

20

berulang dan periodic sehubungan dengan asset tetap tersebut selama tahap ini, harus dicatat ke beban pemeliharaan untuk periode bersangkutan. Biaya yang terjadi untuk memperoleh komponen tambahan atau mengganti komponen yang sudah ada atas asset tetap tersebut harus dikapitalisasikan. 1.6.2.4. Pengukuran Aset Tetap Adapun mengenai pengukuran aset tetap dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu : A. Pengukuran Awal Ketika Aset Tetap Tersebut diperoleh Aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk dikategorikan sebagai aset tetap pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan Aset Tetap adalah jumlah biaya yang yang dikeluarkan oleh entitas dan diperlukan untuk menyiapkan asset tetap tersebut agar dapat digunakan sebagaimana mestinya sebagai asset tetap. Biaya perolehan aset tetap menurut PSAK 16 Revisi Tahun 2007 adalah : a) Biaya Perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi dengan diskon pembelian dan potongan lain. b) Biaya-biaya yang diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan dan maksud manajemen. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah :

21

1. biaya persiapan tempat 2. biaya penanganan dan penyerahan awal 3. biaya perakitan dan instalasi 4. biaya pengujian aset apakah dapat beroperasi dengan baik, setelah dikurangi hasil penjualan dari produk yang dihasilkan atas pengujian tersebut. 5. Komisi professional seperti arsitek dan insyiur c) Estimasi biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset. Pada umumnya nilai perolehan suatu aset tetap sama dengan jumlah biaya (bisa berupa kas maupun non-kas) untuk memperoleh aset tersebut. Selain itu, aset tetap dapat diperoleh dari pertukaran aset non moneter. Prinsip utama pada pengukuran aset tetap yang diperoleh dari pertukaran aset tetap ini adalah dengan menggunakan nilai wajarnya, dalam hal ini nilai wajar aset tetap yang dipertukarkan tidak diketahui, nilai buku aset tersebut dapat digunakan. Didalam IAS 16 paragraf 8 menyatakan bahwa “Under the previous version of IAS 16, an entity measured such an acquired asset at fair value unless the exchanged assets were similar’’. Hal tersebut menjelaskan bahwa dalam versi sebelumnya dari IAS 16, suatu entitas diukur seperti aset yang diperoleh pada nilai wajar, kecuali aktiva yang dipertukarkan adalah serupa.

22

B. Pengukuran Setelah Pengakuan Awal Pengukuran aset tetap selain dilakukan pada awal perolehan juga dilakukan pada periode setelah aset tetap tersebut diperoleh. Di dalam PSAK 16 (Revisi 2007) terdapat perubahan yang signifikan mengenai perlakuan akuntansi aset tetap terutama tentang pengukuran nilai aset tetap setelah perolehan. PSAK 16 (Revisi 2007) mengakui adanya dua metode dalam perlakuan akuntansi aset tetap tersebut. Kedua metode itu adalah: a). Metode Biaya Historis ( PSAK Tahun 1994 dan PSAK Revisi 2007) Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, aset tetap tersebut dicatat pada harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai asset. b) Metode Revaluasian (PSAK Revisi 2007) Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi atas aset tetap harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

23

Untuk metode revaluasi, perlakuan terhadap akumulasi penyusutan aset tetap pada tanggal revaluasi dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut:

1. Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dan jumlah tercatat secara bruto dari aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian, metode ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indek untuk menentukan biaya pengganti yang disusutkan (depreciated replacement cost). 2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat neto setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan

Revaluasi yang dilakukan pada sekelompok aset dengan kegunaan yang serupa dilaksanakan secara bersamaan. Perlakuan ini bertujuan untuk menghindari perlakuan revaluasi secara selektif dan bercampurnya biaya perolehan dan nilai lainnya pada saat yang berbeda-beda. Namun revaluasi dalam kelompok aset dapat dilakukan secara bergantian (rolling) sepanjang keseluruhan revaluasi dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.

Pengakuan terhadap kenaikan atau penurunan nilai akibat revaluasi dilakukan langsung pada kenaikan atau penurunan akibat revaluasi, kecuali jika revaluasi dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Apabila revaluasi dilakukan untuk yang

24

kedua kali dan seterusnya, terdapat perlakuan yang berbeda. Perbedaan tersebut adalah:

1. Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun kenaikan tersebut harus diakui di dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah dilakukan sebelumnya dalam laporan laba rugi. 2. Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Namun penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Menurut IAS 16 menyatakan bahwa
If fair value can be measured reliably, an entity may carry all items of property, plant and equipment of a class at a revalued amount, which is the fair value of the items at the date of the revaluation less any subsequent accumulated depreciation and accumulated impairment losses. Under the previous version of IAS 16, use of revalued amounts did not depend on whether fair values were reliably measurable.

Dalam metode revaluasi menurut IAS 16 paragraf 9, jika nilai wajar dapat diukur dengan andal, suatu entitas dapat membawa semua barang, tumbuh-tumbuhan, dan peralatan dari kelas nilai revaluasi, yang merupakan nilai wajar dari barang pada tanggal penilaian kembali dikurangi akumulasi penyusutan berikutnya dan akumulasi

25

penurunan nilai. Dalam versi sebelumnya IAS 16, penggunaan nilai revaluasi tidak tergantung pada apakah nilai wajar yang andal dapat diukur. 1.6.2.5. Pelepasan Aset Tetap Menurut Wareen Reeve Fees (2008:453) aset tetap yang tidak lagi digunakan bisa dibuang, dijual, atau ditukar tambah dengan asset tetap lainnya. Rincian ayat jurnal untuk mencatat pelepasan asset tetap dapat bervariasi. Namun, dalam semua kasus, nilai buku asset harus dihapus dari akun, yang diilakukan dengan mendebit akun akumulasi penyusutan asset yang terkait sebesar saldonya pada tanggal pelepasan dan mengkredit akun asset sebesar biaya atau hanya perolehannya. Aset tetap tidak boleh dihapus dari akun hanya karena asset tersebut telah disusutkan secara penuh. Jika asset masih digunakan oleh perusahaan, maka biaya dan akumulasi penyusutan harus tetap tercatat dalam buku besar. Hal ini ditujukan untuk mempertahankan akuntabilitas asset tersebut alam buku besar. Jika nilai buku dari asset dihapuskan dari buku besar, tidak aka nada lagi bukti mengenai keberadaan dari asset. Selain itu, data-data biaya dan akumulasi penyusutan asset biasanya dibutuhkan untuk pelaporan pajak property dan pajak penghasilan. A. Pembuangan Aset Tetap Jika asset tetap tidak berguna lagi bagi perusahaan serta tidak memiliki nilai sisa atau nilai wajar, maka asset tersebut akan dibuang. Jika suatu asset belum

26

disusutkan sepenuhnya, maka penyusutan harus terlebih dahulu dicatat sebelum asset dibuang dan dihapus dari catatan akuntansi. B. Penjualan Aset Dengan membandingkan nilai buku aset tetap (biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan) dengan harga jualnya (nilai realisasi bersih bilamana terdapat beban penjualan), perusahaan bisa saja mendapat keuntungan atau menanggung kerugian. Apabila harga jual lebih besar dari nilai buku aset tetap maka perusahaan memperoleh keuntungan, sebaliknya apabila harga jual dibawah nilai buku maka perusahaan menderita kerugian.

PSAK 16 (Revisi 2007) Paragraf 45 mengatur bahwa : Jika dalam suatu entitas terdapat aset tetap yang tersedia untuk dijual, maka perlakuan akuntansi untuk aset tersebut adalah sebagai berikut :

1. Diakui pada saat dilakukan penghentian operasi; 2. Diukur sebesar nilai yang lebih rendah dari jumlah tercatatnya dibandingkan dengan nilai tersebut; 3. Disajikan sebagai aset tersedia untuk dijual, jika jumlah tercatatnya akan dipulihkan melalui transaksi penjualan dari penggunaan lebih lanjut; dan 4. Diungkapkan dalam laporan keuangan dalam rangka evaluasi dampak penghentian operasi dan pelepasan aset (aset tidak lancar) wajar setelah dikurangi dengan biaya-biaya penjualan aset

27

Sedangkan menurut IAS 16 menyatakan bahwa

However, an entity that, in the course of its ordinary activities, routinely sells items of property, plant and equipment that it has held for rental to others shall transfer such assets to inventories at their carrying amount when they cease to be rented and become held for sale. The proceeds from the sale of such assets shall be recognised as revenue in accordance with IAS 18 Revenue. IFRS 5 does not apply when assets that are held for sale in the ordinary course of business are transferred to inventories.

Dalam hal penjualan aset tetap, IAS 16 paragraf 68A menjelaskan bahwa suatu entitas yang dalam rangka kegiatan normal, secara rutin menjual aset tetap yang telah dimiliki untuk disewakan kepada orang lain akan mentransfer aset tersebut untuk persediaan pada jumlah tercatat ketika mereka berhenti menjadi penyewa dan menjadi pemilik/pemegang untuk dijual. Penerimaan dari penjualan aset tersebut akan diakui sebagai pendapatan sesuai PSAK 18 Pendapatan. IFRS 5 tidak berlaku jika aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal dipindahkan ke persediaan. C. Pertukaran Aset Tetap yang Sejenis Sering kali peralatan lama ditukar dengan yang baru, yang memiliki kegunaan sama. Dalam kasus semacam ini, pembeli menerima peralatan lama yang dimaksud dari penjual. Jumlah ini yang dinamakan nilai tukar tambah (trade-in alloence), mungkin lebih tinggi atau lebih rendah daripada nilai buku peralatan lama. Saldo yang tersisa-jumlah yang terutang-dapat dibayarkan tunai atau dicatat sebagai suatu kewajiaban dicatat. Selisih ini biasanya dinamakan dengan sisa yang terutang (boot).

28

Paragraf 24 PSAK 16 (revisi 2007) mengatur bahwa untuk pertukaran aset tetap, biaya perolehan diukur pada nilai wajar kecuali (a) transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau (b) nilai wajar dari aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal.

1.6.2.6. Penyusutan Aset Tetap Perusahaan tidak diharuskan menggunakan satu metode penyusutan tunggal bagi semua asetnya. Metode-metode yang digunakan dalam akuntansi dan laporan keuangan mungkin juga berbeda dari metode-metode yang digunakan dalam penentuan pajak penghasilan dan pajak properti. Tiga metode yang paling umum digunakan (Warren Reeve Fess: 445) adalah: A. Metode Garis Lurus Metode garis lurus (straight line method) menghasilkan jumlah beban penyusutan yang sama setiap tahun sepanjangg umur manfaat suatu aset tetap. Jika suatu aset tidak digunakann setahun penuh, maka penyusutan tahunannya disesuaikan menurut lamanya pemakaian. Metode garis lurus sangat sederhana dan digunakan secara luas. Metode ini menciptakan transfer biaya yang wajar ke beban periodik jika pemanfaatan aset dan pendapatan yang terkait dengan pemakaian sama dari periodik ke periode.

29

B.

Metode Unit Produksi Metode unit produksi (unit of production method) menghasilkan jumlah beban

penyusutan yang sama bagi setiap unit yang diproduksi atau setiap unit kapasitas yang digunakan oleh aset. Untuk menerapkan metode ini umur manfaat aset diekspresikan dalam istilah unit kapasitas produktif seperti jam atau mil. C. Metode Saldo Menurun Metode saldo menurun (declining-balance method) menghasilkan beban periodik yang terus menurun sepanjang estimasi umur manfaat aset. Untuk menerapkan metode ini, tarif penyusutan garis lurus tahunan terlebih dahulu harus digandakan. Untuk tahun pertama, biaya aset dikalikan dengan tarif saldo menurun. Setelah tahun pertama, nilai buku (book value) yang menurun (biaya dikurangi akumulasi penyusutan) dikalikan dengan tarif yang dimaksud.

Menurut Paragraf 42 PSAK 16 (1994) mengatur bahwa:

Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai dengan PSAK No. 25, dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan.

Menurut PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang Aset Tetap pada paragraf 63 dijelaskan bahwa metode penyusutan yang digunakan harus mencerminkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomis masa depan dari aset oleh entitas.

30

Kemudian dalam paragraf 64 diatur bahwa metode penyusutan yang digunakan untuk aset harus di-review minimum setiap akhir tahun buku dan, apabila terjadi perubahan yang signifikan dalam ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan dari aset tersebut, maka metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai perubahan estimasi akuntansi sesuai PSAK No. 25.

Menurut IAS 16 menyatakan bahwa
The depreciation method applied to an asset shall be reviewed at least at each financial year-end and, if there has been a significant change in the expected pattern of consumption of the future economic benefits embodied in the asset, the method shall be changed to reflect the changed pattern. Such a change shall be accounted for as a change in an accounting estimate in accordance with IAS 8.

Sama halnya seperti PSAK 16 paragraf 64, IAS 16 paragraf 61 juga menjelaskan bahwa metode penyusutan yang diterapkan untuk aset harus ditinjau sekurangnya-kurangnya setiap akhir tahun dan, jika telah terjadi perubahan signifikan dalam perkiraan pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan pada aset, metode ini akan diubah untuk mencerminkan pola perubahan. Perubahan tersebut harus dipertanggungjawabkan sebagai perubahan dalam estimasi akuntansi sesuai dengan IAS 8. 1.7. Penelitian Terdahulu Berbagai penelitian tentang IFRS telah banyak dilakukan, namun fokus penelitian tentang adopsi IFRS pada suatu negara ataupun perusahaan dapat

31

dikatakan masih terbatas. Tabel 1.7 menunjukkan ringkasan penelitian berkaitan dengan adopsi IFRS. Tabel 1.7 Nama Peneliti Mega Anjasmoro Judul Penelitian Adopsi International Financial Report Standart: ”Kebutuhan Atau Paksaan?” Studi Kasus pada PT. Garuda Airlines Indonesia Rumusan Masalah Bagaimana proses pengadopsian dan pengaplikasian IFRS pada GA secara riil? Hasil Penelitian Proses adopsi IFRS pada GA terdiri dari 3 tahap. Tahap yang pertama adalah pemahaman tentang IFRS dan PSAK serta pemahaman tentan persamaan dan perbedaan keduanya. Tahap selanjutnya adalah mempersiapkan SDM dengan IFRS capability. Dan tahap yang terakhir adalah pengembangan software akuntansi.

Murni Ana Sulfia Situmorang

Transisi Menuju IFRS dan Dampaknya terhadap Laporan Keuangan (Studi Empiris Pada Perusahaan Yang Listing di BEI)

Apakah terdapat ------------------------perbedaan dampak transisi ke IFRS terhadap ekuitas, laba bersih, likuiditas, dan gearing perusahaan yang menggunakan big 4 auditor dan non big 4 auditor ? Apakah terdapat Berdasarkan uraian

Nunik L.D

Perbedaan IFRS,

32

U.S. GAAP, dan PSAK: Investement Property

perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP, dan PSAK?

pembahasan diatas dapat terlihat perbedaan antara IFRS, U.S. GAAP dan PSAK dalam hal properti investasi, mulai dari penyajian (presentation), pengakuan (recognition), pengukuran (measurement), dan pengungkapannya (disclosure)

33

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful