You are on page 1of 20

LAPORAN KASUS OD PTERIGIUM STADIUM II ET OS PTERIGIUM DUPLEX STADIUM II IDENTITAS PASIEN

 Nama  Jenis Kelamin  Umur

: Tn. AW : Laki-laki : 42 tahun : Islam : Bugis/Indonesia : Guru : Luwu Banggai

 Agama
 Suku/bangsa  Pekerjaan  Alamat

 Tanggal Pemeriksaan : 8 Agustus 2012

 Rumah sakit
 Dokter Pemeriksa

: RS.Wahidin Sudirohusodo : dr.E

ANAMNESIS KU AT : Rasa mengganjal pada kedua mata : Dirasakan sejak + 8 tahun yang lalu, secara perlahan-lahan. Awalnya timbul selaput pada mata kiri, kemudian muncul pula pada mata sebelah kanan. penglihatan kabur (-). Riwayat sering terpapar debu dan sinar matahari (+) yaitu pada saat penderita mengendarai motor ke tempat kerja tanpa menggunakan kacamata pelindung. Riwayat memakai kaca mata sebelumnya (-). Riwayat penglihatan menurun (-) Riwayat trauma (-)
1

Mata kering (+), rasa

berpasir (+), mata merah (+) minimal, nyeri (+) bila terpapar angin, air mata berlebih (-),

Riwayat Hipertensi (-) Riwayat DM (-)

PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI • Inspeksi Palpebra Silia Apparatus Lakrimalis Konjungtiva OD Edema (-) Sekret (-) Lakrimasi (-) Hiperemis (+) tampak selaput berbentuk segitiga dari arah nasal sampai ke limbus, belum mencapai pupil Bola Mata Mekanisme Muskular ODS OD Jernih Kesan Normal Coklat, kripte (+) Bulat, Sentral, RC (+) Jernih Jernih Kesan Normal Coklat, kripte (+) Bulat, Sentral, RC (+) Jernih Normal Ke segala arah OS Edema (-) Sekret (-) Lakrimasi (-) Hiperemis (+), tampak selaput bentuk segitiga di daerah nasal dan temporal, dengan apeks melewati limbus, belum mencapai pupil Normal Ke segala arah

- OS Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa

2

3 mmHg • Campus visual o Tidak dilakukan pemeriksaan • Color sense o Tidak dilakukan pemeriksaan • Light sense o Tidak dilakukan pemeriksaan • Penyinaran oblik OD OS 3 .5 = 17. Mata pasien • Palpasi OD Tn (-) (-) Tidak Ada Pembesaran OS Tn (-) (-) Tidak Ada Pembesaran Tensi Okuler Nyeri Tekan Massa Tumor Glandula PreAurikuler • Visus VOD : 6/6 VOS : 6/6 • Tonometri o TOD : 5/5.3 mmHg o TOS : 5/5.5 = 17.OD OS Gambar 1.

Konjungtiva Hiperemis (-) Hiperemis (+). RC (+) Jernih • Diafanoskopi o Tidak dilakukan pemeriksaan • Oftalmoskopi • FODS : Refleks fundus (+). • Laboratorium o Tidak dilakukan pemeriksaan RESUME 4 . kornea jernih. • Slit lamp o SLOD : konjungtiva hiperemis (+). BMD kesan normal. a/v : 2/3. dengan apeks melewati limbus. Sentral. sentral. lensa jernih. tampak selaput segitiga (+) di nasal dan tempotal. o SLOS : konjungtiva hiperemis (+). pupil bulat. lensa jernih. tampak selaput segitiga dari arah nasal. macula : refleks fovea (+). CDR 0.3. RC (+) Jernih Kornea Bilik Mata Depan Iris Pupil Lensa Jernih Kesan Normal Coklat. tampak selaput bentuk segitiga di daerah nasal. pupil bulat. iris coklat. Kripte (+) Bulat. RC (+). Kripte (+) Bulat. BMD kesan normal. Sentral. belum mencapai pupil Jernih Kesan Normal Coklat. retina perifer kesan normal. sentral. kripte (+). RC (+). iris coklat. apex melewati limbus belum mencapai pupil. kripte (+). papil N. kornea jernih. apeks melewati limbus belum mencapai pupil.II batas tegas.

kreipte (+). sentral. 42 tahun datang ke poliklinik mata RSWS dengan keluhan rasa mengganjal pada kedua mata yang dialami sejak sejak + 8 tahun yang lalu. belum mencapai pupil. secara perlahan-lahan. mata merah (+) minimal. Awalnya timbul selaput pada mata kiri. Pada pemeriksaan oftalmoskopi. 5 . kemudian muncul pula pada mata sebelah kanan. Pada pemeriksaan oftalmologi. secara perlahanlahan. kornea jernih. mata merah (+) minimal. iris coklat. Rasa mengganjal (+) disertai perih bila terkena angin. sentral. kornea jernih. Awalnya timbul selaput pada mata kiri. belum mencapai pupil. kemudian muncul pula pada mata sebelah kanan. FODS dalam batas normal. RC (+) dan lensa jernih.5. iris coklat. ditemukan keluhan rasa mengganjal pada kedua mata yang dialami sejak sejak + 8 tahun yang lalu. BMD kesan normal. Riwayat sering terpapar debu dan sinar matahari (+) yaitu pada saat penderita mengendarai motor ke tempat kerja tanpa menggunakan kacamata pelindung. Riwayat sering terpapar debu dan sinar matahari (+) yaitu pada saat penderita mengendarai motor ke tempat kerja tanpa menggunakan kacamata pelindung.Seorang laki-laki. pupil bulat. VODS : 6/6. TODS : 5/5. RC (+) dan lensa jernih. Pada mata kanan ditemukan selaput berbentuk segitiga dari arah nasal sampai ke limbus. DIAGNOSIS OD Pterigium Stadium II et OS Pterigium Duplex Stadium II TERAPI Cendo lyteers ED ODS ANJURAN OS Eksisi pterigium + graft konjungtiva DISKUSI Dari hasil anamnesis pada pasien ini. kripte (+). Rasa mengganjal (+) disertai perih bila terkena angin. Pada mata kiri ditemukan selaput segitiga di nasal dan temporal. dengan apeks melewati limbus. pupil bulat. BMD kesan normal.

yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterigium masih derajat 1 dan 2.Pada pemeriksaan oftalmologi. karena itu prognosis adalah baik. pupil bulat. VODS : 6/6.5. sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterigium yang melebihi derajat 2. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterigium derajat 1 dan 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan. Sinar ultraviolet terutama sinar UVB beserta polutannya merupakan pencetus terjadinya inflamasi kronik sebagai penyebab pertumbuhan jaringan pterigium. BMD kesan normal. berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. sentral. kreipte (+). selain itu kekeringan okular dan polusi lingkungan dapat berperan serta dalam progresivitas pterigium dan rekurensinya Prinsip penanganan pterigium dibagi 2. RC (+) dan lensa jernih. Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari. iris coklat. RC (+) dan lensa jernih. kornea jernih. dengan apeks melewati limbus. Bila terdapat tanda radang berikan air mata buatan dan bila perlu dapat diberi steroid. 6 . belum mencapai pupil. sentral. kripte (+). Timbunan atau benjolan ini membuat penderitanya agak kurang nyaman karena biasanya akan berkembang dan semakin membesar ke daerah kornea. Pterigium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata berair dan tampak merah serta mungkin menimbulkan astigmat akibat adanya perubahan bentuk kornea akibat adanya mekanisme penarikan oleh pterigium serta terdapat pendataran dari pada meridian horizontal pada kornea. BMD kesan normal. belum mencapai pupil. Pterigium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pemakaian air mata artifisial ini diperlukan untuk membasahi permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air mata Umumnya pterigium bertumbuh secara perlahan dan jarang sekali menyebabkan kerusakan yang bermakna. debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. TODS : 5/5. iris coklat. Pada mata kiri ditemukan selaput segitiga di nasal dan temporal. pupil bulat. Pada mata kanan ditemukan selaput berbentuk segitiga dari arah nasal sampai ke limbus. Berdasarkan hasil anamnesis dan hasil pemeriksaan oftalmologi tersebut dapat disimpulkan bahwa pasien menderita OD Pterigium Stadium II et OS Pterigium Duplex Stadium II. kornea jernih.

Insiden tinggi pada umur 7 . Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk daerah di atas 40o lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 28-36o. Sehingga dapat disimpulkan penurunan angka kejadian di lintang atas dan peningkatan relatif angka kejadian di lintang bawah.PTERIGIUM I DEFENISI Pterigium berasal dari bahasa Yunani yaitu “Pteron” yang artinya sayap (wing).1. Pterigium didefinisikan sebagai pertumbuhan jaringan fibrovaskuler pada konjungtiva dan tumbuh menginfiltrasi permukaan kornea.3. Sebuah hubungan terdapat antara peningkatan prevalensi dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang. EPIDEMIOLOGI Pterigium tersebar di seluruh dunia. Prevalensi pterigium meningkat dengan umur. Faktor yang sering mempengaruhi adalah daerah dekat dengan ekuator yaitu daerah <370 lintang utara dan selatan dari ekuator. biasanya berbentuk segitiga dengan kepala/apex menghadap kesentral kornea dan basis menghadap lipatan semilunar pada cantus. kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi geografisnya. tetapi lebih banyak di daerah iklim panas dan kering. Di daratan Amerika serikat. Prevalensi tinggi sampai 22 % di daerah dekat ekuator dan <2 % pada daerah di atas lintang 400. Prevalensi juga tinggi di daerah berdebu dan kering.Pasien di bawah umur 15 tahun jarang terjadi pterigium.5 Di Amerika Serikat.4 II.2. terutama dekade ke 2 dan 3 kehidupan. umumnya bilateral di sisi nasal.

6 III. Zona ini bersifat sangat vaskuler dan translusen. Laki-laki 4 kali lebih berisiko daripada perempuan dan berhubungan dengan merokok. konjungtiva palpebra merupakan daerah dimana reaksi patologis bisa ditemui. Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi palpebra (suatu sambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea dilimbus. Pada bagian medial konjungtiva. pendidikan rendah dan riwayat paparan lingkungan di luar rumah. ANATOMI KONJUNGTIVA Konjungtiva merupakan membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Pergerakan bola mata menyebabkan perlipatan horisontal konjungtiva orbital. terutama jika mata terbuka. dan orbital. Pada bagian lateral. tetapi dapat ditemukan karunkula dan plika semilunaris yang penting dalam sistem lakrimal. Dari titik ini. konjungtiva terdiri atas 3 bagian:7. forniks bersifat lebih dalam hingga 14 mm dari limbus. tarsal. tidak ditemukan forniks. Konjungtiva marginal dimulai pada mucocutaneus junction hingga konjungtiva proper. Punktum bermuara pada sisi medial dari zona marginal konjungtiva palpebra sehingga terbentuk komunikasi antara konjungtiva dengan sistem lakrimal. Dari kelopak mata bagian dalam. 8 . konjungtiva melapisi erat permukaan dalam kelopak mata. Refleksi atau lipatan ini disebut dengan forniks superior dan inferior. Pterigium rekuren sering terjadi pada umur muda dibandingkan dengan umur tua. konjungtiva menghubungkan antara bola mata dan kelopak mata.4 Sesuai dengan namanya.7 Secara anatomi. konjungtiva terlipat ke bola mata baik dibagian atas maupun bawah. Lipatan tersebut membentuk ruang potensial yang disebut dengan sakkus konjungtiva. yang mulai dari ujung perifer tarsus hingga forniks. Secara fungsional.5.antara 20-49 tahun. Kemudian zona tarsal konjungtiva merupakan bagian dari konjungtiva palpebralis yang melekat erat pada tarsus. Konjungtiva palpebra dapat dibagi lagi menjadi zona marginal. Forniks superior terletak 8-10 mm dari limbus sedangkan forniks inferior terletak 8 mm dari limbus.8 1. Konjungtiva Palpebra Mulai pada mucocutaneus junction yang terletak pada bagian posterior kelopak mata yaitu daerah dimana epidermis bertransformasi menjadi konjungtiva. Zona terakhir adalah zona orbital. yang bermuara melalui fissura palpebra antara kelopak mata superior dan inferior.

Konjungtiva Forniks Merupkan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. konjungtiva bulbi menyatu dengan kapsula tenon dan sklera. maka konjungtiva forniks dapat bergerak bebas bersama bola mata ketika otot-otot tersebut berkontraksi.2. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun didalam lapisan superfisial dan profundus dan bergabung dengan pembuluh lemfe palpebra membentuk pleksus limfatikus. Karena perlekatannya bersifat longgar. Lain halnya dengan konjungtiva palpebra yang melekat erat pada struktur sekitarnya konjungtiva forniks ini melekat secara longgar dengan struktur di bawahnya yaitu fasia muskulus levator palpebra superior serta muskulus rektus. Konjungtiva bulbi melekat longgar dengan sklera melalui jaringan alveolar. Gambar 2. yang memungkinkan mata bergerak ke segala arah. Konjungtiva bulbi dimulai dari forniks ke limbus. 3. dan bersifat sangat translusen sehingga sklera dibawahnya dapat divisualisasikan. Konjungtiva bulbi juga melekat pada tendon muskuler rektus yang tertutup oleh kapsula tenon. Sekitar 3 mm dari limbus. Konjungtiva Bulbi Menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera dibawahnya. Kedua arteri ini beranastomosis dengan bebas dan bersama banyak vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang sangat banyak. Konjugtiva8 Konjungtiva di vaskularisasi oleh arteri ciliaris anterior dan arteri palpebralis. 9 .

sisanya di forniks bawah. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan konjungtivitis inklusi pada nenonatus bersifat papilar bukan folikular dan mengapa kemudian menjadi folikular.4 Secara histologis konjungtiva terdiri atas epitel dan stroma. Saraf ini memiliki serabut nyeri yang relatif sedikit. superfisial dan basal. Mukus yang terbentuk mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata prakornea secara merata.Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan nervus trigeminus yaitu nervus oftalmikus. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus. Lapisan stroma di bagi menjadi 2 lapisan yaitu lapisan adenoid dan lapisan fibrosa. yang struktur fungsinya mirip kelenjar lakrimal terletak di dalam stroma. diatas caruncula.7 Gambar 3. Kelenjar lakrimal aksesorius (kelenjar krause dan wolfring). Kelenjar wolfring terletak di tepi tarsus atas. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas. Lapisan adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2-3 bulan. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papilar pada radang konjungtiva. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat dibandingkan sel-sel superfisial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen. Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri atas sel-sel epitel skuamous bertingkat. Sel-sel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat dan oval yang mensekresi mukus. Histologi Konjungtiva9 10 . Lapisan epitel konjungtiva terdir atas 2-5 lapisan sel epitel silindris bertingkat.

ETIOLOGI Hingga saat ini etiologi pasti pterigium masih belum diketahui secara pasti.3. Lesi menutupi kornea sampai 4 mm. progresifitasnya dan berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera . dimana lesi hanya terbatas pada limbus atau menginvasi kornea pada tepinya saja.Tipe III: Pterigium primer atau rekuren dengan keterlibatan zona optik. meskipun sering mengalami inflamasi ringan. kemungkinan diturunkan autosom dominan.4. berdebu dan berpasir.IV. yaitu: 1. Pasien yang memakai lensa kontak dapat mengalami keluhan lebih cepat. Lesi mengenai kornea > 4 mm dan mengganggu aksis visual. Lesi meluas < 2 mm dari kornea. . Lesi sering asimptomatis. Lesi yang luas khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis 11 . Keterlibatan zona optik membedakan tipe ini dengan yang lain. berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmat. Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium dan berdasarkan penelitian menunjukkan riwayat keluarga dengan pterigium. stadium. KLASIFIKASI PTERIGIUM Pterigium dapat dibagi ke dalam beberapa klasifikasi berdasarkan tipe.Tipe I : Pterigium kecil. Merupakan bentuk pterigium yang paling berat.2. Beberapa faktor resiko pterigium antara lain adalah paparan ultraviolet. . Pada tubuh pterigium sering nampak kapiler-kapiler yang membesar. infeksi mikroba atau virus. Selain itu beberapa kondisi kekurangan fungsi lakrimal film baik secara kuantitas maupun kualitas. Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa etiologi pterigium merupakan suatu fenomena iritatif akibat pengeringan dan lingkungan dengan banyak angin karena sering terdapat pada orang yang sebagian besar hidupnya berada di lingkungan yang berangin. penuh sinar matahari. konjungtivitis kronis dan defisiensi vitamin A juga berpotensi menimbulkan pterigium. Berdasarkan Tipenya pterigium dibagi atas 3 : . mikro trauma kronis pada mata.Tipe II : di sebut juga pterigium tipe primer advanced atau ptrerigium rekuren tanpa keterlibatan zona optik. Stocker’s line atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea dan kepala pterigium. dapat primer atau rekuren setelah operasi.5 V.

subkonjungtiva yang meluas ke forniks dan biasanya menyebabkan gangguan pergerakan bola mata serta kebutaan 2. • Stadium IV : jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan. Berdasarkan stadium pterigium dibagi ke dalam 4 stadium yaitu: • • • Stadium I : jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea Stadium II : jika pterigium sudah melewati limbus dan belum mencapai Stadium III : jika pterigium sudah melebihi stadium II tetapi tidak melebihi pupil. Pterigium stadium 2 Gambar 4. Pterigium stadium 1 Gambar 3. tidak lebih dari 2 mm melewati kornea. Gambar 2. pterigium dibagi menjadi 2 yaitu: Pterigium progresif : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea di depan kepala pterigium (disebut cap dari pterigium) 12 . Pterigium stadium 4 3. pinggiran pupil mata dalam keadaan cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm). Berdasarkan perjalanan penyakitnya.Pterigium stadium 3 Gambar 5.

T1 (atrofi) : pembuluh darah episkleral jelas terlihat . 3. dan paparan terhadap angin dan debu atau iritan yang lain. kerusakan membran basement dan pertumbuhan jaringan fibrotik. tebal atau tipis dan kadang terjadi displasia. vaskularisasi. 4. Kerusakan membran Bowman ini akan mengeluarkan substrat yang diperlukan untuk pertumbuhan pterigium.T3 (fleshy. inflamasi. walaupun dapat pula disebabkan oleh udara yang kering. Pada keadaan defisiensi limbal stem cell.10 PATOFISIOLOGI Terjadinya pterigium sangat berhubungan erat dengan paparan sinar matahari. atrofi. sedikit vaskular. dan angiogenesis. Epitel dapat normal. Gejala dari defisiensi limbal adalah pertumbuhan konjungtiva ke kornea. Berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus diperiksa dengan slit lamp pterigium dibagi 3 yaitu: . Pterigium ditandai dengan degenerasi elastotik dari kolagen serta proliferasi fibrovaskuler yang ditutupi oleh epitel.- Pterigium regresif : tipis. Jaringan subkonjungtiva mengalami degenerasi elastoid (degenerasi basofilik) dan proliferasi jaringan granulasi fibrovaskular di bawah epitel yaitu substansi propia yang akhirnya menembus kornea. Tanda ini juga ditemukan pada pterigium dan oleh karena itu banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pterigium merupakan manifestasi dari defisiensi atau disfungsi localized interpalpebral limbal stem cell. opaque) : pembuluh darah tidak jelas. UV-B merupakan faktor mutagenik bagi tumor supressor gene p53 yang terdapat pada stem sel basal di limbus. Pada pemeriksaan histopatologi daerah 13 .5. migrasi sel. tetapi tidak pernah hilang.11 Akibatnya terjadi perubahan degenerasi kolagen dan terlihat jaringan subepitelial fibrovaskular. terjadi konjungtivalisasi pada permukaan kornea.11 Limbal stem cell adalah sumber regenerasi epitel kornea.T2 (intermediet) : pembuluh darah episkleral sebagian terlihat . inflamasi kronis. Ekspresi berlebihan sitokin seperti TGF-β dan VEGF (vascular endothelial growth factor) menyebabkan regulasi kolagenase.5. Kerusakan kornea terdapat pada lapisan membran Bowman yang disebabkan oleh pertumbuhan jaringan fibrovaskular dan sering disertai dengan inflamasi ringan. Akhirnya menjadi bentuk membran.

Bagian kepala atau cap. Epitel diatasnya biasanya normal. 10 Pterigium memiliki tiga bagian : 1. merupakan bagian yang mobile (dapat bergerak). pada pterigium lanjut stadium 3 dan 4 dapat menutupi pupil dan aksis visual sehingga tajam penglihatan menurun.6 VII. Badan ini menjadi tanda khas yang paling penting untuk dilakukannya koreksi pembedahan11. Bagain whitish. merupakan area vesikuler pada konjungtiva bulbi dan merupakan area paling ujung. biasanya datar. 3. 2. 14 . GAMBARAN KLINIK Gejala klinis pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali. tetapi mungkin acanthotic. Area ini menginvasi dan menghancurkan lapisan Bowman pada kornea. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. Area ini juga merupakan area kornea yang kering.5. Garis zat besi (iron line/Stocker’s line) dapat dilihat pada bagian anterior kepala. lembut. dapat timbul astigmatisme akibat kornea tertarik. merasa seperti ada benda asing. merupakan sebuah lapisan vesikuler tipis yang menginvasi kornea seperti halnya kepala. Beberapa keluhan yang sering dialami pasien seperti mata sering berair dan tampak merah.Terletak langsung setelah cap.kolagen abnormal yang mengalami degenerasi elastolik tersebut ditemukan basofilia dengan menggunakan pewarnaan hematoxylin dan eosin. terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri atas fibroblast. atau bahkan displastik dan sering menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet 2. Bagian badan atau ekor. hiperkeratotik.

6.VI.6 ireguler yang VII. tetapi dapt pula ditemukan pterigium pada daerah temporal. Perigium paling sering ditemukan pada konjungtiva nasal dan berekstensi kr kornea nasal. Tindakan operatif Adapun indikasi operasi menurut Ziegler and Guilermo Pico. gatal. Selain itu perlu juga ditanyakan adanya riwayat mata merah berulang.1. serta dapat pula ditanyakan riwayat trauma sebelumnya. PENATALAKSANAAN 1. Anamnesis DIAGNOSIS Pada anamnnesis didapatkan adanya keluhan pasien seperti mata merah. ganguan penglihatan. Mengganggu visus 15 . 6 Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan tambahan yang dapat dilakukan pada pterigium adalah topografi kornea untuk menilai seberapa besar komplikasi berupa astigmtisme disebabkan oleh pterigium. riwayat banyak bekerja di luar ruangan pada daerah dengan pajanan sinar mathari yang tinggi. mata sering berair.10 2 . Konservatif Penanganan pterigium pada tahap awal adalah berupa tindakann konservatif seperti penyuluhan pada pasien untuk mengurangi iritasi maupun paparan sinar ultraviolet dengan menggunakan kacamata anti UV dan pemberian air mata buatan/topical lubricating drops.10 Pemeriksaaan fisik Pada inspeksi pterigium terlihat sebagai jaringan fibrovaskular pada permukaan konjuntiva. yaitu: Menurut Ziegler : 1. Pterigium dapat memberikan gambaran yang vaskular dan tebal tetapi ada juga pterigium yang avaskuler dan flat.

Simple closure : menyatukan langsung sisi konjungtiva yang terbuka. Bare sclera : bertujuan untuk menyatukan kembali konjungtiva dengan permukaan sklera. Mengganggu pergerakan bola mata Berkembang progresif Mendahului suatu operasi intraokuler Kosmetik Progresif. Conjungtival graft : menggunakan free graft yang biasanya diambil dari konjungtiva bulbi bagian superior. 4.2. dieksisi sesuai dengan ukuran luka kemudian 16 .112 1. tatalaksana pterigium adalah dengan tindakan operasi. Kerugian dari teknik ini adalah tingginya tingkat rekurensi pasca pembedahan yang dapat mencapai 40-75%. 6. nodul pungtat 7. 4. 2. resiko rekurensi > luas Mengganggu visus Mengganggu pergerakan bola mata Masalah kosmetik Di depan apeks pterigium terdapat Grey Zone Pada pterigium dan kornea sekitarnya ada Terjadi kongesti (klinis) secara periodik Pada prinsipnya. Sliding flap : dibuat insisi berbentuk huruf L disekitar luka bekas eksisi untuk memungkinkan dilakukannya penempatan flap. Menurut Guilermo Pico : 1.3. 3. 3. 4. 5. Ada berbagai macam teknik operasi yang digunakan dalam penanganan pterigium di antaranya adalah:1. 2. 5. 5. diman teknik ini dilakukan bila luka pada konjuntiva relatif kecil. 3. Rotational flap : dibuat insisi berbentuk huruf U di sekitar luka bekas eksisi untuk membentuk seperti lidah pada konjungtiva yang kemudian diletakkan pada bekas eksisi.

13 . Teknik Operasi Pterigium12 VIII.5 IX. eksisi jaringan konjungtiva yang sikatrik dan menutupi defek sklera dengan graft konjungtiva yang berasal dari aspek temporal. Pseudopterigium menyebabkan nyeri dan penglihatan ganda.dipindahkan dan dijahit atau difiksasi dengan bahan perekat jaringan (misalnya Tisseel VH. Pseudopterigium terjadi akibat pembentukan jaringan parut pada konjungtiva yang berbeda dengan pterigium. Gambar 3. Pada umumnya tidak diperlukan terapi tetapi pada kasus tertentu dapat diberikan steroid topikal.3. Penyebabnya termasuk cedera kornea. 1. Illionis). Tampak seperti penumpukan lemak bisa karena iritasi ataupun karena kualitas air mata yang kurang baik. dimana pada pseudopterigium terdapat adhesi antara konjungtiva yang sikatrik dengan kornea dan sklera. Penanganan pseudopterigium adalah dengan melisiskan adhesi. Astigmat Salah satu komplikasi yang disebabkan oleh pterigium adalah astigmat karena pterigium dapat menyebabkan perubahan bentuk kornea akibat adanya mekanisme 17 KOMPLIKASI Komplikasi pterigium meliputi sebagai berikut:6. Dearfield. Baxter Healthcare.8 Selain itu pterigium juga didagnosis banding dengan pinguekulum yang merupakan lesi kuning keputihan pada konjungtiva bulbi di daerah nasal atau temporal limbus. DIAGNOSIS BANDING Pterigium harus dapat dibedakan dengan pseudopterigium. cedera kimiawi dan termal.

3. Hal ini diduga akibat “tear meniscus” antara puncak kornea dan peninggian pterigium. jaringan parut. Pasien dengan pterigium rekuren dapat dilakukan eksisi ulang dan graft dengan konjungtiva autograft atau transplantasi membran amnion6 18 . Infeksi. dapat beraktivitas lagi setelah 48 jam post operasi. perdarahan vitreus dan ablasi retina. graft konjungtiva longgar. diplopia. parut kornea. 4. Mekanisme pendataran itu sendiri belum jelas. 5. Penggunaan mitomycin C post operasi dapat menyebabkan ektasia atau nekrosis sklera dan kornea Pterigium rekuren PROGNOSIS Penglihatan dan kosmetik pasien setelah dieksisi adalah baik. Komplikasi pasca eksisi adalah sebagai berikut: 1. X. 2.penarikan oleh pterigium serta terdapat pendataran daripada meridian horizontal pada kornea yang berhubungan dengan adanya astigmat. Kebanyakan pasien 2. 3. Kemerahan Iritasi Bekas luka yang kronis pada konjungtiva dan kornea Keterlibatan yang luas otot ekstraokular dapat membatasi penglihatan dan menyebabkan diplopia. perforasi mata. reaksi bahan jahitan. Astigmat yang ditimbulkan oleh pterigium adalah astigmat “with the rule” dan iireguler astigmat.

Vemuganti.bmjjournals. 5. Caldwell. 2009. British. Voughan & Asbury. New York : Thieme Stutgart. Jerome P Fisher.8-13. Clinical Approach to Depositions and Degenerations of the Conjungtiva. Oftalmologi Umum edisi 17. Cornea. 2006 8. Gerhad K. Tesis Dokter Spesialis Mata.665 [online]. Available from : www. Ilmu kesehatan Mata edisi 1. Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada. hal 40-41 4. International review of cell and molecular biology. 366 19 . Laszuarni.medscape. [online]. 6.sciencedirect. Availble from : http://bjo.com/article/1192527-overview 7. Ardalan Aminlari. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Opthalmic Pearls. Hal 119. Pterygium. Cantor. 2012 [cited 2012 August 9]. Geeta dkk. San Fransisco : American Academy of Ophtalmology. Solomon A. Louis B.S. Ravi Singh. Curr Opin Ophthalmol. International Journal of Melecular Medicine. Prevalensi Pterigium di Kabupaten Langkat. Available from: http://www.Journal.com/science/article/pii/S1937644809750051 10. Pterygium. Dan HTD.eyewiki.p. In: External Disease and Cornea. 2010. Skuta. Lang. MD. Jakarta : EGC. and David Liang. 2000 9. Current concepts and techniques in pterigium treatment. Jayne S.DAFTAR PUSTAKA 1. 2011 [cited 2012 August 9] http://emedicine.com 12. 2010 2. 11. 2009. [cited 2012 August 23]. Pterygium. Yogyakarta. 2010. P. [online] 2009. Management of Pterygium.aao. [cited 2011 December 12]. In : Ophtalmology A Pocket Textbook Atlas. 2008. Weiss. Suharjo.Ophtalmology.2007. MD. [online].org/Pterygium 3. Pathogenetic Mechanism and Treatment Options for Ophthalmic Pterygium: Trends and Perspectives (Review). Chua LLJ. Conjungtiva. M. and Sclera. Efstathios T. Gregory L. Ang KPL. MD.

2004 20 . Postgraduate Department of Opthalmology.13. Sharma KA. Jammu. Govt. Pandita A. Medical College. Wali V. Cornea-Conjungtival Auto Grafting in Pterigium Surgery.