You are on page 1of 17

Netralisasi pada pengolahan limbah cair

Sebagian besar limbah cair dari industri mengandung bahan bahan yang bersifat asam (Acidic) ataupun Basa (alkaline) yang perlu dinetralkan sebelum dibuang kebadan air maupun sebelum limbah masuk pada proses pengolahan, baik pengolahan secara biologic maupun secara kimiawi, proses netralisasi tersebut bisa dilakukan sebelum atau sesudah proses equalisasi. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan microorganisme pada pengolahan secara biologi, pH perlu dijaga pada kondisi antara pH 6,5 – 8,5, karena sebagian besar microb aktif atau hidup pada kondisi pH tersebut. Proses koagulasi dan flokulasi juga akan lebih efisien dan efektif jika dilakukan pada kondisi pH netral.
Netralisasi adalah penambahan Basa (alkali) pada limbah yang bersifat asam (pH 7).Pemilihan bahan/reagen untuk proses netralisasi banyak ditentukan oleh harga/biaya dan praktis-nya, Bahan (reagen) yang biasa digunakan tersebut adalah : Asam : -Sulfuric acid ( H2SO4 ) -Hydrochloric acid ( HCI ) -Carbon dioxide ( CCG2 ) -Sulfur dioxide -Nitric acid Basa : -Caustic soda (NaOH) Ammonia -Soda Ash (Na2CO3) Limestone (CaCO3)

Pengertian Netralisasi Netralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion hidroksida membentuk air. Konsep paling mendasar dan praktis dalam kimia asam basa tidak diragukan lagi adalah netralisasi. Fakta bahwa asam dan basa dapat saling meniadakan satu sama lain telah dikenal baik sebagai sifat dasar asam basa sebelum perkembangan kimia modern. Netralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion hidroksida membentuk air. H+ + OH-–> H2O H3O+ + OH-–> 2H2O Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida). menyatakan asam dan basa, n valensi, M konsentrasi molar asam atau basa, dan V volume asam atau basa. Dengan bantuan persamaan di atas, mungkin untuk menentukan konsentrasi basa (atau

2 Proses Netralisasi minyak Proses netralisasi atau deasidifikasi pada pemurnian minyak mentah bertujuan untuk menghilangkan asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak mentah. Proses netralisasi yang paling sering digunakan dalam industri kimia adalah proses netralisasi . CH3COOH + C2H5OH CH3CH2COOCH3 +H2O d. Kita cenderung percaya bahwa garam bersifat netral karena garam terbentuk dalam netralisasi. Contoh reaksi: a. HCl + NaOH –> NaCl + H2O asam basa garam air Selain air. Industri yang menggunakan netralisasi. bukan sebagai garam NaCl. c. Dalam reaksi netralisasi khas seperti antara HCl dan NaOH. 1. terbentuk NaCl dari ion khlorida. RCOOR+NaOH = RCOONa+ROH f. C6 H12O6 2C2H5OH + 2CO2 e. baik ion natrium dan ion khlorida berada secara independen sebagai ion. natrium khlorida akan tinggal. K+ + Cl. H+ + OH-–> H2O Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida). ion lawan basa.asam) yang konsentrasinya belum diketahui dengan netralisasi larutan asam (atau basa) yang konsentrasinya telah diketahui. b. Asalkan reaksi netralisasinya berlangsung dalam air. dan ion natrium. dan reaksi asam basa melibatkan ion-ion ini. Asam lemak bebas (FFA) dapat menimbulkan bau yang tengik. Bila air diuapkan. Prosedur ini disebut dengan titrasi netralisasi. B. ion lawan dari proton. Industri garam Setiap asam atau h = garam memiliki ion lawannya. Memang NaCl bersifat netral. Zat yang terbentuk dalam netralisasi semacam ini disebut dengan garam.= KCl C. HCl + NaOH -> NaCl + H2O (Asam klorida direaksikan dengan Natrium hidroksida akan menghasilkan Natrium Klorida (garam) dan air.

Soda kostik yang direaksikan biasanya berlebihan. 4. NaBr Reaksi Netralisasi . Industri sabun Reaksi saponifikasi pada sabun adalah contoh reaksi netralisasi. Sabun yang terbentuk dipisahkan dengan cara pengendapan. Sediakan APAR di sekitar area proses netralisasi. dan penenang saraf. dimana reaksinya merupakan reaksi kesetimbangan yang akan bergeser ke sebelah kanan. NaOH + HBr 4. K+ + Cl. Industri KCl KCl berfungsi sebagai pembuat pupuk. K3 netralisasi: 1. 3. RCOOR+NaOH = RCOONa+ROH 5. Gunakan APD dengan baik. yang reaksi penyabunannya sebagai berikut : R----COOH + NaOH R-COONa + H2O Kondisi reaksi yang optimum pada tekanan atmosfir adalah pada suhu 70 oC. juga memiliki sifat penghilang warna (decoulorization). 3. sekitar 5 % dari kebutuhan stokiometris. Soda kostik disamping berfungsi sebagai penetralisir asam lemak bebas. membuat pasta gigi. dengan prinsip reaksi penyabunan antara asam lemak bebas dengan larutan soda kostik.= KCl D. adanya pemeriksaan instilasi listrik. Industri NaBr NaBr adalah sejenis garam yang berfungsi sebagai pelarut. 2.dengan soda kostik. adanya pemeriksaan instilasi alat.

seperti dibawah ini : Reaksi : H2SO4 + Ca(OH)2 → CaSO4 + 2 H2O 2 H+ SO42.+ Na+ OH.+ Ca2+ 2 OH.+ H+ OHReaksi netralisasi yang lain ditunjukan oleh reaksi antara asam sulfat H2SO4 dengan calcium hidroksida Ca(OH)2. reaksi netralisasi Ditulis oleh Zulfikar pada 19-05-2010 Reaksi netralisasi merupakan reaksi penetralan asam oleh basa dan menghasilkan air.→ Ca2+ SO42.→ Na+ Cl.+ 2H+ 2 OH- PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA KIMIA . Hasil air merupakan produk dari reaksi antara ion H+ pembawa sifat asam dengan ion hidroksida (OH-) pembawa sifat basa.→ H2O Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O Reaksi ion : H+ Cl.Kata Kunci: asam basa. reaksi : H+ + OH.

dan gas transfer. pada reaksi tersebut akan dihasilkan garam yaitu NaCl. cair. HCl + NaOH → NaCl + H2O Dimana Na merupakan Y dan Cl merupakan X. sebagai contoh reaksi netralisasi yaitu natrium hidroksida dengan asam clorida seperti berikut.Pengolahan air limbah secara KIMIA merupakan pengolahan air limbah dengan penambahan bahan kimia (padat. mempunyai tujuan tertentu. Berbagai reaksi netralisasi seperti berikut : HCl + NaOH → NaCl + H2O . Proses ini dilakukan pada awal proses (pengkondisian) air limbah sebelum dilakukan proses lanjutan atau pada akhir proses sebelum air limbah dibuang kelingkungan dalam rangka memenuhi standar baku mutu air limbah yaitu pH 6-9. setiap proses a. Beberapa air limbah memiliki derajat keasaman (pH) asam dan basa. Proses Netralisasi Proses netralisasi bertujuan untuk melakukan perubahan derajat keasaman (pH) air limbah. Beberapa proses pengolahan air limbah secara kimia seperti Netralisasi. Berbagai reaksi yang terjadi pada proses netralisasi : YOH + HX → XY + H2O Y dan X mewakili monovalen kation dan anion. Koagulasi/flokulasi. dan gas) kedalam air limbah. dalam proses netralisasi diharapkan pH air limbah menjadi netral atau berkisar 6-9. XY merupakan garam yang terbentuk.

bahan terlarut (berukuran < nanometer). mekanisme destabilisasi partikel seperti terlihat dalam gambar berikut. Proses flokulasi dibutuhkan untuk penggabungan partikel dengan mennggunakan bahan kimia sehingga mempercepat waktu pengendapan partikel (flok). Partikel yang telah berikatan akan mudah untuk dipisahkan secara fisik (sedimentasi. perubahan muatan partikel dapat dilakukan dengan berbagai bahan kimia tetapi bahan kimia yang bervalensi 3 (trivalent) sepuluh kali lebih efektif dibanding dengan . dibutuhkan basa untuk netralisasi dan sebaliknya. Pada netralisasi air limbah dapat pula terbentuk padatan sehingga dibutuhkan proses pemisahan padatan. Pada proses koagulasi (destabilisasi) dibutuhkan bahan kimia yang mampu merubah muatan partikel. dan filtrasi). Pada air limbah yang bersifat asam. dan bersifat endotermis yaitu natrium karbonat dengan asam asetat.2 HCl + Mg → MgCl2 + H2 H2SO4 + NaOH → Na2SO4 + H2O Reaksi yang terjadi pada netralisasi ada yang bersifat eksotermis (the enthalpy of neutralization) seperti reaksi antara natrium hidroksida dengan asam clorida. Air limbah pada umumnya mengandung padatan tersuspensi. Padatan-padatan dalam air pada umumnya bermuatan negatif dan padatan-padatan tersebut sangat sulit dipisahkan secara fisik (sedimentasi dan filtrasi dengan media padat) dan dapat dilakukan secara kimia melalui proses koagulasi-flokulasi Koagulasi merupakan proses destabilisasi partikel. b. flotasi. partikel koloid (berukuran < 1 mikron). sedangakan flokulasi merupakan proses penggabungan partikel yang telah mengalami proses destabilisasi. Proses Koagulasi-Flokulasi Koagulasi dan flokulasi merupakan proses pengolahan air dan air limbah secara kimia yaitu dengan penambahan bahan kimia kedalam air limbah. Proses destabilisasi partikel dilakukan dengan penambahan bahan kimia yang bermuatan positif yang dapat menyelimuti permukaan partikel sehingga partikel tersebut dapat berikatan dengan partikel lainnya.

7 H2O Ca(OH)2 FeCl3 Fe2(SO4)3 Berat molekul 666.1 400 Berbagai reaksi yang terjadi pada penambahan koagulan kedalam air atau air limbah seperti reaksi-reaksi berikut ALUMINIUM SULPHATE Al2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 → 2 Al(OH)3 + 3CaSO4 + 6 CO2 Aluminum Sulfate + Calcium Bicarbonate Aluminum Hydroxide + Calcium + Sulfate Carbon Dioxide (ada dalam air yang diolah) FERRIC SULFATE Fe2(SO4)3 + 3 Ca(HCO3)2 → 2 Fe(OH)3 + 3CaSO4 + 6 CO2 .7 278. Bahan kimia yang sering dipergunakan dalam proses koagulasi seperti tercantum dalam tabel berikut. Koagulan Aluminium sulphate Ferrous sulphate Lime Ferric chloride Ferric sulphate Formula Al2(SO4)3 .0 56 sebagai CaO 162.18 H2O Fe (SO4).bervalensi 2 (divalent).

Ferric Sulfate + Calcium Bicarbonate Ferric Hydroxide + Calcium Sulfate + Carbon Dioxide FERRIC CHLORIDE 2 Fe Cl3 Ferric Chloride + + 3 Ca(HCO3)2 → Calcium Bicarbonate 2 Fe(OH)3 Ferric Hydroxide + 3CaCl2 + + Calcium Chloride 6CO2 + Carbon Dioxide FERROUS SULFATE FeS04 Ferrous Sulfate + + Ca(HCO3)2 → Calcium Bicarbonate Fe(OH)2 Ferrous Hydroxide + CaS04 + + 2CO2 + Carbon Dioxide Calcium Sulfate SODIUM ALUMINATE 2 Na2Al2O4 + Sodium Aluminate + Ca(HCO3)2 → Calcium Carbonate 8 Al(OH)3 + 3 Na2CO3 + + 6 H20 + Water Aluminum Hydroxide Sodium Carbonate Na2Al2O4 Sodium Aluminate + + CO2 → Carbon Dioxide 2 Al(OH)3 + NaCO3 + Sodium Carbonate Aluminum Hydroxide Na2Al2O4 + MgCO3 → MgAl2O4 + Na2CO3 .

800 700 .1500 Waktu tinggal (jam) 2–8 2–8 4–8 Flokulasi merupakan suatu peristiwa penggabungan partikel-partikel yang telah mengalami proses destabilisasi (koagulasi) dengan penambahan bahan kimia (flokulan) sehingga terbentuk partikel dengan ukuran lebih besar (macrofloc) yang mudah untuk diendapkan.4.Jenis flokulan Sumber flokulan Flokulan Mineral Silika aktif Tanah liat (koloid) : bentonit Logam hidroksida (aluminium dan ferri hidroksida) Flokulan organik Turunan pati (pati singkong. dan kentang) Polisakarida Kitosan Gelatin dan alginat Jenis flokulan .Perancangan sedimentasi berdasarkan jenis koagulan Jenis Koagulan Aluminium Besi Kapur-Soda Laju alir limpahan (gallon/hari-ft2) 500 .Sodium Aluminate + Magnesium Carbonate Magnesium Aluminate + Sodium Carbonat Berbagai parameter perancangan sedimentasi untuk koagulasi berdasarkan jenis koagulan yang dipergunakan seperti tercantum dalam tabel berikut Tabel .1000 700 . Tabel . Mekanisme flokulasi seperti terlihat dalam gambar 4. berikut Beberapa jenis bahan kimia yang berfungsi sebagai flokulan seperti tercantum dalam tabel berikut.

sedangkan flokulan yang bermuatan positif akan bereaksi dengan partikel bermuatan negatif seperti silika maupun bahan-bahan organik. bermuatan positif (cationic) dan netral (nonionic). Kecepatan putaran pengaduk pada pengolahan dengan tangki berpengaduk berpengaruh terhadap ukuran flok yang terbentuk. semakin lama waktu pengadukan pembentukan . sedangkan pada proses flokulasi lebih lambat sekitar 50 rpm. 3. Konsentrasi padatan yang terkandung dalam air limbah. Untuk proses koagulasi kecepatan putaran pengaduk sekitar 100 rpm.Flokulan sintetis Polyethylene-imines (cationic) Polyamides-amines (cationic) Polyamines (cationic) Polyethylene-oxide (nonionic) Komponen karboksil dan sulfonate (anionic) Polyacrylamide (nonionic) Flokulan sintetis merupakan flokulan yang diproduksi dengan berbagai kebutuhan sehingga flokulan ini diproduksi bermuatan negatif (anionic). Kecepatan aliran air limbah masuk dalam tangki (jika kecepatan aliran dimanfaatkan untuk pengadukan) 5. tetapi hukum itu tidak berlaku secara umum karena flokulan negatif dapat mengikat tanah liat yang bermuatan negatif. Waktu pengadukan berkaitan dengan mekanisme pembentukan flok. Waktu pengadukan (waktu tinggal). Jenis koagulan yang dipergunakan. pada umumnya jika konsentrasi padatan atau zat terlarutnya tinggi akan dibutuhkan konsentrasi koagulan yang lebih kecil (diperlukan penelitian pendahuluan) 2. hal ini disebabkan karena jenis koagulan tertentu akan bekerja baik pada derajat keasaman (pH) air limbah tertentu. Dalam proses koagulasi-flokulasi beberapa hal yang perlu diperhatikan : 1. Jenis koagulan yang akan diaplikasikan tergantung pada karakteristik air limbahnya. Kecepatan putaran pengaduk (jika menggunakan tangki berpengaduk). kecepatan putaran pengaduk dapat memecah flok yang sudah terbentuk. Konsentrasi padatan atau zat terlarut dalam air limbah akan mempengaruhi kebutuhan konsentrasi koagulan yang dibutuhkan dalam pengolahan air limbah. 4. flokulan bermuatan negatif dapat bereaksi dengan partikel bermuatan negatif seperti garam-garam dan logam-logam hidroksida.

luas penampang pengaduk (A). OPTIMASI PROSES KOAGULASI DAN FLOKULASI Keberhasilan proses koagulasi dan flokulasi dalam pengolahan air limbah dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya : 1. 7. dan drag coefisien (CD). yang dikenal dengan bilangan Camp yaitu menghubungkan GRADIEN KECEPATAN dengan Waktu Pengadukan : Bilangan Camp (Ca) = Gradien Kecepatan x waktu pengadukan. Waktu Pengadukan Dalam optimasi proses diarahkan kepada perancangan peralatan tangki berpengaduk yang efisien. Dalam pengelolaan flok yang perlu diperhatikan adalah apakah flok dapat dioleh kembali menjadi bahan kimia baru. kekuatan flok tertentu dan berat jenis flok tertentu. Pada proses pengolahan air limbah secara kimia dihasilkan padatan (flok). Konsentrasi koagulan 2. Jenis padatan (flok) yang dihasilkan. flok yang dihasilkan perlu dilakukan pengelolaan sehingga tidak menghasilkan limbah padat meskipun jumlahnya tidak banyak. dan Persamaannya seperti berikut. Untuk optimasi proses dipergunakan persamaan Camp. Gradien kecepatan (G) merupakan fungsi dari Daya yang dibutuhkan (P). Pengelolaan flok yang dihasilkan. Kecepatan Putaran Pengadukan 3.5 tanda (^) ini berarti pangkat Daya (P) merupakan fungsi dari kecepatan putaran pengaduk (rev).floknya akan semakin sempurna dan mudah untuk diendapkan. produk baru dan sebagainya. Jenis flok yang terbentuk tergantung pada jenis air limbah dan koagulan yang dipergunakan. pada pemakain jenis koagulan tertentu akan menghasilkan flok tertentu. G = {P/(Mu x V)}^0. 6. densitas air limbah (rho). tetapi jika terlalu lama terkadang flok yang sudah terbentuk akan pecah kembali. Viskositas air limbah (Mu) dan Volume air limbah (V). P = (CD x A x rho x Rev^3 )/2 CD : drag coefisien yang merupakan fungsi dari bilangan Reynold (NRe) literatur) (lihat . Dalam proses pengolahan air limbah secara kimia yang diharapkan adalah terbentuk flok yang kuat dan mudah untuk diendapkan dan pengendapan membutuhkan waktu yang relatif cepat.

densitas air limbah (rho) 2.NRe = (Rev x dp x rho)/(Mu). serta luas pengaduk.000 . Cari sifat fisik air limbah yaitu viskositas (Mu). dan waktu pengadukan (t). dengan dp : diameter pengaduk. Injeksi gas ozon kedalam pengolahan air limbah bertujuan untuk proses oksidasi .95 % Penurunan COD : 50 . Tentukan diameter pengaduk yang dipergunakan (dp) dan kecepatan putaran pengaduk (rev) 3. Bilangan Camp inilah yang sering diperguanakn sebagai landasan dalam optimasi proses koagulasi dan flokulasi. dapat dihitung besarnya drag koefisien (CD) 5. maka dapat menghitung besarnya Daya (P) 6. Dengan mengetahui nilai Daya (P). maka besarnya bilangan Camp (Ca) dapat dihitung. diameter pengaduk (dp) dan kecepatan putaran pengaduk (rev). nilai bilangan Reynold (NRe) dapat dihitung. Dengan mengetahui nilai CD. Dengan mengetahui harga viskositas (Mu). Injeksi gas chlor kedalam pengolahan air bertujuan untuk membunuh bakteri 2. Dengan mengetahui nilai Gradien kecepatan (G). peristiwa gas transfer (injeksi gas kedalam air limbah) sering terjadi seperti : 1. Langkah pengerjaan : 1.70 % Penurunan BOD : 50 . Gas Transfer (injeksi gas kedalam air limbah) Pada pengolahan air limbah. KINERJA PROSES PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA KIMIA (KOAGULASI & FLOKULASI)    Penurunan padatan tersuspensi : 85 . Bilangan Camp terbaik untuk proses koagulasi dan flokulasi adalah 10. rho dan rev.70 % c.000 (bilangan tak berdimensi). Dengan mengetahui bilangan Reynold (NRe) dan mempergunakan grafik (lihat literatur). 4. Volume air limbah (V) dan viskositas (Mu) maka dapat menghitung nilai Gradien kecepatan (G) 7.100. densitas (rho).

Injeksi udara kedalam pengolahan air limbah bertujuan untuk proses oksidasi. . Ukuran gelembung gas/udara mempengaruhi proses kelarutan gas/udara. 2. 3. Tekanan cairan (terkait dengan tinggi cairan diatas distributor gas/udara). Pemasangan distributor gas/udara pada bagian bawah air limbah akan mendapatkan tekanan hidrostatik dari air limbah tersebut. Kelarutan gas/udara didalam air limbah sangat penting untuk diketehui. menjaga kehidupan mikroorganisme (proses pengolahan air limbah secara biologi) Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam injeksi gas/udara kedalam air limbah : 1.3. Ukuran gelembung gas/udara dalam air limbah. NETRALISASI MINYAK Netralisasi ialah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak. sehingga ketinggian air limbah diatas distributor perlu diperhatikan agar gas/udara dapat terdistribusi didalam air limbah dengan baik. Kelarutan gas/udara tersebut didalam air limbah. Tujuan proses netralisasi adalah untuk menghilangkan asam lemak bebas (FFA) yang dapat menyebabkan bau tengik. Pendistribusian gas/udara didalam air limbah bertujuan agar distribusi gas/udara merata pada setiap bagian air limbah. ini berkaitan dengan perhitungan berapa laju alir gas/udara yang diinjeksikan kedalam air limbah. semakin kecil ukuran gelembung gas/udara semakin baik proses kelarutannya. Pemisahan asam lemak bebas dapat juga dilakukan dengan cara penyulingan yang dikenal dengan istilah de-asidifikasi. Distribusi gas/udara didalam air limbah. dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). 4. menjaga agar air limbah tidak berbau. sehingga perlu pengaturan pemasangan distributor gas/udara yang baik. Penentuan kelarutan gas/udara sangat tergantung kepada Tekanan dan Temperatur.

kelebihan alkali akan menyebabkan reaksi hidrolisis trigliserida dan membentuk sabun yang berlebihan sehingga dapat menurunkan jumlah atau rendemen minyak hasil pemurnian. Jumlah NaOh yang ditambahkan berkisar 0. minyak dengan larutan alkali dicampur dan diaduk selama waktu tertentu. ( Estiasih. Berikut ini adalah gambar proses netralisasi minyak : . Penghilangan sisa sabun dan embun dihitung dalam tahap pencucian dan pengeringan. Untuk menghilangkan pengotor berupa gum di dalam minyak digunakan H3PO4 selanjutnya dipisahkan melalui cara pengendapan (decantion) atau dengan sentrifugasi. Sebaliknya jika jumlah dankonsentrasi alkali kurang. Jika jumlahnya berlebihan. pemucatan (bleaching) dan penghilangan bau (deodorisasi). 2009 ) Netralisasi juga menghasilkan penghilangan fosfat. Setelah alkali dan asam lemak bebas bereaksi dilakukan hidrasi untuk memudahkan pemisahan fraksi tersabunkan dan fraksi tidak tersabunkan. Pada tahap pencampuran. Asam lemak bebas merupakan pengotor dalam minyak yang harus dihilangkan karena mempunyai stabilitas terhadap oksidasi yang lebih rendah dibandingkan trigliserida sehingga keberadaannya meningkatkan kerentanan minyak terhadap oksidasi ( mudah teroksidasi ). reaksi penyabunan tidak sempurna dan masih banyak asam lemak bebas yang tertinggal dalam minyak. dan pemisahan.PROSES NETRALISASI MINYAK Pemurnian (refining) minyak meliputi tahapan netralisasi. Setelah proses hidrasi selesai.5 kg NaOH per ton minyak per 1% FFA. Teknik pemisahan yang dapat dilakukan adalah dengan cara dekantasi atau sentrifugasi. Netralisasi dilakukan untuk mengurangi FFA untuk meningkatkan rasa dan penampakan minyak. tahap selanjutnya adalah pemisahan fraksi tersabunkan dan fraksi tidak tersabunkan atau minyak. asam lemak bebas. Netralisasi dilakukan dengan mereaksikan NaOH dengan FFA sehingga membentuk endapan minyak tak larut yang dikenal sabun (soapstock). hidrasi. kemudian kedua fraksi tersebut dipisahkan. Tahap pemurnian minyak meliputi tahap pencampuran minyak meliputi tahap pencampuran minyak dengan larutan alkali.1% atau sekitar 1. dan warna. — pdf teknologi minyak kelapa Pada pemurnian ini jumlah dan konsentrasi alkali yang digunakan harus tepat.

vitamin E dan karotenoid hanya sebagian kecil dapat dikurangi dalam proses netralisasi. Jumlah larutan soda kaustik yang ditambahkan pada minyak pada proses pemurnian biasa dinyatakan sebagai treat.142 = bobot molekul NaOH dan asam oleat ALB = kadar asam lemak bebas dinyatakan dalam persen Kelebihan = kelebihan larutan NaOH . resin dan suspensi dalam minyak yang tidak dapat dihilangkan dengan proses pemisahan gum. Nilai treat didasarkan pada jumlah NaOH dengan konsentrasi tertentuyang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak termasuk kelebihan ( excess ) yang diperlukan. monogleserida. Netrasi juga akan menyabunkan sejumlah kecil minyak netral (trigleserida. klorofil. digliserida dan trigliserida). Netralisasi menggunakan kaustik soda dapat menghilangkan fosfatida.Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut : R-COOH + NaOH RCOONa + H2O sabun yang terbentuk dapat membantu pemisahan zat warna dan kotoran seperti fosfolida dan protein dengan cara membentuk emulsi. Sabun atau emulsi yang terbentuk dapat dipisahkan dari minyak dengan cara sentrifugasi. Treat biasanya dinyatakan sebagai persen dengan perhitungan sebagai berikut : Keterangan : Treat = Persentase (b/b) larutan NaOH yang dibutuhkan untuk pemurnian minyak ikan dengan bobot tertentu 0. protein. Komponen minor dalam minyak berupa sterol.

14. langsung dari minyak tanpa mereaksikannya dengan larutan . Pemisahan Asam (de-acidification) dengan Cara Penyulingan Proses pemisahan asam dengan cara penyulingan adalah proses penguapan asam lemak bebas. sedangkan ammonia yang digunakan dapat diperoleh kembali dari soap stock dengan cara penyulingan dalam ruangan vakum 4. Hasil yang diperoleh merupakan campuran antara pelarut dan minyak yang disebut dengan miscella. antara lain : 1. Minyak dengan mutu baik biasanya dimurnikan dengan 12. Netralisasi minyak dalam bentuk ―miscella‖ Cara ini digunakan pada minyak yang diekstrak dengan menggunakan pelarut menguap ( solvent extraction ). Pemurnian biasanya dilakukan pada 10-30°Be. asam lemak bebas dapat dinetralkan tanpa menyabunkan trigliserida. Netralisasi dengan Natrium Karbonat (Na2CO3) Keuntungan menggunakan persenyawaan karbonat adalah karena trigliserida tidak ikut tersabunkan. atau 16°Be. 3. Asam lemak bebas dalam micelle dapat dinetralkan dengan menggunakan kaustik soda atau natrium karbonat. yaitu perbandingan antara kehilangan total karena netralisasi dan jumlah asam lemak bebas dalam lemak kasar. kelemahan ini dapat diatasi karena gas CO2 yang dihasilkan dapat dihilangkan dengan cara mengalirkan uap panas atau dengan menurunkan tekanan udara di atas permukaan minyak dengan menggunakan pompa vakum. 2.Derajat Baume menunjukkan ( strength ) larutan NaOH berdasrkan bobot jenisnya. Suatu kelemahan dari pemakaian senyawa ini adalah karena sabun yng terbentuk sukar dipisahkan. sehingga nilai refining factor dapat diperkecil. Efisiensi netralisasi dinyatakan dalam refining factor. Netralisasi dengan Etanol Amin dan Amonia Etanol Amin dan Amonia dapat digunakan untuk netralisasi asam lemak bebas. Selain cara yang telah disebutkan diatas. Sedangkan sabun yang terbentuk dapat dipisahkan dengan cara menambahkan garam dan minyak netral dapat dipisahkan dari pelarut dengan cara penguapan. Hal ini disebabkan karena gas CO2 yang dibebaskan dari karbonat akan menimbulkan busa dalam minyak. Makin kecil nilai refining factor. Namun. masih terdapat metode-metode lain yang bias digunakan dalam proses netralisasi minyak. maka semakin tinggi pula nilai efisiensi netralisasinya. Pada proses ini.

Dengan menggunakan alcohol sebagai pelarut. penggunaan uap pada proses penyulingan akan membawa sejumlah kecil fraksi trigliserida. Minyak kasar dengan kadar asam lemak bebas yang tinggi umumnya mengandung fraksi mono dan digliserida yang terbentuk dari hasil hidrolisa sebagian molekul trigliserida.basa. Pelarut yang paling baik digunakan utuk memisahan asalm lemak bebas adalah furfual dan propane. maka trigliserida akan terpisah. Piridine merupakan pelarut minyak dan jika ditambahkan air dalam jumlah kecil.1-0. Trigliserida tidak larut dalam pyridine. Pemisahan asam lemak bebas dengan cara penyulingan digunakan untuk menetralkan minyak kasar yang mengandung kadar asam lemak bebas relative tinggi. maka asam lemak bebas yang tertinggal dalam minyak dengan kadar lebih rendah dari 1% harus dinetralkan dengan menggunakan persenyawaan basa. Minyak kasar yang akan disuling terlebih dahulu dipanaskan dalam alat penukar kalor (heat exchanger). kadar asam lemak bebas dalam minyak setelah penyulingan sekitar 0. . Untuk menghindari kerusakan minyak selama proses penyulingan karena suhu yang terlalu tinggi. sedangkan minyak kasar yang mengandung asam lemak bebas lebih keil dari 8% lebih baik dinetralkan dengan penggunaan senyawa basa. 5. maka kelarutan trigliserida dalam alcohol akan bertambah besar seiring dengan bertambahnya kadar asam lemak bebas. sehingga pemisahan antara asam lemak bebas dari trigliserida lebih sukar dilakukan. Minyak dapat dipisahkan dari pelarut dengan cara dekantasi sedangkan pelarut dipisahkan dari asam lemak bebas dengan cara penyulingan. sedangkan asam lemak bebas tetap larut sempurna. Pada umumnya. sedangkan hasil kondensasi masih mengandung sekitar 5% trigliserida. sehingga asam lemak yang terpisah tetap utuh.2% . Jadi. Pemisahan asam dengan menggunakan Pelarut Organik Perbedaan kelarutan antara asam lemak bebas dan trigliserida dalam pelarut organic digunakan sebagi dasar pemisahan asam lemak bebas dari minyak.