Presentasi Kasus PENATALAKSANAAN ANESTESI UMUM PADA PERITONITIS GENERALISATA ET CAUSA SUSPECT PERFORASI GASTER Disusun oleh : Retno

Esti Respati Wirandari G 0002128 Pembimbing : dr. MH. Sudjito, Sp.An.KNA KEPANITERAAN KLINIK LAB / SMF ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FAK. KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2008 KATA PENGANTARPuji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga presentasi kasus dengan judul “PENATALAKSANAAN ANESTESI UMUM PADA PERITONITIS GENERALISATA ET CAUSA SUSPECT PERFORASI GASTER” dapat diselesaikan. Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kepaniteraan klinik di SMF Anestesiologi dan Reanimasi di FK UNS / RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Prof. Dr. dr. St. Mulyata, SpAnKIC, selaku kepala bagian Anestesi dan Reanimasi FK UNS / RSUD Dr. Moewardi Surakarta. 2. dr. MH. Sudjito, SpAn,KNA selaku pembimbing. 3. dr. Soemartanto, SpAn.KIC, selaku staf ahli anestesi.

4. dr. Purwoko, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 5. dr. Sugeng Budi Santosa, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 6. dr. Benny Suryo Sudibyo, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 7. dr. H. Marthunus Judin, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 8. dr. R. TH. Supraptomo, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 9. dr. Eko S, SpAn, selaku staf ahli anestesi. 10. Seluruh staf dan paramedis yang bertugas di bagian anestesi RSUD Dr. Moewardi Surakarta. 11. Semua pihak yang telah membantu selama penulisan laporan ini. Saran dan kritikan kami harapkan demi perbaikan laporan ini. Akhirnya penyusun berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan semua pihak yang berkepentingan. Surakarta, Agustus 2008 Penyusun DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL………………………………………………………i KATA PENGANTAR…………………………………………………… ii iiDAFTAR ISI……………………………………………………………… iii BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………… 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 3 BAB III. LAPORAN KASUS………………………………………… 18 BAB IV. PEMBAHASAN……………………………………………… 26 BAB V. KESIMPULAN……………………………………………… 28 DAFTAR PUSTAKA iiiBAB I

PENDAHULUAN Kemajuan ilmu kedokteran dewasa ini khususnya bidang pembedahan tidak terlepas dari peran dan dukungan kemajuan bidang anestesiologi. Dokter spesialis bedah sehari – hari sekarang dapat melakukan pembedahan yang luas dan rumit pada bayi baru lahir sampai orang tua dengan kelainan yang berat, melakukan pembedahan jantung, transplantasi berbagai organ tubuh, yang berlangsung berjam-jam dengan aman tanpa rasa sakit sedikitpun adalah akibat dukungan tindakan anestesi yang canggih. Anestesi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan yang meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi inhalasi, dan penanggulangan nyeri menahun. Anestesi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : (1) anestesi lokal, yaitu suatu tindakan menghilangkan nyeri lokal tanpa disertai hilangnya kesadaran, dan (2) anestesi umum yaitu keadaan ketidaksadaran yang reversible yang disebabkan oleh zat anestesi, disertai hilangnya sensasi sakit pada seluruh tubuh. Sebagian besar operasi ( 70-75 %) dilakukan dengan anestesi umum, lainnya dengan anestesi lokal / regional. Dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu tahap pra anestesi, tahap penatalaksanaan anestesi dan pemeliharaan, serta tahap pemulihan dan perawatan pasca anestesi. Tahap pra anestesi merupakan tahap persiapan yang sangat menentukan keberhasilan suatu anestesi. Hal yang penting dalam tahap ini adalah : (1) menyiapkan pasien, yang meliputi riwayat penyakit pasien, keadaan umum pasien, dan mental pasien, (2) menyiapkan teknik, obat-obat, dan macam anestesi

yang digunakan. Untuk melakukan anestesi dengan aman salah satu persyaratan yang harus dipenuhi adalah mengetahui kasiat. sampai penderita benar-benar pulih dan cukup stabil untuk dipindah ke bangsal. sirkulasi. . efek samping dan cara kerja obat anestesi. induksi. Pada tahap pemulihan. dan kedalaman anestesi. distensi perut. dan pemeliharaan. 1Tahap pelaksanaan anestesi meliputi premedikasi. sampai stadium anestesi dikehendaki. Perlunya pemantauan pada tahap ini yaitu pernafasan. Pada kasus ini diperlukan tindakan laparatomi explorasi mengingat dari temuan pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler. BAB II 2TINJAUAN PUSTAKA A. Pada setiap upaya pembedahan diperlukan anestesi sebagai upaya untuk menghilangkan nyeri. Pada kasus ini anestesi yang digunakan adalah anestesi umum yaitu hilangnya rasa sakit di seluruh tubuh disertai hilangnya kesadaran yang bersifat sementara dan reversible yang diakibatkan oleh obat anestesi. dilakukan secara berkala dan terusmenerus untuk menghindari penyulit atau komplikasi yang dapat terjadi. induksi. Obat-obat yang diberikan dapat berupa obat inhalasi atau intravena. lekositosis yang mendukung ke arah peritonitis generalisata. pengawasan ketat masih harus dilakukan. PERITONITIS GENERALISATA Hampir semua kelainan abdomen yang bersifat akut memerlukan pembedahan sebagai upaya untuk diagnosis dan terapi. maintenance dan lain – lain. nyeri tekan yang meluas. (3) memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang timbul pada waktu pelaksanaan anestesi dan komplikasi yang timbul pasca anestesi. Dalam memberikan obat – obat pada penderita yang akan menjalani operasi maka perlu diperhatikan tujuannya yaitu sebagai premedikasi.

terutama diethyleter) menurut Guedel.Stadium II : excitement. Dibagi 4 plane yaitu : 3Plane 1 : dari timbulnya pernafasan teratur thoracoabdominal. Plane 2 : ventilasi teratur. frekuensi nafas meningkat. kegelisahan atau muntah. reflek cahaya positif. ANESTESI UMUM Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali ( reversible ). anakmata terfiksasi di tengah. . reflek cahaya mulai menurun dan reflek kornea negative. dengan teknik open drop: . Plane 3 : ventilasi teratur dan sifatnya abdominal karena .Stadium III : stadium pembedahan. Komponen anestesi yang ideal terdiri dari hipnotik. Abdominothoracal. tonus otot mulai menurun. Tanda-tanda klinis anesthesia umum (menggunakan zat anestesi yang mudah menguap. Pada kasus ini anestesi yang digunakan adalah anestesi umum. reflek faring dan muntah negative.B.Stadium I : analgesia dari mulanya induksi anestesi hingga hilangnya kesadaran. pupil mulai midriasis. analgesia dan relaksasi otot. anak mata terfiksasi kadang – kadang eksentrik. volume tidal menurun. . Stadium ini berakhir ditandai dengan hilangnya reflek bulu mata. dari mulai respirasi teratur hingga berhentinya respirasi. mungkin terdapat batuk. lakrimasi meningkat. pupil miosis. Rasa nyeri belum hilang sama sekali sehingga hanya pembedahan kecil yang dapat dilakukan pada stadium ini. dari hilangnya kesadaran hingga mulainya respirasi teratur.

Adapun tujuan pra anestesi adalah: a. biokimiawi. Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology) 4ASA I Pasien normal sehat. tonus otot makin menurun. kelainan bedah terlokalisir. PERSIAPAN PRA ANESTESI Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. tanpa kelainan faali. reflek laring dan peritoneum negative. lakrimasi tidak ada.terjadi kelumpuhan saraf interkostal. pemeriksaan fisik. b. c. pupil midriasis dan reflek sfingter ani dan kelenjsar air mata negative. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal dengan melakukan anamnesis. Plane 4 : ventilasi tidak teratur dan tidak adekuat karena otot diafragma lumpuh yang makin nyata pada akhir plana. dari timbulnya paralisis diafragma hingga cardiac arrest.Stadium IV : overdosis. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien. . tonus otot sangat menurun. dan psikiatris. 1.. pupil melebar dan sentral. laboratorium dan pemeriksaan lain. Angka mortalitas 2% ASA II Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai .

Tindakan operasi hampir tak ada harapan.dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. angina menetap. 1. memberikan analgesia. Adapun tujuan dari premedikasi antara lain : 1. Angka mortalitas 16% ASA III Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian / live style terbatas. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi. membuat amnesia. Angka mortalitas 38% ASA IV Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa. Misal : insufisiensi fungsi organ. misal : diazepam 3. tujuan premedikasi bukan hanya untuk mempermudah induksi dan mengurangi jumlah obatobatan yang digunakan. misal : diazepam. memberikan rasa nyaman bagi pasien. Premedikasi anestesi adalah pemberian obat sebelum anestesi. Angka mortalitas 98%. Angka mortalitas 68% ASA V pasien dengan kemungkinan hidup kecil. 2. menghilangkan rasa khawatir. tidak selalu sembuh dengan operasi. misal : diazepam. PREMEDIKASI ANESTESI Dewasa ini dengan kemajuan teknik anestesi. misal pethidin . Untuk operasi cito. midazolam 4. ASA ditambah huruf E. tetapi terutama untuk menenangkan pasien sebagai persiapan anestesi.

pethidin. dan rencana anestesi yang akan digunakan. 9. misal : pethidin 57. 6. 4. misal prometazine. Antasida. misal pethidin 8. derajat kecemasan. riwayat pemakaian obat anestesi sebelumnya. status fisik. misal : sulfas atropin. misal : sulfas atropin dan hiosin Premedikasi diberikan berdasar atas keadaan psikis dan fisiologis pasien yang ditetapkan setelah dilakukan kunjungan prabedah. mencegah muntah. misal : droperidol 6. 5. Antihistamin. Transquillizer yaitu dari golongan Benzodiazepin. misal pentobarbital. mengurangi jumlah obat-obat anesthesia. Dengan demikian maka pemilihan obat premedikasi yang akan digunakan harus selalu dengan mempertimbangkan umur pasien.5. Barbiturat. misal gelusil. Narkotik analgetik. macam operasi. misal diazepam dan midazolam. berat badan. menekan reflek-reflek yang tidak diinginkan. . 3. 7. H2 reseptor antagonis. riwayat hospitalisasi sebelumnya. riwayat penggunaan obat tertentu yang berpengaruh terhadap jalannya anestesi. misal atropin dan hiosin. misal cimetidine. perkiraan lamanya operasi. sekobarbital. misal morfin. mengurangi sekresi kelenjar saluran nafas. Sesuai dengan tujuannya. 2. memperlancar induksi. Antikolinergik. penobarbital. maka obat-obat yang dapat digunakan sebagai obat premedikasi dapat digolongkan seperti di bawah ini: 1.

5 mg atropin merangsang N vagus 6dan menurunkan frekuensi jantung. faring. disorientasi. Obat premedikasi yang digunakan dalam kasus ini adalah: a. Atropin mengurangi sekresi hidung. Terhadap saluran cerna. benzodiazepin. dan bronkus. delirium. halusinasi. atropin merangsang medulla oblongata dan pusat lain di otak. frekuensi jantung menurun.25-0. Dalam dosis 0. Lebih lanjut dapat terjadi depresi dan paralisis medulla oblongata. mulut. Pengaruh atropin terhadap jantung bersifat bifasik. dan antikolinergik. Terhadap saluran nafas. misalnya kombinasi narkotik. Pada dosis yang besar sekali atropin menyebabkan depresi nafas. Terhadap system kardiovaskuler. dalam pemakaian sehari-hari dipakai kombinasi beberapa obat untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. yang akan menyebabkan . Sulfas Atropin Sulfas atropin termasuk golongan anti kolinergik. eksitasi. dan perangsangan lebih jelas di pusat yang lebih tinggi. mungkin disebabkan karena perangsangan nukleus nervus vagus.5 mg yang sering digunakan. Atropin bersifat menghambat peristaltik lambung dan usus serta mengurangi sekresi liur dan lambung. Dengan dosis 0. Terhadap SSP. Saluran kemih ini dipengaruhi oleh atropin dalam dosis yang agak besar (kira-kira 1 mg).Karena khasiat obat premedikasi yang berlainan tersebut. Saluran kemih. Bradikardi biasanya tidak nyata dan tidak disertai perubahan tekanan darah atau curah jantung.

IM. Efek samping lain bisa juga timbul muka merah yang disebabkan efeknya terhadap vasodilatasi pembuluh darah. tapi penderita berobat jalan dapat timbul sinkop orthostotik karena hipotensi akibat vasodilatasi perifer karena pelepasan histamin. Pethidin Merupakan derivat fenil piperidin yang efek utamanya. akan menurunkan tidal volume sedang 7frekuensi nafas kurang dipengaruhi sehingga efek depresi nafas tidak disadari.retensi urin yang disebabkan oleh relaksasi muskulus detrusor dan konstriksi sfingter uretra.5 mg. Pada saluran nafas. muntah dan pusing pada penderita yang berobat jalan. Obat ini juga meningkatkan kepekaan alat keseimbangan sehingga menimbulkan mual. Pada orang tua terjadi efek sentral terutama sindrom demensia. gangguan miksi.25 dan 0. Efek samping atau toksik pada orang muda adalah mulut kering. tapi masa kerja lebih pendek. Sediaan : dalam bentuk sulfat atropin dalam ampul 0. dan meteorismus.02 mg/ kgBB. obat ini tidak mempengaruhi sistem kardiovaskuler. Pemberian : SC. Absorbsi pethidin berlangsung baik pada semua cara pemberian. Dosis toksik menimbulkan perangsangan SSP misal tremor. Secara sistemik menimbulkan anestesi kornea dengan akibat hilangnya refleks kornea. Efek analgetik timbul lebih cepat setelah pemberian SC atau IM. Pada pemberian IV kadarnya dalam darah akan turun cepat 1-2 jam . kedutan otot dan konvulsi. IV b.01-0. depresi nafas dan efek sentral lain. Dosis : 0. Pada penderita rawat baring.

Sediaan : dalam ampul 100 mg/ 2cc Dosis : 1-2 mg/ kgBB Pemberian : IV. Pemberian intravena propofol (2 mg/kg BB) menginduksi anestesi secara cepat seperti tiopental. Hal ini diperkuat dengan premedikasi dengan opiat. 8Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. tetapi jarang disertai dengan phlebitis atau trombosis. Sesudah pemberian Propofol IV terjadi depresi pernapaasan sampai apnea selama 30 detik. IM. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan.pertama. menghasilkan analgesia pra dan pasca bedah. Aliran darah ke otak. memudahkan melakukan pemberian pernafasan buatan .25% gliserol. Keuntungan Propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi . DIPRIVAN ) Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi berisi 10% minyak kedelai. INDUKSI DI-ISOPROPYL PHENOL ( PROPOFOL. Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung. Tak jelas adanya interaksi dengan obat pelemas otot.SC 1. metabolisme otak dan tekanan intrakanial akan menurun. 2. Keuntungan penggunaan obat ini adalah memudahkan induksi.2 % phosphatide telur. dan 1. mengurangi kebutuhan obat anestesi. Pethidin dimetabolisme di hati dan dikeluarkan lewat ginjal sekitar 1/3 dosis yang diberikan. dan dapat diantagonis dengan naloxon.

Terjadi mual. muntah dan sakit kepala mirip dengan thiopental. mudah menguap (volatile).5-2. Merupakan obat anestesia yang potent. berbau enak serta tidak merangsang / iritasi. tidak mudah meledak atau terbakar. mudah diuraikan oleh cahaya karena itu harus disimpan dalam botol berwarna gelap (ambard). dan . kekuatan 4-5 kali eter atau 2 kali kloroform. Halothane mendepresi pernafasan yang pada tingkat permulaan menyebabkan pernafasan lebih cepat (takipnu) dan dangkal. Cepatnya induksi dan pemulihan dari anestesi berguna dalam pasien rawat jalan yang memerlukan prosedur yang cepat dan singkat. Uap halothane tidak menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan karenanya induksi mudah dicapai tanpa batuk-batuk atau eksitasi.yang minimal. Halothane Merupakan cairan yang tidak berwarna.5 mg/kg BB Pemberian : IV 2. tidak bereaksi dengan soda lime absorber. Sediaan : dalam ampul. Efek terhadap SSP sama dengan obat anestesia lain pada umumnya yaitu mendepresi kortek serebral dan medulla. PEMELIHARAAN Obat anestesi maintenance yang digunakan dalam kasus ini adalah: a. 200mg/20cc Dosis : 1. Overdosis relatif mudah terjadi dengan gejala kegagalan pernafasan dan sirkulasi yang dapat menyebabkan kematian. Pengaruhnya terhadap kardiovaskular adalah vasodilatasi yang menimbulkan hipotensi dan bradikardi.

Menurut mekanisme kerjanya. 70% : 30% atau 50% : 50%. Terhadap SSP menimbulkan analgesi yang berarti. 9Halothane juga mempunyai efek relaksasi yang moderat terhadap sistem otot. Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan. dan tidak bereaksi dengan soda lime absorber (pengikat CO2). 1. Gas ini tidak mempunyai sifat merelaksasi otot. tetapi dapat melalui stadium induksi dengan cepat. . dosis pemeliharaan 0. OBAT PELUMPUH OTOT Obat golongan ini menghambat transmisi neuromuscular sehingga menimbulkan kelumpuhan pada otot rangka. Nitrous Oksida /Gas Gelak (N2O) Merupakan gas yang tidak berwarna. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi selesai. tidak berasa. tidak mudah terbakar/meledak.5-2% Pemberian : inhalasi b.pada stadium lebih dalam dapat timbul gagal nafas (henti nafas). lebih berat dari udara. Penggunaan dalam anestesi umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40% . Dosis : dosis induksi 2-4%. berbau manis dan tidak iritatif. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan oksigen. obat ini dibagi menjadi 2 golongan yaitu obat penghambat secara depolarisasi resisten. karena gas ini tidak larut dalam darah. oleh karena itu pada operasi abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. hal ini terjadi karena Nitrous Oksida mendesak oksigen dalam ruangan-ruangan tubuh. Mempunyai sifat anestesi yang kurang kuat.

esmeron (rokuronium bromida).Kelumpuhan berkurang dengan penambahan obat pelumpuh otot non depolarisasi dan asidosis . isoflurane .Tidak menunjukkan kelumpuhan bertahap pada perangsangan tunggal atau tetanik .misalnya suksinil kolin. halothane. obat ini memudahkan dan menguragi cedera tindakan laringoskopi dan intubasi trakea. pavulon (pankuronium bromida).Menunjukkan kelumpuhan yang bertahap pada perangsangan tunggal atau tetanik .Contoh: tracrium (atrakurium besilat).Contoh: suksametonium (suksinil kolin) b. .Belum dapat diatasi dengan obat spesifik . Depolarisasi.Berpotensiasi dengan antikolinesterase . 2 golongan obat pelumpuh otot yaitu : 10a. eter. enfluran. Non depolarisasi . . obat anestetik inhalasi.Ada fasikulasi otot . norkuron (pankuronium bromida).Tidak ada fasikulasi otot . dan obat penghambat kompetitif atau nondepolarisasi . serta memberi relaksasi otot yang dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali. Dalam anestesi umum . hipotermia.Dapat diantagonis oleh antikolinesterase . misal kurarin.Berpotensiasi dengan hipokalemia.

sedangkan lama kerja atrakurium dengan dosis relaksasi 15-35 menit. • Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna 11Kemasan dibuat dalam 1 ampul berisi 5 ml yang mengandung 50 mg atrakurium besilat.2 mg/kgBB/ iv Mula dan lama kerja atrakurium bergantung pada odsis yang dipakai. • Tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang.6 mg/kgBB/iv Dosis relaksasi otot : 0. dan ginjal yang berat. Beberapa keunggulan atrakurium dibandingkan dengan obat terdahulu antara lain adalah : • Metabolisme terjadi dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut reaksi kimia hoffman.6 mg/kgBB/iv Dosis pemeliharaan : 0. Atrakurium dapat menjadi obat terpilih untuk pasien geriatrik atau pasien dengan penyakit jantung.5 – 0. Stabilitas larutan sangat bergantung pada penyimpanan pada suhu dingin dan perlindungan terhadap penyinaran.1 – 0. 6.Obat pelumpuh otot yang digunakan dalam kasus ini adalah : Atrakurium besilat (tracrium) Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang relatif baru yang mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman leontice leontopetaltum. Pada umumnya mula kerja atrakurium pada dosis intubasi adalah 2-3 menit.5 – 0. Dosis intubasi : 0. Pemulihan fungsi syaraf otot dapat terjadi secara spontan (sesudah lama kerja obat berakhir) atau dibantu dengan pemberian antikolinesterase. hati. Reaksi ini tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal. ANTAGONIS PELUMPUH OTOT .

Mempermudah pemberian anestesi. sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dibantu atau dikendalikan. dan spasme saluran cerna. selama pipa endotrakeal dimasukkan. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial. bronkospasme. Obat ini mengalami metabolisme oleh kolinesterase serum dan bentuk utuh obat sebagian diekskresi melalui ginjal. pemeliharaan jalan nafas. 122. berkeringat. pembentukan sekret jalan nafas dan kelenjar liur. 4. tindakan anestesi. 6. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas. Mempunyai efek nikotinik. Dosis 0. muskarinik dan stimulan otot langsung.5 mg bertahap hingga 5 mg. hiperperistaltik.sedangkan ekstubasi trakea adalah tindakan pengeluaran pipa endotrakeal.5 mg. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung. Efek muskarinik antara lain bradikardi.Neostigmin Metil Sulfat ( Prostigmin ) Merupakan antikolinesterase yang mencegah hidrolisis dan menimbulkan akumulasi asetilkholin. 3. 5. Komplikasi tindakan intubasi trakea dapat terjadi saat dilakukannya tindakan laringoskopi dan intubasi. 7. Intubasi trakea bertujuan untuk : 1. Indikasi intubasi trakea adalah: tindakan resusitasi. INTUBASI TRAKEA Suatu tindakan memasukkan pipa khusus ke dalam trakea. Pemakaian ventilasi yang lama. Mengatasi obstruksi laring akut. . dan pemberian ventilasi mekanis jangka panjang. dan setelah ekstubasi. Biasanya diberikan bersama – sama dengan atropin dosis 1 – 1. miosis dan kontraksi vesika urinaria.

Setiap kenaikan suhu 1 0 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10-15%. penghisapan isi lambung. elektrolit dan darah yang hilang selama operasi. Mengatasi syok dan kelainan yang ditimbulkan karena terapi yang diberikan. Defisit cairan ekstra sel yang terjadi dapat diduga dengan berat ringannya dehidrasi yang terjadi. peritonitis. muntah.C. Dehidrasi ringan ( defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 4% dari berat badan ). Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk : 1. Pemberian cairan operasi dibagi : 1. 13Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kg BB / jam. Pra operasi Dapat terjadi defisit cairan karena pemasukan kurang. 2. dehidrasi sedang ( defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 6% dari berat badan ). dan dehidrasi berat ( defisit cairan ekstrasel sesuai dengan 8% dari berat badan ). misalnya terapi dengan menggunakan diuretic. penumpukan cairan pada ruang ketiga (ruang ekstra sel yang tidak berfungsi). seperti pada ileus obstriktif. puasa. Memenuhi kebutuhan cairan. Cairan yang diberikan bisa berupa cairan elektrolit (ringer laktat. . adanya fistula enterokutan. TERAPI CAIRAN Prinsip dasar terapi cairan adalah cairan yang diberikan harus mendekati jumlah dan komposisi cairan yang hilang.

Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi : f. Kebutuhan untuk pemeliharaan c. atau ringer laktat. dan 25% nya lagi pada jam ketiga. 25% nya pada jam kedua. Terjadinya translokasi cairan pada daerah operasi ke dalam ruang ketiga. dan hiperventilasi. Defisit cairan karena puasa. Kecuali penilaian terhadap keadaan umum dan kardiovaskuler. Sedang= 6 ml / kgBB/jam h. 50% nya diberikan pada jam I. Terjadinya perdarahan. g. Bila terjadi perdarahan selama operasi. Selama operasi Pada pemberian cairan selama pembedahan. di mana perdarahan kurang dari 10 % EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang. tanda rehidrasi telah tercapai ialah dengan adanya produksi urin 0.9%).5-1 ml/ kg BB/ jam 2. Bertambahnya “insensible loss karena suhu kamar bedah yang tinggi. Kekurangan cairan pra bedah b. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat .NaCl 0. Berat = 8 ml / kgBB/jam. kalau perlu diberikan cairan koloid. Cairan yang diberikan ringer laktat dalam dekstrose 5%. Ringan= 4 ml/kgBB/jam. d. harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: a. e.

Pasien yang dikelola adalah pasien pasca anestasi umum ataupun anestesi regional. Menggigil yang terjadi pasca bedah adalah akibat efek vasodilatasi obat anestesi. PEMULIHAN Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca atau anestesi. dan sirkulasinya sudah baik ataukah tidak. atau hipoksia. Hipoksia dan hiperkarbi terjadi pada pasien dengan gangguan jalan nafas dan ventilasi. hipotermi. . Menggigil akan menambah beban jantung dan sangat berbahaya pada pasien dangan penyakit jantung. dan hiperkarbi. Setelah operasi 14Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi ditambah kebutuhan sehari-hari pasien. Ruang pulih sadar merupakan batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU.dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran / darah dengan dosis 1-2 kali darah yang hilang. Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya. Sadar yang berkepanjangan adalah akibat dari pengaruh sisa obat anestesi. D. pasca bedah dini juga dapat terjadi muntah yang dapat menyebabkan aspirasi. 1. Di ruang pulih sadar dimonitor jalan nafasnya apakah bebas ataukah tidak. Monitor kesadaran merupakan hal yang penting karena selama pasien belum sadar dapat terjadi gangguan jalan nafas. Selain obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang atau karena spasme laring. ventilasinya cukup atau tidak.

15BAB III ILUSTRASI KASUS IDENTITAS PENDERITA 1. J 3. CM : 910322 2. Jenis Kelamin : Laki-laki 5. No. Keluhan utama : Nyeri di seluruh lapang perut b. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 16 jam sebelum masuk rumah sakit. Tanggal Masuk : 11 Agustus 2008 11. Diagnosa Preoperatif : Peritonitis Generalisata et causa suspect Perforasi Gaster 7. PEMERIKSAAN PRA ANESTESI 1. Macam Anestesi : General anestesi (Anestesi umum) 10. Alamat : Masaran. namun tidak muntah. penderita mengeluhkan nyeri di seluruh lapang perut yang terus-menerus. Anamnesa a. Umur : 65 tahun 4. Diagnosa Postoperatif : Peritonitis Generalisata et causa Perforasi Hollow viscus 8. demam (-). Nyeri tidak menjalar. nyeri bertambah bila penderita berjalan dan makan makanan. Tanggal Operasi : 11 Agustus 2008 A. Macam Operasi : Laparatomi eksplorasi 9. Nyeri disertai mual. awalnya nyeri dirasakan di ulu hati. lama-kelamaan meyebar ke seluruh lapang perut. Sragen 6. Nama : Tn. .

JVP tidak meningkat. sekret (-) Mulut : sianosis (-). sklera ikterik (-/-) Hidung : nafas cuping hidung (-). Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat nyeri perut kanan bawah : (-) Riwayat DM : (-) Riwayat hipertensi : (-) Riwayat asma dan penyakit paru : (-) Riwayat sakit jantung : (-) Riwayat alergi obat dan makanan : (-) 1.Buang air kecil dan buang air besar tidak ada keluhan. pendengaran baik Leher : glandula thyroid di tengah. pembesaran limfonodi (-). gizi kesan kurang Tensi : 110 / 70 mmHg Nadi : 88 x/menit Suhu Axiler : 37. compos mentis. 16c. deviasi trakea (-) Thorax : retraksi (-) Pulmo I : Pengembangan paru kanan = kiri . gigi goyah / palsu (-) Telinga : sekret (-). Karena nyeri yang semakin bertambah penderita langsung dibawa ke RSUD Dr Moewardi Solo.2 °C Respirasi : 28 x/menit Berat badan : 55 kg Mata : konjungtiva anemis (-/-). Pemeriksaan fisik: Keadaan Umum : lemah.

akral dingin (-) Rectal Toucher : TMSA dbn.Sonor A: Suara dasar : vesikuler (+/+) Suara tambahan : wheezing (-) Jantung I : Ictus cordis tidak tampak P : Ictus cordis tidak kuat angkat P : Batas jantung kesan tidak melebar 17A : Bunyi jantung I-II intensitas normal. ampula tidak kolaps. mukosa licin. feses (-). metalik sound (-). defans muskuler (+). darm contour (-). hepar dan lien tak teraba P : Hipertimpani (+) A : peristaltik (+) ↓ . massa (-). 2. darm steifung (-) P : Nyeri tekan (+) seluruh lapang perut.4 % .5 g/dl Hct : 34. prostat tidak membesar. STLD (-). distended (+). nyeri tekan (+) di seluruh lapangan pemeriksaan. reguler. bising (-) Abdomen : I : Dinding perut > dinding dada. Pemeriksaan penunjang Laboratorium Darah : Hb : 11. borborigmi (-) Ekstremitas : oedem (-).P : Fremitus raba kanan = kiri P : Sonor .

000 /uL Gol. nadi 88 x/menit.5 g/dl. peristaltik menurun. suhu axiller 37.3 detik APTT : 25. defans muskuler (+). abdomen: didapatkan nyeri tekan di seluruh lapang perut.darah : B PT : 14.106 /uL AL : 4.4 mg/dl Albumin : 3.7 mmol/L Clorida : 112 mmol/L 3.AE : 3. dengan keluhan utama nyeri di seluruh lapang perut.700 /uL AT : 323.1 detik GDS : 78 mg/dl Ureum : 51 mg/dl Kreatinine : 1. dan didiagnosa : Peritonitis generalisata et causa suspect perforasi gaster.5 g/dl Natrium : 146 mmol/L Kalium : 3. BB 55 kg. Dari pemeriksaan fisik didapatkan : Vital Sign : tekanan darah 110/70 mmHg. usia 65 tahun. respirasi rate 28x/menit. . Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan Hb 11. Kesimpulan Pasien seorang laki-laki.1 mg/dl Protein total : 6. Cor dan pulmo dalam batas 18normal.79.2o C.

line e. Kreatinine 1. Metoclopramid 10 mg iv. Persiapan operasi a. Suhu tubuh pasien di bawah 38 0 C c. Kalium 3. AT 323.1 mg/dl. Premedikasi : Sulfas Atropin 0. RENCANA ANESTESI 1. Ketorolac 30 mg iv . Konsul ICU untuk pengelolaan post op 2. AL 4.25 mg iv. Jenis anestesi : General Anestesi 3. B. Koreksi cairan hingga produksi urine 0. Whole Blood 2 kolf i. GDS 78 mg/dl.5-1 cc/kgBB/jam h.Hct 34. Kelainan sistemik : (-). Akan dilakukan Laparatomi eksplorasi dengan General Anestesi.V. Natrium 146 mmol/L.4 %.000 uL.700 uL. Miloz 3 mg iv. Infus RL .5 respirasi terkontrol 4. Pethidin 50 mg iv. Persetujuan operasi tertulis ( + ) b. NaCl g. Kegawatan bedah : (+).7 mmol/L. Puasa > 6 jam atau pasang NGT d. Oksigenasi 3 L / menit f. ion Clorida 112 mmol/L. Status fisik : ASA II E. Teknik anestesi : Semi closed inhalasi dengan Endotracheal Tube no 7. Pasang I. Ureum 51 mg/dl.

dan perdarahan 9. Di ruang persiapan a. Pengawasan pasca anestesi di ruang pulih sadar.V 6. b.V 8. Succinyl choline 60 mg I.V serta pethidin 50 mg I.00 dilakukan pemeriksaan kembali identitas penderita.25 pemeriksaan tanda-tanda vital T : 110/70 mmHg Rr : 24 x/menit N : 84 x/menit o C b.25 mg I. D. kedalaman anestesi. . Di ruang operasi a. Jam 11.V 19 Maintenance 10 mg I. Jam 11. TATA LAKSANA ANESTESI 1.V. Monitoring : Tanda vital selama operasi tiap 5 menit. Pelumpuh otot : Atracurium 30 mg I. lembar konsul anestesi.5. Mengganti pakaian penderita dengan pakaian operasi. Induksi : Propofol 100 mg I.8 2. lama puasa 6 jam. S : 36.40 penderita ditidurkan di ruang operasi telentang dilakukan premedikasi pemberian SA 0. cairan. Infus NaCl 40 tetes/menit terpasang pada tangan kanan. Jam 11. persetujuan operasi. obatobatan dan perlengkapan yang diperlukan. c.4 vol % 7.V. Maintenance : N20 : 02 = 2 L : 3 L Sevoflurane 2 .

dimasukkan Succinyl choline 60 mg I. alat anestesi dilepas.05 130/70 72 99 Tracrium 10 mg I. Untuk maintenance digunakan Sevoflurane 2 .55 anestesi sudah cukup dalam (napas teratur.V. Ketorolac 30 mg iv kemudian stetoskop dan manset dipasang pada tangan kanan.55 145/70 72 99 17. Jam 14.35 140/66 70 99 16. Miloz 3 mg iv. Infus diganti NS 16. Setelah terpasang baik dihubungkan dengan mesin anestesi untuk mengalirkan O2 3 l/menit dan N2O 2 l/menit.Metoclopramid 10 mg iv. dan penderita dipindahkan ke ICU. 20d.V.15 138/74 68 99 SA 1 ampul I. Prostigmin 1 ampul I.V Jam 17.V.7. Jam 11.10 operasi selesai.40 120/52 68 99 Tracrium 10 mg I. tampak fasikulasi otot. selama operasi tanda vital dan Sat O2 dimonitor tiap 5 menit. c.45 dilakukan induksi dengan Propofol 100 mg I.45 145/68 78 99 16.V 17. Setelah reflek bulu mata menghilang. Monitoring Selama Anestesi 16.10 135/65 67 99 17.V. pupil terfiksasi sentral dan midriasis). Sesudah tenang dilakukan intubasi dengan orotrachea no.5.50 142/70 72 99 16. Jam 11. b.4 vol %.00 130/68 80 99 17. ahli bedah dipersilakan memulai operasi. face mask didekatkan pada hidung dengan O2 6 l/menit.10 Operasi selesai . lalu segera kepala diekstensikan.

5 : 3.10 Anestesi selesai Jam 17.V.40 118/60 72 99 Induksi Propofol 100 mg I. Operasi dimulai dan monitoring tanda – tanda vital tiap 5 menit. Bila tensi turun di bawah 90 mmHg.Jam 17. Terpasang infus RL 15.20 130/80 76 20 O2 3 L / menit.45 160/98 80 99 N20 : 02 = 2.V. Rawat pasien posisi terlentang. kontrol vital sign. berikan Remopain 1 amp. lendir dihisap dan monitoring tanda – tanda vital.55 112/60 78 99 .30 120/70 80 20 17. Halothane 1.V. 15.5 vol % dan Tracrium 30 mg I. Instruksi Pasca Anestesi a. 17.5 total flow 6 L / menit. infus dipercepat. Lain-lain Jam Tensi Nadi Sa02 Keterangan 15. Bila kesakitan. Succinyl choline 50 mg I. b.50 120/70 84 20 1.50 Pasien dipindah ke bangsal Monitoring Pasca Anestesi Jam Tensi Nadi RR Keterangan 17.50 130/60 70 99 15. O2 6 L / menit dan intubasi.40 120/80 80 20 17. berikan Primperan 1 ampul. Bila muntah.

. Cito yang jika tidak segera dilakukan pembedahan.Analgetik dari bagian bedah . bedah maupun anestesi. bila < 10 mg/dL.16.Kontrol balance cairan .25 130/58 72 99 16. PERMASALAH DARI SEGI MEDIK Meningkatnya laju metabolisme tubuh karena radang. A.15 127/59 64 99 16. B. pemeriksaan fisik akan dibahas masalah yang timbul. . bisa mengancam jiwa pasien . .10 130/58 65 99 Tracrium 10 mg I.Puasa sampai dengan flatus. PERMASALAHAN DARI SEGI BEDAH 1.05 123/65 58 99 Infus RL 16. dimana kebutuhan cairan dapat meningkat. operasi.Monitor vital sign BAB IV PEMBAHASAN Dari hasil kunjungan pra anestesi baik dari anamnesa.00 105/60 72 99 16.V 16.Post operasi cek Hb.Anti biotik dari bagian bedah. transfusi sampai dengan Hb > 10 mg/dL.30 130/74 74 99 21.20 127/60 70 99 16. baik dari segi medis. sehingga pasien dapat mengalami dehidrasi. Dapat terjadi sepsis.

d. Iatrogenik (resiko kerusakan organ akibat pembedahan) Dalam mengantisipasi hal tersebut. Teknik anestesinya semi closed inhalasi dengan pemasangan endotrakheal tube. Kemungkinan perdarahan durante dan post operasi. dan perencanaan ini sudah tepat karena bila dengan face mask bahaya aspirasi .2. rasa sakit dan amnesia dengan menggunakan premedikasi sulfas atropin dan pethidin. f. Pemeriksaan laboratorium darah Permasalahan yang ada adalah : c. Bagaimana memperbaiki keadaan umum penderita sebelum dilakukan anestesi dan operasi. Pemeriksaan pra anestesi Pada penderita ini telah dilakukan persiapan yang cukup. Jenis anestesi yang dipilih adalah general anestesi karena pada operasi ini diperlukan hilangnya kesadaran. 3. Macam dan dosis obat anestesi yang bagaimana yang sesuai dengan keadaan umum penderita. PERMASALAHAN DARI SEGI ANESTESI 1. juga perlu dipersiapkan darah untuk mengatasi perdarahan. 22C. antara lain : a. Pemasangan infus untuk terapi cairan sejak pasien masuk RS. Puasa paling tidak 6 jam untuk mengosongkan lambung. sehingga bahaya muntah dan aspirasi dapat dihindarkan. g. Puasa lebih dari 6 jam (pasien sudah puasa selama 6 jam) b. Dalam memperbaiki keadaan umum dan mempersiapkan operasi pada penderita perlu dilakukan : e. maka perlu dipersiapkan jenis dan teknik anestesi yang aman untuk operasi yang lama.

Maintenance Dipakai N2O dan O2 dengan perbandingan 2.V b. halothane mempunyai efek relaksasi yang moderat.V karena memiliki efek induksi yang cepat. 1.V sebagai pelemas otot. 1. Juga digunakan halothane 1. mengurangi kebutuhan obat anestesi dan memudahkan induksi digunakan Pethidin 50 mg I.V 232.5 vol %. Digunakan Propofol 100 mg I. maka diberikan Succinyl choline 50 mg I. Untuk mengurangi rasa sakit pra bedah dan pasca bedah.5 L/3. Untuk mengurangi cedera karena pemasangan endotracheal tube. Selain itu. dengan distribusi dan eliminasi yang cepat.dan terganggunya jalan napas lebih besar h.25 mg I. Induksi a. di mana kekuatan anestesinya 4-5 kali eter atau 2 kali kloroform. Halothane tidak merangsang / menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan sehingga induksi mudah dicapai tanpa batuk-batuk atau eksitasi.V dan dilanjutkan dengan pemberian Tracrium 30 mg I. merelaksasikan otot saluran napas. Relaksasi otot abdominal hanya dapat dicapai pada stadium dalam di mana telah terjadi .5L. masa pemulihan berjalan cepat. Selama operasi dipasang ET teknik cepat. Untuk mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus serta mencegah adanya vagal reflek yang ditimbulkan oleh tindakan bedah itu sendiri maka diberikan Sulfas atropin 0. yang merupakan anestesi inhalasi yang potent. b. Terhadap sistem otot. Premedikasi a.

5 jam = (35 cc x 55 kg x 1. Kebutuhan cairan selama operasi besar dan karena trauma operasi selama 1. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita mengetahui kondisi pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul . Defisit cairan karena puasa 6 jam 35 cc x 55 kg x 6/24 jam = 481. Terapi Cairan a.overdosis.31 cc c.25 cc b. maka penambahan cairan masih diperlukan saat pasien di bangsal ditambah kebutuhan cairan perhari selama 24 jam.56 cc e. Perdarahan yang terjadi = 450 cc EBV = 70 cc x 55 kg = 3850 cc Jadi kehilangan darah = 450/3850 x 100% = 11. 5.31 + 1350 = 2511. Kebutuhan cairan total = 481.56 cc.25 + 680. Cairan yang sudah diberikan : 1).3125 cc + 660 cc = 780. 25BAB V KESIMPULAN Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap operasi yang melibatkan anestesi. Pra anestesi = 1000 cc 2).68 % Diganti dengan cairan kristaloid 3 x 450 = 1350 cc 24d.5/24 jam) + (8 cc x 55 kg x 1. Saat operasi = 1500 cc Total cairan yang masuk = 2500 cc Jadi kurang cairan sebesar 11.5 jam) = 120.

cetakan I. Penuntun Praktis Anestesi. Boston. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. CV Infomedia.C. edisi ke. Jakarta. Muhardi. Jakarta. Wirjoatmojo. Gan. 1982. Selama di ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius. Anastesiologi. Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya permasalahan yang ada diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi dapat ditekan seminimal mungkin.7 respirasi terkontrol. Farmakologi dan terapi. J. Anestesiologi dan Reanimasi Modul Dasar Untuk Pendidikan S1 Kedokteran. 1994. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2 nd edition. FKUI. Dengan diagnosis Peritonitis Generalisata et causa Appendicitis Perforasi dengan menggunakan teknik anestesi semi closed dengan ET no. M. usia 19 tahun. Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. status fisik ASA II E. bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. 1986. dkk. 2000 . Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada operasi cito laparatomi pada penderita laki-laki. 1989. Jakarta.sehingga dapat mengantisipasinya. 26DAFTAR PUSTAKA Dobson Michael B. K. Sulistia. Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung dengan baik meskipun ada hal-hal yang perlu mendapat perhatian. Manual of Anasthaesiology.3 FKUI. Little Brown and Company. Snow.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful