Beberapa Model dalam Proses Peradilan Pidana Herbert L.

Packer dalam bukunya yang terkenal ―The Limits of the Criminal Sanction (1968); mengemukakan bahwa ada dua model dalam Sistem Peradilan Pidana, yaitu Crime Control Model (CCM), dan Due Process Model (DPM). Kedua model tersebut di atas yang disoroti adalah sebuah usaha yang memberi petunjuk operasional terhadap kompleksnyanilai-nilai yang mendasarinya. Hukum pidana sebagaimana disarankan oleh Packer adalah untuk menentukan dua sistem nilai yang berlawanan, yakni suatu ketegangan dari yang terlibat dalam hal ini, yaitu para pembuat undang-undang, hakim polisi, pengacara dan penuntut umum, dimana masingmasing nilai menjadi gambaran bagi pihak yang terlibat dan selalu bertentangan pada setiap gerak sesuai dengan waktu dan tokoh yang diwakili pada tiap proses kriminal itu. Adapun nilainilai tersebut merupakan suatu alat bantu analisis dan pertentangan kedua model itu tidak absolut dan merupakan abstraksi dari masyarakat Amerika, serta merupakan suatu cara pemeriksaan tentang bagaimana suatu perundang-undangan itu berjalan atau diterapkan dalam Peradilan Pidana di Amerika (Packer, 1968: 197). Kedua model tersebut di atas oleh Packer bukanlah label dari Das Sollen dan Das Sein, tetapi diartikan sebagai suatu hal yang mana baik dan tidak baik atau ideal, kedua model ini sebagai cara untuk memudahkan, bila membicarakan tentang tata kerja suatu proses yang dalam pelaksanaan sehari-hari melibatkan suatu rangkaian yang terjadi dalam proses peradilan pidana. Adapun nilai dasar dari kedua model itu yakni bahwa peraturan perundang-undangan itu harus ada terlebih dahulu perumusannya sebagai suatu tindak pidana yang diancam dengan pidana setiap pelanggarannya. Dan sebelum seseorang dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana, maka peraturan perundang-undangan yang dibuat itu menjadi dasar utama bagi penegak hukum dalam penerapannya. Jika ternyata terjadi pelanggaran terhadap ketentuan Perundang-undangan itu, maka pelaku tindak pidana harus diproses oleh pejabat yang diberi kewenangan untuk mengabil tindakan hukum sejak tahap pengangkatan, penahanan, sampai diadakan penuntutan di pengadilan. Kemudian dari kewenangan yang diberikan itu oleh Perundang-undangan, maka aparat penegak hukum dalam mengambil tindakannya terhadap tersangka harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku tersebut. Hak tersangka harus dihormati dan perlakuan terhadapnya tidak boleh sewenang-wenang. Hal yang penting dikemukakan oleh Packer selain beberapa asas dalam pelaksanaan sistem peradilan pidana, yaitu tersangka tidak dibenarkan untuk dijadikan sebagai obyek pemeriksaan semata-mata, oleh karenanya Jaksa mempunyai kewajiban untuk membuktikan kesalahan terdakwa, karena berkenaan dengan posisinya sebagai Penuntut Umum. Adapun ciri khas dari crime control model itu ialah sangat mengandalkan ―Profesionalisme‖ untuk mencapai effisiensi yang tinggi. Penanganannya dengan memakai atau menggunakan Assembly Line (ban berjalan). Karena profesional yang merupakan sifatnya, maka peraturan

Kemudian selalu mengadakan chek and recheck (obstacle couse) dan hal ini harus diuji menurut peraturan. . Kemudian model yang kedua yakni Due Process Model dengan ciri-ciri selalu menganggap penting adanya refresif kejahatan. paksaan dan penyiksaan. Ia mengatakan bahwa Family Model itu tersebut juga sebagai model pertempuran. Untuk Indonesia yang mengakui dan melindungi hak-hak asasi manusia.yang bersifat formal sering dilanggar. dengan terlebih dahulu mengadakan telaah dari kedua model yang dikemukakan oleh packer. dimana persoalannya adalah seseorang yang belum dipidana belum dinyatakan bersalah. Pada bagian lain Griffith mengemukakan suatukasus Armstead. Family Model ini sangat banyak mengakui harkat dan martabat manusia dan hal itu tidak dikaitkan dengan asas Presumption of Innocent. misalnya dalam bentuk hak-hak-hak yang dimiliki oleh tersangka/terdakwa selama proses penyelesaian perkara pidana. penangkapan. semua orang meski berhak untuk diperlakukan baik. atas dasar legal guilt. sangat diperlukan peranan Bantuan Hukum yang dalam hal ini ialah pengacara untuk mendampingi tersangka sejak di tingkat penahanan. meskipun seseorang itu dinyatakan bersalah namun harus tetap dihormati. Namun di pihak lain dapat pula menjamin hak asasi manusia. 1970: 359 – 383). Ciri berikutnya adalah menghormati undang—undang. Pada model lain dari proses peradilan pidana dikemukakan oleh John Griffith dalam ―The Third Model of Criminal Process‖ (1970. dan kadang-kadang untuk mendapatkan barang bukti. Sehingga untuk menghindari hambatan dari proses pidana itu maka kewenangan kebijakan dari penegak hukum itu seringkali diperluas. Walaupun disadari bahwa kehadiran bantuan hukum itu mengakibatkan biaya bertambah mahal dan jalannya suatu perkara menjadi agak lama. Kemudian menempatkan kedudukan yang sama bagi setiap orang di depan hukum (Quality Control). Maka menurutnya bahwa kedua model itu tidak membawa pada pemahaman yang tepat mengenai masalah-masalah hukumacara pidana. yaitu tahap ajudicatif (dalam sidang pengadilan harus ditentukan salah tidaknya tersangka). termasuk hak asasi dari mereka yang disangka atau didakwa telah melalukan suatu tindak pidana. maupun tentunya di pengadilan. dengan dasar utamanya ialah untuk mendamaikan kepentingan-kepentingan yang sama. para profesionalis ini memaksakan cara-cara illegal untuk tujuan cepat dan effisiensi. perlindungan terhadap hak asasi manusia itu telah diberikan oleh negara. Pada Due Process Model. Sehingga para tersangka merasa tenang dalam pemeriksaan dan terhindar dari segala bentuk tekanan. Di sini ada suatu perwujudan hak asasi manusia (Griffith. Sehingga model ini dikatakan orang lebih manusiawi dan menghormati hak asasi manusia. dan pada model inipun memerlukan peran pengacara. Dan dalam kenyataannya bahwa Crime Control Model ini sering dipertentangkan sebagai kurang manusiawi dan tidak menghormati hak asasi manusia. Dalam bidang hukum acara pidana yang berlaku.