OVOP Dalam Mengembangkan Desa

Minggu, 25 Desember 2011 | 22.12 WIB | oleh Lurah DMC

ARTIKEL LAIN
    

Masalah Perdesaan dan RUU Desa RUU Desa dan Ancaman Terhadap Demokrasi Perkampuangan Surga, Karya Kepala Desa Widjono Jangan Bangga Negeri Kolam Susu… Krusial Masa Depan Desa

Syahid Mulyono : Perbincangan seputar desa dan pembangunan desa di negara kita, telah teramat sering kita dengar sejak kita baru mengenal huruf. Dari obrolan warung kopi di lingkungan terkecil tempat kita tinggal sampai seminar di hotel mewah dengan harga jutaan per malam. Telah berpuluh atau mungkin telah beratus kali rapat, seminar maupun workshop membahas pembangunan desa, hasilnya angka berbicara bahwa di Indonesia jumlah total desa sebanyak 11.258 desa ( data tahun 2005) masih termasuk desa tertinggal atau sekitar 45 % dari total 76.411 desa yang ada. Angka ini belum beranjak signifikan sejak 20 tahun lalu. Bagaimana bisa terjadi begini? Banyak pakar berbicara. Itu semua karena salah urus, atau salah pendekatan atau salah strategi atau karena faktor lain lagi. Belakangan, pemerintah getol mengkapanyekan pembangunan desa dengan pendekatan Satu Desa Satu Produk atau One Village One Product (OVOP), sebuah konsep dan pendekatan pembangunan desa yang diimpor dari Jepang. Konsep dan pendekatan pembangunan desa ini awalnya dikembangkan di perfektur Oita oleh Prof Dr. Morihiko Hiramatsu dengan produknya jamur Shitake dan disana model ini dikenal dengan nama Isson Ipin. Satu desa diarahkan hanya mengembangkan satu jenis produk yang merupakan unggulan desa tersebut dan dikerjakan oleh banyak orang di desa tersebut sehingga jika digabungkan pemasarannya mencapai volume bisnis yang memadai bahkan untuk skala ekspor. Konsep ini sebelum masuk Indonesia telah lebih dulu di adopsi oleh Thailand di zaman pemerintahaan Thaksin Sinawat dan dikenal dengan nama One Thambon One Product (OTOP) dan juga dikembangkan di Taiwan, bahkan di China. Di

jembatan. 2). Menjadi metode efektif membendung arus urbanisasi ke kota. 4. 2. Pemilihan produk harus tepat sesuai dengan permintaan pasar. Menjadi kawasan wisata pembangunan yang menarik.Indonesia. 1). Ada beberapa ciri khusus pendekatan pembangunan model OVOP ini yaitu . 3. Pembinaan berkelanjutan dan intensif tidak setengah-setengah dan sambil lalu. 1. mesti dipenuhi sejumlah syarat yaitu . padahal bisa jadi di desa tersebut ada juga potensi produk lain yang bisa dikembangkan. Menjadi wahana pengikatan perokonomian daerah dan revitalisasi pembangunan daerah. Beberapa hal yang mesti diperhatikan bila pendekatan OVOP ini akan diterapkan dalam programnya. contohnya di Jogyakarta untuk produk perak. Produk yang dikembangkan sejenis atau relatif sejenis. 3). Infrastruktur harus bagus. 1). 3. Produk yang dikembangkan adalah produk unggulan daerah yang memiliki pasar yang jelas dan Hanya saja. yaitu . 2. Apabila produk yang dipilih tidak memiliki potensi pasar dan tidak berorientasi pasar maka penerapan model ini sangat berpeluang gagal. Konsep ini menarik dan sangat berpotensi untuk dikembangkan di Indoensia dalam rangka pembangunan desa. 2) Hanya ada satu jenis kegiatan agribisnis yaitu budidaya atau bentuk lain yang disepakati yang dapat dilakukan dengan pertimbangan fokus kegiatan usaha. pendekatan ini telah digunakan oleh Kementerian Koperasi dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan dengan pada komoditas hortikultura dan kerajinan. 1. Satu daerah hanya bisa menonjolkan satu produk yang harus menjadi fokusnya. Memudahkan pola pembinaan usaha dan pengembangan wilayah. 5. Harus terintegrasi dalam satu kesatuan wilayah yang mudah terhubung sesamanya dan dengan dunia luar atau dalam satu tata ruang yang jelas. Apabila produk yang . Menciptakan sentra kawasan pengembangan produk. Produk tersebut harus berbasis kompetensi lokal. tetapi pendekatan OVOP ini tetap sangat layak untuk direkokendasikan sebagai model pengembangan mengingat sejumlah kelebihan yang dimiliki. antara lain . Produk yang dikembangkan harus berorientasi pasar yang terus berkembang. 1. 4) Mudah mengalami ketergantungan bisnis dengan subsektor lain . Walaupun ada kelembahannya. 3). 2. untuk mengembangkan konsep ini. maupun komunikasi. maksudnya didukung oleh SDM lokal yang ada serta didukung oleh ketersediaan SDM yang memadai. 4. Produk yang dikembangkan mesti memiliki keunikan dan kekhasan tertentu. Hal itu perlu dilakukan mengingat adanya sejumlah kelemahan dan kendala pada pola pendekatan OVOP yaitu . baik infrastruktur jalan. Masih tetap membutuhkan sentuhan program lain untuk mengembangkan program OVOP ini sehigga sulit menyebutnya sebagai kegiatan OVOP murni.

maka akan sangat menghambat peluang pengembangan produk ini. maka produk yang dihasilkan akan sangat tidak aman. tinggal di Bogor . Memiliki keunikan tersendiri sehingga bisa menjadi produk yang khas di daerah tersebut. sehingga tidak dengan mudah ditiru oleh daerah lain.dihasilkan tidak berbasis pada kompetensi lokal. 3. Staff ahli di Departemen Pertanian Republik Indonesia aktif dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarkat. Sifat keunikan yang harus dimiliki oleh produk yang akan dikembangkan sebagai produk unggulan. haruslah bersifat uniq dan beda. 4. Apabila prasarana umum yang ada tidak bagus dan tidak memadai. Karena ketika produk ini mau dikembangkan makan tentu akhirnya dibutuhkan fasilitas umum yang memadai seperti hotel. baik ketersediaan SDM maupun bahan bakunya. dan lain lain sehingga tamu yang akan berinteraksi . Adalah anggota dewan pakar PP RPDN. tidak kompetitif dan rawan krisis. Fasilitas dan prasarana umum harus bagus.