Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Mulai Diberlakukan 11 Oct 2005 Undang-Undang No.

29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (UUPK), sesuai dengan Pasal 88, mulai diberlakukan tanggal 6 Oktober 2005. Berdasarkan UUPK ini Surat Tanda Registrasi (STR) untuk dokter dan dokter gigi dikeluarkan oleh KKI dan Konsil Kedokteran Gigi (KKG). Sedangkan SIP tetap dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Sebelum diberlakukannya UUPK untuk pelaksanaan registrasi, Depkes mengeluarkan Surat Penugasan dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengeluarkan SIP. Demikian penegasan Menkes DR. Dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada acara jumpa pers di Jakarta pada hari Rabu, 5 Oktober 2005. Hadir pula pada acara tersebut Sekretaris Jenderal Dr. Sjafii Ahmad, MPH, Dirjen Yanmedik Dr. Farid Husain, Sp.B, Dirjen PP & PL Dr. I Nyoman Kandun, MPH, Dirjen Binkesmas Dr. Sri Astuti Seoparmanto, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alkes dan Drs. Krisna Tirtawidjaja serta Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Dr. Hardi Yusa, Sp.OG, MARS dan anggota KKI Dr.Bambang Guntu Hamurwono, Sp.M. Menkes menambahkan, menurut ketentuan UUPK akan dikeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tentang Surat Izin Praktik, Pelaksanaan Praktik Kedokteran, Tata Cara Persetujuan Tindakan Kedokteran Gigi, Rekam Medis dan Rahasia kedokteran. Namun yang mendesak memerlukan peraturan saat ini adalah yang menyangkut penataan STR dan SIP. Di dalam Permenkes akan diatur hal-hal sebagai berikut:
• •

SIP bagi dokter dan dokter gigi diberikan paling banyak pada 3 (tiga) tempat SIP bagi dokter dan dokter gigi yang melakukan tugas pendidikan baik yang berasal dari Fakultas Kedokteran/Fakultas Kedokteran Gigi maupun berasal dari RS Pendidikan juga berlaku untuk RS/Sarana Pelayanan Kesehatan lain yang menjadi jejaring RS Pendidikan tersebut. Untuk itu, pimpinan RS Pendidikan dan pimpinan instansi pendidikan kedokteran dan kedokteran gigi harus memberikan informasi kepada Dinas Kesehatan yang menjadi jejaring RS Pendidikan tersebut. Dengan SIP yang telah dimiliki, dokter dan dokter gigi yang diberikan tugas kedinasan dalam upaya memenuhi kebutuhan pelayanan dapat diberikan tugas pada sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk. Untuk itu, kepada pemberi tugas diwajibkan untuk memberikan informasi tentang pelaksanaan tugas dimaksud kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat sarana pelayanan kesehatan tersebut

Selain itu dalam Permenkes ini juga diatur tentang dokter yang mengikuti Program Pendidikan Dokter Spesialis PPDS) dan calon dokter dan dokter gigi yang melakukan

kegiatan praktik pada RS Pendidikan dan jejaringnya. Sedangkan dalam pelaksanaan praktik kedokteran, Permenkes yang berkaitan dengan informed consent, medical record dan wajib simpan rahasia kedokteran akan diatur dalam Permenkes tersendiri. Dalam Permenkes ini juga ditata mengenai perawat yang menerima delegasi tindakan kedokteran dan bidan dalam melakukan pengobatan terhadap ibu, bayi dan balita sesuai dengan kewenangan yang diatur dalam Permenkes yang telah ada. Selain itu dalam Permenkes ini juga ditata waktu penyesuaian bagi SIP yang telah dimiliki Sementara itu Ketua KKI Dr. Hardi Yusa, Sp.OG, MARS menyatakan bahwa dokter dan dokter gigi harus mengikuti uji kompetensi pada organisasi profesi masing-masing agar dapat memiliki SK. Setelah mendapatkan SK lalu mendaftar ke KKI untuk mendapatkan STR. STR merupakan syarat untuk mendapatkan SIP yang harus diperpanjang 5 (lima) tahun sekali. Untuk dapat memperpanjang SIP, dokter dan dokter gigi harus kembali mengikuti uji kompetensi. Bagi yang melanggar aturan yang disebutkan dalam UU no. 29tahun 2004 akan dikenakan sanksi pidana berupa hukuman penjara atau denda. UU No.29 tahun 2004 adalah UU yang mengatur praktik kedokteran dokter dan dokter gigi baik lokal maupun asing. UU yang terdiri atas 88 pasal ini memuat tentang Organisasi KKI, Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran dan Kedokteran Gigi, Registrasi Dokter dan Dokter Gigi, Penyelenggaraan Praktik Kedokteran, Disiplin Dokter dan Dokter Gigi, Pembinaan dan Pengawasan dan Ketentuan Pidana. [Indeks]