PERSPEKTIF POSITIVISME

PERSPEKTIF POSITIVISME Paradigma positivisme, mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses linier atau proses sebab akibat, yang mencerminkan pengirim pesan atau komunikator untuk mengubah perilaku penerima pesan yang pasif. Ini berarti komunikasi terjasi secara sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menyampaikan rangsangan dalam membangkitkan respon orang lain. SEJARAH POSITIVISME Positivisme dicetuskan oleh dua pemikir perancis, Henry Sain Simon (1760-1825) dan muridnya Auguste Comte (1798-1857).Pemikiran Comte merupakan reaksi terhadap situasi Perancis. Revolusi Perancis dan semangat pencerahan dalam banyak hal menghasilkan perubahan sosial. Gagasan dasar Comte dapat dikenali dari pemikirannya mengenai 3 tahap perkembangan sejarah manusia yaitu : • Teologis, • Metafisis, dan • Positivis TEOLOGIS Pada tahap ini manusia memahami gejala-gejala alam sebagai hasil campur tangan langsung kekuatan ilahi. Tahap ini dimulai dari animisme yang menganggap benda-benda berjiwa dan diperlakukan suci. METAFISIS Pada tahap ini gejala alam diyakini berjalan berdasar pada prinsip-prinsip metafisika. Prinsipprinsipini dihasilkan melalui pemikiran spekulatif yaitu berdasarkan percobaan-percobaan. POSITIVIS Pada tahap ini yaitu cara memahami kehidupan dan semesta dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.Alam dan kehidupan bukan lagi dipahami sebagai hasil campur tangan yang ilahiah atau berdasar pada prinsip-prinsip spekulasi, melainkan sebagai sesuatu yang pasti, nyata dan berguna. GAGASAN POSITIVISME Positivisme adalah aliran filsafat ilmu yang didasarkan atas keyakinan atau asumsi-asumsi dasar: 1. Ontologi (realisme):semesta digerakkan oleh hukum alam secara mekanis dalam hukum jika……maka……. 2. Epistemologi (dualisme):teori ini menggambarkan semesta apa adanya tanpa keterlibatan nilainilai subjective peneliti

3. Metodologi (experimental):hipostesis dirumuskan lebih awal dalam bentuk proposisi yang lalu dihadapkan pada verifikasi di bawah situasi yang benar-benar terkontrol CIRI-CIRI POSITIVISME
• • • • • •

Bebas Nilai, berarti ketika si pengamat mengamati sesuatu maka nilai-nilai yang dimiliki si pengamat tidak dilibatkan sehingga menghasilkan kesimpulan apa adanya Fenomenalisme, berarti apa yang kita amati merupakan fenomena belaka,sementara sesuatu yang berdiri dibelakang fenomena (sebagaimana diyakini metafisika) tidak dilibatkan Nominalisme, berarti kebenaran berdasarkan lama atau ukuran, dalam hal ini kebenaran kenyataan terletak pada penamaan bukan kenyataan itu sendiri Reduksionisme, berarti konsekuensi dari cara penelitian yang menyederhanakan atau mereduksi kenyataan menjadi fakta-fakta yang dapat dipersepsi Naturalisme, berarti semua gejala berjalan secara alamiah tanpa campur tangan hal-hal metafisis Mekanisme, berarti semua gejala dapat dijelaskan secara mekanis-determinis layaknya sebuah mesin

POSITIVISME LOGIS Positivisme logis adalah aliran positivisme yang lebih memfokuskan lebih pada logika dan bahasa ilmiah. Salah satu prinsip yang diyakini kaum positivisme logis adalah prinsip isomorfi, yaitu adanya hubungan mutlak antara bahasa dan dunia nyata. PRINSIP POSITIVISME LOGIS •Menolak perbedaan ilmu alam dan sosial •Menganggap pernyataan yang tidak dapat diverifikasikan secara empiris sebagai non sense •Berusaha menyatukan semua ilmu pengetahuan dalam suatu bahasa ilmiah yang universal •Memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan Konstruksionis

Konstruktivisme mengatakan bahwa kita tidak pernah dapat mengerti realitas yang sesungguhnya secara ontologis. Yang selalu kita mengerti adalah struktur kontruksi kita akan suatu objek

menurut Shapiro ada banyak bentuk kenyataan dan masing-masing terbentuk pada kerangka dan interaksi pengamat pengamat dengan objek yang diamati. Dalam kerangka pemikiran ini bila kita bertanya “ apakah yang kita ketahui itu memang sungguh kenyataan yang ada ?“ , kaum Kontruktivis menjawab “ Kami tidak tahu, itu bukan urusan kami “

Bagi kaum konstrutivis kebenaran diletakan pada viabilitas yaitu kemampuan suatu konsep atau pengetahuan dalam beroperasi artinya pengetahuan yang kita yang kontruksikan itu dapat digunakan dalam menghadapi berbagai macam fenomena dan persoalm yang berkaitan dengan dengan pengetahuan tersebut.

Contoh : pengetahuan kita akan hukum gerak newton dianggap benar karena dengan hukum itu kita dapat memecahkan persoalan tentang gerak. 2. Post – Positivisme Post positivisme muncul sebagi sebuah kritik atas positivisme, kritik awal bersifat memperbaiki kesalahan dan kritik ini masih menggunakan beberpa metode positivisme. Paradigma post positivisme disebut juga realisme kritis adalah paham tentang realitas yang meyakini bahwa ilmu pengetahuan dalam mempelajari realitas secara mandiri, terlepas dari pemikiran kita.terdapat empat macam Post Positivisme yaitu : a. Post Positivisme Rasional yang menggunakan paradigma kuantitatif dan metodologi kuantitatif statistik, empirik analitik. b. Post Positivisme fenomenologi–interpretif adalah teori yang menggunakan paradigma kualitatif, membuat telaah holistic, mencari esensi dan mengimplisitkan nilai moral dalam observasi analisis dan pembuatan kesimpulan. c. Post - Positivisme teori kritis Post Positivisme teori kritis dengan weltanschauung ( pandangan dunia ) yang berangkat dari gugatan atas ketidakadilan. d. Post - Positivisme Konstruktivisme

Kontruktivis menolak objektivitas ala positivisme yang mengakui adanya fakta dan adanya empirik, sedangkan kontruktivis berpendapat bahwa ada adalah pemaknaan kita tentang kenyataan diluar diri yang di Kontruksi ( empirical – constructed facst ) Ilmu dan kebenaran mempunyai Sifat : 1. Fluralistik ( majemuk ) 2. Plastis ( Lentur )

PERSPEKTIF TEORI KRITIS
TEORI KRITIS lahir sebagai koreksi dari pandangan konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun intitusional. Analisis kritis menekankan pada konstelalsi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Aliran teori kritis bisa disebut ideologically oriented inquiry, yaitu suatu wacana atau cara pandang terhadap realitas yang mempunyai orientasi ideologis terhadap paham tertentu. Ideologi ini meliputi: Neo-Marxisme, Materialisme, Feminisme, Freireisme, participatory inquiry, dan paham-paham yang setara. SEJARAH PERSPEKTIF KRITIS Kritik merupakan konsep kunci untuk memahami teori kritis. Teori ini dikembangkan oleh Mahzab Frankfrut. Konsep kritik dari mahzab ini banyak berkaitan dengan konsep kritik para filsuf, seperti Immanuel Kant, Hegel, dan Marx. Immanuel Kant mempertanyakan kemampuan dan batas-batas rasio dalam proses pengetahuan. Sebelumnya rasio yang terdiri dari konsep-konsep dan prinsip-prinsip sangat berpengaruh terhadap perkembangan pengetahuan, kemudian Kant mempertanyakan dengan cara apa dan bagaimana rasio itu sampai memiliki konsep dan prinsip. Selanjutnya, lebih jauh, Kant mempertanyakan kebenaran pengetahuan yang hanya berdasar pada rasio.

Teori kritik Hegel berbeda dengan Kant, Hegel memaknai teori kritiknya sebagai refleksi diri atas rintangan-rintangan, tekanan-tekanan, dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri dari rasio dalam sejarah. Kritik dapat juga berarti refleksi atas proses menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran manusia. Bagi Hegel, hubungan antara individu dan dunia eksternal ini dibuat secara historis dan bergantung pada jangka waktu kehidupan seseorang. Pengaruh Marxisme Marx memandang bahwa teori kritik Hegel masih kabur dan membingungkan karena Hegel memahami sejarah secara abstrak. Marx menegaskan bahwa yang dimaksud sejarah adalah sejarah perkembangan alat-alat produksi dan sejarah hubungan-hubungan produksi. Sejarah manusia dikembangkan berdasarkan pada alat apa yang digunakan untuk memproduksi kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu ia juga menganggap bahwa gerak sejarah bisa ditentukan oleh orang yang memiliki dan mengendalikan alat produksi. Hubungan produksi diartikan Marx sebagai hubungan kekuasaan antara pemilik modal dan kaum buruh. Kritik Marx juga banyak dipengaruhi oleh pengematannya terhadap sistem kapitalis yang menggunakan kaum buruh untuk melakukan proses produksi tetapi imbalan yang diterima kaum buruh sangat berbeda jauh dengan hasil yang diterima pemilik modal. Keuntungan untuk pihak tertentu dan kerugian bagi pihak lain dalam hal yang sama. Kritik dalam pemikiran Marx berarti usaha mengemansipasi diri dari penindasan dan alienasi yang dihasilkan oleh hubungan –hubungan kekuasaan di dalam masyarakat. Kritik dalam pengertian Marx berarti teori dengan tujuan emansipatoris, teori yang tidak hanya menggambarkan sotuasi masyarakat namun juga membebaskannya.

Mahzab Frankfurt Teori kritis banyak dipengaruhi oleh Marxisme, namun dalam beberapa hal dianggap berbeda dengan Marxisme. Teori ini disebut juga teori Mahzab Frankfurt. Penyebutan ini didasarkan pada

lembaga yang mengembangkan teori kritis, yaitu Institute fur Sozialforchung di Frankfrut, Main, Jerman. Maksud teori kritis Mahzab Frankfurt adalah membebaskan manusia dari pemanipulasian para teknokrat modern, membebaskan dari perbudakan, membangun masyarkat atas dasar hubungan antarpribadi yang merdeka, dan pemulihan kedudukan manusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya.

Tahap-tahap dalam proses komunikasi secara sistematis dapat digambarkan sebagi berikut : Tahap-tahap dalam proses komunikasi secara sistematis dapat digambarkan sebagi berikut : Pertama, Ideasi Ideasi adalah tahap penciptaan ide (gagasan atau pesan) oleh komunikator Kedua, Encording Encording adalah tahap komunikator menyampaikan ide atau pesan berupa lambanglambang yang dapat dimengerti oleh komunikan Ketiga, Transmitting Transmitting adalah tahap pengiriman ide atay pesan yang telah disusun berupa lambang-lambang yang mengandung pengertian melalui media komunikasi yang ada Keempat, Decording Decording adalah tahap komunikan menafsirkan lambang-lambang yang mengandung pengertian kedalam istilah yang pernah diketahui dari pengalamannya sendiri Kelima, Tindakan Tindakan adalah tahap terakhir dalam proses komunikasi berupa tindakan yang dilakukan komunikan karena respon atau tanggapan terhadap pesan-pesan yang diterimanya Pertama, Ideasi Ideasi adalah tahap penciptaan ide (gagasan atau pesan) oleh komunikator Kedua, Encording Encording adalah tahap komunikator menyampaikan ide atau pesan berupa lambanglambang yang dapat dimengerti oleh komunikan Ketiga, Transmitting

Transmitting adalah tahap pengiriman ide atay pesan yang telah disusun berupa lambang-lambang yang mengandung pengertian melalui media komunikasi yang ada Keempat, Decording Decording adalah tahap komunikan menafsirkan lambang-lambang yang mengandung pengertian kedalam istilah yang pernah diketahui dari pengalamannya sendiri Kelima, Tindakan Tindakan adalah tahap terakhir dalam proses komunikasi berupa tindakan yang dilakukan komunikan karena respon atau tanggapan terhadap pesan-pesan yang diterimanya
Tahapan proses komunikasi ada tujuh, yaitu: Proses komunikasi tahap-1, yakni penginterpretasian. Yang di interpretasikan adalah motif komunikasi, terjadi didalam diri komunikator. Artinya proses komunikasi tahap pertama bermula sejak motif komunikasi muncul hingga akal budi komunikator berhasil menginterpretasikan apa yang ia pikir dan rasakan ke dalam pesan yang bersifat abstrak. Proses komunikasi tahap-2, yakni penyandian. Tahap ini masih terjadi dalam diri komunikator, berawal sejak pesan yang bersifat abstrak berhasil diwujudkan akal budi manusia ke dalam lambang komunikasi. Proses komunikasi tahap-3, yakni pengiriman. Proses komunikasi tahap ketiga ketika komunikator melakukan tindak komunikasi, mengirim lambang komunikasi dengan peralatan jasmaniahnya yang berfungsi sebagai transmitter. Proses komunikasi tahap-4, yakni perjalanan. Tahap ini terjadi antara komunikator dan komunikan, sejak pesan di kirim hingga pesan diterima komunikan. Jalan yang di lalui pesan untuk sampai ke komunikan, sebagaimana pernah di utarakan, kita sebut saluran komunikasi, yang dapat melalui dua cara yakni dengan media atau tanpa media. Proses komunikasi tahap-5, yakni penerimaan. Tahap ini di tandai dengan di terimanya lambang komunikasi melalui peralatan jasmaniah komunikan. Proses komunikasi tahap-6, yakni penyandian balik. Tahap ini terjadi dalam diri komunikan, bermula sejak lambang komunikasi diterima melalui peralatan jasmaniah yang berfungsi sebagai receiver hingga akal budi manusia berhasil menguranginya. Proses komunikasi tahap-7, yakni penginterpretasian. Seandainya proses berlanjut maka proses memasuki tahap ke tujuh, tahap ini terjadi di dalam diri komunikan, berawal sejak lambang komunikasi berhasil di urai ke dalam bentuk pesannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful