INSPIRASI BAGI HATI

RAHASIA KESEHATAN ILAHI

Selama ini ada orang yang bertanya kepada Tuhan, “Mengapa ada orang yang didoakan sembuh, tetapi ada yang didoakan tidak sembuh?” Setiap kali saya mendengar pertanyaan ini, saya jadi teringat kisah orang-orang yang minta disembuhkan oleh nabi Tuhan. Sebelum nabi itu mendoakan mereka, Tuhan memerintahkannya menanyai orang-orang tersebut seperti ini: “Berikan Aku satu alasan kuat mengapa Aku harus menyembuhkanmu?” Lalu nabi itu pun bertanya kepada mereka masing-masing seperti yang diperintahkan Tuhan. Orang yang pertama menjawab dengan pongah, “Karena aku orang baik.” Maka Tuhan menjawab melalui nabi itu, “Masih banyak orang yang lebih baik yang ada di dunia, mengapa Aku harus menyembuhkanmu?” Orang berikutnya menjawab dengan yakin, “Karena aku orang beriman.” Maka Tuhan menjawab melalui nabi itu, “Kalau engkau betul-betul beriman, sembuh atau tidak sembuh engkau akan tetap beriman kepadaKu. Mengapa Aku harus menyembuhkanmu?” Demikianlah setiap alasan yang dikemukakan oleh setiap orang-orang tersebut tidak berhasil meyakinkan Tuhan untuk menyembuhkan mereka. Sehingga mereka pun pulang dengan tangan hampa. Sampai akhirnya tinggal orang terakhir. Dan ia menjawab dengan lirih namun sungguh-sungguh, “Aku tidak punya alasan apapun selain aku telah lalai dan gagal menjaga tubuh yang Tuhan ciptakan dan titipkan kepadaku. Aku datang kepada Tuhan, karena Tuhanlah yang punya hak dan kuasa untuk menentukan: apakah Dia mau memberikan kesempatan kepadaku untuk memelihara tubuh ini lagi, atau mengambil tubuh ini kembali daripadaku. Semuanya terserah kepada keputusan Tuhan.” Maka Tuhan menjawab orang tersebut dengan tersenyum, “Inilah alasan yang kuat. Aku mau memberikan kesembuhan kepada orang yang benar-benar mau memikirkan dan memperlakukan tubuhnya sebagai titipan Tuhan, bukan yang memanfaatkan dan menyia-nyiakan tubuhnya seolaholah milik mereka sendiri!” Saya lantas berpikir, untung Tuhan kita tidak bertanya seperti kali kita datang meminta pertolonganNya, hanya untuk kemudian mempertanyakanNya kalau jawabanNya tidak memuaskan hati kita. Masalahnya orang cenderung baru prihatin kepada keadaan tubuhnya setelah dia sakit. Waktu sehat dan kuat, ada orang yang ketika dinasihati atas kelakuannya, malah menantang balik, “Ini tubuh, tubuhku sendiri. Ini uang, uangku sendiri. Aku mau apakan tubuhku dengan uangku, ini urusanku sendiri. Kalau memang iri, lakukan saja seperti yang aku lakukan.”

Kiranya kisah di atas menjadi inspirasi bagi hati kita untuk menyadari, bahwa memang kesembuhan itu sangat berharga. Tetapi ada lagi yang lebih berharga untuk kita perhatikan: menjaga kesehatan kita. Beberapa orang menganggap terlalu mahal dan sukar untuk menjaga kesehatan. Jika Anda juga menganggap demikian, coba bandingkan mana yang lebih mahal dan sukar antara menjaga kesehatan dan mengalami sakit-penyakit. Karena itu mari kita mulai dari sekarang menjaga kesehatan Anda dengan rahasia kesehatan ilahi: mengikuti petunjuk Tuhan. Apa itu? Jangan merusak bait Allah (1 Korintus 3:17). Makanlah yang sehat, minumlah yang sehat, rawatlah tubuh untuk tujuan yang sehat, tidurlah yang sehat, dan berperilakulah yang sehat. Sederhana bukan? Niscaya ini akan menjadi inspirasi bagi hati Anda untuk menikmati hidup ini dengan tubuh yang sehat, pikiran yang sehat, hati yang sehat, dan roh yang sehat; menjadi bahagia di bumi dan selamat di surga. Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. 1 Korintus 3:17 Jagalah hati (Filipi 4:7)

Jonathan Prawira
(inspirator #1 yang banyak memberkati melalui ribuan lagu-lagu yang diciptakannya)

1
IBLIS BERPENAMPILAN MALAIKAT

Orang yang pertama kali bertemu dengan saya sekarang tidak akan menyangka, bahwa saya adalah seorang mantan dukun. Termasuk sewaktu diadakan seminar bersama pembicara-pembicara okultisme lainnya. Walaupun telah ditulis besar-besar: “Daud Tony, mantan dukun sakti” tetap saja penampilan saya 'menipu' banyak orang. Mengapa banyak yang tertipu? Karena pikiran kita telah dipenuhi dengan gambaran dukun yang selama ini kita bayangkan. Melalui buku seram, film horor, majalah okultisme, kita memiliki suatu gambaran khas mengenai dukun. Yah, kurang lebih tidak jauh dari asap kemenyan, dan penampilan hitam-hitam menyeramkan. Sedangkan perawakan saya dari dulu kecil, kurus, dan rapi. Tidak ubahnya seperti Anda. (Mungkin tubuh Anda lebih besar). Siapa yang dapat menyangka penampilan seperti ini bisa menyantet orang dari jauh, menguasai berbagai ilmu okultisme, dan memahami dunia roh? Bahkan di atas tingkat santet yang tidak bisa menyeberangi lautan, saya pernah menguasai tingkat yang saya sebut “santet tiga benua,” jenis santet mengerikan yang tidak dapat dihalangi oleh laut. Hanya sedikit dukun-dukun di dunia ini yang menguasai ilmu santet tiga benua. Saya sendiri mengetahui beberapa tokoh yang menguasai ilmu tingkat ini, namun melalui buku ini saya ingin memberikan kesaksian. Percuma bersusah-payah mempelajari ilmu kegelapan. Ilmu sehebat apapun tidak ada yang melindungi dan membentengi setiap orang percaya. Haleluya! Berikan kemuliaan bagi Allah! Tapi tentu saja ada suatu penampilan yang tidak bisa menipu. Penampilan batiniah kita. Penampilan dari dalam. Serapi-rapinya saya sebagai dukun (waktu itu saya hanya gondrong dan jarang mandi) tetap saja ada suatu hadirat kegelapan yang menudungi saya. Penampilan Anda bagaimanapun juga ditentukan melalui hati Anda.

“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 1 Samuel 16:7

Sedangkan mata Anda akan menunjukkan siapa yang ada di dalam hati Anda.

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhnya; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.” Matius 6:22-23

Sebab bicara soal penampilan, iblis pun dapat menyamar sebagai malaikat terang.

“Hal itu tidak usah mengherankan, sebab iblis-pun menyamar sebagai malaikat Terang.” 2 Korintus 11:14

Iblis adalah malaikat yang menyamar. Ia bekerja di balik samarannya: dukun-dukun; juga dokter yang menjadi pengikutnya. Melalui pengajaran ini, saya berdoa dan berharap Anda tidak lagi memusatkan perhatian dan penilaian Anda dari penampilan seseorang. Saya beritahukan Anda, bahwa sebenarnya seorang dukun pengikut setan tidak harus memiliki persyaratan berpenampilan seram seperti drakula. Itu syarat dari film Hollywood. Sebaliknya, seorang penganut ilmu putih berpenampilan rapi atau berpakaian seperti kaum beragama yang saleh, tidak sberarti ia sedang mengikuti Tuhan yang benar. Akhirnya, sebagaimana yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri, Anda harus melihat dari buah-buah yang dihasilkan dari pekerjaan mereka. Firman Allah di Matius 7:15-19, menjelaskan dengan agak panjang sebagai peringatan yang harus diperhatikan sungguh-sungguh:

"Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api”

Dan di ayat Matius 7:20, Yesus sekali lagi menekankan kata yang sama:

“Jadi, dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka (penyesat atau saudara sejati).”

Saya akan menolong Anda menyingkapkan rahasia yang selama ini tidak Anda lihat dengan mata Anda sendiri karena demikian rapinya dibungkus. Saya pernah menceritakan secara lengkap tantang masa lalu saya sebelum menjadi dukun, setelah mempelajari dan setelah bertobat di buku saya sebelumnya, Dunia Roh. Tapi bagaimanapun juga di

buku ini saya akan mengulangi sedikit bagian di mana saya sempat mengalami tipuan ‘kesembuhan’ dari iblis. Tipuan yang membuat saya terlibat begitu jauh dalam dunia okultisme. Hanya anugerah Tuhan yang bisa menyelamatkan saya dari kebinasaan. Karena itulah, demi anugerah itu juga, saya akan bersaksi untuk memperingatkan Anda yang tertarik, ingin mencoba-coba, iseng, menganggap ringan bahwa okultisme bukan permainan! Iblis tidak pernah tertarik pada Anda, ia tidak pernah bergurau, mencoba-coba, iseng-iseng dengan Anda. Ia tidak menganggap kejahatannya sebagai permainan atau lelucon sepele. Kebenciannya kepada Allah akan ditumpahkan sepenuh-penuhnya kepada Anda. Ia berusaha matimatian menyakiti hati Allah melalui Anda. Pertama, ia akan menipu Anda, lalu bila kedoknya ketahuan atau ia sudah tidak membutuhkan Anda lagi (mana saja yang terjadi lebih dahulu), ia akan menerkam dan mencabik-cabik Anda tanpa ampun! Waktu saya duduk di kelas IV SD, berumur 9 tahun, saya pernah dianiyaya oleh seorang guru matematika, yang mengalami stres berat. Saya sering dianiyaya olehnya. Suatu kali, tulang punggung dan tulang ekor saya terkena tendangannya yang mungkin lebih keras dari Maradona. Anda dapat membayangkan sebesar (atau lebih tepatnya sekecil) apa tubuh saya pada saat berumur 9 tahun. Ditendang oleh orang dewasa yang stres. Saya kontan jatuh pingsan. Diperiksa oleh dokter, ia menggeleng-gelengkan kepala dan memvonis, “Seumpama anak ini sembuh kelas, ia bisa mengalami kelumpuhan total dan matanya bisa mengalami kebutaan. Dan bisa terjadi juga, anak ini tidak bisa tertolong lagi.” Orangtua mana yang tidak bingung melihat anaknya menghadapi pilihan meninggal atau lumpuh? Demikianlah pula dengan orangtua saya, mereka panik. Di tengah kebingungan itulah, ibu saya teringat kepada kakek neneknya yang telah mengasingkan diri. Ibu saya berkata kepada ayah saya, “Eh, Pi, bukankah kita memiliki kakek-nenek buyut sakti?” Maksudnya, ia ingin meminta pertolongan mereka menyembuhkan saya. Pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan bahwa Firman Tuhan sudah mengatakan, bahwa terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan pada manusia. Seperti apa kutukanNya? Yeremia 17:5-6 menjelaskannya rinci:

Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.” Saudaraku, ketika menghadapi peristiwa yang buruk, jangan panik. Tarik napas Anda dan tetapkan pilihan Anda untuk mencari Tuhan terlebih dahulu. Jangan sampai pilihan Anda justru membawa Anda kepada jalan yang membawa kesengsaraan lebih parah lagi.

Pada waktu itu, ayah saya menjawab dengan pesimis, “Betul. Tapi kakek-nenek kita, sudah tidak mau bertemu dengan orang lagi termasuk kita, keturunan mereka. Apalagi menyembuhkan?” Tetapi kasih sayang dan kekukuhan hati seorang ibu tidak bisa dipatahkan oleh alasan apapun. Saya tidak heran, Allah memberikan perintah untuk menghormati orangtua sebagai perintah kelima,

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Keluaran 20:12

Di dalam sepuluh hukum Tuhan, karena Ia memberikan mereka hati yang bertanggungjawab atas kehidupan anaknya. Kakek-nenek kami memberikan syarat yang akhirnya membawa saya tidak hanya mengenal tapi juga terlibat jauh dalam dunia okultisme, menjadi murid tunggal dari empat dukun besar sejak kecil. Kakek berkata, “Aku mau menyembuhkan anak itu, tapi ada satu persyaratan yang harus dipenuhi. Dia harus menjadi pewaris olah kanuragan Jayan Kawijayan. Kalau mau, saya akan menyembuhkannya, kalau tidak mau, silahkan pergi.” Karena terpaksa, ibu saya menyetujui persyaratan itu. Seketika itu juga dengan ilmu mereka, kakek-nenek tiba di rumah sakit tempat saya diopname. Langsung membaca mantera-mantera. Saya bangkit dari ranjang, sembuh, dan menjadi murid tunggal mereka. Jika membacanya sekilas, Anda akan berkesimpulan bahwa setan pun bisa menyembuhkan, bukan? Pada bab-bab berikutnya, inilah yang akan kita bahas lebih jauh. Anda akan melihat sendiri betapa ‘baik’-nya iblis di dalam menyembuhkan orang-orang.

2
KESEMBUHAN ILAHI

Sebelum menyampaikan lebih dalam, terlebih dahulu saya akan membagi pembahasan penyingkapan rahasia kesembuhan Ilahi. Yang pertama, kesembuhan Ilahi dari Allah, atau sering disebut juga mujizat kesembuhan Ilahi. Yang kedua adalah sihir kesembuhan dari setan. Tetapi juga saya akan menjawab pertanyaan yang sering diajukan oleh saudara-saudara seiman kita setiap kali saya berbicara di seminar. Yaitu di manakah posisi dan peranan kesembuhan medis, termasuk pengobatan alternatif, bagi orang-orang beriman? Apakah pengobatan ini menjadi batu sandungan bagi iman kita? Atau bahkan membuka celah bagi roh-roh jahat untuk menguasai kita? Merupakan sarana kesembuhan Ilahi dari setan atau dari Allah? Belum lagi mengenal pengobatan tenaga-tenaga reiki, kundalini, prana, atau tenaga dalam lainnya yang menjadi populer belakangan ini (meskipun dasar-dasarnya telah saya ketahui sejak lama). Tenaga ini dipropagandakan sebagai teknik yang membangkitkan dan memanfaatkan tenaga dahsyat yang terpendam di dalam diri setiap manusia. Dan menurut para pengajarnya, tenaga ini bersifat alami dan tidak berkaitan dengan ajaran agama tertentu. Dengan perkataan lain dijelaskan lebih jauh, bahwa Tuhan sendirilah yang mengaruniakan tenaga ini ke dalam tubuh manusia, supaya dapat membantu manusia mencapai keberhasilan dan kesehatan, dua hal yang kelihatannya memang Allah inginkan bukan? Sejak kecil, saya sudah memiliki kemampuan supranatural menyembuhkan orang, membuka praktek seperti yang dilakukan dukun-dukun profesional atau lebih terhormat dengan istilah paranormal. Sebelum bertobat, saya bahkan pernah dimintai salah satu pabrik rokok di Indonesia, untuk membuat laris dagangan mereka. Hasilnya cespleng, manjur! Namun semua itu telah saya tinggalkan karena seperti kata Alkitab:

“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Matius 16:26

Kesaksian saya sebagai dukun, pernah dimuat juga di dalam acara televisi. Di acara tersebut juga ditayangkan wawancara dengan guru SMP saya yang berkomentar tentang saya, “Tony adalah murid yang paling nakal.” “Mengapa paling nakal?” si pewawancara bertanya. “Bayangkan saja, guru-gurunya dihipnotis sampai tidur setiap kali mau mengadakan ulangan.” Menonton ulang acara tersebut, saya tertawa geli. Sebab ada lagi kenakalan saya yang lain. Setiap kali saya bosan diajarkan oleh guru-guru SMP saya, saya memanterai supaya mereka sering bolakbalik ke toilet. Jadi begitu dia mengajar lama sedikit, langsung gelisah dan berkeringat dingin menahan keinginan untuk pipis. Itulah hobi dan ulah saya sebagai dukun cilik sehari-hari.

3
BERTEMU DENGAN PENYEMBUH SEJATI

Pasti sekarang tidak ada yang menyangka, bahwa dulu sewaktu pertama kali bertemu dengan Pdt. Gilbert, rambut saya masih gondrong. Karena tidak ada seorangpun yang bisa memotong rambut saya, Anda dapat membayangkan bagaimana rupa saya sewaktu aktif sebagai dukun. Yang jelas berbeda seratus delapan puluh derajat dari penampilan sekarang. Kita berpenampilan rapi, bukanlah untuk dunia, tetapi karena Tuhan sendiri menghargai hidup termasuk tubuh dan penampilan kita.

“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.” Yesaya 43:4

Yang pertama kali mampu memotong rambut saya bukan Delilah tetapi pendeta. Tidak tanggungtanggung, dicukur sampai habis-bis. Mungkin sebagai perlambang bahwa saya bersedia meninggalkan masa lalu saya yang penuh dengan kuasa kegelapan. Mungkin juga dia gemas, mengingat saya pernah berniat membunuh mereka. Bagaimana saya bisa mengalami kesembuhan Ilahi dari Yesus? Mungkin pertanyaan yang lebih tepat diajukan adalah bagaimana saya bisa bertemu dengan Yesus? Karena syarat kesembuhan dari Allah adalah bertemu denganNya terlebih dahulu. Saya pikir semuanya berawal dari doa. Saudara perempuan dari ayah saya, adalah seorang pendoa syafaat. Waktu itu saya tidak tahu, dan herannya iblis tidak memberitahu saya. Mungkin ia takut saya bertobat kalau tahu. Mereka terus menerus mendoakan saya dan akhirnya memberitahu keadaan saya kepada Pdt. Stefanus Pingki. Ketika saya diundang oleh pendeta tersebut, saya tetap dalam keadaan tidak tahu. Kalau saya tahu mungkin lebih mempersiapkan diri menghadapi undangan yang mengandung 'perangkap' itu. Bahkan sampai masuk ke tempat doa puasa pun, iblis tidak memperingatkan saya apa-apa. Rupanya Tuhan menjaga rapat-rapat doa dan rencana anak Tuhan dari iblis. Begitu saya melangkah kaki ke dalam ruangan doa puasa tersebut, terdengar seruan “Dalam nama Yesus,” kemudian serentak terdengar doa yang riuh-rendah dari segala penjuru. Belum hilang rasa terkejut dan kebingungan saya, tiba-tiba ada yang memberi komando kurang lebih, “Tuang minyak urapan!” Dalam beberapa detik saya merasa kepala saya mendadak basah oleh cairan yang lengket dan dingin. Rupanya kepala saya disiram dengan air dan minyak urapan. Di tengah keterkejutan saya, saya hanya bisa memaki-maki. Langsung saya memandang mereka dengan tajam. Yang berani menentang pandangan saya adalah Pdt. Stefanus Pingki. Saya menatapnya dengan tatapan mengancam dan dia menatap balik seolah-olah berkata, “Coba kalau berani!”

Waktu itu saya sedang frustasi karena gagal membalas dendam kepada guru SMP saya justru membuat saya termotivasi menguasai ilmu. Orang itulah yang menyebabkan saya masuk ke rumah sakit karena melampiaskan stresnya pada anak sekecil dan sekurus saya. Sehingga saya tidak terpikirkan untuk menyerang pendeta yang bertindak 'keterlaluan' pada saya. Saya hanya pulang ke rumah, sambil mengomel-ngomel. “Pendeta goblok, kusantet baru tahu rasa.” Tapi saya belum terpikir untuk menyantet pendeta. Pikiran saya sedang penuh dengan rasa mengasihani diri saya. Saya pernah juga memberikan kesaksian ini di kebaktian Pdt. Gilbert, bagaimana saya baru merasa tertantang sewaktu mendengar Pdt. Gilbert berkhotbah dalam suatu KKR di kota dekat saya tinggal, “Orang Kristen tidak bisa disantet, tidak bisa diguna-gunai, tidak bisa dimanterai.” Waktu itu saya sedang menemani kakak saya ke KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani), namun bukan untuk mencari Tuhhan, tetapi mencarikan pacar untuk kakak saya dengan bantuan ilmu pelet. Dari kursi paling belakang (supaya bisa mengintai sasaran dengan leluasa) saya langsung berkata sendiri dengan antusias, “Ini dia! Selama ini aku mencari dukun untuk kutantang tidak ada yang berani, sekarang pendeta gemuk dan montok ini menantang aku. Sikaaaaat!” Lucunya, kakak saya mengira saya bereaksi karena menemukan calon gadis yang cantik untuk saya pelet. Wah terus-terang saja, saya tidak sempat lagi mencarikan pacar untuknya. Saya menemukan sesuatu yang lebih mengasyikkan setelah bertahun-tahun hidup dalam kebosanan. Tetapi apa yang terjadi? Alih-alih saya menyikatnya, ternyata pendeta yang paling sering mengucapkan mantera “Haleluya”nya itu justru membuat saya hilang ingatan selama satu tahun. Saya sempat menjadi idiot. Ini terjadi akibat saya mengerahkan jurus pamungkas saya ketika bertarung melawan Pdt. Gilbert dari jarak dekat! (Baca Buku Dunia Roh). Di sinilah terbukti, bahwa ilmu yang saya pelajari dari iblis bukannya melindungi saya, justru menghantam saya sendiri. Inilah wujud ilmu hitam sebenarnya. Saya tidak melihat adanya suatu serangan mematikan dari pihak Tuhan. Dengan mata roh saya melihat waktu itu Tuhan hanya melindungi hambaNya dengan perisai iman.

“...dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat...” Efesus 6:16

Yang saya lihat dan alami adalah ilmu saya sendiri yang mementalkan dan membuat saya terpelanting ke belakang sejauh dua belas meter, dan merusak saraf otak saya. Anda dapat bayangkan, apa yang bakal terjadi kalau Tuhan benar-benar memerangi saya sebagai musuhNya? Terpujilah kemurahan Tuhan!

Pdt. Gilbert bersama-sama dengan Pdt. Stefanus Pingki dan pendeta-pendeta lainnya yang mengetahui pertarungan kami melayani saya. Bukannya bertambah sembuh, tapi tambah sinting, Saudara. Akhirnya dalam keadaan parah, para hamba Tuhan yang mendoakan saya bersepakat untuk menyerahkan saya kepada orangtua saya terlebih dahulu. Mereka senantiasa mendoakan saya. Tepat pada umur 19 tahun, tiba-tiba saya mendengar suara, “Akulah Alfa dan Akulah Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Aku adalah Aku...” Pada waktu saya mendengar suara itu, tiba-tiba ada aliran listrik yang luar biasa masuk ke dalam tubuh saya. Tuhan sendiri yang menyembuhkan saya. Saya langsung siuman. Kaget, Lho kok lokasi pertarungan sudah berubah? Saya kebingungan. Tapi suara itu terus bergema di kepala saya, “Aku adalah Aku, Akulah Alfa dan Omega, Sang Pencipta alam semesta. Akulah Terang Dunia, Akulah Raja yang adil dari Timur.” Pada saat bertemu dengan Yesus saya melihat, jubahNya putih mengkilap, wajahNya melebihi cahaya matahari, sinarNya kuning keemas-emasan pelangi. Tapi saya tidak bisa melihat wajahNya langsung, hanya bisa melihat jubahNya. Dia mengetahui penasaran saya dan berkata, “Kalau engkau melihat wajah kemuliaanKu, engkau akan mati.” Yesus menumpangkan tangan ke atas saya sambil berkata, “Jadilah engkau penginjil api dan seorang pengusaha.” Sekarang saya bergabung di FGBFI (Full Gospel Businessmen Fellowship Indonesia) di Surabaya. Ia melanjutkan, “Engkau akan jadi penginjil api dan pengusaha tapi jangan sekali-sekali engkau jadi gembala sidang.” Sesegera ingatan saya pulih dan saya sembuh, sesegera itu juga semua ilmu saya langsung hilang. Waktu itu saya sempat berpikir untuk mempergunakan aji “saipi angin” untuk menemui Pdt. Gilbert, tapi ternyata tidak bisa lagi. Ajian ini adalah ilmu yang dapat membawa tubuh kita ke manapun kita ingin dalam sepersekian detik saja. Bebas bensin, bebas macet, bebas polusi, bebas penodongan tidak seperti di bis. Waktu itu saya bingung lagi, Lho ilmuku hilang semua? Setelah itu, anehnya (dan puji Tuhan) sampai sekarang, tidak ada satu mantera pun yang saya ingat. Tuhan telah menyucikan pikiran saya dari kuasa roh jahat sepenuhnya. Setelah itu saya bertemu Pdt. Gilbert dengan jalur biasa bukan aji-ajian, tidak menggunakan ilmu apa-apa, “Pak Gilbert, saya mau berguru dan menyerahkan jimat saya.” Pdt. Gilbert menjawab dengan ringan seperti kebiasaannya, “Tidak perlu kamu serahkan, karena sudah saya bakar dari dulu.” Rupanya ketika saya dalam keadaan tidak sadar, segala pusaka dan jimat saya dibakar semua. Jadi satu-satunya mantera yang saya ingat adalah mantera, “Haleluya!” Karena saya berjanji untuk berguru kepada siapa saja apabila saya kalah, Pdt. Gilbert membawa saya ke Sekolah Alkitab Pdt. Pontas Pardede.

4
MUJIZAT KESEMBUHAN YANG ASLI

Firman Tuhan mengatakan bahwa penyakit kita ditanggungNya. Darah berbicara tentang nyawa. Nyawa berbicara tentang kehidupan (Kejadian 9:4). Yesus Kristus telah mati untuk kita. Dan oleh darah-Nya, kita telah ditebus. Oleh bilurNya, kita disembuhkan.

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Yesaya 53:4-5

Saya teringat pada khotbah Pdt. Gilbert, yang kerap mengatakan dengan suara kerasnya, “Darah Yesus menyembuhkan, bilur Yesus menyembuhkan.” Dan tak lupa setelah itu, “Haleluya!” Tidak lama setelah saya sembuh, ibu saya bercerita kepada saya, “Ton, aku terkena sakit ginjal.” Rupanya tanpa saya ketahui, ibu saya terserang penyakit ginjal yang sudah parah. Dokter sudah memvonis, bahwa cuci darah tidak bisa menolong, hanya memperpanjang harapan hidup. Bila ingin melakukan cangkok ginjal peluang keberhasilan hanya 50%. Hal ini karena kedua ginjalnya sudah parah. Waktu itu tanpa berpikir panjang lagi, saya mulai memberitakan Injil kepadanya, “Mama, maukah engkau percaya Yesus? Kalau percaya Yesus, pasti engkau sembuh. Yesus adalah Tuhan, Dia bisa menyembuhkanku.” Tapi ketika ibu saya menjawab, “Iya,” saya menjadi kelimpungan sendiri. Bagaimana cara berdoa? Bagaimana cara menyembuhkannya? Sewaktu menjadi dukun, saya tidak pernah kurang percaya diri seperti sekarang ini. Jadi saya hanya mengingat-ingat pengalaman saya bersama kedua pendeta itu. Saya perhatikan, baik Pdt. Stefanus Pingki maupun Pdt. Gilbert setiap kali berdoa untuk saya, memegang kepala. Jadi saya ikut saja. Meskipun sekarang yang saya harus pengangi adalah kepala ibu saya. Bagaimana nanti sajalah, saya pikir ketika mempertimbangkan akibatnya. Kalau sembuh tidak masalah. Tapi kalau tidak sembuh, bisa-bisa saya dituduh hanya mempermainkan orangtua. Tapi saya mengasihi ibu saya dan tidak mau ia dikalahkan oleh penyakit ginjalnya, jadi saya ambil resiko itu. Saya menumpangkan tangan ke atas kepalanya dan berseru, “Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi aku tahu, Engkau adalah Allah penyembuh. Bilur Yesus sudah menyembuhkan. Dalam nama Yesus. Amin.” Sewaktu berdoa demikian dengan nyaring, tiba-tiba saya merasakan ada suatu kuasa, aliran listrik yang luar biasa. Bukan listrik tapi juga terasa seperti setruman-setruman. Bedanya, kalau tersengat

aliran listrik yang asli rambut saya bisa langsung tegak berdiri semua. Saya merasakan ada aliran luar biasa yang masuk ke dalam tubuh saya. Dan apa yang terjadi? Saat itu juga, ibu saya yang bungkuk, bisa berdiri dengan tegak. “Terasa enak,” katanya dengan girang. Dengan harap-harap cemas saya berkata, “Ma, ayo kita periksa ke dokter lagi.” Setelah diperiksa, dokter berkata, bahwa ginjal ibu saya jadi ginjal anak kecil. Maksudnya bukan mendapat ginjal kecil. Tapi ginjal ibu saya jadi seperti baru kembali! Itulah kuasa Allah yang sejati: yang tidak ada menjadi ada, yang ada disempurnakan. Di sinilah saya mendapat pengertian baru mengenai kuasa kesembuhan Allah yang berbeda dari ‘kuasa’ kesembuhan iblis. Sejak saat itu dengan antusias saya belajar mengalirkan kuasa kesembuhan dari Allah, saya suka menumpangkan tangan ke atas orang ketika mendoakannya. Saya juga pernah mengalami satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang. Saya bertemu dengan seorang ibu penganut Katolik yang taat. Dia menderita komplikasi antara penyakit kanker rahim, infeksi kandungan, pengapuran di tempurung orak. Sewaktu melayaninya, saya bertanya terlebih dahulu, “Ibu, maukah Ibu percaya kepada Yesus?” Ia menukas, “Saya sudah percaya kepada Yesus dari dulu.” Pada waktu saya mulai memberikan kesaksian tentang mujizat kesembuhan Ilahi, dia menanggapi dengan dingin, “Kalau Yesus memang mengutus Anda, jangan hanya Anda yang datang. Biarlah Yesus sendiri yang datang ke sini.” Wah, saya merasa gelagapan juga. Saya melapor kepada Tuhan Yesus, “Tuhan Yesus, bukankah Engkau tahu apa yang harus Engkau lakukan? Aku tidak tahu. Ibu ini meminta Engkau datang sendiri. Bagaimana ini” Tiba-tiba saya mendengar Tuhan menjawab saya, “Kalau begitu, Aku akan datang ke sana sendiri.” Wah, saya tidak dapat membayangkan, atau mengira-ngira apa yang akan terjadi. Anda tahu? Ketika bertemu lagi, ibu itu dan seisi rumah, termasuk adiknya yang turut menyaksikan langsung kejadian supranatural dari Allah, bertobat, menyerahkan dirinya menjadi pendeta, dan melayani di Solo. Pada suatu kesempatan saya bertanya kepadanya apa yang telah terjadi padanya. Ia baru bercerita, “Pada waktu itu,” kesaksiannya, “ada awan yang masuk ke dalam rumah, awan hitam.” Ia melanjutkan sambil mengenang-ngenang peristiwa luar biasa itu, “Tiba-tiba ada petir menyambar masuk rumah. Tetapi meskipun menyambar dengan dahsyat masuk ke dalam rumah, tidak ada satu genting pun yang pecah.” “Yang aneh lagi,” imbuhnya, “Petir itu berubah menjadi cahaya, berwarna-warni cerah seperti cahaya pelangi, dan terpecik darah Yesus, seperti kristal merah. Dan pada waktu terciprat darah Yesus, mengenai wajah saya, saat itu juga, saya sembuh!”

Kanker rahimnya hilang, infeksi kandungannya sembuh, dan tulang tengkoraknya pulih seperti sediakala. Ia segera memeriksakan dirinya kepada dokter. Hasilnya sama saja: sembuh total. Setelah diperiksa ulang dan di-check up, para dokter dengan setengah tidak percaya berkata, “Yang begini belum pernah kami lihat!” Dan orang itupun bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu, sehingga mereka takjub lalu memuliakan Allah, katanya: “Yang begini belum pernah kami lihat” (Markus 2:12). Haleluya! Terpujilah Allah! Inilah mujizat sesungguhnya. Setelah kejadian itu, saya semakin bersemangat dan suka mendoakan orang sakit.

5
BUKAN HAMBA TUHAN, TETAPI TUHAN YANG MENYEMBUHKAN

Suatu kali, saya diundang berkhotbah seperti biasanya. Dan peristiwa ini kelak menjadi pelajaran penting bagi saya juga. Biasanya, seusai berkhotbah atau memberikan kesaksian, saya sering memakai saputangan untuk mengusap wajah saya. Saputangan saya pernah tertinggal dan diambil seseorang. Saputangan itu dipergunakan untuk menumpangkan tangan ke atas orang sakit dan sembuh! Anda tahu akibatnya? Saputangan itu diperebutkan orang! Ini menimbulkan ekses negatif dimana orang memusatkan perhatian pada apa yang kelihatan, bukan kepada kuasa Tuhan yang tidak kelihatan. Karena peristiwa itulah, saya ditegur Tuhan. Suatu kali, saya sedang berkhotbah di daerah pedesaan. Ada seseorang yang berkaki cacat ketika didoakan langsung sembuh saat itu juga. Mujizat luar biasa terjadi. Banyak yang menyaksikan sendiri kuasa kesembuhan Allah didemonstrasikan. Dengan semangat pendetanya mengajukan usul, “Pak Daud, kalau begitu, orang-orang yang di rumah sakit, yang ada di jalan-jalan, orang-orang gila, akan kami undang ke gereja semua.” “Kapan?” saya bertanya dengan tidak kalah antusiasnya. “Bulan depan, Pak Daud.” “Baik!” Wah, saya senang. Karena saya memandang ini adalah kesempatan yang baik untuk melakukan pertobatan jiwa besar-besaran. Bukankah ini yang paling diinginkan seorang hamba Tuhan? Tapi ada satu tindakan yang saya lupakan. Anda tahu? Yaitu, bertanya kepada Tuhan. Saya demikian bersemangat sehingga lupa, bahwa semua kesembuhan itu tidak akan terjadi tanpa campur tangan dan seijin Tuhan. Tetapi Tuhan tidak membiarkan saya melakukan kesalahan. Sehari sebelum berkhotbah, Tuhan Yesus menegur saya, “Mereka datang bukan mencari Aku, tapi mencarimu. Karena itu engkau akan Kubaringkan tiga hari tiga malam. Berdiam dirilah dan renungkanlah peristiwa ini.” Saya terkejut. Waktu itu hati saya berontak. Dalam ketidakmengertian saya merasa tidak bersalah. Saya berdalih bukan saya yang memiliki ide tersebut. Saya merasa saya tidak sedang mencoba mencuri kemuliaan Tuhan. Saya berpikir, Bukankah Tuhan sendiri yang senang kalau banyak orang disembuhkan lalu percaya kepada Tuhan? Setelah teguran itu, sampai sekarang saya tidak berani lagi menumpangkan tangan begitu saja. Saya bergidik ngeri juga, Apa yah maksudnya 'Kubaringkan tiga hari tiga malam' itu? Tepat esok paginya, ditubuh saya timbul bentol-bentol kecil bewarna merah berisi air. Suhu badan saya meningkat. Saya positif terkena cacar air! Dari kepala sampai kaki, bahkan waktu itu sempat keluar darah. Rupanya ini jenis cacar air spesial! Saya lemas dan berpikir keras, Oh Tuhan, pencobaan apa yang Engkau timpakan padaku? Saudaraku, saya perlu sampaikan di sini, Tuhan tidak pernah mencobai.

“Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Yakobus 1:13-15

Saya berseru begitu karena saya sedang dalam keadaan frustasi. Ada suatu event besar di hadapan saya. Event di mana akan terjadi mujizat besar-besaran. Tetapi saya tidak boleh terlibat di dalamnya. Tapi kalau sebelum menjawab tawaran pendeta itu, saya bertanya dahulu kepada Tuhan, maka mungkin saya belum pernah mencoba rasanya terkena cacar air sampai sekarang. Setelah saya mengucapkan kata ngawur tersebut, Tuhan langsung memberikan saya penjelasan dengan perlahan-lahan: “Karena mereka datang bukan mencari Aku, mencarimu.” Tuhan tidak mau saya mencuri kemuliaanNya dan menyesatkan banyak orang yang tidak lagi berharap kepadaNya. Sebab kecenderungan orang adalah mencari mujizat, bukannya Sumber segala mujizat. Nah, si pendeta itu tidak tahu-menahu apa yang terjadi pada saya datang ingin bertemu dengan saya. Dengan ringannya ia berkata, “Pak Daud, silahkan pada hari ini jam ini Bapak Daud berkhotbah.” Saya menjawab dengan bergurau tapi juga setengah menyalahkan, “Pak pendeta, Anda tahu? Garagara Anda, lihat wajah saya, cangkrang semua.” Lalu saya menjelaskan apa yang terjadi. Sebab saya mendengar orang mengatakan kalau terkena cacar air, bekasnya akan sulit hilang. Sempat juga saya cemas sewaktu berkaca di cermin, Aduh, jangan-jangan aku nanti tidak laku nikah. Tapi dalam nama Yesus pikiran itu langsung saya buang. Akhirnya kami memutuskan, saya tidak jadi berkhotbah. Tepat tiga hari kemudian saya bisa bangkit dari ranjang karena tubuh saya sudah terasa enak hanya sedikit gatal saja. Waktu itu Yesus datang menemui saya lagi dan berkata, “Seperti seorang ayah yang rindu memeluk anaknya, demikian Aku mengasihi dan memeluk engkau.” Saya sungguh merasa kebenaran ini:

“Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.” Mazmur 78:38

Saya akhirnya mengerti firman Tuhan mengenai amarah Tuhan hanya sebentar, namun kemurahanNya sepanjang masa. Tetapi setelah Aku mencabut mereka, maka Aku akan menyayangi mereka kembali (Yeremia 12:15).

Setelah itu Tuhan berbicara lagi, “Dari sinilah engkau belajar supaya engkau mengarahkan mata umat-Ku kepada Tuhan bukan kepada manusia.” Saya ingat sewaktu saya naik ke surga bercakap-cakap dengan Tuhan, Yesus mengajar saya, “Saat ini dunia sudah masuk ke dalam perhitungan akhir jaman, banyak orang mencari mujizat, nubuat dan penglihatan. Gereja-gereja yang memilikinya akan dipenuhi. Pendeta-pendeta yang melakukan banyak mujizat akan banyak diundang. Tapi ingatlah, itu tidak bisa menyelamatkan mereka. Yang menyelamatkan umatKu adalah mengenal Aku.” Yang bisa menyelamatkan kita adalah mengenal Tuhan dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pada waktu saya mendengar suara itu saya bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, Tuhan?” “Peringatkan umatKu melalui pengajaranmu.” Nah, perhatikan saja, misalnya kalau seorang pendeta yang dijuluki kelas papan atas (seperti artis saja!) yang berkhotbah. Datang semua. Kalau pendeta yang berkhotbah tidak terkenal, menghilang semua. Saudara yang saya kasihi dalam Tuhan Yesus. Tuhan telah memperingatkan saya dan kita semua, bahwa di mataNya perbuatan ini bukan sedang mencari Tuhan, tapi sedang mencari manusia.

6
DI MANAKAH MUJIZAT ADA?

Saudaraku, pada waktu Tuhan Yesus mengajar saya sendiri selama dua tahun sebelum mengutus saya menjadi pengkhotbah, saya senantiasa bercakap-cakap dengan Dia. Tepat di akhir tahun kedua, saya ingat Tuhan berbicara, “Nanti RohKu yang akan menuntun engkau.” Setelah itu, Dia juga memperingatkan saya, “Walaupun engkau Kukaruniai mujizat kesembuhan dan penglihatan, tapi engkau tidak boleh bersandar dengan nubuat dan penglihatan.” Waktu itu saya bertanya, “Lho, mengapa Tuhan? Bukankah nubuat dan penglihatan itu pemberian Tuhan?” Karena penglihatan kita tidak sempuna. Nubuat kita tidak sempurna. Bagaimanapun juga kita melihat Tuhan secara samar-samar karena terbatas oleh kedagingan kita.

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal”. 1 Korintus 13:12

Yang sempurna adalah Yesus dan, Anda tahu, Alkitab! Jadi bagi orang yang hatinya cenderung kepada nubuat, penglihatan, atau mujizat daripada membaca firman Tuhan, Anda sudah tahu di mana posisi Anda di mata Tuhan. Anda tidak mungkin mengasihi Tuhan tanpa mengasihi FirmanNya, Anda tidak mungkin mengenal Tuhan tanpa mengenal FirmanNya. Mengapa tidak? Karena Allah adalah Firman. Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Yohanes 1:1-4

Karena itu demi kasih Tuhan Yesus, marilah bertobat dan mulailah merenungkan Firman itu siang dan malam sebagaimana perintah dan kehendakNya.

“Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Yosua 1:8

Percayalah, perkara-perkara ajaib seperti mujizat, bahasa roh, nubuat, penglihatan, penampakan Yesus, dan sebagainya akan secara otomatis menyertai orang percaya termasuk Anda sebagaimana janjiNya.

“Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Markus 16:17-18

Lagipula nubuat dan bahasa roh akan berhenti, tetapi kasih akan tetap.

“Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.” 1 Korintus 13:8

Jadi untuk membuktikan kasih yang kekal itu kepada Tuhan, hanya satu, menaati perintahNya.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Yohanes 14:15

Dan bagaimana Anda tahu apa perintahNya kalau bukan dari FirmanNya? Setelah percakapan itu, saya melihatNya menyerahkan Alkitab kepada saya. Sampai sekarang, setelah saya ditegur Tuhan, setiap kali ada orang sakit meminta saya mendoakan, bila Tuhan tidak menyuruh saya, saya akan berkata, “Oh, biarlah pendeta Anda saja yang menumpangkan tangan ke atas Anda.” Mengapa? Sederhana saja, saya berpikir dua kali sebelum ditegur Tuhan lagi. Nanti kali ini masuk rumah sakit, tidak hanya cacar air. Saya merasa masih lebih beruntung dari Musa yang tidak diijinkan masuk ke tanah Perjanjian karena melanggar perintah Tuhan.

Pada suatu kesempatan, saya diutus Tuhan ke Kalimantan Barat, dan saya diijinkan terserang penyakit malaria. Mata saya sampai bewarna kuning keruh. Tidak bersinar sama sekali. Dokter memvonis saya melalui teman saya karena tidak tega memberitahu saya sendiri, “Tolong sampaikan kepada temanmu,” teman saya memberitahu saya, “Kalau sembuh, mungkin sarafnya sudah terkena.” Dengan kata lain linglung bin sinting. “Ada kemungkinan lain?” teman saya bertanya dengan kuatir. “Ada, meninggal!” Terserang malaria sampai mengenai saraf. Dokter sudah mengangkat tangan. Mereka mengangkat tangan bukan karena menyembah Tuhan, tetapi menyerahkan saya kepada kemurahan Tuhan! Saat ketahuan, saya langsung dimasukan ke UGD (Unit Gawat Darurat). Saya diopname di RS Abdul Azis. Saya diberikan pihak rumah sakit bukan kelas I, VIP, apalagi VVIP. Tapi kelas rombongan. Satu ranjang dengan ranjang lain yang berjarak kurang lebih satu meter dibatasi tirai. Tanpa mengerti maksud Allah yang sebenarnya, saya mengeluh dan berseru, “Tuhan, mengapa aku sakit? Padahal Engaku yang mengutus aku.” Saudaraku, saya berkata sejujurnya, bahwa pada saat itu, saya merasa frustasi. Saya telah mengerti sebelumnya dan sekarang saya tegaskan lagi, bahwa Tuhan tidak pernah menciptakan penyakit. Tuhan tidak pernah mendatangkan pencobaan, tapi melalui peristiwa buruk yang diijinkan Tuhan, Ia akan turut bekerja mendatangkan kebaikan, misalnya supaya kita bertobat.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Roma 8:28

Tetapi sekuat-kuatnya seorang pengkhotbah, saya tetap manusia yang bisa frustasi juga bukan? Nah, di tengah-tengah doa, atau lebih tepatnya, jeritan saya kepada Tuhan, tiba-tiba pada larut malam, jam 12, Yesus datang menemui saya. Yesus bertanya kepada saya: “Daud, mujizat itu ada di mana?” “Saat pendeta Gilbert Lumoindong menumpangkan tangan ke atas saya.” Saya menjawab tanpa pikir panjang lagi. Tapi Yesus menjawab, “Mujizat tidak ada di situ.” Waduh, kalau begitu siapa yang mendoakan aku waktu itu? Saya berpikir dalam hati tanpa mengerti maksud perkataanNya. Yesus bertanya lagi kepada saya, “Mujizat ada di mana?”

“Saat orang Kristen mendoakan saya.” Saya teringat kepada saudara saya yang berdoa syafaat untuk saya. Tapi Yesus menjawab saya, “Mujizat juga tidak ada di situ.” Wah, saya bingung dan berharap Tuhan tidak bertanya lagi karena saya sudah tidak tahu apa jawabannya. Sewaktu saya masih diam karena bingung, tiba-tiba Yesus bertanya kepada saya, “Dengan apa Aku menciptakan langit dan bumi?” Saya menjawab perlahan-lahan dengan ragu-ragu, “Dengan firmanMu.” “Dengan apa Aku menciptakan manusia?” “Dengan firmanMu.” “Dengan apa Aku menciptakan bulan yang engkau lihat di malam ini?” “Dengan firmanMu.” “Dengan apa Aku menciptakan bintang-bintang yang bertaburan?” “Dengan firmanMu.” “Mujizat tidak jauh dari hidupmu, ada di dalam mulutmu dan batinmu, itulah mujizat.” Yaitu apa? Firman. Tuhan berbicara kepada saya sesuai dengan apa yang telah tertulis dalam kitab Roma. Dan sebagaimana saya diminta untuk merenungkannya, saat ini juga saya mengajak Anda untuk merenungkannya.

"Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10:8-10

Setelah saya merenungkan, saya bertanya kepada Tuhan, “Kalau begitu apa yang harus saya lakukan, Tuhan?” Anda tahu apa yang dimintaNya? Di dalam suatu bangsal rumah sakit bernama Abdul Azis yang penuh dengan pasien dan di tengah malam pula, saya diminta berseru, “Bilur Yesus sembuhkan aku!” Di rumah sakit Abdul Azis! Bisa Anda bayangkan perasaan saya?

Saya menengok ke kiri kanan saya, ranjang demi ranjang penuh berderet pasien dan semuanya sudah mendengkur. Mungkin di antara mereka, satu-satunya yang beragama Kristen hanya saya seorang. Sedangkan ruangan dalam keadaan penuh. Yah, sudah di tengah keheningan malam jam 12, saya mulai berbicara perlahan-lahan berharap suara saya tidak menggangu orang lain, “Bilur Yesus, sembuhkanlah aku.” Sembuh? Tidak, malahan demam. Suster jaga yang datang dan mendapati saya sedang berkomatkamit perlahan-lahan, “Bilur Yesus, sembuhkanlah aku.” Berkomentar di antara sesama mereka, “Karena demam tinggi, orang ini mengigau.” Seakan-akan ini belum cukup buruk, saya bisa mendengar, ada pasien yang mengeluh kepada suster saya, “Ini orang gila dari mana, dimasukkan ke sini?” Mengapa saya bisa mendengar mereka? Karena saya tidak mengigau tetapi mentaati perintah Tuhan. Tetapi karena saya hanya memiliki dua alternatif, kalau tidak sembuh, dikatakan gila. Apalagi kalau nanti ditelusuri ternyata saya memiliki latar belakang pengalaman gila selama setahun. Atau lebih buruk lagi, kalau tidak dianggap gila, mati. Entah mati karena malaria, atau mati sahid dikeroyok pasien yang merasa agamanya terusik. Saya memilih lebih baik nekad. Sebab semenjak diberitahu oleh teman saya mengenai keadaan saya, sebenarnya hati saya gentar juga. Saya sempat berdoa dalam hati, “Bilur Yesus, sembuhkanlah aku. Tuhan aku jangan mati dulu karena aku belum nikah.” Sudah kepalang tanggung. Jadi di tengah-tengah komentar sumbang mereka, saya mulai mengeraskan suara saya. Saya berkata dengan lebih mantap, “Bilur Yesus, sembuhkanlah aku.” Sembuh? Kenyataannya demam saya semakin tinggi. Hati saya ketakutan dan gelisah sekali. Saya berada di tengah-tengah antara taat dan kuatir. Kuatir dengan keadaan di sekeliling saya di dalam rumah sakit Abdul Azis ini. Puji Tuhan, Yesus menemui saya lagi, “Kamu ingin sembuh?” “Ya, Tuhan.” Saya menjawab secepat mungkin. “Ganti ucapanmu. Katakan 'bilur Yesus sudah menyembuhkan aku'” Saya yang sejak awal berseru, “Bilur Yesus, sembuhkanlah aku,” diperintahkan untuk menggantinya dengan ucapan baru, “Bilur Yesus sudah menyembuhkan aku.” Ketika pertama kali saya mengucapkannya, ada sesuatu yang bangkit di dalam saya. Lebih dari kepercayaan diri, lebih dari keyakinan, itulah iman.

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Ibrani 11:1

Mendengar ucapan saya sendiri, saya menjadi lebih bersemangat, “Bilur Yesus sudah menyembuhkan aku.” Dan saya bisa mengatakan, “Aku sudah sembuh.” Beberapa kali saya mengucapkannya, semakin lama, saya merasakan iman saya yang bangkit dan hidup berubah menjadi aliran yang menjalar ke seluruh tubuh, dari atas ke bawah, mengisi seluruh pikiran dan hati saya. Tiba-tiba dari seluruh aliran itu seakan memancarkan sesuatu: kuasa. Kuasa dari iman yang bangkit melalui ucapan yang sesuai dengan firman Allah. Itulah yang sebenarnya Tuhan cari di dalam diri kita. Iman.

“Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?" Lukas 18:8b

Bukan iman yang mati atau hanya sekadar di mulut saja, tetapi iman yang hidup melalui tindakan kita.

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Yakobus 2:26

“Tindakan yang bukan hanya mengikuti liturgi yang ada, tetapi tindakan yang kita tahu pasti berasal dari perintah Allah.” Roma 14:23

Allah bukan tidak mau menyembuhkan kita. Ia mau dan sudah melakukannya beribu-ribu tahun lalu di atas salibNya sesuai dengan firman Tuhan yang telah kita baca tadi. Yang perlu Anda lakukan adalah mengakuiNya bahwa oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh (Yesaya 53:5). Mengakui, bahwa perbuatanNya telah genap dikerjakan di dalam kita, seperti perkataan Yesus, “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Gantikanlah setiap permohonan Anda dengan ucapan yang penuh dengan iman yang hidup, puji-pujian, dan ucapan syukur. Anda perlu belajar memperkatakan iman, bukan kata-kata yang kosong. Teks di dalam Alkitab berbeda dengan Firman Allah. Teks adalah kata-kata mati yang dituliskan oleh manusia melalui pertolongan mesin cetak. Tetapi Roh menghidupkan teks tadi kembali sebagai Firman Allah. RohNya

sudah ada di dalam diri Anda. Andalah yang harus mengucapkannya, bukan Tuhan. Karena Ia telah mengatakan-Nya. Setelah mengganti permohonan saya dengan pengakuan, iman saya bangkit, saya merasakan badan saya pulih kembali. Sembuh. Demam saya berhenti. Saya mengucap syukur dan terus berkata-kata dengan penuh keyakinan yang hidup dan keberanian. Saya tidak peduli lagi terhadap apa yang mungkin pasien-pasien lain pikirkan terhadap saya. Hati saya melimpah dengan syukur dan pujian, sementara mulut saya terus mengucapkan kata-kata iman tersebut, sampai saya tertidur pulas. Keesokan harinya, saya terbangun ketika dokter jaga memeriksa saya bersama perawatnya. Dahinya berkerut, “Inikah pasien yang katanya terserang malaria kemarin?” “Benar, Dokter.” “Lho, bukankah orang ini sehat-sehat saja?” Dahinya semakin berkerut. Memberikan laporan yang salah kepada dokter merupakan kesalahan yang tidak kecil, menyangkut nyawa pasien. Rupanya entah bagaimana perawat ini juga tahu soal ucapan saya kemarin malam, “Pak Dokter, kemungkinan Pak Dokter salah periksa. Tadi malam pasien ini sampai mengigau, Pak.” Maksudnya demam saya tinggi. “Diberitahu tidak percaya! Coba lihat, matanya tidak kuning sebagaimana orang sakit malaria.” Saya juga jadi ingin tahu, raut wajah saya saat itu. “Lho, betul itu tidak apa-apa Pak Dokter?” “Iya.” “Coba, Pak Dokter kemungkinan salah periksa. Coba disuntik lagi.” Apa boleh buat, saya belum bisa lari dari jarum suntik rupanya. Tidak lama kemudian hasil laboratorium sudah keluar. Dokter yang membaca hasilnya hanya berkomentar singkat tetapi sudah cukup bagi saya untuk bersorak-sorak dalam hati, “Anda sudah sembuh.” Anda tahu, apa yang dikatakan para pasien yang mengikuti percakapan antara dokter dengan juru rawat tadi? Mereka ikut bersemangat dan saling mengajak, “Yuk, kita ikut omongan aneh tadi malam, seperti orang gila itu.” Padahal ini masih di rumah sakit Abdul Azis, belum gereja. Setelah itu, para pasien yang terdekat di sebelah saya bercakap-cakap dengan saya, “Pak Daud, biaya rumah sakit ini mahal. Tolong ajari mantera aneh itu tadi malam.” Saya semakin mengerti maksud Tuhan mengutus saya ke rumah sakit ii, dan menjawab dengan bersemangat, “Itu bukan mantera, Pak, Firman Tuhan. Tapi itu betul-betul mujizat lho, Pak. Bukan kemampuan saya.” Saya masih tidak mau diminta mendoakan mereka.

Tapi tidak terhindarkan, akhirnya pasien lain yang sakit mengikuti ucapan saya, “Bilur Yesus sudah menyembuhkan aku.” Yang matanya tidak bisa melihat, yang kakinya lumpuh...hasilnya tetap tidak bisa melihat dan lumpuh. Saya agak berkeringat dingin. Wah, celaka aku sekarang, Tuhan. Tadi malam aku sembuh, mengapa mereka tidak sembuh? Saya membatin dalam hati. Tuhan baik. Tiba-tiba Tuhan berbicara lagi kepada saya dengan berwibawa:

“Bukannya tanganKu kurang panjang untuk menolong. Juga bukannya telingaKu kurang mendengar, tapi karena dosa. Kesalahanmu menghalangi semuanya ini, dan dosamu menghambat yang baik dari padamu.” Yeremia 59:1 dan Yeremia 5:25

Lalu Ia mengatakan lagi, “Mintalah mereka mengaku, di mulut dan hati mereka, percaya kepadaKu sebagai Tuhan dan bertobat mengakui dosa.”

“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.” Roma 10:9-10

Saya taat lalu berkata kepada mereka, “Percaya dulu kepada Tuhan Yesus, lalu akui dosa-dosa.” “Dosa seperti apa?” tanya mereka penasaran. “Ya, misalnya mencuri ayam, akui apa sajalah.” Saya ‘kan tidak tahu dosa apa yang mereka miliki. Tapi mereka yang meminta pertolongan kepada saya taat juga. Mereka mulai memejamkan mata berdoa, mengakui dosa-dosa mereka. Saya bisa mendengar perkataan, “Bilur Yesus sudah menyembuhkan aku,” di segala penjuru. Setelah mereka mengakui dosa-dosanya, dan waktu mereka mengakui bahwa mereka percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, bahkan ada pula yang mengangkat tangannya ala sembahyang mereka dan berseru keras, “Bilur Yesus sudah menyembuhkan aku.” Mereka sangat serius. Kita saja berdoa kadang-kadang kalah serius dengan mereka. Kalau saja Anda berada di sana untuk melihat sendiri apa yang terjadi. Saat itu juga, mata mereka yang tidak bisa melihat langsung terbuka. Yang kakinya lumpuh langsung berjalan. Kesembuhan terjadi. Mujizat kesembuhan Ilahi terjadi bukan di KKR atau gereja. Tetapi di rumah sakit Abdul Azis! Itulah kesembuhan Ilahi. Buka saya yang menyembuhkan. Pendeta tidak bisa menyembuhkan.

Kalau ada orang yang berkata, pendeta ini menyembuhkan, atau suatu gereja menyembuhkan, ini adalah suatu kebohongan dan penyesatan besar-besaran. Saya beritau satu kebenaran ini. Semua pendeta tidak bisa menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah Yesus. Sebab bukan hanya pendeta, tapi semua orang percaya, diberi kuasa untuk meletakkan tangan ke atas orang sakit dan Tuhan menyembuhkannya. Inilah kesembuhan Ilahi sesungguhnya: yang tidak ada menjadi ada, yang ada disempurnakan. Haleluya! Berikan kemuliaan bagi Tuhan!

7
KESEMBUHAN DARI SETAN ITU MUJIZAT ATAU TIPUAN MATA?

Sekarang kita akan membahas asal kesembuhan yang kedua, yaitu: kesembuhan dari setan. Sebenarnya istilah ini pun tidak tepat, karena setan tidak bisa menyembuhkan. Mari kita membahas dengan jujur, mengapa para dukun berumur panjang? Kalau Anda rajin menyelidiki dan mencari tahu, Anda pasti akan menemukan, bahwa umur para pasiennya justru pendek-pendek. Inilah rahasia sebenarnya yang ada di balik penipuan penyembuhan dari setan. Ketika seseorang pergi ke dukun atas kemauannya sendiri, ia membuka celah. Bukan saja celah untuk roh jahat masuk ke dalam kehidupannya. Tetapi celah supaya umurnya disedot, dikenal dalam dunia kebatinan dengan istilah kekuatan kehidupan, dipindahkan kepada dukunnya, supaya dukunnya berumur panjang sedangkan umur pasiennya diperpendek. Mengapa umur dukun diperpanjang? Supaya mereka bisa melayani kebutuhan iblis selama mungkin. Sebab mencari orang yang mau mengikuti iblis dengan taat juga susah-susah gampang. Orang mungkin mau mengikuti iblis karena diiming-imingi hal-hal duniawi yang menyenangkan. Sedangkan menjadi pengabdi iblis banyak juga pantangannya. Contohnya saya sewaktu menjalani praktek sebagai dukun memiliki pantangan juga. Dan cukup berat bagi pemuda sehat dan normal seperti saya. Yaitu pantang menikah. Jangankah menikah, jatuh cinta pun sudah tak boleh. Pokoknya harus 'kudus' dari perempuan. Sehingga saya setuju sekali dengan komentar yang diberikan oleh Pdt. Gilbert, bahwa Anda harus menjadikan pengalaman saya sebagai peringatan keras supaya tidak bermain api dengan dunia okultisme. Jangan pernah berpikir iblis adalah sosok yang membiarkan Anda melakukan apa yang Anda inginkan semaunya. Seperti juga dengan Allah, ia punya aturan main. Dan aturan mainnya sangat keras. Tidak main-main. Dan itulah sebabnya kalau ada di antara Anda yang sering mendatangi dukun, akan merasakan kaki Anda lemas sekali. Saya bahkan pernah melihat yang mengalami kelumpuhan. Saudaraku, sebenarnya setan tidak bisa menyembuhkan tumor dan kanker. Jika ada demonstrasi ilmu di mana seorang dukun membedah tumor dan kanker dengan tangannya, dibuka lalu dipindahkan dengan magic ke binatang atau ke dalam air. Yang sebenarnya terjadi tumor atau kanker itu tidak dipindahkan ke binatang atau ke air, tetapi dipindahkan ke salah satu bagian tubuhnya sendiri. Dalam jangka waktu lima tahun, akan kambuh lagi, lebih parah daripada keadaan semula. Mengapa saya bisa berbicara seperti ini? Puji Tuhan, satu alasan yang paling utama karena Tuhan sudah memilih dan memanggil saya. Kalau saya sampai detik ini belum bertobat, pasti sampai mati pun saya akan menutup rapat-rapat rahasia ini. Mengapa? Klien dan pasien saya bisa bubar semua!

Saya tahu di Indonesia ada seorang penganut kebatinan yang tampaknya memiliki ilmu yang sakti mandraguna sehingga tidak ada seorangpun yang bisa coba-coba mengusik atau mengganggunya, baik secara supranatural apalagi dengan cara biasa. Para penganut kebatinan pasti akan mengenal orang ini, dan mereka memilih lebih baik menghindarinya daripada berhadapan langsung dengannya. Tapi tanpa mereka sadari sebenarnya selalu ada titik kelemahan di setiap penganut ilmu gaib. Para murid tingkat rendah, mungkin kelemahannya hanya oleh daun kelor, daun pisang, daun sirih, dan sebagainya. Tetapi semakin tinggi tingkat ilmunya, semakin sukar titik kelemahannya diketahui orang misalnya tanggal kelahirannya. Untuk orang sekelas yang sepadan dengan 'ban hitam dan tertinggi' ala Karate, seperti orang yang saya kenal tadi bisa jadi kelemahannya ada pada tubuhnya atau bahkan bayangannya! Kebenarannya, setan tidak bisa menyembuhkan. Ia hanya menipu mata Anda dengan trik bak seorang pesulap trampil. Ia adalah ilusionis sejati. Membuat Anda mempercayai apa yang Anda lihat. Ingatlah, ia hanya malaikat dengan kemampuan yang terbatas. Seorang dukun dengan ilmunya yang tercanggih pun diberikan satu titik kelemahan. Hal ini supaya iblis tetap bisa mengendalikannya. Jadi bila orang ini coba-coba memberontak (seperti yang pernah dilakukan sang 'guru besar'-nya terhadap Tuhan), iblis tidak segan-segan untuk menghancurkannya terlebih dahulu melalui titik kelemahannya. Ada seorang buronan yang tidak bisa ditangkap di mana-mana. Tampaknya ia menghilang begitu saja seperti asap. Sebetulnya ia tidak menghilang, mungkin ia berdiri, atau bahkan sedang melintasi para penangkapnya sambil melenggang-kangkung. Apa rahasianya? Ilusionis, iblis menutup mata para penangkapnya sehingga sekalipun mereka melihatnya, mereka tidak akan mengenalinya, atau bahkan mengira itu orang lain. Atau dengan hipnotis, sehingga semisalpun orang mengenalinya, ia akan lupa untuk menangkapnya. Bahkan bisa lupa bahwa mereka pernah bertemu. Tapi ada kabar baiknya, orang yang berada di dalam Roh Kudus, ketika mempercayai Yesus Kristus sebagai Tuhan tidak akan mempan terhadap tipuan ini. Haleluya! Buronan itu pasti mati-matian menghindari orang di dalam Tuhan, karena kita pasti mengenalinya apabila melihatnya. Jadi apa yang sebenarnya iblis lakukan terhadap Anda? Bagini, misalnya saya menderita encok di pinggang kiri, ia hanya memindahkan sakit encok ke punggung atau kaki. Anda hanya memperhatikan pinggang kiri Anda yang tidak lagi mengalami sakit. Karena Anda tidak menyadarinya, lima atau sepuluh tahun mendatang, tiba-tiba Anda akan menderita sakit encok yang parah di punggung atau kaki. Setan tidak bisa menyembuhkan. Tetapi ingat, setan adalah ahli pengobatan. Mengapa saya seakan-akan memuji iblis? Keenakan dia dong!?

Yah, tidaklah mengherankan sebetulnya. Iblis memiliki pengalaman menyontek dan meniru apa yang diperbuat Tuhan selama berpuluh-puluh abad, sedangkan dokter-dokter senior sekarang rata-rata hanya punya pengalaman 60 tahun praktek plus beberapa tahun pendidikan. Kalau begitu bagaimana cara kerjanya? Iblis tahu dan mengamati, sesungguhnya Allah menciptakan tumbuh-tumbuhan untuk dipergunakan sebagai obat untuk manusia. Misalnya, untuk mengatasi masuk angin, Anda dapat minum wedang jahe. Atau pengobatan tradisional untuk diare adalah jambu biji atau jambu klutuk. Iblis tahu, jika suatu tumbuhan digabungkan dengan tumbuhan lain, akan menghasilkan suatu ramuan obat yang manjur. Sehingga setan memanfaatkan sarana penyembuhan alternatif yang memakai ramuan-ramuan tradisional yang diciptakan Allah. Kalau Anda dapat mengenal resepnya, vitamin yang terkandung pada alam itu komplit. Semua penemuan obat-obatan modern berasal dari tumbuhan dengan bentuk yang lebih praktis.

Jadi obat-obatan tradisional tidak memiliki hubungan dengan okultisme. Tetapi, masalahnya setelah dimanterai, roh ini akan masuk ke dalam ramuan itu. Apapun namanya ilmu hitam, ilmu putih, semua berasal dari setan. Meskipun seorang dukun beraliran ilmu putih, mereka tetap akan mentransfer roh-roh, bukan mentransfer dana ke rekening Anda. Salah satunya adalah roh perpecahan. Sehingga pasien dan rumah tangganya akan mengalami keretakan dan kehancuran. Roh lain yang biasanya ikut tertransfer setelah roh perpecahan adalah roh perzinahan. Jika seseorang belum memiliki anak dan memintanya kepada dukun, mereka akan mentransfer roh yang disebutdengan roh pemberontakan ke dalam tubuh anaknya kelak. Jika ada seseorang yang meminta kekayaan melalui perantaraan dukun, ada roh tambahan yang ditransfer, tapi sama mengerikannya, yaitu roh kegilaan atau kebodohan. Hal ini banyak saya jumpai pada anak yang orangtuanya pernah mencari pesugihan. Di dalam pelayanan pelepasan, kiriman roh ini juga dikenal dengan nama transfer spirit. Apa akibatnya? Misalnya seseorang sejak di dalam kandungan, ibunya pernah mendatangi dukun untuk meminta jampi-jampi atau mantera. Sebenarnya yang terjadi adalah dukun itu mentransfer spirit atau roh, yang akan membentuk karakter sang bayi menurut rancangan si jahat. Sama seperti Allah telah merancang kita sejak dalam kandungan, seperti dalam firman Tuhan:

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku.” Mazmur 139:13

Iblis juga menirunya. Perbedaannya, ia melakukannya melalui perantaraan dukun atau kalau boleh saya katakan merupakan hamba-hamba iblis. Dan ia tidak pernah merancangkan hal yang baik untuk Anda. Karena itulah kutuk atau pengaruh bawaan itu harus dipatahkan di dalam nama Yesus. Meskipun dukun yang didatangi mengaku beraliran ilmu putih, ia akan mentransfer juga roh perpecahan yang turun kepada anaknya, serta yang tak kalah mengerikannya roh kebangkrutan. Apalagi kalau dukunnya terang-terangan mengaku berilmu hitam. Orang yang mendatanginya telah tahu tetapi mengijinkan roh-roh jahat merasuki seluruh ruang hatinya. Dan tidak berhenti sampai di sana, kalau kelak dia memiliki anak, roh-roh jahat turun ke dalam anaknya, biasanya dalam rupa roh pemberontakan. Dari sinilah banyak terjadi kehancuran rumah tangga. Kelihatannya bisnis, karir, atau studi seseorang berhasil setelah mendatangi dukun? Orang itu hanya sedang menunggu saat kejatuhannya. Saya berani mengatakan, setan tidak pernah menjadi teman sejati manusia. Tujuannya pertama adalah membuat pasien mengalami ketergantungan dengan dukun tersebut, ini supaya setan dapat terus mengikat manusia melalui tangan dukun. Tetapi tujuan terutamanya adalah membunuh dan membinasakan manusia (Yohanes 10:10). Lagipula kuasanya sebagai malaikat jelas terbatas.

Ahli Saraf Apalagi 'keahlian' setan? Jangan mengira saya sedang memuji setan kalau saya mengatakan, bahwa setan juga ahli saraf. Jangan salah, saya tidak sedang mengatakan semua dokter saraf adalah setan. Tidak sama sekali. Mengapa setan ahli dalam soal saraf? Di dalam diri manusia memiliki simpul-simpul saraf. Tenaga dalam selalu melibatkan titik-titik saraf manusia. Para hamba Tuhan yang melayani pelepasan sering menemukan, bahwa tubuh orang yang dilayani lemas. Ini terjadi karena roh jahat bercokol di simpul-simpul saraf. Kita akan membahas lebih jauh mengenai pelepasan dan kaitannya dengan simpul-simpul saraf di buku saya berikutnya. Namun karena kadang-kadang penyakit seseorang diakibatkan oleh gangguan roh jahat, saya hanya akan menjelaskan sekilas kepada Anda. Ada empat macam hubungan manusia dengan roh jahat, dikuasai penuh, dihinggapi setengah, dipengaruhi, dan yang keempat adalah manusia normal. Para pengikut Yesus adalah termasuk orang-orang normal. Di sini saya juga ingin menyampaikan, jangan mau atau bangga apabila Anda disebut paranormal. Tahu arti kata paranormal? Artinya tidak berbeda dari orag yang tidak normal, hanya kedengarannya lebih terhormat sedikit. Bagi saya kalau seseorang tidak normal ia berada dalam keadaan gila sebagaimana yang terjadi pada

kehidupan saya yang lama sebagai dukun. Pola pikir seorang gila yang mengira dirinya hebat amat beda dengan pola pikir orang biasa. Mengerikan sekali kalau mengingat hal itu kembali. Jika pada bab sebelumnya kita telah tahu bahwa bukan hamba Tuhan yang menyembuhkan, pada bab ini saya menegaskan, bahwa bukan setan yang menyembuhkan Anda tapi ramuan ciptaan Allah. Setan justru memanfaatkan dukun sebagai media untuk menguasai hidup orang yang menyerahkan dirinya kepada kesesatan. Saya berharap Anda yang mengerti dapat segera memperingatkan saudara-saudara yang lain. Sebab lebih dari seorang dukun alternatif terhebat sekalipun, setan tahu pasti resep ramuan ini.

Aroma Terapis, Pijat Terapis, dan Akupuntur Di dalam seminar banyak orang-orang yang bertanya dengan kuatir kepada saya, “Pak Daud, kalau begitu bolehkan orang Kristen, dipijit?” Wah, rupanya orang Kristen juga suka dipijit? Saya bertanya dalam hati saya. Ada dua jenis pijat. Ada pijat yang berasal dari setan dengan memakai sihir atau mantera, ada pula pijat yang dikembangkan oleh ilmu pengetahuan anatomi manusia. Misalnya pijat yang dilakukan di barber atau salon. Hal yang sama berlaku untuk terapi lainnya seperti pengobatan dengan wangiwangian atau yang disebut dengan aroma terapis. Kalau pijatan karena keahlian alami atau pengetahuan, memang tidak masalah. Tetapi tetap bisa juga menimbulkan masalah. Tergantung siapa pemijitnya. Ini peringatan khusus dan keras bagi para pria. Nah, apabila suatu pijatan memakai teknik sihir atau magic, menggunakan teknik semburmenyembur. Keadaan orang itu bisa lebih parah. Intinya setiap pengobatan yang melibatkan unsur okultisme sebetulnya yang terjadi adalah cairan inti kehidupan si pasien sedang disedot. Ini bukan hanya terjadi pada novel-novel atau film-film horor buatan dalam negeri, tetapi memang ini benar-benar terjadi. Artinya si pembuat film terlibat atau setidaknya mengetahui seluk-beluk dunia okultisme ala Indonesia yang berbeda dengan yang terjadi di luar negeri. Jangan heran bila seseorang yang kecanduan dipijat, tiba-tiba suatu hari kakinya sontak menjadi lemas semua. Setelah itu, bukan tidak mungkin ia mengalami kelumpuhan total dan sekarat menunggu ajal. Mengapa ia bisa lumpuh? Cairan inti kehidupannya telah habis tersedot. Saat cairan inti kehidupan tubuh manusia disedot, hal itu terlihat seperti menghisap semacam insulin. Saya sebut insulin, karena secara medis apabila sekujur tubuh kita mendadak lemas, dokter akan segera mencek kadar insulin.

Praktek sedot-menyedot ini hanya terlihat dengan mata roh. Saya sendiri melihat warnanya putih mengkilap, langsung masuk ke tubuh penyedotnya. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus, mungkin kita tidak tahu, bahwa kita sedang dipijat dengan teknik atau dengan sihir yang menggunakan jampi-jampi semacam wes...ewes...ewes... begitu. Bila memang benar Anda tidak tahu, berdoalah sebelum melakukannya, Tuhan pasti melindungi kita. Tetapi, kalau kita tahu suatu pijitan akan menimbulkan masalah (entah masalah okultisme atau masalah rumah tangga) dan tetap mendatangi pencobaan. Terus terang saja, itu namanya Anda sendiri yang mencari dan mengundang setan. Roh Allah akan undur, setan masuk. Peringatan keras! Kalau kita mendatangi dukun mencari ilmu hitam, Roh Kudus undur dari hati kita. Roh Kudus, memang tidak keluar masuk tubuh manusia, tetapi berdiam dan menetapkan batas kekuasaanNya di hati kita supaya kita tidak diganggu apalagi dirasuki oleh roh jahat. Tetapi kalau kita murtad, mencari ilmu hitam dengan sengaja, berguru kepada dukun-dukun dan sebagai akibatnya harus menyangkali Tuhan di dalam hidup Anda, Roh itu akan undur. Roh setan masuk dan kehancuran akan terjadi dalam hitungan mundur. Dari seminar-seminar saya juga sering sekali ditanyakan mengenai pengobatan memakai teknik tusuk jarum atau akupuntur. Sama seperti pijat, tusuk jarum juga mengenal dua macam asal. Satu menggunakan magic, yang lain karena pengetahuan ilmiah anatomi manusia. Apa ciri-ciri akupuntur asal pengetahuan? Si dokter akan memegang jarum pelan-pelan, ditusukkan secara perlahan ke dalam titik tubuh yang tidak terasa sakit. Anda paham maksud saya? Tapi ciri-ciri akupuntur yang melibatkan sihir, dukunnya hanya meletakan jarumnya, dan jarumnya dapat masuk sendiri seperti magnet. Dukun yang memiliki ilmu sihir pasti tidak segan-segan untuk mendemonstrasikannya. Sebab kalau tidak, untuk apa ia bersusah-payah memperoleh ilmu tersebut? Sekali lagi pada akhir bab ini, saya memperingatkan, bila ada orang yang mencoba-coba mencari kesembuhan melalui dukun bukannya Tuhan, yang terjadi adalah umur pasiennya berkurang pendek. Tidak hanya sampai di sana, akan terjadi transfer roh jahat. Masuk, menghancurkan rumah tangga, menghancurkan masa depan kita. Memang usaha manusia untuk melakukan pengobatan amat beragam dewasa ini. Saya pernah mendengar pengobatan dengan urine (air seni) sendiri! Untuk keabsahan pengobatan jenis ini, saya hanya berkomentar, bahwa Tuhan telah menciptakan khusus saluran pembuangan dari tubuh kita, seperti pori-pori (lewat keringat), lubang hidung (lewat CO2), usus besar dan saluran air kemih, adalah untuk membuang limbah racun dari sisa-sisa metabolisme dari tubuh kita. Sebab kalau ditimbun dalam jangka waktu tidak lama saja, tubuh kita akan terganggu. Misalnya, bila Anda mengalami sembelit, tidakkah seluruh badan Anda akan terasa tidak enak? Sekarang pertanyaannya: mengapa limbah beracun alamiah ini harus kita konsumsi lagi? Apapun alasannya, saya pikir, hal ini kontradiktif dengan rancangan tubuh kita. Kalau memang pengobatan ini manjur untuk Anda sekalipun, saya tetap tidak menganjurkan orang lain

mencobanya. Ini memang tidak ada hubungannya dengan okultisme. Kecuali seorang dukun meminta pasiennya untuk meminum air seninya sendiri. Saudaraku, saya tidak berani membayangkan, bila sekarang saja terdapat pengobatan dengan cara meminum hasil pembuangan saluran kemih, bagaimana bila ada yang berpikir untuk mengkonsumsi hasil pembuangan kita lainnya?

8
KESEMBUHAN DARI TENAGA DALAM ITU ALAMI ATAU GAIB?

Baiklah, dari bab-bab sebelumnya, kita telah tegas mengetahui, tidak ada kesembuhan atau kedamaian di dalam setan. Dia adalah pencuri, pembunuh, pembinasa dan seabrek gelar jahat lainnya. Apabila ada orang yang pernah mendatangi dukun-dukun baik untuk sekedar berkonsultasi atau meminta pertolongannya, demi kasih Yesus Kristus saya meminta, orang itu harus bertobat. Mengapa harus bertobat? Sederhana saja. Dukunnya pun mantan abdi iblis telah bertobat terlebih dahulu karena di dalam iblis tidak ada apa-apa yang bisa kita peroleh selain kebohongan. Sama seperti yang saya lakukan di akhir khotbah atau seminar saya, di buku ini pun saya juga meminta kepada orang-orang yang pernah terlibat meminta kesembuhan dari setan untuk bertobat. Patahkan kutuk itu di dalam nama Yesus, dan ada keistimewaannya. Pada waktu seseorang memiliki iman, percaya Yesus sungguh-sungguh dan pengetahuan firman yang dalam dan dewasa imannya, saya katakan, segala kutuk, segala roh jahat, hancur semua. Tidak perlu menunggu rebah atau tumbang dalam roh. Karena sekali lagi saya katakan, orang rebah belum tentu kepenuhan Roh Kudus. Bisa saja didorong oleh pendetanya. Tapi memang saya tahu juga tradisi rebah-rebah ini. Di setiap penumpangan tangan terjadi rebah. Suatu kali, saya berkhotbah di Banjarmasin. Wah, setiap kali saya menumpangkan tangan, ada yang rebah. Bahkan sekedar merentangkan tangan ke depan saja, ada yang rebah juga. Tiba-tiba Tuhan berbicara kepada saya: “Ini bukan rebah dariKu.” “Dar mana?” Saya bertanya dalam hati. “Ada tradisi rebah di gereja ini.” “Oh, kebiasaan? Lalu cara mengetesnya bagaimana? Tuhan mengajari saya untuk melakukan sesuatu. Saya taat. Sebelum melanjutkan doa saya, saya berseru dengan keras supaya kedengaran sampai ke pelosok ruangan, “Saya minta para usher tidak boleh menopang dari belakang. Kalau Saudara rebah dalam Roh Kudus, percayalah tidak akan benjol. Tapi kalau rebah karena tradisi rebah. Saudara jangan menyalahkan saya kalau badan kalian jadi benjol dan memar semua.” Saya tegaskan sekali lagi, “Jadi tidak boleh ada usher di belakang kalian. Tidak boleh. Biarlah malaikat yang menggantikan tempat usher.” Para konselor pun saya minta mundur atau berdiri di belakang saya. Anda tahu apa yang terjadi? Tidak ada yang (berani) rebah. Memang saya juga mengalami di kebaktian saya, ada orang yang rebah di dalam Roh Kudus. Saya hanya ingin menegaskan, rebah bukan jaminan dijamah Roh Kudus.

Tapi orang yang bertobat dan berbuah, itulah jaminan yang berlaku bukan saja untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Yang terpenting adalah percayalah kepada Yesus. Saya sampaikan di setiap khotbah saya, bahwa kita harus hidup dalam Tuhan, mengenal Allah secara pribadi. Saya sendiri mempelajari tenaga dalam gabungan dari kakek dan nenek saya sejak berusia ±9 tahun. Tenaga yang dapat menghancurkan batu sampai berkeping-keping dari jarak 10 meter. Dan ini ilmu yang tingkatannya masih belum tinggi. Karena itulah saya berani menyatakan di sini, bahwa tenaga dalam itu berasal dari setan. Ada dua aliran tenaga dalam, satu memakai mantera dan ajian, yang kedua tidak memakai mantera. Waktu saya mempelajari ilmu tingkat dasar, kakek saya berkata, “Di dalam diri manusia, ada kekuatan supranatural.” Tetapi setelah ilmu tingkat tinggi, diberitahu rahasia sebenarnya kepada saya, “Di dalam diri manusia, tidak ada kekuatan supranatural.” “Lho, kakek kok bohong, dulu.” “Iya, kalau kakek beritau sungguh-sungguh, kamu tidak mau belajar.” Dia menambahkan, “Di dalam dunia ini, ada dua kubu, terang dan gelap,” Kakek saya melanjutkan, “Kita ini semua ada di dalam kegelapan.” Tadi telah saya katakan, tenaga dalam memiliki dua aliran, yang satu memakai mantera, yang lain tidak menggunakan mantera. Yang tidak memakai mantera, disebut dengan teknik pernapasan atau respirasi. Tenaga yang dihimpun oleh oleh teknik pernapasan ini disebut hawa murni. Ada sumber kekuatan yang perlu dibangkitkan di bawah pusar. Dan itu disebut pembangkit tenaga inti. Saya akan membahas lebih khusus mengenai okultisme dalam tenaga dalam ini di buku berikutnya. Ada berbagai tingkat kekuatan tenaga dalam. Salah satunya dibedakan dari daya jangkau serangannya. Ada guru-guru tenaga dalam dalam beradius 25 meter sampai 50 meter. Karena saya belajar sejak SD, kekuatan tenaga dalam saya mencapai radius 50 km. Dari jarak sejauh itu batu hancur. Dan dari balik tembok setebal sepuluh meter, orang yang bersembunyi dibaliknya, akan mati langsung. Di bab sebelumnya, kita telah tahu bahwa setan tidak bisa menyembuhkan. Tapi tidak pelak lagi, dia tahu tentang saraf. Misalnya, sakit di pinggang Anda, ditotok, seakan-akan sembuh. Tapi beberapa tahun lagi, akan kumat, kambuh, dalam keadaan lebih parah dari keadaan semula. Karena apa? Sebagai pakar saraf, dia tahu bahwa di dalam diri manusia ada simpul-simpul saraf sehingga ia memanfaatkan pengetahuan ini dalam teknik tenaga dalam. Pengajaran pembangkit tenaga inti sedikit banyak tersangkut paut dengan simpul-simpul saraf manusia.

Saya terbeban untuk mengupas mengenai tenaga dalam dan pelepasan lebih dalam di buku lain karena saya melihat banyak beredar buku-buku yang menyesatkan orang-orang dengan pengajaran seolah-olah tenaga dalam pembangkit tenaga inti hanyalah “tenaga alami” yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita.

9
MEMILIH ANTARA KESEMBUHAN MEDIS ATAU IMAN

Akhirnya kita akan membahas sumber kesembuhan yang ketiga. Ada pertanyaan yang sering diajukan kepada saya, “Bolehkah orang beriman pergi ke dokter? Bukankah itu berarti mengandalkan diri pada kekuatan manusia?” Saya percaya telah banyak hamba Tuhan yang memberi penjelasan teologis maupun praktis terhadap pertanyaan ini. Tetapi saya akan melengkapi pendapat dan pengajaran mereka dengan pengalaman yang saya miliki sebagai (mantan) dukun. Di jaman dahulu, kedudukan dukun setara dengan dokter yang jangankan stetoskopnya, jarum suntik pun belum dikenal. Pada bab-bab sebelumnya kita telah membahas, bahwa setan – sekali lagi – tidak bisa menyembuhkan. Baiklah, setan sangat paham mengenai obat-obatan tradisional sebagaimana yang dipahami oleh dokter-dokter alternatif. Baiklah, setan sangat paham mengenai simpul-simpul saraf sebagaimana yang diketahui oleh tabib-tabib. Tetapi yang setan lakukan adalah ia mengeksploitasi para dukun dan tabib untuk melaksanakan rencana jahatnya. Mengikat dan menguasai manusia. Ia tidak menggunakan unsur obat-obatan. Ia menunggang unsur mantera yang menyertai pengobatannya. Sebagai seorang mantan dukun, saya telah menghadapi berbagai tingkah pola dukun. Dari dukun yang asli mempergunakan ilmu sihir hitam atau putih, sampai pada praktek dukun-dukun yang sebetulnya tidak lebih dari seorang tabib yang mahir metode penyembuhan alami dan obat-obat tradisional. Seringkali untuk menambahkan kesan angker dan berwibawa, sebagai paranormal (catat: orang tidak normal) dukun-dukun itu menambahkan pengobatan mereka dengan ritual-ritual kosong dan jampi-jampi dengan bahasa yang mungkin mereka sendiri tidak mengerti. Mendekor rumah mereka dengan aksesoris-aksesoris ala hutan yang tidak lazim, mengeluarkan suara-suara seram dan rendah, berbusana hitam-hitam, membiarkan kumis, jambang, dan jenggotnya tumbuh secara tidak dipelihara. Bahkan lebih keterlaluan lagi, ada dukun cabul yang menteror dan memanfaatkan ketakutan pasiennya untuk mengajak berhubungan seks. Apa artinya? Artinya, kita tidak perlu memperhatikan pada unsur manusianya. Saya memiliki berita baik untuk Anda, orang-orang beriman. Yaitu, Anda bisa pergi ke dokter tanpa syak wasangka, Tuhan memperhitungkan itu sebagai tanda Anda kurang beriman. Sebab sama seperti dukun bisa dipakai setan, dokter di masa kini bisa dipakai Tuhan. Apalagi dokter yang takut akan Tuhan. Mengapa? Karena unsur kimia dalam tumbuhan yang berkhasiat menyembuhkan telah banyak dipergunakan dan diproduksi dalam bentuk yang bisa diterima masyarakat modern. Tablet, kapsul, atau bagi yang tahan, jarum suntik. Kalau sewaktu-waktu Anda mengalami diare, Anda bisa saja memilih mengunyah jambu klutuk yang lezat atau meminum obat diare, karena obat sebagai hasil dari pengetahuan medis juga dipakai Tuhan menyembuhkan Anda. Pengetahuan itu datangnya dari Tuhan sendiri, bukan dari setan yang bisanya cuma menyontek.

Sebab itu simpanlah di benak Anda, bahwa bukan obat yang menyembuhkan Anda, tetapi Allah yang menggunakan media tangan dokter, obat-obatan, dan pengetahuan medis. Sekali lagi, dokter pun juga bisa dipakai Tuhan. Operasi yang Anda jalani, tidak berefek pada kerohanian atau iman Anda. Mengapa? Itu hanya masalah fisik. Bukan trik magic. Tapi saya terus-menerus memperingatkan juga, jangan pernah tergantung pada kemampuan dokter. Sepandai-pandainya dia, semuanya tergantung pada kemurahan Tuhan. Walaupun pengetahuan juga dipakai Tuhan. Obat-obatan, antibiotik, operasi, adalah pengganti tumbuh-tumbuhan, akar-akaran, dan jamu-jamuan bagi masyarakat modern. Tapi kalau Anda menjalani pengobatan yang melibatkan unsur magic (entah pura-pura atau asli), pengobatan alternatif, tenaga prana, itu jelas menggangu roh Anda. Itu adalah pintu masuk bagi roh jahat. Masuk melalui apa? Pori-pori kulit, pernapasan, mulut, bahkan kontak seksual. Secara sekilas saya akan memberitahu, bahwa banyak gerakan yang membangkitkan tenaga dalam tubuh kita, sebenarnya adalah gerakan penyembahan kepada setan, namun disamarkan dengan istilah “jurus”. Di dalam kebatinan, gerakan itu disebut “sandi” di alam dimensi yang akan saya kupas pada buku saya berikutnya. Tapi sebagai penutup bab ini saya ingin menyerukan, bahwa setan adalah penipu. Jangan datang kepada setan, datanglah pada Yesus. Melalui buku ini pula, saya ingin menyerukan panggilan bagi Anda yang pernah meminta kesembuhan kepada setan untuk bertobat, sangkali kebohongan dan hentikan pengaruhnya. Berdoalah kepada Tuhan dan datanglah kepada pendeta Anda untuk minta pelayanan pelepasan dari ikatan kuasa gelap.

Tuhan yang menumpangkan tanganNya Apabila Anda meminta kepada saya untuk dilayani, saya hanya ingin mengatakan, bahwa suatu hari saya pernah menolak permintaan seseorang supaya saya menumpangkan tangan ke atasnya. Mengapa saya menolak? Saya sudah mendapatkan pelajaran yang paling luar biasa dari Tuhan. Sekarang setiap kali sebelum saya menumpangkan tangan ke atas orang saya selalu bertanya, “Tuhan, apakah Engkau menyuruhku melakukan penumpangan tangan? Kalau bukan atas kehendakMu, aku tidak mau.” Bagaimanapun, bukankah lebih baik Anda meminta Allah sendiri yang menurunkan tangan dan menumpangkan tanganNya ke atas Anda? Mungkin Anda bertanya, “Mengapa saya meminta Tuhan yang menumpangkan tangan ke atas saya?”

Sebab jika saya sebagai manusia merindukan semua orang hanya mengarah pada Kristus. Tidakkah terlebih Allah sendiri merindukan demikian? Pandanglah kepada Kristus dan ambil kesembuhan dariNya dengan iman Anda. TanganNya sudah ada di atas Anda sekarang. Dan di dalam nama Tuhan Yesus dari Nazaret itu, Anda sembuh!

Tentang Penulis
Ev. Daud Tony, mantan pewaris tunggal pasangan dukun sakti di Indonesia Atmo Gejek. Menguasai ilmu hitam dan ilmu putih tertinggi di Indonesia sejak umur 9 tahun. Dikalahkan Tuhan setelah bertarung dengan hamba-hambaNya (salah satunya adalah Pdt. Gilbert Lumoindong, S.Th.) pada usia 18 tahun. Mengalami gila setahun dan disembuhkan secara adikodrati oleh Tuhan Yesus sendiri. Bertobat, lahir baru, dilayani pelepasan untuk membuang tuntas semua ilmu gelapnya, dan dibaptis. Bersekolah Alkitab selama 3 tahun di Intheos (salah satu pembimbing Pdt. Dr. Pontas Pardede, Ph.D). Mendapatkan nubuat bahwa jutaan jiwa akan mendengar khobatnya. Menginjili ke seluruh wilayah Indonesia, mulai dari pedesaan terpencil sampai perkotaan. Pernah meninggal tahun 1996. Naik ke surga dan ditetapkan Tuhan sebagai penginjil api. Bangkit kembali disertai berbagai karunia nubuat, penglihatan, mujizat, dan penyertaan malaikat. Berhadapan dengan roh-roh jahat dan menyelamatkan banyak penganut ilmu gelap. Sejak tahun 2001 sampai sekarang mulai menulis buku “DUNIA ROH” dan puluhan seri buku-buku terlaris di Indonesia. Sejak tahun 2002 mengeluarkan VCD seminar serta album pujian yang berisi lagu-lagu yang diberikan malaikat. Pelayanannya saat ini telah menjangkau seluruh Indonesia bahkan mancanegara. Setelah lebih dari sembilan tahun melayani maka tahun 2003 Tuhan memanggil Ec. Daud Tony untuk tiga hal. Pertama: berdiam diri di hadapan Tuhan untuk mendapatkan wahyu-wahyu yang baru bagi Indonesia. Kedua : mendirikan DRM untuk membentuk umat Tuhan menjadi prajurit-prajurit peperangan rohani baru. Ketiga : memfokuskan diri mengajar di Sekolah Penginjil Api (SPA) untuk mencetak penginjil-penginjil api yang baru.