Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.

D

NOTA PEMBELAAN (PLEIDOOI)
PERKARA PIDANA NOMOR: 39/Pid.B/TPK/2012/PN.Jkt.Pst PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI PADA PENGADILAN NEGERI JAKARTA PUSAT ATAS NAMA TERDAKWA Prof. MIRANDA SWARAY GOELTOM, SE, MA, Ph.D BAB I PENDAHULUAN

Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Pada kesempatan ini izinkanlah kami, Tim Penasihat Hukum terlebih dahulu menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Majelis Hakim Yang Mulia, atas lancarnya proses pemeriksaan dalam persidangan selama ini dan atas upaya yang sungguh-sungguh dari Majelis Hakim untuk mewujudkan suatu proses peradilan yang adil (due process of fair trial) terhadap Terdakwa. Kami juga merasa perlu untuk menyampaikan terima kasih kepada Saudara Penuntut Umum yang telah membuat dakwaan dan menghadirkan saksi-saksi dalam perkara ini dimuka persidangan serta dalam membuat Requisitor terhadap Terdakwa.

1

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Bahwa dalam suatu proses pemeriksaan tindak pidana kita semua tahu, bahwa untuk mencari kebenaran materiil harus didukung dengan alat-alat bukti maupun keterangan-keterangan saksi yang berkesesuaian yang harus kita cermati untuk dipergunakan sebagai pertimbangan hukum dengan sangat cermat, karena hal ini menyangkut pada hukuman, nasib dan masa depan Terdakwa. Pada persidangan hari Rabu tanggal 12 September 2012 yang lalu, saudara Penuntut Umum telah membacakan tuntutannya yang pada pokoknya menyatakan bahwa Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama menyuap Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara sebagaimana dalam dakwaan Pertama dengan menuntut Terdakwa agar dijatuhi pidana selama 4 (empat) tahun. Bahwa dasar penuntutan terhadap Terdakwa sama sekali tidak berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap selama proses pemeriksaan di persidangan. Fakta-fakta yang dikemukakan oleh Penuntut Umum bukanlah suatu fakta yang telah diuji sesuai dengan hukum pembuktian sebagaimana dalam proses persidangan. Fakta-fakta yang dijadikan dasar oleh Penuntut Umum lebih kepada asumsi serta kecurigaan kepada Terdakwa yang secara jelas tidak dilandasi kepada suatu fakta yang bersesuaian satu dengan yang lain, sehingga bertentangan dengan Pasal 185 ayat (6) butir a KUHAP yang berbunyi: “Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguh-sungguh memperhatikan: a. persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang 2

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

lain”, serta telah mengabaikan asas satu saksi bukan saksi (unus testis nullus testis) dalam pembuktian perkara pidana. Adapun pada bagian analisa fakta pembelaan ini. Bahwa dari analisa atas fakta-fakta yang terungkap pada persidangan, hampir keseluruhan uraian dakwaan Penuntut Umum yang menyangkut hubungan atau adanya keterkaitan antara Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti tidak dapat dibuktikan berdasarkan alat bukti yang sah sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP (keterangan saksi yang saling bertentangan yang menimbulkan keraguan, terdapat saksi yang sengaja disembunyikan karena keterangannya tidak mendukung saksi a charge Penuntut Umum), uraian dakwaaan Penuntut Umum semata-mata hanya hasil imajinasi berdasarkan asumsi Penuntut Umum saja, hal ini menjawab secara langsung kesan bahwa penuntutan dalam perkara a quo yang pada awalnya banyak mendapat kritikkan seolah-olah penuntutan terkesan dipaksakan untuk diajukan dalam proses persidangan. Masih segar dalam ingatan kita hal yang dimuat dalam Majalah Tempo edisi 6-12 Februari 2012 dengan judul “Dewa Mabuk di Ruang Penyidik”, begitu judul berita halaman 30-31 Majalah Tempo dimaksud. Dalam paragraf 710, 12, 21-22:
“Sepekan sebelumnya, Samad -juga seorang diri- mengumumkan Miranda Swaray Goeltom sebagai tersangka kasus suap cek pelawat untuk 39 anggota Dewan periode 1999-2004. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia ini dituding berada di balik penyuapan agar dipilih DPR duduk di jabatan prestisius itu. Kemunculan Samad seorang diri Kamis dua pekan lalu memunculkan dugaan keretakan antar pemimpin KPK. Beberapa sumber bercerita, jumpa pers soal Miranda itu di luar rencana dan hasil rapat sehari sebelumnya. “Rapat memutuskan perlu ada gelar kasus lagi,” kata sumber itu. Dalam rapat itu, penyidik dan pemimpin KPK terbelah. Dua pemimpin KPK, Bambang Widjajanto dan Busyro Muqoddas, menganggap dua bukti untuk menjerat Miranda belum terlalu kuat, sehingga perlu beberapa kali gelar

fakta-fakta

hukum yang tergali dalam perkara a quo akan kami sampaikan secara rinci

3

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

kasus dengan bukti-bukti tambahan. Para penyidik setuju dengan pendapat ini. Samad sebaliknya. Dia menilai pengakuan Miranda soal pertemuan anggota fraksi PDI Perjuangan di Hotel Dharmawangsa dengan calon Deputi Gubernur Senior BI sebelum pemilihan adalah bukti Miranda sedang menggalang dukungan. Pertemuan itu menjelaskan motif cek-cek yang diterima anggota Komisi Keuangan dan Perbankan dari PDI Perjuangan. ... Rapat gelar kasus itu buntu. Tak ada kesepakatan di antara dua kubu. Bambang dan Busyro menyodorkan jalan tengah: jika tak ada bukti lain, penetapan tersangka menunggu persidangan Nunun sehingga dua bukti itu berada di bawah sumpah pengadilan dan tak bisa dicabut lagi. ”Perdebatannya cukup keras, “ ujar sumber Tempo. ... Meski tak menyebut secara spesifik kasus Miranda, penjelasan Bambang mengkonfirmasi perbedaan pendapat antar pemimpin KPK itu menyangkut soal bukti dan metode penyidikan kasus. “Pak Samad yang terlalu terburu-buru. Mungkin terpengaruh gaya LSM,” ujar seorang sumber. Sebelum terpilih sebagai Ketua KPK, Samad adalah pengacara merangkap aktivis antikorupsi di Makasar. Kepemimpinan Samad berbeda dengan kerja KPK periode sebelumnya. Di zaman Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Rianto, kata seorang sumber, bukti-bukti ditimbang bolak-balik sebelum sampai pada keputusan menetapkan seseorang sebagai Tersangka. “Sekarang seperti memakai jurus dewa mabuk.”

Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Kita menyadari, bahwa prinsip pemidanaan kepada seseorang adalah diletakkan pada minimal 2 alat bukti dan dari 2 alat bukti tersebut ada keyakinan bahwa seseorang tersebut adalah bersalah melakukan suatu tindak pidana. Pemidanaan terhadap seseorang bukan diawali keyakinan terlebih dahulu, kemudian mencari 2 alat bukti apalagi untuk memenuhi 2 alat bukti tersebut kemudian menerabas dan mengabaikan ketentuan pembuktian (vide Pasal 183 KUHAP). Selama proses pembuktian dalam perkara a quo diperoleh fakta bahwa Terdakwa tidak pernah memerintahkan ataupun menganjurkan ataupun 4

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

turut serta dengan Nunun Nurbaeti melakukan suatu perbuatan terlarang, dalam proses pembuktian di persidangan, Terdakwa menyatakan bertemu dengan anggota fraksi PDIP dan fraksi TNI/Polri sebelum fit and proper test DGS BI tahun 2004 juga telah dijelaskan dalam persidangan bukan sesuatu yang bertentangan dengan ketentuan ataupun peraturan perundangundangan, oleh karenanya tidak terdapat suatu kesalahan dalam diri Terdakwa, sehingga sesuai dengan asas geen straf zonder schuld (tiada pidana tanpa kesalahan), maka Terdakwa harus dibebaskan dari seluruh dakwaan (Anwijzigheid van alle Schuld). Apabila dalam suatu proses pemeriksaan di persidangan diperoleh faktafakta yang sebenarnya belum memenuhi syarat untuk menyatakan seseorang bersalah ataupun adanya keragu-raguan atas suatu fakta, maka hendaknya sesuai dengan asas in dubio pro reo/when in doubt, for the accused yang pada pokoknya menyatakan apabila terdapat keraguan atas tindakan yang dilakukan oleh seseorang, maka seseorang tidak dapat dijatuhi pidana oleh suatu pengadilan. Asas in dubio pro reo telah digunakan oleh Mahkamah Agung (“MA”) untuk memutus perkara, di antaranya dalam Putusan MA No. 33 K/MIL/2009 yang dalam pertimbangannya antara lain berbunyi sebagai berikut:
“asas IN DUBIO PRO REO yang menyatakan jika terjadi keragu-raguan apakah Terdakwa salah atau tidak maka sebaiknya diberikan hal yang menguntungkan bagi Terdakwa yaitu dibebaskan dari dakwaan.”

Penerapan mengenai asas geen straf zonder schuld / Anwijzigheid van alle Schuld dan asas in dubio pro reo sudah menjadi yurisprudensi, serta merupakan penerapan dari Pasal 182 ayat (6) KUHAP sendiri yang berbunyi:

5

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

“Pada asasnya putusan dalam musyawarah majelis merupakan hasil permufakatan bulat kecuali jika hal itu setelah diusahakan dengan sungguhsungguh tidak dapat dicapai, maka berlaku ketentuan sebagai berikut: a. putusan diambil dengan suara terbanyak; b. jika ketentuan tersebut huruf a tidak juga dapat diperoleh putusan yang dipilih adalah pendapat hakim yang paling menguntungkan bagi terdakwa.

Lebih lanjut mengenai harus dibebaskannya Terdakwa berdasarkan asas in dubio pro reo dapat dilihat pada ketentuan Pasal 191 KUHAP yang berbunyi: “Jika pengadilan berpendapat bahwa dari hasil pemeriksaan di sidang, kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, maka terdakwa diputus bebas”. Dari uraian tersebut diatas, apabila fakta-fakta hukum yang tergali dalam proses pemeriksaan dalam persidangan a quo tidak terdapat suatu fakta yang meyakinkan bahwa Terdakwa memiliki maksud dan tujuan ataupun bersama-sama atau menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk melakukan suatu tindak pidana, maka Terdakwa harus dibebaskan. Bahwa sebagaimana kita ketahui sehubungan dengan adanya keraguraguan mengenai kesalahan seseorang maka Hakim harus memberikan putusan yang menguntungkan bagi terdakwa sebagaimana juga dikenal adagium “lebih baik membebaskan seribu orang bersalah dari pada menghukum satu orang yang tidak bersalah”. Bahwa pengabaian terhadap asas-asas sebagaimana yang telah diuraikan diatas dapat mengakibatkan kegagalan dalam menegakkan keadilan (miscarriage of justice) dan merusak sendi-sendi sistem hukum serta melanggar hak asasi manusia.

6

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Kami, Tim Penasihat Hukum berkeyakinan, bahwa Majelis Hakim Yang Mulia tentunya akan bertindak secara bijak dan objektif, dan hanya menggunakan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan sebagai dasar pertimbangan hukum dalam mengambil putusan dalam perkara a quo, terbebas dari pengaruh manapun juga baik pengaruh pemberitaan media massa, pengaruh pendapat dalam berbagai tulisan ataupun pengaruh dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari posisi Terdakwa dalam perkara ini. Hanya dengan demikianlah Terdakwa akan dapat memperoleh keadilan yang hakiki dalam perkara ini. Tim Penasihat Hukum dan juga Terdakwa tetap berkeyakinan bahwa Terdakwa akan memperoleh keadilan dalam putusan yang akan diambil oleh Majelis Hakim Yang Mulia. Untuk kepentingan dan atas nama Klien kami, Prof. Miranda Swaray Gultom, SE, MA, Ph.D, perkenankanlah kami, Tim Penasihat Hukum mengajukan Nota Pembelaan (Pleidooi) terhadap dakwaan dan Surat Tuntutan (Requisitor) Penuntut Umum yang telah disampaikan dan dibacakan dalam persidangan yang lalu. Adapun Nota Pembelaan ini kami bagi dalam Sistematika sebagai berikut : I. II. III. PENDAHULUAN DAKWAAN FAKTA-FAKTA YANG TERUNGKAP DIPERSIDANGAN A. Keterangan Saksi-Saksi B. Keterangan Ahli 7

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

C. Keterangan Terdakwa IV. V. VI. FAKTA – FAKTA HUKUM ANALISA YURIDIS PERMOHONAN DAN PENUTUP

8

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

BAB II DAKWAAN Berdasarkan Surat Penetapan Hakim Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. 39/Pid.B/TPK/2012/PN.JKT.PST tanggal 25 Juli 2012 Terdakwa didakwa dengan dakwaan:

PERTAMA atau; Subjek Dakwaan Terdakwa bersama-sama dengan:  Nunun Nurbaeti atau  Masing-masing bertindak sendiri-sendiri Tempus de Licti:  Pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004 atau;  Setidak-tidaknya pada waktu-waktu lain dalam tahun 2004. Locus de Licti:  Bertempat di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT.001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dan Jalan Riau No. 17-21, Menteng, Jakarta Pusat atau:  Setidak-tidaknya di tempat-tempat lain yang berdasarkan Pasal 5 jo Pasal 35 ayat (3) UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

9

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Normatif/Ketentuan Perundangan sebagai Referensi Penuntut Umum: 1. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004; 2. UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 3. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia No. 02 A DPR RI/I/2001-2002 tanggal 10 September 2001. Objek Tindakan Hukum  Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI. (Surat Dakwaan halaman 3)  Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya Nunun Nurbaeti bertempat di rumah nya di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT. 001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DPR RI yaitu Endin AJ Soefihara dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari Fraksi Golkar dengan tujuan agar Fraksi Golkar mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test DGS BI. Setelah acara pertemuan selesai Nunun Nurbaeti mendengar ada yang menyampaikan kepada Terdakwa “ini bukan proyek thank you ya?”, maksudnya atas dukungan terhadap Terdakwa akan ada sesuatu imbalan kepada anggota DPR yang memilih dalam fit and proper test DGS BI tahun 2004. (Surat Dakwaan halaman 3).  Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari Fraksi PDI-P (Dudhi Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan lainnya) untuk 10

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel Darmawangsa Jakarta atas biaya Terdakwa. Terdakwa meminta agar dalam melaksanakan fit and proper test pemilihan DGS BI 2004 anggota dari Fraksi PDIP memilih terdakwa. (Surat Dakwaan halaman 4)  Terdakwa juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan. Terdakwa meminta agar pada fir and proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa. (Surat Dakwaan halaman 4)  Sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan DPR-RI Komisi IX (7 Juni 2004), setelah Nunun Nurbaeti menerima TC atas sepengetahuan Terdakwa, Nunun Nurbaeti bertempat dikantor nya Jalan Riau No. 17-21 Menteng Jakarta Pusat melakukan pertemuan dengan Hamkah Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI. (Surat Dakwaan halaman 5)  Terdakwa mengetahui pemberian TC senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI. (Surat Dakwaan halaman 9).

11

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

KONSTRUKSI DAKWAAN KE SATU
Pasal 5 ayat (1) huruf b UU TIPIKOR Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke 1 KUHP
Terdakwa Bersama-sama dengan Nunun Nurbaetie atau masing-masing bertindak sendirisendiri, pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004

Pertemuan di Jalan Riau Kantor Nunun Nuerbaeti
• Seharri sebelum Terdakwa menjalanji fit & proper test calon DGS BI di hadapan DPR Komisi IX tepatnya pada tanggal 7 Juni 2004, setelah NN menerima sejumlah TC BII atas sepengetahuan Terdakwa, NN bertempat di kantornya jl. Riau No. 17-21 menteng melakukan pertemuan dengan Hamka Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC BII kepada anggota Komisi IX DPR RI sebagaii tanda terima kasih setelah anggota komisi IX DRP RI memilih Terdakwa sebagai DGS BI NN selanjutnya menghubungi Arie Malangjudo (AMJ) untuk datang ke ruangan kerjanya dan meminta AMJ agar menyampaikan tanda terima kasih kepada anggota komisi IX DPR, namun AMJ merasa keberatan, setelah diberikan penjelasan oleh NN bahwa Hamka Yandhu yang mengatur semuanya akhirnya AMJ menyanggupinya. Dalam pertemuan itu Hamka juga mengatakan kepada AMJ “kita sudah atur, nanti ada kode merah, kuning, hijau, putih kode pada kantong itu” dengan menunjuk 4 (empat) buah kantong belanja

1
Sebelum pelaksanaan pemilihan DGS BI, Agar Terdakwa tidak gagal dipilih seperti dalam pemilihan Gubernur BI tahun 2003 Terdakwa melakukan pertemuan dengan NN, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta NN untuk dikenalkan kepada teman-teman NN yang menjadi anggota komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana NN menyetujui permintaan Terdakwa

6

MSG
(Terdakwa)

Nunun Nurbaeti

7 5

Arie Malangjudo
TC diberikan

4
Pertemuan di Graha Niaga kantor Terdakwa
Terdakwa selain itu juga mengundang fraksi TNI/Polri pada komisi IX DPR RI yaitu Udju Djuhaeri, Darsu Yusuf, R. Sulistyadi dan Suyitno untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa Gedung Bank Niaga Jl. Sudirman, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & proper test pemilihan DGS BI tahun 2004 para anggota dari fraksi TNI/ polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang pernah terjadi dalam pelaksanaan pemilihan Gub BI tahun 2003 yang juga masih diikutioleh terdakwa, sehingga terakwa tidak terlpilih dalam proses pemilihan Gub BI tahun 2003

3
Pertemuan Di Hotel Darmawangsa
Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek Thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui NN, Terdakwa juga mengundang anggota komisi IX dari fraksi PDI P yang di hadiri beberapa anggota komisi IX dari fraksi PDI P diantaranya Dudie Makmun Murod, Agus Condro, Emir Moeis dan yang lainnya, untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di hotel Darmawangsa atas biaya dari Terdakwa, yang mana dalam pertemuan tersebut Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & propert test pemilihan DGS BI Tahun 2004 para anggota dari fraksi PDI P memilih Terdakwa

2
Pertemuan Di Cipete Rumah Nunun
Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya NN bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39, memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DRP RI yaitu Endin dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar dengan tujuan agar fraksi Golkar mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit & proper test calon DGS BI. Setelah acara pertemuan selesai NN Mendengar ada yang menyampaikan kepada terdakwa ini bukan proyek thank you ya” maksudnya atas dukungan terhadap Terdakwa akan ada suatu imbalan kepada anggota DPR yang memilihnya dalam fit & proper test DGS BI tahun 2004

8 Juni 2004, DPR melakukan Fit and proper Test DGS BI

8
Pertemuan Di Hotel Mulia Coffee shop dan D’Lounge
Menindak lanjuti pembicaraan NN dengan Paskah, di Hotel Mulia Coffee Shop, NN, Paskah dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di Café D’Lounge jl. Gunawarman, yang manadalam pertemuan tersebut NN meminta kembali kepada Paskah agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan sebagai DGS BI tahun 2004 karena dari fraksi PDIP sudah bersedia mendukung

Anggota Komisi IX DPR diantaranya Dudi Mkmun Murod, Endin Soefihara, Hamka Yandhu, Udju, Sulistyadi, Suyitno dan Darsup Yusup

9

Terdakwa Terpilih sebagai DGS BI periode 2004

10
Tiidak lagi membahas masalah keluarga sebagaimana yang MSG minta atau yang diminta melalui NN, Hasil Voting memilih

Unsur Pokok Perbuatan Pidana: a. bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti. b. memberi sesuatu TC BII senilai Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) melalui Ahmad Hakim Safari MJ alias Ari Malangjudo yang merupakan bagian dari total 480 (empat ratus delapan puluh) lembar TC senilai Rp. 24. 000.000.000,- (dua puluh empat milyar rupiah).

12

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

c. kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara Hamka Yandhu (Fraksi Golkar), Dudhie Makmun Murod (Fraksi PDIP) dan Endin AJ Soefihara (Fraksi PPP) selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia masa Periode tahun 1999-2004 serta beberapa anggota Komisi IX DRP RI periode 1999-2004 lainnya. d. karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berhubungan dengan Pemilihan Terdakwa sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) sebagaimana ketentuan dalam Pasal 41 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 tahun 2004, yang dilakukan secara bertentangan dengan kewajiban anggota DPR RI untuk tidak melakukan perbuatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sesuai dengan Pasal 5 angka 4 UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat RI No. 02 A DPR RI-2001-2002 tanggal 10 September 2001. Bahwa Terdakwa bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti memberi sesuatu berupa TC melalui Ari Malangjudo kepada anggota Fraksi Golkar (Hamkah Yandhu), Fraksi PDIP (Dudhie Makmun Murod), Fraksi PPP (Endin Sofihara) selaku anggota DPR RI, karena berhubungan dengan pemilihan Terdakwa sebagai DGS BI yang dilakukan secara bertentangan dengan kewajiban anggota DPR RI untuk tidak melakukan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme.

13

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Ancaman Pidana Kesatu Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. KEDUA atau; Subjek Dakwaan Terdakwa; Tempus de Licti:  Pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004 atau;  Setidak-tidaknya pada waktu-waktu lain dalam tahun 2004. Locus de Licti:  Bertempat di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT.001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dan Jalan Riau No. 17-21, Menteng, Jakarta Pusat atau:  Setidak-tidaknya di tempat-tempat lain yang berdasarkan Pasal 5 jo Pasal 35 ayat (3) UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Normatif/Ketentuan Perundangan sebagai Referensi Penuntut Umum: 1. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004; 14

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; 3. Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia No. 02 A DPR RI/I/2001-2002 tanggal 10 September 2001. Objek Tindakan Hukum  Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI. (Surat Dakwaan halaman 3)  Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya Nunun Nurbaeti bertempat di rumah nya di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT. 001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DPR RI yaitu Endin AJ Soefihara dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari Fraksi Golkar dengan tujuan agar Fraksi Golkar mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test DGS BI. Setelah acara pertemuan selesai Nunun Nurbaeti mendengar ada yang menyampaikan kepada Terdakwa “ini bukan proyek thank you ya?”, maksudnya atas dukungan terhadap Terdakwa akan ada sesuatu imbalan kepada anggota DPR yang memilih dalam fit and proper test DGS BI tahun 2004. (Surat Dakwaan halaman 3).  Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP (Dudhi Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan lainnya) untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel Darmawangsa Jakarta atas biaya Terdakwa. Terdakwa meminta agar 15

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dalam melaksanakan fit and proper test pemilihan DGS BI 2004 anggota dari Fraksi PDIP memilih terdakwa. (Surat Dakwaan halaman 4)  Terdakwa juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan. Terdakwa meminta agar pada fir and proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa. (Surat Dakwaan halaman 4)  Sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan Komisi IX DPR RI (7 Juni 2004), setelah Nunun Nurbaeti menerima TC atas sepengetahuan Terdakwa, Nunun Nurbaeti bertempat dikantor nya Jalan Riau No. 17-21 Menteng Jakarta Pusat melakukan pertemuan dengan Hamkah Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI. (Surat Dakwaan halaman 5)  Terdakwa mengetahui pemberian TC senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI. (Surat Dakwaan halaman 9).

16

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

KONSTRUKSI DAKWAAN KE DUA
Pasal 5 ayat (1) huruf b UU TIPIKOR Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke 2 KUHP
Terdakwa dengan sengaja menganjurkan NN untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu berupa TC BII senilai Rp. 20.850.000.000

Pertemuan di Jalan Riau Kantor Nunun Nuerbaeti
• Seharri sebelum Terdakwa menjalanji fit & proper test calon DGS BI di hadapan DPR Komisi IX tepatnya pada tanggal 7 Juni 2004, setelah NN menerima sejumlah TC BII atas sepengetahuan Terdakwa, NN bertempat di kantornya jl. Riau No. 17-21 menteng melakukan pertemuan dengan Hamka Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC BII kepada anggota Komisi IX DPR RI sebagaii tanda terima kasih setelah anggota komisi IX DRP RI memilih Terdakwa sebagai DGS BI NN selanjutnya menghubungi Arie Malangjudo (AMJ) untuk datang ke ruangan kerjanya dan meminta AMJ agar menyampaikan tanda terima kasih kepada anggota komisi IX DPR, namun AMJ merasa keberatan, setelah diberikan penjelasan oleh NN bahwa Hamka Yandhu yang mengatur semuanya akhirnya AMJ menyanggupinya. Dalam pertemuan itu Hamka juga mengatakan kepada AMJ “kita sudah atur, nanti ada kode merah, kuning, hijau, putih kode pada kantong itu” dengan menunjuk 4 (empat) buah kantong belanja

1
Sebelum pelaksanaan pemilihan DGS BI, Agar Terdakwa tidak gagal dipilih seperti dalam pemilihan Gubernur BI tahun 2003 Terdakwa melakukan pertemuan dengan NN, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta NN untuk dikenalkan kepada teman-teman NN yang menjadi anggota komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana NN menyetujui permintaan Terdakwa

6

MSG
(Terdakwa)

Nunun Nurbaeti

7 5

Arie Malangjudo
TC diberikan

4
Pertemuan di Graha Niaga kantor Terdakwa
Terdakwa selain itu juga mengundang fraksi TNI/Polri pada komisi IX DPR RI yaitu Udju Djuhaeri, Darsu Yusuf, R. Sulistyadi dan Suyitno untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa Gedung Bank Niaga Jl. Sudirman, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & proper test pemilihan DGS BI tahun 2004 para anggota dari fraksi TNI/ polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang pernah terjadi dalam pelaksanaan pemilihan Gub BI tahun 2003 yang juga masih diikutioleh terdakwa, sehingga terakwa tidak terlpilih dalam proses pemilihan Gub BI tahun 2003

3
Pertemuan Di Hotel Darmawangsa
Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek Thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui NN, Terdakwa juga mengundang anggota komisi IX dari fraksi PDI P yang di hadiri beberapa anggota komisi IX dari fraksi PDI P diantaranya Dudie Makmun Murod, Agus Condro, Emir Moeis dan yang lainnya, untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di hotel Darmawangsa atas biaya dari Terdakwa, yang mana dalam pertemuan tersebut Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & propert test pemilihan DGS BI Tahun 2004 para anggota dari fraksi PDI P memilih Terdakwa

2
Pertemuan Di Cipete Rumah Nunun
Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya NN bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39, memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DRP RI yaitu Endin dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar dengan tujuan agar fraksi Golkar mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit & proper test calon DGS BI. Setelah acara pertemuan selesai NN Mendengar ada yang menyampaikan kepada terdakwa ini bukan proyek thank you ya” maksudnya atas dukungan terhadap Terdakwa akan ada suatu imbalan kepada anggota DPR yang memilihnya dalam fit & proper test DGS BI tahun 2004

8 Juni 2004, DPR melakukan Fit and proper Test DGS BI

8
Pertemuan Di Hotel Mulia Coffee shop dan D’Lounge Anggota Komisi IX DPR diantaranya Dudi Mkmun Murod, Endin Soefihara, Hamka Yandhu, Udju, Sulistyadi, Suyitno dan Darsup Yusup

Menindak lanjuti pembicaraan NN dengan Paskah, di Hotel Mulia Coffee Shop, NN, Paskah dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di Café D’Lounge jl. Gunawarman, yang manadalam pertemuan tersebut NN meminta kembali kepada Paskah agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan sebagai DGS BI tahun 2004 karena dari fraksi PDIP sudah bersedia mendukung

9

Terdakwa Terpilih sebagai DGS BI periode 2004

10
Tiidak lagi membahas masalah keluarga sebagaimana yang MSG minta atau yang diminta melalui NN, Hasil Voting memilih

Unsur Pokok Perbuatan Pidana: a. dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan sengaja menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu berupa TC senilai Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) melalui Ahmad Hakim Safari MJ alias Ari Malangjudo yang merupakan bagian dari total 480 (empat ratus delapan puluh) lembar TC senilai Rp. 24. 000.000.000,(dua puluh empat milyar rupiah). 17

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

b. kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara Hamka Yandhu (Fraksi Golkar), Dudhie Makmun Murod (fraksi PDIP) dan Endin AJ Soefihara (fraksi PPP) selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia masa periode tahun 1999-2004 serta beberapa anggota Komisi IX DRP RI periode 1999-2004 lainnya. c. karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya berhubungan dengan Pemilihan Terdakwa sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (DGS BI) sebagaimana ketentuan dalam Pasal 41 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 tahun 2004, yang dilakukan secara bertentangan dengan kewajiban anggota DPR RI untuk tidak melakukan perbuatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme sesuai dengan Pasal 5 angka 4 UU No. 28 tahun 1999 tentang penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat RI No. 02 A DPR RI-2001-2002 tanggal 10 September 2001. Bahwa Terdakwa sengaja menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu berupa TC melalui Ari Malangjudo kepada anggota Fraksi Golkar (Hamkah Yandhu), Fraksi PDIP (Dudhie Makmun Murod), Fraksi PPP (Endin Sofihara) selaku anggota DPR RI, karena berhubungan dengan pemilihan Terdakwa sebagai DGS BI yang dilakukan secara bertentangan dengan kewajiban anggota DPR RI untuk tidak melakukan perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme.

18

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Ancaman Pidana Kedua Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHP. KETIGA atau; Subjek Dakwaan Terdakwa bersama-sama dengan:  Nunun Nurbaeti atau  Masing-masing bertindak sendiri-sendiri Tempus de Licti:  Pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004 atau;  Setidak-tidaknya pada waktu-waktu lain dalam tahun 2004 Locus de Licti:  Bertempat di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT.001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dan Jalan Riau No. 17-21, Menteng, Jakarta Pusat atau:  Setidak-tidaknya di tempat-tempat lain yang berdasarkan Pasal 5 jo Pasal 35 ayat (3) UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

19

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Normatif/Ketentuan Perundangan: UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004; Objek Tindakan Hukum  Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI.  Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP (Dudhi Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan lainnya) untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel Darmawangsa Jakarta atas biaya Terdakwa. Terdakwa meminta agar dalam melaksanakan fit and proper test pemilihan DGS BI 2004 anggota dari Fraksi PDIP memilih terdakwa.  Terdakwa juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan. Terdakwa meminta agar pada fit and proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa.  Sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan DPR RI Komisi IX (7 Juni 2004), setelah Nunun Nurbaeti menerima TC atas sepengetahuan Terdakwa, Nunun Nurbaeti bertempat dikantor nya Jalan Riau No. 17-21 Menteng Jakarta Pusat melakukan pertemuan dengan Hamkah Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI. 20

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Terdakwa mengetahui pemberian TC senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI.

KONSTRUKSI DAKWAAN KE TIGA
Pasal 13 UU TIPIKOR Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke 1 KUHP
Terdakwa Bersama-sama dengan Nunun Nurbaetie atau masing-masing bertindak sendirisendiri, pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004

Pertemuan di Jalan Riau Kantor Nunun Nuerbaeti
• Seharri sebelum Terdakwa menjalanji fit & proper test calon DGS BI di hadapan DPR Komisi IX tepatnya pada tanggal 7 Juni 2004, setelah NN menerima sejumlah TC BII atas sepengetahuan Terdakwa, NN bertempat di kantornya jl. Riau No. 17-21 menteng melakukan pertemuan dengan Hamka Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC BII kepada anggota Komisi IX DPR RI sebagaii tanda terima kasih setelah anggota komisi IX DRP RI memilih Terdakwa sebagai DGS BI NN selanjutnya menghubungi Arie Malangjudo (AMJ) untuk datang ke ruangan kerjanya dan meminta AMJ agar menyampaikan tanda terima kasih kepada anggota komisi IX DPR, namun AMJ merasa keberatan, setelah diberikan penjelasan oleh NN bahwa Hamka Yandhu yang mengatur semuanya akhirnya AMJ menyanggupinya. Dalam pertemuan itu Hamka juga mengatakan kepada AMJ “kita sudah atur, nanti ada kode merah, kuning, hijau, putih kode pada kantong itu” dengan menunjuk 4 (empat) buah kantong belanja

1
Sebelum pelaksanaan pemilihan DGS BI, Agar Terdakwa tidak gagal dipilih seperti dalam pemilihan Gubernur BI tahun 2003 Terdakwa melakukan pertemuan dengan NN, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta NN untuk dikenalkan kepada teman-teman NN yang menjadi anggota komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana NN menyetujui permintaan Terdakwa

6

MSG
(Terdakwa)

Nunun Nurbaeti

7 5

Arie Malangjudo
TC diberikan

4
Pertemuan di Graha Niaga kantor Terdakwa
Terdakwa selain itu juga mengundang fraksi TNI/Polri pada komisi IX DPR RI yaitu Udju Djuhaeri, Darsu Yusuf, R. Sulistyadi dan Suyitno untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa Gedung Bank Niaga Jl. Sudirman, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & proper test pemilihan DGS BI tahun 2004 para anggota dari fraksi TNI/ polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang pernah terjadi dalam pelaksanaan pemilihan Gub BI tahun 2003 yang juga masih diikutioleh terdakwa, sehingga terakwa tidak terlpilih dalam proses pemilihan Gub BI tahun 2003

3
Pertemuan Di Hotel Darmawangsa
Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek Thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui NN, Terdakwa juga mengundang anggota komisi IX dari fraksi PDI P yang di hadiri beberapa anggota komisi IX dari fraksi PDI P diantaranya Dudie Makmun Murod, Agus Condro, Emir Moeis dan yang lainnya, untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di hotel Darmawangsa atas biaya dari Terdakwa, yang mana dalam pertemuan tersebut Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & propert test pemilihan DGS BI Tahun 2004 para anggota dari fraksi PDI P memilih Terdakwa

2
Pertemuan Di Cipete Rumah Nunun
Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya NN bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39, memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DRP RI yaitu Endin dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar

8 Juni 2004, DPR melakukan Fit and proper Test DGS BI

8
Pertemuan Di Hotel Mulia Coffee shop dan D’Lounge
Menindak lanjuti pembicaraan NN dengan Paskah, di Hotel Mulia Coffee Shop, NN, Paskah dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di Café D’Lounge jl. Gunawarman, yang manadalam pertemuan tersebut NN meminta kembali kepada Paskah agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan sebagai DGS BI tahun 2004 karena dari fraksi PDIP sudah bersedia mendukung

Anggota Komisi IX DPR diantaranya Dudi Mkmun Murod, Endin Soefihara, Hamka Yandhu, Udju, Sulistyadi, Suyitno dan Darsup Yusup

9

Terdakwa Terpilih sebagai DGS BI periode 2004

10
Tiidak lagi membahas masalah keluarga sebagaimana yang MSG minta atau yang diminta melalui NN, Hasil Voting memilih

Unsur Pokok Perbuatan Pidana: a. memberi hadiah atau janji memberikan hadiah berupa Traveller Cheque Bank Internasional Indonesia senilai Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh miliyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) melalui Ari Malangjudo, yang merupakan bagian dari total 480 (empat ratus delapan puluh) lembar TC BII senilai Rp. 24.000.000.000,- (dua puluh empat miliyar rupiah).

21

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

b. kepada Pegawai Negeri Hamka Yandhu (Fraksi Golkar), Dudhie Makmun Murod (Fraksi PDIP) dan Endin AJ Soefihara (Faksi PPP) selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia masa periode tahun 1999-2004 serta beberapa anggota Komisi IX DRP RI periode 1999-2004 lainnya. c. dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut yaitu Terdakwa dan Nunun Nurbaeti mengetahui hadiah berupa TC tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka Pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sebagaimana ketentuan dalam Pasal 41 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 tahun 2004. Ancaman Pidana Ketiga Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

KEEMPAT Subjek Dakwaan Terdakwa;

22

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tempus de Licti:  Pada hari dan tanggal yang tidak dapat dipastikan lagi dalam bulan Juni 2004 atau;  Setidak-tidaknya pada waktu-waktu lain dalam tahun 2004

Locus de Licti:  Bertempat di Jalan Cipete Raya No. 39 C RT.001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan dan Jalan Riau No. 17-21, Menteng, Jakarta Pusat atau:  Setidak-tidaknya di tempat-tempat lain yang berdasarkan Pasal 5 jo Pasal 35 ayat (3) UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Normatif/Ketentuan Perundangan: UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 Tahun 2004;

Objek Tindakan Hukum  Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI.  Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari Fraksi PDIP (Dudhi Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan lainnya) untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel 23

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Darmawangsa Jakarta atas biaya Terdakwa. Terdakwa meminta agar dalam melaksanakan fit and proper test pemilihan DGS BI 2004 anggota dari Fraksi PDIP memilih terdakwa.  Terdakwa juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan. Terdakwa meminta agar pada fir and proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa.  Sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan DPR RI Komisi IX (7 Juni 2004), setelah Nunun Nurbaeti menerima TC atas sepengetahuan Terdakwa, Nunun Nurbaeti bertempat dikantor nya Jalan Riau No. 17-21 Menteng Jakarta Pusat melakukan pertemuan dengan Hamkah Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI.  Terdakwa mengetahui pemberian TC senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI.

24

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

KONSTRUKSI DAKWAAN KE EMPAT
Pasal 13 UU TIPIKOR Jo. Pasal 55 ayat (1) Ke 2 KUHP
Terdakwa dengan sengaja menganjurkan NN untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu berupa TC BII senilai Rp. 20.850.000.000

Pertemuan di Jalan Riau Kantor Nunun Nuerbaeti
• Seharri sebelum Terdakwa menjalanji fit & proper test calon DGS BI di hadapan DPR Komisi IX tepatnya pada tanggal 7 Juni 2004, setelah NN menerima sejumlah TC BII atas sepengetahuan Terdakwa, NN bertempat di kantornya jl. Riau No. 17-21 menteng melakukan pertemuan dengan Hamka Yandhu untuk membicarakan rencana pemberian TC BII kepada anggota Komisi IX DPR RI sebagaii tanda terima kasih setelah anggota komisi IX DRP RI memilih Terdakwa sebagai DGS BI NN selanjutnya menghubungi Arie Malangjudo (AMJ) untuk datang ke ruangan kerjanya dan meminta AMJ agar menyampaikan tanda terima kasih kepada anggota komisi IX DPR, namun AMJ merasa keberatan, setelah diberikan penjelasan oleh NN bahwa Hamka Yandhu yang mengatur semuanya akhirnya AMJ menyanggupinya. Dalam pertemuan itu Hamka juga mengatakan kepada AMJ “kita sudah atur, nanti ada kode merah, kuning, hijau, putih kode pada kantong itu” dengan menunjuk 4 (empat) buah kantong belanja

1
Sebelum pelaksanaan pemilihan DGS BI, Agar Terdakwa tidak gagal dipilih seperti dalam pemilihan Gubernur BI tahun 2003 Terdakwa melakukan pertemuan dengan NN, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta NN untuk dikenalkan kepada teman-teman NN yang menjadi anggota komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana NN menyetujui permintaan Terdakwa

6

MSG
(Terdakwa)

Nunun Nurbaeti

7 5

Arie Malangjudo
TC diberikan

4
Pertemuan di Graha Niaga kantor Terdakwa
Terdakwa selain itu juga mengundang fraksi TNI/Polri pada komisi IX DPR RI yaitu Udju Djuhaeri, Darsu Yusuf, R. Sulistyadi dan Suyitno untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa Gedung Bank Niaga Jl. Sudirman, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & proper test pemilihan DGS BI tahun 2004 para anggota dari fraksi TNI/ polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang pernah terjadi dalam pelaksanaan pemilihan Gub BI tahun 2003 yang juga masih diikutioleh terdakwa, sehingga terakwa tidak terlpilih dalam proses pemilihan Gub BI tahun 2003

3
Pertemuan Di Hotel Darmawangsa
Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek Thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui NN, Terdakwa juga mengundang anggota komisi IX dari fraksi PDI P yang di hadiri beberapa anggota komisi IX dari fraksi PDI P diantaranya Dudie Makmun Murod, Agus Condro, Emir Moeis dan yang lainnya, untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di hotel Darmawangsa atas biaya dari Terdakwa, yang mana dalam pertemuan tersebut Terdakwa meminta agar dalam pelaksanaan fit & propert test pemilihan DGS BI Tahun 2004 para anggota dari fraksi PDI P memilih Terdakwa

2
Pertemuan Di Cipete Rumah Nunun
Untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya NN bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39, memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DRP RI yaitu Endin dari Fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar

8 Juni 2004, DPR melakukan Fit and proper Test DGS BI

8
Pertemuan Di Hotel Mulia Coffee shop dan D’Lounge
Menindak lanjuti pembicaraan NN dengan Paskah, di Hotel Mulia Coffee Shop, NN, Paskah dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di Café D’Lounge jl. Gunawarman, yang manadalam pertemuan tersebut NN meminta kembali kepada Paskah agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan sebagai DGS BI tahun 2004 karena dari fraksi PDIP sudah bersedia mendukung

Anggota Komisi IX DPR diantaranya Dudi Mkmun Murod, Endin Soefihara, Hamka Yandhu, Udju, Sulistyadi, Suyitno dan Darsup Yusup

9

Terdakwa Terpilih sebagai DGS BI periode 2004

10
Tiidak lagi membahas masalah keluarga sebagaimana yang MSG minta atau yang diminta melalui NN, Hasil Voting memilih

Unsur Pokok Perbuatan Pidana: a. dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan sengaja menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu berupa TC senilai Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) melalui Ahmad Hakim Safari MJ alias Ari Malangjudo yang merupakan bagian dari total 480 (empat ratus delapan puluh) lembar TC senilai Rp. 24. 000.000.000,(dua puluh empat milyar rupiah). 25

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

b. kepada Pegawai Negeri Hamka Yandhu (Fraksi Golkar), Dudhie Makmun Murod (Fraksi PDIP) dan Endin AJ Soefihara (Fraksi PPP) selaku Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia masa Periode tahun 1999-2004 serta beberapa anggota Komisi IX DRP RI periode 1999-2004 lainnya. c. dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut yaitu Terdakwa dan Nunun Nurbaeti mengetahui hadiah berupa TC BII tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka Pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia sebagaimana ketentuan dalam Pasal 41 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana diubah dengan UU No. 3 tahun 2004. Bahwa Terdakwa sengaja menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk melakukan perbuatan memberi hadiah atau janji berupa TC melalui Ari Malangjudo kepada anggota Fraksi Golkar (Hamkah Yandhu), Fraksi PDIP (Dudhie Makmun Murod), Fraksi PPP (Endin Sofihara) selaku anggota DPR RI, Terdakwa dan Nunun Nurbaeti mengetahui hadiah berupa TC tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka Pemilihan DGS BI.

26

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Ancaman Pidana Keempat Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHP.

27

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

BAB III FAKTA-FAKTA YANG TERUNGKAP DIPERSIDANGAN Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Bahwa dalam proses persidangan selama ini telah didengar keterangan saksi-saksi dan keterangan ahli baik yang diajukan oleh Penuntut Umum maupun yang diajukan oleh Terdakwa/Tim Penasihat Hukum, serta keterangan Terdakwa. Dari seluruh keterangan-keterangan tersebut, telah terungkap fakta-fakta dipersidangan sebagaimana dikemukakan dibawah ini: A. KETERANGAN SAKSI-SAKSI. 1. Drs. Agus Condro Prayitno (mantan anggota DPR-RI Komisi IX pada fraksi PDI Perjuangan Periode 2003-2004 sebelumnya periode 19992003 pada Komisi VII dan 2004-2009 pada Komisi II DPR-RI) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 9 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Saksi tidak ada hubungan semenda atau hubungan darah dengan Terdakwa.  Saksi tahu Terdakwa.  Bahwa saksi pernah menjadi anggota DPR tahun 2004. Periode 1999-2004.  Bahwa saksi pada tahun 1999-2003 di Komisi VII, kemudian 2003-2004 di Komisi IX.  Bahwa tugas Komisi IX adalah keuangan dan perbankan, ada hubungan dengan Bank Indonesia. 28

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi dari fraksi PDI-Perjuangan. Bahwa 18 orang dari fraksi PDI-Perjuangan yang ada di Komisi IX.  Bahwa saksi masih ingat siapa-siapa saja orang yang dari fraksi PDI-Perjuangan.  Bahwa tahun 2004 ada pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia. Bahwa saksi lupa Deputi Senior Bank Indonesia sebelumnya, “kalau tidak salah Pak Anwar Nasution.”  Pada tahun 2004 Miranda Gultom, Hartadi Sarwono, satunya lagi Pak Budi Rohadi kalau tidak salah yang dipilih dalam pemilihan Deputi Senior Bank Indonesia.  Bahwa proses pemilihan di DPR, setelah DPR menerima surat dari Presiden tentang nama-nama calon Deputi Gubernur Senior yang harus dipilih oleh DPR. Itu kemudian Pimpinan DPR mengumumkan dalam satu rapat paripurna, kemudian setelah itu dibahas di badan musyawarah ditentukan komisi mana yang nanti akan melakukan pemilihan. Di badan musyawarah diputuskan karena BI itu mitra dari Komisi IX maka kemudian ditugasilah Komisi IX untuk melakukan proses pemilihan.  Bahwa pada saat pemilihan yang terpilih Ibu Miranda Gultom.  Bahwa landasan Komisi IX memilih Terdakwa sebagai Deputi Senior Bank Indonesia, kalau memilih saya tidak tahu yang Mulia tetapi ketika Ibu Miranda itu memperoleh suara terbanyak kemudian dinyatakan sebagai calon terpilih. Tetapi kalau alasannya apa, ada dalam pikirannya masing-masing kawankawan anggota Komisi IX waktu itu yang memilih.  Bahwa kalau dari fraksi PDI-P itu pertama-tama tidak dalam rapat pleno fraksi cuma pimpinan fraksi menyampaikan bahwa dalam waktu dekat akan diadakan pemilihan Deputi Gubernur Senior BI. Kemudian disampaikan nama-nama yang sudah diajukan oleh Presiden yang harus dipilih di Komisi IX. Itu disampiakan dalam rapat pleno fraksi. Kemudian ditindak lanjuti di Rapat Poksi. Poksi itu anggota fraksi yang ada dalam satu komisi di Poksi IX waktu itu. Tempatnya di Gedung DPR di Wisma Nusantara.  Bahwa yang dilakukan di luar gedung sekali pernah diadakan pertemuan di Hotel Darmawangsa, yang hadir saat itu saya 29

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

kemudian Pak Panda Nababan, Pak William Tutuwarima, Bu Angel, Pak Matius Kormes, Pak Emir Moeis, Pak Max Muin kemudian Pak Rusman Lumbantoruan juga hadir terus Ibu Miranda Gultom, dia juga hadir tapi hadirnya belakangan. Bahwa saya tidak tahu persis siapa yang punya inisiatif pertemuan Darmawangsa (pertemuan di luar gedung khusus dengan orang yang akan dipilih) tetapi saya sebagai anggota Komisi IX dari fraksi PDI-Perjuangan waktu itu diperintahkan oleh Pimpinan fraksi, di undang begitu, untuk hadir ke Hotel Darmawangsa dimana nanti akan diperkenalkan dengan Ibu Miranda Gultom. Bahwa pada saat di Darmawangsa tidak membicarakan hal-hal yang penting tetapi sekedar untuk katakanlah meyakinkan bahwa dari temen-temen fraksi PDI-Perjuangan di Komisi IX itu sudah sepakat untuk memilih Ibu Miranda. Kemudian Ibu Miranda juga menyampaikan, tidak terlalu lama setengah jam kemudian Bu Miranda pamit. Bahwa saya duduknya agak jauh jadi mejanya agak panjang oval, tetapi yang saya dengar sekitar semacam silaturohmi. Bahwa saya tidak tahu yang memilih tetapi saya diundang diperintahkan oleh Pimpinan fraksi saya. Yang memberitahu ke saya itu Pak Wiliam Tutuwarima, saya di beritahu “Gus nanti sekitar jam 3 kita ke Hotel Darmawangsa nanti kita akan ada pertemuan dengan Bu Miranda”. Bahwa pemilihan Gubernur Senior BI itu dilakukan secara tertutup jadi persisnya apakah 18 orang dari fraksi PDIPerjuangan itu semuanya memilih Bu Miranda atau tidak, saya tidak tahu tetapi yang saya yakini bahwa teman-teman PDIPerjuangan itu kompak memilih Ibu Miranda. Bahwa sehari setelah pemilihan itu saya diundang ke ruangannya Pak Emir Muis terus kemudian disitu memang dibagikan satu amplop yang berisi 10 lembar travel cek. Yang memberikan Pak Dudi Makmun Murod. Jumlahnya 10 lembar travel cek, satu lembar Rp. 50 juta. Travel cek dikeluarkan dari Bank International Indonesia (BII). 30

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa jadi begini pada saat di rapat Poksi di Poksi IX, PDIPerjuangan kemudian ditegaskan supaya teman-teman fraksi PDI-Perjuangan yang Komisi IX itu memilih Ibu Miranda. Alasannya rasional karena faktor jam terbang, kompetensi, kemudian pengalaman dan segala macam. Akhirnya dari segi kemampuan dan segala macam itu tidak diragukan lagi disbanding dengan calon yang lain. Pada waktu itu memang saya mendengar Pimpinan itu mengatakan Pak Cahyo Kumolo mengatakan “Ibu Miranda bersedia tapi 300 tapi kalo kita minta 500 itu beliau tidak keberatan”. Dari Pak Cahyo Kumolo yang saya ingat pernah mengatakan seperti itu sebelum pemilihan pada saat rapat. Yang hadir di rapat sebagian besar dari kawankawan Komisi IX dari fraksi PDI-Perjuangan.  Bahwa saat itu saksi tidak menanyakan uang itu sumbernya dari mana.  Bahwa ketika saya menerima bersama-sama kawan-kawan di ruangannya Pak Emir Muis begini pikiran saya “ini ada kaitannya dengan apa yang disampaikan Pak Cahyo Kumolo ketika rapat poksi”.  Bahwa saksi tidak pernah atau anggota DPR menerima travel cek yang berhubungan dengan gaji.  Bahwa saya ketika menerima TC, itu feeling saya ada hubungan karena dikaitkan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Cahyo Kumolo di rapat Poksi tetapi saya tidak punya pikiran itu duit dari mana, sumbernya dari mana, pikiran saya waktu itu “wong duit itu yang memberikan adalah Pimpinan Fraksi”. Pak Dudi Makmun Murod itu kan Pimpinan fraksi saya, dia bendahara fraksi. Kemudian Pak Emir Muis juga salah satu pimpinan fraksi sekaligus merangkap sebagai ketua poksi. Saya percaya saja, begitu menerima ooh… ini duit dari fraksi. Fraksi itu duitnya dari mana, itu saya tidak terlalu banyak berpikir waktu itu.  Bahwa Saya tidak tahu apakah fraksi lain menerima TC. Yang setahu saya fraksi PDI-P dan yang bersama-sama saya lihat waktu itu 4 orang.  Bahwa saya dengar nama Ibu Nunun Nurbaeti itu dari surat kabar. 31

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa rapat Poksi itu yang memimpin Ketua Poksi Pak Emir Muis, kemudian disitu hadir Pak Cahyo Kumolo yang menjabat selaku Ketua Fraksi dan Pak Panda Nababan selaku Sekertaris Fraksi.  Bahwa perkataan dari Ketua Fraksi Cahyo Kumolo “Ibu Miranda bersedia tapi 300 tapi kalo kita minta 500 itu beliau tidak keberatan” saksi mendengar langsung saat itu berada di satu ruangan. Cahyo Kumolo berbicaranya didalam pertemuan rapat intern Poksi, disampikan kepada yang ada didalam rapat itu. Tidak ada tanggapan dari yang hadir atas perkataan tersebut. Bahwa dalam pikiran saya waktu itu nanti setelah selesai pemilihan akan diberi sesuatu. Pada waktu itu memang kemudian Pimpinan Fraksi menjanjikan “setelah ini kita akan mempertemukan dengan Ibu Miranda supaya betul-betul yakin”, karena kan sebelumnya kami Fraksi PDI-P pernah mendukung Ibu Miranda di pemilihan Gubernur BI kemudian kalah. Nah ini supaya yakin nantinya akan menang.  Bahwa pertemuan di Hotel Darmawangsa dengan Terdakwa hanya sekali. Kalau yang saksi dengar sendiri pembicaraannya seputar ramah tamah, perkenalan, pengakraban. Kalau pembicaraan mengenai dukungan dalam artian ketika itu, kami dari Komisi IX fraksi PDI-Perjuangan sudah full nanti akan mendukung untuk memilih yang bersangkutan. Persisnya saksi lupa yang dikatakan Terdakwa, tetapi substansi nya itu Ibu Miranda ya mengucapkan “terima kasih kalau didukung”.  Bahwa saksi mendengar ada pemilihan Gubernur BI tahun 2003. Pada saat itu saksi masih duduk di Komisi VII tidak ikut pemilihan. Saksi mendengar dari kawan yang pernah ada duduk di Komisi IX, kawan saksi Bapak William Tutuwarima ada Bapak Bambang Pranoto, ada Bapak Danil Setiawan.  Bahwa saya menceritakan kepada KPK, apakah itu disebut melaporkan tetapi persisnya ketika itu saya diperiksa sebagai saksi untuk kasus BI juga dimana tersangkanya adalah Pak Aulia Pohan. Pada saat diperiksa kemudian ditanya apakah saya pernah terima sejumlah uang dari Pak Hamkah Yandhu dari Golkar terkait pembahasan amandemen UUBI jumlahnya Rp. 32

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

250 juta. Dalam pikiran saya waktu saya memang tidak pernah menerima uang sejumlah Rp. 250 juta, jangan-jangan duit yang saya terima dalam jumlah Rp. 500 juta dalam bentuk TC yang disampaikan Cahyo Kumolo pada saat itu Rp. 300 juta tapi yang saya terima Rp. 500 juta, siapa tau bahwa duit itu juga sebagian dari situ maka saya ngomong saya terimanya tidak Rp. 250 juta tapi Rp. 500 juta. Kemudian Penyidik menanyakan Rp. 500 juta itu dalam rangka apa, coba kronologinya seperti apa. Kemudian saya ceritakan duit itu saya terima sehari setelah pemilihan ibu Miranda.  Bahwa pada saat pemilihan saya memilih Ibu Miranda Gultom. Kalau pada saat fit and proper test yang kelihatan mumpuni itu memang Ibu Miranda Gultom. Jadi sebenarnya tidak usah dikasih duit pun saya tetap akan memilih karena satu itu instruksi partai yang mau tidak mau harus dijalankan, yang kedua secara objektif memang diantara 3 calon yang memang menonjol Ibu Miranda.  Bahwa perkataan Cahyo Kumolo tentang “Ibu Miranda bersedia memberikan 300 tapi kalo kita minta 500 itu beliau tidak keberatan” di rapat poksi diantara teman-teman anggota Komisi IX dari fraksi PDI-Perjuangan. Pada saat itu hadir Pak Poltak, Pak Wiliam, Pak Emir Muis. Seingat saya memang Pak Cahyo Kumolo menyatakan seperti itu. Karena itu kalimat yang pertama kali saya dengar artinya “kok ada mau memilih orang, kok kemudian ada cerita tentang mau dikasih 300 tapi kalau kita minta 500 tidak keberatan”. Di Komisi VII saya tidak pernah dengar ada cerita seperti itu atau omongan seperti itu ketika akan memilih. Begitu di Komisi IX ada kalimat seperti itu kan jadi nya teringat terus dalam pikiran saya.  Bahwa di rapat komisi itu sudah disampikan kemudian pada rapat pleno fraksi mempertegas untuk memilih Bu Miranda, tetapi bahwa sudah ada denger-denger bahwa Pimpinan Partai memutuskan untuk memilih Bu Miranda kami sudah denger sebelumnya. Kami sudah dengar bocoran nanti yang dipilih Ibu Miranda. Bocoran itu sebelum pemilihan. Waktu rapat poksi itu penegasan artinya untuk mempertegas bahwa nanti yang harus 33

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dipilih adalah Ibu Miranda. Kalau sebelum-sebelumnya sudah denger nanti kita akan memilih Ibu Miranda. Bahwa Nursuhud PDI-Perjuangan sebagai anggota DPR periode tahun 2004-2009. Nursuhud tidak ikut memilih pada waktu itu bersama saksi. Waktu itu Nursuhud statusnya masih sebagai asisten saksi. Tahun 1999-2004 Nursuhud masih menjadi asisten saksi. Rekaman di stasiun Gambir itu pada November 2008. Bahwa Bambang Pranoto ketika bertemu dengan saya di Gambir kemudian. Saya kontak (menghubungi) Pak Bambang Pranoto, janjian bertemu di Gambir untuk ngomong-ngomong. Kemudian disitu bercerita terkait apa yang saya alami di KPK. Kemudian saya berusaha untuk meminta dukungan Mas Bambang Pranoto (almarhum) supaya beliau bersedia ngomong bahwa dulu dia pernah ada cerita pernah ditawari persekot 250 juta nanti kalau menang akan dipenuhi 250 juta itu tadi. Tapi Pak Bambang Pranoto tidak mau tidak berani “sudah kamu sana saja cukup”. Artinya kalau saya ngomong sudah cukup tidak perlu ada cerita yang lain, wong kalau sudah dipanggil KPK itu namanya sudah tercemar. Beliau keberatan “udah lah Gus, gak usah”. Artinya beliau tidka usah memberi kesaksian. Bahwa tahapan pertama untuk pemilihan mendengarkan paparan dari para calon dari 3 orang itu, kemudian setelah selesai dilakukan voting. Saya mengikuti setiap tahapan tadi. Saksi tidak pernah melakukan pertemuan dengan calon yang lain. Bahwa saya itu tahu Ibu Miranda pada saat saya masuk Komisi IX, kadang-kadang beliau ikut rapat, ngomong-ngomong saja tidak pernah. Tidak pernah bertemu tidak pernah membicarakan mengenai TC, kecuali ramah tamah tadi di Hotel Darmawangsa. Bahwa ada yang nyeletuk menanggapi pernyataan Cahyo Kumolo pada saat rapat Poksi tersebut tetapi saya lupa siapa, saya ingat nya begini “kalau beliau bersedia kasih 500 kenapa kita kok 300, bodoh itu kalau beliau bersedia 500 kita minta nya 34

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

 

cuma 300” ada celetukan seperti itu tapi saya lupa siapa orangnya. Bahwa saya santai-santai saja menanggapi pernyataan Cahyo Kumolo sambil ingat-ingat, karena waktu saya di Komisi VII tidak pernah ada. Kemudian mau milih siapa atau orang mau kasih sesuatu itu tidak pernah ada. Tidak pernah terpikirkan. Bahwa tidak terpikir TC itu dari mana, saya terima saja tetapi feeling saya ketika terima cek itu terkait dengan omongan Pak Cahyo. Pengahasilan DPR itu langsung masuk tabungan bukan seperti ini (TC). Bahwa yang terpikirkan saya pada waktu itu ya sudahlah ini tanggung jawab fraksi karena yang mengatur semuanya fraksi. Ketika menjelang pemilihan Presiden juga kasih Rp. 50 juta untuk biaya membantu anggota yang memenangkan Ibu Mega di lapangan. Bahwa TC itu saya pakai. TC itu sekarang sudah saya kembalikan. Saya mengembalikan dengan jual asset. Bahwa pada waktu pertemuan di Darmawangsa yang disampaikan ramah tamah saja kepada teman-teman. Saya tidak begitu mendengarkan, saya agak jauh, santai-santai tapi substansinya itu ramah tamah tidak dalam rangka fit and proper test, tidak formil atau setengah formil gitu. Itu 3 atau 4 hari menjelang fit and proper test. Fit and proper test nya itu tanggal 8 Juni. Hasil voting Ibu Miranda mendapat suara terbanyak. Lalu besoknya saya menerima TC dari Pak Dudi Makmun Murod sebanyak 10 lembar TC. Pada waktu terima TC, Pak Dudi menyampaikan “ini uang nya sudah cair”, saya tidak menanyakan uang apa waktu itu. Bahwa saya mengatakan tadi “tidak dikasih uang pun, karena itu perintah partai mesti PDI itu memilih”. Bahwa ketika rapat Poksi, bahwa Pak Cahyo Kumolo seingat saya pernah menyampaikan “Ibu Miranda mau kasih 300 kalau kita minta 500, beliau tidak keberatan”. Bahwa semua yang terima uang itu tidak ada yang bertanya ini uang apa, asal nya dari mana. Suasananya sepertinya sudah mengerti ini, langsung turun saja. Saya disitu tidak sampai 10 35

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

menit. Begitu terima saya disuruh hitung, saya hitung, kemudian sudah saya turun. Pak Dudi yang memberi Cuma bicara “ini uang sudah cair, coba tolong dihitung jumlahnya sama tidak?” Kalau yang saya alami begitu terima uang nya disuruh menghitung, ada kode nya tidak. Amplopnya nya sudah dipisahpisahkan, jumlahnya sama, sudah kemudian saya turun. Bahwa setahu saya tidak ada pertemuan dengan calon DGS BI yang lainnya. Saya tidak tahu apakah teman-teman yang lain pernah melakukan pertemuan dengan Terdakwa. Bahwa ada pemilihan lain selain pemilihan DGS BI, pemilihan lain itu pemilihan BPK, tidak ada permainan uang seperti ini. Tidak ada arahan dari pimpinan pada saat pemilihan BPK. Bahwa pada saat fit and proper test tidak ada pertanyaanpertanyaan mengenai moral dari anggota Komisi IX pada saat itu, pertanyaannya seputar profesionalitas saja. Dalam proses fit and proper test itu dalam menguji dilakukan satu-satu yang lainnya tidak ada diruangan. Bahwa kalau tidak salah hasil yang diterima Terdakwa pada saat voting itu adalah 41 dari total anggota Komisi sekitar 53 atau 56 gitu. Bahwa dalam BAP saksi nomor 30 dialog dalam bahasa Jawa menit 1.11. Bahwa pembicaraan saksi dengan Bambang Pranoto tepatnya tahun 2008 bulan Nopember, harinya lupa kalau tanggalnya kalau tidak salah tanggal 8 lah, 8 Nopember sore jam 3. Pembicaraan saksi rekam pakai HP Komunikator. Terjemahannya bahasa Indonesia dari Pak Bambang Pranoto seperti itu (dibacakan BAP saksi oleh Penuntut Umum dan diperdengarkan rekaman suara). Bahwa suara itu suara saya dan suara almarhum Bambang Pranoto. Saudara Nursuhud ada disitu. Bahwa percakapan di menit 01.34 arti dan maksud Pak Bambang Pranoto “persekotnya 250 juta dimana nanti akan digenapi menjadi 750 juta”. Percakapan ini dibenarkan oleh saksi. 36

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa percakan dalam menit 1.39 diartikan oleh saksi “Pak Bambang Pranoto menjelaskan bahwa persekotnya 250 juta, kemudian Pak Bambang Pranoto menanyakan kepada orang yang memberi tahu kepada Pak Sukono dan Pak Welli “kalau tidak menang dan tidak terpilih bagaimana dengan persekot itu?. Saksi membenarkan rekaman percakapan ini.  Bahwa percakapan ini dilakukan di Stasiun Gambir, posisinya di ruang tunggu eksekutif (executive lounge) Parahyangan di lantai 2. Direkam pada hari itu, pada hari yang sama pada jam yang sama tempat yang sama.  Bahwa percakapan saksi di BAP nomor 33. Itu percakapan menit ke 1.58 arti dan maksud ucapan pembicaraan “Pak Bambang Pranoto mengatakan menurut Pak Sungkono yang penting kewajiban untuk memilih Miranda sebagai Gubernur BI sudah dilaksanakan lalu Pak Bambang Pranoto mengatakan bila begitu caranya lebih baik kalau sudah menang saja saya menerima uang nya”. Saksi membenarkan keterangan ini.  Bahwa terjemahan dari saksi di persidangan dengan yang di BAP tidak sama.  Bahwa keseluruhan maksudnya dari percakapan tersebut bahwa Mas Bambang Pranoto menceritakan, beliau itu kan kadang masuk kadang tidak, menceritakan bahwa dia itu diminta, didatangi oleh kawan-kawan beliau di Komisi IX waktu itu.  Bahwa pada saat itu saya melakukan pembicaraan antara saya dengan Mas Bambang Pranoto almarhum trus disitu ada saudara Nursuhud, yang dibicarakan waktu itu adalah Mas Bambang Pranoto bercerita waktu itu bahwa ketika menjelang pemilihan Gubernur BI, beliau didatangi oleh kawan-kawan beliau bersama dengan anggota Komisi IX dari PDI untuk ikut pemilihan dan kemudian untuk memilih apa yang diperintahkan oleh partai dan dijanjikan akan diberikan persekot 250 juta nanti kalausudah selesai menang mau dikasih dan digenapi menjadi 750 juta. Intinya itu. Pemilihan tahun 2003.  Bahwa saya menerima TC, bagian saya, saya terima di ruangan Emir Muis. Yang bersama-sama saya, setelah dibuka nilainya sama, 10 lembar. Yang bareng saya yang diundang ke 37

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

ruangannya Emir Muis semuanya menerima tidak ada yang mengembalikan. Kalau Pak Emir Muis itu saya tidak melihat sendiri tidak tahu dia terima atau tidak tetapi menurut Pak Emir Muis dalam persidangan saya, beliau mengatakan menerima kemudian dikembalikan ke Pak Panda Nababan. Bahwa tidak secara eksplisit disampaikan arahan/kriteria yang akan menjadi dasar untuk pemilihan DGS BI dalam pertemuan atau rapat Poksi. Tidak pernah disampaikan secara eksplisit. Bahwa tidak ada arahan untuk menanyakan bagaimana kriteria atau cara-cara bertanya dalam melakukan fit and proper test. Bahwa saksi lupa apakah dalam pelaksanaan fit and proper test ada ketentuan yang mengatur mengenai hal-hal apa yang harus dipertanyakan oleh anggota komisi. Bahwa saya tidak pernah mengklarifikasi kepada Terdakwa mengenai perkataan “Ibu Miranda mau kasih 300 kalau kita minta 500, beliau tidak keberatan” yang diucapkan Pak Cahyo Kumolo dalam rapat Poksi. Alasannya satu, kan ndak ngerti sama Ibu jadikan saya selaku anggota Komisi IX baru kemudian tidak begitu kenal dengan Ibu kemudian tidak ada urgensi dari diri saya untuk mengklarifikasi. Itukan omongan dari Pimpinan fraksi saya ya sudah saya percayai begitu saja.

TANGGAPAN TERDAKWA:  terdakwa keberatan dengan keterangan saksi karena Terdakwa tidak pernah menyatakan perkataan “Ibu Miranda mau kasih 300 kalau kita minta 500, beliau tidak keberatan” kepada Pak Cahyo Kumolo

2. HAMKAH YANDHU Y.R (mantan anggota DPR RI Komisi IX periode 2002-2004) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 9 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:

38

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi sebagai anggota DPR tahun 2002-2004 Komisi IX dari fraksi Partai Golkar. Pada waktu itu sebanyak 15 orang, Paskah Suzetta, Bobi Suhardiman, Asep Sujana, dan lain-lain.  Bahwa pada tahun 2004 dilakukan pemilihan Deputi Senior BI. Seingat saya ada 3 calon pada waktu itu. Ada pertama Ibu Miranda Gultom, Hartadi B. Sarwono, dan yang satu lagi lupa. Ketika itu yang terpilih saudari Ibu Miranda Gultom.  Bahwa Komisi IX anggotanya kurang lebih 52. Saksi lupa perolehan suara untuk Terdakwa.  Bahwa tidak ada pengarahan dari fraksi saksi pada saat pemilihan Terdakwa.  Bahwa tidak pernah ada pertemuan-pertemuan dalam rangka pemilihan Gubernur Senior BI, tidak ada pertemuan di Hotel Darmawangsa.  Bahwa pernah ada pertemuan dengan Ibu Nunun. Pada waktu itu ada acara breakfast untuk pertemuan dengan orang-orang Sunda di Hotel Mulia. Saya tidak mendengar apa yang dibicarakan, saya hanya hadir waktu itu.  Bahwa TC itu ada pada saat meluasnya berita dari Agus Condro.  Bahwa saya pernah menerima TC. Saya menerimanya waktu itu pada saat sesudah acara voting pemilihan Deputi Gubernur. Saya diajak oleh temen saya, saudara Azar Muklis untuk ke suatu tempat, seingat saya waktu itu Jalan Riau. Saya tidak tahu mengapa dibawa ke Jalan Riau, saya hanya diajak. Bahwa waktu itu saya menerima bingkisan warna coklat yang diterima oleh Azar Muklis, saya hanya mendapingi saja. Seingat saya Jalan Riau itu dekat Menteng. Seingat saya waktu itu seperti rumah. Waktu itu kami datang berdua, ditanyakan dari mana kemudian kita bilag dari Golkar dan diarahkan naik ke lantai 2.  Bahwa saya waktu itu habis fit and proper test, duduk-duduk di sekretariat tiba-tiba dicolek sama Azar Muklis untuk menemani, akhirnya datanglah ke suatu tempat.  Bahwa pada saat di Jalan Riau itu menurut keterangan supir saya ada beberapa mobil sama. Saya menemukan ada bapak-bapak pakai kaca mata saya tidak tahu namanya memperkenalkan namanya Ari atau siapalah. Saya diajak saja ke Jalan Riau, 39

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

 

 

pokoknya dia bilang ikut aja. Waktu itu menerima bungkusan warna coklat. Dalam perjalanan kita buka bungkusannya ternyata di dalamnya ada amplop warna putih yang namanya sudah ada. Bahwa anggota fraksi Golkar lainnya ada menerima amplop. Didalam amplop coklat itu seingat saya ada 14 amplop. Bahwa setelah pemeriksaan, dikonfrontir saksi tahu namanya Ari yang memberikan amplop coklat karena memperkenalkan namanya Ari. Bahwa saksi tidak tahu hubungan Ari dengan pemilihan Gubernur Senior BI. Bahwa saya tidak banyak berkomunikasi, hanya Azhar Muklis yang banyak berkomunikasi. Saksi tidak tahu mengapa Azhar Muklis menerima amplop dari seseorang. Bahwa saksi bertanya dengan Azhar Muklis uang apa ini, Azhar Muklis bilang “gak usah nanya-nanya”. Bahwa saya yang membagi-bagikan amplop itu, karena ada namanya saya membagikan begitu saja. Saya tidak menanyakan uang apa ini kepada Ari Malangjudo. Saksi tidak tahu apakah fraksi lain mendapat uang ini. Saksi hanya membagikan kepada fraksi Golkar Komisi IX saja. Bahwa saya pernah ditelepon oleh Paskah Suzetta. Saya dengan Pak Paskah kan sesama komisi dan beliau pimpinan komisi, dalam hal telpon-telpon sudah hal biasa. Bahwa iya saya pernah diminta merapat ke Hotel Mulia. Di Hotel Mulia itu biasa kita kalau habis rapat-rapat di DPR mampir ke situ (Hotel Mulia) untuk ngopi-ngopi. Saya bilang kepada Paskah Suzetta ada amplop. Tidak ditanya oleh Paskah Suzetta amplop apa itu, dia manggut-manggut saja waktu dikasih. Bahwa saya tidak tahu uang apa yang saya terima. Setelah ada pemberitaan, dan Agus Condro menceritakan ada aliran TC untuk pemilihan Gubernur. Saya kembalikan uang itu. Waktu itu TC dikeluarkan oleh BII. Saya tidak langsung menguangkan TC itu. Waktu itu ada sekretaris saya yang menguangkan. 10 lembar TC masing-masing Rp. 50 juta. 40

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa di fraksi Golkar itu setiap hari Jumat selalu ada rapat rutin namanya rapat fraksi mengevaluasi sidang-sidang yang sudah maupun yang akan kita sidangkan.  Pada waktu itu setiap agenda rapat pasti dibahas pada rapat Poksi termasuk pada saat itu dari agenda untuk pemilihan Deputi Gubernur.  Bahwa jabatan Deputi Gubernur Senior itu sangat penting dalam sejarah Gubernur BI. Kita di Poksi itu kan ada yang namanya tim ahli, jadi berdasarkan masukan-masukan dari tim ahli namanama yang sudah dikirim oleh Presiden untuk dipilih ketiga nama yang tadi. Bahwa kita melihat sosok ibu Miranda yang berkompetensi untuk itu, dari segi pengalaman, kemampuan, hubungan jadi rekomendasi dari tim ahli bahwa Ibu Miranda yang paling cocok.  Bahwa pada waktu itu kita memang dari fraksi Golkar kadangkadang diberi kesempatan untuk memilih masing-masing sesuai dengan kemampuan. Jadi tidak ada pengarahan khusus untuk Golkar harus memilih Miranda. Jadi masing-masing diberi keleluasaan untuk memilih. Tetapi sebelumnya sudah ada pengarahan-pengarahan yang disampaikan oleh tim ahli.  Bahwa dari Paskah Suzetta biasanya kesimpulan rapat itu dibawa ke Pimpinan Fraksi untuk menyampaikan hasil yang dirapatkan di Poksi. Beliau lah yang berhubungan dengan Pimpinan Fraksi untuk menyampaikan hasil rapat itu.  Bahwa saya waktu itu ikut memilih pada waktu pemilihan. Saya waktu fit and proper test tidak ikut karena saya ada kegiatan pembahasan UUdi Komisi lain. Itu wajib untuk memilih. Voting tertutup waktu itu.  Bahwa dalam hal voting, fraksi kita selalu diwajibkan untuk hadir walaupun di luar kota, apalagi untuk memilih sesuatu yang penting atau paripurna maupun pemilihan-pemilihan di komisi. Jadi kita sebagai anggota itu dipanggil.  Bahwa saksi ataupun teman-teman saksi tidak pernah melakukan pertemuan sebelum pemilihan dengan terdakwa. Dengan calon yang lain juga tidak pernah melakukan pertemuan. 41

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi pernah mengikuti pemilihan sebelumnya yaitu pemilihan Gubernur BI waktu itu kandidatnya Burhanuddin Abdullah dengan Ibu Miranda Gultom yang satunya lagi saksi lupa. Pada waktu itu yang terpilih Burhanuddin Abdullah. Saksi pada waktu itu mengikuti fit and proper test. Tidak ada danadana seperti ini pada tahun 2003. Pada waktu itu, ada kata-kata dari anggota dewan yang menyudutkan Terdakwa, menyangkut masalah pribadi. Perkataan itu dikembangkan oleh media pada waktu itu. Pada waktu pemilihan Terdakwa tidak terpilih.  Bahwa saya datang ke Jalan Riau hanya 1 kali. Bahwa saksi tidak pernah mengatakan kalimat dalam Dakwaan Penuntut Umum pada halaman 5 “…. Bahwa Nunun Nurbaeti yang akan mengatur semua nya, akhirnya Ahmad Safari menyanggupi….”  Bahwa saksi tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti, Ari Malangjudo pada hari sebelum pemilihan di Jalan Riau.  Bahwa saksi sendiri pada saat pemilihan memilih Miranda Gultom. Seingat saksi ada 14 bungkusan yang diambil dari Jalan Riau bersama dengan Azar Muklis. Pada saat setelah dari sana di DPR masih ada kawan-kawan. Itu amplop coklat diletakan diatas meja, yang ada namanya mereka ambil. Saya letakkan amplop itu di atas meja trus sisa nya saya ambil karena sisanya diserahkan ke Azar Muklis untuk membagikan temen-temen yang sudah pulang.  Bahwa terdakwa pernah menyampaikan untuk memilih dia sambil guyon-guyon saja. “ya… Ibu Miranda dicalonkan lagi untuk Deputi Senior. Ini sebelum pemilihan.  Bahwa saya kenalnya sebetulnya hanya saya diajak sama Pak Paskah Suzetta waktu itu ada acara reuni persundaan. Biasanya sebelum rapat itu kan kita suka mampir di hotel Mulia disitulah ada yang namanya Ibu Nunun, tapi membicarakan untuk halalbilhalal persudaan. Saya tidak sering bertemu, hanya waktu itu saja hanya 2 kali.  Bahwa sesudah pemberian TC itu tidak pernah bertemu lagi dengan Nunun Nurbaeti. Sebelumnya Nunun tidak pernah bicara dengan saya mengenai TC, misalnya untuk mengambil TC tersebut di Jalan Riau, kecuali tadi diminta oleh Azar Muklis. 42

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa uang tersebut sudah saya kembalikan pada saat penyelidikan. Seingat saya yang namanya ada di amplop itu menerima semuanya.  Bahwa saya bertemu dengan Nunun Nurbaeti 2 kali, yang pertama di Hotel Mulia yang kedua di D’Lounge. Karena waktu itu menjelang halalbilhalal. Yang di D’Lounge itu sebelum fit and proper test.  Bahwa pada saat pulang dari sana (Jalan Riau) memang ada yang menghubungi bahwa kawan-kawan yang di DPR disuruh tunggu, Pak Azar ditelepon, dia bilang tunggu aja masih dalam perjalanan.  Bahwa terkait BAP saksi No. 13, saksi menjawab mengiyakan sesuai BAP. Seperti yang tadi saya bilang kalau ada rapat-rapat mendapat uang transport. Pada waktu itu tidak ada penjelasan kalau ini dari pemilihan Deputi Senior BI.  Bahwa saksi tidak tahu dimana rumah Nunun Nurbaeti. Saksi tidak pernah datang ke rumah di Jalan Cipete Raya. Tidak pernah datang bersama Endin Sofihara. Tidak pernah datang dengan Paskah Suzetta.  Bahwa saksi tidak mendengar Nunun Nurbaeti saat itu pada saat pertemuan masyarakat sunda di Hotel Mulia meminta kepada Paskah Suzetta agar Golkar di Komisi IX mendukung atau memilih Terdakwa dalam fit and proper test Deputi Gubernur Senior BI.  Bahwa di BAP saksi ada juga pertemuan yang di D’Lounge Jalan Munawarman Jakarta Selatan. Itu rangkaian pertemuan yang halalbihalal persudaan. Setiap ada pertemuan sundaan saksi selalu menemani Paskah Suzetta karena diajak beliau.  Bahwa pada tahun 2003 di Komisi IX ada proses fit and proper test Gubernur BI. Pada saat itu calon nya Pak Burhanuddin Abdullah, Ibu Miranda Gultom, satu lagi saya lupa. Pada saat itu yang terpilih Pak Burhanuddin Abdullah.  Bahwa pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada saat fit and proper test yang menyangkut profesionalisme, pengalaman dan kemampuan. Itu standar dalam fit and proper test. 43

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa dalam menentukan penilaian untuk memilih DGS, kepada masing-masing komisi diberikan suatu kebebasan berdasarkan penafsirannya terkait dengan. Begitu juga dalam memberikan suaranya diberikan kebebasan kepada masing-masing. Secara pribadi kita harus memilih karena ini tertutup. Nurani kita biar diarahkan sama fraksi tetapi kalau kita memilih itu bisa.  Bahwa pada saat saksi menerima TC saksi belum mengetahui kalau TC itu ada kaitannya dengan pemilihan DGS BI.  Bahwa kalau memilih itu kan hak prerogative kita dan sangat rahasia, jadi pada waktu itu memang ada semacam lobi-lobi pendekatan. Waktu tahun 2003 fraksi golkar pada saat pemilihan Gubernur BI saya memilih Burhanuddin Abdullah. Waktu itu kita juga dapat masukan dari tim poksi/ahli. Seingat saya pada waktu tahun 2003 arahan dari fraksi Golkar adalah untuk memilih Burhanuddin Abdullah. Pada tahun 2004, masukan dari tim ahli untuk memilih Miranda Gultom dan saksi memilih Miranda Gultom.  Bahwa dalam fit and proper test pemilihan yang menentukan terpilihnya seseorang di DPR adalah jumlah voting dan itupun juga di Komisi belum final karena dibawa ke pleno. Biasanya di pleno juga suka ditanyakan dan bisa batal di pleno. Dan di rapat pleno itu kan anggotanya 550. Jadi pada waktu itu anggota menyetujui. Jadi saya rasa 550 anggota memilih Miranda Gultom sebagai Deputi Gubernur Senior BI.  Bahwa saksi tidak pernah diperkenalkan kepada terdakwa oleh Nunun Nurbaeti.  Bahwa saksi tidak pernah diperkenalkan oleh Nunun Nurbaeti kepada terdakwa.  Bahwa menurut saksi, terdakwa memiliki kemampuan untuk menjadi DGS BI.  Bahwa pada saat terdakwa menjabat sebagai DGS BI, kinerja terdakwa memuaskan. TANGGAPAN TERDAKWA tidak ada tanggapan dari Terdakwa 44

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

3. Drs. DARSUP YUSUF, SH, MSc (Purnawirawan TNI AD/Mantan anggota DPR RI Mei 2002-September 2004) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 13 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Anggota DPR RI 1999-2004 tapi dimulai tahun 2002 karena pergantian antar waktu  Pada tahun 2004 pernah dilakukan pemilihan DGS BI, Pada saat itu sebagai calon adalah 3 orang, Budi Rochadi, Hartadi Sarwono dan Miranda Goeltom  Berasal dari Fraksi TNI Polri  Yang terpilih sebagai DGS BI adalah Miranda Goeltom  Pernah terjadi pertemuan dengan Miranda Goeltom pada Mei 2004  Pertemuan adalah inisiatif dari Miranda  Miranda mengadakan sosialisasi dalam rangka silaturahmi, yang diundang adalah saksi sendiri, Udju DDjuhaeri, Sulis dan Suyitno  Yang terpilih ketika itu adalah Miranda Gultom, berapa suara yang diperoleh tidak tahu secara pasti, pemilihan tersebut dilakukan secara voting tertutup, surat didapat bu Miranda diatas 40  Saksi menerima TC dari Arie Malangjudo di jalan Riau no 17, diterima tanggal 8 Juni 2004, pemilihan dilakukan pada tanggal yang sama, antara jam 17.00-17.30  Pada waktu itu datang berempat ke Jalan Riau No. 17, saksi sendiri, darsup, suyitno dan sulistyadi  Tidak kenal dengan Arie sebelumnya  Sesuai persidangan sebelumnya Arie pada saat itu memberikan amplop kepada Udju dan Udju membagikan kepada anggota lain  Begitu masuk keruangan hanya melihat sekeliling kantor, sepengetahuan saksi tidak ada yang disampaikan Arie  Menerima TC 10 lembar dengan nilai @ Rp 50 juta, amplop besar diterima Udju, dan isinya dibagikan, pada amplop tidak ada nama, masing-masing mendapat Rp 500 juta

45

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Uang tidak ada hubungan dengan pemilihan DGS BI, tidak tahu maksud uang itu  Datang ke jalan Riau 17 karena diajak Udju, karena tidak tahu Arie atau Nunun Nurbaeti  Menurut saksi karena hubungan Adang dengan Udju akrab, itu merupakan pemberian pak Adang melalui Udju untuk dibagikan  Pada saat itu ada mengadakan pertemuan dengan calon lain, untuk perkenalan saja  Pernah mengikuti pemilihan DGS BI  Tidak ingat pernah ada permintaan Miranda untuk tidak menanyakan masalah keluarga;  Pada saat pemilihan GBI 2003 ada pamflet-pamflet mengenai keluarga Terdakwa, tapi tidak meminta secara khusus pada saksi mengenai keluarga;  Pada waktu bertemu MG tidak ada izin untuk bertemu Miranda dari ketua Fraksi;  Tidak ada arahan fraksi untuk siapa yang harus dipilih;  Pada saat ada undangan dari Terdakwa diterima dari stafnya, pada saat itu ditanyakan darimana tahu no teleponya dan dijawab tahu dari sekretaris fraksi;  Pertemuan diadakan esok hari setelah dihubungi;  Oleh Terdakwa yang dibicarakan dalam pertemuan adalah sosialisasi untuk silaturahmi, sekita 30-35 menit;  Pada saat itu Miranda hanya bercerita, tidak ada kesepakatan apapun disitu atau diluar;  Saksi memilih Miranda;  Saksi tidak tahu bahwa yang telepon adalah Nunun Nurbaeti;  Saksi diundang oleh Budi Rochadi untuk makan malam bersama, isinya makan, ngobrol dan berbicara;  Saksi tidak pernah menduga bahwa TC dari MG, pada pertemuan di Niaga juga tidak ada komitmen;  Hartadi Sarwono tidak ada undangan untuk bertemu;  Bahwa pemilihan dilakukan secara tertutup, masing-masing anggota komisi IX menulis pada selembar kertas untuk calon yang dipilih. 46

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Pada saat itu belum diumumkan siapa calon yang terpilih, diajak Udju ke Riau 17  Kebiasaan kalau selesai rapat fraksi makan, menduga ini diajak makan di daerah belakang sarinah  Bahwa saksi Udju tidak menyampaikan apa-apa, ketika menerima amplop juga tidak, ketika menerima amplop tidak langsung dibuka, amplop dibuka dirumah  Bukan kebiasaan untuk bertemu sosialisasi dengan calon  Saksi sebagai DPR sebagai wakil rakyat, jad bila ada rakyat yang akan audiensi apakah perorangan atau kelompok diterima  Pertemuan tidak akan mempengaruhi independensi dalam memilih, buktinya Udju memilih Budi Rochadi  Bahwa tidak ada permintaan atau harapan dari Miranda agar tidak ditanyakan masalah keluarga, saksi hanya mendengar cerita dari Miranda saja  Pertemuan hanya sekitar 30 menit  Waktu pertemuan ada minuman untuk anggota fraksi  Pada saat fit and proper test tidak ada yang menanyakan masalah pribadi  Pada pemilihan lain tidak pernah ada pertemuan  Bahwa saksi lupa bahwa tahun 2003 ada anggota yang mempermasalhkan keretakan pribadi  Bahwa dasar memilih Miranda dalam voting adalah kertas karya Miranda sudah banyak pengalaman jabatannya, sebagai contoh, Budi Rochadi adalah perwakilan BI di Jepang, mungkin dia adalah eselon II, Hartadi Sarwono baru terpilih beberapa saat menjadi DG BI, Bu Miranda pernah menjadi staf perbankan di LN,kemudian pernah menjadi DG BI serta pengalaman lain, jadi memilih benar-benar berdasarkan kompetensi dan profesionalisme, apalagi melihat riwayat jabatan, Budi Rochadi belum layak dicalonkan berdasarkan riwayat jabatannya  Bahwa berdasarkan paparan Miranda benar-benar punya strategi membangun BI yang saat itu terpuruk namany;  Yang menjadi dasar memilih salah satunya adalah integritas moral; 47

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Setelah menerima penyerahan TC, beberapa saat kemudian tidak pernah bertemu Nunun Nurbaeti, untuk konfirmasi ataupun menerima, pada saat ingin dikonfimasi tidak nyambung;  Dalam menggali informasi saksi tidak dipengaruhi oleh Nunun Nurbaeti;  Diberikan kebebasan melakukan eksplorasi sesuai apa yang menjadi pemikirannya;  Bahwa tidak ada larangan atau kewajiban tertentu misalnya untuk menanyakan masalah moral kepada kandidat, apakah kandidat bermoral atau tidak, bercerai atau tidak, kawin lagi atau tidak, bila kita menanyakan itu kami dibilang tidak nyambung karena kertas karyanya bukan soal itu;  Bahwa dari ketiga calon yang diajukan presiden saat itu yang masih aktif di BI hanya Hartadi, Budi tidak tahu jabatannya apa, Miranda tidak mengenal;  Dalam rapat-rapat selaku mitra komisi IX pernah bertemu Hartadi Sarwono, karena Komisi IX sering rapat dengan BI  Bahwa sebelum pemilihan GBI 2003, tidak bertemu dengan calon Miranda;  Bahwa saksi lupa, tidak tahu dan tidak kenal Miranda atau apakah Miranda aktif di tahun 2003;  Tidak bertanya mengenai masalah keluarga tidak ada kaitannya dengan Miranda, sampai saat ini tidak tahu kaitannya TC dengan Miranda;  Saksi lupa berapa kali bertemu dengan Miranda di tahun 2003, tetapi rasanya pernah sekali melihat Miranda bersama DG BI lainnya;  Bahwa saksi tidak ada komuniskasi apapun dengan Nunun Nurbaeti, apalagi untuk mengenalkan Miranda; TANGGAPAN TERDAKWA: - Tidak ada tanggapan dari Terdakwa.

48

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

4. UDJU DDJUHAERI (mantan anggota DPR RI Komisi IX periode 19992004) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 13 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi pernah sebagai anggota DPR RI 2003-2004, merupakan pergantian paruh waktu, berada pada komisi IX;  Pada tahun 2004 pernah dilakukan pemilihan DGS BI, Pada saat itu sebagai calon adalah 3 orang, Budi Rochadi, Hartadi Sarwono dan Miranda Goeltom;  Bahwa saksi berasal dari FTNI Polri;  Bahwa yang terpilih sebagai DGS BI adalah Miranda Goeltom;  Bahwa pertama kali bertemu dengan Budi Rochadi, salah satu kandidat, yang dibicarakan adalah perkenalan dan tidak ada komitmen apapun;  Bahwa pada bulan Mei atau April sebelum pemilihan bertemu Miranda di suatu gedung di depan Ratu Plaza, tidak tahu itu tempat siapa;  Bahwa mendapat pemberitahuan dari Darsup waktu itu sebagai Kapoksi;  Secara detail tidak mengerti apa isi yang disampaikan Miranda;  Bahwa yang menang bu Miranda, tetapi jumlah suara tidak tahu;  Bahwa saksi menerima TC dari Arie Malangjudo di jalan Riau no 17, diterima tanggal 8 Juni 2004, pemilihan dilakukan pada tanggal yang sama, antara jam 17.00-17.30  Bahwa sekitar jam 16.30 dapat telepon dari seseorang diduga Nunun Nurbaeti, isinya kami dari FTNI Polri diminta datang ke Jalan Riau No. 17 bertemu Arie;  Pada waktu itu datang berempat ke Jalan Riau No. 17, saksi sendiri, darsup, suyitno dan sulistyadi;  Bahwa dengan tenggang waktu pemberian dan penerimaan cek, ada dugaan bahwa itu terkait dengan pemilihan DGS;  Bahwa waktu itu sudah kenal dengan Nunun Nurbaeti, karena suaminya pernah menjadi Kapolda Jabar dan saksi menjadi salah satu direktur intelnya; 49

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Begitu dibilang untuk datang ke jalan Riau langsung ditutup teleponnya, tidak sempat konfirmasi;  Setelah dirundingkan akhirnya datang berempat ke jalan Riau;  Pada waktu itu tidak melihat mobil anggota DPR lain di jalan Riau;  Begitu dibagikan langsung pulang, menurut saksi kemungkinan ada hubungan dengan pemilihan DGS;  Bahwa Fraksi TNI Polri berjumlah 4 orang;  Bahwa pada saat itu ada mengadakan pertemuan dengan calon lain, untuk perkenalan saja;  Bahwa pada waktu itu bertemu di depan Ratu Plaza, pada saat itu ada pertemuan dengan Terdakwa, penjelasan-penjelasan Miranda banyak yang tidak dipahami;  Bahwa tidak ada permintaan apapun dari Terdakwa;  Bahwa tidak ingat pernah ada permintaan Miranda untuk tidak menanyakan masalah keluarga;  Bahwa pada waktu bertemu MG tidak ada izin untuk bertemu Miranda dari ketua Fraksi;  Bahwa tidak ada arahan fraksi untuk siapa yang harus dipilih;  Bahwa pertemuan diadakan esok hari setelah dihubungi;  Bahwa dugaan bahwa TC berkaitan dengan pemilihan DGS adalah karena duit itu diterima tidak lama sebelum pemilihan DGS, tidak memilih MG;  Bahwa TC yang diterima itu tidak ada hubungan dengan Terdakwa sama sekali, tidak ada komitmen apapun;  Bahwa tidak bertanya karena buru-buru, yang terpikirkan saat itu ada dugaan berkaitan dengan pemilihan DGS BI, asal-usul uang tidak diketahui;  Bahwa saksi menduga ibu Nunun Nurbaeti adalah karena melihat foto Adang di jalan Riau;  Bahwa pada saat mau dikonfirmasi, telepon yang menghubungi langsung ditutup;  Bahwa tidak pernah ada komunikasi dengan Nunun Nurbaeti, termasuk juga tidak ada komunikasi dari Nunun Nurbaeti untuk memilih Miranda;

50

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa pada saat datang ke jalan Riau Arie tidak menceritakan bahwa itu adalah kantor Nunun Nurbaeti, saksi datang, terima cek dan langsung pulang;  Bahwa sebelum pemilihan bertemu dengan Budi Rochadi atas undangan Budi Rochadi;  Bahwa tidak pernah menduga bahwa TC dari MG, pada pertemuan di Niaga juga tidak ada komitmen;  Bahwa Hartadi Sarwono tidak ada undangan untuk bertemu;  Bahwa tidak ada aturan bagi calon untuk sosialisasi dan tidak ada juga larangan;  Bahwa dalam praktek itu biasa dilakukan;  Bahwa sosialisasi dilakukan pada April dan Mei;  Bahwa sosialisasi dilakukan karena waktunya pendek tidak semua anggota fraksi bisa bertanya;  Bahwa pada sosialisasi belum bisa menilai calon kapabel atau tidak;  Bahwa Bu Miranda terpilih menjadi DGS BI tahun 2004, lupa jam terpilihnya Miranda;  Bahwa saksi tidak memilih bu Miranda tapi datang ke jalan Riau, sistem pemilihan melaui voting, tidak tahu apakah pada saat ke jalan Riau Bu Miranda sudah terpilih atau belum;  Bahwa amplop dibuka lalu ditutup lagi isinya diduga cek  Bahwa tidak pernah mengatakan hitung-hitung uang pensiun;  Bahwa pada waktu itu amplop putih 4 langsung menggeser ke yang lainnya, amplop tidak dibuka satu persatu;  Bahwa sebelum pertemuan di depan Ratu Plaza, pernah ada pertemuan di daerah Kuningan dan hotel Hilton dengan Budi Rochadi;  Bahwa tidak hapal siapa yang hadir dalam pertemuan tetapi FTNI Polri berempat hadir, tidak tahu siapa saja yang hadir pada saat itu;  Bahwa pada saat itu saksi pulang lebih dulu;  Bahwa sosialisasi dilakukan dengan teman-teman komisi, sosialisasi hanya 2 dengan Budi Rochadi dan Miranda;

51

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa tidak tahu kenapa pertemuan diluar gedung DPR, hanya sebagai yang diundang;  Bahwa pertemuan tidak mempengaruhi independensi saksi dalam memilih;  Bahwa setiap pemilihan tidak pernah ada sesuatu karena seseorang memperoleh suara terbanyak;  Bahwa di komisi IX fraksi terbesar adalah Golkar dan PDIP;  Bahwa Komisi IX berjumlah kalau tidak salah 55 orang;  Bahwa tidak ada pertimbangan apa-apa berangkat atau tidak ke jalan Riau, pada akhirnya sepakat berangkat juga barangkali ada pesan tertentu;  Bahwa pada saat diinstruksikan ke Jalan Riau tidak pesan tentang titipan;  Bahwa pada saat ingin konfirmasi telepon langsung ditutup, anggota lain dari FTNI Polri sepakat saja untuk ikut saksi ke jalan Riau;  Bahwa pada saat bertemu Terdakwa, Terdakwa sempat menyampaikan adanya pamflet yang mendiskreditkan keluarga pada saat pemilihan fit and proper test pemilihan Gubernur BI tahun 2003;  Bahwa saksi tidak mendengar soal cerita keluarga dari Miranda, itu menurut saksi tergantung fokus dari masing-masing orang;  Bahwa secara substansial tidak mengerti mengenai moneter yang diceritakan Miranda;  Bahwa pertemuan hanya sekitar 30 menit;  Bahwa waktu pertemuan ada minuman untuk anggota fraksi;  Bahwa pada waktu itu tidak tahu jabatan Miranda;  Bahwa pada saat fit and proper test tidak ada yang menanyakan masalah pribadi;  Bahwa pada saat menjabat di Komisi IX, selain GBI dan DGS BI, ada juga pemilihan calon BPK, yang pada saat itu saksi adalah sebagai calon;  Bahwa jangankan bertemu pada saat pemilihan saksi sebagai calon ketua BPK sms saja tidak ada;  Bahwa pada pemilihan lain tidak pernah ada pertemuan; 52

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi lupa bahwa tahun 2003 ada anggota yang mempermasalahkan keretakan pribadi;  Bahwa saksi tidak tahu syarat untuk ikut pemilihan DGS, seluruh syarat sudah dipenuhi pada saat calon diajukan presiden;  Bahwa ketiga kandidat sudah memenuhi syarat, kalau mengenai paparan atau effective speaking tergantung paparan masingmasing;  Bahwa yang menjadi dasar untuk memilih Gubernur BI tahun 2003 adalah kompetensi dan performance;  Bahwa mental dan moral menjadi salah satu dasar untuk memilih;  Bahwa setelah menerima penyerahan TC, beberapa saat kemudian tidak pernah bertemu Nunun Nurbaeti, untuk konfirmasi ataupun menerima, pada saat ingin dikonfimasi tidak nyambung;  Bahwa saksi tidak pernah kontak sesudah itu dengan Miranda;  Bahwa sesudah penerimaan TC, saksi tidak pernah bertemu Nunun Nurbaeti untuk menyampaikan itu;  Bahwa didalam menggali informasi tidak ada syarat pertanyaan baku yang wajib diikuti anggota komisi;  Bahwa dalam tata tertib anggota DPR tidak ada syarat pertanyaan baku dalam fit and proper test;  Bahwa tidak ada metode khusus yang harus diikuti anggota DPR;  Bahwa cara melakukan fit and proper test dengan voting, tergantung pertimbangan masing-masing anggota;  Bahwa kepada anggota komisi diberikan kebebasan seluasluasnya untuk melakukan atau tidak melakukan pertanyaan;  Bahwa seingat saksi tidak ada larangan bagi kandidat untuk menyampaikan harapan, permintaan atau penjelasan kepada anggota komisi, harapan tergantung pada anggota untuk menerima atau tidak, keputusan itu ada pada anggota masingmasing;  Bahwa ketua Poksi saat itu adalah Darsup;  Bahwa saksi tidak pernah diinstruksikan untuk memilih MG atau agar jangan ditanyakan masalah pribadi;  Bahwa dalam BAP No. 14 dijelaskan bahwa dalam pertemuan dengan Miranda, tidak tahu apakah yang dijelaskan merupakan 53

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

 

  

  

visi dan misinya, hanya dijelaskan masalah perbankan yang tidak diketahui oleh saksi Bahwa pada pertemuan pertama dengan Budi Rochadi hanya perkenalan, pada pertemuan kedua Budi Rochadi tidak hadir, apa yang disampaikan tidak mendengar apa-apa; Bahwa saksi tidak tahu siapa yang bayar dalam pertemuan dengan Budi Rochadi dan bukan saksi; Bahwa dari ketiga calon yang diajukan presiden saat itu yang masih aktif di BI hanya Hartadi, Budi tidak tahu jabatannya apa, Miranda tidak mengenal; Bahwa dalam rapat-rapat selaku mitra komisi IX pernah bertemu Hartadi Sarwono, karena Komisi IX sering rapat dengan BI; Bahwa waktu itu Budi Rochadi dan Miranda mengadakan pertemuan dengan saksi karena keduanya tidak aktif di BI sehingga tidak bertemu dalam rapat kerja komisi IX; Bahwa sebelum pemilihan GBI 2003, tidak bertemu dengan calon Miranda; Bahwa saksi lupa, tidak tahu dan tidak kenal Miranda atau apakah Miranda aktif di tahun 2003; Bahwa saksi tidak bertanya mengenai masalah keluarga tidak ada kaitannya dengan Miranda, sampai saat ini tidak tahu kaitannya TC dengan Miranda; Bahwa saksi tidak menduga apakah TC berkaitan dengan memilih Miranda; Bahwa waktu menerima telepon dari Nunun Nurbaeti, saksi kesulitan mencari jalan Riau, sebelumnya tidak pernah kesana; Bahwa saksi tidak pernah melihat Miranda atau mungkin tidak konsentrasi apakah pernah melihat Miranda dalam rapat dengan DPR di tahun 2003; Bahwa saksi tidak ada komuniskasi apapun dengan NN, apalagi untuk mengenalkan Miranda;

5. SUYITNO (Purnawirawan TNI AU/Mantan anggota DPR RI dari Fraksi TNI/Polri) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 13 Agustus 54

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi pernah menjadi anggota Komisi IX,saat itu sebagai calon adalah Miranda, Budi Rochadi dan Hartadi Sarwono;  Pemilihan pada Juni 2004;  Pernah dilakukan pertemuan dengan Miranda di sebuah kantor di Jl Sudirman di depan Ratu Plaza, kantor saudara Terdakwa;  Ada pesan dari staf Miranda, dimana FTNI Polri diminta datang ke sana;  Yang dibicarakan dengan Terdakwa adalah tentang masalah perbankan garis besar dan silaturahmi perkenalan;  Pernah diperiksa penyidik KPK, pertanyaan No. 13, yang dipertanyakan mengenai masalah keluarga, Miranda juga memperkenalkan diri selaku pribadi, persisnya tidak tahu, ada juga bahas keluarga, menyinggung juga masalah keluarga yang terungkap dalam pemilihan GBI 2003;  Dari apa yang diungkapkan Miranda, saksi menangkap bahwa Miranda tidak nyaman ditanyakan masalah keluarga;  Miranda tidak pernah menyampaikan untuk tidak menanyakan masalah keluarga;  Ikut dalam pemilihan Gubernur BI, pada saat itu masalah keluarga mengemuka, pada pemilihan 2004 tidak ada pesan langsung dari Miranda agar tidak ditanya masalah keluarga;  Saksi menafsirkan sendiri tentang masalah keluarga yang dikatakan Miranda, yang diungkap di pemilihan Gubernur BI, Miranda berharap agar pemilihan tahun 2004 tidak diulang;  Pada tahun 2004 tidak ada ditanyakan masalah keluarga;  Tidak ingat anggota DPR yang menanyakan masalah keluarga, yang terpilih adalah Miranda, tatapi mayoritas kurang lebih 54 anggota Komisi IX;  Pada kurang lebih 1-2 hari berikutnya sesudah pemilihan berangkat ke jalan Riau karena diajak ole Udju menggunakan mobil saksi, ke daerah Sarinah dan mencar jalan Riau;

55

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Sampai di jl Riau, masuk ke dalam ada anak muda keluar, pada tahun 2008 baru tahu dari Udju bahwa namanya Arie, kemudian Arie masuk kedalam lagi dan membawa amplop besar;  Dari map besar dikeluarkan amplop-amplop yang diterima Udju dan diteruskan ke saksi;  Isi amplop baru diketahui di rumah, Udju ditanya maksud TC juga tidak tahu;  Tidak menduga bahwa TC berkaitan dengan pemilihan DGS, waktu itu tidak bertanya atau mencari juga;  Tidak tahu TC ada hubungan dengan pemilihan DGS BI;  Tidak ada arahan untuk memilih calon tertentu;  Ada pertemuan juga dengan Budi Rochadi 2 kali;  Pertemuan itu perkenalan, menceritakan soal perbankan dan sambil makan-makan, di suatu tempat di Kuningan;  Pemilihan GBI 2003 ada menyinggung masalah keluarga, mengenai pemberitaan FTNI tidak pernah mempersoalkan masalah keluarga;  Sudah lupa apakah Tahun 2004 pertanyaan-pertanyaan, FTNI tidak pernah mempersoalkan masalah pribadi, Saksi sendiri tidak tanya;  Persisnya yang diceritakan keluarga adalah masalah keluarga, Miranda mengatakan tahun 2003 masalah itu diungkap;  Miranda tidak minta agar tidak menanyakan masalah keluarga,hanya penangkapan saksi;  Kemudian bertemu Miranda adalah pada saat fit and proper test;  Diskusi antara FTNI setelah pertemuan tidak ada;  Pertemuan dengan Budi Rochadi lebih dulu dari Dalam pertemuan di Ratu Plaza ;  Untuk pertemuan di Niaga ada dihubungi oleh staf Miranda;  Belakangan diketahui bahwa TC berjumlah 10 lembar;  Sudah dikembalikan pada September 2008 sebelum penyelidikan di KPK;  Pertemuan dengan Miranda hanya sekali di depan Ratu Plaza;  Tidak ada spesifik permintaan dukungan dari Miranda dan FTNI juga tidak memberikan komitmen mendukung siapapun; 56

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Alasan memilih Miranda karena Miranda memiliki kelebihan dibanding calon lain dalam hal menyampaikan visi misi maupun menjawab pertanyaan;  TC ada hubungan dengan pemilihan DGS tidak tahu, bahkan ingin tahu sebenarnya bagaimana duduk perkaranya;  Dari pemberitaann tahu bahwa anggota DPR Komisi IX;  Tahun 2004 selesai masa tugas;  Masuk Komisi IX pada 2002 antar waktu;  BAP No. 34, ada dugaan bahwa penerimaan TC waktu itu terkait dengan pemilihan DGS BI;  Waktu bertemu Arie tidak ada pembicaraan lain dengan saksi;  Baru tahu tahun 2008 bahwa Arie bilang ada titipan, karena waktunya singkat;  Dalam BAP No. 21 FTNI Polri datang bersama-sama di Jalan Riau 178, Arie menyatakan ada titipan, baru diketahui tahun 2009 dari Udju DDjuhaeri, di tahun 2004 tidak dengan perkataan itu;  Tidak tanya soal penerimaan amplop karena dikira bukan uang;  Baru tahu isi amplop adalah TC setelah dibuka di rumah;  Komisi IX fraksi dengan anggota terbesar adalah PDIP atau Golkar;  Di Komisi IX sejak 2002, sudah 3 kali fit and proper, tahun 2003 pemilihan Gubernur BI yang dimenangkan Burhanudin Abdullah, pada 2004 awal pemilihan DG BI yang terpilih adalah Hartadi Sarwono, pemilihan DGS BI yang terpilih Miranda Goeltom;  Pada pemilihan GBI tersebut tidak ada dilakukan pertemuan, calon-calonnya adalah Cyrillius Hernowo, Burhanudi Abdullah dan Miranda Goeltom;  Pada saat melakukan pertemuan di depan Ratu Plaza Terdakwa menyampaikan masalah pribadi dan ditangkap agar tidak ditanyakan masalah keluarga;  BAP No. 13 dan No. 18 Miranda hanya menceritakan masalah keluarga dan menangkap bahwa Miranda tidak nyaman ditanyakan soal itu;  Pada tahun 2004 seingat saksi tidak ada yang tanyakan soal keluarga;

57

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Tahun 2003 ada anggota fraksi yang menanyakan masalah pribadi;  Sebelumnya tidak pernah kenal dengan Nunun Nurbaeti dan Adang Darajatun tapi tahu;  Pada saat diajak Udju sama sekali tidak menyinggung alasan ke jalan Riau;  TC digunakan untuk berbagai kepentingan Rumah Tangga;  Ikut dalam pemilihan GBI tahun 2003, tidak ikut mengajukan pertanyaan hanya monitor saja;  Pada saat fit and proper tahun 2004 terhadap kandidat lain tidak ditanyakan masalah keluarga, tidak berpikir masalah keluarga ditampilkan di forum;  Dalam fit and proper test tidak ada arahan untuk menanyakan apapun, termasuk mengorek masalah keluarga;  Dengan Nunun Nurbaeti tidak pernah bertemu sampai sekarang juga;  Pada 2004 setau saksi tidak ditanyakan masalah keluarga;  Tahun 2003 ada dengar anggota lain ada bertanya masalah keluarga;  Tahun 2003 di media sebelum fit and proper test 2003 ada pemberitaan tentang keluarga Miranda, tidak bisa dipastikan saksi;  Tahun 2004 tidak ada pemberitaan masalah keluarga di media;  Tahun 2004 tidak ada pihak yang meletakkan pamflet tentang keluarga Miranda;  Tahun 2003 ada pihak yang meletakkan pamflet tentang kehidupan keluarga Miranda;  Peristiwa tahun 2004 mengalami sendiri dan ingat sendiri pemilihan DGS BI dan bukan informasi saksi lain;  BAP No. 11 salah satu kegiatan komisi IX pemilihan DGS BI, kronologis pemilihan dalam angka 7 menjawab sampai dengan pemilihan DGS BI dilakukan Hartadi tidak melakukan sosialisasi karena dalam keseharian setiap hari sering bertemu di rapat dengan DPR;

58

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Mulai menjabat komisi IX pada Oktober 2002, pada waktu masuk sudah tidak di DG BI, tapi dari riwayat hidup tahu bahwa Miranda pernah menjadi DG BI;  Pada tahun 2003 tidak mengajukan pertanyaan;  Miranda tidak pernah mengajukan diri, menawarkan apapun, menjanjikan apapun ;  Tidak pernah mendengar janji dari Miranda;  Menawarkan apapun sebelum dan sesudah terpilih;  Pada tahun 2003 saksi ikut dalam pemilihan GBI, juga ada pemilihan DG BI Hartadi Sarwono, yang berbeda beberapa hari dengan pemilihan GBI;  Saksi tetap pada jawabannya. TANGGAPAN TERDAKWA:  Miranda menyatakan jawaban pada saat pemilihan GBI: mengenai hal lain moral kalau saya tidak salah tadi ada satu penanya bagaimana moral dan integritas ini bisa anda bertanggungjawab kalau dari kehidupan rumah tangga gagal;  Saya merasa bapak dan ibu sekalian tidak ada satupun kita yang ingin dan memulai pernikahan dengan cita-cita untuk gagal tetapi bagi saya moral justru ditunjukkan dengan kemampuan saya secara teguh mendidik anak-anak saya dalam kesulitan yang sangat besar harus bertanggungjawab bagi seorang ibu, bekerja sendiri menyekolahkan anak-anak, dan membimbingnya agar menjadi manusia berbudi, saya dan pak Usmanjaya memasukkan agama saya Kristen tapi menurut saya itu tidak terlalu penting dan anak-anak saya Islam dan saya mendidik anak-anak saya menjadi islam yang baik sesuai dengan janji sejak awal menikah dan sampai detik ini;  Keberatan atas asumsi secara jelas saksi mengatakan di persidangan, bahwa saksi hanya mendengar Miranda menceritakan mengenai visi misi perbankan dan kehidupan keluarga, Miranda tidak pernah minta saksi untuk tidak menanyakan masalah keluarga di fit and proper test, apabila mau ditanya pun saya pada saat itu tidak perduli ada yang disampaikan 59

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

adalah seperti saksi katakan, itu terkait dengan keterbukaan, semua orang tahu rumah tangga saya gagal, saya cerai dan menikah kembali, dengan resmi, catatan sipil bukan nikah siri, sehingga tidak ada keharusan saksi untuk tidak menanyakan. Yang saya bantah adalah saya tidak pernah minta mengajukan permintaan apapun kepada saksi.

6. IR. AHMAD HAKIM SAFARI MJ als. ARIE MALANGJUDO (Konsultan PT. Peninsular Management Services, pernah menjabat sebagai Direktur Utama sejak tahun 2003 pada PT. Wahana Esa Sejati) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 16 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Saksi bernama Ir. Ari Malang judo, lahir di Jogjakarta;  Saksi kenal dengan Terdakwa, tidak ada hubungan keluarga;  Saksi kenal dengan terdakwa sekitar bulan Agustus tahun 2004, saya di ajak oleh bu Nunun ke kantor ibu Miranda ketika itu ibu Nunun menyampaikan bahwa beliau diminta untuk menjadi sekertaris GABSI namun karena kesibukannya dia minta saya untuk menggantikan, sebetulnya saya sudah menolak namun beliau mengatakan sudah kita berangkat saja dululah nanti kita berkenalan kemudian kita berangkat ke kantornya ibu Miranda di Bank Indonesia;  Pertemuan dengan Terdakwa 2 kali, pertama ketika dengan ibu Nunun di perkenalkan Kemudian kedua ketika setelah saya berjumpa sama bu Miranda kemudian diminta saya ikut satu kali pertemuan rapat GABSI juga di Bank Indonesia;  Hubungan saya dengan Nunun satu perusahaan beliau Komisaris Utama saya Direktur Utama di PT. Wahana Esa Sejati, alamat kantor di jalan Riau No 21. Perusahaan bergerak dibidang perkebunan kelapa sawit di daerah Riau;  Pernah seseorang menemui saya, Waktu tanggal 8 Juni 2004 sekitar pukul 12 siang saya diminta mengantarkan titipannya 60

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

ibu Nunun ke restoran bebek bali saya antarkan kantong belanja, diperintahkan ibu nunun pada tanggal 7 Juni 2004 Di ruang kerja ibu Nunun, Kebetulan kantor Wahana Esa Sejati terpisah ibu nunun di kantor Wahana Esa Sembada ada 2 PT jadi kantor ibu Nunun mesti keluar dulu dari kantor saya mesti nyeberang kemudian baru ke kantor bu Nunun. Ketika itu saya diperkenalkan oleh ibu Nunun sudah ada tamu beliau ketika tamu itu disebutnya anggota DPR pada saat itu saya tidak kenal sama sekali tapi sekarang sudah kenal karena sudah diperkenalkan yaitu Hamka Yandhu;  Saya pernah bertemu dengan Hamka Yandhu di ruangan ibu Nunun, ketika saya hadir di ruangan itu ibu Nunun langsung menyampaikan mau minta tolong mau mengantarkan tanda terima kasih kepada anggota DPR ibu Nunun yang bilang seperti itu, kemudian saya bilang ya saya kan ga pernah kenal dan tidak pernah berkecimpung di dunia itu, ibu Nunun bilang udah pak Arie pasif saja nanti pada hubungin kok mereka nanti bapak itu (maksudnya hamka yandhu) ciri-cirinya Hamka Yandhu orangnya klimis rapih tinggi besar orangnya kulitnya agak hitam pake jas pada waktu itu, selanjutnya setelah ibu nunun menyampaikan nanti bapak itu yang atur, pak hamka yandhu mengatakan gampanglah kok nanti di tas belanja (dari karton) nanti pakai seperti itu nanti kita tandain saja dia bilang nanti ada merah, kuning, hijau sama polos, setelah itu karena saya juga kurang tepat kalo berdebat di depan tamu ya sudah setelah ibu menyampaikan bapak pasif saja nanti mereka akan menghubungi ya sudah saya kembali ke ruangan saya, ketika saya pamit pak hamka yandhu bilang coba saya mau ikut keruangan saya, ketika itu pukul 10 atau 11 pagi selanjutnya beliau ikut keruangan saya ke gedung No. 23, kebetulan ruangan kerja saya di lantai 2 beliau ikut dan tidak banyak bicara cuma ketika sampai diatas beliau hanya berkomentar ini kok kantor lorong-lorong gini saya menjawab ya inilah ruangan saya. Beliau mengatakan ok saya sudah tau kalau gitu saya pamit, waktu itu saya antar beliau ke bawah, beliau naik mercedez hitam; 61

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Saya mengetahui beliau hamka yandhu dia menyebut ketika dalam perjalanan dari ruangan ibu Nunun ke ruangan saya;  Keesokan harinya tanggal 8 sekitar pukul 10/11 saya di telpon dari PDI namanya Dudi Makmum Murod dia minta mau ambil titipan ibu Nunun kalau bisa tolong dianter ke Bebek Bali jam 12 siang nah tas itu belum ada disaya, karena belum ada saya telepon ibu nunun “bu ini udah ada yang nanyain titipannya, oh iya iya nanti saya sampaikan ke bapak” nah kurang lebih jam 11 saudara ngatiran mengantar keruangan saya;  Sesudah tas itu di antar saudara Ngatiran, saya langsung berangkat ke restoran bebek bali di senayan bertemu dengan dudi makmum murod, jadi ketika saya sampai di tempat parkir saya hubungi beliau mengatakan masuk saja;  Saya ketemu dengan Dudi beliau duduk di belakang pas di hadapan pintu masuk, begitu saya sampai langsung beliau nyambut saya “pak Arie ya? Itu titipan buat saya? Iya saya katakan” langsung dia ambil begitu diterima beliau mengatakan sedang rapat tidak bias berlama-lama;  Saya tidak tau isi tas apa;  Yang saya kasih ke dudi tandanya merah;  Ketika dalam perjalanan ke restoran bebek bali saya terima telepon dari saudara endin dari PPP, beliau minta ketemu di hotel century pada hari yang sama sekitar pukul 2. Kalau Dudi jam 12;  Saya sempat minum dulu restoran bebek bali setelah itu saya langsung karena dekat di senayan jadi begitu sampai saya naik keatas, jadi waktu itu hotel century itu lobynya diatas ada semacam café ada tangga kiri kanan, saya naik rupanya pak Endin sudah ada. Saya pernah diperkenalkan dulu sama ibu Nunun pada saat acara paguyuban sunda tapi lupa-lupa ingat, pada saat di hotel century beliau yang menegur saya duluan “pak arie ya? Iya pak endin, Langsung saya sampaikan tasnya”;  Saya tidak sempat bicara beliau hanya menyampaikan “pak ini nanti kalau kurang gimana ya? Wah saya tidak ngerti telepon saja ibu Nunun saya bilang begitu” setelah itu beliau meninggalkan saya lewat lift; 62

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Saya kembali ke kantor waktu itu mengejar waktu supaya tidak 3 in 1 jadi saya mengejar sampai di kantor sebelum jam 4, begitu sampai di kantor saya dapat telepon dari ibu Nunun yang menyampaikan bahwa nanti ada pak Udju akan datang ke kantor sekitar magrib, waktu itu saya belum tau pak Udju cuma dibilang pak udju gitu. Waktu saya sedang menunggu gitu tiba-tiba telepon dari pak Hamka Yandhu nanya saya “bapak ada dimana? Saya ada dikantor” kemudian beliau mengatakan “saya menuju kesana”;  Sekitar pukul 5 pak Hamka sampai di kantor, waktu itu sendirian kemudian beliau langsung naik keruangan saya, saya kasih tasnya yang ada tanda kuning. Kemudian beliau nanya “gimana pak sudah selesai semua? Belum pak nanti menurut ibu nunun yang akan datang pak Udju nanti sore/magrib, setelah beliau dengar nama pak Udju beliau mengatakan kalau begitu saya pulang dulu deh ga enak kalau ketemu, langsung pamit;  Kemudian magrib itu datang yang namanya pak Udju datang berempat, udju itu dari polri;  Karena mereka datang berempat saya persilahkan masuk ke ruang rapat, Ketika duduk di ruang rapat beliau memperkenalkan diri saya Udju Djuhaeri dari Polri kemudian di perkenalkan teman-temannya ini dari angkatan laut tapi saya lupa nama-namanya;  Saya kasih tasnya yang polos jadi ketika itu karena pak udju yang diberitahu oleh ibu Nunun, tas saya sampaikan ke pak Udju kemudian oleh pak Udju ada amplop coklat didalamnya dibuka jadi duduknya ruang rapatnya tu seperti ini berhadapan, dibuka kemudian dikeluarkan ada 4 ampolp putih itu di serahkan kepada temen-temannya masing-masing kemudian pak Udju sampaikan coba bapak-bapak tolong dilihat dihitung jangan sampai kurang kalau ada kurang nanti saya disalahin kira-kira gitu. Trus mereka buka tapi tidak dikeluarkan, Bagaimana pak “di tanya sama pak udju” cukup? Cukup kata mereka;  Semuanya buka di dpn saya TC itu tapi tidak dkeluarkan;

63

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Kemudian pak udju sampaikan yah anggap saja ini uang pensiun, saya juga tidak tahu kemudian dijelaskan sama pak udju bahwa fraksi TNI/Polri tahun depan itu akan tidak ada lagi di DPR;  Saya sampaikan kepada ibu Nunun lewat telepon bahwa sudah selesai semuanya bahwa terakhir pak Udju, beliau mengatakan oh ya udah;  Saya bertanya kepada pak udju karena dia agak keluar sedikit waktu ngitung dari ampolp itu Traveler cheque ya pak Udju, dia bilang iya ini itung-itung uang pensiun pak;  Saya nanya kepada ibu Nunun, bu kok isinya Travel cheque, beliau mengatakan udah gapapalah itu urusan saya;  Saya tidak tau yang dibagi-bagi tas itu untuk kepentingan apa karena saya baru kembali dari riau Yang Mulia, jadi tidak mengikuti situasi Jakarta trus waktu itu juga kantornya ibu nunun sedang sibuk sekali membuat barang-barang untuk pilpres jadi bu Nunun itu simpatisan Megawati dan satu lagi yang dari NU;  Saya tidak tau sejauh mana hubungan ibu Nunun dengan terdakwa, ketika saya diajak ibu nunun berkunjung ke kantor ibu Miranda kemudian diperkenalkan kemudian saya lihat kedekatannya ckup dekat karena jam kerja ibu nunun bawa cucu, Waktu itu sudah di kantor Bank Indonesia;  Saya di PT Wahana esa sejat sebagai Direktur utama sejak tahun 2003, pemilik saham 90% keluara ibu Nunun saya 10% dikasih;  Saya nolak diminta mengantar karena kurang pantaslah ngatarngantar begitu waktu itu, saya waktu itu merasa gengsi sajalah waktu itu;  Jadi waktu ibu Nunun meminta tolong saya menyampaikan tanda terima kasih itu saya spontan langsung menolak jadi pembicaraan disitu tidak focus pada isinya tapi kepada “udahlah pak Arie pasif saja nanti ada yang menghubungi”;  Saya tahu isi tas tersebut Cheque sejak saya mulai berprasangka ketika pak Endin mengatakan “pak kalau ini kurang bagaimana”;  PT Wahana Esa Sejati mempunyai rekening-rekening di Bank Bukopin, Bank artha graha dan Bank BNI 46; 64

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Dengan terdakwa pernah bertemu 2 kali yang pertama di kenalkan oleh Ibu Nunun yang kedua sendiri;  Saya mendapat kesan hubungan ibu Nunun dengan terdakwa dekat;  Pada saat pertemuan di kantor Bank Indonesia ibu Nunun dengan Terdakwa tidak ada menyinggung masalah yang saya antar-antarkan;  Benar saat menyerahkan tas Ngatiran mengatakan pak ini tas dari ibu;  Banyak tas-tas yang diserahkan oleh anak buah saya, karena di kantor banyak tas-tas ada yang sama tasnya dengan yang di berikan kepada anggota DPR;  Sepanjang saya bekerja di kantornya ibu Nunun memang ibu Nunun sering kali mengadakan pertemuan dalam bentuk semacam pesta di rumah dan yang diundang dari berbagai kalangan diantaranya dari DPR;  Tidak pernah tau pembicaraan dengan para anggota DPR;  Saya tidak jadi sekertaris GABSI saya berkeberatan karena saya tidak bisa Bridge;  Pada tanggal 7 tersebut Ibu bicara kepada saya di depan anggota DPR (hamka yandhu) dia bilang mau minta tolong kepada pak arie untuk menyampaikan tanda terima kasih kepada anggota DPR saya bilang “wah kenapa saya” saya lupa topic pembicaraannya cuma tidak mungkin terlalu keras karena di depan tamu;  Saya tidak pernah dengar Terdakwa minta diperkenalkan kepada anggota DPR

7. NGATIRAN (Karyawan/Office Boy pada PT. Wahana Esa Sambada sejak tahun 2003-2010) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 16 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Saksi bekerja sebagai dagang; 65

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

               

Saya kenal dengan Terdakwa, tidak ada hubungan keluarga; Benar saya mengantar tas keruangan Arie Malangjudo; Kalau tidak salah ada 4 tas, kurang lebih jam makan siang; Saya kerja sebagai kurir di PT. Wahana jalan Riau No. 17 Menteng, sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2010; Yang memerintahkan saya dari sekertariat, saya tidak ingat Ibu Nunun tidak pernah memerintahkan saya membawa tas ke ruangan Arie Malang Judo; Sekertariat saya tidak ingat satu persatu cuma disitu ada ibu Marni, ibu Neni, ibu Ruth dan ibu Tine; Tas itu saya bawa dari ruangan ibu Nunun, saya antar ke tempatnya pak Arie; Saya tidak tau isi tas itu; Saya pada saat membawa tas itu disuruh membawa ke ruangan pak arie, diruangan ketemu dengan pak arie kemudian saya menyerahkan pak ini tas dari ibu; Yang memerintahkan mengatar tas itu bukan ibu, saya diperintah dari sekertariat antar barang, barang dari ibu; Saya mengambil tas dari ruangan ibu, saya berani karena di perintah oleh sekertariat; Setelah mengantarkan tas saya melapor kepada sekertariat; Semua pekerjaan menyangkut ibu Nunun; Saya tidak pernah tanya apa isi kantong itu; Pada saat mengambil tas tersebut di ruangan ibu Nunun saya sendiri, waktu itu ruangan ibu nunun terbuka kebetulan ibu ada di dalam, saya ketok pintu saya permisi mau ngambil kantong di meja, ibu nunun hanya bilang iya;

8. Dr. ENDIN AJ SOEFIHARA, MMA (Mantan anggota DPR RI Komisi IX sejak tahun 1999-2004 dari Fraksi PPP) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 29 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi adalah anggota Komisi IX DPRRI, Keuangan Perbankan, Perencanaan;  Pernah melakukan pemilihan DGS BI 2004 anggotanya Budi Rochadi, Hartadi Sarwono dan MG;

66

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa yang memenangkan berdasarkan voting adalah Miranda Goeltom;  Setelah pemilihan, saksi pernah bertemu Ari Malangjudo di Hotel Century, tapi tidak ingat sesudah atau sebelum pemilihan;  Bahwa Ari Malangjudo yang meminta bertemu dengan saksi, di Century, tidak ada pembicaraan apa-apa, Arie ada menyerahkan sesuatu pada saat itu;  Bahwa yang diserahkan adalah amplop besar berisi amplop lagi;  Bahwa pada amplop tidak ada tandanya;  Bahwa pada amplop tersebut ada nama-nama Urai Faisal, Daniel Tanjung, Sofyan Usman, kesemuanya fraksi PPP;  Bahwa yang untuk saksi berisi TC, 10 lembar, masing-masing Rp 50.000.000,-, tidak tahu dalam rangka apa;  Bahwa saksi pernah bertemu Arie di masyarakat Jawa Barat, Arie tidak mengatakan apa-apa pada saat itu;  Bahwa saksi biasa menerima amplop berisi proposal atau lainnya;  Bahwa amplop dibuka oleh saksi setelah pertemuan dengan Arie, tetapi saksi tidak ingat waktu pastinya;  Bahwa saksi mengatakan sudah berulang-ulang mengenai TC, namun menurut Majelis ini adalah perkara lain, namun perkara ada split, saat ini Endin sebagai saksi, dan terdakwa nya Miranda Gultom.  Bahwa saksi tidak menanyakan kepada Arie mengenai TC;  Bahwa pertemuan dengan anggota fraksi ada dan dengan Terdakwa tidak ada, dengan kandidat lain juga tidak ada, tidak ada arahan memilih siapapun, tidak memilih Miranda Goeltom;  Bahwa saksi tidak pernah ada pertemuan dengan Miranda Goeltom sebelum maupun sesudah, tidak memilih Miranda Goeltom juga;  Bahwa kriteria kandidat DGS BI memiliki pengalaman moneter, kecakapan moneter, pergaulan moneter, khusus PPP harus sesuai dengan Faksun politik PPP;  Bahwa Arie yang menelepon ingin bertemu, tidak membicarakan yang lain;

67

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa amplop ke yang lain tidak tahu isinya, tidak pernah dibicarakan, amplopnya hanya dibicarakan dengan Daniel Tanjung, kemudian TC nya dititipkan ke Daniel Tanjung dan Daniel menitipkan lagi ke yang lain, sampai diperiksa tidak pernah menggunakan dan mencairkan, barang itu adalah barang subhat dan tidak akan digunakan, telah dikembalikan jauh sebelum penyidikan;  Bahwa pertemuan dengan Arie di Hotel Century, Arie pernah menyatakan bahwa Endin bertanya apakah ini tidak kurang, Endin menyangkal hal tersebut;  Bahwa saksi tidak pernah bertemu Miranda atau Nunun Nurbaeti sebelum ataupun sesudah pemilihan hanya bertemu di komisi atau ruang-ruang komisi;  Bahwa setelah menerima bungkusan tidak saling tanya dititipkan ke Daniel Tanjung, itu kelemahan saat itu, saat itu tidak ada komunikasi juga dengan Arie, itu tidak digunakan olehnya;  Bahwa saksi memilih calon lain, tidak ada instruksi memlih calonnya siapa, tapi ada kriterianya;  Bahwa tahunnya sekitar 2004, di amplop besarnya tidak ada warna;  Bahwa saksi biasa duduk-duduk, ngopi, bertemu teman di hotel Mulya;  Bahwa saksi selalu menolak bahwa penerimaan berkaitan dengan pemilihan DGS BI;  Bahwa penerimaan itu tidak tahu ada keterkaitan atau tidak dengan pemilihan DGS BI;  Bahwa saksi kenal dengan Nunun Nurbaeti dan Arie Malangjudo, tidak tahu tempat kerjanya, baru kemudian diketahui. Tidak hapal kapan dibuka uang itu.  Bahwa saksi tidak tahu motif dari pemberian uang, tidak pernah bertemu lagi dengan Arie, begitu terjadi masalah, lalu minta ke Daniel untuk dikembalikan.  Bahwa pemberian itu juga tidak ada yang merasa dirugikan dengan pemberian itu

68

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi kenal Arie juga dari pertemuan masyarakat Jabar, tidak tahu kedekatan Arie dengan Nunun Nurbaeti, tidak tahu pekerjaan dan keseharian Ari Malangjudo;  Bahwa kalimat yang disampaikan Ari Malangjudo waktu telepon hanya mengatakan ingin bertemu, waktu menyerahkan tidak mengatakan apa-apa termasuk mengenai isinya;  Bahwa rumah Nunun Nurbaeti di Cipete Raya, terakhir kesana dalam acara Masyarakat Jabar, tidak pernah ada pertemuan dengan Paskah, Hamka, Endin dan Miranda Goeltom, dan lain-lain;  Bahwa fraksi di komisi IX sekitar 50 orang;  Bahwa saya tidak pernah mempermasalahkan urusan pribadi;  Bahwa saksi tidak tahu apakah Ari Malangjudo orang sunda, mengenal Ari Malangjudo sekitar 2001 dalam halal bihalal masyarakat Jabar di mercantile club;  Saksi tidak berpikir apa yang ada dalam amplop coklat, sudah biasa menerima amplop berisi proposal dan sebagainya, tidak tahu kalau pak Ari adalah staf Nunun Nurbaeti;  Bahwa pada bulan Juni 2004, di Komisi IX ada banyak kegiatan diluar pemilihan DGS BI, raker, dengar pendapat atau lainnya;  Bahwa pemilihan DGS BI itu dipilih komisi IX, atas perintah paripurna DPR, hasil pemilihan diserahkan kepada pimpinan DPR, kemudian DPR dengan rapat paripurna menetapkan hasil pemilihan, jadi komisi IX tidak pernah menetapkan seseorang menjadi DGS, untuk penegasan  Bahwa pemilihan DGS diikuti 3 orang Miranda Goeltom, Hartadi dan Miranda Goeltom, pelaksanaannya diawali Fit and proper test kemudian voting, Bu Miranda terpilih denagn angka terbanyak, kemudian dilaporkan ke paripurna DPR, paripurna DPR lah yang menetapkan menyetujui atau tidak menyetujui ibu Miranda menjadi DGS BI;  Bahwa saya tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti dimanapun maupun dengan Miranda Goeltom, menjelang pemilihan DGS BI, dengan Paskah di kediaman Nunun Nurbaeti juga tidak ada;

69

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa alasan yang mendasari saat itu tidak memilih DGS tahun 2004 adalah fatsun politik PPP, secara politik kita tahu bagaimana PPP, Bu Miranda juga tahu;  Bahwa dalam fit and proper test diberikan kesempatan pada PPP untuk menggali apakah calon punya kecakapan moneter di perbankan dan pergaulan moneter internasional, kemudian siapa yang dipilih harus sesuai intern PPP;  Bahwa kalau memenuhi saya tidak punya alat evaluasinya, tapi bu Miranda boleh dibilang memiliki kecakapan;  Bahwa sebagaimana kita tahu PPP punya mekanisme politik sendiri dan kita tahu dengan istilah Fatsun;  Bahwa hubungan saya dengan Miranda Goeltom tetap baik, dengan kata lain kalau saya tidak pilih pun beliau pasti sudah taulah;  Bahwa saya tidak pernah dikenalkan ke Miranda Goeltom oleh Nunun Nurbaeti; TANGGAPAN TERDAKWA:  Bahwa saksi tidak pernah diminta oleh terdakwa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saudara sebagai anggota Komisi IX DPRRI tahun 1999-2004 dalam rangka pemilihan DGS BI 2004;  Bahwa terdakwa tidak pernah menjanjikan sesuatu, memberikan sesuatu, memberikan hadiah atau memberi janji apapun sebelum atau pada saat atau sesudah pemilihan DGS BI agar saksi melakukan sesuatau atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saksi dalam pemilihan DGS BI;  Bahwa terdakwa tidak pernah meminta kepada saksi untuk memilih terdakwa.

9. Drs. PASKAH SUZETTA, MH (Mantan anggota DPR RI Komisi IX periode 1999-2004 dan Mantan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 29 Agustus 2012. Memberikan 70

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

keterangan

dibawah

sumpah

menurut

agama

Islam

pada

persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi adalah anggota Komisi IX DPR RI;  Saksi pernah melakukan pemilihan DGS BI 2004 anggotanya Budi Rochadi, Hartadi Sarwono dan Miranda Goeltom, yang memenangkan berdasarkan voting adalah Miranda Goeltom;  Setelah pemilihan saksi Endin pernah bertemu saksi Ari Malangjudo di Hotel Century, tapi tidak ingat sesudah atau sebelum;  Bahwa saksi pernah kenal dengan Nunun Nurbaeti, dalam rangka perkumpulan masyarakat Jabar, Nunun Nurbaeti tidak pernah menyampaikan sesuatu sehubungan dengan pemilihan DGS BI;  Bahwa saksi tidak pernah terima sesuatu dari Hamka Yandu;  Bahwa berdasarkan Surat Keputusan Hakim No 16/Pid/BTPK/2011 tanggal 17 Agustus 2011 dipersalahkan melanggar pasal 11 UU Tipikor dan telah menjalankan hukuman secara penuh;  Bahwa saksi tidak pernah menerima dan mencairkan TC maupun keluarganya juga;  Bahwa saksi pernah bertemu dengan Hamka membahas pemilihan DGS BI, saat itu sebagai pimpinan Poksi, tidak pernah mengarahkan fraksi;  Bahwa pada tahun 2003 Terdakwa adalah calon Gubernur BI tetapi yang terpilih adalah Burhanudin Abdullah;  Bahwa tahun 2003 ada mempermasalahkan kredibilitas moral karena ada beberapa surat dari mantan suaminya yang menyatakan masalah pribadi, semua fraksi dapat, sehingga yang terpilih bukan Terdakwa;  Bahwa pada pemilihan DGS BI tidak pernah ada pertemuan dengan Miranda Goeltom ataupun dengan calon lain, tidak ada titipan-titipan;  Bahwa pertemuan Sunda di D’Lounge ataupun di Hotel Mulya tidak pernah hadir, hanya hadir pada halal bihalal masyarakat sunda tahun 2006, ketemu di DLounge jalan Gunawarman akhir 2005 membicarakan membentuk paguyuban sunda. Pertemuan 71

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

  

pertama dengan Nunun Nurbaeti di Mercantile tahun 2001, pada zaman presiden Gus Dur, diundang bukan oleh Nunun Nurbaeti tapi Adang Darajatun; Bahwa saksi tidak pernah berada di Mulia. Sampai jam 9 malam masih penghitungan. Tidak pernah dengar pemberian uang di fraksi. Tidak pernah diceritakan oleh Hamka; Bahwa anggota Fraksi Partai Golkar 14; Bahwa saksi datang ke rumah Nunun Nurbaeti terakhir tahun 2008, atas undangan Adang, tidak pernah berhubungan dengan Nunun Nurbaeti, tidak akrab dengan Nunun Nurbaeti, tidak ada hubungan bisnis atau apapun juga, hanya berhubungan karena terkait pak Adang sebagai pembinan di Jabar, yang pernah sebagai Kapolda Jabar dan wakapolri, tidak pernah bertelepon dengan Nunun Nurbaeti apalagi sampai Nunun Nurbaeti memberi perintah untuk saya datang ke rumahnya; Bahwa saksi hadir di Dlounge pada akhir 2005 diakhir menjadi menteri, sekaligus mengucapkan selamat kepada saya; Bahwa saya telah diputus bersalah melanggar pasal 11, saya diadili 3 bulan siang dan malam, saya bersedia untuk dikonfrontir; Bahwa tahun 2003 menurut surat dari mantan suami Miranda Goeltom, Miranda Goeltom sudah berhubungan dengan suami sekarang tanpa nikah, akan tetapi tahun 2004, akhir 2003 juga, sebelum pencalonan DGS, MG ternayta telah cerai dengan suami terdahulu dan telah menikah dengan suami sekarang, bahkan telah menikah, bahkan saya diundang tapi saya tidak hadir waktu itu,jadi artinya tuduhan moral kepada Terdakwa pada saat pemilihan DGS sudah tidak dipermasalahkan itu yang bisa saya sampaikan; Bahwa pemilihan DG dalam rangka kegiatan terakhir dari rangkaian acara DPR karena setelah itu kita reses baru masuk lagi tanggal 16 Agustus dalam pembahasan RAPBN, bahwa pada saat itu dalam situasi tidak normal, karena saat itu para anggota baru menyelesaikan pemilu legislatif ada yang terpilih lagi ada yang tidak. Kita Juga kegiatan beralih menjadi kegiatan fraksi dan partai karena kita langsung kedaerah melakukan pilpres, jadi ini kegiatan terakhir, tidak ada lagi kegiatan lainnya; 72

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa pemilihan dengan one man one vote, bu Miranda terpilih tapi tidak mayoritas, karena yang lain juga dapat suara;  Bahwa tidak pernah ada pertemuan di kediaman Nunun Nurbaeti;  Bahwa ada surat-surat dari suami Miranda Goeltom pada 2003 pada saat pemilihan Gubernur BI,pada saat pemilihan DGS tidak ada;  Bahwa hasil pemilihan Komisi IX belum absolut harus diajukan lagi ke paripurna, saat itu ketua komisi Emir, melaporkan ke sidang paripurna, itupun hasilnya harus minta pengesahan ke Presiden;  Bahwa di paripurna sepengetahuan saya diterima oleh paripurna;  Bahwa kinerja Miranda Goletom bersama tim DG waktu itu sangat baik, inflasi bisa diturunkan, nilai tukar juga stabil, dan kalau Miranda Goletom salah mungkin sudah ditangkap KPK;  Bahwa paguyuban sunda berdiri sekitar 2005 tidak ada badan hukumnya;  Bahwa paguyuban sunda sebelumnya hanya person ke person dan pada waktu itu yang mengumpulkan dengan figur Adang Daradjatun, baru formal akhir 2005, sebelumnya hanya individu saja;  Bahwa saksi tidak pernah dimintakan dukungan oleh Nunun Nurbaeti untuk mendukung Miranda Goletom;  Bahwa saksi tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti pada tahun 2004; TANGGAPAN TERDAKWA:  Bahwa saksi tidak pernah diminta oleh terdakwa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saudara sebagai anggota Komisi IX DPRRI tahun 1999-2004 dalam rangka pemilihan DGS BI 2004;  Bahwa terdakwa tidak pernah menjanjikan sesuatu, memberikan sesuatu, memberikan hadiah atau memberi janji apapun sebelum atau pada saat atau sesudah pemilihan DGS BI agar saksi melakukan sesuatau atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saksi dalam pemilihan DGS BI; 73

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa terdakwa tidak pernah meminta kepada saksi untuk memilih terdakwa. 10. DUDHIE MAKMUN MUROD (Mantan anggota DPR RI Komisi IX periode 1999-2004) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 29 Agustus 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi adalah anggota DPR RI Komisi IX;  Bahwa saksi pernah melakukan pemilihan DGS BI 2004 anggotanya Budi Rochadi, Hartadi Sarwono dan Miranda Goletom;  Bahwa yang memenangkan berdasarkan voting adalah Miranda Goeltom;  Bahwa saksi menerima sesuatu dari Arie, tapi tidak tahu untuk apa, sebanyak 10 lembar TC di Bebek Bali;  Bahwa saksi dihubungi Panda, diminta menghubungi Arie Malangjudo, bertemu dengan Arie Malangjudo, Arie Malangjudo serahkan amplop berisi amplop lagi berisi amplop berisi namanama anggota Fraksi PDIP;  Bahwa pertemuan Dharmawangsa, baru mengetahui di pengadilan difasilitasi oleh Miranda Goeltom, hadir 5-10 menit sebelum bubar, Ia telat, yang dibicarakan tidak ada karena sudah mau bubar, tidak ingat apakah dari PDIP hadir semua, tidak mendengar pembicaraan;  Bahwa saksi tidak pernah ada pertemuan dengan Emir Moeis, tentang pemberian uang 500 juta tersebut;  Bahwa tidak pernah ada pertemuan dengan Emir Moeis dan Cahyo Kumolo mengatakan BAP No. 16 Pemberian TC terkait dengan pemilihan DGS Miranda Gultom, pada saat itu Emir memberikan kesempatan kepada Cahyo Kumolo dan Panda untuk memberikan pengarahan untuk memilih MG dengan alasan kompetensi dan pengalamannya bagus. Tidak pernah mengatakan hal tersebut;  Bahwa tidak ada pertemuan dengan Cahyo Kumolo untuk memilih Miranda Gultom; 74

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa pertemuan hanya di Dharmawangsa, sudah ada arahan memilih Miranda Goletom, kalau fraksi sudah putuskan anggota mengikuti;  Bahwa tidak ada ucapan terimakasih untuk pemilihan, Agus Condro hanya pindah seminggu sebelumnya, tidak pernah mendengar ocehan Agus Condro soal pemberian 300-500 juta oleh Miranda Goeltom;  Bahwa saksi hanya disuruh oleh Panda Nababan, sekretaris fraksi, tidak tanya dalam rangka apa, kalau perintah dari sekretaris fraksi tidak menanyakan;  Bahwa setelah menerima langsung diinfokan ke Panda, Nababan amplop tidak saya buka, lalu menghubungi Emir Moeis, Emir Moeis yang membuka, diberikan di ruangan Emir Moeis, semua 17 ada namanya dari anggota Komisi IX dari PDIP;  Bahwa anggota PDIP tidak ada yang bertanya karena buru-buru, sampai menjadi masalah mungkin ada beberapa yang bertanya;  Bahwa saksi mengembalikan 2008 sebelum perkara mencuat;  Bahwa pada saat penerimaan uang Miranda Goeltom belum terpilih. Miranda Goeltom terpilih sesuai BAP jamnya;  Bahwa penerimaan uang diyakini tidak terkait dengan pemilihan DGS, sebelumnya tidak pernah ada penerimaan tersebut;  Bahwa anggota PDIP di komisi 17, saat itu terbesar;  Bahwa menjelang pemilihan DGS pernah ada rapat fraksi di ruang fraksi meghasilkan 11 keputusan no 8 atau 9 memutuskan mendukung Miranda Goletom sebagai DGS BI;  Bahwa tidak mendengar ada celetukan ada dananya tidak, karena ruangannya besar sebesar ruangan komisi kira-kira 4x ruangan ini, sekitar 142 hadir disana;  Bahwa di rapat fraksi itu pak Cahyo tidak mengatakan apapun, karena sudah ada keputusan tertulisnya;  Bahwa rapat di Dharmawangsa diatas 13-15 orang yang hadir, diundang oleh sekretaris fraksi Panda dan ketua fraksi Cahyo Kumolo;  Bahwa saya tidak tertarik bahkan tidak mendengar;

75

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa pertemuan di Dharmawangsa tidak mendengar apa-apa karena sudah mau bubar;  Bahwa saksi sama dengan pak Paskah, cuma saya tambahkan sedikit, jangankan pemilihan DGS, UU pun kami hanya rampungkan untuk kemudian membawa ke sidang paripurna, di sidang paripurna bisa divoting setuju atau tidak, baru disahkan, jadi komisi tidak ada wewenang menetapkan si A, UU pun hanya diramu dan dibawa ke paripurna, paripurna yang putuskan diterima atau tidak;  Bahwa ya diterima;  Bahwa saya kira fraksi tidak memutuskan sembarangan, pasti ada pertimbangan kecakapan disitu, kinerjanya sangat baik, harus saya akui Miranda Goletom sangat senior; TANGGAPAN TERDAKWA:  Bahwa saksi tidak pernah diminta oleh terdakwa untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saudara sebagai anggota Komisi IX DPRRI tahun 1999-2004 dalam rangka pemilihan DGS BI 2004;  Bahwa terdakwa tidak pernah menjanjikan sesuatu, memberikan sesuatu, memberikan hadiah atau memberi janji apapun sebelum atau pada saat atau sesudah pemilihan DGS BI agar saksi melakukan sesuatau atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tugas saksi dalam pemilihan DGS BI;  Bahwa terdakwa tidak pernah meminta kepada saksi untuk memilih terdakwa. 11. NUNUN NURBAETI (Direktur Utama PT. Wahana Esa Sambada) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Saksi kenal dengan Terdakwa;  Saya tidak ingat sejak kapan kenal dengan Terdakwa; 76

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Ada pertemuan dirumah saya, saya lupa tanggalnya Tahun 2004 ada ibu Miranda Goeltom ada Pak Endin ada Hamka Yandhu ada Paskah Suzetta;  Dalam rangka agar membantu agar supaya ibu Miranda Goeltom menjadi DGS BI dalam fit & Proper test;  Kantor saya jalan Riau;  Saya tidak ingat kapan tanggal pemilihan DGS BI;  Hamka Yandhu tidak pernah datang ke tempat saya sebelum pemilihan DGS BI;  Saya tidak mengetahui mengenai Travel Cheque;  Tidak sama sekali saya mengetahui TC, saya mendengar di TV, di Radio, di Media, saya tidak pernah memberikan apapun melalui Travel Cheque;  Tidak sama sekali pernah melihat Anggota DPR Dari fraksi ABRI, Golkar menjemput sesuatu ke kantor saya jalan Riau;  Saya kenal dengan Arie Malang Judo;  Saya tidak ingat pernah memperkenalkan Arie kepada Terdakwa;  Saya pernah berkunjung ke kantor Terdakwa sebagai kawan, saya lupa kapan;  Tidak pernah Anggota DPR datang ke kantor saya sore-sore atau sesudah magrib dalam rangka kekantor saya mengambil sesuatu baik Hamka Yandhu atau fraksi Golkar;  Saya kenal dengan Endin, dalam rangka organisasi kesundaan;  Saya tidak pernah memerintahkan kepada Arie Malangjudo untuk memberikan sesuatu kepada Endin maupun Dudi;  Saya tidak pernah melihat travel bag di ruangan saya;  Saya tau Ngatiran dia kerja di kantor saya tapi saya tidak pernah berhubungan dengan Ngatiran dan Tidak pernah masuk keruangan saya;  Saya sudah 8 bulan di penjara;  Dalam kapasitas kenal dengan Terdakwa saya merasa akrab;  Saya tidak ingat terdakwa pernah mengunjungi kantor saya;  Saya pernah mengunjungi kantor terdakwa setelah terdakwa menjadi DGS BI, ketika saya berkunjung ke kantor Ibu Miranda sebagai kekeluargaan saja apakah itu beliau mengundang saya dalam rangka mengadakan konser atau apa saya juga lupa lagi tapi tidak hal lain yang kami bicarakan di gedung BI tersebut tetapi waktu kita hanya bicara kekeluargaan dan saya pun waktu ke tempat ibu Miranda Goeltom kalau tidak salah dengan cucu saya; 77

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 BAP No. 20 ya benar keterangan saya;  Pada saat memperkenalkan Anggota DPR itu, ibu Miranda sebetulnya sudah kenal tetapi hanya lebih mempertemukan kembali ya itu yang terjadi di rumah saya seperti di BAP tersebut;  Saya tidak ingat siapa yang datang duluan;  Tidak ada acara lain di rumah saya, waktu itu khusus untuk memperkenalkan;  Saya tidak ikut bicara dalam pertemuan mereka;  BAP No. __ thank you benar;  Setelah pertemuan tersebut tidak ada pertemuan lagi;  Kalau Arie Malang Judo di Wahana Esa Sejati;  Tidak ada pertemuan antara saya yang memberikan semacam tas kemudian arie malang judo dipanggil dan mengantarkan kepada anggota DPR;  Saya tidak pernah mencairkan TC;  Saya tidak ingat pernah menyuruh Sumarni untuk mencairkan TC. 12. NUNUN NURBAETI dikonfrontir keterangannya dengan ARI MALANGJUDO sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi Nunun Nurbaeti tidak ingat pernah memerintah Ari Malangjudo;  Saya tidak pernah bertemu dan memerintahkan saudara Hamka Yandhu dan saudara Arie Malangjudo di kantor saya;  Bahwa saksi Nunun Nurbaeti kenal dengan Endin;  Bahwa seperti di sampaikan, di rumah saya bertemu dengan ibu Miranda Goeltom hanya itu yang saya tahu dan saya ingat;  Saya juga punya saksi yang Mulia bahwa tidak pernah ada pertemuan di ruangan saya dengan Hamka Yandhu sebelum pemilihan DGS BI;  Bahwa saksi Nunun Nurbaeti tidak pernah menyuruh Office boy;  Dipertemukan dalam rangka Waktu itu ibu Miranda meminta tolong saya agar supaya dalam fit & proper test DGS BI tentunya tidak dipermalukan seperti yang sudah-sudah dan tentunya beliau 78

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

   

   

 

    

minta dibantu agar semuanya bisa lancar dengan baik yang mulia mohoon maaf mungkin kata-kata saya juga saya lupa lagi tapi kirakira seperti itu mungkin saya tambahkan itu hanya itikad baik; Saya takut salah kira-kira seperti itu ada kata-kata agar tidak di permalukan; Tidak hanya dari para anggota DPR saja; Saya kenal dengan anggota DPR yang di maksud; Saya tidak ingat siapa yang inisiatif saya tidak ingat kalau kebetulan ketemunya Terdakwa dengan anggota DPR di rumah saya; Betul saya ingat saya ketemu Terdakwa dengan anggota DPR di rumah saya; Saya tidak ingat siapa yang menelpon anggota DPR untuk datang ke rumah saya; Setelah mereka ketemu tentunya mereka pamitan; Saya sampaikan Ibu Miranda menelpon saya minta untuk dipertemukan kemudian saya pertemuan di dengan yang saya kenal di rumah saya; Betul saya tidak ikut dalam pertemuan tersebut karena bukan urusan saya; Sesuai BAP ketika pulang berpamitan saya mendengar “ini bukan proyek thank you ya” tetapi saya tidak tahu siapa yang bicara karenakan semua juga tidak mengakui ke rumah saya, maupun tidak mengakui bertemu saya, semua tidak mengakui kenal dengan saya, semua juga tidak mengakui itu adalah pernyataan mereka; Saya tidak pernah terima Travel cheque; Ya saya punya karyawan bernama Sumarni, dia yang memegang keuangan saya dalam keperluan keluarga; Perusahaan yang saya pimpim adalah Wahana Esa Sambada; Saya tidak pernah telepon Pak Udju, tidak pernah menyuruh Pak Udju datang ke beliau; Saya kenal Pak Udju dulu bekas anggota suami saya saat suami saya menjadi KAPOLDA Jawa Barat;

79

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Seingat saya acara persundaan yang di hadiri pak Paskah bukan di Hotel Mulia coffe shop tapi di tempat lain di hotel lain;  Kalau di café D’Lounge iya, semua sesepuh sunda hadir pak Paskah dan Hamka Yandhu ada;  Dalam pertemuan di café D’Longue tidak pernah ada saya meminta kepada pak Paskah agar fraksi Golkar membantu Terdakwa dalam pemilihan DGS BI yang saya ingat pertemuan dengan pak Paskah di D’Lounge setelah pemilihan DGS BI;  Di perlakukan bukan di permalukan;  Maksud tidak diperlakukan seperti itu hanya seperti itu saja, selaku teman dekat saya tidak ingat terdakwa cerita yang lain atau tidak;  Tidak pernah Terdakwa menceritakan kegagalan dalam pemilihan Dewan Gubernur BI;  Di Kantor saya ada pegawai yang bernama Ngatiran, kalau staf saya ada saudara Yani, Sukri Bay ada sekertaris, Sumarni terus ada Neni;  Saya hanya selalu berhubungan dengan sekertaris;  Saya tidak pernah memerintahkan staf saya agar nanti seseorang mengantarkan bungkusan semacam travel bag ke Arie malang judo;  Kalau yang berkaitan dengan fit & proper tes DGS BI seingat saya tidak pernah melakukan pertemuan seingat saya hanya ibu Miranda hanya meminta untuk dipertemukan;  Pada saat mereka melakukan pertemuan saya juga ada dirumah karena itu rumah saya;  Pertemuan di Cipete antara Miranda Goeltom, Paskah Suzetta, Endin dan Hamka Yandhu itu dilakukan pada siang hari setelah jam 10;  Saya tidak pernah menelpon pak Udju dan saya tidak tahu nomor telephone pak Udju;  Suasana saat saya mendengar Ini bukan proyek thank you biasa saja;  Setelah pamitan saya mendengar itu;

80

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Saya tidak ingat itu di teras atau dirumah namun pada saat pamitan saya mendengar itu tetapi karena kami ini orang sunda suka bercana dan kami ini akrab setelah itu sudah;  Saya tidak ingat apakah kata-kata itu berupa candaan atau tidak;  Saya tidak ingat yang mengatakan itu laki atau perempuan;  Pada saat pertemuan Terdakwa tidak pernah menyampaikan kepada saya untuk pesan menyerahkan TC BII kepada para anggota Komisis IX DPR RI;  Saya tidak pernah melibatkan pak adang darajatun dalam pertemuan Cipete;  Saya tidak ingat nomor telepon pak Endin, pak Hamka dan pak Paskah;  Seingat saya, saya tidak pernah langsung bertelpon kecuali saya di telepon dan tentunya saya akan menyuruh sekertaris

13. ARI MALANGJUDO dikonfrontir keterangannya dengan NUNUN NURBAETI dan UDJU DJUAHERI sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut: Konfrontir dengan Nunun dan Udju  Benar saya pernah diperintah oleh Nunun Nurbaeti untuk mengantarkan beberapa bungkus katakanlah semacam tas yang berisi TC kepada anggota DPR;  Pengantaraannya itu 8 Juni 2004;  Saya di perintah oleh Nunun Nurbaeti untuk memberikan tas-tas tersebut yang sudah ada warnanya;  Ya saya pada waktu itu ada hubungan pekerjaan dengan Nunun Nurbaeti di PT. Wahana Esa Sejati saya sebagai Dirut, ibu Nunun sebagai Komisaris Utama;  Pernah saya bertemu dengan Endin, Waktu itu yang telepon saya Endin;

81

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Pada waktu saya bertemu di ruangan ada saksi lain waktu itu yaitu hamka yandhu tanggal 7 Juni 2004 yang mengatakan akan mengaturnya ibu Nunun;  Tidak ada Nunun pada saat bertemu dengan fraksi TNI/POLRI di kantor jalan Riau ketika saya dapat perintah diminta pasif saya nanti saya dihubungi ternyata mereka memang menghubungi saya di HP saya, ketika itu saya di kantor di jalan Riau No. 21 beda satu rumah dengan kantor Nunun;  Pernah ada pertemuan di ruangan Nunun dengan Hamka Yandhu sebelum pemilihan DGS BI;  Selain pak Endin, dudi dan hamka yandhu ada pak Udju Djuhaeri dari anggota DPR fraksi TNI/Polri saya di telpon oleh bu Nunun mengatakan bahwa pak Udju akan datang nanti sore hari menjelang magrib, maksud tujuannya mengambil titipan tas belanja warna putih. Mereka hadir berempat saya tidak ingat nama-namanya, saya baru ketemu pada saat itu, pak Udju datang kemudian mengetuk assalamualaikum dan mengatakan saya Udju apakah ada titipan dari ibu Nunun kemudian saya keluar saya lihat ada 3 orang lain karena ruang kerja saya tidak besar maka saya ajak ke ruang rapat. Waktu itu saya lapor ke ibu Nunun saya sudah sampaikan ke pak Udju ibu nunun mengatakan oh iya terima kasih;  Saya tidak tahu pada sat itu sedang ada fit & proper test DGS BI;  Saya melihat mereka bertiga membuka amplop dihadapan saya tetapi tidak membuka semua. 14. UDJU DJUAHERI dikonfrontir keterangannya dengan NUNUN NURBAETI dan ARI MALANGJUDO sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Hari itu tanggal 8 Juni 2004 sekitar jam 5 saya mendapat telepon ketika saya masih si ruang sidang yang suaranya mirip seorang wanita bahwa bunyi telepon itu agar saya datang ke jalan Riau No. 17 kemudian telepon itu saya sampaikan kepada pak Darsup, pak Sulis dan pak Suyitno;  Saya sebelumnya sudah mengenal Nunun; 82

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Kami saat itu menanyakan siapa yang menelpon tapi saat itu langsung di tutup;  Saya tidak bisa memastikan kalau suara itu suara ibu Nunun;  Saya tidak pernah mengatakan cukup, mungkin pak Arie salah dengar pengertian saya cukup itu sudah selesai atau belum, saya kan ga tau cek yang ada didalam kami baru tahu itu TC bernilai 50 juta pada saat dirumah;  Saat itu sedikit saya membuka amplop itu di depan Arie Malang Judo dan saya waktu itu secepatnya pulang tidak bertanya apapun;  Tidak ada setelah diberikan TC itu Arie Malang Judo menanyakan untuk apa TC itu diberikan 15. LINI SUPARNI (pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah saksi Nunun Nurbaeti) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Saya kenal dengan Nunun sejak 1971;  Tidak kenal dengan Terdakwa;  Terdakwa pernah datang ke rumah Nunun seingat saya 2 kali awal tahun 2004;  Saya tidak tahu untuk keperluan apa Terdakwa datang;  Waktu Terdakwa datang ke rumah Nunun 2 kali saya tidak tahu dalam rangka apa, yang pertama siang hari sekali setelah jam 12 lalu satu kali lagi malam hari waktu itu ada acara. Kalau yang siang hari tidak ada acara hanya ibu Miranda dengan ibu Nunun tidak ada yang lain;  Waktu itu ibu Miranda datang sendiri ke rumah ibu Nunun;  Saya tidak tahu ibu Miranda pernah melakukan pertemuan di rumah ibu Nunun. 16. Ir. IZEDRIK EMIR MOEIS, MSi (Mantan Ketua Komisi IX DPR RI periode 1999-2004 merangkap Ketua Panitia Anggaran DPR RI 83

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

periode 2004-2009) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 3 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi pada tahun 2004 pernah menjadi anggota DPR-RI, sampai dengan tahun 2003 awal di Komisi VIII kemudian 2002 pertengahan sampai 2004 di Komisi IX;  Bahwa Komisi IX pernah melakukan fit and proper test untuk pemilihan DGS BI, ada 3 calon ada Ibu Miranda, ada Pak Hartadi, dan ada almarhum Pak Budi Rohadi;  Bahwa kalau tidak salah pemilihannya bulan Juni 2004;  Bahwa sebelum pemilihan pernah ada pertemuan fraksi tentang siapa yang akan dipilih untuk Deputi Senior BI, yang hadir saat itu Pimpinan Fraksi dan anggota fraksi mungkin beberapa yang tidak hadir tapi waktu itu jumlah fraksi kita ada 153 orang dengan Ketuanya Pak Cahyo Kumolo dan Pak Panda Nababan sebagai sekretaris fraksi dan Pak Dudi Makmun Murod sebagai bendahara fraksi;  Bahwa pembicaraannya saat itu kalau kaitannya dengan Deputi Gubernur tempo hari dibicarakan bahwa kita akan pemilihan Deputi Gubernur Senior dan arahan dari fraksi dan dari DPP Partai untuk mensukseskan ibu Miranda Gultom yang sebelumnya telah gagal mensukseskan menjadi Gubernur BI. Dalam lingkungan Poksi saksi ada lagi. Sesudah pertemuan fraksi ada pertemuan poksi, pada saat pertemuan poksi ada ditawarkan untuk bisa bertemu langsung juga dengan calon yang kita mau sukseskan yaitu ibu Miranda Gultom;  Bahwa pertemuan itu ada di Hotel Darmawangsa;  Bahwa saksi hadir pada pertemuan poksi, ketua komisi harus hadir terus. Pada saat itu hadir Cahyo Kumolo;  Bahwa tidak pernah dibicarakan mengenai pemberian uang sebesar 300 juta sampai 500 juta. Kalau membicarakan uang tidak pernah;  Bahwa ada pertemuan di Hotel Darmangwangsa. Waktu itu Pak Panda mengatakan “untuk jelasnya sebagai orang yang nanti akan 84

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

bergerak di fit and proper sebaiknya saudara-saudara ketemu secara langsung dengan Ibu Miranda Gultom”; Bahwa memang ada pertemuan selanjutnya di Hotel Darmawangsa. Saya tahu nya saya dipanggil sama Pak Panda untuk hadir, sepertinya yang mengurusi dari fraksi. Tentunya dari Pak Panda, mungkin staff nya. Saya tidak tahu siapa yang mengurusi cuma dugaan saya ya karena inisiatif dari fraksi ya fraksi mengurusnya; Bahwa dalam pertemuan itu yang hadir seluruh anggota Poksi, kemudian ada Pak Panda, Pak Cahyo. Waktu itu khusus memang bertemu dengan terdakwa. Artinya pertama kita ingin mengetahui kapabilitas dari terdakwa, kemudian juga ada beberapa pertanyaan-pertanyaan atau rumor yang tempo hari berkembang. Ada masalah pribadi ya masalah-masalah umum. Jadi ada beberapa yang menanyakan supaya clear. Kan banyak sekali isuisu yang salah. Dan itu juga dijawab oleh Ibu Miranda sehingga semua nya clear; Bahwa waktu itu ada 3 calon, almarhum Pak Budi Rohadi, Pak Hartadi dan Ibu Miranda. Yang terpilih waktu pemilihan itu Ibu Miranda; Bahwa waktu itu ada pembagian TC, yang membagi Pak Dudi Makmun Murod dan saya juga tidak tahu itu dari mana. Tapi saya sudah punya prinsip bahwa saya tidak mau terima. Saya tolak. Pada waktu itu beberapa amplop dibuka oleh kawan-kawan didalamnya ada TC. Sebelum membagikan amplop Pak Dudi tidak ada menaympaikan sesuatu. Bahwa iya betul Pak Dudi Makmun Murod ada berkata “rekan-rekan ini ada amplop atas kegiatan kita kemarin juga sekaligus untuk modal kampanye”. Maksud kata-kata “yang kemarin itu” untuk pemilihan Deputi Gubernur BI. Masingmasing orang dari partai saksi menerima TC. Saya agak lupa siapasiapa saya yang menerima. Tetapi waktu itu dibagi di ruangan Komisi, sebagian orang lagi ada di ruangan lain. Di ruang komisi ada sekitar 10 sampai 12 orang ada disana. Yang saya ingat ada Pak Max Muin, saya ingat ada Ibu Angelina juga waktu itu, semua menerima. Menerima dalam bentuk amplo. Saya melihat kawan85

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

kawan buka amplop. Saya tidak tahu berapa jumlahnya satu TC Cuma dari omongan-omongan saya tahu itu ada 50 juta; Bahwa yang untuk saya, saya tolak. Kalau yang untuk saya yang menyerahkan Pak Dudi trus saya menolak saya berikan kepada Pak Panda. Saya mengatakan kepada Pak Panda “Pak ini apapapan ni. Ini apa duit dari pemilihan Miranda kemarin? Terus Pak Panda marah “siapa bilang ini uang Miranda?. Saya menolak apapun, saya serahkan kepada Pak Panda; Bahwa saya tidak tahu asal TC dari mana. Saya juga tidak tahu apakah ada untuk fraksi lain; Bahwa saya kenal dengan terdakwa sudah lama. Sudah sejak dari SMA. Seingat saya betul ada sekitar bulan Mei 2004 ada pertemuan kedua di ruang rapat fraksi di lantai 7 Gedung DPR. Panda Nababan mengatakan bahwa “kita akan memilih saudara Miranda Gultom agar saudara Emir Muis selaku Pimpinan Komisi dapat memperjuangkan secara maksimal. Pengalaman kita saat pemilihan Gubernur BI kemarin.” Lalu saya berkata “siap pak, saya akan kordinasikan dengan seluruh anggota fraksi PDI-P agar solid dalam pemilihan mendatang.”; Bahwa dalam BAP yang dibacakan oleh Majelis, saksi ada mengatakan “apakah saudara terdakwa siap untuk mempertahankan nilai tukar rupiah pada waktu itu?” terdakwa menjawab “bisa, asalkan keadaan politiknya stabil.; Bahwa saya menolak TC pada waktu itu karena saya tidak tahu dari mana. Dari siapapun saya tidak mau menerima tetapi waktu sama Panda saya katakan “ini dari Miranda ni? Pak Panda bilang “bukan, siapa bilang dari Miranda”. TC tersebut saya tolak; Bahwa saya tidak tahu berapa jumlahnya TC itu. Betul beberapa hari kemudian Pak Panda Nababan memberikan kembali TC itu. Pada waktu pemberian pertama itu kan katanya upah capek, kalau yang kedua ini pemberian bantuan dari fraksi. TC itu saya serahkan ke tim saya, karena waktu itu pesannya adalah ini untuk konsolidasi partai dan untuk pensuksesan pemilu. Akhirnya saya serahkan ke staff-staff saya, ada Pak Sapto, ada Pak Hindarto dan Pak Wasai. Kemudian uang nya langsung dibawa keKalimantan Timur. Digunakan untuk kampanye dan kegiatan sosial; 86

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saya tahu pemberian TC itu untuk apa setelah jadi perkara. Bahwa ini kaitannya dengan pemilihan Deputi Gubernur. Itu setelah jadi perkara di KPK;  Bahwa tidak ada selentingan mengenai pemberian TC pada saat pertemuan di Hotel Darmawangsa;  Bahwa untuk memilih Terdakwa memang merupakan perintah partai. Waktu partai kami gagal memenangkan saudara Miranda untuk menjadi Gubernur, itu ada sanksi nya. Waktu itu sampai ketua komisi nya yang dari Partai kami juga diganti waktu itu. Pak Max Muin diganti karena gagal mensukseskan Ibu Miranda jadi Gubernur. Saya diberi tugas untuk mensukseskan, jadi beban berat juga buat saya waktu itu;  Bahwa saya tidak pernah tahu kalau terdakwa sendiri pernah tidak minta tolong kepada fraksi yang saya ketahui atau minta tolong kepada partai supaya digolkan. Ini memang instruksi partai;  Bahwa saya lupa jumlah suara yang memilih Miranda tetapi seingat saya jumlah suaranya dominan karena yang lain-lain seingat saya jumlah suaranya dibawah 5;  Bahwa kalau saya melihatnya itu, karena itu juga ditawarkan oleh Pimpinan Fraksi “supaya saudara lebih kenal dengan yang saudara-saudara perjuangkan, saya akan aturkan pertemuan untuk bertatap muka langsung dengan yang bersangkutan. Kemudian ada pertemuan di Darmawangsa, saya tidak tahu siapa yang melakukan itu. Jadi pengertian saya ya saya dipanggil oleh Pak Panda, paling tidak beliau tahu kordinator untuk pertemuan itu. Saya gak ngerti, biaya siapa;  Bahwa pada pertemuan di Darmawangsa itu ada klarifikasi salah satu nya mengenai masalah keluarga terdakwa. Ceritanya itu kan simpang siur, akhirnya kita dengar dari Ibu Miranda sendiri keadaan keluarganya. Secara prinsip itu terbuka dan objektif, secara manusia kita juga tidak mau berkutat disitu tapi memang cukup memuaskan jawabannya;  Bahwa seingat saya tidak ada yang menanyakan masalah keluarga lagi dari fraksi lain pada saat pelaksanaan fit and proper test; 87

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa pemberian dari Pak Dudi kan diberikan kepada satu-satu, kemudian Pak Dudinya pergi dan kawan-kawan buka waktu diketahui didalamnya ada TC, langsung saya naik keatas ketemu Pak Panda, mungkin selisih waktunya 5 menit. Langsung saya serahkan ke Pak Panda langsung saya menolak untuk menerimanya;  Bahwa pada saat pelaksanaan fit and propers test seingat saya tidak ada pertanyaan mengenai masalah keluarga;  Bahwa pada saat menerima sepengetahuan saya itu TC karena sama seperti yang diterima kawan-kawan lain;  Bahwa pada saat pertemuan di Darmawangsa, Ibu Miranda sempat menyampaikan visi dan misi, target-target makro ekonominya dan juga system perbankan dan sedikit tentang fiscal juga disampaikan;  Bahwa sebelum proses pelaksanaan fit and proper wajib dilakukan penelitian administrasi oleh seluruh anggota Komisi;  Bahwa sebagai ketua komisi sudah merasa cukup mengenai hasil masukan-masukan yang diperoleh dari anggota Komisi IX untuk informasi dan data-data mengenai calon DGS BI Ibu Miranda Gultom, selain itu kita juga mengundang Perbanas untuk menanyakan pandangan perbankan terhadap kandidat-kandidat yang ada;  Bahwa yang menjadi pertimbangan fraksi saat itu dan saya sendiri untuk memilih Ibu Miranda Gultom DGS BI, satu selain memang dari DPP telah memutuskan memilih Ibu Miranda, kedua untuk kami-kami yang cukup mendalami masalah ekonomi moneter, Ibu Miranda memang orang yang tepat. Memang yang lain juga bisa tetapi pada saat itu yang paling senior dan paling tepat ya Ibu Miranda. Bahwa ada hal-hal lain itu lebih pada rumors dari temanteman komisi dari fraksi lain dari partai lain;  Bahwa mengenai Cahyo Kumolo yang mengatakan sesuatu tentang duit khususnya bahwa “Miranda bersedia memberikan 300 juta 500 juta.” Saya ini Ketua Poksi merangkap Ketua Komisi saya harus betul-betul alert bahkan saya biasanya bawa rekaman dan saya rekam, tetapi karena sudah lama jadi ganti yang lain. Saya rekam itu, semua pembicaraan saya tahu apa yang dibicarakan, 88

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

saya ingat pembicaraan nya. Dan Pak Cahyo itu pasif orang nya. Tidak ada pernyataan dari Cahyo Kumolo tentang“Miranda bersedia memberikan 300 juta, 500 juta kalau diminta”. Saya kan alert sekali, kalau itu sampai disebut oleh Pak Cahyo tentu akan berkembang didalam pertemuan tersebut. Bener-bener tidak ada;  Bahwa pertemuan-pertemuan di luar itu biasa, tidak dilarang tetapi lebih enak kalau ketemu di DPR saja. TANGGAPAN TERDAKWA:  Performance Ibu bagus, pilihan saksi sesuai dengan harapan saksi pada saat terdakwa menjadi Deputi Gubernur Senior BI. 17. IRA MUTIA SALMA alias IRA ARIFIN (Mantan Director of Catering pada Hotel Darmawangsa periode 2004-2009) diperiksa sebagai saksi pada tanggal 6 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi tidak kenal dengan terdakwa;  Bahwa tidak ada hubungan sedarah atau semenda dengan terdakwa.  Bahwa tahun 2004-2009 saksi sebagai Director Catering di Hotel Darmawangsa. Mulai bulan Januari 2004 hingga Maret 2009.  Bahwa secara langsung kepada saya, saya tidak pernah menerima pemesanan ruangan di Hotel Darmawangsa tetapi berdasarkan bookingan, iya ada.  Bahwa saya lupa persis tanggal pemesanan nya tetapi sesuai dokumen yang waktu itu pernah diperlihatkan kepada saya.  Bahwa pada saat itu, saksi tidak melihat terdakwa hadir di Hotel Darmawangsa.  Bahwa saksi mengetahui bahwa terdakwa merupakan VIP Member di Hotel Darmawangsa. Tepatnya terdakwa sebagai Member, karena buat kami, semua adalah VIP.  Bahwa terdakwa melakukan pemesanan sebagai member dari tempat tersebut. Persisnya saya kurang tahu tetapi berdasarkan 89

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

  

 

 

data yang pernah di perlihatkan ke saya, saat itu keanggotaan nya dari Bahana Pembinaan Usaha Indonesia. Bahwa pembayaran secara fisik, saya tidak mengetahui tetapi berdasarkan member ship itu dibebankan kepada Ibu Miranda. Di Hotel Darmawangsa itu di ruangan Dwarawati. Bahwa seingat saya booking itu dilakukan, berdasarkan dokumen kurang lebih untuk 15 orang. Booking-an itu sebenarnya di sistem dibuat pagi hingga malam mungkin. Tetapi kenyataannya penggunaanya hanya sebentar seingat saya, berdasarkan dokumen. Bahwa saksi lupa persisnya bayaran atas penggunaan ruangan di Hotel Darmawangsa. Bahwa saksi tidak ingat berapa nomor booking nya. Bahwa saksi lupa untuk tanggal berapa booking nya. Mungkin sekitar bulan Mei 2005, saya lupa. Tidak terlalu ingat juga jam nya jam berapa. Kalau saya tidak salah jam 3 sore. Bahwa kapasitas ruangan untuk 16 orang. Bahwa kebetulan itu jatuh di hari Sabtu jadi saya tidak ada karena akhir pekan itu saya selalu libur. Jadi saya tidak melihat ada kegiatan apa. Bahwa yang tertera dalam sistem hanya nama pemesannya saja tidak ada nama-nama orang yang datang. Bahwa perbedaan dari member dan non member itu ada, itu hanya mendapatkan privilege discount saja. Anggota member ship dari Club Bimasena itu ada banyak, saya rasa ribuan. Tapi secara persisnya saya kurang tahu. BAP No. 10 jawaban saksi terkait dengan anggota member ship tadi berapa banyaknya. Termasuk Bank Mandiri, PLN, iya betul secara korporasi. Bahwa perlakuan khusus kepada Ibu Miranda itu lebih kepada, satu mendapatkan diskon sudah pasti untuk member dan perlakuan khusus tadi atas penggunaan fasilitas kebugaran. Itu saja. Jadi khusus untuk member itu tidak dikenakan biaya sewa ruangan itu perbedaan khususnya dengan non member. Tidak pada saat terdakwa memesan ruangan itu saja. 90

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

TANGGAPAN TERDAKWA  Tidak ada pertanyaan ataupun tanggapan terhadap saksi ini. 18. TJAHYO KUMOLO (anggota DPR RI) saksi Ad-Charge yang diajukan oleh Kuasa Hukum Terdakwa diperiksa sebagai saksi pada tanggal 6 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Bahwa saksi kenal dan mengetahui Terdakwa.  Bahwa tidak ada hubungan sedarah atau semenda dengan terdakwa.  Bahwa jabatan saksi saat pemilihan DGS tahun 2004 adalah Ketua Fraksi PDI Perjuangan periode dari 2003.  Bahwa sebagai Ketua Fraksi, setiap ada proses pengambilan keputusan politik orang, ditiap-tiap Komisi itu selalu Ketua Poksi melaporkan kepada Pimpinan Fraksi lewat rapat fraksi. Bahwa di komisi kami pada saat itu di Komisi IX ada proses pemilihan Deputi Senior. Semua proses pengambilan keputusan yang menyangkut nama di tiap-tiap Komisi selalu dilaporkan kepada fraksi.  Bahwa tahapan pertama setelah Pimpinan Poksi melaporkan ada surat ke DPR kemudian DPR menyerahkan kepada Komisi IX, kami sebagai Ketua Fraksi didalam rapat fraksi menyerahkan kepada Poksi tolong dipelajari tiga nama yang diusulkan itu lakukan fit and proper, komunikasikan dengan fraksi-fraksi yang lain kemudian pilih yang terbaik dari ketiga nama itu.  Bahwa sebelum fit and proper memang kami hanya mengarahkan tolong lakukan fit and proper dengan fair.  Pada saat itu arahan saya, lakukan fit and proper secara proporsional abaikan kalau ada isu-isu yang menyangkut masalah sara, masalah keluarga, masalah-masalah pribadi, itu saja.  Bahwa ke saya atau ke fraksi tidak ada pengaduan atau suratsurat mengenai diri pribadi Ibu Miranda yang dapat mempengaruhi kredibilitas yang bersangkutan dalam fit and 91

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 

proper test pemilihan DGS tetapi pengaduan mungkin lewat komisi. Saya tidak tahu adanya pengaduan. Bahwa setelah fit and proper Ketua Poksi melaporkan bahwa dari hasil fit and proper yang terbaik adalah Ibu Miranda. Kemudian saya sebagai Ketua Fraksi dalam forum rapat fraksi “ya sudah pilih dengan baik” karena pada saat itu harus voting, ya saya kira perlu mengkonsolidasikan dengan teman-teman Poksi kami disitu, saya minta cek yang sakit siapa yang tidak bisa hadir siapa sehingga dalam voting harus bisa memenuhi syarat. Lazimnya dipraktekan seperti itu. Bahwa dari laporan Ketua Poksi kami, dari tiga nama yang memenuhi syarat yang paling baik dari antara 3 itu adalah Ibu Miranda. Seingat saya setelah fit and proper, keputusan sebelum dilaporkan ke fraksi kan harus diputuskan bersama dalam rapat poksi. Bahwa kata-kata “Miranda bersedia memberikan tiga ratus tapi kalau kita meminta nya lima ratus dia tidak keberatan” tidak pernah diucapkan didepan Agus Condro, karena dalam rapat poksi semua anggota hadir. Bahwa kebetulan untuk masalah perbankan bukan bidang saya jadi semua keputusan saya ikut teman-teman yang ada di Komisi IX pada saat itu. Bahwa Miranda Gultom tidak pernah menjanjikan kepada saya memberikan sesuatu yang dapat mempengaruhi tugas atau kewajiban saya didalam pelaksanaan fit and proper test 2004 tersebut. Bahwa didalam rapat Poksi setiap rapatnya selalu dipimpin oleh Ketua Poksi dan saya diundang oleh Ketua Poksi untuk ikut hadir memberikan arahan pada rapat Poksi. Ketua Poksinya pada saat itu Emir Muis jadi didalam rapat itu ada saya dan Emir Muis. Arahannya karena tidak disepakati untuk pengambilan keputusan secara musyawarah mufakat di Komisi, saya minta untuk dikonsolidasikan dalam voting, cek ulang anggota-anggota yang tidak hadir “Kalau toh sudah ada kesepakatan dari hasil fit and proper yang terbaik adalah Bu Miranda ya silahkan pilih Bu Miranda” itu saja. 92

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi tidak pernah mengucapkan kata “Miranda bersedia memberikan tiga ratus tapi kalau kita meminta nya lima ratus dia tidak keberatan” baik juga dalam bentuk formulasi lain.  Bahwa rapat poksi yang lain saya tidak tahu. Saksi tidak ada menghadiri rapat poksi lain selain rapat poksi yang tadi.  Bahwa saksi tidak tahu apakah setelah pemilihan Miranda Gultom, Dudi Makmun Morud membagi-bagi amplop terhadap anggota PDI P di suatu ruangan.  Bahwa saya mengetahui adanya cek-cek pelawat yang diterima oleh PDI-P anggota Komisi IX dalam hal pemilihan DGS BI pada saat saudara Agus buat statement di media pada tahun 2008. Pertama kali saya tahu dan saya langsung cek ke Pak Agus lewat telepon lewat sms tidak pernah dibalas.  Bahwa pada saat itu saya sebagai Ketua Fraksi.  Bahwa kalau dana/konstituen sebagai anggota DPR sumber nya itu berasal dari anggota DPR yang bersangkutan. Kalau lewat donator tidak ada kalau lewat frkasi tidak ada untuk pemberian kepada konstituen karena kas fraksi memotong dari gaji kami anggota DPR.  Bahwa saksi ada 4 kali di BAP, kalau untuk perkara yang ini saksi tidak di BAP.  Bahwa saksi menjadi Ketua Fraksi mulai tahun 2003 sampai 2012 jadi sudah 8 tahun, tidak ada aturan dari DPR resmi sebagai lembaga yang melarang anggota DPR atau fraksi untuk bertemu dengan orang yang akan diputuskan dalam proses pengambilan keputusan politik di DPR. Yang kedua aturan di fraksi kami dan saya selama itu menjadi Ketua Fraksi juga tidak pernah membuat suatu larangan untuk anggota DPR di tiap-tiap Komisi untuk bertemu kecuali khusus untuk Panglima TNI dan khusus untuk Kapolri harusnya saya sendiri karena saya mengambil keputusan atas perintah partai bahwa untuk pemilihan Kapolri dan Panglima TNI, fraksi PDI Perjuangan dilarang untuk melakukan voting harus musyawarah mufakat. Jadi pada prinsipnya kami membebaskan pada anggota kami di tiap-tiap Komisi, kalau ada proses pengambilan keputusan politik menyangkut orang untuk ketemu 93

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

atau kenalan atau membuat forum visi misi itu kami serahkan dan tidak pernah kami monitor karena kami hanya ingin hasilnya saja. Bahwa kami mengambil kebijakan sebagai Ketua Fraksi tidak secara detail kami Tanya ketua Poksi. Baru mendengar ada pertemuan setelah pertemuan Darmawangsa, kalau tidak salah saya mendengar dari Pak Emir atau Pak Panda bahwa “kami sudah ketemu” itu saja. Bahwa laporan lisan saja setelah pertemuan di Hotel itu, saya diberitahu bahwa “kemarin Poksi sudah ketemu” sudah itu saja. Setelah pertemuan dilaporkan. Bahwa terkait dengan terpilihnya terdakwa sebagai DGS BI melalui voting, iya memang PDI-P menginstruksikan kepada semua anggota yang ada di Komisi IX untuk memilih terdakwa, itu karena sudah hasil fit and proper dilaporkan kepada Ketua Poksi didalam forum rapat fraksi dengan pertimbangan kemudian kita putuskan untuk memilih Miranda. Bahwa tentang pemberian uang kepada konstituen, sebagai anggota DPR kita dalam satu tahun itu bisa 4 sampai 5 kali masa reses. Pada masa reses kami mendapatkan uang reses. Uang reses itulah yang dipertanggungjawabkan sebagai anggota DPR untuk dikembalikan ke konstituen jika tidak habis. Disamping itu mungkin secara pribadi-pribadi anggota DPR juga bisa, kalau memang di daerah masyarakat dapil nya ada kegiatan dia mungkin ikut menyumbang. Bahwa masing-masing calon/anggota DPR punya hak masing-masing, kami tidak bisa memonitor kapan dimana kepada siapa diberikan. Karena itu hak masing-masing anggota DPR. Bahwa setelah pertemuan di Darmawangsa itu hanya disampaikan bahwa kami sudah ketemu, memperkenalkan dengan teman-teman yang belum kenal. Yang kami maksud adalah teman-teman di Komisi IX pada saat itu. Bahwa kalau tidak salah fit and proper dilaksanakan antara bulan Juli-Agustus tahun 2004. Seingat saya fit and proper dilakukan satu hari. Saksi tidak tahu apa saja yang dilakukan dalam fit and proper. Saat itu saksi tidak tahu apakah pelaksanaan fit and proper dari pagi sampai sore. 94

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa saksi mendapat laporan mengenai pertemuan di Darmawangsa pada saat rapat fraksi di DPR. Setelah fit and proper ada rapat fraksi kemudian Ketua Poksi melaporkan resmi untuk diambil keputusan dalam rapat itu.  Bahwa saya mendapat laporan malam hari setelah pengambilan keputusan voting yang mendapat suara terbanyak Ibu Miranda. Itu saja. Saya tidak tahu fit and proper test selesai jam berapa.  Bahwa ada dilakukan rapat poksi, yang dibicarakan pada rapat itu dilaporkan akan ada fit and proper dan kemungkinan akan ada voting. Pada saat itu belum dibicarakan bahwa yang akan dipilih adalah terdakwa. Kami ketahui setelah fit and proper, kami dapat laporan kalau sudah dilakukan fit and proper kemudian dilanjutkan voting, kami dapat laporan bahwa yang terbanyak adalah Miranda.  Bahwa sebelum fit and proper pernah diarahkan untuk memilih Miranda pada saat rapat poksi dan pada saat rapat fraksi.  Bahwa seingat saya bahwa karena ada laporan bahwa akan diadakan pemilihan, ada 3 nama yang masuk kami meminta pada poksi pada saat itu untuk melakukan pengecekan pada calon yang ada, pilih yang terbaik. Pada saat itu belum mengarahkan kepada nama terdakwa, karena baru rapat pertama karena bersamaan juga dengan memilih anggota BPK, ada usulan pemilihan Panglima TNI.  Bahwa karena tidak bisa musyawarah mufakat maka dilakukan voting. Komunikasi itu untuk menjaring fraksi kira-kira arahnya kemana pada hasil fit and proper itu. Saya kira masing-masing fraksi punya kebijakan masing-masing, hanya komunikasi saja antara sesama anggota komisi.  Tidak pernah menjanjikan sesuatu agar terpilih menjadi DGS BI kepada bapak atau kepada siapa saja yang menurut bapak bertentangan dengan aturan hukum bagi semua anggota PDI P di DPR khususnya Komisi IX. Kita ketemu di DPR saja tidak pernah. TANGGAPAN TERDAKWA  Tidak ada keberatan dengan keterangan saksi. 95

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

B. KETERANGAN AHLI 1. Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa ahli dalam bidang Hukum Tata Negara yang diajukan oleh Kuasa Hukum Terdakwa pada tanggal 10 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Dijelaskan bahwa wewenang penuh presiden dalam mengisi jabatan-jabatan kenegaraan telah bergeser sejak amandemen UUD ’45. Hal ini terbukti dari beberapa jabatan-jabatan seperti KAPOLRI, Hakim Agung, dan lain-lain yang membutuhkan approval dulu dari DPR.  UU kita tidak mengenal fit & proper test. Itu hanya hal internal. UU kita hanya mengenal “approval dari DPR” saja. Bahwa pada akhirnya approval tersebut dilaksanakan melalui mekanisme fit & proper test, itu kejadian faktual saja tadi.  Jabatan-jabatan publik yang dipilih melalui DPR lah yang layak dilakukan melalui fit & proper test.  Karena fit & proper test tidaklah diatur secara resmi, maka peraturan-peraturan resmi mengenai pertanyaan-pertanyaan apa saja yang selayaknya ditanyakan dalam proses tersebut, juga tidak ada.  Pasal 219(3) Tatib DPR mengatakan bahwa untuk rapat-rapat yang disebutkan di pasal 220 harus dilakukan di gedung DPR, namun di ayat (4) dikatakan bahwa jika Pimpinan DPR menyetujui.  Hal di atas berlaku terhadap jenis-jenis rapat yang disebutkan di pasal 220 secara limitatif.  Tidak semua pertemuan bisa dianggap sebagai rapat.  Pertemuan di luar gedung DPR antara DPR dengan calon Deputi Senior Gubernur BI dalam rangka persiapan fit & proper test, tidak dilarang. Hal tersebut asal tidak terjadi KKN di dalamnya. Hal ini baik dari segi kewajiban DPR maupun dari segi kewajiban calonnya.  Anggota fraksi harus tunduk terhadap instruksi partai, karena mereka punya anggaran dasar. Sanksinya, jika anggota tersebut melanggar, anggota fraksi tersebut bisa diganti.  Pemilihan jabatan-jabatan politik, mengenai calon-calon mana yang akan dipilih Presiden, kriterianya tidak ada pengaturannya. 96

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

   

Memang ada kemungkinan bahwa jabatan tersebut dapat diduduki oleh orang-orang inkompeten di bidangnya. Tidak ada larangan untuk calon menemui DPR sebelum fit & proper test untuk menanyakan pertanyaan2 apa saja yang akan disampaikan nantinya di test tersebut, dan memberitahukan apaapa saja yang sebaiknya tidak ditanyakan. Pengangkatan seseorang untuk jabatan tertentu bisa saja dibatalkan jika di kemudian hari diketahui bahwa prosesnya diwarnai dengan KKN. Hak setiap orang untuk bertemu itu dijamin oleh UU HAM. Walaupun UU 28 Tahun 1999 tidak melarang orang untuk bertemu. Jika pertanyaan mengenai etika, moral, dan lain-lain. Ahli mengaku tidak memiliki kompetensi untuk menilai. Ahli hanya bisa menilai dari segi hukum. Untuk Deputi Senior Gubernur BI tidak ada peraturannya.

2. Dr. Burhanuddin Zabir Magenda, MA, PhD ahli dalam bidang Ilmu Politik yang diajukan oleh Kuasa Hukum Terdakwa pada tanggal 10 September 2012. Memberikan keterangan dibawah sumpah menurut agama Islam pada persidangan sebagai berikut:  Ahli menjelaskan bahwa ada beberapa jabatan publik yang pengisian jabatannya harus melalui proses fit & proper test oleh DPR. Hal ini berlaku terutama setelah amandemen UUD yang dilakukan pada tahun 1999. Hal ini misalnya, oleh Komisi I DPR, posisi Panglima TNI, KAPOLRI, Anggota Komisi Penyiaran Indonesia, Calon-calon Duta Besar RI di luar negeri. Selain itu oleh Komisi II, test tersebut dilakukan terhadap calon-calon anggota KPU; Komisi III, untuk calon-calon hakim agung, dan kepala KPK. Komisi XI melakukan test tersebut terhadap calon anggota BPK, calon Gubernur BI dan Deputi Gubernur Senior BI.  Ahli menjelaskan bahwa, dalam pelaksanaan fit &proper test terhadap Calon Deputi Senior Gubernur BI, biasanya presiden akan mengirimkan nama-nama calon kepada DPR. Lalu komisi XI akan melakukan fit & proper test.

97

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Pada prakteknya, fraksi-fraksi/poksi-poksi DPR dapat bertemu dengan calon-calon, dan sebaliknya. Dan dari segi ilmu politik, hal itu sah-sah saja.  Tujuan dari pertemuan tersebut adalah agar visi dan misi bisa dijelaskan.  Pertemuan tersebut sah-sah saja untuk dilakukan di luar gedung DPR.  Fraksi-fraksi di DPR sah-sah saja untuk memerintahkan anggotaanggotanya untuk memilih seorang calon.  Jika anggota-anggota tersebut tidak melaksanakan instruksi untuk memilih tersebut, maka mereka dapat menerima teguran dan bahkan bisa pergantian antar waktu. Itu sanksi politik.  Calon pejabat BI yang akan melalui fit & proper test dapat memintakan kepada fraksi-fraksi yang akan melakukan test tersebut agar tidak menanyakan hal-hal yang bersifat privasi. Hal tersebut tercakup dalam ICCPR, terutama pasal 17, yang sudah diratifikasi Indonesia.  Moral dapat dijadikan kriteria pemilihan calon deputi senior Gubernur BI, hanya jika hal itu berhubungan dengan hukum. Hal ini misalnya perihal apakah calon deputi senior tersebut pernah melakukan tindak pidana sebelumnya, dll. Namun demikian, hal ini tidak mencakup bilamana calon tersebut pernah bercerai secara sah dan menikah lagi secara sah, dll...  Mungkin saja seseorang melakukan penggalangan dukungan terhadap seorang calon tanpa diketahui calon tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh simpati ideologis. Itu sah-sah saja secara politik.  Fit & proper test itu landasan filosofisnya terdapat dalam UUD ’45, yaitu untuk menjaga legitimasi pejabat tersebut.  Pemilihan pejabat ini mencakup aspek professional dan politik dari calon tersebut.  Menerima uang itu tidak diperbolehkan dalam pertemuan dalam rangka fit & proper test.  Pertemuan bisa dibiayai oleh calon, bisa juga dibiayai oleh DPR.  Jika ada pemberian sesuatu dalam pertemuan sebelum fit & proper test, maka hal tersebut akan melanggar etika.

98

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

C. KETERANGAN TERDAKWA Prof. MIRANDA SWARAY GOELTOM, SE, MA, PhD (Mantan Deputi Senior Bank Indonesia 2004-2009/PNS Departemen Pendidikan Nasional sebagai Profesor (Dosen), diperiksa sebagai Terdakwa pada persidangan tanggal 10 September 2012. Memberikan keterangan sebagai berikut:  Apakah pada tahun 2004 saudara pernah mengikuti pencalonan DGS BI? Siapa-siapa saja yang ketika itu sebagai calonnya? Pernah Yang Mulia, selain saya ada (alm) budi rohadi dan bapak Hartadi Sarwono  Kemudian dari hasil fit & proper yang dilakukan oleh DPR? Yang dipilih secara mayoritas adalah saya  Masih ingat saudara kapan pemilihannya? Tanggal 8 Juni 2004  Sebelum Juni 2004 sehari sebelum atau dua hari sebelum pernah saudara melakukan pertemuan dengan anggota dewan yang bakal melakukan pemilihan saudara? Tidak Yang Mulia  Yang di Darmawangsa? Itu beberapa minggu sebelumnya yang mulia  Kapan itu masih ingat saudara? Saya kurang ingat tapi dari data yang ada, dari bill yang di tunjukan ke saya itu sekitar tanggal 20an bulan Mei 2004  Siapa-siapa saja yang hadir dalam pertemuan itu? Saya tidak ingat persis Yang Mulia tetapi ada lebih dari 10 orang  Dari fraksi mana? PDIP  Tempatnya di mana? Di Darmawangsa Yang Mulia 99

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Apa yang di bicarakan disana? Pada awalnya hanya diperkenalkan kepada semua yang hadir beberapa diantaranya saya pernah kenal pada waktu saya menjabat sebagai DG BI tahun 1997-2003, beberapa diantaranya saya tidak kenal yaitu mereka-mereka yang bergantian antara waktu, kemudian setelah itu saya di tanyakan kira-kira mau apa sih rencana kamu kalau terpilih di BI, saya menceritakan ringkasan sekitar 5-10 Menit ringkasan dari visi misi saya yaitu pertama saya ingin agar peranan BI lebih besar lagi didalam perekonomian di Indonesia terutama terkait dengan UKM (usaha kecil menengah) dan kredit-kredit untuk usaha kecil menengah, kemudian yang kedua adalah bagaimana saya ingin agar stabilitas sektor keuangan dan stabilitas sektor moneter itu di synchronize dan yang ketiga adalah peningkatatan Good Governance di BI itu sekitar 10 menit Yang Mulia lalu setelah itu ngobrol-ngorol saja bertanya-tanya  Pada waktu pertemuan itu apakah saudara pernah menyampaikan, saudara sebelumnya pernah ikut fit & proper test untuk pemilihan Gubernur BI? Betul pada tahun 2003 pertengahan Mei 2003 tanggal 12 atau 13 saya di calonkan sebagai Gubernur BI oleh Presiden bersama 2 calon lainnya  Menang siapa ketika itu? Pada waktu itu yang dipilih anggota DPR komisi IX dan kemudian di tetapkan disidang paripurna DPR RI dan di Putusakan oleh Presiden dan di tandatangani oleh Presiden adalah Burhanudin Abdulah  Apakah pada waktu fit 2003 pemilihan Gubernur BI saudara pernah ditanyakan masalah keluarga oleh anggota DPR? seingat saya yang di pertanyakan adalah mengenai bentuk pertanyaannya kurang lebih adalah bagaimana saudara bisa berhasil menjadi pimpinan BI kalau rumah tangga saja gagal, jadi masalah keluarga itu waktu itu dipertanyakan mengenai rumah tangga, lalu saya menjelaskan mungkin salah satu atau dua bertanya dengan jenis-jenis perkataan yang lain tetapi yang di pertanyakan seputar itu lalu, saya menjelaskan mengenai rumah tangga saya bahwa pada saat 100

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

pemilihan Gubernur BI tahun 2003 saya sudah menikah bulan februari 2003 memang benar saya telah bercerai tahun 2000 yang putusan inkracht Mahkamah Agungnya baru pada tahun 2002, kemudian saya menerangkan karena itu juga ditanyakan bagaimana mengenai keutuhan rumah tangga kalau agama berbeda dengan anak-anak, saya menjawab betul saya adalah Kristen Protestan anakanak saya 2 orang adalah Muslim dan saya ingin mereka menjadi Muslimah yang baik sebab itu saya mendidik mereka dan membawa mereka di sekolah islam di Al-Izhar pondok labu kemudian juga mengajar mereka bagaimana bermoral dan beretika yang baik saya menjawab pada saat pertanyaan itu bahwa bagi saya ukuran moral atau ukuran integritas orang adalah ukuran bagaimana seseorang bisa menjalakan komitmennya, saya menjelaskan bahwa kegagalan berumah tangga itu tidak ada kaitanya dengan moral karena saya yakin bahwa siapapun yang menikah awalnya tidak pernah berencana untuk gagal, tetapi kalau kegagalan ada yang diperlukan adalah komitmen dan saya jawab komitmen saya adalah mendidik anak-anak saya untuk menjadi anak-anak yang berhasil anak-anak yang berbudi, berakhlak dan beriman  Apakah saudara mengetahui sebelum pemilihan DGS BI ada selebaran-selebaran tentang masalah rumah tangga saudara? Tidak pada sebelum pemilihan DGS BI tahun 2004, yang ada adalah sebelum pemilihan Deputi Gubernur BI tahun 2003 ada pampfletpamflet, selebaran-selebaran yang sangat menurut saya sangat berbahaya bukan untuk diri saya tetapi untuk masyarakat secara keseluruhan karena selebaran itu mempertentangkan gender mempertentangkan agama bahwa tidak patut seorang yang non muslim menjadi memimpin BI tidak patut seorang yang bercerai menjadi memimpin BI tidak patut seorang wanita memimpin BI, pampflet itu disebarkan sebelum maupun pada saat pemilihan Gubernur BI berlangsung  Apakah pada waktu pertemuan di Darmawangsa, apakah saudara pernah meminta kepada anggota dewan itu supaya tidak menanyakan tentang keluarga? Tidak pernah Yang mulia 101

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Kemudian apakah pernah saudara mengadakan pertemuan dengan fraksi ABRI di kantor saudara? Betul Yang Mulia di kantor saya di Gedung Graha Niaga Jalan Jendral Sudirman  Pertemuan Darmawangsa itu inisiatif siapa? Seingat saya itu inisiatif dari anggota fraksi PDI P di komisi IX  Pertemuan itu tentu membutuhkan suatu biaya, uang pertemuan, minuman itu ditanggung oleh siapa? Yang memesan ruang rapat atau suatu ruangan di Bima Sena Darmawangsa adalah saya karena saya adalah member dan saya memilih disitu atas anjuran anggota fraksi untuk mengusulkan dimana, saya mengusulkan disitu karena saya tidak akan harus membayar fee untuk menyewa ruang rapat karena sebagai member dan kalau membayar sebagai anggota saya membayar, saya membayar menurut saya secara etika ketimuran patut saja karena sungguh tidak etis menurut saya menagih urunan patungan 80 ribu rupiah per orang karena biayanya hanya 1.300.000 yang Mulia dan yang datang 15-16 orang termasuk saya, saya rasa sungguh tidak cukup etis… minta 70.000 yah untuk minum teh  Itu fraksi mana? Itu fraksi PDI P di Komisi IX yang mulia  Pertemuan saudara di fraksi ABRI? seingat saya pertemuan saya dengan fraksi abri itu setelah pertemuan saya dengan fraksi PDI P tempatnya di kantor saya di jalan jendral sudirman  Siapa-siapa yang hadir ketika itu? Pada saat itu saya lupa namanya persis, tapi ada 4 orang dari anggota fraksi TNI/Polri namanya ada pak Darsup yang saya ingat dan pak Udju  Itu atas inisiatif siapa? Itu atas inisiatif saya, karena setelah saya melakukan pertemuan dengan fraksi PDI P di darmawangsa yang mulia saya melihat ada 102

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

kegunaannya untuk bertemu dengan fraksi-fraksi lainnya bukan hanya fraksi tni polri karena saya juga memohon untuk bertemu dengan semua fraksi-fraksi tetapi hanya fraksi TNI/Polri yang pada waktu itu cocok waktunya kenapa saya berinisiatif seperti itu karena pada waktu bertemu di Darmawangsa banyak hal yang bisa diklarifikasi ada pertanyaan mereka, bagaimana status keluarga anda saya dengan senang hati mengklarifikasi bahwa status kelaurga saya tidak ada masalah saya menikah di gereja dan catatan sipil pada februari 2003 bahkan sebelum pemilihan gubernur BI tahun 2003 saya bercerai saya punya 2 anak dan sebagainya, kemudian juga saya bisa mengklarifikasikan pada waktu pertemuan di damawangsa waktu ada yang bertanya apa saja Mir yang kamu kerjain sejak kamu selesai Deputi Gubernur Mei 2003 sampai sekarang setahun ngapain saja, saya ceritakan saya pengajar di fakultas UI sejak tahun 1973 saya kembali menjadi professor disitu kembali mengajar penuh  pertemuan dengan fraksi ABRI di kantor saudara? Itu juga persisi, jadi pada saat itu kesempatan saya juga untuk menerangkan bahwa saya pada saat itu bukan menggangur saya mengajar saya menjadi komisaris utama dari rabo Bank International kemudian saya menjadi international counsultan dari ABN AMRO di Netherland di Belanda sehingga saya merasa perlu itu inisiatif saya Yang Mulia pada waktu di Niaga  Sekitar jam berapa pertemuan itu baik di darmawangsa maupun di kantor saudara? Saya tidak ingat, tapi kemungkinan siang hari  Saudara kenal dengan nunun? Sejak kapan Ya, saya kenal dengan Ibu Nunun Nurbaeti mungkin sekitar tahun 2002-2003 karena anaknya satu kota dengan anak saya di Sanfransisco kuliah pada saat itu  Apakah pernah saudara minta kepada saudara Nunun Nurbaeti untuk memperkenalkan anggota DPR melalui Nunun Nurbaeti? Tidak saya tidak pernah

103

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Apakah saudara mengadakan pertemuan dirumah Nunun dengan anggota DPR yang lain, dengan Paskah Suzette, Endin semuanya Tidak pernah Yang Mulia  Apa tujuan saudara mengadakan pertemuan-pertemuan dengan anggota DPR sebelum saudara melakukan pemilihan? Tujuan saya hanya satu disclosure dan transparansi, saya ingin Yang Mulia agar siapapun yang memilih saya mengetahui mengenai diri saya sedalam-dalamnya seluas-luasnya sepanjang apapun yang ingin mereka ketahui mengenai diri saya baik mengenai kemampuan profesional saya maupun mengenai hal-hal yang lain  Saudarakan, ya seandainya menyampaikan visi dan misi saudarakan bakal di fit oleh anggota DPR disanakan saudara bisa menyampaikan visi dan misi saudara sekaligus mengclearkan tentang masalah keluarga saudara, ngapain harus ada pertemuan-pertemuan sebelumnya sampaikan visi dan misi saudara? Yang mulia mohon saya ingin menjelaskan kembali, pertemuan pertama dengan PDI P itu bukan inisiatif saya itu adalah atas inisiatif dan kalau menurut saksi di persidangan adalah perintah dari fraksi untuk bertemu untuk menggali lebih banyak mengenai saya, berdasarkan hasil pertemuan di Darmawangsa itulah baru saya terfikirkan dan berpendapat ada baiknya kalau kepada semua fraksi yang lain juga bias dijelaskan sebanyak-banyaknya agar mereka mengetahui apapun yang mereka ingin ketahui  Waktu saudara menyampaikan visi dan misi saudarakan bisa menyampaikan ke seluruh anggota DPR? Betul, tetapi penyampaian visi dan misi itu terbatas waktunya untuk membaca paper 45 menit  Saudara terdakwa apakah saudara mengetahui ada tentang TC pemberian anggota DPR RI? Tidak Yang Mulia  Saudara kenal dengan Endin? Sejak kapan Kenal Yang Mulia, sejak tahun 1997 pada saat saya menjadi DG BI sampai Mei 2003 hari terakhir saya menjadi DG BI 17 Mei 2003 104

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Dengan Paskah Suzetta? Kenal, tetapi dengan paskah suzette kenal lebih lama lagi karena pada waktu saya menjadi deputi di kantor menko eko was bank tahun 1993 saya sudah sering rapat dengan paskah suzette sudah menjadi anggota komisi IX saat itu  Dengan Hamka Yandhu? Mengenal juga sekitar tahun 1997-1998 pada saat saya DG BI  Sebelum saudara fit & proper test bulan juni apakah saudara pernah bertemu dengan orang yang bersangkutan? Tidak yang mulia  Diwaktu saudara terpilih sebagai DGS BI kebijakan apa yang saudara ambil? Menyangkut dengan moneter? Yang mulia jabatan saya sebagai DGS BI pada saat itu adalah sebagai wakil gubernur, dan tentunya didalam jabatan sebagai wakil gubernur banyak policy-policy atau kebijakan-kebijakan yang diambil oleh DG bukan oleh saya sendiri tetapi oleh DG, kalau yang terkait dengan operasional saya memang tidak memegan sector perbankan, tidak memegang sector moneter tidak memegang sector system pembayaran, saya menjadi DG bidang hukum Yang Mulia. Kemudian saya menjadi DG bidang IT kemudian DG bidang MI dan DG bidang pendidikan kebank Sentralan dari sisi oprasionil itulah direktorat yang di bawah saya kalau dari sisi policy ya jabatan sebagai DGS BI itu bersama-sama gubernur dan anggota DG lainnya itu adalah mengikuti rapat mendengarkan apa yang diajukan oleh Direktorat kemudian mengambil policy kebijakan  Dalam mengambil suatu keputusan Dewan Gubernur itu yah, Apakah bisa saudara mengambil keputusan sendiri tanpa tahu deputi-deputi yang lain? Tidak bisa Yang mulia, rapat Dewan Gubernur itu secara aturan di BI itu harus disetujui secara mutlak, yang memiliki hak veto hanya Gubernur BI saja  Apakah ada kebijakan tertentu yang menguntungkan orang-orang tertentu dengan kebijakan saudara? 105

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tidak ada yang mulia  Rapat Dewan Gubernur? Tidak ada Yang mulia  Kami lanjutkan, Tadi saudara sampaikan bahwa pada waktu pertemuan di Darmawangsa saudara tidak tahu dari DPR siapa saja yang tidak hadir, tadi saudara sampaikan kepada ketua majelis kenal dengan Paskah Suzetta, Hamka Yandhu, Agus Condro dan Panda Nababan itu dari fraksi apa? Paskah Suzetta dari fraksi Golkar jadi tidak hadir, Endin dari fraksi saya lupa PPP atau PAN kalau Agus Condro dan Panda Nababan dari PDIP  Apakah kalau saudara tidak tahu semua yang tidak hadir agus condro dan panda nababan hadir dalam pertemuan di darmawangsa itu? Saya tidak ingat kalau agus condro tidak mengenal mukanya tidak pernah melihat namanya tetapi kalau panda nababan saya ingat hadir  Tadi saudara sampaikan kenal dengan nunun nurbaeti, saudara pernah kerumahnya? Berapa kali Pernah satu atau dua kali pada saat tarawih  Itu pada saat saudara datang kerumah Nunun itu pada waktu mendekati pemilihan DGS BI ataukah dalam rangka yang lain? Seingat saya sekitar bulan oktober-november 2004 pada saat tarawih  Kemudian apakah pernah saudara juga minta kepada nunun nurbaeti supaya mencarikan sponsor atau pihak yang dapat memberikan sejumlah dana bagi anggota komisi IX DPR? Tidak pernah Yang Mulia  Dalam rangka fit & proper test saudara dalam pemilihan DGS BI, saudara tahu ada pihak yang mensponsori saudara atau yang memberikan hadiah-hadiah pada anggota Dewan? Tidak tahu Yang Mulia

106

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Tidak pernah ada yang menghubungi saudara bahwa nanti akan menjadi sponsor atau pendukung saudara? Tidak pernah Yang mulia  Saya lanjutkan terdakwa ya, terlepas dari pada pertemuan biayabiaya saudara yang telah keluarkan di Darmawangsa apa juga di gedung saudara di depan gedung niaga ya waktu pertemuan dengan fraksi TNI/Polri saudara membayar juga biaya disitu untuk minum? Itu adalah dikantor saya Yang Mulia jadi hanya menghidangkan teh  Tidak membayar karena kita punya teh sendiri gitu? Ya, betul Yang mulia  Terkait dengan dakwaan saudara yang diarahkan kepada saudara ini yah, apakah ada saudara membuat janji-janji dalam pertemuan itu baik dari Komisi IX fraksi PDI P agar saudara dipilih oleh mereka itu dalam fit & proper test? Tidak pernah yang Mulia  Terhadap anggota fraksi TNI/ Polri? Tidak pernah Yang Mulia  Pernah datang kerumah Nunun Nurbaeti ya? Pernah yang mulia seingat saya pada saat tarawih bulan oktobernovember 2004  Kemudian kembali kepada Nunun Nurbaeti ya, ada Nunun menerangkan bahwa mendengar ada kata-kata ada proyek thank you saudara tahu itu? Saya tidak pernah ada pertemuan di rumah ibu Nunun Yang Mulia  Kemudian apakah pertemuan saudara disamping tadi setelah saya tanyakan mendukung saudara untuk dipilih bersedia mendukung Terdakwa sebagai DGS BI apakah itu memang pernah saudara utarakan dalam pertemuan-pertemuan di tempat yang lain, ini diluar kepada DPR ya, Kepada Nunun itu permintaan saudara nunun itu apa?

107

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tidak ada yang spesifik yang Mulia, saya kepada setiap orang yang memberi ucapan selamat kepada saya “selamat ya Mir… semoga berhasil jadi calon”  Itu pemberian ucapan selamat setelah saudara dicalonkan ya? Setelah dicalonkan bulan April 2004  Setelah diusulkan oleh presiden untuk di fit & proper tes di DPR gitu? Betul Yang mulia, karena di media masa cukup luas dibahas banyak yang menyelamatkan saya, saya hanya mengatakan “doain saya ya”  Saya lanjutkan ya, terdakwa tadi saudara mengatakan bahwa pertemuan di darmawangsa itu inisatif dari PDIP ya? Betul yang Mulia, seingat saya melalui telephone  Masalah pemberitahuan itu apakah seminggu sebelumnya atau sesaat akan ada pertemuan? Mohon maaf yang mulia persisi tanggalnya tidak ingat tetapi tentunya sebelum pertemuan karena saya membook bima senanya  Terkait akan perkenalan saudara dengan orang yang bernama nunun nuerbaeti yah, apakah saudara juga sering dating juga kerumahnya nunun? Mungkin hanya 1-2 kali yang Mulia pada acara-acara tarawih  Kalau Nunun sendiri pernah ga datang ke tempat saudara? Pernah Yang Mulia  Apakah itu sebelum atau sesudah pemilihan? Sesudah pemilihan yang mulia sekitar September-Oktober 2004  Itu dalam rangka apa mereka kesana? Dalam rangka saya ingin menawarkan kepada beliau, menegaskan kembali bahwa saya diutus oleh hasil sidang PB (pengurus besar) GABSI untuk menyampaikan ke ibu Nunun bahwa ia adalah salah satu calon dari 3 calon yang waktu itu diusulkan, saya diutus untuk menanyakan ke ibu Nunun apakah ia bersedia menjadi sekertaris umum atau sekjen GABSI karena sekjen GABSI yang lama sdr. Toto

108

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Lubis itu sakit menahun sehingga mengundurkan diri dan posisi itu sudah cukup lama kosong  Memang punya dia keahlian bidang GABSI ibu nunun sampai di utus? Tidak yang mulia, saya ketua umumnya tidak punya keahlian Bridge tetapi keahlian organisasi tentunya ibu Nunun sudah terkenal  Apakah jadi dia sekertaris? Tidak jadi yang mulia karena ibu nunun menolak  Itu setelah pemilihan? Betul yang mulia, itu setelah pemilihan  Kalau sebelumnya apa dia pernah datang ke kantor saudara? Belum pernah Yang mulia karea kantor saya di BI setelah saya terpilih  Selain saudara sebut tadi fraksi ABRI, Golkar maupun yang lainnya apakah saudara menyurati atau menelphone untuk melakukan pertemuan juga? Yang mulia beberapa diantara dari mereka saya sudah mengenal cukup lama sejak tahun 1997-1998 saya memiliki hp mereka, saya memiliki hp pak Paskah pak Hamka seingat saya dari semua yang saya telephone tidak semua berhasil tapi yang saya ingat menolak dengan jelas adalah saudara Endin, saudara Endin mengatakan “sori deh Mir ga usah… kalo gw bakalan pasti ga milih lo, karena ga boleh sama partai aku.. itu adalah garis partai untuk tidak memilih orang seperti kamu… kamu ngertikan.. jangan marah”  Kalau dengan fraksi yang lain, yang saudara melakukan pertemuan apakah mereka berjanji akan memilih saudara seperti ungkapan Endin tidak akan memilih saudara? Oh tidak ada, kalau Endin dia mengatakan itu karena dia tidak mau bertemu  Maksud saya pada saat pertemuan di Darmawangsa atau fraksi ABRI di kantor saudara apakah mereka juga mengatakan akan memilih saudara? 109

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tidak ada, tidak ada berbicara mengenai memilih siapa tidak memilih siapa  Terhadap inisiatif pertemuan dengan PDIP adalah inisiatif dari fraksi PDIP ya, siapa yang waktu itu menelphone ibu? Saya kurang ingat yang mulia, tapi saya pasti salah satu yang namanya ada di nomor telephone saya. Karena kebiasaan saya kalau orang nomor tidak ada nama tidak saya angkat  Tapi kenapa kok ibu yang memesan tempat di darmawangsa? Karena mereka yang mengatakan atur saja deh Mir mau bertemunya dimana karena kami bisanya bertemunya tanggal sekian  Sebetulnya pribadi ibu sendiri punya rencana ga untuk mengundang semua fraksi? Sebetulnya tidak, sama sekali tidak. Pada tahun 2003 pada pemilihan DG BI saya juga tidak bertemu dengan siapa pun  Sebetulnya sesungguhnya tujuan tu apa sih? Kok ibu begitu repotnya harus ketemu dengan fraksi-fraksi kan calon bukan ibu saja ada tiga orang? Betul yang mulia, tidak ada tujuan lain selain memenuhi permintaan PDI P awalnya, mohon dicatat yang mulia yang meminta bertemu dengan saya adalah fraksi dan saya rasa siapapun kalau ada fraksi yang mau memilih mengundang bukan hanya satu orang pribadi tapi bertemu beramai-ramai dengan fraksi dan mengatakan saya mau memperkenalkan fraksi supaya lebih tau juga mengenai kamu seperti apa yang belum tau mengenai kamu tentu kita akan menjawab iya, jadi kalau PDI P itu bukan inisiatif saya. Baru setelah saya bertemu dengan PDI P saya melihat cukup banyak kegunaannya karena terlihat dari wajah mereka pada saat saya menerangkan ya saya punya keluarga, saya punya pekerjaan ini, ya anak saya islam, ya saya Kristen tampak mereka wajahnya puas terpenuhi keinginan tahunya  Sekarang ibu kan mau fit and proper ya, kenapa tidak ibu persiapkan untuk nanti saja bukan untuk lobi-lobi? Itu bukan lobi-lobi yang Mulia, itu adalah proses transparansi dan disclosure yang Mulia 110

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Apakah saudara pernah meminta dukungan dari keluarga dan temanteman dari terkait dengan proses pemilihan sebagai DGS BI? Dari keluarga tentunya saya meminta dukungan moral dan dukungan doa  Dari teman-teman? Juga sama  Apa yang saudara sampaikan untuk permintaan dukungan itu? Umumnya, secara garis besar, intinya “Doain saya ya”  Apa saudara pernah minta dukungan kepada teman-teman itu agar diperkenalkan atau dipertemukan kepada anggota DPR? Tidak  Yang mulia karena pada persidangan Terdakwa sebagai saksi, sebenarnya pertanyaan ini nanti akan kami perlihatkan transkrip bahwa terdakwa menjawab dia memang meminta  Keberatan majelis ini statusnya kan ibu Miranda sebagai terdakwa  Saya bisa menjelaskan majelis di saksi mana saya mengatakan seperti itu  Saudara terdakwa yah, tadi pernah satu dua kali ke rumah Nunun pada saat Tarawih apakah selain terawih saudara juga pernah kesana seperti acara ulang tahun atau acara keramaian yang lainnya? Tidak pernah, seingat saya hanya acara tarawih saja  Apakah saudara mengetahui jumlah fraksi-fraksi dengan jumlah anggota yang besar di DPR? Tidak  Mengenai pertemuan di Darmawangsa tadi sudah ditanyakan oleh majelis dan dijawab oleh terdakwa bahwa inisiatif berasal dari fraksi PDIP tadi sudah ditanyakan oleh penuntut umum bahwa yang menghubungi pada akhirnya menurut saudara terdakwa adalah dari PDIP sendiri, pertanyaannya apa pertimbangan saudara pada waktu 111

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

itu untuk menerima penawaran tersebut dan tidak menolak tawaran pertemuan tersebut? Ada 2, satu saya pada saat dicalonkan sebagai DGS BI tahun 2004 sudah tidak menjabat di Bank Indonesia sejak Mei 2003 sampai dengan fit & proper test saya bukan pejabat dimana-mana hanya pegawai negeri di fakultas ekonomi sehgga saya tidak mengenal anggota2 DPR sehingga pada saat ada anggota fraksi PDI P menelphone saya meminta untuk bertemu dan memperkenalkan dan untuk bertanya-tanya saya tidak bisa menolak saya merasa ya patut untuk memenuhinya  Tadi saudara terdakwa sudah menjelaskan bahwa dalam pertemuan di Darmawangsa saudara terdakwa juga menjelaskan status dari perkawinan dan status dari keluarga saudara terdakwa sendiri, untuk penegasan penjelasan itu saudara sampaikan kepada anggota DPR apakah atas inisiatif saudara Terdakwa sendiri atau ada pertanyaan dari para anggota DPR? Karena ada yang bertanya  Apakah didalam pertemuan di Niaga saudara Terdakwa meminta untuk tidak ditanyakan mengenai masalah keluarga? Tidak pernah  Apakah saudara terdakwa mengetahui apa sebabnya dalam fit & proper test Gubernur BI 2003 ada beberapa anggota DPR ada yang bertanya mengenai masalah perkawinan dan masalah keluarga terdakwa? Awlanya saya tidak mengetahui tentunya tetapi belakangan saya baru tahu bahwa ada surat entah siapa yang mengirim, kalau kata Emir Moeis mantan suami saya mengirim surat ke DPR pada saat itu saya sudah bercerai sebetulnya tetapi proses perceraiaanya memang tidak mudah memakan waktu 2 tahun untuk sampai inkracht di Mahkamah Agung  Selain dari surat dan juga selain dari pamphlet dalam pemilihan 2003 Gubernur BI ada lagi ga pemberitaan missal dari media massa yang memberitakan masalah itu? 112

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Pada tahun 2004 tidak ada pemberitaan di media masa mengenai masalah itu lagi, hanya di 2003 saja  Tahun 2003 dimedia massa ada? Di media massa ada dibicarakan banyak, kita bisa download semua media massa saat tu banyak ada yang bicara perempuan apa bisa jadi gender, kemudian ada yang bicara apa patut kalau wanita yang non muslim seperti itu, jadi masalahnya waktu itu lebih ke masalah gender dan agama dan sebagai seorang pendidik dan pengajar saya merasa terkejut tentunya tetapi itu diluar kemampuan saya untuk mencegahnya. Tahun 2004 saya bersyukur tidak ada lagi yang melemparkan pamflet-pamflet yang bisa merusak hubungan masyarakat seperti itu.  2004 pamflet tidak ada? Tidak ada  Pemberitaan di media massa? Tidak ada di 2004  surat pengaduang dari orang tertentu? Tidak ada pada saat itu  Saudara terdakwa kita masih mengenai fit & proper test, kapan pertama kali saudara terdakwa mengikuti fit & proper test untuk menduduki jabatan di BI, kan saudara terdakwa berdasarkan informasi bahwa saudara terdakwa itu menduduki DG BI sejak tahun 1997, kapan pertama kali fit & proper test? Apakah tahun 1997 sudah mengikuti fit & proper test? Tahun 1997 itu menurut UU BI pada saat itu penujukan DG BI itu adalah oleh presiden di lantiknya oleh menteri keuangan, kemudian pada tahun 1999 ada UU BI baru No. 23 tahun 1999 dimana BI menjadi lembaga yang Independen, maka sejak tahun 1999 di undangkan bahwa setiap DG, Gubernur, DGS harus melaui prosedur tertentu yaitu di calonkan oleh presiden bagi Gubernur dan DGS di calonkan oleh Gubernur bagi DG tetapi disampaikan oleh Presiden ke DPR kemudian harus mengikuti fit & proper test dan sebagainya itu tidak tertulis tetapi itulah peraturan internal, maka pada tahun 2000 113

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

itu pertama kali ada fit & proper test saat 1999 kami dilantik kembali pada waktu itu Presidennya itu sudah bukan Soeharto tapi habibie diantara berdelapan saya dan gubernur dipilih oleh habibie untuk menjabat sampai 2003 dengan gubernurnya syahril sabirin, kemudian 2 orang lagi dipilih hanya menjabat sampai 2002, 2 orang lagi sampai 2000 jadi seperti Aulia Pohan pada saat itu dan Iwan Prawira nata kusuma itu hanya 1 tahun di perpanjang, saya 4 tahun di perpanjang itu sebabnya masa jabatan saya sebagai DG itu berakhir 17 Mei 2003 bersama-sama dengan Gubernur BI syahril sabirin. Kemudian oleh presiden Megawati saat itu karena saya adalah DG yang paling senior diantara semua yang ada disitu saya termasuk yang dicalonkan sebagai Gubernur BI.  Mengenai kedatangan saudara terdakwa di rumah Nunun di jalan cipete, bagaimana saudara begitu yakin bahwa itu adalah bulan oktober-November 2004 dan bukan mendekati bulan juni 2004 mendekati fit & proper test? Saya menggunakan logika saja, saya tidak ingat persis tanggalnya tetapi saya tau bahwa bulan puasa kalau kita hitung setiap tahun itu Ramadhan maju 11 hari jadi kalau sekarang tahun 2012 delapan tahun yang lalu pasti 88 hari atau kira-kira 3 bulan setelah bulan sekarang kalau itu jatuhnya bulan Juli ya kira-kira oktober-nopember lah itu logic saja  Apakah antara bulan april sejak saudara terdakwa di calonkan oleh presiden sampai dengan bulan juni 2004 apakah sdara pernah berkunjung ke rumah Nunun di jalan cipete? Tidak  Selain kalimat doain saya ya, apakah saudara Terdakwa pernah meminta dukungan kepada orang-orang lain dengan menggunakan kalimat-kalimat lain? Hampir tidak pernah itu sudah seperti mantra otomatis saja, itu semacam etika ketimuran menurut saya.  Apakah sejak april sampai dengan juni 2004 saudara terdakwa pernah meminta dukungan terhadap nunun termasuk permintaan doain saya ya? 114

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Saya tidak ingat  Apakah ibu pernah menjanjikan atau meminta atau bahkan menyuruh ibu Nunun untuk memberikan TC sehubungan dengan pemilihan DGS BI? Tidak pernah

115

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

BAB IV ANALISA FAKTA HUKUM

Majelis Hakim yang Mulia, Penuntut Umum yang Terhormat, Hadirin Persidangan sekalian, Bahwa sebagaimana kami sampaikan dalam analisa fakta sebelumnya, bahwa selama dalam proses pemeriksaan di persidangan telah diperiksa dan didengar keterangan pihak-pihak dalam persidangan a quo, adapun tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah untuk menguji apakah seseorang dalam hal ini Terdakwa yang dihadapakan ke depan persidangan oleh Penuntut Umum benar-benar melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum. Dalam sistem pembuktian di Indonesia yaitu menggunakan Negatief Wettelijk Stelsel, “dimana untuk menyatakan salah tidaknya seorang Terdakwa tidak cukup berdasarkan keyakinan hakim semata-mata, atau hanya semata-mata didasarkan atas keterbuktian menurut ketentuan dan cara pembuktian dengan alat-alat bukti yang ditentukan undang-undang, seorang Terdakwa baru dapat dinyatakan bersalah apabila kesalahan yang didakwakan kepadanya dapat dibuktikan dengan cara dan dengan alat-alat bukti yang sah menurut UUserta sekaligus keterbuktian kesalahan itu “dibarengi” dengan keyakinan hakim”. (M Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan penerapan KUHAP, Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, halaman 279) Pasal 183 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (“KUHAP”) telah memberikan ruang lingkup yang jelas mengenai batasan tentang dapat dipidananya seseorang, yaitu terdapat minimal 2 alat bukti dan dari 2 alat bukti tersebut Majelis Hakim meyakini bahwa Terdakwa telah melakukan suatu tindak pidana dari ketentuan tersebut diatas, maka seorang tidak 116

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

mungkin dapat dipidana hanya berdasarkan keyakinan belaka yang sifatnya subjektif. Keyakinan haruslah dibangun dari minimal 2 alat bukti yang terungkap selama proses pemeriksaan di persidangan, hal ini sering dikenal sebagai prinsip minimum pembuktian. Saudara Penuntut Umum pada persidangan yang lalu telah membacakan tuntutannya yang pada pokoknya menyatakan bahwa Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama menyuap Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara sebagaimana dalam dakwaan Pertama, yaitu melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf b UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (“UU Tipikor”). Terkait dengan tuntutan dari Penuntut Umum tersebut, kami selaku Penasihat Hukum Terdakwa sangat tidak sependapat, hal ini sesuai dengan pendapat Mr. Trapmann bahwa perbedaan penafsiran antara Penuntut Umum dan Penasihat Hukum dapat terjadi walaupun kasus dan fakta yang dihadapi sama, karena hal tersebut bergantung kepada sikap, titik tolak dan pandangan Penuntut Umum yaitu pandangan subjektif dari posisi yang objektif; (Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, Alumni, Bandung 2007, halaman 87). Bahwa dalam Surat Tuntutannya, fakta-fakta yang dikemukakan oleh Penuntut Umum hanyalah fakta-fakta yang merugikan Terdakwa serta tidak memenuhi syarat sebagai fakta hukum, bahkan terdapat fakta-fakta yang tidak benar dan dipaksakan untuk mendukung pendapat yang menguntungkan bagi Penuntut Umum yaitu keterangan dalam proses cross 117

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

examination yang berbeda dengan yang di kemukakan oleh Penuntut Umum. Dalam Surat Tuntutannya Penuntut Umum telah memanipulasi

keterangan-keterangan saksi yang telah menjadi fakta hukum yang nyatanyata menguntungkan Terdakwa dan disisi lain Penuntut Umum memunculkan fakta untuk “menambal” kekurangan fakta dalam menyusun rangkaian peristiwa berkait nya, yang menurut Penuntut Umum saling sambung menyambung dan berkaitan sehingga merupakan suatu delik yang sempurna. Pembuktian seharusnya menggali fakta-fakta, bahwa seseorang diyakini telah melakukan suatu perbuatan pidana, pembuktian dengan menggunakan metode ketting bewijs (keterangan saksi yang berdiri sendiri-sendiri dan saling berkaitan dengan keterangan saksi yang lain) yang digunakan oleh Penuntut Umum rentan akan munculnya keraguraguan atas terjadi atau tidaknya suatu delik. Kita tidak boleh menutup mata, karena perkara yang diputus dengan ketting bewijs sering menjadi kontroversi dalam masyarakat. Antara lain dalam Kasus Pollycarpus dan Muchdi PR. Dalam Kasus Muchdi PR, terdakwa didakwa menganjurkan Pollycarpus atau menyuruh lakukan atau turut serta melakukan bersama-sama Pollycarpus dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain yaitu korban Almarhum Munir. Meskipun Pollycarpus telah dipidana dengan menggunakan metode pembuktian ketting bewijs akan tetapi Muchdi PR dibebaskan dari segala tuntutan hukum. (vide. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.

118

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

1488/Pid.B/2008/Pn.Jak.Sel. 423K/Pid/2009).

jo.

Putusan

Mahkamah

Agung

No.

Berdasarkan contoh kasus tersebut, perkara yang dituntut dan diputus dengan menggunakan metode pembuktian ketting bewijs dapat menjadi bias dan selalu menimbulkan ketidakyakinan (keragu-raguan) dalam masyarakat mengenai bersalah atau tidaknya seseorang. Penggunaan metode pembuktian ketting bewijs ini cenderung dan rentan yang dapat menimbulkan kerugian terhadap kedudukan seorang terdakwa. Oleh karena itu, Penasihat hukum sangat menghargai sikap Majelis Hakim dalam perkara Muchdi PR yang membebaskan Muchdi PR dari dakwaan pembunuhan berencana. Kami perlu mengemukakan metode pembuktian yang dilakukan oleh Penuntut Umum pada halaman 146 Surat Tuntutan yang menyatakan:
“bahwa sesuai dengan pemeriksaan dipersidangan diperoleh fakta-fakta berupa keterangan saksi-saksi yang berdiri sendiri-sendiri namun berkaitan satu sama lainnya atau dalam hukum pembuktian dikenal dengan keterangan saksi berantai (ketting bewijs) serta bersesuaian dengan alat bukti lainnya…”.

Bahwa KUHAP memang memberi peluang pada pembuktian melalui Pasal 185 ayat (4) KUHAP yang berbunyi:
“keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi itu ada hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu”.

Bahwa dalam perkara a quo keterangan saksi yang berdiri sendiri telah dimanipulasi oleh Penuntut Umum dengan mengambil keteranganketerangan saksi secara tidak lengkap cendrung yang menguntungkan untuk dikaitkan dengan keterangan saksi lainnya sehingga menurut Penuntut Umum merupakan keterangan saksi yang berdiri sendiri-sendiri 119

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

namun saling berkaitan sehingga dapat membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu. Tindakan demikian sangat menciderai rasa keadilan dan menyesatkan. Berdasarkan hal tersebut diatas, kami perlu untuk meluruskan fakta-fakta hukum yang tergali dalam proses pemeriksaan di persidangan dengan objektif dan transparan berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 184 KUHAP dan Pasal 185 KUHAP, sekaligus menguji kebenaran uraian dakwaan Penuntut Umum sebagai dasar dalam pemeriksaan perkara a quo. Adapun fakta-fakta yang terungkap selama dalam proses pemeriksaan dipersidangan adalah sebagai berikut: A. Terdakwa tidak pernah meminta kepada Nunun Nurbaeti untuk diperkenalkan dengan anggota Komisi IX DPR RI, karena Terdakwa sebelumnya telah menjabat sebagai Deputi Gubernur BI sejak tahun 1997, yang merupakan mitra kerja anggota Komisi IX DPR RI. Oleh karena itu Terdakwa sudah mengenal anggota Komisi IX DPR RI sehingga tidak membutuhkan bantuan Nunun Nurbaeti untuk diperkenalkan. Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Dr. Endin AJ Soefihara, MMA: - Bahwa saksi tidak pernah bertemu Miranda atau Nunun Nurbaeti sebelum ataupun sesudah pemilihan hanya bertemu di komisi atau ruang-ruang komisi; - Bahwa saya tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti dimanapun maupun dengan Miranda Goeltom, menjelang pemilihan DGS BI;

120

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Keterangan Drs. Paskah Suzetta, MH - Bahwa saksi tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti pada tahun 2004; 3. Keterangan Hamka Yandhu - Bahwa saksi tidak pernah diperkenalkan kepada terdakwa oleh Nunun Nurbaeti. 4. Keterangan Izedrik Emir Moeis - Bahwa saya kenal dengan terdakwa sudah lama, sudah sejak dari SMA Keterangan Terdakwa sebagai berikut: - Saya tidak pernah minta kepada saudara Nunun Nurbaeti untuk memperkenalkan anggota DPR melalui Nunun Nurbaeti. Dari keterangan saksi-saksi yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain sehingga merupakan suatu fakta hukum. Mengenai keterangan Nunun Nurbaeti yang menyatakan: - Pada saat memperkenalkan anggota DPR itu, ibu Miranda sebetulnya sudah kenal tetapi hanya lebih mempertemukan kembali ya itu yang terjadi di rumah saya seperti di BAP tersebut; merupakan keterangan yang berdiri sendiri serta tidak bersesuaian dengan alat bukti lain yaitu keterangan Paskah Suzetta, keterangan Hamka Yandhu, keterangan Endin AJ. Soefihara, dan keterangan Terdakwa yang saling bersesuaian yang pada pokoknya menyatakan tidak pernah melakukan pertemuan di rumah Nunun Nurbaeti di Jalan Cipete Raya No. 39 C dan keterangan Nunun Nurbaeti tidak bersesuaian dengan keterangan Lini Suparni sehingga tidak dapat 121

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dijadikan sebagai alat bukti dalam perkara a quo sebagaimana dimaksud dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang berbunyi “keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah terhadap Perbuatan Terdakwa yang didakwakan kepadanya” dan Pasal 185 ayat (4) KUHAP. Berdasarkan fakta hukum yang terungkap diatas, maka fakta dalam surat dakwaan Penuntut Umum pada halaman 3, halaman 11, halaman 18, halaman 25 yang pada pokoknya menyatakan “…., Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana Nunun Nurbaeti menyetujui permintaan Terdakwa” juga tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan.

B. Terdakwa tidak pernah diperkenalkan dan dipertemukan oleh Nunun Nurbaeti di rumahnya di Jalan Cipete Raya No. 39 pada saat sebelum pemilihan DGS BI tanggal 8 Juni 2004 dengan anggota Komisi IX DPR RI antara lain Hamka Yandhu, Paskah Suzetta dan Endin Sofihara. Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Hamka Yandhu - Bahwa saksi tidak tahu dimana rumah Nunun Nurbaeti. Saksi tidak pernah datang ke rumah di Jalan Cipete Raya. - Bahwa saksi tidak pernah datang bersama Endin Sofihara. - Bahwa saksi tidak pernah datang dengan Paskah Suzetta. 122

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Keterangan Paskah Suzetta - Bahwa saksi datang ke rumah Nunun Nurbaeti terakhir tahun 2008, atas undangan Adang Djaradatun; - Bahwa saksi tidak pernah berhubungan dengan Nunun Nurbaeti, tidak akrab dengan Nunun Nurbaeti, tidak ada hubungan bisnis atau apapun juga, hanya berhubungan karena terkait pak Adang sebagai Pembina di Jabar, yang pernah sebagai Kapolda Jabar dan Wakapolri; - Bahwa saksi tidak pernah bertelepon dengan Nunun Nurbaeti apalagi sampai Nunun Nurbaeti memberi perintah untuk saya datang ke rumahnya; - Bahwa tidak pernah ada pertemuan di kediaman Nunun Nurbaeti; 3. Keterangan Endin AJ Soefihara - Bahwa rumah Nunun Nurbaeti di Cipete Raya, terakhir kesana dalam acara masyarakat Jabar, tidak pernah ada pertemuan dengan Paskah, Hamka, Endin dan Miranda Goeltom, dan lainlain; - Bahwa saya tidak pernah bertemu dengan Nunun Nurbaeti dimanapun maupun dengan Miranda Goeltom, menjelang pemilihan DGS BI, dengan Paskah di kediaman Nunun Nurbaeti juga tidak ada; 4. Keterangan Lini Suparni - Waktu Terdakwa datang ke rumah Nunun 2 kali saya tidak tahu dalam rangka apa, yang pertama siang hari sekali setelah jam 12 lalu satu kali lagi malam hari waktu itu ada acara. Kalau yang siang hari tidak ada acara hanya ibu Miranda dengan ibu Nunun tidak ada yang lain. - Waktu itu ibu Miranda datang sendiri ke rumah ibu Nunun; - Saya tidak tahu ibu Miranda pernah melakukan pertemuan di rumah ibu Nunun. Keterangan Terdakwa sebagai berikut: - Saksi pernah datang ke rumah Nunun satu atau dua kali pada saat tarawikh yaitu sekitar bulan Oktober dan Nopember tahun 2004. 123

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

- Saya tidak pernah mengadakan pertemuan dirumah Nunun dengan anggota DPR yang lain, dengan Paskah Suzette, Endin semuanya. - Saya tidak pernah berkunjung ke rumah Nunun di Jalan Cipete antara bulan April sejak saudara Terdakwa di calonkan oleh presiden sampai dengan bulan juni 2004; Dari keterangan saksi Hamka Yandhu, Paskah Suzetta, Endin Sofihara, yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain sehingga merupakan fakta hukum karena telah memenuhi 2 alat bukti yang sah. Bahwa fakta hukum tersebut diatas bertentangan dengan Keterangan Nunun Nurbaeti: - Ada pertemuan dirumah saya, saya lupa tanggalnya tahun 2004 ada ibu Miranda Goeltom ada Pak Endin ada Hamka Yandhu ada Paskah Suzetta; - Pertemuan di Cipete antara Miranda Gultom, Paskah Suzetta, Endin Sofihara dan Hamka Yandhu itu dilakukan pada siang hari setelah jam 10. - Dalam rangka agar membantu agar supaya ibu Miranda Goeltom menjadi DGS BI dalam fit & Proper test; adalah keterangan yang berdiri sendiri dan tidak bersesuaian dengan alat bukti lain dalam persidangan sebagaimana diatur dalam Pasal 185 ayat (2) KUHAP yang berbunyi “keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa Terdakwa bersalah terhadap Perbuatan Terdakwa yang didakwakan kepadanya”, dan karena tidak terdapat alat bukti lain yang sah yang dapat menguatkan pendapat Nunun Nurbaeti tersebut, maka keterangan tersebut tidak dapat dijadikan sebagai fakta hukum.

124

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Dalam tuntutannya pada halaman 147 Surat Tuntutan mengemukakan pada pokoknya pertemuan di Jalan Cipete berdasarkan keterangan Nunun Nurbaeti dan Lini Suparni adalah bertentangan dengan fakta yang tergali selama proses pemeriksaan persidangan, dimana Lini Suparni tidak pernah menyatakan Terdakwa bertemu dengan anggota Komisi IX DPR RI, hanya datang 2 kali, siang hari dimana hanya terdapat Nunun Nurbaeti dengan Terdakwa dan pada malam hari yaitu pada saat ada acara ramai-ramai. Oleh karena itu keterangan Lini Suparni tidak mendukung keterangan Nunun Nurbaeti melainkan mendukung fakta hukum mengenai tidak pernah terjadinya pertemuan di Jalan Cipete tersebut. Menurut Nunun Nurbaeti pertemuan dilakukan pada siang hari setelah jam 10, dan hal tersebut tidak sesuai dengan keterangan Lini Suparni, yang menyatakan bahwa pertemuan pada siang hari hanya antara Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti dan tidak terdapat pihak lain dalam hal ini Paskah Suzetta, Endin Sofiha dan Hamka Yandhu. Berdasarkan fakta hukum yang terungkap diatas, maka fakta dalam surat dakwaan Penuntut Umum pada halaman 3, halaman 11, halaman 18, yang pada pokoknya menyatakan “untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya Nunun Nurbaeti bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39C RT 001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DPR RI yaitu Endin AJ Soefihara dari fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar dengan tujuan agar fraksi Golkar mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test calon DGS BI….” tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan.

125

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Bahwa karena pertemuan di rumah Nunun Nurbaeti di Jalan Cipete Raya No. 39 C tidak terbukti maka dakwaan Penuntut Umum yang menyatakan”ini bukan proyek thank you ya” juga tidak terbukti. C. Terdakwa tidak mengundang anggota Fraksi PDIP di Hotel Darmawangsa, dan pada saat pertemuan tersebut Terdakwa tidak pernah meminta dukungan kepada anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi PDIP agar memilih Terdakwa pada saat fit and proper test, atau agar tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa, dan pada pertemuan tersebut Terdakwa tidak pernah menjanjikan akan memberikan hadiah termasuk janji pemberian berupa TC. Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Agus Condro Prayitno - Bahwa pertemuan di Hotel Darmawangsa dengan Terdakwa hanya sekali. Kalau yang saksi dengar sendiri pembicaraannya seputar ramah tamah, perkenalan, pengakraban. Kalau pembicaraan mengenai dukungan dalam artian ketika itu, kami dari Komisi IX fraksi PDI-Perjuangan sudah full nanti akan mendukung untuk memilih yang bersangkutan. Persisnya saksi lupa yang dikatakan Terdakwa, tetapi substansi nya itu Ibu Miranda mengucapkan “terima kasih kalau didukung”. - Bahwa pada waktu pertemuan di Darmawangsa yang disampaikan ramah tamah saja kepada teman-teman. Saya tidak begitu mendengarkan, saya agak jauh, santai-santai tapi substansinya itu ramah tamah tidak dalam rangka fit and proper test, tidak formil atau setengah formil gitu. - Bahwa saya tidak tahu persis siapa yang punya inisiatif pertemuan Darmawangsa (pertemuan di luar gedung khusus dengan orang yang akan dipilih) tetapi saya sebagai anggota Komisi IX dari fraksi PDI-Perjuangan waktu itu diperintahkan oleh Pimpinan fraksi, di undang begitu, untuk hadir ke Hotel Darmawangsa dimana nanti akan diperkenalkan dengan Ibu Miranda Gultom. 126

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Dudhie Makmun Murod - Bahwa rapat di Dharmawangsa diatas 13-15 orang yang hadir, diundang oleh Sekretaris Fraksi Panda Nababan dan Ketua Fraksi Cahyo Kumolo; - Bahwa saya datang 5-10 menit sebelum bubar, saya tidak mendengar percakapan; - Bahwa pertemuan di Dharmawangsa tidak mendengar apa-apa karena sudah mau bubar; 3. Izedrik Emir Moeis - Bahwa pertemuan itu ada di Hotel Darmawangsa; - Bahwa waktu itu Pak Panda mengatakan “untuk jelasnya sebagai orang yang nanti akan bergerak di fit and proper sebaiknya saudara-saudara ketemu secara langsung dengan Ibu Miranda Gultom”; - Bahwa memang ada pertemuan selanjutnya di Hotel Darmawangsa. Saya tahu nya saya dipanggil sama Pak Panda untuk hadir, sepertinya yang mengurusi dari fraksi. Saya tidak tahu siapa yang mengurusi cuma dugaan saya ya karena inisiatif dari fraksi ya fraksi mengurusnya; - Bahwa dalam pertemuan itu yang hadir seluruh anggota Poksi, kemudian ada Pak Panda, Pak Cahyo. - Bahwa tidak ada selentingan mengenai pemberian TC pada saat pertemuan di Hotel Darmawangsa; - Bahwa pada pertemuan di Darmawangsa itu ada klarifikasi salah satu nya mengenai masalah keluarga Terdakwa; - Bahwa pada saat pertemuan di Darmawangsa, Ibu Miranda sempat menyampaikan visi dan misi, target-target makro ekonominya dan juga sistem perbankan dan sedikit tentang fiskal juga disampaikan; Keterangan Terdakwa sebagai berikut: - Pada awalnya hanya diperkenalkan kepada semua yang hadir beberapa diantaranya saya pernah kenal pada waktu saya menjabat sebagai DG BI tahun 1997-2003, beberapa diantaranya saya tidak kenal yaitu mereka-mereka yang bergantian antara waktu, kemudian setelah itu saya di tanyakan kira-kira mau apa sih rencana kamu kalau terpilih di BI, saya menceritakan ringkasan sekitar 5-10 Menit ringkasan 127

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dari visi misi saya yaitu pertama saya ingin agar peranan BI lebih besar lagi didalam perekonomian di Indonesia terutama terkait dengan UKM (usaha kecil menengah) dan kredit-kredit untuk usaha kecil menengah, kemudian yang kedua adalah bagaimana saya ingin agar stabilitas sektor keuangan dan stabilitas sektor moneter itu di synchronize dan yang ketiga adalah peningkatatan Good Governance di BI itu sekitar 10 menit Yang Mulia lalu setelah itu ngobrol-ngorol saja bertanyatanya; - Seingat saya itu inisiatif dari anggota fraksi PDI P di Komisi IX Dari keterangan saksi-saksi yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain. Berdasarkan fakta yang terungkap diatas, maka fakta dalam surat dakwaan Penuntut Umum pada halaman 4, halaman 11, halaman 19, halaman 25, yang pada pokoknya menyatakan “Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui Nunun Nurbaeti, Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari fraksi PDIP ….” tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan. D. Terdakwa tidak pernah meminta dukungan kepada anggota DPR dari fraksi TNI Polri pada saat pertemuan di Graha Niaga (depan Ratu Plaza) agar memilih Terdakwa pada saat fit and proper test, atau agar tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa dan pada pertemuan tersebut Terdakwa tidak pernah menjanjikan akan memberikan hadih atau janji termasuk janji pemberian berupa TC.

128

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Darsup Yusuf - Pernah terjadi pertemuan dengan Miranda Goeltom pada Mei 2004; - Pertemuan adalah inisiatif dari Miranda; - Miranda mengadakan sosialisasi dalam rangka silaturahmi, yang diundang adalah saksi sendiri, Udju DDjuhaeri, Sulis dan Suyitno; - Oleh Terdakwa yang dibicarakan dalam pertemuan adalah sosialisasi untuk silaturahmi, sekitar 30-35 menit; - Pada saat itu Miranda hanya bercerita, tidak ada kesepakatan apapun disitu atau diluar; - Saksi tidak pernah menduga bahwa TC dari Miranda Goeltom, pada pertemuan di Niaga juga tidak ada komitmen; - Bahwa tidak ada permintaan atau harapan dari Miranda agar tidak ditanyakan masalah keluarga, saksi hanya mendengar cerita dari Miranda saja; 2. Keterangan Udju DDjuhaeri - Bahwa pada bulan Mei atau April sebelum pemilihan bertemu Miranda di suatu gedung di depan Ratu Plaza, tidak tahu itu tempat siapa; - Bahwa pada waktu itu bertemu di depan Ratu Plaza, pada saat itu ada pertemuan dengan Terdakwa, penjelasan-penjelasan Miranda banyak yang tidak dipahami; - Bahwa tidak ada permintaan apapun dari Terdakwa; - Pada pertemuan di Niaga juga tidak ada komitmen; 3. Keterangan Suyitno - Pernah dilakukan pertemuan dengan Miranda di sebuah kantor di Jl Sudirman di depan Ratu Plaza, kantor saudara Terdakwa; - Yang dibicarakan dengan Terdakwa adalah tentang masalah perbankan garis besar dan silaturahmi perkenalan; - Miranda tidak pernah menyampaikan untuk tidak menanyakan masalah keluarga; - Miranda tidak minta agar tidak menanyakan masalah keluarga kepada saksi,hanya penangkapan saksi;

129

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

- Bahwa tidak ada permintaan dukungan dari Miranda dan Fraksi TNI juga tidak memberikan komitmen mendukung siapapun; Keterangan Terdakwa sebagai berikut: - Kemudian Betul Yang Mulia di kantor saya di gedung Graha Niaga jalan Jendral Sudirman; - Seingat saya pertemuan saya dengan fraksi ABRI itu setelah pertemuan saya dengan fraksi PDI P tempatnya di kantor saya di jalan Jendral Sudirman; - Pada saat itu kesempatan saya juga untuk menerangkan bahwa saya pada saat itu bukan menggangur saya mengajar saya menjadi komisaris utama dari Rabo Bank International kemudian saya menjadi international counsultan dari ABN AMRO di Netherland di Belanda sehingga saya merasa perlu itu inisiatif saya Yang Mulia pada waktu di Niaga; - Tidak ada berbicara mengenai memilih siapa tidak memilih siapa; - Didalam pertemuan di Niaga saya tidak pernah meminta untuk tidak ditanyakan mengenai masalah keluarga. Dari keterangan saksi-saksi yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain sehingga menjadi fakta hukum. Berdasarkan fakta yang terungkap diatas, maka fakta dalam surat dakwaan Penuntut Umum pada halaman 4, halaman 12, halaman 19, halaman 25 yang pada pokoknya menyatakan “Terdakwa selain itu juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar pada fit and 130

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa, ....” tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan. Bahwa meskipun Terdakwa mengundang Fraksi TNI/Polri di kantor Terdakwa di Gedung Niaga namun dalam pertemuan tersebut tidak ada permintaan Terdakwa untuk dipilih dalam pemilihan DGS BI tahun 2004. Udju Djuhaeri dari Fraksi TNI/Polri yang hadir dalam pertemuan tersebut dalam keterangannya di persidangan menyatakan tidak memilih Terdakwa dan yang bersangkutan ikut menerima TC dan telah dijatuhi pidana. Berdasarkan poin A, B, C dan D tersebut diatas, maka fakta dalam dakwaan pada halaman 13 yang menyatakan : “…. Fraksi-fraksi besar yaitu Golkar, PDI-P ditambah dari fraksi TNI Polri tidak lagi mempersolakan integritas moral Terdakwa khusus yang berhubungan dengan masalah pribadi, yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang Terdakwa minta kepada fraksi-fraksi tersebut diatas ataupun yang diminta melalui Nunun Nurbaeti sebelumnya” adalah tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan oleh karena itu harus diabaikan. E. Pertemuan antara Terdakwa dengan Anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 di luar gedung DPR RI baik di Hotel Darmawangsa maupun di Gedung Niaga tidak bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku dan tidak bertentangan dengan undang-undang.

131

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Izedrik Emir Moeis - Bahwa pertemuan-pertemuan di luar Gedung DPR itu biasa, tidak dilarang. 2. Keterangan Tjahyo Kumolo - Bahwa saksi menjadi Ketua Fraksi mulai tahun 2003 sampai 2012 jadi sudah 8 tahun, tidak ada aturan dari DPR resmi sebagai lembaga yang melarang anggota DPR atau fraksi untuk bertemu dengan orang yang akan diputuskan dalam proses pengambilan keputusan politik di DPR. Keterangan Ahli sebagai berikut: 1. Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa ahli dalam bidang Hukum Tata Negara - Pertemuan di luar gedung DPR antara DPR dengan calon Deputi Senior Gubernur BI dalam rangka persiapan fit & proper test, tidak dilarang. Hal ini baik dari segi kewajiban DPR maupun dari segi kewajiban calonnya; - Hak setiap orang untuk bertemu itu dijamin oleh UU HAM. - UU 28 Tahun 1999 tidak melarang orang untuk bertemu. 2. Prof. Burhanuddin Zabir Magenda, MA, PhD ahli dalam bidang Ilmu Politik - Pada prakteknya, fraksi-fraksi/poksi-poksi DPR dapat bertemu dengan calon-calon, dan sebaliknya. Dan dari segi ilmu politik, hal itu sah-sah saja; - Tujuan dari pertemuan tersebut adalah agar visi dan misi bisa dijelaskan; - Pertemuan tersebut sah-sah saja untuk dilakukan di luar gedung DPR. Dari keterangan saksi-saksi yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain sehingga menjadi fakta hukum. 132

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

F. Terdakwa tidak pernah menjanjikan untuk memberikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI baik melalui Nunun Nurbaeti maupun orang lain sehubungan dengan pemilihan DGS BI 2004. Fakta tersebut diatas diperoleh dari keterangan saksi sebagai berikut: 1. Keterangan Agus Condro Prayitno - Bahwa saya ketika menerima TC, itu feeling saya ada hubungan karena dikaitkan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Tjahyo Kumolo di rapat Poksi tetapi saya tidak punya pikiran itu duit dari mana, sumbernya dari mana, pikiran saya waktu itu “wong duit itu yang memberikan adalah Pimpinan Fraksi”. Pak Dudi Makmun Murod itu kan Pimpinan fraksi saya, dia bendahara fraksi. Kemudian Pak Emir Muis juga salah satu pimpinan fraksi sekaligus merangkap sebagai ketua poksi. Saya percaya saja, begitu menerima “ooh… ini duit dari fraksi”. Fraksi itu duitnya dari mana, itu saya tidak terlalu banyak berpikir waktu itu. 2. Keterangan Hamka Yandhu - Bahwa saya pernah menerima TC. Saya menerimanya waktu itu pada saat sesudah acara voting pemilihan Deputi Gubernur; - Bahwa saya yang membagi-bagikan amplop itu, karena ada namanya, saya membagikan begitu saja. Saya tidak menanyakan uang apa ini kepada Ari Malangjudo. - Bahwa pada saat saya menerima TC, saya belum mengetahui kalau TC itu ada kaitannya dengan pemilihan DGS BI. 3. Keterangan Darsup Yusuf - Saksi menerima TC dari Arie Malangjudo di Jalan Riau No. 17, diterima tanggal 8 Juni 2004, pemilihan dilakukan pada tanggal yang sama, antara jam 17.00-17.30; - Menerima TC sebanyak 10 lembar dengan nilai @ Rp 50 juta, amplop besar diterima Udju, dan isinya dibagikan, pada amplop tidak ada nama, masing-masing mendapat Rp 500 juta; - Uang tidak ada hubungan dengan pemilihan DGS BI, tidak tahu maksud uang itu; 133

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

4. Keterangan Udju Djuhaeri - Bahwa saksi menerima TC dari Arie Malangjudo di Jalan Riau no 17, diterima tanggal 8 Juni 2004, pemilihan dilakukan pada tanggal yang sama, antara jam 17.00-17.30; - Bahwa sampai saat ini tidak tahu kaitannya TC dengan Miranda; - Bahwa saksi tidak menduga apakah TC berkaitan dengan memilih Miranda; 5. Keterangan Suyitno - Tidak menduga bahwa TC berkaitan dengan pemilihan DGS, waktu itu tidak bertanya atau mencari juga; - Tidak tahu TC ada hubungan dengan pemilihan DGS BI; 6. Keterangan Endin Soefihara - Bahwa Ari Malangjudo yang meminta bertemu dengan saksi, di Century, tidak ada pembicaraan apa-apa, Arie ada menyerahkan sesuatu pada saat itu; - Bahwa yang untuk saksi berisi TC, 10 lembar, masing-masing Rp 50.000.000,-, tidak tahu dalam rangka apa; - Bahwa penerimaan TC itu tidak tahu ada keterkaitan atau tidak dengan pemilihan DGS BI; 7. Keterangan Dudhie Makmun Murod - Bahwa saksi menerima sesuatu dari Arie, tapi tidak tahu untuk apa, sebanyak 10 lembar TC di Bebek Bali; - Bahwa saksi dihubungi Panda Nababan, diminta menghubungi Arie Malangjudo, bertemu dengan Arie Malangjudo, Arie Malangjudo serahkan amplop berisi amplop lagi berisi amplop berisi nama-nama anggota Fraksi PDIP; - Bahwa penerimaan uang diyakini tidak terkait dengan pemilihan DGS; 8. Keterangan Nunun Nurbaeti - Saya tidak mengetahui mengenai Travel Cheque; - Saya tidak pernah memerintahkan kepada Arie Malangjudo untuk memberikan sesuatu kepada Endin maupun Dudi; - Saya tidak pernah terima Travel cheque; 134

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

9. Keterangan Ari Malangjudo - Benar saya pernah diperintah oleh Nunun Nurbaeti untuk mengantarkan beberapa bungkus katakanlah semacam tas yang berisi TC kepada anggota DPR; 10. Keterangan Izedrik Emir Moeis - Bahwa saya tidak tahu asal TC dari mana. Saya juga tidak tahu apakah ada untuk fraksi lain; Keterangan Terdakwa sebagai berikut: - Saudara Terdakwa apakah saudara mengetahui ada tentang TC pemberian anggota DPR RI? Tidak Yang Mulia Dari keterangan saksi-saksi yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan tersebut saling bersesuaian satu sama lain sehingga menjadi fakta hukum. Bahwa dalam Surat Tuntutan Penuntut Umum pada halaman 154 yang menyatakan: “Izedrik Emir Moeis yang menduga pemberian TC BII tersebut berasal dari Terdakwa berkaitan dengan fit and proper test DGS BI karena waktu Dudhie Makmun Murod menyerahkan TC BII sambil mengatakan “sebagai upah capek atas kegiatan kemarin” Bahwa keterangan saksi Izedrik Emir Moeis bahwa TC tersebut berasal dari Terdakwa merupakan dugaan dan rekaan dari Izedrik Emir Moeis sendiri, karena Dudhie Makmun Murod menyatakan bahwa TC tersebut sebagai upah capek atas kegiatan kemarin. Keterangan tersebut tidak dapat dijadikan fakta hukum untuk menyatakan bahwa TC tersebut berasal dari Terdakwa karena bukanlah keterangan yang bersumber dari hal yang dilihat, didengar dan dialami sendiri, sesuai dengan ketentuan Pasal 185 ayat (5) KUHAP yang berbunyi “baik pendapat 135

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

maupun rekaan yang diperoleh dari hasil pemikiran saja bukan merupakan keterangan saksi”, maka keterangan Izedrik Emir Moeis tersebut harus diabaikan dan tidak dapat dipertimbangkan sebagai alat bukti yang sah. Bahwa dalam surat tuntutan Penuntut Umum halaman 132 Surat Tuntutan menyatakan “bahwa sesuai keterangan Agus Condro, dalam rapat intern PDIP Cahyo Kumolo pernah menyampaikan untuk memilih Terdakwa dalam Pemilihan DGS BI tahun 2004, Terdakwa bersedia memberikan uang perorang sebesar Rp. 300 juta tapi kalau diminta Rp. 500 juta Terdakwa tidak keberatan…” Bahwa fakta yang dikemukakan oleh Penuntut Umum tersebut menyesatkan, karena keterangan “Terdakwa bersedia memberikan uang perorang sebesar Rp. 300 juta tapi kalau diminta Rp. 500 juta Terdakwa tidak keberatan” hanya berdasarkan keterangan dari Agus Condro, yang kemudian dibantah oleh keterangan saksi Izedrik Emir Moeis yang menyatakan: “… saya biasanya bawa rekaman dan saya rekam, tetapi karena sudah lama jadi ganti dengan yang lain, semua pembicaraan saya tahu apa yang dibicarakan, saya ingat pembicaraannya, dan Pak Tjahjo itu pasif orangnya. Tidak ada pernyataan dari Tjahjo Kumolo tentang Miranda bersedia memberikan 300 juta, 500 juta kalau diminta. Saya kan alert sekali, kalau itu sempat disebut Pak Tjahjo, tentu akan berkembang didalam pertemuan tersebut. Benar-benar tidak ada”. Keterangan dari Izedrik Emir Moeis tersebut bersesuaian dengan keterangan Tjahjo Kumolo pada saat persidangan yang menyatakan “tidak pernah mengucapkan kata-kata “Miranda bersedia

136

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

memberikan 300 juta, 500 juta kalau diminta, baik juga dalam bentuk formulasi lain”. Berdasarkan fakta tersebut diatas, maka keterangan Izedrik Emir Moeis bersesuaian dengan keterangan Tjahyo Kumolo, oleh karenanya merupakan fakta hukum, sedangkan keterangan Agus Condro Prayitno hanya berdiri sendiri dan tidak bersesuaian keterangan saksi lainnya oleh karena itu keterangan tersebut harus diabaikan dan tidak dapat dijadikan sebagai fakta hukum. Berdasarkan fakta yang terungkap diatas, maka fakta dalam surat dakwaan Penuntut Umum pada halaman 9, halaman 16, halaman 23, halaman 29 yang pada pokoknya menyatakan “Terdakwa mengetahui pemberian TC BII senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI tersebut karena para anggota Komisi IX DPR RI dalam fit and proper test dalam rangka pemilihan DGS BI tahun 2004 telah memilih Terdakwa, ...” tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan. G. Tidak pernah ada pertemuan antara Nunun Nurbaeti dengan Paskah Suzetta dan Hamka Yandhu di D’Lounge dan Hotel Mulia yang membicarakan permintaan dukungan dari Fraksi Golkar untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test DGS BI tahun 2004. 1. Keterangan Nunun Nurbaeti - Dalam pertemuan di café D’Longue tidak pernah ada saya meminta kepada pak Paskah agar fraksi Golkar membantu Terdakwa dalam pemilihan DGS BI yang saya ingat pertemuan dengan pak Paskah di D’Lounge setelah pemilihan DGS BI;

137

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Keterangan Paskah Suzetta - Bahwa pertemuan Sunda di D’Lounge ataupun di Hotel Mulia saya tidak pernah hadir, hanya hadir pada halal bihalal masyarakat sunda tahun 2006, ketemu di D’Lounge Jalan Gunawarman akhir 2005 membicarakan membentuk paguyuban sunda. Pertemuan pertama dengan Nunun Nurbaeti di Mercantile tahun 2001, pada zaman Presiden Gus Dur, diundang bukan oleh Nunun Nurbaeti tapi Adang Darajatun; - Bahwa saya hadir di D’lounge pada akhir 2005 diakhir menjadi menteri, sekaligus mengucapkan selamat kepada saya; 3. Keterangan Hamka Yandhu - Bahwa pernah ada pertemuan dengan Ibu Nunun. Pada waktu itu ada acara breakfast untuk pertemuan dengan orang-orang Sunda di Hotel Mulia. Saya tidak mendengar apa yang dibicarakan, saya hanya hadir waktu itu. - Bahwa saksi ataupun teman-teman saksi tidak pernah melakukan pertemuan sebelum pemilihan dengan Terdakwa. Dengan calon yang lain juga tidak pernah melakukan pertemuan; - Bahwa saya bertemu dengan Nunun Nurbaeti 2 kali, yang pertama di Hotel Mulia yang kedua di D’Lounge, karena waktu itu menjelang halalbilhalal. Yang di D’Lounge itu sebelum fit and proper test. - Bahwa saksi tidak mendengar Nunun Nurbaeti pada saat pertemuan masyarakat sunda di Hotel Mulia meminta kepada Paskah Suzetta agar Golkar di Komisi IX mendukung atau memilih Terdakwa dalam fit and proper test Deputi Gubernur Senior BI. Dari keterangan saksi Nunun Nurbaeti, Hamka Yandhu dan saksi Paskah Suzetta yang dikemukakan dalam pemeriksaan di persidangan, dimana keterangan saksi berdiri sendiri-sendiri namun dapat diambil kesimpulan bahwa tidak ada pembicaraan permintaan dukungan dari Fraksi Golkar untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test DG S BI tahun 2004.

138

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Berdasarkan fakta yang terungkap diatas, maka dakwaan Penuntut Umum pada halaman 4, halaman 11, halaman 12, yang pada pokoknya menyatakan “Menindaklanjuti pembicaraan Nunun Nurbaeti dengan Paskah Suzetta di Hotel Mulia Coffee Shop, Nunun Nurbaeti, Paskah Suzetta dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di Café D’Lounge Jl. Gunawarman Jakarta Selatan, yang mana dalam pertemuan tersebut Nunun Nurbaeti meminta kembali kepada Paskah Suzetta agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan DGS BI 2004 …” tidak terbukti sama sekali di muka persidangan. Dari uraian fakta persidangan tersebut diatas, maka Penuntut Umum jelas tidak dapat membuktikan bagaimana Terdakwa melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum sendiri. Dari awal persidangan sebagaimana Eksepsi kami terdahulu, Penuntut Umum telah tidak hati-hati dalam melakukan penuntutan terhadap Terdakwa yang terkesan dipaksakan, bahkan telah menggunakan pasal yang telah Daluarsa masa penuntutan nya. Fakta lain yang menunjukkan kurangnya bukti untuk mendakwa kasus a quo dapat dibuktikan dari tindakan Penuntut Umum dengan menghadirkan saksi Arief Budi Raharjo selaku Penyelidik pada KPK yang pernah memeriksa Hamka Yandhu ke muka persidangan dan ternyata kehadiran saksi Arief Budi Raharjo telah ditolak oleh Majelis Hakim untuk memberikan kesaksian hanya mendengar dari orang lain (de auditu) sehingga kesaksian yang bersangkutan tidak memiliki klasifikasi sebagai saksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 butir 26 KUHAP yaitu orang yang mendengar sendiri, melihat sendiri, dan mengalami sendiri suatu peristiwa hukum. 139

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tindakan Penuntut Umum tersebut menunjukkan bahwa Penuntut Umum tidak memiliki bukti yang cukup untuk mendakwa Terdakwa, dan dengan segala upaya telah berusaha untuk melakukan tindakan unlawful gathering evidence/illegally acquired evidence dalam menyusun dakwaannya dengan menjadikan orang yang tidak memiliki kapasitas sebagai saksi menjadi saksi. Menurut Herbert L. Packer dalam bukunya berjudul The Model in Operation: From Arrest to Charge, Stanford University Press, California, 1968, halaman 195-196 pada pokoknya menyatakan bahwa illegally acquired evidence (perolehan bukti secara tidak sah) adalah tidak patut dijadikan sebagai bukti di pengadilan. Bahwa dengan ditolaknya keberadaan saksi Arief Budi Raharjo yang telah memeriksa Hamka Yandhu dalam bentuk Berita Acara Permintaan Keterangan di muka persidangan a quo, telah membawa konsekuensi terhadap dakwaan yang dikemukakan oleh Penuntut Umum. Berita Acara Permintaan Keterangan yang dilakukan oleh Arif Budi Raharjo selaku Penyelidik pada KPK terhadap saksi Hamka Yandhu yang dijadikan sebagai dasar penyusunan dakwaan menjadi tidak bernilai dan harus diabaikan. Selain fakta di atas, fakta lain dalam dakwaan yang tidak terbukti dalam proses pemeriksaan di persidangan antara lain adalah: Dakwaan halaman 12, ….. menyatakan: “sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan DPR-RI Komisi IX tepatnya pada tanggal 7 Juni 2004, setelah Nunun Nurbaeti menerima sejumlah TC atas sepengetahuan Terdakwa,……” 140

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Bahwa selama dalam proses pemeriksaan di Persidangan tidak terdapat bukti yang menyatakan Terdakwa mengetahui Nunun Nurbaeti menerima TC, bahkan siapa yang memberikan TC kepada Nunun Nurbaeti tidak pernah terungkap dalam pemeriksaan perkara a quo hal tersebut didukung dengan keterangan Nunun Nurbaeti yang menyatakan: - Saya tidak mengetahui mengenai Travel Cheque; - Pada saat pertemuan Terdakwa tidak pernah menyampaikan kepada saya untuk pesan menyerahkan TC kepada para anggota Komisis IX DPR RI. Dari seluruh dakwaan tersebut diatas, maka fakta-fakta dalam rangkaian uraian perbuatan sebagai berikut: 1. Uraian “…., Terdakwa melakukan pertemuan dengan Nunun Nurbaeti, dimana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Nunun Nurbaeti untuk dikenalkan kepada teman-teman Nunun Nurbaeti yang menjadi anggota Komisi IX DPR RI guna mencari dukungan atas pencalonan Terdakwa dalam pelaksanaan pemilihan DGS BI, yang mana Nunun Nurbaeti menyetujui permintaan Terdakwa” pada halaman 3, halaman 11, halaman 18, halaman 25 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 2. Uraian “untuk memenuhi permintaan Terdakwa, selanjutnya Nunun Nurbaeti bertempat di rumahnya Jalan Cipete Raya No. 39C RT 001/004, Kelurahan Cipete, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan memfasilitasi pertemuan antara Terdakwa dengan anggota Komisi IX DPR RI yaitu Endin AJ Soefihara dari fraksi PPP, Hamka Yandhu dan Paskah Suzetta masing-masing dari fraksi Golkar dengan tujuan agar fraksi Golkar 141

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

mendukung untuk memilih Terdakwa dalam fit and proper test calon DGS BI….” pada halaman 3, halaman 11, halaman 18 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 3. Uraian “Terdakwa yang mengetahui bahwa dukungan dari anggota Komisi IX bukanlah proyek thank you, selain meminta dukungan kepada anggota DPR Komisi IX melalui Nunun Nurbaeti, Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari fraksi PDIP yang dihadiri beberapa anggota Komisi IX dari fraksi PDIP diantaranya Dudhie Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan yang lainnya, untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel Darmawangsa Jakarta atas biaya dari Terdakwa, yang mana dalam pertemuan tersebut Terdakwa memperkenalkan dirinya sebagai salah satu calon yang akan mengikuti fit and proper test pemilihan DGS BI tahun 2004” pada halaman 4, halaman 11, halaman 19, halaman 25 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 4. Uraian “Terdakwa selain itu juga mengundang Fraksi TNI/Polri pada Komisi IX DPR RI (Udju Djuaheri, Darsup Yusuf, R Sulistyadi dan Suyitno) untuk melakukan pertemuan di kantor Terdakwa di Gedung Bank Niaga Jalan Sudirman Jakarta Selatan, yang mana dalam pertemuan itu Terdakwa meminta agar pada fir and proper test pemilihan DGS BI 2004 para anggota dari Fraksi TNI/Polri tidak menanyakan masalah pribadi Terdakwa yaitu keretakan keluarga Terdakwa, ....” pada halaman 4, halaman 12, halaman 19, halaman 25 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 5. Uraian “…. Terdakwa juga mengundang anggota Komisi IX dari Fraksi PDI-P (Dudhi Makmun Murod, Agus Condro Prayitno, Emir Moeis dan lainnya) untuk melakukan pertemuan khusus di salah satu ruangan di Hotel Darmawangsa Jakarta atas biaya Terdakwa...” pada halaman 4, 142

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

halaman 11, halaman 19, halaman 25 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 6. Uraian “Terdakwa mengetahui pemberian TC BII senilai kurang lebih Rp. 20.850.000.000,- (dua puluh milyar delapan ratus lima puluh juta rupiah) oleh Nunun Nurbaeti kepada para anggota Komisi IX DPR RI tersebut karena para anggota Komisi IX DPR RI dalam fit and proper test dalam rangka pemilihan DGS BI tahun 2004 telah memilih Terdakwa, ...” pada halaman halaman 9, halaman 16, halaman 23, halaman 29 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 7. Uraian “Menindaklanjuti pembicaraan Nunun Nurbaeti dengan Paskah Suzetta di Hotel Mulia Coffee Shop, Nunun Nurbaeti, Paskah Suzetta dan Hamka Yandhu melakukan pertemuan di café D’Lounge Jl. Gunawarman Jakarta Selatan, yang mana dalam pertemuan tersebut Nunun Nurbaeti meminta kembali kepada Paskah Suzetta agar fraksi Golkar mendukung pemilihan Terdakwa dalam pemilihan DGS BI 2004 …” pada halaman 4, halaman 11, halaman halaman 12 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 8. Uraian “…. Fraksi-fraksi besar yaitu Golkar, PDIP ditambah dari fraksi TNI Polri tidak lagi mempersolakan integritas moral Terdakwa khusus yang berhubungan dengan masalah pribadi, yaitu keretakan keluarga Terdakwa sebagaimana yang Terdakwa minta kepada fraksi-fraksi tersebut diatas ataupun yang diminta melalui Nunun Nurbaeti sebelumnya” pada halaman 13 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan. 9. Uraian sehari sebelum Terdakwa menjalani fit and proper test calon DGS BI di hadapan DPR-RI Komisi IX tepatnya padda tanggal 7 Juni 200, setelah Nunun Nurbaeti menerima sejumlah Travellers Cheque Bank Internasional Indonesia (TC BII) atas sepengetahuan Terdakwa, …… 143

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

pada halaman 12 surat dakwaan TIDAK TERBUKTI secara sah dan meyakinkan.

144

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

BAB V ANALISA YURIDIS Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Setelah melakukan kajian dan analisa terhadap fakta-fakta pada bab sebelumnya, dimana kemudian diketahui fakta mana yang benar-benar fakta hukum dan fakta mana yang tidak memenuhi syarat digunakan sebagai fakta hukum dengan membandingkannya dengan tindakan yang dikemukakan oleh Penuntut Umum dalam uraian dakwaanya, maka kami akan melakukan analisa yuridis atas fakta-fakta hukum yang terbukti selama proses pemeriksaan dipersidangan sebagai berikut: Bahwa Terdakwa telah didakwa melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana diuraikan dalam surat dakwaan yang disusun secara alternatif, dimana Penuntut Umum mendakwa Terdakwa dengan dugaan telah melakukan tindak pidana korupsi yaitu melanggar ketentuan sebagai berikut: Pertama : Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-undangNo. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undangundang No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undangundang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. ATAU Kedua : Pasal 5 ayat (1) huruf b Undang-undangNo. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang145

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undangundang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHP. ATAU Ketiga : Pasal 13 Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. ATAU Keempat : Pasal 13 Undang-undangNo. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Undang-undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke 2 KUHP. Bahwa adapun pokok dakwaan yang diajukan oleh Penuntut Umum adalah:  Bahwa Terdakwa baik secara bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti telah melakukan pemberian sesuatu kepada anggota Komisi IX DPR RI Periode 2004-2009 agar melakukan sesuatu yang bertentangan dengan jabatannya selaku anggota Komisi IX DPR RI atau memberikan janji atau sesuatu kepada anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut.

146

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Bahwa Terdakwa dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganjurkan Nunun Nurbaeti melakukan pemberian sesuatu kepada anggota Komisi IX DPR RI periode 20042009 agar melakukan sesuatu yang bertentangan dengan jabatannya selaku anggota Komisi IX DPR RI atau memberikan janji atau sesuatu kepada anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut. Bahwa berdasarkan pokok dakwaan tersebut diatas, maka untuk membuktikan terpenuhinya ketentuan yang didakwakan, maka harus dibuktikan unsur-unsur inti delik sebagai berikut: Bahwa dalam tuntutannya, Penuntut Umum telah menuntut

Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan Pertama. Adapun unsur-unsur dakwaan Pertama adalah sebagai berikut: 1. Unsur “setiap orang”; Bahwa atas pendapat Penuntut Umum yang menyatakan unsur “setiap orang” telah terpenuhi dan terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum, dalam setiap penjabaran unsur-unsur dari pasal-pasal yang didakwakan terhadap diri Terdakwa dalam tuntutannya adalah tidak tepat. Karena unsur “setiap orang” adalah merupakan element delict dan bukan bestandeel delict yang harus dibuktikan. 147

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Bahwa unsur “setiap orang” tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan selanjutnya, yaitu apakah perbuatan yang didakwakan tersebut memenuhi unsur tindak pidana atau tidak. Jika unsur lainnya terpenuhi barulah unsur “setiap orang” dapat dinyatakan terpenuhi atau terbukti. Dengan demikian, pembuktian serta penjabaran terhadap unsur-unsur tindak pidana tersebut haruslah dimulai dengan pembahasan terhadap unsur-unsur ke-2, ke-3, ke-4, dan seterusnya, baru kemudian dapat dilihat apakah unsur ke-1 “setiap orang” terbukti atau tidak. Jadi bukanlah seperti pembahasan yang dilakukan oleh Penuntut Umum dalam surat tuntutannya dimana seolah-olah Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D telah dianggap bersalah atas perbuatan yang dilakukannya, bahkan sebelum perbuatan tersebut terbukti memenuhi rumusan delik sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum (straftbaarfeiten). Bahwa karena dalam pembahasan unsur selanjutnya unsur-unsur yang didakwakan kepada Terdakwa tidak terbukti, maka dengan sendirinya unsur “setiap orang” juga tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. 2. Unsur “memberi sesuatu”; Memberikan sesuatu pemberian berarti bahwa tindakan memberikan terjadi sebelum atau sementara (ketika) pegawai negeri itu menyeleweng. Sedangkan memberikan janji berarti, tindakan tersebut masih akan ada kelanjutan dari janji itu. Namun delik sudah dipandang sempurna, pada saat si petindak sudah memberikan pemberian atau janji itu baik secara langsung maupun melalui seseorang perantara

148

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

kepada pegawai tersebut kendati pegawai tersebut tidak mau menerimanya. (S.R. Sianturi, Tindak Pidana di Luar KUHP, halaman 76). Oleh karena Pasal 5 ayat (1) huruf a yang berasal dari Pasal 209 ayat (1) angka 1 KUHP adalah pasangan dari Pasal 12 huruf a yang berasal dari Pasal 419 angka 1 KUHP, maka dengan sendirinya yang dimaksud dengan “sesuatu” dalam Pasal 5 ayat (1) huruf a adalah “hadiah”. Yang dimaksud dengan “hadiah” menurut Putusan Hoge Raad tanggal 25 April 1916 adalah segala sesuatu yang mempunyai arti. (R. Wiyono, SH, Pembahasan Undang-undangPemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, halaman 58-59) Bahwa berdasarkan hasil pembuktian dipersidangan diperoleh faktafakta hukum sebagai berikut:  Bahwa Ari Malangjudo pada tanggal 8 Juni 2004 telah membagikan Traveller Cheque (TC) kepada anggota DPR RI antara lain, kepada Dudi Makmun Murod di Restoran Bebek Bali pada siang hari, kepada Endin Sofihara di Hotel Century setelah Ari Malangjudo memberikan paper bag kepada Dudi Makmun Murod, yaitu sekitar jam 2 siang, kemudian Hamka Yandhu dan Udju Djuhaeri, Darsup Yusuf, Sulistyadi dan Suyitno datang ke Jalan Riau No. 17 Menteng yang diterima oleh Ari Malangjudo.  Bahwa Ari Malangjudo tidak mengetahui maksud pemberian TC tersebut kepada para anggota Komisi IX DPR RI, melainkan atas perintah dari Nunun Nurbaeti, dan Ari Malangjudo tidak pernah diperintah oleh Terdakwa.  Bahwa anggota Komisi IX DPR RI pada saat menerima TC tersebut tidak mengetahui hubungan antara pemberian TC dengan pemilihan DGS BI 2004. Bahwa berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas, maka pihak yang memberikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI adalah Arie 149

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Malangjudo atas perintah dari Nunun Nurbaeti. Dalam peristiwa pemberian TC dimaksud Terdakwa sama sekali tidak mengetahui. Fakta tersebut diatas berkesesuaian dengan keterangan Nunun Nurbaeti yang pada pokoknya menyatakan tidak pernah mendapat perintah dari Terdakwa untuk membagikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI. Bahwa sesuai dengan fakta hukum yang memberikan TC adalah Arie Malangjudo bukan Terdakwa, maka dengan sendirinya unsur memberi sesuatu menjadi tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

3. Unsur “kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara”; Bahwa kami tidak akan menguraikan secara mendetail mengenai kualifikasi dari Pegawai Negeri dan Penyelenggara Negara seperti yang telah dikemukakan oleh Penuntut Umum. Permasalahan sesungguhnya adalah bukan pada apakah anggota Dewan tersebut memenuhi kualifikasi Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara, akan tetapi apakah TC yang diterima oleh anggota Komisi IX DPR RI tersebut berasal dari Terdakwa. Bahwa dari unsur sebelumnya, mengenai unsur memberikan sesuatu telah kami uraikan bahwa yang memberi adalah Ari Malangjudo atau Ari Malangjudo atas perintah Nunun Nurbaeti dan bukan dilakukan oleh Terdakwa, sehingga unsur memberi sesuatu tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Karena unsur memberi sesuatu tersebut tidak terbukti dalam diri Terdakwa, maka unsur kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan sendirinya menjadi tidak terbukti.

150

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

4. Unsur

“karena

atau

berhubungan

dengan

sesuatu

yang

bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatan” Menurut R. Wiyono, dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b, pelaku tindak pidana korupsi memberikan sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara tersebut telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya. (R. Wiyono, Pembahasan Undang-undangPemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2008, halaman 63). Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, maka dasar pemberian sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara tersebut adalah karena Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya terlebih dahulu. Hal inilah yang membedakannya dengan ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor yang mengatur pemberian sesuatu tersebut untuk tujuan agar Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya, yaitu diawali dengan pemberian yang mengakibatkan Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya. Berdasarkan konstruksi ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor tersebut diatas, maka Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara yang menerima sesuatu tersebut, telah melakukan 2 jenis perbuatan melawan hukum, yaitu: 1) tindakan melakukan sesuatu yang 151

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

bertentangan dengan kewajibannya dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya pada saat sebelum menerima sesuatu dan; 2) tindakan menerima sesuatu yang dilarang dalam jabatan dan kedudukannya. Adapun konstruksi ketentuan Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor dapat dilihat dalam skema berikut:
Skema tindak pidana voltooid sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat 1 huruf b UU Tipikor.

ta
Pemberi Sesuatu 1
Memiliki maksud agar dengan pemberian tersebut Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya

Pegawai Negeri/Penyelenggara Negara
Tindakan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya.

Pemberi Sesuatu

3

2
Tindakan Memberikan sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara

4

Tindakan Menerima Sesuatu

Berdasarkan konstruksi Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor tersebut diatas, maka apabila dihubungkan dengan fakta hukum yang diperoleh selama pemeriksaan di persidangan sebagai berikut: a. Bahwa Terdakwa dalam pertemuan dengan para anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan di Hotel Dharmawangsa maupun dari Fraksi TNI/Polri di Graha Niaga, tidak pernah meminta kepada anggota Komisi IX DPR RI tersebut untuk memilih Terdakwa pada saat pemilihan DGS BI 2004 dimana Terdakwa sebagai salah satu

152

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

calon, termasuk menjanjikan akan memberikan sesuatu apabila para anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 memilih Terdakwa. b. Pemilihan Terdakwa oleh anggota Komisi IX DPR RI berdasarkan instruksi dari fraksi untuk memilih Terdakwa, karena dinilai lebih berpengalaman dan kompeten untuk menempati posisi sebagai DGS BI. c. Bagi anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi PPP yang tidak memilih Terdakwa dikarenakan adanya alasan diluar profesionalitas yang menjadi pandangan partai. d. Pemilihan DGS BI dilakukan pada tanggal 8 Juni 2004, mulai dari siang hari sampai dengan malam hari. e. Para anggota Komisi IX DPR RI menerima TC setelah dilakukan voting pemilihan DGS BI tahun 2004. f. Para anggota Komisi IX DPR RI pada saat menerima TC tersebut tidak pernah mengira ada hubungannya dengan pemilihan DGS BI tahun 2004. g. Para anggota Komisi IX DPR RI yang tidak memilih Terdakwa juga menerima TC. h. Para anggota Komisi IX DPR RI yang memilih Terdakwa pada saat fit and proper test karena atas perintah fraksi dan menurut penilaian masing-masing anggota, Terdakwa memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih dibanding dengan calon yang lain. Berdasarkan fakta hukum tersebut diatas, maka perlu dilakukan analisa, apakah anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan kewajibannya baik dilakukan maupun tidak dilakukan dalam jabatannya sebelum menerima TC. 153

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tindakan anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009 yang melakukan fit and proper test DGS BI 2004 bukanlah merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya melainkan merupakan pelaksanaan kewajiban yang berasal dari perintah undang-undang, yaitu Pasal 41 UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 3 Tahun 2004 tentang UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang berbunyi: “Gubernur dan Deputi Gubernur Senior diusulkan dan diangkat oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Tindakan-tindakan anggota Komisi IX DPR RI sebelum menerima TC yang ada hubungannya dengan Terdakwa adalah anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP dan Fraksi TNI/Polri mengadakan pertemuan dengan Terdakwa yaitu masing-masing di Hotel Dharmawangsa dan di Kantor Terdakwa di Graha Niaga. Bahwa mengenai boleh tidaknya pertemuan tersebut dilakukan, oleh ahli Prof. Burhanuddin Zabir Magenda MA, PhD telah dinyatakan sebagai hal yang biasa dalam praktek politik di DPR tidak dilarang, kemudian juga oleh ahli Hukum Tata Negara Prof. Dr. I Gde Pantja Astawa, SH, MH menyatakan bahwa pertemuan dengan anggota Dewan oleh calon pejabat publik yang akan dilakukan uji kelayakan dan kepatutan tidak dilarang menurut peraturan perundang-undangan, termasuk Tata Tertib DPR RI. Lebih lanjut dikemukakan, pertemuan di luar Gedung DPR dalam rangka persiapan fit and proper test juga tidak dilarang dengan calon DGS BI, asal tidak terjadi KKN didalam pertemuan tersebut.

154

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Dari penjelasan diatas maka telah jelas bahwa pertemuan dengan Fraksi PDIP dan Fraksi TNI/Polri tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam pertemuan tersebut terdapat suatu tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Bahwa berdasarkan keterangan dari saksi Izedrik Emir Moeis yang bersesuaian dengan keterangan Agus Condro dan Dudhie Makmun Murod dalam pertemuan di Hotel Dharmawangsa adalah untuk mengetahui kapabilitas Terdakwa sebagai calon DGS BI. Pada saat pertemuan tersebut Terdakwa tidak pernah meminta untuk dipilih ataupun meminta untuk ditanyakan masalah internal keluarga, dan yang paling utama dalam pertemuan tersebut tidak pernah terdapat janji dari Terdakwa untuk memberikan sesuatu kepada anggota Komisi IX DPR RI yang hadir pada saat itu. Dari penjelasan mengenai pertemuan tersebut terlihat jelas bahwa pertemuan di Hotel Dharmawangsa tidak bertentangan dengan kewajiban anggota Komisi IX DPR RI baik dilakukan dalam jabatannya maupun tidak dilakukan dalam jabatannya. Kemudian Terdakwa melakukan pertemuan dengan Fraksi TNI/Polri di kantor Terdakwa gedung Graha Niaga. Pertemuan tersebut dilatarbelakangi dari adanya pertemuan di Hotel Dharmawangsa dengan Fraksi PDIP, dimana dalam pertemuan tersebut Terdakwa merasa baik apabila bisa menggali hal-hal apa yang diinginkan oleh anggota Dewan apabila nanti kelak terpilih sebagai DGS BI, pada saat pertemuan tersebut juga Terdakwa dapat mengklarifikasi mengenai

155

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

rumor-rumor menyangkut internal keluarga yang dapat mengarah kepada isu gender dan agama. Karena melihat manfaat dari Pertemuan dengan Fraksi PDIP tersebut kemudian Terdakwa menghubungi semua fraksi akan tetapi yang bersedia dan waktunya tepat adalah Fraksi TNI/Polri. Bahwa fakta tersebut diatas bersesuaian dengan keterangan dari Darsup Yusuf, Suyitno dan Udju Djuhaeri pada saat pemeriksaan di persidangan yang pada pokoknya menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan silaturahmi serta membahas hal-hal yang akan dilakukan oleh Terdakwa apabila terpilih menjadi DGS BI menyangkut masalah moneter. Dalam pertemuan tersebut tidak pernah dibicarakan mengenai permintaan dukungan kepada Fraksi TNI/Polri agar memilih Terdakwa pada saat fit and proper test DGS BI dan Terdakwa juga tidak pernah menyampaikan untuk tidak menanyakan masalah keluarga, serta Terdakwa juga tidak pernah menjanjikan memberikan sesuatu kepada anggota Fraksi TNI/Polri tersebut. Berkaitan penjelasan diatas, maka baik pertemuan maupun isi pertemuan yang dilakukan Terdakwa dengan anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PDIP dan Fraksi TNI/Polri masing-masing di Hotel Dharmawangsa dan Graha Niaga tidak terdapat hal-hal yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menyangkut pemberian hadiah atau janji dalam hubungannya dengan kewajiban Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara, menurut Andi Hamzah, jika seseorang memberi gratifikasi (hadiah atau janji) kepada seorang Pegawai Negeri, supaya Pegawai Negeri itu melakukan kewajibannya dengan baik tidak dapat dipidana. Bagian inti delik 156

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

“supaya Pegawai Negeri itu melalaikan kewajibannya atau berlawanan dengan kewajibannya” tidak terpenuhi. Demikianlah sehingga Arsyad mantan Direktur Keuangan BNI 46 dibebaskan dari dakwaan memberi suap kepada pejabat Polri oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari Selasa tanggal 22 Mei 2007. Pemberian uang kepada pejabat Polri itu atas permintaan pejabat itu sebagai biaya mengejar pembobol BNI 46 Adrian Woworuntu dkk., agar uang BNI bisa kembali. Jika Arsyad memberi uang supaya Polri jangan mengejar pelaku korupsi barulah terpenuhi bagian inti delik tersebut. (Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, Edisi Revisi, Raja Grafindo Perkasa, Jakarta, 2007, halaman 223). Bahwa dalam Surat Tuntutannya, Penuntut Umum pada bagian pembahasan unsur a quo, pada halaman 170-171 menyatakan:
“pertemuan-pertemuan yang dilakukan antara Terdakwa selaku calon DGSBI dengan Para Anggota DPR RI Komisi IX selaku penguji dalam uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper test dalam rangka pemilihan DGS BI sebelum pelaksanaan fit and proper test baik yang difasilitasi oleh Nunun Nurbaeti, pertemuan Terdakwa dengan anggota Fraksi TNI Polri di Kantor Terdakwa dengan permintaan persoalan pribadi tidak ditanyakan, maupun pertemuan dengan fraksi PDIP Komisi IX DPR RI di Hotel Dharmawangsa atas biaya dari Terdakwa, yang ditindaklanjuti dengan adanya perbuatan pemberian TC BII kepada seluruh anggota DPR RI Komisi IX yang melakukan fit and proper test terhadap Terdakwa adalah perwujudan dari perbuatan Kolusi yang merupakan sikap dan perbuatan tidak jujur dengan membuat kesepakatan secara tersembunyi yang diwarnai dengan pemberian TC BII sebagai pelicin agar segala urusan menjadi lancar ataupun permintaannya dikabulkan. Perbuatan yang mencederai objektifitas dalam penyelenggaraan Negara ini bertentangan dengan Pasal 3 dan 5 butir 4 Undang-undangNo. 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, dimana penyelenggaraan Negara harus dilakukan berdasarkan asas keterbukaan dan larangan melakukan perbuatan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Hal ini merupakan rangkaian petunjuk bahwa pemberian sesuatu berupa TC BII oleh Terdakwa bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti melalui Ari Malangjudo kepada anggota Komisi IX DPR RI karena

157

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

anggota Komisi IX DPR RI telah berbuat yang bertentangan dengan kewajibannya terkait upaya pemenangan Terdakwa dalam pemilihan DGS BI”.

Bahwa uraian dalam Surat Tuntutan Penuntut Umum tersebut diatas adalah tendensius dan cenderung melakukan segala upaya, tanpa dapat membuktikan, menghubungkan suatu perbuatan dengan perbuatan lainnya tanpa ukuran yang jelas serta menentukan perbuatan tersebut sebagai perbuatan Kolusi. Tindakan Penuntut Umum yang menyatakan perbuatan yang

bertentangan dengan kewajiban DPR adalah Perbuatan tersebut Kolusi, akan tetapi Penuntut Umum tidak menguraikan perbuatan kolusi yang dimaksud. Pasal 1 ayat (4) Undang-undang Penyelenggaraan Negara Yang Bebas dan Bersih dari KKN menyebutkan:
“Kolusi adalah permufakatan atau kerja sama secara melawan hukum antar-penyelengara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan Pihak Lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau Negara”.

Bahwa dalam penyusunan tuntutan tersebut, terlihat jelas Penuntut Umum hanya mencari-cari alasan yang sebenarnya tidak logis, apabila maksud Penuntut Umum perbuatan yang bertentangan dengan kewenangan anggota DPR RI adalah melakukan kolusi dengan Terdakwa, Penuntut Umum tidak menjelaskan hal apa yang dilakukan secara melawan hukum, dan siapa yang dirugikan dari perbuatan kerjasama tersebut dan berapa kerugianyang timbul. Fakta-fakta yang menyatakan bahwa dalam pertemuan, Terdakwa meminta supaya tidak ditanyakan masalah keluarga kepada anggota Komisi IX DPR RI adalah keliru dan bukanlah merupakan fakta hukum yang terungkap dalam proses pemeriksaan di persidangan. 158

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertemuan maupun isi pertemuan antara Terdakwa dan anggota Komisi IX DPR RI tidak terdapat hal-hal yang bersifat Kolusi, Korupsi atau Nepotisme. Pertemuan tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangudangan yang berlaku, oleh karena tindakan tersebut bukanlah perbuatan yang melawan hukum. Penuntut Umum juga menyatakan perbuatan tersebut mencederai objektifitas dalam Penyelenggaraan Negara. Lagi-lagi Penuntut Umum mengemukakan pendapatnya tidak secara jelas Penyelenggaraan Negara yang mana yang tercedarai objektifitasnya. Apabila yang dimaksud oleh Penuntut Umum dengan adanya pertemuan tersebut anggota Komisi IX DPR RI yang akan mengadakan fit and proper test menjadi tidak objektif adalah keliru dan tidak beralasan. Bahwa mengenai adanya pertanyaan keluarga oleh para anggota DPR RI pada saat fit and proper test pemilihan Gubernur BI tahun 2003 adalah dikarenakan adanya penyebaran pamphlet-pamlet dan surat aduan kepada para anggota DPR RI tersebut sebagaimana telah diungkap dipersidangan melalui keterangan saksi Paskah Suzetta, Izedrik Emir Moeis, yang kemudian mengenai pertanyaan masalah keluarga tersebut telah dijelaskan oleh Terdakwa pada saat fit and proper test tersebut. Sedangkan pada saat fit and proper test DGS BI tahun 2004 mengenai permasalahan keluarga sudah tidak ditanyakanlagi oleh anggota DPR RI dikarenakan penyebaran pamlet-pamflet tersebut sudah tidak ada lagi dan permasalahan keluarga tersebut sudah dijelaskan kepada para anggota DPR RI.

159

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Oleh karena itu pernyataan Penuntut Umum yang pada pokoknya menyatakan tidak terpilihnya terdakwa pada saat fit and proper test DG BI tahun 2003 dikarenakan alasan integritas moral yang berkaitan dengan masalah pribadi sehingga pada saat pemilihan DGS BI tahun 2004 perlu memberikan TC adalah tidak beralasan karena penilaian gagal nya Terdakwa dalam voting DG BI tahun 2003 bukan karena ditanyakan masalah keluarga. Pemilihan DG BI tahun 2003 merupakan proses politik dimana pada saat pemilihan tersebut sangat tergantung pada subjektifitas para anggota DPR RI sesuai dengan kultur politik pada saat itu, dimana adanya pandangan tertentu yang mendiskreditkan gender dan keyakinan tertentu untuk menjadi pemimpin. Sudah jelas bahwa setiap anggota Komisi IX DPR RI dalam pemeriksaan di persidangan sebagai saksi sudah menyatakan bahwa Terdakwa memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih untuk menjabat sebagai DGS BI dibandingkan dengan calon yang lain, justru yang tidak memilih Terdakwa-lah yang tidak objektif yaitu mengabaikan mengenai kemampuan dan pengalaman Terdakwa demi perintah fraksi tertentu dengan alasan tertentu yang diluar alasan profesionalitas. Pernyataan Penuntut Umum “Hal ini merupakan rangkaian petunjuk …” menunjukkan Penuntut Umum tidak dapat membuktikan secara jelas perbuatan yang bertentangan dengan kewajiban anggota DPR RI dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya, sehingga Penuntut Umum hanya merangkai-rangkai fakta yang pada akhirnya membingungkan dan tidak jelas maksudnya. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka unsur karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, 160

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya tidak terbukti oleh karena itu Terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan Kesatu dan dakwaan Kedua Penuntut Umum. Selain berdasarkan ketentuan tersebut diatas, karena kasus a quo menyangkut dan berkaitan dengan perkara lain yang diproses secara terpisah, yaitu perkara yang menyangkut mengenai para penerima TC, dimana telah dipidana dengan putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, yaitu melanggar ketentuan Pasal 11 UU Tipikor, Seharusnya apabila penerima dihukum dengan Pasal 11 UU Tipikor tersebut, maka pihak yang diduga memberikan TC harus dikenakan dengan Pasal 13 UU Tipikor. Adapun konstruksi ketentuan antara Pasal 11 UU Tipikor dengan Pasal 13 UU Tipikor dapat dilihat dalam tabel berikut. Pasal 11 UU Tipikor
Dipidana dengan pidana penjara ….., pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji padahal diketahui atau patut diduga, bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan karena kekuasaan atau kewenangan yang berhubungan dengan jabatannya, atau yang menurut pikiran orang yang memberikan hadiah atau janji tersebut ada hubungan dengan jabatannya.

Pasal 13 UU Tipikor
Setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara….

Dari perbandingan diatas, jelas terlihat adapun padanan Pasal 11 UU Tipikor adalah Pasal 13 UU Tipikor. Walaupun tidak terdapat norma yang secara tegas mengatur bahwa seseorang hanya dapat dituntut atas suatu ketentuan tertentu, akan tetapi atas suatu peristiwa pidana 161

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

tertentu, dimana pelaku sudah dipidana karena melanggar suatu ketentuan tertentu maka Terdakwa seharusnya didakwa dengan ketentuan pasal yang berkesesuaian. Masalah penerapan pasal yang diduga memberi TC tersebut dengan ketentuan Pasal 13 UU Tipikor juga untuk menciptakan keseragaman pendapat, sehingga terhindar dari preseden ketidakpastian hukum seperti yang pernah terjadi mengenai pengajuan Peninjauan Kembali oleh Jaksa Penuntut Umum, oleh Mahkamah Agung diterima akan tetapi dalam perkara lain di tolak dengan alasan normatif, sikap ini dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan bersifat merugikan para pencari keadilan serta memperburuk citra lembaga penegak hukum itu sendiri. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka Terdakwa yang didalam uraian fakta diduga bersama-sama atau menganjurkan Nunun Nurbaeti melakukan tindakan suap dalam Dakwaan Pertama dan Dakwaan Kedua adalah bertentangan dengan putusan atas perkara lain (Penerima TC) serta bertentangan dengan sifat kualifikasi delik disamping tidak terbuktinya unsur karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban, dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya oleh karena itu dakwaan Pertama dan dakwaan Kedua harus dinyatakan batal demi hukum. Pernyataan Penuntut Umum, pada halaman 138 Surat Tuntutannya yang menyatakan pada pokoknya bahwa meskipun para penerima TC dipidana karena melanggar ketentuan Pasal 11 UU Tipikor, maka belum tentu mereka tidak terbukti melakukan sebagaimana yang didakwakan sebagaimana dalam Pasal 5 ayat (2) jo. Pasal 5 ayat (1) huruf b UU 162

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Tipikor. Bahwa pernyataan Penuntut Umum tersebut sangat keliru karena telah menilai suatu pertimbangan hukum dalam putusan yang telah berkekuatan hukum tetap dalam perkara atas nama Hamka Yandhu dan Dudhie Makmun Murod. Terkait dengan permasalahan penentuan suap, menurut Andi Hamzah, walaupun Pasal 209 KUHP (Penyuapan Aktif) berpasangan degan Pasal 418 KUHP dan 419 KUHP (Penyuapan Pasif), penuntutan tidaklah harus serempak. Walaupun yang menyuap belum/tidak dituntut, Penerima Suap tetap dapat dituntut, demikian putusan Mahkamah Agung tanggal 13 Desember 1960, dalam rangka hubungan Pasal 209 KUHP (Penyuapan Aktif) dengan Pasal 418 KUHP dan Pasal 419 KUHP (Penyuapan Pasif), si Penyuap harus mengetahui bahwa pejabat itu dalam memenuhi keinginannya tidak menepati kewajibannya (HR. 13 November 1893). (Andi Hamzah, Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional, edisi revisi 2007, Grafindo, Jakarta, halaman 219). Dalam ketentuan Pasal 11 UU Tipikor tersebut tidak dipersyaratkan Penerima hadiah tersebut telah melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajibannya dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya sebagaimana diwajibkan dalam Pasal 5 ayat (1) huruf b UU Tipikor. Bahwa tidak bisa di pungkiri Penerima TC telah dihukum berdasarkan putusan yang berkekuatan hukum tetap sebagai Penerima hadiah janji, maka yang harus dicari dan dimintakan pertanggungjawaban pidananya adalah Pemberi hadiah atau janji, karena tidak mungkin ada Penerima hadiah/janji kalau tidak ada Pemberi hadiah atau janji, dan tidak mungkin pula ada Pemberi suap tanpa adanya Penerima suap, oleh 163

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

karena itu pernyataan Penuntut Umum tersebut tidak berdasar hukum dan harus diabaikan. 5. Unsur “Penyertaan” dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP Bahwa ketentuan mengenai Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, untuk membuktikan adanya unsur penyertaan pada Terdakwa harus dibuktikan terlebih dahulu mengenai kapasitas Terdakwa apakah dalam kapasitas sebagai pelaku (pleger) atau turut serta melakukan (medepleger) atau menyuruh lakukan (doenpleger). Bahwa dalam dakwaannya Penuntut Umum tidak secara jelas mengemukakan kualitas dari Terdakwa, Penuntut Umum hanya menggunakan istilah “bersama-sama” yang dalam teori penyertaan bersifat membingungkan, karena penyertaan yang dikenal dalam Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP hanya pelaku (pleger) atau turut serta melakukan (medepleger) atau menyuruh lakukan (doenpleger). Bahwa dalam surat tuntutannya Penuntut Umum menyatakan pada pokoknya bahwa Terdakwa dalam kapasitas sebagai turut serta melakukan (medepleger), akan tetapi pendapat Penuntut Umum tersebut adalah keliru karena selain fakta yang digunakan oleh Penuntut Umum bukan fakta hukum yang dapat digunakan sebagai dasar melakukan analisa, serta adanya kekeliruan dari Penuntut Umum dalam melakukan analisa bahwa Terdakwa turut serta (medepleger) dengan Nunun Nurbaeti. Adapun doktrin terhadap “turut serta” (medepleger) antara lain adalah: Van Hammel dan Trapman berpendapat bahwa turut serta melakukan (medeplegen) itu terjadi apabila perbuatan masing-masing peserta 164

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

memuat “semua unsur-unsur tindak pidana” yang bersangkutan. ( Utrecht, Hukum Pidana II, Op.cit., halaman 112). Pompe sebagaimana yang dikemukakan dalam buku Moeljatno, lebih kurang pendapatnya sama dengan Simons, “medeplegen” berarti “mede” (bersama) dengan seorang atau lebih melaksanakan “strafbaarfeit”, dalam makna bahwa masing-masing atau setidak-tidaknya mereka itu semua melaksanakan unsur-unsur “strafbaarfeit” tersebut. Dalam perkiraan Moeljatno, “medeplegen” menurut Pompe tidak harus melakukan “delicts handeling” (perbuatan yang mewujudkan delik), tetapi ia harus melakukan “uit voerings handeling” (perbuatan pelaksanaan) bersama-sama dengan orang lain. (Moeljatno, Hukum Pidana. Delik-Delik Percobaan. Delik-delik Penyertaan, Bina Aksara, Jakarta, Cet. I. November 1983, hal. 110-111). E. Utrecht, Dengan mengikuti pendapat H.R. (Hoge Raad) tanggal 29 Oktober 1934, menyatakan bahwa unsur-unsur turut melakukan (medeplegen): a. Antara para peserta ada satu kerja sama yang diinsyafi (bewuste samenwerking); b. Para peserta bersama telah melaksanakan (gezamenlijke uitvoering). (Utrecht. E, Hukum Pidana II, Penerbit Universitas, Bandung, Cet II, 1965, hal.32) Andi Zainal Abidin dan Andi Hamzah menyatakan “para pelaku – peserta (medeplegers) ialah dua atau lebih orang bekerja sama secara sadar dan bersama-sama melakukan perbuatan-perbuatan yang secara keseluruhan mewujudkan delik ataupun sesuai dengan kesepakatan 165

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

pembagian peran, seorang melakukan perbuatan yang sangat penting bagi terwujudnya delik. (A.Z. Abidin dan A. Hamzah, Bentuk-bentuk Khusus Perwujudan Delik (Percobaan, Penyertaan dan Gabungan Delik) dan Hukum Penintensier, Sumber Ilmu Jaya, Jakarta, 2002, hal 190). Lebih lanjut menurut Moeljatno: Hakekat “turut serta (medeplegen)” dengan berpegang kepada syarat yang telah disebutkan oleh Pompe, yaitu setidak-tidaknya mereka itu semua melakukan unsur perbuatan pidana. ini tidak berarti bahwa masing-masing harus melakukan bahkan tentang apa yang dilakukan oleh peserta atau yang tidak mungkin dilakukan peserta, sangat tergantung dari masing-masing keadaan. Akan tetapi yang pasti adalah adanya kerjasama yang erat antara mereka diwaktu melakukan perbuatan pidana. Justru dengan adanya kerja sama yang erat antara para peserta sewaktu dilakukan perbuatan itulah, maka dalam batas-batas yang ditentukan dalam undang-udang “tiaptiap peserta juga bertanggung jawab atas perbuatan peserta lainnya”.(Moeljatno, Hukum Pidana. Delik-delik Percobaan. Delik-delik Penyertaan, Bina Aksara, Jakarta, Cetakan I, November 1983, halaman 110-111). Menurut Loebby Loqman, Turut Serta (medepleger) yaitu mereka yang ikut serta dalam suatu tindak pidana. Terdapat syarat dalam bentuk mereka yang turut serta, antara lain: a. Adanya kerjasama secara sadar dari setiap peserta tanpa perlu ada kesepakatan, tapi harus ada kesengajaan untuk mencapai hasil berupa tindak pidana. b. Ada kerja sama pelaksanaan secara fisik untuk melakukan tindak pidana.

166

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Setiap peserta pada turut melakukann diancam dengan pidana yang sama. (Loebby Loqman, Percobaan, Penyertaan dan Gabungan Tindak Pidana, (Jakarta: Universitas Tarumanegara UPT Penerbitan, 1995), halaman 59). Dari berbagai doktrin diatas, maka untuk terpenuhinya adanya suatu keadaan turut serta melakukan, harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: a. Para peserta bersama telah melaksanakan suatu perbuatan (gezamenlijke uitvoering). b. Antara para peserta ada satu kerja sama yang erat secara sadar yang diinsyafi (bewuste samenwerking); Sehubungan dengan suatu kerja sama yang sadar, PAF Lamintang menyebutkan bahwa untuk adanya medeplegen itu justru yang perlu diperhatikan ialah ada atau tidak adanya suatu volledig en nauwe atau adanya suatu kerja sama yang lengkap dan bersifat demikian eratnya diantara para peserta di dalam kejahatan, oleh karena tidak adanya kerjasama seperti itu, kita juga tidak dapat berbicara mengenai adanya suatu medeplegen. (PAF Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Ketiga, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, halaman 623). Bahwa adapun fakta-fakta yang terungkap dalam proses pemeriksaan di persidangan adalah sebagai berikut: 1. Terdakwa tidak pernah meminta diperkenalkan atau dipertemukan dengan anggota Komisi IX DPR RI kepada Nunun Nurbaeti sebagaimana dalam dakwaan Penuntut Umum. 167

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Terdakwa tidak pernah bertemu dengan Paskah Suzetta, Hamka Yandhu dan Endin Sofihara di Cipete di rumah Nunun Nurbaeti sehingga Terdakwa maupun anggota DPR RI tidak pernah mengucapkan kata-kata ini bukan proyek thank you ya. 3. Terdakwa tidak pernah mengetahui mengenai tindakan Arie Malangjudo untuk memberikan TC BII kepada anggota DPR RI Komisi IX periode 2004-2009. 4. Ari Malangjudo tidak mengetahui tujuan pemberian TC BII tersebut dan juga anggota Komisi IX DPR RI dalam kesaksiannya tidak mengetahui maksud pemberian dari TC BII tersebut sebelum adanya pernyataan Agus Condro di Media. 5. Bahwa hal tersebut juga bersesuaian dengan keterangan Nunun Nurbaeti yang menyatakan tidak pernah diperintahkan oleh Terdakwa untuk memberikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI dan juga tidak pernah memberikan TC kepada Ari Malangjudo, serta keterangan anggota Komisi IX DPR RI dari fraksi PDIP yang pada pokoknya menyatakan bahwa pemilihan Terdakwa didasarkan pada keputusan fraksi, bukan keputusan individu. 6. Bahwa Udju Djuhaeri dan Endin Soefihara yang menerima TC tidak memilih Terdakwa sebagai DGS BI tahun 2004. Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas, maka Terdakwa tidak pernah melakukan suatu perbuatan apapun dalam rangka pemberian TC kepada para anggota Komisi IX DPR RI yang dikualifisir sebagai suatu delik. Pemberian TC kepada para anggota Komisi IX DPR RI dilakukan oleh Arie Malangjudo atau Ari Malangjudo atas perintah dari Nunun Nurbaeti. Terdakwa tidak pernah melakukan suatu perbuatan apapun yang menjadikan terjadinya suatu delik yang 168

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

sempurna. Oleh karena itu Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti tidak memiliki suatu kerja sama yang disadari atau diinsyafi. Fakta lain yang mendukung tidak adanya kerjasama yang dinsyafi antara Terdakwa dan Nunun Nurbaeti adalah bahwa selama proses pemeriksaan dipersidangan tidak pernah terbukti terdapat suatu komunikasi yang intensif ataupun fakta lainnya yang dapat menunjukkan bahwa antara Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti samasama memiliki tujuan untuk memberikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI demi memenangkan Terdakwa sebagai DGS BI. Mengenai adanya kesadaran para pelaku dalam turut serta

dikemukakan oleh Prof. Langemeijer yang menyatakan bahwa apabila kesadaran tentang adanya suatu kerja sama itu ternyata tidak ada, maka orang juga tidak dapat mengatakan bahwa disitu terdapat suatu perbuatan turut melakukan. (PAF Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Cetakan Ketiga, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997, halaman 629). Berdasarkan hal tersebut, maka antara Terdakwa (bersama-sama dalam dakwaan) dengan pelaku (pleger) tidak terdapat niat dan kehendak yang sama, Nunun Nurbaeti menyatakan tidak pernah diminta Terdakwa untuk memberikan TC kepada anggota Komisi IX DPR RI, Terdakwa tidak pernah mengetahui pemberian TC, pemberian TC dilakukan oleh Arie Malangjudi tanpa diketahu oleh Terdakwa, para penerima TC tidak mengetahui adanya hubungan antara TC tersebut dengan pemilihan DGS BI tahun 2004, penerima TC ada yang tidak memilih Terdakwa sebagai DGS BI tahun 2004. Oleh karenanya secara

169

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

hukum unsur bersama-sama (turut serta melakukan) harus dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Bahwa dalam surat tuntutan Penuntut Umum pada halaman 155-156 yang menyatakan pada pokoknya bahwa Terdakwa memiliki hubungan sangat dekat sebagai Teman dengan Nunun Nurbaeti, Terdakwa sering berkunjung ke rumah Nunun Nurbaeti, Nunun Nurbaeti sering berkunjung ke kantor Terdakwa bahkan bersama cucunya dan Nunun Nurbaeti banyak kenal dengan para anggota Komisi IX DPR RI, lebihlebih anggota Komisi IX DPR RI banyak yang menjadi anggota persatuan/ikatan orang sunda. Berdasarkan fakta-fakta yang dikemukakan oleh Penuntut Umum tersebut, Penuntut Umum berkesimpulan sangat logis bila Terdakwa meminta bantuan Nunun Nurbaeti untuk memperlancar keinginan lolos DGS BI tahun 2004, dan sangat tidak nalar sebagai teman dekat Nunun Nurbaeti melakukan perbuatan untuk kepentingan Terdakwa tanpa persetujuan atau kerja sama dengan Terdakwa. Bahwa Pernyataan Penuntut Umum di atas adalah merupakan pendapat pribadi dari analisis pribadi semata bukan merupakan hasil analisis yang berdasarkan fakta yang terungkap dalam proses pemeriksaan di persidangan yang seharusnya menjadi acuan untuk mencari kebenaran materiel, yaitu kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang tepat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum yang menjadi tujuan dari KUHAP sebagaimana Pedomana Pelaksanaan KUHAP. (Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan 170

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana). Oleh karena itu pendapat Penuntut Umum tersebut bersifat tendensius dan tidak didasarkan pada fakta hukum yang terungkap di persidangan melainkan hanya berdasarkan pada asumsi atau dugaan atau perkiraan Penuntut Umum semata. Bahwa Terdakwa sudah menjadi DG BI sejak tahun 1997 dimana dalam melaksanakan tugas tersebut sering melakukan rapat dengan anggota Komisi IX DPR RI sebagai mitra kerja BI, oleh karena itu Terdakwa sudah mengenal para anggota Komisi IX DPR RI yaitu Paskah Suzetta, Endi Sofihara dan Hamka Yandhu sejak lama sebagaimana juga telah diakui oleh para anggota Komisi IX DPR RI tersebut, oleh karena itu Terdakwa tidak membutuhkan keberadaan Nunun Nurbaeti hanya untuk kepentingan memperkenalkan atau mempertemukan dengan anggota DPR RI. Berdasarkan hal tersebut pula Terdakwa yang memiliki keyakinan atas kapasitas dan kemampuannya setelah bertemu dengan Fraksi PDIP di Hotel Dharmawangsa dan Fraksi TNI/Polri yang bersedia untuk hadir karena memiliki waktu yang tepat, bahwa pertemuan tersebut merupakan inisiatif Terdakwa sendiri tanpa bantuan dari Nunun Nurbaeti. Bahwa kemudian karena alasan kemampuan dan kapasitas tersebutlah Terdakwa dalam pertemuan-pertemuan dengan anggota DPR tidak meminta untuk dipilih sebagaimana juga diakui oleh Agus Condro, Izedrik Emir Moies, Paskah Suzetta, Hamka Yandhu, para anggota Fraksi TNI/Polri dalam pemeriksaan di persidangan. Karena merasa memiliki kemampuan dan kapasitas tersebut, Terdakwa juga tidak pernah 171

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

menjanjikan akan memberikan sesuatu agar dirinya terpilih sebagai DGS BI. Fakta ini bersesuaian dengan keterangan para anggota Komisi IX DPR RI yang pada awalnya tidak menyadari bahwa TC tersebut ada kaitannya dengan pemilihan DGS BI. Uraian keterangan saksi yang saling bersesuaian dengan saksi yang lain dan bersesuaian dengan fakta-fakta berdasarkan keterangan saksi-saksi lain tersebut telah mematahkan uraian fakta yang dibangun oleh Penuntut Umum. Fakta yang terungkap dalam persidangan yang menyatakan kunjungan 1 (satu) atau 2 (dua) kali Terdakwa ke rumah Nunun Nurbaeti dan pertemuan Nunun Nurbaeti di kantor Terdakwa setelah Terdakwa terpilih sebagai DGS BI yang dinilai oleh Penuntut Umum sebagai pertemuan yang sering merupakan pendapat yang sangat subjektif dan tidak berdasar apalagi Penuntut Umum mencoba menggunakan pertemuan dengan membawa serta cucu menunjukkan antara Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti memiliki hubungan yang sangat akrab adalah mengada-ada. Suatu pendapat seharusnya didasarkan kepada fakta hukum yaitu fakta yang diperoleh berdasarkan 2 alat bukti yang sah. Pendapat yang tidak didasarkan kepada fakta dapat menyebabkan penegakkan hukum menjadi salah arah yaitu dapat menghukum orang yang tidak bersalah menjadi bersalah. Masalah kesalahan dalam penegakkan hukum sudah pernah terjadi dalam sejarah sistim peradilan kita sebagai contoh kasus adalah kasus Sengkon dan Karta, kasus Asrori, dan kasus pasangan Risman dan Rostin di Gorontalo, yang ternyata dikemudian hari terbukti bahwa mereka yang tidak bersalah telah dijatuhi pidana bersalah.

172

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Pernyataan Penuntut Umum yang menyatakan bahwa Nunun Nurbaeti banyak kenal dengan para anggota Komisi IX DPR RI, lebih-lebih anggota Komisi IX DPR RI banyak yang menjadi anggota persatuan/ikatan orang sunda merupakan pendapat yang berlebihan, Penuntut Umum tidak pernah menjelaskan dan kami yakin tidak akan bisa menjelaskan siapa saja dan berapa banyak anggota Komisi IX DPR RI yang merupakan orang sunda seperti dimaksud Penuntut Umum yang masuk dalam persatuan/ikatan orang sunda tersebut yang dikenal oleh Nunun Nurbaeti. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka antara Terdakwa dengan Nunun Nuraeti tidak terdapat suatu kerjasama yang diinsyafi untuk memberikan TC BII kepada anggota Komisi IX DPR RI, oleh karena itu unsur Turut Serta (medepleger) tidak terbukti secara sah dan meyakinkan, oleh karena itu Terdakwa harus dibebaskan dari dakwaan Pertama dan dakwaan Ketiga. 6. Unsur “menganjurkan/menggerakkan (uitloker)” Bahwa walaupun Penuntut Umum hanya menuntut Terdakwa melakukan tindak pidana sebagaimana dalam Dakwaan Pertama, maka kami akan menguraikan unsur menganjurkan/menggerakkan (uitloker) dalam dakwaan Kedua dan dakwaan Keempat. Menurut Profesor van HAMEL merumuskan uitloking itu sebagai suatu bentuk delneeming atau keturut sertaan berupa: kesengajaan menggerakkan orang lain yang dapat dipertanggungjawabkan pada dirinya sendiri untuk melakukan suatu tindak pidana dengan menggunakan cara-cara yang telah ditentukan oleh UUkarena telah

173

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

tergerak, orang tersebut kemudian telah dengan sengaja melakukan tindak pidana yang bersangkutan”. Lebih lanjut dikemukakan, untuk adanya uitloking itu haruslah dipenuhi dua syarat objektif, yaitu: 1. Bahwa perbuatan yang telah digerakkan untuk dilakukan oleh orang lain itu harus menghasilkan suatu voltooid delict atau suatu delik yang selesai, yang menghasilkan suatu strafbaar poging atau suatu percobaan yang dapat dihukum. 2. Bahwa tindak pidana yang telah dilakukan oleh seseorang itu disebabkan karena orang terebut telah tergerak oleh suatu uitloking yang dilakukan oleh orang laindengan menggunakan salah satu cara yang telah disebutkan didalam Pasal 55 ayat (1) angka 2 KUHP. Bahwa berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan dipersidangan diperoleh fakta hukum sebagai berkut:  Terdakwa tidak pernah meminta diperkenalkan atau dipertemukan dengan anggota Komisi IX DPR RI kepada Nunun Nurbaeti sebagaimana dalam dakwaan Penuntut Umum.  Terdakwa tidak pernah bertemu dengan Paskah Suzetta, Hamka Yandhu dan Endin Sofihara di rumah Nunun Nurbaeti di Jalan Cipete Raya No. 39 C sehingga ucapan “ini bukan proyek thank you ya” sebagaimana yang dikemukakan oleh Nunun Nurbaeti tidak pernah ada.  Terdakwa tidak pernah meminta, menyuruh atau menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk memberikan TC kepada para anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka pemilihan DGS BI tahun 2004.

174

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

 Terdakwa bukan pemegang dan pemilik TC yang diserahkan dan diberikan kepada anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka pemilihan DGS BI tahun 2004.  Bahwa Terdakwa tidak mengetahui sama sekali mengenai hal-hal yang terkait dengan penyerahan dan pemberian TC yang dilakukan oleh pihak Nunun Nurbaeti dan Ari Malangjudo kepada anggota Komisi IX DPR RI dalam rangka pemilihan DGS BI tahun 2004. Bahwa berdasarkan fakta hukum tersebut diatas, maka Terdakwa tidak terbukti melakukan perbuatan sebagaimana yang didakwakan oleh Penuntut Umum dalam dakwaan Kedua dan dakwaan Keempat dalam Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP. Menurut Rammelink, tidak semua tindak pembujukan diancam dengan sanksi pidana tergantung pada (ada/tidaknya) sejumlah sarana pembujukan yang diperinci dengan tegas oleh perundang-undangan. (Rammelink, Hukum Pidana, Komentar Atas Pasal-Pasal Terpenting Dari Kitab UUHukum Pidana Belanda dan Padananya Dalam Kitab UUHukum Pidana Indonesia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, halaman 329) Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP mensyaratkan mengenai cara-cara melakukan pembujukan seperti: memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain melakukan suatu perbuatan pidana. Bahwa selama proses pemeriksaan di persidangan, tidak ada satupun fakta hukum yang menunjukkan bahwa Terdakwa memberi atau 175

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

menjanjikan sesuatu kepada Nunun Nurbaeti, atau Terdakwa telah menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, baik dengan kekerasan atau ancaman ataupun melakukan penyesatan. Terdakwa juga tidak pernah memberi kesempatan, sarana atau keterangan agar Nunun Nurbaeti melakukan pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI tahun 2004. Penuntut Umum telah salah dalam menilai posisi Terdakwa, karena selama proses persidangan tidak terdapat hubungan apapun antara Terdakwa dengan Nunun Nurbaeti dalam hubungan pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI, quad non Nunun Nurbaeti dianggap terbukti melakukan pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI, maka dalam pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR RI oleh Nunun Nurbaeti tersebut tidak terdapat suatu sifat pembujukan atau menganjurkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat (1) ke 2. Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka unsur menganjurkan kepada Nunun Nurbaeti untuk melakukan suatu delik dalam Pasal 55 ayat (1) ke-2 dalam dakwaan Kedua dan dakwaan Keempat tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. 7. Dakwaan Ketiga dan Dakwaan Keempat Daluarsa Dalam dakwaan Ketiga dan Keempat, Terdakwa telah didakwa diduga melakukan sesuatu perbuatan yaitu secara bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti atau menganjurkan Nunun Nurbaeti memberi hadiah atau janji kepada anggota Komisi IX DPR RI periode 2004-2009. Bahwa sebagaimana telah kami uraikan sebelumnya, bahwa Terdakwa tidak memenuhi unsur turut serta ataupun menganjurkan Nunun Nurbaeti, akan tetapi untuk memperjelas alasan hukum tidak dapat 176

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

dipidananya Terdakwa karena tidak terdapat bukti mengenai turut serta dan menganjurkan tersebut. Bahwa Pasal 13 UU Tipikor yang didakwakan kepada Terdakwa telah daluarsa masa penuntutannya. Ketentuan dalam Pasal 103 KUHP menyatakan bahwa: ”Ketentuan-ketentuan dalam bab I sampai dengan Bab VIII buku ini juga berlaku bagi perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan Perundang-undangan lainnya diancam dengan pidana, kecuali jika oleh Undang-undangditentukan lain” Oleh karenanya ketentuan dalam Buku I KUHP (Ketentuan Umum) berlaku juga terhadap UU Tipikor. Ketentuan Umum KUHP mengatur mengenai daluarsa (hilangnya hak untuk melakukan penuntutan) sebagaimana diatur dalam Pasal 78 ayat (1) butir ke-2 KUHP yang berbunyi: “kewenangan menuntut pidana hapus karena daluarsa : Mengenai kejahatan yang diancam dengan pidana denda, pidana kurungan, atau pidana penjara paling lama tiga tahun, sesudah enam tahun; Oleh karena UU Tipikor tidak terdapat ketentuan yang secara khusus mengatur mengenai daluarsa, maka ketentuan dalam Pasal 78 ayat (1) butir ke-2 KUHP tersebut secara mutatis mutandis berlaku terhadap UU Tipikor. Bahwa oleh karena Pasal 13 UU Tipikor memiliki ancaman hukuman paling lama 3 tahun, maka penerapan Pasal 13 UU Tipikor untuk perkara pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR-RI yang terjadi pada bulan Juni 2004 telah daluarsa pada Juni 2010 yang lalu. Oleh karena itu kewenangan penuntutan untuk perkara pemberian 177

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

TC kepada anggota Komisi IX DPR-RI dengan menggunakan Pasal 13 UU Tipikor telah hapus sejak bulan Juni 2010. Mengingat Pasal 13 UU Tipikor tersebut sudah tidak dapat dilakukan penuntutan, maka dengan sendirinya Dakwaan atas Pasal 13 UU Tipikor tersebut menjadi daluarsa sehingga Penuntut Umum tidak memiliki dasar hukum untuk mendakwa Terdakwa melakukan tindak pidana Pasal 13 UU Tipikor dalam perkara pemberian TC kepada anggota Komisi IX DPR-RI yang terjadi pada bulan Juni 2004. Menurut Andi Hamzah, tuntutan Penuntut Umum tidak dapat diterima jikalau terjadi lampau waktu (verjaring), sesuai dengan Pasal 78 KUHP. Lebih lanjut diuraikan bahwa terdapat 2 jenis lampau waktu menurut Hukum Pidana Barat yang dianut oleh KUHP Indonesia, yaitu: a. Lampau waktu penuntutan (Pasal 78 KUHP) dan; b. Lampau waktu untuk melaksanakan hukuman (executie) Pasal 84 KUHP. Untuk lampau waktu penuntutan diatur berlaku pada hari sejak delik dilakukan. Mengenai ketentuan Pasal 80 KUHP yang mengatur mengenai tiap-tiap tindakan penuntutan, asal tindakan itu diketahui oleh orang yang dituntut, atau telah diberitahukan kepadanya menurut cara yang ditentukan dalam aturan-aturan umum. Penuntutan yang dimaksud dalam ketentuan tersebut adalah penuntutan terhadap khusus orang yang dituntut tersebut, dalam kasus ini adalah penuntutan terhadap Terdakwa, dan bukan disandarkan kepada penuntutan terhadap orang lain.

178

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Menurut Andi Hamzah, penuntutan tersebut diartikan dimulai pada saat kejaksaan melimpahkan (overwijen) berkas perkara pidana yang disertai surat dakwaan kepada Pengadilan Negeri, lebih lanjut oleh Jan Remmelink menyatakan sepanjang pihak yang dituntut diketahui identitasnya atau menurut Undang-undangsudah dipanggil melalui surat secara patut, sedemikian sehingga tidak perlu bahwa dakwaan dihadiri oleh Terdakwa sendiri in persona, dalam kasus a quo surat dakwaan adalah tertanggal 9 Juli 2012 maka sejak itulah dalwarsa berhenti yang mana telah melewati waktu 6 tahun sebagaimana diatur dalam Pasal 78 KUHP. Pengaturan ketentuan daluarsa dalam KUHP tersebut merupakan norma yang bersifat lex scripta yaitu didasarkan pada ketentuan Undang-undangatau hukum tertulis dan lex certa lengkap dan jelas tanpa samar-samar (nullum crimen sine lege stricta), oleh karena itu wajib untuk diikuti dan dilaksanakan sesuai dengan asas legalitas, dalam teori hukum apabila ternyata terdapat pandangan yang berbeda terkait dengan norma tersebut tidak serta merta norma tersebut dapat diabaikan, kecuali terdapat peraturan perundang-undangan yang merubah atau membatalkan keberadaan norma tersebut. Bahwa Arrest Hoge Raad tanggal 21 Desember 1929, N.J 1929: 29, pada pokoknya berpendapat “jikalau kata-kata atau rumus undang-undang itu cukup jelas, maka Hakim tidak boleh menyimpang dari kata-kata tersebut, walaupun yang sungguh pembuat undang-undang ini berlainan dengan arti kata tersebut (H.A. Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana I, Sinar Grafika, Cetak Kedua, Juli 2007, halaman 115), dan in casu kata-kata atau rumusan Pasal 78 KUHP sudah cukup jelas, sehingga 179

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

tidak boleh menyimpang dari kata-kata dalam ketentuan undangundang tersebut.” Berdasarkan alasan tersebut diatas, maka dasar Penuntut Umum untuk mendakwa Terdakwa telah melakukan tindak pidana dalam dakwaan Ketiga dan Keempat adalah tidak sah karena merupakan pengabaian pada asas legalitas dalam KUHP.

180

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

BAB VI PENUTUP Majelis Hakim Yang Mulia, Penuntut Umum Yang Terhormat, Hadirin sekalian Berdasarkan uraian pembelaan tersebut diatas, maka dapat diambil suatu kesimpulan: Bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersamasama dengan Nunun Nurbaeti memberi sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya sebagaimana dalam dakwaan Pertama Penuntut Umum ; Bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menggunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan sengaja menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan memberi sesuatu kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara karena atau berhubungan dengan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban dilakukan atau tidak dilakukan dalam jabatannya sebagaimana dalam dakwaan Kedua Penuntut Umum;

181

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti memberi hadiah atau janji kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut sebagaimana dalam dakwaan Ketiga Penuntut Umum; Bahwa Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, menganjurkan orang lain untuk melakukan perbuatan memberi hadiah atau janji kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara dengan mengingat kekuasaan atau wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya, atau pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada jabatan atau kedudukan tersebut sebagaimana dalam dakwaan Keempat Penuntut Umum; Dari seluruh rangkaian uraian pembelaan kami tersebut diatas, maka sampailah saatnya bagi kami Tim Penasihat Hukum Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D menyampaikan permohonan kepada Majelis Hakim Yang Mulia, kiranya berkenan memberikan Putusan sebagai berikut: 1. Menerima Nota Pembelaan (Pleidooi) dari Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D dan Tim Penasihat Hukum Terdakwa;

182

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

2. Menyatakan dakwaan Penuntut Umum No: Dak-14/24/07/2012 atas nama Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D tidak dapat diterima; 3. Menyatakan Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi baik secara bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti ataupun menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk menyuap Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara sebagaimana dalam dakwaan Pertama dan dakwaan Kedua Surat dakwaan Penuntut Umum; 4. Menyatakan Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi baik secara bersama-sama dengan Nunun Nurbaeti ataupun menganjurkan Nunun Nurbaeti untuk memberikan gratifikasi kepada Pegawai Negeri atau Penyelenggara Negara sebagaimana dalam dakwaan Ketiga dan dakwaan Keempat Surat Dakwaan Penuntut Umum; 5. Membebaskan Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D dari seluruh dakwaan (Vrijspraak), atau setidak-tidaknya melepaskan Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D dari segala tuntutan hukum (ontslag van alle rechtsvervolging); 6. Memerintahkan Penuntut Umum untuk segera mengeluarkan

Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D dari tahanan Negara Rumah Tahanan KPK cabang Rumah Tahanan Kelas I Jakarta Timur;

183

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

7. Memulihkan dan Mengembalikan segala hak Terdakwa Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D dalam kemampuan, kedudukan serta harkat dan martabatnya; 8. Membebankan biaya perkara kepada Negara; Atau Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadiladilnya (ex aequo et bono).

Tim Penasihat Hukum Terdakwa sekali lagi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Majelis Hakim Yang Mulia yang dengan penuh kesabaran telah mendengarkan pembacaan Nota Pembelaan ini. Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Maha Kuasa dan Maha Adil, kami akhiri Nota Pembelaan ini dengan suatu keyakinan, bahwa Majelis Hakim Yang Mulia akan memberikan Putusan yang seadil-adilnya berdasarkan fakta hukum yang terungkap di persidangan. Akhirnya kepadaNya jualah segala doa dan harapan kita pasrahkan.
Jakarta 17 September 2012 Hormat Kami Tim Penasihat Hukum Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Dr. Dodi S. Abdulkadir, BSc, SE, SH, MH.

Andi F. Simangunsong, SH.

Dr. Benny B. Nurhadi, SH, MH.

Jonas M. Sihaloho, SH.

Asep B. Hermanto, SH, MH.

Napindo Simbolon, SH.

184

Nota Pembelaan (Pleidooi) Prof. Miranda Swaray Goeltom, SE, MA, Ph.D

Mery Anni C. Manurung, SH.

RM. Andiasworo, SH.

Dave Advitama, SH.

185