You are on page 1of 1

arsitektur

WELT.DE

REPUBLIKA AHAD, 18 APRIL 2010

B4

Jalan Panjang Mendirikan Masjid M

Masjid Cologne Jerman

Arsitektur Masjid Modern


Bangunan masjid ini dilengkapi kubah setinggi 35 meter dengan bentuk bola dunia, dan dua buah menara setinggi 55 meter.
Nidia Zuraya

ulu, setiap orang di Cologne, Jerman, selalu menentang pendirian masjid. Mereka menganggap, keberadaan masjid akan menjadi pemicu munculnya aliran keagamaan yang dapat menyebabkan terjadinya konflik. Apalagi, menurut pandangan mereka, Islam tidak lebih dari sebuah agama yang mengajarkan pemeluknya menjadi kasar, pembuat aksi teror, dan stigma negatif lainnya. Puncaknya, ketika aksi terorisme 11 September 2001, kesan mereka terhadap Islam makin buruk. Namun, perlahan tapi pasti, kesan itu mulai luntur, seiring dengan tidak terbuktinya agama Islam sebagai pengajar kekerasan. Mereka mulai memahami bahwa apa pun agamanya dan siapa pun orangnya, bisa saja bertindak anarkis dan melakukan kekerasan, bila harga diri dan martabat mereka dilecehkan. Karena itu, ketika muncul keinginan sebagian warga Cologne, terutama Muslim Jerman untuk mendirikan Masjid di tahun 2007, hampir dua pertiga warga Cologne menyambut positif. Maka, dengan restu dan persetujuan dari warga itu, masyarakat Muslim Cologne Jerman ini akhirnya bisa mendirikan sebuah masjid. Umat Islam di wilayah Cologne mencapai 10 persen dari total populasi. Jumlah penduduk Muslim di Cologne merupakan yang terbanyak di seluruh kota di Jerman. Mayoritas warga Muslim di Jerman ini merupakan keturunan Turki. Sebab, negara dengan penduduk Muslim terbesar di Eropa itu berbatasan langsung dengan Jerman. Bahkan, banyak keturunan Turki yang akhirnya menjadi warga negara Jerman. Sementara itu, pemeluk agama Islam lainnya berasal dari berbagai negara dan benua seperti Asia, Afrika, dan Eropa. Seiring dengan respons positif masyarakat Eropa dan juga Cologne terhadap agama Islam, maka jumlah pemeluk Islam pun kian hari semakin bertambah. Diperkirakan, jumlahnya akan makin membesar dengan munculnya kesadaran yang mendalam akan kebenaran
BDONLINE.CO.UK

WELT.DE

agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Keberadaan Masjid Cologne Jerman ini, juga akan memicu munculnya pesta penyambutan warga Muslim lainnya. Diprediksikan, pada 2020 mendatang, sekitar dua pertiga penduduk Jerman akan memiliki akar keturunan asing, terutama Turki. Karenanya, banyak pihak di Jerman yang menilai pembangunan masjid ini akan menjadi pesta penyambutan bagi minoritas Muslim Jerman. Masjid yang mulai dibangun tahun 2008 ini berada di distrik Ehrenfeld, tepatnya di lokasi masjid yang selama ini dikelola oleh komunitas Muslim Turki yang bernaung di bawah Turkish-Islamic Union for Religius Affairs. Bangunan masjid di Cologne ini dapat menampung sekitar 2.000 orang jamaah secara bersamaan. Angka ini merupakan yang terbesar di Jerman. Memang, sejak awal desainnya, masjid ini bakal menjadi masjid terbesar di Jerman. Dan ke depannya, kompleks masjid juga akan menyediakan ruang komersial seluas 2.455 meter persegi. Modern Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid di negara-negara lain yang mengadopsi gaya tradisional, bangunan Masjid Cologne justru menerobos pakempakem yang selama ini banyak digunakan dalam arsitektur bangunan tempat ibadah umat Islam. Hal ini terlihat pada bagian kubah masjid yang tidak berbentuk separuh bola ataupun berbentuk kerucut (makhrut), setengah oval (al-ihliji), silinder (ustuwani), dan berbentuk bawang lancip ke atas. Bila umumnya kubah masjid berbentuk setengah lingkaran, kubah pada bangunan Masjid Cologne lebih mengedepankan gaya arsitektur di era modern, yakni bentuk kubah geodesi. Kubah ini berbentuk hemister dan menggunakan kekisi sebagai rangka, sehingga menjadikannya lebih ringan. Perkembangan teknologi juga memungkinkan penggunaan cermin dan plastik sebagai padatan pada desain kubah. Kubah dengan tinggi mencapai 35 meter ini dibuat seperti bola dunia yang transparan, sehingga bagian dalam masjid bisa terlihat dari luar. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan dua buah menara setinggi 55 meter. Sementara eksterior bangunan utama, bangunan pendukung, dan menara masjid didominasi warna putih. Kendati Masjid Cologne memiliki dua buah menara yang mengapit bangunan utama, berdasarkan hasil kesepakatan antara pihak Turkish-Islamic Union for Religius Affairs dan warga non-Muslim setempat, suara azan tidak akan diperdengarkan melalui menara masjid. Hal ini menunjukkan sikap toleransi yang sangat baik di antara warga Jerman.

asjid yang dibangun di Kota Cologne ini akan menjadi masjid terbesar di Jerman. Beberapa tahun terakhir pertumbuhan jumlah masjid di Jerman dapat dikatakan cukup pesat. Jika di tahun 1990, hanya ada tiga buah masjid di negara tersebut. Maka, sekarang jumlahnya mencapai 164 masjid, dan akan menjadi 200 masjid dalam waktu dekat dengan dibangunnya masjidmasjid baru di seluruh penjuru Jerman, ujar Claus Leggewie, penulis buku Mosques in Germany: religious home and societal challenge. Keberadaan masjid-masjid tersebut untuk melayani sekitar 3,5 juta penduduk Muslim Jerman yang kebanyakan asal Turki. Dengan jumlah populasi Muslim sebanyak itu menempatkan Jerman sebagai negara kedua di Eropa setelah Prancis yang jumlah warga Muslimnya paling banyak. Bagi umat Islam Jerman yang selama ini hanya bisa melaksanakan shalat berjamaah di tempat yang tidak layak, pembangunan masjid-masjid ini tentu saja membuat mereka bahagia. Ini merupakan sinyal yang sangat penting untuk menunjukkan bahwa umat Islam di Jerman adalah bagian dari masyarakat Jerman, begitu juga dengan masjid, tukas Ali Kizilkaya, juru bicara The Muslim Coordinating Council, sebuah lembaga asosiasi organisasi-organisasi Muslim di Jerman, sebagaimana dikutip Islamonline. Sementara Nalan Cinar dari Ehrenfeld, kawasan multietnis yang menjadi lokasi Masjid Cologne menyatakan, Ini seperti mimpi jadi kenyataan. Ini adalah era keemasan bagi meningkatnya jumlah masjid di Jerman. Perasaan memiliki sesuatu yang indah tidak ternilai harganya, tambah Muslimah yang mengenakan jilbab ini. Meski banyak pihak dari kalangan non-Muslim menentang keberadaan bangunan masjid baru di Jerman, namun tidak sedikit juga dari mereka yang menyatakan dukungannya. Rolf Kreger, wartawan dan pemimpin portal Kristen, misalnya, berpendapat, jika masjid-masjid kecil diganti dengan masjid-masjid besar dan warga Muslim bisa shalat berjamaah pada siang hari, justru akan lebih baik bagi keamanan Jerman. Yang mereka takutkan sebenarnya bukan masalah kekuatan Islam, tapi mereka takut untuk mengakui bahwa agama Kristen kini sedang mengalami penurunan drastis di Eropa, tulis Kreger dalam komentarnya terkait perdebatan rencana pembangunan masjid di Cologne seperti dikutip Europenews. Populasi Muslim Jerman sebagian besar terdiri atas orang Turki yang datang ke Jerman pada akhir 1960-an sebagai pekerja tamu dalam era pembangunan pascaperang di negara tersebut. Banyak dari mereka yang kemudian menetap. Mereka membentuk organisasi-organisasi komunitas, meningkatkan kesejahteraan ekonominya, dan akhirnya memutuskan bahwa ruangan shalat sederhana yang berada di belakang jalan tidak lagi cukup. Pendirian masjid berkubah dengan beberapa menara adalah langkah alamiah yang selanjutnya mereka tempuh. Awalnya, masjid cenderung didirikan di daerah-daerah pusat industri. Namun, kini mereka dibangun di tengah-tengah komunitas penduduk suatu lingkungan, seperti yang terjadi pada bangunan Masjid Cologne. nidia ed: syahruddin e

Agama Kristen kini sedang mengalami penurunan drastis di Eropa

WDR.DE

Ketinggian menara masjid juga merupakan salah satu hasil kesepakatan bersama seluruh warga Kota Cologne yang menghendaki agar ketinggiannya sama seperti bangunan di lingkungan sekitarnya. Simbol keterbukaan Penggunaan desain yang lebih modern ini, juga dilandaskan pada keinginan mayoritas masyarakat non-Muslim Cologne yang menghendaki agar bangunan masjid yang akan didirikan di kota tersebut tidak seperti bangunan masjid pada umumnya yang mengadopsi gaya arsitektur tradisional. Bagi mayoritas orang Jerman, masjid terlihat seperti bangunan-bangunan eksotis dan menara-menaranya adalah simbol kekuasaan, kata Wakil Presiden Jewish Central Council, Salomon Korn, dalam wawancara dengan surat kabar Frankfurter Rundschau. Sementara menurut surat kabar Die Zeit, bentuk kubah masjid seperti bola dunia merupakan simbol keterbukaan Islam pada dunia. Tetapi, Necla Kelek, seorang sosiolog terkenal dan kritikus Islam di Jerman, mengungkapkan, penafsiran berbeda. Bola dunia adalah symbol penaklukan, orang akan melihat menara dan kubah itu sebagai ambisi seorang Muslim untuk mendominasi dunia, kata Kelek yang sebenarnya berasal dari keluarga Muslim ortodoks di Turki. ed: syahruddin