1

BAB I
MATRIKS

1.1. Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti mata kuliah Matematika I ini mahasiswa akan dapat
menyelesaikan operasi matriks, menentukan nilai determinan matriks,
menentukan invers matriks, dapat menyelesaikan sistem persamaan linier, dan
dapat menginterpretasikannya dengan baik dan benar.

1.2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal perlatihannya diharapkan
mahasiswa akan dapat:
1. Menyebutkan pengertian matriks dengan benar.
2. Menyelesaikan operasi penjumlahan pada matriks dengan benar.
3. Menyelesaikan operasi pengurangan pada matriks dengan benar.
4. Menyelesaikan operasi perkalian scalar dengan matriks dengan benar.
5. Menyelesaikan operasi perkalian matriks dengan matriks dengan benar.
6. Menjelaskan aturan ilmu hitung matriks dengan benar.
7. Menjelaskan jenis-jenis matriks dengan benar.






2
1.3. Pengertian Matriks.
Suatu himpunan bilangan atau variabel yang disusun dalam bentuk empat
persegi panjang, yang terdiri dari baris dan kolom disebut matriks. Jika matrik
mempunyai m baris dan n kolom, maka disebut matrik berdimensi m x n.
Matriks ditulis dalam bentuk ( ) atau | | dan bentuk lain . Matriks
biasa ditulis dengan huruf besar, misalnya A,B dan seterusnya, dan elemen–
elemennya dengan huruf kecil, misalnya a, b dan seterusnya.
Bentuk umum matriks:


atau
| |
ij
a A =
i = 1,2, … m
j= 1, 2, …., n
a
ij
disebut elemen yang terletak pada baris ke-i dan kolom ke-j.

1.4. Operasi Matriks.
1. Penjumlahan dan Pengurangan Matriks.
Dua buah matriks hanya dapat dijumlahkan atau dikurangkan apabila
keduanya berorde sama. Jumlah atau selisih dua matriks | |
ij
a A = dan | |
ij
b B =
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
mn m m
n
n
a a a
a a a
a a a
A
...
.
.
.
...
...
2 1
2 22 21
1 12 11

3
adalah sebuah matriks baru | |
ij
c C = yang beorde sama, yang unsur–unsurnya
merupakan jumlah atau selisih unsur–unsur A dan B.
C B A = ± dimana
ij ij ij
b a c ± =
Contoh:
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷
=
(
¸
(

¸

÷
(
¸
(

¸

÷
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

+
(
¸
(

¸

÷
1 3 5
2 1 3
3 1 4
1 3 2
2 4 1
3 2 5
5 5 3
4 5 7
3 1 4
1 3 2
2 4 1
3 2 5

Contoh:
Tinjaulah matriks–matriks:
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ ÷ =
(
(
(
¸
(

¸

=
0 5
1 2
,
4 2 3 5
2 1 0 4
0 1 2 3
,
4 2 3 5
2 1 2 5
0 1 2 3
C B A
Maka,
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ ÷ +
(
(
(
¸
(

¸

= +
8 4 6 10
0 0 2 1
0 2 4 6
4 2 3 5
2 1 0 4
0 1 2 3
4 2 3 5
2 1 2 5
0 1 2 3
B A

Sedangkan A+C dan B+C tidak didefinisikan.
Karena penjumlahan antar bilangan bersifat komutatif dan asosiatif,
padahal matriks adalah kumpulan bilangan, maka untuk penjumlahan antar
matriks berlaku pula kaidah kaidah komutatif dan kaidah asosiatif.
Kaidah komutatif : A+B=B+A
Kaidah asosiatif :A+(B+C) = (A+B)+C = A+B+C.


4
2. Perkalian Matriks dengan skalar.
Hasil kali sebuah matriks A =| |
ij
a dengan suatu skalar atau bilangan
nyata ì
Adalah sebuah matriks baru B | |
ij
b = yang berorde sama dan unsur–unsur ì kali
unsur–unsur matriks semula ( )
ij ij
a b ì =
B A = ì dimana
ij ij
a b ì =
Contoh:
3
4 1 3
2 1 2
23 22 21
13 12 11
=
(
¸
(

¸

÷
=
(
¸
(

¸

= ì
a a a
a a a
A
maka:

(
¸
(

¸

÷
=
(
¸
(

¸

÷
= = =
12 3 9
6 3 6
4 1 3
2 1 2
. 3 3 B A A ì
Contoh:
Jika A adalah matriks,
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
2 5
1 3
0 1
3 2
4 2
A
Maka

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
4 10
2 6
0 2
6 4
8 4
2 5
1 3
0 1
3 2
4 2
. 2 . 2 A dan
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷ ÷
÷ ÷
=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ = ÷
2 5
1 3
0 1
3 2
4 2
2 5
1 3
0 1
3 2
4 2
. ). 1 ( A

5
Jika B adalah sebarang matriks, maka-B akan menyatakan hasil kali (- 1).B. Jika
A dan B adalah dua matriks yang ukurannya sama, maka A-B didefinisikan
sebagai jumlah A+ (- B) =A +(–1).B.
Contoh:
Tinjaulah matriks–matriks
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷ =
5 3 2 4 0
3 5 2 2 1
3 4 2 1 3
A dan
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
÷
=
2 0 2 1 0
0 4 2 2 1
3 0 2 1 5
B
Dari definisi di atas maka

(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷ ÷ ÷
= ÷
2 0 2 1 0
0 4 2 2 1
3 0 2 1 5
B
Dan
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷
÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷ ÷ ÷
+
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷ = ÷
7 3 4 5 0
3 9 4 0 0
0 4 0 2 2
2 0 2 1 0
0 4 2 2 1
3 0 2 1 5
5 3 2 4 0
3 5 2 2 1
3 4 2 1 3
B A

Perhatikan bahwa A-B dapat diperoleh secara langsung dengan entri B dari entri
A yang bersangkutan.

3. Perkalian antar matriks.
Dua matriks hanya dapat dikalikan apabila jumlah kolom dari matriks
yang dikalikan sama dengan jumlah baris dari matriks pengalinya. Hasil kali dua
matriks A
mxn
dengan B
nxp
adalah sebuah matriks baru C
mxp
, yang unsure-

6
unsurnya merupakan perkalian silang unsur - unsur baris matriks A dengan
unsur–unsur kolom matriks B.
A
mxn
X B
nxp
= C
mxp

Contoh:
Misalkan A adalah matriks 3 x 4, B adalah matriks 4 x 7, dan C adalah matriks
7x3. Maka AB didefinisikan sebagai matriks 3 x 7, CA didefinisikan sebagai
matriks 7x4, BC didefinisikan sebagai matriks 4 x 3. Hasil kali AC, CB, dan BA
semuanya tidak didefinisikan.

Contoh:
Misalkan A adalah matriks m x r yang umum dan B adalah matriks r x n yang
umum, maka seperti yang disarankan, entri dalam baris i dan kolom j dari AB,
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
rn rj r r
n j
n j
mr m m
ir i i
r
r
b b b b
b b b b
b b b b
a a a
a a a
a a a
a a a
B A
 
   
 
 

  

  


2 1
2 2 22 21
1 1 12 11
2 1
2 1
2 22 21
1 12 11
. .

Perkalian matriks mempunyai penerapan penting terhadap system
persamaan linier. Tinjaulah suatu system persamaan yang terdiri dari m
persamaan linier dalam n bilangan tak deketahui.
n n mn m m
n n
n n
b x a x a x a
b x a x a x a
b x a x a x a
= + + +
= + + +
= + + +




2 2 1 1
2 2 2 22 1 21
1 1 2 12 1 11


7
karena dua matriks dinyatakan sama jika dan hanya jika entri-entri yang
bersesuaian sama, maka kita dapat menggantikan persamaan m dalam sistem ini
dengan persamaan matriks tunggal
.
2
1
2 2 1 1
2 2 22 1 21
1 2 12 1 11
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

+ + +
+ + +
+ + +
m n mn m m
n n
n n
b
b
b
x a x a x a
x a x a x a
x a x a x a


   



Matriks m x 1 pada ruas kiri persamaan ini dapat dituliskan sebagai hasil
kali yang memberikan
. .
2
1
2
1
2 1
2 22 21
1 12 11
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

m n mn m m
n
n
b
b
b
x
x
x
a a a
a a a
a a a
 

   



Jika kita matriks–matriks ini berturut-turut dengan A, X, dan B maka m
persamaan asli dalam n bilangan tak diketahui telah digantikan oleh persamaan
tunggal
AX = B
Contoh:
( )
( )( )
( )
(
¸
(

¸
÷
= =
= + ÷ + = + + =
= + + = + + =
= + ÷ ÷ + = + + =
÷ = + ÷ + = + + =
(
¸
(

¸

= = ×
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
(
¸
(

¸
÷
=
× ×
×
62 44
76 2
Jadi,
62 9 . 4 7 . 2 5 . 8
44 2 . 4 6 . 2 3 . 8
76 9 . 5 7 . 3 5 . 2
2 2 . 5 6 . 3 3 . 2
maka
9 2
7 6
5 3
dan
4 2 8
5 3 2
32 23 22 22 12 21 22
31 23 21 22 11 21 21
32 13 22 12 12 11 12
31 13 21 12 11 11 11
22 21
12 11
2 2 2 3 3 2
2 3 3 2
C AB
b a b a b a c
b a b a b a c
b a b a b a c
b a b a b a c
c c
c c
C B A
B A
x
x


8
Penyelesaian langsung dapat dilakukan sebagai berikut:
( ) ( )( )
( )
(
¸
(

¸
÷
=
(
¸
(

¸

+ ÷ + + +
+ ÷ ÷ + + ÷ +
=
(
(
(
¸
(

¸

÷
(
¸
(

¸
÷
=
62 44
76 2
9 . 4 7 . 2 5 . 8 2 . 4 6 . 2 3 . 8
9 . 5 7 . 3 5 . 2 2 . 5 6 . 3 3 . 2
9 2
7 6
5 3
.
4 2 8
5 3 2
AB

1.5. Aturan-Aturan Ilmu Hitung Matriks
Walaupun banyak dari aturan-aturan ilmu hitung bilangan riil berlaku
juga untuk matriks, namun terdapat beberapa kekecualian. Salah satu dari
kekecualian yang terpenting terjadi pada perkalian matriks. Untuk bagian–bagian
riil a dan b kita selalu mempunyai ab = ba yang sering disebut hukum komutatif
untuk perkalian. Akan tetapi, untuk matriks–matriks, maka AB dan BA tidak
perlu sama. Kesamaan dapat gagal terpenuhi karena tiga hal. Hal itu dapat terjadi,
misalnya AB didefinisikan sedangkan BA tidak didefinisikan. Ini adalah kasus
kalau A adalah matriks 2 x 3 dan B adalah matriks 3 x 4. Juga dapat terjadi AB
dan BA kedua–duanya didefinisikan tetapi mempunyai ukuran yang berbeda-
beda. Hal ini terjadi kalau A adalah matriks 2 x 3 dan B adalah matriks 3 x2..
Akhirnya, seperti yang diperlihatkan oleh contoh berikutnya, maka mungkin
untuk memperoleh BA AB= walaupun AB dan BA didefinisikan dan
mempunyai ukuran yang sama.


Contoh:
Tinjaulah matriks –matriks

9
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸
÷
=
0 3
2 1
,
3 2
0 1
B A
Dengan mengalikannya maka akan memberikan
(
¸
(

¸
÷ ÷
=
4 11
2 1
AB
(
¸
(

¸

÷
=
0 3
6 3
BA
Jadi, BA AB= .
Walaupun hukum komutatif untuk perkalian tidak berlaku dalam ilmu
hitung matriks, namun banyak hukum–hukum ilmu hitung yang sudah biasa
dikenal akan berlaku untuk matriks. Beberapa diantara hukum yang paling
penting dan nama–namanya diikhtisarkan dalam teorema berikut,

Teorema
Dengan mengganggap bahwa ukuran-ukuran matriks adalah sedemikian
sehingga operasi-operasi yang ditunjukkan dapat diperagakan, maka aturan-
aturan ilmu hitung matrriks berikut akan sahih.
a. A+B = B + A (Hukum komutatif untuk penambahan)
b. A+ (B+C) = (A+B)+C (Hukum asosiatif untuk penambahan)
c. A(BC) = (AB)C (Hukum asosiatif untuk perkalian)
d. A(B+C)=AB+AC (Hukum distributif)
e. (B+C)A=BA+CA (Hukum distributif)
f. A(B-C)=AB-AC
g. (B-C)A=BA-CA
h. a(B+C)=aB+aC
i. a(B-C)=aB-aC
j. (a+b)C=aC+bC

10
k. (a-b)C=aC-bC
l. (ab)C=a(bC)
m. a(BC)=(aB)C=B(aC)

Walaupun operasi penambahan matriks dan operasi perkalian matriks
didefinisikan untuk pasangan matriks, namun hukum hukum asosiatif (b) dan
(c) memungkinkan kita untuk jumlah dan hasil kali tiga matriks seperti
A+B+C dan ABC tanpa menyisipkan tanda kurung. Hal ini dibenarkan oleh
kenyatan bahwa bagaimanapun, tersebut disisipkan, hukum asosiatif
menjamin bahwa hasil akhir yang sama akan kita peroleh.

Contoh:
Sebagai gambaran hukum asosiatif untuk perkalian matriks, tinjaulah
(
(
(
¸
(

¸

=
1 0
4 3
2 1
A
(
¸
(

¸

=
1 2
3 4
B
(
¸
(

¸

=
3 2
0 1
C
Kemudian
(
(
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

=
1 2
13 20
5 8
1 2
3 4
.
1 0
4 3
2 1
AB


Sehingga

11

(
(
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

=
3 4
39 46
15 18
3 2
0 1
.
1 2
13 20
5 8
) ( C AB

Sebaliknya

(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

=
3 4
9 10
3 2
0 1
.
1 2
3 4
BC

Maka

(
(
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

=
3 4
39 46
15 18
3 4
9 10
.
1 0
4 3
2 1
) (BC A

Jadi, (AB)C=A(BC),

1.6. Jenis-Jenis Matriks.
1. Matriks Bujur Sangkar.
Suatu matriks yang mempunyai jumlah baris dan jumlah kolom yang sama
disebut matriks bujur sangkar.
Contoh:
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
1 6 5
4 5 3
3 2 12
P
Jumlah baris = 3, jumlah kolom = 3.

12
2. Matriks Diagonal.
Suatu matriks bujur sangkar, dimana elemen diagonal utama = 0 dan
selainnya sama dengan nol, disebut matriks diagonal.
Contoh:
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
1 0 0
0 1 0
0 0 1
,
2 0 0 0
0 2 0 0
0 0 2 0
0 0 0 2
,
5 0 0
0 6 0
0 0 3
,
3 0
0 2
D C B A

3. Matriks Satuan.
Suatu matriks diagonal, dimana elemen–elemen diagonal utama
semuanya 1 disebut matriks satuan. Matriks satuan ini biasanya ditulis dengan
notasi I. Matriks satuan yang berdimensi n x n ditulis dengan notasi I
n
.
¹
´
¦
=
=
= =
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
j i
j i
I
atau
I
ij ij n
n
, 0
, 1
,
1 ... 0 0
.
.
.
0 ... 1 0
0 ... 0 1
o o


Contoh:
Matriks satuan 3 x 3:
(
(
(
¸
(

¸

=
1 0 0
0 1 0
0 0 1
3
I

13
Jika A matriks bujursangkar bertipe n x n dan I matriks satuan bertipe n x n maka:
IA=AI=A.

4. Matriks Nol.
Suatu matriks yang semua elemen–elemennya nol disebut matriks nol
dan ditulis dengan notasi 0. Matriks nol tidak selalu berbentuk bujur sangkar.
Contoh:
| |
3 3 . dim ,
0 0 0
0 0 0
0 0 0
3 1 . dim , 0 0 0
x ensi ber O
x ensi ber O
(
(
(
¸
(

¸

=
=

Pada matriks nol berlaku operasi berikut:
A + 0 = 0 + A = A.
A-A = 0.
A0 =0A= 0.
Dalam hal ini A dan 0 adalah matriks bujursangkar yang bertipe
sama.Pada bilangan riil berlaku a.b = 0, artinya a=0, b = 0, akan tetapi pada
matriks hal ini tidak berlaku.
Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada contoh berikut:

(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

÷
=
(
¸
(

¸

=
0 0
0 0
0 1
0 4
0 0
4 1
0 1
0 4
,
0 0
4 1
AB
x AB
B A

Dari hasil di atas juga dapat dilihat bahwa hasil kalinya adalah matriks nol, tetapi
A dan B bukan matriks nol.

14
5. Matriks Transpose.
Transpose dari matriks A adalah suatu matriks yang dibentuk dari A
dengan mengubah baris dan kolom A menjadi kolom dan baris matriks tranpose.
Matriks transpose dinotasikan dengan A’ atau A
T.

Jika
'
'
'
.
ji ji
a A maka a A = =
Jika A bertipe m x n maka A’ bertipe n x m.
Sifat–sifat matriks transpose adalah sebagai berikut:
a. Jika A dan B bertipe sama, maka:
b. Pada matriks satuan I berlaku I’ = I.
c. Transpose suatu matriks A’ adalah matriks A atau (A’)’ = A.
Contoh:
Hitunglah (AB)’, jika:
( )
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
2 2
7 5
'
2 7
2 5
1 2
0 1
2 3
2 1
:
1 2
0 1
,
2 3
2 1
AB
AB
x AB
Jawab
B A







15
Contoh:
Buktikan ( ) : , ' ' ' jika A B AB =
| |
| |
| |
( ) | |
| |
| | 8 ' '
2 3 ' ,
1
2
'
8 '
8
2
3
1 2
:
2
3
, 1 2
=
=
(
¸
(

¸

=
=
=
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

= =
A B
B A
AB
AB
x AB
Bukti
B A

Maka terbukti bahwa (AB)’ = B’A’.

6. Matriks Simetris.
Matriks Simetris A adalah suatu matriks yang memenuhi A = A’. Dalam
hal ini jelas bahwa matriks simetris adalah matriks bujur sangkar. Elemen baris
ke-i dan kolom ke-j dari matriks A = elemen pada baris ke-j dan kolom ke-i dari
matriks A’, atau a
ij
untuk semua i dan j.

Contoh:
Matriks simetris berdimensi 3 x 3:
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

=
6 6 5
6 7 1
5 1 4
,
6 6 5
6 7 1
5 1 4
'
A A


7. Matriks Simetris Miring.

16
Matriks simetris miring A adalah suatu matriks bujur sangkar dan a
ij
= - a
ij
,
a
ii
= 0.
Contoh:
Matriks simetris miring berdimensi 3 x 3:
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷ = ÷
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷ =
0 5 4
5 0 2
4 2 0
'
0 5 4
5 0 2
4 2 0
' ,
0 5 4
5 0 2
4 2 0
A
A A


8. Matriks Invers.
Matriks Invers atau matrik balikan adalah adalah matriks yang apabila
dikalikan dengan matriks bujur sangkar menghasilkan sebuah matriks satuan. Jika
A merupakan suatu matriks bujursangkar, maka balikannya dituliskan dengan
notasi A
-1
Dan AA
-1
= I.
Sifat–sifat invers matriks:
a. Jika A dan B matriks bujur sangkar yang bertipe sama, maka: (AB)
-1
= B
-1
A
-
1
.
b. Invers dari invers matriks adalah matriks itu sendiri: (A
-1
)
-1
=A.
c. Invers matriks satuan adalah matriks satuan itu sendiri atau I
-1
= I.
d. Invers matriks tranpose adalah matriks tranpose, atau: (A ‘)
-1
= (A
-1
)’.


Contoh:

17
Tentukanlah matriks invers dari
(
¸
(

¸

=
3 5
4 8
A
Penyelesaian:
4
3 5
4 8
= = A , bearti A non singular dan A
-1
ada.
(
¸
(

¸

÷
= =
= = = ÷ =
÷
=
÷
=
=
÷
=
÷
= = = =
÷
2 25 . 1
1 75 . 0
2
4
8
, 25 . 1
4
5
1
4
4
, 75 . 0
4
3
1
11
22
21
21
12
12
22
11
B A
Jadi
A
a
b
A
a
b
A
a
b
A
a
b


Tentukan invers dari matriks
(
¸
(

¸

=
3 6
4 8
A
Penyelesaian:
0
3 6
4 8
= = A , berarti A singular dan A
-1
tidak ada.

9. Matriks Skalar, Ortogonal, Singular, dan Non Singular.
Matriks Skalar adalah matriks diagonal yang unsur–unsurnya sama atau
seragam ( ì ). Dalam hal ì =1, matriks yang bersangkutan sekaligus juga
merupakan matriks satuan. Matriks skalar juga merupakan hasil kali sebuah skalar
dengan matriks satuan, ì I = matriks skalar ì .
Matriks Orthogonal adalah matriks yang apabila dikalikan dengan matriks
ubahannya menghasilkan matriks satuan., AA’ = I.

18
Matriks Singular adalah matriks bujursangkar yang determinannya sama
dengan nol. Matriks semacam ini tidak mempunyai balikan. Sedangkan matriks
nonsingular adalah matriks bujursangkar yang determinannya tidak nol, matriks
semacam ini mempunyai balikan.

1.7. Rangkuman
Suatu himpunan bilangan atau variabel yang disusun dalam bentuk empat
persegi panjang, yang terdiri dari baris dan kolom disebut matriks . Jika matrik
mempunyai m baris dan n kolom, maka disebut matrik berdimensi m x n.
Matriks ditulis dalam bentuk ( ) atau | | dan bentuk lain . Matriks
biasa ditulis dengan huruf besar dan elemen–elemennya dengan huruf kecil.
Dua buah matriks hanya dapat dijumlahkan atau dikurangkan apabila
keduanya berorde sama.
Hasil kali sebuah matriks A =| |
ij
a dengan suatu skalar atau bilangan
nyata ì adalah sebuah matriks baru B | |
ij
b = yang berorde sama dan unsur–unsur
ì kali unsur–unsur matriks semula ( )
ij ij
a b ì = .
Dua matriks hanya dapat dikalikan apabila jumlah kolom dari matriks
yang dikalikan sama dengan jumlah baris dari matriks pengalinya.
Suatu matriks yang mempunyai jumlah baris dan jumlah kolom yang sama
disebut matriks bujur sangkar
Suatu matriks bujur sangkar, dimana elemen diagonal utama = 0 dan
selainnya sama dengan nol, disebut matriks diagonal

19
Suatu matriks diagonal, dimana elemen–elemen diagonal utama
semuanya 1 disebut matriks satuan.
Suatu matriks yang semua elemen–elemennya nol disebut matriks nol
dan ditulis dengan notasi 0.
Transpose dari matriks A adalah suatu matriks yang dibentuk dari A
dengan mengubah baris dan kolom A menjadi kolom dan baris matriks tranpose.
Matriks Simetris A adalah suatu matriks yang memenuhi A = A’
Matriks simetris miring A adalah suatu matriks bujur sangkar dan a
ij
= - a
ij
,
a
ii
= 0.
Matriks Invers atau matriks balikan adalah adalah matriks yang apabila
dikalikan dengan matriks bujur sangkar menghasilkan sebuah matriks satuan.
Matriks Skalar adalah matriks diagonal yang unsur–unsurnya sama atau
seragam ( ì ).
Matriks Orthogonal adalah matriks yang apabila dikalikan dengan matriks
ubahannya menghasilkan matriks satuan., AA’ = I.
Matriks Singular adalah matriks bujursangkar yang determinannya sama
dengan nol. Matriks semacam ini tidak mempunyai balikan.
Matriks nonsingular adalah matriks bujursangkar yang determinannya
tidak nol, matriks semacam ini mempunyai balikan.






20
1.8. Latihan
1. Diketahui matriks sebagai berikut:
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸
÷
=
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷
=
(
(
(
¸
(

¸

=
1 2
0 2
,
1 2 1
1 5 2
1 4 5
4 5 2
1 0 2
,
2 1 5
3 2 0
5 4 5
,
5 0
3 5
4 2
,
4 1
3 2
5 3
2 2 3 2
3 3 3 3 2 3 2 3
X X
X X X X
F E
D C B A

Tentukanlah nilai dari:
a. 2A+2B
b. 5A-2B
c. A.B
d. A.F
e. E.B
f. A.F.E
2. Diketahui matriks sebagai berikut:
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ =
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
1 2
3 1
,
1 2 1
1 3 2
1 0 3
2 2 2
0 0 2
,
2 1 0
3 2 0
2 1 2
,
5 4
3 1
2 3
,
1 2 3
2 1 4
0 5 2
2 2 3 2
3 3 3 3 2 3 3 3
X X
X X X X
F E
D C B A

Tentukanlah nilai dari:
a. 2A+5C
b. 5A-B
c. A.B
d. A.C
e. E.B
f. A.B.F

21
3. Tinjaulah Matriks–matriks

(
(
(
¸
(

¸

÷ =
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸
÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷ =
3 1 4
2 1 1
3 1 6
,
4 2 3
1 0 1
2 5 1
,
5 1 3
2 4 1
,
2 0
1 4
,
1 1
2 1
0 3
E D C B A
Hitunglah:
a. A.B
b. D+E
c. D-E
d. D.E
e. E.D
f. – 7D
4. Dengan menggunakan matriks–matriks di latihan no.3 , hitunglah operasi-
operasi yang berkaitan dengan (di mana mungkin)
a. 3C-D
b. (3E)D
c. (AB) C
d. A(BC)
e. D + E
2

5. Apakah yang dimaksud dengan matriks bujur sangkar?
6. Apakah yang dimaksud dengan matriks diagonal?
7. Apakah yang dimaksud dengan matriks satuan ?
8. Apakah yang dimaksud dengan matriks transpose?
9. Apakah yang dimaksud dengan matriks simetris?
10. Apakah yang dimaksud dengan matriks simetris miring?

22
11. Apakah yang dimaksud dengan matriks invers?
12. Apakah yang dimaksud dengan matriks Skalar?
13. Apakah yang dimaksud dengan matriks Ortogonal ?
14. Apakah yang dimaksud dengan matriks Singular ?
15. Apakah yang dimaksud dengan matriks Non Singular?

1.9.Daftar Pustaka.
1. Nababan, M. 1993. Pengantar Matematika untuk Ilmu Ekonomi dan
Bisnis. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. Anton, Howard. 1995. Matematika I Elementer. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
3. Dumairy. 1996. Matematika Terapan untuk Bisnis dan
Ekonomi.Yogyakarta:BPFE.












23
BAB II
DETERMINAN

2.1 Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti mata kuliah Matematika I ini mahasiswa akan dapat
menyelesaikan operasi matriks, menentukan nilai determinan matriks,
menentukan invers matriks, dapat menyelesaikan sistem persamaan linier, dan
dapat menginterpretasikannya dengan baik dan benar.

2.2 Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal perlatihannya diharapkan
mahasiswa akan dapat:
1. Menyebutkan pengertian determinan dengan benar.
2. Menyebutkan sifat–sifat determinan dengan benar.
3. Menentukan determinan dengan metode Sarrus dengan benar.
4. Menentukan minor dan kofaktor suatu matriks dengan benar.
5. Menentukan matriks kofaktor dengan benar.
6. Menentukan determinan dengan metode ekspansi kofaktor dengan benar.
7. Menentukan determinan dengan metode reduksi baris dengan benar.






24
2.3 Pengertian Determinan.
Determinan dari suatu matriks adalah penulisan unsur–unsur sebuah
matriks bujur sangkar dalam bentuk determinan, yaitu diantara sepasang garis
tegak atau . Determinan matriks A lazim dituliskan dengan notasi A atau
D
A
. Determinan dengan matriks dalam tiga hal:
1. Determinan unsur–unsurnya diapit dengan sepasang garis tegak,
sedangkan matriks diapit dengan tanda kurung.
2. Determinan senantiasa berbentuk bujur sangkar (jumlah baris = jumlah
kolom, m=n), sedangkan matriks tidak harus demikian.
3. Determinan mempunyai nilai numerik, tetapi tidak demikian halnya
dengan matriks.
Pencarian nilai numerik dari suatu determinan dapat dilakukan dengan
cara mengalikan unsur–unsurnya secara diagonal.
Matriks
22 21
12 11
22 21
12 11
; min det ,
a a
a a
A annya er
a a
a a
A =
(
¸
(

¸

=
Nilai numeriknya:
12 21 22 11
22 21
12 11
a a a a
a a
a a
A ÷ = =
Contoh:
10 4 . 3 1 . 2
1 3
4 2
det
1 2 . 2 3 . 1
3 2
2 1
det
1 3
4 2
,
3 2
2 1
÷ = ÷ = =
÷ = ÷ = =
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

=
B
A
maka
B A



25
Untuk determinan berdimensi 3.
(
(
(
¸
(

¸

=
33 32 31
23 22 21
13 12 11
a a a
a a a
a a a
A
Metode yang digunakan oleh Sarrus untuk menentukan determinan matriks A
adalah;
12 21 33 11 23 32 13 22 31 32 21 13 31 23 12 33 22 11
32 31
22 21
12 11
33 32 31
23 22 21
13 12 11
a a a a a a a a a a a a a a a a a a A
a a
a a
a a
a a a
a a a
a a a
A
÷ ÷ ÷ + + =
=


Contoh:
3 2 . 2 . 1 1 . 1 . 2 4 . 3 . 1 2 . 2 . 4 1 . 1 . 2 1 . 3 . 1
2 1
3 2
2 1
1 2 1
1 3 2
4 2 1
det
1 2 1
1 3 2
4 2 1
= ÷ ÷ ÷ + + = =
(
(
(
¸
(

¸

=
A
maka
A


2.4 Sifat–sifat Determinan.
Determinan mempunyai beberapa sifat khas berkenaan dengan nilai
numeriknya. Sifat–sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Nilai determinannya adalah nol jika semua unsurnya sama.
Contoh:
0 27 27 27 27 27 27
3 3 3
3 3 3
3 3 3
= ÷ ÷ ÷ + + = = A

26
2. Nilai determinannya adalah nol jika terdapat dua baris atau dua kolom yang
unsur–unsurnya sama.

Contoh:
0 12 16 4 12 16 4
1 4 2
2 2 3
1 4 2
= ÷ ÷ ÷ + + = = A
3. Nilai determinannya adalah nol jika terdapat dua baris atau dua kolom yang
unsur–unsurnya sebanding.

Contoh:
0 12 8 60 12 8 60
6 2 4
2 5 2
3 1 2
= ÷ ÷ ÷ + + = = A
4. Nilai determinannya adalah nol jika unsur–unsur pada salah satu baris atau
kolom semuanya nol.

Contoh:
0 0 0 0 0 0 0
0 0 0
4 1 2
5 3 2
= ÷ ÷ ÷ + + = = A
5. Nilai determinan tidak berubah jika semua baris dan kolomnya saling
bertukar letak, dengan kata lain determinan dari matriks A sama dengan
determinan matriks ubahannya A’; . ' A A =



27
Contoh:
12 36 10 4 6 20 12
3 1 1
5 2 3
2 4 2
'
12 36 10 4 20 6 12
3 5 2
1 2 4
1 3 2
÷ = ÷ ÷ ÷ + + = =
÷ = ÷ ÷ ÷ + + = =
A
A

6. Nilai determinan berubah tanda (tetapi harga mutlaknya tetap) jika dua baris
atau dua kolom bertukar letak.

Contoh:
6 12 8 40 8 10 48
3 2 5
1 4 2
2 2 4
6 48 10 8 40 8 12
3 5 2
1 2 4
2 4 2
= ÷ ÷ ÷ + + = =
÷ = ÷ ÷ ÷ + + = =
B
A

7. Determinan dari suatu matriks diagonal adalah hasil kali unsur–unsur
diagonalnya.

Contoh:
24
3 0 0
0 4 0
0 0 2
= = A
8. Jika setiap unsur pada salah satu baris atau kolom dikalikan dengan suatu
bilangan, nilai determinannya adalah sama dengan hasilkalinya dengan
bilangan tersebut.


28
Contoh:
A A
dikali kedua baris jika A
3 18 144 30 24 120 24 36
3 5 2
3 6 12
2 4 2
*
3 . .. .. . 6 48 10 8 40 8 12
3 5 2
1 2 4
2 4 2
= ÷ = ÷ ÷ ÷ + + = =
÷ = ÷ ÷ ÷ + + = =

9. Jika semua unsur merupakan penjumlahan dari dua bilangan atau lebih,
determinannya dapat dituliskan sebagai penjumlahan dari dua determinan
atau lebih.
10. Jika nilai determinan dari suatu matriks sama dengan nol, matriksnya
dikatakan singular dan tidak mempunyai balikan (invers): jadi bila 0 = A , A
merupakan matriks singular dan A
-1
tidak ada.
11. Jika nilai determinan dari suatu matriks tidak sama dengan nol, matriksnya
dikatakan nonsingular dan mempunyai balikan (invers): jadi bila 0 = A , A
merupakan matriks nonsingular dan A
-1
ada.
12. Pada penguraian determinan (ekspansi Laplace), nilai determinan sama
dengan nol jika unsur baris atau kolom dikalikan dengan kofaktor unsur baris
atau kolom yang lain, tetapi tidak sama dengan nol jika unsur suatu baris
atau kolom dikalikan dengan kofaktor unsur baris atau kolom itu sendiri.

2.5 Minor dan Kofaktor.
Laplace berhasil mengembangkan suatu cara penyelesaian yang berlaku
umum untuk determinan berdimensi berapapun, yakni menggunakan minor dan
kofaktor dari determinan yang bersangkutan.

29
Perhatikan kembali penyelesaian determinan berdimensi 3,
12 21 33 11 23 32 13 22 31 32 21 13 31 23 12 33 22 11
a a a a a a a a a a a a a a a a a a A ÷ ÷ ÷ + + =
Dengan mengatur letak suku-sukunya, penulisan ini bisa diubah menjadi:
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
( ) ( ) ( )
13 13 12 12 11 11
32 31
22 21
13
33 31
23 21
12
33 32
23 22
11
22 31 21 32 13 31 23 33 21 12 32 23 33 22 11
22 31 21 32 13 33 21 31 23 12 32 23 33 22 11
13 22 31 21 32 13 33 12 21 31 23 12 32 23 11 33 22 11
M a M a M a A
a a
a a
a
a a
a a
a
a a
a a
a A
a a a a a a a a a a a a a a a A
a a a a a a a a a a a a a a a A
a a a a a a a a a a a a a a a a a a A
+ ÷ =
+ ÷ =
÷ + ÷ ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =

Ternyata dengan menutup baris-baris dan kolom-kolom tertentu,
determinan A terdiri atas beberapa determinan-bagian (sub determinan).
Determinan-determinan bagian ini dinamakan minor. Suatu minor secara umum
dilambangkan dengan notasi M
ij.
M
11
adalah minor dari unsur a
11
, diperoleh dengan jalan menutup
baris ke -1 dan kolom ke-1 dari determinan A .
M
12
adalah minor dari unsur a
12
, diperoleh dengan jalan menutup
baris ke -1 dan kolom ke-2 dari determinan A .
M
13
adalah minor dari unsur a
13
, diperoleh dengan jalan menutup
baris ke -1 dan kolom ke-3 dari determinan A .
Penulisan determinan dalam bentuk minor seperti di atas diubah ke dalam
penulisan kofaktor. Kofaktor dari determinan A untuk minor tertentu M
11

dilambangkan dengan A
ij
.
Hubungan antara kofaktor dan minor: ( )
ij
j i
ij
M A
+
÷ = 1

30
M
ij
adalah minor dari unsur a
ij
, diperoleh dengan jalan menutup baris
ke -i dan kolom ke-j dari determinan A .
A
ij
adalah kofaktor dari unsur a
ij.

Dengan demikian,

( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
13 13
4
13
3 1
13
12 12
3
12
2 1
12
11 11
2
11
1 1
11
1 1
1 1
1 1
M M M A
M M M A
M M M A
+ = ÷ = ÷ =
÷ = ÷ = ÷ =
+ = ÷ = ÷ =
+
+
+


Kofaktor A
ij
praktis adalah sama dengan minor M
ij
itu sendiri, jika i + j
menghasilkan bilangan genap, dan A
ij
negatif dari M
ij
apabila i + j menghasilkan
bilangan ganjil.
Penyelesaian determinan menggunakan notasi minor untuk matriks
berdimensi 3 adalah sebagai berikut;

33 33 32 32 13 13
32 32 22 22 12 12
31 31 21 21 11 11
33 33 32 32 31 31
23 23 22 22 21 21
13 13 12 12 11 11
A a A a A a
A a A a A a
A a A a A a
A a A a A a
A a A a A a
A a A a A a A
+ + =
+ + =
+ + =
+ + =
+ + =
+ + =

Penyelesaian determinan menggunakan notasi minor
¿
=
= + ÷ =
n
j i
ij ij
M a M a M a M a A
1 ,
13 13 12 12 11 11

dalam notasi kofaktor menjadi:
¿
=
= + + =
n
j i
ij ij
A a A a A a A a A
1 ,
13 13 12 12 11 11


31
atau:
ij
n
j
ij
M a A
¿
=
=
1
untuk setiap baris; i = 1, 2, 3, …, n.
ij
n
i
ij
M a A
¿
=
=
1
untuk setiap kolom; j = 1, 2, 3, …, n.

Definisi
Jika A adalah sebarang matriks n x n dan Aij adalah kofaktor a ij , maka
matriks

(
(
(
(
¸
(

¸

mn n n
n
n
A A A
A A A
A A A

  


2 1
2 22 21
1 12 11

Dinamakan matriks kofaktor A. Transpose matriks ini dinamakan adjoint A
dan dinyatakan dengan adj(A)

3. Diketahui matriks A sebagai berikut:
(
(
(
¸
(

¸

=
9 8 7
6 5 4
3 2 1
A
Hitunglah matriks kofaktornya, serta matriks adjointnya.






32
Penyelesaian:
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( ) 3 3 1 3
5 4
2 1
6 6 1 6
6 4
3 1
3 3 1 3
6 5
3 2
6 6 1 6
8 7
2 1
12 12 1 12
9 7
3 1
6 6 1 6
9 8
3 2
3 3 1 3
8 7
5 4
6 6 1 6
9 7
6 4
3 3 1 3
9 8
6 5
6
33 33
5
32 32
4
31 31
5
23 23
4
22 22
3
21 21
4
13 13
3
12 12
2
11 11
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M

Maka matriks kofaktornya adalah
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷
÷ ÷
3 6 3
6 12 6
3 6 3

Sedangkan matriks adjoinnya adalah

(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷
÷ ÷
=
3 6 3
6 12 6
3 6 3
) ( A Adj
4. Diketahui matriks B sebagai berikut:
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷ =
2 4 5
3 4 2
0 1 3
B

33
Hitunglah matriks kofaktornya, serta matriks adjointnya

Penyelesaiannya:
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
( )
( ) ( ) 10 10 1 10
4 2
1 3
7 7 1 7
4 5
1 3
12 12 1 12
4 5
4 2
9 9 1 9
3 2
0 3
6 6 1 6
2 5
0 3
11 11 1 11
2 5
3 2
3 3 1 3
3 4
0 1
2 2 1 2
2 4
0 1
4 4 1 4
2 4
3 4
6
32 33
5
22 23
4
13 13
5
32 32
4
22 22
3
12 12
4
31 31
3
21 21
2
11 11
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷ ÷
=
÷ = ÷ = ¬ = =
= ÷ = ¬ =
÷ ÷
=
÷ = ÷ = ¬ =
÷
=
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
=
= ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
÷
=
= ÷ = ¬ =
÷
=
= ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
=
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
÷
=
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M
A M

Maka matriks kofaktornya adalah

(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷
10 9 3
7 6 2
12 11 4

Sedangkan matriks adjoinnya adalah

(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷
=
10 7 12
9 6 11
3 2 4
) (B Adj


34
Cara penyelesaian determinan yang dikembangkan oleh Laplace dengan
menggunakan minor dan kofaktor ini, dikenal dengan sebutan metode ekspansi
dengan kofaktor.
5. Diketahui matriks A sebagai berikut:
(
(
(
¸
(

¸

=
9 8 7
6 5 4
3 2 1
A
Hitunglah determinan dari matriks A dengan menggunakan ekspansi kofaktor
sepanjang:
a. baris pertama
b. baris kedua
c. baris ketiga
Contoh: (Ekspansi dengan kofaktor sepanjang baris pertama)
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
0 ) 3 ( 3 ) 6 ( 2 ) 3 ( 1
3 3 1 3
8 7
5 4
6 6 1 6
9 7
6 4
3 3 1 3
9 8
6 5
9 8 7
6 5 4
3 2 1
13 13 12 12 11 11
4
13 13
3
12 12
2
11 11
= ÷ + + ÷ = + + =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
=
A a A a A a A
A M
A M
A M
A

Contoh: (Ekspansi dengan kofaktor sepanjang baris kedua)

35
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
0 ) 6 ( 6 ) 12 ( 5 ) 6 ( 4
6 6 1 6
8 7
2 1
12 12 1 12
9 7
3 1
6 6 1 6
9 8
3 2
9 8 7
6 5 4
3 2 1
23 23 22 22 21 21
5
23 23
4
22 22
3
21 21
= + ÷ + = + + =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
=
A a A a A a A
A M
A M
A M
A

Contoh: (Ekspansi dengan kofaktor sepanjang baris ketiga)
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
0 ) 3 ( 9 ) 6 ( 8 ) 3 ( 7
3 3 1 3
5 4
2 1
6 6 1 6
6 4
3 1
3 3 1 3
6 5
3 2
9 8 7
6 5 4
3 2 1
33 33 32 32 31 31
6
33 33
5
32 32
4
31 31
= ÷ + + ÷ = + + =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
= ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ = =
=
A a A a A a A
A M
A M
A M
A


6. Diketahui matriks B sebagai berikut:
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷ =
2 4 5
3 4 2
0 1 3
B
Hitunglah determinan dari matriks B dengan menggunakan ekspansi kofaktor
sepanjang:
a. kolom pertama
b. kolom kedua

36
c. kolom ketiga

Contoh: (Ekspansi dengan kofaktor sepanjang kolom pertama)
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
1 ) 3 ( 5 ) 2 )( 2 ( ) 4 ( 3
3 3 1 3
3 4
0 1
2 2 1 2
2 4
0 1
4 4 1 4
2 4
3 4
2 4 5
3 4 2
0 1 3
31 31 21 21 11 11
4
31 31
3
21 21
2
11 11
÷ = + ÷ + ÷ = + + =
= ÷ = ¬ =
÷
=
= ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
=
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
÷
=
÷
÷ ÷ =
A a A a A a B
A M
A M
A M
B

Contoh: (Ekspansi dengan kofaktor sepanjang kolom kedua)
( ) ( )
( ) ( )
( ) ( )
1 ) 9 ( 4 ) 6 )( 4 ( ) 11 ( 1
9 9 1 9
3 2
0 3
6 6 1 6
2 5
0 3
11 11 1 11
2 5
3 2
2 4 5
3 4 2
0 1 3
23 23 22 22 12 12
5
32 32
4
22 22
3
12 12
÷ = ÷ + ÷ ÷ + = + + =
÷ = ÷ = ¬ =
÷
=
÷ = ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
=
= ÷ ÷ = ¬ ÷ =
÷
÷
=
÷
÷ ÷ =
A a A a A a B
A M
A M
A M
B


7. Diketahui matriks C sebagai berikut:
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
6 3 14 6
1 3 0 3
1 0 1 1
4 0 4 4
C

37
Hitunglah determinan dari matriks C dengan menggunakan ekspansi kofaktor
Penyelesaian:
Ekspansi kofaktor sepanjang kolom kedua,
6 3 14 6
1 3 0 3
1 0 1 1
4 0 4 4
÷
÷
= C
Karena a
13
dan a
23
nilainya masing-masing adalah nol, maka minor yang dicari
hanya M
33
dan M
43
.
Pada minor M
33
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
64
32 0 32
)) 24 56 ( ).( 1 ( ) 24 24 .( 1 )) 56 24 ( .( 1
14 6
4 4
. ) 1 ).( 1 (
6 6
4 4
. ) 1 .( 1
6 14
4 4
. ) 1 .( 1
6 14 6
1 1 1
4 4 4
3 2 2 2 1 2
33
=
+ + =
÷ ÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ ÷ + ÷ + ÷ =
÷ =
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 64 64 . ) 1 (
3 3
33
= ÷ =
+
A
Pada minor M
33
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
ketiga
24
) 4 4 .( 1 ) 4 4 .( 3
1 1
4 4
. ) 1 ).( 1 (
1 1
4 4
. ) 1 .( 3
1 0 3
1 1 1
4 4 4
3 3 1 3
43
÷ =
÷ + ÷ ÷ =
÷ +
÷
÷ =
÷ =
+ +
M


38
Sehingga diperoleh kofaktor 24 ) 24 .( ) 1 (
3 4
43
= ÷ ÷ =
+
A

Maka determinan dari matriks C dengan menggunakan ekspansi kofaktor adalah
120 24 . 3 64 ). 3 ( ÷ = + ÷ = C

8. Diketahui matriks D sebagai berikut:
(
(
(
(
¸
(

¸

=
3 1 6 2
2 3 1 4
1 8 2 3
1 4 5 2
D
Hitunglah determinan dari matriks D dengan menggunakan ekspansi kofaktor
a. sepanjang kolom keempat.
b. Sepanjang baris pertama.
Penyelesaian:
a. Ekspansi kofaktor sepanjang kolom keempat,
3 1 6 2
2 3 1 4
1 8 2 3
1 4 5 2
= D
Maka minor yang dicari adalah M
14,
M
24,
M
34,
M
44

Pada minor M
14
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua

39
129
42 13 184
) 14 .( 3 ) 13 ( 46 . 4
)) 4 18 ( .( 3 ) 16 3 .( 1 )) 48 2 ( .( 4
6 2
2 3
. ) 1 .( 3
1 2
8 3
. ) 1 .( 1
1 6
8 2
. ) 1 .( 4
1 6 2
3 1 4
8 2 3
3 2 2 2 1 2
14
=
÷ ÷ =
÷ + ÷ + =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 129 129 . ) 1 (
4 1
14
÷ = ÷ =
+
A
Pada minor M
24
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
64
6 6 76
) 2 .( 3 ) 6 ( 19 . 4
)) 10 12 ( .( 3 ) 8 2 .( 1 )) 24 5 ( .( 4
6 2
5 2
. ) 1 .( 3
1 2
4 2
. ) 1 .( 1
1 6
4 5
. ) 1 .( 4
1 6 2
3 1 4
4 5 2
3 2 2 2 1 2
24
=
÷ ÷ =
÷ + ÷ + =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 64 64 . ) 1 (
4 2
24
= ÷ =
+
A
Pada minor M
34,
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua

40
29
16 12 57
) 2 .( 8 ) 6 .( 2 19 . 3
)) 10 12 ( .( 8 ) 8 2 .( 2 )) 24 5 ( .( 3
6 2
5 2
. ) 1 .( 8
1 2
4 2
. ) 1 .( 2
1 6
4 5
. ) 1 .( 3
1 6 2
8 2 3
4 5 2
3 2 2 2 1 2
34
=
÷ ÷ =
÷ + ÷ + =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 29 29 . ) 1 (
4 3
34
÷ = ÷ =
+
A
Pada minor M
44
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
91
144 20 33
18 . 8 ) 10 .( 2 ) 11 .( 3
)) 20 2 ( .( 8 ) 16 6 .( 2 )) 4 15 ( .( 3
1 4
5 2
. ) 1 .( 8
3 4
4 2
. ) 1 .( 2
3 1
4 5
. ) 1 .( 3
3 1 4
8 2 3
4 5 2
3 2 2 2 1 2
44
=
+ ÷ ÷ =
+ ÷ + ÷ =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 91 91 . ) 1 (
4 4
44
= ÷ =
+
A
150 91 . 3 ) 29 .( 2 64 . 1 ) 129 .( 1 = + ÷ + + ÷ = D

b. Ekspansi kofaktor sepanjang baris pertama,
3 1 6 2
2 3 1 4
1 8 2 3
1 4 5 2
= D
Maka minor yang dicari adalah M
11,
M
12,
M
13,
M
14


41
Pada minor M
11
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
69
92 ) 23 (
)) 48 2 ( .( 2 ) 6 6 .( 3 )) 1 24 ( .( 1
1 6
8 2
. ) 1 .( 2
3 6
1 2
. ) 1 .( 3
3 1
1 8
. ) 1 .( 1
3 1 6
2 3 1
1 8 2
3 2 2 2 1 2
11
=
+ ÷ =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 69 69 . ) 1 (
1 1
11
= ÷ =
+
A
Pada minor M
12
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
45
26 21 ) 23 .( 4
)) 16 3 ( .( 2 ) 2 9 .( 3 )) 1 24 ( .( 4
1 2
8 3
. ) 1 .( 2
3 2
1 3
. ) 1 .( 3
3 1
1 8
. ) 1 .( 4
3 1 2
2 3 4
1 8 3
3 2 2 2 1 2
12
÷ =
+ + ÷ =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 45 ) 45 .( ) 1 (
2 1
12
= ÷ ÷ =
+
A
Pada minor M
13,
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua

42
21
28 7
)) 4 18 ( .( 2 ) 2 9 .( 1 )) 6 6 ( .( 4
6 2
2 3
. ) 1 .( 2
3 2
1 3
. ) 1 .( 1
3 6
1 2
. ) 1 .( 4
3 6 2
2 1 4
1 2 3
3 2 2 2 1 2
13
÷ =
÷ =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 21 ) 21 .( ) 1 (
3 1
13
÷ = ÷ ÷ =
+
A
Pada minor M
14
diselesaikan berdasarkan ekspansi kofaktor sepanjang baris
kedua
129
42 13 184
) 14 .( 3 ) 13 ( 46 . 4
)) 4 18 ( .( 3 ) 16 3 .( 1 )) 48 2 ( .( 4
6 2
2 3
. ) 1 .( 3
1 2
8 3
. ) 1 .( 1
1 6
8 2
. ) 1 .( 4
1 6 2
3 1 4
8 2 3
3 2 2 2 1 2
14
=
÷ ÷ =
÷ + ÷ + =
÷ ÷ + ÷ + ÷ ÷ =
÷ + ÷ + ÷ =
=
+ + +
M

Sehingga diperoleh kofaktor 129 129 . ) 1 (
4 1
14
÷ = ÷ =
+
A
150 129 84 225 138 ) 129 .( 1 ) 21 .( 4 45 . 5 69 . 2 = ÷ ÷ + = ÷ + ÷ + + = D

2.8 Reduksi Baris.
Determinan sebuah matriks dapat dihitung dengan mereduksi matriks
tersebut pada bentuk eselon baris. Metode ini penting untuk menghindari
perhitungan panjang yang terlibat dalam penerapan definisi determinan secara
langsung.

43
Mula –mula kita meninjau dua golongan matriks yang determinannya
dapat dihitung dengan mudah, tidak peduli berapapun besarnya ukuran matriks
tersebut.
Matriks kuadrat kita namakan segitiga atas (upper triangular) jika semua
entri di bawah diagonal utama adalah nol. Begitu juga matriks kuadrat kita
namakan segitiga bawah (lower triangular)) jika semua entri di atas diagonal
utama adalah nol. Sebuah matriks baik yang merupakan segitiga atas maupun
yang merupakan segitiga bawah kita namakan segitiga (triangular).

Contoh:
Sebuah matriks segitiga atas 4 x 4 yang umum mempunyai bentuk:
(
(
(
(
¸
(

¸

44
34 33
24 23 22
14 13 12 11
0 0 0
0 0
0
a
a a
a a a
a a a a

Maka nilai determinan
44 33 22 11
. . det a a a a A =
Sebuah matriks segitiga bawah 4 x 4 yang umum mempunyai bentuk:
(
(
(
(
¸
(

¸

44 43 42 41
33 32 31
22 21
11
0
0 0
0 0 0
a a a a
a a a
a a
a

Maka nilai determinan
44 33 22 11
. . det a a a a A =

Teorema
Jika A adalah matriks segitiga ukuran n x n ,maka det(A) adalah hasil kali
entri –entri pada diagonal utama, yakni
44 33 22 11
. . det a a a a A =

44
Contoh:
36
3 . 3 . 2 . 2
3 0 0 0
2 3 0 0
1 8 2 0
1 4 5 2
=
=
= A

7
1 . 1 . 1 ). 7 .( 1
1 0 0 0 0
1 1 0 0 0
1 0 1 0 0
2 4 0 7 0
3 5 1 3 1
÷ =
÷ =
÷ ÷
= B


Teorema
Misalkan A adalah sebarang matriks n x n
1. Jika A’ adalah matriks yang dihasilkan bila baris tunggal A dikalikan oleh
konstanta k, maka det(A) =k.det(A)
2. Jika A’ adalah matriks yang dihasilkan bila dua baris A dipertukarkan,
maka det(A’) = - det(A)
3. Jika A’ adalah matriks yang dihasilkan bila kelipatan satu baris A
ditambahkan pada baris lain, maka det(A) =det(A)

Contoh:
Tentukan determinan matriks–matriks berikut ini menggunakan reduksi baris:

45
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ =
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

=
1 2 1
2 3 2
3 2 1
1 2 1
3 2 1
4 1 0
1 2 1
4 1 0
12 8 4
1 2 1
4 1 0
3 2
3
2
1
A
A
A
1
A

Penyelesaian:
2
) 2 .( 1 . 1
1) baris pada dikurang 3 (baris
2 0 0
4 1 0
3 2 1
1 2 1
4 1 0
3 2
÷ =
÷ =
÷
=
=
1
A

-8
4.1.(-2)
) 1 - ke baris dikurang 3 - ke (baris
2 - 0 0
4 1 0
12 8 4
1 2 1
4 1 0
12 8 4
4
1
1
=
=
=
=
x
A

Matriks A
1
di atas dapat pula diselesaikan dengan cara reduksi baris berikut ini:

46
-8
)) 4.(1.1.(-2
1) - ke baris dikurang 3 - ke (baris
2 - 0 0
4 1 0
3 2 1
4.
diambil) dahulu terlebih 1 - ke baris bersama (faktor
1 2 1
4 1 0
3 2 1
. 4
1 2 1
4 1 0
12 8 4
1
=
=
=
=
= A

{ }
2
) 2 .( 1 . 1
) 1 - ke baris dikurang 3 - ke (baris
2 0 0
4 1 0
3 2 1
) 2 - ke baris dg 1 - ke baris (tukarkan
1 2 1
4 1 0
3 2 1
1 2 1
3 2 1
4 1 0
2
=
÷ ÷ =
÷
÷ =
÷ =
= A

2
) 2 .( 1 . 1
2 0 0
8 1 0
3 2 1
1) - ke baris dikurang 3 - ke baris , 1 - ke baris kali 2 ditambah 2 - ke (baris
1 2 1
2 3 2
3 2 1
1 2 1
2 3 2
3 2 1
3
÷ =
÷ =
÷
=
÷ ÷ =
÷ ÷ = A


47

Contoh;
Hitunglah determinan A, dimana:
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
8 4 1 1
5 1 9 3
8 4 6 2
4 2 3 1
A
Penyelesaian:
) determinan sifat sesuai karena a selanjutny reduksi memerlukan tidak kita ( 0
) 1 - ke baris (-2)dikali ditambah 2 - ke (baris
8 4 1 1
5 1 9 3
0 0 0 0
4 2 3 1
8 4 1 1
5 1 9 3
8 4 6 2
4 2 3 1
=
÷
=
÷
÷
= A

Contoh;
Setiap matriks berikut mempunyai dua baris yang sebanding, jadi berdasarkan
sifat –sifat determinan maka matriks tersebut memiliki determinan sebesar nol.
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

÷ ÷
0 2 6 8
1 2 3 0
0 1 3 4
3 5 2 3
,
12 6 3
1 3 1
4 2 1
,
10 4
5 2

9. Diketahui matriks C sebagai berikut:
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
6 3 14 6
1 3 0 3
1 0 1 1
4 0 4 4
C

48
Hitunglah determinan dari matriks C dengan menggunakan reduksi baris.
Penyelesaian:
( )
120
8 . . 1 . 1 . 8
) 3 (
8 0 0 0
0 0
1 0
1 0 1 1
8.
) n dikeluarka 2 - ke (
8 0 0 0
2 3 3 0
1 0
1 0 1 1
8
) dg (
8 0 0 0
2 3 3 0
12 3 8 0
1 0 1 1
) 6 , 3 , 4 (
12 3 8 0
2 3 3 0
8 0 0 0
1 0 1 1
) dg tukarkan (
6 3 14 6
1 3 0 3
4 0 4 4
1 0 1 1
6 3 14 6
1 3 0 3
1 0 1 1
4 0 4 4
8
15
2 3
8
52
8
15
8
12
8
3
8
12
8
3
4 2
1 4 1 3 1 2
2 1
÷ =
÷ =
+
÷
÷
=
÷ ÷
÷
=
÷ ÷
÷
=
÷ ÷ ÷
÷ ÷
÷
÷ =
÷
÷
÷ =
÷
÷
=
b b
baris bersama f aktor
b b tukarkan
b b b b b b
b b
C







49
2.9 Rangkuman.
Determinan dari suatu matriks adalah penulisan unsur–unsur sebuah matriks
bujur sangkar dalam bentuk determinan, yaitu diantara sepasang garis tegak atau
. Determinan matriks A lazim dituliskan dengan notasi A atau D
A
Determinan mempunyai beberapa sifat khas berkenaan dengan nilai
numeriknya. Sifat–sifat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Nilai determinannya adalah nol jika semua unsurnya sama.
2. Nilai determinannya adalah nol jika terdapat dua baris atau dua kolom yang
unsur–unsurnya sama.
3. Nilai determinannya adalah nol jika terdapat dua baris atau dua kolom yang
unsur–unsurnya sebanding.
4. Nilai determinannya adalah nol jika unsur–unsur pada salah satu baris atau
kolom semuanya nol.
5. Nilai determinan tidak berubah jika semua baris dan kolomnya saling
bertukar letak, dengan kata lain determinan dari matriks A sama dengan
determinan matriks ubahannya A’; . ' A A =
6. Nilai determinan berubah tanda (tetapi harga mutlaknya tetap) jika dua baris
atau dua kolom bertukar letak.
7. Determinan dari suatu matriks diagonal adalah hasil kali unsur–unsur
diagonalnya.
8. Jika setiap unsur pada salah satu baris atau kolom dikalikan dengan suatu
bilangan, nilai determinannya adalah sama dengan hasilkalinya dengan
bilangan tersebut.

50
9. Jika semua unsur merupakan penjumlahan dari dua bilangan atau lebih,
determinannya dapat dituliskan sebagai penjumlahan dari dua determinan
atau lebih.
10. Jika nilai determinan dari suatu matriks sama dengan nol, matriksnya
dikatakan singular dan tidak mempunyai balikan (invers): jadi bila 0 = A ,
A merupakan matriks singular dan A
-1
tidak ada.
11. Jika nilai determinan dari suatu matriks tidak sama dengan nol, matriksnya
dikatakan nonsingular dan mempunyai balikan (invers): jadi bila 0 = A ,
A merupakan matriks nonsingular dan A
-1
ada.
12. Pada penguraian determinan (ekspansi Laplace), nilai determinan sama
dengan nol jika unsur baris atau kolom dikalikan dengan kofaktor unsur
baris atau kolom yang lain, tetapi tidak sama dengan nol jika unsur suatu
baris atau kolom dikalikan dengan kofaktor unsur baris atau kolom itu
sendiri.
Menutup baris-baris dan kolom-kolom tertentu, determinan A terdiri atas
beberapa determinan-bagian (sub determinan). Determinan-determinan bagian ini
dinamakan minor. Suatu minor secara umum dilambangkan dengan notasi M
ij.
Kofaktor dari determinan A untuk minor tertentu M
11
dilambangkan dengan
A
ij
. Hubungan antara kofaktor dan minor: ( )
ij
j i
ij
M A
+
÷ = 1
Determinan sebuah matriks dapat dihitung dengan mereduksi matriks tersebut
pada bentuk eselon baris. Metode ini penting untuk menghindari perhitungan
panjang yang terlibat dalam penerapan definisi determinan secara langsung.


51
13. Latihan.
1. Hitunglah determinan dari:
a.
3 1
2 1
÷

b.
2 3
4 6

c.
3 8
7 1
÷ ÷
÷

d.
3 4
2 1
÷
÷
k
k

e.
8 3 4
1 5 3
7 2 1 ÷

f.
2 7 1
6 4 3
1 2 8
÷ ÷
÷

g.
6 8 2
1 0 4
3 0 1
÷
h.
3 1
1 4 2
9 3
2
k
k
k
+
÷

2. Hitunglah determinan matriks yang diberikan dengan mereduksi matriks
tersebut pada bentuk eselon baris.
a.
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
7 2 1
3 0 0
7 3 2


52
b.
(
(
(
¸
(

¸

0 3 1
3 2 4
1 1 2

c.
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
÷
2 3 4
1 5 3
0 2 1

d.
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷
5 1 0
2 7 2
8 4 2

e.
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ ÷
÷
÷
1 2 2 1
1 2 3 1
0 1 0 1
3 9 6 3

f.
(
(
(
(
¸
(

¸

3 2 1 0
0 1 2 0
1 1 0 1
1 3 1 2

g.
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ ÷
1 1 0 0 0
1 1 2 0 0
1 0 1 0 0
2 4 0 7 2
3 5 1 3 1

3. Misalkan
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
÷
=
4 1 3
1 7 2
3 6 1
A
a. Carilah semua minor.
b. Carilah semua kofaktor.

53
4. Misalkan
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
2 14 3 6
3 0 3 1
1 1 0 1
4 4 0 4
A
Carilah:
a. M
13
dan C
13

b. M
23
dan C
23

c. M
22
dan C
22

d. M
21
dan C
21

5. Hitunglah determinan dari matriks dalam latihan no. 3 (di atas)
dengan menggunakan ekspansi kofaktor sepanjang:
a. baris pertama
b. kolom pertama
c. baris kedua
d. kolom kedua
e. baris ketiga
f. kolom ketiga
6. Dalam soal di bawah ini hitunglah determinan dengan menggunakan
ekspansi kofaktor sepanjang sebuah baris atau kolom pilihan anda:
a.
(
(
(
¸
(

¸

=
2 2 3
8 6 8
0 6 0
A
b.
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ =
4 3 1
8 0 2
7 3 1
A

54
c.
(
(
(
¸
(

¸

=
2 2 2
1 1 1
k k k
k k k A
d.
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
÷
=
4 4 3
4 3 2
3 2 1
k
k
k
A
e.
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
6 3 14 6
1 3 0 3
1 0 1 1
4 0 4 4
A
f.
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
=
3 3 3 0 0
2 2 2 1 1
4 6 4 3 0
2 4 2 3 0
2 9 1 3 4
A

2.8 Daftar Pustaka.
1. Nababan, M. 1993. Pengantar Matematika untuk Ilmu Ekonomi dan
Bisnis. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. Anton, Howard. 1995. Matematika I Elementer. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
3. Dumairy. 1996. Matematika Terapan untuk Bisnis dan
Ekonomi.Yogyakarta:BPFE.





55
BAB III
INVERS MATRIKS

Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti mata kuliah Matematika I ini mahasiswa akan dapat
menyelesaikan operasi matriks, menentukan nilai determinan matriks,
menentukan invers matriks, dapat menyelesaikan sistem persamaan linier, dan
dapat menginterpretasikannya dengan baik dan benar.

Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal perlatihannya diharapkan
mahasiswa akan dapat:
1. Menyebutkan pengertian invers matriks dengan benar.
2. Menentukan invers matriks berordo 2 x 2 dengan benar.
3. Menentukan invers matriks berordo lebih tinggi dengan benar.
4. Menentukan Invers Matriks dengan Adjoint dan Determinan.









56
Pengertian Invers Matriks.
Matriks Invers atau matrik balikan adalah adalah matriks yang apabila
dikalikan dengan matriks bujur sangkar menghasilkan sebuah matriks satuan. Jika
A merupakan suatu matriks bujursangkar, maka balikannya dituliskan dengan
notasi A
-1
Dan AA
-1
= I.
Sifat–sifat invers matriks:
1. Jika A dan B matriks bujur sangkar yang bertipe sama, maka: (AB)
-1
= B
-1
A
-
1
.
2. Invers dari invers matriks adalah matriks itu sendiri: (A
-1
)
-1
=A.
3. Invers matriks satuan adalah matriks satuan itu sendiri atau I
-1
= I.
4. Invers matriks tranpose adalah matriks tranpose, atau: (A ‘)
-1
= (A
-1
)’.

Matriks Invers Berorde 2 x 2.
Misalkan B merupakan invers dari A , maka untuk dapat menentukan B
haruslah diperoleh lebih dahulu unsur–unsurnya atau b
ij .
Nilai-nilai b
ij
dapat
dihitung berdasarkan operasi seperti berikut ini:
Misal:

(
¸
(

¸

=
22 21
12 11
a a
a a
A
dan inversnya dilambangkan dengan
(
¸
(

¸

= =
÷
22 21
12 11 1
b b
b b
B A
Maka menurut definisi AB =I, yakni

(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

1 0
0 1
.
22 21
12 11
22 21
12 11
b b
b b
a a
a a


57
atau

1
0
0
1
1 0
0 1
22 22 12 21
22 12 12 11
21 22 11 21
21 12 11 11
22 22 12 21 21 22 11 21
22 12 12 11 21 12 11 11
= +
= +
= +
= +
(
¸
(

¸

=
(
¸
(

¸

+ +
+ +
b a b a
b a b a
b a b a
b a b a
b a b a b a b a
b a b a b a b a

Dengan menyelesaikan keempat persamaan ini secara serempak untuk masing-
masing b
ij
, diperoleh:

12 21 22 11
11
22
12 21 22 11
21
21
12 21 22 11
12
12
12 21 22 11
22
11
,
,
a a a a
a
b
a a a a
a
b
a a a a
a
b
a a a a
a
b
÷
=
÷
÷
=
÷
÷
=
÷
=

Dengan cara lain b
ij
dapat pula dituliskan menjadi:

A
a
b
A
a
b
A
a
b
A
a
b
11
22
21
21
12
12
22
11
,
,
=
÷
=
÷
= =

Ini berarti jika pembaginya nol atau 0 = A maka b
ij
tidak terdefinisi dan sebagai
konsekuensinya matriks invers B atau A
-1
tidak dapat dibentuk. Itulah sebabnya
matriks A tidak memiliki invers jika 0 = A .
Contoh:
Tentukanlah matriks invers dari
(
¸
(

¸

=
3 5
4 8
A
Penyelesaian:
4
3 5
4 8
= = A , bearti A non singular dan A
-1
ada.

58
(
¸
(

¸

÷
= =
= = = ÷ =
÷
=
÷
=
÷ =
÷
=
÷
= = = =
÷
2 25 . 1
1 75 . 0
B A
Jadi
2
4
8
A
a
b , 25 . 1
4
5
A
a
b
1
4
4
A
a
b , 75 . 0
4
3
A
a
b
1
11
22
21
21
12
12
22
11


Tentukan invers dari matriks
(
¸
(

¸

=
3 6
4 8
A
Penyelesaian:
0
3 6
4 8
= = A , berarti A singular dan A
-1
tidak ada.

Invers Matriks Berorde Lebih Tinggi.
Invers matriks yang berorde lebih tinggi pada prinsipnya sama seperti
menentukan invers matriks berorde 2 x 2 di atas.
Misal:
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
nn n
n
a a
a a
A
. . .
. .
. .
. .
. . .
1
1 11

Dan inversnya A
-1
=B, maka menurut definisi AB = I

59
n k n i k i c
k i c
b a c
c c
c c
b a b a b a b a
b a b a b a b a
b b
b b
a a
a a
ik
ik
n
i
jk ij ik
nn n
n
nn nn n n n nn n
nn n n n n
nn n
n
nn n
n
,..., 2 , 1 ; ,..., 2 , 1 dimana jika 0
jika 1

1 . . . 0
. .
. 1 .
. .
0 . . . 1
. . .
. .
. .
. .
. . .
1 . . . 0
. .
. 1 .
. .
0 . . . 1
... ... ...
......... .......... .......... .......... .......... ..........
... ... ...
.
1 . . . 0
. .
. 1 .
. .
0 . . . 1
. . .
. .
. .
. .
. . .
.
. . .
. .
. .
. .
. . .
1
1
1 11
1 1 1 11 1
1 1 11 1 1 11 11
1
1 11
1
1 11
= = = =
= =
=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

+ + + +
+ + + +
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

¿
=








Menentukan Invers Matriks dengan Adjoint dan Determinan.
Menentukan invers suatu matriks dapat pula dengan menggunakan adjoint
dan determinan dari matriks yang bersangkutan. Hubungan suatu matriks bujur
sangkar yang non singular dengan adjoint dan determinannya adalah:

A
A adj
A
.
1
=
÷

Dari hubungan ini terlihat, A
-1
ada atau dapat dibentuk jika dan hanya jika
. 0 = A
Contoh:
1. Tentukan kalau ada invers dari
(
¸
(

¸

=
3 5
4 8
A
Penyelesaian:

60
ada. berarti , 4
3 5
4 8
1 ÷
= = A A
Minor-minornya: M
11
=3, M
12
=5,M
21
=4, M
22
=8.
Kofaktornya: ( )
ij
j i
ij
M A . 1
+
÷ = ; A
11
=3, A
12
= - 5, A
21
= - 4, A
22
= 8
| |
| |
(
¸
(

¸

÷
÷
=
(
¸
(

¸

(
¸
(

¸

÷
÷
=
(
¸
(

¸

÷
÷
= =
(
¸
(

¸

÷
÷
=
(
¸
(

¸

÷
÷
= =
(
¸
(

¸

÷
÷
=
÷
÷
2 25 , 1
1 75 , 0
3 5
4 8
: Jadi
2 25 , 1
1 75 , 0
4
8 5
4 3
.
: maka
8 5
4 3
8 4
5 3
.
8 4
5 3
1
1
'
'
A
A adj
A
A A adj
A
ij
IJ

2. Tentukan kalau ada invers matriks
(
(
(
¸
(

¸

=
3 2 2
3 0 4
5 2 3
B
Penyelesaian:
ada. berarti , 10
3 2 2
3 0 4
5 2 3
1 ÷
= B

61
| |
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷
= =
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ ÷
÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
÷ ÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
÷ ÷
=
÷ = = = ÷ = ÷ = = = ÷ = ÷ =
÷ = = ÷ = = = =
= = ÷ = = ÷ = =
= = = = ÷ = =
÷
8 , 0 2 , 0 8 , 0
1 , 1 4 , 0 6 , 0
6 , 0 4 , 0 6 , 0
10
8 2 8
11 4 6
6 4 6
.
8 2 8
11 4 6
6 4 6
8 11 6
2 4 4
8 6 6
.
8 11 6
2 4 4
8 6 6
8 , 11 , 6 , 2 , 4 , 4 , 8 , 6 , 6
8
0 4
2 3
, 11
3 4
5 3
, 1
3 0
5 2
2
2 2
2 3
, 1
3 2
5 3
, 4
3 2
5 2
8
2 2
0 4
, 6
3 2
3 4
, 6
3 2
3 0
1
'
33 32 31 23 22 21 13 12 11
33 32 31
23 22 21
13 12 11
B
B adj
B
B adj
B
B B B B B B B B B
M M M
M M M
M M M
IJ


Rangkuman.
Matriks Invers atau matrik balikan adalah adalah matriks yang apabila
dikalikan dengan matriks bujur sangkar menghasilkan sebuah matriks satuan. Jika
A merupakan suatu matriks bujursangkar, maka balikannya dituliskan dengan
notasi A
-1
Misalkan B merupakan invers dari A , maka untuk dapat menentukan B
haruslah diperoleh lebih dahulu unsur–unsurnya atau b
ij .
Nilai-nilai b
ij
dapat
dihitung berdasarkan operasi seperti berikut ini:
(
¸
(

¸

= =
÷
22 21
12 11 1
b b
b b
B A

62

A
a
b
A
a
b
A
a
b
A
a
b
11
22
21
21
12
12
22
11
,
,
=
÷
=
÷
= =

Menentukan invers suatu matriks dapat pula dengan menggunakan adjoint
dan determinan dari matriks yang bersangkutan. Hubungan suatu matriks bujur
sangkar yang non singular dengan adjoint dan determinannya adalah:

A
A adj
A
.
1
=
÷


Latihan.
Carilah nilai invers yang diberikan jika matriks yang tersebut di bawah ini
memiliki invers!
1.
(
¸
(

¸

5 3
2 1

2.
(
¸
(

¸

÷
÷
5 3
3 2

3.
(
¸
(

¸

÷
÷
3 4
6 8

4.
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
4 5 2
3 0 1
1 4 3

5.
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷ 9 2 4
1 4 2
5 1 3

6.
(
(
(
¸
(

¸

0 1 1
1 1 0
1 0 1


63
7.
(
(
(
¸
(

¸

7 7 2
6 7 2
6 6 2

8.
(
(
(
¸
(

¸

÷
0 1 0
1 1 1
1 0 1

9.
(
(
(
(
¸
(

¸

8 4 2 1
0 4 2 1
0 0 2 1
0 0 0 1

10.
(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
0 0 0 0
7 8 2 3
5 4 1 2
3 7 11 5



Daftar Pustaka.
1. Nababan, M. 1993. Pengantar Matematika untuk Ilmu Ekonomi dan
Bisnis. Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. Anton, Howard. 1995. Matematika I Elementer. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
3. Dumairy. 1996. Matematika Terapan untuk Bisnis dan
Ekonomi.Yogyakarta:BPFE.





64
BAB IV
SISTEM PERSAMAAN LINEAR

Tujuan Instruksional Umum
Setelah mengikuti mata kuliah Matematika I ini mahasiswa akan dapat
menyelesaikan operasi matriks, menentukan nilai determinan matriks,
menentukan invers matriks, dapat menyelesaikan sistem persamaan linier, dapat
menyelesaikan operasi pada vector, dan dapat menginterpretasikannya dengan
baik dan benar.

Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mempelajari bab ini dan mengerjakan soal perlatihannya diharapkan
mahasiswa akan dapat:
1. Menyebutkan pengertian Sistem Persamaan Linear (SPL) dengan benar.
2. Menyelesaikan sistem persamaan linier Menggunakan Determinan dan
adjoint dengan benar.
3. Menyelesaikan sistem persamaan linier Menggunakan Kaidah Cramer
dengan benar.
4. Menyelesaikan sistem persamaan linier Menggunakan Operasi Baris
Elementer dengan benar.
5. Menyelesaikan sistem persamaan linier Menggunakan Eliminasi Gauss
dengan benar.



65
Pengertian Sistem Persamaan Linear (SPL)
Dalam bagian ini kita akan mengetahui istilah dasar dan kita bahas sebuah
metode untuk memecahkan sistem-sistem persamaan linear.
Sebuah garis dalam bidang xy secara aljabar dapat dinyatakan oleh
persamaan berbentuk
a
1
x + a
2
y = b.
Persamaan semacam ini kita namakan persamaan linear dalam peubah
(variabel) x dan peubah y. Secara lebih umum kita mendefinisikan persamaan
linear dalam n peubah x
1
,x
2
, …, x
n
sebagai persamaan yang dapat dinyatakan
dalam bentuk
a
1
x
1
+ a
2
x
2
+ … + a
n
x
n
= b.
di mana a
1
,a
2
, …, a
n
dan b adalah konstanta-konstanta riil.
Contoh:
Persamaan-persamaan linear:

1 ...
5 3 2
5 2
2
1
10 4
2 1
4 3 2 1
= + + +
= + + ÷
+ + =
= +
n
x x x
x x x x
z x y
y x

Perhatikan bahwa persamaan linier tidak melibatkan suatu hasil kali atau
akar peubah. Semua peubah hanya terdapat sampai angka pertama dan tidak
muncul sebagai argumen untuk fungsi trigonometrik, fungsi logaritmik, atau
untuk fungsi eksponensial. Berikut ini contoh yang bukan persamaan linear.

66

1
5 3 2
5 2 sin
2
1
10 4
2 1 1
4 3 2 1
2
= +
= + + ÷
+ + =
= +
x x x
x x x x
z x y
y x

Pemecahan persamaan linear a
1
x
1
+ a
2
x
2
+ … + a
n
x
n
= b adalah urutan
dari n bilangan s
1
,s
2,
…, s
n
sehingga persamaan tersebut dipenuhi bila kita
mensubstitusikannya terhadap x
1
= s
1
, x
2
= s
2
, …, x
n
= s
n
. Himpunan semua
pemecahan persamaan tersebut dinamakan himpunan pemecahannya.
Contoh:
Carilah himpunan pemecahan masing-masing persamaan berikut:
4x-2y = 1
x
1
-4x
2
+ 7x
3
=5
Untuk mencari pemecahan (1), maka kita dapat menetapkan sebarang nilai untuk
x dan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari y, atau kita dapat memilih
sebarang nilai untuk y dan memecahkan persamaan tersebut untuk mencari x.
Jika kita ikuti pendekatan pertama dan menetapkan nilai t untuk x, maka kita
dapatkan
x = t, y = 2t-1/2
Rumus-rumus ini menggambarkan himpunan pemacahan tersebut dalam
sebarang parameter t.Pemecahan numerik khusus dapat diperoleh dengan
mensubstitusikan nilai spesifik untuk t. Misalnya, t = 3 menghasilkan pemecahan
x=3, y=11/2 dan t = -1/2 menghasilkan pemecahan x=-1/2,y=-3/2.
Jika kita ikuti pendekatan kedua dan menetapkan nilai sebarang t tersebut
untuk y, maka kita dapatkan

67
t y t x = + = ,
4
1
2
1

Walaupun rumus-rumus ini berbeda dari rumus-rumus yang kita peroleh di atas,
namun rumus-rumus ini menghasilkan himpunan pemecahan yang sama jika t
berubah pada semua bilangan riil yang mungkin.
Untuk mencari himpunan pemecahan persamaan (2) kita dapat
menetapkan sebarang nilai untuk setiap dua peubah dan memecahkan persamaan
tersebut untuk mencari peubah ketiga. Khususnya jika kita menetapkan nilai
sebarang s dan t berturut-turut untuk nilai x
2
dan x
3
dan memecahkan
persamaan tersebut untuk mencari x
1
, maka kita peroleh
x
1
=5 + 4s -7t, x
2
= s, x
3
= t
Sebuah himpunan berhingga dari persamaan-persamaan linear dalam
peubah
x
1
,x
2,
…, x
n
dinamakan sistem persamaan linear. Sebuah urutan bilangan-
bilangan s
1
,s
2,
…, s
n
dinamakan pemecahan dari sistem tersebut jika x
1
= s
1
, x
2

= s
2
, …, x
n
= s
n
adalah pemecahan masing-masing persamaan tersebut. Misalnya
sistem
4x
1
-x
2
+ 3x
3
=-1
3x
1
+ x
2
+ 9x
3
=-4
Mempunyai pemecahan x
1
= 1, x
2
= 2, x
3
=-1 karena nilai-nilai ini memenuhi
kedua persamaan tersebut. Akan tetapi x
1
= 1, x
2
= 8, x
3
= 1 bukanlah sebuah
pemecahan karena nilai-nilai ini hanya memenuhi persamaan pertama dari kedua
persamaan dalam sistem tersebut.
Sebuah sistem persamaan yang tidak mempunyai pemecahan dikatakan
takkonsisten (inconsistent). Jika ada setidak-tidaknya satu pemecahan, maka

68
sistem persamaan tersebut dinamakan konsisten (consistent). Untuk melukiskan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam memecahkan sistem
persamaan linear, tinjaulah sistem umum dari dua persamaan linear dalam
bilangan-bilangan yang tak diketahui x dan y:
a
1
x + b
1
y = c
1
(a
1
, b
1
kedua-duanya tidak nol)
a
2
x + b
2
y = c
2
(a
2
, b
1
kedua-duanya tidak nol)
Grafik persamaan-persamaan ini merupakan garis-garis, kita beri nama
garis-garis tersebut l
1
dan l
2
. Karena titik (x,y) terletak pada sebuah garis jika
dan hanya jika bilangan-bilangan x dan y memenuhi persamaan garis tersebut,
maka pemecahan sistem persamaan tersebut akan bersesuaian dengan titik
perpotongan dari garis l
1
dan l
2..
Ada tiga kemungkinan (gambar )

(1) (2) (3)

1. Garis l
1
mungkin sejajar dengan garis l
2
, dalam kasus tidak ada
perpotongannya, dan sebagai konsekuensinya maka tidak ada pemecahan
untuk sistem tersebut.

y
L
1
L
2
X
Y
L
1
L
2
Y
X
L
1
,L
2
Y
X

69
2. Garis l
1
mungkin berpotongan dengan garis l
2
di hanya satu titik, dalam
kasus ini maka sistem tersebut hanya mempunyai satu pemecahan.
3. Garis l
1
mungkin berimpit dengan garis l
2,
dalam kasus ini tak terhingga
banyaknya titik perpotongan, maka sebagai konsekuensinya maka tak
terhingga banyaknya pemecahan untuk sistem tersebut.
Walaupun kita di sini hanya meninjau dua persamaan dengan dua bilangan
yang tak diketahui, namun akan kita perhatikan kelak bahwa hasil yang sama ini
berlaku untuk sebarang sistem; yakni sistem persamaan linear tidak mempunyai
pemecahan, atau mempunyai persis satu pemacahan, atau mempunyai tak
terhingga banyaknya pemecahan.
Sebuah sistem sebarang yang terdiri dari m persamaan linear dengan n
bilangan tak diketahui akan ditulis sebagai:

m n mn m m
n n
n n
b x a x a x a
b x a x a x a
b x a x a x a
= + + +
= + + +
= + + +
...
.
.
.
...
...
2 2 1 1
2 2 2 22 1 21
1 1 2 12 1 11

di mana x
1
,x
2,
…, x
n
adalah bilangan-bilangan tak diketahui sedangkan a dan b
menyatakan konstanta-konstanta.
Misalnya, sebuah sistem umum yang terdiri dari tiga persamaan dengan
empat bilangan yang tidak diketahui akan kita tulis sebagai

3 4 34 3 33 2 32 1 31
2 4 24 3 23 2 22 1 21
1 4 14 3 13 2 12 1 11
. b x a x a x a x a
b x a x a x a x a
b x a x a x a x a
= + + +
= + + +
= + + +



70
4.4 Sistem Persamaan Linear Homogen.
Sebuah sistem persamaan-persamaan linear dikatakan homogen jika
semua suku konstan sama dengan nol; yakni, sistem tersebut mempunyai bentuk

0 ...
.
.
.
0 ...
0 ...
2 2 1 1
2 2 22 1 21
1 2 12 1 11
= + + +
= + + +
= + + +
n mn m m
n n
n n
x a x a x a
x a x a x a
x a x a x a

Tiap-tiap sistem persamaan linear homogen adalah sistem yang konsisten, karena
x
1
=0
,
x,=0, …, x
n
=0 selalu merupakan pemecahan. Pemecahan tersebut
dinamakan pemecahan trivial (trivial solution); jika ada pemecahan lain maka
pemecahan tersebut dinamakan pemecahan tak trivial (non trivial solution).
Karena sistem persamaan linear homogen harus konsisten, maka terdapat
pada pemecahan atau tak terhingga banyaknya pemecahan. Karena salah satu
diantara pemecahan ini adalah pemecahan trivial, maka kita dapat membuat
pernyataan berikut.
Untuk sistem persamaan-persamaan linear homogen, maka persis salah
satu diantara pernyataaan berikut benar.


4.5 Penyelesaian Sistem Persamaan Linear (SPL)
1. Menggunakan Determinan dan adjoint
Sistem persamaan linear di atas dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai
berikut:

71

(
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
n n
mn m m
n
n
b
b
b
b
x
x
x
X
a a a
a a a
a a a
A
.
.
.
,
.
.
.
,
...
.
.
.
...
...
2
1
2
1
2 1
2 22 21
1 12 11

sehingga:

B AX
atau
b
b
b
x
x
x
a a a
a a a
a a a
n n
mn m m
n
n
=
(
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

.
.
.
.
.
.
.
...
.
.
.
...
...
2
1
2
1
2 1
2 22 21
1 12 11

Sistem persamaan linear ini dapat diselesaikan sebagai berikut:

B A X
B A IX
B A AX A
1
1
1 1
÷
÷
÷ ÷
=
=
=

Matriks A
-1
dapat dicari dari invers matriks A. Matriks X dapat dicari,
apabila matriks A nonsingular.
Contoh:
Tentukanlah x
1
,x
2,
dan x
3
dari sistem persamaan:

8 3 2 .
30 6 4 3
6 2
3 2 1
3 2 1
3 1
= + ÷ ÷
= + + ÷
= +
x x x
x x x
x x

Penyelesaian:
Persamaan tersebut dituliskan dalam bentuk matriks sebagai berikut:

72
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
÷ =
8
30
6
,
3 2 1
6 4 3
2 0 1
B A
3 2 1
6 4 3
2 0 1
÷ ÷
÷ = A
Det (A)=12+0+12-(-8-12-0)=44
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
=
4 2 10
12 5 3
8 4 24
adjA

(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
=
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
=
=
÷
44
4
44
2
44
10
44
12
44
5
44
3
44
8
44
4
44
24
44
4 2 10
12 5 3
8 4 24
A
adjA
1
A

Maka
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷ ÷
=
11
38
11
18
11
10
44
152
44
72
44
40
8
30
6
.
44
4
44
2
44
10
44
12
44
5
44
3
44
8
44
4
44
24
X

11
38
3
x ,
11
18
2
x ,
11
10
1
x = = =


73
Contoh:
Tentukanlah x
1
,x
2,
dan x
3
dari sistem persamaan:

3 2 .
6
11 3 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + + ÷
= + +
= + +
x x x
x x x
x x x

Penyelesaian:

3
3
x 2,
2
x 1,
1
x
3
2
1
X
3
6
11
x
6
1
3
4
2
1
6
1
3
2
2
1
3
1
3
1
0
X
maka
6
1
3
4
2
1
6
1
3
2
2
1
3
1
3
1
0
1
A
1 8 3
1 4 3
2 2 0
adjA
6
1 1 2
1 1 1
1 3 2
A
A
adjA
1
A
3
6
11
B ,
1 1 2
1 1 1
1 3 2
A
= = =
=
÷
÷
÷
=
÷
÷
÷
=
÷
÷ ÷
÷ ÷
÷
=
÷ =
÷
=
=
÷
=
÷
=
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

74
2. Menggunakan Kaidah Cramer.
Teorema (Aturan cramer)
Jika AX=B adalah sistem yang terdiri dari n persamaan linier dalam n
bilangan tak diketahui sehingga det (A) = 0, maka sistem tersebut mempunyai
pemecahan yang unik. Pemecahan ini adalah

( )
( )
( )
( )
( )
( ) A
A
x
A
A
x
A
A
x
n
n
det
det
, ,
det
det
,
det
det
2
2
1
1
= = = 
Dimana A
j
adalah matriks yang kita dapatkan dengan menggantikan entri-
entri dalam kolom ke j dari A dengan entri-entri matriks.
Misalkan; 0 , ,... ,
2
2
1
1
= A
A
A
=
A
A
=
A
A
=
n
n
x x x
dimana:
A = A dan
= A
i
determinan matriks dengan mengganti kolom ke-I matriks A
dengan kolom suku konstan.
Contoh:
Tentukanlah x
1
,x
2,
dan x
3
dari sistem persamaan:

3 2 .
6
11 3 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + + ÷
= + +
= + +
x x x
x x x
x x x

Penyelesaian:

75
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

=
(
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸

÷
÷
=
÷
=
3 1 2
6 1 1
11 3 2
1 3 2
1 6 1
1 11 2
1 1 3
1 1 6
1 3 11
3
6
11
B ,
1 1 2
1 1 1
1 3 2
A
3
2
1
A
A
A


3
6
18
, 2
6
12
, 1
6
6
18
1 1 2
6 1 1
11 3 2
12
1 3 2
1 6 1
1 11 2
6
1 1 3
1 1 6
1 3 11
6
1 1 2
1 1 1
1 3 2
3
3
2
2
1
1
3
2
1
=
÷
÷
=
A
A
= =
÷
÷
=
A
A
= =
÷
÷
=
A
A
=
÷ =
÷
= A
÷ =
÷
= A
÷ = = A
÷ =
÷
= A
x x x
maka


3. Menggunakan Operasi Baris Elementer.
Sistem ini umumnya didapatkan dalam suatu tahapan dengan menerapkan
ketiga tipe operasi berikut untuk menghilangkan bilangan-bilangan tak diketahui
secara sistematis.

76
a. Kalikanlah persamaan dengan konstanta yang taksama dengan nol.
b. Pertukarkanlah dua persamaan tersebut.
c. Tambahkanlah kelipatan dari satu persamaan bagi persamaan yang lainnya.
Karena baris (garis horisontal) dalam matriks yang diperbesar bersesuaian
dengan persamaan dalam sistem yang diasosiasikan dengan baris tersebut, maka
ketiga operasi ini bersesuaian operasi berikut pada baris matriks yang diperbesar.
a. Kalikanlah sebuah baris dengan konstanta yang taksama dengan nol.
b. Pertukarkanlah dua baris tersebut.
c. Tambahkanlah kelipatan dari satu baris bagi baris yang lainnya.
Contoh:
Tentukanlah x
1
,x
2,
dan x
3
dari sistem persamaan:
3 2 .
6
11 3 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + + ÷
= + +
= + +
x x x
x x x
x x x

Penyelesaian:
(
(
(
¸
(

¸

÷ 3 1 1 2
6 1 1 1
11 1 3 2
Matriks yang diperbesar
(
(
(
¸
(

¸

÷ 3 1 1 2
11 1 3 2
6 1 1 1
Tukarkan baris kesatu dengan baris kedua,
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
15 3 3 0
1 1 1 0
6 1 1 1
Tambahkan baris kedua dengan -2 kali baris kesatu,
baris ketiga dengan 2 kali baris kesatu.


77
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
18 6 0 0
1 1 1 0
6 1 1 1
Tambahkan baris ketiga dengan -3 kali baris kedua,
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
3 1 0 0
1 1 1 0
6 1 1 1
Kalikan 1/6 * baris ketiga,
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
3 1 0 0
1 1 1 0
7 2 0 1
Baris kesatu dikurangkan dengan baris kedua,
(
(
(
¸
(

¸

3 1 0 0
2 0 1 0
1 0 0 1
Tambahkan baris kesatu dengan -2 kali baris ketiga,
baris kedua dengan baris ketiga.

Pemecahan tersebut adalah 3 , 2 , 1
3 2 1
= = = x x x




4. Menggunakan Eliminasi Gauss.
Prosedur tersebut didasarkan pada gagasan untuk mereduksi matriks yang
diperbesar menjadi bentuk yang cukup sederhana sehingga persamaaan tersebut
dapat kita pecahkan dengan memeriksa sistem tersebut.
Matriks yang dinyatakan dalam bentuk eselon baris tereduksi ( reduced
row-echelon form) memiliki sifat–sifat:

78
a. Jika baris tidak seluruhnya dari nol, maka bilangan taknol pertama dalam
baris tersebut adalah 1. (Kita namakan ini 1 utama).
b. Jika terdapat baris yang seluruhnya terdiri dari nol, maka semua baris
seperti itu dikelompokkan bersama-sama di bawah matriks.
c. Dalam sebarang dua matriks yang berurutan yang seluruhnya tak terdiri
dari nol, maka satu utama dalam baris yang lebih rendah terdapat lebih
jauh ke kanan dari satu utama dari baris yang lebih tinggi.
d. Masing-masing kolom yang mengandung 1 utama mempunyai nol di
tempat lain.
Contoh:
Matriks–matriks berada dalam bentuk eselon baris tereduksi.
(
¸
(

¸

(
(
(
(
¸
(

¸
÷
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

÷
0 0
0 0
,
0 0 0 0 0
0 0 0 0 0
3 1 0 0 0
1 0 2 1 0
,
1 0 0
0 1 0
0 0 1
,
1 1 0 0
7 0 1 0
4 0 0 1

Matriks–matriks berikut berada dalam bentuk eselon baris,
(
(
(
¸
(

¸

÷
(
(
(
¸
(

¸

(
(
(
¸
(

¸

1 0 0 0 0
0 1 1 0 0
0 6 2 1 0
,
0 0 0
0 1 0
0 1 1
,
5 1 0 0
2 6 1 0
7 3 4 1

Prosedur untuk mereduksi matriks menjadi bentuk eselon baris tereduksi
yang kita namakan eliminasi Gauss-Jordan. Prosedur untuk menghasilkan bentuk
eselon baris dinamakan eliminasi Gauss.
Contoh:
Tentukanlah x
1
,x
2,
dan x
3
dari sistem persamaan:

79

3 2 .
6
11 3 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + + ÷
= + +
= + +
x x x
x x x
x x x

Penyelesian:
(
(
(
¸
(

¸

÷ 3 1 1 2
6 1 1 1
11 1 3 2
Matriks yang diperbesar
Menjadi bentuk eselon baris
(
(
(
¸
(

¸

÷ ÷
3 1 0 0
1 1 1 0
6 1 1 1

Sistem yang bersesuaian dengan matriks ini adalah:
3
1
6
3
3 2
3 2 1
=
÷ = ÷
= + +
x
x x
x x x

Dengan memecahkannya untuk peubah –peubah utama maka akan menghasilkan:
3
1
6
3
3 2
3 2 1
=
+ ÷ =
÷ ÷ =
x
x x
x x x

Dengan mensubstitusikan persamaan yang ada di bawahnya ke persamaan yang
ada diatasnya maka diperoleh:
3
2
6
3
2
3 2 1
=
=
÷ ÷ =
x
x
x x x

Dan dengan mensubstitusikan persaman kedua dan ketiga pada persamaan yang
pertama maka diperoleh

80
3
2
1
3
2
1
=
=
=
x
x
x


4.6 Rangkuman
Persamaan linear dalam n peubah x
1
,x
2
, …, x
n
sebagai persamaan yang
dapat dinyatakan dalam bentuk
a
1
x
1
+ a
2
x
2
+ … + a
n
x
n
= b.
di mana a
1
,a
2
, …, a
n
dan b adalah konstanta-konstanta riil.
Walaupun kita di sini hanya meninjau dua persamaan dengan dua bilangan
yang tak diketahui, namun akan kita perhatikan kelak bahwa hasil yang sama ini
berlaku untuk sebarang sistem; yakni sistem persamaan linear tidak mempunyai
pemecahan, atau mempunyai persis satu pemacahan, atau mempunyai tak
terhingga banyaknya pemecahan.
Menyelesaikan Menggunakan Determinan dan adjoint.Sistem
persamaan linear dapat ditulis dalam bentuk matriks sebagai berikut: B AX =
Sistem persamaan linear ini dapat diselesaikan sebagai berikut:

B A X
B A IX
B A AX A
1
1
1 1
÷
÷
÷ ÷
=
=
=

Menyelesaikan Menggunakan Kaidah Cramer
Jika AX=B adalah sistem yang terdiri dari n persamaan linier dalam n
bilangan tak diketahui sehingga det (A) = 0, maka sistem tersebut mempunyai
pemecahan yang unik. Pemecahan ini adalah

( )
( )
( )
( )
( )
( ) A
A
x
A
A
x
A
A
x
n
n
det
det
, ,
det
det
,
det
det
2
2
1
1
= = = 

81
Dimana A
j
adalah matriks yang kita dapatkan dengan menggantikan entri-
entri dalam kolom ke j dari A dengan entri-entri matriks.
Menyelesaikan Menggunakan Operasi Baris Elementer. Sistem ini
umumnya didapatkan dalam suatu tahapan dengan menerapkan ketiga tipe operasi
untuk menghilangkan bilangan-bilangan tak diketahui secara sistematis. Karena
baris (garis horisontal) dalam matriks yang diperbesar bersesuaian dengan
persamaan dalam sistem yang diasosiasikan dengan baris tersebut, maka ketiga
operasi ini bersesuaian operasi berikut pada baris matriks yang diperbesar.
a. Kalikanlah sebuah baris dengan konstanta yang taksama dengan nol.
b. Pertukarkanlah dua baris tersebut.
c. Tambahkanlah kelipatan dari satu baris bagi baris yang lainnya.



4.7 Latihan.
Selesaikanlah soal –soal berikut menggunakan determinan dan adjoint.
1.
3 5 2
7 2
2 1
2 1
÷ = +
= +
x x
x x

2.
1 5 2
8 6 3
2 1
2 1
= +
= ÷
x x
x x

3.
3 2 3
4 3
1 2 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + +
= + +
÷ = + +
x x x
x x x
x x x

4.
5
3 2 3
7 2
3 2
3 2 1
3 2 1
= +
÷ = + +
= + +
x x
x x x
x x x


82
5.
0
2
1
10
1
10
1
5
2
5
4
5
1
5
1
5
1
5
1
5
1
= + + ÷
= ÷ +
= + +
z y x
z y x
z y x

6.
4 6 4 2
0 3 2
7 4 4
4 9 7 3
= ÷ ÷ ÷ ÷
= ÷ ÷ ÷
= + + +
= + + +
z y x w
z y w
z y x w
z y x w

Selesaikanlah soal –soal berikut menggunakan kaidah Cramer!
7.
4 2
5 4 3
2 1
2 1
= +
= ÷
x x
x x

8.
1 2 5
3 2 11
2 5 4
= + +
= + +
= +
z y x
z y x
y x

9.
4 4 2
2 2
1 2
÷ = ÷ ÷
= + ÷
= ÷ +
z y x
z y x
z y x

10.
0 3 4
2 2
4 3
3 1
2 1
3 2 1
= ÷
÷ = ÷
= + ÷
x x
x x
x x x

11.
4 2 4
11 3
14 9 7
32 4 2
4 3 2 1
4 3 2 1
4 3 2 1
4 3 2 1
÷ = ÷ ÷ +
= + + ÷
= ÷ + +
÷ = ÷ + ÷
x x x x
x x x x
x x x x
x x x x

12.
15 2 2 6
7 3 4
8 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + +
= + +
= + ÷
x x x
x x x
x x x

Selesaikanlah soal –soal berikut menggunakan matriks yang diperbesar (eliminasi
Gauss-Jordan)

83
13.
2 2 1
1 2 1
2 4
3
b x x
b x x
= ÷
= ÷

a. 4 , 1
2 1
= = b b
b. 5 , 2
2 1
= ÷ = b b
14.
3 3 2 1
2 3 2 1
1 3 2 1
4 2 3
2 7 2
3
b x x x
b x x x
b x x x
= ÷ +
= + + ÷
= ÷ ÷

a. 0 , 1 , 0
3 2 1
= = = b b b
b. 5 , 4 , 3
3 2 1
÷ = = ÷ = b b b
15.
2 2 1
1 2 1
3
5 2
b x x
b x x
= +
= ÷

a. 1 , 0
2 1
= = b b
b. 6 , 4
2 1
= ÷ = b b
c. 3 , 1
2 1
= ÷ = b b
d. 1 , 5
2 1
= ÷ = b b
16.
3 3 2 1
2 3 2 1
1 3 2 1
4 7 3
4 5 2
2
b x x x
b x x x
b x x x
= + +
= + +
= ÷ +

a. 1 , 0 , 1
3 2 1
÷ = = = b b b
b. 1 , 1 , 0
3 2 1
= = = b b b
c. 0 , 1 , 1
3 2 1
= ÷ = ÷ = b b b

17. Selesaikanlah soal –soal berikut menggunakan metode matriks yang
diperbesar dengan memecahkan sistem dalam kedua bagian secara bersama.

84
a.
1 2 7 3
1 5 2
2 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
÷ = + ÷
= + ÷
÷ = + ÷
x x x
x x x
x x x

b.
0 2 7 3
1 5 2
1 2
3 2 1
3 2 1
3 2 1
= + ÷
÷ = + ÷
= + ÷
x x x
x x x
x x x


4.8 Daftar Pustaka
1. Nababan, M. 1993. Pengantar Matematika untuk Ilmu Ekonomi dan Bisnis.
Jakarta: Penerbit Erlangga.
2. Anton, Howard. 1995. Matematika I Elementer. Jakarta: Penerbit Erlangga.
3. Dumairy. 1996. Matematika Terapan untuk Bisnis dan
Ekonomi.Yogyakarta:BPFE.






Sign up to vote on this title
UsefulNot useful