P. 1
Penyakit_sistemik__Jadi_

Penyakit_sistemik__Jadi_

|Views: 24|Likes:
Published by anon_294526636

More info:

Published by: anon_294526636 on Sep 23, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/13/2014

pdf

text

original

UJIAN PENYAKIT-PENYAKIT SISTEMIK YANG BERKAITAN DENGAN PERDARAHAN PADA PENCABUTAN GIGI

Oleh: Mohan Akbar G 0006118

Penguji : Sherly Indratno, drg., SpOrt.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA 2012

PENYAKIT-PENYAKIT SISTEMIK YANG BERKAITAN DENGAN PERDARAHAN PADA PENCABUTAN GIGI

Pada tindakan ekstraksi gigi, pertama-tama operator harus memastikan keadaan umum pasien, siap atau tidak untuk dilakukan tindakan. Kesiapan itu, dapat dinilai dari keadaan psikis (tegang, takut, atau biasa), keadaan sistemik (terkontrol atau tidak), riwayat penyakit, dan juga riwayat pengobatan. Pemeriksaan awal tersebut, sangat menentukan tingkat keberhasilan perawatan. Karena kondisi pasien yang tidak normal, akan dapat mempersulit tindakan eksodonsi. Salah satunya adalah adanya kelainan sistemik yang tidak terkontrol, maka dapat memicu timbulnya komplikasi perioperatif maupun pasca operatif. Beberapa penyakit sistemik yang dapat menjadi penyulit dalam tindakan eksodonsia, antara lain: 1. Hipertensi 2. Diabetes Mellitus 3. Penyakit Kardivaskular 4. Hipertiroidisme 5. Gagal Ginjal Kronis 6. Penyakit Hati Kronis 7. Asma

1. HIPERTENSI  Definisi: Hipertensi juga disebut sebagai tekanan darah tinggi (HTN atau HPN) adalah suatu kondisi medis di mana tekanan darah tinggi yang berkesinambungan atau menurut JNC-7 (Joint National Comitte) hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arteri yang tetap, yang mengakibatkan suplai oksigen dan nutrisi, yang dibawa oleh darah terhambat sampai ke jaringan tubuh yang membutuhkan. Dalam penggunaan saat ini, kata "hipertensi" biasanya merujuk ke sistemik (hipertensi arterial). Sedangkan jenis lain adalah pulmonary hipertensi yang melibatkan sirkulasi paru-paru.

Klasifikasi Tekanan Darah Dewasa Klasifikasi Normal Normal Tinggi Stadium 1 (Hipertensi ringan) Stadium 2 (Hipertensi sedang) Stadium 3 (Hipertensi berat) Stadium 4 (Hipertensi maligna)  Patofisiologi: a. Hipertensi esensial (Hipetensi primer) bersifat idiopatik yang belum jelas penyebabnya. Dipengaruhi usia, jenis kelamin, merokok, kolesterol, berat badan. b. Hipertensi sekunder. Dipengaruhi oleh obat, penyakit ginjal, penyakit endokrin (diabetes melitus, tiroid, Cushing).  Gejala dan Tanda-tanda Klinis: Biasanya tanpa menimbulkan gejala (asimtomatik). Namun biasanya disertai beberapa tanda-tanda klinis, yaitu: pusing prosimal, berkeringat, takikardia, palpitasi. Adapun tanda-tanda fisik yang terlihat, diantaranya adalah: • • • • • • • Gelisah Mudah marah Wajah kemerahan Lambat Obesitas Sering tremor Sukar tidur • • • • • Mudah lelah Mimisan Telinga berdengung Mata berkunang-kunang Pembesaran ginggiva dan xerostomia (karena konsumsi obat antihipertensi) SISTOL (mmHg) < 130 130-139 140-159 160-179 180-209 ≥ 210 DIASTOL (mmHg) < 85 85-89 90-99 100-109 110-119 ≥120

 Diagnosa: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: a. Anamnesa b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis c. Pemeriksaan tekanan darah (sesuai dengan table diatas)

 Terapi: Pengobatan hipertensi secara garis besar dibagi menjadi 2 jenis yaitu:2 1. Pengobatan non farmakologis diantaranya adalah : a. Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh b. Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Nasehat pengurangan garam, harus memperhatikan kebiasaan makan penderita. Pengurangan asupan garam secara drastis akan sulit dilaksanakan. Cara pengobatan ini hendaknya tidak dipakai sebagai pengobatan tunggal, tetapi lebih baik digunakan sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis. c. Ciptakan keadaan rileks. Berbagai cara relaksasi seperti meditasi, yoga atau hipnosis dapat mengontrol sistem saraf yang akhirnya dapat menurunkan tekanan darah. d. Melakukan olah raga seperti senam aerobik atau jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. e. Berhenti merokok dan mengurangi konsumsi alkohol 2. Pengobatan dengan obat-obatan (farmakologis) Obat-obatan antihipertensi. Terdapat banyak jenis obat antihipertensi yang beredar saat ini. Untuk pemilihan obat yang tepat diharapkan menghubungi dokter. a. Diuretik Obat-obatan jenis diuretik bekerja dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (lewat kencing) sehingga volume cairan ditubuh berkurang yang mengakibatkan daya pompa jantung menjadi lebih ringan. Contoh obatannya adalah Hidroklorotiazid. b. Penghambat Simpatetik Golongan obat ini bekerja dengan menghambat aktivitas saraf simpatis (saraf yang bekerja pada saat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin dan Reserpin. c. Betabloker Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan daya pompa jantung. Jenis betabloker tidak dianjurkan pada penderita yang telah diketahui mengidap gangguan pernapasan seperti asma bronkial. Contoh obatnya adalah : Metoprolol, Propranolol dan Atenolol. Pada penderita diabetes melitus harus hati-

hati, karena dapat menutupi gejala hipoglikemia (kondisi dimana kadar gula dalam darah turun menjadi sangat rendah yang bisa berakibat bahaya bagi penderitanya). Pada orang tua terdapat gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) sehingga pemberian obat harus hati-hati. d. Vasodilator Obat golongan ini bekerja langsung pada pembuluh darah dengan relaksasi otot polos (otot pembuluh darah). Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Prasosin, Hidralasin. Efek samping yang kemungkinan akan terjadi dari pemberian obat ini adalah : sakit kepala dan pusing. e. Penghambat enzim konversi Angiotensin Cara kerja obat golongan ini adalah menghambat pembentukan zat Angiotensin II (zat yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yang termasuk golongan ini adalah Captopril. Efek samping yang mungkin timbul adalah : batuk kering, pusing, sakit kepala dan lemas. f. Antagonis kalsium Golongan obat ini menurunkan daya pompa jantung dengan cara menghambat kontraksi jantung (kontraktilitas). Yang termasuk golongan obat ini adalah : Nifedipin, Diltiasem dan Verapamil. Efek samping yang mungkin timbul adalah : sembelit, pusing, sakit kepala dan muntah. g. Penghambat Reseptor Angiotensin II Cara kerja obat ini adalah dengan menghalangi penempelan zat Angiotensin II pada reseptornya yang mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yang termasuk dalam golongan ini adalah Valsartan (Diovan). Efek samping yang mungkin timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas dan mual. Dengan pengobatan dan kontrol yang teratur, serta menghindari faktor resiko terjadinya hipertensi, maka angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.  Masalah: Pada pasien yang hipertensi beresiko terjadi: a. Perdarahan dan thrombosis

b. Resiko terjadinya injeksi intravascular dan adrenalin pada obat anastesi lokal masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan takikardi, stroke volume meningkat, sehingga tekanan darah menjadi tinggi.  Penatalaksanaan:  Penggunaan anastesi lokal yang mengandung adrenalin perlu dipertimbangkan, juga pemberian obat-obatan dari golongan NSAID.  Pemberian sedatif berupa N20 sebelum perawatan hanya bila diperlukan (sebagai kontrol kecemasan).  Untuk pasien hipertensi pada tingkat normal tinggi, masih bisa dilakukan pemberian anastesi lokal yang mengandung vasokontriktor (adrenalin) dengan perbandingan 1:200.000. Atau bisa juga dilakukan pengenceran pehakain dengan mencampur 1 ml pehakain 2% dengan 1 ml lidocain 2% murni.  Hindari waktu perawatan pada jam-jam sibuk dan cuaca yang tidak mendukung.  Bila diperlukan perawatan gigi sebaiknya dikonsultasikan segera dan perawatan bedah dilakukan dalam kerja tim.

2. DIABETES MELLITUS  Definisi: Diabetes mellitus yang umum dikenal sebagai kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah makan. Semua jenis diabetes mellitus memiliki gejala yang mirip dan komplikasi pada tingkat lanjut. Hiperglikemia sendiri dapat menyebabkan dehidrasi dan ketoasidosis.  Klasifikasi: 1. DM Tipe 1 : Defisiensi Insulin absolute akibat dekstruksi sel beta pankreas. Penyebabnya bisa karena autoimmune dan juga idiopatik.

2. DM Tipe 2 : Defisiensi insulin relatif. Disebabkan karena defek sekresi insulin lebih dominan daripada resistensi insulin dan resistensi insulin lebih dominan daripada defek sekresi insulin. Dibedakan menjadi tipe gemuk dan tidak gemuk.  Gejala: Gejala khas dari penderita diabetes mellitus, adalah:  Poliuria (sering buang air kecil)  Polidipsi  Polifagia  BB menurun cepat tanpa penyebab yang jelas Sedangkan gejala yang tidak khas dari penderita diabetes mellitus, adalah:  Kesemutan  Gatal di daerah genital  Infeksi yang sulit sembuh  Bisul yang hilang timbul  Penglihatan kabur  Cepat lelah  Mudah mengantuk, dll  Tanda-tanda Klinis: Manifestasi rongga mulut pada penderita diabetes antara lain:  Penyakit gusi yang semakin luas  Gingivitis  Kandidiasis  Lichen planus  Ulserasi mukosa  Cheilosis angularis  Penyakit periodontal progresif  Periodontitis, kehilangan gigi, luka sulit sembuh  Infeksi dan penyakit mulut gigi  Karies  Sakit pada lidah  Mulut kering/xerostomia  Mulut terasa terbakar  Disfungsi pada pengecapan

 Diagnosa: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: a. Anamnesa b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis c. Pemeriksaan kadar gula darah:    Terapi:    Diet rendah gula Pemberian Insulin Obat Anti-diabetes, seperti: Tolbutamid, chlorpropamide, tolazamid, glipizid, dan glibenklamid.  Masalah: a. Hilangnya pengendalian metabolik. Dapat disebabkan karena stress, obat anastesi lokal (terutama yang mengandung adrenalin atau vasokonstriktor lainnya), dan krisis hipoglikemik. b. Meningkatnya kemungkinan terjadinya infeksi. Disebabkan oleh terganggunya produksi antibodi yang diakibatkan oleh kurangnya glikogen, imunitas selular dan hormonal penderita diabetes mellitus menurun, fungsi leukosit terganggu dan kadar gula dalam darah tinggi. c. Pembekuan darah pada penderita diabetes mellitus, baik yang tipe 1 maupun tipe 2, sedikit terganggu. Artinya cloating time penderita tidak seperti orang non diabetes. d. Kecenderungan perdarahan yang meningkat. Hal tersebut berhubungan dengan vasopati dan infeksi yang sering kambuh pada mukosa mulut. Perdarahan selama dan setelah tindakan eksodonsi biasanya dapat dikendalikan melalui perawatan lokal. e. Salah satu komplikasi akut diabetes mellitus adalah koma hiperosmoler non ketotik. Penyakit ini disebabkan tingginya kadar gula darah melebihi 600 mg% yang mengakibatkan pasien mudah shock.  Penatalaksanaan:  Informasi riwayat kasus yang menyeluruh (anamnesa). Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl

 Pemeriksaan kadar gula sebelum dan sesudah tindakan.  Dilakukan penambahan insulin guna mencegah terjadinya shock.  Anastesi lokal tanpa penambahan bahan vasokonstriktor. Karena adrenalin dapat meningkatkan kadar glukosa darah.  Pada tindakan pembedahan, terdapat sedikit perbedaan antara penderita diabetes mellitus tipe 1 dan tipe 2. Pada penderita diabetes mellitus tipe 1, sebelum dilakukan pembedahan harus dilakukan terapi insulin, dengan memberikan suntikan insulin karena jumlah insulinnya tidak mencukupi kebutuhan. Sedangkan pada tipe 2, tidak perlu diberikan suntikan insulin.  Teknik operasi konservatif dan drainasi luka, misalnya pemberian tampon selam 30 menit setelah ekstraksi gigi.  Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi iatrogenik, gangguan lipid darah, peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi darah.  Kemungkinan pemberian profilaksis antibiotik.  Tindakan pencabutan atau operasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan setelah makan, karena pada waktu itu keadaan metabolic relatif stabil.

3. PENYAKIT KARDIOVASKULAR  Definisi: Penyakit kardiovaskular adalah penyakit sistemik yang melibatkan jantung dan pembuluh darah. Ada banyak penyebab penyakit kardiovaskular, antara lain: faktor keturunan, penyakit infeksi, gaya hidup yang tidak sehat, suka merokok, dan berbagai faktor resiko lainnya. Kadang-kadang, tindakan perawatan gigi dan pemakaian obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kondisi medis pasien dengan penyakit kardiovaskular.  Gejala:  Hipoksemia  Sianosis  Clubbing finger pada tangan dan kaki  Polisitemia karena hipoksemia  Tanda-tanda Klinis (intraoral):  Erups gigi sulung dan permanen terlambat

 Hipoplasia enamel  Vasodilatasi pulpa  Gigi tampak putih kebiruan  Karies dan penyakit periodontal  Diagnosa: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: a. Anamnesa b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis  Terapi: Pemberian obat antikoagulan, seperti: aspirin, heparin, dll.  Masalah:  Komplikasi peredaran darah, seperti perdarahan dan trombosis  Infeksi Endokarditis  Penatalaksanaan:  Harus menghindari penggunaan vasokonstriksi dalam anastesi lokal, karena dalam hubungannya dengan catecholamine yang dilepaskan secara endogen, dapat

menyebabkan komplikasi peredaran darah.  Berhati-hati dalam melakukan tindakan perawatan gigi.  Penggunaan profilaksis antibiotik.  Sedangkan untuk tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakuakn dengan monitor ECG dan disertai infuse IV dengan maksud untuk segera mengetahui komplikasi dan melakukan perawatan. Tindakan ini harus dilakukan di rumah sakit sehingga dapat dilakukan pengawasan oleh spesialis yang berwenang (Test and Wagner, 1992).  Berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi rasa cemas pasien selama tindakan perawatan gigi dilakukan. Karena penderita penyakit kardiovaskular yang berat terkadang memiliki kondisi medis yang mudah sekali dipengaruhi oleh emosinya.  Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter yang selama ini merawat pasien untuk mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi medis pasien saat ini, obat-obat apa saja yang dipergunakan oleh pasien, dan apa saja yang harus dihindarkan selama dilakukan tindakan perawatan gigi pada pasien penderita penyakit kardiovaskular tersebut

4. HIPERTIROIDISME  Definisi: Kerja kelenjar tiroid yang berlebihan. Sehingga produksi tiroksin jadi berlebihan.  Gejala:  Heat intolerance  Gelisah  Tremor  Keringat berlebihan  Tanda-tanda Klinis:  Tremor dan takikardi  Exophtalmos  Pembesaran kelenjar tiroid  Kulit tipis dan soft  Refleks hiperaktif  Diagnosa: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: a. Anamnesa b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis c. Pemeriksaan laboratorium:  Terapi: Penatalaksanaan hipertiroidisme secara farmakologi menggunakan empat kelompok obat ini yaitu: a) obat antitiroid, b) penghambat transport iodida, c) iodida dalam dosis besar menekan fungsi kelenjar tiroid, d) yodium radioaktif yang merusak sel-sel kelenjar tiroid. Obat antitiroid bekerja dengan cara menghambat pengikatan (inkorporasi) yodium pada TBG (thyroxine binding globulin) sehingga akan menghambat sekresi TSH (Thyreoid Stimulating Hormone) sehingga mengakibatkan berkurang produksi atau sekresi hormon tiroid. Antitiroid digunakan untuk :1 Peningkatan T3 dan T4 Penurunan TSH  Kelemahan otot  Diare  Peningkatan nafsu makan  Penurunan berat badan

 Pada orangtua bisa terjadi fibrilasiatrial, angina dan gagal jantung kongesti

a. mempertahankan remisi pada strauma dengan tirotoksikkosis b. mengendalikan kadar hormon pada pasien yang mendapat yodium radioaktif c. menjelang pengangkatan tiroid Adapun obat-obat yang temasuk obat antitiroid adalah Propiltiourasil, Methimazole, Karbimazol dan Tiamazole. Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi gejala-gejala hipotiroidisme. Contoh : Propanolol  Masalah: Resiko terjadinya krisis tiroid  Penatalaksanaan:  Hindari penambahan adrenalin pada pemberian anastesi lokal, karena adanya pelepasan adrenalin secara endogen sehingga dapat menyebabkan krisis tirotoksik.

5. ASMA  Definisi: Asma diartikan sebagai penyakit radang kronis dari saluran pernafasan yang ditandai dengan meningkatnya respons cabang tracheobronchial terhadap stimulus yang berulang. Asma merupakan penyakit yang hilang – timbul, dengan eksaserbasi akut menyebar. Umumnya waktu serangan pendek, terjadi antara beberapa menit hingga beberapa jam, dan secara klinis pasien dapat pulih sempurna setelah serangan. Walaupun jarang terjadi, serangan akut dapat menimbulkan kematian  Klasifikasi: Asma dibedakan jadi dua jenis, yakni asma bronkial dan kardial. Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap rangsangan dari luar, seperti debu rumah, bulu binatang, asap, dan bahan lain penyebab alergi. Gejala kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan asma bisa datang secara tibatiba. Jika tidak mendapatkan pertolongan secepatnya, risiko kematian bisa datang. Gangguan asma bronkial juga bisa muncul lantaran adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran pernapasan bagian bawah. Penyempitan ini akibat berkerutnya otot polos saluran pernapasan, pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir yang berlebihan.

Sedangkan asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung disebut asma kardial. Gejala asma kardial biasanya terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat. Kejadian ini disebut nocturnal paroxymul dyspnea. Biasanya terjadi pada saat penderita sedang tidur.  Gejala dan Tanda Klinis: Gejala dan tanda klinis sangat dipengaruhi oleh berat ringannya asma yang diderita. Bisa saja seorang penderita asma hampir-hampir tidak menunjukkan gejala yang spesifik sama sekali, di lain pihak ada juga yang sangat jelas gejalanya. Gejala dan tanda tersebut antara lain: · Batuk · Nafas sesak (dispnea) terlebih pada saat mengeluarkan nafas (ekspirasi) · Wheezing (mengi) · Nafas dangkal dan cepat · Ronkhi · Retraksi dinding dada · Pernafasan cuping hidung (menunjukkan telah digunakannya semua otot-otot bantu pernafasan dalam usaha mengatasi sesak yang terjadi) · Hiperinflasi toraks (dada seperti gentong) Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.  Diagnosa: Penyakit asma dapat didiagnosis melalui metode berikut : (a)Sebuah alat yang bernama ‘peak flow meter’/ pengukur aliran puncak dapat digunakan untuk mendiagnosis asma. Peak flow meter dapat mengukur seberapa banyak, dan seberapa cepat udara dapat dikeluarkan dari paru- paru/ pulmo. Alat ini juga dapat digunakan untuk menentukan terapi macam apa yang paling sesuai untuk perawatan asma di tiap kasus yang berbeda. (b)Test Spirometry dapat mengukur seberapa baik fungsi dari paru- paru, dan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dari peak flow meter. (c)X-ray rongga dada/ thoraxic cavity, tetapi metode ini agak kurang umum dilaksanakan.

(d)Test alergi pada kulit, dan test darah, untuk mengetahui adakah alergi terhadap bahanbahan tertentu.  Terapi: Terapi medikasi asma dibagi menjadi 2 kategori, yaitu quick relief dan medikasi kontrol jangka panjang. Quick relief : - mengatasi eksaserbasi akut asma - Beta agonis aksi pendek, antikolinergik dan kortikosteroid sistemik. - Pemulihan cepat dari eksaserbasi akut Medikasi kontrol jangka panjang : - kortikosteroid inhalasi - cromolyn sodium - nedocromil - beta agonis jangka panjang - methylxantine - leukotrien antagonis Bronkodilator Merupakan pengobatan simptomatis dari bronkospasme pada eksaserbasi akut asma/ kontrol gejala jangka panjang : Albuterol, levalbuterol, salmeterol, ipratropium (atrovent), teofilin. Antagonis reseptor leukotrien Antagonis direk dari mediator yang menyebabkan inflamasi jalan napas pada asma. Alternatif pengobatan jangka panjang selain kortikosteroid inhalasi dosis rendah : montelukast. Kortikosteroid Obat pilihan untuk pengobatan asma kronis dan pencegahan eksaserbasi akut asma. Beberapa kortikosteroid inhalasi yang digunakan pada asma : beclomethasone, budenoside, turbuhaler, flunisolide, fluticasone, triamcinolone. Mast cell stabilizer Mencegah pelepasan mediator dari sel mast yang menyebabkan inflamasi jalan napas dan bronkospasme. Diindikasikan untuk terapi rumatan untuk asma ringan hingga moderat : cromolyn

 Terapi asma kardial (gagal jantung): 1) Pengobatan Aritmia : – Anti Aritmia : Diuretik, ACE inhibitor, Beta blocker, dll. – Pacu Jantung 2) Pengobatan Bedah 3) Transplantasi Jantung 4) Pengobatan metabolik  Masalah:     Pasien mengalami kesulitan bernafas.  Penatalaksanaan: Anamnesa tentang alergi obat. Hindari penggunaan obat-obat yang merangsang reaksi alergi pada pasien. Jika pasien mengalami serangan asma, maka: (Rylander, 1997) (a) Segera gunakan inhaler reliever dilengkapi spacer. (b) Duduk dan relax, jangan tidur telentang. (c) Tunggu 5-10 menit, jika serangan asma tidak reda juga, gunakan inhaler reliever tiap 1 menit sekali, selama 5 menit, hingga serangan asma tersebut reda. (d) Jika serangan asma masih tidak reda, segera panggil ambulance, dan tetap gunakan inhaler reliever 1x setiap menit.

6. GAGAL GINJAL KRONIS  Definisi: Penyakit Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urine.  Gejala dan tanda-tanda klinis:  Hipertonia  Lemas, tidak ada tenaga, nafsu makan, mual, muntah, bengkak, kencing berkurang, gatal, sesak napas, pucat/anemi.

 Kelainan urin: Protein, Eritrosit, Lekosit. Kelainan hasil pemeriksaan Lab. lain: Creatinine darah naik, Hb turun, Urin: protein selalu positif  Diagnosa: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: a. Anamnesa b. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis c. Pada pemeriksaan darah dan urin akan ditemukan:  Peningkatan kadar urea dan kreatinin  Anemia  Asidosis (peningkatan keasaman darah)  Hipokalsemia (penurunan kadar kalsium)  Hiperfosfatemia (peningkatan kadar fosfat)  Peningkatan kadar hormon paratiroid  Penurunan kadar vitamin D  Kadar kalium normal atau sedikit meningkat  Analisa air kemih menunjukkan berbagai kelainan, berupa ditemukannya sel-sel yang abnormal dan konsentrasi garam yang tinggi  Masalah:  Gangguan detoksifikasi obat  Kecenderungan perdarahan  Penatalaksanaan:  Mempertimbangkan penggunaan obat-obatan yang sifatnya diekskresi oleh ginjal. Karena adanya bahaya akumulasi yang sangat tinggi.

7. PENYAKIT HATI KRONIS  Definisi: Dalam kasus penyakit hati kronis, misalnya sirosis hati dan hepatitis. Terjadi gangguan terhadap fungsi hati. Dan hal itu dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perdarahan.  Gejala:  Jaundice, edema, perdarahan lambung, mental confusion

 Hepar mengkerut dan keras, splenomegali  Asites dan edema perifer (pembesaran yang nyeri pada perut region kanan atas)  Manifestasi kulit : spider angioma/nevi, palmarerythema, ruam kulit dan urtikaria  Diagnosis: Penegakkan diagnose dapat dilakukan dengan melakukan: d. Anamnesa e. Pemeriksaan gejala dan tanda-tanda klinis f. Pemeriksaan laboratorium:  Masalah:  Gangguan detoksifikasi obat  Kecenderungan perdarahan  Resiko penularan infeksi viral hepatitis  Penatalaksanaan:      Pemeriksaan fungsi hati, untuk menghindari peningkatan perdarahan. Penggunaan anastesi lokal golongan ester, untuk mengurangi penimbunan obat dalam hati akibat pemecahan yang cukup banyak yang terjadi didalam jaringan dan darah. Jika menggunakan anastesi lokal golongan amida, maka dosis maksimum yang diperbolehkan harus dianggap sebagai dosis maksimum untuk hari ini. Penundaan perawatan pada pasien dengan peningkatan fungsi hepar Untuk pasien dengan infeksi aktif: Perawatan dilakukan terakhir Universal precaution CT scan, USG abdomen, biopsihepar Tes fungsi hepar (SGOT/AST dan SGPT/ALT) meningkat Adanya antigen dan antibodi virus hepatitis

DAFTAR PUSTAKA

Tetsch, Peter and Wilfried Wagner. 1992. Operative Extraction of Wisdom Teeth. Jakarta: EGC Pedersen, GW. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC Rylander R, Dahlberg C, Rubenowitz E. Magnesium supplementation decreases airway responsiveness among hyper-reactive subjects. Magnesium-Bulletin 1997;19:4–6. Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson.1994. Patofisiologi konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4.Jakarta: EGC. Kumar, Abbas, Fausto. 2005. Robin and Cotran Pathologic Basics of Disease 7th Edition : Elseiver Saunders Kasper Dennis L. et.al. 2004. Harrison's Principles of Internal Medicine 16th Edition: McGraw-Hill Professional

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->