PENETAPAN KADAR KARBOHIDRAT METODE LUFT SCHOORL

I.

Tujuan Percobaan 1. Mahasiswa dapat melakukan analisis kadar karbohidrat dalam suatu bahan pangan 2. Mahasiswa dapat mengetahui kadar karbohidrat dalam bahan

II.

Alat dan Bahan Alat 1. Gelas ukur 25 ml,Erlenmeyer 2. Neraca analitik 3. Pipet godok 10 ml,25ml 4. Buret 5. Hotplate 6. Labu ukur 7. Corong 8. Pendingin balik Bahan 1. Tapioca dan tepung beras 2. Larutan luff school 3. Larutan KI 20% 4. Asam sulfat 25% 5. Na thiosulfat 0,1 N 6. Indicator amilum 1% 7. Larutan HCl 3% 8. Natrium hidroksida 30% 9. Indicator fenolftalein (PP)

III.

Gambar (TERLAMPIR)

IV.

Dasar Teori

Karbohidrat secara sederhana dapat diartikan suatu senyawa yang terdiri dari molekul-molekul karbon (C), hidrogen (H) dan oksigen (O) atau karbon dan hidrat (H2O) sehingga dinamakan karbo-hidrat. Dalam tumbuhan senyawa ini dibentuk melaui proses fotosintesis antara air (H2O) dengan karbondioksida (CO2) dengan bantuan sinra matahari (UV) menghasilkan senyawa sakarida dengan rumus (CH2O)n. Ada banyak fungsi dari karbohidrat dalam penerapannya di industri pangan, farmasi maupun dalam kehidupan manusia sehari-hari. Diantara fungsi dan kegunaan itu ialah: Sebagai sumber kalori atau energy, sebagai bahan pemanis dan pengawet, Sebagai bahan pengisi dan pembentuk, sebagai bahan penstabil, sebagai sumber flavor (karamel), dan sebagai sumber serat (Winarno 2007).

Klasifikasi Karbohidrat Karbohidrat dapat digolongan menjadi dua (2) macam yaitu karbohidrat sederhana dengan karbohidrat komplek atau dapat pula menjadi tiga (3) macam, yaitu : a. Monosakarida (karbohidrat tunggal) Kelompok monosakarida dibedakan menjadi dua (2) macam, yaitu pentosa yang tersusun dari lima (5) atom karbon (arabinosa, ribose, xylosa) dan heksosa yang tersusun dari enam (6) atom karbon (fruktosa/levulosa, glukosa, dan galaktosa). Struktur glukosa dan fruktosa digunakan sebagai dasar untuk membedakan antara gula reduksi dan gula non-reduksi. Penamaan gula reduksi ialah didasarkan pada adanya gugus aldehid (–CHO pada glukosa dan galaktosa) yang dapat mereduksi larutan Cu2SO4 membentuk endapan merah bata. Adapun gula non-reduksi ialah gula yang tidak dapat mereduksi akibat tidak adanya gugus aldehid seperti pada fruktosa dan sukrosa/dektrosa yang memiliki gugus keton (C=O). D-Glukosa (Fischer) D-Glukosa (Haworth) b. Oligosakarida (tersusun dari beberapa monosakarida)

Kelompok ini terdiri dari banyak jenis, seperti disakarida, trisakarida, tetrasakarida, dll. Namun paling banyak dipelajari ialah kelompok disakarida yang terdiri dari maltosa, laktosa dan sukrosa (dekstrosa). Dua dari jenis disakarida ini termasuk gula reduksi (laktosa dan maltosa) sedangkan sukrosa tidak termasuk gula reduksi (nonreducing). c. Polisakarida (tersusun lebih dari 10 monosakarida) Kelompok ini terdiri dari tiga (3) jenis yaitu : 1. Homopolisakarida Yaitu polisakarida yang tersusun atas satu jenis dari monosakarida yang diikat oleh ikatan glikosida, seperti galactan, mannan, fructosans, dan glucosans (cellulose, dextrin, glycogen, dan starch/pati) 2. Heteropolisakarida 3. Polisakarida mengandung N (chitin) Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut : R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O 2 Cu2+ + 4 I- Cu2I2 + I2 2 S2O32- + I2 S4O62- + 2 IMonosakarida akan mereduksikan CuO dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3. Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2) bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4) dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida

berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2 yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator (Winarno 2007). I2 bebas ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3 sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum, maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu dengan penentuan Cu tereduksi dengan I2 dan menggunakan prosedur Lae-Eynon (Anonim 2009). Metode Luff Schoorl mempunyai kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.

V.

Prosedur Percobaan 1. Pembuatan larutan Luff Schoorl Melarutkan 143,8 gr Na2CO3 anhidrat dalam 300ml air suling. Sambil diaduk menambahkan 50gr asam sitrat monohidrat yang telah diaduk dengan 50ml air suling. Menambahkan 25gr CuSO4.5H2O yang telah dilarutkan dengan 100 ml air suling, memindahkan larutan tersebut ke dalam labu bundar 1 liter, menempatkan sampai tanda garis dengan air suling dan dikocok. Membiarkan semalam dan menyaring bila perlu. Larutan ini mempunyai kepekaan Cu2+ = 0,1 N 2. Penentuan Kadar gula dengan metode Luff Schoorl   Menimbang seksama 3-5 gr sampel ke dalam Erlenmeyer 500 ml Menambahkan 200 ml larutan HCl 3%, mendidihkan selama 1 jam dengan pendingin tegak.

Mendinginkan dan menetralkan dengan larutan NaOH 30% dan menambahkan sedikit larutan CH3COOH 3% suasana larutan sedikit asam

Memindahkan larutan secara kuantitatif ke dalam labu ukur 500 ml, mengencerkan dengan air suling dan menepatkan volume sampai tanda garis. Mengocok dan menyaring melalui kertas saring.

 

Memipet 10 ml filtrate ke dalam Erlenmeyer 500 ml, menambahkan 25 ml larutan Luff Schoorl dan beberapa batu didih dan 15 ml air suling Memanaskan campuran tersebut dengan panas yang konstan sampai mendidih selama 10 menit kemudian dengan cepat mendinginkan dalam bak berisi es

 

Setelah dingin, menambahkan perlahan-lahan 15 ml larutan KI 20% dan 25ml H2SO4 25% Mentitrasi secepatnya dengan larutan Na tiosulfat 0,1 N sampai warna kuning hamper hilang, menambahkan indicator kanji 1% melanjutkan titrasi samapi warna biru hilang

Membuat juga suatu percobaan blanko dengan menggunakan 25 ml air sebagai pengganti sampel

VI. Data Pengamatan

larutan
Asam sulfat 25% NaOH 30% HCl 3% CH3COOH 3% KI 20% Larutan Luft Schoorl 50 ml

Yang ditimbang atau dipipet
12,75ml dalam 50ml 0,25 ml dalam 50ml 81,08ml dalam 1000ml 1,5 ml dalam 50ml 20 gram dalam 50 ml 7,19 gram Na2CO3 anhidrat dalam 15ml 2,5 gram asam sitrat monohidrat dalam 2,5ml air 1,25gram CuSO4.5H2O dalam 5 ml

Indicator amilum

0,5gram dalam 50ml

VII.

Perhitungan a. Pembuatan larutan  Asam Sulfat 20% x 50ml (X)  NaOH 30 %,50ml %1 x V1 30% x 50 ml V2  HCl 3%,1000ml %1 x V1 3% x 1000ml V2  = %2 x V2 = 35% x V2 = 81,08 ml = %2 x V2 = 60% x V2 = 0,25 ml = 25% x (X) = 12,75 ml

CH3COOH 3%, 50ml 3% x 50ml V2 = 100% x V2 = 1,5ml

KI 20%

VIII.

Analisa Percobaan Setelah melakukan percobaan dapat dianalisis bahwa penentuan kadar karbohidrat yang terkandung dalam suatu sampel dengan metode Luff Schoorl. Pengukuran karbohidrat yang merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi sebagai berikut : R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH + Cu2O 2 Cu2+ + 4 I- Cu2I2 + I2 2 S2O32- + I2 S4O62- + 2 IDalam percobaan pertama, hanya dilakukan pembuatan larutan-larutan yang akan digunakan untuk penentuan kadar karbohidrat. Larutan luff Schoorl terdiri dari larutan CuSO4.5H2O, larutan asam sitrat, dan larutan Na2CO3 anhidrat. Percobaan pertama yang hanya penyiapan larutan-larutan disebabkan larutan Luff Schoorl memerlukan waktu semalam. Larutan-larutan lain yang digunakan yaitu larutan asam sulfat 25%, larutan HCl 3%, larutan NaOH 30%, larutan asam asetat 3% dan larutan KI 20%. Dimana setiap larutan mempunyai fungsi tersendiri. Pertama HCl digunakan sebagai katalis dan pemberi suasana asam untuk mempercepat reaksi. Kemudian larutan NaOH berfungsi untuk menetralkan kembali sehingga memungkinkan untuk menguji iodium yang terdapat didalam campuran. Asam asetat diberikan untuk membuat larutan sedikit asam. Larutan KI berfungsi untuk membentuk larutan berwarna kuning kecokelatan yang menunjukkan adanya campuran CuI2, Cu2I2 dan I2.

IX. Kesimpulan Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa  Dalam penentuan kadar karbohidrat dapat dilakukan dengan metode Luff Schoorl dimana metode Luff Schoorl adalah berdasarkan proses reduksi dari larutan Luff Schrool oleh gula-gula pereduksi   Larutan Luff Schrool terdiri atas Na2CO3 anhidrat, asam sitrat dan CuSO4.5H2O Larutan pendukung dalam penentuan kadar karbohidrat yaitu Larutan KI, HCL, asam sulfat, NaOH, indicator amilum

X. Daftar Pustaka

Jobsheet.2012. Penuntun Pratikum Teknik Pengolahan Pangan. Politeknik Negeri Sriwijaya : Palembang http://bluishcaramelpillow.blogspot.com/2010/07/penetapan-karbohidrat-metodeluff.html

LAMPIRAN

Neraca analitik

gelas kimia

Labu ukur

pengaduk

spatula

Related Interests