Pemanfaatan Multimedia dan ICT dalam Proses Pembelajaran dan Kesulitan Guru Dalam Mengimplementasikannya

Disusun Oleh : Sakti Yonni Purba

Dewasa mengangkat

ini unsur

kurikulum pendidikan

di

Indonesia berkarakter

kembali dalam

pembelajaran. Perubahan kecil ini tentu tidak mudah dilaksanakan dalam kondisi nyata. Karena para guru telah memiliki beban tugas yang sudah cukup berat. Sehingga tidak jarang para guru mengeluh dan kurang maksimal dalam melaksanakan unsur yang pendidikan berkarakter tersebut. Penggunaaan multimedia dalam proses pembelajaran sangat memungkinkan terintegrasinya unsur tersebut dalam setiap pembelajaran. Penelitian-penelitian membuktikan bahwa pembelajaran dengan menggunakan multimedia menunjukkan peningkatan sikap yang signifikan bila dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Kondisi ini tentu sangat dioptimalkan lagi bila multimedia tersebut dirancang dengan baik sesuai dengan harapan kita. Seiring dengan hal di atas, penggunaan multimedia dalam pembelajaran ternyata dapat meningkatkan motiv anak pada pembelajaran literasi. Siswa yang mendapatkan program belajar dengan multimedia ternyata memiliki motiv yang lebih baik dibandingkan siswa yang mengambil program konvensional. Penggunaan multimedia dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman konsep materi bila dibandingkan dengan menggunakan media lain (charta, torso, dan model). Hal ini disebabkan karena multimedia memungkinkan digunakannya berbagai

media dalam suatu pembelajaran. Selain itu pembuatan suatu program multimedia sangat fleksibel, sehingga guru dapat berkreasi atau dapat juga mencari sumber-sumber media belajar yang semakin lengkap tersedia.

Pemanfaatan teknologi multimedia atau teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dalam dunia pendidikan dapat menciptakan suatu kemudahan-kemudahan bagi seluruh masyarakat pendidikan. Digitalisasi buku-buku atau biasa dikenal dengan sebutan e-book dan internet sangat membantu segala aspek pendidikan. Bahkan learning Tool yaitu suatu metode pembelajaran interaktif dengan menggunakan teknologi komputer dapat membantu visualisasi pendidikan. ICT dapat digunakan untuk mendukung penyelengaraan pendidikan sehingga dapat memberikan suatu sistem pembelajaran yang cepat, sederhana, menarik dan interaktif. Oleh karenanya untuk merancang suatu sistem pembelajaran dengan media elektronik atau e-learning tersebut, dunia pendidikan, perlu melibatkan para pakarnya terutama dibidang pendidikan maupun dibidang teknologi informasi, sehingga tercipta suatu sistem pembelajaran modern yang tidak hanya handal di bidang teknologi tetapi juga mampu menjembatani nilai-nilai budaya yang melekat pada sistem pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional yang umumnya kaku, berada diruangan, dan guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan mengupayakan situasi dan kondisi belajar yang hening untuk mendapatkan konsentrasi belajar yang maksimal; menggunakan buku wajib yang cenderung menjadi satu-satunya referensi yang sah di kelas; serta model ujian dengan soal-soal pilihan ganda (multiple choices) yang hasilnya menjadi ukuran kemampuan siswa. Semua aspek dalam proses pembelajaran itu kini dinilai mengandung banyak kelemahan yang bahkan secara agregatif menjadi kontraproduktif terhadap pengembangan diri dan intelektual siswa. Teori kecerdasan Edward Gardner dengan 8 tipe kecerdasan tentu memiliki karakteristik cara belajar yang berbeda. Menyeragamkan cara pembelajaran dengan satu pendekatan yang monoton dan statis—seperti dalam cara-cara belajar konvensional—tidak memberikan kondisi yang terbaik (optimum) untuk mengembangkan kemampuan semua siswa yang sangat unik dari segi kecerdasannya. Dalam hal ini pemanfaatan ICT dalam pembelajaran menjadi pilihan yang paling baik untuk mengatasi kondisi ini. Dari penjelasan di atas tidak dapat dipungkiri bahwa media pembelajaran sangat penting dalam proses belajaran mengajar. Mengajarkan sesuatu yang sangat abstrak tentu sangat sulit, apalagi bila pebelajar tidak mengenal objek ataupun informasi yang diberikan

oleh pengajar. Bahkan pada kenyataannya siswa sering salah mempersepsikan informasi tersebut. Penggunaan media belajar sangat efektif mengatasi masalah-masalah ini, bahkan media-media bisa membentuk pengalaman baru bagi siswa-siswi. Yang menjadi masalah adalah masih banyak pengajar-pengajar yang belum menggunakan media-media dalam proses pembelajarannya. Setidaknya ada tujuh alasan utama mengapa guru tidak menggunakan media dalam proses belajar-mengajar. Ketujuh alasan itu antara lain : 1. menggunakan media itu repot 2. kedua media itu canggih dan mahal 3. guru tidak terampil menggunakan media 4. media itu hiburan sedangkan belajar itu serius 5. tidak tersedia di sekolah 6. kebiasaan menikmati ceramah/bicara 7. kurangnya penghargaan dari atasan. Dari ketujuh alasan diatas sebenarnya bukanlah sesuatu yang berat untuk diatasi. Mengingat jenis media itu sangat beraneka ragam, maka guru dapat memilih berbagai alternative media yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, mulai dari sangat sederhana dan sangat canggih. Yang paling perlu adalah sikap dan kemauan guru-guru untuk selalu terbuka pada perkembangan teknologi khususnya ICT. Penulis adalah staf pengajar di Yayasan Santa Maria Sibolga Dan Pimpinan Nicholas College Cab. Sibolga Mahasiswa Pascasarjana Unimed