Askep Pada Pasien Trauma Tumpul Abdomen BAB II PEMBAHASAN

PENGERTIAN Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002). Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001). Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001). Trauma perut merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi (FKUI, 1995). B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI 1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium). Disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak. 2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium). Disebabkan oleh : pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt) (FKUI, 1995).

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI Abdomen ialah rongga terbesar dalam tubuh. Bentuk lonjong dan meluas dari atas diafragma sampai pelvis dibawah. Rongga abdomen dilukiskan menjadi dua bagian – abdomen yang sebenarnya, yaitu rongga sebelah atas dan yang lebih besar, dan pelvis yaitu rongga sebelah bawah dab kecil. Batasan – batasan abdomen. Di atas, diafragma, Di bawah, pintu masuk panggul dari panggul besar. Di depan dan kedua sisi, otot – otot abdominal, tulang –tulang illiaka dan iga – iga sebelah bawah. Di belakang, tulang punggung, dan otot psoas dan quadratrus lumborum. Isi Abdomen. Sebagaian besar dari saluran pencernaan, yaitu lambung, usus halus, dan usus besar. Hati menempati bagian atas, terletak di bawah diafragma, dan menutupi lambung dan bagian pertama usus halus. Kandung empedu terletak dibawah hati. Pankreas terletak dibelakang lambung, dan limpa terletak dibagian ujung pancreas. Ginjal dan kelenjar suprarenal berada diatas dinding posterior abdomen. Ureter berjalan melalui abdomen dari ginjal. Aorta abdominalis, vena kava inferior, reseptakulum khili dan sebagaian dari saluran torasika terletak didalam abdomen. Pembuluh limfe dan kelenjar limfe, urat saraf, peritoneum dan lemak juga dijumpai dalam rongga ini. D. PATOFISIOLOGI Tusukan/tembakan ; pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt)-Trauma abdomen- :

Trauma tembus abdomen Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Respon stres simpatis Perdarahan dan pembekuan darah Kontaminasi bakteri Kematian sel 1 & 2 menyebabkan :  Kerusakan integritas kulit  Syok dan perdarahan  Kerusakan pertukaran gas  Risiko tinggi terhadap infeksi  Nyeri akut (FKUI.2001) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh . Pathway Trauma (kecelakaan) ↓ Penetrasi & Non-Penetrasi ↓ Terjadi perforasi lapisan abdomen (kontusio. laserasi.1.lunak dan rongga abdomen → Nyeri ↓ Motilitas usus ↓ Disfungsi usus → Resiko infeksi ↓ Refluks usus output cairan berlebih Gangguan cairan dan eloktrolit ↓ Kelemahan fisik ↓ Gangguan mobilitas fisik (Sumber : Mansjoer. Trauma tumpul abdomen Kehilangan darah. Nyeri Iritasi cairan usus 2. 1995). Memar/jejas pada dinding perut. Kerusakan organ-organ. hematom) ↓ Menekan saraf peritonitis ↓ Terjadi perdarahan jar. jejas.

. dan cedera. darah dalam lambung. Lambat : infeksi (Smeltzer. lavase peritoneal positif . Kehilangan darah. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium). Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) : Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ Respon stres simpatis Perdarahan dan pembekuan darah Kontaminasi bakteri Kematian sel 2. Kateter dipasang untuk mengosongkan kandung kencing dan menilai urin yang keluar (perdarahan). PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK $ Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar . Pembedahan/laparatomi (untuk trauma tembus dan trauma tumpul jika terjadi rangsangan peritoneal : syok . hematokrit. kemungkinan adanya darah dalam lambung . kuldosentesi. Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi. bising usus tidak terdengar . dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu. cairan bebas dalam rongga perut) (FKUI. dan kateterisasi. Kerusakan organ-organ. Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat. udara bebas intraperitoneal .Æ Iritasi cairan usus (FKUI. Nyeri tekan. 1995). 1995). rektum . adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing. syok. E. leukosit dan analisis urine. nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut. KOMPLIKASI Segera : hemoragi. Memar/jejas pada dinding perut. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan kedaruratan Pemasangan NGT untuk pengosongan isi lambung dan mencegah aspirasi.D. 2001). Laboratorium : hemoglobin. nyeri ketok. G. buli-buli. F. Lavase peritoneal : pungsi$ dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium (FKUI. 1995). prolaps visera melalui luka tusuk . TANDA DAN GEJALA 1. IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing.

Persepsi pasien terhadap musibah yang dialami. B (Breathing).1. 1.2.Hal spesifik dengan penyebab dari traumanya.3 Riwayat penyakit sekarang (Trauma) .2 Sistim cardivaskuler (B2 = blead) . bagaimana sifatnya pada quadran mana yang dirasakan paling nyeri atau sakit sekali. . . .3 Sistim Neurologis (B3 = Brain) .2.4 Riwayat Penyakit yang lalu . Hal ini dikarenakan trauma abdomen harus dianggap sebagai dari multi trauma dan dalam pengkajiannya tidak terpaku pada abdomennya saja. 1.Bagaimana tingkat kesadaran yang dialami dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) 1.4 Sistim Gatrointestinal (B4 = bowel) .Pada inspeksi : ¨ Adakah jejas dan luka atau adanya organ yang luar.Pada inspeksi adakah perdarahan aktif atau pasif yang keluar dari daerah abdominal dan adakah anemis. .5 Riwayat psikososial spiritual . .2.Adakah kemungkinan percobaan bunuh diri (tentamen-suicide).1 Anamnesa 1.Pada palpasi simetris tidaknya dada saat paru ekspansi dan pernapasan tertinggal.Pada perkusi adalah suara hipersonor dan pekak.2 Pemeriksaan Fisik 1.Penyebab dari traumanya dikarenakan benda tumpul atau peluru.Kalau penyebabnya jatuh.Kapan kejadianya dan jam berapa kejadiannya.Pada palpasi adakah kelumpuhan atau lateralisasi pada anggota gerak . Pengkajian Dalam pengkajian pada trauma abdomen harus berdasarkan prinsip – prinsip Penanggulangan Penderita Gawat Darurat yang mempunyai skala prioritas A (Airway). ¨ Adakah pernapasan perut yang tertinggal atau tidak.Apakah musibah tersebut mengganggu emosi dan mental. suhu daerah akral dan bagaimana suara detak jantung menjauh atau menurun dan adakah denyut jantung paradoks.1.2 Keluhan Utama .Pada palpasi bagaimana mengenai kulit. 1.Kemungkinan pasien sebelumnya pernah menderita gangguan jiwa. 1.1 Biodata 1.Pada inspeksi adakah gelisah atau tidak gelisah dan adakah jejas di kepala. .Apakah pasien menderita penyakit asthma atau diabetesmellitus dan gangguan faal hemostasis. ketinggiannya berapa dan bagaimana posisinya saat jatuh. . ¨ Adakah distensi abdomen kemungkinan adanya perdarahan dalam cavum abdomen.1.Pada auskultasi adakah suara abnormal. .BAB III ASKEP TEORITIS MANAJEMEN KEPERAWATAN 1.2. . . C (Circulation). . wheezing dan ronchi.Keluhan yang dirasakan sakit. iramanya dan adakah jejas pada dada serta jalan napasnya. 1. 1.1. .1 Sistim Pernapasan . .Berapa berat keluhan yang dirasakan bila nyeri.1. 1.Pada inspeksi bagian frekwensinya.

Kontrol perdarahan dan pertahanan volume darah sampai pembedahan dilakukan. e) Tentukan lokasi luka masuk dan keluar. · Adakah nyeri tekan dan pada quadran berapa. 4. c) Perhatikan kejadian syoksetelah respons awal terjadi terhadap transfusi .Pada Auskultasi : § Kemungkinan adanya peningkatan atau penurunan dari bising usus atau menghilang.Pada rectal toucher : § Kemungkinan adanya darah / lendir pada sarung tangan. Kaji tanda dan gejala hemoragi.5 Sistim Urologi ( B5 = bladder) . .3. ¨ Pada palpasi adakah ketidakstabilan pada tulang pinggul atau pelvis. 1. . bebat leher sampai setelah sinar x leher didapatkan. a) Berikan kompresi pada luka perdarahan eksternal dan bendungan luka dada.3 Pemeriksaan Penunjang : 1.Pada perkusi adakah nyeri ketok pada daerah vesica urinaria.6 Sistim Tulang dan Otot ( B6 = Bone ) ¨ Pada inspeksi adakah jejas dan kelaian bentuk extremitas terutama daerah pelvis.Pada palpasi adakah nyeri tekan daerah vesica urinaria dan adanya distensi. b) Jika pasien koma. § Kemungkinan – kemungkinan adanya cairan / udara bebas dalam cavum abdomen. PENATALAKSANAAN KEDARURATAN 1. .Bila perlu thoraks foto. 1. .3. 2.1 Radiologi : . § Adanya ketegangan tonus otot / lesi pada otot rectum.Pada palpasi : · Adakah spasme / defance mascular dan abdomen.3 Elektro Kardiogram .USG (Ultrasonografi) 1. Hemoragi sering menyertai cedera abdomen. c) Gunting baju dari luka. . kemungkinan adanya abdomen iritasi.Darah lengkap dan sample darah (untuk transfusi) Disini terpenting Hb serial ½ jam sekali sebanyak 3 kali. Mulai prosedur resusitasi (memperbaiki jalan napas. Pertahankan pasien pada brankar atau tandu papan .2.Foto BOF (Buick Oversic Foto) . . d) Hitung jumlah luka. b) Pasang kateter IV diameter besar untuk penggantian cairan cepat dan memperbaiki dinamika sirkulasi. ini sering .3. khususnya hati dan limpa mengalami trauma.Urine lengkap (terutama ery dalam urine) 1. . · Kalau ada vulnus sebatas mana kedalamannya. 3. a) Pastikan kepatenan jalan napas dan kestabilan pernapasan serta sistem saraf.¨ Apakah kalau batuk terdapat nyeri dan pada quadran berapa. 1.Pada inspeksi adakah jejas pada daerah rongga pelvis dan adakah distensi pada daerah vesica urinaria serta bagaimana produksi urine dan warnanya. pernapasan. .2. sirkulasi) sesuai indikasi. gerakkan dapat menyebabkan fragmentasi bekuan pada pada pembuluh darah besar dan menimbulkan hemoragi masif.Pada perkusi : § Adakah nyeri ketok dan pada quadran mana.2 Laboratorium : .Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien usia lebih 40 tahun.

pembacaan tekanan vena sentral pasien (bila diindikasikan). Diagnosa keperawatan pada pasien dengan trauma abdomen (Wilkinson. Berikan antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi. Aspirasi lambung dengan selang nasogastrik. 13. sinar x menunjukkan apakah penetrasi peritonium telah dilakukan. trauma dapat menyebabkan infeksi akibat karena kerusakan barier mekanis. PENATALAKSANAAN DIRUANG PERAWATAN LANJUTAN B. eviserasi. kehilangan darah. 10. 1994). Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit. C. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan. haluaran urine. 2. Siapkan sinografi untuk menentukan apakah terdapat penetrasi peritonium pada kasus luka tusuk. 1994). INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono. a) Fleksikan lutut pasien . 5. c) Agens kontras dimasukkan melalui kateter . Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum. Siapkan untuk parasentesis atau lavase peritonium ketika terdapat ketidakpastian mengenai perdarahan intraperitonium. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk. dan status neurologik. Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai. Tutupi visera abdomen yang keluar dengan balutan steril. atau hematuria.merupakan tanda adanya perdarrahan internal. 9. mengurangi kontaminasi terhadap rongga peritonium. b) Kateter kecil dimasukkan ke dalam luka. posisi ini mencegah protusi lanjut. 5. Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan trauma abdomen (Wilkinson. Nyeri akut berhubungan dengan trauma/diskontinuitas jaringan. 3. 12. 8. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono. Siapkan pasien untuk pembedahan jika terdapat bukti adanya syok. 2006) adalah : 1. 6. b) Tunda pemberian cairan oral untuk mencegah meningkatnya peristaltik dan muntah. a) Jahitan dilakukan disekeliling luka. Pasang kateter uretra menetap untuk mendapatkan kepastian adanya hematuria dan pantau haluaran urine. Berikan profilaksis tetanus sesuai ketentuan. bakteri eksogen dari lingkungan pada waktu cedera dan manuver diagnostik dan terapeutik (infeksi nosokomial). d) Dokter dapat melakukan parasentesis untuk mengidentifikasi tempat perdarahan. Pertahankan lembar alur terus menerus tentang tanda vital. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan. . adanya udara bebas dibawah diafragma. 1995). nilai hematokrit. dan penurunan kekuatan/tahanan. 2006) meliputi : 1. Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi. terapi pembatasan aktivitas. balutan salin basah untuk mencegah nkekeringan visera. 4. 11. dan mencegah komplikasi paru karena aspirasi. 7. Prosedur ini membantu mendeteksi luka lambung.

R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi. R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi. R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. gunakan plester kertas. Setelah debridement. . prosedur invasif dan kerusakan kulit. kadar gula darah yang tinggi. 3. ganti balutan sesuai kebutuhan.Nyeri berkurang atau hilang . Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang. . Kriteria hasil : . Kaji lokasi. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. e.tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus. ukuran. R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen. Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus. R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi. agar tidak terjadi infeksi. Pantau tanda-tanda vital. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer. Balut luka dengan kasa kering dan steril. Kriteria Hasil : . serta jumlah dan tipe cairan luka. R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi. Pantau peningkatan suhu tubuh. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka. perubahan sirkulasi. seperti Hb dan leukosit. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik. R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen. kateter. digambarkan dalam istilah seperti kerusakan . d. f. warna. R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka. c. R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat. Intervensi dan Implementasi : a. awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. c. R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol. Intervensi dan Implementasi : a.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi. . e. bau. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan. d. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial.Kriteria Hasil : . g. dll. b. misalnya debridement. b. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. drainase luka. 2.luka bersih tidak lembab dan tidak kotor. . Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah. R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat. R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.

R/ mengidentifikasi masalah. b. dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal. Intervensi dan Implementasi : a. . Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. 4. pengawasan. Observasi tanda-tanda vital. memudahkan intervensi.perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien. R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat. Berikan latihan aktivitas secara bertahap. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri d.. R/ untuk mengetahui perkembangan klien e.melakukan pergerakkan dan perpindahan. 5. dan pengajaran. . Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik R/ merupakan tindakan dependent perawat. tulang dan anggota gerak lainya baik.penampilan yang seimbang. . . Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.Koordinasi otot. R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali. Intervensi dan Implementasi : a.mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi. dengan karakteristik : 0 =ü mandiri penuh 1 =ü memerlukan alat Bantu. d.Klien tampak tenang. R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan. dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri. pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian.ü Intervensi dan Implementasi : a. 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu. R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan. Rencanakan periode istirahat yang cukup. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan. tidak berpartisipasi dalam aktivitas.. . Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas. mobilisasi dini. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif b. c.pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan. 2 =ü memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri c. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan. b. Kriteria hasil : . R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan. Kriteria hasil : .ü 4 = ketergantungan.

Smeltzer. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal. D. R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot. 3. 5. Boedihartono. 1995. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas. 6. Binarupa Aksara : Jakarta 5.html . Newman. EGC : Jakarta. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. 2002. 7. Christine. Nyeri dapat berkurang atau hilang. 1994. 2001). 1995. Infeksi tidak terjadi / terkontrol. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.Nasrul Effendi. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien. Kamus Saku Keperawatan Ed.c. EVALUASI Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker.http://asuhankeperawatans. EGC.8 Vol. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan trauma abdomen adalah : 1.3.com/2009/12/asuhan-keperawatan-trauma-tumpul. Jakarta. Suzanne C. 2. 4. 2001.blogspot. Kamus Kedokteran. Pengantar Proses Keperawatan. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.html 8. 2001.31. Jakarta. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif. EGC : Jakarta.FKUI.Dorland.blogspot.Brooker. R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal. W. 3. A. e. EGC : Jakarta.http://asuhan-keperawatan-patriani. d. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. 4.com/2008/07/askep-trauma-abdomen.