1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan penyakit radang kronik sistemik yang timbul akibat proses autoimun. Lupus bisa hadir pada usia berapapun, dan yang paling sering pada wanita (Helmi, 2008). Prevalensi SLE di antara etnik adalah wanita kulit hitam 1: 250, wanita kulit putih 1: 4300, dan wanita cina 1 : 1000 (Tonam, 2007). SLE bisa menyerang berbagai bagian tubuh, dan yang paling sering membahayakan jantung, persendian, kulit, paru-paru, pembuluh darah, hati, ginjal, dan sistem saraf (Helmi, 2008). Nama lain untuk SLE adalah Lupus Erythematosus atau lebih sering disebut lupus. Namun, Systemic lupus erythematosus merupakan istilah medis yang paling sesuai. Apabila dipisah, istilah systemic berarti menyeluruh (all over) dan erythematosus berarti merah (red). Sedangkan para penderitanya disebut odapus atau orang dengan lupus (Wijayanti, 2011). Penyakit ini dapat mengenai berbagai usia dan jenis kelamin, terutama pada perempuan usia produktif (20-40 tahun) (Oktaria, 2010). Terdapat faktor resiko yang dapat mempengaruhi timbulnya lupus, yaitu genetik dan lingkungan. Meskipun belum terbukti secara ilmiah, diduga bahwa orang tua dapat mewariskan faktor tertentu kepada keturunannya sehingga mereka rentan terhadap lupus. Namun hal ini bukan pula berarti mereka pasti akan menderita lupus, hanya mereka akan lebih mudah terkena. Pada saat ini tidak terdapat tes genetis untuk meneliti apakah seseorang rentan terhadap lupus atau tidak. Dari faktor lingkungan, diduga terdapat beberapa faktor tertentu penyebab bangkitnya atau kambuhnya lupus, antara lain stress, sinar ultraviolet, obat-obatan tertentu, infeksi beberapa antibiotik tertentu, dan hormon (Wijayanti, 2011). Gejala yang dapat diderita oleh odapus antara lain malar rash, discoid rash, fotosensitivitas, ulkus oral dan nasofaring, artritis non erosif pada 2 atau lebih dengan ciri-ciri bengkak atau efusi, serositis (pleuritis atau perikarditis atau efusi perikardial), kelainan ginjal (proteinuria (> 0.5 g/d atau > 3+) atau adanya cellular casts,

2

kelainan neurologis, kejang tanpa sebab lain, atau psikosa tanpa sebab lain, kelainan hematologi berupa anemia hemolitik, lekopenia (< 40 per

µL); limfopenia (< 1500 per µL); trombositopenia (< 1000 per µL) yang bukan karena obat-obatan serta kelainan imunologis, sel LE positif; antibodi anti-ds DNA /anti-Sm positif; antinuclear antibodies (ANA). Titer ANA abnormal yang bukan karena obat yang menginduksi peningkatan ANA. Komplikasi SLE dapat meliputi hipertensi (41%), gangguan pertumbuhan (38%), gangguan paru-paru kronik (31%), abnormalitas mata (31%), kerusakan ginjal permanen (25%), gejala neuropsikiatri (22%), kerusakan muskuloskeleta (9%), gangguan fungsi gonad (3%). Sampai sekarang, SLE belum diketahui penyebabnya, sehingga belum bisa disembuhkan atau dicegah, yang dapat dilakukan baru sebatas menghilangkan gejalanya (Haque, 2009). Pada lupus, Autoantigen Presenting Cell (APC) dan fungsi stimulasinya berperan dalam aktivasi sel autoreaktif Th1, Th17, dan sel B yang diregulasi oleh faktor transkripsi NF-kB sehingga dibutuhkan suatu zat aktif yang dapat menghambat aktivitas NF-kB misalnya apigenin dari seledri (Apium graveolens) yang jumlahnya melimpah di alam. Apigenin juga menyebabkan apoptosis dari APC lupus yang hiperaktif, sel T, dan sel B, kemungkinan dengan menghambat ekspresi dari NF-kB yang meregulasi antiapoptosis dari molekul khususnya COX-2 dan cFLIP yang terus menerus diekspresikan secara berlebihan oleh sel imun lupus sehingga diharapkan pemberian apigenin dapat menekan terjadinya proses inflamasi sistemik pada lupus dan komplikasi yang dimediasi oleh Th17 seperti rheumatoid arthritis, penyakit Crohn dan psoriasis serta mencegah inflamasi yang mendasari terjadinya tumor akibat ekspresi COX-2 yang berlebihan (Kang, 2009). SLE tidak hanya dapat menyerang orang dewasa namun juga anak-anak sehingga tantangan terbesar dari heterogenisme usia dan kemampuan mengonsumsi obat pasien odapus adalah bentuk sediaan yang kiranya bisa diterima oleh kebanyakan range usia (Krause, 2008). Effervescent merupakan sediaan bersoda yang banyak disukai oleh masyarakat dari segala usia sehingga diharapkan aplikasinya dalam sediaan penyakit lupus dapat

meningkatkan kepatuhan odapus dalam mengonsumsi obat. Oleh karena itu, penulis mengusulkan Apigeff (Apium graveolens Effervescent) : Inovasi

Gejala sistemik yang . dimana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit atau bakteri yang mematikan keliru mendapatkan pesan sehingga menyerang tubuh itu sendiri (Wijayanti.3 Pengembangan Seledri (Apium graveolens) sebagai Terapi Inflamasi pada Systemic Lupus Erythematosus (SLE).4 Manfaat Penulisan 1. Mengetahui mekanisme apigenin dalam menghambat proses inflamasi kronik pada SLE 2. 1.2 Rumusan Masalah 1.4. Bagaimana apigenin dapat menghambat proses inflamasi kronik pada SLE? 2. Mengetahui cara ekstraksi dan analisis kuantitatif apigenin dalam seledri 3. Bagaimana cara ekstraksi dan analisis kuantitatif apigenin dalam seledri? 3.1 Systemic Lupus Erythematosus (SLE) SLE atau Lupus adalah suatu penyakit autoimun yang bersifat kronis dan menimbulkan peradangan. menyerang beberapa organ atau sistem tubuh.1 Bagi Tenaga Kesehatan Memberikan pengetahuan baru atau wacana bagi tenaga kesehatan mengenai terapi SLE.2 Bagi Masyarakat Memanfaatkan Seledri (Apium graveolens) sebagai terapi SLE yang dapat menghambat inflamasi kronik sistemik yang terjadi.3 Tujuan Penulisan 1. Mengetahui proses pembuatan effervescent dari seledri 1.4. 2011). Bagaimana proses pembuatan effervescent dari seledri? 1. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1.

Pristane atau bahan yang sama. yang dapat dilakukan baru sebatas menghilangkan gejalanya (Haque. menarche. alfalfa sprouts dan sprouting foods yang mengandung L-canavanine. dan kehilangan berat badan. serta saraf kranial dan saraf tepi bisa terkena. limfosit T. batuk. sehingga belum bisa disembuhkan atau dicegah. paling sering adalah akibat dari proses penyakit ini. diare. Minoksiklin. Hidantoin. Klorpromazin. Kondisi inflamasi ini disebabkan oleh peningkatansecara berlebihan jumlah makrofag. Pada lupus. Produksi . demam. 2009). dyspnoe. Sering dikeluhkan ulkus dengan atau tanpa nyeri di hidung dan mulut. Gejala psikiatrik (steroid dosis tinggi juga bisa menimbulkan psikosis 5-37%).4 dapat dialami oleh odapus meliputi demam subfebris. dan muntah. Faktor resiko yang ada untuk timbulnya atau berperan dalam fase kronis dan akut lupus antara lain ultraviolet B. Kejadian di CNF biasanya bisa SLE sudah ada di sistem organ yang lain. Gejala pada CNS bisa dari yang ringan (disfungsi kognitif) sampai riwayat kejang (12-59%). lesu. mening. DNA bakteri (human retroviruses. Bagian apa saja dari otak. Atralgia (53-95%) adalah keluhan utama dari banyak pasien. Bila psikosis memburuk setelah steroid dihentikan. wanita. Tampilan awal biasanya juga mengikut sertakan satu atau lebih dari sistem organ. D-Penicillamine. nausea. Interferon. Sakit kepala yang sulit sembuh serta sulit untuk mengingat dan mengambil keputusan adalah tampilan tersering dari gangguan saraf pada pasien SLE. Sampai sekarang. anoreksia. spinal cord. Faktor paparan dengan obat tertentu (Hidralazin. Isoniazid. endotoksin. juga sering meliputi dagu dan telinga. SLE belum diketahui penyebabnya. kondisi yang paling dominan adalah inflamasi sistemik yang dapat merusak seluruh organ tubuh. lipopolisakarida bakteri). serta sel sitotoksik CD8+ yang lebih dominan daripada CD4+ (Magadmi. dan nyeri dada adalah keluhan jantung dan paru yang penting.γ. Seringnya. Prokainamid. 2004). Pasien bisa datang dengan nyeri perut. keluhan nyeri lebih berat dibandingkan temuan pada fisiknya. Antibodi anti-TNFα. kelemahan. Pengecualian untuk perforasi usus dan vaskulitis (Helmi. neutrofil. 2008). diet tinggi saturated fats. Butterfly rash juga dilaporkan pada pipi dan hidung dengan fotosensitif terhadap sinar matahari (sering pada kulit putih). Methyldopa. Nyeri pleura (3157%).

Gen-gen inflamasi ini kebanyakan diregulasi oleh faktor transkripsi NF-kβ yang lebih aktif pada kondisi paru yang menderita PPOK dan sel-sel inflamasi. sel-sel inflamasi ini akan melepaskan beragam sitokin dan mediator yang berperan dalam proses penyakit. TNFα. tak lebih 150-250 mg). maksimal 1 g/m2. IL-1 β dan IL-6. 2004). dan dimonitor. kemokin interleukin 8. serta TGFβ.2 Terapi yang Pernah Dilakukan Antimalaria -Hidroksiklorokuin 3-7 mg/kg/hari PO sebagai garam sulfat (maksimal 400 mg/hari) Kortiko-steroid -Prednison Dosis harian(1 mg/kg/hari). diantaranya adalah leukotrien B4. dan growth related oncogene α. termasuk pada makrofag alveolus Magadmi. maksimum mg) per minggu Obat imuno-supresif -Siklofosfamid 500-750 mg/m2 IV 3 kali sehari selama 3 minggu. Harus diberikan IV dengan infus terpasang. kemokin. Monitor lekosit pada 8-14 hari mengikuti setiap dosis (lekosit dimaintenance > 2000-3000/mm3) -Azathioprine 1-3 mg/kg/hari PO 4 kali sehari Non-steroidal anti-inflam-matory drugs (NSAIDs) -Naproxen 7-20 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis maksimal 500-1000 mg/hari . 2. Menurut McHugh (2005).5 mg/kg)/hari yg digunakan bersamamethylprednisolone dosis tinggi intermitten (30 mg/kg/dosis. faktor kemotaksis seperti CXC. prednison dosis alternate yang lebih tinggi (5 mg/kg/hari. dan molekul adhesi. prednison dosis rendah harian (0.5 masal agen inflamasi tersebut sayangnya bertujuan untuk menyerang organorgannya sendiri akibat kesalahan pesan yang diterima sistem imun. Inflamasi kronis ini diasosiasi oleh peningkatan ekspresi gen inflamasi yang mengkode sitokin.

25-0.5 mg/kg/dosis PO dosis awal.1 Klasifikasi dan Morfologi . dapat ditingkatkan bertahap dalam 3-7 hari dengan dosis biasa 1-5 mg/kg/hari 2.3 Seledri (Apium graveolens) 2.3.1 mg/kg/hari PO 4 kali sehari atau 2 kali sehari bisa ditingkatkan bila perlu. tak lebih dari 10 mg. maksimum 0. -Enalapril 0.6 -Tolmetin 15-30 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis maksimal 1200-1800 mg/hari -Diclofenac < 12 tahun : tak dianjurkan > 12 tahun : 2-3 mg/kg/hari PO digagi 2 dosis maksimal 100-200 mg/hari Suplemen Kalsium dan vitamin D -Kalsium karbonat < 6 bulan : 360 mg/hari 6-12 bulan : 540 mg/hari 1-10 bulan : 800 mg/hari 11-18 bulan : 1200 mg/hari -Calcifediol < 30 kilogram : 20 mcg PO 3 kali/minggu > 30 kilogram : 50 mcg PO 3 kali/minggu Anti-hipertensi -Nifedipin 0.5 mg/kg/hari -Propranolol 0. diulang tiap 4-8 jam.5-1 mg/kg/hari PO dibagi 2-3 dosis.

7 Gambar 1. 1996). Seledri merupakan tanaman semak dengan tinggi sekitar 15cm. Kingdom Divisio Sub Divisio Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Umbelliferales : Umbelliferae : Apium : Apium graveolens L (Ismawati. bercabang tegak. mekar dari bulan Juli sampai November. Buahnya kecil. bentuknya persegi. Seledri (Apium graveolens) (Sudarsono. 2005). berbentuk lekuk tangan.3. berbentuk baji dengan pinggir berberigi. 2008). licin. 2007). flavonoid. 2004). Batang dan daun seledri merupakan . Daun seledri berwarna hijau tua. berwarna hijau kecoklatan. Dalam keadaan kering. beruas. berbau aroma kuat. dan polifenol (Harmanto. Daunnya berpangkal pada batang dekat tanah. Bunganya berwarna abu-abu putih. berisi biji berbentuk elips (Asri. 2. Batangnya tidak berkayu. dan berwarna hijau pucat. daun seledri menggulung. 2004). rasa manis. terletak pada kedua sisi tangkai yang berseberangan (Asri. dan sedikit pahit (Zamri. baunya agak sedap (Harmanto. 2002).2 Kandungan Seledri Daun seledri mengandung saponin. Tanaman ini kaya serat tapi rendah kalori. beralur.

pentosan. linase.B. karbohidrat 4g. manit. Setiap 100 gram herba seledri mengandung air sebanyak 93mL. riboflavin 0. 2. dan nikotinamid 0. 2007). 2. serat 0. flavon glukosida. protein 0. herba seledri mengandung flavonoid. tirosin.3. Perkecambahan benih seledri menghendaki keadaan temperature minimum 9°C .9g. vitamin.03mg. dan minyak atsiri (Harmanto. Bijinya juga mengandung apigenin. Biji seledri memiliki kandungan kimia asparagin. 1995).9g.7-dihidroksi-2-(4-hidroksifenil)-4H-1-benzopiran-4-on.4 Syarat Tumbuh Tanaman Seledri a. C. Rumus molekulnya adalah C15H10O5 dengan bobot molekul 270.3 Apigenin Gambar 2. Menurut Dalimartha (2006). Struktur Kimia Apigenin (Zamri. Nama Interational Union of Pure and Applied Chemistry dari apigenin adalah 5. asparagin. B.05mg. lipase. dan magnesium (Rukmana. tiamin 0. Titik leleh apigenin 345-350°C. vitamin C 15mg. vitamin (A. lemak 0. zat pahit. kolin. fosfor 40mg. besi 1mg. zat pati. kalium 400mg. tannin 1%. zat pahit. kalsium 50mg. kalium. magnesium 85mg. saponin. glutamine. sodium. 2008) Apigenin merupakan komponen flavonoid utama dari seledri yang termasuk ke dalam golongan flavon.8 sumber vitamin A. apigenin. yodium 150mg. 2008). Pada penelitian terdahulu mengatakan bahwa kadar apigenin pada seledri yang direfluks dengan methanol 50% adalah 1. lender.1g.787g/kg bobot kering seledri (Zamri.3. kolin. dan C). vitamin A 130 IU.033%. Keadaan Iklim Seledri termasuk salah satu jenis sayuran subtropics yang beriklim dingin. mineral klor.4mg. flavorglukosida (apiin).23 g/mol. minyak atsiri 0.

Tanah yang paling ideal untuk penanaman seledri adalah jenis tanah andosol. 2002). Sedangkan untuk pertumbuhan dan menghasilkan produksi yang tinggi menghendaki temperature 15°C-18°C serta temperature maksimum 24°C. 2002). Waktu panen yang paling baik adalah pagi atau sore hari. 2002). sehingga kurang atau tidak laku dipasarkan. Seledri kurang tahan terhadap kadar air atau curah hujan yang tinggi karena itu penanaman seledri sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan atau periode bulan tertentu yang curah hujannya berkisar 60-100mm/bulan (Ismawati.5 Pemanenan Seledri mulai dapat dipanen pada umur 6-8 minggu setelah tanam karena kandungan kimianya paling tinggi pada umur tersebut. berstruktur remah dengan tekstur debu atau lempung berdebu sampai lempung dan reaksi tanah berkisar antara pH 5. Panen pada keadaan cuaca terik (siang hari) dapat menyebabkan hasil panen cepat layu dan susut. Keadaan Tanah Tanaman seledri dapat ditanam di tanah dataran rendah ataupun tanah dataran tinggi/pegunungan khususnya pada ketinggian 1000-1200 meter dpl. Pada tanaman yang baik dapat menghasilkan 50 kuintal seledri . Jenis tanah ini pada umumnya berwarna hitam atau kelabu sampai coklat tua. Jika tanaman kekurangan natrium akan menjadi kerdil. dan apabila kekurangan unsur boron menyebabkan batang dan tangkainya menjadi retak-retak (Sunarjono 2003). Tanaman seledri cocok dibudidayakan di daerah yang mempunyai ketinggian 1000-1200 meter di atas permukaan laut (dpl) dengan kelembaban antara 80%-90% serta cukup mendapat sinar matahari. jika unsure-unsur tersebut kurang cukup terdapat dalam tanah maka tanaman seledri tidak akan tumbuh dengan baik (kerdil) (Ismawati.3. kekurangan kalsium menyebabkan kuncup seledri menjadi kering. b.0-7. kaya akan unsure hara. dan boron.9 dan maksimum 20°C. kalsium. 2. Yang dipanen adalah daun yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda (Ismawati.0 sehingga disebut tubuh tanah pegunungan tinggi. Persyaratan tanah yang ideal untuk tanaman seledri adalah harus subur mengandung garam natrium.

dan cacing nematoda.5kg.3. doos karton. Hama dan penyakit tersebut dapat menjadi cemaran pada hasil panen. Oleh karena itu. Hasil panen seledri diangkut ke pasar atau tempat penjualan dengan menggunakan alat angkut yang praktis menurut keadaan dan situasi setempat. 1995).). Penyakit yang biasa menyerang tanaman seledri adalah cacar coklat kuning (Cercospora apii). dipisahkan dari batang atau tangkai daun seledri yang rusak. Heterodera schactii. Hasil panen disimpan pada tempat atau ruangan yang teduh dan bersuhu dingin (Rukmana. Hasil panen dikumpulkan di tempat yang strategis atau di gudang pengumpulan hasil. Ikatan-ikatan seledri dimasukkan ke dalam wadah (container) seperti karung goni. cacat atau terserang hama dan penyakit (Rukmana. Hama yang menyerang tanaman ini biasanya sejenis ulat daun (Agrotis ypsilonHufn. Seledri diklasifikasikan berdasarkan ukuran atau jenis yang seragam. Khusus varietas seledri stick “Tall-Utah” yang berat rata-rata per tanaman mencapai 1. tungau/mites (Tetranychus spp.6 Penanganan Pascapanen Produk hasil panen seledri adalah berupa daun bersama tangkai daun dan batangnya. Batang atau tangkai-tangkai seledri diikat menjadi ikatan-ikatan tertentu yang ukuran besarnya disesuaikan dengan segi kepraktisan dalam pengangkutan dan permintaan pasar.). Hasil panen ditiriskan seusai dicuci pada tempat atau rak-rak penirisan. 2006). seusai panen harus segera dilakukan penanganan pascapanen yang cepat dan tepat. dan nematoda akar(Belonalaimus gracilis. Produk demikian sangat mudah layu dan cepat menyusut. Bacillus gracilis) (Putri.). kutu-kutu daun (Aphis spp. virus aster yellow. dan lain-lain. 2. Hasil panen dipilih yang baiknya saja. . 1995).10 per hektar. 1995). Kegagalan dalam bercocok tanam seledri disebabkan karena adanya serangan hama atau penyakit. cacar hitam (Septoria apii). Seluruh hasil panen dicuci dalam suatu tempat yang airnya mengalir atau disemprotkan hingga bersih dari kotoran ataupun residu pestisida. daya hasil per hektar dapat mencapai di atas 100 ton (Rukmana. terutama berpedoman kepada mutu standar permintaan pasar.

Reaksinya cukup cepat dan biasanya berlangsung dalam waktu satu menit atau kurang. Bahkan kelembaban udara selama pembuatan produk cukup untuk memulai reaktivitas mungkin sudah effervescent. 1986). Kerugian tablet effervescent adalah kesukaran untuk menghasilkan produk yang stabil secara kimia.H2O + 3 NaHCO3 Asam sitrat Na-Bikarbonat  Na3C6H5O7 + 4 H2O + 3 CO2 Na-Sitrat Air Karbondioksida . Bila tablet ini dimasukkan ke dalam air. Tablet effervescent merupakan salah satu bentuk sediaan tablet dengan cara pengempaan bahan-bahan aktif dengan campuran asam-asam organik. Karena itu tablet effervescent dikemas secara khusus dalam kantong lembaran alumunium kedap udara atau kemasan padat dalam tabung silindris dengan ruang udara yang minimum.4 Effervescent Effervescent didefenisikan sebagai bentuk sediaan serbuk yang menghasilkan gelembung gas sebagai hasil reaksi kimia larutan. setelah sampai di tangan konsumen. yang mengandung dosis obat yang tepat. Reaksinya adalah sebagai berikut : H3C6H5O7. Kelembaban udara di sekitar tablet setelah wadahnya dibuka juga dapat menyebabkan penurunan kualitas yang cepat dari produk. seperti asam sitrat atau asam tartrat dan natrium bikarbonat.. mulailah terjadi reaksi kimia antara asam dan natrium bikarbonat sehingga terbentuk garam natrium dari asam dan menghasilkan gas karbondioksida serta air.11 2. Alasan lain untuk kemasan adalah kenyataan bahwa tablet biasanya telah dikempa sehingga cukup mudah untuk menghasilkan reaksi effervescent dalam waktu yang cepat (Banker dan Anderson. et al. Di samping menghasilkan larutan yang jernih. tablet juga menghasilkan rasa yang enak karena adanya karbonat yang dapat membantu memperbaiki rasa obat-obat tertentu (Banker dan Anderson. 1992). 1994). Keuntungan tablet effervescent sebagai bentuk obat adalah penyiapan larutan dalam waktu seketika. Gas yang dihasilkan saat pelarutan effervescent adalah karbon dioksida sehingga dapat memberikan efek sparkling (rasa seperti air soda) (Lieberman.

1 Asam Sitrat Monohidrat Pemerian : Kristal putih atau tidak berwarna.H2O Bobot molekul : 210.5. maka reaksi tidak akan terjadi dan tablet tidak larut dengan cepat (Lieberman. Rumus molekul : NaHCO3 Bobot molekul : 84. serbuk putih. 2. agen oksidasi. asetat. 2. oleh karena itu kadar air bahan baku dan kelembaban lingkungan perlu dikendalikan tetap rendah untuk mencegah ketidakstabilan produk. et al. basa.5.2 Natrium Bikarbonat Pemerian : Tidak berbau.. dan nitrat (Rowe. Kelarutan dari bahan baku merupakan salah satu hal yang penting dalam pembuatan tablet effervescent. Pengendalian akan berlangsung terus secara cepat karena hasil reaksi adalah air. 2009). 1992). serbuk dengan aliran yang bagus dan harganya terjangkau.14 Penggunaan pH Titik leleh Kelarutan Wadah : Sumber asam : 2.5 Preformulasi 2. Jika kelarutannya kurang baik. sulfide. agak berasa sabun. tidak berbau dan memiliki rasa asam kuat Rumus molekul : C6H8O7. putih. agen reduksi.12 H2C4H4O6 + 2 NaHCO3  Na2C4H4O6 + 2 H2O + 2 CO2 Na-Tartarat Air Karbondioksida Asam Tartarat Na-Bikarbonat Reaksi di atas tidak dikehendaki terjadi sebelum effervescent dilarutkan. alkali.01 Penggunaan : Sumber karbondioksida .2 : 100°C : Larut dalam 1 bagian air : Kering dan sejuk serta kedap udara Inkompatibilitas: Tidak kompatibel dengan kalium tartrat.

higroskopis Rumus molekul : (C6H9NO)n Bobot molekul : 2500-3. sejuk.3 Asam Tartrat Pemerian : kristal tidak berwarna atau putih.5. natrium salisilat. Phenobarbital. kloroform.13 pH Titik leleh Kelarutan Wadah : 8. 2009). kering. keton. amiodarone.000. : 168-170°C : sumber asam (Rowe. 2.5. dan sejuk. dan tannin Wadah Titik leleh : kedap udara. methanol. 2009).4 Polyvinylpyrrolidone (PVP) Pemerian : putih hingga krem keputihan.09 pH Kelarutan : 2. dan levofloxacin (Rowe. yaitu ciprofloxacin.000 Kelarutan : mudah larut dalam asam. hidrokarbon. Praktis tidak larut dalam eter. dan kering : 150°C .2 : lebih mudah larut dalam air daripada asam sitrat Inkompatibilitas: tidak kompatibel dengan perak dan bereaksi dengan logam karbonat atau bikarbonat Wadah Titik leleh Penggunaan : tertutup rapat. Tidak kompatibel dengan beberapa obat. asam salisilat. garam asam. ethanol. Inkompatibilitas: garam anorganik. nicardipine. resin alami dan sintetis.3 : 270°C : Larut dalam 11 bagian air : Tertutup baik. sejuk. dan minyak mineral. dan banyak garam alkaloid. dan air. tidak berbau. tidak berbau Rumus molekul : C4H6O6 Bobot molekul : 150. dan kering Inkompatibilitas: Bereaksi dengan asam. 2. sulfathiazole.

2009). tidak berbau. 2009). . kemungkinan inkompatibel dengan asam askorbat Kadar Penggunaan : sampai 100% : bahan pengisi. Karya tulis ini menggambarkan dan menjelaskan dengan pola umum . BAB III METODE PENULISAN 3.5. karya tulis ini berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian karya tulis ini.14 Penggunaan Kadar : Pengikat tablet dan lubrikan : 5% (Rowe. pemanis (Rowe. dan manis Rumus molekul : C12H12O11 Bobot molekul : 342.1 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data kualitatif dan kuantitatif. Sehingga.2 Jenis dan Sumber Data 3. Data kualitatif yang digunakan yaitu data berupa kata-kata dan gambar . 2.5 Sukrosa Pemerian : Kristal tidak berwarna.1 Jenis Penulisan Jenis penulisan karya tulis ini adalah jenis tulisan deskriptif dan eksploratif.30 Titik leleh Kelarutan : 160-186°C : sangat mudah larut dalam air Inkompatibilitas: jika terkontaminasi logam berat.2.khusus (induktif) tentang “Apigeff (Apium graveolens Effervescent) : Inovasi Pengembangan Seledri (Apium graveolens) sebagai Terapi Inflamasi pada Systemic Lupus Erythematosus (SLE)” 3.

3. menginterpretasi dan menyimpulkan. yaitu : 1. Dari berbagai informasi tersebut dilakukan kombinasi dan komunikasi sehingga ditemukan bentuk rumusan masalah yang menjadi fokus pembicaraan.2. Metode deskriptif. 3.2 Sumber data Sumber data karya tulis adalah dari buku. Studi literatur dilakukan pada buku. observasi dan jurnal hasil penelitian. Metode deduksi. 3. Upaya analisa data menyangkut empat komponen yaitu: 1. 2. Reduksi data : memilih data-data yang penting dan menggabungkan menjadi satu kesatuan.4 Metode Analisis Data Karya tulis ini menggunakan analisis data secara induktif. yang didapatkan dari perpustakaan maupun dari situs internet. dan artikel-artikel di internet. 3. Pengumpulan data : pengumpulan data diperoleh dari catatan. Proses komunikasi dilakukan dengan menggunakan dua metode.15 Data kuantitatif yang digunakan berupa angka kejadian penyakit (insidensi) dan dosis atau takaran penggunaan bahan aktif sebagai terapi. membuat kategori. membuang yang tidak dipergunakan. yaitu proses analisa data atau informasi dengan pemberian argumentasi melalui berpikir logis dan bertitik tolak dari pernyataan yang bersifat umum menuju suatu kebenaran yang bersifat khusus. Interpretasi data dan penyimpulan : memilih yang penting. dan jurnal penelitian.3 Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data karya tulis ini adalah dengan melakukan studi literatur. jurnal penelitian. 2. majalah. yaitu dengan menganalisis data atau informasi yang diperoleh dan memberikan prediksi mengenai masalah yang akan dibahas. .

Kerangka Berpikir Adanya pencetus berupa paparan faktor resiko dapat memicu inaktivasi Ikβ sehingga membuat faktor transkripsi NF-kβ dominan dan meningkatkan ekspresi gen inflamasi pada makrofag. 3. Apigenin mampu menghambat aktifasi NF-kβ melalui perlindungan terhadap degradasi Ikβ sehingga produksi sel dan mediator inflamasi dapat dihambat. neutrofil. organ-organ dapat mengalami kerusakan akibat inflamasi yang berlebihan. Meningkatnya agen-agen inflamasi akan menyebabkan radang sistemik. maupun MCP. . Akibatnya. interleukin.16 Pemecahan masalah dilakukan dengan mengadakan studi silang antara data–data yang terkumpul dengan didasarkan dengan metode deskriptif dan analisis antara data terkumpul.5 Kerangka berpikir Gambar 3. Sel-sel inflamasi ini akan memproduksi banyak mediator inflamasi berupa TNF-α. CD8+ dan sel-sel inflamasi lain.

1999).1 Mekanisme Apigenin dalam Menghambat Proses Inflamasi Kronik pada SLE Modulasi respon inflamasi dapat melalui mekanisme penurunan regulasi aktivitas dari cyclooxygenase-2 (COX-2). NF-kβ merupakan faktor transkripsi eukaryotik yang terlibat di dalam regulasi inflamasi. Penghambatan apigenin terhadap sitokin inflamasi dapat melalui banyak mekanisme. Ekstrak cair selanjutnya . menghambat proses inflamasi dan tumorigenesis. dan monocyte chemoattractant protein (MCP) (McHugh. Penghambatan yang dilakukan pada NF-kβ untuk menghambat inflamasi ini dapat berfungsi sangat luas karena akan mempengaruhi produksi banyak mediator proinflamasi karena memang kebanyakan ekspresinya pada gen difasilitasi oleh faktor transkipsi ini.2 Cara Ekstraksi Seledri dan Analisis Kualitatif Apigenin dalam Seledri Ekstraksi sekaligus hidrolisis flavon dilakukan dengan menambahkan 225mL methanol:air (5:4) ke dalam 5 gram seledri dengan 0. interleukin (IL)-1. 2006). proliferasi sel.-8. Penekanan aktivasi NF-Ikβ menurunkan regulasi ekspresi COX-2 dan iNOS.17 BAB IV PEMBAHASAN 4. 4. Campuran disonikasi selama 1 menit sebelum direfluks selama 2 jam.2M. dan menginduksi enzim nitric oxide synthase (iNOS) yang menghambat produksi sitokin tumor necrosis factoralpha (TNF-α). dan -12. Dari percobaan in vitro mengindikasikan aktivasi regulasi apigenin pada faktor transkripsi tertentu seperti NF-kβ dalam menstimulasi monosit dan makrofag alveolus sehingga mengeblok ekspresi gen sitokin (Liang. lipoxygenase. dan tumorigenesis.-6.-2. Apigenin menekan aktivasi NF-kβ dan ekspresi gen proinflamasi melalui pengeblokan fosforilasi dari faktor I-kappa β kinase (Ikβ). Penghambatan COX-2 dan iNOS disebabkan oleh hambatan terhadap nuclear factor-kappa beta (NF-kβ). Jika proses inflamasi pada penderita lupus dapat dihambat maka kualitas hidupnya akan meningkat. transformasi.05g hidroksitoluena terbutilasi (BHT) sebagai antioksidan dan 25mL HCl 1.

57mg tablet. 2004).5g serbuk Mg. Pemilihan pelarut metanol:air (5:4) HCl 1. 2004).2 M juga ditambahkan untuk menghidrolisis ikatan glikosida yang terdapat pada flavonoid sehingga diharapkan flavonoid bebas yang terekstrak. 2ml alcohol klorhidrat (campuran HCl 37% dan etanol 95%). Metode ini digunakan karena apigenin yang tahan terhadap panas dengan titik leleh 345–350°C. Pelarut tersebut bersifat polar. oksidasi.18 direkristalisasi untuk mendapatkan konsistensi padat. dan 2mL amil alcohol. 4. kuning. Faktor-faktor ini dapat mengubah struktur flavonoid sehingga keaktifannya menurun bahkan hilang (Zamri. Hal ini disebabkan flavonoid tidak stabil terhadap cahaya. Kondisi ekstraksi memungkinkan apigenin yang terekstrak seledri tersebut tidak rusak dan dapat dianalisis.2 M didasarkan pada penelitian telah dilakukan oleh Frankee et al. Terbentuknya warna merah. Sebanyak 10mL filtrate ditambahkan 0. (2005) dan Crozier et al. HCl 1. Antioksidan BHT ditambahkan untuk mencegah apigenin teroksidasi. (1997). 3% +2% 45mg + 30mg= 75mg .5g) 500mg 205. Setelah itu larutan disaring dan filtratnya digunakan untuk pengujian. dan jingga pada lapisan alcohol menunjukkan keberadaan flavonoid. maka memiliki kelarutan yang tinggi pada alkohol hangat (Zamri. Sebanyak 1 gram ekstrak dimasukkan ke dalam gelas piala kemudian ditambahkan 100mL air panas dan dididihkan selama 5 menit.3 Proses Pembuatan Effervescent dari Seledri Bahan Ekstrak padat seledri Asam sitrat monohidrat Polivinilpirolidon (PVP) Fungsi Bahan aktif Sumber asam Pengikat lubrikan Berat (dalam 1 tablet 1. Ekstrak kemudian disaring dan dipekatkan dengan rotary evaporator. perubahan kimia. sehingga diharapkan dapat menarik apigenin dari seledri. Apigenin bersifat polar karena mengandung gugus OH.

asam.57 mg Jumlah asam tartrat = 75. 2009).04 x 2.01 Total bobot ekivalen : 70.31 mg Proses pembuatan tablet dilakukan dengan cara granulasi kering. .1 mol ekivalen 229.19 Asam tartrat Sukrosa Sumber asam Pengisi.31mg Bobot tablet effervescent 1500 mg Fasa dalam 98%  98/100 x 1500 mg = 1470 mg Fase luar 2% (hanya lubrikan)  2/100 x 1500 = 30 mg Fasa dalam terdiri dari zat aktif.01/1 = 84.09/2 = 75.92= 219.15mg 15% 225mg + hingga 100% Natrium bikarbonat Sumber karbondioksida 254.14 Bilangan ekivalen : 3 Bobot ekivalen : 210.05 x 2.01 = 229. Pertama-tama. Cara ini paling umum digunakan karena menghasilkan granul-granul yang mempunyai sifat-sifat yang dibutuhkan untuk pencetakan tablet dan tablet yang dihasilkan biasanya kompak (Kurniawati.15 mg Jumlah Natrium bikarbonat = 84.01 x 2.92 = 245. PVP dilarutkan dalam sedikit etanol. pengikat dan pengisi : Bobot asam dan basa  1470 mg – (500+75+225) = 670 mg Asam sitrat monohidrat  BM : 210.05 Natrium bikarbonat  BM : 84. pemanis 219.92 Jumlah Asam sitrat monohidrat = 70.04 + 75.01 Bilangan ekivalen : 1 Bobot ekivalen : 84. basa.92 = 205.05 + 84.01 mol ekivalen = 670 mg Mol ekivalen =2.09 Bilangan ekivalen : 2 Bobot ekivalen : 150.14 / 3 = 70.04 Asam Tartrat  BM : 150.

dan Perubahan Histopatologi Mukosa .2 Saran 1. kemudian BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Aswiyanti. asam sitrat monohidrat. asam tartrat. ditambah sisa PVP murni 3% dicetak dengan berat 1500mg per tablet. Memanfaatkan Pekarangan untuk Tanaman Obat Keluarga. 2008. Apigenin dapat menghambat proses inflamasi sistemik pada lupus melalui penekanan aktivasi NF-kB 2. natrium bikarbonat dan sukrosa dimasukkan ke dalam lumpang dan digerus hingga homogeny kemudian ditambah larutan PVP sedikit demi sedikit sambil digerus. Jakarta: Agromedia Pustaka. Digranulasi dengan ayakan mesh 14. alkohol klorhidrat dan amil alkohol 3.20 Ekstrak padat seledri. Tablet effervescent dibuat dengan metode granulasi basah. 5. Asri. Indeks Apoptosis. Seledri diekstrak menggunakan campuran metanol:air (5:4) dan diuji kualitatif menggunakan reagen campuran Mg. Granulat dikeringkan pada lemari pengering pada suhu 40°C pada lemari pengering. Perlu diadakan uji klinis pada manusia untuk menentukan dosis yang tepat penggunaan apigenin untuk terapi SLE 2. ditimbang. 2004. Pengaruh Pemberian Perasan Seledri terhadap Aktivitas Proliferasi Sel.1 Kesimpulan 1. Perlu adanya uji in vivo dan in vitro terhadap sediaan yang diusulkan DAFTAR PUSTAKA Agromedia.

Jus Herbal Segar dan Menyehatkan. Frankee A. Apigenin. Harmanto. Mengusir Kolesterol Bersama Mahkota Dewa. J Agric Food Chem 45: 590–593. and celery. Helmi. Vitamin C and Flavonoid Levels of Fruits and Vegetables Consumed in Hawai. Hee-Kap. Volume 41 (1): 65. J Food Composition Anal 17: 1-35. Journal of Arthritis Research. 2009. Ismawati. 1997. 2008. Murphy SP. Crozier A. Ning. Quantitative Analysis of the Flavonoids Content of Commercial Tomatoes. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro. Setiawan. Jakarta : Agromedia Pustaka. Tasikmalaya: Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi. Onions. Kurniawati. Perikehidupan Seledri. 2005. Jensen E.21 Kolon Wistar. Diane Ecklund. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 2. Jurnal Kedokteran Nusantara. Mc Donald MS. 2007. Jakarta : Elex Media Komputindo. Harmanto. Kang. Sri. Medan: Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara. Volume 11: 1-13. Lettuce. Manifestasi Systematic Lupus Erythematosus pada Paru. Pengaruh apenambahan Polisorbat 80 terhadap Waktu Hancur dan Disolusi Tablet Dimenhidrinat Dibuat Secara Granulasi Basah. Dalimartha. Custer LJ. A Non-Mutagenic Dietary Flavonoid. 2002. Lean MEJ. Michael Liu and Syamal K Datt. . Tesis. Ning. Jakarta: Trubus Agriwidya. 2009. Luthfi. Arakaki C. Suppresses Lupus by Inhibiting Autoantigen Presentation for Expansion of Autoreactive Th1 and Th17 Cells. Euis. 2006.

. Bina Listyari. .. Raymond C. Sunarjono. 2006. M. Jakarta : Penebar Swadaya. Pudjoanto. Bertanam Seledri. Skripsi. 2003. Volume 22 (1) : 41-50. Gunawan. A. USA :Pharmaceutical Press. Hasil Penelitian. Analisis Diosmin dan Protein Tanaman Seledri (Apium graveolens L) dari Daerah Cipanas dan Ciwidey. Paul J. Sudarsono.22 Krause. Putri. McHugh. Handbook of Pharmaceutical Excipients 6th Ed. Journal of Pharmaceutical Medicine. 1999. Rukmana. S. Suppression of Inducible Cyclooxygenase and Inducible Nitric Oxide Synthase by Apigenin and Related Flavonoid in Mouse Macrophage. N. Volume 20 (10): 1945-1952. And Lymphotoxin α Gene Haplotype Associations with Serological Subsets of Systemic Lupus Erythematosus. Improving Drug Delivery in Pediatric Medicine. Tumour Necrosis Factor α. Wibowo. Bertanam 30 Jenis Sayur. 1996. MHC Class II. Shoei-Yn Lin-Shiau. Tumbuhan Obat. Donatus.. 1995. 2008.. D. Volume 65: 488-494. Sheskey dan Marian E Quinn. 2009. Yogyakarta: Pusat Penelitian Obat Tradisional UGM. Yu-Chih. Journal of Carcinogenesis. Wahyuono. ChiehFu Chen dan Jen-Kun Lin. Liang.dan Ngatidjan. A. Rahmat. Shu-Huei Tsai.. Sifat-sifat dan Penggunaan. Bogor: Program Studi Biokimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Extended Report. Yogyakarta: Kanisius. S. I.. J. Ying Tang Huang. Julia dan Jorg Breitkreutz.. Drajad. Rowe.

Keterampilan Dasar Emotional Support” Pada Volunteer Care For Lupus Di Yayasan Syamsi Dhuha Bandung. R.23 Tonam. Rahma Juwita. 2011. . Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor. Pelatihan. Medan: Universitas Sumatera Utara. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Zamri. Yuda Turana. Skripsi tidak diterbitkan. Moeliono. 2008. Validasi Metode Penentuan Kadar Apigenin dalam Ekstrak Seledri dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. 2007. Wijayanti. dan Fachrida L. Manifestasi Neurologik pada Lupus Eritematosus Sistemik. Skripsi.

24 .

25 .

26 .