You are on page 1of 8

STUDI PENGARUH PENAMBAHAN SLAG DAN FLY ASH SEBAGAI BAHAN ADITIF DI FINISH MILL PABRIK SEMEN KOMPOSIT

Eka Partana, Aries Purijatmiko, Prof. Dr. Ir. Mahfud , DEA, Ir. Pantjawarni Prihatini
Jurusan Teknik Kimia, Facultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember ABSTRAK Portland Composite Cement (PCC) Semen Portland Komposit adalah bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama terak semen Portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik. Bahan anorganik tersebut antara lain terak tanur tinggi (blast furnace slag), pozolan, senyawa silikat, dengan kadar total bahan anorganik 6 % 35 %. Semen Portland komposit dapat digunakan untuk konstruksi umum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dari adanya pengaruh penambahan fly ash dan slag terhadap kuat tekan semen komposit yang dihasilkan. Proses penelitian semen komposit ini didahului dengan menggiling klinker, fly ash, slag, dan gipsum di mini ball mill untuk membentuk semen komposit, Dimana konsentrasi slag dan fly ash divariasikan. Kemudian, semen komposit tesebut dibuat menjadi adonan mortar yaitu dengan cara dicampur dengan agregat, pasir dan air. Setelah menjadi adonan mortar, kemudian adonan tersebut dicetak dalam cetakan. Kemudian dilakukan uji kuat tekan pada umur mortar 3, 7, dan 28 hari. Proses penelitian ini diakhiri dengan melakukan analisa XRF terhadap produk semen komposit yang dihasilkan untuk mengetahui komposisi kimia yang terkandung di dalamnya. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada penambahan fly ash, kuat tekan yang dihasilkan lebih besar dari pada kuat tekan OPC (penambahan 0%) pada 3, 7, dan 28 hari. Pada hari ke-3 terjadi penurunan kuat tekan sebesar 7,83% dari variabel penambahan fly ash 12% hingga 36 %.Pada hari ke-7 terjadi penurunan kuat tekan sebesar 3% dari variabel penambahan fly ash 6% hingga 36 %.Pada hari ke28 antara variabel penambahan fly ash 6% hingga 24 % kuat tekannya hampir sama. Lalu kemudian terjadi kenaikan kuat tekan lagi sebesar 4% dari variabel penambahan fly ash 24% hingga 30 % yang kemudian kuat tekan hampir sama hingga variabel 36%. Pada penambahan Slag. Pada hari ke-3, titik puncak maksimum dari kuat tekan dicapai pada variabel 6% dan kemudian mengalami penurunan kuat tekan sebesar 5,59% seiring bertambahnya variabel slag dimulai dari 12% hingga 36%. Pada hari ke-7, titik puncak maksimum dari kuat tekan dicapai pada variabel 12% dan kemudian mengalami penurunan kuat tekan sebesar 7,81% seiring bertambahnya variabel slag dimulai dari 12% hingga 36%. Pada hari ke-28, titik puncak maksimum dari kuat tekan dicapai pada variabel 12% dan kemudian mengalami penurunan kuat tekan sebesar 8,1% seiring bertambahnya variabel slag dimulai dari 12% hingga 36%. Pada kombinasi antara slag dan fly ash, kuat tekan optimum dicapai pada prosentase penambahan aditif sebesar 6% dari jumlah semen dengan komposisi 70% fly ash dan 30% slag. Penambahan aditif sebesar 6 36% di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit, akan menurunkan emisi CO2 pabrik semen sebesar 6 36%. Kata Kunci : Semen portland komposit, kuat tekan, slag, fly ash

ABSTRACT Portland Composite Cement is one of hydraulically material that made from clinker and gypsum with one or more inorganic material. The following materials are blast furnace slag, pozzolan, silicate material, with total concentration 6% - 35%. Portland composite cement can be used for general construction. The purpose of this research is observing the influence of adding fly ash and slag in order to obtain the compressive strength of Portland composite cement. First step of this research is mixing and grinding clinker, slag, fly ash, and gypsum in a mini cement mill to form Portland composite cement. The operating variables are concentration of fly ash and slag. Then make mortar slurry by mixing Portland composite cement with Ottawa sand and water. After that, the slurry of mortar is formed in a molding. Then the molding is tested by compressive strength test is tested in 3, 7, and 28 day. This research is ended with XRF analysis of Portland composite cement to observe the chemical composition. The result of this research show that by adding fly ash, compressive strength is bigger than OPCs compressive strength at 3rd, 7th, and 28th day. At 3rd day, the compressive strength will decreasing 7.83% at adding 12% - 36% of fly ash. At 7th day, the compressive strength will decreasing 3% at adding 6% - 36% of fly ash. At 28th day, the compressive strength is slightly similar at adding 6% - 24% of fly

ash, the compressive strength will increasing 4% at adding 24% - 30% of fly ash, the compressive strength is slightly similar at adding of 30% - 36% of fly ash. At the adding of slag, at 3rd day, the maximum compressive strength is reached at adding 6% of slag, the compressive strength will decreasing 5.59% at adding 12% - 36% of slag. At 7th day, the maximum compressive strength is reached at adding 12% of slag, the compressive strength will decreasing 7.81% at adding 12% - 36% of slag. At 28th day, the maximum compressive strength is reached at adding 12% of slag, the compressive strength will decreasing 8.1% at adding 12% - 36% of slag. At the combination of fly ash and slag, the optimum strength is reached in 6% additive. Keywords: Portland composite cement, compressive strength, slag, fly ash PENDAHULUAN Perkembangan industri yang pesat membawa kemajuan yang berarti bagi pembangunan perekonomian Indonesia. Tetapi dampak yang timbul dari adanya kegiatan-kegiatan industri tersebut adalah masalah limbah. Masalah yang pada akhir akhir ini mendapat perhatian pemerintah atau badanbadan lingkungan hidup nasional dan internasional. Oleh karena itu, pemerintah berusaha mengembangkan industri yang bersih lingkungan dan mengembangkan penelitian dalam penggunaan dan peningkatan daya guna limbah industri. Salah satunya yaitu pemanfaatan slag dan fly ash di industri semen. Slag adalah hasil sampingan dari proses industri yaitu proses peleburan bijih logam dan masih mengandung material yang penting seperti silika dan alumina. Fly ash adalah hasil samping dari pembakaran batubara di boiler Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Kecenderungan dewasa ini banyak pembangkit listrik yang beralih menggunakan batubara sebagai bahan bakar dalam menghasilkan steam (uap). Sisa hasil pembakaran dengan batubara menghasilkan abu yang disebut dengan fly ash. Fly ash dan slag juga mengandung silika yang bisa dimanfaatkan melalui waste co-processing dengan pihak industri semen. Dimana silika sangat dibutuhkan di industri semen sebagai material tambahan (aditif) di mesin penggilingan akhir (finish mill) pabrik semen komposit. Sehingga akan terjalin suatu hubungan yang saling menguntungkan antara pihak PLTU batubara dan pabrik peleburan logam selaku produsen dengan industri semen selaku konsumen. Penambahan bahan aditif di finish mill memiliki tujuan untuk mengurangi penggunaan terak dalam proses pembuatan semen. Sehingga akan menurunkan emisi CO2 pabrik semen komposit. Penurunan emisi CO2 dalam proses produksi semen komposit dimungkinkan dengan mengurangi penggunaan klinker yang diganti dengan material alternatif seperti batu kapur, slag dan material pozzolanic. Semen komposit dapat dipergunakan untuk keperluan konstruksi umum seperti rumah, gedung bertingkat, jembatan, jalan beton, beton pre-cast dan beton pre-stress. Seiring dengan adanya proyek CDM (Clean Development Mechanism) dan dalam rangka menurunkan emisi CO2 untuk mengurangi dampak pemanasan global (global warming), maka industri semen banyak yang beralih untuk memproduksi semen komposit. Berdasarkan penjelasan diatas maka tujuan penelitian ini yaitu untuk meneliti pengaruh dari penambahan slag dan fly ash di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit terhadap kuat tekan produk dan emisi pabrik semen komposit. Berdasarkan SNI 15-7064-2004 tentang spesifikasi semen portland komposit, didefenisikan sebagai bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama terak semen portland dan gipsum dengan satu atau lebih bahan anorganik, atau hasil pencampuran antara bubuk semen portland dengan bubuk bahan anorganik lain. Bahan anorganik tersebut antara lain terak tanur tinggi (blast furnace slag), kapur, pozzolan, dan senyawa silikat dengan kadar total bahan anorganik 6 - 35 % dari massa semen portland komposit. Kuat tekan adalah salah satu tolok ukur penting sesuai yang disyaratkan di dalam SNI (Standar Nasional Indonesia), ASTM (American Standard for Testing Materials), dan BS (British Standard). Menurut Lea (1998) kuat tekan merupakan salah satu tolok ukur untuk melihat kemampuan mortar atau beton yang terbuat dari semen yang diuji terhadap beban yang diterimanya. Kuat tekan semen dipengaruhi oleh proses hidrasi semen. Semen terdiri dari beberapa senyawa yaitu C3S (3CaO.SiO2), C2S (2CaO.SiO2), C3A (3CaO.Al2O3), dan C4AF (4CaO.Al2O3. Fe2O3). Apabila semen dicampur dengan air maka akan terjadi proses hidrasi. Secara fisika proses tersebut akan tampak ditandai dengan adanya pasta semen yang

plastis dan dapat dibentuk, dan beberapa waktu kemudian pada pasta tersebut mulai terjadi pengerasan dan tidak dapat dibentuk lagi, sehingga pasta yang telah mengeras tersebut mulai memiliki kekuatan tekan. Dengan demikian maka proses hidrasi semen terdiri dari beberapa reaksi kimia yang berjalan secara bersama-sama yaitu : 2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + 3Ca(OH)2.(1) 2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + Ca(OH)2...(2) 3CaO.Al2O3 + 6H2O 3CaO.Al2O3.6H2O + Panas..(3) 4CaO.Al2O3. Fe2O3 + 17H2O 3CaO.Al2O3.12H2O +3CaO.Fe2O3.5H2O (CaOH)2..(4) Faktor yang mempengaruhi proses hidrasi semen yaitu : Komposisi Semen Proses hidrasi semen dipengaruhi oleh komposisinya. Salah satunya yaitu silika (SiO2) yang ada di dalam semen. SiO2 akan mengeliminir Ca(OH)2 dan bereaksi membentuk CSH pada proses hidrasi semen, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kuat tekan semen. Hal ini disebabkan Ca(OH)2 di dalam mortar / beton akan bersifat merugikan dan menurunkan kuat tekan semen. Reaksinya yaitu : 2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + 3Ca(OH)2.(1) 2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + Ca(OH)2...(2) 3Ca(OH)2 + SiO2 + H2O 3CaO.SiO2.3 H2O......(3) Umur curing (perendaman) Umur curing (perendaman) akan berpengaruh terhadap kuat tekan dan proses hidrasi semen. Semakin lama umurnya maka proses hidrasinya semakin sempurna sehingga kekuatan tekannya semakin naik. Kehalusan semen Tingkat kehalusan akan berpengaruh terhadap kekuatan semen dan proses hidrasi semen. Kehalusan menentukan luas permukaan partikel semen sehingga sangat berpengaruh pada proses hidrasi semen yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kuat tekan semen. METODE PENELITIAN Dalam penelitian ini pembuatan semen portland komposit dilakukan dengan menggiling secara bersama-sama klinker, fly ash, slag, dan gipsum di mini ball mill untuk membentuk semen komposit bedasarkan variabel. Kemudian semen komposit dicetak untuk membentuk mortar yang kemudian diuji kuat tekannya. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Klinker / terak semen Portland; Klinker yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Semen Gresik (Persero) Tbk Indonesia. Slag; Slag yang digunakan dalam penelitian ini adalah cooper slag yang berasal dari PT. Smelting Indonesia. Fly Ash; Fly Ash yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Jawa Power Unit Pembangkitan (UP) Paiton Indonesia. Gipsum; Gipsum yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari PT. Petrokimia Gresik (Persero) Indonesia. Pasir Ottawa; Pasir Standard Ottawa (CAS: 14808-60-7) merupakan pasir yang digunakan dalam uji semen. Dimana pasir ini dapat melalui 850- (US Standard No. 20) sieve dan tertahan pada 600- (US Standard No. 30) sieve. Pasir standard Ottawa berasal dari Middle Ordovician St. Peter Sandstone dekat Ottawa, Illinois dan digunakan secara luas dalam eksperimen oleh ahli geologi dan insinyur selama beberapa dekade. Alasan utama digunakan pasir Ottawa adalah karena ukuran butiran yang seragam dan dianggap tidak terkontaminasi oleh tanah liat (clay), lempung (loam), senyawa-senyawa besi, atau substansi asing lainnya (Revi, 2009). Air; Air yang digunakan dalam penelitian ini adalah untuk campuran mortar, maka harus bersih dan bebas dari bahan-bahan merusak yang mengandung oli, asam, garam, bahan organik, atau bahan-bahan lainnya yang merugikan terhadap mortar. Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga bagian : peralatan pada tahap pembuatan semen komposit (mini ball mill, botol Le Chatellier, dan Blaine Test Apparatus), pada tahap

pembuatan mortar (mixer, meja flow table, molding, dan bak rendaman), pada tahap analisa produk (mesin uji kuat tekan, ayakan 325 mesh, XRF, dan XRD). Pada tahap pembuatan semen komposit digunakan mini ball mill untuk menggiling klinker, gipsum, slag, dan fly ash sesuai dengan variabel, untuk membentuk semen komposit. Sedangkan botol Le Chatellier digunakan untuk mengukur densitas semen yang dihasilkan, dimana densitas tersebut digunakan untuk uji kehalusan. Blaine test apparatus digunakan untuk uji kehalusan semen, dimana pada penelitian ini, kehalusan semen ditetapkan minimal sebesar 290 m2/kg. Pada tahap pembuatan mortar digunakan mixer untuk mencampur semen komposit, air dan pasir Ottawa, untuk membentuk mortar. Sedangkan meja flow table digunakan untuk mengukur slump dari adonan mortar, dimana pada penelitian ini slump mortar ditetapkan 20,8 21,8 cm (ASTM, 2006). Bak rendaman digunakan untuk proses curing (perendaman) mortar. Sedangkan molding digunakan sebagai tempat cetakan adonan mortar. Pada tahap analisa produk digunakan mesin kuat tekan untuk menguji kuat tekan mortar pada hari ke 3, 7, dan 28 hari. Sedangkan ayakan 325 mesh digunakan untuk menguji kehalusan semen komposit yang dihasilkan sesuai dengan ASTM (2006). XRF, dan XRD digunakan untuk menganalisa komposisi kimia dan komposisi kristal yang terdapat di dalam semen komposit pada penelitian ini. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hari ke-3 Hari ke-28 Hari ke-7 SNI hari ke-3

Hari ke-3 SNI hari ke-3

Hari ke-7 SNI hari ke-7

Hari ke-28 SNI hari ke-28

500

450
450

400 Kuat tekan (kgf/cm2)


0 6 12 18 24 30 36 400

350

350

300

300

250

250

(kgf/cm2)

tekan

Kuat

200

200

150

150

100

100 0 6 12 18 Slag (%)


Fly Ash (%)

24

30

36

Gambar 1. Pengaruh Fly Ash Terhadap Kuat Tekan

Gambar 2. Pengaruh Slag Terhadap Kuat Tekan

Dari kedua Gambar 1 dan 2 dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa fly ash memberi kuat tekan yang lebih baik daripada slag pada umur 3, 7, dan 28 hari. Namun secara umum kuat tekannya keduanya masih di atas kuat tekan SNI Semen Portland Komposit. Hal ini disebabkan oleh hidrasi semen (Lea, 1998). Tabel 1. Hasil Uji Kehalusan Semen Komposit dengan Ayakan No.325 Variabel 6% - 12% Fly Ash 6% - 12% Slag Prosentase Semen yang Berhasil Lolos Ayakan 325 mesh 87,7 % 81,6 %

Dari Tabel 1 dapat disimpulkan bahwa semen komposit dengan aditif fly ash memiliki kehalusan partikel yang lebih tinggi daripada semen komposit dengan aditif slag. Tingkat kehalusan partikel akan

berpengaruh terhadap kekuatan semen dan proses hidrasi semen. Semakin halus partikelnya maka luas permukaannya semakin besar sehingga reaksi hidrasinya semakin cepat yang pada akhirnya akan menaikkan kuat tekan. Tabel 2. Hasil Slump PCC dengan Aditif Fly Ash variabel Air (ml) Slump (cm) Tabel 3. Hasil Slump PCC dengan Aditif Slag variabel air (ml) Slump (cm)

0% Fly Ash 6% Fly Ash 12% Fly Ash 18% Fly Ash 24% Fly Ash 30% Fly Ash 36% Fly Ash

359 359 344 344 319 319 310

18 21.5 21.5 21 21 21.5 21

0% Slag 6% Slag 12% Slag 18% Slag 24% Slag 30% Slag 36% Slag

359 365 359 410 349 335 390

18 21 21 21 21 21 21

Menurut ASTM, Semen Portland Komposit dikategorikan sebagai semen campuran (special blended cement). Oleh karena itu maka slumpnya mengikuti standar ASTM C 595-05. Sesuai dengan ASTM C 595-05, slumpnya antara 20,8 21,8 cm. Ketika pada pembuatan mortar semen komposit menggunakan proporsi rasio air semen 0,485 (standar OPC), maka mortar akan mengalami pemadatan yang tidak sempurna (incomplete compaction), secara fisik campuran tersebut akan terlihat kering / kekurangan atau encer / kelebihan air. Hal ini menyebabkan kuat tekan dari mortar yang dihasilkan tidak bisa diketahui kecenderungannya apakah semakin naik atau semakin turun.
OPC 24% Fly Ash 6% Fly Ash 30% Fly Ash 12% Fly Ash 36% Fly Ash 18% Fly Ash

OPC 30% slag

6% slag 36% slag

12% slag

18% slag

24% slag

480 470 460 450 440 430 420 410 400 390 380 370 360 350 340 330 320 310 300 290 280 270 260 250 240 230 220 210 200 3 7 hari 28

420 410 400 390 380 370 360 350 340 330 320 310 300 290 280 270 260 250 240 230 220 210 200 190 180 170 160 3 7 hari 28

Kuat tekan(Kgf/cm2)

Kuat tekan(Kgf/cm2)

Gambar 4. Pengaruh Curing Terhadap Kuat Tekan

Pada Gambar 3 dan 4 dapat dilihat bahwa semakin lama waktu curing maka kuat tekan mortar yang dihasilkan juga semakin tinggi hingga pada hari ke-28 yang diamati pada penelitian ini. Hal ini dikarenakan semakin sempurnanya reaksi hidrasi semen (Neville, 2000). Tabel 4. Hasil Analisa XRF Semen Komposit dengan Penambahan Fly Ash Fly Ash (%) 0 6 12 18 24 30 36 SiO2 20,58 20,93 22,26 22,87 23,52 24,17 25,47 Al2O3 8,88 9,33 9,78 10,23 10,68 12,14 13,01 Fe2O3 4,57 4,97 5,37 5,77 6,17 6,42 6,73 CaO 61,78 59,7 57,62 55,54 53,46 51,68 48,58 MgO 1,93 1,74 2,02 2,17 2,31 2,45 2,55 SO3 2,28 2,30 2,38 2,43 2,48 2,52 2,49

Tabel 5. Hasil Analisa XRF Semen Komposit dengan Penambahan Slag Slag (%) 0 6 12 18 24 30 36 SiO2 20,58 20,64 20,69 20,75 20,96 21,20 21,44 Al2O3 8,88 7,72 7,43 7,17 6,99 6,79 6,59 Fe2O3 4,57 8,21 9,93 11,74 13,76 15,96 19,16 CaO 61,78 58,19 55,04 52,00 48,90 45,70 42,50 MgO 1,93 1,43 1,32 1,31 1,30 1,30 1,28 SO3 2,28 2,23 2,45 2,38 2,31 2,26 2,21

Tampak dari hasil analisa XRF pada Tabel 4.5 dan 4.6, bahwa pada penambahan fly ash akan menambah kandungan silika di semen. Hal ini disebabkan karena fly ash lebih banyak mengandung silika. Sedangkan pada penambahan slag akan menambah kandungan besi dan silika. Hal ini disebabkan karena slag lebih banyak mengandung besi, namun juga mengandung silika. Proses hidrasi semen dipengaruhi oleh komposisinya. Salah satunya yaitu silika (SiO2) yang ada di dalam semen. SiO2 akan mengeliminir Ca(OH)2. Keberadaan Ca(OH)2 di dalam mortar / beton akan bersifat merugikan dan menurunkan kuat tekan. SiO2 bereaksi dengan Ca(OH)2 membentuk CSH (3CaO.SiO2.3H2O) pada proses hidrasi semen, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan kuat tekan. Reaksinya yaitu : 2(3CaO.SiO2) + 6H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + 3Ca(OH)2.(1) 2(2CaO.SiO2) + 4H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + Ca(OH)2...(2) 3Ca(OH)2 + SiO2 + H2O 3CaO.SiO2.3 H2O..(3)

Hari ke-3 SNI hari ke-3

Hari ke-7 SNI hari ke-7

Hari ke-28 SNI hari ke-28

Hari ke-3 SNI hari ke-3

Hari ke-7 SNI hari ke-7

Hari ke-28 SNI hari ke-28

410 390 370 350 330 310 290 270 250 230 210 190 170 150 130 110 30% FA + 70% S 50% FA + 50% S 70% FA + 30% S
(kgf/cm2) tekan Kuat (kgf/cm2) tekan Kuat

410,0 390,0 370,0 350,0 330,0 310,0 290,0 270,0 250,0 230,0 210,0 190,0 170,0 150,0 130,0 110,0 30% FA + 70% S 50% FA + 50% S 70% FA + 30% S

Komposisi Fly Ash dan Slag

Komposisi Fly Ash dan Slag

Gambar 5. Kombinasi Fly Ash & Slag Sebesar 6%

Gambar 6. Kombinasi Fly Ash & Slag Sebesar 12%

Dari Gambar 4.5 dan 4.6 dapat disimpulkan bahwa pada variasi penambahan fly ash dan slag, Secara umum kuat tekan dari seluruh variabel kombinasi antara fly ash dan slag tersebut masih di atas kuat tekan SNI Semen Portland Komposit. Prosentase penambahan fly ash dan slag sebesar 6% memberi kuat tekan yang lebih baik dari pada penambahan fly ash dan slag sebesar 12% tetapi perbedaannya tidak begitu signifikan. Dan dari gambar tersebut, ada kecenderungan yang sama yaitu adanya peningkatan kuat tekan dengan adanya persentase penambahan fly ash. Hal ini diperlihatkan pada kuat tekan variabel 70% fly Ash + 30% slag lebih besar dari pada variabel 30% fly ash + 70% slag. Berdasarkan hasil penelitian (Anonim, 2007) adanya penambahan aditif sebesar 6 36% di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit, akan menurunkan emisi CO2 pabrik semen sebesar 6 36%. Sehingga penambahan aditif di finish mill dalam proses pembuatan semen komposit, akan menurunkan emisi CO2 yang dihasilkan oleh pabrik semen. KESIMPULAN Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, Pertama, penambahan fly ash dan slag pada semen komposit berpengaruh terhadap kuat tekan, namun sampai penambahan sebesar 36% kuat tekannya masih di atas kuat tekan SNI Semen Portland Komposit Kedua, pada kombinasi fly ash dan slag sebesar 6% memberi kuat tekan yang lebih baik dari pada penambahan fly ash dan slag sebesar 12%, dan kuat tekan semakin meningkat seiring dengan adanya persentase penambahan fly ash pada kombinasi tersebut.

1. 2.

3. 4.

5.

6.

7.

8. 9.

DAFTAR PUSTAKA Aldensinai. 2009. Gipsum. [aldensinai.blogspot.com] Anonim. 2007. Kajian Potensi Batuan Ultrabasa di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Untuk Menanggulangi Emisi Karbon Dioksida. [www.dim.esdm.go.id] Anonim. 2008. CO2 Emission in the World Cement Sector. [www. wcsbdcement.com] ASTM International. 2006. Annual Book of ASTM Standards. Baltimore : ASTM Publisher. Austin, George T. 1984. Shreves Chemical Process Industries. Singapore : Mc Graw Hill. Badan Standarisasi Nasional. 1994. Standar Nasional Indonesia (SNI) OPC. [www.bsn.go.id] Badan Standarisasi Nasional. 2004. Standar Nasional Indonesia (SNI) PCC. [www.bsn.go.id] Duda, Walter H. 1976. Cement Data Book. London : Macdonald & Evans. Fu, Xinghua, et al. 2000. Studies on high strength slag and fly ash compound cement. [www.sciencedirect.com]

10. Lea, F.M. 1998. Chemistry of Cement. London: Arnold Publisher 11. Mahmudah, Etty Ariani. 1993. Pengaruh Kadar Fly Ash Pada Blended Cement Laporan Akhir, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang. 12. Maslikhah, Binti. dan Santoso, Puji. 1994. Pengaruh Kadar Slag Terhadap Karateristik Blended Cement. Laporan Akhir, Jurusan Teknik Kimia, Politeknik Negeri Malang. 13. Mei Arisandi, Revi., Sahkundiyar. 2009. Pengaruh Surfaktan Pada Pembuatan Beton. Skripsi Jurusan Teknik Kimia, FTIITS. 14. Neville, A.M. 2000. Properties of Cement and Concrete. Edinburgh : Pearson Ltd 15. Peray, Kurt E. dan Waddell, Joseph J. 1972. The Rotary Cement Kiln. New York : Chemical Publishing Co. 16. Peray, Kurt E. 1979. Cement Manufacturer's Handbook. New York : Chemical Publishing Co. 17. Taylor, W.H. 1977. Segmental Paving. New York : E and FN Spon.