MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH

FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST.
JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR
201 201 201 201
MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH
TSI TSI TSI TSI- -- -241 241 241 241

O OO OLEH: LEH: LEH: LEH:
FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST.


JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR
201 201 201 2012 22 2
MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH MEKANIKA TANAH I II I
FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST. FADHILA MUHAMMAD LT. ST.

UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR UNIVERSITAS IBN KHALDUN BOGOR
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


2

MODUL 1
SIFAT – SIFAT INDEKS TANAH

1. PENGERTIAN DASAR

1.1. PENGERTIAN TANAH
Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran)
mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama
lain dari bahan-bahan organik yang telah melapuk (yang berpartikel padat)
disertai dengan zat cair dan gas yang mengisi ruang-ruang kosong di antara
partikel-partikel padat tersebut.

Ilmu Mekanika Tanah (Soil Mechanics):
Adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat fisik dari tanah
dan kelakukan massa tanah tersebut bila menerima bermacam-macam gaya.

Ilmu Rekayasa Tanah (Soil Engineering)
Merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip mekanika tanah dan problema
praktisnya.

1. 2. JENIS DAN UKURAN PARTIKEL TANAH
Tanah berasal dari pelapukan kimia / fisik pada pada batuan. Yang hal
itu sangat mempengaruhi perilaku engineeringnya.

Tanah merupakan campuran dari partikel-partikel yang terdiri dari salah satu/
seluruh jenis berikut :
1. Berangkal (boulder) : batuan yang besar (> 250 mm – 300 mm)
2. Kerikil (gravel) : 5 mm – 150 mm
3. Pasir (sand) : 0,0074 mm - 5 mm.
Mulai dari pasir kasar sampai dengan pasir halus.
4. Lanau (silt) : 0,002 mm – 0,0074 mm
5. Lempung (clay) : < 0,002 mm dan kohesif
6. Koloid : partikel mineral yang diam

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


3

Tabel 1.1. Penggolongan tanah oleh beberapa lembaga berdasarkan ukuran
butir.


1. 3. SIFAT-SIFAT KHUSUS PADA TANAH
• Tingkat empiris tinggi dan lebih berseni disbanding ilmu lain. Pada jarak
yang berbeda sifat-sifat tanah bisa berbeda.
• Tanah adalah material yang heterogen.
• Tanah adalah material yang non linear.
• Tanah adalah material yang tidak konservatif, yaitu mempunyai memori
apabila pernah dibebani. Hal ini sangat mempengaruhi engineering
properties tanah.

Dengan mengenal dan mempelajari sifat-sifat tersebut, keputusan yang
diambil dalam perancangan akan lebih ekonomis.
Karena sifat-sifat tersebut maka penting dilakukan penyelidikan tanah (soil
investigation) yang terdiri dari : Uji laboratorium dan uji lapangan

Soil investigation dilakukan untuk tiap lokasi proyek yang akan didirikan
struktur bangunan. Soil investigation yang dilakukan biasanya terdiri dari :
Pengujian lapangan :
1. Sondir
2. Bor dan SPT (Standart Penetration Test)

Pada uji pengeboran juga dilakukan pengambilan sampel tanah untuk diuji
di laboratorium antara lain : kadar air, kepadatan tanah dsb



Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


4

Adapun contoh hasil resume uji laboratorium sebagai berikut :

Tabel 1.2. Resume Hasil Uji Laboratorium




1. 4. TEKSTURE TANAH dan KARAKTERISTIK LAIN PADA TANAH
• Teksture adalah bagian solid / padat pada massa tanah terdiri secara
primer dari partikel mineral & bahan organik dalam ukuran yang
bervariasi dan jumlahnya bervariasi.
• Teksture tanah tergantung pada ukuran relatif dan bentuk partikel. Gravel
atau sand lebih kasar daripada silt dan clay.
• Pada tanah berbutir kasar, teksture mempunyai hubungan erat dengan
perilaku engineering. (Merupakan dasar dari klasifikasi tanah)
• Untuk tanah berbutir halus , pengaruh yang penting adalah kehadiran air.


Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


5


Tabel 1.1. Teksture dan Karekteristik Lain pada Tanah
Nama Tanah Gravel, Sand Silt Clay

Grain size
Berbutir kasar
Butiran tampak
mata

Berbutir halus
Butiran tunggal
tidak tampak
mata
Berbutir halus
Butiran tunggal
tidak tampak
mata

Karakteristik
Non kohesif
Non plastis
Berbutir
Non kohesif
Non plastis
Berbutir
Kohesif
Plastis

Pengaruh air
pada perilaku
engineering
Relatif tidak
penting (kecuali :
material berbutir,
lepas dengan
pembebanan
dinamis)


Penting


Sangat Penting
Pengaruh
distribusi ukuran
butir pada
perilaku
engineering


Penting


Relatif tidak
penting


Relatif tidak
penting


2. KOMPOSISI TANAH DAN HUBUNGAN ANTAR FASE

• Tiap massa tanah terdiri dari kumpulan partikel padat dengan rongga di
antaranya.
• Rongga dapat diisi air udara, sebagian air dan udara.
• Partikel tanah padat adalah butiran tanah padat dengan mineral yang
berbeda-beda.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


6

Vs
Vv
e =


Volume solid /butiran (Vs)
Total volume tanah /Vt
Volume water/ air (Vw)
Volume void / pori (Vv)
Volume air/ udara (Va)

Penyajian ketiga komponen tanah tersebut dapat digambarkan dalam
diagram fase , sebagai berikut :




• Perbandingan Volumetric
1. void ratio e,
, 0 < e < ~
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


7


sands : 0,4 s/d 1,0
clays : 0,3 s/d 1,5
2. porositas n ,
% 100 x
Vt
Vv
n =
, 0 < n < 100%

e
e
n
+
=
1
dan
n
n
e

=
1

3. Derajat kejenuhan S,
% 100 x
Vt
Vw
S =

Tanah kering, S = 0%
Jika pori berisi jenuh air, S = 100%

• Perbandingan Massa

Kadar air w,
% 100 x
Ms
Mw
w =

Perhitungan kadar air dihitung di laboratorium (ASTM D : 2216(1980 ))

• Perbandingan yang menghubungkan sisi Volumetric dan sisi Massa

Densitas/ kepadatan ρ

Vt
Mw Ms
Vt
Mt +
= = ρ


Vw
Mw
w
Vs
Ms
s = ρ , = ρ



Besar ρ akan tergantung bagaimana air tejadi dalam rongga, dan berbeda
pada tiap-tiap jenis tanah. Ada 3 harga ρ yang berguna dalam mekanika
tanah.
Dry density/ kepadatan kering :
, = ρ
Vt
Ms
d

Saturated density/ kepadatan jenuh :
Vt
Mw Ms+
= ρ
( Va = 0, S= 100%)

Submerged density/ kepadatan tercelup : ρ’= ρsat – ρw

Contoh Soal :
1. Given :
- density = 1,76 t/m3, density of solid = 2,7 t/m3
- water content = 10%
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


8

Required :
Compute : dry density, void ratio, porosity, degree of saturation, saturated
density

2. Volume total suatu spesimen tanah adalah 80.000 mm
3
dan beratnya 145 g,
sedang berat keringnya adalah 128 g. Kepadatan butir tanah tanah adalah
2,68. Berdasarkan informasi tersebut, hitunglah :
b. kadar air d) derajat kejenuhan
c. void ratio e) kepadatan kering
c) porositas f) kepadatan jenuh



2.1. Pengujian Kadar Air (Laboratorium) (ASTM D : 2216(1980 )

Kegunaan :
Untuk menentukan kadar air tanah yaitu perbandingan berat air yang
terkandung dalam tanah dengan berat kering tanah. Dinyatakan dalam prosen

Prosedur Pelaksanaan :
Tanah yang akan diperiksa ditempatkan dalam cawan yang bersih dan
telah diketahui beratnya
Cawan dan isinya ditimbang dan beratnya dicatat
Cawan dan tanah basah dimasukkan di oven pengering sampai
beratnya konstan.
Keluarkan dari oven, kemudian dinginkan dalam desikator.
Setelah dingin ditimbang beratnya dan dicatat

Perhitungan :
Berat cawan + tanah basah = W1 gram
Berat cawan + tanah kering = W2 gram
Berat cawan kosong = W3 gram
Berat air = (W1-W2) gram
Berat tanah kering = (W2-W3) gram
Kadar air = (W1-W2) / (W2-W3) x 100%

Contoh Soal :
A sample of wet soil in a drying dish has a mass of 462 g. After drying in an
oven at 110 C overnigth, the sample and dish have a mass of 364 g. The
mass of the dish alone is 39 g
Required
Determine the water content of the soil.


Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


9

Soal Tugas :
a) Apa yang dimaksud dengan indeks properties dan engineering properties
pada tanah, dan bagaimana kita dapat menentukan parameter tersebut
? Jelaskan.
b) Setelah menentukan indeks dan engineering properties di atas, apakah
guna selanjutnya ?
c) Dari data tersebut (table 1.2), sebutkan mana saja parameter yang
merupakan index propesties dan mana yang merupakan engineering
properties tanah.
d) Dari data tersebut, prediksikan keadaan alami tanah di lapangan.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


10

MODUL 2
KLASIFIKASI SIFAT-SIFAT TANAH

1. PENGERTIAN DASAR

Dari modul 1 diketahui bahwa 2 golongan besar tanah , yaitu :
- tanah berbutir kasar, yaitu : gravel dan sand
- tanah berbutir halus, yaitu : silt dan clay

Telah dijelaskan bahwa pada tanah berbutir kasar hal yang paling
berpengaruh terhadap perilaku engineeringnya adalah tekstur dan distribusi
ukuran butir. Sedang pada tanah berbutir halus yang mempengaruhi perilaku
engineeringnya adalah kehadiran air.
Sehingga untuk menentukan sifat-sifat tanah berbutir kasar yaitu dengan
cara melihat kurva distribusi ukuran butir yang dihasilkan dari pengujian ANALISA
SARINGAN (SIEVE ANALYSIS) di laboratorium .
Untuk menentukan sifat-sifat tanah berbutir halus dengan melihat hasil dari
pengujian BATAS-BATAS ATTERBERG (ATTERBERG LIMITS) di laboratorium.

2. UKURAN BUTIR DAN DISTRIBUSI UKURAN BUTIR

• Ukuran partikel pada tanah berbutir mempengaruhi perilaku tanah
• Tanah berada pada range berangkal (boulder) sampai butiran yang sangat
halus (koloid)
• Bagaimana distribusi ukuran butir dihasilkan ?
Dengan analisa saringan (sieve analysis) atau uji gradasi
ASTM (1980) : C 136 dan D 422
AASHTO (1978) T27 dan T 88

Table 1. Standar ukuran saringan dan hubungannya dengan lubang
Saringan

US Standart Sieve
No
Sieve opening (mm)
4
10
20
40
60
100
140
200
4,75
2,00
0,85
0,425
0,25
0,15
0,106
0,075
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


11

Untuk tanah berbutir halus (lebih halus dari saringan no 200 US Standart
Sieve)
Menggunakan analisa hidrometer :
Analisa Hidrometer didasarkan pada Hukum Stokes : butiran yang
mengendap dalam cairan mempunyai kecepatan mengendap yang
tergantung pada diameter butir dan kerapatan butir dalam cairan. ASTM
(1980) D422, AASHTO (1978) T88.


Gambar 1.Alat Uji Analisa Saringan

2. 1. KURVA DISTRIBUSI UKURAN BUTIR
Hasil dari analisa mekanik (sieve analysis dan hidrometer), umumnya
digambar di atas kertas semi logaritmik , dikenal sebagai kurva distribusi ukuran
butir.
Dari kurva tersebut dapat dibedakan :
- well graded : tanah bergradasi tidak seragam
- uniform graded : tanah bergradasi seragam poorly graded
- gap graded/ skip graded : tanah bergradasi berjenjang

Kurva distribusi ukuran butir dapat dilihat pada Gambar 2.

Untuk menentukan tipe gradasi tersebut ada parameter lain, yaitu :
• Koefisien keseragaman :

10
60
D
D
Cu =


D60 = diameter butir (dalam mm) yang berhubungan dengan 60% lolos
D10 = diameter butir (dalam mm) yang berhubungan dengan 10% lolos
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


12

- Harga Cu makin kecil : tanah makin seragam
- Cu = 1 : tanah hanya mempunyai 1 ukuran
- Tanah yang bergradasi sangat jelek misalnya : pasir pantai, Cu = 2 atau 3
- Tanah dengan gradasi sangat baik Cu>15 atau lebih
- Harga Cu sampai dengan 1000

• Koefisien kelengkungan :

) 60 )( 10 (
) 30 (
2
D D
D
Cc =


- D30 = diameter butir (dalam mm) dimana 30% lolos saringan
- Cc di antara 1 dan 3 : gradasi baik
Sepanjang Cu > 4 untuk kerikil
Cu > 6 untuk pasir

Gambar 2. Kurva distribusi ukuran Butir




Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


13

Soal :
1. Dari kurva distribusi ukuran butir yang ditunjukkan pada gambar 2, hitung
D10, Cu, Cc untuk tiap kurva distribusi ukuran butir tersebut.

2. Hasil percobaan analisa ayakan untuk dua jenis tanah adalah :

Ukuran ayakan Berat tanah tertinggal
pada
masing-masing
ayakan
(mm) Contoh A (gram) Contoh B (gram)
37.5
19
9.5
4.75
2.36
1.18
0.6
0.3
0.21
0.15
0.075
pan
0.0
26
31
11
18
24
21
41
32
16
15
15



0.0
8.0
7.0
11.0
21.0
63.0
48.0
14.0
3.0
250 175.0
a. Hitung Cu dan Cc untuk masing-masing tanah
b. Hitung berapa prosentase kerikil, pasir, dan butir halus untuk masing-
masing tanah.

3. Berikut ini adalah hasil dari analisis ayakan
a. Tentukan presentase butiran yang lebih halus (yang lolos) dari tiap-tiap
ayakan dan gambarkan kurva distribusi ukuran butirnya
b. Tentukan D10, D30, D60 dari kurva distribusi ukuran butir tersebut
c. Hitung koefisien keseragaman Cu
d. Hitung koefisien gradasi Cc
e. Beri komentar bagaimana gradasi tanah tersebut

3. BATAS-BATAS ATTERBERG

Apabila tanah berbutir halus mengandung mineral lempung, maka tanah
tersebut dapat diremas-remas tanpa menimbulkan retakan. Sifat kohesif ini
disebabkan oleh karena adanya air yang terserap di sekeliling permukaan dari
partikel lempung. Pada awal tahun 1900-an seorang ilmuwan dari Swedia
bernama Atterberg menjelaskan pengaruh dari variasi kadar air terhadap
konsistensi tanah berbutir halus. Bila kandungan air sangat tinggi, maka
campuran tanah dan air akan menjadi sangat lembek seperti cairan. Oleh
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


14

sebab itu atas dasar kandungan air pada tanah, dapat dipisahkan ke dalam
empat keadaan dasar , Yaitu : padat, semi padat, plastis dan cair seperti
ditunjukkan pada gambar di bawah ini .


Padat/solid semi padat/semi solid plastis cair




Kadar air bertambah

Batas Susut (SL) Batas Plastis (PL) Batas Cair (LL)

Gambar 3. Pengertian batas-batas Atterberg

Kadar air dinyatakan dalam prosen , dimana terjadi transisi dari keadaan
padat ke semi padat didefinisikan sebagai batas susut (shrinkage limits). Kadar
air dimana transisi dari keadaan semi padat ke keadaan plastis terjadi
dinamakan batas plastis (plastic limits), dan dari keadaan plastis ke keadaan
cair dinamakan batas cair (liquid limits).
Batas-batas ini dinamakan dengan BATAS-BATAS ATTERBERG

Karena batas-batas Atterberg adalah kadar air dimana perilaku tanah
berubah, keadaan ini dapat dihubungankan dengan kurva tegangan-
regangan yang dihasilkan pada Gambar 4.














Gambar 4. Hubungan tegangan –regangan pada masing-masing fase tanah



Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


15

3.1. PENGUJIAN BATAS CAIR, BATAS PLASTIS, BATAS SUSUT
Pengujian tersebut dilakukan di laboratorium berdasarkan ASTM sbb :

Batas cair (LL) ASTM D-423 c
Batas plastis(PL) ASTM D-424
Batas susut ASTM D-427

• BATAS CAIR (LL)
Skema dari alat (tampak samping) yang digunakan untuk menentukan
batas cair diberikan dalam Gambar 5 Alat tersebut terdiri dari mangkok
kuningan yang bertumpu pada dasar karet yang keras . Mangkok kuningan
dapat diangkat dan dijatuhkan di atas dasar karet keras tersebut dengan
sebuah pengungkit eksentris (cam) dijalankan oleh suatu alat pemutar.
Untuk melakukan uji batas cair, pasta tanah diletakkan dalam mangkok
kuningan kemudian digores tepat di tengahnya dengan menggunakan alat
penggores standar (gambar 5b). Dengan menjalankan alat pemutar ,
mangkok kemudian dinaikturunkan dari ketinggian 0,3937 in (10 mm). Kadar
air dinyatakan dalam persen, dari tanah yang dibutuhkan untuk menutup
goresan yang berjarak 0,5 in (12,7 mm) sepanjang dasar contoh tanah di
dalam mangkok (lihat gambar 2.3c dan 2.3d) sesudah 25 pukulan
didefinisikan sebagai batas cair (liquid limit).

Untuk mengatur kadar air dari tanah yang bersangkutan agar dipenuhi
persyaratan di atas ternyata sangat sulit. Oleh karena itu kalau dilakukan uji
batas cair paling sedikit empat kali pada tanah yang sama tetapi pada
kadar air yang berbeda-beda sehingga jumlah pukulan N, yang dibutuhkan
bervariasi antara 15 dan 35. Kadar air dari tanah, dalam persen, dan jumlah
pukulan masing-masing uji digambarkan di atas kertas grafik semi log
(Gambar 6). Hubungan antara kadar air dan log N dapat dianggap sebagai
garis lurus. Garis lurus tersebut dinamakan sebagai kurva aliran (flow curve).
Kadar air yang bersesuaian dengan N = 25, yang ditentukan dari kurva aliran,
adalah batas cair dari tanah yang bersangkutan.

Kemiringan dari garis aliran (flow line) didefinisikan sebagai indeks aliran
(flow index) dan dapat ditulis sebagai :

1
2
log
2 1
N
N
w w
If

=

dimana :
If = indeks aliran
w1 = kadar air, dalam persen dari tanh yang bersesuaian dengan jumlah
pukulan N1
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


16

w2 = kadar air, dalam persen, dari tanah yang besesuaian dengan jumlah
pukulan N2

Jadi, persamaan garis aliran dapat dituliskan dalam bentuk yang umum,
sebagai berikut

C N If w + − = log

Atas dasar hasil analisis dari beberapa uji batas cair, US waterways Experiment
Station, Vicksburg, Mississippi (1949) mengajukan suatu persamaan empiris untuk
menentukan batas cair yaitu :

β
|
¹
|

\
|
=
tan
25
N
LL

dimana :
N = jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk menutup goresan selebar 0,5 in
pada dasar contoh tanah yang diletakkan dalam mangkok kuningan dari
alat uji batas cair.
WN = kadar air dimana untuk menutup dasar goresan dari contoh tanah
dibutuhkan pukulan sebanyak N
tan β = 0,121 (harap dicatat bahwa tidak semua tanah mempunyai harga tan β
=0,121)


Gambar 5. Uji batas cair : a)alat untuk uji batas cair, b) alat untuk menggores,
d)contoh tanah sebelum diuji, d)contoh tanah setelah diuji
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


17


Gambar 6. Kurva aliran

Soal :
1. Dari percobaan penentuan batas cair (LL) suatu contoh tanah berbutir
diperoleh data sebagai berikut
A)
Jumlah ketukan Kadar air %
15
18
20
30
37
45
77
74
72
65
61
59

B)
Jumlah ketukan Kadar air (%)
16
20
30
50
58.0
56.6
54.0
50

Tentukan batas cair (LL) untuk tanah A maupun tanah B.





Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


18

• BATAS PLASTIS (PL)
Batas plastis didefinisikan sebagai kadar air, dinyatakan dalam persen,
dimana tanah apabila digulung sampai dengan diameter 1/8 in (3,2 mm)
menjadi retak-retak. Batas plastis adalah batas terendah dari tingkat
keplastisan suatu tanah. Cara pengujiannya sangat sederhana, yaitu
dengan cara menggulung tanah berukuran elipsoida dengan telapak
tangan di atas kaca datar ( gambar 8a dan 8b)

Indeks Plastisitas (plasticity index (PI)) adalah perbedaan antara batas cair
dan batas plastis suatu tanah, atau :


PL LL PI − =




Gambar 7. Uji batas plastis. a) Contoh yang sedang digulung,
b)gulungan tanah yang retak-retak

• BATAS SUSUT (SL)
Suatu tanah akan menyusut apabila air yang dikandungnya secara
perlahan-lahan hilang dari dalam tanah. Dengan hilangnya air secara terus-
menerus, air akan mencapai tingkat keseimbangan dimana penambahan
kehilangan air tidak akan menyebabkan perubahan volume (gambar 9). Kadar
air, dinyatakan dalam persen di mana perubahan volume suatu massa tanah
berhenti dinamakan batas susut.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


19

Uji batas susut di laboratorium dilakukan di laboratorium menggunakan
mangkok poselin dengan diameter kira – kira 1,75 in (44,4 mm) dan tinggi kira-
kira 0,5 in ( 12,7 mm). Bagian dalam dari mangkok diolesi vaselin kemudian diisi
tanah basah sampai penuh. Permukaan tanah di dalam mangkok kemudian
diratakan dengan menggunakan penggaris yang bersisi lurussehingga
permukaan tanah tersebut menjadi sama tinggi dengan sisi mangkok. Berat
tanah basah di dalam mangkok ditentukan. Tanah dalam mangkok kemudian
dikeringkan di dalam oven. Volume dari contoh tanah yang telah dikeringkan
ditentukan dengan menggunakan air raksa.


Gambar 8. Definisi batas susut


Seperti ditunjukkan dalam Gambar 8. batas susut ditentukan dengan cara
berikut :


(%) (%) w wi SL ∆ − =

dimana :

wi = kadar air tanah mula-mula pada saat ditempatkan di dalam mangkok uji
batas susut
∆w = perubahan kadar air (yaitu antara kadar air mula-mula dan kadar air
pada batas susut


Tetapi :

100
2
2 1
(%) x
m
m m
wi

=

dimana :
m1 = massa tanah basah dalam mangkok pada saat permulaan pengujian
(gram)
m2 = massa tanah kering (gram), lihat gambar .8
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


20

Selain itu :

100
2
) (
(%) x
m
w Vf Vi
w
ρ −
= ∆


dimana :
Vi = volume contoh tanah basah pada sat permulaan pengujian (yaitu volume
mangkok, cm3.
Vf = volume tanah kering sesudah dikeringkan di dalam oven
Ρw = kerapatan air (gr/cm3)

Dengan menggabungkan persamaan-persamaan di atas, maka didapat :


) 100 (
) (
) 100 (
2 2
2 1
(
¸
(

¸


|
|
¹
|

\
| −
=
m
w Vf Vi
m
m m
SL
ρ


SOAL TUGAS
2. Hasil-hasil batas-batas Atterberg pada suatu contoh tanah memberikan
hasil seperti pada tabel berikut ini :

Uji Batas Cair (massa dalam gr)
Jumlah ketukan 17 21 26 30 34
No.pengujian 1a
1b
2a 2b 3a 3b 4a
4b
5a
5b
Massa basah
total (tanah +
cawan)
9,35
9,68
13,69
12,16
10,11
9,27
10,31
11,08
11,50
9,59
Massa kering
total (tanah +
cawan)
8,79
9,20
11,35
10,19
8,67
8,02
8,84
9,42
9,78
8,31
Massa cawan 7,11
7,77
4,05
4,05
4,10
4,07
4,10
4,10
4,07
4,05

Uji Batas Plastis (massa dalam gr)
Pengujian 1 Pengujian 2
Nomor cawan A B C D
Massa basah total 6,32 6,56 6,54 6,36
Massa kering total 5,94 6,15 6,12 5,97
Massa cawan 4,06 4,10 4,07 4,05

a. Tentukan batas cair tanah tersebut.
b. Tentukan batas plastis dari tanah tersebut.
c. Berapakah indeks plastisitas tanah tersebut ?

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


21

3. Dari percobaan penentuan batas cair (LL) suatu contoh tanah berbutir
diperoleh data sebagai berikut

Jumlah ketukan Kadar air %
15
18
20
30
37
45
77
74
72
65
61
59

a. Tentukan batas cair (LL) untuk tanah tersebut
b. Jika plastic limit = 32% untuk tanah tersebut, dan kadar air natural di
lapangan sebesar 27%, tentukan harga PI dan LI tanah tersebut. Serta
prediksikan keadaan tanah tersebut di lapangan,
c. Berikan penjelasan apa yang dimaksud dengan LL, PL, PI dalam
batas-batas Atterberg, dan apa fungsinya dalam mekanika tanah.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


22

MODUL 3
KLASIFIKASI TANAH

1. PENGERTIAN KLASIFIKASI TANAH

Berbagai usaha telah dilakukan untuk memperoleh klasifikasi umum yang
dapat membantu dalam memprediksi perilaku tanah ketika mengalami
pembebanan. Metode yang telah dibuat didasarkan pada pengalaman yang
diperoleh dalam perancangan fondasi dan riset. Dari sini, tanah fondasi yang
ditinjau menurut klasifikasi tertentu dapat diprediksi perilakunya, yaitu
didasarkan pada pengalaman di lokasi lain, namun memiliki tipe tanah yang
sama.

• Sistem klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis
tanah yang berbeda-beda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam
kelompok-kelompok dan sub kelompok-sub kelompok berdasarkan
pemakaiannya.
• Sistem klasifikasi memberikan bahasa yang mudah untuk menjelaskan
secara singkat sifat-sifat tanah yang bervariasi tanpa penjelasan yang
terinci.

2. FUNGSI KLASIFIKASI TANAH

Dalam perancangan fondasi, klasifikasi tanah berguna sebagai petunjuk
awal dalam memprediksi kelakuan tanah. Engineer akan mempunyai gambaran
yang baik mengenai perilaku tanah tersebut dalam berbagai situasi, misalnya
selama konstruksi, di bawah beban-beban struktural dan lain lain.

3. Sistem Klasifikasi AASHTO

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


23



Soal :
1. Hasil dari uji analisis distribusi butir suatu tanah adalah sebagai berikut :
Presentase butiran yang lolos ayakan No.10 = 100%
Presentase butiran yang lolos ayakan No.40 = 58%
Presentase butiran yang lolos ayakan No.200 = 58%
Batas cair (LL) dan indeks plastisitas (PI) dari tanah yang lolos ayakan
No.40 adalah 30 dan 10
Klasifikasikan tanah tsb dg cara AASHTO

2. 95% dari berat suatu tanah lolos ayakan no.200 dan mempunyai batas
cair 60 dan indeks plastisitas 40. Klasifikasikan tanah tersebut dengan
sistem AASHTO



Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


24

3. Klasifikasikan tanah berikut dengan metode AASTHO



4. Sistem Klasifikasi USCS

Dalam sistem klasifikasi tersebut secara garis besar tanah dibagi dalam 2
kelompok : kelompok tanah berbutir kasar dan tanah berbutir halus yang
didasarkan material yang lolos saringan nomor 200 (diameter 0,075 mm). Huruf
pertama pada pemberian nama kelompoknya, adalah merupakan singakatan
dari jenis-jenis tanah berikut :
G = kerikil (gravel)
S = pasir (sand)
M = lanau (silt, hurf M singkatan dari MO, bahasa Skandinavia)
C = lempung (clay)
O = organik (organic)
Pt = gambut (peat)

Huruf-huruf kedua dari klasifikasi dinyatakan dalam istilah-istilah :

W = gradasi baik (well graded)
P = gradasi buruk (poor graded)
L = plastisitas rendah (low plasticity)
H = plastisitas tinggi (high pasticity)


Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


25




Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


26

Soal :

1. Klasifikasikan tanah berikut berdasarkan USCS



Tanah A

Tanah B

LL

PL

30

22

26

20






SOAL TUGAS

1. Klasifikasikan berdasrkan AASTHO dan USCS

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


27







Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


28











Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


29


2. Diberikan data analisa saringan dan data plastisitas untuk tanah berikut :

Ukuran
saringan
Soil 1
% lolos
Soil 2
% lolos
Soil 3
% lolos
Soil 4
% lolos
Soil 5
% lolos
No.4
No.10
No.40
No.100
No.200
99
92
86
78
60
97
90
40
8
5
100
100
100
99
97
99
96
89
79
70
23
18
9
5
4
LL
PL
PI
20
15
5
-
-
NP
124
47
77
49
24
25
-
-
NP

Klasifikasikan tanah-tanah tersebut menurut system AASHTO dan USCS


3. Diberikan data analisa saringan dan data plastisitas untuk tanah berikut :






Contoh soal:
Contoh-contoh tanah kohesif yang diambil dari beberapa lokasi pekerjaan,
dilihatkan dalam Tabel berikut. Pada tabel tersebut kadar air rata-rata di
lapangan yang ditunjukkan dalam kolom 2 diambil dari beberapa contoh
tanah. Nilai angka pori pada kondisi kadar air di lapangan diberikan dalam
kolom 3, bersama-sama dengan angka pori yang diambil pada saat contoh
tanah pada kedudukan bats cair dan batas plastis. Perhatikan, pada tanah 2,
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


30

nilai PL bnervariasi menurut kedalaman contohnya, yaitu semakin dalam,
nilainya semakin mengecil. Nilai G, dapat dianggap sama dengan 2,65.



Penyelesaian :

Pada saat tanah jenuh (S = 1) berlaku :
e = wG, atau w = e/G
Bila kadar air di lapangan (Wn), berkurang dari nilai w = e/G, maka tanah
dalam kondisi tidak jenuh. Sebaliknya jika nilai Wn lebih besar dari pada nilai
tersebut, berarti tanah di lapangan dalam kondisi jenuh.

Tanah 1 :
LL = 28% ; PL = 25% ; maka PI = LL – PL = 3%. PI sangat rendah, kemungkinan besar
tanahnya adalah lanau sedikit kohesif. Kadar air di lapangan Wn = 21%, lebih
kecil dari w = e/Gs = 0,63/2,65 = 0,24 = 24%, maka tanah di lapangan dalam
kondisi tidak jenuh dengan kadar air di lapangan lebih rendah dari pada PL
(karena kadar air oada batas plastis PL = 0,66/2,65 = 25%)

Tanah 2 :
WN = 38%, sedikit lebih besar dari pada PL maksimum = 36%, jadi tanah di
lapangan dalam keadaan plastis. Dari nilai LL = 52% dan PI yang berkisar antara
(52 – 36)% = 16% dan (52 – 26)% = 26%, menurut grafik plastisitas, tanah termasuk
lanau anorganik berkompresibilitas tinggi (MH) (jika tanahnya anorganik). Dari
variasi PI yang bertambah dengan kedalamannya, dapat diperkirakan kuat
geser tanah ini bertambah jika kedalaman bertambah. Yaitu dengan
mengingat korelasi antara kuat geser undrained (tak-terdrainasi) dan PI, cu/po’
= 0,11 + 0,0037(PI), yang disarankan oleh Skempton (1957) dengan po’ =
tekanan overburden efektif).
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


31

Tanah 3 :
LL = 38% dan PI = 25%, maka PL = (38 – 25)% = 13%. Dari nilai-nilai LL dan PI,
menurut Gambar 1.11 maka diperkirakan tanah termasuk lempung anorganik
berplastisitas sedang (CI). Nilai kadar air di lapangan WN = 21%, jadi tanah masih
dalam daerah plastis. Dari angka pori e = 0,56, maka tanah dalam kondisi jenuh,
karena w = 0,56/2,65 = 21% = WN.

Tanah 4 :
Dari LL = 19% dan PI = 30%, sedangkan dari kenampakan mata tanah adalah
pasir halus, hasil-hasil pengujian laboratorium tersebut harus ditinjau kembali,
karena tanah pasir tidak akan mempunyai PI = 30%. Tanah di lapangan mungkin
dalam kondisi sangat basah, karena WN = e/Gs = 0,52/2,65 = 19,6 > LL = 19%.
Jadi, tanah di lapangan pada kedudukan kadar air yang melebihi batas
cairnya.

Tanah 5 :
Dari angka pori pada kedudukan batas plastis e = 0,85 = w/Gs, diperoleh kadar
air pada batas plastis PL = 0,85/2,65 = 32%. Kadar air di lapangan WN = 35%, lebih
besar dari bats plastisnya maka tanah dalam kondisi plastis.
PI = LL – PL = (62 – 32)% = 30%. Jika PI dan LL diplot pada grafik plastisitas, maka
akan jatuh di dekat batas antara lanau kompresibilitas tinggi (MH) dan lempung
plastisitas tinggi (CH). Untuk perancangan fondasi, maka perlu dilakukan uiji
konsolidasi.

Contoh Soal:
Hasil-hasil analisis ukuran butir dari 5 tipe tanah yang disertai dengan klasifikasi
tanah menurut MIT. Bagaimana interpretasi yang dapat diberikan dari masing-
masing kurvanya?
:
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


32

(a) Tanah SC :
Kurva ini memperlihatkan tanah dengan kira-kira 25% berupa kerikil. Kuravanya
banyak berada pada daerah pasir dengan sedikit kandungan lanau (kira-kira
6%) dan kandungan lempung 15%. Campuran pasir dan lempung yang
demikian dapat saling mengikat dan dapat dipadatkan dengan baik.

(b) Tanah CH
Terdiri dari material lempung sebanyak 60%. Pada umumnya, jika tanah semakin
halus, kurvanya akan semakin ke kanan. Walaupun 40% lebih kasar dari butiran
lempung, tanah nampak bersifat sebagai tanah lempung. Pada kenyataannya,
tanah dengan 30% lebih butiran lempung, diharapkan berperilaku seperti
lempung. Karena konsentrasi butiran halusnya tinggi, maka tanah ini
berplastisitas tinggi.

(c) Tanah ML
Kira-kira 70% dari material ini berada pada tanah pasir, terutama pada daerah
pasir halus. Material sisanya adalah ukuran lanau. Tanah ini dapat dikatakan
sebagai pasir berlanau atau pasir halus berlanau, karena kurva tercuram pada
bagian pasir halus.

(d) Tanah SF
Tanah ini berada pada interval pasir dan lanau. Kira-kira 60% terdiri dari pasir
halus, lanau, dan lempung, dengan kira-kira 30% berupa lempung. Tanah ini
berupa pasir yang banyak mengandung butiran halus, jadi dapat dinyatakan
sebagai pasir berlempung.

(e) Tanah GP :
Kira-kira 75& dari berat material terdiri dari butiran yang lebih besar 6 mm.
Kurvanya menurun tajam, menunjukkan banyaknya butiran berukuran lebih
besar dari 6 mm. Sebaliknya, pada kurva selanjutnya, kemiringan kurva kelihatan
landai yang berarti kekurangan butiran-butiran pada ukuran tersebut. Tanah ini
termasuk tanah berbutir kasar dan dapat dinyatakan sebagai kerikil berpasir.

Soal :
1. Dari percobaan penentuan batas cair (LL) suatu contoh tanah berbutir
diperoleh data sebagai berikut
A)
Jumlah ketukan Kadar air %
15
18
20
30
37
45
77
74
72
65
61
59
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


33

B)
Jumlah ketukan Kadar air (%)
16
20
30
50
58.0
56.6
54.0
50

a. Tentukan batas cair (LL) untuk tanah A maupun tanah B.
b. Jika plastic limit = 33% untuk tanah A dan 40 % untuk tanah B, maka
klasifikasikan tanah tersebut menurut USCS dan AASTHO

2). 30%
Diberikan data analisa saringan dan data plastisitas untuk tanah berikut :
Ukuran
saringan
Soil 1
% lolos
Soil 2
% lolos
Soil 2
% lolos
Soil 4
% lolos
Soil 5
% lolos
No.4
No.10
No.40
No.100
No.200
99
92
86
78
60
97
90
40
8
5
100
100
100
99
97
99
96
89
79
70
23
18
9
5
4
LL
PL
PI
20
15
5
-
-
NP
124
47
77
49
24
25
-
-
NP

Klasifikasikan tanah-tanah tersebut menurut system AASHTO dan USCS

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


34

MODUL 4
Aliran air Dalam Tanah

1. PENGERTIAN DASAR

Tanah adalah merupakan susunan butiran padat dan pori-pori yang saling
berhubungan satu sama lain sehingga air dapat mengelir dari satu titik yang
mempunyai energi lebih tinggi ke titik yang mempunyai energi lebih rendah.
Studi mengenai aliran air melalui pori-pori tanah diperlikan dalam mekanika
tanah karena hal ini sangat berguna dalam :
- memperkirakan jumlah rembesan air dalam tanah
- menyelidiki masalah-masalah yang menyangkut pemompaan air untuk
konstruksi di bawah tanah
- menganalisis kestabilan suatu bendungan tanah dan konstruksi dinding
penahan tanah yang terkena gaya rembesan.

2. GRADIEN HIDROLIK

Menurut persamaan Bernoulli :

Z
g
v
w
p
h + + =
2
2
γ


dimana :
h = tinggi energi total
p = tekanan
v = kecepatan
g = percepatan disebabkan oleh gravitasi
γw = berat volume air

Karena kecepatan rembesan air di dalam tanah adalah sangat kecil, maka
bagian dari persamaan yang mengandung tinggi kecepatan dapat diabaikan.

Gambar.1. menunjukkan hubungan antara tekanan, elevasi, dan tinggi energi
total dari suatu aliran air dalam tanah. Tabung piezometer dipasang pada titik A
dan titik B. Ketinggian air di dalam tabung piezometer A dan B disebut sebagai
muka piezometer dari titik A dan tabung piezometer pada titik tersebut. Tinggi
elevasi dari suatu titik merupakan jarak vertikal yang diukur dari suatu bidang
datum yang diambil sembarang ke titik yang bersangkutan.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


35


Gambar 1. Tekanan, elevasi, dan tinnggi enegi total energy
untuk aliran di dalam tanah

Kehilangan energi antara dua titik A dan B, dapat ditulis dengan persamaan di
bawah ini :

|
|
¹
|

\
|
+ −
|
|
¹
|

\
|
+ = − = ∆
B
B
A
Z
w
p
Z
w
pA
hB hA h
γ γ

Kehilangan energi ∆h tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan
tanpa dimensi seperti di bawah ini :

L
h
i

=


dimana :
I = gradien hidrolik
L = jarak antara titik A dan B , yaitu panjang aliran air dimana kehilangan
tekanan terjadi
Pada umumnya , variasi kevcepatan v dengan gradien hidrolik i dapat
dijalankan seperti dalam gambar.2. Gambar ini membagi grafik dalam ketiga
zone :

a. Zona aliran laminar (zona I)
b. Zona transisi (zona II) dan
c. Zona aliran turbulen (zona III)

Bilamana gradien hidrolik bertambah besar secara perlahan-lahan, aliran di
zona I akan tetap laminar, dan kecepatan v akan mempunyai gradien hidrolik .
Pada gradien hidrolik yang lebih tinggi, aliran menjadi turbulen (zona III).
Bilamana gradien hidrolik berkurang , keadaan aliran laminar akan terjadi di
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


36

zona I saja. Pada kebanyakan tanah , aliran air melalui ruang pori dapat
dianggap sebagai aliran laminar sehingga :
V ≈ i

Di dalam batuan, kerikil dan pasir yang sangat kasar, keadaan aliran turbulen
mungkin terjadi. Dalam hal ini mungkin persamaan di atas tidak berlaku.




Gambar 2. Variasi kecepatan aliran v dengan gradien hidrolik i

3. HUKUM DARCY

Pada tahun 1856, Darcy memperkenalkan suatu persamaan sederhana yang
digunakan untuk menghitung kecepatan aliran air yang mengalir dalam tanah
jenuh, dinyatakan sbagai berikut :

ki v =

dimana :
v = kecepatan aliran,
k = koefisien rembesan

4. KOEFISIEN REMBESAN

Koefisien rembesan (coefficient of permeability) tergantung pada beberapa
factor , yaitu kekentalan cairan, distribusi ukuran butir pori, distribusi ukuran butir,
angka pori, kekasaran permukaan butiran tanah, dan derajat kejenuhan tanah.
Pada tanah berlempung struktur tanah memegang peranan penting dalam
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


37

dalam menentukan koefisien rembesan. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi
sifat rembesan tanah lempung adalah konsentrsi ion dan ketebalan lapisan air
yang menempel pada butiran lempung.

Tabel 1 harga-harga koefisien rembesan pada umumnya.


Penentuan Koefisisen Rembesan di Laboratorium
Ada 2 metode, yaitu :
1. Uji tinggi konstan
2. Uji tinggi jatuh
TUGAS : Carilah referensi tentang pelaksanaan 2 uji tersebut.

Gambar 2. Uji rembesan dengan cara tinggi konstan
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


38



Gambar 3. Uji rembesan dengan cara tinggi jatuh

Rembesan Ekivalen pada Tanah Berlapis –lapis
a. Apabila arah aliran horizontal


Gambar 4. Penentuan koefisien rembesan ekivalen untuk aliran horizontal
di dalam tanah yang berlapis-lapis
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor



b. Apabila arah aliran vertical
Gambar 4. Penentuan koefisien rembesan ekivalen untuk aliran vertikal
di dalam tanah yang berlapis


5. TINGGI ENERGI DAN ALIRAN SATU DIMENSI

Pada awal modul ini telah diterangkan bahwa ada tiga macam tinggi energi
yang dihubungkan dengan persamaan Bernoulli, dimana
adalah jumlah dari tinggi tekanan

z hp h + =

Dari gambar 1. kita dapat memahami konsep tersebut. Pada gambar 5.
merupakan sebuah silinder terbuka yang separuhnya berisi tanah. Aliran air
dalam tanah tersebut dimulai dari elevasi A dan berakhir di elevasi E.
Pada piezometer C, tinggi tekanan adalah adalah jarak AC dan tinggi elevasi z
adalah jarak CE. Jadi tinggi energi total pada titik C adalah jumlah dari dua
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor
39
Apabila arah aliran vertical
Gambar 4. Penentuan koefisien rembesan ekivalen untuk aliran vertikal
di dalam tanah yang berlapis-lapis

ENERGI DAN ALIRAN SATU DIMENSI
Pada awal modul ini telah diterangkan bahwa ada tiga macam tinggi energi
yang dihubungkan dengan persamaan Bernoulli, dimana tinggi energi total
tinggi tekanan dan tinggi elevasi , atau
Dari gambar 1. kita dapat memahami konsep tersebut. Pada gambar 5.
merupakan sebuah silinder terbuka yang separuhnya berisi tanah. Aliran air
dalam tanah tersebut dimulai dari elevasi A dan berakhir di elevasi E.
Pada piezometer C, tinggi tekanan adalah adalah jarak AC dan tinggi elevasi z
adalah jarak CE. Jadi tinggi energi total pada titik C adalah jumlah dari dua



Gambar 4. Penentuan koefisien rembesan ekivalen untuk aliran vertikal
Pada awal modul ini telah diterangkan bahwa ada tiga macam tinggi energi
tinggi energi total
Dari gambar 1. kita dapat memahami konsep tersebut. Pada gambar 5.
merupakan sebuah silinder terbuka yang separuhnya berisi tanah. Aliran air
dalam tanah tersebut dimulai dari elevasi A dan berakhir di elevasi E.
Pada piezometer C, tinggi tekanan adalah adalah jarak AC dan tinggi elevasi z
adalah jarak CE. Jadi tinggi energi total pada titik C adalah jumlah dari dua
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


40

jarak tersebut atau AE. Untuk titik lain dapat dicari dengan cara yang sama
ditunjukkan pada table 4.2. di bawahnya.
Kehilangan energi pada titik C belum terjadi. Pada titik D yang letaknya di
pertengahan sample kehilangan energi adalah ½ AE dan pada titik F
kehilangan energi total telah terjadi.


Gambar 5
Titik Tinggi
Tekanan
Tinggi
Elevasi
Tinggi Energi
Total
Kehilangan
Energi Melalui Tanah
B AB BE AE 0
C AC CE AE 0
D CD DE CE ½ AE
F EF -EF 0 AE
Contoh :

Silinder horisontal yang berisi tanah ditunjukkan pada gambar berikut. Asumsikan
L=10 cm, A = 10 cm
2
dan ∆h = 5 cm. Elevasi muka air di tabung yang tinggi 5 cm
di atas pertengahan silinder. Tanah adalah sand dengan e = 0,68.

Hitung :
Tinggi tekanan, tinggi elevasi dan tinggi energi total A, B, C, D, E

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


41

MODUL 5
Rembesan dan Jaringan Aliran

1. PENGERTIAN DASAR

Konsep dari tinggi energi dan kehilangan energi ketika air mengalir melalui
tanah telah disebutkan dalam modul sebelumnya. Ketika air mengalir melalui
medium berpori seperti tanah akan terjadi kehilangan energi yang terserap oleh
tanah. Seperti pada gambar di bawah di mana air mengalir melalui bawah
bendung atau di bawah sheet pile cofferdam (gb..1)




Gambar.1. Contoh-contoh kehilangan energi karena rembesan melalui tanah

2. ALIRAN DUA DIMENSI DI BAWAH BENDUNG

Pada gambar 2. menunjukkan bagaimana energi atau kehilangan energi di
bawah bendung. Terlihat bahwa tinggi muka air dalam piezometer berkurang
sebagaimana air mengalir dari hulu ke kaki bendung.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


42


Gambar 2.Contoh dari tinggi tekanan dan kehilangan energi akibat rembesan
di bawah bendung

3. JARINGAN ALIRAN

Garis aliran adalah suatu garis sepanjang mana butir-butir akan bergerak dari
bagian hulu ke bagian hilir sungai melalui media tanah yang tembus air
(permeable). Garis ekipotensial adalah suatu garis sepanjang mana tinggi
potensial di semua titik pada garis tersebut adalah sama. Jadi apabila alat-alat
piezometer diletakkan di beberapa titik yang berbeda-beda di sepanjang suatu
garis ekipotensial, air di dalam piezometer tersebut akan naik pada ketinggian
yang sama. Gambar 3 a menunjukkan definisi garis aliran dan garis ekipotensial
untuk aliran di dalam lapisan tanah yang tembus air (permeable layer) di
sekeliling jajaran turap yang ditunjukkan pada gambar tersebut (untuk kx = kz =
k)

Kombinasi dari beberapa garis aliran dan garis ekipotensial dinamakan jaringan
aliran (flow net). Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa jaringan aliran
dibuat untuk menghitung aliran air tanah.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


43




Gambar.3 a) Definisi garis aliran dan garis ekipotensial.
b) Gambar jaringan aliran yang lengkap

3.1. PENGGAMBARAN JARINGAN ALIRAN
Dalam pembuatan jaringan aliran, garis-garis aliran dan ekipotensial digambar
sedemikian rupa sehingga :
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


44

1. Garis ekipotensial memotong tegak lurus aliran
2. Elemen-elemen aliran dibuat kira-kira mendekati bentuk bujur sangkar.

Gambar 3. b adalah suatu contoh jaringan aliran yang lengkap. Contoh lain
dari jaringan aliran dalam lapisan tanah yang tembus air yang isotropic
diberikan dalam gambar.4.
Penggambaran suatu jaringan aliran biasanya harus dicoba berkali-kali. Selama
menggambar jaringan aliran, harus selalu diingat kondisi-kondisi batasnya. Untuk
jaringan aliran yang ditunjukkan dalam gambar.4 , keadaan batas yang dipakai
adalah :
1. Permukaan lapisan tembus air pada bagian hulu dan hilir dari sungai
(garis ab dan de) adalah garis-garis ekipotensial.
2. Karena garis ab dan de adalah garis-garis ekipotensial, semua garis-garis
alirannya memotomh tegak lurus.
3. Batas lapisan kedap air, yaitu garis fg, adalah garis aliran ; begitu juga
permukaan turap kedap air, yaitu garis acd.
4. Garis-garis ekipotensial memotong acd dan fg tegak lurus.



Gambar 4. Jaringan aliran di bawah bendungan.

3.2. PERHITUNGAN REMBESAN DARI SUATU JARINGAN ALIRAN

Di dalam jaringan aliran (flow net), daerah di antara dua garis aliran yang
berdekatan dinamakan saluran aliran (flow channel). Untuk memahami
perhitungan rembesan yang melalui saluran aliran per satuan lebar (tegak lurus
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


45

terhadap bidang gambar) perhatikan gambar.5. Dengan melihat persegi
dengan dimensi a x b. Dapat dilihat bahwa gradien hidrolik adalah :
b
Nd hL
b
h
l
h
i
/
=

=


=

dimana :
l b ∆ =
. Penurunan energi potensial (potential drop) di antara 2 garis
adalah :
Nd hL h / = ∆
, dimana Nd adalah jumlah total potential drop, dan hL
adalah kehilangan energi total dalam sistem. Dari hukum darcy kita tahu bahwa
jumlah aliran tiap flow channel adalah :
a
b
Nd hL
k A
l
h
k q
|
¹
|

\
|
=


= ∆
/

dan q total per satuan kedalaman adalah :
|
¹
|

\
|
|
¹
|

\
|
= ∆ =
Nd
Nf
b
a
hL k qNf q

di mana :
Nf : jumlah total flow channel dalam flow net.
Nd : jumlah potential drop (banyaknya bidang bagi kehilangan energi
potensial)
k : koefisien permeabilitas tanah
hL : kehilangan energi total (perbedaan tinggi muka air pada bagian
hulu dan hilir)
q : banyaknya air yang mengalir (jumlah total aliran).

Di dalam menggambar flow net , semua alirannya tidak harus dibuat bujur
sangkar. Hanya perhitungan menjadi lebih mudah apabila perbandingan
panjang dan lebar dibuat sama
( a = b)


Gambar 5. Flow net yang mengilustrasikan definisi perhitungan debit
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


46

3.3. TEKANAN KE ATAS (UPLIFT PRESSURE) PADA DASAR BANGUNAN AIR.
Jaringan aliran dapat dipakai untuk menghitung besarnya tekanan ke atas yang
bekerja pada dasar sautu bangunan air. Cara perhitungannya dapat
ditunjukkan dengan suatu contoh yang sederhana. Gambar .6 menunjukkan
sebuah bendungan dimana dasarnya terletak pada kedalaman 6 ft di bawah
muka tanah. Jaringan aliran yang diperlukan sudah digambar (dianggap kx = ky
= k). Gambar distribusi tegangan yang bekerja pada dasar bendungandapat
ditentukan dengan cara mengamati garis-garis ekipotensial yang telah
digambar.

Ada tujuh buah penurunan energi potensial (Nd) dalam jaringan aliran tersebut,
dan perbedaan muka air pada bagian huku dan hilir sungai adalah H = 21 ft.
Jadi kehilangan tinggi energi untuk tiap-tiap penurunan energi potensial adalah
H/ 7 = 21/7 = 3. Tekanan ke atas (uplift pressure) pada titik-titik berikut adalah :

Titik a (ujung kiri dasar bendungan) = (tinggi tekanan pada titik a ) x (γw)
= ((21 +6)-3) γw = 24 γw

Dengan cara yang sama, pada b = (27-(2)(3) γw = 21γw
Dan pada f = (27 – (6)(3) γw = 9 γw

tekanan ke atas tersebut yang telah dihitung tersebut kemudian digambar
seperti ditunjukkan dalam gambar .6.b. Gaya ke atas (uplift force) persatuan
panjang, yang diukur sepanjang sumbu bendungan, dapat dihitung dengan
menghitung luas diagram tegangan yang digambar tersebut.



Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


47



Gambar 6. (a)Bendungan, (b) Gaya angkat ke atas yang bekerja pada dasar
suatu bangunan air

SOAL TUGAS :
1) a) Gambarkan jaringan aliran untuk rembesan di bawah suatu struktur seperti
pada gambar berikut dan hitunglah besarnya rembesan jika koefisien
permeabilitas tanah adalah 5 x 10
-5
m/detik.
b) Berapakah gaya angkat (uplift) pada dasar struktur ?





Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


48

MODUL 6
Tegangan Efektif

1. PENGERTIAN DASAR

• Tanah dapat divisualisasikan sebagai suatu kerangka partikel padat
tanah (solid skeleton) yang membatasi pori-pori yang mana pori-pori
tersebut mengandung air dan/atau udara. Untuk rentang tegangan
yang biasa dijumpai dalam praktek, masing-masing partikel padat dan air
dapat dianggap tidak kompresibel: di lain pihak, udara bersifat sangat
kompresibel.
• Volume kerangka tanah secara keseluruhan dapat berubah akibat
penyusunan kembali partikel-partikel padat pada posisinya yang baru,
terutama dengan cara menggelinding dan menggelincir yang
menyebabkan terjadinya perubahan gaya-gaya yang bekerja di antara
partikel-partikel tanah. Kompresibilitas kerangka tanah yang
sesungguhnya tergantung pada susunan struktural partikel tanah tersebut.
• Pada tanah jenuh, dengan menganggap air tidak kompresibel,
pengurangan volume hanya mungkin terjadi bila sebagian airnya dapat
melepaskan diri dan ke luar dari pori-pori.
• Pada tanah kering atau jenuh sebagian, pengurangan volume selalu
mungkin terjadi akibat kompresi udara dalam pori-pori, dan terdapat
suatu ruang untuk penyusunan kembali partikel-tanah.
• Tegangan geser dapat ditahan oleh kerangka partikel-padat tanah
dengan memanfaatkan. gaya-gaya yang timbul karena persinggungan
antar partikel. Tegangan normal ditahan oleh gaya-gaya antar partikel
pada kerangka tanah. Jika tanah berada dalam kondisi jenuh sompurna,
air pori akan mengalami kenaikan tekanan karena ikut menahan
tegangan normal.

2. PRINSIP TEGANGAN EFEKTIF

Besamya pengaruh gaya-gaya yang menjalar dari partikel ke partikel lainnnya
dalam kerangka tanah telah diketahui sejak tahun 1923, ketika Terzaghi
mengemukakan prinsip tegangan efektif yang didasarkan pada data hasil
percobaan. Prinsip tersebut hanya berlaku untuk tanah jenuh sempurna

Tegangan-tegangan yang berhubungan dengan prinsip tersebut adalah

1. tegangan normal total (σ) pada bidang di dalam tanah, yaitu gaya per
satuan luas yang ditransmisikan pada arah normal bidang, dengan
menganggap bahwa tanah adalah material padat saja (fase tunggal).
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


49

2. tekanan air pori (u), yaitu tekanan air pengisi pori-pori di antara
partikel.partikel padat;
3. tegangan normal efektif (σ') pada bidang, yang mewakili tegangan-
yang dijalankan hanya melalui kerangka tanah saja.


Hubungan ketiga tegangan di atas adalah : σ = σ' + u

Gambar.1. Interpretasi tegangan efektif

Prinsip tersebut dapat diwakili oleh model fisis sebagai berikut. Tinjaulah sebuah
'bidang' XX pada suatu tanah jenuh sempurna yang melewati titik-titik singgung
antar partikel, seperti terlihat pada Gambar 1. Bidang X-X yang bergelombang
tersebut, dalam skala besar, sama dengan bentuk bidang yang sebenarnya
karena ukuran partikel tanahrelatif kecil. Sebuah gaya normal P yang bekerja
pada bidang A sebagian ditahan oleh gaya-gaya antar partikel dan sebagian
oleh tekanan pada air pori. Gaya-gaya antar partikel pada seluruh tanah, baik
besar maupun arahnya, sangat tidak beraturan (acak), tetapi pada tiap titik
singgung dengan bidang yang bergelombang dapat diuraikan menjadi
komponen-komponen gaya yang arahnya normal dan tangensial terhadap
bidang XX yang sebenarnya. Komponen normal dinyatakan dengan N' dan
komponen tangensial dengan T tegangan normal efektif diinterpretasikan
sebagai jumlah seluruh komponen N’ di dalam luas A, dibagi dengan luas A,
yaitu :


A
N'
'
Σ
= σ

Tegangan normal total adalah :

A
P
= σ

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


50

Jika di antara partikel-partikel diasumsikan terdapat titik singgung, maka
tekanan air pori akan bekerja pada bidang seluas A. Kemudian agar dapat
tercapai keseimbangan pada arah normal terhadap XX:

uA N P + Σ = '
atau
u
A
N
A
P
+
Σ
=
'

jadi
σ = σ' + u
Besarnya tekanan air pori sama pada semua arah dan bekerja pada seluruh
permukaan partikel tetapi volume partikel diasumsikan tidak berubah. Juga,
tekanan air pori tidak menyebabkan partikel-partikel saling tertekan satu sama
lain. Kesalahan dalam mengasumsikan titik singgung antar partikel dapat
diabaikan, karena luas total bidang singgung antarpartikel hanya berkisar sekitar
1 dan 3% dari luas penampang melintang A. Perlu diinengerti bahwa σ' tidak
mewakili tegangan singgung yang sesungguhnya antara dua partikel, karena
nilai N’/a, dimana a adalah luas bidang singgung yang sesungguhnya antara
dua partikel, jauh lebih besar dan sangat tidak beraturan. Jika pada tanah
terdapat partikel mineral lempung, partikel tersebut tidak bersinggungan secara
langsung di antara mereka karena dihalangi oleh air yang terserap pada tiap
partikel, tetapi dalam hal ini berlaku asumsi bahwa gaya antar partikel dapat
dijalarkan melalui air terserap yang sangat kental.

3. TEGANGAN VERTIKAL EFEKTIF AKIBAT BERAT SENDIRI TANAH

Misalkan tanah memiliki permukaan horisontal dan muka air tanah terletak pada
permukaan tanah. Tegangan vertikal total (yaitu tegangan normal total pada
bidang horisontal) pada kedalaman z sama dengan berat seluruh material
(partikel padat + air) per satuan luas di atas kedalaman tersebut, maka:

z v
sat
γ σ =

Karena pori-pori di antara partikel-partikel padat saling berhubungan, tekanan
air pori pada setiap kedalaman akan sama dengan tekanan hidrostatik, karena
itu pada kedalaman z:

z w u γ =

Dari Persamaan 1, tegangan vertikal efektif pada kedalaman z adalah:

( ) z z
u v v
w sat
'
'
γ γ γ
σ σ
= − =
− =

di mana γ’adalah berat isi apung tanah (buoyant unit weight)

Contoh Soal.1.
Bagian atas suatu lapisan lempung jenuh setebal 4 m dilapisi oleh pasir setebal 5
m, muka air tanah berada 3 in di bawah permukaan tanah. Berat isi jenuh
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


51

lempung dan pasir berturut-turut adalah 19 kN/m3 dan 20 kN/m3. Di atas muka
air tanah, berat isi pasir 17 kN/m3.

- Plotlah nilai-nilai tegangan vertikal total dan efektif terhadap kedalaman.
- Jika pasir pada 1 m di atas muka air tanah bersifat jenuh karena efek
kapiler, bagaimana pengaruhnya terhadap tegangan-tegangan di atas?

Tegangan vertikal total sama dengan.berat seluruh material (partikel padat air)
per satuan luas di atas kedalaman yang ditinjau. Tekanan air pori sama dengan
tekanan hidrostatik sesuai kedalaman di bawah muka air tanah. Tegangan
vertikal efektif sama dengan selisih antara tegangan vertikal total dengan
tekanan air pori pada kedalaman yang sama. Dengan cara lain, tegangan
vertikal efektif dapat dihitung secara langsung dengan memakai berat isi apung
tanah di bawah muka air tanah. Tegangan hanya perlu dihitung pada
kedalaman-kedalaman di mana terjadi perubahan berat isi (Tabel 1).
Tabel 1
Kedalaman
(m)
σ v(kN/m2) u(kN/m2) σ v’ = σ' + u
(kN/m2)
3 3 x 17 = 51 0 = 0 51
5 (3 x 17) + (2 x 20) = 91 2 x 9,8 = 19,6 71,4
9 (3 x 17)+ (2 x 20)+(4x19) =
167
0,6 x 9,8 = 58,8 108,2

Cara lain untuk menghitung σ’v ,pada kedalaman 5m dan 9 m adalah
sebagai berikut:
Berat isi apung pasir = 20 - 9,8, = 10,2 kN/m3
Berat isi apung lempung = 19 – 9,8 = 9,2 kN/m3
Pads kedalaman 5 m: σ’v = (3 x 17) + (2 x 10,2) = 71,4 kN/m2
Pada kedalaman 9 m: σ’v = (3 x 17) + (2 x 10,2) + (4 x 9,2) = 108,2 kN/m2.

Bila hanya akan menghitung tegangan efektif saja, dianjurkan memakai metode
altematif di atas. Biasanya besar tegangan dibulatkan pada angka terdekat.
Tegangan diplot terhadap kedalaman seperti pada Gambar.2.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


52


Gambar 2.

SOAL TUGAS

Suatu Lapisan tanah ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
a. Hitungan tegang total, tegangan air pori dan tegangan efektif tanah
pada posisi titik A.
b. Gambarkan diagram tegangannya
c. Berikan analisis terhadap hasil-hasil tersebut.



4. PENGARUH KENAIKAN KAPILER

Muka air tanah adalah posisi air di mana tekanan air pori sama dengan tekanan
atmosfer (yaitu u = 0). Di atas muka air tanah, tekanan air tetap negatif dan,
meskipun tanah di atas muka air tanah jenuh, tidak akan menambah tekanan
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


53

hidrostatik di bawah muka air tanah. Tegangan-tegangan vertikal total dan
efektif bawah kedalaman 3 m bertambah sebesar :
3 x 1 = 3 kN/m
3
sedangkan tekananan air pori tidak berubah.


Contoh Soal
Lapisan pasir halus dengan tebal 5 m mempunyai berat volume jenuh γsat = 20
kN/m3. Muka air tanah pada kedalaman 1 m. Di atas muka air tanah, pasir
dalam kondisi jenuh air oleh tekanan kapiler.
Hitung dan gambarkan diagram tegangan total dan tegangan efektif di titik
A,B,C,D.

Jawab :

Penyelesaian
Telah diketahui pasir halus diatas muka air tanah dalam kondisi jenuh air
Tegangan di A
σA = 4 γsat + 1 γsat = 5 γsat
= 5 x 20 = 100 kN/m
2
.
uA = hw γw = 4 x 9,81 = 39,24 kN/m
2
.
σA’ = σA – uA = 100 - 39,24 = 90,76 kN/m
2
.
Tegangan di B
σB = 1 γsat t
= 1 x 20 = 20 kN/m
2
.
uB = 0
σB’ = σB – uB = 20 - 0 = 20 kN/m
2
.
Tegangan di C
Tekanan kapiler pada titik C = -0,7 γw = -0,7 x 9,81 = -6,87 kN/m
2
.
σc = 0,3 x 20 = 6 kN/m
2
.
uc = -6,87 kN/m
2
.
σc’ = σB – uB = 6 – (-6,87) = 12,87 kN/m
2
.
Tegangan di D
Tekanan kapiler pada titik D = -1 γw = -1 x 9,81 = -9,81kN/m
2
.
σD = 0 kN/m
2
.
uc = -9,81 kN/m
2
.
σD’ = σB – uB = 0 – (-9,81) = 9,81 kN/m
2
.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


54



4. PENGARUH TIMBUNAN

Contoh Soal
Lapisan pasir setebal 5 m berada atas lapisan lempung setebal 6 m, muka air
tanah berada pada permukaan tanah; permeabilitas lempung tersebut sangat
rendah. Berat isi jenuh untuk pasir adalah 19 kN/m3 dan untuk lempung 20
kN/m
3
. Suatu material timbunan setebal 4 m dan luas tak-terhingga dengan
berat jenis 20 kN/m
3
ditempatkan di atas permukaan tanah. Tentukan
tegangan vertikal efektif pada titik pusat lapisan lempung
(a) segera setelah penimbunan dengan asumsi bahwa penimbunan
berlangsung dengan cepat,
(b) beberapa tahun setelah penimbunan.

Gambar.3
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


55

Profil tanah ditunjukkan pada Gambar .3. Karena luas timbunan tak-terhingga,
dapat diasumsikan bahwa tidak terjadi regangan lateral. Karena permeabilitas
lempung sangat rendah, disipasi tekanan air pori berlebiban akan sangat
lambat, segera setelah penimbunan akan tetap sama seperti nilai awalnya,
yaitu:

σ’v = (5 x 9,2) + (3 x 10,2) = 76,5 kN/m2

(berat isi apung pasir dan lempung berturut-turut 9,2 kN/m2 dan 10,2 kN/m
3
).

Beberapa tahun setelah penimbunan, disipasi tekanan-air-pori berlebihan harus
telah selesai dan tegangan vertikal efektif pada titik pusat lapisan lempung
adalah:

σ’v = (4 x 20) + (5 x 9,2) + (3 x 10,2) = 156,6 kN/m'

Segera setelah penimbunan, tegangan vertikal total pada titik pusat lapisan
lempung bertambah sebesar 80 kN/m2 akibat berat sendiri timbunan. Karena
lempung berada dalam kondisi jenuh dan tidak terjadi regangan lateral, maka
tekanan air pori juga ikut bertambah sebesar 80 kN/m2 . Besarnya tekanan air
pori statik dan tunak sama karena tidak terjadi perubahan tinggi muka air tanah,
di mana besar tekanan air pori tersebut adalah (8 x 9,8) = 78,4 kN/m'. Segera.
setelah penimbunan, tekanan air pori naik dari 78,4 kN/m2 menjadi 158,4 kN/m2
dan kemudian, karena proses konsolidasi, tegangan tersebut akan turun secara
bertahap menjadi 78,4 kN/m2, diikuti dengan tegangan vertikal efektif dari 76,6
kN/m2 menjadi 156,6 kN/m2.

3. PENGARUH GAYA REMBESAN

Pengaruh beda tinggi tekanan air akan menimbulkan gaya pada butiran tanah.
Arah gaya rembesan ini searah dengan aliran.


Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


56

Soal
Kolam sangat luas dengan dinding yang dianggap sangat tipis dan tidak
mempunyai berat, terletak pada tanah pasir dengan γsat = 15 kN/m3.
Tinggi air dalam kolam = 2,5 m dari dasarnya dan tanah dasar kolam lolos
air

Pertanyaan
a) bila muka air tanah (di dalam kolam) dipermukaan tanah . Hitung
tegangan total dan tegangan efektif di titk A dan B
b) Pertanyaan yang sama dengan a)hanya kedudukan muka air tanah 1
meter diats permukaan tanah
c) Muka air di dala kolam sama dengan didala kolam .

Penyelesaian :
a) Bila muka air tanah di permukaan
tegangan total :
σA = (0,5 x 15 ) + (2 x9,81) = 27,12 kN/m
2

σA = σB = 27,12 kN/m
2

tekanan air pori :
uA = 2,5 x 9,81 = 24,53 kN/m
2
uB = 0 kN/m
2
tegangan efektif
σA’ = σA – uA = 27,12 - 24,53 = 2,59 kN/m
2
σB’ = 27,12 - 0 = 27,12 kN/m
2

b) Permukaan air dalam kolam naiak 1 m di atas tanah . Pada kedudukan ini
berat kolam total menjadi berkurang oleh adanya tekanan air ke atas.
Tegangan di A tidak berubah oleh berubahnya kedudukan air di luar kolam.
σA = 27,12 kN/m
2

uA = 24,53 kN/m
2
σA’ = 2,59 kN/m
2

Tegangan di B
σB = σB(awal) = 27,12 kN/m
2

uB = 1 γw = 1x 9,81 = 9,81 kN/m
2

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


57

σB’ = σB – uB = 27,12 – 9,81 = 17,31 kN/m
2
.
c) Tegangan di A tidak berubah oleh berubahnya kedudukan air di luar kolam.
σA = 27,12 kN/m
2

uA = 24,53 kN/m
2
σA’ = 2,59 kN/m
2
Tegangan di B
σB = σB(awal) = 27,12 kN/m
2

uB = uA = 24,53 kN/m
2
σB’ = σA’ = 27,12 – 24,53 = 2,59 kN/m
2
.

Soal

Diketahui kolam yang luas berisi air seperti yang ditunjukkan pada Gambar C5.7.
perbedaan tinggi air di dalam kolam dan muka air tanah 5,5 m. Akibat beda
tinggi muka air ini , air di dalam kolam merembes ke bawah. Jika tinggi air dalam
kolam 2 m, dan tebal tanah antara dasar kolam dan permukaan lapisan kerikil
2,5 m. Hitunglah tegangan total dan tegangan efektif:

a) di titik-titik A dan C segera setelah kolam diisi air, yaitu sebelum ada aliran
air ke bawah.
b) di titik-titik A dan C sesudah rembesan tetap terjadi pada lapisan tnaha
diatas kerikil ( dianggap air muka air tanah tetap )
c) sama dengan soal b), bila waktu tertentu setelah rembesan tetap muka
air tanaha sama tinggi dengan permukaan air pada kolam.

Penyelesaian :
Segera setelah kolam terisi air, maka belum ada aliran air rembesan ke
bawah.dan tanah dianggap dalam kondisi lembab γb = 18 kN/m
3

Tegangan di A
σA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
uA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
σA’ = σA – uA = 19,62 - 19,62 = 0 kN/m
2

Tegangan di C
σC = 2,5 γb + 2 γw = (2,5 x 18) + (2 x 9,81) = 64,62 kN/m
2

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


58


uc = 0 kN/m
2

σC’ = 64,62 kN/m
2

b) Setelah rembesan tetap.
Tegangan di A
σA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
uA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
σA’ = σA – uA = 19,62 - 19,62 = 0 kN/m
2
Tegangan di C
σC = 2,5 γb + 2 γw = (2,5 x 20) + (2 x 9,81) = 69,62 kN/m
2


uc = 0 kN/m
2

σC’ = 69,62 kN/m
2

Tegangan di B
Penurunan tinggi energi hidrolik dari A ke C adalah proposional.
Selisih tinggi energi antara A dan C = ∆hAC = 4,5 m
Selisih tinggi energi antara B dan C = ∆hBC = (1/2,5) x 4,5 m = 1,8 m
Jadi tinggi tekanan air di B atau hB = ∆hBC – LBC = 1,8 -1 = 0,8 m (LBC = jarak BC)
Tekanan air pori di B,

uB = hB γw = 0,8 x 9,81 = 7,85 kN/m
2.

Jadi,
σB = 1,5 γsat + 2 γw = (1,5 x 20) + (2 x 9,81) = 49,62 kN/m
2

σB’ = 49,62 – 7,85= 41,77 kN/m
2

c) bila muka air tanah sama dengan permukaan air pada kolam, maka tidak
ada aliran rembesan ke bawah .
Tegangan di A
σA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
uA = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2.
σA’ = σA – uA = 19,62 - 19,62 = 0 kN/m
2

Tegangan di B
σB= 1,5 γsat + 2 γw = (1,5 x 18) + (2 x 9,81) = 49,62 kN/m
2


uB = 3,5 γw = 3,5 x 9,81 = 34,34kN/m
2

σB’ = 49,62 – 34,34 = 15,28 kN/m
2
Tegangan di C
σC = 2,5 γsat + 2 γw = (2,5 x 20) + (2 x 9,81) = 69,62 kN/m
2


uc = 4,5 γw = 4,5 x 9,81 = 44,15 kN/m
2

σC’ = 69,62- 44,15= 25,475 kN/m
2

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


59

Hasil σB’ dan σC’ ini lebih kecil dibandingkan dengan σB’ dan σC’ saat muka air
tanah di permukaan kerikil,. Disini tampak bahwa aliran rembesan yang arahnya
ke bawah seperti soal b) menambah tegangan efektif di titik B
Contoh :
Lapisan tanah homogen dengan permukaan air yang berubah-ubah
ditunjukkan seperti Gambar C5.6. Berat volume tanah air jenuh γsat = 20 kN/m
3

dan berat volume basah (lembab) γb = 15 kN/m
3
. Hitung tegangan total dan
tegangan efektif di titik Adan B pada kedudukan muka air di :
1) 3 m di bawah permukaan tanah
2) Di permukaan tanah
3) 2 m diatas permukaan tanah

Penyelesaian :

Berat volume apung : γ’ = γsat - γw = 20 – 9,81 = 10,19 kN/m
3.
a) muka air 3 m dari permukaan tanah

Tegangan di A
σA = 3 γb = 3 x 18 = 54 kN/m
2.
uA = 0

σA’ = σA – uA = 54 - 0 = 54 kN/m
2

Tegangan di B
σB = 3 γb + 2 γsat = (3 x 18) + (2 x 20) = 94 kN/m
2


uB = 2 γw = 2 x 9,81 = 19,62 kN/m
2

σB’ = σB – uB = 94 –19,62 = 74,38 kN/m
2
.
Atau
σA = 3 γb + 2 γ’ = (3 x 18) + (2 x 10,19) = 74,38 kN/m
2.

b) muka air permukaan tanah

Tegangan di A
σA = 3 γsat = 3 x 20 = 60 kN/m
2.
uA = 3 γw = 3 x 9,81 = 29,43 kN/m
2

σA’ = σA – uA = 60 - 29,43 = 30,57 kN/m
2

Atau
σA = 3 γ’ =3 x 10,19 = 30,57 kN/m

Tegangan di B
σB = 5 γsat = 5 x 20= 100 kN/m
2


uB = 5 γw = 5 x 9,81 = 49,05 kN/m
2

σB’ = 100 - 49,05 = 50,95 kN/m
2
.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


60

c) muka air 2 m di atas permukaan tanah

Tegangan di A
σA = 3 γsat + 2 γw = (3 x 20) + ( 2 x 9,81 ) = 79,62 kN/m
2.
uA = 5 γw = 5 x 9,81 = 49,05 kN/m
2

σA’ = σA – uA = 79,62 - 49,05 = 30,57 kN/m
2
Atau
σA = 3 γ’ =3 x 10,19 = 30,57 kN/m

Tegangan di B
σB = 5 γsat + 2 γw = (5 x 20) + ( 2 x 9,81 ) = 119,62 kN/m
2.
uB = 7 γw = 7 x 9,81 = 68,67 kN/m
2

σB’ = 119,62 - 68,67 = 50,95kN/m
2
Atau
σB = 5 γ’ = 5 x 10,19 = 50,95 kN/m

Dari penyelesaian b) dan c) terlihat bahwa tinggi muka air dari permukan tanha
sampai 2 m ( atau sembarang ketinggian muka air ) tidak merubah teganga
efektif. Akan tetapi, bila muka air mula-mula di dalam tanha kemudian naik
sampai ke permukaan, mka akan terjadi penurunan tegangan efktif. Hal ini
disebabkan oleh tegangan efektf tanah yang semula tidak terndam, menjadi
terndam air. Perhatikan bahwa, sebelum terendam tegangan efektif di hiitung
berdasarkan γb , stelah terendam hitungan berdasarkan pada γ’


Soal :
Suatu profil tanah terdiri dari 5 m compacted sandy clay diikuti oleh medium
dense sand setebal 5 m . Di bawah sand ada lapisan compressible silty clay
dengan tebal 20 m. Muka air tanah mula-mula berada pada dasar lapisan
pertama (pada 5m di bawah muka tanah). Kepadatan tanah adalah 2,05
Mg/m
3
(ρ), 1,94 Mg/ m
3
(ρsat), dan 1,22 Mg/ m
3
(ρ’) untuk masing-masing
lapisan tanah tersebut.
a) Hitung tegangan total, air pori dan efektif pada titik pertengahan
lapisan compressible silty clay.
b) Hitung tegangan total, air pori dan efektif pada titik tersebut jika muka
air tanah turun 5 m pada permukaan lapisan silty clay.
c) Beri komentar tentang perbandingan kedua kondisi tersebut..

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


61

MODUL 7
Pemadatan Tanah

1. PENGERTIAN DASAR

Pada pembuatan timbunan tanah untuk jalan raya, dam tanah, dan
banyak struktur teknik lainnya, tanah yang lepas (renggang) haruslah
dipadatkan untuk meningkatkan berat volumenya. Pemadatan tersebut
berfungsi untuk meningkatkan kekuatan tanah, sehingga dengan demikian
meningkatkan daya dukung pondasi di atasnya. Pemadatan juga dapat
mengurangi besarnya penurunan tanah yang tidak diinginkan dan
meningkatkan kemantapan lereng timbunan (embankment). Penggilas besi
berpermukaan halus (smooth whell rollers), dan penggilas getar (vibratory rollers)
adalah alat-alat yang umum digunakan di lapangan untuk pemadatan tanah.
Mesin getar dalam (vibroflot) juga banyak digunakan untuk memadatkan tanah
berbutir (granular soils) sampai kedalaman yang cukup besar dari permukaan
tanah. Cara pemadatan tanah dengan sistem ini disebut vibroflotation
(pemampatan getar apung).

2. PRINSIP-PRINSIP UMUM

Tingkat pemadatan tanah diukur dari berat volume kering tanah yang
dipadatkan. Bila air ditambahkan kepada suatu tanah yang sedang dipadatkan
air tersebut akan berfungi sebagai unsur pembasah (pelumas) pada partikel-
partikel tanah. Karena adanya air, partikel- partikel tanah tersebut akan lebih
mudah bergerak dan bergeseran satu sama lain dan membentuk kedudukan
yang lebih rapat/padat. Untuk usaha pemadatan yang sama, berat volume
kering dari tanah akan naik bila kadar air- dalam tanah (pada saat dipadatkan)
meningkat.

Harap dicatat bahwa pada saat kadar air w = 0, berat volume basah dari tanah
(γ) adalah sama dengan berat volume keringnya (γd), atau

1 ) 0 ( γ γ γ = = = w d


Bila kadar airnya ditingkatkan terus secara bertahap pada usaha pemadatan
yang sama, maka berat dari jumlah bahan padat dalam tanah persatuan
volume juga meningkat secara bertahap pula. Misalnya, pada w = w1, berat
volume basah dari tanah sama dengan:

2
γ γ =

Berat volume kering dari tanah tersebut pada kadar air ini dapat dinyatakan
dalam:
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


62



d d w w d
w
γ γ γ ∆ + = =
= ) 0 (
) 1 (



Gambar.1. Prinsip pemadatan.

Setelah mencapai kadar air tertentu w = w2 (lihat gambar.1) adanya
penambahan kadar air justru cenderung menurunkan berat volume kering dari
tanah. Hal ini disebabkan karena air tersebut kemudian menempati ruang-ruang
pori dalam tanah yang sebetulnya dapat ditempati oleh partikel-partikel padat
dari tanah. Kadar air di mana harga berat volume kering maksimum tanah
dicapai disebut kadar air optimum.

Percobaan di laboratorium untuk menentukan kadar air optimum adalah:
Proctor Compaction Test (Uji Pemadatan Proctor, menurut nama pemiliknya,
Proctor, 1933).

3. UJI PROCTOR STANDAR

Langkah-langkah :
• Tanah dipadatkan dalam sebuah cetakan silinder bervolume 1/30 ft
3

(943,3 cm
3
)
• •• • Diameter cetakan = 4 in. (= 101 6 mm).
• Selama percobaan lab. Cetakan dikelem pada sebuah pelat dasar dan
di atasnya diberi perpanjangan juga berbentuk silinder.
• Tanah dicampur air dengan kadar yang berbeda-beda dan kemudian
dipadatkan menggunakan penumbuk khusus.
• Pemadatan tanah tersebut dilakukan dalam 3 (tiga) lapisan (tebal lapisan
+ 1,0 in).
• Jumlah tumbukan adalah 25 x setiap lapisan.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


63

• Berat penumbuk adalah 5,5 lb (massa = 2,5 kg) dan tinggi jatuh sebesar
12 in. (= 304,8 in).



Gambar 2. Alat uji proctor standar a) cetakan, b)penumbuk

Gambar.3. Pemadatan tanah dengan mengunakan penumbuk Proctor standar.
Untuk setiap percobaan, berat volume basah γ dari tanah yang dipadatkan
tersebut dapat dihitung sebagai berikut :

) (m
V
W
= γ
(.1)
di mana :
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


64

W = berat tanah yang dipadatkan dalam cetakan
V(m) = volume cetakan (1/30 ft3 943, 3 cm3)

Juga pada setiap percobaan besarnya kadar air dalam tanah yang
dipadatkan tersebut
ditentukan di laboratorium. Bila kadar air tersebut diketahui, berat volume kering
γd dari tanah dapat dihitung sebagai berikut :

100
%
1
w
d
+
=
γ
γ
(.2)
di mana w% = presentase kadar air.

Harga γd tersebut dapat digambarkan terhadap kadar air untuk mendapatkan
berat volume kering maksimum dan kadar air optimum

Gambar.4 menunjukkan suatu grafik hasil pemadatan suatu tanah lempung
berlanau.
Prosedur pelaksanaan Uji Proctor Standar telah dirinci dalam ASTM Test
Designation D-698 dan dalam AASHTO Test Designation T-99.(Disamping itu ada
Modified Proctor)

Untuk suatu kadar air tertentu, berat volume kering maksimum secara teoritis
didapat bila pada pori-pori tanah sudah tidak ada udaranya lagi yaitu pada
saat di mana derajat kejenuhan tanah sama dengan 100%. Jadi, berat volume
kering maksimum (teoritis) pada suatu kadar air tertentu dengan kondisi "zero air
voids" (pori-pori tanah tidak mengandung udara sama sekali) dapat ditulis
sebagai: .

e
w Gs
zav
+
=
1
γ
γ

di mana :
γzav = berat volume pada kondisi zero air voids
γw = berat volume air
e = angka pori
Gs = berat spesifik butiran padat tanah.
Untuk keadaan tanah jenuh 100%, e= wGs ; jadi

Gs
w
wGs
w Gs
zav
1
1
1
+
=
+
=
γ γ
γ
(.3)
di mana : w kadar air.
Untuk mendapatkan variasi dari γzav terhadap kadar air, gunakan prosedur
berikut :
1. Tentukan berat spesifik butiran padat tanah.
2. Cari berat volume air γw
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


65

3. Tentukan sendiri beberapa harga kadar air w, misalnya : 5%,10%,15%,…
dan seterusnya
4. Gunakan persamaan.3 untuk mencari γzav dari kadar air-kadar air
tersebut.


Gambar 4. Hasil uji pemadatan proctor untuk lempung berlanau


Gambar 5. Hasil kurva untuk uji standar proctor dan modified proctor

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


66

MODUL 8
Pemadatan Tanah di Lapangan

1. JENIS PENGGILAS

Hampir semua pemadatan di lapangan menggunakan penggilas(rollers) jenis
penggilas yang umum dipakai adalah :
a. penggilas besi berpermukaan halus (atau penggilas bentuk drum),
b. penggilas ban-karet (angin),
c. penggilas kaki-kambing
d. penggilas getar

1. Penggilas besi berpermukaan halus (Gambar 1) cocok untuk meratakan
permukaan tanah dasar (subgrades) dan untuk pekerjaan penggilasan
akhir pada timbunan tanah pasir atau lempung. Penggilas tipe ini dapat
memadatkan 100% luasan muka tanah yang diialui rodanya dengan
tekanan kontak antara tanah dan roda sebesar antara 45 sampai 55 psi
(antara 310 sampai 380 kN/m
2
). Penggilas tipe ini tidak cocok untuk
pekerjaan yang menginginkan tingkat pemadatan yang tinggi pada
lapisan yang tebal.

Gambar.1. Penggilas besi berpermukaan halus

Penggilas ban-karet (Gambar.2) dalam banyak hal masih lebih baik daripada
penggilas besi berpermukaan halus. Penggilas ban-karet ini pada dasarnya
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


67

merupakan sebh kereta bermuatan berat dan beroda karet yang tersusun
dalam beberapa baris. Baris-baris ban karet ini berjarak dekat satu sama lain di
mana pada setiap baris ban terdapat empat sampai enam buah ban. Tekanan
kontak di bawah ban berkisar antara 85 sampai 100 psi. (585 sampai 690 kN/m2),
dan baris-baris ban tersebut memadatkan antara 70 sampai 80% luasan tanah
yang dilalui penggilas. Penggilas ban-karet ini dapat digunakan pada
pemadatan tanah tanah pasir dan lempung. Pemadatan dicapai dari
kombinasi antara tekanan dan "kneading action" (pemadatan dengan diremas-
remas).


Gambar 2. Penggilas ban karet

2. Penggilas getar sangat berfaedah untuk pemadatan tanah berbutir
(pasir, kerikil, dan sebagainya). Alat getar dapat saja dipasang pada
penggilas besi berpermukaan halus, penggilas ban-karet, atau pada
penggilas kaki-kambing untuk menghasilkan getaran pada tanah. Pada
Gambar 3 ditunjukkan dari prinsip-prinsip dari penggilas getar. Getaran
dihasilkan dari berputarnya suatu beban yang tidak sentris.
Pelat penggetar yang dioperasikan dengan tangan sangat efektif dalam
pemadatan tanah berbutir bila ruang gerak yang tersedia sangat
terbatas. Model pelat penggetar seperti ini ada yang dilengkapi dengan
mesin yang dapat menggetarkan beberapa pelat sekaligus. Mesin
seperti ini dapat digunakan ditempat -tempat di mana ruang geraknya
lebih leluasa tetapi tidak cukup leluasa untuk penggilas getar yang besar.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


68


Gambar 3. Penggilas getar sederhana (stamper)

3. Penggilas kaki-kambing (Gambar 4) adalah berupa silinder (drum) yaiig
mempunyai banyak kaki-kaki yang menjulur keluar dari drum. Kaki-kaki
ini mempunyai luas proyeksi penampang sekitar 4 sampai 13 in2 (25
sampai 85 cm2 ). Alat ini saiigat efektif untuk memadatkan tanah
lempung. Tekanan kontak di ujung kaki-kaki kambing dapat mencapai
antara 200 sampai 1000 psi ( 1380 sampai 6900 kNm2 ). Pada waktu
pemadatan di lapangan, mula-mula pada awal lintasan bagian tanah
yang dipadatkan ialah bagian sebelah bawah dari "lift". Catatan: suatu
timbunan tanah tidak langsung setinggi timbunan tersebut, tetapi
dihamparkan selapis demi selapis dan setiap lapisan itu dipadatkan
dengan baik. Setiap lapisan disebut "lift".) Pada lintasan-lintasan
berikutnya barulah tanah di bagian tengah dan atas dari lift ikut
terpadatkan

Gambar 4. Penggilas kaki kambing
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


69


Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam mendapatkan berat
volume pemadatan yang diinginkan di lapangan, yaitu :. tebal "lift" (satu lapisan
tanah yang dipadatkan), intensitas tekanan yang dihasilkan oleh alat pemadat,
dan besar luasan muka tanah dimana tekanan itu bekerja.
Sebabnya ialah bahwa tekanan yang diberikan pada permukaan tanah akan
berkurang menurut kedalamanannya, jadi tingkat pemadatan tanah juga
berkurang menurut kedalamannya. Selama pemadatan, berat volume kering
dari tanah juga berubah menurut banyaknya jumlah lintasan tanah terhadap
jumlah lintasan penggilas. Gambar 5a menunjukkan kurva kepadatan tanah
terhadap jumlah lintasan penggilas pada tanah lempung berlanau. Berat
volume kering dari tanah pada kadar air tertentu akan meningkat (dengan
makin bertambahnya jumlah lintasan penggilas) sampai pada kira –kira suatu
titik tertentu. Setelah itu, kepadatan tanah akan menjadi konstan. Umumnya,
kira-kira 10 sampai 15 lintasan sudah akan menghasilkan berat volume kering
maksimum yang secara ekonomis dapat dicapai.

Gambar 5b menunjukkan variasi dari berat volume tanah terhadap
kedalaman dari tanah pasir pantai bergradasi buruk di mana pemadatan
dilakukan dengan penggilas getar. Getaran dihasilkan oleh beban eksentris
yang berputar pada silinder/drum. Berat penggilas di sini adalah 12,5 kips (55,6
kN) dan diameter drum adalah 47 in. (1,19 meter). Tebal lift diusahakan sebesar
8 ft. (2,44 m). Perhatikan bahwa untuk suatu kedalaman tertentu, harga berat
volume kering dari tanah meningkat dengan bertambahnya jumlah lintasan
penggilas. Namun laju kenaikan berat volume kering tersebut secara berangsur-
angsur akan berkurang setelah kira-kira 15 lintasan. Juga yang patut
diperhatikan dari Gambar, 5b ialah tentang variasi dari berat volume kering
tanah terhadap perubahan kedalaman dan jumlah lintasan. Berat volume
kering, yang juga akivalen dengan kepadatan relatif (relative density) Dr-nya,
mencapai harga maksimum pada kedalaman sebesar kira-kira 1,5 ft (0,5 m) dan
berangsur-angsur berkurang pada kedalaman yang lebih dangkal. Hal ini
disebabkan karena kurangnya tekanan pemampat (ke samping) didekat
permukaan tanah. Bila hubungan antara kedalaman dan kepadatan relatif
(atau berat volume kering ) untuk suatu jenis tanah pada suatu lintasan tertentu
telah diketahui, maka dengan mudah ketebalan untuk tiap-tiap lift dapat
ditentukan. Prosedur ini dapat dilihat pada Gambar 6 (dari D'Appolonia,
Whitiman, dan D'Appolonia, 1969).

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


70



Gambar 5a. Kurva kepadatan untuk tanah lempung berlanau. Hubungan
antara berat volume kering dan jumlah lintasan penggilas roda tiga dengan
berat 9,5 ton bilaman tebal lapisan tanah lepas yang dipadatkan adalah 9 inci
(228,6 mm) pada kadar air yang berbeda.


Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


71


Gambar 5.b. Pemadatan pasir dengan penggilas getar ; variasi berat volume
kering terhadap jumlah lapisan (lift) = 8 ft (2,44 m)



Gambar 6. Perkiraan tebal lapisan pemadatan untuk mendapatkan kepadatan
relatif minimum yang disyaratkan sebesar 75% dengan menggunakan lintasan
penggilas
2. PENENTUAN BERAT VOLUME AKIBAT PEMADATAN DI LAPANGAN

Tujuan : untuk mengecek apakah tanah di lapangan sudah mencapai
kepadatan yang diinginkan

Pada waktu pekerjaan pemadatan sedang berlangsung, tentunya perlu
diketahui apakah berat volume yang ditentukan dalam spesifikasi dapat
dicapai atau tidak. Prosedur standar untuk menentukan berat volume di
lapangan akibat pemadatan adalah

a. Metode kerucut pasir (sand cone method)
b. Metode balon.karet (rubber balloon method)
c. Penggunaan alat ukur kepadatan nuklir.

Cara dengan pemindahan tanah :
1. Digali lubang pada permukaan tanah timbunan yang telah dipadatkan.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


72

2. Ditentukan kadar airnya.
3. Diukur volume tanah yang digali dari lubang yang dibuat
4. Tentukan berat volume keringnya.
5. Bandingkan berat volume kering di lapangan dengan berat volume kering
maksimumnya. Kemudian hitung kepadatan relatifnya.

1. Metode kerucut pasir (ASTM D-1556)
1. Ke dalam botol diisi pasir ottawa yg bergradasi seragam (W1)
2. Di lapangan, lubang dibuat pada tanah yang akan diperiksa
kepadatannya, berat tanah hasil galian (W2), kadar air (w)
3. Berat kering tanah : W3 = W2/(1+w)

4. Metode balon karet (ASTM D-2167)
1. Prinsip = metode uji kerucut pasir
2. Volume lubang dibuat dengan memasukkan balon karet yang berisi air
yang berasal dari tabung yang telah dikalibrasi.
3. Volume lubang = volume air yang mengisi lubang, dapat dibaca langsung
pada alat pengujian
4. Berat volume kering tanah : γd = (W3 / V)



Gambar 7. Botol gelas yang dihubungkan dengan kerucut pasir (sand cone).
(catatan : pasir ottawa)

5. Metode nuklir
Alat ini mengukur berat tanah basah per satuan volume dan air yang ada
pada volume satuan tanah.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


73

Berat vol kering tanah yang dipadatkan dapat ditentukan dengan
mengurangkan berat air dari berat vol tanah basah.


Gambar 8. Alat ukur kepadatan nuklir
SOAL TUGAS
1. Hasil uji pemadatan standar proctor sbb :
1. Tentukan kadar air optimum dan berat vol kering maksimum.
2. Gambarkan garis-garis kadar udara 0%, 8%, Bila Gs=2,67
3. Berapa kadar udara pada kadar air optimum?

No W% γb (kN/m3)
1
2
3
4
5
6
15,5
15,1
12,4
10,01
8,92
7,4
20,6
21,0
21,2
21,3
20,4
18,9
4. Setelah pemadatan timbunan untuk badan jalan contoh tanah tsb diuji
kepadatannya dengan alat kerucut pasir (sand cone)
Data :
-Berat pasir yang dituangkan untuk memenuhi lubang dan corong kerucut
adalah 860 g
- Berat pasir untuk mengisi corong 324 g
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


74

- Berat vol pasir yg digunakan untuk uji kerucut pasir 1,82 gr/cm3
- Berat tanah basah yg digali dari lubang = 638g
- Kadar air di tempat 22%

Hitung :
1. Berapa volume kering tanah di lapangan ?
2. Jika berat vol kering hasil uji standar proctor di lab adalah : 18,34 kN/m3,
berapa derajat kepadatan di lapangan?

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


75

MODUL 9
DISTRIBUSI TEGANGAN DALAM TANAH

1. PENGERTIAN DASAR

Tegangan di dalam tanah yang timbul akibat adanya beban di
permukaan dinyatakan dalam istilah tambahan tegangan (stress increastment),
karena sebelum tanah dibebani, tanah sudah mengalami tekanan akibat
beratnya sendiri yang disebut tekanan overburden.
Analis tegangan di dalam tanah didasrkan pada anggapan bahwa
tanah bersifat elastis, homogen, isotropi,dan terdapat hubungan linier antara
tegangan dan regangan. Dalam analisisnya,regangan volumetric pada bahan
yang bersifat elastis dinyatakan oleh persamaan :

( )
Z Y X
E V
V
σ σ σ
µ
+ +

=
∆ 2 1
(1)

Dengan
∆V = perubahan volume
V = volume awal
µ = angka poison
E = modulus elastis
σx,σy, σz = tegangan-tegangn dalam arah x,y,dan z

Dalam Persamaan (1), bila pembebanan yang mengakibtkan
penurunan, terjadi pada kondisi tak terdrainase (undrained), atau penurunan
trerjadi pada volume konstant, maka ∆V/V = 0. Dalam kondisi ini, angka poison
µ= 0,5. Jika pembebanan menyebabkan perubahan volume (contohnya
penurunan akibat proses konsolidasi), sehingga ∆V/V .0, maka µ < 0,5.

2. BEBAN TITIK
Boussinesq (1885) memberikan persamaan penyebaran beban akibat
pengaruh beban titik dipermukaan . Tambahan tegangan vertikal (∆σz) akibat
beban titik dianalisi dengan meninjau sistem tegangan pada kordinat silender
(Gambar.3). Dalam teori ini, tambahan tegangan vertikal (∆σz) pada suatu titik
dalam tanahakibat beban titik Q dipermukaan, dinyatakan oleh persamaan:

( )
2 / 5
2 2
/ 1
1
2
3
|
|
¹
|

\
|
+
= ∆
z r z
Q
z
π
σ
(.2)

dengan :
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


76

∆σz = tambahan tegangan vertikal
z = kedalaman titik yang ditinjau
r = jarak horizontal titik didalam tanah terhadap garis kerja beban

Jika faktor pengaruh untuk beban titik didefinisikan sebagai :
( )
2 / 5
2
/ 1
1
2
3
|
|
¹
|

\
|
+
=
z r
I
π
(.3)

Maka Persamaan (4.2) akan menjadi
I
z
Q
z
2
= ∆σ
(.4)
Nilai IB yang disajikan dalam bentuk grafik diperlihatkan dalam Gambar 4
(Taylor,1984)

Gambar 3 Tambahan tegangan vertikal akibat beban titik


Gambar 4 Faktor pengaruh (I) akibat beban titik, didasarkan teori
Boussinesq (Taylor, 1948)
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


77

Contoh Soal;
Susunan fondasi diperlihatkan dalam Gambar C1 Beban kolom A = 400kN,
kolom B = 200kN dan kolom-kolom C = 100kN. Bila beban kolom dianggap
sebagai beban titik, hitung tambahan tegangan dibawah pusat fondasi-fondasi
A,B, dan C, pada kedalaman 6m dibawah pondasi.

Penyelesaian :
Beban-beban kolom dianggap sebagai beban titik, karena itu tambahan
tegangan dibawah masing-masing fondasi dapat dihitung dengan persamaan :

I
z
Q
z
2
= ∆σ

Fondasi-fondasi diberi nama menurut nama kolom. Dalam soal ini, karena
susunan fondasi simetri, tambahan tegangan dibawah pondasi B dan C, pada
kedalaman yang sama akan menghasilkan
z
σ ∆
yang sama.


Gambar C1

(1) Untuk fondasi-fondasi B:

z
σ ∆
(B1) =
z
σ ∆
(B2) =
z
σ ∆
(B3) =
z
σ ∆
(B4)
(2) Untuk fondasi-fondasi C:

z
σ ∆
(C1) =
z
σ ∆
(C2) =
z
σ ∆
(C3) =
z
σ ∆
(C4)

(a) Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi A
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


78

Hitung faktor pengaruh I pada kedalaman 6 m dibawah fondasi A, dilakukan
dalam Tabel C1a.

Tabel C1a. Faktor pengaruh I dibawah fondasi A


Tambahan tegangan akibat beban fondasi A
= 1 x 400/6
2
x 0,478 = 5,2 kN/ m
2
Tambahan tegangan akibat beban fondasi B
= 1 x 200/6
2
x 0,273 = 6,0 kN/ m
2
Tambahan tegangan akibat beban fondasi C
= 1 x 100/6
2
x 0,172 = 1,9 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah fondasi A pada kedalaman 6 m:

z
σ ∆
(A) = 5,2 + 6,0 + 1,9 = 13,1 kN/m
2


(b) Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B
Ditinjau fondasi B1. Dihitung jarak-jarak antara pusat fondasi B1 dengan yang lain:
BC1= B1C2 = B1A = 3 m
B1B2 = B1B3 =
24 , 4 3 3
2 2
= +
m
B1C3 = B1C4 =
71 , 6 3 6
2 2
= +
m
B1B4 = 6,0 m

Hitung I dibawah pusat pondasi B1, pada kedalaman z = 6 m, oleh akibat
beban-bebanseluruh pondasi diletakkan pada Tabel C.1b

Tabel C.1b Faktor pengaruh I dibawah fondasi B1

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


79

Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi A
= 400/6
2
x 0,273 = 3,03 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi B
= 200/6
2
x (0,478 + 0,172 + 0,172 + 0,084) = 5,03 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi B1, akibat beban fondasi C
= 100/6
2
x (0,273 + 0,273 + 0,063 +0,063) = 1,87 kN/ m
2
Tambahan tegangan akibat beban seluruh fondasi, dibawah pusat pondasi B1,
pada kedalaman 6m:

z
σ ∆
(B1) = 3,03 + 5,03 + 1,87 = 9,93 kN/ m
2
Tegangan-tegangan dibawah masing-masing pusat pondasi B1 sampai B4, pada
kedalaman 6m:
z
σ ∆
(B1) =
z
σ ∆
(B2) =
z
σ ∆
(B3) =
z
σ ∆
(B4) = 9,93

(c) Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi C
C1A = 4,24 m
C1B4 = C1B3 = 6,71 m
C1C4 = 6
2
= 8,48 m

Hitung I dibawah pusat pondasi C1, pada kedalaman z = 6 m, oleh akibat
beban-bebanseluruh pondasi diletakkan pada Tabel C.1c

Tabel C.1c Faktor pengaruh I dibawah fondasi C1


Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi C1, akibat beban fondasi A
= 400/6
2
x 0,172 = 1,19 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi C1, akibat beban fondasi B
= = 200/6
2
x (0,273 + 0,273 + 0,063 +0,063) = 3,73 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi C1, akibat beban fondasi C
= 100/6
2
x (0,478 + 0,084 + 0,084 +0,031) = 1,88 kN/ m
2
Tambahan tegangan dibawah pusat pondasi C1, pada kedalaman 6m:
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


80

z
σ ∆
(C1) = 1,91 + 3,73 + 1,88 = 7,52 kN/ m
2
Jadi tegangan-tegangan dibawah masing-masing pusat pondasi C1 sampai C4,
pada kedalaman 6m:
z
σ ∆
(C1) =
z
σ ∆
(C2) =
z
σ ∆
(C3) =
z
σ ∆
(C4) = 7,52 kN/ m
2


3. BEBAN TERBAGI RATA BERBENTUK LAJUR MEMANJANG

Tambahan tegangan vertikal pada titik A didalam tanah akibat beban
terbagi rata q fleksible berbentuk lajur memanjang ( Gambar 5), dinyatakan oleh
persamaan :
( ) β α α
π
σ 2 cos sin + = ∆
q
z
(5)

dengan λ dan β dalam radian yang ditunjukkan dalam Gambar 4.5. Isobar
tegangan yang menunjukkan tempat kedudukan titik- titik yang mempunyai
tregangan vertikal yang sama oleh akibat beban berbentuk lajur memanjang
ditunjukkan dalam Gambar 6

Gambar 5. Tegangan aqkibat beban terbagi rata berbentuk lajur memanjang

4. BEBAN TERBAGI RATA BERBENTUK EMPAT PERSEGI PANJANG

Tambahan tegangan vertikal akibat beban terbagi rata fleksible
berbentuk lempat persegi panjang, dengan ukuran panjang L dsan lebar B
(Gambar 7) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan yang diperoleh
dari penjabaran persamaan Boussinesq,sebagai berikut
∆σz = ql (6a)
Dalam persamaan tersebut
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


81

( ) ( )
( )
( )
|
|
¹
|

\
|
− + +
+ +
+
+ +
+ +
×
+ + +
+ +
=
2 2 2 2
2 / 1
2 2
2 2
2 2
2 2 2 2
2 / 1
2 2
1
1 2
1
2
1
1 2
4
1
n m n m
n m mn
arctg
n m
n m
n m n m
n m mn
I
π
(6b)
Dengan :
q = tekanan sentuh atau tekanan fondasi ke tanah
m =
Z
B
, n =
Z
L



Gambar 6 Isobar tegangan untuk beban terbagi rata berbentuk lajur
memanjang dan bujur sangkar teori Boussinesq

Gambar 7 Tegangan di bawah beban terbagi rata berbentuk empat persegi
panjang
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


82

MODUL 10
PENYELIDIKAN TANAH DI LAPANGAN
I. PENDAHULUAN
Penyelidikan tanah di lapangan di butuhkan untuk data perancangan fondasi
bangunan-bangunan, seperti : bangunan gedung, dinding penahan tanah,
bendungan, jalan, dermaga, dll. Bergantung pada maksud dan tujuannya,
penyelidikan dapat dilakukan dengan cara-cara : menggali lubang uji (test
pit), pengeboran, dan uji secara langsung di lapangan (in-situ test). Dari data
yang diperoleh sifat-sifat teknis tanah dipelajari, kemudian digunakan sebagai
bahan pertimbangan dalam menganalisa kapasitas dukung dan penurunan.
Tuntutan ketelitian penyelidikan tanah tergantung dari besarnya beban
bangunan, tingkat keamanan yang diinginkan, kondisi lapisan tanah, dan
biaya yang tersedia untuk penyelidikan. Oleh karena itu, untuk bangunan-
bangunan sederhana atau ringan, kadang-kadang tidak dibutuhkan
penyelidikan tanah, karena kondisi tanahnya dapat diketahui berdasarkan
pengalaman setempat. Tujuan penyelidikan tanah antara lain:
1. menentukan kapasitas dukung tanah menurut tipe fondasi yang dipilih
2. menentukan tipe dan kedalaman fondasi
3. untuk mengetahui posisi muka air tanah
4. untuk mengetahui besarnya penurunan
5. menentukan besarnya tekanan tanah terhadap dinding penahan tanah
atau pangkal jembatan (abutment)
6. menyelidiki keamanan suatu struktur bila penyelidikan dilakukan pada
bangunan yang telah ada sebelumnya
7. pada proyek jalan raya dan irigasi, penyelidikan tanah berguna untuk
menentukan letak-letak saluran, gorong-gorong, penentuan lokasi dan
macam bahan timbunan
II. CARA PENYELIDIKAN
Informasi kondisi tanah dasar fondasi, dapat diperoleh dengan cara menggali
lubang secara langsung di permukaan tanah yang disebut lubang uji (test-pit),
maupun dengan cara pengeboran tanah. Penyelidikan mendetail dengan
pengeboran tanah yang diikuti dengan pengujian-pengujian di laboraturium
dan atau dilapangan, selaludilakukan untuk penyelidikan tanah pada proyek-
proyek besar seperti : gedung bertingkat tinggi, jembatan, bendungan,
bangunan industri, dll.
Penyelidikan tanah terdiri dari 3 tahap yaitu : pengeboran atau penggalian
lubang uji, pengambilan contoh tanah (sampling) dan pengujian contoh
tanah. Pengujian contoh tanah dapat dilakukan di laboraturium atau di
lapangan.
Bergantung pada tingkat ketelitian yang dikehendaki, pengambilan contoh
tanah dilakukan pada setiap jarak kedalaman 0,75-2 meter dengan cara
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


83

menekan tabung contoh tanah (sampler) secara hati-hati (terutama untuk
contoh tak terganggu) yang dipasang pada ujung bawah batang bor. Pada
waktu pengeboran dilakukan, contoh tanah dapat diperiksa di dalam pipa bor
yang ditarik keluar. Jika pada tahap ini ditemui perubahan jenis tanah,
kedalaman perubahan jenis tanah dan kedalamannya dicatat, dan kemudian,
contoh tanah tambahan diambil. Pada lapisan-lapisan yang dianggap penting
untuk dikatahui karakteristik tanahnya, kadang-kadang pengambilan contoh
kontinu (continous sampling) diperlukan. Bila pengeboran dilakukan pada
lapisan batuan, contoh inti batu (rock core) diambil dengan alat bor putar
(rotary drill).
Kedalaman muka air tanah harus diperiksa dengan teliti. Kesalahan data muka
air tanah dapat mempersulit pelaksanaan pembangunan fondasi dan dapat
mengakibatkan kesalahan analisis stabilitasnya.
III.ALAT- ALAT PENYELIDIKAN
Data hasil penyelidikan tanah dapat memberikan gambaran tentang kondisi-
kondisi lapisan pada sifat-sifat fisik tanah dalam arah vertical. Berdasarkan data
ini, perancang dituntut untuk menggabar profil lapisan tanah dengan cara
interpolasi data dari tiap-tiap lapisan yang mengandung material-material
yang secara pendekatan mempunyai sifat-sifat yang sama.
Terdapat beberapa cara penyelidikan yang berguna untuk mengetahui
kondisi lapisan tanah dan sifat-sifat teknisnya.
1. Lubang-uji (test pit)


Cara ini berguna untuk mengetahui kondisi lapisan tanah dengan teliti. Lagi
pula, bila perlu dapat mengambil contoh tanah tak terganggu (undisturbed
sample) pada lapisan-lapisan yang dikehendaki.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


84

2. Bor tangan (hand auger)
Cara ini termasuk yang paling sederhana dalam pembuatan lubang dalam
tanah dengan menggunakan alat bor. Alat bor seperti pada gambar 2.2
hanya dapat digunakan bila tanah mempunyai kohesi yang cukup, sehingga
lubang bor dapat tetap stabil di sepanjang lubangnya. Alat ini tidak dapat
digunakan pada pasir yang terendam air. Penetrasi mata bor terbatas pada
kekuatan tangan yang memutarnya, oleh karena itu tanah harus tidak
mengandung batu atau lapisan tanah keras lainnya. Bor tangan dapat
menembus sampai 10m, tapi umumnya kedalaman bor maksimum 6 sampai 8
meter. Alat ini sering digunakan dalam penyelidikan tanah untuk proyek-proyek
jalan raya , kereta api, dan lapangan terbang, dimana kedalaman lubang
yang dibutuhkan pada jalan raya hanya berkisar pada kedalaman 4m. untuk
pembuatan lubang yang lebih dalam pada tanah kohesif, bor ulir dapat
digunakan ( GAMBAR 2.2B).


3. Bor cuci (wash boring)
Pada cara ini, pengeboran tanah dilakukan dilakukan dengan cara
penyemprotan air sambil memutar-mutar pipa selubung (casing) untuk
memudahkan penetrasi ujung mata bor gambar…. Tanah yang diambil
merupakan contoh terganggu (disturbed) yang terangkut keluar bersama aliran
air. Tanah yang keluar dari lubang bor diidentifikasi secara kasar. Pengambilan
contoh tanah dilakukan secara kering dengan cara mengganti ujung mata bor
denga tabung contoh. Cara ini tidak mengganggu tanah dibawah mata bor .
oleh karena itu contoh tanah yang diambil memungkinkan dalam kondisi tak
terganggu (udisterbed sample). Metode bor cuci tidak dapat digunakan jika
tanah mengandung batu-batu besar.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


85


Penyelidikan dengan pencucian (Wash Probing)
Wash probing digunakan untuk mengetahui kedalaman pertemuan antara
tanah lunak dan tanah keras atau padat . caranya, air yang bertekanan tinggi
disemprotkan melalui pipa-pipa yang digerakan keatas dan kebawah pada
lubang yang dilindung pipa gambar… cara ini dilakukan untuk penyelidikan
tanah di pelabuhan dan penentuan lapisan tanah dibawah lipisan sungai,
yang dimaksudkan untuk menentukan kedalaman pasir atau lanau yang
terletak di atas lapisan keras atau batu. Hal tersebut teutama digunakan dalam
pekerjaan pemancangan dan pengerukan.

3.Bor putar (rotary drill)
Penyelidikan tanah dengan menggunakan bor putar atau bor mesin gambar…
dapat dilakukan pada semua jenis tanah. Alat bor putar yang digerakan
dengan mesin dapat menembus lapisan tanah keras atau bat sampai
kedalaman lebih dari 40m. alat ini dapat digunakan pada lapisan tanah keras,
batu,tanah lempung dan bahkan tanah pasir.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


86


Pengeboran inti dilakukan jika pengeboran menembus lapisan batu. Dan bila
pada penyelidikan diinginkan untuk memperoleh contoh inti kontinu (continous
core sample) . putaran batang bor menekan ujung matan bor. Tabung inti luar
berputar bersama-sama batang bor dan manekan ke lapisan keras atau batu
di bawahnya mata bor dipasang pada ujung alat bornya. Putaran mata bor
membentuk gerusan yang berbentuk cincin. Contoh inti batu masuk kebagian
mata bor dan sekaligus masuk kedalam tabung inti dalam , yang dibuat tidak
ikut berputar. Selama pengeboran, air disirkulasikan lewat batang bor yang
berlubang. Contoh bentuk mata bor dari type double-tube core barrel,
ditunjukan dalam. Gambar 2.5
Pengeboran dapat dilakukan dengan tanpa mengunakan pipa selubung
(casing). Jika lubang cenderung akan longsor, dilakukan pengeboran dengan
memasukan kedalam lubang bor suatu cairan kental dari bahan lempung
vulkanik tiksotropik dan air. Cairan ini berfungsi menahan sisi lubang bor dan
menutup pori-pori tanah yang lolos air sekeliling lubang bor.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


87


II.ALAT – ALAT PENGAMBILAN CONTOH TANAH
Macam-macam contoh tanah yang harus diperoleh dari pengeboran
bergantung pada maksud penyelidikannya. Untuk identifikasi serta penentuan
sifat-sifat teknis tanah, dibutuhkan contoh tanah yang mewakili. Dari sini,
kemudian ditentukan nilai-nilai kuat geser, batas-batas Atterbeg, berat volume,
kandungan karbonat, dan kandunga material organiknya.
Contoh tanah diambil dari pengeboran dengan cara memasang tabung
contoh (sampler) pada ujung pipa bor di kedalaman yang berbeda-beda.
Pada contoh tanah yang tidak rusak susunan tanahnya atau sedikit sekali
dwrajat ketergantungannya, maka contoh tersebut disebut contoh tak
terganggu (undisturbed sample). Karakteristik tegangasn-tegangan tanah
harus diambil dari contoh tanah tak terganggu.
Dalam praktek, sangat sulit diperoleh contoh yang benar-benar tak terganggu,
walaupun penanganan contohnya sudah sangat hati-hati. Gangguan contoh
ini sering mempengaruhi hasil-hasil pengujian laboraturium. Penyebab
gannguan contoh tanah yang diambil dengan cara pengeboran, antara lain:
1. perubahan kondisi tegangan dari tempat asal.
2. perubahan kadar air tanah dan angka pori.
3. gangguan susunan butir tanah.
4. perubahan kandungan bahan kimia.
Hvorslev (1984) menyarankan dalam pengambilan contoh tanah, yang terbaik
adalah dengan cara menekan tabung dengan tidak memukulnya kedalam
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


88

tanah. Selain itu, dimensi tabung contoh harus sedemikian hingga rasio area
(Ca) direduksi sampai minimum.

Untuk memperkecil gesekan antara tanah dengan dinding bagian dalam
tabung, supaya derajat gangguan contohnya kecil, ujung tabung agak
dibengkokkan kedalam atau dilengkapi dengan alat pemotong yang
diiameterdalamnya lebih kecil dari dimeter dalam tabung contoh (Gambar
2.6a). Namun, hal ini juga menyebabkan akibat sampingan yang berupa
pengembangan contoh setelah berada didalam tabung.
Untuk klasifikasi dan untuk mempelajari karakteristik kepadatan tanah, contoh
targanggu (disturbed sample) dapat digunakan. Prinsip persyaratan contoh
terganggu adalah bahwa contoh tersebut harus mewakili kondisi lapisan
tanahnya. Hasil penyelidikan dengan bor tangan mewakili kondisi tanah dalam
kondisi terganggu.
Berbagai macam tabumg pengambilan contoh tanah telah dipakai hingga
saat ini, beberapa contohnya antara lain :
A.Tabung Contoh Tekanan Terbuka (Open Drive Sample)
Tabung contoh tekan terbuka terdiri dari tabung tabung baja yang dilengkapi
dengan alat pemotong pada ujungnya. Batang bor dihubungkan dengan
ujung atas tabung contoh (gambar 2.7). Diameter dalam tabung berkisar
antara 100 sampai 450 mm. Pada saat pengambilan contoh tanah, tabung
contoh ditekan secara dinamis atau statis oleh alat penekan.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


89


Tabung contoh tipe ini cocok untuk tanah berlempung. Jika digunakan dalam
tanahgranuler (berbutir lepas), penahan inti (core catcher) yang berfungsi
menahan contoh tanah agar tertahan dalam tabung harud digunakan.
Akibat pengaruh pekerjaan pengeboran, tanah dasar lubang bor yang berupa
lempung atau lanau sensitive, akan terganggu sampai pada kedalamn
tertentu. Oleh karena itu, bila tabung tekan terbuka kedalaman terbuka
ditekan, bagian atas dari tabung tersebutakan terisi oleh tanah yang telah
rusak susunannya. Selain itu, pada waktu tabung diputar untuk memotong
tanah didalam lubang bor, putaran akan merusakkan susunan tanahnya pada
bagian bawah contoh. Untuk menanggulangi kerusakan ini, lebih baik jika
digunakan tabung contoh berpiston.
B.Tabung Contoh Berpiston
Tabung contoh berdinding tipis yang cocok digunakan untuk tanah kohesif ini,
diperkenalkan oleh Hvorslev (1949). Diameter dalam tabung bervariasi dari 50-
100 mm, dan panjangnya bervariasi dari 450-750. tabung yang pendek
dipakai untuk dipakai tabung yang berdiameter kecil. Terdapat 2 tipe tabung
contoh untuk tabung berdinding tipis, yaitu tabung berpiston mengapung dan
tabung berpiston tetap . tabung contoh berpiston cocok digunakan untuk
tanah-tanah yang sensitive terhadap gangguan, seperti lempung lunak dan
lempung plastis. Kecuali itu dapat pula digunakan dalam pengambilan
contoh tanah pada lubang uji dan pengambilan contoh tanah pada lubag
bor yang dangkal.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


90


( a ) tabung contoh berpiston mengapung (floating piston)

Alat ini terdiri dari tabung baja tipis yang kadang-kadang dilengkapi dengan
alat pemotong pada ujungnya (gambar 2.8). Tabung contoh dilengkapi
dengan piston yang tergantung oleh sebuah kabel. Pada waktu tabung
dimasukan kedalam lubang bor hingga menyentuh dasar lubang, posisi piston
mula-mula terletak pada ujung bawah tabung, agar tanah tidak masuk
kedalamnya. Setelah tabung dan piston menyentuh tanah dasar, tabung
contoh ditekan kebawah sedang piston tetap ditempatnya. Untuk
pengambilan contoh, tabung harus sedikit diputar (atau alat pemotong
tambahan harus dipasang pada ujungnya). Gesekan antara contoh tanah
dan dinding tabung membuat contoh tanah tetap tinggal dalam tabungnya.
Pada tabung contoh ditarik keluar dan dilepas dari tangkai bor, kedua ujung
tabung contoh tanah yang telah berisi tanah tidak terganggu ditutup dengan
lilin, dan dibawa ke laboratorium.
( b. ) tabung contoh berpiston tetap (fixed piston)
Pada tabung contoh berpiston tetap (gambar 2.8) piston dapat diletakan
pada posisinya oleh sebuah batang baja yang memanjangsampai
permukaan tanah. Pengambilan contoh tanah dipilih pada kedalaman
tertentu, dimana diperkirakan tanahnya tidak terganggu oleh operasi
pengeboran. Saat pengambilan contoh tanah, piston ditahan pada posisinya
dan tabung ditekan ke bawah. Dengan cara ini, jika tanah lunak, tabung
dapat ditekan ke bawah sampai kedalaman yang diinginkan dngan tanpa
memperdalam pengeboran.
( c ) tabung contoh belah (split barrel sample)
Tabung contoh terdiri dari tabung yang dapat dibelah menjadi dua bagian
satu sama lain pada waktu mengeluarkan contoh tanah (gambar 2.9) secara
keseluruhan, bagian-bagian tabung contoh tanah dari bawah keatas terdiri
dari: bagian pemotong pada ujung bawah tabung yang dapat dibelah,
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


91

tabung penghubung dan bagian kepala tabung. Untuk menahan contoh
tanah tetap di tempatnya, pada bagian atas alat pemotong diberi katup
penutup. Salah satu dari jenis tabung contoh ini, digunakan untuk pengujian
penetrasi standart (SPT).

III,PENANGANAN CONTOH TANAH
Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penanganan contoh tanah adalah
bahwa setelah tabung contoh tanah diambil dari lubang bor, ujung-ujungnya
harus dibersihkan dan ditutup lilin. Maksudnya adalah agar contoh tanah tidak
berubah kadar airnya, dan juga unuk menahan gangguan contoh tanah yang
mungkin timbul dalam perjalanan ke laboraturium. Selain itu pada tabung
contoh tanah bor, dan kedalaman contoh. Ujung atas dan bawah tabung
contoh harus ditandai dengan benar, sehingga pada pengujian di
laboraturium akan diketahui ke arah mana contoh tanah akan dikeluarkan dari
dalam tabung contoh. Contoh tanah lempung sensitive harus dijaga dengan
baik pada waktu diangkut ke laboratorium,terutama jangan sampai terjadi
getaran yang besar yang dapat merusak contoh tanah.
IV.LAPORAN HASIL PENGEBORAN
Laporan hasil pengeboran tanah harus dibuat jelas dan tepat pengawas
lapangan yang menangani pekerjaan selain harus selalu mencatat hal-hal
kecil yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan, seperti : pergantian alat
dan tipenya, kedalaman pada waktu penggantian alat, metode penahanan
lubang bor agar stabil atau penahan tebing lubang uji.
Sesudah contoh tanah diuji di laboratorium, ditentukan klasifikasinya. Catatan
lapangan bersama dengan hasil pengujian laboratorium tersebut dirangkum
sedemikian sehingga batas-batas antara material yang berbeda diplot pada
elevasi yang benar, menurut skala yang ditentukan.
Semua hasil-hasil pengeboran dicatat dalam laporan hasil pengeboran (atau
disebut boring log), yang berisi antara lain:
1. Kedalaman lapisan tanah.
2. Elevasi permukaan tiik bor, lapisan tanah dan muka air tanah.
3. Simbol jenis tanah secara grafis.
4. Deskripsi tanah.
5. Posisi dan kedalaman pengambilan contoh. Disebutkan kondisi contoh
terganggu atau tak terganggu.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


92

6. Nama proyek, lokasi, tanggal, dan nama penanggung jawab pekerjaan
pengeboran.
Dalam penggambaran profil lapisan tanah, lapisan tanah disajikan dalam
bentuk simbol-simbol yang digambar secara vertical. Gambar 2.10 menyajikan
contoh symbol-simbol tersebut. Kebanyakan tanah terdiri dari beberapa
campuran dari jenis tanah-tanah tertentu, seperti lempung berlapis, lanau
berlapis, lanau berpasir, kerikil berlanau, dan sebagainya. Dalam kondisi ini,
symbol-simbol dapat dikombinasokan, dengan kandungan tanah yang
dominan digambar lebih banyak atau lebih tebal.

V.PENYELIDIKAN TANAH DILAPANGAN
Jenis-jenis tanah tertentu sangat mudah sekali terganggu oleh pengaruh
pengambilan contoh didalam tanah. Unuk menanggulanginya sering
dilakukan beberapa pengujian-pengujian tersebut antara lain :
o Uji penetrasi standart atau uji SPT (standart penetration test)
o Uji penetrasi kerucut statis (static penetration test)
o Uji beban plat (plate load test)
o Uji geser kipas atau geser baling-baling (vane shear test)
Pengujian dilapangan sangat berguna untuk mengetahui karakter tanah
dalam mendukung beban fondasi dengan tidak dipengaruhi oleh kerusakan
Contoh : tanah akibat operasi pengeboran dan penanganan, contoh.
Khususnya berguna untuk menyelidiki tanah lempung sensitive, lanau dan
tanah pasir tidak padat.
Perlu diperhatikan bahwa hasil-hasil uji geser kipas dan uji penetrasi , hanya
memberikan informasi kuat geser (kekuatan) tanah saja, oleh karena itu
pengujian-pungujian tersebut seharusnya tidak digunakan sebagai pengganti
pengeboran, namun hanya sebagai pelengkap data hasil penyelidikan. Suatu
yang tidak dapat diidentifikasikan oleh pengujian tersebut adalah mengenai
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


93

jenis tanah yang ditembusnya secara pasti, atau perbedaan jenis tanahnya.
Sebagai contoh, pengujian tidak dapat memberikan informasi mengenai
tanah yang diuji apakah tanah organic atau lempung lunak, atau tanah
berupa pasir tak padat atau lempung kaku, karena yang diketahui hanya
tahanan penetrasi atau kuat gesernya saja. Demikian pula, hasil-hasil pengujian
tidak dapat memberikan informasi mengenai kondisi air tanah. Untuk itu,
kekurangan-kekurangan data dapat dilengkapi dengan mengadakan
pengeboran tanah.
a.Uji Penetrasi Standar (SPT)
Uji penetrasi standar dilakukan karena sulitnya memperoleh contoh tanah tak
terganggu pada tanah granuler. Pada pengujian ini, sifat-sifat tanah
ditentukan dari pengukuran kerapatan relative secara langsung dilapangan.
Pengujian untuk mengetahui nilai kerapaatan relative yang sering digunakan
adalah Uji Penetrasi Standar atau disebut Uji SPT (Standar Penetration Test).
Uji SPT dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Sewaktu melakukan pengeboran inti, jika kedalaman pengeboran telah
mencapai lapisan tanah yang akan diuji, mata bor dilepas dan diganti dengan
alat yang disebut tabung belah standar (Standar Split barrel sampler) (Gambar
2.11a). Setelah tabung ini dipasang, bersama-sama dengan pipa bor, alat
diturunkan sampai ujungnya menumpu lapisan tanah dasar, dan kemudian
dipukul dari atas. Pukulan diberikan oleh alat pemukul yang beratnya 63,5 kg
(140 pon), yang ditarik naik turun denagn tinggi jatuh 76,2 cm (30”) (Gambar
2.11c).
Nilai SPT diperoleh dengan cara sebagai berikut:
Tahapan pertama, tabung belah standar dipukul sedalam 15 cm (6”). Kemudian
dilanjutkan pemukulan tahap kedua sedalam 30,48 (12”). Jumlah pukulan tahap
kedua ini, yaitu jumlah pukulan yang dibutuhkan untuk penetrasi tabung belah
standar sedalam 30,48 cm, didevinisikan sebagai nilai-N. Pengujian yang lebih
baik dilakukan dengan menghitung pukulan pada tiap-tiap penembusan
sedalam 7,62 cm (3 inci) atau setiap 15 cm (6 inci). Dengan cara ini, kedalaman
sembarang jenis tanahdidasar lubang bor dapat ditaksir, dan elevasi dimana
gangguan terjadi dalam usaha menembus lapisan yang keras seperti batu,
dapat dicatat.
Pada kasus-kasus umum, uji SPT dilakukan setiap penetrasi bor 1,5 – 2 m atau
paling sedikit pada tiap-tiap pergantian jenis lapisan tanah disepanjang
kedalaman lubang bornya. Untuk fondasi dangkal interval pengujian dapat
lebih rapat lagi.
Untuk tanah berbatu, palmer dan stuart (1957) memodifikasi tabung belah
standar yang terbuka menjadi tertutup dan meruncing 30º pada ujungnya
(Gambar 2.22b). pengamatan telah menunjukan bahwa pada umumnya nilai N
yang diperoleh oleh kedua tipe alat ini mendekati sama, untuk jenis tanah dan
kerapatan relative tanah yang sama.
Pada perancangan fondasi, nilai N dapat dipakai sebagai indikasi kemungkinan
model keruntuhan fondasi yang akan terjadi (Terzaghi dan Peck, 1948). Kondisi
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


94

keruntuhan geser local (Local shear failure) dapat dianggap mterjadi, bila N < 5,
dan keruntuhan geser umum (general shear failure) terjadi pada nilai N >30.
Untuk nilai N antara 5 dan 30, interpolasi linier dari koefisien kapasitas dulung
tanah Na, Nq dan Ny dapat dilakukan. Bila nilai-nilai kerapatan relative (Dr)
diketahui, nilai N dapat didekati dengan persamaan (meyerhof, 1957).
N = 1,7 D r² (14,2po´ + 10)
Dengan:
Dr = Kerapatan relative
po ’ = tekanan vertical akibat beban tanah efektif pada kedalaman
tanah yang ditijau, atau tekanan
overburden efektif.





Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


95




Hubungan nilai N dengan kerapatan relative (Dr) yang diusulkan oleh Terzaghi
dan Peck (1948), untuk tanah pasir, disajikan dalam Tabel 2.1
Nilai N Kerapatan relative (Dr)
<4
4-10
10-30
30-50
>50

Sangat tidak padat
Tidak padat
Kepadatan sedang
Padat
Sangat padat

Untuk tanah lempung jenuh, Terzaghidan Peck (1948) memberikan hubungan N
secara kasar dengan kuat tekan-bebas, seperti yang diperlihatkan dalam Tabel
2.2. kuat tekan-bebas (qu) diperoleh dari uji tekan-bebas, Cu= 0,5qu dan simbul
. akan tetapi, penggunaan hubungan nilai N dan kuat geser tanah lempung
jenuh pada Tabel 2.2tersebut tidak direkomendasikan. Peck, dkk. (1953)
menyatkan bahwa nilai N hasil uji SPT untuk tanah lempung hanyalah sebagai
pendekatan kasar, sedang pada tanah pasir, nilai N hasil uji SPT dapat di
percaya. Untuk menentukan kuat geser tanah lempung jenuh, lebih baik jika
nilainya di peroleh dari uji geser kipas (vane shear test) di lapangan atau dari
pengujian contoh tanah tak terganggu di laboraturium.
Untuk menentukan kapasitas dukung izin dari hasil uji SPT, diperlukan estimasi
kasar nilai lebar fondasi (B) dari fondasi terbesar pada bangunan. Untuk fondasi
dangkal, uji SPT dilakukan pada interval 2,5 ft (76 cm) dibawah dasar fondasi,
dimulai dari kedalaman dasar fondasi (Df) sampai kedalaman Df + B (Terzaghi
dan Peck, 1948). Nilai N rata-rata sepanjang kedalaman ini akan berfungsi
sebagai gambaran kasar dari kerpatan relative pasir ang berada di bawah
dasar fondasi, yang masih mempengaruhi besar penurunan. Jika uji SPT
dilakukan pada beberapa lubang pada lokasi yang berlainan, nilai N rata-rata
terkecil digunakan dalam mamperkirakan nilai kapasitas dukung tanahnya
(Terzaghi dan Peck, 1948).


Table 2.2 Hubungan nilai N, konsistensi dan kuat tekan bebas (qu) untuk tanah
lempung jenuh (Terzaghi dan Peck, 1948)
Nilai N Konsistensi
Kuat tekan bebas (qu)
(KN/m²)
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


96

< 2
2 - 4
4 - 8
8 - 15
15 - 30
> 15
Sangat lunak
Lunak
Sedang
Kaku
Sangat Kaku
Keras
< 25
25 – 50
50 – 100
100 – 200
200 – 400
> 400

b. Uji Penetrasi Kerucut Statis
Uji penetrasi kerucut statis atau uji sondir banyak digunakan diindonesia, di
samping uji SPT. Pengujian ini sangat berguna untuk memperoleh nilai variasi
kepadatan tanah pasir yang tidak padat. Pada tanah pasir yang padat dan
tanah – tanah berkerikil dan berbatu, penggunaan alat sondir menjadi tidak
efektif, karena mengalami kesulitan dalam menembus tanah. Nilai –nilai
tahanan kerucut statis atau tahanan konus (q˛) yang diperoleh dari pengujian,
dapat dikorelasikan secara langsung dengan kapasitas dukung tanah dan
penurunan pada fondasi – fondasi dangkal dan fondasi tiang.
Ujung alat ini terdiri dari kerusut baja yang mempunyai sudut kemiringan 60°dan
berdiameter 35,7 mm atau mempunyai luas tampang 1000 mm²bentukstematis
dan cara kerja alat ini dapat dilihat pada Gambar 2.12 a. Salah atu macam
alat sondir dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengukur tahanan ujung
dan tahanan gesek dari selimut silinder mata sondirnya.
Cara pengguanaan alat ini, adalah dengan menekan pipa penekanan dan
mata sondir secara terpisah, melalui alata penekanan mekanis atau dengan
tangan yang memberikan gerakan kebawah. Kecepatan penekanan kira –
kira 10 mm/detik. Pembacaan tahanan kerucut statis atau tahan konus
dilakukan dengan melihat arloji pengukur. Nilai q˛ adalah besarnya tahanan
kerucut dibagi dengan luas penampangnya. Pembacaan arloji pengukur,
dilakukan pada tiap – tiap penetrasi sedalam 20 cm. Tahanan ujung serta
tahanan gesek selimut alat sondir dicatat. Dari sini diperoleh grafik tahanan
kerucut statis atau tahanan konus yang menyajikan nialai ke duanya ( Gambar
2.12 b).
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


97


Karena uji kerucut statis ( sondir) tidak mengeluarkan tanah saat pengujian
berlangsung, maka jenis tanah tidak diketahui dengan pasti. Robertson dan
Campanella (1983) mengusulkan hubungtan tanah konus (q˛) dengan rasio
gesekan Rf, untuk mengklasifikasikan tanah secara pendekatan, seperti yang
ditunjukan dalam Gambar 2.12 b dan 2. 13. pada Gambar tersebut Rf adalah
rasio gesekan ( Fricition ratio ) yang merupakan perbandingan antara gesekan
selimut local, fs ( gaya gesek yang bekerja pada selimut konus dibagi dengan
luas selimutnya atau disebut gesek satuan ) dengan tahanan konus q˛ atau
rasio gesekan dinyatakan oleh persamaan:
Rf = fs/q˛ x100%



Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


98

c. Uji Beban Pelat
Uji beban pelat (plate lood test ) sangat cocok untuk penyediaan tanah
timbunan atau tanah yang mengan dung banyak kerikil atau batuan, dimana
uji-uji lapanga yang sulit dilaksanakan.
Pelat beban berupa pelat besi berbentuk lingkaran atau bujursangkar dengan
diameter yang bervariasi dari 30 cm atau lebih besa lagi. Dimensi pelat
tergantung dar ketelitian hasil pengujian yang dikehendaki. Pada prinsipnya,
bila ukuran pelat menedekati atau sama dengan lebar pondasi sebenarnya,
maka semakin teliti hasil yang diperoleh. Pelat diletakan pada dasar pondasi
rencana dengna lebar lubang paling sedikit 4 kali lebar pelat yang digunakan (
Gambar 2.14). Pengamatan besar beban dan penurunan terjadi dilakukan
sampai tanah mengalami keruntuhan atau pengujian dihentikan bila
tekanannya mencapai kira- kira 2 kali kapasitas dukungan pondasi yang
dirancang. Penambahan beban yang diterapkan, kira kira 0,1 kali nilai estimasi
kapasitas dukungan tanah.
Bentuk dan ukuran pelat pengujian bervariasi tergantung dari tujuan pengujian.
Kapasitas dukungan ultimit yan gdiperoleh dapat digunakan langsung, jika
ukuran pelat beban sama dengan ukuran pondasi yang akan digunakan.
Untuk itu, kapasitas ujung izin dihitung dengan cara membagi kapasitas dukung
ultimit dengan factor aman. Jika penurunan merupakan kriteria yang dijadikan
pedoman dalam penentuan kapasitas dukung , kapasitas beban yang
menyebabkan terlampauinya persyaratan penurunan yang perlu diperhatikan.

d. Uji kipas di Lapangan
Beberapa macam alat telah digunakan untuk mengukur tahanan geser tanah
kohesif. Salah satunya adalah, alat uji geser kipas atau geser baling baling
(vane shear test). Salah satu macam alatnya terdiri dari kipas baja seinggi 10
cm dan diameter 5 cm yang berpotongan saling tegak lurus (Gambar 2.15a).
dalam peraktek, terdapat beberpa ukuran kipas yang bisa digunakan.
Pada saat melakukan pengujian, alat ini di pasang pada ujung bor, kipas
berserta tangkainya ditekan ke dalam tanah, kemudian di putar dengan
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


99

kecepatan 6 sampai 12˚ per menit. Besarnya torsi (tenga puntiran) yang di
butuh kan untuk memutar kipas diukur karena tanah tergeser menurut bentuk
silinder vertical yang terjadi di pinggir baling-baling, tahanan geser tanah
dapat dihitung, jika dimesi baling-baling dan gaya puntiran diketahui.untuk
kipas berbentuk segi empat, kuat geser tanah lempung jenuh, dihitung dengan
persamaan:1
Pengukuran dilakukan sepanjang kedalaman tanah yang diselidiki, pada jarak
interval kira-kira 30 cm. bila pengukuran dilakukan dengan pembuatan lubang
dari alat bor, kipas ditancapkan paling sedikit berjarak 3 kali diameter lubang
bor diukur dari dasar lubangnya. Hal ini dimaksudkan untuk menyelidiki tanah
yang benar-benar tak terganggu oleh operasi pengeboran. Kuat geser tanah
yang telah berubah susunan tanahnya (remoulded) dapat pula dilakukan
dengan pengukuran torsi minimum yang dibutuhkan untuk memutar baling-
baling secara cepat dan kontinu.

Studi yang mendetail telah membuktikan bahwa kuat geser tanah lempung
yang diperoleh dari uji geser kipas di lapangan terlalu besar (Aman,dkk., 1975).
Hal ini disebabkan oleh zona geser yang terjadi saat tanah geser,lebih besar dari
bidang runtuh tanahnya (Gambar 2.15b). perluasan bidang runtuh, tergantung
dari macam dan kohesi tanah. Bjerrum (1972), mengusulkan koreksi kuat geser
dari kuat geser yang diperoleh dari uji geser kipas di lapangan, sebagai berikut :
Su (nyata) = α Su (lapangan) (2.7)
Dengan:
Su = cu = kohesi tak terdrainasi (kohesi undrained).
Su (nyata) = Kuat geser tak terdrainasi yang digunakan dalam perancangan.
Su (lapangan) = kuat geser tak terdrainasi yang diperoleh dari uji geser kipas
dilapangan.
α = factor kohesi yang ditunjukkan pada Gambar 2.16.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


100


VI. DENAH TITIK-TITIK PENYELIDIKAN
Lokasi titik-titik penyelidikan tanah harus diusahakan sedekat mungkin dengan
letak fondasi. Hal ini penting, terutama bila bentuk lapisan tanah pendukung
fondasi tidak beraturan. Bila denah struktur belum tersedia pada waktu di
lakukan penyelidikan tanah, maka denah bor umumnya disusun dalam bentuk
segiempat (lihat Gambar 2.17).

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


101

Untuk area yang luas, diperlukan jarak lubang bor yang agak lebar dan
diselengi dengan beberpa uji lapangan tambahan, seperti : uji kerucut stastis
(sondir)atau pemeriksaan dengan cara lubang uji (test-pi). Letak titik-titik
penyelidikan tambahan tersebut, dipilih pada jarak yang dekat, yaitu diantara
lubang-lubang bor.
Jumlah lubang bor yang diperlukan sangat bergantung pada kekomplekan
kondisi pada lapisan tanah dan biaya yang tersedia. Yang jelas, semakin
banyak lubang bor, semakin teliti informasi yang di peroleh dari kondisi
tanahnya. Bila biaya penyelidikan terbatas, diperlukanpertimbaqngan matang
guna memutuskan jumlah lubang bor yang mewakili kondisi tanah.
Pada bangunan yang bebannya tidak begitu besar, paling tidak harus ada 2
atau sebaliknya 3 lubang bor, sehingga benuk kemiringan lapisan tanah dapat
diketahui. Jika jumlah lubang terlalu sedikit, estimasi bentuk kemiringan lapisan
tanah dpat meleset dari sebenarnya, disamping kurangny informasi yang
diperoleh dari kondisi tanah.
Untuk fondasi bangunan tingkat tinggi dan bangunan industri, paling sedikit
diperlukan satu lubang bor pada tiap-tiap sudut bangunannyayang diselingi
dengan uji penetrasi kerucut statis. Untuk tiap-tiap sudut bangunan-bangunan
tersebut, sebaiknya jarak titik bor tidak melebihi 15 m (Terzaghi dan Peck, 1948).
Untuk jembatan dan bendungan, 2 set pengeboran perlu dikerjakan.
Pengeboran pertama terletakpada sumbu-sumbuny, untuk mengetahui
apakah pada lokasi tersebut tanahnya mampu mendukung beban.
Pengeboran kedua dilakukan pada lokasi tepat dibawah pangkal jembatan
atau pilarnya. Pada bendungan, set kedua dilakukan pada lokasi bangunan
pelengkap, seperti lokasi bendungan elak. Terzaghi dan Peck
(1948),menyarankan jarak titik borminimum 30 m dan maksimum 60 m untuk
proyek yang sangat luas dan besar. Untuk proyek jalan raya, pengeboran
dilakukan pada jarak interval kira-kira 30 msepanjang jalannya. Kedalaman
lubang bor disarankan 2-4 m dibawah tanah asli, bila dasr perkersan tanah asli,
dan 1-4 m dibawh perkerasn jalan, bila perkersannya diletakkan dengan
menggali tanah asli.

VII. KEDALAMAN LUBANG BOR
Kedalaman pada lubang bor bergantung pada kedalaman tanah yang masih
dipengaruhi oleh penyebaran tekanan fondasi bangunan. Tekanan vertical
pada kedalaman 1,5 kali lebar fondasi (B) adalah masih kira-kira 0,2 kali
besarnya tekanan pada dasar fondasi. Oleh karna itu, kedalaman lubang bor
harus kira-kira 1,5 kali lebar fondasinya atau 1,5B, dengan B adalah lebar
fondasi.
Untuk fondasi telapak (sepread footing) atau fondasi memanjang (continuous
footing) kedalaman lubang bor agak dangkal (Gambar 2.18a). namun untuk
fondasi rakit (raft atau mat foundation) kedalaman lubang bor akan lebih
dalam (Gambar 2.18c).

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


102


Pada fondasi telapak yang jaraknya terlalu dekat, penyebaran beban
ketanahdibawahnya saling tumpang indih, maka kedalaman lubang bor akan
sama halnya dengan kedalaman fondasi rakit, yaitu1,5B (Gambar 2.18b) untuk
fondasi tiang, kedalamanlubsng bor harus lebih dalam dari bawah dasar
tiangnya. Dengan pertimbangan bahwa lapisan tanah di bawah tiang masih
mendukung beban yang ditranfer lewat tiang, umumnya, untuk fondasi tiang
yangterletak pada tanah homogen, prilakunya akan sama seperti rakit yang
dasar fondasinya dihitung dari kedalaman 2/3 panjang tiang (Gambar 2.18c).
Untuk itu, kedaslaman lubang bor untuk fondasi tiang adalah 2/3D + 1,5B,
dengan D adalah panjang tiang dan B adalah lebar area kelompok tiang.
Dalam hal fondasi akan di letakkan pada lapisan batu, harus yakin benar
apakah ketebalan lapisan batu tersebut mampu mendukung penyebaran
bebannya. Untuk itu, apabila lapisan batu terletak dipermukaan, ketebalan
lapisan dapat diketahui dengan cara membuat lubang uji secara langsung.
IX.INFORMASI YANG DIBUTUHKAN UNTUK PENYELIDIKAN TANAH

Bila Penyelidikan tanah dilakukan secara detail, maka perancang harus
berusaha memperolah data, sebagai berikut :
(1) Kondisi topografi lokasi pekerjaan. Data ini diperlukan untuk perancangan
fondasi dan penentuan cara pelaksanaan di lapangan terutama pada
proyek-proyek bangunan air dan jalan.
(2) Lokasi-lokasi bangunan yang terpendam di dalam tanah, seperti kabel
telepon, pipa-pipa atau gorong-gorong untuk air kotor dan air bersih, dan
lain-lainnya.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


103

(3) Pengalaman setempat sehubungan dengan kerusakan-kerusakan
bangunan yang sering terjadi di sekitar lokasi pekerjaan.
(4) Kondisi tanah secara global, muka air tanah dan kedalaman batuan.
Keterangan ini sering dapat diperoleh dari penduduk setempat.
(5) Keadaan iklim, elevasi muka air banjir, erosi tanah, dan besarnya gempa
yang sering terjadi.
(6) Tersedianya material alam dan kualitasnya,yang berguna untuk bahan
pembentuk bangunan seperti campuran beton.
(7) Data geologi yang disertai keterangan tentang proses pembentukan
lapisan tanah dan batuan di lokasi pekerjaan, serta kemungkinan
terjadinya penurunan tanah maupun bangunan akibat penurunan muka
air tanah.
(8) Hasil-hasil penyelidikan laboratorium pada contoh-contoh tanah dan
batuan, yang dibutuhkan untuk perancangan fondasi atau penanganan
problem-problem pelaksanaannya.
(9) Foto kondisi lapangan dan bangunan-bangunan di dekatnya.

Di bawah ini diberikan data tambahan yang diperlukan untuk
perancangan fondasi bangunan-bangunan tertentu.
(a) Fondasi Bangunan Gedung
(1) Ukuran dan tinggi bangunan serta kedalaman ruang bawah tanah
(basement), bila ada.
(2) Susunan dan jarak antar kolom serta besar beban.
(3) Tipe rangka bangunan dan bentangnya, serta kemungkinan adanya
tempat-tempat tertentu yang mendukung beban khusus, seperti fondasi
mesin.
(4) Tipe tembok luar dan kaca pintu jendela yang sensitive terhadap
penurunan bangunan.

(b) Fondasi Jembatan
(1) Tipe dan bentang jembatan.
(2) Besarnya beban pada pangkal jembatan dan pilar.

Perlu diperatikan bahwa pemeriksaan langsung di lapangan dengan
berjalan kaki sangat penting pada penyelidikan tanah. Pertimbangan-
pertimbangan dalam perancangan fondasi sering dihasilkan dari pekerjaan
tersebut. Hal ini untuk mengetahui masalah-masalah penting yang perlu
dipertimbangkan dalam perancangan dan pelaksanaan. Selain itu, juga
untuk mengetahui bentuk dan kondisi permukaan tanahnya.

X.LAPORAN PENYELIDIKAN TANAH UNTUK PERANCANGAN FONDASI

Laporan penyelidikan tanah untuk perancangan fondasi dibuat untuk
mempertimbangkan seluruh data bor, lubang uji, observasi lapangan, uji-uji
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


104

lapangan dan laboratorium. Selanjutnya, laporan penyelidikan tanah secara
lengkap harus berisi:
(1) Pendahuluan.
(2) Deskripsi Lokasi Proyek.
(3) Kondisi Geologi Lokasi Proyek.
(4) Deskripsi Lapisan Tanah yang diperoleh dari hasil pengeboran.
(5) Hasil pengujian Laboratorium.
(6) Pembahasan.
(7) Kesimpulan.

Berikut ini penjelasan mengenai isi dari bab-bab tersebut.

Pendahuluan. Pendahuluan berisi tentang maksud dan tujuan diadakannya
penyelidikan tanah, waktu penyelidikan, dan untuk siapa penyelidikan
tersebut dilakukan. Harus dijelaskan maksud penyelidikan yang dilakukan:
hanya untuk memperoleh data yang terbatas, yang akan digunakan dalam
penyelidikan yang sifatnya taksiran, atau untuk penyelidikan lengkap
dengan pengeboran, pengujian laboratorium, dan analisis hasil, yang
dilaksanakan untuk pertimbangan perancangan fondasi, cara pelaksanaan,
serta untuk menghitung kapasitas hitung dukung tanah izin.

Deskripsi Lokasi Proyek. Pada bagian ini harus dijelaskan: letak proyek,
kondisi permukaan tanah, adanya pohon-pohon, bangunan lama,
kubangan, tempat pembuangan sampah, sungai, jalan, saluran atau
gorong-gorong air, dan lain-lainnya. Selian itu, dijelaskan pula mengenai
kemungkinan adanya banjir, erosi permukaan, gempa bumi, stabilitas tebing,
serta retakan-retakan akibat penurunan yang seringkali terjadi pada
bangunan di sekitar lokasi tersebut.

Kondisi Geologi Lokasi Proyek. Keterangan kondisi geologi di lokasi pekerjaan
diberikan berdasarkan hasil data pengeboran. Data hasil pengeboran
sebaiknya dibandingkan dengan data yang telah ada sebelumnya, untuk
pertimbangan ketelitian hasil pengujian. Dari data geologi yang diperoleh,
perhatian diberikan jika terdapat patahan, sumber air, rongga-rongga
bawah tanah, lapisan lunak, dan lain-lain yang nantinya akan sangat
mempengaruhi basarnya kapasitas dukung fondasi.

Deskripsi Lapisan Tanah yang diperoleh dari hasil Pengeboran. Pada bab ini,
deskripsi kondisi lapisan tanah dibuat dari hasil data pengeboran. Disini harus
dijelaskan mengenai gambaran jenis dan bentuk lapisan tanah, elevasi
perubahan lapisan serta elevasi muka air tanah. Penggambaran bentuk
lapisan akan berguna sebagai pertimbangan teknis dalam perancangan.
Gambar 2.19 memberikan contoh cara penggambaran gabungan
beberapa data bor.
Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


105




Hasil Uji Laboratorium. Bab ini berisi penjelasan mengenai macam-macam
pengujian laboratorium yang dilakukan. Prosedur pengujian dijelaskan hanya
bila dilakukan pengujian yang tidak standar, khususnya untuk alat
penyelidikan. Perhatian diberikan bila terdapat hasil pengujian yang tidak
seperti biasanya atau ada hal-hal khusus lainnya. Untuk penjelasan secara
detail, hasil pengujian sebaiknya dibuat dalam bentuk tabel-tabel dan
grafik-grafik. Hal ini dilakukan pada hasl-hasil uji triaksial, tekan-bebas, geser-
langsung, analisis butiran, dan uji konsolidasi.

Pembahasan. Bab ini merupakan inti pokok dari isi laporan. Penyajian harus
diusahakan untuk membahas masalahnya secara jelas dan singkat.
Pembahasan dilakukan pada kondisi bangunan rencana dan beban-beban
rencana yang nantinya akan dipertimbangkan terhadap kondisi tanah
fondasi dan jenis fondasi yang cocok untuk mendukung bangunan. Bagian
selanjutnya adalah pembahasan pada bangunan pelengkap, seperti ruang
generator listrik, ruang mesin-mesin yang berat, ruang pemanas, dan lain-
lain, yang akan membutuhkan fondasi yang khusus.
Bila dipakai fondasi memanjang atau fondasi telapak, harus ditetapkan
beberapa kedalaman fondasi, dimensi, kapasitas dukung izin dan penurunan
yang diharapkan akan terjadi pada tekanan tanah yang diizinkan tersebut.
Dijelaskan pula, kemungkinan keuntungan-keuntungan yang dapat
diperoleh bila elevasi dasar fondasi lebih dalam, untuk memperoleh
kapasitas dukung tanah yang lebih besar atau dapat memperkecil
penurunan tanpa mengabaikan segi ekonomis.

Jika dipakai fondasi tiang, dijelaskan mengenai lapisan tanah pendukung
tempat tiang harus dipancang, kedalaman penetrasi ke lapisan pendukung,
beban maksimum yang diizinkan per tiang atau kelompok tiang, serta
penurunan yang diharapkan akan terjadi pada tiang tunggal atau kelompok
tiangnya.

Mekanika Tanah I
Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Ibn Khaldun Bogor


106

Masalah-masalah harus dipelajari dengan tanpa prasangka,sebagai contoh
hasil pengujian yang hasilnya terlalu yang hasilnya rendah herus tidak
diabaikan hanya karena tidak cocok dengan kapasitas dukung yang
diperkirakan sebelumnya. Selanjutnya, sebab-sebab kenapa kapasitas
dukung sangant rendah harus dipelajari. Jika hal itu akibat kerusakan contoh,
aau jika nilai yang terlalu rendah hanya sedikit saja sehingga tidak
berpengaruh besar pada hasil keseluruhannya, hasil tersebut dapat
diabaikan. Jika hasil pengeboran lokasi tertetu menunjukkan perbedaan
dengan hasil-hasil lain di sekitarnya, sehingga susunan fondasi menjadi tidak
teratur, maka mengenai hal ini harus diberikan. Bila terdapat keraguan
mengenai hasil pengeboran, pengeboran ulang harus diadakan, sehingga
diperoleh hasil yang memuaskan.

Rekomendasi untuk perancangan fondasi harus didasarkan pada hal- hal
yang hubungannya dengan hasil penyelidikan yang diperoleh, yaitu
didasarkan pada hasil pengeboran dan pengujian, dan tidak boleh
didasarkan pada dugaan.

Kesimpulan. Jika laporan penylidikan yang disajikan terlalu panjang, maka
sebaiknya diringkas dalam bentuk item-item, dan di dalam bab kesimpulan.
Hal ini berguna untuk membantu perancangan yang terlalu sibuk yang tidak
mempunyai cukup waktu untuk membaca seluruh pembahasan. Atau
dengan cara lain, laporan penyelidikan dimulai dengan ringkasan prosedur
penyelidikan dan garis besar kesimpulan.



Sumber :
a. Braja M.Das, Noor Endah, Indrasurya B Mochtar, Mekanika Tanah
(Prinsip-prinsip Rekayasa Geoteknis), jilid 1, Erlangga
b. Craig . R.F, Budi Susilo, Mekanika Tanah, Erlangga1989
c. Holtz & WD Kovacs, An Introduction to Geotechnical Engineering.
d. Joseph E.Bowlesh, Physical and Geotechnical Properties of Soils,
McGraw Hill,1984.
e. Vidayanti Desiana, Mekanika Tanah I, Jakarta, Pusat
Pengembangan Bahan Ajar UMB

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful