You are on page 1of 4

GEOLOGI LINGKUNGAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Review Film The Lady Kelompok 1 : Karlina Triana, Shofa Rijalul Haq, Widyawanto

Prastisho
Film The Lady (2011) adalah sebuah film yang menceritakan kisah dramatis Aung San Suu Kyi, wanita tokoh pro-demokrasi di Negara Burma (kini dikenal dengan Myanmar), dalam misinya memperjuangkan kedamaian di negaranya. Aung San Suu Kyi dilahirkan pada 19 Juni 1945 Aung San Suu Kyi tumbuh bersama ibunya, Khin Kyi, dan dua saudara laki-laki, Aung San Lin dan Aung San U di Yangon. Pada saat usia Suu Kyi masih sangat belia, ayahnya yang bernama Aung San, tokoh kemerdekaan Burma, dibunuh bersama rekan-rekannya oleh rezim militer. Aung San, ayah dari Aung San Suu Kyi, bersama U Nu adalah tokoh utama di balik kemerdekaan dan menjadi pemimpin negara. Akan tetapi, pada tahun 1962, militer yang didominasi etnis Birma mengambil alih kekuasaan negara. Ne Win adalah otak di balik kudeta itu. Cikal bakal junta militer sekarang (disebut sebagai Dewan Negara untuk Perdamaian dan Pembangunan / SPDC) berasal dari kekuasaan Ne Win itu. SPDC sendiri didominasi oleh etnis Birma. Konfigurasi kekuasaan perlawanan hak dari pun menjadi tidak berimbang antara etnis etnis Birma Karen, yang yang mendominasi dan etnis non-Birma yang merasa ditindas. Sehingga muncullah beberapa etnis non-Birma, termasuk mendominasi wilayah pegunungan di utara, yang dikenal sebagai golden triangle (segitiga emas). Birma memilih cara apa pun untuk mencegah hal itu terjadi. Sejak 1960-an, terjadilah diaspora warga Myanmar. Berbagai warga Myanmar dari kelompok etnis kini tinggal di Thailand, Bangladesh, Cina, Laos, dan India. Semua negara ini berbatasan langsung dengan Myanmar. Ketika dewasa Syu Ki pindah ke Inggris dan memiliki seorang suami, Michael Aris, dan dua orang putra, Alexander Aris dan Kim Aris. Namun, kondisi kesahatan ibunya di negara asal yang kian memburuk membuat Suu Kyi harus kembali ke Burma pada tahun 1988. Suu Kyi terkejut ketika kembali ke negara asalnya ternyata sedang terjadi demonstrasi besar-besaran terhadap pemerintahan yang dikendalikan oleh rezim militer. Banyak sekali demonstran yang terbunuh oleh tentara, terutama dari kalangan pelajar muda. Hal tersebut menyadarkan Suu Kyi bahwa diperlukan perubahan politik di Burma dalam bentuk gerakan demokrasi. Setelah diusulkan oleh pihak professor-profesor universitas dan tokoh politik, Suu Kyi akhirnya

menerima menjadi ikon untuk memperjuangkan nasib rakyat dan perdamaian di Burma. Partai politik yang didirikan Suu Kyi jelas memenangkan pemilu di tahun 1990, namun militer Burma menolak untuk menerima hasil pemilu dan tidak mau menyerahkan kekuasaan. Suu Kyi dan dan etnis non-Birma lainnya merupakan ancaman bagi supremasi etnis Birma Kemenangan Suu Kyi pun dihadang. Kekuasaan direbut. Beginilah yang terjadi seterusnya dan seterusnya Selain terus ditekan dan diteror oleh rezim militer, Suu Kyi juga dijadikan tahanan rumah dan tidak boleh dikunjungi oleh siapapun kecuali oleh keluarganya. Rezim militer juga terus menangkap dan menyiksa rekan-rekan partai Suu Kyi, Suu Kyi hingga melaksanakan mogok makan hingga dua belas hari untuk menuntut keamanan rekan-rekannya di penjara. Khawatir akan keselamatan istrinya, Michael Aris mengusahakan penghargaan Nobel Prize di tahun 1991 untuk Suu Kyi agar secara otomatis dia mendapatkan perlindungan international. Kisah perjuangan Suu Kyi mendapatkan dukungan dari penjuru dunia, sehingga pada tahun 1995 ia dibebaskan dari tahanan rumah. Namun, di tahun-tahun berikutnya ia kembali ditahan dan dibebaskan karena dianggap sebagai ancaman yang kuat bagi militer, bahkan hubungan dengan suami dan anak-anaknya sama sekali diputuskan. Pemisahan tersebut dilakukan oleh militer Burma dengan tujuan membuat Suu Kyi kehilangan motivasi, depresi, dan ingin kembali ke Inggris, padahal jika Suu Kyi kembali ke Inggris ia tak akan diperbolehkan lagi kembali ke Burma. Mengetahui taktik licik militer tersebut, Suu Kyi bersikeras untuk bersabar dan mengusahakan agar keluarganya yang pindah ke Burma. Bagi Suu Kyi, ia tak mau pengorbanan yang dilakukan oleh ia dan suaminya untuk perdamaian negara menjadi sia-sia. Akan tetapi, visa suami dan anak-anaknya terus ditolak oleh kementrian Burma sehingga mereka tidak dapat mengunjungi Suu Kyi. Bahkan di saat suaminya yang mengidap kanker prostat sedang sekarat dan sampai meninggal, Suu Kyi tidak dapat kembali menemui kelurganya. Suu Kyi dan anakanaknya terpisah selama 10 tahun karena dikontrol dan dijadikan tahanan rumah oleh rezim militer. Pengorbanan yang sungguh berat seorang wanita yang berperan sebagai seorang ibu yang di sisi lain merupakan tonggak harapan rakyat. Aung San Suu Kyi menerima Nobel Penghargaan Perdamaian dari the Norwegian Nobel Committee pada tahun 1991 karena perjuangannya untuk demokrasi dan hak asasi manusia dengan tanpa menggunakan kekerasan. Perjuangan Syu Ki merupakan salah satu contoh keberanian orang sipil yang luar biasa di Asia pada

dekade ini. Dia menjadi simbol yang penting dalam perjuangan melawan penindasan. Hal tersebut belum bisa dilihat di Indonesia pada masa itu. Meski terkenal akan pelanggaran HAM, Myanmar justru memiliki sejarah protes massa yang panjang. Ketika Indonesia bungkam dengan gerakan bawah tanah di era Soeharto, gelombang protes Myanmar justru menguat sejak dimulainya masa pemerintahan militer Jenderal Ne Win. Tahun 1988, gelombang protes massa Myanmar ini melibatkan pelajar, pejabat sipil, pekerja hingga para biksu Budha. Protes hadir saat Ne Win menggunakan tentara bersenjata demi kudeta militer. Sejak awal massa Myanmar memang telah menginginkan berakhirnya junta militer ini. . The State Peace and Development Council's (SPDC's) Myanmar mengajukan tuntutan yang populer untuk mereformasi pemerintahan menjadi neo-liberal. Tuntutan reformasi ini terutama berlaku untuk ekonomi, termasuk saat bulan lalu pemerintah Myanmar menarik subsidi BBM. Protes massa Myanmar memang tak segaduh Amerika yang liberal. Dimana-mana rezim militer masih memegang kendali sosial. Asia Times mencatat, gerakan protes umumnya mulai dalam jumlah kecil dan tersebar. Beberapa bulan terkahir ini misalnya, protes kecil dan damai terus berkelanjutan di ibukota Yangon. Namun kemarahan publik ini bisa berubah menjadi efek bola salju dan menjadi gerakan massa besar-besaran. Salah satunya yang terjadi di Pakkoku. Setelah bola salju ini pecah, maka perlahan akan kembali menggumpal. Beberapa hari setelah kejadian Pakkoku, 500 biksu kembali berbaris damai di Yangon, Myanmar. Layaknya biksu, New York Times mencatat gerakan ini malah berdoa untuk kedamaian dan keselamatan setelah peristiwa Pakkoku. Gerakan dalam protes bukan hanya terjadi dari satu pihak saja. Pemerintah Myanmar Organisasi juga menyikapinya ini dengan tercatat Union bahkan Solidarity ikut and Development dalam upaya Association (USDA). USDA tercatat kerap bergabung dalam gelombang protes ini. propemerintah terlibat pembunuhan Suu Kyi pada tahun 2003. Meski gagal, aksi tersebut memakan korban simpatisan National League for Democracy (NLD) sebagai gantinya. Anggota kelompok ini (USDA) dilatih khusus untuk mengontrol massa dan mengubah protes menjadi aksi kekerasan, kata seorang Diplomat barat di Yangon pada Asia Times. Dunia Barat mencurigai gerakan ini berada dalam sayap yang sama dengan intelejen Myanmar. Apalagi, setiap aksi protes yang terjadi sangat sulit untuk diliput oleh para jurnalis, termasuk jurnalis internasional. Rekrut

anggota juga dicurigai berasal dari para kriminal. Seiring bertambahnya anggota USDA, sekurangnya 600 kriminal juga dilepaskan dari Penjara Yangon. Hingga kini anggota USDA diperkirakan mencapai 2000 orang. USDA berfungsi menyaingi kelompok pelajar dan biksu Buddha yang vokal dalam aksi protes. Apalagi secara khusus aktivis Myanmar telah memiliki organisasi protes massanya sendiri. Organisasi 88 Generation Student ini didirikan oleh penyair internasional asal Myanmar Ming Ko Naing dan Ko Ko Gyi. Keduanya mendirikan organisasi ini setelah dibebaskan dari 14 tahun penjara, dan cukup populer di mata masyarakat Myanmar. Meski berlabel pelajar, Generation 88 kerap bekerjasama dengan para pekerja, sipil hingga para biksu Buddha. Kami percaya tak satupun warga Myanmar yang rela menerima aksi kekerasan politik junta militer, kata salah satu pemimpin Generation 88 Htay Kywe pada Asia Time. Dan dalam setiap protes massa Myanmar hampir bisa dipastikan USDA dan Generasi 88(Generation 88) berperan didalamnya. Syu Kii dibebaskan secara resmi oleh junta militer Myanmar pada tanggal 13 November 2010 setelah mendekam sebagai tahanan rumah selama 15 tahun dari 21 tahun masa penahanannya sejak pemilihan umum tahun 1990.