P. 1
ANALISIS FENOMENOLOGI PADA PASIEN YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI PERUMAHAN MARGAASIH

ANALISIS FENOMENOLOGI PADA PASIEN YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI PERUMAHAN MARGAASIH

|Views: 468|Likes:
Published by stikesblcimahi
Menjadi sakit dan menjalani program pengobatan merupakan pengalaman hidup yang terkait Dengan perubahan fisik, emosi dan social. Banyaknya perubahan yang terjadi dalam klien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa dapat menjadi stressor munculnya gangguan psikologis, seperti kehawatiran terhadap perkawinan, ketakutan akan kematian, kegiatan social, spiritual, waktu untuk bekerja dan interaksi soaial menjadi kurang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran dkriptif mengenai terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan study fenomenologi, partisipan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang, Hasil penelitian didapatkan adanya enam tema yaitu: 1)perasaan marah,2) ingin selalu diperhatikan, 3) merasa takut akan kematian, 4) pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan YME,5) merasa hilang kemerdekaannya, 6) keluarga sebagai pendorong semangat hidup.Kesimpilan dari penelitian ini adalah partisipan mempunyai pengalaman ketika menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik yang tertuang dalam pernyataan kelima partisipan masing-masing diungkapkan secara unik dan berbeda-beda yakni marah dan kecewa menghadapi sakitnya, ingin selalu diperhatikan, merasa takut akan kematian, pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan, merasa hilang kemerdekaannya dan keluarga sebagai pendorong semangat hidup
Kata Kunci:Kualitatif,Pemgalaman klien, Terapi Hemodialisa, Gagal ginjal kronik.
Menjadi sakit dan menjalani program pengobatan merupakan pengalaman hidup yang terkait Dengan perubahan fisik, emosi dan social. Banyaknya perubahan yang terjadi dalam klien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa dapat menjadi stressor munculnya gangguan psikologis, seperti kehawatiran terhadap perkawinan, ketakutan akan kematian, kegiatan social, spiritual, waktu untuk bekerja dan interaksi soaial menjadi kurang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran dkriptif mengenai terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan study fenomenologi, partisipan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang, Hasil penelitian didapatkan adanya enam tema yaitu: 1)perasaan marah,2) ingin selalu diperhatikan, 3) merasa takut akan kematian, 4) pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan YME,5) merasa hilang kemerdekaannya, 6) keluarga sebagai pendorong semangat hidup.Kesimpilan dari penelitian ini adalah partisipan mempunyai pengalaman ketika menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik yang tertuang dalam pernyataan kelima partisipan masing-masing diungkapkan secara unik dan berbeda-beda yakni marah dan kecewa menghadapi sakitnya, ingin selalu diperhatikan, merasa takut akan kematian, pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan, merasa hilang kemerdekaannya dan keluarga sebagai pendorong semangat hidup
Kata Kunci:Kualitatif,Pemgalaman klien, Terapi Hemodialisa, Gagal ginjal kronik.

More info:

Published by: stikesblcimahi on Sep 28, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/08/2014

pdf

text

original

1 1

PENELITIAN
ANALISIS FENOMENOLOGI PADA PASIEN YANG TERAPI HEMODIALISA DI PERUMAHAN MARGAASIH
*Emy Salmiyah Abstrak: Menjadi sakit dan menjalani program pengobatan merupakan pengalaman hidup yang terkait Dengan perubahan fisik, emosi dan social. Banyaknya perubahan yang terjadi dalam klien gagal ginjal yang menjalani terapi hemodialisa dapat menjadi stressor munculnya gangguan psikologis, seperti kehawatiran terhadap perkawinan, ketakutan akan kematian, kegiatan social, spiritual, waktu untuk bekerja dan interaksi soaial menjadi kurang. Tujuan penelitian untuk mendapatkan gambaran dkriptif mengenai terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan study fenomenologi, partisipan dalam penelitian ini berjumlah 5 orang, Hasil penelitian didapatkan adanya enam tema yaitu: 1)perasaan marah,2) ingin selalu diperhatikan, 3) merasa takut akan kematian, 4) pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan YME,5) merasa hilang kemerdekaannya, 6) keluarga sebagai pendorong semangat hidup.Kesimpilan dari penelitian ini adalah partisipan mempunyai pengalaman ketika menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik yang tertuang dalam pernyataan kelima partisipan masing-masing diungkapkan secara unik dan berbeda-beda yakni marah dan kecewa menghadapi sakitnya, ingin selalu diperhatikan, merasa takut akan kematian, pasrah dan mengembalikan semua pada Tuhan, merasa hilang kemerdekaannya dan keluarga sebagai pendorong semangat hidup Kata Kunci:Kualitatif,Pemgalaman klien, Terapi Hemodialisa, Gagal ginjal kronik. PENDAHULUAN Jumlah penderita ginjal di Indonesia akhirakhir ini cenderung meningkat, kasus ini terjadi akibat perubahan pola hidup (Irianti, 2004). Di Indonesia diperkirakan setiap satu juta penduduk, 20 orang mengalami gagal ginjal/tahun. Saat ini jumlah penderita gagal ginjal di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 4500 orang. Dari jumlah tersebut sekitar 500-600 orang berada di Jawa Barat. Penyakit gagal ginjal kronik Menjadi sakit dan menjalani program

MENJALANI

pengobatan merupakan pengalaman hidup yang terkait dengan perubahan fisik, emosi, dan social. Pengalaman menjalani program pengobatan positif atau dapat menimbulkan bagi kesan individu, itu

negative oleh

dipengaruhi

persepsi

individu

sendiri terhadap kondisinya dan pemberian pelayanan akan mengakibatkan berbagai perasaan dan reaksi stress, termasuk

frustrasi, kemarahan, penyangkalan, rasa malu, berduka dan ketidakpastian ( Brunner & Suddarth,2002) Perubahan pada system dan fungsi tubuh yang terjadi pada klien menjalani terapi

memerlukan terapi hemodialisa 2-3 kali seminggu sepanjang hayatnya

(Dani,2006)http:www.kompas.com, diperoleh tanggal 24 oktober 2009)

2 hemodialisa akibat dari gagal ginjal kronik akan menyebabkan perubahan pada Dari hasil observasi yang diperoleh dari tiap RW, tampak beberapa klien dalam kondisi lemah, ketika ditanyakan kepada keluarga keadaan klien dirumah sering tidak dapat mengikuti saran, seperti: pengaturan

penampilan, peran, mobilisasi fisik dan pekerjaan sehari-hari. Perubahan-

perubahan tersebut akan mempengaruhi kehidupan klien dalam menjalankan

makan, minum dan aktivitas, juga klien yang menolak terapinya, untuk melaksanakan juga program yang

program terapi dan kehidupannya. Perilaku klien yang muncul ini berkaitan dengan persepsi klien terhadap sakitnya, dan bagi para pemberi pelayanan kesehatan

keluarga

ada

mengatakan klien dirumah sering marahmarah, adapula menangis, yang tidak mau bergaul, padahal

memahami persepsi klien terhadap sakitnya sangatlah penting (Notoatrmodyo, 2003). Persepsi merupakan bagian pengalaman individu yang dirasakan bermakna dan meninggalkan kesan dalam hidup individu (Crotty, 1996). Berikut ini adalah data mengenai jumlah klien yang menjalani terapi hemodialisa dari tahun 2009 di Complek Margaasih Indah
Tabel I Jumlah klien yang menjalani Hemodilasa di Comp. Margaasih Indah Nanjung Cimahi NO 1 2 3 WILAYAH RW 05 RW 06 RW07 JUMLAH KLIEN 1 1 1 KET

selalu

bekerja

kondisinya sedang sakit. Berdasarkan hasil komunikasi intrapersonal yang dilakukan di rumah klien pada tanggal 26 Januari Tahun 2010 dengan 2 orang Klien pertama

klien gagal ginjal kronik.

dengan Ny “M” mengatakan” awalnya saya tidak percaya bahwa saya menderita

penyakit gagalginjal tapi setelah beberapa kali menjalani sama pemeriksaan saja bahwa ginjal ternyata saya ini

hasilnya menderita

penyakit

dan

harus

melakukan cuci darah, saya sudah 2 tahun menjalani terapi hemodialisa di Rumah sakit

Meninggal 26 Februari 2010

Ginjal Habibie, tapi mau gimana mengikuti cuci darah ini”.

lagi

mungkin ini sudah jadi nasib saya untuk Klien kedua Tn R mengatakan” Pertamanya nganterin teman ke Puskesmas untuk

4 5 6 7 8 9 10 11 12

RW RW RW RW RW RW RW

08 09 10 16 17 18 19

0 0 0 0 1 0 1 0 1

berobat, kebetulan diruang pemeriksaan
Meninggal 8 Juli 2010 Meninggal 12 Oktober 2010

lagi sepi, jadi saya ikut diperiksa tapi waktu diperiksa ternyata tensi saya 250/120mmhg, lalu saya penasaran periksa ke Rumah sakit..eh..ternyata sama saja hasilnya, lalu

RW 20 RW 21

3 kata Dokter disuruh saya di Rontgen yang dan

3

Penelitian kualitatif adalah untuk menggali pengalaman hidup manusia dan

hasilnya

ginjal

sebelah

kanansudah rusak dan yang sebelah kiri kecil dan disuruh cuci darah. Saya cuci darah sudah 1 tahun, dan selama I tahun itu saya sering diantar sama keluarga terutama istri saya, karena kalau saya tidak diantar saya mah suka lemas jika sudah cuci darah. Berdasarkan uraian diatas, maka ini

menemukan arti pengalaman bagi individu tersebut (Brockopp dkk, 2000).
Gambar 1 Kerangka Konsep
Pengalaman klien yang menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik Teridentifikasikannya Keadaan Fisiologis, Psikologis, Sosial dan Spiritual klien yang menjalani terapi hemodialisa 1. Fisiologi: Kelemahan, mual, muntah, keterbatasan mobilisasi. 2. Psikologis:Frustrasi, kemarahan,penyangkalan, rasa malu, berduka dan ketidakpastian 3. Sosial:Ketergantungan dengan orang lain, keterbatasan interaksi dengan orang lain 4. Spiritual: Kedekatan dengan Tuhan YME, ketakutan akan kematian.

rumusan masalah dalam

penelitian

adalah” Bagaimana pengalaman klien yang menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik di Perumahan

Margaasih? Penyakit penyakit gagal ginjal dapat merupakan mengancam

Variabel Penelitian 1. Pengalaman Klien 2. Terapi Hemodialisa 3. Gagal Ginjal Kronik Definisi Operasiona Tabel.2 Definisi Operasional
Variabel 1.Peng alaman Klien Definisi Operasional Segala bentuk emosi,perasa an persepsi tindakan dan kejadian yang dialami dan dirasakan oleh klien. Pengobatan yang dilakukan pada klien dengan mengalirkan darah melalui mesin. Merupakan penyakit sistemik dari traktus urinarius yang diderita oleh klien Hasil Ukur Tema 1,2,3, 4,5,6 Alat Ukur Wawa ncara Skala Ukur Kata Kunci Kode

yang

kehidupan, sehingga dapat menimbulakan perubahan emosi dan perilaku yang lebih luas, seperti ansietas, syok, penolakan, marah dan menarik diri (Potter &

Perry,2005), perasaan marah dirasakan partisipan setelah mengetahui sakit gagal ginjal kronik dan harus menjalani terapi hemodialisa secara berulang, partisipan marah karena merasa kehilangan perannya, perasaan kecewa seringkali dikeluhkan oleh partisipan, partisipan tidak bisa menerima kondisi tubuhnya. METODE PENELITIAN Desain adalah penelitian yang kualitatif digunakan dengan

2. Terapi Hemodi alisa

Tema 1,2,3, 4,5,6

Wawa ncara

Kata Kunci Kode

Gagal Ginjal Kronik

Tema 1,2,3, 4,5,6

Wawa ncara

Kata Kunci Kode

penelitian

pendekatan fenomenologi.

4 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh klien yang mengalami terapi hemodialisa tahun 2009 di beberapa RW Complek Margaasih Nanjung Cimahi yaitu sebanyak 5 orang. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah Total Sampling yakni seluruh klien yang mengalami 5 terapi orang.
Mendengarkan partisipan dengan menggunakan HP yang kemudian dibuat transkrip Menggarisbawahi pernyataan yang signifikan

Skema 2 Tehnik Analisa Data “COLLAIZI”
Menentukan materi pertanyaan yang signifikan

hemodialisa

yaitu

sebanyak

Pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam (Indepth interview) dengan partisipan. Selama wawancara alat klien

Menentukan kata kunci

berlangsung perekam HP

peneliti menggunakan yang sebelumnya

menyetujui penggunaan alat bantu tersebut yang tertulis dalam informed concent, yang kemudian membuat transkrip dari HP

Mencari keterkaitan antara katagori satu dengan yang lainnya

bersama partisipan, selain itu penelitipun membuat melengkapi catatan informasi lapangan atau data untuk yang
Membuat tema Sumber: Streubert dan Carpenter, (1999) di modifikasi

diperlukan. Proses pengumpulan data pada penelitian ini diperoleh dengan Adapun yang menjadi kreteria dalam penelitian ini adalah: a. Klien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa. b. Klien termasuk kedalam usia dewasa c. Kesadaran klien compos

mengumpulkan seluruh data dari hasil wawancara mendalam yang kemudian data dikumpulkan, ditranskrip dan dibuat kode data , kemudian data-data diidentifikasi analisis yang digunakan menurut Colaizzi (1978) dalam Carpenter (1999) adalah sebagai berikut:

mentis/Keadaan umum baik d. Klien dapat berkomunikasi dengan baik. e. Bersedia menjadi partisipan f. Etika Penelitian Menurut Polit & Hunglelr (1997) peneliti berusaha menjaga hak-hak partisipan

terlebih dahulu dengan melakukan Informed

5 Concent. Tempat: Penelitian dilaksanakan di Complek Margaasih Indah Nanjung cimahi dan waktu : Dilakukan mulai bulan Januari 2010 sampai bulan Maret 2011 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini menjelaskan tentang yang menjalani terapi

5

hemodoalisa

partisipan dapat diidentifikasi enam tema yang muncul.Tema tersebut yaitu: 1. Perasaan Marah. a. Marah Partisipan 1“... Awalnya kaget karena saya kan sehat tiba-tiba jadi begini,,,,, yg jadi heran itu nggak ketahuan dari awal oenyakitnya,..... Empat bulan pertama saya semapat down,

bagaimana pengalaman pertisipan yang menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik. 6 Hasil penelitian yang atau

merenung waktu itu saya mikir nggak mau ketemu orang orang lama, jadi ingat lagi enggak mau saya, ... hal-hal kecil saya bisa marah besar, kita tuh jadi sensitif, emosi yang gede, kadang lagi diam tiba-tiba pengen marah, mungkin takut ya dengan kondisi sekarang”. Partisipan 3“.. Waktu awal-awal nggak bisa terima, seolah olah tuhan nggak adil. ... Perubahan yang terjadi karena penyakit dan takdir yang harus

menghasilkan memberikan

tema

utama

suatu

gambaran

fenomena berbagai pengalaman partisipan yang menjalani terapi hemodialisa. Bab ini akan menjelaskan tentang dan gambaran membahas

karakteristik

partisipan

tentang analisa pengalaman partisipan yang menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik
Tabel 3 Rekapitulasi Karakteristik Partisipan
Part isip an 1 2 3 4 5 Usia Agama Suku Pendi dikan SMU SI STM SMA SMA Lama Hemo dialisa 3 Tahun 2 Tahun 12 Tahun 2 Tahun 4 Tahun Tempat Hemodi alisa RS Ginjal Habibi Rs Ginjal Habibi RS Ginjal Habibi RS Dustira RS Dustira

dijalani, dulu sempat berontak enggak bisa terima keadaa, dan tak mau mengikuti pengaturan makan, bahkan menolak untuk dicuci, .. Kadang

40 Tahun 50 Tahun 53 Tahun 48 Tahun 60 Tahun

Islam Islam Islam Islam Islam

Jawa Jawa Sunda Sunda Sunda

kadang saya juga enggak bisa disiplin dalam pengaturan makan dan minum, apalagi halodo, seperti orang kemarin lain bisa musim minum

Hasil Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang disajikan dalam bentuk analisis tematik yang

banayak, kenapa saya nggak””. b. Kecewa Menghadapi sakitnya Partisipan 1“...Tiap 2 kali seminggu harus melakukan cuci darah

menggambarkan

pengalaman

partisipan

6 memang merepotkan, banyak orang kalau bisa sebelumnya harus ada penjelasan dulu, karena mungkin banyak orang yang gak nerima: Partisipan 4“...Nah kalau sudah memberi perhatian pada saya,

dilayani dan dirawat:. Partisipan 4“..Selama cuci darah saya tidak bisa apa-apa jadi saya pengen ada yang melayani supaya kalau saya lapar tinggal bilang. c. Merasa takut akan kematian 1. Takut akan kematian.. Partisipan 1“.... tapi kadang-kadang kalau kondisi sakit ada keraguraguan, saya berpikir,...eu..mungkin sekarang ini saya mati teh, ada kebimbangan kapan saya dipanggil, merasa dosa belum habis,... saya sering menangis malam malam,

begini saya menyesal, sakit hati, saya kelabakan, kondisi fisik turun, konsentrasi, kesadaran berpikir juga menurun, terganggu, mentalitaspsikologis karena mendengar

bahwa cuci darah itu begini-begini, yang katanya serem-serem

menakutkan, jadi merasa terganggu, saya sensitif karena pengetahuan saya juga kurang”. 2. Ingin selalu diperhatikan a. Ingin Diperhatikan: Partisipan 1“Saya kelayaban di rumah mondar mandir kaya kuntilanak, jalan-jalan tengah malam di rumah sendirian, yang lain pada tidur, anak-anak dan suami juga tidur, jengkel saya gak ada yang perhatiin, hidup terasa sendirian”. Partisipan 4“Stress kalau kesitu mah, saya suka nangis, ingin selalu

tidak bisa tidur, makan tidak bisa kan manusia itu takut mati:. Partisipan 4“.. saya juga takut kalau mati sekarang-sekarang ini, kasihan anak-anak belum pada dewasa, mereka masih perlu saya, kan umur rahasia Allah, tapi pada saya sudah ada sareat/tanda_tandanya,

rasanya sudah mendekati kematian, saya takut wktu itu tidak lama lagi”. 2. Dekat dengan kematian Partisipan 2“...ya... secara kasarnya mau mati gitu heh! Apalagi keadaan saya seperti ini... kalau dipikirkan rasanya saya ini sudah mendekati kematian”. Partisipan 3“... kalau ingat itu ya kaya mau mati, enggak ada

diperhatikan terutama oleh suami, bahkan anak-anak juga ka ibu mah .... memanjakan sekali”. b. Ingin dilayani :Partisipan 3”Pokonya orang itu gak boleh pada saya, ... tapi kalau ada dirumah sakit saya tenang dan merasa bisa ngobrol, ada yang

7 harapan, sepertinya kematian itu sudah dekat lah buat saya mah... d. Pasrah dan mengembalikan semua kepada tuhan 1. Pasrah Partisipan1“... Ah saya mah jalani aja, jadi menerima, karena kalau ada perubahan seperti sesak ada tanda-tandanya dulu: jadi sudah tau”. Partisipan 3”.“...ya.... sekarang aja sudah biasa, mau apa lagi, ... saya ingin jalani yang sekarang aja”. 2. Mengembalikan semua kepada tuhan Partisipan 5“Tapi tetapkan saya sakit, sadar, oh... ini mungkin ujian, yang mungkin ada hal baik dibalik semua ini, kembalikan lagi pada prinsip-prinsip hidup yang paling baik dalam hidup saya, terus saya kembalikan lagi semuanya pada Allah”. Partisipan 4“Sekarang mah saya dah pasrah, memang banyak e. Merasa hilang kemerdekaannya Hilang kebebasan

7

Partisipan 2“ Jadi saya enggak bisa bebas lagi, banyak yang dibatasi,.... sekarang saya merasa kebebasan saya hilang, jadi saya tidak bisa bebas seperti dulu sebelum sakit.... saya merasa hidup saya dibawah komando dengan aturan-aturan” Partisipan 4“Orang lain bisa minum banyak, kenapa saya enggak, sering saya diingetin anak-anak, mamahmamah jangan minum air es terus katanya jadi saya enggak bisa bebas lagi, banyak yang dibatasi” f. Merasa hilang kemerdekaannya Hilang kebebasan Partisipan 2 “ Jadi saya enggak bisa bebas lagi, banyak yang dibatasi,.... sekarang saya merasa kebebasan saya hilang, jadi saya tidak bisa bebas seperti dulu sebelum sakit.... saya merasa hidup saya dibawah komando dengan

aturan-aturan” Partisipan 4“Orang lain bisa minum banyak, kenapa saya enggak, sering saya diingetin anak-anak, mamahmamah jangan minum air es terus katanya jadi saya enggak bisa bebas lagi, banyak yang dibatasi”

sekarang perubahan seperti mata sebelah sudah kurang tapi nggak dipikirin,.... melihat, Saya

kembalikan lagi semuanya pada allah, dan selalu berdoa”.

8 g. Keluarga sebagaipendorong semangat hidup Dukungan keluarga Partisipan 3 “ Saya bisa ada tertuang partisipan dalam yang pernyataan kelima

masingi-masing

diungkapkan secara unik dan berbedabeda. Tema yang muncul kelima dari pernyataantersebut

semangat kalau ingat istri dan anak Partisipan 4 “...tapi saya banyak dibantu dan didukung keluarga dan saudara-saudara ngasih motivasi

pernyataan

partisipan

antara lain:Marah dan kecewa menghadapi sakitnya, Ingin selalu diperhatikan, Merasa takut akan kematian, semua Pasrah kepada dan Tuhan, dan

termasuk dari segi ekonomi,...saya punya anggapan kalau saya enggak menerima perubahan dan fisik lemah siapa yang akan memberi nafkah anak istri, memang saudara dan orang tua membantu tapi kan

mengembalikan Merasa Kelurga hidup. hilang

kemerdekaannya, pendorong

sebagai

semangat

Sakit yang dirasakan partisipan tidak hanya berdampak pada fisiknya saja tetapi mempengaruhi kepada psikologis, sosial dan spiritual.

terbatas,...kalau lelah saya dibantu istri, ya...istri saya menerima, seharihari ngurusin saya, ngasih makan, memandikan kalau saya lagi drop”. Semangat hidup: Partisipan 1” Jika sedang cuci darah saya mah suka senang kaya ada semangat lagi kalau ditungguin sama keluarga” Partisipan 4“..Ada semangat terutama kalau ingat anak-anak,...sekarang ada semangat, suami juga bilang jangan terlalu banyak pikiran, enggak tahu besok lusa mah” SIMPULAN Berdasarkan pembahasan hasil dapat penelitian disimpulkan dan bahwa

SARAN Berdasarkan kesimpulan diatas maka

disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Petugas yang memberikan pelayanan kesehatan melalui kader dapat bekerjasama posyandu

dalam melakukan

perawatan pada pasien yang dilakukan terapi hemodialisa serta dapat

memberikan dukungan psikologis ,sosial dan spiritual karena kader dalam hal ini

peranan

posyandu

untuk

memberikan motivasi dalam menjalani hidup sehingga klien merasa tenang aman dan nyaman. 2. Dapat memahami kepada dan memberikan yang

partisipan mempunyai pengalaman ketika menjalani terapi hemodialisa pada penderita gagal ginjal kronik. Pengalaman tersebut

pelayanan

keluarga

9 mengalami terapi hemodialisa khususnya dalam meberikan dukungan psikologis, sosial dan spiritual. 3. Perlu penelitian lebih lanjut untukl/k mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan dukungan psikologis, sosial,

9

Moleong, (2007), Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung, PT Remaja Rosdakarya. Mulyana, D, (2004) Metodelogi Penelitian Kualitatif, bandung: PT Remaja Rosdakarya. Streubert, H. J and Carpenter, D.R (2003), Qualitatif research in Nursing, Advancing the Humanistik Imperative (3rd) Lippicoth, Philadelpia Soemaryono, E. (1999), Hermwnetik Sebuah Metode Filsafat, Yogjakarta: Kanisius

spiritual yang paling tepat bagi klien yang menjalani terapi hemodialisa pada

penderita gagal ginja kronis. *Penulis merupakan staf pengajar STIkes budi luhur DAFTAR PUSTAKA Akhir Yani s.Hamid.(2000), Aspek Spiritual dalam Keperawatan, Widya Medika, Jakarta. Asri, dkk (2006), Hubungan Dukungan social Dengan Tingkat Depresi Pasien yang Mengalami Terapi Hemodialisa, Dalam majalah Jurnal ilmu keperawatan, Volume 1, Jogjakarta FK ,UGM. Brockopp, Dorothy Young, (1999), Dasardasar Riset Keperawatan, Edisi 2, Jakarta:EGC Brunner & Suddarth, (2001), Buku Ajar Keperawatan Medah Bedah, Edisi 8, Volume 2, Jakarta, EGC. Crootty, Michael (1996), Phenomenology and Nursing Resarch, Livingstone Australia, ChurChill. Keliat, Budi Anna, (1999), Penatalaksanaan Stress, EGC: Jakarta Nasution, S (2002), Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, bandung: Tarsito. Norwood, Susan Leslie, (2000), Research Strategies for advanced Practice Nurses, New Jersey,Prentice.

10

PENELITIAN
MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA DI PERGURUAN TINGGI
Oktoruddin Harun dan Aan Somana *) Abstrak Setiap tahun banyak lulusan perguruan tinggi yang di wisuda menjadi sarjana. Hal ini membuat diri kita merasa bangga, bahwa dengan bertambahnya sarjana berarti akan bertambahnya orang-orang pandai di negeri ini yang akan melanjutkan pembangunan bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Namun di balik kebanggaan tersebut, kita juga merasa prihatin karena banyak pula diantara mereka yang menjadi pengangguran, sulit mencari pekerjaan serta sulit menciptakan lapangan kerja. Salah satu alasan yang dilontarkan dunia kerja adalah kualitas lulusan yang rendah..Menurunnya kualitas hasil belajar perguruan tinggi salah satunya disebabkan banyak para mahasiswa yang belajar hanya untuk lulus saja dan memperoleh ijazah. Motivasi belajar “ untuk memperoleh ilmu “ dikalahkan oleh motivasi “ untuk memperoleh ijazah “ Untuk itu diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi.

Pendahuluan Tingkah laku individu dipengaruhi oleh daya dorong, yakni daya dorong positif dan daya dorong negative. Daya dorong positif

Kedua daya dorong ini memiliki banyak perbedaan , seperti perbedaan emosi yang menyertai awal tingkah laku. Jadi tujuan

adalah tindakan akhir seseorang yang paling disukai dari suatu objek. Dengan demikian keinginan dan tujuan saling

berupa keinginan, hasrat dan kebutuhan. Daya ini mendorong manusia untuk

bergerak mendekati objek atau kondisi yang dinginkannya. Sedangkan yang kedua

bergantungan. Tidak ada keingingan tanpa tujuan atau sebaliknya tidak ada tujuan tanpa keinginan.

adalah daya dorong negatif berupa berupa rasa takut dan keengganan yang

mendorong manusia bergerak menjauhi objek atau kondisi yang dicemaskan.

Sebagaimana di kemukakan oleh Krech, Cruchfield dan Ballachey (1963), dalam bukunya Individual In Society bahwa : “

12 Wants and goals are inter-dependent- the one does not exist without the other. It is doubtful, for example, whether one can really speak of a “ power-want”- as though people experienced or were driven by

11 dan lain-lain untuk mencapai tujuan yaitu penyelesaian studi tepat waktu. Keingingan individu adalah menginterasikan dan mengorganisasikan semua kegiatan psikologis serta mengarahkan kegiatan atau tindakannya dalam usaha mencapai tujuan. Semua aktivitas, apa yang ia tanggapi, pikirkan, rasakan, mengaktifkan kebiasaan lama dan membentuk kebiasaan baru,

some sort of free floating, unattached drive toward power. Ususlly the man to whom we ascribe a power want is aware only that he seeks such and such a goal “. Dalam suatu konsep motivasi terdapat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu

merupakan dipengaruhi

kegiatan-kegiatan oleh kebutuhan

yang yang

dorongan , keinginan, dan kebutuhan. MIsalnya adanya dorongan lapar karena zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh

mendorong individu untuk mencapai tujuan yang ingin diraihnya. 1. Kebutuhan dan faktor-faktor yang

seseorang berkurang, kemudian adanya keinginan yaitu makan dan adanya

mempengaruhinya Munculnya keinginan serta tujuan

kebutuhan yaitu makanan atau nasi. Dari motivasi tersebut, muncullah perilaku atau tindakan untuk mencapai suatu tujuan yaitu bagaimana agar seseorang tidak merasa lapar. Gambaran tersebut diatas hanya

seseorang sebagian diakibatkan oleh organisasi fisiologisnyas. Keinginan akan makanan dan air berhubungan langsung dengan efek biokimia (akibat kekurangan atau kehilangan biokimia tertentu dalam tubuh). Keinginan seks muncul serta berkembang karena produksinya kelenjar hormongonadal. biokimia merupakan dari Jadi jelas, keadaan seseorang untuk

merupakan contoh sederhana saja dari adanya hubungan antara mtivasi, tindakan dan tujuan. Bagi mahasiswa, hubungan tersebut dapat berupa adanya motivasi belajar baik yang berasal dari dalam diri ( Internal motivation ) maupun dari luar diri ( External Motivation ) akan menimbulkan suatu respon dalam bentuk tingkah laku seperti : rajin belajar, mengadakan penelitian, membaca buku

tubuh

factor

penting

munculnya keinginan. Muncul, keinginan bertahan juga atau berubahnya perilaku

dipengaruhi

psikologisnya, apa yang dipikirkannya, apa yang dikhayalkannya dan juga

dipengaruhi oleh nilai-nilai hidup serta kepercayaan yang dianutnya. Karena

13 12 hasil pengalamannya, banyak manusia kebutuhan. kata seperti tergoda, terpanasi dan sebagainya. Kebutuhan adalah daya dorong individu (positif atau negative ), sebagai hasil dari keadaan psikologis, pengalaman,

memperoleh Disamping yang

pengalaman-pengalaman dengan sengaja

diperolehnya

seperti tujuan yang telah dicapainya, juga manusia memperoleh pengalaman yang tidak disengaja. Seorang anak akan semakin giat belajar, karena pengalaman memperoleh hadiah atau sebaliknya karena memperoleh

perilaku, psikologis, keadaan lingkungan, kepercayaan pribadinya mengarahkan serta yang atau interaksi dengan

memprakarsainya, mempertahankan tindakan untuk

bverlangsungnya mencapai tujuan.

hukuman.Seorang anak akan berubah kebutuhannya jika akibat kebutuhan

Dalam diri invidu kadang-kadang muncul beberapa macam kebutuhan. Macammacam kebutuhan itu terorganisasi dan berpadu menjadi satu kebutuhan baru. Perbuatan menolong dapat merupakan dari seseorang paduan dari

yang lama ia memperoleh hukuman. Selanjutnya pengalaman individu itu

menjadi lebih kompleks dan beraneka ragam, sehingga kebutuhan lama bias berubah dan muncul kebutuhann baru. Tingkah laku para dermawan yang terus menerus memberikann uangnya kepada lembaga-lembaga umum seperti, mesjid, gereja, universitas dan sebagainya, akan berubah dan berkembang tujuan kea rah yang lebih tinggi.Misalnya pada mulanya tujuannya itu mencari kepuasan untuk memperoleh kemudian pengakuan karena social,

keingingan-keinginan : berafiliasi, ingin memperoleh pujian, ingin menolong dan sebaginya. Kebutuhan dan tujuan

berubah secara terus menerus. Misalnya kebutuhan terpenuhi, dan maka tujuan akan lama muncul sudah dan

berkembang kebutuhan dan tujuan baru. Jika sebagian atau besar kebutuhan maka

pengalaman-

terpuaskan

terpenuhi,

pengalaman baru, tujuannya itu berubah menjadi terbantunya orang lain atau berkembangnnya pengetahuan manusia. Keadaan memprakarsai memperkuat lingkungan atau kebutuhan dapat dapat pula

kebutuhan yang belum terpenuhi akan menjadi tidak atau kurang berarti bagi individu yang bersangkutan dan akan muncul kebutuhan-kebutuhan yang baru. Abraham H.Maslow (1943) dalam Theory of Human bahwa Motivation “ A “

seseorang.

Karena itu, kita sering mendengar kata-

menungkapkan

kebutuhan

14 individu itu berkembang tingkat rendah dari ke orde orde

13 misalnya berusaha berpartisipasi baik dalam bidang olahraga atau kesenian, otomotif dan lain-lain. 2. Motivasi Belajar Mahasiswa Mahasiswa sebagai orang dewasa

kebutuhan

kebutuhan yang lebih tinggi., seperti berikut : 1. Physiological needs ( hunger,thirsty) 2. Safety needs security,order) 3. Belongingness and loves (affection, identifitcation ) 4. Esteem nedds (prestige, success, self respect) 5. Need for self-actualization (the desire for self-fulfillment) Untuk memuaskan suatu kebutuhan bisa terdapat banyak tujuan. Misalnya

memiliki motivasi belajar yang berbedabeda. Motivasi peserta belajar dewasa dapat dibagi menjadi orang tiga

kelompok, yaitu : Pertama, adalah mereka yang

berorientasi pada (goal oriented), yaitu mereka yang mementingkan penerapan dan pemnfaatan pelajaran sebagai

sarana untu mencapai tujuan tertentu saja, misalnya atau promosi atau naik gelar

kebutuhan berkuasa dapat terpuaskan dengan aneka macam tujuan seperti menjadi kepala perusahaan, dekan fakultas, pemimpin “ gang “, ketua senat mahasiswa dll. Tujuan mana yang akan dicapai oleh seorang individu tergantung pada beberapa faktor, yaitu : 1. Norma dan nilai budaya yang berlaku 2. Kemampuan biologis 3. Pengalaman pribadi, dan 4. Lingkungan Bila pemuasan suatu kebutuhan tidak terpenuhi secara layak, maka pada individu itu akan berkembang suatu tujuan pengganti. Misalnya seorang

pangkat

memperoleh

kesarjanaan. Keda, adalah mereka yang beorientasi pada kegiatan social (social oriented) yaitu mereka yang mementingkan

interaksi antar sesame peserta dan proses belajar sebagai tujuan belajar Ketiga, adalah mereka yang

berorientasi pada mempelajari ilmu itu sendiri (learning oriented) karena

mereka senang belajar. Proses belajar mahasiswa sebagai

orang dewasa biasanya berlangsung melalui beberapa tahap sebagai berikut :

mahasiswa yang mempunyai tujuan agar menonjol dari teman-temanya; jika dia tidak menonjol dalam bidang akademik mungkin ia akan berusaha di bidang lain,

15 14 1. Kesadaran. Tahap pengenalan dan penjelasan tentang konsep dan materi yang akan dipelajari 2. Pengetahuan/pemahaman. Tahap memahami Dosen 15ystem-faktor meyakinkan tersebut. bahwa

perlu

program yang akan disajikan dalam proses belajar sudah memenuhi kiriteria sebagai berikut : 1. Mahasiswa sebagai orang dewasa mampu mengarahkan diri sendiri

penjelasan dan pemahaman terhadap konsep teori, prosedur dan prinsipprinsip yang berlaku pada materi atau keterampilan yang akan dipelajari 3. Keterampilan. suatu Tahap penguasaan uji coba

dalam belajar 2. Mahasiswa sebagai orang dewasa mempunyai pengalaman hidup yang sangat kaya yang merupakan sumber belajar yang berharga

keterampilan

dan

keterampilan tersebut melalui praktek dan latihan 4. Penerapan pengetahuan. keterampilan Tahap atau

3. Mahasiswa sebagai orang dewasa cenderung proses lebih berminat pada yang

penerapan

pengetahuan dan keterampilan yang sudah dikuasai pada masalah-

pembelajaran

berhubungan dengan penyelesaian masalah dan tugas-tugas yang

masalah yang baru belum pernah diketahui 5. Sikap. Tahap menentukan pengetahuan yang sudah sikap dan dimiliki.

dihadapinya. Berdasarkan dosen perlu 15ystem15e tersebut, dan

berdasarkan keterampilan

merancang proses

melaksanakan

pembelajaran

Perubahan sikap ini tidak mungkin dicapai dalam waktu singkat, tetapi memerlukan waktu yang lama. 3. Upaya untuk meningkatkan motivasi belajar tinggi Dengan mengetahui motivasi belajar mahasiswa, dosen dapat mengarahkan proses belajar mengajar dengan tepat untuk membantu para mahasiswa belajarnya. mengenal dan mahasiswa di perguruan

yang mempunyai ciri sebagai berikut : 1. Dapat memberikan kesempatan

kepada mahasiswa untuk berinisiatif dan kreatif dalam berperanserta dan mengendalikan mengajar 2. Bersifat demokratis 3. Menghargai dan menempatkan proses belajar

mahasiswa sebagai manusia dewasa yang mandiri dan bertanggung jawab. Aspek penting dalam hal ini adalah bahwa mahasiswa sebagai orang dewasa bukan hanya “ passive recipient

mencapai Selanjutnya

tujuan dengan

16 “ atau penerima yang pasif, namun lebih sebagai “ active aktor “ atau individu yang berperan aktif dalam proses

15 bebas, mereka tidak suka hafalanhafaln, mereka lebih mengutamakan pemecahan masalah dan hal-hal yang praktis daripada teoritis.

pembelajaran.

Menjadi fasilitator dalam proses belajar orang dewasa tidaklah mudah, sebab mahasiswa merupakan orang-orang

Kegiatan belajar yang berupa kuliah saja tidak menarik bagi mahasiswa, mereka lebih senang terlibat dalam interaksi temannya intelektual seperti dengan dalam temandiskusi

yang sudah terbentuk. Mereka telah dapat menilai program-program yang disajikan dan juga menilai cara

kelompok, latihan-latihan

pemecahan

penyajian program oleh dosen. Tidak jarang mahasiswa merasa bosan dan kadang-kadang lesu, sebab bahan yang mereka terima tidak sesuai atau kurang relevan dengan minat dan kebutuhan mereka. Padahal menurut penilaian

masalah yang praktis (studi kasus), observasi dan penggunaan multi media dalam pengajaran. Dalam proses belajar mahasiswa

sebagai orang dewasa, fungsi dosen menjadi berubah. Dosen bukan lagi berperang sebagai ilmu guru yang

dosen bahan yang dipilih telai sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Apabila bahan yang disajikan memenuhi kebutuhan peserta dan disajikan

menyampaikan melainkan

pengetahuan, yang

seseorang

mengorganisasikan pengalaman dari

pengalamankehidupan yang

dengan gaya yang sesuai dengan gaya belajar mereka, maka mahasiswa akan dengan mudah menguasai bahan

sebenarnya menjadi suatu pengalaman dan pengetahuan baru yang member arti baru bagi mahasiswa. Pengalaman baru tersebut melibatkan

tersebut dan dapat mempraktekkannya di masyarakat. Sebaliknya jika penyampaian bahan tidak sesuai dengan gaya belajar

baik dosen maupun mahasiswa. Untuk mencapai hal tersebut, dosen

mahasiswa maka tujuan pengajaran akan sukar tercapai. Oleh sebab itu seorang dosen perlu mengetahui gaya mahasiwanya, mereka antara lain bahwa kondisi

diharapkan terampil untuk : 1. Memulai diskusi. Diskusi yang baik dimulai dari pertanyaan-pertanyaan yang memancing dan dapat

belajar memerlukan

melibatkan semua mahasiswa

17 16 2. Menyediakan informasi (acuan). informasi mahasiswa yang adalah diberikan kunci oleh untuk

Diskusi yang baik tidak mungkin dimulai tanpa informasi yang cukup. Dosen menyediakan hendaklah informasi mampu yang

mempertahankan diskusi yang baik.

kelangsungan Dosen perlu

menuntun mahasiswa untuk dapat mengkoordinasi informasi diskusi. 7. Memberi ringkasan/rangkuman. yang dan menganalisis selama

dibutuhkan, seperti berapa banyak dan bilamana informasi tersebut

diperoleh

diperlukan agar diskusi tidak menjadi macet. 3. Meningkatkan partisipasi. Usahakan agar kesempatan mengajukan

Peserta diskusi belum tentu mengerti apa yang diperoleh dari diskusi yang dilakukan. Dosen diahrapkan

pendapat tidakdidominasi oleh satu atau dua orang saja. Partisipasinya ditingkatkan, misalnya dengan cara dosen memeberi giliran yang sama kepada semua mahasiswa untuk

mengulang dan menjelaskan kembali hasil tersebut dengan ringkas dan tepat. Dari gambaran tersebut jelaslah tugas dosen diperguruan tinggi, sehingga

menjadi ketua kelompok 4. Menentukan rambu. criteria dan dan rambu-

akan dapat memotivasi belajar para mahasiswa studinya. Hal lain yang perlu diperhatikan oleh dosen dalam melaksanakan perkuliahan adalah umpan balik (feedback). Umpan balik ini berguna, baik bagi mahasiwa maupun dosen untuk melanjutkan dalam penyelesaian

Kriteria

rambu-rambu

yang jelas akan mengarahkan proses instruksional. Aktivitas seperti diskusi menjadi jelas tujuan, criteria dan hasil yang diharapkan 5. Menengahi persepsi perbedaan. atau Perbedaan dapat baik,

pendapat diskusi yang

menumbuhkan

namun perbedaan yang berlarut-larut dapat menyebabkan diskusi tidak

proses perkuliahan. Umpan balik dari dosen merupakan cara untuk member kesempatan kepada mahasiswa

mencapai tujuannya. Peran dosen sangat penting untuk menengahi

memperbaiki proses belajarnya. Tidak adanya umpan balik dari dosen dapat menyebabkan mahasiswa frustrasi,

perbedaan tersebut secara objektif 6. Mengkoordinasikan dan menganalisi informasi. Koordinasi, analisis dan hubungan yang jelas antara informasi-

bosan dan kehilangan arah. Mereka tidak tahu apa kekurangan mereka,

18 mereka juga tidak mengetahui

17 Setelah teman yang dianggap penting, adalah pakar atau tenaga ahli atau

bagaimana posisi mereka dibandingkan dengan 18ystem temannya. Oleh sebab itu, umpan balik ini sangat penting sekali bagi mahasiswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Umpan balik dari mahasiswa kepada dosennnya menyesuaikan berguna proses untuk perkuliahan

dosen.Hal ini perlu diingat oleh dosen, agar dapat menempatkan diri bukan sebagai sumber informasi yang serba tahu, tetapi lebih menjadi sahabat yang menghargai mahasiswa sebagai oang dewasa. Setelah teman dan dosen, orang

berdasarkan kebutuhan mahasiswa dan strategi yang sesuai dengan tujuan belajar. Jika dosen tidak mengetahui persepsi mahasiswa tentang proses perkuliahan tidak yang dijalankan, apa dan dosen dimana Umpan

dewasa juga menggunakan berbagai jenis sumber sperti media cetak dan media non cetak. Yang termasuk dalam media cetak adalah buku,modul,

booklet, leaflet, chart, foto, surat kabar, majalah dan lain-lain. Sedangkan yang termasuk dalam media non cetak

mengerti

kekurangan balik

perkuliahannya. juga

mahasiswa

memberikan dosen untuk

adalah : radio, kaset, OHP, slide, film, video dan 18ystem18e, Dalam pemilihan sumber belajar perlu diperhatikan beberapa adalah sumber kombinasi belajar yang

kesempatan

kepada

bersikap fleksibel terhadap kebutuhan mahasiswa dan rencana perkuliahan yang dibuatnya. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Mahasiswa belajar dari

digunakan dengan tepat akan lebih baik daripada penggunaan satu sumber

berbagaim sumber, dan sumber belajar yang paling dianggap penting oleh

balajar saja

orang dewasa adalah teman. Hal ini berarti bahwa strategi belajar-mengajar mahasiswa harus direncanakan

Kesimpulan 1. Belajar dewasa) pada tidak mahasiswa (orang

semata-semata

sedemikian rupa sehingga melibatkan interaksi dengan teman yang cukup banyak.

tergantung pada dosen saja, tetapi juga pada kemampuannya belajar mandiri. Guna mengatasi permasalahan tersebut diatas, perlu dilakukan berbagai upaya penanggulangan oleh mahasiswa

19 18 sebelum terjadi keterlambatan dalam penyelesaian mengurangi bahkan studinya, waktu minimal International Company.Kogakusha. Ltd. Maslow. Abraham, H, 1943, A Theory of Human Motivation, Psychology Rev, New York; Harper 2. Perlu dicari penyebab-penyebabnya, Morton H, Newsweek, 1996. Sukses dan Prestasi Volume V. Mitra Utama Jakarta Book

keterlambatan hambatan-

menghilangkan

hambatan tersebut.

apakah 19ystem kurikulum yang salah, apakah dosen yang tidak melaksanakan tugasnya tepat waktu, apakah kebijakan perguruan tinggi yang kurang tepat, lingkungan yang tidak mendukung atau kesalahan tersebut terletak pada si mahasiswa itu sendiri. *Penulis merupakan staf pangajar STIKes Budi Luhur

Kepustakaan Hadijah Diah ,Dra. Upaya Merningkatkan Motivasi Perguruan Tinggi. Tridharma Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 11 Tahun XX Juni 2008. Indra Mahdi. Penggunaan Alat Peraga Pengajaran Dapat Meningkatkan Belajar Mahasiswa di

Minat Siswa dalam Pembelajaaran Sains.Tridharma Majalah Ilmiah

Kopertis Wilayah IV Nomor 12 Tahun XX Juli 2008. Krech, Crutchfield and Ballachey 1963. Individual In Society, Interrnational Student Edition, McGraw-Hill

20

19

PENELITIAN
GAMBARAN PENGETAHUAN SISWI KELAS VII TENTANG MENSTRUASI DI SMP NEGERI 1 CIPARAY KECAMATAN CIPARAY KABUPATEN BANDUNG
Dedeh Sri Rahayu*

ABSTRAK Saat ini remaja putri di Indonesia yang memasuki masa pubertas sebanyak 108.345.000 jiwa pada tahun 2005. Remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan pubertas wanita, seringkali menimbulkan persepsi yang salah oleh karena itu perlu adanya penanganan serius dalam pembinaan remaja putri dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan repoduksi. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan siswi kelas VII tentang menstruasi di SMP Negeri 1 Ciparay Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung tahun 2011. Metoda penelitian yang digunakan adalah metoda deskriptif dengan pendekatan cross sectional study dan jumlah sampel sebanyak 53 orang dengan tehnik pengambilan sampel menggunakan random sampling dengan tingkat kepercayaan =0,01. Hasil Penelitian didapatkan bahwa ada sebanyak 25 (47.2%) siswi berpengetahuan tinggi tentang menarche. Sedangkan yang berpengetahuan cukup/sedang sebanyak 19 siswi (35.8%) dan yang berpengetahuan kurang sebanyak 9 orang siswi (17%). Saran : Pengetahuan tetap dipertahankan dengan cara memberikan pendidikan kesehatan dan memeriksakan kesehatan secara berkala. Sehingga siswi dapat lebih mengetahui dan memahami arti dari menarche sehingga proses haid tidak banyak menimbulkan gejala yang berbahaya terhadap kesehatan remaja putri. Kata Kunci : Pengetahuan, menarche

20 2

PENDAHULUAN Latar Belakang Masa remaja merupakan periode puncak pertumbuhan dan perkembangan fisik

menginjak dewasa dan sebagai tanda bahwa ia sudah mampu hamil.Usia remaja putri saat mengalami menarche bervariasi lebar, yaitu antara usia 10-16 tahun, tetapi rata-rata pada usia 12,5 tahun. Statistik menunjukkan bahwa usia menarche

seorang manusia. Dikarenakan pada masa atau periode tersebut manusia banyak mengalami perubahan baik pada fisik, psikologis, hingga fungsi organ tubuh pun ikut berubah. Hal indapat terlihat pada setiap remaja baik pria maupun wanita. Sebagai contoh, pada masa remaja wanita akan mengalami beberapa bentuk fisik, dan fungsi organ. Seperti, tumbuhnya buah dada atau payudara, tulang panggul mulai terlihat, tumbuh bulu pubis, dan yang paling khas wanita akan mengalami “menarche”. Menarche merupakan menstruasi pertama yang biasa terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja

dipengaruhi faktor keturunan, keadaan gizi dan kesehatan umum.(Sarwono, 2005: 67). Di SMP Negeri 1 Ciparay terletak di Jl. Magung Harja Kel. Ciparay Kec.Ciparay Kab. Bandung, Bandung Selatan. UKS SMP Negeri 1 Ciparay belum menjadi suatu wadah dimana siswa dapat mencari

informasi tentang kesehatan, menurut data UKS kurang lebih 60 % dari jumlah siswi kelas VII di SMP tersebut belum mengalami menstruasi. Berdasarkan data pra survei berupa pertanyaan lisan yang dilakukan oleh peneliti dengan 10 siswi perempuan kelas VII di SMP Negeri 1 Ciparay Kab. Bandung tentang Menarche, para siswi mengatakan mengetahui informasi

ditengah masa pubertas sebelum memasuki masa reproduksi. (Proverawati,2009: 22). Remaja akan mengalami suatu perubahan fisik, emosional dan sosial sebagai ciri dalam masa pubertas. Dan dari berbagai ciri pubertas tersebut, menarche merupakan perbedaan yang mendasar antara pubertas pria dan pubertas wanita. Menarche adalah saat haid/menstruasi yang datang pertama kali yang sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang

mengenai menstruasi dari teman dan orang tuanya tetapi informasi mengenai

menstruasi yang mendalam masih sangat jarang mereka dapatkan.

2 METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif. Teknik Hasil penelitian yang telah

21 dilakukan

terhadap 53 responden siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang Menarche Tahun 2011, yang dilakukan selama 1 minggu yaitu pada tanggal 25 Juli s/d 30 Juli 2011.

pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling.

(Notoatmodjo 2005: 122).

HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas VII di SMP N 1 Ciparay Tentang Menstruasi Tahun 2011
Variabel Pengetahuan Sub variable Pengetahuan siswi tentang menarche - Kurang - Cukup - Baik Total Jumlah Persentase

9 19 25 53

17.0% 35.8% 47.2% 100%

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas VII di SMP N 1 Ciparay Tentang Pengertian Menstruasi Tahun 2011.
Variabel Pengetahuan Sub variable Pengetahuan ibu tentang pengertian menarche - Kurang - sedang - Baik Total Jumlah Persentase

7 18 28 53

13.2% 34.0% 52.8% 100%

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas VII di SMP N 1 Ciparay Tentang tAnda Gejala Menstruasi Tahun 2011
Variabel Pengetahuan Sub variable Pengetahuan siswi tentang Penyebab menarche - Kurang - Cukup - Baik Total Jumlah Persentase

5 11 37 53

9.4% 20.8% 69.8% 100%

22 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas VII di SMP N 1 Ciparay Tentang Gangguan Kesehatan Saat Menstruasi Tahun 2011.
Variabel Pengetahuan Sub variable Pengetahuan siswi tentang Gg Kes saat menarche - Kurang - Cukup - Baik Total Jumlah Persentase

8 25 19 53

15.1% 45.1% 39.8% 100%

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Siswi Kelas VII SMP N 1 Ciparay Tentang Kebersihan Saat Menstruasi Tahun 2011.
Variabel Pengetahuan Sub variable Pengetahuan ibu tentang kebersihan saat menarche - Kurang - Cukup - Baik Total Jumlah Persentase

8 24 19 53

15.1% 45.3 % 39.5% 100%

PEMBAHASAN 1. Pengetahuan Siswi Tentang

2. Pengetahuan Siswi Tentang Tanda Gejala Menarche. Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa diketahui sebagian kecil dari jumlah siswi berpengetahuan kurang tentang tanda gejala menarche yang berjumlah 5 orang siswi (9.4 %),

Pengertian Menarche Berdasarkan hasil analisis didapatkan sebagian kecil dari jumlah siswi Kelas VII di SMP N 1 Ciparay berpengetahuan kurang tentang pengertian menarche dengan jumlah 7 orang siswi (13.2%), sedangkan siswi yang berpengetahuan sedang tentang pengertian menarche sebanyak 18 orang siswi (34.0%) dan setengah dari jumlah siswi yang menjadi responden baik mempunyai pengetahuan menarche tentang pengertian

sedangkan siswi yang berpengetahuan sedang tentang tentang tanda gejala menarche sebanyak 11 orang siswi (20.8%) dan lebih dari setengah dari jumlah siswi yang menjadi responden mempunyai pengetahuan baik tentang tentang tanda gejala menarche dengan jumlah 37 siswi (69.8%).

dengan jumlah 28 siswi (52.8%).

23 3. Pengetahuan Siswi Tentang SIMPULAN 1. Pengetahuan Siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang menarche Karakteristik responden berdasarkan

Gangguan Kesehatan Saat Menarche Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa sebagian kecil dari jumlah siswi berpengetahuan kurang tentang gangguan kesehatan saat menarche yang berjumlah 8 orang siswi (15.1 %), sedangkan siswi yang berpengetahuan sedang tentang gangguan kesehatan saat menarche sebanyak 26 orang siswi (49.1%) dan kurang dari setengah dari jumlah siswi yang menjadi responden mempunyai pengetahuan baik tentang gangguan kesehatan saat menarche dengan jumlah 19 siswi (35.8%). 4. Pengetahuan Siswi Tentang

pengetahuan siswi tentang menarche yang terdiri dari 53 responden demikian dapat disimpulkan, 25 orang dikatakan baik dengan persentase (47.2 %) 2. Pengetahuan Siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang pengertian menarche Karakteristik menarche responden yang terdiri berdasarkan dari 53

pengetahuan siswi tentang pengertian

responden demikian dapat disimpulkan, 28 orang dikatakan baik dengan

persentase (52.8 %) 3. Pengetahuan Siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang tanda gejala Kebersihan Saat Menarche Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa sebagian kecil dari jumlah siswi berpengetahuan kebersihan saat kurang menarche tentang hanya

menarche Karakteristik responden berdasarkan

pengetahuan siswi tentang tanda gejala menarche yang terdiri dari 53

berjumlah 8 orang siswi (15.1 %), sedangkan hampir setengah sedang menarche siswi tentang yaitu

responden demikian dapat disimpulkan, 37 orang dikatakan baik dengan

berpengetahuan kebersihan saat

persentase (69.8 %) 4. Pengetahuan Siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang Ggn kesehatan saat menarche Karakteristik responden berdasarkan

sebanyak 24 orang siswi (45.3%) dan setengah dari jumlah siswi yang menjadi responden mempunyai pengetahuan

baik tentang kebersihan saat menarche dengan jumlah 21 siswi (39.6%).

pengetahuan siswi tentang Gangguan Kesehatan saat menarche yang terdiri dari 53 responden demikian dapat

disimpulkan, 25 orang dikatakan cukup dengan persentase (49.1 %),

24 5. Pengetahuan Siswi kelas VII di SMP N 1 Ciparay tentang kebersihan menarche Karakteristik responden berdasarkan .2007. Promosi Kesehatan.Jakarta : PT Rineka Cipta 53 . 2005. Metodelogi Penelitian Kesehatan.Jakarta : PT Rineka Cipta

pengetahuan siswi tentang kebersihan saat menarche yang terdiri dari

responden demikian dapat disimpulkan, 24 orang dikatakan cukup dengan

persentase (45.3 %).

SARAN Perlu kiranya untuk lebih meningkatkan kualitas penyuluhan reproduksi kesehatan sehingga para tentang dapat siswi

kesehatan

meningkatkan

pengetahuan

tentang menarche yang dialami nya. *Penulis merupakan staf pengajar STIkes Budi Luhur

DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan RI. 2006. Pedoman Bagi Para Petugas Kesehatan Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesehatan : Surabaya. Dinas Kesehatan Jawa Barat. 2001. Kesehatan Reproduksi Remaja http://qittun.blogspot.com/2008/09

25

PENELITIAN
FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAKTIFAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU DI WILAYAH KERJA

PUSKESMAS COMPRENG KABUPATEN SUBANG
*Meilati Suryani, Ciptaningsih ABSTRAK Krisis ekonomi yang berkepanjangan menyebabkan menurunnya partisipasi kader pada

kegiatan posyandu. Banyak kader yang menjadi tidak aktif pada kegiatan posyandu. Jumlah kader yang tidak aktif di kabupaten subang pada tahun 2010 sebanyak 1053 orang dari jumlah 7863 orang. Di Puskesmas Compreng Kecamatan Kecamatan Compreng pada tahun 2009 jumlah kader posyandu yang tidak aktif sebanyak 35 orang dari 95 kader. Akibatnya cakupan jumlah balita yang datang ke Posyandu di Puskesmas Compreng tidak mencapai target, yaitu sebesar 70,2% dari target yang ditetapkan sebesar 80%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan partisipasi kader dalam kegiatan posyandu di wilayah kerja Puskesmas Compreng Kecamatan Compreng Kabupaten Subang. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader yang ada di wilayah kerja Puskesmas Compreng baik yang aktif maupun tidak aktif dengan jumlah sampel sebanyak 95 kader. Hasil penelitian menunjukan: ada hubungan antara pengetahuan dengan partisipasi kader

dalam kegiatan posyandu (p-value : 0,000), ada hubungan antara pekerjaan dengan partisipasi kader dalam kegiatan posyandu (p-value : 0,000), ada hubungan antara pendapatan dengan partisipasi kader dalam kegiatan posyandu (p-value : 0,040), ada hubungan antara keikutsertaan kader pada organisasi lain dengan partisipasi kader dalam kegiatan posyandu (pvalue : 0,000). Saran bagi petugas kesehatan untuk melakukan penyegaran bagi kader dalam bentuk pelatihan-pelatihan serta pemberian reward bagi kader yang kegiatan posyandu. Kata Kunci : Korelasi, Kuantitatif berprestasi dan aktif dalam

26

PENDAHULUAN Posyandu merupakan salah satu upaya kesehatan bersumber daya masyarakat yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaanya. Posyandu juga

seperti

yang

diharapkan.

Jika

ada

kepentingan keluarga atau kepentingan lainnya maka Posyandu akan ditinggalkan (Yudiansyah, 2000). Kabupaten kecamatan sebanyak Subang dengan 40 terdiri jumlah dari 30

sebagai perpanjangan tangan Puskesmas yang memberikan pelayanan dan

Puskesmas sedangkan

pemantauan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu. Kegiatan-kegiatanya

Puskesmas,

jumlah Posyandu sebanyak 1781 dengan jumlah kader 7863 orang, jumlah kader yang aktif 6810 orang dan jumlah kader yang tidak aktif 1053 orang. Kader yang telah mengikuti pelatihan sebanyak 2876 orang (Profil Dinas Kesehatan Kab.Subang, 2010).

dilaksanakan oleh kader kesehatan yang telah mendapatkan dari pendidikan dan

pelatihan

puskesmas

mengenai

pelayanan kesehatan dasar (Depkes RI, 2005).. Posyandu sangat tergantung pada peran kader, kader-kader Posyandu ini pada umumnya adalah relawan yang berasal dari masyarakat kemampuan yang lebih dipandang dibanding memiliki anggota

METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian survey dengan rancangan cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 95 orang kader. Lokasi penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Compreng Kabupaten Subang. Waktu Januari-Juli 2011. Penelitian pada bulan

masyarakat lainnya. Mereka inilah yang memiliki andil besar dalam memperlancar proses pelayanan kader kesehatan. relatif labil Namun karena

keberadaan

partisipasinya bersifat sukarela sehingga tidak ada jaminan bahwa para kader akan tetap menjalankan fungsinya dengan baik

27 HASIL PENELITIAN Tabel 1 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keaktifan Kader Dalam Posyandu Puskesmas Compreng Kabupaten Subang
Variabel Pengetahuan Kader Baik Cukup Kurang Jumlah Bekerja Tidak bekerja Jumlah Pendapatan Rendah Tinggi Jumlah Keikutsertaan dalam organisasi Ya Tidak Jumlah Jumlah 26 33 36 95 39 56 95 51 44 95 33 62 95 Persentase 27,4 34,7 37,9 100 41,1 58,9 100 53,7 46,3 100 34,7 65,3 100

Tabel 2 Keaktifan Kader Dalam Posyandu
Variabel Keaktifan Kader Pasif Aktif Jumlah 58 37 Persentase 61,1 38,9

Tabel 3 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Keaktifan Kader Dalam Posyandu
Pengetahuan Kurang Cukup Baik Jumlah Keadaan Bekerja Bekerja Tidak bekerja Jumlah Pendapatan Rendah Tinggi Jumlah Keikutsertaan dalam organisasi lain Ya Tidak Jumlah Keaktifan kader Pasif Aktif 33 3 15 18 10 16 58 37 Pasif 11 47 58 Pasif 36 22 58 Pasif 8 50 58 Aktif 28 9 37 Aktif 15 22 37 Aktif 25 12 37 Total 36 33 26 95 Total 39 56 95 Total 51 44 95 Total 33 62 95 P value

0,000

P value 0,000 P value 0,04

P value 0,000

28 PEMBAHASAN Kader adalah anggota masyarakat yang dipilih dari oleh masyarakat setempat, disetujui dan dibina oleh LKMD, mau dan mampu bekerja secara sukarela, dapat membaca dan menulis huruf latin serta mempunyai waktu untuk bekerja bagi masyarakat disamping usahanya mencari nafkah (Depkes RI, 2005). Keberadaan kader merupakan masyarakat dan merupakan indikator bagi partisipasi bentuk peran serta dalam

masyarakat khususnya

pembangunan dalam bidang kesehatan. Keberadaan kader dalam pencapaian tujuan posyandu sangat penting. Dinas kesehatan Kabupaten Subang menetapkan bahwa kader dikatakan aktif apabila mengikuti kegiatan posyandu minimal 6 kali dalam satu tahun dan tidak aktif apabila kader tidak mengikuti kegiatan posyandu kurang dari 6 kali dalam satu tahun.

Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keaktifan kader adalah tingkat

Hasil

penelitian dengan

tentang

hubungan kader

pekerjaan

keaktifan

pengetahuan. Dalam domain kognitif atau pengetahuan, pengetahuan pertama dari pengertian merupakan tingkatan dari bagian sebuah yang

menunjukan terdapat hubungan pekerjaan kader dengan Keaktifan di Kader Wilayah dalam kerja

kegiatan

posyandu

pengetahuan.

Puskesmas Compreng Kabupaten Subang (p- value : 0,000 < α : 0,050). Hasil penelitian ini tidak selaras dengan teori Nursalam (2003) yang menyatakan bahwa orang yang bekerja kesempatan untuk mengikuti kegiatan sosial rendah atas dasar kesibukannya. Kaitannya dengan penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar tidak bekerja akan tetapi tidak aktif dalam

Pengertian atau tahu merupakan awal untuk mengetahui menyebabkan segala sesuatu. Hal ini tahu

pengertian

atau

merupakan bagian yang utama dalam tingkatan pengetahuan walaupun tingkatan paling rendah dalam Pekerjaan

mempengaruhi seseorang terhadap peran serta masyarakat meliputi keadaan waktu yang tersedia untuk kegiatan sosial.

kegiatan posyandu, hal ini disebabkan bahwa bahwa pengkategorian ibu rumah tangga termasuk kedalam tidak bekerja. Dalam tatanan kehidupan masyarakat yang sebagian besar mata pencahariannya

Semakin sedikitnya waktu seseorang untuk bersosial pekerjaan akibat karena banyaknya menurunnya

menyebabkan

tingkat kesadaran dan tanggung jawab mereka terhadap kegiatan sosial yang salah satunya peranan aktif menjadi kader

sebagai petani, ibu-ibu cenderung sebagai ibu rumah tangga akan tetapi disibukan dengan kegiatan pertanian. Dalam

kesehatan di lingkungan.

kenyataanya ibu rumah tangga ditambah

29 dengan kesibukan untuk bertani KESIMPULAN 1. Terdapat hubungan antara pengetahuan kader tentang posyandu dengan

menunjukan

lebih sibuk dibandingkan

dengan orang bekerja secara formal dimana batasan waktu kerjanya jelas. Sedangkan yang di maksud pendapatan pada penelitian ini adalah jumlah

keikutsertaan kader dalam posyandu 2. Terdapat hubungan antara keadaan bekerja kader dengan keikutsertaan kader dalam posyandu 3. Terdapat hubungan antara jumlah

penghasilan yang dimiliki seorang kader posyandu yang di gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Kader yang mempunyai pendapatan yang tinggi cenderung lebih aktif dalam kegiatan posyandu, hal ini disebabkan bahwa kader yang kebutuhan berpendapatan utamanya tinggi maka

pendapatan dengan keikutsertaan kader dalam posyandu 4. Terdapat keikutsertaan hubungan dalam antara lain

organisasi

dengan keikutsertaan dalam posyandu

sudah

terpenuhi. SARAN 1. Meningkatkan tentang melakuan pengetahuan dengan kader kader cara yang

Setelah kebutuhan pokok terpenuhi maka tinggal melengkapi dengan kebutuhan

sosial salah satunya adalah mengikuti kegiatan posyandu. Keikutsertaan kader dalam organisasi lain maksudnya adalah selain menjadi kader mereka juga aktif dalam kegiatan organisasi lain, sehingga dapat mempengaruhi

posyandu refreshing

berkesinambungan dan seminar.

melalui

pelatihan

2. Memberikan reward bagi kader yang berprestasi dan aktif seperti pemberian piagam meningkatkan penghargaan motivasi kader untuk dalam

partisipasinya dalam kegiatan posyandu, apalagi kegiatan dalam organisasi lain tersebut mendatangkan nilai ekonomi yang cukup besar bagi kader. mengikuti organisasi jawab termasuk Kader yang lebih kegitan kegiatan

kegiatan posyandu, reward dalam bentuk keuangan yang dikumpulkan dari warga atau sumber pendapatan desa *Penulis Merupakan staf pengajar

cenderung dalam dalam

bertanggung organisasi posyandu.

STIkes Budi Luhur

30

DAFTAR PUSTAKA Depkes RI.2005. Pedoman Posyandu. Jakarta Kader

Dinas Kesehatan Kabupaten Subang. 2009. Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Subang Notoatmodjo.2003.Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.Rineka Cipta, Jakarta Nursalam.2000. Metode Penelitian Kesehatan. Sagung Seto: Jakarta Puskesmas Kecamatan Compreng. 2010. Profil Kecamatan Compreng. Sub ang

31

PENELITIAN
HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU GURU UKS DENGAN PENGELOLAAN WARUNG SEKOLAH SEHAT DI LINGKUNGAN SD/MI SE WILAYAH KECAMATAN TAROGONG KIDUL KABUPATEN GARUT

Oktoruddin Harun *) Hanni Iskandar ** ) ABSTRAK Pengelolaan warung sekolah sehat merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat, bersih dan nyaman serta terbebas dari ancaman penyakit. Warung Sekolah yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan masalah kesehatan diantaranya peningkatan kesakitan akibat penyakit bawaan makanan ( food borne disease ). Salah satu penyakit yang banyak terjadi di Indonesia adalah KLB keracunan makanan dengan proporsi tertinggi terjadi pada anak sekolah dasar (SD) / madrasah (MI) ibtidaiyah yaitu 67,8%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku guru UKS dengan pengelolaan warung sehat di lingkungan SD/MI Se wilayah Kecamatan Tarogong Kidul Tahun 2009. Penelitian ini dilakukan dengan desain kros seksional yang dibatasi pada pengetahuan, sikap dan perilaku guru UKS di Lingkungan SD/MI sewilayah Kecamatan Tarogong Kidul Sebagai populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah guru UKS di lingkungan SD/MI Sewilayah Kecamatan Tarogong Kidul. Metode pengambilan sampel dengan total sampling dan analisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil uji Fisher Exact menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan, sikap dan perilaku guru UKS dengan pengelolaan Warung Sekolah sehat. Berdasarkan hasil penelitian disarankan kepada Guru UKS dan pihak sekolah perlu peningkatan peran dalam pengelolaan Warung Sekolah sehat. Kepada Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan agar merencanakan dan mengaangarkan pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung terwujudnya Warung Sekolah sehat. Kepada Tim Pembina UKS agar melakukan fasilitasi untuk sekola-sekolah melalui pelatihan pengelolaan Warung Sekolah sehat serta melakukan monitoring secara berkala untuk meningkatkan kualitas pengelolaan Warung Sekolah.

32

PENDAHULUAN Terwujudnya lingkungan sekolah yang

makanan Disease

tinggi Centtre

sekali.

Comuinicable

(CDC) memperkirakan

sehat, bersih dan nyaman serta terbebas dari ancaman penyakit perlu dilakukan berbagai kesehatan satunya upaya lingkungan adalah penyelenggaraan sekolah, salah Warung

setiap tahunnya 76 juta orang Amerika Serikat menderita akibat penyakit bawaaan makanan 2004) Berdasarkan laporan Badan Pengawasan Obat Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), tahun 2004 terjadi KLB keracunan pangan sebanyak 152 kejadian, 7347 kasus dan 45 orang meninggal dunia. KLB (www.smallcrab.online.com,

pengelolaan

Sekolah sehat. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 1429 tahun 2006, setiap sekolah harus memiliki beberapa ruang kelas, ruang bimbingan dan

konseling, ruang UKS, ruang Laboratorium, Warung Sekolah, toilet, ruang ibadah dan gudang. Warung sekolah yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan masalah

keracunan pangan terbanyak di Provinsi Jawa Barart yaitu sebanyak 32 kejadian. Tempat kejadian di sekolah/kampus

menempati urutan kedua setelah tempat tinggal yaitu 23,5% dan kejadian pada institusi pendidikan paling banyak di

kesehatan daiantaranya peningkatan angka kesakitan akibat penyakit bawan makanan (Food Borne Disease). Kejadian penyakit bawaan makanan pada banyak kawasan di dunia telah mengalami peningkatan yang cukup besar dan dapat terus meningkat jika tidak dilakukan tindakan yang efektif untuk mencegahnya. Secara umum penyaki

lingkungan SD/MI yaitu BPOM RI, 2004)

67,8% (Laporan

Kebiasaaan jajan dapat berdampak positif maupun negatif, bila memenuhi syaratsyarat kesehatan, kebiasaan jajan dapat berdampak positif, diantaranya untuk

melengkapi atau menambah kebutuhan gizi. Dampak negatif dari kebiasaan jajan

bawaan makanan dapat diakibatkan oleh bahaya biologi dan kimia (WHO, 2006) Di Amerika Serikat diperkirakan kerugian yang ditimbulkan akibat penyakit bawaan makanan tiap tahunnya mencapai 5 hingga 6 milliar dollar US. Suplai makanan di Amerika Serikat telah dinyatakan paling aman di dunia, tetapi angka kesakitan dan angka kematian karena penyakit bawaan

diantaranya jajanan yang dibeli belum terjamin keamanannya (Sekjen Jejaring Intelijen Pangan, 2005) Keracunan pangan dapat disebabkan oleh mikroba patogen dan pencemaran kimiawi. Dari laporan hasil analisis Balai POM diduga penyebab keracunan disebabkan mikroba pathogen 21 kejadian (13,7%),

33

kimia 13 kejadiann (8,5%) sedangkan yang tidak terdeteksi/tidak dapat dianalisis masih jauh lebih banyak, yaitu 119 kejadian keracunan (77,8%) Di Kabupaten Garut dari bulan Januari sampai Oktober 2009 terdapat 3 kasus keracunan makanan yang tersebar di 3 kecamatan yaitu di Desa Keresek Cibatu keracunan jamur sebanyak 8 orang. Desa Bayongbong keracunan nasi kuning

Proses pendidikan merupakan pemelihara sekaligus pembentuk budaya bangsa

termasuk budaya hidup sehat. Pendidikan menumbuh kembangkan kesadaran dan kpedulian terhadap kesehatan dan

pentingnya hidup sehat. Pendidikan juga membentuk nilai-nilai tentang cara hidup yang sehat. Oleh karena itu, setiap sekolah diharapkan perannya sehat 2008). Guru memiliki peranan yang besar dalam pembentukan nilai-nilai cara hidup sehat dilingkungan sekolah. Pengetahuan mampu sebagai melaksanakan budaya UKS IX,

pembangkit Rakernas

(Mendiknas,

sebanyak 83 orang dan Desa Citeras Malangbong keracunan kacang dengan jumlah penderita sebanyak 95 orang. Kasus kematian tidak ada (Laporan P2M Dinkes Kabupaten Garut, 2009) Di Kecamatan Tarogong Kidul terdapat 29 Sekolah Dasar (SD) dan 11 Madrasah Ibtidaiyah (MI), 11 diantaranya memiliki warung khusus ditambah beberapa

kesehatan yang dimiliki oleh seorang guru akan berdampak pada perilakunya,

selanjutnya berdampak pula meningkatnya indikator faktor kesehatan dan terkendalinya resiko kesehatan. yang Keberadaan syarat

pedagang makanan kaki lima sedangkan 29 SD/MI tidak memiliki warung khusus hanya pedagang kaki lima saja. Dari hasil

warung-warung kesehatan

memenuhi

diperkirakan

berhubungan

dengan pengetahuan, sikap dan perilaku guru tentang pengelolaan warung sehat.

penilaian terhadap berbagai aspek yang dipersyaratkan bagi warung sekolah dalam Pedoman Pengelolaan dan Penyehatan Makanan Warung Sekolah serta Permenkes No 1429 Tahun 2006, seluruh warung sekolah di Kecamatan Tarogong Kidul berpotensi menyebabkan gangguan

METODE Penelitian deksriptif ini menggunakan yaitu suatu metode metode

korelasi

penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk mengentahui hubungan antara

kesehatan karena ruangan bangunan dan tata laksana tidak sehat (Laporan Inspeksi Sanitasi Sekolah Puskesmas

pengetahuan, sikap dan perilaku guru UKS dengan pengelolaan warung sekolah sehat

Haurpanggung dan Pembangunan, 2009)

34 di lingkungan SD/MI Sewilayah Kecamatan Tarogong Kidul Tahun 2009. Waktu penelitian dilakukan dari tanggal 16 Desember Desember sampai dengan 2009. tanggal 23 penelitian sebanyak 40 orang. Sampel yang

digunakan adalah seluruh guru UKS yaitu sebanyak 40 orang. Tehnik pengambilan sampel sampling digunakan dilakukan dengan cara total yang dengan

Rancangan

.Instrumen adalah

penelitian kuesioner

yang digunakan adalah kros seksional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru Guru UKS di seluruh Sekolah Dasar Se wilayah Kecamatan Tarogong Kidul

pertanyaan tertutup.

HASIL PENELITIAN Hasil Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Tehnik dalam analisis ini adalah tabulasi silang dengan uji Fisher Exact karena dari hasil penelitian pada tabel 2 X 2 satu satu atau lebih sel mempunyai nilai harapan kurang dari 5 1. Hubungan Pengetahuan Guru UKS dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Tabel 1 Hubungan Antara Pengetahuan Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Pada SD/MI Di Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut Tahun 2009
Pengetahuan Kurang Baik Baik Pengelolaan Warung Sekolah Tidak Sehat Sehat F % f % 24 96 1 4 14 93.3 1 6,7 N 25 15 100 1.00 100 Nilai P

Dari tabel diatas ternyata ada 25 responden dengan pengetahuan kurang baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 24 responden (96%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1 responden ( 4%). Sedangkan 15 responden dengan pengetahuan baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 14 responden ( 93,3%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1 responden ( 6,7 %) Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan pengelolaan warung sekolah sehat ( P > 0,05 )

35

2. Hubungan Sikap Guru UKS dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Tabel 2 Hubungan Antara Sikap Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Pada SD/MI Di Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut Tahun 2009
Sikap Tidak mendukung Mendukung Pengelolaan Warung Sekolah Tidak Sehat Sehat F % f % 18 94,7 1 5,3 20 92,5 1 4,8 N 19 21 100 1,00 100 Nilai P

Dari table 2 ternyata ada 19 responden dengan sikap tidak mendukung, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 18 responden ( 94,7%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehata hanya 1 responden ( 5,3%). Sedangkan 21 responden dengan sikap mendukung, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 20 responden (92,5%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1 responden ( 4,8%) Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara sikap responden dengan pengelolaan warung sekolah sehat ( P > 0,05 ) 3. Hubungan Perilaku Guru UKS dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Tabel 3 Hubungan Antara Perilaku Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Pada SD/MI Di Kecamatan Tarogong Kidul Kabupaten Garut Tahun 2009 Pengelolaan Warung Sekolah Tidak Sehat Sehat F % f % 9 90 1 10 29 diatas ternyata 96,7 ada 10 1 3,3 perilaku

Perilaku Kurang Baik Baik Dari tabel

N 10 30 baik, 100

Nilai P

1,00 100 dimana pengelolaan

responden dengan perilaku kurang baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 9 responden (90%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 30 1 responden responden (10%). dengan

warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 29 responden (96,7%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1

responden (3,3 %)

Sedangkan

36 Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara perilaku responden dengan pengelolaan warung sekolah sehat (P > 0,05) PEMBAHASAN 1. Hubungan Pengetahuan Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 1 hubungan pengetahuan Guru UKS dengan pengelolaan warung sekolah sehat pada sekolah dasar di Kecamatan Tarogong Kidul sebagian besar guru yang pengetahuannya kurang baik pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat, sesuai dengan konsep yang

disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) bahwa tingginya pengetahuan tindakan akan yang karena

berhubungan dilakukan

dengan

seseorang,

pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang, karena tindakan guru UKS yang didasari dan oleh sikap

pengetahuan, lasting)

kesadaran

positif akan berlangsung lama (long daripada yang tidak didasari

berpengetahuan kurang baik. Hasil analisis hubungan antara

pengetahuan. Namun ada pula sebanyak 14 responden (93,3%) yang

berpengetahuan baik tetapi keadaan warung sekolahnya tidak sehat. Hal ini dapat disebabkan oleh tingkat

pengetahuan dan pengelolaan warung sekolah sehat diperoleh bahwa ternyata ada 25 responden dengan pengetahuan kurang baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 24 responden warung (96%) dan pengelolaan hanya 1 15

pengetahuan responden masih pada tingkat mengetahui belum kepada tingkat memahami, aplikasi apalagi analisis. Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan

sekolahnya (4%).

sehat

responden

Sedangkan

responden dengan pengetahuan baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 14 responden (93,3%) dan pengelolaan warung

pengelolaan warung sekolah sehat (P > 0,05) Melihat kondisi diatas, maka perlu ada upaya meningkatkan pengetahuan guru UKS terutama dalam persyaratan

sekolahnya sehat hanya 1 responden (6,7 %) Hasil penelitian yang menunjukkan guru yang memiliki pengetahuan baik

warung sekolah sehat agar mencapai tingkat yang paling akhir yaitu mampu mengevaluasi. Hal ini berkaitan dengan

keadaan warung sekolahnya sehat dan

37

kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian sekolah terhadap sehat pengelolaan berdasarkan

2. Memahami (Comprehension) Memahami artinya suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan materi Orang dapat

warung

kriteria yang telah ada, yang telah ditetapkan dalam Pedoman Pengelolaan Warung Sekolah dan Permenkes 1429 Tahun 2006 tentang persyaratan warung sekolah sehat. Adapun tahapan

menginterpretasi secara benar.

tersebut telah

yang

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

pengetahuan yang perlu ditingkatkan bagi guru UKS sesuai dengan konsep Notoatmodjo (2007) mencakup 6

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari. Hal ini bisa dilaksanakan melalui kegiatan pembinaan guru UKS dan konseling kegiatan UKS. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi kemampuan diartikan untuk sebagai menggunakan

tingkatan dalam domain kognitif yaitu : 1. Tahu (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu sekolah materi pengelolaan telah warung dipelajari ke ini dalam adalah

yang

sebelumnya. pengetahuan

Termasuk tingkat

mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh

materi yang telah dipelajari pada situasi Aplikasi atau kondisi sebenarnya. diartikan dalam

bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “ tahu “ merupakan tingkatan yang paling rendah. Kata kerja untuk

disini

dapat UKS

kemampuan

guru

menggunakan hukum-hukum, rumus, metode, dalam prinsip mengelola dan sebagainya sekolah

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain : menyebutkan, mendefinisikan, menguraikan, menyatakan dan

warung

yang sehat. Hal ini dapat didorong melalui pembinaan rutin dengan

kegiatan inspeksi sanitasi institusi sekolah oleh Sanitarian Puskesmas atau melalui pemantauan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

sebagainya. Hal ini dapat dilakukan kegiatan pelatihan guru UKS atau kegiatan sosialisasi Permenkes 1429 Tahun 2006 tentang persyaratan

institusi sekolah oleh tenaga Promosi Kesehatan Puskesmas..

warung sekolah sehat.

38 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan guru UKS untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponenkomponen dalam struktur organisasi sekolah dan melalui upaya koordinasi lintas sektoral. Hal ini dapat pengelolaan dari yang sudah ada kearah yang lebih baik. Untuk dapat meningkatkan pengetahuan guru UKS mencapai tingkat sintesis perlu upaya pembinaan terus menerus dan

dukungan sarana dan prasarana dari dinas instansi terkait. Kemampuan tersebut dapat difasilitasi oleh dinas terkait terutama Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.

dilaksanakan melalui kegiatan survei mawas diri oleh pihak sekolah dan Tim Pembina UKS tingkat kecamatan. Hasil dari kegiatan pihak data sekolah hasil dalam tersebut dapat

Misalnya melalui kegiatan workshop pengelolaan warung sekolah sehat atau studi banding ke daerah lain yang pengelolaan warung sekolahnya sudah jauh lebih baik dan lebih sehat.Apabila wawasan para guru UKS sudah meningkat diharapkan mampu mendorong kepala sekolah untuk bekerjasama dengan komite sekolah melakukan inovasi

diharapkan memiliki

identifikasi pengelolaan

permasalahan

warung sekolah sehat. Data tersebut selanjutnya bersama-sama stakeholder dianalisis oleh sehingga prioritas secara berbagai diperoleh sebagai

langkah-langkah

tindak lanjut penyelesain masalahnya. Sehingga upaya pengelolaan warung sekolah sehat akan menjadi

penyediaan warung sekolah sehat di sekolah masing-masing. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan guru UKS dengan untuk terhadap

tanggungjawab semua pihak yaitu pihak sekolah, orang tua siswa dan aparat pemerintah setempat. 5. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk guru atau pada UKS suatu untuk

kemampuan melakukan

penilaian

pengelolaan warung sekolah sehat di sekolahnya. berdasarkan ditetapkan Penilaian-penilaian kriteria oleh yang itu

kemampuan meletakkan

menghubungkan

telah

bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyempurnakan formulasi

Kementerian

Kesehatan dalam Permenkes 1429 Tahun 2006 tentang persyaratan

warung sekolah sehat. Bila sudah

39

mencapai tingkat ini guru UKS dapat melakukan penilaian sendiri (self

berbagai

instansi

terkait

untuk

memberikan pemahaman dan motivasi bagi guru UKS agar mempunyai sikap yang lebih positif untuk mengarahkan para pengelola warung sekolah kearahg yang lebih baik sesuai persyaratan

assessment) berdasarkan ketentuan yang berlaku. Untuk mencapai tingkat ini para guru UKS perlu ditingkatkan kemampunnya dalam memahami dan mengimplementasikan aturan

kesehatan. Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara pengetahuan responden dengan

tersebut. Selain itu dapat juga dengan melibatkan melalui lintas sektor lomba misalnya warung

kegiatan

sekolah sehat. 2. Hubungan Sikap Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 2 ternyata ada 19 responden dengan sikap tidak mendukung, dimana

pengelolaan warung sekolah sehat (P > 0,05 ) Menurut Notoatmodjo (2007) sikap nyata menunjukkan kesesuaian konotasi reaksi terhadap adanya stimulus

pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 18 responden ( 94,7%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehata hanya 1 responden (5,3%).

tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang stimulus bersifat sosial..

emosional terhadap

Namun sikap juga dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan responden dimana sebagian besar pengetahuan pengelolaan kurang baik. tentang

Sedangkan 21 responden dengan sikap mendukung, dimana pengelolaan

warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 20 responden ( 92,5%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1

warung sekolah masih

responden ( 4,8%) Dari data diatas ada kecenderungan bahwa sikap guru UKS sebagai yang bertanggungjawab pengelolaan antara yang dalam pembinaan sehat tidak

Untuk dapat mengembangkan sikap para guru UKS dalam pengelolaan warung sekolah sehat, kita dapat mempelajari konsep tentang tahapan sikap yang dikemukakan Notoatmodjo Allport (2007) (1954) yang dalam terdiri

warung

sekolah dan

mendukung hampir sama.

beberapa tingkatan yaitu :

mendukung

Sehingga

diperlukan upaya yang terintegrasi dari

40

1.

Menerima (Receiving) Menerima diartikan bahwa guru UKS siap yang dan memperhatikan diberikan berupa stimulus sosialisasi

pemberian informasi terhadap peserta didik. 4. Bertanggung jawab (Responsible) Bertanggung sesuatu yang jawab atas segala dengan

Permenkes 1429 tahun 2006 tentang persyaratan warung sekolah sehat. 2. Merespon (Responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan

dipilihnya

segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi. Sebagian besar

responden telah menunjukkan sikap mendukung pada pernyataan: guru

tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk menjawab

berperan besar dalam mewujudkan warung sekolah yang sehat ( 92,5%). Hal ini dapat diartikan bahwa

pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan terlepas pekerjaan itu benar atau salah, berarti orang

sebagian besar responden menyadari tanggung mewujudkan jawabnya pengelolaan dalam warung

menerima ide tersebut. Hasil jawaban responden bersikap yang sebagian besar

sekolah sehat di sekolah, Adanya stimulus berupa kegiatan

mendukung

berbagai

UKS disekolah seharusnya mampu memotivasi menyampaikan warga sekolah guru UKS untuk kepada dalam

pernyataan untuk mengelola warung sekolah secara sehat, dapat diartikan bahwa responden sudah mencapai tingkat ini. 3. Menghargai (Valuing) Menghargai artinya mau mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan terhadap suatu

kembali khususnya

pengelolaan warung sekolah sehat. Selanjutnya dari sikap positif guru terhadap pentingnya warung sekolah sehat akan berdampak terhadap

lingkungan sekolah untuk mendukung terwujudnya warung sekolah sehat dan berperilaku sehat. 3. Hubungan Perilaku Guru UKS Dengan Pengelolaan Warung Sekolah Sehat Pada table 3 terlihat bahwa ternyata ada 10 responden dengan perilaku kurang baik, dimana pengelolaan warung

masalah. Hal ini merupakan suatu indikasi sikap menghargai. Bila

melihat dari hasil penelitian, sebagian besar bersikap responden (92,5%) telah dalam

mendukung

mewujudkan warung sekolah yang sehat melalui saran terhadap dan

pengelola

warung

sekolah

41

sekolahnya tidak sehat sebanyak 9 responden warung (90%) dan pengelolaan hanya 1 30

berfungsi untuk mengolah ransangan dari luar. 2. Faktor ekstern mencakup : lingkungan sekitar baik fisik maupuin non fisik seperti ekonomi, sebagainya. Dengan demikian pengetahuan guru UKS tentang warung sekolah sehat saja tidak cukup bila tidak ditunjang : iklim, manusia, sosial dan

sekolahnya (10%).

sehat

responden

Sedangkan

responden dengan perilaku baik, dimana pengelolaan warung sekolahnya tidak sehat sebanyak 29 responden (96,7%) dan pengelolaan warung sekolahnya sehat hanya 1 responden ( 3,3 %) Dari data diatas sebagian terlihat besar bahwa telah

kebudayaan

oleh faktor lainnya seperti wewenang, dukungan berbagai pihak dan sarana prasarana. Oleh karena itu diperlukan kerjasama terwujudnya sekolah berbagai pihak untuk warung dengan

responden

berperilaku baik tetapi hal tersebut belum sejalan dengan pengelolaan warung

sekolah yang sehat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti belum

pengetahuan sesuai

sehat

adanya kewenangan dan pendelegasian yang tegas pada guru yang ditunjuk menjadi guru UKS dan belum

persyaratan.

Sedangkan untuk meningkatkan perilaku responden kearah yang lebih baik dapat melalui beberapa tahapan antara lain : 1. Persepsi (Perception) Pada tahapan ini responden dilatih untuk dapat mengenal lebih

tersedianya sarana warung sekolah yang sehat untuk mendukung terwujudnya perilaku yang baik dalam mengelola warung sekolah.. Hasil uji Fisher Exact pada α = 0,05 ternyata tidak ada hubungan antara perilaku responden dengan pengelolaan warung sekolah sehat ( P > 0,05) Menurut Notoatmodjo (2007) bahwa

mendalam warung

tentang

pengelolaan sehingga

sekolah

sehat

mereka dapat memilih berbagai model yang mungkin dapat dilaksanakan disekolahnya. 2. Respon terpimpin (Guided respons) : Dalam tahap ini responden diberikan panduan teknis pelaksanaan tentang cara pengelolaan warung sekolah sehat. Dasar acuannya adalah

perilaku dipengaruhi oleh faktor : 1. Faktor intern mencakup

pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang

42

Permenkes 1429 tahun 2006 tentang persyaratan warung sekolah. 3. Mekanisme (Mecanism) Tahapan ini adalah mendorong agar semua yang terkait warung dengan sekolah

adalah

faktor

yang

memperkuat

(Reinforcing factors) yaitu usaha untuk mendapatkan dukungan pihak sekolah melalui berbagai kebijakannya dan dari masyarakat sekolah seperti orang tua siswa dalam menyediakan sarana dan prasarana warung sekolah yang

terwujudnya

senantiasa berperilaku sehat. Dengan pembiasaan yang terus-menerus

memenuhi sayarat. Untuk merubah perilaku guru UKS dalam pengelolaan warung sekolah sehat dapat menggunakan berbagai strategi. Merujuk pada model strategi menurut WHO dalam Notoatmodjo (2007), dijelaskan bahwa pertama adalah dengan

seharusnya dapat mendorong semua warga sekolah untuk mengelola

warung sekolahnya sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. 4. Adaptasi (Adaptation) Adaptasi adalah suatu prakktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Tindakannya sudah

menggunakan kekuatan/kekuasaan agar terjadi perubahan perilaku walaupun

dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakannya tersebut. Merujuk pada Notoatmodjo (2007), proses tersebut dapat berjalan

awalnya dipaksakan, misalnya dengan adanya peraturan perundangan-

undangan yang harus dipatuhi oleh sekolah sehinggga diharapkan semua sekolah dapat mematuhinya. Namun sebelum upaya diterapkan perlu terlebih dahulu memberikan pendelegasian dan wewenang pada guru UKS sehingga ada kejelasan dalam menegakkan aturan sesuai dengan fungsi dan wewenangnya masing-masing. Lebih lanjut Notoatmodjo

dengan baik bila didukung oleh faktor predisposisi yaitu (Predisposing melalui guru factors)

peningkatan UKS tentang

pengetahuan

pengelolaan warung sekolah sehat, pembentukan sikap dan menyamakan persepsi untuk meningkatkan kualitas penyediaan warung sekolah sehat. Faktor berikutnya adalah faktor yang mendukung (Enabling factors), adalah usaha untuk menyediakan sumber daya dan fasilitas warung sekolah yang sehat di sekolah. Selain itu yang terakhir

mengemukakan konsep bahwa dengan pemberian informasi. Strategi dilakukan dengan memberikan informasi-informasi mengenai pengelolaan warung sekolah yang sehat sehingga akan meningkatkan

43

pengetahuan, kesadaran dan akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang

3. Tidak ada hubungan antara perilaku guru UKS dengan pengelolaan warung sekolah sehat. SARAN 1. Bagi guru UKS dan pihak sekolah perlu adanya peningkatan warung peran sekolah salam sehat

dimilikinya.

Walaupun

perubahan

perilaku dengan cara ini akan memakan waktu lama, tetapi perubahan yang dicapai akan bersifat langgeng karena didasari pada kesadaran mereka sendiri (bukan karena paksaan)

pengelolaan

sesuai dengan pedoman yang berlaku (Depkes RI Tahun 1994 tentang

Strategi yang terakhir adalah dengan metode diskusi dan partisipasi, cara ini adalah sebagai kedua. Dimana peningkatan dari cara dalam memberikan

Pengelolaan dan Penyehatan Makanan Warung Sekolah dan Permenkes 1429 Thaun Warung 2006 tentang Pengelolaan sehingga

Sekolah

Sehat),

informasi-informasi tidak bersifat searah tapi dua arah. Hal ini berarti guru UKS tidak hanya pasif menerima informasi tentang pengelolaan warung sekolah sehat, tetapi juga harus aktif melakukan diskusi-diskusi tentang informasi yang diterimanya. Memang cara ini lebih lama dibandingkan dengan cara yang kedua tapi hasilnya jauh lebih baik

dapat mewujudkan pengelolaan warung sekolah masing. 2. Bagi Pemerintah khususnya Dinas sehat di sekolah masing-

Pendidikan agar merencanakan dan manggarkan pembangunan sarana dan prasarana terwujudnya sehat. 3. Bagi Tim Pembina UKS agar melakukan fasilitasi untuk sekolah-sekolah melalui yang warung mendukung sekolah yang

(Notoatmodjo, 2007).

KESIMPULAN Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah : 1. Tidak ada hubungan guru UKS antara dengan

pelatihan pengelolaan warung sekolah sehat. Selain itu juga melakukan guna

monitoring meningkatkan

secara

berkala

kualitas

pengelolaan

pengetahuan

warung sekolah sehat. *Penulis merupakan pengajar STIkes Budi Luhur

pengelolaan warung sehat sekolah 2. Tidak ada hubungan antara sikap guru UKS dengan pengelolaan warung

sekolah sehat

44

KEPUSTAKAAN Amirin, M.Tatang, drs ( 2004). Menyusun Rencana Penelitian . Cetakan keempat, Raja Grafindo Perkasa, Jakarta Budiman, Chandra, Dr (1995). Pengantar Statistik Kesehatan . EGC Jakarta ________ (2007). Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC. Jakarta DepKes RI, (1994) Pedoman Pengelolaan dan Penyehatan Makanan Warung Sekolah, Jakarta. ________ (2004). Pedoman Teknis Pengendalian Faktor Resiko Kesehatan Lingkungan Di Sekolah. Dirjen P2M & PLP. Jakarta. DepKes dan Kesra RI (2007), Kumpulan Keputusan Menteri Kesehatan Bidang Penyehatan Lingkungan. Jilid Ketiga. DitJen P2M & PLP Depdiknas, (2003). Pedoman dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah. Dit.Jen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta Dinkes Kabupaten Garut ( 2009). Laporan KLB Keracunan . P2P Hastono, P.S ( 2003). Analisa Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Depok ________ (2007). Analisa Data. Fakultas Kesehatan Masyarakat. UI Depok Kantin. www.wikipedia.com

Lemeshow et.al (1997). Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta Notoatmodjo, S (2002). Metodologi Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta ________ (2003).Pendidikan Promosi dan Perilaku Kesehatan. FKM UI.Depok ________ (2005). Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasi. Rineka Cipta. Jakarta ________ (2007). Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni. Rineka Cipta. Jakarta Puskesmas Haurpanggung (2009). Hasil Inspeksi Sanitasi Sekolah. Program Kesehatan Lingkungan Garut Riduwan, Drs, MBA (2007). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru dan Peneliti Pemula. Alfabeta. Jakarta Sabri L & Hastono, S.P. (2006). Statistik Kesehatan. Raja Grafindo Perkasa, Jakarta

45

PENELITIAN
HUBUNGAN ANTARA PERAN PERAWAT SEBAGAI PEMBERI ASUHAN DENGAN ADAPTASI PSIKOLOGIS IBU POST PARTUM PRIMI DI RUMAH SAKIT UMUM CIBABAT KOTA CIMAHI
Rudi Karmi* ABSTRAK Ibu post partum primi pada umumnya mengalami perubahan besar baik secara fisik maupun psikologis. Dengan kelahiran bayinya seorang ibu mengalami kegembiraan dan kegembiraan ini mencapai klimaksnya pada saat ibu melihat bayinya dan ibu merasakan menjadi wanita yang dapat memberikan keturunan. Sering kali emosi yang tinggi menurun dengan cepat pada masa setelah kelahiran, Hal ini disebabkan karena tingkat estrogen dan progesterone dalam tubuh ibu mengalami penurunan. Peran perawat adalah tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat terhadap klien. Peran perawat yang baik akan mendukung klien untuk mampu melakukan adaptasi terhadap masalah dan perubahan-perubahan yang dialami oleh ibu post partum primi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara peran perawat sebagai pemberi asuhan dengan adaptasi psikologis ibu post partum primi. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif korelasi dan menggunakan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian menggunakan 30 orang responden post partum primi. Kedua variable diuji menggunakan rank spearman dan ditampilkan dalam diagram dan table. Sebagian besar responden memiliki koping adaptif 56,7 % (17 orang) dan maladaptive 43,3 % (13 0rang). Pada peran perawat diperoleh responden yang baik 76,7 % (23 orang) dan kurang baik 23,3 % (7 orang). Berdasarkan hasil uji statistik menunjukan bahwa p-value (0,001) <> α (0,05), artinya terdapat hubungan peran perawat sebagai pemberi asuhan dengan adaptasi psikologis ibu post partum primi. Saran bagi perawat ruang nifas, hendaknya lebih memperhatikan kebutuhan psikologis ibu post partum primi, saran bagi pengelola Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat, hendaknya dapat menyediakan poster atau tulisan guna menambah pengetahuan klien, saran bagi Institusi Pendidikan, hendaknya memberikan bekal pengetahuan yang memadai guna menyiapkan mahasiswanya memasuki dunia kerja. Kata Kunci = Adaptasi Psikologis, Peran Perawat, Ibu Post Partum Primi

46

PENDAHULUAN Indonesia tergolong negara dengan jumlah penduduk usia produktif yaitu usia 15 – 55 th menduduki peringkat pertama dari jumlah seluruh penduduk di Indonesia (BPS, 2009) Begitu besar peran dan fungsi seseorang pada usia produktif sehingga apabila terjadi perubahan dalam hidupnya yang kemampuan seorang ibu untuk adaptasi. Ketidakberdayaan, kelelahan fisik,

peningkatan emosi dan krisis menuntun manusia harus belajar menghadapi

masalah dengan efektif sebagai mekanisme adaptasi seorang pelayanan memberikan dan ibu kesempatan seperti ini

mengharapkan perawat

pemberi dapat dengan

berhubungan dengan masalah kesehatan maka diperlukan perhatian dan pemantauan dari tenaga kesehatan khususnya tenaga keperawatan. pengawasan Adanya dari perhatian dan

khususnya

pelayanan

memperhatikan aspek psikologis pada ibu primi post partum. Peran perawat sebagai pemberi dilakukan asuhan oleh keperawatan perawat dapat dengan

tenaga

keperawatan

diharapkan dapat mengurangi resiko yang akan terjadi. Sesuai dengan era baru atau perubahan jaman seorang wanita tidak hanya berperan sebagai pendamping suami dan ibu dari anak-anaknya tetapi wanita jaman sekarang juga bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Melihat begitu besar peran seorang wanita usia produktif dalam keluarga maka apabila mengalami perubahan, perubahan tersebut dapat mengganggu perannya sebagai

memperhatikan keadaan kebutuhan pasien khususnya kebutuhan secara psikologis melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis

keperawatan agar dapat direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan klien, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya. Dengan demikian peran perawat sebagai pemberi asuhan diharapkan memberikan pengaruh yang positif terhadap adaptasi psikologis ibu post partum primi (Irene Bobok,2005). psikologis partum Ada tiga tahap adaptasi

wanita. Salah satu perubahan pada wanita usia produktif tersebut adalah seorang wanita pada periode post partum. Hal ini disebabkan karena pada saat persalinan yang dialami ibu adalah merupakan masa krisis yang membutuhkan penyesuaian

yang terjadi pada ibu post

yaitu pada tahap satu yang pada

umumnya disebut tahap ketergantungan terjadi pada hari kesatu, kedua dan ketiga merupakan fase taking in yaitu masa di mana ibu mengalami kegembiraan dan

sehingga perubahan dan permasalahan yang terjadi setelah persalinan memerlukan

47

kegembiraan tersebut mencapai klimaksnya pada saat ibu melihat bayi nya dan ibu merasakan menjadi wanita yang dapat memberikan keturunan. Sering kali emosi yang tinggi menurun dengan cepat setelah kelahiran, hal ini disebabkan karena tingkat estrogen dan progesterone dalam tubuh ibu mengalami penurunan,ibu kelelahan karena persalinan ibu merasakan nyeri pada

kelima dan keenam dan ibu sudah berada di rumah dan ibu secara penuh mulai menerima tanggung jawabnya sebagai

seorang ibu dan mulai menyadari bahwa kebutuhan bayinya sangat bergantung padanya. Pada saat seperti inilah peran perawat sebagai pemberi asuhan

keperawatan diharapkan kehadirannya oleh klien untuk mengurangi kekhawatiran dan kecemasan yang dirasakan. Hal-hal yang diperlukan oleh ibu post partum adalah dukungan dari tenaga keperawatan sebagai pemberi asuhan yang mempengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi untuk menjadi orang tua, selain dari dukungan perawat respon yang baik dari keluarga dan teman dekat juga sangat diperlukan oleh ibu. Kebahagiaan ibu post partum juga dipengaruhi dengan riwayat kehamilan dan melahirkan sebelumnya dan juga harapan serta keinginan ibu saat hamil dan saat melahirkan.

daerah jalan lahir dan pembengkakan pada payudara. Pada masa ini ibu merasa sangat tertekan dan mungkin menangis karena beberapa hal yang tidak dipahami.sehingga pada fase ini ibu membutuhkan bantuan dan pelayanan dari tenaga keperawatan dalam Pada memenuhi tahap kebutuhan ini perawat hidupnya. harus

memperhatikan dan memenuhi kebutuhan ibu, mengulang-ulang anjuran atau intruksi yang diberikan karena pada tahap ini bagi ibu dapat mengurangi kemampuannya

untuk berkonsentrasi pada informasi baru. Adapun pada tahap kedua yang dimulai hari ketiga atau ke empat setelah melahirkan dan berakhir pada minggu keempat yang disebut fase taking on di mana berada pada tahap ketergantungan dan tidak

METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitiaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk

ketergantungan dan ibu siap menerima peran barunya dan belajar tentang semua hal-hal yang baru sehingga perawat dapat mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan adaptasi psikologis ibu primi post partum, pada tahap yang ketiga atau pada fase letting go yang terjadi pada minggu

menggambarkan hubungan korelasi antar variabel, yaitu variabel bebas tentang peran perawat sebagai pemberi asuhan variabel terikatnya tentang dan

adaptasi

psikologis ibu post partum primi. Penelitian ini menggunakan yaitu pendekatan penelitian cross untuk

sectional

suatu

48

mempelajari

dinamika

korelasi

antara

primi (responden) yang dirawat di ruang nifas Rumah sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi berjumlah 30 orang. Tehnik pengambilan data dengan cara

factor-faktor resiko dengan efek dan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu waktu . Uji statistic yang digunakan adalah uji Chisquare untuk menguji kemaknaan dengan tingkat kepercayaan 95 %. Hasil akhir uji statistik adalah mengetahui apakah

membagikan kuesioner kepada klien yang dijadikan responden. Cara pengisian

kuesioner responden diberi penjelasan dan dibimbing apabila responden mengalami kesulitan dalam mengisi kuesioner.

keputusan Ho ditolak atau gagal ditolak. Ketentuannya bila p value < α (0,05) maka Ho ditolak artinya ada hubungan ada perbedaan bermakna, jika p value > α (0,05) maka Ho gagal ditolak artinya tidak ada hubungan atau perbedaan yang

Penelitian ini dilakukan sejak tgl 3 januari sampai dengan tanggal 16 Februari 2011. Setelah data dikumpulkan dilakukan pengolahan data mulai dari editing, coding, entry data dan cleaning. Analisis data menggunakan menggunakan analisis uni variat untuk menjelaskan karakteristik atau masing-

bermakna (Arikunto,2006). Pada penelitian ini ada dua hal/variabel yang diteliti yaitu peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dan adaptasi psikologis ibu post partum primi. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang dinas di ruang nifas serta ibu post partum

mendeskripsikan

masing variable yang diteliti, fungsinya yaitu untuk menyederhanakan atau meringkas kumpulan data tersebut menjadi informasi yang berguna, dalam penelitian ini informasi yang disajikan dalam bentuk tabel.

49

Hasil Penelitian 1. Gambaran adaptasi psikologis. Tabel 1 Gambaran Adaptasi Psikologis Ibu Post Partum Primi di RSUD Cibabat Periode 3 Januari s.d 5 Februari 2011
No 1. 2. Uraian Adaptif Maladaptif Jumlah Jumlah 17 13 30 % 56,7 43,3 100

Berdasarkan tabel di atas dapat kita ketahui bahwa ibu post partum primi di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi sebanyak 56,7 % memiliki koping yang Adaptif (17 orang). Sedangkan 43,3 % (13 Orang) memiliki koping maladaptive 2. Gambaran Peran Perawat Tabel 4.2 Gambaran Peran Perawat Sebagai Pemberi Asuhan di R Nifas RSUD Cibabat
No 1. 2. Uraian Baik Kurang baik Jumlah Jumlah 23 7 30 % 76,7 23;3 100

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sebagian besar peran perawat yang dinas di ruang nifas khususnya terhadap ibu post partum primi baik yaitu 76,7 % (23 orang), dan 23,3 % (7 orang) kurang baik. 3. Hubungan Antara Peran Perawat sebagai Pemberi Asuhan dengan Adaptasi Psikologi Ibu Post Partum Primi. Tabel 4.3 Hubungan Antara Peran Perawat sebagai Pemberi Asuhan dengan Adaptasi Psikologi Ibu Post Partum Primi.
Peran Perawat F Baik Kurang Baik Total 17 0 17 Adaptasi Psikologi Adaptif % 73.9 0.0 56.7 Maladaptif F 6 7 13 % 26.1 100.0 43.3 F 23 7 30 Total % 100.0 100.0 100.0 11.940 0.001 X p value

50 Hasil tabulasi silang antara peran perawat sebagai pemberi asuhan dengan adaptasi psikologi ibu post partum primi. Dari tabel dapat dilihal bahwa, dari 23 orang yang menyatakan peran perawat baik 17 orang (73,9 %) termasuk kategori adaptif dan 6 orang (26.1 %) termasuk kategori mal adaptif. Dari 7 orang yang menyatakan peran perawat kurang baik ternyata Hal ini tanggal 3 Januari sampai dengan 16 Februari tahun 2011 sebanyak 56,7 % memiliki koping yang adaptif,

sedangkan 43,4 % memiliki koping maladaptif. Koping adaptif berarti ibu mampu beradaptasi dengan perubahanperubahan yang dialami oleh ibu.

Misalnya ibu menerima peran transisi di mana ibu menerima peran baru menjadi orang tua, ibu mampu menjadi orang tua baru serta mampu merawat dirinya dan bayinya. Sedangkan koping yang maladaptif berarti ibu lebih

seluruhnya termasuk mal adaptif.

mengindikasikan bahwa sebagian besar responden menyatakan perawat termasuk kategori baik dan termasuk kategori adaptif. Berdasarkan hasil perhitungan statistic

memfokuskan energinya bagi dirinya sendiri, ibu ingin diperhatikan dan

tersebut diperoleh nilai X² hitung sebesar 11,940 dengan p-value sebesar 0,001. Hasil uji statistic menunjukan bahwa p-value (0,001) <> α (0,05), maka itu Ho ditolak. Artinya, terdapat hubungan peran perawat sebagai pemberi asuhan dengan adaptasi psikologi ibu pos partum primi di Rumah Sakit Umum Cibabat Kota Cimahi.

dilayani kebutuhannya, ekspresi wajah murung, ibu belum siap dan belum mampu menjadi orang tua baru serta ibu belum mampu merawat dirinya dan bayinya. Ibu akan memiliki koping yang adaptif apabila peran perawat sebagai pemberi asuhan dilakukan sebagaimana mestinya dan adanya dukungan dari

PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian di atas akan dibahas satu persatu variabel serta

suami serta dukungan dari anggota keluarga yang lain. Sedangkan ibu yang memiliki dengan koping hasil maladaptif sesuai

hubungannya, sehingga nantinya dapat ditarik suatu kesimpulan dari penelitian ini. 1. Adaptasi Psikologis Ibu Post Partum Primi Berdasarkan tabel 1 (satu) di atas, menunjukan bahwa adaptasi psikologis ibu post partum primi di Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi dari

penelitian

disebabkan

karena usia ibu yang relative muda (16 s.d 20 tahun), dimana ibu tersebut belum siap untuk menjadi orang tua baru dan berperan sebagai orang tua.

51

2. Peran Perawat Pada tabel 2 (dua) di atas menunjukan bahwa peran perawat yang dinas di ruang nifas rumah sakit umum daerah cibabat kota cimahi 76,7 % baik dan 23,3 % kurang sudah baik, baik karena sesuai

3. Hubungan sebagai

antara

peran asuhan

perawat dengan

pemberi

adaptasi post partum primi. Berdasarkan tabel 3 diperoleh nilai X² hitung sebesar 11,940 dengan p-value sebesar 0,001. Hasil uji statistic menunjukan bahwa p-value (0,001) <> α (0,05), maka itu Ho ditolak. Artinya, terdapat sebagai hubungan pemberi peran asuhan perawat dengan

perawat dengan

melakukan

tahapan-tahapan

kebutuhan

psikologis pasien, kurang baik karena perawat kurang memperhatikan

kebutuhan ibu post partum primi secara psikologis misalnya perawat hanya

adaptasi psikologi ibu pos partum primi di Rumah Sakit Umum Cibabat Kota Cimahi.

kadang-kadang menemani ibu apabila sedang sendirian,hal ini dikarenakan perawat sedang melakukan asuhan

SARAN Setelah mengetahui adanya hubungan

keperawatan terhadap klien yang lain. Peran perawat baik apabila tingkah laku dari perawat tersebut sesuai dengan yang diharapkan oleh ibu post partum atau ibu post partum menerima tindakan keperawatan dengan dari yang perawat sesuai

antara peran perawat sebagai pemberi asuhan dengan adaptasi psikologis ibu post partum primi maka sebagai perawat

pemberi asuhan keperawatan hendaknya lebih memperhatikan terhadap kebutuhan psikologis klien guna mengantisipasi hal-hal yang partum berdampak blues. buruk misalnya post

diharapkannya.

Sedangkan perawat kurang baik yaitu apabila tingkah laku perawat tidak atau kurang sesuai dengan yang diharapkan ibu poet partum primi atau tindakan keperawatan yang diterima oleh ibu kurang atau tidak sesuai dengan yang diharapkannya.

Perawat

hendaknya

melibatkan keluarga dalam hal memberi dukungan dan membantu melakukan tugastugas yang seharusnya dikerjakan oleh ibu. Apabila dukungan dari perawat, suami dan anggota keluarga baik maka ibu akan mampu beradaptasi dengan perubahanperubahan yang terjadi pada masa ini, tetapi apabila ibu kurang dari mendapat suami dan

dukungan

khususnya

anggota keluarga yang lain maka ibu akan

52 mengalami hambatan dalam beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi, sehingga ibu akan menderita depresi post partum / post partum blues. *Penulis merupakan staf pengajar STIkes Budi Luhur Potter & Perry, 2009. Buku Ajar Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan Praktek. Edisi 4. Alih Bahasa Yasmin Asih, Dkk. Jakarta : EGC Siti Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Salemba Medika Sugiono, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Edisi ke 10, Bandung : Alfabeta STIKes Dharma Husada Bandung, 2010. Pedoman Penyusunan Skripsi Program Study S1 Keperawatan. Bandung Wasis, 2008 Metoda Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika

DAFTAR PUSTAKA Alimul, A. 2004. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi VI. Jakarta : Rineka Cipta Asmadi, 2008. Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC Azwar, A. 1998. Metode Penelitian. Yogjakarta : Pustaka Pelajar BPS, 2009. Data Statistik Usia Produktif. Jakarta : Raja Grafindo Persada Badriah, D.L 2006. Metodologi Penelitian Ilmu- ilmu Kesehatan. Bandung : Multajam. Bobak, 2005. Keperawatan Jakarta : EGC Maternitas.

Hasan Shadily, 2000. Kamus Bahasa Indonesia, Edisi. Jakarta : Gramedia Helen Farrer, 1999. Keperawatan maternitas, Jakarta : EGC Hidayat, 2000. Metodologi Bandung : Alfabeta Notoatmodjo, S, 2005. Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta Penelitian,

Metodologi Jakarta :

Nursalam, 2003. Konsep dan Penerapan Metode Penelitian Ilmu Keperawatan,

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->