You are on page 1of 5

Lokasi Pengamatan

Kelurahan Bendan Dhuwur yang dijadikan sebagai sarana dalam penelitian ini merupakan salah satu kelurahan yang masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Gajah Mungkur, Kota Semarang. Secara geografis Kelurahan Bendan Dhuwur terletak antara 7 5300 - 7 138 LS dan 110 2315 - 110 2422 BT.

Geomorfologi dan Litologi Lokasi Pengamatan


Geomorfologi daerah pengamatan merupakan daerah perbukitan yang terjal, dengan kemiringan antara 30 -45 . Daerah tersebut berada pada ketinggian 200-400 mdpl. Litologi daerah tersebut terdiri dari batulempung, batulanau dan breksi vulkanik, dimana posisi breksi vulkanik terletak diatas batulempung sehingga membebani lempung dan akibatnya lempung akan lebih mudah untuk tergelincir. Aktivitas manusia yang

membebani daerah rawan longsor tersebut dengan membangun rumah bahkan hotel membuat daerah tersebut semakin berbahaya.

Gerakan Tanah Di Daerah Gombel Lama Dan Tinjomoyo


Berdasarkan hasil pengamatan kami menemukan beberapa bukti bahwa pada daerah pengamatan sering terjadi gerakan tanah, berikut adalah bukti-buktinya : Titik 1 berlokasi di UNIKA dan UNTAG. Lokasi ini dibagi menjadi dua lokasi pengamatan yaitu lokasi pengamatan 1 (LP 1), dan lokasi pengamatan 2 (LP 2). Proses denudasi yang terjadi disini adalah degradasi yang didorong oleh transport, yaitu proses perpindahan bahan rombakan terlarut dan tidak terlarut karena erosi dan gerakan tanah. Pada daerah pengamatan proses yang dominan adalah adanya gerakan tanah. Gerakan tanah ini terjadi karena adanya perpindahan massa tanah atau batuan pada arah tegak, datar atau miring dari kedudukan semula. Hal ini terjadi karena ada gangguan kesetimbangan pada saat itu. Berikut adalah hasil analisa tersebut a. LP 1 (Gedung Kampus Unika dan Untag) Daerah ini sering mengalami amblesan, walaupun sering diperbaiki (diaspal kembali) namun akan kembali lagi rusak. Amblesan ini terjadi karena adanya gerakan ke arah bawah yang relatif tegak lurus, yang menyangkut material permukaan tanah atau batuan tanpa gerakan ke arah mendatar dan tidak ada sisi yang bebas. Dapat disebabkan karena terlampau berat beban dan daya dukung tanah kecil. Juga bisa karena pemompaan air tanah jauh melampaui batas, sehingga pori-pori yang tadinya terisi oleh air tanah akan mampat. Kemudian di sisi kanan jalan terdapat creep berupa tiang miring. Creep ini merupakan aliran massa (tanah) batuan yang ekstrim lambat, tidak dapat dilhat, hanya akibatnya akan

tampak seperti tiang listrik, pohon bengkok. Pada lokasi ini banyak ditemukan retakanretakan pada gedung dan paving. b. LP 2 (Jalan Raya Pawiyatan) Kenampakan yang dapat kita lihat adalah adanya jalan yang patah. Jalan ini sering mengalami patah atau putus yang amat parah, dan sering dilakukan perbaikan. Patahan ini terjadi karena nendatan (slump) yaitu adanya pergerakan massa tanah atau massa batuan yang gerakannya terputus-putus atau tersendat-sendat dari massa tanah atau batuan ke arah bawah dalam jarak yang relatif pendek, melalui bidang lengkung dengan kecepatan lambat. Dari hasil penelitian tersebut dilakukan analisis data yang telah didapat dilapangan, yaitu daerah pengamatan merupakan daerah yang memiliki pergerakan tanah yang cukup dominan, ini ditandai dengan ditemukannya bukti-bukti pergerakan tanah. Creep dapat dibuktikan dari adanya tiang listrik yang miring, hal ini semakin diperkuat oleh kondisi jalan raya disekitar tiang listrik tersebut bergelombang, hal ini menunjukkan adanya rayapan tanah pada daerah tersebut. Lokasi rawan longsor cukup banyak dijumpai pada daerah tersebut, hal ini dapat dilihat dari hasil tumpukan material lepas sedimen yang terakumulasi dibawah lereng, hal ini menunjukkan bahwa material lepas tersebut merupakan produk dari longsoran itu sendiri. Dari pengamatan kondisi geologi pada daerah tersebut didapatkan hasil yaitu terdapatnya gejala adanya sesar, hal ini semakin diperkuat oleh data sekunder yang kami peroleh. Sesar tersebut diasumsikan berarah barat-timur dan menerus kearah tenggara. Dengan adanya struktur sesar pada daerah tersebut, bisa dipastikan bahwa daerah itu memang sangat rawan longor. Zona sesar merupakan zona yang lemah, dimana batuan pada bidang sesar tersebut memiliki daya ikat yang lemah, sehingga ikatan antar partikel batuan akan sangat mudah untuk terlepas dan ketika ikatan itu terlepas maka sejumlah material sedimen yang terlepas tadi akan tergelincir kebawah dan mengakibatkan terjadinya longsoran.

Titik 2 Di Jembatan Kali Dari pengamatan geomorfologi daerah penelitian didapati hasil yaitu terjadinya proses denudasi yang cukup dominan, hal ini dilihat dari adanya pelapukan batuan, longsoran, dan rayapan. Tata guna lahan di daerah penelitian banyak digunakan sebagai permukiman penduduk, lapangan golf, bahkan terdapat pula hotel yang didirikan diatas bukit yang rawan longsor. Vegetasi pada daerah tersebut sudah banyak dipangkas untuk kebutuhan permukiman penduduk, sehingga akar tanaman yang berfungsi untuk mengikat partikel tanah dan mengontrol kandungan air dalam tanah tidak bisa menjaga tanah agar tetap kuat. Tanah memiliki daya dukung dimana tanah akan tetap bisa bertahan dan tidak mengalami longsoran, tetapi ketika tanah tersebut berada pada kelerengan yang cukup curam, kondisi litologi batuan yang tidak terlalu kuat maka daya dukung tanah tersebut akan berkurang. Inilah yang terjadi pada daerah gombel lama dan tinjomoyo, dimana daya dukung tanah yang tidak terlalu stabil dibebani oleh bangunan-bangunan penduduk, sehingga tanah tidak kuat menahan beban dan runtuhlah tanah tersebut sebagai longsoran. Dari pengamatan litologi didapati hasil yaitu batuan penyusun daerah tersebut didominasi oleh batulempung dan breksi vulkanik. Kontak antara batuan yang berbeda dansitas tersebut mengakibatkan terjadinya longsoran jenis gelinciran (slide) ataupun jenis robohan.(falls). Penyebaran longosran pada daerah gombel lama sejajar arah kontak antara dua batuan tersebut, yaitu umumnya berarah baratdaya. Berdassarkan analisis mineral lempung tersebut, didapati hasiil yaitu batulempung mengandung mineral kaolin, kuarsa dan montmorilonit, dimana mineral-mineral tersebut merupakan minral yang mudah mengembang (swelling). Mekanisme terjadinya longsoran dapat diasumsikan sebagai berikut, yaitu terjadinya penjenuhan air tanah pada breksi vulkanik, hal ini disebabkan oleh sifat batulempung yang immpermeable tidak dapat dilalui oleh air tanah, sehingga air tanah terakumulasi pada breksi vulkanik. Breksi vulkanik yang telah jenuh dengan air akan bertambah beratnya sehingga pembebanan terhadap batulempungpun bertambah. Kemiringan lereng yang curam mempercepat terjadinya runtuhan breksi vulkanik ataupun longsoranbatulempung.

Kesimpulan
Dari pengamatan dilapangan dapat ditarik kesimpulan bahwa iklim pasti akan mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam hal terjadinya longsoran, dimana pada musim penghujan dipastikan kandungan air tanah akan bertambah dan hal tersebut dapat mempercepat terjadinya longsoran. Aktivitas manusia seperti mendirikan bangunan diatas daerah rawan longsor juga merupakan percepatan dari terjadinya longsoran tersebut. Untuk meminimalisir terjadinya longsoran pada daerah tersebut dapat dilakukan dengan metode-metode geologi teknik, khususnya dalam merekayasa kondisi lahan tersebut, misalnya dengan mengendalikan air permukaan, ataupun dengan memperkuat daya ikat tanah.