Akper

Akper's Blog Di sini banyak kumpulan askep yang mungkin teman-teman butuhkan.

Salam hangat dari akper lamongan.

ASKEP FRAKTUR
by Akper on 02:16 AM, 28-May-11

Category: Askep bedah
PENGERTIAN Fraktur adalah hilangnya continuitas tulang, tulang rawan, baik yang bersifat total maupun sebagian. Fraktur dikenal dengan istilah patah tulang. Biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. ETIOLOGI Trauma musculoskeletal yang dapat mengakibatkan fraktur adalah ; 1. Trauma langsung. Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang . Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi biasanya bersifat kominutif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan. 1. Trauma tidak langsung. Apabila trauma dihantarkan kedaerah yang lebih jauh dari daerah fraktur. Misalnya, jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. KLASIFIKASI FRAKTUR 1. Fraktur Tertutup (Simple Fracture). Fraktur tertutup adalah fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan / tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar. 2. Fraktur Terbuka (Compound Fracture). Fraktur terbuka adalah fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within (dari dalam), atau from without (dari luar). 3. Fraktur dengan komplikasi (Complicated Fracture). Fraktur dengan komplikasi adalah fraktur yang disertai dengan komplikasi, misalnya mal-union, delayed union, non-union, dan infeksi tulang. FAKTOR PENYEMBUHAN FRAKTUR 1. Usia penderita. Waktu penyembuhan tulang anak-anak jauh lebih cepat daripada orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan aktivitas proses osteogenesis pada periosteum dan endosteum serta proses pembentukan tulang pada bayi sangat aktif. Apabila usia bertambah,

kalsitonin. dan pembedahan. Faktor lain yang mempercepat penyembuhan fraktur adalah nutrisi yang baik. seperti kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan). Bila salah satu sisi fraktur memiliki vaskularisasi yang jelek sehingga mengalami kematian. dan pembuluh darah dalam jaringan parut. hormone-hormon pertumbuhan. Waktu imobilisasi. perubahan posisi pada yang sakit. waktu penyembuhan pada anak ½ waktu penyembuhan orang dewasa. CRT menurun. Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasi yang baik. Ruangan diantara kedua fragmen serta interposisi oleh jaringan lunak. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak akan meningkatkan vaskularisasi daerah fraktur. 3. tulang saraf. Disamping itu. penyembuhannya tanpa komplikasi. konfigurasi fraktur seperti fraktur transversal lebih lambat penyembuhannya dibandingkan dengan fraktur oblik karena kontak yang lebih banyak. baik berupa periosteum maupun otot atau jaringan fibrosa lainnya akan menghambat vaskularisasi kedua ujung fraktur. 7. Reduksi serta imobilisasi. 1. 8. dan dingin pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan darurat splinting. Lokalisasi dan konfigurasi fraktur. Secara kasar. Faktor adanya infeksi dan keganasan local. Hal ini disebabkan oleh edema atau perdarahan yang menekan otot.proses tersebut semakin berkurang. Reposisi fraktur akan memberikan kemungkinan untuk vaskularisasi yang lebih baik dalam bentuk asalnya. pembentukan union akan terhambat atau mungkin terjadi non-union. Imobilisasi yang sempurna akan mencegah pergerakan dan kerusakan pembuluh darah yang mengganggu penyembuhan fraktur. Pada fraktur yang periosteumnya tidak bergeser. Akan tetapi. dan pembuluh darah. * Fat Embolism Syndrome (FES). Pergeseran awal fraktur. vitamin D. Penyembuhan fraktur metafisis lebih cepat daripada fraktur diafisis. kemungkinan terjadinya non-union sangat besar. Cairan synovial. Pecahnya arteri karena trauma dapat ditandai dengan tidak adanya nadi. 5. gerakan yang dilakukan pada daerah fraktur tanpa imobilisasi yang baik juga akan mengganggu vaskularisasi. Gerakan aktif dan pasif pada anggota gerak. atau karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu kuat. Vaskularisasi pada kedua fragmen. hematoma melebar. FES terjadi karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning . tiroid. * Sindrom kompartemen. 2. Adanya interposisi jaringan. dan steroid anabolic. Merupakan komplikasi serius yang terjadi karena terjebaknya otot. sianosis pada bagian distal. tindakan reduksi. Adalah komplikasi serius yang sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. 2. 4. Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Bila imobilisasi tidak dilakukan sesuai waktu penyembuhan sebelum terjadi union. KOMPLIKASI FRAKTUR Komplikasi Awal * Kerusakan Arteri. Cairan synovial yang terdapat pada persendian merupakan hambatan dalam penyembuhan fraktur. 6. Lokalisasi fraktur memegang peranan penting. saraf. penyembuhannya dua kali lebih cepat dibandingkan dengan fraktur yang bergeser.

* Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi. tetapi dapat juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan. Pseudoartrosis dapat terjadi tanpa infeksi. Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu sehingga menyebabkan nekosis tulang. Reposisi yang dilakukan melawan kekuatan terjadinya fraktur. * Non-union. rotasi. Adalah keadaan ketika fraktur menyembuh pada saatnya. seperti pin (ORIF & OREF) dan plat. tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi. misalnya pada fraktur tibia-fibula. tahipnea. Biasanya menggunakan plaster of paris (gips) atau dengan bermacam-macam bidai dari plastic atau metal. * Reduksi terbuka dengan fiksasi internal (ORIF:Open Reduction internal Fixation). Pada trauma ortopedi. * Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi eksterna yang menggunakan gips. * Reduksi tertutup dengan fiksasi eksternal atau fiksasi perkutan dengan K-Wire (kawat kirschner). Ditandai dengan gangguan pernafasan. Komplikasi Lama * Delayed Union. * Proteksi (tanpa reduksi atau immobilisasi). * Imobilisasi degan bidai eksterna (tanpa reduksi). pemendekan. Reduksi tertutup yang diartikan manipulasi dilakukan dengan pembiusan umum dan local. * Mal-union. Metode ini digunakan pada fraktur yang perlu dipertahankan posisinya dalam proses penyembuhan. tahikardi. * Nekrosis Avaskular. * Syok. varus/valgus. Hal ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka. yaitu berupa reduksi yang bertahap dan imobilisasi. misalnya pada fraktur jari. Penatalaksanaan konservatif. Sistem pertahanan tubuh akan rusak bila ada trauma pada jaringan. Penatalaksanaan pembedahan. atau union secara menyilang. 1. hipertensi. Merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. dan demam. infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam.penggunaan gips untuk imobilisasi merupakan alat utama pada teknik ini. Terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas kapiler sehingga menyebabkan oksigenasi menurun. Fiksasi . * Infeksi. Adalah fraktur yang tidak sembuh antara 6-8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartrosis (sendi palsu). Merupakan penatalaksanaan non pembedahan agar immobilisasi pada patah tulang dapat terpenuhi. Tindakan ini mempunyai dua tujuan utama. Hal ini terjadi karena suplai darah ke tulang menurun. tetapi dapat juga terjadi bersama-sama infeksi. PENATALAKSANAAN FRAKTUR 1. * Reduksi terbuka dengan fiksasi eksternal (OREF: Open reduction Eksternal Fixation).masuk ke aliran darah dan menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah. Proteksi fraktur terutama untuk mencegah trauma lebih lanjut dengan cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau tongkat pada anggota gerak bawah.

Semua klien fraktur biasanya merasa nyeri. serta merasa nyeri. kebiasaan tidur. Pola tidur dan istirahat. Selain itu juga. Pola aktifitas. PROSES KEPERAWATAN KLIEN FRAKTUR * PENGKAJIAN 1. Pola reproduksi seksual. Selain itu juga. Keadaan baik atau buruknya klien. Gambaran umum 2.eksternal digunakan untuk mengobati fraktur terbuka dengan kerusakan jaringan lunak. konsistensi. dilakukan pengkajian yang meliputi kebiasaan hidup klien. 6. Pola nutrisi dan metabolism. Klien fraktur harus mengknsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari harinya. mengalami keterbatasan gerak. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. vitamin C. Pada klien fraktur. Pada kasus fraktur. Klien fraktur tidak dapat melakukan ibadah dengan baik. Feses dikaji frekuensi. Hal yang perlu dikaji adalah bentuk aktifitas klien terutama pekerjaan klien. 5. kepekatan. zat besi. suasana lingkungan. 2. Oleh karena itu. * PEMERIKSAAN FISIK 1. bau. sehingga dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. klien biasanya merasa takut akan mengalami kecacatan pada dirinya. 8. dan jumlahnya. dan apakah klien melakukan olah raga atau tidak. warna. geraknya terbatas. 7. Pola eliminasi. Pola tata nilai dan keyakinan. 3. dan penggunaan obat tidur. 4. kesulitan tidur. daya rabanya berkurang terutama pada bagian distal fraktur. hal ini disebabkan oleh rasa nyeri dan keterbatasan gerak klien. Keadaan umum. seperti penggunaan obat steroid yang dapat mengganggu metabolism kalsium. Pola penanggulangan stress. Pada kedua pola ini juga dikaji adanya kesulitan atau tidak. Alat ini memberikan dukungan yang stabil untuk fraktur kominutif (hancur atau remuk). Mekanisme koping yang ditempuh klien dapat tidak efektif. Selain itu juga timbul rasa nyeri akibat fraktur. Pola persepsi dan konsep diri. perlu dikaji status perkawinannya termasuk jumlah anak dan lama perkawinan. Dampak yang timbul adalah ketakutan akan kecacatan akibat fraktur. Klien akan mengalami kehilangan peran dalam keluarga dan masyarakat karena klien harus menjalani rawat inap. seperti kalsium. sedangkan pada indera yang lain dan kognitifnya tidak mengalami gangguan. karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya fraktur. dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang. Pengkajian juga dilaksanakan pada lamanya tidur. klien harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya. Timbul rasa cemas akan keadaan dirinya. 11. Pola sensori dan kognitif. dan gangguan citra diri. warna dan bau. 9. protein. . 10. pengonsumsian alcohol yang dapat mengganggu keseimbangan klien. Pola hubungan dan peran. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas secara optimal. Urine dikaji frekwensi. rasa cemas. Klien tidak dapat melakukan hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap.

benjolan yang terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. yang bergantung pada keadaan klien. krepitasi. Look (Inspeksi). 1. aspartat amini transferase (AST). * Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit. ringan.waktu masuk ke kamar periksa) 1. 1. Move (pergerakan terutama rentang gerak). baik yang alami maupun buatan seperti bekas operasi) * Fistula * Warna kemerahan atau kebiruan(livid) atau hiperpigmentasi * Benjolan. atau cekungan dengan hal-hal yang tidak biasa (abnormal) * Posisi dan bentuk ekstremitas(deformitas) * Posisi jalan (gait. pembengkakan. atau distal) * Tonus otot pada waktu relaksasi atau kontraksi. apatis. terutama mengenai status neurovaskuler. * Nyeri tekan (tenderness). laktat dehidrogenase (LDH-5). gelisah. keadaan penyakit : akut. kronis. Pada waktu akan palpasi. antara lain : * Sikatriks (jaringan parut. letak kelainan (1/3 proksimal. * Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan. . coma. * Enzim otot seperti kreatinin kinase . 2. Pemeriksaan lain-lain. * Alkali fosfatase meningkat pada saat kerusakan tulang dan menunjukan kegiatan osteoblastik dalam membentuk tulang. sopor. dan aldolase meningkat pada tahap penyembuhan tulang. terlebih dahulu posisi klien diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). dari kepala sampai kaki. pemeriksaan yang penting adalah menggunakan sinar rontgen (Sinar-X) yang memerlukan dua proyeksi yaitu AP dan lateral. Harus memperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal klien. 1. 1. Perhatikan apa yang akan dilihat. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Pemeriksaan radiologi. berat. * Apabila ada pembengkakan. dan pada kasus fraktur biasanya akut. Feel (palpasi). * Kesakitan. 2. Keadaan Lokal. apakah terdapat fluktuasi atau edema terutama di sekitar persendian. Secara Sistemik. Pergerakan yang dilihat adalah pergerakan aktif dan pasif. tengah. Pemeriksaan dengan menggerakan ekstremitas. kemudian mencatat apakah ada keluhan nyeri pada pergerakan. sedang. Sebagai penunjang. Pemeriksaan Laboratorium * Kalsium dan Fosfor meningkat pada tahap penyembuhan tulang.* Kesadaran klien : compos mentis. baik fungsi maupun bentuk.

traksi). * MRI : menggambarkan semua kerusakan akibat fraktur. * Peningkatan mobilitas Mobilitas pasien dapat terganggu karena nyeri. Upaya pengontrilan nyeri dapat berupa membidai dan menyangga daerah yang cedera . walker. memantau pembengkakan dan status neurovaskuler.* Biopsi tulang dan otot. menganjurkan tehnik relaksasi. melakukan perubahan posisi dengan perlahan. pembengkakan dan alat immobilisasi (missal : bidai. meninggikan ekstremitas yang cedera setinggi jantung. Kemungkinan dilakukannya operasi. pasien dianjurkan untuk berlatih menggunakannya sebelum operasi. Gerakan dalam batas-bats immobilitas terapeutik selalu dianjurkan. nyeri. Gerakan fragmen tulang dan cedera pada jaringan lunak. * Cemas berhubungan dengan Perubahan status kesehatan. * Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan Fraktur terbuka. agar mereka bias menggunakannya dengan aman dan memungkinkan mobilitas mandiri lebih awal. Lebih diindikasikan bila terjadi infeksi * Elektromiografi. * Resiko terhadap trauma berhubungan dengan Kehilangan integritas tulang (fraktur) * Resiko infeksi berhubungan dengan Tidak adekuatnya pertahanan primer. * INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN o Peredaan nyeri Nyeri dan nyeri tekan kemungkinan akan dirasakan pada fraktur dan kerusakan jaringan lunak. Berbincang dengan pasien mengenai apa yang akan dikerjakan. * Mengurangi kecemasan Sebelum pembedahan dilakukan. Ekstremitas yang bengkak ditinggikan dan disokong secukupnya dengan tangan dan bantal. dan mengapa. memberikan analgetik sesuai ketentuan seawal mungkin pasien merasakan nyeri. * Nyeri berhubungan dengan spasme otot. memberikan kompres es bila perlu. Alat traksi/imobilisasi * Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan Kerusakan rangka neuromuskuler. pasien harus diberi informasi mengenai prosedur. kursi roda) harus digunakan pada pasca operasi. * DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien fraktur adalah .Kunjungan perawat yang sering akan mengurangi perasaan isolasi. Pemasangan traksi/gips. Keluarga dan kerabat dianjurkan untuk sering mengunjungi untu alasan yang sama. gips. . * Indium Imaging : pada pemeriksaan ini didapatkan infeksi pada tulang. Terdapat kerusakan konduksi saraf akibat fraktur. Prosedur invasive (traksi tulang). spasme otot terjadi sebagai respon terhadap cedera dan immobilisasi. Didapatkan jaringan ikat yang rusakatau sobek karena trauma yang berlebihan. Bila alat bantu (missal : tongkat. tujuan dan implikasinya. dapat mengurangi ketakutan. * Artroskopi.

Menggunakan mekanisme koping efektif . menginspeksi luka. titik nyeri gips. Kaji ulang foto.Meninggikan ekstremitas yang bengkak setelah pemindahan . Perawat memantau tanda vital.Tekanan akibat gips dan peralatan dapat mengakibatkan kerusakan kulit.Tampak relaks . * Menghindari trauma/mempertahankan stabilisasi dan posisi fraktur Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi. Berikan sokongan sendi diatas dan di bawah fraktur bila bergerak atau membalik. Letakan papan di bawah tempat tidur atau tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik.* Memelihara integritas kulit Kaji terjadinya kerusakan kulit : Abrasi kulit. sensasi iritasi.Menggunakan alat immobilisasi dan alat bantu sesuai kebutuhan Memperlihatkan berkurangnya kecemasan .Meminta bantuan bila akan bergerak . * EVALUASI Melaporkan berkurangnya kadar nyeri .Menyatakan bahwa obat yang dipakai efektif dapat mengontrol nyeri . Ajarkan pasien mengenai tanda dan gejala kerusakan kulit. Saat mengganti balutan tehnik aseptic sangat penting.Dapat bergerak dengan rasa nyaman yang bertambah. Infeksi merupakan perhatian khusus terutama pada pasien pascaoperasi orthopedic karena tingginya resiko osteomielitis. Memaksimalkan mobilitas dalam batas terapeutik . * Menghindari Infeksi Infeksi merupakan resiko pada setiap pembedahan. dan mencatat sifat cairan yang keluar . keluarnya pus. Antibiotik sistemik profilaksis sering diberikan selama perioperatif dan segera pad periode pasca operasi.Menggunakan banyak pendekatan untuk mengurangi nyeri .Mengekspresikan keprihatinan dan perasaannya .

Why not make the first one! New Comment [Sign In] Name: Comment: (You may use BBCode tags) . Jakarta. Edisi 3. (2005).Kep.Warna kulit sekitar luka atau pemasangan alat normal . Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Penerbit Buku Kedoketran EGC. Brunner and suddart. (1996).Luka sembuh tanpa tanda infeksi .Tidak memperlihatkan bukti adanya kerusakan kulit.Tidak ada oedema pada sekitar luka atau pemasangan alat * Trauma tidak terjadi . . Doenges. Arif Muttaqin. Ns. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. (2000). Jakarta. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Menunjukan pembentukan calus / mulai penyatuan fraktur dengan tepat * Menunjukan tidak ada tanda infeksi . Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.Cairan yang keluar dari luka tidak purulen DAFTAR PUSTAKA Marylin E. Comments No comments yet. Edisi 8. Vol 3.Menunjukan mekanika tubuh yang meningkatkan stabilitas pada sisi fraktur . S.

com Privacy Policy .Recent Posts      ASKEP PASIEN DENGAN MENINGITIS ASKEP PASIEN DENGAN BPH ASKEP PASIEN DENGAN DM ASKEP PASIEN DENGAN TB PARU ASKEP PASIEN DENGAN COPD Categories                Askep anak (7) Askep bedah (2) Askep interne (10) askep jiwa (1) Askep maternitas (1) Uncategorized (0) About Me Guestbook Feedback Pictures Follow This Blog Blogroll Feed: [RSS] | [ATOM] Comment Feed: [RSS] | [ATOM] Get a Free Mobile Blog Copyright © 2012 Akper's Blog. Powered by MyWapBlog.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful