Yang paling mengancam hidup bagi penderita diabetes adalah 2-4 kali berisiko mengidap penyakit kardiovaskular, dan sekitar

65% dari pengidap diabetes meninggal karena komplikasi ini. Bahkan sebelum menjadi diabetes sebenarnya, pre-diabetes sudah memberikan risiko penyakit jantung bagi kelompok ini. Terdapat hubungan antara hiperglikemia dan penyakit makrovaskular termasuk infark miokard. Pasien dengan kontrol gula darah yang buruk memiliki risiko yang lebih tinggi. Faktor risiko tambahan adalah obesitas, inaktivitas fisik, dislipidemia, dan hipertensi. Faktor risiko multipel mempercepat terjadinya aterosklerosis. Pencegahan CVD pada pasien diabetes 1. Perubahan gaya hidup, merokok memberi kontribusi terbesar untuk risiko kardiovaskular, sehingga harus diberikan edukasi untuk menghentikannya. Edukasi diit dan aktivitas fisik juga perlu diberikan. 2. Medikasi, (i) kontrol gula darah teratur berkontribusi menurunkan risiko CVD. Target HbA1c untuk kontrol gula darah adalah <7%, dan harus diperiksa minimal 2 kali dalam satu tahun. (ii) kontrol tekanan darah, usahakan agar selalu dibawah 130/80 mmHg. (iii) kontrol lipid, yang sering terjadi pada pasien diabetes adalah kadar trigliserida yang tinggi dan kolesterol HDL yang rendah. Lemak darah harus diperiksa minimal satu kali per tahun dan target adalah Total Kolesterol <4,0 mmol/L, LDL <2,5 mmol/L, Trigliserida <2 mmol/L, dan HDL >1 mmol/L. (iv) Aspirin direkomendasikan sebagai strategi primer dan sekunder dalam pencegahan kardiovaskular pada pasien nondiabetik dan diabetik. Harris M, Wan Q. Keeping the diabetic heart healthy. Australian Family Physician 2006; 34(6): 441-5.

Pada sebuah penelitian meta-analisis, dikatakan bahwa penderita diabetes memiliki risiko menderita stroke di kemudian hari yang lebih tinggi. Risiko stroke nampaknya muncul secara progresif melalui spektrum resistensi insulin dari yang sebelumnya intoleransi glukosa menjadi diabetes. Mekanisme yang paling umum menghubungkan semua komponen dari sindrom resistensi insulin adalah penyebab seluler/ molekuler dari resistensi insulin, yang mana tidak hanya menimbulkan aterogenesis dan inflamasi tapi juga merangsang komponen lain (faktor risiko mayor) menyebabkan sindrom ini. Juga, penderita diabetes akan menimbulkan dislipidemia yang dikarakteristikkan oleh partikel lipoprotein yang kecil, padat, dan densitas rendah, hipertrigliseridemia, dan menurunnya kolesterol HDL, dibarengi dengan aterogenesis yang cepat. Lee M, Saver JL, Hong KS, Song S, Chang KH, Ovbiagele B. Effect of diabetes on future risk of stroke: meta-analysis. BMJ 2012; 344: 1-11.

Pasien dengan diabetes memiliki risiko tinggi terjadinya infeksi dan sepsis. Penyebab utama diabetes menyebabkan infeksi terletak pada kelainan respon pejamu, terutama pada kemotaksis neutrofil, adhesi dan pembunuhan intrasel. Defek humoral terjadi (pada respon antibodi dan opsonisasi komplemen) dan mungkin menjelaskan defek pada fagositosis, namun masih belum jelas patogenesisnya pada sepsis. Masih belum jelas pula bagaimana peran diabetes menyebabkan efek-efek ini. Namun secara umum, diabetes menyebabkan netrofil menjadi netrofil diabetik, sehingga dalam fungsinya memfagositosis kuman menjadi kurang. Sebagai kompensasinya, endotel akan menghasilkan integrin adhesi (CD11/ CD18) lebih banyak sehingga netrofil (atau netrofil diabetik) akan lebih banyak pula menempel pada endotel lokasi inflamasi. Koh GCKW, Peacock SJ, van der Poll T, Wiersinga WJ. The impact of diabetes on the pathogenesis of sepsis. Eur J Clin Microbiol Infect Dis 2012; 31:379-88.