SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER

LAPORAN PRAKTIKUM PERPINDAHAN PANAS Laporan ini Disusun untuk Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah Perpindahan Panas Dosen Pembimbing : Ir. Agus Djauhari, MT

Disusun oleh: Kelompok III Diani Din Pertiwi Melinda Mirza Miman Munandar (101424009) (101424021) (101424022)

Kelas: 2A-TKPB

Tanggal Praktikum Tanggal Penyerahan Laporan

: 30 Mei 2012 : 7 Juni 2012

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH JURUSAN TEKNIK KIMIA POLITEKNIK NEGERI BANDUNG 2012

SHELL AND TUBE HEAT EXCHANGER

I.

TUJUAN 1. Memahami cara kerja peralatan shell and tube 2. Menghitung koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) dengan cara neraca energi dan menggunakan persamaan empiris 3. Mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas keseluruhan 4. Menghitung effisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fluida.

II.

DASAR TEORI 2.1 Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) Alat penukar panas atau Heat Exchanger (HE) adalah alat yang digunakan untuk

memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan massa dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin. Biasanya, medium pemanas dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida panas dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung (direct contact). Penukar panas sangat luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak, pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik. Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar. Tipe Aliran pada Alat Penukar Panas Tipe aliran di dalam alat penukar panas ini ada 4 macam aliran yaitu : 1. 2. 3. Counter current flow (aliran berlawanan arah) Paralel flow/co current flow (aliran searah) Cross flow (aliran silang)

4.

Cross counter flow (aliran silang berlawanan)

Jenis-jenis penukar panas Jenis-jenis penukar panas antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Double Pipe Heat Exchanger Plate and Frame Heat Exchanger Shell and Tube Heat Exchanger Adiabatic wheel heat exchanger Pillow plate heat exchanger Dynamic scraped surface heat exchanger Phase – change heat exchanger

2.2 Prinsip Kerja Heat Exchanger Prinsip dan Teori Dasar Perpindahan Panas Panas adalah salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan sama sekali. Dalam suatu proses, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu suatu zat dan atau perubahan tekanan, reaksi kimia dan kelistrikan. Proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan secara langsung, yaitu fluida yang panas akan bercampur secara langsung dengan fluida dingin tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu bila diantara fluida panas dan fluida dingin tidak berhubungan langsung tetapi dipisahkan oleh sekat-sekat pemisah. Perpindahan Panas Secara Konduksi Merupakan perpindahan panas antara molekul-molekul yang saling berdekatan antar yang satu dengan yang lainnya dan tidak diikuti oleh perpindahan molekul-molekul tersebut secara fisik. Molekul-molekul benda yang panas bergetar lebih cepat dibandingkan molekulmolekul benda yang berada dalam keadaan dingin. Getaran-getaran yang cepat ini, tenaganya dilimpahkan kepada molekul di sekelilingnya sehingga menyebabkan getaran yang lebih cepat maka akan memberikan panas. Perpindahan Panas Secara Konveksi

Perpindahan panas dari suatu zat ke zat yang lain disertai dengan gerakan partikel atau zat tersebut secara fisik. Perpindahan Panas Secara Radiasi Perpindahan panas tanpa melalui media (tanpa melalui molekul). Suatu energi dapat dihantarkan dari suatu tempat ke tempat lainnya (dari benda panas ke benda yang dingin) dengan pancaran gelombang elektromagnetik dimana tenaga elektromagnetik ini akan berubah menjadi panas jika terserap oleh benda yang lain.

Gambar 1. Perpindahan Kalor pada Heat Exchanger\

Pada Dasarnya prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua fluida padatemperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. a. Secara kontak langsung panas yang dipindahkan antara fluida panas dan dinginmelalui permukaan kontak langsung berarti tidak ada dinding antara kedua fluida.Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase / penghubung antara kedua fluida.Contoh : aliran steam pada kontak langsung yaitu 2 zat cair yang immiscible (tidak dapat bercampur), gas-liquid, dan partikel padat-kombinasi fluida. b. Secara kontak tak langsung

perpindahan panas terjadi antara fluida panas dandingin melalui dinding pemisah. Dalam sistem ini, kedua fluida akan mengalir.

2.3 Jenis – jenis Heat Exchanger 1. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger ) Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan cairan lainnya dalam pipa. Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standart yang dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi yang tinggi. Sedangkan untuk kapasitas yang lebih besar digunakan penukar panas jenis selongsong dan buluh ( shell and tube heat exchanger ).

Gambar 2 . Penukar panas jenis pipa rangkap

(double pipe heat exchanger )

2 Penukar Panas Plate and Frame ( plate and frame heat exchanger ) Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat – pelat tegak lurus, bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat lunak ( biasanya terbuat dari karet ). Pelat – pelat dan sekat disatukan oleh suatu perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 ( kebanyakan segi empat ) terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat.

Gambar 4. Penukar panas jenis pelat and Frame

Gambar 5. Penukar panas jenis pelat and Frame 3. SD Adiabatic wheel heat exchanger Jenis keempat penukar panas menggunakan intermediate cairan atau toko yang solid untuk menahan panas, yang kemudian pindah ke sisi lain dari penukar panas akan dirilis. Dua contoh ini adalah roda adiabatik, yang terdiri dari roda besar dengan benang halus berputar melalui cairan panas dan dingin, dan penukar panas cairan. 4. Pillow plate heat exchanger Sebuah pelat penukar bantal umumnya digunakan dalam industri susu untuk susu pendingin dalam jumlah besar langsung ekspansi tank massal stainless steel. Pelat bantal memungkinkan untuk pendinginan di hampir daerah seluruh permukaan tangki, tanpa sela yang akan terjadi antara pipa dilas ke bagian luar tangki. Pelat bantal dibangun menggunakan lembaran tipis dari logam-spot dilas ke permukaan selembar tebal dari logam. Pelat tipis dilas dalam pola teratur dari titik-titik atau dengan pola serpentin garis las. Setelah pengelasan ruang tertutup bertekanan dengan kekuatan yang cukup untuk menyebabkan logam tipis untuk tonjolan di sekitar lasan, menyediakan ruang untuk cairan penukar panas mengalir, dan menciptakan penampilan yang karakteristik bantal membengkak terbentuk dari logam. 5. Dynamic scraped surface heat exchanger

Tipe lain dari penukar panas disebut "(dinamis) besot permukaan heat exchanger". Ini terutama digunakan untuk pemanasan atau pendinginan dengan tinggi viskositas produk, proses kristalisasi, penguapan tinggi dan fouling aplikasi. Kali berjalan panjang yang dicapai karena terus menerus menggores permukaan, sehingga menghindari pengotoran dan mencapai kecepatan transfer panas yang berkelanjutan selama proses tersebut. 6. Phase-change heat exchanger Selain memanas atau pendinginan cairan hanya dalam satu fasa, penukar panas dapat digunakan baik untuk memanaskan cairan menguap (atau mendidih) atau digunakan sebagai kondensor untuk mendinginkan uap dan mengembun ke cairan. Pada pabrik kimia dan kilang, reboilers digunakan untuk memanaskan umpan masuk untuk menara distilasi sering penukar panas . Distilasi set-up biasanya menggunakan kondensor untuk mengkondensasikan uap distilasi kembali ke dalam cairan.Pembangkit tenaga listrik yang memiliki uap yang digerakkan turbin biasanya menggunakan penukar panas untuk mendidihkan air menjadi uap. Heat exchanger atau unit serupa untuk memproduksi uap dari air yang sering disebut boiler atau generator uap.Dalam pembangkit listrik tenaga nuklir yang disebut reaktor air bertekanan, penukar panas khusus besar yang melewati panas dari sistem (pabrik reaktor) primer ke sistem (pabrik uap) sekunder, uap memproduksi dari air dalam proses, disebut generator uap.Semua pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan nuklir menggunakan uap yang digerakkan turbin memiliki kondensor permukaan untuk mengubah uap gas buang dari turbin ke kondensat (air) untuk digunakan kembali. Untuk menghemat energi dan kapasitas pendinginan dalam kimia dan tanaman lainnya, penukar panas regeneratif dapat digunakan untuk mentransfer panas dari satu aliran yang perlu didinginkan ke aliran yang perlu dipanaskan, seperti pendingin distilat dan pakan reboiler pra-pemanasan. Istilah ini juga dapat merujuk kepada penukar panas yang mengandung bahan dalam struktur mereka yang memiliki perubahan fasa. Hal ini biasanya padat ke fase cair karena perbedaan volume kecil antara negara-negara ini. Perubahan fase efektif bertindak sebagai buffer karena terjadi pada suhu konstan tetapi masih memungkinkan untuk penukar panas

untuk menerima panas tambahan. Salah satu contoh di mana ini telah diteliti untuk digunakan dalam elektronik pesawat daya tinggi.

7. Penukar panas cangkang dan buluh ( shell and tube heat exchanger ) Alat penukar panas cangkang dan buluh terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan, atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur.

Gambar 3.Penukar panas jenis cangkang dan buluh ( shell and tube heat exchanger ) Jenis penukar panas shell and tube yang digunakan adalah 1 shell pass dan 2 tube pass (1-2 Exchanger) seperti gambar dibawah ini.

Alat yang digunakan dalam praktikum mempunyai ukuran : Panjang pipa dan shell 1200 mm Diameter shell 375 mm Diameter pipa luar 32 mm

Diameter pipa dalam 27,8 mm Jumlah sekat 13 Susunan pipa dalam shell dapat berbentuk in-line (a) dan staggered (b)

Sedangkan susunan pipa yang ada didalam alat yang digunakan adalah in-line (a) dan ratio antara Sn/D = Sp/D = 1,25 Gambar profil temperatur dari penukar panas ini adalah :

Menghitung Koefisien Pindah Panas Keseluruhan (U) a. Menggunakan Neraca Energi

Tm = FT . Tlm

Harga Q dapat dihitung dari :

Q = (M.Cp. T)1 .. Kalor yang diberikan fluida panas = (M.Cp. T)2 .. Kalor yang diterima fluida dingin Efisiensi kalor yang dipertukarkan :
( ( ) )

Q A U

= Laju Alir Kalor (Watt) = Luas Permukaan (m2) = Koefisien Pindah panas Keseluruhan (W/m2.K)

Tlm = Perbedaan Suhu logaritmik (K)

Untuk Aliran Counter-current T1 = Thi – Tco T2 = Tho – Tci Untuk Aliran Co-current T1 = Tho – Tco T2 = Thi – Tci Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah :

b. Menghitung (U) Menggunakan Persamaan Empiris Untuk pipa sepanjang L

(

) ⁄

( hi,ho) = Koefisien pindah panas konveksi insde dan outside (W/m2.K) ;( K) = Koefisien Konduksi (W/m.K); (ri,ro) diameter (m) inside dan outside pipa yang kecil dan L panjang pipa yang diameternya kecil (m). Harga (ri,ro) dan L dapat diukur dari alat, harga K bahan SS-204 dapat diperoleh dari buku referensi dan hi dan ho dihitung dari persamaan empiris.

Persamaan untuk menghitung hi Untuk aliran laminer Nre < 2100

Untuk aliran turbulen Nre> 6000 dan L/D > 60

Koreksi harga hi apabila L/D < 60 ; 2<(L/D)<20

20<(L/D)<60

Untuk Aliran transisi

Persamaan Untuk Menghitung ho ( ) ( )

Harga m dan C dapat diperoleh dari tabel dibawah:

Darga D untuk menghitung Nre diperoleh dengan pendekatan : √ Ae Adalah luas efektif yang dilewati fluida diantara pipa dalam anulus, yaitu luas permukaan penempang shell dikurangi jumlah luas penampang semua pipa. III. ALAT DAN BAHAN 1. Seperangkat alat shell and tube 2. Sumber steam 3. Fluida (air)

IV.

CARA KERJA

Atur laju air dingin, lalu atur laju air panas dengan menggunakan steam

Pastikan semua kerangka sudah siap

lakukan percobaan untuk variasi aliran panas tetap dan aliran dingin tetap. lakukan pengamatan setiap 5 menit sekali

V.

PENGAMATAN

 Laju alir dingin = liter/menit No Laju alir panas (L/menit) 3 5 7 Suhu (0C) Tho Tci 32 38 40 22 22 22

Thi 70 70 69

Tco 35 37 39

1 2 3

VI.

PENGOLAHAN DATA DAN PERHITUNGAN  Mencari nilai µ, ρ, k, Npr, Cp (interpolasi), pada suhu 2°C T ( °C ) ρ (kg/m3) Cp(kJ/Kg K) µ (Kg/ms) k (W/mK) Npr

0 15,6 26,7

999,6 998 996,4

4,229 4,187 4,183

0,001786 0,001131 0,000860

0,5694 0,5884 0,6109

13,3 8,07 5,89

 Laju Alir Dingin Tetap = 5 lt/min  Perhitungan Dengan Neraca Energi

A = (2*3.14*0.01*1.2) = 0,075360

Tm = FT . Tlm

 Perhitungan T1 dan T2 Untuk Aliran Counter-current T1 = Thi – Tco T2 = Tho – Tci

Laju Alir Panas

Thi

Tho

Tci

Tco

3 5 7

70 70 69

32 38 40

22 22 22

35 37 39

35 33 30

10 16 18

 Perhitungan

Laju Alir Panas 25 17 12 1.252763 0.7239188 0.5108256 19.95589 23.4833 23.49138

3 5 7

 Mencari Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah :

Laju Alir Tco-Tci Thi-Tci Y= Thi-Tho Tco-Tci Z= FT

3

13

48

0,270833

38

13

2,923077

0,82

5

15

48

0,3125

32

15

2,1333

0,85

7

17

47

0,361702

29

17

1,705882

0,9

 Perhitungan Laju Alir

Tm
FT

3

0,82

19.95589

16,36383

5

0,85

23.4833

19,9608

7

0,9

23.49138

21,14224

 Perhitungan Laju Alir Qrata-rata

Tm

A

U

3 5 7

5303,316 8164,868 11189,33

16,36383 19,9608 21,14224

0,075360 0,075360 0,075360

4303.954 5432.206 7028.424

 Perhitungan Dengan Persamaan Empiris

(

) ⁄

 Perhitungan hi
Untuk aliran laminer Nre < 2100

Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

Nre =
16.47584 26.32851 34.70336

Npr

4.87424 5.1142 5.47911

0.0231667 0.0231667 0.0231667

1.2299 1.4611 1.63926

0.95978 0.96558 0.97391

49.27491 58.60006 65.80898

 Perhitungan ho

(
Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

)

( (

) )
1.69552 1.722897 1.7629367

(
0.386 0.386 0.386

)

ho
6.295899 8.401754 10.04742

5.25259 6.932539 8.16394

 Perhitungan U

(

) ⁄

Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

(

) ⁄

0.008072485 0.006787894 0.006044326

0.032511376 0.032511376 0.032511376

0.112408734 0.084234089 0.070437401

1.401598 1.461962 1.493714

Tabel Hasil Perhitungan Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7 Panas (qi) Dingin (qo) Effisiensi () 7891.589 11098.83 14087.38 2715.044 5230.909 8291.274
34.40427 47.13029 58.85603 49.27491 58.60006 65.80898 6.295899 8.401754 10.04742

ho

U (empiris)
1.401598 1.461962 1.493714

U (N.energi) 4303.954 5432.206 7028.424

 Laju Alir Dingin Tetap = 5 lt/min  Kurva berdasarkan perhitungan neraca energi

Kurva Laju Alir Air Panas vs U
8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 0 2 4 Laju Alir Air 6 8 Series1 U

Kurva berdasarkan perhitungan empiris

Kurva Laju Alir Air Panas vs U
1.5 1.48 1.46 1.44 1.42 1.4 1.38 0 2 4 Laju Alir Air 6 8 Series1 U

Kurva hubungan antara qo dan qi vs laju alir

Kurva Qout dan Qin vs Laju Alir Air Panas
16000 14000 12000 Qot dan Qin 10000 8000 6000 4000 2000 0 0 2 4 Laju Alir Air 6 8 Q panas Q dingin

PEMBAHASAN Diani Din Pertiwi (101424009) Praktikum kali ini kami melakukan praktikum “Shell and Tube Heat Exchanger” yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami cara kerja dari alat penukar panas ini, menghitung koefisien pindah panas keseluruhan menggunakan persamaan neraca energi dan persamaan empiris, menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fluida, dan pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas keseluruhan. Penukar panas ini terdiri dari satu bundle pipa (tube) yang dipasang parallel dan ditempatkan dalam sebuah cangkang (shell) dan dipasang buffle atau sekat untuk meningkatkan efisiensi. Prinsip kerja dari peralatan ini yaitu aliran panas mengalir melalui tube dan aliran dingin mengalir melalui shell. Kami melakukan variasi terhadap laju alir panas dengan nilai 3, 5, dan 7 L/menit sedangkan laju alir dingin yang kami gunakan tetap yaitu sebesar 5 L/menit. Data yang kami catat yaitu Thi (suhu aliran panas masuk), Tho (suhu aliran panas keluar) , Tco (suhu aliran dingin keluar), dan Tci (suhu aliran dingin masuk) pada setiap variasi aliran. Setelah didapat data, kami melakukan perhitungan dan didapat:
Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7 Panas (qi) Dingin (qo) Effisiensi () 7891.589 11098.83 14087.38 2715.044 5230.909 8291.274 34.40427 47.13029 58.85603 49.27491 58.60006 65.80898 6.295899 8.401754 10.04742 ho U (empiris) 1.401598 1.461962 1.493714 U (N.energi) 4303.954 5432.206 7028.424

Dari perhitungan dapat dilihat bahwa dengan memvariasikan laju alir panas maka semakin besar laju alir panas semakin besar pula koefisien pindah panas keseluruhan dan semakin besar pula efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fuida semakin besar. Panas yang dilepas oleh fluida panas dan panas yang diterima oleh fluida dingin semakin besar dengan semakin meningkatnya laju alir panas, namun panas yang dilepas selalu lebih besar dibandingkan dengan panas yang diterima, hal ini berarti ada energi yang hilang. Hasil tersebut sama seperti teori.

Perhitungan koefisien pindah panas menggunakan neraca energi dan empiris seharusnya sama, namun pada praktikum kali ini didapat berbeda, hal ini disebabkan peralatan shell and tube harusnya digunakan untuk menukar panas dengan suhu aliran panas dan suhu aliran dingin yang tinggi. Selain itu, dimungkinkan juga adanya kerak pada alat tersebut sehingga mehambat perpindahan panas yang terjadi.

Melinda Mirza

(101424021)

Shell and tube merupakan salah satu jenis alat penukar panas yang terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang ). Jenis shell and tube yang digunakan adalah 1-2 exchanger. Artinya alat penukar panas ini memiliki 1 arah aliran pada shell, dan 2 arah aliran pada tube. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel pada mantel. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat penukar panas cangkang dan buluh dipasang sekat ( buffle ). Ini bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan panasnya harus diatur. Pada praktikum ini jenis aliran yang digunakan adalah counter currrent, dimana dua fluida mengalir dengan temperature awal yang berbeda pada kondisi masukan dan keluaran yang berlawanan. Fluida panas mengalir melalui shell sedangkan fluida dingin mengalir sepanjang tube. Pada praktikum shell and tube heat exchange ini bertujuan untuk menghitung koefisien pindah panas keseluruhan dengan menggunakan rumus neraca energi dan persamaan empiris, serta menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fluida. Untuk mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas. Pada praktikum kali ini pengamatan dilakukan pada laju alir dingin tetap dengan berbagai variasi laju alir panas. Pada variasi laju alir panas dilakukan pengaturan pada 3,5, dan 7 dalam L/menit dan laju air panas tetap di 5 L/menit. Dalam pengaturan laju alir air dingin praktikan mengalami kesulitan dalam mempertahankan agar tetap di 5 L/menit. Yang kami amati pada praktikum adalah suhu aliran panas masuk(Thi), suhu aliran panas keluar (Tho), suhu aliran dingin masuk (Tci) dan suhu aliran dingin keluar (Tco) pada setiap variasi aliran, baik variasi laju aliran dingin maupun variasi laju aliran panas.

Setelah dilakukan perhitungan didapat data sebagai berikut

Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

Panas (qi)

Dingin (qo)

Effisiensi ()

ho

U (empiris)

U (N.energi) 4303.954 5432.206 7028.424

7891.589 11098.83 14087.38

2715.044 5230.909 8291.274

34.40427 47.13029 58.85603

49.27491 58.60006 65.80898

6.295899 8.401754 10.04742

1.401598 1.461962 1.493714

Berdasarkan data diatas dilakukan perhitungan effisiensi menggunakan neraca energi. Menurut teori semakin besar laju alir dingin semakin besar efiensi. Teori tersebut terbukti dengan meningkatnya laju alir panas maka efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fuida semakin besar. Pada variasi laju air panas berubah dengan laju alir dingin tetap, kurva antara laju alir air panas dan koefisien perpindahan panas keseluruhan menunjukkan bahwa semakin besar laju alir air panas, semakin besar pula koefisien perpindahan panas. Artinya panas yang diberikan semakin banyak. Hal ini sesuai dengan teori (Geankoplis Fourth Edition, 2003). Dengan laju alir air dingin yang tetap 6 L/menit dapat diketahui semakin besar laju alir air panas semakin besar pula efisiensinya. Artinya panas yang diserap fluida dingin akan semakin banyak dengan bertambahnya laju alir air panas. Hal ini sesuai dengan teori (Geankoplis Fourth Edition, 2003). Pada persamaan neraca energi suhu berperan penting karena perubahan sekecil apapun akan diperhitungkan sedangkan pada persamaan empiris suhu digunakan untuk mencari nilai dari Npr, viskositas dan massa jenis. Percobaan berikutnya yaitu mengamati perubahan laju alir terhadap perpindahan panas, dengan laju alir panas dan dingin tetap. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alir panas, panas yang diberikan/dilepas fluida panas dan panas yang diterima/diserap fluida dingin semakin tinggi juga, namun panas yang dilepas selalu lebih besar dibandingkan dengan panas yang diserap, atau dengan kata lain ada energi yang hilang, sedangkan menurut teorinya atau idealnya energi yang diberikan dalam perpindahan panas harus sama dengan energi yang diterima. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu diprediksi adanya kerak atau karat dalam alat shell and tube sehingga menghalangi perpindahan panas. KESIMPULAN

 

Prinsip kerja dari shell and tube ini adalah air panas mengalir melewati tube sedangkan air dingin melewati shell. Setelah dilakukan perhitungan didapat data
Panas (qi) Dingin (qo) Effisiensi () 7891.589 11098.83 14087.38 2715.044 5230.909 8291.274 34.40427 47.13029 58.85603 49.27491 58.60006 65.80898 6.295899 8.401754 10.04742 ho U (empiris) 1.401598 1.461962 1.493714 U (N.energi) 4303.954 5432.206 7028.424

Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

  

Dengan meningkatnya laju alir panas maka efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fuida semakin besar. Semakin besar laju alir air panas, semakin besar pula koefisien perpindahan panas. Semakin tinggi laju alir panas, panas yang diberikan/dilepas fluida panas dan panas yang diterima/diserap fluida dingin semakin tinggi juga, namun panas yang dilepas selalu lebih besar dibandingkan dengan panas yang diserap, atau dengan kata lain ada energi yang hilang,

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful