PEMBUATAN MAGNET KOMPOSIT BERBASIS KARET ALAM DAN SERBUK MAGNET BARIUM FERRITE

SKRIPSI Disusun dalam rangka penyelesaian Studi Strata I untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

Oleh : Taufiq Habibi NIM 4250401017

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang.

Semarang, Pembimbing I

Maret 2006

Pembimbing II

Drs.Agus Yulianto, M.Si NIP 131900801

Dra. Pratiwi Dwijananti, M.Si NIP 131813654

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Ujian Skripsi Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Sabtu : 18 Maret 2006

Panitia Ujian : Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi I.S, M.S NIP. 130781011 Pembimbing I

Drs. M. Sukisno, M.Si. NIP. 13052922 Penguji I

Drs. Agus Yulianto, M.Si. NIP. 131900801 Pembimbing II

Dr. Sugianto, M.Si. NIP. 132046850 Penguji II

Dra. Pratiwi Dwijananti, M.Si. NIP.131813654

Drs. Agus Yulianto, M.Si. NIP. 131900801 Penguji III

Dra. Pratiwi Dwijananti, M.Si. NIP.131813654

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang tertulis dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang,

Maret 2006

Taufiq Habibi, S.Si NIM 4250401017

iv

Mbak Anjar. 4. Khoirul Zein” yang telah memberi warna baru dalam hidupku sehingga hidupku semakin indah. v . Sahabat-sahabat ku yang banyak sekali dan tidak akan cukup bila aku sebutkan di sini. 5. Mas Amir dan Seluruh keluarga Besar H. 3. Soekadis yang telah memberi dukungan kepada ku. Ibuku Hj. Mas Udi.MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO “Jika punya permintaan dan keinginan. Soekadis yang menaruh harapan besar pada ku dan selalu mendo’akan ku 2. De2’ ku yang selalu siap dan dengan sabar mendengar cerita keluh kesahku selama ini. mohonlah kamu hanya (ALLAH) karena Dia-lah yang memiliki Segalanya” “Yang penting Halal…” kepada-Nya PERSEMBAHAN Sekripsi ini ku persembahkan untuk: 1. Untuk Mbak Khesi. Samsyah dan Bapaku H. Some one “M. terimakasih banyak. Mas Yanto. Mas Akhmad. Mbak Nur.

Tiada satupun pekerjaan yang dapat diselesaikan sendirian. M. selaku Dosen wali yang selalu memberi pengarahan dan bimbingan selama studi di Universitas Negeri Semarang. Moedjiono dan Mas Joko dari PT.Pd dan Seluruh Staf Laboratorium Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang. Bapak V. Bapak Drs. Dr. Dra. penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. M.Si. Kang Jito. Ketua Jurusan Fisika Universitas Negeri Semarang. 8. 6. 5. Dosen pembimbing kedua yang telah membimbing dan mendampingi selama skripsi. 9. Billy Stronsium. M. Adjiq Ballmilling.Si. Bapak Wasi Sakti WP. Pratiwi Dwijananti. Dra. 4. M. M.Si. Kasmadi Imam S. Bapak Drs. Dosen penguji yang memberi masukan untuk meperbaiki skripsi ini. 7. M. Magnetic Material Laboratory Community Universitas Negeri Semarang (Pap Dika. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. M.S. 3. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Sukisno.Si. 2. S. Agus Yulianto. Pentasari Pranakarya yang telah membantu mempermudah menyelesaikan skripsi ini . Sugianto. Upik Nurbaiti.Si.. Dosen pembimbing utama yang membimbing dan telah banyak mengajarkan tentang kebaikan.KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah. Kang Dien vi .. Bapak Drs.

Delphi. Andri. Edot. Ahmady. Hajirin moga bisa lulus bareng. Eko prisma. Aqin Orcad. 12. Umi. Zein 1000mT. Wawan dan Joko. Bang Eko. Semoga dapat meneruskan perjuangan Magnetic Material Laboratory. Nita. Lilul. serta nonton TV berwarnanya yang Semarang. Gatot. Winda dan seluruh sahabat-sahabatku Fisika Angkatan 2001 yang nggak nyukup deh kalo disebutin semuanya. Trimbil. Kang Madi. Roha. Jati Portland. Nuro. Riyo. Sahabat-sahabatku di gubuk derita yang selalu kedinginan tiap malem. Rizal Histerisis) atas diskusi. Semoga jasa dan amal baik yang dilakuan dibalas Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan seluruh umat. Masno. Wiyono Aniso20. Sahabat-sahabatku. Ari Sant. Mbak Is. 13. untuk Tetua (Bayou gndt ) berilah contoh yang baik dan untuk seniorku Rano dan Irfan jadilah anak yang baik. 11. Fria Novia. 10. de’ Rehan dan de’ Oprint terimakasih atas tempat nongkrong dan temen ngobrol membuat fresh. Faizin. Snoopy. Material Lab. Hijrah. dukungan dan atas persahabatan yang indah. Tika. Mahsunnah. Maret 2006 Penulis vii . Ellyco. Astrid). Ratih. . 14. Crew (Eko Arya Don Juan. Etty. Heri Bro. Edi. Wawan. Mbah Sah. Opick. kebersamaan.

Pembimbing: I. rapuh. Sifat mekaninya sangat dipengaruhi oleh kadar karet alam. Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Oleh sebab itu sekarang ini dikembangkan magnet komposit mengingat akan diperoleh bahan magnet yang ringan. dan harganya cukup mahal. elastoferit. Pratiwi DJ.05 MGOe.62 Kg/cm2 dan 650 %.80% dan 85% berat magnet komposit. Proses pencampuran dilakukan dengan menggunakan metode kompon dengan cara mencampurkan bahan-bahan penyusunnya dalam bentuk cairan. Supaya saat pencampuran tidak terjadi koagulasi (penggumpalan) sebelum campuran homogen. Skripsi. II. Pada penelitian ini digunakan binder berupa polimer yaitu karet alam dicampur dengan serbuk magnet barium ferit. Agus Yulianto. M. Pembuatan Magnet Komposit Berbasis Karet Alam dan Serbuk Magnet Barium Ferrite. Nilai kekerasan yang dihasilkan untuk magnet komposit yang dihasilkan berkisar antara 48–90 Shore A. Sedangkan untuk sifat kemagnetannya paling baik dimiliki oleh magnet komposit dengan komposisi barium ferit 85%. M. Drs. yaitu: kekutan tarik dan perpanjangan putus paling tinggi sebesar 27. 70%. Universitas Negeri Semarang. Hasil yang diperoleh berupa bahan magnet komposit dibuat dalam bentuk lembaran dan dikarakterisasi sifat mekanik (kekuatan tarik.ABSTRAK Taufiq Habibi.Si. magnet komposit. Kata kunci : karet alam. Bahan magnet komersial terbuat seluruhnya dari bahan logam melalui proses casting dan sintering. Dra. besar energi produknya yaitu sekitar 0. Maka dalam penelitian ini magnet komposit yang dianggap optimum adalah dengan komposisi 80 % Barium ferit dan 20 % kompon karet. perpanjangan putus. Hasil karakteristik yang diperoleh menunjukan bahwa karakteristik magnet komposit yang dihasilkan tergantung pada bahan-bahan penyusunnya. elastis dan murah.. barium ferit. dan kekerasan) dan sifat magnetnya. Sehingga bahanbahan pembantu yang berupa serbuk terlebih dahulu dibuat bahan dispersi. viii . Hal ini dilakukan karena karet alam yang digunakan berupa lateks pekat 60% dan untuk mempermudah pencampuran antara karet dengan serbuk magnet. Dengan serbuk barium ferit berukuran lolos saringan 400 mesh sifat mekanik yang paling baik dimiliki oleh magnet komposit dengan komposisi barium ferit 70%. Pembuatan magnet komposit dilakukan dengan memvariasi komposisi serbuk barium ferit sebesar 60%. sedangkan sifat kemagnetannya tergantung pada jumlah serbuk barium ferit dalam magnet komposit.Si. Magnet komposit merupakan gabungan antara serbuk magnet dengan bahan pengikat bukan magnet seperti polimer. Sehingga terdapat kekurangan seperti berat. 2006. Sehingga magnet yang dihasilkan bersifat elastis yang sering disebut elastoferit.

............................................................... PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................... Alasan Pemilihan Judul ....................................................... PERNYATAAN .................................. Alat dan Bahan Pembuatan Magnet Komposit ................................... BAB III : METODE PENELITIAN A................ B.............. C.. D...................... ............................... KATA PENGANTAR ........................ i ii iii iv v vi viii ix xi xii xiii DAFTAR GAMBAR ..................... B.............................................. Sifat Kemagnetan Komposit .........DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................................... Sistematika Skripsi ............................................ C.................................................... Langkah Kerja........................................................................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................................................ Tegangan dan Regangan ..... DAFTAR ISI.... Bahan Komposit....................................... BAB II : LANDASAN TEORI A........................................................................ E........................................................ B.................................................................. Tempat dan Waktu Penelitian . ABSTRAK ...... D................................................................................ PENGESAHAN KELULUSAN ................................ Manfaat Penelitian ............................ Pembuatan Kompon Karet . DAFTAR TABEL .................. 1 2 3 3 3 5 6 10 13 17 17 18 ix ............................ BAB I : PENDAHULUAN A.............................................................................................................................................................................................................. Permasalahan .................. Tujuan Penelitian .......... C..............................

............................................ B......................................BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A................. Saran .......... Kesimpulan ............................... x .......... 25 26 BAB V : PENUTUP A. LAMPIRAN ..................... Karakterisasi Hasil Penelitian ........................................................................................ B............. Deskripsi Hasil Penelitian .............................................. 31 32 33 35 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................

..... Kurva Histeresis magnetik ... Hubungan antara tegangan dengan regangan magnet komposit untuk beberapa komposisi ............ Kurva tegangan-regangan untuk karet ..........1...2......DAFTAR GAMBAR Gambar 2.............................................1................. 28 Gambar 4..............1..............................3.......... (b) Elemen kecil batang ............................ 25 Gambar 4. Hubungan antara kadar Ba dalam komposisi magnet komposit dengan parameter kemagnetan ..... Permukaan atas sampel magnet komposit(BaO 6Fe2O3) 80%........ (a) Batang tegar yang dipengaruhi gaya tarik F..............3....................................... 16 Gambar 3.........3........ Grafik tegangan versus regangan ........ 11 Gambar 2........ 14 Gambar 2.1.... Bagan Proses Pembuatan Magnet Komposit ......... 30 xii ... 24 Gambar 4....... 15 Gambar 2......

.. Komposisi campuran bahan pembuat kompon karet ... 20 Tabel 3........2.................. 29 xi ....1........ Sifat mekanik komposit dari bahan magnet BaO.................. 13 Tabel 3.........................3........................1. 20 Tabel 3. Spesifikasi bahan barium ferit produksi PT.... 27 Tabel 4...................6Fe2O3 dengan bahan pengikat karet alam pada berbagai komposisi bahan.1...............2..... NX INDONESIA ......DAFTAR TABEL Tabel 2.... Komposisi campuran untuk magnet komposit..................................... 23 Tabel 4..................... Data pengujian mekanik dengan tensilmeter ..................... Sifat magnetik magnet komposit dari bahan magnet BaO6Fe2O3 dengan bahan pengikat karet alam pada berbagai komposisi bahan.................

. 37 Lampiran 4 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 70% (sampel C1)..... 43 Lampiran 10 : Data Hasil Karakterisasi Dengan Tensilmeter Untuk Magnet Komposit Berbagai Komposisi bahan ........... 35 Lampiran 2 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 60% (sampel D1) ............................................................................. 38 Lampiran 5 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 70% (sampel C2)....................................................................................DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Susunan Komposisi Untuk Pembuatan Dispersi Bahan ....................... 36 Lampiran 3 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 60% (sampel D2) ........... 42 Lampiran 9 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 85% (sampel A2) ............................... 44 Lampiran 11 : Tipe Kurva Histerisis Untuk Bahan Feromagnetik Saat Magnetisasi Bahan ........... 39 Lampiran 6 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 80% (sampel B1)..... 40 Lampiran 7 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 80% (sampel B2)...... 45 xiii ............................................................................ 41 Lampiran 8 : Data Hasil Karakterisasi Permagraf Untuk Magnet Komposit Dengan Kadar Barium 85% (sampel A1) ..

1 BAB I PENDAHULUAN A. antara lain penelitian magnet komposit berbasis serbuk magnet ferit dengan matriks polipropilena dan polietilena (Sudirman dkk. Dalam pemakaiannya. compresor motor. Hal ini disebabkan semakin meluasnya pengaplikasian bahan magnet di berbagai bidang. Alasan Pemilihan Judul Beberapa dekade belakangan ini kebutuhan bahan magnet meningkat dengan pesat. magnet komposit berbasis heksaferit telah banyak digunakan seperti speaker pada bidang audio. 2001) . Untuk bahan magnet konvensional terbuat seluruhnya dari bahan logam atau keramik melalui proses casting dan sintering sehingga terdapat kekurangan seperti berat. rapuh dan harganya cukup mahal. VTR capstan motor. blower motor. Banyak kelebihan dari bahan komposit magnet ini seperti faktor mudah dibentuk dan biaya yang dapat ditekan dengan adanya campuran berharga lebih murah dibanding serbuk magnet metalik (Yulianti. 2002). wiper motor. power steering motor dan ABS motor pada bidang otomotif dan masih banyak lagi (Febrianty & Silviani. fuel pump motor. inovatif dan memiliki daya saing. starter motor. power window motor. Keadaan tersebut yang mendorong dikembangkannya bahan magnet yang memenuhi sifat-sifat yang diinginkan. Tetapi memiliki kelemahan juga. Pembuatan komposit magnet merupakan jalan keluar yang sangat baik dan banyak dikembangakan dewasa ini. 2003). biasanya karakteristik magnet yang dihasilkannya tidak begitu 1 . Penelitian tentang magnet komposit ini sudah banyak dilakukan.

dan tentunya akan dapat dengan mudah memperoleh bahan tersebut. 2002). B. Metode yang dikembangkan menyangkut pengaturan komposisi serbuk magnet dan pengikat serta proses pembuatannya sebagaimana metode untuk membuat kompon. yaitu barium ferrite yang merupakan kelompok bahan ferit (heksaferit) dimana bahan penyusun utamanya adalah Fe2O3 yang merupakan hasil sampingan (limbah) dari proses industri baja di Indonesia (Sudirman dkk. menyangkut pengembangan metode pembuatan magnet komposit dengan bahan dasar pengikat berupa karet alam.2 tinggi masih di bawah magnet metalik. Permasalahan pertama. bahan penyusun komposit yang lainnya. . karena karet alam merupakan salah satu kekayaan alam Indonesia yang melimpah dan tentunya akan dengan mudah untuk perolehnya. Dengan harapan magnet komposit yang dihasilkan mempunyai sifat mekanik yang lebih baik dibandingkan dengan magnet metalik dan diharapkan memiliki sifat magnet yang kuat. Disamping itu. Permasalahan kedua. Hal tersebut yang mendorong penulis melakukan penelitian tentang “Pembuatan Magnet Komposit Berbasis Karet Alam dan Serbuk Magnet Barium Ferrite”. Dipilihnya karet alam dalam penelitian. Permasalahan Permasalahan yang akan menjadi fokus kajian penelitian ini meliputi dua masalah utama. 2002). Dalam penelitian ini akan dilakukan sintesis magnet komposit berbasis karet alam dengan heksaferit. Pembuatan magnet komposit ini dapat dilakukan dengan teknologi sederhana hanya dengan mencampurkan polimer dan serbuk magnet (Ridwan dkk. menyangkut karakterisasi sifat magnetik dan sifat mekanik dari magnet komposit yang dihasilkan.

yaitu : bagian pendahuluan skripsi. Manfaat Penelitian Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah: 1. Memberi kontribusi ilmiah pada pengembangan ilmu yang berfokus pada kajian mengenai bahan-bahan magnet. daftar isi.3 C. Diperoleh magnet komposit elastis yang memiliki daya saing karena pembuatannya mudah serta relatif murah. halaman pengesahan. Bagian Pendahuluan Skripsi. daftar gambar. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. terdiri dari : halaman judul. daftar tabel dan daftar lampiran. . Mengetahui sifat magnetik dan sifat mekanik dari magnet komposit hasil sintesis. 2. E. khususnya yang diproduksi dengan bahan lokal. Sistematika Penulisan Skripsi Sistematika penulisan skripsi disusun untuk memudahkan pemahaman tentang struktur dan isi skripsi. 1. kata pengantar. D. motto dan persembahan. Melakukan sistesis magnet komposit yang bersifat elastis dan dapat difungsikan sebagai magnet permanen (elastoferit) dengan menggunakan serbuk magnet (BaO 6Fe2O3) dan binder berupa karet alam. 2. bagian isi skripsi dan bagian akhir skripsi. Penulisan skripsi ini dibagi menjadi tiga bagian. Sari (abstrak).

serta langkah kerja. sifat kemagnetan komposit. terdiri dari lima bab yang disusun dengan sistematika sebagi berikut : Bab I. manfaat penelitian dan sistematika skripsi. Simpulan dan Saran. permasalahan. Metode Penelitian. tegangan dan regangan. 3. Bab II. pembahasan yang merupakan penjelasan tentang hasil penelitian. Bab V. terdiri dari tempat penelitian. . tujuan penelitian. membahas tentang diskripsi data yang diperoleh dari hasil penelitian beserta analisisnya. pembuatan kompon karet. Bab III. berisi simpulan yang memuat pernyataan singkat dari penjabaran hasil eksperimen dan pembahasan. Landasan Teori. Bab IV. Bagian Akhir Skripsi. Landasan teori yang dikemukan meliputi : bahan komposit. Hasil Penelitian dan Pembahasan. serta saran penulis yang berkaitan dengan kegiatan penelitian. Pendahuluan.4 2. batasan masalah. terdiri dari : daftar pustaka dan lampiran-lampiran. Bagian Isi Skripsi. berisi alasan pemilihan judul.alat dan bahan. berisi teori-teori yang mendasari penganalisaan masalah yang akan dibahas.

Bahan Komposit Kata komposit dalam pengertian bahan komposit berarti terdiri dari dua atau lebih bahan yang berbeda yang digabung atau dicampur secara makroskopis. 5 . seperti kekakuan. Justru keunggulan bahan komposit di sini adalah penggabungan sifat-sifat unggul masing-masing unsur pembentuknya tersebut. Magnet komposit ini dibuat dengan cara mencampurkan serbuk magnet dengan bahan pengikat.5 BAB II LANDASAN TEORI A. Unsur utama bahan komposit adalah serat. Sedangkan matriks bertugas melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik (Hadi. sifat-sifat unsur pembentuknya masih terlihat jelas. kekuatan serta sifat-sifat mekanik yang lain. yaitu serat (fiber) dan bahan pengikat serat-serat tersebut yang disebut matriks. Jika bahan pengikatnya menggunakan polimer maka akan diperoleh magnet komposit yang bersifat rigid atau elastis. bila menggunakan polimer termoplastik maka akan diperoleh rigid bondet magnet. Pada bahan komposit. Pada umumnya bahan komposit terdiri dari dua unsur. bila digunakan polimer bersifat elastis (seperti karet alam) dengan serbuk magnet heksaferit maka akan diperoleh elastoferit dan sebaliknya. 2000). Sifat kelenturan magnet komposit ditentukan oleh bahan polimer yang digunakan. Serat ini yang menentukan karakteristik bahan kompositnya. Magnet komposit merupakan bahan magnet yang dicampur atau diikat dengan bahan pengikat bukan magnet.

Karena lateks pekat yang merupakan bahan pokok itu berupa cairan.6 (Sudirman. B. Jenis bahan magnet dan pengikat serta metoda pemrosesan magnet komposit dapat divariasi sesuai kebutuhan. yang disebut juga dengan istilah dispersi atau emulsi. Mempunyai sifat mekanik yang sangat baik 3. harus juga berupa cairan. dkk. Tujuan pembuatan kompon karet adalah untuk memperbaiki sifat-sifat dari karet alam yang kadang-kadang mempunyai sifat fisika dan kimia yang kurang menguntungkan untuk keperluan suatu produk barang jadi. Pembuatan Kompon Karet Campuran karet dengan bahan-bahan kimia tertentu dan bahan pengisi dengan komposisi serta urutan pencampuran tertentu akan menghasilkan kompon. Adanya fraksi bahan pengikat tak magnet. umumnya diperlukan lateks pekat sebagai bahan baku. maka sifat magnet komposit akan lebih rendah dibandingkan dengan magnet siter. yang diperoleh dengan cara sentrifugal atau dengan cara pendadihan. (Ridwan dkk. Proses pembuatan bahan relatif lebih mudah dibanding magnet sinter. 2002). Untuk pembuatan barang jadi karet dari lateks (getah karet alam). 5. Namun demikian keunggulan bahan magnet komposit diantaranya adalah: 1. maka bahan kimia yang merupakan bahan pembantu ini. Perubahan bentuk akibat pemrosesan bahan sangat kecil. 4. Dapat diproduksi dalam bentuk tiga dimensi yang kompleks. 2. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan campuran yang . 2002).

Yang keluar dari bagian atas ialah lateks pekat. Selama dilakukan pemusingan. . Jadi untuk membuat kompon karet yang bahan bakunya berupa lateks dilakukan dengan melalui beberapa tahap. Volume dari lateks ini harus diketahui dengan tepat dan sekalian dilakukan penentuan kadar karet keringnya. 1. lateks kebun disaring dan dikumpulkan dalam suatu tempat penampungan. Zat yang berasal dari garam-garam magnesium dan garam-garam dari asam fosfat yang berada dalam lateks dan dari amoniak yang ditambahkan. yaitu meliputi: pembuatan lateks pekat. Yang keluar dari bagian bawah ialah lateks encer yang biasanya disebut lateks skim. Pembuatan Lateks Pekat Untuk pembuatan lateks pekat pusingan (centrifuged latex) penambahan amoniak di tempat-tempat pengumpulan di kebun dilakukan sampai jumlahnya menjadi 2 . Kemudian lateks tersebut dibiarkan selama 24 jam.7 homogen. Setelah sampai di tempat pengolahan. Penentuan kadar amoniak dalam lateks dilakukan dengan jalan peniteran (titration) dengan asam khlorida (hydrochloric acid) yang telah diketahui kadarnya. pembuatan dispersi atau emulsi. 2. supaya terjadi pengendapan dari kotoran-kotoran dan dari magnesiumamoniumfosfat.3 gram untuk setiap liter lateks kebun. pencampuran dan vulkanisasi. Setelah dibiarkan selama 24 jam. lateks kemudian dimasukkan ke dalam alat pemusing. lateks kebun yang telah dibubuhi amoniak tadi terpisah menjadi dua bagian: 1.

tergantung kepada jenis bahan kimia yang akan dibuat dispersi. lalu dimasukkan ke dalam gilingan peluru. dijalankan selama 24 jam. Pembuatan Dispersi atau Emulsi Untuk membuat dispersi diperlukan suatu alat gilingan peluru (ball mill). misalnya: bahan pendispersi (dispersing agent) atau bahan pengelmusi (emulsifing agent). kemudian diputar pada alat pemutar gilingan peluru. Bahan yang akan dibuat dispersi. Kecepatan putaran sekitar 35-70 putaran per menit. Dalam pembuatan dispersi atau emulsi diperlukan juga bahan pembantu lainnya. Asam oleat dan trietanolamin sebagai bahan pengemulsi. kemudian diaduk dengan alat pengaduk selama beberapa waktu sampai diperoleh emulsi yang bagus. sedang untuk membuat emulsi diperlukan alat pengaduk (stirrer). Kita dapat menggunakan bahan-bahan pendispersi dan bahan-bahan pengemulsi yang tersedia di pasaran seperti: dispersal. darvan dan vultanol sebagai bahan pendispersi. bahanan pemantap. 2. Pembuatan Kompon atau Pencampuran Lateks pekat dicampur dengan bahan kimia yang telah dibuat dispersi atau emulsi dengan susunan kompo tertentu sesuai dengan tujuan barang jadi karet . Untuk membuat emulsi maka bahan yang akan dibuat emulsi dan bahan pengelmusi dimasukkan ke dalam tabung. air dan sebagainya bergantung pada jenis bahan kimianya. 3.8 Lateks pekat yang diperoleh lantas dikumpulkan dalam tempat pengumpulan dalam tempat penyimpanan dan dibubuhi amoniak lagi sehingga jumlahnya menjadi 7 sampai 10 gram gas amoniak untuk setiap liter lateks pekat. dicampur dengan bahan pendispersi dan air.

membutuhkan waktu beberapa jam. Untuk mencampur biasanya dipakai satu urutan penambahan tertentu. Kompon lateks sebelum dicetak untuk membuat barang karet adalah dalam keadaan cair. . Kalau perlu ditambahkan bahan pemantap ke dalam kompon lateks agar tidak menggumpal. Kemudian antioksidan-antioksidan. belerang dan dispersi-dispersi seng oksida). Setelah karet mentah dicampur dengan bahan-bahan kimia tersebut dan kemudian dipanaskan. Vulkanisasi Vulkanisasi adalah tahap terakhir proses pembuatan barang karet. tergantung dari proses yang dipakai. Pada proses vulkanisasi molekul-molekul karet diikat oleh belerang membentuk suatu jaringan tiga dimensi dan karet yang semula plastis akan berubah menjadi elastis. Dengan menambahkan bahan pemercepat dan bahan penggiat (aktivator). yaitu: pertama bahan-bahan vulkanisasi (bahan pencepat. Pencampuran dilakukan di dalam tangki yang ukurannya bermacam-macam. 4. maka akan menghasilkan karet matang atau vulkanisat. zat-zat warna dan bahan-bahan pelunak. Dalam pembuatan barang karet jadi dari kompon karet ini untuk mempercepat penggumpalan dapat ditambahkan asam format. dapat diadakan perubahanperubahan. apabila dirasa perlu. maka waktu vulkanisasi dapat dipersingkat menjadi beberapa menit. Reaksi antara molekul-molekul karet dengan belerang berlangsung sangat lambat. campuran yang diperoleh disebut kompon lateks. bahan-bahan pengisi. Tetapi. Campuran diaduk perlahan-lahan dan dijaga jangan sampai terjadi pengotoran sampai campuran tersebut homogen. disesuaikan dengan keperluannya.9 yang akan dibuat.

Berubah dari sifat plastis menjadi elastis. 3. pertama-tama ditinjau . Namun demikian sebagaimana magnet lainnya. 2. Pada proses vulkanisasi kecuali diberikan panas perlu pula diberi tekanan pada kompon karet untuk menekan keluar udara yang ada di dalam kompon karet. Tidak larut dalam pelarut organik tetapi hanya akan mengambang. Bila waktu vulkanisasi kurang atau lebih dari waktu optimumnya. Perubahan sifat karet alam setelah divulkaniasasi diantaranya adalah: 1. Lebih tahan terhadap suhu rendah dan tinggi dapat digunakan dari . maka akan berpengaruh terhadap sifat fisika dari barang karet yang dihasilkan. Sifat Kemagnetan Komposit Berbeda dengan magnet hasil pengecoran atau magnet keramik. C.1500 C sampai + 700 C. Ketahanan sobek dan ketahanan pengusangan bertambah baik. Untuk mendapatkan kurva histeresis suatu bahan magnet. karena karet adalah penghantar panas yang buruk. sifat kemagnetan komposit juga diketahui berdasarkan kurva histerisis magnetiknya. Bila tidak diberi tekanan maka bagian tengah barang karetnya akan beronggarongga. magnet komposit umumnya memiliki keunggulan sifat-sifat mekanik sesuai dengan rancangan pembuatannya. Sebaliknya untuk memasak barang karet yang tipis dipilih suhu sekitar 1600 C dengan waktu vulkanisasi yang lebih singkat.10 Lazimnya waktu vulkanisasi barang karet yang tebal dipilih suhu vulkanisasi sekitar 1400 C dengan waktu vulkanisasi yang agak lama. 4. Pada kompon karet yang divulkanisasi kurang matang akan terbentuk pula rongga-rongga yang menyebabkan bentuk barang karetnya kurang sempurna.

Untuk produk energi (BHmaks) diperoleh dari hasil perkalian antara B dan H. Untuk B HS Br -Hc 0 Hc H Gambar 2. Di mana kekuatan dari magnetnya ditentukan oleh besarnya nilai Br dari bahan. Kemudian bahan tersebut diletakkan pada medan magnet luar. intensitasnya dinaikkan perlahanlahan secara kontinyu. Permeabilitas merupakan bagian dari lengkungan histerisis seperti ditunjukan pada Gambar 2.1 pada bagian positif. maka dapat dilakukan karakterisasi bahan tersebut dengan besaran-besaran yang ada. magnetisasi mendekati harga maksimum. Di mana makin tinggi remanensi. Kurva Histeresis magnetik Saat dimana intensitas medan magetik nol dan medan magnet menunjukkan harga tertentu yaitu Br merupakan besaran yang disebut ketertambatan (remanensi). Br ini adalah nilai remanensi magnet yang tersisa di dalam bahan setelah pengaruh medan magnet ditiadakan. Nilai Hc ini menyatakan besar medan magnet balik yang di butuhkan guna menghilangkan kemagnetan suatu bahan. Dan saat dimana medan magnet berharga nol sedang intensitas medan magnetik menunjukan harga tertentu yaitu Hc disebut dengan gaya koersivitas bahan ferromagnetik. makin besar gaya .1.11 cuplikan bahan ferromagnetik yang tidak termagnetisasi.

Strukturnya sangat rumit. yang merupakan oksida yang disusun oleh hematit (α-Fe2O3) sebagai komponen utama. Ferit Berstruktur Garnet. Ferit Lunak. ferit jenis ini adalah turunan dari struktur magneto plumbit yang dapat ditulis sebagai MFe12O19. koersivitas yang rendah. Mg dengan struktur kristal seperti mineral spinel. salah satu perusahaan yang memproduksinya adalah PT. Bahan ini mempunyai gaya koersivitas dan remanen yang tinggi dan mempunyai struktur kristal heksagonal dengan momen-momen magnetik yang sejajar dengan sumbu c. Co. Zn. Pada umumnya ferit dibagi menjadi tiga kelas : a. berbentuk kubik dengan sel satuan disusun tidak kurang dari 160 atom (Idayanti. dimana M = Cu. dimana M = Ba. Sifat bahan ini mempunyai permeabilitas dan hambatan jenis yang tinggi. Magnet jenis ini lebih murah untuk diproduksi dan banyak digunakan sebagai magnet permanen. magnet ini mempunyai magnetisasi spontan yang bergantung pada suhu secara khas. c. b. Di Indonesia bahan ferit sudah diproduksi sendiri. Ferit Keras. NX IDONESIA.12 koersivitas dan loop histerisis makin gemuk dan makin besar pula produk energinya. 2002). Fe. Bahan ferit yang diproduksi . Pb. Sr. Mn. ferit ini mempunyai formula MFe2O4. Ni. Suatu kelas bahan magnet yang sering digunakan untuk membuat magnet permanen adalah bahan ferit.

Gambar 2. Tegangan dan Regangan Jika sebuah benda padat berada dalam keadaan setimbang tetapi dipengaruhi gaya-gaya yang berusaha menarik. D.1.13 diantaranya adalah barium ferit dan stronsium ferit. benda dikatakan elastik. Jika benda kembali kebentunya semula bila gaya-gaya dihilangkan. Spesifikasi bahan barium ferit produksi PT.411 180 31. Jika gaya-gaya terlalu besar dan batas elastik dilampaui. NX INDONESIA Average Particle Size (μm) Magnetic Properties Br (T) bHc (kA/m) BHm (kJ/m2) iHc (kA/m) Sintered Density (g/cm3) Shrinkage (%) 3.2.a menunjukkan sebuah batang tegar yang dipengaruhi gaya tarik F ke kanan dan gaya yang sama tetapi berlawanan arah kekiri.110 12.8 184 5. Dalam .386 0.33 Parameter kemagnetan dari suatu bahan juga dipengaruhi oleh temperatur. Bahan barium ferit yang diproduksi mempunyai spesifikasi sebagai berikut: Tabel 2. Bahan ferit ini. menggeser. benda tidak kembali ke bentuk semula. tetapi secara permanen berubah bentuk. maka bentuk benda itu akan berubah. khususnya barium ferit dan stronsium ferit mempunyai temperatur currie (Tc) sekitar 450 0C. Kebanyakan benda adalah elastik terhadap gaya-gaya sampai kesuatu batas tertentu yang dinamakan batas elastik. atau menekannya. Koersivitas dan remanensi akan berkurang apabila temperaturnya mendekati temperatur currie (Tc) dan kehilangan sifat kemagnetannya.

Jika elemen tidak terlalu dekat dengan ujung batang . maka gaya-gaya ini akan didistribusi secara uniform pada luas penampang batang.. Karena elemen ini dalam keadaan setimbang.2.b. Perubahan fraksional pada panjang batang ΔL/L dinamakan regangan: Regangan = ΔL L . 1998) .2.. Rasio gaya F terhadap luas penampang A dinamakan tegangan tarik: Tegangan = F A .. gaya-gaya yang bekerja padanya oleh elemen-elemen di sampingnya ke kanan harus menyamai gaya-gaya yang dikerjakan oleh elemen tetangga kekiri. (b) Elemen kecil batang (Tipler. (a) Batang tegar yang dipengaruhi gaya tarik F. (2) L F (a) L F A (b) F F Gambar 2. (1) Gaya-gaya yang dikerjakan pada batang berusaha meregangkan batang.. pusatkan perhatian pada sebuah elemen kecil batang yang panjangnya L.14 Gambar 2.

3. batang tidak akan kembali ke panjang semula. (3) . Jika tegangan yang bahkan lebih besar diberikan. bahkan akhirnya patah. tetapi berubah bentuk secara tetap.. Ini adalah prilaku yang sama dengan pegas gulung untuk tarikkan yang kecil. Titik B pada Gambar 2. 1998) Gambar 2. Rasio tegangan terhadap regangan dalam daerah linier grafik adalah konstanta yang dinamakan modulus Young (Y): Y= F/A tegangan = regangan ΔL / L .. Jika batang ditarik melampaui titik ini. Hasil bahwa regangan berubah secara linier dengan tegangan dikenal sebagai hukum Hooke. menunjukkan grafik tegangan versus regangan untuk batang padat biasa. seperti ditunjukkan oleh titik C. Grafik tersebut linear sampai titik A.15 C B Tegangan A Batas elastik Titik patah Batas kesebandingan Regangan Gambar 2. adalah batas elastik bahan.3.3. Grafik tegangan versus regangan (Tipler.

karena hanya terjadi pelurusan tekukan molekul. diperlukan tegangan tambahan untuk setiap penambahan regangan akibatnya modulus elastisitas meningkat (Vlack. Setelah moleku-molekul lurus dan searah. 1994) Titik patah Tegangan Regangan Gambar 2. 1994) . Kurva tegangan versus regangan untuk karet (Vlack.16 Bagian elastik dari kurva tegangan versus regangan untuk karet berbeda dengan kurva untuk logam. Mula-mula regangan terjadi dengan mudah dengan tegangan sedikit saja.3. Ini mengakibatkan modulus elastisitas yang rendah.

Timbangan /neraca.17 BAB III METODE PENELITIAN A. Pentasari Pranakarya Jl. Saringan (ayakan) dengan ukuran 400 mesh dan 150 mesh. Seperangkat alat vulkanisasi (meliputi : kompor gas. Laboratorium Kemagnetan Bahan Jurusan Fisika FMIPA UNNES 2. Mortal. yaitu: 1. Mortal. bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Lateks pekat 60%. Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) LIPI Bandung 3. Dispersol. Amonium khlorida (NH4Cl). Parafin. Tambak Aji I No 1 Semarang B. Barium ferit (BaO6Fe2O3). Asam format (HCOOH). CBS (NCyclohexyl – 2 – Benzothiazole sulfenamide (C13H16N2S2) ). 17 . Sulfur. Sedangkan alat-alat yang digunakan untuk pembuatan meliputi: Tensilmeter. Asam stearat (C18H36O2) . PT. Sesuai dengan tahap pengerjaannya. Seng oksida (ZnO). Bahan dan Alat Pembuatan Magnet Komposit Untuk keperluan sistesis magnet komposit. pres ban. mulai bulan September 2005 sampai dengan Februari 2006. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dikerjakan selama kurang lebih 6 bulan. Alat pres. penelitian ini dilakukan di tiga unit kerja. cetakan dan termokontroler).

Maka dibuat dispersi-dispersi dahulu. dan vulkanisasi. Bahan-bahan tersebut kita campur . Bahan-bahan yang berbentuk serbuk seperti bahan pencepat. Langkah Kerja 1. Hal tersebut dapat menyebabkan bahan-bahan tersebut menggumpal sehingga mungkin menyebabkan pengendapan (koagulasi). sehingga bagian-bagiannya tersebar di dalam air keadaannya benar-benar halus. Pembuatan dispersi dan emulsi Pembuatan magnet komposit dilakukan dengan cara mencampurkan bahan-bahan dalam suatu wadah dalam bentuk cairan. Lagi pula serbuk-serbuk tersebut masih terlampau kasar untuk dapat dicampur secara baik dengan bagian-bagian karet. bahan pengisi dan lainnya tidak dapat ditambahkan begitu saja pada lateks. Dalam pembuatan dispersi juga diperlukan bahan pembantu yang berupa bahan pendispersi (dispersing agent) dan air.18 C. Kemudian disaring untuk memperoleh tingkat kehalusan yang merata. pencampuran. Pembuatan Magnet Komposit Untuk pembuatan magnet komposit digunakan lateks pekat yang diperoleh dari Perkebunan Karet Getas Kecil di Boja Kendal. Untuk membuat dispersi bahan-bahan yang masih kasar dihaluskan dengan mortal. belerang. Untuk serbuk barium ferit dilakukan penyaringan dengan saringan ukuran 400 mesh dan untuk bahan-bahan pembantu lainya disaring dengan saringan 150 mesh. Dalam pembuatan komposit ini melalui beberapa tahap. a. yaitu: pembuatan dispersi dan emulsi.

terlebih dahulu lateksnya harus dibuat stabil (mantap) untuk mencegah pengendapan (koagulasi) sebelum waktunya. Amonium khlorida dengan kadar 20% ini selain untuk memepercepat koagulasi juga bertujuan untuk membuat karet peka terhadap panas. Dimana garam amonium ini akan bereaksi dengan seng oksida. Untuk komposisi dari masingmasing bahan dapat dilihat dalam Lampiran 1. Tetapi. Pencampuran Setelah persiapan bahan selesai. kemudian dilakukan pembuatan kompon karet terlebih dahulu. . b.19 dalam wadah dan kemudian diaduk sampai rata. Dispersi-dispersi dan emulsi-emulsi yang telah dibuat ditambahkan pada lateks dalam wadah pencampuran dalam jumlah-jumlah yang telah ditentukan dalam komposisi. campuran tersebut dibuat membeku (berkoagulasi) dengan cara ditambahkan asam format dan ditambahkan amonium khlorida pada campuran. Jika semua bahan telah tercampur merata. Sehingga pada proses vulkanisasi dengan suhu yang tidak begitu panas kompon telah mengeras. Untuk menstabilkan lateksnya dapat ditambah amoniak. bahan pencepat. yaitu: pertama bahan-bahan vulkanisasi (disperse-dispersi seng oksida. dan belerang) kemudian ditambahkan bahan pelunak. Setelah diperoleh campuran kompon. kemudian kompon tersebut dimasukkan ke dalam dispersi barium ferit dan diaduk. Untuk proses pencampuran dipakai satu urutan.

Komposisi Bahan (%) Kompon karet Barium ferrit Komposisi A 15 85 Komposisi B 20 80 Komposisi C Komposisi D 30 70 40 60 .20 Tabel 3. Komposisi campuran bahan pembuat kompon karet.1. 70%. maka dalam penelitian ini dipergunakan 4 komposisi magnet komposit yang berbeda komposisinya. Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan dari polimer untuk mengikat bahan pengisi (heksaferit) dan masih memiliki sifat mekanik yang masih baik. Maka variasi yang pada kandungan heksaferitnya. 80% dan 85% berat. yaitu 60%.5 2 1.5 5 Untuk menentukan sifat mekanik maupun magnetnya. Penambahan bahan pelembek tersebut bertujuan untuk mempertahankan kelenturan dari magnet komposit Tabel 3. Komposisi (phr) Lateks pekat ZnO Asam stearat CBS Sulfur Pelembek Jumlah (gram) 100 5 2.2. Komposisi campuran untuk magnet komposit. yaitu masih elastis tidak mudah patah.

Vulkanisasi Setelah proses pencampuran dan dihasilkan kompon kemudian dilakukan proses vulkanisasi untuk mematangkan kompon tersebut. dengan tensilmeter ini dapat diketahui kekuatan tarik (tensile strength). Setelah itu magnet komposit dicuci dengan air bersih dan dikeringkan. Sebelum kita lakukan pengujian. kita ukur dulu lebar dan tebal potongan uji tadi dengan mikrometer atau jangka sorong. Pada jarak tertentu (20 mm) pada potongan uji dibuat garis-garis dengan tinta. Untuk pengujian. bentuk sampel dibuat berbentuk seperti dayung atau yang sering disebut bentuk halter. Selanjutnya potongan uji dijepitkan pada alat tensilmeter. kemudian baru dilakukan vulkanisasi. Dalam proses ini dilakukan dua kali proses pemanasan. pertama dilakukan pemanasan pada suhu sekitar 600 C sampai 700 C selama 30 menit. tegangan luluh (yield strength) serta % perpanjangan putus (% Elongation Break). Pada pengujian kekuatan tarik digunakan alat tensilmeter. Kemudian komposit dikeluarkan dari cetakan dan dimasukkan ke dalam air hangat.21 c. . Pengujian Mekanik Dalam pengujian ini kita akan melakukan uji kekuatan tarik dan kekerasan dari magnet komposit untuk mengetahui sifat mekaniknya. 2. tindakan ini bertujuan untuk mengeluarkan serum yang ada dalam magnet komposit. Suhu yang digunakan sekitar 1200 C selama 30 menit.

dan jarak antar garis yang telah dibuat akan menjadi lebih besar.22 Pada waktu dilaksanakan pengujian terhadap potongan uji itu dengan pembebanan. Biasanya regangan ini dinyatakan dalam % terhadap jarak semula dua garis tersebut. Besarnya kekuatan tarik dapat dibaca pada alat tensilmeter. maka kekuatan tarik itu harus dinyatakan dalam kg/cm2 dari potongan uji semula. Sedangkan untuk penentuan perpanjangan putus dapat dihitung sesuai dengan persamaan sebagai berikut: L1 – L0 EB = L0 Dimana: EB = Perpanjangan putus (%) L0 = Panjang asal potongan uji antara dua garis (cm) L1 = Panjang potongan uji antar dua tanda garis pada waktu putus (cm) Untuk mempermudah pengamatan kita dapat menggunakan tabel pengamatan sebagai berikut: x 100 % … (4) . Dengan demikian untuk tiaptiap regangan potongan uji dapat ditentukan kekuatan tariknya. dapat ditentukan berapa besarnya regangan yang terjadi pada penarikan tertentu. Dengan menentukan bertambahnya besar jarak tadi. maka potongan uji akan merentang. Karena lembaran karet yang diuji berbeda-beda. Pembebanan atau penarikan ini dilakukan sampai potongan uji putus.

Sebagai reaksi dari benda uji menekan balik pada jarum. Alat yang digunakan adalah Permagraph. nilai energi produk maksimum (BH max) serta koersivitas intrinsik bahan barium ferit (Hci) yang merupakan . Reaksi tersebut dikonversi ke jarum penunjuk skala. 3. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali pada titik yang berbeda. Data pengujian mekanik dengan tensilmeter Sampel Tebal Lebar (cm) (cm) TS M 100 % (kg/cm2) (kg/cm2) M 200 % M 300 % (kg/cm2) (kg/cm2) M 400 % (kg/cm2) EB (%) A B C D Sedangkan uji kekerasan digunakan alat hardness tester untuk karet dengan menggunakan metode shore A (durometer). Dari kurva histerisis tersebut dapat diketahui nilai-nilai besaran tertentu yaitu nilai induksi Remanen (Br). dan jarum tersebut menekan kembali kedalam alat pengukur. Pengujian dilakukan dengan menempelkan jarum durometer yang dibebani dengan tekanan pegas pada permukaan benda uji. Karakteristik Magnetik Untuk mengkarakteristik magnetnya maka kita akan melakukan magnetisasi dari magnet komposit yang dibuat untuk menyearahkan domainnya. 3. Sehingga kita dapat mengetahuinya karakteristik megnetiknya dari kurva histerisis yang dihasilkan dari sample tersebut. nilai koorsifitasnya (Hc).23 Tabel 3. dimana data yang diperoleh dari alat ini berupa kurva histerisis.

1. Bagan Proses Pembuatan Magnet Komposit .1.24 besarnya medan luar balik yang mengakibatkan magnetisasinya menjadi nol. PROSES PEMBUATAN MAGNET KOMPOSIT Getah karet Pembuatan disperse dan emulsi bahan tambahan Lateks Pencampuran lateks + Bahan Tambahan Vulkanisasi Magnet komposit Pengujian Magnetik Pengujian Mekanik Magnet komposit yang telah terkarakterisasi Gambar 3. Proses pembuatan komposit magnet digambarkan pada suatu diagram seperti ditunjukkan oleh Gambar 3. Dengan melihat besaran-besaran tersebut akan terlihat karakteristik dari magnet kompon yang dihasilkan.

Untuk setiap sampelnya dibuat dengan ukuran kurang lebih 2 x 2 cm.1.25 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Permukaan atas sampel magnet komposit(BaO 6Fe2O3) 85 %. Sedangkan untuk pengujian tariknya sampel dipotong dengan ukuran 12 x 3. Gambar 4. Kemudian sampel ditimbang dan dihitung kerapataannya (ρ). Untuk pengujian sifat magnetnya kita buat dua sampel dari lembaran tersebut. dihasilkan berupa lembaran magnet komposit dengan tebal kira-kira 2 mm. magnet komposit yang divulkanisasi pada suhu sekitar 120 oC dengan menggunakan peralatan vulkanisasi yang ada (dapat dilihat dalam Lampiran 1). Dari segi fisik. dari masing komposisi komposit. diperoleh magnet komposit dengan permukaan yang halus pada 25 . Deskripsi Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan.5 yang nantinya akan dipotong lagi dalam bentuk halter (dayung) dengan ukuran yang telah ditentukan.

1. Walaupun pada cetakan (dari alumunium) sudah dilumuri dengan bahan anti lekat (emulsi minyak silikon). Sifat Kemagnetan Magnet Komposit Sifat kemagnetan dari magnet komposit dapat diketahui dengan alat permagraf yang ada di Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) LIPI Bandung. terjadi perbedaan nilai pengukuran untuk parameter kemagnetan dalam satu komposisi. Hal ini terjadi pada saat pemadatan (koagulasi) secara cepat dengan menambahkan asam format pada campuran komposit yang telah tercampur homogen pada waktu pembuatan.26 permukanan bawah.1. Kemudian dilakukan dengan pemanasan dengan suhu sekitar 140 oC.9. sedangkan permukaan atasnya kasar seperti yang terlihat pada Gambar 4. Selain itu. Selain itu pada permukaannya juga muncul bercakbercak putih yang disebabkan oleh bahan asam stearat yang belum beraksi kedalam karet. Untuk kandungan serbuk barium ferit yang semakin meninggkat di dalam magnet komposit menyebabkan . Dari kurva histerisis tersebut dapat diperoleh data seperti Tabel 4. dapat dilihat. hal ini dikarenakan tidak meratanya sebaran serbuk barium ferit di dalam magnet komposit.1. Karakterisasi Hasil Penelitian a. B. sehingga pada bagian atas permukaan ada karet yang lengket pada permukaan. Hal ini disebabkan panas yang tidak merata pada cetakan. Dari Tabel 4. ternyata bercak-bercak putih tersebut sudah hilang. Kurangnya penekanan pada waktu proses vulkanisasi. jika dipotong melintang dan dilihat bagian tengahnya kadang ditemukan ronggga udara. Dengan alat ini diperoleh data berupa kurva histerisis yang dapat dilihat dalam Lampiran 2 . juga dapat mengakibatkan munculnya rongga udara tersebut.

245 0.39 0.597 1.177 BHmaks (MGOe) 0. Karena nilai Hc menyatakan besarnya medan magnet balik yang dibutuhkan untuk menghilangkan kemagnetan dari bahan komposit tersebut. yaitu nilai remanensi (Br) yang menunjukan kekuatan magnet dari magnet komposit yang dihasilkan.288 0.638 1.673 1.03 0.168 0. Dengan meningkatnya kandungan serbuk magnet nilai remanensinya juga semakin meningkat.02 < 10 -3 < 10 -3 B2 B C1 C2 D1 D2 Sedangkan untuk nilai Hci menujukan harga yang hampir sama walaupun kadar serbuk magnet meningkat komposisinya.349 0. Tabel 4. Seiring dengan meningkatnya nilai remanensi.04 0.365 0. karena nilai Hci tersebut .27 sifat magnet yang semakin meningkat.393 0. nilai koersivitasnya (Hc) juga ikut naik.630 1. makin besar pula sisa magnet yang ditinggalkan.06 0. Makin banyak elemen pembentuknya.755 Hc (kOe) 0. Sifat magnetik magnet komposit dari bahan magnet BaO.22 0.6Fe2O3 dengan bahan pengikat karet alam pada berbagai komposisi bahan Jenis Sampel Komposit 85% BaM Komposit 80% BaM Komposit 70% BaM Komposit 60% BaM A1 A2 B1 B Br (kG) 0.03 0.45 0.40 0.469 0.660 1.708 1. Hal ini dikarenakan tinggi rendahnya nilai induksi remanen bergantung pada kontribusi magnetik dari setiap elemen pembentuknya (domain).03 0.54 0.653 1. Hal ini ditunjukan semakin meingkatnya harga dari parameter-parameter kemagnetan dari magnet kompositnya.29 0.21 Hci (kOe) 1.1.35 0.

3 0. Dengan nilai BHmaks terbesar dimiliki oleh magnet dengan komposisi serbuk barium ferit 85% sebesar sekitar 0.5 0.6 0. sehingga semakin kecil pula produk energinya. sehingga semakin besar pula produk energinya. Pengaruh kenaikkan kadar barium ferit dalam komposisi magnet komposit terhadap sifat kemagnetannya dapat dilihat dalam bentuk grafik (Gambar 4. Nilai BHmaks yang dihasilkan dari komposisi magnet komposit yang dibuat memang tidak berbeda jauh. maka gaya koersivitas dan kurva histeresis semakin kurus. dan terendah pada komposisi serbuk barium ferit 60%. semakin rendah remanensi. maka gaya koersif makin besar dan kurva histeresis semakin gemuk.4 0. Makin tinggi remanensi.2 0.2.28 menggambarkan sifat intrinsik yang dimiliki oleh serbuk barium ferit.05 MGOe. Namun magnet komposit . Nilai produk energi maksimum (BHmax) dari magnet tersebut dapat diperoleh dari nilai maksimal hasil perkalian antara B dan H pada kuadran kedua kurva histeresis. Begitu pula sebaliknya. Hubungan antara kadar Ba dalam komposisi magnet komposit dengan parameter kemagnetan.1 0 55 60 65 70 75 80 85 90 Br Hc BH max Kadar Ba dalam komposisi Gambar 4. Pada komposisi ini nilai BHmaks tidak dapat terukur karena nilainya sangat kecil.2) sebagai berikut: Parameter kemagnetan 0.

sampel divulkanisasi pada suhu sekitar 120 oC selama 30 menit.58 18. Sifat mekanik komposit dari bahan magnet BaO.2.6Fe2O3 dengan bahan pengikat karet alam pada berbagai komposisi bahan. Jadi sifat mekanik yang diperoleh untuk mangnet komposit berbasis karet alam dengan serbuk barium ferit hanya mempunyai kekuatan tarik (tensile strength) dan perpanjangan putus (Elongation Break).29 dengan komposisi ini masih bisa menjadi magnet. maka akan meningkatkan modulus elastiknya saja. Untuk kekuatan tarik dari . di bawah ini: Tabel 4.56 27.43 EB (%) 100 300 650 550 Kekerasan (SHA) 90 68 54 48 TS = tensile strength (Kekuatan tarik) EB = Elongation Break (perpanjangan putus) Sifat mekanik komposit sangat dipengaruhi oleh sifat fisik dan mekanik bahan penyusunnya. Hasil pengujian sifat mekanik dari magnet komposit antara barium ferit dengan karet alam dalam beberapa komposisi ditunjukkan pada Tabel 4. Jenis Sampel Komposit 85% BaM Komposit 80% BaM Komposit 70% BaM Komposit 60% BaM Keterangan: TS (Kg/cm2) 18. hal ini dapat dilihat juga dalam tabel 4. Karena dalam penelitian ini menggunakan karet alam yang merupakan bahan elastomer yaitu bahan polimer yang mempunyai deformasi elastik yang besar.2) . Sifat Mekanik Magnet Komposit Untuk pengujian mekanik. b.62 16.21 kG. Dimana jika sebuah elastomer (karet) dikenai deformasi (gaya tarik). Hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran yang dibuat grafik (Gambar 4.1 masih memiliki nilai remanensi (Br) sekitar 0.2.

Tegangan (kg/cm2) 30 25 20 15 10 5 0 0 100 200 300 400 500 600 700 BrM 80% BrM 70% BrM 60% Regangan (%) Gambar 4. sifat mekanik juga dipengaruhi oleh faktor vulkanisasi dari magnet komposit.3. sedangkan untuk perpanjangan putusnya juga mengikuti pola dari kekuatan tarik. Hal tersebut menunjukan bahwa dengan bertambahnya komposisi dari barium ferit menyebabkan sifat komposit magnet yang dihasilkan bersifat getas dan keras.30 magnet komposit meningkat dengan bertambahnya komposisi dari barium ferit sampai kadar barium ferit 70% namun kemudian turun kembali pada kadar barium ferit 80%. yaitu sesuai dengan parameter-parameter vulkanisasi dari magnet komposit tersebut maka akan diperoleh sifat mekanik yang optimal. Hubungan antara tegangan dengan regangan magnet komposit untuk beberapa komposisi Selain dipengaruhi bahan penyusunnya. 1998) . Salah satu cara untuk memperbaiki sifat mekanik dari magnet komposit ini. Parameter-parameter vulkanisasi dapat diketahui dengan mengunakan alat rheometer. Bila dilakukan vulkanisasi yang tepat. Untuk sifat kekerasannya juga meningkat seiring dengan bertambahnya serbuk barium ferit dalam komposit. dapat dilakukan dengan cara menambahkan karet sintetik kedalam campuran (Saleh.

Sedangkan untuk sifat kemagnetannya paling baik dimiliki oleh magnet komposit dengan komposisi barium ferit 85 %. Untuk mengolah karet alam (lateks) menjadi magnet komposit.62 Kg/cm2 dan 650 %. Sifat mekaniknya sangat dipengaruhi oleh kadar karet alam. dengan proses pencampuran dalam kondisi cair. Karakteristik magnet komposit yang dihasilkan tergantung pada bahan-bahan penyusunnya. 31 . Dengan serbuk Ba Ferit berukuran lolos saringan 400 mesh sifat mekanik yang paling baik dimiliki oleh magnet komposit dengan komposisi barium ferit 70 %.05 MGOe. metode yang paling sesuai adalah metode kompon. sedangkan sifat kemagnetannya tergantung pada jumlah serbuk barium ferit dalam magnet komposit. Maka dalam penelitian ini magnet komposit yang dianggap optimum adalah dengan komposisi 80 % Barium ferit dan 20 % kompon karet. 2. Kesimpulan Penelitian dan karakterisasi yang telah dilakukan. yaitu: kekutan tarik dan perpanjangan putus paling tinggi sebesar 27. Bahan karet alam sangat efektif digunakan sebagai komponen pengikat dalam pembuatan magnet komposit. maka dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut: 1.31 BAB V PENUTUP A. 3. besar energi produknya yaitu sekitar 0.

untuk memperbaiki sifat mekaniknya dapat juga dilakukan dengan pencampuran antara karet alam dengan karet sintetik sebagai bindernya. . Selain hal tersebut. Saran Untuk penelitian lebih lanjut agar diperoleh hasil yang lebih maksimal dalam pembuatan magnet komposit dengan metode ini dapat dilakukan dengan menentukan parameter-parameter vulkanisasi dengan menggunakan Rheometer dan perbaikan pada proses vulkanisasinya sehingga dapat diperoleh sifat mekanik yang optimal dari magnet komposit yang dihasilkan. maka jumlah fraksi antara karet alam dengan serbuk barium ferit harus diperhitungkan lebih teliti.32 B. Sedangkan untuk memperoleh sifat magnet yang optimal.

Modern Ferrite Technology. Sopyan. Jakarta: KINTA. Serpong: Teknik Kimia . 1985. hal. Mujamilah dan Gunawam . 2002. Pembuatan Magnet Permanen Ferit untuk Flow meter. S. Rusli. Penuntun Praktis Untuk Pembuatan Barang-Barang Dari Karet. 2002. Departemen Pendidikan Nasional. Febrianty. N dan Dedi. S. Sudirman. Jurnal Sains Materi Indonesia. ITB Bandung. A. Vol. R. Ridwan. Pembuatan Serbuk Barium Ferrit Dengan Bahan Dasar Pasir Besi Pantai Bayuran Jepara Jawa Tengah Dan Karakteristik Sifat Magnetik. 2001. B. Saher.: Yogyakarta: HFI. Saleh.ITI Goldman. 2001..K. Material/Elektronik.34-38. Sintesis dan Karakterisasi Magnet Komposit Heksaferit Dengan Matriks ETP dan EVA. Prihatin. 2000. Semarang.E. 2003.2 .A5 No. Vol. Van Nostrand Reinhold. 33 ..J.2 . dan Polimer/Keramik). Stevens. P. 2005.. Hadi. dan Christy. York New Idayanti.1-5. 1998. 1993. Jurnal Fisika HFI vol. F. 3 No. Jakarta: Pradniya Paramita. 2002.. Silviani. H. Petunjuk Pembuatan Barang Dari Karet Alam. Reitz. 2002. Kimia Polimer. Jurnal Sains Materi Indonesia. 3 No. B.W. 1990.R. Ridwan. Tangerang: Himpunan Fisika Indonesia. Aplikasi Bonded Magnet MQP-O Pada Motor Listrik Arus Searah.V. M. Mekanika Setruktur Komposit. Karakteristik Fisika Kompon Karet (Kumpulan Makalah Fisika Zat Padat. D.0528. F. Milford. hal.K. Budiman. Bandung.33 DAFTAR PUSTAKA Balai Penelitian Perkebunan Bogor dan Rubber Stichting Amsterdam. Jakarta: KINTA. Studi Elastoferit Berbasis Etil Vinil Asetat (EVA) dan Elastomer Termoplastik (ETP) dan Pengujian Sifat Mekanik. Mujalimah. UNNES Semarang. Strukturmikro dan Magnetiknya. 1983. J. I. E. Putri. Dasar Teori Listrik Maagnet.

T. Yulianti. Terjemahan Sriati Djaprie. Pengetahuan Bahan Teknik. Ridwan. 2000. fisika untuk sains dan teknik jilid 1 (alih bahasa: Lea Prasetio dan Rahman W.A. 2002... Listiana. 2002. Jakarta: Erlanggga.2 . Jakarta: Pradniya Paramita. Vol. 1998. 3 No. H. Met. Sudirman. Yogyakarta: BATAN Vlack. 2002. Tipler. V. Adi). Sifat Mekanik Magnet Komposit Berbasis Serbuk Magnet MPQ-O dan Polimer Termoplastik. Jurnal Sains Materi Indonesia. P. E. Ilmu dan Teknologi Bahan (Ilmu Logam dan Bukan Logam) Edisi Kelima. S. Tim Penyusun. Saito. Erlangga: Jakarta. Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Bahan. L. hal. 1994.34 Surdia.16-19.. D. . E. Jurnal Sains Material Indonesia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful