PESAN SEKRETARIS JENDERAL PBB PADA PERINGATAN HARI HABITAT DUNIA 1 OKTOBER 2012

Saat ini setengah dari penduduk dunia tinggal di perkotaan dan diperkirakan hanya dalam waktu kurang lebih satu generasi, jumlah ini akan meningkat menjadi dua pertiga dengan meningkatnya proporsi penduduk dunia di perkotaan, maka semakin meningkat kebutuhan Ban Ki-Moon untuk memperkuat upaya Sekretaris Jenderal PBB mengatasi masalah-masalah perkotaan terutama yang berkaitan dengan penurunan kemiskinan global dan perwujudan pembangunan berkelanjutan. Dari kebutuhan menjadi peluang. Kota dengan perencanaan dan fungsi yang baik dapat mengarahkan kita menuju masa depan yang kita inginkan yaitu kota dimana setiap penduduk dapat memiliki hunian layak dengan sarana air, sanitasi, kesehatan, dan fasilitas lain yang memadai; kota yang menyediakan pendidikan berkualitas dan lapangan pekerjaan; kota dengan bangunan serta sistem transportasi publik yang hemat energi; dan juga kota dimana semua penduduknya merasa memiliki. Keberhasilan dalam mengelola pembangunan perkotaan dapat kita jumpai dari banyak wilayah di dunia – dan tentu kita dapat belajar dari contoh yang ada. Namun tampaknya ide perkotaan yang berkelanjutan dan inklusif ini tidak begitu mudah untuk direalisasikan. Daerah perkotaan umumnya masih menghadapi masalah sampah dan polusi. Banyak pula yang kondisinya rawan terhadap bencana, termasuk rawan terhadap pengaruh dari perubahan iklim yang ada. Sebagai tambahan, meskipun kita sudah mencapai Target MDG ‘memperbaiki kehidupan minimal 100 juta penghuni permukiman kumuh’ pada 10 tahun sebelum batas waktu 2020, jumlah penghuni permukiman kumuh tetap bertambah. Hampir seperempat penduduk perkotaan – lebih dari 850 juta orang – tinggal di permukiman kumuh atau permukiman informal. Sembilan puluh persen dari perluasan perkotaan dunia terjadi di negara berkembang. Penting untuk dicermati bahwa mayoritas penduduk perkotaan tersebut adalah kelompok pemuda (youth) – pada tahun 2030, diperkirakan sekitar 60% penduduk perkotaan berumur dibawah (bersambung ke hal.2)

Buletin

Edisi Khusus/Oktober 2012

Seknas Habitat
MENUJU PERMUKIMAN TANPA KUMUH 2020
Panitia Nasional Peringatan Hari Habitat Dunia 2012 memilih tema nasional ‘Menuju Permukiman Tanpa Kumuh 2020’ mengingat bahwa salah tujuan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2025 adalah mencapai kota tanpa kumuh. Oleh Lana Winayanti*

B

apak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat memikirkan kondisi masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh, sehingga mendorong pencapaian dipercepat ke tahun 2020, sesuai dengan target Millenium Development Goals (MDGs). Meskipun berbeda dengan tema yang ditetapkan UN-Habitat ‘Changing Cities, Building Opportunities’ (Membangun Peluang dalam Perubahan Kota) namun esensinya tetap mendukung. PBB menetapkan setiap Senin pertama bulan Oktober diperingati sebagai Hari Habitat Dunia. Tahun ini Hari Habitat Dunia jatuh pada 1 Oktober 2012. Tujuan Hari Habitat Dunia adalah merefleksikan kondisi permukiman dan hak dasar manusia akan hunian layak, serta mengingatkan dunia akan tanggung jawab bersama untuk masa depan habitat manusia. Tantangan utama yang dihadapi kota-kota di seluruh dunia adalah pengangguran, terutama di kalangan pemuda; ketidakadilan sosial dan ekonomi; pola konsumsi energi yang tidak berkelanjutan; urban sprawl; jasa pelayanan perkotaan yang kurang memadai, terutama air bersih, sanitasi dan energi; sistem mobilitas yang buruk, serta meningkatnya emisi gas rumah kaca. Urbanisasi dapat dilihat sebagai instrumen yang kuat untuk mengubah kapasitas produksi dan tingkat penghasilan di negara-negara berkembang. Hal ini memerlukan perubahan paradigma di tingkat pengambil kebijakan. Urbanisasi tidak dilihat sebagai masalah, tapi justru sebagai alat untuk pembangunan. Demikian pula di permukiman kumuh – saat ini kebanyakan pengelola kota masih melihat permukiman kumuh sebagai masalah yang harus ditangani secara fisik. Bagaimana merubah persepsi ini agar permukiman kumuh, terutama penghuninya, dapat dilihat sebagai peluang untuk pembangunan kota? Menurut Direktur Eksekutif UN-Habitat, Dr. Joan Clos kota abad 21 perlu menjadi kota yang ‘pintar’; kota yang fokus pada manusia, dan dapat memadukan berbagai aspek kesejahteraan, serta menghilangkan kebiasaan yang tidak efisien dan tidak berkelanjutan yang banyak dilakukan di abad 20. Saatnya kita melakukan perubahan kota dan membangun peluang. Keterpaduan antara urbanisasi dan pembangunan dapat meningkatkan kualitas kehidupan jutaan warga kota. Namun, hal ini memerlukan peru-bahan paradigma dan kajian kembali atas pembangunan (bersambung ke hal.2)
*) Ketua Harian Seknas Habitat

2012 - Sekretariat Nasional Habitat Indonesia

1

Hari Habitat Dunia 2012/World Habitat Day 2012

18 tahun. Untuk itu, sangatlah penting menyiapkan lapangan pekerjaan serta pendidikan berkualitas bagi kelompok muda tersebut. Hasil Konferensi Rio+20 tentang pembangunan berkelanjutan tahun ini mengakui pentingnya peran perkotaan dalam mewujudkan masyarakat berkelanjutan, baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. Konferensi tersebut juga menekankan pentingnya kemitraan global untuk mengimplementasikan Agenda Habitat serta menggarisbawahi urgensi pemerintah daerah dalam menetapkan sebuah visi untuk kota berkelanjutan, mulai dari perencanaan kawasan permukiman baru hingga merevitalisasi kota dan kawasan perkotaan tua. Pada Hari Habitat Dunia ini, marilah kita memantapkan komitmen untuk bekerjasama dalam pengelolaan lingkungan perkotaan yang terpadu dan menyeluruh, demi kelangsungan hidup seluruh penduduk dan bumi ini. 
(sambungan dari hal.1)

perkotaan yang biasa dilakukan selama ini. Di tingkat nasional sudah dibentuk Kelompok Kerja Perumahan dan Kawasan Permukiman (Pokja PKP) untuk memadukan berbagai kebijakan dan program instansi terkait. Salah satu isu strategis dari Pokja PKP adalah penanganan permukiman kumuh. Diharapkan Pokja PKP melalui proyek Slum Alleviation Policy and Action Plan (Sapola) yang didanai Cities Alliance/ The World Bank dapat mendorong kebijakan dan strategi nasional untuk penanganan permukiman kumuh, yang dapat menjadi acuan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Beberapa kota di Indonesia sedang dalam proses menuju kota tanpa kumuh, di antaranya Surabaya, kota yang menjadi tuan rumah peringatan Hari Habitat Dunia 2012. Surabaya mempunyai banyak keberhasilan dalam penanganan permukiman kumuh, diawali dengan Kampung Improvement Program (KIP) yang secara kontinu dilaksanakan dan dilengkapi dengan komponen security of tenure dan peningkatan kesejahteraan masyarakat; program Clean and Green, yang mendorong partisipasi warga dalam kebersihan dan penghijauan lingkungan perumahannya, termasuk penerapan konsep 3R – reduce, re-use dan recycle. 
(sambungan dari hal.1)

Pra Seminar ‘Penanganan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kumuh’
Pra Seminar Nasional ‘Penanganan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kumuh’ telah diselenggarakan pada 18-19 September 2012 di Jakarta dengan dihadiri berbagai pemangku kepentingan bidang permukiman dari kalangan pemerintah (pusat dan daerah), akademisi dan LSM. Saat ini, penanganan kawasan dan permukiman kumuh memiliki payung hukum yang jelas, sesuai dengan Pasal 94-104 UU Nomor 1 Tahun 2011, maka regulasi yang dikeluarkan setidaknya mencakup dua aspek kebijakan. Pertama, aspek pencegahan dan peningkatan kualitas. Jika diuraikan, dibutuhkan enam regulasi berkaitan dengan masalah permukiman kumuh, di antaranya regulasi tentang pengawasan dan pengendalian dan regulasi tentang pemberdayaan masyarakat. Kedua, peningkatan kualitas (slum upgrading) meliputi regulasi tentang pemugaran, peremajaan, pemukiman kembali dan regulasi tentang pengelolaan. Permasalahannya kemudian adalah bagaimana menerjemahkan keseluruhan regulasi tersebut secara tepat agar terjadi akselerasi untuk mencapai target 2020? Peserta seminar menyepakati bahwa pada dasarnya ukuran atau indikator kekumuhan bukan merupakan hal baru dan harus didefinisikan kembali. Yang perlu dilakukan adalah penyepakatan terhadap ukuran atau indikator kumuh yang selama ini telah digunakan, sehingga ada satu indikator yang sama untuk menentukan kawasan kumuh. Hal tersebut merupakan langkah awal yang akan berdampak besar terhadap penyediaan data terkait untuk mendukung perumusan kebijakan penanganan perumahan dan permukiman kumuh. Peserta pra seminar merumuskan indikator umum yakni rumah yang tidak permanen dan tidak sehat, area huni yang tidak layak, sehingga lebih dari tiga orang yang berbagi kamar, kepadatan lingkungan yang tidak wajar, air bersih yang tidak mencukupi, akses ke sanitasi yang layak, kepemilikan/penggunaan lahan yang aman dan tidak rawan penggusuran (security of tenure).
2 Sekretariat Nasional Habitat Indonesia - 2012

Hambatan dalam penanganan kumuh antara lain: a) Ketersediaan basis data yang kurang memadai; b) Tata laksana kerja yang belum terkoordinasi dengan baik, baik di internal pemerintah maupun dengan semua pelaku; c) Belum adanya program penanganan kumuh yang terintegrasi dengan program atau rencana aksi nasional; d) Kebijakan dan strategi pertanahan yang kurang mendukung; e) Sulitnya menahan arus migrasi ke wilayah perkotaan; f) Sulitnya menjaga keberlanjutan dari program-program penanganan perumahan dan permukiman kumuh yang dilakukan oleh berbagai stakeholders. Hasil pra seminar menyepakati dua strategi dan pendekatan. Pertama, kebijakan, strategi dan pengembangan sistem dalam penanganan kumuh berbasis pendekatan skala kota (city-wide approach). Kedua, pembahasan mengenai pendekatan berbasis hak dasar (right-based approach) atau mengenai pemberdayaan masyarakat dan keamanan bermukim. Berdasarkan strategi dan pendekatan di atas, peserta menyepakati tiga isu bahasan penting dalam memandang permasalahan permukiman kumuh. Pertama, strategi dan kelembagaan penanganan permukiman kumuh. Kedua, pemberdayaan masyarakat dan ketiga tentang keamanan bermukim (security of tenure). Untuk itu diperlukan perubahan paradigma dan arah kebijakan yang terkait dengan sense of crisis kondisi permukiman kumuh, pemenuhan hak-hak dasar manusia, integrasi kebijakan perumahan dengan pengembangan perkotaan dan evaluasi kebijakan penanganan kumuh dalam konteks perkotaan dan pembangunan perumahan. Hasil pra seminar dilanjutkan dengan seminar nasional pada 1 Oktober 2012 di Jakarta. Serangkaian pertemuan akan dilaksanakan dengan pemangku kepentingan untuk memantapkan rencana kerja dalam mencapai Permukiman Tanpa Kumuh 2020. 

WORLD URBAN FORUM 6: The Urban Future

WORLD URBAN FORUM 6: The Urban Future
buku, dan pameran yang berlangsung paralel. Pertemuan ini tidak menghasilkan dokumen resmi, namun ada beberapa pesan kunci yang disampaikan Tim Pengarah WUF6 pada penutupan forum, diantaranya: 1. Perlunya penguatan pendekatan peran-serta (participatory approach) dalam proses pembangunan kota untuk memastikan adanya rasa kepemilikan (inclusive ownership); 2. UN-Habitat tetap menjadi lead agency dalam menghasilkan data perkotaan bagi sistem PBB; 3. Kebijakan Kota Nasional (National Urban Policy) harus menjadi alat bagi peningkatan kondisi perkotaan dan persiapan kota menghadapi tantangan ke depan; 4. Kerangka peraturan dan hukum yang ditujukan untuk meningkatkan akses penduduk miskin kota terhadap tanah, perlu dilandaskan pemahaman bagaimana kota dan pasar tanah berfungsi; 5. Teknologi komunikasi dan informasi (ICT) mempunyai peran penting memperkuat upaya menjangkau masyarakat lebih luas dan meningkatkan kesadaran, mendorong keterlibatan dan kerjasama antar pemangku kepentingan bidang permukiman. 6. Perlunya sesi bersama antara Menteri dan Walikota pada pertemuan WUF mendatang; dan 7. Usulan penyelenggaraan Hari Kota Sedunia (World Cities Day). Hal ini akan dibahas pada Governing Council UN-Habitat ke-24 bulan April 2013, dan bila disetujui akan disampaikan pada Sidang Majelis Umum PBB. Interaksi pemangku kepentingan dan peluang pembelajaran bagi masyarakat tentang isu permukiman dalam acara seperti WUF, kiranya dapat ditiru Indonesia dalam penyelenggaraan peringatan Hari Habitat Dunia di tahun-tahun mendatang.

UN-Habitat bekerjasama dengan pemerintah kota Napoli, Itali menyelenggarakan World Urban Forum ke-6 (WUF6) pada tanggal 1-6 September 2012. Pertemuan ini dihadiri sekitar 8.000 peserta dari 152 negara, dari berbagai unsur – pemerintah pusat, pemerintah daerah, parlemen, akademisi, LSM, swasta dan pemuda. Delegasi Indonesia juga hadir dalam pertemuan ini dipimpin oleh Dubes RI di Nairobi dengan anggota dari Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perumahan Rakyat/Sekretariat Nasional Habitat. WUF6 mengambil tema The Urban Future, yang membahas isu-isu dan tantangan urbanisasi. Hal ini mengingat bahwa saat ini lebih dari setengah penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan dan lebih dari satu milyar penduduk dunia tinggal di permukiman kumuh. UN-Habitat memandang penting berbagai upaya melalui pelibatan berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi meningkatnya urbanisasi kemiskinan. Hal ini juga memerlukan perubahan paradigma dalam melihat urbanisasi justru sebagai peluang pembangunan dan bukan sebagai masalah. Rangkaian kegiatan WUF6 terdiri atas sesi dialog, sesi khusus, pertemuan tingkat Menteri, pertemuan pemangku kepentingan (parlemen, walikota, peneliti, sidang gender, kelompok pemuda), pelatihan, pertemuan jejaring kerja (networking), peluncuran

Kalender Hari Habitat Dunia 2012
Selasa – Rabu, 18 – 19 September Pra Seminar Nasional: ‘Penanganan Perumahan dan Permukiman Kumuh’ di Putri Duyung Ancol, Jakarta Senin, 1 Oktober Audiensi kepada Wakil Preseden Republik Indonesia sebagai Puncak Peringatan Hari Habitat Dunia 2012 di Istana Wakil Presiden, Jakarta Seminar Nasional: ‘Percepatan Penanganan Perumahan dan Permukiman Kumuh Menuju Kota-Kota Tanpa Kumuh 2020’ di Hotel Millenium, Jakarta Selasa – Rabu, 2 – 3 Oktober Workshop Percepatan Pembangunan Sanitasi Perkotaan di Gedung SDA, Kementerian Pekerjaan Umum Kamis, 4 Oktober Workshop Persampahan Perkotaan di Hotel Century, Jakarta Sabtu, 6 Oktober Peringatan Hari Habitat Dunia 2012 di Boezem Morokerembangan, Surabaya Sarasehan Nasional ‘Penanganan Permukiman Kumuh secara Terpadu’ disertai Peluncuran Buku di Ruang Pola Bappeko, Surabaya Sabtu – Minggu, 6 -7 Oktober 2012 Pameran Hari Habitat Dunia di Balai Kota Surabaya Minggu, 7 Oktober Fun Bike dan Festival Rakyat di Balai Kota Surabaya

2012 - Sekretariat Nasional Habitat Indonesia

3

Pertemuan Biro APMCHUD

Pertemuan Biro Asia Pacific Ministerial Conference on Housing and Urban Development (APMCHUD)
Di sela-sela World Urban Forum 6, UN-HABITAT menyelenggarakan pertemuan ke-5 Biro APMCHUD III. APMCHUD beranggotakan menteri-menteri bidang perumahan dan pembangunan perkotaan di kawasan Asia Pasifik. Berdiri tahun 2006, APMCHUD mempunyai visi menjadi simpul pengetahuan (knowledge hub) dan fasilitator pembangunan permukiman. Misi utamanya mendorong pembangunan permukiman berkelanjutan di kawasan Asia Pasifik. APMCHUD I diselenggarakan di New Delhi, India tahun 2006 dengan tema ‘A Vision for Sustainable Urbanization’. APMCHUD II diselenggarakan di Tehran, Iran tahun 2008 dengan tema ‘Sustainable Urban Development; Associating Growth with Equity and Identity’, dan APMCHUD III di Solo, Indonesia tahun 2010 dengan tema ‘Empowering Communities for Sustainable Urbanization’. Pilihan tema ini karena Indonesia mempunyai banyak pengalaman dalam pemberdayaan masyarakat yang mendukung proses pembangunan perkotaan. Konferensi ke-3 menghasilkan Solo Declaration dan Solo Implementation Plan, meluncurkan Puslitbangkim PU sebagai Regional Center for Community Empowerment in Housing and Urban Development (RCCEHUD). Saat ini Indonesia yang diwakili Menteri Pekerjaan Umum

Suasana Rapat ke-5 Biro APMCHUD yang dipimpin HE Yahya Kisbi

menjadi Ketua Biro APMCHUD III (2010-2012) dengan anggota Menteri dari negara Fiji, Korea, India, Iran, Irak, Jordan, dan Pakistan. Dalam kurun waktu dua tahun, diselenggarakan beberapa pertemuan anggota Biro untuk membahas tindak lanjut hasil konferensi. Pertemuan di Napoli bertujuan membahas progres kelompok kerja APMCHUD dalam melaksanakan Solo Implementation Plan dan persiapan Jordan sebagai tuan rumah Konferensi APMCHUD IV. Indonesia menjadi koordinator Pokja Sustainable Urban Development with a Focus on Natural Disasters. Dalam pertemuan Indonesia mengusulkan perlunya sekretariat memperjelas mekanisme jejaring dan pengelolaan website sebagai jendela informasi ke negara anggota APMCHUD. Konferensi APMCHUD IV akan berlangsung di Amman, 10-12 Desember 2012 dengan tema ‘Youth and IT in Sustainable Urban Development’.

SEKRETARIAT NASIONAL HABITAT INDONESIA
Sekretariat Nasional Habitat Indonesia dibentuk berdasarkan SKB Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Perumahan Rakyat No. 3/PKS/M/2008 dan No. 9/SKB/M/2008 dengan tujuan untuk mengarusutamakan implementasi Agenda Habitat ke pemangku kepentingan terkait dan sebagai pusat informasi mengenai hasil nyata dan program-program antar pemangku kepentingan di bidang perumahan dan pembangunan perkotaan. Seknas Habitat terdiri atas tim pengarah dan tim pelaksana. Tim pengarah diketuai Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dengan Wakil Ketua Sekretaris Kementerian Perumahan Rakyat. Kedua tim beranggotakan dari kementerian terkait, di antaranya Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan. Seknas Habitat didukung oleh Tim Harian.
4

‘Meningkatkan pengetahuan dan jejaring untuk mewujudkan perumahan dan permukiman berkelanjutan di Indonesia’ Visi yang ingin dicapai oleh Seknas Habitat adalah mendorong terwujudnya pembangunan perumahan dan permukiman berkelanjutan di Indonesia. Selain itu misi yang dapat dilakukan dalam mencapai visi Seknas Habitat tersebut, sebagai berikut: 1. Meningkatkan hubungan baik dengan mitra kerja bidang perumahan dan permukiman dan jejaring kerja untuk pertukaran informasi praktek terbaik dan program kegiatan permukiman berkelanjutan. 2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang perumahan dan permukiman berkelanjutan melalui seminar/diskusi/lokakarya, publikasi informasi di website dan media. 3. Mendukung penyelenggaraan kegiatan nasional/internasional terkait implementasi Agenda Habitat 4. Memberikan masukan isu strategis terkait perumahan dan permukiman berkelanjutan untuk pembuat kebijakan TIM HARIAN SEKNAS HABITAT Ketua Lana Winayanti Wakil Ketua Hadi Sucahyono Anggota Agus Sutanto Dian Irawati Bernadi Haryawan Sekretaris Marchellia Utami Event Dyah Lalita W. Publikasi Putri Octarina Kemitraan Agung J. Prakoso Jalan Wijaya I no. 68, Kebayoran Baru Jakarta 12710 Indonesia Telp./Fax : +62-21-7226530 Email : info@habitat.or.id seknashabitat@gmail.com Website : www.habitat.or.id

Sekretariat Nasional Habitat Indonesia - 2012

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful