ETIKA PROFESI (KAUM BURUH DAN PENGANGGURAN) DEFINISI KAUM BURUH Kaum buruh adalah kaum pekerja atau

tenaga kerja. Itulah pengertian yang dimengerti oleh banyak orang dewasa ini. Padahal dalam konteks sifat dasar pengertian dan terminologi diatas sangat jauh berbeda. Secara teori, dalam konteks kepentingan, didalam suatu perusahaan terdapat 2 kelompok yaitu kelompok pemilik modal (owner) dan kelompok buruh, yaitu orang – orang yang diperintah dan dipekerjakan yang berfungsi sebagai salah satu komponen pada proses produksi. Dalam teori Karl Marx tentang nilai lebih, disebutkan bahwa kelompok yang memliki dan menikmati nilai lebih disebut sebagai majikan dan kelompok yang terlibat dalam proses penciptaan nilai lebih itu disebut buruh. Dari segi kepemilikan kapital dan aset – aset produksi, dapat kita tarik benang merah, bahwa buruh tidak terlibat sedikitpun dalam kepemilikan aset, sedangkan majikan adalah yang mempunyai kepemilikan aset. Dengan demikian, seorang manajer atau direktur sebuah perusahaan sebetulnya adalah buruh walaupun mereka mempunyai embel – embel gelar keprofesionalan. Namun, saat ini, buruh identik dengan pekerja level bawah yang biasanya terdiri dari operator produksi dan paling tinggi mandor. Kekeliruan terminologi dan pengertian ini pula yang menyebabkan, dari seluruh buruh yang bekerja di Indonesia, hanya 3% buruh yang menjadi anggota serikat buruh / serikat pekerja, yang tentu saja menunjukkan betapa rendahnya posisi tawar buruh ketika berhadapan dengan kelas pemilik modal. Pada dasarnya, buruh, Pekerja, Tenaga Kerja maupun karyawan adalah sama. namun dalam kultur Indonesia, "Buruh" berkonotasi sebagai pekerja rendahan, hina, kasaran dan sebagainya. sedangkan pekerja, Tenaga kerja dan Karyawan adalah sebutan untuk buruh yang lebih tinggi, dan diberikan cenderung kepada buruh yang tidak memakai otot tapi otak dalam melakukan kerja. akan tetapi pada intinya sebenarnya keempat kata ini sama mempunyai arti satu yaitu Pekerja. hal ini terutama merujuk pada Undang-undang Ketenagakerjaan, yang berlaku umum untuk seluruh pekerja maupun pengusaha di Indonesia. Buruh dibagi atas 2 klasifikasi besar:

Buruh profesional - biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja

Buruh kasar - biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja

DEFINISI PENGANGGURAN Pengangguran adalah mereka yang ingin bekerja atau sedang berusaha mendapatkan (mengembangkan) pekerjaan tetapi belum berhasil mendapatkannya (menemukannya). Istilah pengangguran (unemployment) tidak berkaitan dengan mereka yang berniat untuk tidak bekerja

seperti siswa atau mahasiswa (sekalipun ada yang sambil bekerja atau berusaha mencari pekerjaan sambil sekolah atau kuliah, mereka diasumsikan tidak mencari pekerjaan), ibu rumah tangga yang sengaja memfokuskan diri untuk mengurus keluarga, atau penduduk usia kerja yang karena kondisi fisik mereka tidak dapat bekerja sehingga tidak mencari kerja (Djohanputro, 2006), Pengangguran merupakan salah satu persoalan dalam pembangunan. Secara naluriah, orang yang mengalami keadaan menganggur merasakan berbagai macam keluh kesah yang seringkali menimbulkan frustasi, pesimis, berfikir negatif, kurang percaya diri, memberontak dan perasaan lainnya yang kurang nyaman bagi dirinya sendiri maupun bagi suasana lingkungan sosial. Bahkan terkadang kondisi sosial personal yang labil seperti itu mempengaruhi terjadinya keresahan sosial. Tetapi tidak semua orang menganggur mengalami kondisi seperti itu. Ada yg memiliki kemampuan mengendalikan diri serta mencari alternatif” untuk mengisi waktunya dengan hal” bermanfaat. Tenaga Kerja dan Permasalahannya Masalah kontemporer ketenagakerjaan Indonesia saat ini menurut analisis saya berangkat dari beberapa faktor, yaitu; 1. Lapangan pekerjaan semakin sedikit 2. Tingginya jumlah penggangguran massal; 3. Rendahnya tingkat pendidikan; 4. Minimnya perlindungan hukum 5. Upah kurang layak 6. External factor (sepeti krisis global yang menurut beberapa ahli krisis ini masih terus terjadi hingga 2010) 7. Tidak memiliki kreativitas dan inovasi-inovasi Dari berbagai faktor tersebut mungkin kita akan mengatakan bahwa tenaga kerja justu menjadi masalah bagi bangsa ini. Apakah kita akan selalau berpikir seperti itu? Mungkin negaa ini akan teruS terkutat dengan masalah tersebut. Jika melihat data pengangguran di Indonesia pada Agustus tahun 2006 sebesar 10,93 orang kemudian pada tahun 2007 (bulan Agustus) sebesar 10,01 juta. Kemudian angka pengangguran di Indonesia pada Agustus 2008 mencapai 9,39 juta. (Data: Olahan dari BPS dan dai berbagai sumber)

Pengangguran yang terjadi ini tidak hanya merugikan pribadi yang bersangkutan, tetapi juga mempengaruhi kondisi lingkungan masyarakat sekitar dan perekonomian negara. Akibat – akibat pengangguran adalah sebagai berikut : 1. Bagi perekonomian negara  Penurunan pendapatan perkapita.

 Penurunan pendapatan pemerintah yang berasal dari sektor pajak.  Meningkatnya biaya sosial yang harus dikeluarkan oleh pemerintah. 2. Bagi masyarakat  Pengangguran merupakan beban psikologis dan psikis.  Pengangguran dapat menghilangkan keterampilan, karena tidak digunakan apabila tidak bekerja.  Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial dan politik.

FAKTA DI LAPANGAN Fenomena buruh di Indonesia sangat buruk. Dilihat dari berbagai sisi, kaum buruh tampak seperti kaum tersisihkan yang tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan penguasa dan pengusaha. Berikut adalah kondisi kaum buruh di Indonesia : - Dari sisi politik :  Buruh termaginalkan di hadapan penguasa dan pengusaha - Dari sisi ekonomi :  Upah rendah  Jam kerja panjang  Jaminan sosial dan kesehatan buruk  Pemecatan / PHK sepihak  Diskriminasi  Pelecehan seksual (terutama buruh perempuan) - Dari sisi budaya :  potensi buruh untuk berfikir kritis masih dihambat oleh serangkaian nilai-nilai yang dipaksakan oleh penguasa maupun pengusaha  perempuan ditempatkan di posisi sekunder - Dari sisi hukum :  buruh dianggap sebagai faktor produksi  hukum berpihak pada pengusaha

Sorotan yang terjadi dalam masyarakat / kafta tentang pengangguran :
 Sorotan tajam dari masyarakat ditujukan kepada perguruan tinggi menyangkut kualitas penyelenggaraan pendidikan itu sendiri maupun kualitas lulusan yang dihasilkannya, Dimana pada faktanya Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2003 melaporkan bahwa tingkat pengangguran di Indonesia meningkat menjadi 40 juta orang, suatu angka yang paling menyimpan kekhawatiran di kawasan ASEAN. Dari 40 juta orang tersebut 1 juta

diantaranya adalah sarjana dari berbagai program studi yang belum mendapatkan pekerjaan. Tahun 2001 menunjukkan bahwa sekitar 12,5 % lulusan perguruan tinggi masih menganggur.

Hal-hal yang perlu disadari :  Menurut filsafat ini pengetahuan adalah bentukan(konstruksi) mahasiswa sendiri yang sedang belajar. Pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari dosen ke mahasiswa melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan mahasiswa membangun sendiri pengetahuannya. Fungsi guru/dosen adalah sebagi mediator dan fasilitator yang menyediakan pengalaman belajar yang merangssang keingintahuan mahasiswa dan membantu mereka mengekspresikan gagasan dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka. Dosen bertugas memonitor dan mengevaluasi apakah pemahaman mahasiswa berjalan atau tidak untuk menghadapi persoalan baru yang berjalan.

Oleh karena itu, apa pun alasan dan bagaimanapun kondisi Indonesia saat ini masalah pengangguran harus dapat diatasi dengan berbagai upaya.
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan sesuai dengan UUD 45 pasal 27 ayat 2. Sebagai solusi pengangguran berbagai strategi dan kebijakan dapat ditempuh, untuk itu diperlukan kebijakan yaitu : 1. Pemerintah memberikan bantuan wawasan, pengetahuan dan kemampuan jiwa kewirausahaan kepada Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berupa bimbingan teknis dan manajemen memberikan bantuan modal lunak jangka panjang, perluasan pasar. Serta pemberian fasilitas khusus agar dapat tumbuh secara mandiri dan andal bersaing di bidangnya. 2. Mendorong terbentuknya kelompok usaha bersama dan lingkungan usaha yang menunjang dan mendorong terwujudnya pengusaha kecil dan menengah yang mampu mengembangkan usaha, menguasai teknologi dan informasi pasar dan peningkatan pola kemitraan UKM dengan BUMN, BUMD, BUMS dan pihak lainnya. 3. Segera melakukan pembenahan, pembangunan dan pengembangan kawasan-kawasan, khususnya daerah yang tertinggal dan terpencil sebagai prioritas dengan membangun fasilitas transportasi dan komunikasi. Ini akan membuka lapangan kerja bagi para penganggur di berbagai jenis maupun tingkatan. Harapan akan berkembangnya potensi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baik potensi sumber daya alam, sumber daya manusia. 4. Segera membangun lembaga sosial yang dapat menjamin kehidupan penganggur. Seperti PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT Jamsostek) Dengan membangun lembaga itu, setiap penganggur di Indonesia akan terdata dengan baik dan mendapat perhatian khusus. Secara teknis dan rinci.

5. Segera menyederhanakan perizinan dan peningkatan keamanan karena terlalu banyak jenis perizinan yang menghambat investasi baik Penanamaan Modal Asing maupun Penanaman Modal Dalam Negeri. Hal itu perlu segera dibahas dan disederhanakan sehingga merangsang pertumbuhan iklim investasi yang kondusif untuk menciptakan lapangan kerja. 6. Mengembangkan sektor pariwisata dan kebudayaan Indonesia (khususnya daerah-daerah yang belum tergali potensinya) dengan melakukan promosi-promosi keberbagai negara untuk menarik para wisatawan asing, mengundang para investor untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan pengembangan kepariwisataan dan kebudayaan yang nantinya akan banyak menyerap tenaga kerja daerah setempat. 7. Melakukan program sinergi antar BUMN atau BUMS yang memiliki keterkaitan usaha atau hasil produksi akan saling mengisi kebutuhan. Dengan sinergi tersebut maka kegiatan proses produksi akan menjadi lebih efisien dan murah karena pengadaan bahan baku bisa dilakukan secara bersama-sama. Contoh, PT Krakatau Steel dapat bersinergi dengan PT. PAL Indonsia untuk memasok kebutuhan bahan baku berupa pelat baja. 8. Dengan memperlambat laju pertumbuhan penduduk (meminimalisirkan menikah pada usia dini) yang diharapkan dapat menekan laju pertumbuhan sisi angkatan kerja baru atau melancarkan sistem transmigrasi dengan mengalokasikan penduduk padat ke daerah yang jarang penduduk dengan difasilitasi sektor pertanian, perkebunan atau peternakan oleh pemerintah. 9. Menyeleksi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan dikirim ke luar negeri. Perlu seleksi secara ketat terhadap pengiriman TKI ke luar negeri. Sebaiknya diupayakan tenaga-tenaga terampil. Hal itu dapat dilakukan dan diprakarsai oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. 10. Segera harus disempurnakan kurikulum dan sistem pendidikan nasional (Sisdiknas). Sistem pendidikan dan kurikulum sangat menentukan kualitas pendidikan yang berorientasi kompetensi. Karena sebagian besar para penganggur adalah para lulusan perguruan tinggi yang tidak siap menghadapi dunia kerja. 11. Segera mengembangkan potensi kelautan dan pertanian. Karena Indonesia mempunyai letak geografis yang strategis yang sebagian besar berupa lautan dan pulau-pulau yang sangat potensial sebagai negara maritim dan agraris. Potensi kelautan dan pertanian Indonesia perlu dikelola secara baik dan profesional supaya dapat menciptakan lapangan kerja yang produktif

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful