You are on page 1of 190

T.

Palgunadi

Catatan Perjalanan :

TOUGH ADVENTURER

Its two ‘tough’ man who trekking all 3000 m high or more mountain in Java

TOUGH ! ADVENTURER
Kami dilahirkan sebagai manusia di muka bumi yang keras ini Sehingga kami ingin merasakan bagaimana menjadi manusia yang benar-benar berjuang, baik untuk hidup dan kehidupannya. Kamipun ingin merasakan bagaimana Pioneer-pioneer, para pendahulu, dan nenek moyang kami, berjuang mencari sesuatu yang hakiki, bagaimana mereka mencari sesuatu untuk kenyamanan, bagaimana mereka berjuang menghadapi alam yang memang diciptakan untuk mereka, dan bagaimana --secara naluri-- mereka akan merasakan benar-benar kerdil dibandingkan dengan alam yang maha besar ini sehingga timbul perasaan bersyukur, dan rasa semakin dekat dengan Allah. Sehingga tidaklah berlebihan bila untuk menghadapi itu semua kami harus terlebih dahulu mengerti dan mendalami apa arti dari Keberanian dan Harga Diri, Tantangan dan Ketangguhan, Otonomi dan Kebebasan, Keunggulan dan Rendah Hati, Persaingan dan Kompetisi, Kekuatan dan Daya Tahan, Hidup dan Perjuangan hidup, Kesia-siaan dan Pengorbanan, Penderitaan dan Ketabahan, Kepasrahan dan Kekaguman, Cinta pada Allah pencipta seru sekalian alam. Kami tidak / belum paham apa arti semua itu, barangkali dengan mengadakan perjalanan itu nanti, kami akan bisa menjawab semua yang timbul dalam benak kami itu

Kami tidak peduli apakah yang kami lakukan ini penuh dengan kesia-siaan, tidak membawa hasil bagi banyak orang, atau apalah..., namun kami ingin menempa hidup kami, kami ingin sesuatu yang hakiki bakal lahir dari perjalanan kami ini, dan menjiwa dalam kehidupan kami. Yang pasti, inilah cara kami, cara kami bersyukur kepada Allah atas segala yang diciptakannya, baik anggota badan, pikiran, bahkan alam indah yang pantas untuk dinikmati... kami bangga bisa bercerita panjang lebar karena pengalaman kami. Biarlah nanti bila mulut-mulut kami tak sanggup berbicara lagi karena kering dan dahaga, hanya tangan dan kaki nan kokoh inilah yang akan bercerita sesuai dengan hati nurani yang tak bisa dibohongi ini... Dengan berakhirnya tulisan ini maka telah dimulailah suatu perjalan panjang menaklukkan puncak-puncak lebih dari 3000 m di pulau Jawa, perjalanan panjang dimana kami akan merayapi atap-atap dunia itu hingga seolah bisa turut mencakar langit, perjalanan panjang untuk mencari hal-hal yang akan kami cari jawabannya, perjalanan panjang dengan nafas memburu, yang akan penuh dengan suka, duka, keringat dan air mata, hmmm....perjalanan panjang....ketangguhan.... TOUGH ! ADVENTURER.

menantang rintangan dan penderitaan itu lebih mulia daripada surut ke belakang menuju ketentraman rama-rama yang berputar-putar sekitar lampu hingga mati lebih terhormat daripada tikus yang hidup dalam terowongan gelap SAYAP-SAYAP PATAH KHALIL GIBRAN

“Aku ingin menikmati segala keindahan alam ini bersamanya”

TOUGH ! ADVENTURES International Edition 1995 Exclusive rights by PGDI FM™, Indonesia for manufacture and export. This book cannot be reexported from the country to which it is consigned by PGDI FM™. Copyright © 1995 by PGDI FM™ All right reserved. No part of this publication may be reproduced or distributed in any form or by any means, or stored in a data base or a retrival system, without the prior written permission of the publisher. This book was set in Times New Roman. The Editor was T.Palgunadi MF Front Cover Design by Pal

Printed and bound in Indonesia

Kata Pengantar
ADA 12 gunung terkenal di pulau jawa* yang memiliki ketinggian lebih dari 3000 mdpl. Kesemuanya telah menarik perhatian kami berdua untuk mendakinya, dan saya pribadi, senantiasa mencatat perjalanan kami itu, sekedar kenangan atas berbagai peristiwa yang kami hadapi bersama. Ke 12 gunung itu ialah Gunung Pangrango, Ciremai (Jawa Barat), Gunung Slamet, Sundoro, Sumbing, Merbabu, Lawu (Jawa Tengah), Gunung Semeru, Arjuno Welirang, Argopuro, Raung (Jawa Timur). Tidak semua Gunung saya paparkan, dari 12 itu hanya 8 yang benar-benar menarik untuk diceritakan, ke 8 gunung itu benar-benar unggul segalanya, baik medannya, suasananya, terutama dalam perjalan kami itu, serta sense-nya, ini yang terpenting, saya sadari bahwa ini termasuk hal yang sangat subyektif, tapi itulah yang kami rasa, itulah yang kami peroleh.

*

Disekitar 12 gunung itu terdapat puncak-puncak kecil lainnya yang kadangkala berketinggian diatas 3000 mdpl.

Dalam buku ini, gunung tersebut diceritakan berdasarkan urutan Abjand nama gunung yang bersangkutan dimulai dari Gunung Argopuro hingga Welirang dan Arjuno. Begitulah, kami bangga bisa bercerita banyak tentang pengalaman kami, cerita yang berisi, karena telah teruji dalam suatu experience. Wassalam

T.Palgunadi MF

Daftar isi

ARGOPURO, Pegunungan Iyang CIREMAI Perjuangan Keras PANGRANGO, Gunung Wisata RAUNG, Kopi Mbah Srane SEMERU, Bromo Tengger Mentari Pagi SLAMET Kabut WELIRANG, ARJUNO

1 23 47 61 81 121 141

ARGOPURO Pegunungan Iyang

T

IBA di terminal Bondowoso, pagi hari tanggal 27 Agustus 1994, untuk mengejar bus umum jurusan Probolinggo - Bremi, sudah tidak mungkin, bus rakyat itu sehari hanya melayani dua kali route, untuk route pertama, sudah terlambat --berangkat pukul 06.00 WIB-- dan untuk menunggu route ke dua, terlalu lama, pukul 13.00, yeah, untungnya, berdasarkan informasi yang kami terima, hari itu adalah hari “pasar” bagi kebanyakan penduduk jawa timur, sehingga akan banyak kendaraan pedesaan yang menuju Bremi --desa terakhir menuju Puncak Argopuro--, beruntung sekali kami kala itu. Route kali ini, kami naik bus jurusan Probolinggo, namun kami akan turun di tengah perjalanan, tepatnya kami

2

turun di kota kecamatan Pejarakan, nah, dari sana lantas kami akan naik angkutan pedesaan menuju Bremi, praktis toh, tanpa harus menunggu bus rakyat yang langka itu... Tidaklah sulit mendapatkan angkutan-angkutan tersebut, singkatnya, kami telah berada dalam bus, keluar dari terminal masih pagi, Bondowoso, menyusuri jalan-jalan di kota itu, kabut masih menutupi jalan, sementara anakanak berseragam sekolah bergerombol pergi sekolah, waduh..suasana yang asyik sekali.... Mulai keluar kota, kali ini pemandangan tak kalah menariknya, menyusuri kaki gunung --tepatnya Pegunungan-- Argopuro sisi timur, jalan berkelok-kelok, naik-turun, sementara mentari pagi yang terik, begitu cerah, seolah alam ini ingin memamerkan keelokannya kepada kedua petualang ini, memasuki kota suasana Besuki, pegunungan kemudian berganti, berubah menjadi pemandangan pantai dan laut nan luas, namun tenang, membiru...,, kendaraan yang kami tumpangi menyusuri jalanan yang letaknya begitu dekat sekali dengan bibir laut, sementara mentari jam

TOUGH ! ADVENTURER

3

sembilanan kala itu memberi keceriaan tersendiri, waduh...... Turun di Pajarakan, kami ganti kendaraan, kali ini berjubel dengan para penduduk yang beraneka ragam, maklum hari pasar, saatnya orang-orang desa turun ke kota-kota kecamatan untuk berbelanja habis-habisan, bawaan mereka banyak sekali, yah.. macam-macam lah..ada ayam hidup, barang kelontongan, barangkali persediaan buat satu bulan, kamipun tak mau kalah, bawaan kami juga tak kalah montoknya, pokoknya berjubel-lah.... Tiba di tujuan, kami segera melapor kepada Petugas Polsek setempat, lagi-lagi --untuk kesekian kalinya, dalam rangkaian perjalanan kali ini--, tak ada pendaki lain yang sedang mendaki, benarbenar semua gunung yang akan kita daki seolah dikosongkan guna pendakian kami ini...he..he...Tough! Adventurer. Tidak ada pondok pendaki, yang ada hanyalah, sebuah warung transit, tempat para penduduk desa menunggu angkutan ke kota, namun pemilik warung ini ramah sekali, sehingga kami tidak untuk menitipkan sungkan-sungkan
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

4

sebagian bawaan kami yang saat itu belum kami perlukan sepenuhnya, untuk rangkaian pendakian selanjutnya, setelah ini. Menurut informasi, lama pendakian ke Gunung Argopuro (3088 m dpl1) -turun-naik--, paling cepat adalah tiga hari, semula kami tidak mempercayainya, bayangkan, kami biasa mendaki gunung setinggi 3000-an paling lama hanya dua hari, tetapi yeah..untuk berjaga-jaga, kami telah siap logistik untuk lima hari, belakangan emang sih route Argopuro ini patut diberi acungan jempol. Masalah air...tidak perlu terlalu dikhawatirkan, sebab di gunung ini, air berlimpah...-demikian informasi yang kami peroleh--. Tak lama, setelah kami packing, segera kami melanjutkan perjalanan, mulamula melewati daerah perkebunan kopi Arabica, melewati hutan pohon damar yang homogen dan teratur rapi, dan mulai memasuki daerah hutan heterogen nan lebat.

1

mdpl = meter diatas permukaan laut

TOUGH ! ADVENTURER

5

Suasana siang itu tidaklah begitu ceria, hutan begitu lebat, sementara langit mendung, entah kabut, entah memang mendung, nampaknya daerah pegunungan ini selalu diliputi awan tebal, terlebih diatas pukul 10.00 pagi --situasi standard di gunung manapun--, semakin naik kami mendaki, tetes tetes air mulai jatuh membasahi bumi, sempat kami berpapasan dengan beberapa orang desa di bawah yang sedang turun sambil memikul penuh daun pisang, nampaknya mereka para pencari daun pisang yang masih banyak terdapat di dalam hutan itu, ngg..ngg..pisang...!! waduh.. berarti ketinggian masih rendah sekali, sementara suasana sangat tidak meng-enak-kan saat itu. Belakangan memang route gunung Argopuro ini sangat panjang, dan hampir setengah dari route itu masih berada pada dataran yang tak begitu tinggi, dimana masih banyak terkonsentrasi berbagai flora dan fauna, terus terang kami tidak mengantisipasi keadaan ini, maka tindakan kami hanyalah berhati-hati dan berdoa. Lagi-lagi suatu kesalahan yang amat fatal, tatkala pertama kali mendengar informasi bahwa route Argopuro banyak menyediakan air yang melimpah, maka
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

6

kami hanya membawa air secukupnya, toch nanti bisa ambil lagi, pikir kami, ternyata untuk mencapai sumber air pertama, dibutuhkan waktu berjam-jam -tepatnya tiga jam jalan kaki--, dan hal itu tidak kami antisipasi, akibatnya, selama perjalanan yang mencekam itu, kami selalu beririt air, dan sepakat tidak melakukan masak-memasak dahulu. Terdapat perbedaan presepsi tentang arti puncak yang kami tuju dengan anggapan penduduk di bawah sana, menurut mereka puncak adalah tempat dimana terdapat danau alami --bernama Taman hidup--, sedangkan bagi para pendaki “puncak” adalah puncak yang sebenarnya --lebih dari setengah perjalanan ke Taman hidup--, sehingga tatkala kami bertanya kepada para pemanggul daun pisang, tentang keberadaan sumber air sebelum puncak, dengan tegas mereka menjawab tidak ada air..kecuali di danau di puncak..., nah.. kamipun mulai merasa bimbang. Namun hal itu bisa kami atasi dengan memprediksikan keadaan pada peta yang kami bawa, memang hingga Taman hidup, kami tidak akan melewati sungai / sumber air, namun setelah itu akan ditemui
TOUGH ! ADVENTURER

7

sedikitnya dua hingga tiga sungai kecil. Everything is under control. Perjalanan masih seperti tadi, gerimis, kabut, remang, kesemuanya membuat suasana mencekam sekali, hingga akhirnya kami tiba di pertigaan, terdapat papan penunjuk yang menunjukkan arah ke puncak Argopuro dan menuju Mata air, segera kami menuju ke arah mata air. Arah yang dituju agak menurun, terus kami lalui,menerobos dedaunan, yang basah, sehingga turut membasahi tubuh kami yang menerobosnya, hingga tampak di depan sana, dari balik rimbunan pepohonan hutan nan lebat, daerah yang terbuka..terang...ada apa gerangan di depan sana, dan....subhanallah... sebuah hamparan danau nan luas... mirip dengan Ranu Kumbolo2tapi......akh...begitu sunyi...airnya tenang..kehijauan --banyak mengandung alga, hmmm.. reaktor type Batch nich !!--...sementara di pinggirnya langsung berbatasan dengan hutan nan lebat nampak kerapatan dan kerimbunan pepohonannya, tidak ada bangunanbangunan pondok pendaki --benar-benar
2

Danau di kaki gunung Semeru, baca : Semeru, Bromo Tengger

ARGOPURO, Pegunungan Iyang

8

wild..and I like that !--, belakangan setelah turun nanti, diperoleh cerita bahwa danau itu begitu dalammya, pernah ada helikopter yang jatuh ke dalamnya, akh..ada-ada saja..., sementara sinar mentari nampak malu-malu sekali menembus daerah itu... kami segera bergegas menuju daerah lapang, tepat di tepi danau, saya berteriak girang, karena bertemu dengan air...terdengar suara saya menggema jauh ke pelosok hutan...., tiba-tiba.. terjadi suatu peristiwa yang membuat diri ini kaget bercampur takjub...bagaimana tidak...ketika aku selesai berteriak...secara spontan dari berbagai penjuru hutan turunlah kabut dengan cepat sekali, begitu cepatnya, sehingga sebentar saja..keadan sekitar menjadi gelap, berkabut...sesaat kami sempat ngiprit --terus terang--, namun tak lama kemudian sirna, dan keadaan kembali seperti tadi... tenang, mencekam..sendu....akh... Rekanku mencoba mengambil air, waduh perjuangan, sukar sekali mencapai bibir danau itu, sebab tanahnya lembek buanget, berlumpur, tanah gambut, bila diinjak, kaki akan terbenam hingga paha, dan dinginnya...brrr.... Begitulah, sedang asyik-asyiknya memasak, dan menyantap
TOUGH ! ADVENTURER

9

makanan, tiba-tiba di sebrang danau -didalam hutan-- sekilas terdengar suara yang menggema, yang membuat kami terdiam sesaat, saling berpandangan, sesaat jantung terasa berhenti, suara sesaat itu begitu singkat namun tegas, dan gemanya -masih terus menembus hingga jauh ke dalam hutan-- membuat bulu kuduk ini berdiri, yah..suara auman..waduh.. tak terbayangakan perasaan hatiku saat itu, tubuh ini bergetar hebat, ingin rasanya menangis, sebab dalam kondisi yang sendu seperti itu --dimana telah digunakan tenaga ekstra untuk mengatasi rasa mencekam saat itu-- , masih ditambah pula dengan suara yang meng-gerung-kan itu....dan suara itu muncul lagi....waduh... makanan serasa tidak lezat lagi untuk di makan..... tapi akh...lama kelamaan kami terbiasa dengan suara-suara itu, yang kemudian terus menerus berbunyi disusul dengan suara riuh binatang-binatang unggas... Hiyyyy... Kami yakin itu suara binatang buas, raja hutanlah minimal, atau mungkin hanya seekor babi hutan, entahlah.. namun kami tidak mau kembali pulang --sempat terlintas dalam benak kami lho !--, kami harus terus maju, berbagai macam resiko
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

10

harus kami hadapi bersama, lagipula perjalanan kali ini adalah mengemban tugas membentuk jiwa tangguh..Tough !... Sehingga setelah kami makan dan berkemas, kamipun melanjutkan perjalanan, masih menembus hutan belantara nan buas itu. Sempat dalam perjalanan kami menemui bulu-bulu burung banyak sekali bertebaran, nampaknya habis dimangsa..dicabikcabik..barangkali auman tadi dalam rangka pesta menyantap burung ini...bah..., kami terus berjalan, sembari menepis berbagai ‘barangkali-barangkali’ yang selalu menyertai perjalanan ini, hingga menjelang mentari terbenam, kami telah keluar dari daerah buas, kini kami berjalan dengan bantuan lampu senter, memasuki daerah rumput ilalang nan tinggi dan pepohonan yang bagian bawahnya sudah hangus terbakar, beberapa diantaranya tumbang, karena terbakar, nampaknya daerah ini rawan kebakaran. Kesalahan yang kesekian kalinya, antisipasi sumber air yang dikiranya dekat, membuat kami tidak membawa cadangan air yang cukup untuk perjalanan kali itu, akibatnya, menjelang malam hari, kami terpaksa bermalam di tengah jalan, capek
TOUGH ! ADVENTURER

11

dan kesal, sich tanpa masak, tanpa persiapan tidur yang layak, hanya sekedar menghampar, sambil mengirit air, ini sebagai hukuman akibat kecerobohan kami, mau berjalan terus, malam-malam begini, takut akh.., masih terbayang bayang-bayang ketakutan kami sewaktu di bawah tadi. Kamipun beristirahat ala kadarnya, sambil berusaha menenangkan hati yang sedang gundah ini. Kami terbangun di pagi yang lain, di hari yang lain, langit biru terang itu menyilaukan mata, waduh siang sekali kami bangun kala itu, langsung kami shalat shubuh, dengan tayyamum dulu tentunya. Tetapi mentari belum begitu tinggi, sadar bahwa kami tidur ala kadarnya --ditengah jalan lagi--, maka setelah shalat, segera kami mengambil ransel dan segera melanjutkan perjalanan, sembari memamah batangan coklat jatah logistik kami, yang kaya akan kalori itu, kali ini suasana sedikit ceria, langit biru jernih, suasana cerah --karena hari Minggu kali--, membuat semangat baru, seolah lupa kesenduan dan kengerian kemarin, route yang kami tempuh masih berfariasi antara naik dan turun, namun komposisi flora dan

ARGOPURO, Pegunungan Iyang

12

faunanya sudah berubah, lebih bersahabatlah. Tak lama kami berjalan, kami tiba di daerah yang memperdengarkan suara gemericik air...Alhamdulillah... sungai...cik, segera kami mempercepat langkah ini, dan akhirnya kami sampai di sebuah sungai kecil, routenya memang memotong sungai kecil itu. Segera kami melepaskan beban di pundak ini, aku sendiri segera melepas sepatu, dan menanggalkan segala baju dan celana, dan....meceburkan diri di aliran anak sungai itu, membasahi tubuh ini dengan air segar yang mengalir deras ini membiarkannya mengisi pori-pori tubuh ku ini..air..air...airrr.... Kami sepakat sarapan dahulu di sana, kami masak, membersihkan badan, dan istirahat sambil mendengarkan suara alam yang sangat ceria, indah, dan menggembirakan itu.....ha...ha...ha....., bahagia sekali lho, rasanya saat itu... Setelah puas, kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini kami membawa cadangan air lebih banyak, sebagai jaga-jaga saja, walaupun kami
TOUGH ! ADVENTURER

13

yakin tak jauh di depan sana, kami akan kembali menemui sungai kecil --menurut peta yang kami bawa, minimal kami akan menjumpai / menyebrangi dua anak sungai kecil lagi--. Suasana perjalanan sungguh berbeda dengan kemarin, kali ini cerah sekali, langit biru jernih, mungkin karena ketinggian sudah cukup tinggi, atau memang karena susana pada pagi hari memang cerah, entahlah, yang pasti kami sangat menikmati perjalanan itu. Kamipun melewati kebun bangsat, demikian menurut cerita para pendaki yang kami temui sebelumnya, dinamakan begitu sebab seluruh tubuh tanaman tersebut --dari daun hingga batang--, ditumbuhi dengan duri-duri yang bervariasi ukurannya, pokoknya yahud dech... kamipun sempat menyenggol, dan sebagian lengan kamipun langsung penuh ditempeli duri, melihat begitu ,secara spontan, kami segera menepisnya, tapi justru itulah yang konon tidak boleh segera dilakukan, akibatnya, kulit menjadi gatal, berbentol hebat, dan pedih-pedih mau diapakan dikit....waduh...habis lagi.......
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

14

Selanjutnya kami melintasi padang luas, padang rumput, dan edelweis3, berbeda dengan pohon edelweis yang senantiasa kami temui tatkala mendaki gunung-gunung sebelumnya, maka pohon edelweis di sini berdaun lebih hijau, tidak hijau pucat berbulu seperti biasanya, dan bunganya, tak jauh berbeda dengan bunga edelweis yang lain,--seperti biasanya, kami sudah tidak begitu tertarik lagi mengambil bunga tersebut, nggak suka, sich..--. Di areal itu, kami masih menemui beberapa fauna berupa sejenis ayam merak yang langsung beterbangan dari balik rimbunan rerumputan tatkala kami melewatinya, beberapa diantaranya berlarian searah dengan jalan kami, lucu, menarik sekali.... Sebenarnya kami bisa saja singgah dahulu untuk melihat bekas lapangan terbang peninggalan jaman Belanda -menurut informasi yang kami dapat, serta prediksi lokasi di peta yang kami bawa--,
3

Edelweis, tumbuhan khas pada tempat-tempat tinggi, pada daerah tertentu memiliki nama yang berbeda, seperti Sundoro (karena itu gunungnya disebut dengan gunung Sundoro). Di dunia ini ada dua jenis yaitu Edelweis yang sudah kita kenal, dan satu lagi Edelweiss (dengan dua huruf ‘s’) yang berasal dari pegunungan di Swiss, yang terkenal itu, (terkenal karena lagunya, barangkali).

TOUGH ! ADVENTURER

15

namun karena arahnya tidak sejurusan, dan kami dikejar waktu, terpaksa kesempatan itu kami lewatkan, padahal berdasarkan cerita dari --lagi-- para pendaki sebelumnya, di daerah sekitar lapangan terbang --termasuk areal kekuasaan Ratu Rengganis, lembah datar tempat kami sekarang ini-- merupakan daerah yang paling angker, dan selalu ditemukan berbagai peristiwa aneh, nan menakjubkan, termasuk pengakuan pendaki yang pernah melihat barisan serdadu tanpa kepala pada malam hari....waduh..asyik sekali cik...... Tak lama kemudian kamipun tiba di tampat yang bernama Cisentor, yaitu sebuah tempat pertemuan jalur dari Bremi Probolinggo --route yang kini kami jalani-dan dari Baderan - Besuki, disana terdapat sungai yang lebih besar dari yang pertama kami temui pertama tadi, belakangan itulah sumber air terbesar dalam jalur kami, kalo mau bisa cuci-cuci dulu lho, kamipun beristirahat sejenak, tidak lama-lama, walaupun tempat disana nampaknya lebih cocok buat bersantai, dari Cisentor, jalur ke Puncak tinggal kurang lebih tiga jam lagi, demikian yang tertulis pada papan penunjuk jalan yang terpasang --dipasang

ARGOPURO, Pegunungan Iyang

16

oleh berbagai perkimpulan pendaki dari pelosok di tanah air ini--. Semakin siang cuaca semakin redup, awan mulai naik, menghiasi langit yang sedari tadi biru jernih, kadangkala menutupi sinar mentari, membuat cahayanya berpendar tak meng-enak-kan dan panasnya seperti hangat-hangat tahi ayam. Kami berjalan terus, kali ini jalanan banyak mendakinya, namun masih terus melewati hutan rumput dan edelweis, kering, debu, panas, sementara beberapa tempat tanahnya berbalik-balik, seolah habis di bajak, ternyata itu adalah buah perbuatan babi hutan, yang kami amati dari bentuk serudukan pada tanahnya, serta bekas pijakannya. Hingga kami tiba di Rawa Embik, nampaknya, pos terakhir, sebelum ke puncak, ada sungai kecil sekali, malas untuk bersinggah di sana, tanggung sich, kami terus berjalan membelah padangpadang rumput terbuka, yang mulai banyak kami temui, memang benar-benar membosankan perjalanan kali itu, kami merasa --memang-- melintasi jalur yang berputar, mengitari Gunung. Pantaslah para pendaki di Jawa Timur ini
TOUGH ! ADVENTURER

17

menamakan Gunung ini sebagai Gunung Frustasi, bagaimana tidak, dari permulaan mendaki, hingga saat ini, kami terus dipermainkan dengan naik, dan turun gunung, maklumlah...Argopuro sebenarnya merupakan Pegunungan. Lama kami berjalan, di terik mentari tahi ayam yang mulai mencapai titik kulminasinya, tubuh penuh peluh bercampur debu....hggrr...gerah dan rese banget !! sementara kabut turut berlomba mendaki gunung, hingga akhirnya, kami tiba di daerah berkapur, putih semua, kami merasa nuansa lain, serba putih, menyilaukan mata, terus.., kami melewati susunan bebatuan, nampaknya bekas reruntuhan bangunan, akh..masa..di puncak gunung begini, terus... hingga kamipun tiba di darah yang paling tinggi --seperti biasa, kami merasakan angin bertiup hebat, kabut siang itu mulai berlarian menerpa tempat tersebut, dingin..-...astaga...ternyata dipuncaknya terdapat sebuah kuburan !!....tepat di puncaknya.....waduh...antik, euy !! Belakangan kami mengetahui bahwa sebenarnya puncak yang dituju -oleh kebanyakan pendaki-- adalah puncak
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

18

Rengganis, sementara puncak Argopuronya sendiri, hanya beberapa meter dari sana, --namun tidak umum--, dan dipuncak tersebut, berbaringlah dengan tenang Putri Rengganis yang konon berparas ayu...asyik..., kami tidak begitu memperhatikan sejarah, sehingga timbul dalam benak kami, siapa sebenarnya Putri Rengganis itu, benarkah ia seorang yang diusir dan diasingkan di Puncak gunung ?, benarkah Putri itu parpaduan antara Jin dan Manusia, lantas kuburannya siapakah ini ?, entahlah...-setahu kami di Bandung juga ada Asrama Rengganis, itu..tuh.. asrama putri UNPAD- yang jelas, setelah mengaso kurang lebih satu jam, tiduran, menyandar pada makam tersebut --siapa tau muncul jelmaan Sang Putri dengan Senyumnya, menggoda kami, hmm..untuk itu sich, kami udah siap purapura bego aja !!--, kamipun berjalan turun, memang benar, nampaknya disana pernah ada berdiri --setidaknya-- suatu kompleks perumahan, terlihat dari susunan batu yang menyerupai pondasi suatu bangunan. Waduh asyik sekali.... Rengganis..oh..Rengganis... Kami turun gunung, dengan masih asyik dengan alam fantasinya masingTOUGH ! ADVENTURER

19

masing, membayangkan hal-hal yang asyik-asyik...waduh....., hingga tidak terasa kamipun tiba di Cisentor lagi, suasana masih seperti sejak kami tinggalkan beberapa jam yang lalu, memang gunung itu lagi sepi..sepi pendaki..., kami beristirahat sejenak, dan melanjutkan perjalanan. Tiba di sumber air yang pertama kami temui tadi pagi, kamipun berniat istirahat total..termasuk makan siang...kamipun bongkar ransel..membersihkan badan, masak dan makan, habis makan..eh...ngantuk....sehingga kami sepakat untuk istirahat banyak di sana, dan nanti malam --tepat tengah malam-- kami bergerak turun, toh kami memang terbiasa berjalan malam. Akhirnya kamipun mendirikan tenda ‘Titi’ Dome, dan setelah semuanya dalam jangkauan pengkondisian, kamipun mulai tidur, oh ya... jam beker telah distel pukul 23.00 WIB. Kamipun terbuai, tertidur, dalam pelukan ‘Titi’, diiringi gemericik air yang terus menerus mengalir tepat disamping kami...akh,

ARGOPURO, Pegunungan Iyang

20

Kami terbangun, dibangunkan oleh bunyi bel jam beker, segera, dengan malasmalasan tentunya, kami berusaha bangkit dari tidur lelah kala itu --itulah gunanya kami menyetel waktu lebih awal--, mulamula kami kemasi dulu kantung-kantung tidur masing-masing, kemudian kami berinisiatif menyalakan api unggun, supaya suasana lebih aman dan nyaman, baru kemudian masak, entahlah, untuk makan malam atau untuk makan pagi, pokoknya makannnn !!....., alhamdulillah...betapa nyamannya, dan nikmatnya, menyantap menu saat itu, ditambah dengan segelas kopi creamer panas, akh....nikmat sekali. Hampir satu jam kami berkemas, dan makan, kamipun telah siap cabut, menembus kegelapan malam --round midnight--, menembus hutan. Setelah memanjatkan doa, kamipun mulai melanjutkan perjalanan turun. Perjalanan turun saat itu, sepi, hening, tak ada suara binatang, ataupun serangga malam, hanya suara dedaunan dan ranting yang terinjak oleh langkah kami, --berhenti berjalan berarti menyerahkan diri bulat-bulat pada keheningan yang tiada tara, sehingga irama tubuh ini, baik degup jantung, serta aliran
TOUGH ! ADVENTURER

21

darah, atau bahkan suara tumbuhnya kuku serta rambut ini, terdengar jelas sekali mengisi relung kesepian itu....busyeet !!-hingga tiba di daerah menurun yang cukup terbuka, kami sempat menikmati pemandangan kota nun jauh di bawah sana...indah sekali...tatkala orang-orang di sana tidur lelap....tak ada yang mempedulikan kami yang sedang terus berjalan menembus jalanan setapak, berdua, hening, sepi.....sementara di depan kami telah menunggu hutan buas, yang kemarin kami lalui dengan perasaan ngiprit, kini, sebentar lagi kami akan menembusnya....waduh...jrrueenggg!!! Memang, seolah tersadar akan keadaan yang bakal kami hadapi, selama perjalan kami senantiasa mengucapkan takbir dan tahlil, seraya mohon perlindungan kepada Allah, Bulan separuh yang mulai terbit di ufuk timur, perlahanlahan mulai surut oleh rimbunnya pepohonan, terasa sekali kami sedang memasuki daerah hutan yang lebat, sesak sekali rasanya --singup-- , aromanya pun berbeda, seakan merupakan aroma daerah struggle of life , tapi kami jalan terus, bertakbir, seolah berusaha melupakan bayang-bayang kengerian yang
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

22

secara silih berganti timbul dalam benak ini mulai dari ancaman binatang buas, hingga serdadu-serdadu tak berkepala itu, senantiasa menghantui setiap langkah ini. Terus terang Saya Pribadi baru kali ini merasakan betapa mencekamnya perasaan saya kala itu, Argopuro memang sendu, seolah tidak memiliki rasa toleran kepada para petualang kesepian ini. Syukurlah... setelah berjuang sekian jam melawan rasa takut dan cemas -termasuk auman edan mirip kemarin, cuman kini berdua sama temennya, serta terciumnya bau pandan yang begitu tibatiba selama perjalanan tadi, hmm..presepsikan sendiri...lah-- akhirnya langit mulai terang, Alhamdulillah....Fajar akhirnya menyingsing juga, seolah menggantikan gelap yang menelimuti kami beserta halusinasinya. Kami berjalan terus, terus..sebentar lagi kami akan keluar hutan nan pengap itu, tiga...dua...satu....dan yeah... kamipun keluar dari sana, batas antara kesenduan dan keceriaan seolah dibuat jelas, dan tegas, dan kami merasakannya, kini kembali kami menempuh kebun kopi, di pagi yang damai, ceria... Banyak para penduduk desa yang pergi ke kebun, berpapasan dengan
TOUGH ! ADVENTURER

23

kami, menebar senyum, bersaman dengan itu surut pula raut tegang pada muka kami, ugh..amat sangat melegakan hati kami, selintas kami mengamati pemandangan sekitar, nampak di Barat, Puncak Mahameru --puncak Gunung Semeru-yang gundul sedang mengeluarkan asap putihnya,..menakjubkan sekali....sementara nampak di belakang kami Puncak Argopuro, Rengganis, masih tegak berdiri --seolah baru bangun tidur--, sedang menggoda para pendaki lainnya. Argopuro memang gunung yang patut diberi acungan jempol, alamnya, medannya, benar-benar menguji ketahanan fisik dan mental, disana kami merasa benar-benar teruji, semakin diingatkan akan --sekali lagi-- betapa kecilnya kami dihadapan kekuasaan Allah, betapa kami dibuat tersadar dan ingat akan segala keangkuhan dan kesombongan kami selama ini, Argopuro...Rengganis...Pegunungan Iyang......hmm...... Pagi indah, kabut tipis segera sirna, bertepatan dengan keluarnya mentari dari balik punggung gunung, sementara kami sedang duduk, menghempaskan beban di
ARGOPURO, Pegunungan Iyang

24

pundak ini, di hamparan rumput yang basah oleh butir-butir embun, di kebun kopi, memandang kembali punggungan Argopuro yang masih hitam, masih memendam segala misteri serta kebuasan, seolah akan tetap begitu terus, tak terpengaruh oleh hari yang makin cerah di bawah sini, girang hati kami, kami telah menang, kehormatan telah kami dapatkan, seolah baru saja keluar dari suatu angkara murka.....”Allah Selalu Dekat Bersama Orang-orang Berani”.***

TOUGH ! ADVENTURER

CIREMAI Perjuangan Keras
AGI kami, pendakian gunung Ciremai memiliki arti tersendiri, bagaimana tidak, inilah pendakian kami pertama kali untuk gunung berketinggian diatas 3000 mdpl, sekaligus merupakan cikal bakal terbentuknya team yang nantinya akan juga mendaki berbagai gunung 3000-an di pulau jawa...Tough! Adventurer.. Saat itu bulan Desember 1992, tepatnya saat memasuki pergantian Tahun, kebetulan kami sedang libur smesteran, pada waktu itu kami belum saling mengenal, kami membentuk team dalam rangka tugas yang diberikan oleh organisasi sebagai salah satu syarat menjadi anggotanya. Singkat kata, kami berdua sepakat menjadi satu team dan

B

26

mengambil tugas berupa pendakian ke Gunung Ciremai (3076 mdpl4). Persiapan sudah dilakukan, saat itu kami masih belajar untuk melakukan suatu perjalanan pendakian, sehingga masih belum memiliki suatu gambaran, atau setidaknya bahan pertimbangan dari pengalaman sebelumnya ( kami belum pernah mendaki lebih dari 3000 m, namun dibawah itu, kami sudah pernah koq ). Tepat pada tanggal 31 Desember 1992, pukul 12.00, setelah shalat Dzhuhur, kami mulai meningalkan kediaman kami, menuju terminal Cicaheum, lantas dari sana kami naik bus jurusan Cirebon. Akhirnya, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih enam jam, ditambah dengan menunggu sesaat di terminal Cirebon, kami tiba di pertigaan arah Kuningan dengan ke arah Linggarjati. Kami turun di sana, dan karena hari sudah mulai gelap (Ba’da Magrib), maka tidak ada lagi kendaraan umum menuju desa terakhir --Linggarjati--, sehingga kami mulai berjalan kaki.

4

lihat not 1

TOUGH ! ADVENTURER

27

Jalan yang kami lalui masih lebar, maklum jalan raya, sementara dikiri-kanan kami terdapat beberapa tempat hiburan yang mulai menyemarakkan malam tahun baru saat itu dengan old and new - nya, sementara itu mendung menggantung menaungi perjalanan kami, membuat suasana menjadi lebih cepat gelap sebelum waktunya. Hingga akhirnya kami tiba di warung pak Ahmad --tempat yang sangat terkenal di kalangan para pendaki yang menggunakan jalur Linggarjati--, bersamaan dengan turunnya hujan dengan lebatnya. Kami segera berteduh di pondok sederhana yang saat itu juga sarat dengan para pendaki dari kota lainnya. Kami mendapat tempat yang cocok buat kami berdua, kami mengeringkan badan, jajan, dan saling ngobrol dengan pendaki lain, yang nampaknya sudah pada turun. Dari hasil perbincangan, ternyata diperoleh waktu yang tepat untuk memulai mendaki yaitu pada dini hari, sehingga kami harus menghabiskan waktu hingga esok hari, yah lagipula hujan masih turun dengan derasnya di luar.

CIREMAI, Perjuangan Keras

28

Setelah tidur beberapa jam, kamipun memutuskan untuk segera berangkat dini hari itu, kebetulan hujan sudah reda, diluar suasana segar sekali, habis hujan sih, kami berjalan mendaki, dan tiba di pos pertama, , banyak orang mendirikan tenda di sana, suasana hirukpikuk, nampaknya mereka semua sedang merayakan malam pergantian tahun, yah, selamat tahun baru, kawan. Satu hal yang amat fatal yang kami lakukan adalah, tidak membawa air cukup banyak, sehingga sebelum melanjutkan perjalanan, kami mencari dahulu botolbotol bekas air minum mineral, yang banyak berceceran di sana, kemudian kami mengisi penuh dengan air, yang memang, menurut beberapa orang di sana, inilah sumber air terakhir yang resmi, maklumlah, walaupun pada musim hujan ini akan banyak sekali --selama perjalanan nanti--alur-alur sungai yang berair --run off--, namun kami dihadapkan pada suatu keadaan gambling, yeah, kami tidak mau mengambil resiko cing. Setelah dirasa persediaan air mencukupi, kamipun memulai perjalanan lagi, jalanan terus mendaki, sementara di
TOUGH ! ADVENTURER

29

bawah sana --di kota-- sayup-sayup terdengar lagu hingar-bingar, menyambut malam tahun baru, wah perjalanan kami santai sekali saat itu, berkali-kali kami berhenti, bahkan kami sempat tidur dahulu hingga suasana terang, wah payah deh. Jalur pendakian kala itu bisa dikatakan ramai, baik yang turun, maupun yang mendaki, kebanyakan mereka tidak sampai puncak --itu menurut pengakuan mereka yang bertemu dengan kami--, entah karena kekurangan air, atau apa-lah, namun hal tersebut memacu semangat kami untuk tiba di puncak. Seperti biasanya, perjalanan kami saat itu lelet pisan dech, namun belakangan setelah menjajal gununggunung 3000-an di jawa ini secara pribadi saya acungkan jempol buat jalur ini, belakangan memang jalur pendakian gunung Ciremai melalui jalur ini paling yahud, belum ada tandingannya. Selama perjalanan kami selalu menemui plangplang kayu bertuliskan nama-nama sesuai dengan daerah / blok pada jalur pendakian, data yang ada selain nama tempat adalah ketinggian, dan jarak tempuh dari puncak gunung. Bagi kami keberadaan tanda-tanda itu memiliki dua presepsi, pertama
CIREMAI, Perjuangan Keras

30

menguntungkan, sebab kami semakin tahu berapa ketinggian yang telah kami jalani, kedua justru melemahkan, bagaimana tidak, dengan melihat deretan angka tersebut, hati kami makin ciut, tatkala menghitung-hitung selisih ketinggiannya, ha..ha..ha.... Saat itu musim hujan, walaupun pada pendakian kali ini kami tidak diguyur hujan, namun jalanan buechek kali pun, warisan hujan semalam kali, bayangkan pada bagian jalan tertentu licinnya aje gilee, ditambah jalan yang daki banget, berkali-kali kami harus merayap --tepatnya memanjat-- jalan yang becek itu, badan jadi sangat kotor, tanah pijakan longsor berjatuhan karena gembur sekali, untunglah ada akar, atau bagian dari tanaman yang bisa digunakan untuk berpegangan, sialnya, adakalanya pegangan itu sudah digunakan pendakipendaki lain sebelumnya, jadi selain menjadi kotor, juga licin mengkilat. Kami terus mendaki dengan nafas memburu, sekali-kali kami berhenti melepas dahaga, yah.. irit air tentunya, dan setiap pos kami beristirahat, bahkan di salah satu pos, kami beristirahat panjang
TOUGH ! ADVENTURER

31

sambil masak makan siang. Sementara kemudian kabut, awan, selalu menaungi perjalanan kami ini, suasana lembab sekali, tidak mengenakkan, apalagi ditambah dengan pohon-pohon di sekeliling yang juga basah, hitam, lembab, wah... mengganjal sekali suasana kala itu. Sedikit ulasan tentang keadaan kebersihan gunung ini, nampaknya sudah ada usaha-usaha untuk menjaga kebersihan di gunung itu, terlihat dengan adanya berbagai papan-papan bertuliskan imbauan ramah lingkungan, juga dengan disediakannya tong-tong sampah pada tempat-tempat tertentu, namun sayangnya, slogan tinggal slogan, masih ada yang membuang sampah seenaknya, lalu mengenai tong sampah tersebut, yeah.., usaha si pemasang tong sampah memang sudah mulia, namun bagaimana kelanjutannya, apakah tong sampah itu akan dijadikan tempat pembuangan akhir, atau sementara ?, siapa yang akan membuang isi tong sampah itu, bagaimana maintenance-nya, nampak tong sampah itu sudah tidak sanggup lagi menampung sampah, sehingga sudah ada bagian sampah yang tumpah ruah, berhamburan di sekelilingnya.
CIREMAI, Perjuangan Keras

32

Ada hal menarik dalam pendakian kali ini, terdapat suatu mitos yang sudah dikenal oleh para pendaki gunung Ciremai ini, salah satunya ialah dilarang membuang air kencing langsung mengenai tanah, hmm.. entah lah apakah larangan ini berhubungan secara mistis atau justru merupakan hal yang logis, namun secara akal sehat memang sih membuang hajat sembarangan akan mengganggu para pendaki lainnya, terlebih ditinjau dari segi estetika. Tetapi para pendaki kebanyakan tidak mau mengambil resiko, sehingga diterimanya aturan itu bulat-bulat, walhasil mereka mengambil plastik, atau botol bekas minuman mineral, dan..... yah.. mereka berhajat di situ, lalu menggantungkannya di pepohonan, tidak menyentuh tanah..khan.., akibatnya, selama perjalanan itu, kami banyak menemui kantong-kantong berwarna kekuningan bergelantungan di sampingsamping dahan, pohon, wow....., sehingga ada diantara pendaki, anekdot bahwasannya, bagaimanapun hausnya kita, janganlah meminum air yang ada dalam kantong-kantong yang bergelantungan selama perjalanan, selintas menggiurkan juga, ditambah dengan titik-titik embun di
TOUGH ! ADVENTURER

33

luar plastik penampungnya, segarrr... --ya terang aja..atuh--. Hari semakin sore, perjuangan kami sudah cukup panjang, tubuh letih sekali, tubuh basah terkena air yang menepel dari pergeseran dengan daun-daun selama perjalanan, bercampur dengan keringat, sekali, selama uf..cepel perjalanan masih banyak para pendaki lain --entah mereka tiba di puncak atau tidak-mereka turun, nampaknya mereka habis merayakan malam pergantian tahun, tadi malam. Hingga akhirnya kami tiba di suatu tempat terbuka, yang nampaknya cocok untuk bermalam di sana, rencananya, kami akan bermalam, dan dini hari esok, kami akan meneruskan perjalanan yang nampaknya tinggal beberapa meter lagi. Saat itu hari mulai gelap, di daerah terbuka itu angin dengan leluasa menyapu hebat daerah sekitarnya, termasuk kami, wah...dingin sekali, segera kami mencari tempat berlindung, untunglah ada sebuah ceruk yang nampaknya sudah biasa digunakan oleh para pendaki yang lain, kami berlindung di sana, menyalakan api, masak, dan mempersiapkan diri untuk tidur. Diluar sana angin masih terus bertiup, kadangkala sanggup mematikan
CIREMAI, Perjuangan Keras

34

api kecil dari sebatang lilin yang telah kami nyalakan. Kami pun tertidur di malam itu, sementara di luar angin masih bertiup, kencang, bersiul hebat, menyertai tidur lelah kami. Sekitar dini hari, kami dibangunkan oleh suara langkah kaki dan sorot lampu senter, nampaknya ada para pendaki lainnya yang akan menuju puncak pada saat itu. Memang bila ingin menyaksikan matahari terbit, nampaknya saat itulah yang paling tepat, tapi dasar kami saja yang malas, saat itu kami masih ingin tidur santai, hingga kami terbangun pada saat hari mulai terang, damn !, kami hanya bisa menyaksikan matahari terbit dari tempat itu, memang cukup indah juga sih, tapi khan kurang afdhol, rasanya. Segera kami bangun, berkemas, masak alakadarnya, dan kemudian segera berangkat melanjutkan perjalanan. Tidak seperti kemarin, route jalan kali ini jauh lebih kering, maklumlah daerah setinggi ini nampaknya sudah diluar jangkauan hujan, tetapi jalannya lebih daki dan berbau, berbatu, kadangkala eh.. menguntungkan kami, namun kadangkala bebatuan itu licin sehingga kurang nyaman
TOUGH ! ADVENTURER

35

untuk berpijak, dan kalo terpeleset, membentur dengkul, ugh..nyeri sekali. Kurang dari tigapuluh menit, akhirnya kamipun tiba di puncaknya, angin bertiup kencang sekali, matahari bersinar memanasi kami yang kedinginan ini, Gunung Ciremai memiliki kepundan yang besar sehingga kami saat itu berniat mengelilinginya, sembari mencari jalan turun melalui jalur lain. Namun sebelumnya kami menikmati dulu alam sekitar yang memang indah, dari atas sini kami bisa melihat panorama yang luar biasa, nampak di sebelah timur puncak gunung Slamet, dan sedikit nampak puncak gunung Sumbing, Sundoro, seolah menantang kami untuk turut mendakinya, di sebelah utara nampak pemandangan laut jawa yang tenang berikut pantainya, indah sekali, oh ya.. nampaknya ada benda kecil di tengah laut, sebuah kapal barangkali. Karena tadi sewaktu berangkat kami terburu-buru, sehingga dirasa perlu untuk makan lagi saat itu, sehingga kami mencari tempat yang sedikit terlindung, kemudian menyalakan api, masak dan makan. Seusai makan kami mulai berjalan mengitari puncak, pemandangan ke sisi
CIREMAI, Perjuangan Keras

36

sebelah dalam juga tak kalah indahnya, nampak hamparan kawah yang senantiasa masih mengepulkan asap putih tipis. Bejalan mengitari sisi kepundan memang memiliki citarasa tersendiri, kami bisa melihat pemandangan ke bawah sana dari berbagai sudut pandang, mulai dari pemandangan kota Cirebon, laut jawa, sungai besar yang berkelok-kelok, dan segala sesuatu yang berada disekitar gunung tertinggi di Jawa Barat itu. Di beberapa bagian yang kami lalui, kami menemukan beberapa tempat , tepatnya stasiun pengamatan, yang mungkin milik instansi Geologi, atau Geofisika, yang pasti kami tidak bisa memastikan apakah alat-alat tersebut masih berfungsi atau tidak. Sesuai dengan yang kami rencanakan sebelumnya, kami akan turun melalui jalur lain, memang ada jalur lain yang bisa digunakan, misalnya jalur Apuy, nah inilah jalur yang sedianya akan kami gunakan sebagai jalan turun, tetapi hingga saat itu, kami masih belum menemukan jalur tersebut. Kurang lebih setelah kami mengitari tigaperempat sisi kepundan akhirnya kami memutuskan untuk turun
TOUGH ! ADVENTURER

37

melaui jalan yang memang nampak, tepat disisi sebuah alat pengukur kecepatan/arah angin yang telah rusak. Kami sepakat turun melalui jalur itu. Tak lama kemudian kami sudah dalam perjalanan turun, saat itu tanggal 2 Januari 1993 pukul 10.26 WIB. Belakangan memang jalur yang kami turuni itu bukanlah jalur menuju Apuy, sebab jalur turun yang sebenarnya --ke arah Apuy-- adalah tepat menghadap tugu / patok ketinggian, --yang telah kami lewati kurang lebih pada setengah putaran tadi--, bukannya pada alat pengukur kecepatan angin yang kami kira. Sinar matahari masih bersinar, siang itu bersinar agak terik, daerah yang kami lalui masih berupa hamparan rumput, yang makin lama makin tinggi, berkali-kali kami menemui persimpangan, kami selalu memutuskan mangambil salah satu jalur, tanpa peduli apakah itu benar atau tidak, sebab kami memiliki asumsi bahwa jalurjalur itu akan bertemu kembali. Semakin lama kami berjalan, semakin yakin bahwa itu bukanlah jalur turun menuju Apuy, bagaimana tidak, jalur yang kami lalui semakin tidak jelas, nampaknya sudah jarang digunakan orang,
CIREMAI, Perjuangan Keras

38

sedari tadi kami tak menemukan sampah, hmm rupanya sampah itu ada gunanya juga yach..., terlebih setelah kita memasuki daerah hutan yang lebat, tiap langkah yang kami pijak selalu berbunyi gemeretak, menginjak ranting dan humus yang tebal, pertanda baru kamilah yang menginjak di tempat tersebut, berkali-kali kami berusaha mencari jalan yang memungkinkan, tepatnya layak untuk kami lalui, mau kembali lagi ke atas...akh..malas coy. Beruntunglah bila kami menemukan sebuah path, kami segera menyusurinya, namun tak lama kemudian hilang ditelan tumbuhan yang tumbuh di sekelilingnya. Sementara kami melihat daerah sekeliling, penuh pohon yang besar-besar, nampak kami masih diatas awan, suasana lebih mencekam dan lebih lembab --padahal langit cerah, pada jam-jam seperti itu kabut masih jauh di bawah kami--, dibandingkan saat kemarin sewaktu berangkat. Kami memutuskan jalan terus, daripada bingung memikirkan, apalagi mencari kembali jalan turun melalui Apuy, hal inilah yang membuat kami merasa segan dan menunda waktu makan siang kami yang saat itu memang sudah waktunya, kami lebih khawatir terhadap keadaan saat itu dibandingkan keadaan perut kami, maklum
TOUGH ! ADVENTURER

39

kami baru pertama kali itu mendaki gunung berketinggian diatas 3000-m, sehingga perjalanan dirasa panjang sekali. Semakin lama kami menuruni gunung, semakin mendung suasana yang menaungi kami itu, dan tentu, semakin lebat pepohonan yang melingkupi kami, peta kompas yang kami bawa sudah tidak kami pedulikan lagi, kami sudah malas untuk berorientasi lagi, sebab sulit untuk menentukan titik-titik ekstrim dari dalam hutan nan lebat itu. Tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya, mengguyur bumi ini, kami yang berada di bawah naungan pohon-pohon masih tetap merasakan curahan hujan yang kami akui sangat deras sekali saat itu, belum lagi dengan petir yang senantiasa muncul, yang bila diamati dari selisih kemunculannya hingga timbulnya guruh, menandakan betapa dekatnya akar api itu dengan bumi, yang membuat kami semakin dekat dengan Allah, Allahu akbar, Allahu akbar !!!. Kami sepakat untuk jalan terus, kami merasa segan untuk berhenti di tempat seperti itu, tertutup pepohonan maha rindang, lembab, belum lagi hujan lebat begitu, segera kami mengenakan
CIREMAI, Perjuangan Keras

40

pelindung hujan, dan terus berjalan, semakin lama berjalan, semakin terasa air mulai membasahi tubuh kami, dingin, bercampur dengan keringat kami yang hangat, membuat tubuh ini menjadi berasap hebat. Petir masih terus-menerus menyambar dengan hebatnya, angin, hujan, menerpa kami seolah dicurahkan begitu saja dari langit, sementara kami dengan langkah tergesa-gesa terus dihantui perasaan ngeri, mencekam, saya pribadi jadi ingat rumah, ayah, ibu, saudara, akh...mungkin inilah akhir hayat kami, benar-benar mencekam sekali, dan saya sendiri koq jadi melankolis begini !! Tiba di daerah sedikit terbuka, namun masih dalam area hutan yang memiliki pepohonan besar, kami berhenti sejenak, sesaat kami ragu, apakah petir akan menyambar kami di daerah terbuka di depan kami, akh.. terlalu didramatisir sekali suasana saat itu, pikirku... segera kami menerobos daerah terbuka itu... secepat itu pula petir menyambar dengan hebatnya, terasa dekat sekali rasanya, tanah yang kami pijak seolah bergetar, kami sempat berpekik sesaat, segera kami merendahkan langkah kami, namun masih terus menembus hamparan terbuka itu,
TOUGH ! ADVENTURER

41

hingga tiba di daerah yang tertutup kembali, kami berhenti, melihat kembali jalan yang baru saja kami lewati... fiuh...., namun kami tidak bisa berhenti, kami harus jalan terus, daripada basah kedinginan, lebih baik kami hangatkan dengan deru nafas kami. Kekhawatiran kami bertambah seiring dengan masih terusnya petir menyambar-nyambar gemuruhnya menggetarkan sekali, seolah pecah dada ini, yang kami khawatirkan bukanlah petirnya, tetapi justru bila petir itu menyambar pohon diatas kami dan jatuh menimpa kami, nah...., kami terus berjalan dengan sekali-kali berhenti menarik nafas, kami masih sesekali berhenti, mencari-cari jalur yang layak, maklum tanah yang kami pijak semakin gembur ditambah dengan air yang membuat jalan menjadi becek, jeblog, berkali-kali kami terpeleset, jatuh terduduk. Hingga menjelang sore hari, masih dibawah guyuran hujan, kami mulai memasuki daerah yang sedikit tidak wild, namun jalur semakin tidak bisa kami taksir, selintas nampak oleh kami diatas hamparan alang-alang yang tumbuh subur
CIREMAI, Perjuangan Keras

42

di sana, sebuah jalur yang berupa rebahan alang-alang, membentuk sebuah jalur, tanpa pikir panjang kami mengikutinya, dengan suka cita, memang cukup panjang jalur rebahan itu, namun lama kelamaan timbul kekhawatiran, nampaknya jalur ini masih baru dilalui, nampak sekali dari bekas rebahan, serta patahan batang rumputnya, akh.. ada apa gerangan, kami tidak mau ambil resiko, sehingga setelah memasuki daerah pepohonan hetrerogen kamipun mencari jalur lain, belakangan nampaknya jalur yang kami lalui itu kemungkinan besar adalah jalur binatang, mengenai jenis binatang apa yang berada di depan kami saat itu, entahlah, yang pasti kami tidak terperangkap mengikutinya hingga, mungkin, ke sarangnya, masih terbayang hingga kini betapa lebarnya daerah rebahan yang ditimbulkannya, menandakan seberapa besar mahluk yang melewatinya, kadangkala rebah ke kiri, ke kanan bahkan pada keduanya. Hari semakin gelap, menjelang sore hari kami merasa sedikit terhibur, tatkala kami tiba di sebuah daerah yang nampaknya memiliki pola tanaman teratur, benar, kami tiba di ujung daerah reboisasi, nampak masih banyak bibit-bibit pohon
TOUGH ! ADVENTURER

43

yang belum tumbuh, ditanam teratur, perkiraan kami, daerah itu tentu sudah dijamah oleh orang, dan pasti tak lama lagi kami akan menemui perkampungan, syukurlah, tetapi tunggu dulu, kami ternyata masih terus berjalan-dan berjalan, kali ini peta yang kami bawa sudah benarbenar tidak bisa di baca, luntur oleh air hujan, hal ini menjadikan pelajaran buat kami pada perjalanan berikutnya, untuk membungkus plastik dengan rapi, peta yang kami bawa. Hingga hari gelap, kami masih terus berjalan, dengan path yang ‘gak jelas sementara kami masih belum menemui daerah kehidupan, nampak sekilas nun jauh dibawah sana --diantara celah pepohonan-- kerlipan lampu, mungkin dari sebuah kampung, masih jauh..., kami kini dibantu dengan lampu senter, hujan masih turun, dan sudah tak terhitung lagi berapa kali kami jatuh bangun terpeleset. Inilah rupanya keburukannya sebuah team kecil, nampaknya kami saling gengsi untuk lebih dahulu berhenti, bah.., sehingga kami terus saja berjalan, kini nampak makin melemah, kami semakin jarang berbicara, kami sibuk dengan alam pikiran serta khayalannya masing-masing CIREMAI, Perjuangan Keras

44

-biasanya pikiran kala itu penuh dengan segala sesuatu yang enak-enak--, bayangan sinar lampu senter kami, mamberi imajinasi pada pikiran kami masingmasing, gelap, basah, sunyi, sepi, lapar, lelah, akhh.. kapan hal ini akan berakhir........... Entah siapa yang memulainya -hingga kini pun kami masih memperdebatkannya--, kamipun berhenti di sebuah tempat, entah memadai entah tidak kami tak peduli lagi, saat itu kami benar-benar lelah sekali, kami sudah tidak sanggup melanjutkan perjalanan lagi, biarlah apa yang ada di sekeliling kami saat itu kami tak peduli, kami sepakat untuk segera tidur, untuk memulihkan tenaga, tapi kami ingat akan bahaya yang menghadang kami, ingat kami harus masih tetap dalam keadaan sadar, sangatlah berbahaya untuk segera melepas lelah dalam keadaan begitu lelahnya, sehingga kamipun sepakat untuk mengisi dahulu kalori yang sedari siang tadi belum terisi, mau masak akh.. tidak mungkin, korek api sudah basah, tanganpun malas untuk bergerak-gerak, kami segera membuka makanan kaleng, makanan yang memang cocok buat keadaan darurat seperti itu,
TOUGH ! ADVENTURER

45

kami segera menyantapnya, tanpa dimasak terlebih dahulu, yang penting bukan nikmatnya, tetapi kalorinya, kami ingin agar panas tubuh kami yang akan banyak keluar pada saat kami tidur nanti, akan terganti dengan makanan saat itu. Tiba saat tidur, busyet.. ternyata isi ransel kami basah semua --inilah packing pertama kami, untuk perjalanan mendaki gunung diatas 3000 m-- sehingga sleeping bag, yang sedari tadi merupakan harapan terakhir kami satu-satunya yang bisa menjamin kenikmatan kami, ternyata basah kuyup, hingga ke dalam-dalamnya... pupus sudah harapan kami, saya pribadi kecewa banget, sudah tidak ambil pusing, segera ku buka semua baju yang ku kenakan, dan segera masuk ke dalam sleepng bag yang sudah mirip kantung air, saya masuk ke dalammya, sesaat terdengar bunyi berkecipak, akh...., dinginnya masya Allah, tapi biarlah ku tahan sesaat, toh nantinya akan hangat oleh tubuh ku sendiri,...begitulah, sesaat kemudian memang jadi hangat, walaupun masih basah, betapa nyamannya, ooh..segera ku lemaskan kaki-kaki yang sedari tadi terus bergerak, sementara di luar --kami tidur hanya dengan sleeping bag dan dibungkus
CIREMAI, Perjuangan Keras

46

dengan poncho-- hujan masih turun, menerpa poncho, menimbulkan suara khas yang turut menyertai tidur lelah kami saat itu, Laaila ha ilallaah. Keesokan harinya, hujan sudah berhenti, langit biru, sementara di timur matahari mulai menembus diantara rimbunnya pepohonan, aku bangun, kusingkapkan poncho yang menaungiku, Alhamdulillah....., indahnya suasana pagi itu, seolah masih memberi harapan hidup kepada kami, kami terbangun mengamati sekelilingnya, ternyata kami bermalam di tempat yang cukup indah, hamparan rumput hijau segar, pohon pinus yang memiliki pesona tersendiri, kicau burung yang .... wah..indah sekali. Lamat-lamat terdengar alunan lagu dangdut, aha..pasti ada kehidupan di depan kami. Tubuh yang terbungkus kantung tidurku sudah mengering --termasuk kantung tidurnya--, segera kami berkemas, berpakaian, dan segera --tanpa makan dulu-- melanjutkan perjalanan, waduh... serasa segar sekali saat itu, new power, new spirit, saat itu 3 Januari 1993 pukul 06.37 WIB. Dalam perjalanan, kami menemui seseorang yang bisa kami tanyai, menurut
TOUGH ! ADVENTURER

47

beliau, di bawah sudah ada desa, nah.. kamipun melanjutkan perjalanan dengan suka cita. Memang tak lama kemudian kami telah menemukan desa, ini memberikan ketenangan tersendiri bagi di kami, bagaimanapun kami telah berada di lingkungan yang civilize, melewati MCK, kami bersih-bersih dulu, berak dan cuci muka, trus kami meneruskan perjalanan, kali ini, menempuh jalan melalui jalur jalan desa. Ternyata perjalanan ini masih jauh, kami musti berjalan puluhan kilometerlagi untuk tiba di jalan raya desa, ternyata jalur jalan yang terbentang lebar di hadapan kami, serasa lebih melelahkan daripada jalur jalan di hutan, mau berhenti dan singgah di rumah pendukuk, akh... segan dech, apalagi dengan tampang dan pakaian berlumut dekil begini, waw..... Kesulitan muncul lagi, kali ini masalah uang transport yang pas-pasan, sehingga tidak memungkinkan kami untuk membeli sesuatu di warung, sebab jatah uangnya ngepaasss sekali. Kami terus berjalan di jalur yang nyaman itu.

CIREMAI, Perjuangan Keras

48

Tiba di sebuah jalan raya desa, berdasarkan petunjuk seorang penduduk, akhirnya kami naik kendaraan umum, menuju terminal Rajagaluh, dari sana naik lagi ke jurusan terminal Majalengka, dan dari sana kami melanjutkan ke Cirebon, tetapi karena uang kami tidak mencukupi, kami turun di pertengahan jalur CirebonBandung, dan di sana kami bisa mencegat bus yang menuju Bandung. Ternyata perjuangan kami belum berakhir, kami harus menunggu bus yang langka, penuh lagi, dan kami harus bersaing dengan calon penumpang lainnya, belum lagi bawaan kami yang turut menggelayut di punggung kami, turut merepotkan. Sambil menunggu di pinggir jalan, lamunan kami melayang pada resoran di ujung sana, tak jauh dari tempat kami menunggu, aduhh, kalo lagi ada duit, mungkin saya pribadi udah beli baso tahu plus segelas susu soda, tapi...aghh.... Singkat cerita kami bisa mendapatkan bus, walaupun berdiri, dan tiba di Bandung dengan Selamat, tiba di rumah masing-masing. Belakangan inilah
TOUGH ! ADVENTURER

49

satu-satunya gunung yang paling keras, dan kami sepakat, gunung ini kami beri bintang lima, he..he.., oh ya inipun merupakan satu-satunya gunung, dimana kami tak bisa melihat sosok gunung itu lagi pada saat tiba di bawah -maklumlah, gunung itu telah tenggelam oleh punggungan-punggungan sewaktu kami menuruninya--. Menutup tulisan ini aku ingat dengan kata-kata yang diucapkan oleh seorang instruktur sewaktu aku mengikuti Suatu Pendidikan Dasar alam terbuka di mengambil “Biasakan Bandung, keputusan dalam kondisi ‘under pressure’, dan biasakan pula beraktifitas dalam perut kosong”, hmmm.......***

CIREMAI, Perjuangan Keras

50

TOUGH ! ADVENTURER

PANGRANGO Gunung Wisata
ILA Gunung itu tidak memiliki ketinggian lebih dari 3000 meter, dapat dipastikan kami tidak akan mendakinya. Setidak-tidaknya itulah kesan yang timbul ketika kami tiba di Gunung Putri, salah satu --dari tiga jalur resmi-- pendakian ke gunung Pangrango (3019 mdpl5), setelah melihat bagaimana
5

B

Lihat not 1

52

jalan tol terbentang lebar di hadapan kami hingga ke puncak gunung, tough...kah ??. Sekali lagi, karena kami terpaksa -demi konsistensi pada komitmen-- harus mendaki gunung Pangrango, yang nota bene sudah termasuk pendakian wisata, maka sebelum pendakian kami harus disibukkan dengan pengurusan ijin-ijin, dimulai dengan pengurusan ijin dari kantor polisi di Bandung, hingga pengurusan ijin di lokasi. Ada kisah menarik dalam proses perijinan di lokasi pendakian. Ceritanya begini, berdasarkan informasi dari seorang rekan di Bandung, maka kami berangkat mendaki hanya dengan membawa surat jalan dari kepolisian Bandung, kami berangkat dari Bandung dini hari pukul 03.30 WIB tanggal 14 July 1994, kami tiba di Cipanas --samping Istana Cipanas-tepat dua jam kemudian. Setelah mengisi perut sejenak, kami segera naik Angkot ke Gunung Putri. Setibanya di sana, selain kekaguman pada jalan tol, kamipun ternyata harus melengkapi diri dengan berbagai surat-surat yang tidak kami miliki saat itu, Shit..!!, kalo gunung ini tidak berketinggian diatas 3000 m kami tak akan mendakinya !!.

TOUGH ! ADVENTURER

53

Karena konsistensi kami, maka segera kami berangkat kembali ke bawah, mengurus surat-surat, dalam perjalanan kami telah bersiap-siap menghadang tembok-tembok birokrasi yang paling tidak kami sukai, oh ya, ransel kami titipkan di pos Gunung Putri. Mula-mula kami mengunjungi Puskesmas, untuk meminta Surat keterangan Sehat dari Dokter, mulanya kami ragu, ini puskesmas atau Pos Yandu sih, soalnya, di pagi itu banyak sekali ibu-ibu bunting, dan beberapa menggendong anak kecil, namun setelah kami tanyakan ke petugas, ternyata kami bisa juga meminta surat keterangan di sini. Singkat cerita kami telah mendapatkan Surat keterangan Dokter, kemudian perjalanan kami lanjutkan ke kantor PHPA, disana kami meminta ijin seraya melampirkan berbagai persyaratan yang di minta, namun betapa kecewanya kami, tatkala petugas disana tidak mengijinkan kami lantaran kami akan mendaki hanya dengan personil dua orang, padahal, katanya, minimal harus tiga orang, waduh, gimana nich, kamipun keluar, kami malas berdebat dengan orang-orang kaku yang sekedar menjalankan tugas tersebut -inilah kekurangan perjalanan kami yang tidak bawa-bawa nama organisasi--,
PANGRANGO, Gunung Wisata

54

sehingga kamipun keluar, sambil mempersiapkan rencana selanjutnya. Rencana kami, kami akan menunggu para pendaki lain, toh disana --di Cibodas-akan banyak pendaki yang lewat situ, maksudnya kami akan membajak salah satu pendaki, yah, sebagai pelengkap persyaratan, toh tidak ada ruginya mereka juga akan meminta ijin juga khan ?. Memang sih banyak waktu yang terbuang dalam penantian itu, namun akhirnya kami berhasil menculik seorang pendaki, menjadikannya sebagai joki, dan yah keluarlah surat ijin yang menjadi kunci untuk memasuki penjara hutan nasional Gede-Pangrango. Sebenarnya kami bisa mendaki langsung dari Cibodas, namun apadaya, ransel kami ditinggal di Gunung Putri, tak apalah, nantinya hal ini akan membawa kesan tersendiri dalam perjalanan kami ini koq. Kamipun kembali lagi ke Gunung putri segera setelah ijin keluar, tentunya setelah berterimakasih kepada sang joki . Segera kami kembali ke Gunung putri, kemudian menyerahkan ijin, dan kamipun diperbolehkan berangkat mendaki, pendakian pun dimulai, saat itu pukul 11.30 WIB. Sedikit ulasan mengenai
TOUGH ! ADVENTURER

55

jalur pendakian ke gunung GedePangrango, jalur resmi menuju puncak gunung ada tiga, yaitu dari Cibodas (tempat PHPA), Jalur Gunung Putri, dan Jalur Salabintana (Sukabumi), sebenarnya bagi kami yang ingin mendaki Gunung Pangrango akan lebih baik memakai jalur Cibodas, sebab nanti pada perjalanan akan berjumpa dengan pertigaan --Kandang Badak-- yang membagi jalur ke gunung Gede dan Pangrango, sedangkan kali itu kami mendaki dari Gunung Putri, maka kami harus mendaki dahulu gunung Gede, turun lagi, dan baru lah mendaki gunung tapi biarlah, Pangrango, toh ini...Tough..Adventure !!. Pendakian melalui jalur Gunung Putri kali ini memang sepi, nampaknya banyak orang yang senang mendaki melalui jalur Cibodas, sebab belakangan kami ketahui --sewaktu pulang-- jalurnya lebih landai, banyak persediaan air, bahkan air panas yang mengalir, terlebih satu jalur dengan tempat meminta surat ijin, ya.. di PHPA itu. Sehingga jalur lainnya nampaknya hanya digunakan sebagai alternatif jalur turun saja.

PANGRANGO, Gunung Wisata

56

Satu jam berjalan, kami memutuskan istirahat sambil makan siang, kami memilih tempat ditepi sungai -menurut penjaga pos tadi, ini merupakan sungai terakhir--, kami masak, makan, sambil istirahat, total, tigapuluh menit kemudian kami siap untuk berjalan lagi. Seperti yang telah diutarakan pada awal cerita ini, jalur pendakian sudah terbentang lebar, dilengkapi dengan tangga-tangga, dari batang-batang pohon, terus setiap beberapa meter dipasang shelter-shelter sebagai tempat beristrahat, wah.. benarbenar gunung yang memberikan pelayanan prima, tapi..bagi kami, sebagai pendaki tough !!, hal tersebut sangat memanjakan sekali, tidak ada tantangan. Tak ada yang menarik untuk diceritakan dalam pendakian kali ini, semuanya berjalan lancar-lancar saja, hingga akhirnya kami tiba di alun-alun Suryakencana, daerah datar, nan luas, penuh ditumbuhi pohon-pohon Edelweis, indah sekali suasana saat itu, belum lagi dengan terpaan sinar mentari yang masih cukup terik, walaupun sudah tergelincir ke ufuk barat, nampak disebelah kanan kami, gunung gede yang sebentar lagi akan kami daki. Kami berjalan di padang nan luas itu
TOUGH ! ADVENTURER

57

dari sana mulai banyak bertebaran sampahsampah yang ditinggalkan pendaki, rupanya daerah ini banyak digunakan pendaki untuk nge-camp, waduh semakin dekat ke kaki gunung, semakin banyak sampah yang dijumpai, kotor sekali. Kami segera memulai mendaki Gede, yang hanya beberapa meter lagi, terus kami mendaki, hingga tigapuluh menit kemudian kamipun tiba di Puncak Gede, memang indah sekali suasana pada saat itu, matahari sedang dalam fase menenggelamkan diri di perut bumi, sementara dihadapan kami nampak menjulang --sedikit lebih tinggi--, gunung tujuan kami yaitu Pangrango, waduh, rasanya malas sekali untuk turun untuk kemudian mendaki lagi gunung berikutnya, Pangrango, yang nampak begitu segitiga. Setelah menikmati alam sesaat, kami segera turun, kami tidak ingin berlama-lama menunggu hari gelap, segera kamipun berjalan menuruni Gunung Gede, tidak seperti jalur Gunung Putri, maka jalur yang kami turuni ini --jalur dari Cibodas-- penuh sekali dengan sampah yang menutupi jalan, mulai dari bungkus mie instan, kaleng-kaleng minuman, plastik, kertas koran, bahkan --maaf-PANGRANGO, Gunung Wisata

58

pembalut wanitapun kami temui, aduh.. kotor sekali, mungkin inilah keadaan dari sebuah gunung yang bisa didaki oleh para pendaki yang penuh fasilitas, sehingga mengabaikan kualitas lingkungan, yeah.. nampaknya kawasan gunung ini memang membuka peluang besar bagi para pendaki gunung amatiran yang baru gede --ini istilah kami--. Malam hari kami tiba di pertigaan yang telah kami ulas sebelumnya, namanya Kandang Badak. Kami memang berencana untuk bermalam di sana, memang sudah ramai keadaan di sana, rata-rata mereka akan mendaki ke Gunung gede esok hari, ada yang sedang masak, tidur, nge-camp, atau menempati sebuah pondok yang cukup luas, disanapun sarana air bersih cukup memadai. Kamipun masak sebentar, dan kemudian tidur dengan menempati salah satu pojok dari pondok tersebut. Semakin malam, bahkan dini hari, semakin banyak yang datang --pendaki dari arah Cibodas-- sehingga suasana di Kandang Badak semakin ramai, hal itu menjadikan kami tidak bisa tidur, kami saling ngobrol, kebayakan dari mereka adalah pendaki dari Bogor dan Jakarta,
TOUGH ! ADVENTURER

59

dari Bandung pun hanya beberapa team, dan tujuan mereka semuanya adalah ke Gunung Gede, nampaknya hanya kami lah yang saat itu akan menuju gunung Pangrango --tapi kami habis turun dari Gede, lho--. Hal menarik yang kami jumpai dalam keramaian itu adalah nampak banyak anak-anak yang lebih pantas dikatakan mau tamasya, betapa tidak, pakaian rapih, dan wanitanya, wow... , belum lagi di pojok sana, tampak dua anak sedang tiduran sambil kompor gasnya menyala untuk mendidihkan air minum...hah...merebus air...gilaa... kalau kami sih...dalam keadaan seperti ini hanya minum air mentah..... Satu jam lebih awal dari jadwal keberangkatan kami semula --soalnya suasana semakin hiruk-pikuk--, kami memutuskan mengisi perut dahulu, untuk kemudian melanjutkan perjalanan, setelah kami masak dan makan maka kami berangkat mendaki kembali, saat itu pukul 02.45 WIB tanggal 15 July 1994, pendakian kali ini jauh lebih sepi, dan bersih dari berbagai sampah, nampaknya jarang sekali ada pendaki yang lewat situ,
PANGRANGO, Gunung Wisata

60

jalurnya bercabang-cabang --belakangan kami ketahui bahwa semuanya sama saja, toh hanya sekedar jalan pintas--, pendakian kali itu memang lebih curam dari saat kemarin mendaki gunung Gede, juga jalannya tidak selebar --jalan tol-- kemarin, hingga akhirnya menjelang matahari terbit, kamipun tiba di Puncak, terus terang kami tidak menduga puncaknya se-garing ini, bayangkan puncaknya tertutup pohon, sehingga tidak bisa melihat sekeliling, terdapat shelter, dan tugu batu dan tulisan Puncak Pangrango, waduh --lagi--...kalo gunung ini tidak berketinggian diatas 3000, tentu tidak akan kami daki, memang pendakian yang nyaman sekali. Kami memang berencana tinggal lama di puncak, hingga menjelang matahari tinggi, kami akan segera turun, dalam penantian itu kami masak seadanya --maklumlah bahan makanan kami sudah mulai habis--, santai sekali kegiatan kami saat itu, kemudian ternyata tibalah team pendaki yang ternyata dari Bandung juga, ternyata ada juga yang mendaki ke Pangrango, tapi bedanya, mereka -berlima-- tidak mengenakan ransel, mereka menitipkannya di Kandang Badak, he-he.. kami masih lebih Tough... cing !!. Mereka
TOUGH ! ADVENTURER

61

tidak lama koq, kemudian meraka kembali lagi turun. Oh ya kamipun sempat mengunjungi lembah Mandalawangi, yah.. semacam padang Suryakencana, tetapi tidak begitu luas, juga dipenuhi timbuhan Edelweis, terus kami kembali ke Puncak, tidur-tiduran...pokoknya santaii sekali, ehm..sekedar memanfatkan fasilitas...kita sudah bayar mahal koq. Akhirnya setelah lama, matahari mulai meninggi, dan kamipun sudah mulai jenuh, kamipun mulai berkemas, dan turun. Perjalanan turun biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, sehingga kurang lebih satu jam kemudian kamipun tiba di Kandang badak, suasana sudah sepi, tidak ada siapasiapa, kami hanya sempat bertemu dengan team dari Bandung --yang tadi naik ke Pangrango-- yang sudah siap pulang meninggalkan kandang Badak. Rencananya kami akan turun melalui jalur Cibodas, namun sebelumnya kami akan santai dulu koq, kami takut sih akan menyusul team yang di depan kami, kasian khan !!. Kemudian datang pula satu team yang baru turun dari Gunung Gede, mereka pun istirahat dulu di sana. Seperti biasa kami ngobrol. Dalam obrolan itu
PANGRANGO, Gunung Wisata

62

dibicarakan masalah pemeriksaan di pos di bawah, apakah ketat atau tidak, kami sendiri belum mengalaminya, namun menurut pendaki sebelumnya, memang, suka diadakan penggeledahan, baik isi ransel maupun badan, nah kalau ditemukan barang yang dilarang misalnya radio, golok, atau bahkan bunga Edelweis, yang terakhir ini bila ketahuan membawa akan dikenakan sanksi yang aje gile..!! , namun belakangan kami tidak mengalami penggeledahan koq, walaupun hati cemas karena kami membawa sebuah golok tebas. Yang membuat kami Geli adalah para pendaki yang baru turun dari Gede, begitu was-was nya karena membawa sekuntum bunga Edelweis, yah hanya sekuntum -manis sekali memang--, terlepas dari sanksi dan pelestarian --katanya-- kawasan Gede-Pangrango, sebenarnya --kalau mau- kami bisa membawa Bunga Edelweis yang lebih banyak, bahkan kalau perlu pohonnya, sayang kami sudah tidak begitu suka bunga abadi itu. Hingga dirasa sudah tiba waktunya, kamipun berpamitan untuk pulang duluan, kami berjalan melalui jalur yang ternyata lebih mulus dari jalur Gunung Putri, yah.. memang sih akan jauh lebih panjang
TOUGH ! ADVENTURER

63

jalurnya. Di perjalanan kami menyebrangi sungai, air terjun yang mengalirkan air panas --saya terpaksa melepas kacamata, sebab ber-embun--, wah asyik sekali...lama kami berjalan menyusuri jalan tol itu, kerap kali kami berpapasan oleh para pendaki lainnya yang baru akan mendaki. Memang jalur ini lebih nikmat dari jalur manapun, lebih ramai, bahkan melewati pinggiran lapangan golf, semakin minderlah kami yang turun dengan baju lusuh, baru kami sadar.. mengapa kebanyakan para pendaki yang melewati jalur itu selalu mengenakan pakaian yang yahuud dan wangi, benar-benar mountain look,...he..he..he.. Akhirnya kami tiba di PHPA, tempat kami mendaftarkan diri kemarin, kami segera naik angkot, ke Cianjur, sudah ingin cepat-cepat tiba di Bandung sih..... kami pun naik bis ke Bandung. Kesan yang kami peroleh dalam perjalanan kali ini adalah, mulus, penuh fasilitas, kurang tough!, kotor, dan merupakan pendakian yang mahal !!!. Selama perjalana banyak dijumpai papanpapan yang sia-sia sekali keberadaannya,
PANGRANGO, Gunung Wisata

64

yaitu yang bertuliskan “Cintailah Kami, Bawalah Sampah Kembali “, yeah... ternyata tidak semua pendaki merasa turut memiliki alam ciptaan Allah ini.... , bila gunung ini tidak memiliki tinggi lebih dari 3000 meter -- sekali lagi, untuk yang terakhir-tentu kami tak akan mendakinya....bah ! .***

TOUGH ! ADVENTURER

RAUNG, Kopi Mbah Srane
AGI hari, 24 Agustus 1994 -- satu minggu lebih lambat dari jadual semula-- di stasiun Kereta api, aku menunggu --tepatnya menjemput-rekanku yang akan tiba di Banyuwangi, memang sebelumnya saya telah tinggal di Banyuwangi, kurang lebih satu minggu. Kereta datang, dan tak lama kemudian dengan mudah kami telah saling bertemu dan segera menuju rumah teman di Banyuwangi yang selama ini saya tumpangi. Selama di Banyuwangi saya telah menghubungi berbagai pihak, terutama yang berhubungan dengan jalur pendakian ke gunung-gunung yang bakal kami daki seperti gunung Raung dan Argopuro, informasi yang saya dapatkan sangat berfariasi, dan saya mengambil salah satu yang dianggap terbaik.

P

66

Setelah sebentar, mengaso sekaligus packing ulang, maka menjelang pukul 09.00 WIB, kamipun segera pergi menuju Stasiun KA kembali, untuk naik Kereta yang menuju Jember. Singkat cerita kami telah dalam perjalanan menuju Jember, dan kurang lebih tiga jam kemudian kami telah tiba di Arjasa --kota kecamatan di Jember--. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Bondowoso, dengan menggunakan bus umum, dan kurang lebih empat puluh lima menit kemudian kami tiba di terminal Bondowoso, suasana saat itu terik, kering, terbakar oleh mentari kemarau yang panas menyengat, sementara kami dengan tubuh mendua --berat oleh bawaan kami-nampak sedang hilir mudik diantara keramaian terminal, mencari angkutan ke tempat tujuan. Akhirnya kami mendapatkan angkutan --orang sana bilangnya taksi--, kalau kami sih menyebutnya omprengan, tujuannya jelas yaitu ke Sumberwringin, sebuah kota kecil, tempat desa terakhir sebelum puncak gunung Raung (3332 m dpl6) berada.

6

Lihat note 1

TOUGH ! ADVENTURER

67

Satu jam perjalanan kami disuguhi pemandangan kebun tebu yang nampaknya sudah siap dipotong, terasa sekali suasana khas pedesaan di Jawa timur, kebanyakan penduduknya berbahasa Madura, memang menurut sang sopir, daerah sini -Bondowoso khususnya-memiliki penduduk yang berasal dari pendatang dari kebanyakan orang Madura. Akhirnya kami tiba di tujuan, dengan diantar pak sopir, kami menuju kantor pembantu camat untuk meminta ijin pendakian. Sebenarnya istilah meminta ijin tidak sepenuhnya tepat, yang tepat adalah melaporkan pendakian, bagaimana tidak, belakangan untuk mendaki gunung-gunung di Jawa timur dan Jawa tengah tidaklah membutuhkan birokrasi yang rumit, hanya sekedar lapor, dan membayar uang administrasi ala kadarnya, sehingga hampir 100% calon pendaki bisa lolos untuk mendaki, berbeda dengan gununggunung di Jawa barat yang full birokrasi, pokoknya rumit dah, entah karena alasan faktor keamanan atau apalah, namun kami hanya bisa melaksanakan prosedur yang berlaku.

RAUNG, Kopi Mbah Srane

68

Setelah melapor, kami diberi peta kasar tanpa skala, dan kemudian kamipun segera melanjutkan perjalanan. Sebenarnya dari tempat itu terdapat kendaraan ojeg yang mengantar hingga Pondok Motor -demikianlah nama pondok terakhirnya--, namun dengan pertimbangan hemat biaya, dll, kamipun sepakat berjalan kaki saja sejauh 5 km. Perjalanan kali ini masih diliputi semangat yang tinggi, kami melewati kampung, dan perkebunan kopi, mentari sore sudah tidak terik lagi, jalanan berbatu dan akhirnya berpasir, adakalanya ada truk yang lewat, kamipun minta diri untuk nebeng, hingga akhirnya kamipun tiba di sebuah pundok, ada tulisannya pondok pendaki, dan kamipun berhenti dahulu di sana. Tidak ada siapa-siapa di sana, yang ada hanya seorang bapak tua yang sedang bengong, saya sapa, diam saja, namun muncul seorang nenek tua yang menyapa kami dengan bahasa maduranya, waduh, saya yang sedikitnya mengerti bahasa jawa, dibuatnya tidak berkutik dengan celoteh maduranya, akhirnya komunikasi berlanjut dengan bahasa tarzan. Nama
TOUGH ! ADVENTURER

69

pasangan serasi itu adalah Mbah Srane, menurut beliau, ia sudah tinggal lama di sana sejak jaman PKI berkuasa. Sambil menunggu dan meminta ijin membongkar muatan, yang sedianya sebagian dari logistik akan kami titipkan disini, sang nenek menghidangkan segelas kecil kopi, dingin memang, itu kami maklumi, namun, busyet.. alangkah lezatnya kopi itu, nampaknya kopi asli dari kebun yang mengitari pondok itu. Semula kami tidak mau merepotkan pasangan itu, namun dilihat dari caranya menyajikan kopi, nasi, beserta sayurnya, kami yakin bahwa kegiatannya itu sudah menjadi kebiasaan sebagai tuan rumah, jadi yah, mau apa lagi......, satu hal yang kami sayangkan, kepada kami dan kepada setiap pendaki yang datang kemudian, mbah Srane senantiasa menanyakan obat batuk, tentu saja banyak diantara kami yang tidak membawanya, belakangan setelah kami turun gunung dan bertemu sesama pendaki lain yang akan naik, kami nyuruh agar mereka membawa obat batuk buat Mbah Srane, dan gilanya mereka nurut tuch !!, dasar bego. Setelah packing, sedianya kami akan berangkat ba’da Magrib, namun sang
RAUNG, Kopi Mbah Srane

70

mbah melarang kami, alasannya menunggu bulan terang, yah kamipun menurut, kami menunggu bulan muncul, yang diperkirakan tiga jam lagi, sementara menunggu sambil tiduran, hari mulai gelap, pemilik rumah mulai menyalakan lampu dari kaleng yang diberi sumbu, dan gilanya, sang nenek pun membuat api unggun di dalam rumah gedek yang berlantai tanah itu, karuan saja asap segera memenuhi ruangan itu, tapi nampaknya sang nenek sudah berpengalaman baik sirkulasi maupun kenyamanan ruangan, sehingga beberapa saat kemudian suasana menjadi hangat. Bulan sudah muncul, kami berniat mohon diri, tapi lagi-lagi kekhawatiran seorang tua-lah yang mampu membendung keberangkatan kami, katanya banyak celenk7-lah, banyak pemburu jahat-lah, kesasar jalan-lah, dsb, yang kesemuanya tak kuasa kami tolak, sehingga jadual keberangkatan kami ditunda hingga esok harinya. Kamipun beristirahat, tapi mata tidak bisa terpejam, khasiat kopi tadi sore mulai terasa, begitu dahsyatnya, hingga sepanjang malam kami melek terus.
7

Babi Hutan

TOUGH ! ADVENTURER

71

Selagi menunggu, datanglah satu rombongan pendaki lain yang juga akan naik, kami pura-pura tidur, nampak dengan sigap sang nenek membukakan pintu, mempersilakan masuk, menyuguhi kopi edun, dan mepersilakan makan, kemudian kami bangun dan ngobrol dengan mereka, meraka pandaki dari Malang, dari merekalah kami banyak mendapatkan informasi --sebagai pelengkap-- berbagai route menuju gunung-gunung yang bakal kami daki nanti setelah Raung ini. Karena kami tidak bisa tidur, dan sudah tidak ada lagi yang musti kami lakukan lagi, akhirnya kami sepakat berangkat dini hari itu, nampak rekan kami sedang tidur, begitu pula mbah Srane, kami berkemas, dan membangunkan seorang rekan kami untuk pamit dan titip pamit buat Mbah srane, dengan keadan masih hang, rekan kami itu mengiyakan. Kamipun memulai perjalanan di pagi buta itu, dingin memang, langit cerah, bulan bersinar terang, walaupun sudah memasuki fase pasca purnama, jalan yang kami pijak masih berupa jalanan lebar -RAUNG, Kopi Mbah Srane

72

cukup untuk kendaraan roda empat--, maklumlah masih disekitar perkebunan kopi. Kemudian jalanan mulai mengecil, dan tinggallah kini kami menempuh jalan setapak. Begitulah, kami merayapi jalanan setapak itu, menembus dini hari yang sedikit terang ditemani rembulan. Begitulah...sehingga menjelang matahari bersinar, kami sudah berada di dalam hutan heterogen, namun kering, segera kami berhenti dan masak untuk sarapan pagi hari itu. Setelah sarapan pagi kamipun melanjutkan perjalanan kembali, kali ini pos satu (Pondok Sumur / Ondo) kami lewati, jalur ini berupa hutan heterogen, dan masih ditemui kebun pisang hutan, dan kemiringan medan masih bervariasi, naik dan turun. Perjalanan diteruskan dengan masih menyusuri jalanan setapak yang tidak terlampau melelahkan untuk ditapaki, sementara mentari pagi dengan indahnya berusaha menembus rimbunnya pepohonan kala itu, memberi aksen kuning kehijauan, menambah pesona ceria di pagi itu. Tak ada pendaki lain yang sedang naik, bahkan hanya ada seorang peneliti beserta enam
TOUGH ! ADVENTURER

73

porternya, yang kala itu sedang turun, dan berpapasan dengan kami, jadi hari itu Raung adalah hanya milik kami. Tiba di pos kedua (Pondok Demit), kami beristirahat sejenak, sebab, menurut peta yang kami bawa, bahwa jalur pendakian setelah pos ini adalah terus mendaki, dengan ekosistem tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, hanya pepohonannya mulai terlihat homogen. Entah mengapa, pada jalur kali ini, aku merasakan kepayahan yang luar biasa, tidak biasanya, mungkin keadaan ku lagi tidak fit, waduh payah sekali, sesekali aku berhenti, untuk sekedar melepas lelah, nafas terasa lebih tersengal-sengal, dahaga menjadi-jadi, pokoknya tidak seperti biasanya saya mendaki seperti ini, belakangan diketahui bahwa nampaknya kadar Hb dalam darah saya telah menyusut / mengecil, sebab saya telah tinggal lama di daerah rendah, di Banyuwangi, sehingga keadaan tubuh menjadi lebih payah bila segera beradaptasi dengan daerah ketinggian, berbeda bila saya sebelumnya tinggal di Bandung, daerah yang cukup memiliki ketinggian. Begitulah....

RAUNG, Kopi Mbah Srane

74

Di tengah-tengah kelelahan yang amat sangat itu, untungnya rekan saya yang satu lagi tidak menunjukkan gejala yang sama, kami berhenti untuk makan siang, kami, tepatnya saya, menggunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya, melepas lelah, sementara didepan kami masih ada tanjakan yang menurut pandangan saya saat itu sungguh menyebalkan, ingin rasanya segera mengakhiri perjalanan itu. Pejalanan dilanjutkan, keputus asaan mulai muncul dalam pikiranku, ingin rasanya berhenti saja, namun hanya semangat yang bisa membuatku terus merayapi tanjakan itu. Tiba di pos selanjutnya ( Pondok Mayit), jalanan masih terus mendaki, kali ini dihiasi pepohonan yang jarang, berganti menjadi hamparan rumput nan tinggi, kering, berpotensi sebagai lahan kebakaran hutan, panas, membuat mulut ini semakin dahaga. Setelah lama perjalanan itu kami lalui dengan sabar, tibalah kami di pos terakhir (Base Camp), yaitu daerah yang mendekati berbatasan antara daerah berpasir dengan daerah bertumbuhan. Berdasarkan kesepakatan, didasarkan kepada kondisi saya yang sudah sangat
TOUGH ! ADVENTURER

75

payah, --supaya tau aja, itulah kondisi fisik saya yang paling kampungan-- maka kami sepakat untuk beristirahat selama dua jam, sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung. Waktu beristirahat kami manfatkan sebaik-baiknya, saya segera mencari tempat yang enak untuk berbaring, dibawah rimbunan pohon cantigi yang rindang saya segera merebahkan tubuh nan payah ini, kupandangi langit nan biru jernih, angin bertiup kencang, sementara mentari yang sudah mulai tergelincir ke ufuk barat, masih memancarkan sinarnya yang galak, keadaan yang begitu mendukung itu, membuat saya tertidur kelelahan. Kami terbangun ketika jam beker yang dibawa temanku, berbunyi dengan nyaringnya, menandakan waktu dua jam telah berlalu, waduh.. malas rasanya untuk segera bangkit, namun mengingat kami telah dan sedang dikejar waktu, maka kamipun segera mempersiapkan segalanya, untuk kepuncak, kami tidak perlu membawa seluruh perlengkapan kami, kami cukup membawa minuman serta makanan sekedarnya, juga lampu senter,
RAUNG, Kopi Mbah Srane

76

bila nanti kami turun kemalaman. Segera kami menyembunyikan ransel kami di tempat yang cukup aman, kami tahu saat itu tidak akan ada orang lain yang bakal menjamah tempat tersebut, namun untuk berjaga-jaga, lagipula kurang etis meninggalkan barang bawaan begitu saja di tempat terbuka. Perjalanan dimulai, kami melewati sejenak daerah yang masih ditumbuhi tanaman pendek, kemudian kamipun tiba di daerah berpasir. Dilihat dari medannya, pendakian jalur terbuka ini tidaklah sesulit pada waktu kami mendaki pada jalur terbuka di gunung Slamet, apalagi Gunung Semeru. Jalur kali ini, lebih landai, dan berbatu-batu, sehingga tidak perlu khawatir kaki terbenam dalam pasir. Jalur yang sudah tidak jelas itu kami rayapi terus, hanya satu tujuan kami, puncak !, beberapa kami temui semacam prasasti yang dibawa kelompok pendaki dari Bandung, sebagai tugu peringatan wafatnya seorang pendaki bernama Deden, juga dari Bandung. Tidak sampai satu jam, kamipun tiba di derah tertinggi, angin bertiup
TOUGH ! ADVENTURER

77

dengan kencangnya, menerpa tubuh kami, sementara pemandangna menjelang matahari terbenam saat itu sungguh indah, ku tebarkan pandangan ke seluruh pelosok penjuru bumi di bawah sana, mulai dari hamparan laut di utara dan timur, pemandangan kawah Ijen, beserta beberapa kepundan di daerah sekitarnya, kawah kepundan Raung8 itu sendiri, yang begitu luas, dan berwibawa, serta pemandangan puncak gunung, tepatnya pegunungan Argopuro yang begitu banyak, juga tak lepas pemandangan puncak Mahameru yang menjulang tinggi, mengiringi dataran tinggi Tenggernya. Tanpa menunggu mentari terbenam, kami segera turun, sebab kami tidak mau menuruni dareah berpasir itu dalam keadaan gelap, selain beresiko, kami yakin daerah terbuka itu gampang sekali diterpa angin yang mulai menjadi dingin itu. Kami segera turun, sembari menikmati sisa-sisa pemandangan yang masih bisa dinikmati kala itu, memerah, seiring

8

Gunung Raung memiliki kepundan yang amat besar, seorang peneliti dari Belanda Dr. CW Wormser menyebut kawah ini terbesar di pulau Jawa, dan kedua terbesar di Indonesia

RAUNG, Kopi Mbah Srane

78

dengan semakin redupnya tenggelam di barat sana.

mentari

Setibanya di Base Camp, kami sepakat untuk bermalam di sana, untuk kemudian bergerak kembali, tepat malam hari nanti, bagaimanapun kami telah terbiasa berjalan malam hari, apalagi pada saat turun gunung, bukannya apa-apa, perjalanan malam memberikan banyak keuntungan, yaitu suasana tidak terlalu panas, menghemat air, konsentrasi menjadi terpusat, dan adakalanya perjalanan menjadi lebih cepat, tanpa memberikan efek yang terlalu melelahkan. Untuk pertamakalinya, dalam perjalan mendaki gunung, kami membawa sebuah tenda ‘Titi’ Dome, entahlah, rasanya tanpa benda itu pun kami telah terbiasa untuk tidur dengan sleeping bag dan poncho, lucu sekali kalo saya ingat proses sehingga kami berniat membawa sebuah Tenda. Sebelumnya kami telah berlatih membuat serta membongkarnya, prestasinya adalah, kurang dari lima menit, yeah.. tidak terlalu banyak membuang waktu. Kamipun segera mendirikan tenda, perlengkapan tidur segera dimasukkan ke dalamnya, kami membuat api unggun,
TOUGH ! ADVENTURER

79

untuk menghangatkan diri, sementra itu kamipun masak makanan malam, dan setelah kesemuanya beres, kamipun mulai tidur, api unggun kembali dipadamkan, kami masuk ke kantung tidur masingmasing, jam beker distel sesuai kebutuhan, dan kamipun mulai tertidur, diluar sana bulan mulai muncul, sementara angin di bawah sana, bertiup dengan kencang, menerpa dedaunan, membuat suara yang menderu, menghantarkan kami untuk terus tidur, menyelami alam bawah sadar kami. Jam beker berbunyi, tanda waktu tidur sudah berakhir, bulan sudah tinggi, dengan malas-malas, kami bangun, merapikan kantung tidur, melipat tenda, menyalakan kembali api unggun, masak kopi seadanya, berkemas, dan bersiap untuk melanjutkan perjalan turun. Seperti biasa, sebelum melanjutkan perjalan setelah beristirahat panjang, kami berdoa terlebih dahulu, setelah itu barulah kami mulai menuruni jalanan setapak nan kering, berdebu, suasana gelap, hanya cahaya bulan yang membentuk bayangan semu, sementara lampu senter menyorot, membentuk sudut dengan permukaan tanah, angin berhembus kuat, menerpa
RAUNG, Kopi Mbah Srane

80

dedaunan, di lembah gemuruh sekali...

sana,

suaranya

Lama kami berjalan menuruni gunung, tubuh menjadi berkeringat, panas, segera kami buka jacket, yang sejak tadi kami kenakan, dingin sudah tidak terasa lagi, berganti menjadi rasa segar semriwing dan nyaman, langkahpun menjadi semakin cepat, menembus angin, gelap, dan rimbunnya rerumputan, pohon, diiringi menyebut Asma Allah, selama perjalanan, Laa ilaha illallaah....... Setelah lama berjalan kami bertemu dengan camp team yang kemarin bertemu di Pondok Pendaki, waduh..koq baru sampe sini, kasihan..perjuangan masih panjang bung, nampak mereka meringkuk dalam tenda, tak tega kami membangunkannya, sehingga kamipun melewatinya, dengan harap tidak mengganggu tidur resah mereka kala itu...hmmm..... Menjelang fajar menyingsing, kami sudah mencapai hutan yang lebat kembali, nampak langit mulai kemerahan, nuansa pepohonan mulai tercetak pada latar belakang langit yang mulai menerang,
TOUGH ! ADVENTURER

81

secara pribadi saya sangat menyukai saatsaat pergantian malam, entahlah susana seperti itu memberikan kesan yang begitu mendalam dimanapun saya mengalaminya, supaya tau aja, saya bisa tahan berlamalama duduk merenung, mengamati saatsaat perubahan gelap menuju terang itu, akh...sentimentil sekali. Lampu senter segera kami masukkan kembali, kini jalan mulai agak terlihat, kicau burung mulai terdengar bersahutan, indahnya suasana pagi itu. Tanpa membuang waktu, kami terus menerobos hutan itu, terus..terus.. hingga akhirnya tiba di pondok pendaki kembali. Nampak rombongan pendaki lainnya, yang nampaknya segera akan berangkat, kami bertegur sapa dahulu, ternyata mereka dari Jakarta, nampak mereka sedang berpamitan dengan Mbah Srane..., yang juga masih menanyakan keberadaan Obat batuk, yang dijawab dengan gelengan kepala...membuat hati kami semakin teriris...... Dengan logat maduranya sang mbah, menyambut kami dengan gembira, kami haturkan permohonan maaf kami, tatkala pergi tanpa pamit, selang beberapa hari yang lalu, sang nenek memakluminya, seraya menyiapkan hard coffee-nya,
RAUNG, Kopi Mbah Srane

82

ditambah sebakul nasi dan sepanci sayur semur tahu dan tempe, yang kesemuanya kami santap dengan hati lapang. Kami memang berniat beristirahat dahulu barang dua jam di pondok itu, kami tidur-tiduran, mengambil kembali barang titipan, packing, dan melihat-lihat keadaan sekitar. Kasihan pasangan suami istri itu, hidup hanya berdua... sakit-sakitan,.. akh..., perhatian segera aku layangkan ke sekeliling pondok pendaki itu, seperti halnya pondok pendaki dimanapun berada, banyak dibenuhi oleh coretan, tempelan sticker, yang melambangkan kegagahan dan prestige, kemudian nampak buku tamu yang penuh berisi kesan, pesan dari para pendaki yang telah mendaki gunung Raung, seru bercampur geli, tatkala kami membaca isi buku tamu itu satu-persatu... ada yang merasa puas, mendaki Raung, pesona alam yang memukau, trus, ada yang merasa didatangi hantu-nya Deden9, merasakan perasaan kekeluargaan yang erat sesama pendaki, bahkan ada sekelompok pendaki non-pri, dari Jember, memberi pesan-pesan promosi niaga, pikirannya dagang melulu...he..he..he..
9

Pendaki dari Bandung yang tewas, kecelakaan pendakian pada Oktober 1991

TOUGH ! ADVENTURER

83

Setelah istirahat dirasakan cukup, kamipun mohon diri kepada Mbah Srane, oh ya.. sebelumnya kami sempat mengambil gambar --foto-- dengan mereka, kemudian kami memberi gula putih, seperampat kilo dan sedikit uang, bagaimanapun kami merasa bertanggung jawab kepada mbah-mbah ini. Kamipun meninggalkan pondok itu, sementara sang empunya rumah melepas kami dengan sesekali terdengar suara batuk-batuk yang terdengar sudah akut itu.....ukhuk....ukhuk....grukh..... Melalui jalan setapak nan lebar terasa menjengkelkan, bagaimana tidak, tak ada pohon yang mempu menaungi kami dari terik panas siang itu...tapi akhirnya kami tiba juga koq di kantor pembantu camat, disana kami segera beristirahat lagi, kali ini kami mencuci berbagai perlengkapan yang kami bawa, baik pakaian maupun alat masak, mandi dan berak, kemudian sembari menunggu semuanya kering, kamipun tidur..... Karena kami bangun kesorean, kamipun tidak bisa melanjutkan perjalanan, sebab menurut bapak petugas
RAUNG, Kopi Mbah Srane

84

di sana, angkutan ke Bondowoso sudah tidak ada lagi, damn !!, akhirnya kami dianjurkan untuk bermalam dahulu di sana...., tawaran itupun kami terima, kami saling bercerita, banyak sekali, dari pembicaraan itu, belakangan diketahui bahwa tempo hari team kami sempat diragukan untuk mendaki, alasannya cukup unik, sebab kami yang dari Bandung, berdua lagi, mirip dengan team Deden yang juga Berdua --yang mendapat musibah itu lho..--, dan lucunya, wajah Deden itu Mirip pula dengan Wajahku,...ha..ha.. kami dianggap sempalan-nya kali..... Keesokan harinya kami sudah bangun, masak sarapan pagi, dan segera kami menumpang kendaraan pertama yang menuju Bondowoso, kami berpamitan dan mulailah perjalan pagi itu menembus jalan desa yang sejuk, indah, membelah hamparan kebun tebu...indah sekali.....”Janganlah Gembira Bila Tiba Di Puncak, Pikirkanlah Untuk Turun Dengan Selamat”.***

TOUGH ! ADVENTURER

85

RAUNG, Kopi Mbah Srane

SEMERU, Bromo, Tengger
EPAT pukul 03.30 saya bangun dari tidur pendek ku saat itu, segera aku lihat keadaan sekeliling kamarku, berantakan cing !, terang aja, hari ini aku akan berangkat menuju jawa timur, untuk menaklukkan Gunung Semeru, gunung tertinggi di pulau jawa (3676 mdpl10). Nampak rekanku sedang meringkuk di"ranjang tempur"-demikian aku menyebutnya, sebab itu ranjang khusus buat teman-teman yang kebetulan di rumahku--, mondok sementara di sisi lain nampak dua buah carrier yang montok dan padat berisi, dan bobotnya jangan ditanya, sudah siap dipanggul untuk menyertai expedisi kami berdua.

T

10

Lihat Note 1

87

Segera aku bangun dan berdiri, membangunkan temanku untuk segera bersiap-siap --mandi kalo perlu-- karena kami akan segera menuju stasiun kereta api untuk antri karcis (sebelumnya kami lupa untuk memesan karcis, maklum kami disibukkan dengan kegiatan persiapan adventure ini) Singkat kata, setelah mengisi perut, berkemas, pamit kepada orang tua saya (rekanku adalah seorang imigran yang tak punya ongkos untuk pulang kampung saat liburan ini, sehingga ia lebih tertarik bertualang, tapi udah ijin ke ortunya di kampung koq), kami segera berangkat menuju stasiun KA diantar sang babeh. Setibanya di stasiun KA betapa terkejutnya saya (baca:kami) sebab orang yang antre karcis bejibun banget, ini mangingatkan saya pada masa-masa mudik lebaran, entah karena mungkin pada saat itu sedang hari Minggu (libur) atau karena kereta ini bertarif murah meriah sehingga ayoo serbuuu !!! Entah la yaoo, yang pasti dengan segenap perjuangan yang tak mungkin diceritakan disini, maka kami bisa
SEMERU, Bromo, Tengger

88

mendapatkan karcis plus tempat duduknya, sehingga kami punya wewenang untuk menggusur rakyat yang tak punya "surat ijin menetap", bukannya sadis lho, soalnya kami bakal berkendaraan seharian, masa selama itu kami harus berdiri-berdesak-desakan semantara tubuh kami sudah dipenuhi oleh "knapsack" yang guedenya sama dengan yang bawanya. Lain halnya bila kami hanya menuju kota yang dekat..yeah..kami gusur juga dech...lha wong udah bayar karcis koq...he..he..he. Sedikit saya ceritakan tentang perjalanan berkereta api itu, Suasana kurang nyaman, penuh sesak, lebih 'gila' dari saat-saat menjelang lebaran, ironisnya walaupun kereta sudah penuh bergundalgundal tetap saja masih ada orang jualan atau pedagang asongan yang dengan ributnya berceloteh menjajakan barang dagangannya, bahkan pengemis yang -nampaknya-- buta, pincang tapi bisa lari waktu kereta akan jalan meninggalkan stasiun. Mereka dengan gigihnya menerobos yang lautan daging senantiasa menggerutu, akibatnya kejadian siapa menindih apa, apa memegang siapa, menginjak, dll
TOUGH ! ADVENTURER

89

nampaknya sudah lumrah untuk saat itu, dan sah-sah sajah. Sebagai informasi sisipan, Kereta yang kami tumpangi berangkat dari Stasiun Bandung --menurut jam yang kami bawa-- pukul 05.30 pada hari Minggu 25 July 1993, dan tiba di Surabaya --kami turun di Stasiun Wonokromo-- pada pukul 20.47 pada hari dan tanggal yang sama. Tiba di Surabaya kami segera menuju kediaman saudara saya yang diharapkan bersedia menjadikan rumahnya sebagai tempat kami transit dan sekedar beristirahat malam itu, serta makanan seridhonya, haruss!!.Oh ya, rencananya besok pagi 26 July 1993, kami akan berangkat menuju Malang, disana kami akan meminta ijin dahulu ke PHPA Pusat Malang berdasarkan rekomendasi surat ijin jalan yang kami bawa dari Bandung, selanjutnya barulah kami akan memulai perjalanan kami ini. Memang, keesokan harinya, pagipagi,sekitar pukul 07.00 kami pergi meninggalkan "tempat mampir", setelah sebelumnya dijamu makanan (baca:sarapan) yang mengenyangkan.
SEMERU, Bromo, Tengger

90

Dari Surabaya ke Malang kami memilih naik bus umum, sebab untuk kembali naik kereta api kami harus menyesuaikan jadual perjalanan keretanya, sedangkan kami telah memiliki jadual sendiri. Perjalanan dua jam itu tidak terlalu melelahkan, kami tiba di Malang pukul 09.00, segera kami mencari informasi letak kantor PHPA, sebelumnya saya telah diberitahu oleh teman di Bandung, tentang lokasi kantor tersebut, celakanya saya lupa apakah kantor tersebut dekat dengan kantor Pengadilan Negri, atau Kantor Kejaksaan ??, walhasil jadual kami mengalami kemoloran sekitar satu setengah jam untuk ngubek-ngubek kota Malang, mencari dua "kantor kunci" itu (gilanya, tuh kantor yang satu di ujung barat, dan yang satu di ujung timur). Namun akhirnya dapet juga koq, kami segera meminta surat ijin pendakian, memang sih surat jalan yang diberikan dari Bandung memiliki masa laku selama dua minggu, namun dalam meminta surat ijin pendakian, lama waktunya kami sunat menjadi satu minggu. Setelah perijinan beres, kami segera melanjutkan perjalanan menuju
TOUGH ! ADVENTURER

91

kota kecil bernama Tumpang dengan menaiki kendaran umum, kalo di Bandung mirip Angkot lah. Setibanya di Tumpang, dan turun dari angkot, kami segera ditawari oleh seorang disana, ia menawarkan jasa angkutan Jeep langsung menuju Ranu Pane, desa terakhir, tempat terakhir bersemayamnya kehidupan, sebelum puncak gunung Semeru. Namun ada syaratnya, yaitu membayar ongkos yang aduhaii, dan menunggu pendaki-pendaki lainnya, maksudnya agar kendaraan itu full tank, mahal? apa boleh buat, sebab itulah kendaraan satu-satunya, jalan kaki? nekad..!! lagipula malas ah..!!. Sambil menunggu kendaraan "Jeep Willis" itu penuh, kami "belanja" dulu, makan siang, shalat Dzuhur, dan seorang temanku menyempatkan mengirim surat kepada teman kostnya yang sedang berada di Bandung. Untunglah setelah kami melakukan "jalan-jalan", sudah ada dua rombongan pendaki yang satu dari Jakarta, yang satu dari Jogjakarta. Seperti biasa, diantara sesama pendaki gunung, kami cepat sekali akrab, sambil sesekali membanding-bandingkan "bawaan" serta

SEMERU, Bromo, Tengger

92

perlengkapan tentunya--.

kami

--secara

curi-curi

Pejalanan pun dimulai, Jeep itu memang di design untuk angkutan yang penumpang "off road", kami para diletakkan di balakang jeep yang telah dipagari besi-besi, sementara ranselransel diikat dengan kuat pada atap jeep. Menit-menit pertama kami masih disuguhi suasana yang menyenangkan, pemandangan indah, jurang yang dalam, jalan yang masih mulus, serta tak lupa sepasang muatan baru yang dinaikkan di tengah jalan, sepasang muda-mudi "bule" yang katanya berasal dari negri Jerman, Woww Ceweknya cing...yuo can see !!!, tapi gak lama koq, pasangan itu turun di pertigaan menuju ke Gunung Bromo. Nah mulai dari situlah perjalanan yang dimulai. Jalan yang "mengasyikkan" tadinya mulus. berubah menjadi jalan berpasir --maklum menurut sang sopir, sudah dua bulan belakangan ini tidak turun hujan, gimana kalo ujan, jeblog apa ?, didukung dengan keadaan tanah di sana yang berpasir--. Baru lima menit berjalan, sebagian dari para penumpang minta pindah untuk duduk di kap jeep, termasuk saya, soalnya debunya....fiuh...,
TOUGH ! ADVENTURER

93

oke, kata sang supir, cuman jangan duduk menghalangi pandangannya. Selama perjalanan di kap jeep itu memang mengasyikkan, bersih, tidak diterpa debudebu, dan guncangan-guncangannya mengingatkan saya sewaktu mengendarai perahu karet di Sungai Citarum (orad). Akhirnya ditengah perjalanan, penumpang lainnya yang semula "keukeuh" numpang di belakang, pada pindah ke depan, namun sudah terlanjur, tampang meraka sudah penuh ditutupi debu campur keringat...yach!!. Pejalanan berakhir di pondok di Ranu Pane, kami menurunkan ransel, dan segera melapor ke pos lapor. Disana belum banyak team pendaki lain, namun menurut petugas di sana, sudah banyak pendaki yang naik,dan kini diperkirakan sedang dalam perjalanan, juga ada yang sedang dalam perjalanan pulang. Rekan kami dari Jogja dan Jakarta berencana bermalam dulu disitu, namun saya (kami berdua) sepakat terus melanjutkan perjalanan sore itu, dan akan bermalam di perjalanan. Setelah perijinan beres, serta berpamitan dan berjanji akan bertemu di
SEMERU, Bromo, Tengger

94

perjalanan, maka kami memulai perjalanan itu. Pada awalnya jalan yang kami lalui masih "jalan tol", suasana sore itu sungguh indah, nampak puncak Mahameru (nama puncak tertinggi dari gunung Semeru) di kejauhan, yang gundul --seperti halnya kepalaku yang di"babat" sehabis os!!--,nampak semakin indah tatkala mentari sore yang memerah menerpa sisi gunung itu, kontras dengan langit biru jernih di latar belakangnya, wah gagah sekali puncak gunung itu...dan yang terpenting kami, berdua, akan menaklukkannya. Hari semakin gelap, "jalan tol" sudah berakhir, kami mulai masuk hutan, untung bulan sedang terang, sehingga suasana tidak terlalu gelap gulita, keadan jalan, setapak, mendaki, dan sesekali menurun. Dalam perjalanan itulah kami bertemu dengan rombongan pendaki yang baru turun, katanya dari Bandung juga, STBA lho, ceweknya....!!!, sayang sekali keadaan saat itu tak begitu terang, namun mendangar dari suaranya saja, sudah terbayang kelezatannya, ehm saya berasumsi nih orang pasti kece buanget.

TOUGH ! ADVENTURER

95

Empat jam kami lalui dengan tabah, dan kami tiba di daerah yang menurut peta yang kami bawa, bernama Ranu Kumbolo, seperti halnya Ranu Pane, di Ranu Kombolo ini terdapat danau11, namun lebih luas, disana sepi, jauh dari penduduk, yang ada hanyalah pondok pedaki yang saat itu kami lihat penuh sesak dengan para pendaki. Hari sudah malam, kabut mulai menutupi cahaya bulan, setelah masak makan malam -mie instan, plus segelas kopi panas--, kami segera menyiapkan tempat tidur, terpaksa di luar, penuh sih, dan kami pun mulai beristirahat dan sepakat bangun dini hari esok untuk melanjutkan perjalanan, kami mulai tidur, saat itu jam menunjukkan pukul 22.13. Malam itu terasa amat panjang, dinginnya minta ampun, sejak tadi, sewaktu masak, memang sudah dingin, tapi tidak sedingin saat ini, ala mak, belum lagi terdengar rintihan-rintihan kedinginan dari tenda di sebelah kami (kami tidur tak membawa tenda, jadi hanya sleeping bag dan poncho sebagai pelindung hujan dan embun), sekali-kali
11

Ranu kumbolo merupakan danau di Indonesia (Asia ? ) dengan letak tertinggi diatas permukaan laut ( 2400 m).

SEMERU, Bromo, Tengger

96

kami bangun, melihat jam, ngobrol sebentar, tidur lagi, sambil saling merapatkan diri agar hangat. Brr, tiris, manehh !!! 27 Juli 1993, pukul 02.00 kami bangun, namun rencana kami untuk segera bangun dan berangkat saat itu diurungkan, tatkala kami mendengar suara benda-benda kecil menerpa atap pondok tempat kami berteduh, ternyata butiran-butiran es..! itu menyebabkan kami makin malas dan rencana "cabut" diundur selama satu jam. Akhirnya pada pukul 03.00 kami bangun, tidak peduli apakah masih hujan es atau tidak --kebetulan hujan es sudah berakhir-- segera dengan menggigil hebat, kami menyalakan api, siap masak lagi ,buat sarapan dan sekedar isi perut, dan menghangatkan diri. Habis itu langsung kami berkemas, dan segera berangkat dini hari itu. Bulan sudah lama terbenam, kabut masih menutupi daerah itu, perjalanan saat itu tidak bisa kami nikmati, gelap, kabut, sepi, sunyi. Kami harus terus berjalan, diam beristirahat terlalu lama berakibat maut, kami tak mau mati konyol kedinginan, lagipula dengan
TOUGH ! ADVENTURER

97

berjalan tubuh menjadi hangat, tapi di pihak lain fisik kami belumlah sama kuat, sehingga kami harus saling tenggang rasa. Keadaan hutan yang kami lalui adalah tipe hutan alang-alang, pohonpohonnya tidak lebat, kering, dan cenderung tidak basah, rawan kebakaran, keadan jalannya juga tidak monoton naik, kadangkala turun, keadan ini,berdasarkan pengalaman kami , memiliki medan yang tidak seberat medan gunung Ciremai (3078 mdpl), dimana hutan di gunung Ciremai sangat basah, lembab, pohonnya besar-besar, pokoknya tidak mengenakkan, belum lagi keadaan jalan yang monoton naik. Kelebihan lain dari gunung Ciremai adalah "range" pendakian, di gunung Ciremai -gunung tertinggi di Jawa Barat-,walaupun masih kalah tinggi dengan gunung Semeru, namun kita mulai mendaki (desa terakhir) pada ketinggian 700 meteran, sedangkan pada gunung Semeru, desa terakhir ditemui pada ketinggian 2200 meter..bayangkan..!!, namun bagaimanapun gengsi sebuah gunung itu dilihat dari ketinggiannya, bukan dari cara menaklukannya.

SEMERU, Bromo, Tengger

98

Kami terus berjalan, hingga suatu saat kami tiba di lembah luas mirip sebuah padang luas, sementara di hadapan kami nampak puncak Mahameru yang gundul, hitam, sebab matahari belum sepenuhnya terbit, kabut di ketingguan itu pada jamjam seperti itu sudah tidak ada lagi, terus kami berjalan, menerobos tanah datar nan tandus itu, sesekali kami memetik bunga edelweis buat kenang-kenangan (secukupnya, sebab bila berlebihan, dilarang). Tak lama kami tiba di suatu tempat, tertulis disana, pada sebuah papan kayu, tempat itu bernama Kali Mati, entah apakah disana ada bekas sungai, atau apalah, namun di sana nampaknya cocok buat bermalam, hanya memang susah air (air terakhir terdapat di Ranu Kumbolo, kami tak mau ambil resiko, kami bawa air sebanyaknya dari Ranu Kumbolo). Nampak disana tenda-tenda "kuya" berdiri, disisi lain nampak api unggun dengan dikitari oleh orang-orang berkemul sarung. Belakangan diketahui mereka adalah para porter yang disewa oleh rombongan pemilik tenda-tenda itu, yaitu para turis-turis bule yang saat itu sedang naik ke puncak. Dari keterangan mereka,
TOUGH ! ADVENTURER

99

kami mendapat informasi, agar sebaiknya kini kami menuju Arcopodo, suatu tempat, katakanlah sebagai pos terakhir, disana kami dianjurkan untuk menanggalkan ransel dan membawa barang serta makan minum seperlunya, sebab, menurut mereka, untuk mendaki Mahameru dengan membawa beban berat adalah berbahaya, sebab selain untuk menjaga keseimbangan, juga angin di sana bertiup kencang. Kami mengucapkan terimakasih dan mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini barulah kami rasakan pendakian yang sebenarmya, tempat itu masih ditutupi pepohonan, sementara kiri kanan kami jurang curam menganga. Ada hal yang menarik, saya yang berjalan di depan mendapatkan seekor burung yang senantiasa berloncatan di jalan di hadapan kami, seolah olah memberi petunjuk kepada kami. Suasana pagi itu sungguh indah, walaupun obsesi kami untuk menikmati "sunrise" di puncak gunung tidak terlaksana namun dari lereng gunung saat itu pun kami bisa menikmati saat-saat munculnya mentari di pagi saat itu.

SEMERU, Bromo, Tengger

100

Ditengah perjalanan kami menemukan sebuah bivak, kami mengunjunginya, di dalamnya terdapat tiga orang yang sedang meringkuk, kami menyapanya, mereka keluar, berkenalan dengan kami, ternyata mereka adalah pendaki dari Bandung juga, betapa girangnya kami, biasa, orang akan senang bila bertemu rekan sedaerahnya di perantauan, padahal bila bertemu di daerahnya sendiri belum tentu berbuat demikian. Dari pembicaraan kami, diperoleh keterangan bahwa mereka juga akan mendaki Mahameru hari itu juga. Diputuskan saya (kami berdua) akan menjadikan tempat bivak mereka sebagai "base camp" untuk menuju Mahameru. Kebetulan diantara rekan kami yang bertiga itu, salah seorang bersedia menunggu bivak dan menjaga barangbarang yang bakal kami tinggalkan, segera kami berkemas, kami menyiapkan minuman, makanan secukupnya, kami kemas dalam "day pack", oh ya, kami juga menyisihkan bahan makanan untuk dimasak "sang penunggu" sebagai makan siang. Kini kami berempat, mulai melanjutkan perjalanan itu, kami melewati Arcopodo, beristirahat sejenak
TOUGH ! ADVENTURER

101

dan melanjutkan perjalanan hingga tiba di perbatasan antara hutan dan kaki gunung yang senantiasa diliputi pasir, gundul. Nampak di depan mata gundukan pasir maha besar, hingga kami tak bisa melihat puncaknya. Kami mulai mendaki pasir, susah sekali, dan menjengkelkan, bagaimana tidak, kaki tebenam di pasir hingga mata kaki, dan setiap kami naik dua langkah, tubuh kami merosot minimal satu langkah... angin juga bertiup kencang, meniup debu-debu yang beterbangan, menerpa muka kami, kadangkala debu itu masuk ke mata kami, sehingga kami harus 'ngucek-ngucek' mata. Belum lagi dengan panas matahari --yang walaupun masih pagi-- begitu menyengat, mungkin karena tidak adanya pepohonan, membuat kami selalu merasa dahaga dan keringat yang bercucuran. Saat itu saya mendaki dengan sekuat tenaga, jauh meninggalkan rekan-rekan yang lain, saya tak mau konyol dalam hal ini, mump[umg masih punya banyak tenaga, saya tak mau diam terpanggang mentari lantaran menunggu rekan saya yang berusaha memanjat --seperti saya-- di bawah sana. Nampaknya pendakian ini tiada habisSEMERU, Bromo, Tengger

102

habisnya, sesaat saya berhenti, melihat ke bawah, rekanku nampak sedang bersusah payah, kecil nun jauh di bawah sana,sementara kualihkan pandangan pada pemandangan sekitar, nampak awan sudah berada dibawah, di kaki gunung. Kuteruskan "perjuangan" itu, saat aku masih berusaha keras melawan kebosanan yang mulai menjangkiti diriku, nampaklah beberapa orang turis bule -nampaknya pemilik tenda-tenda di bawah-- sedang turun dari gunung, mereka menggelincir dengan nikmatnya, bak seorang bermain sky, debu tipis dan tebal membumbung tinggi dari bekas pijakannya dan segera hilang tertiup angin yang bertiup dengan kencang. Pemandangan ini membuat hati dongkol, bagaimana tidak, kami sedang berjuang mati-matian, disuguhi pemandangan yang menggoda kami untuk turut ber"surfing" ria. Namun "godaan" itu terus kami lawan, kami harus maju..., aku berhenti sejenak sembari terus bertahan pada posisi saat itu, aku mengambil sesuatu dari daypack yang aku bawa, kukeluarkan sebotol air minum yang sejak berangkat dari base camp tadi saya campurkan dengan tablet effervescent, kuteguk sedikit...nikmatnya tiada tara cing....,
TOUGH ! ADVENTURER

103

selintas kulihat rekan-rekan ku di bawah sedang juga ternganga melihat surfer menggelincir dengan nikmatnya, kadangkala debu-debu tertiup angin menerpa rekan-rekan ku itu. Dua jam kemudian saya tiba di puncak, puncaknya ditandai dengan sebuah tongkat besi, banyak digantungi barangbarang peninggalan para pendaki seperti syal, kaus, bandana, dsb. Aku raih tongkat itu, ku pegang seraya berucap kemudian Alhamdulillah..., mulutku mengucapkan takbir, setelah itu serasa dadaku terasa sesak dan aku berteriak sejadi-jadinya...saat itu emosiku memang tak terkendali dan tak bisa ku utarakan dengan kata-kataku disini. Disana sepi, hening, tidak ada orang lain, mereka --para "bule"-- sudah pada turun, sementara rekanku masih di bawah sana, aku berjalan menuju tempat yang paling tinggi di sekitar situ, nampak disana beberapa buah papan "in memorian" berisi tentang nama-nama para korban pendakian, "papan" dari batu marmer itu nampaknya diletakkan oleh organisasi dimana korban itu berasal. Kemudian masih dalam kesendirianku saat itu, tiba-tiba terdenganr suara
SEMERU, Bromo, Tengger

104

gemuruh yang terus terang membuat aku ngiprit, nampak di bibir kawah di seberang puncak tempat aku berdiri, membumbung bergumpal-gumpal asap tebal ke angkasa, memang suatu pemandangan yang menakjubkan. Letupan yang menggelora itu seolah-olah menyambut kedatanganku, membuat suasana semakin menggetarkan, apalagi hanya saya sendiri di puncak itu, sepi, sendiri, hanya deru angin dan gemuruh itu lah yang mengisi relung hatiku saat itu. Sambil menunggu rekanku yang lain, aku manfaatkan waktu dengan menikmati pemandangan di bawah sana, memang indah, fenomena khas pada suatu ketinggian, aku merasa seolah-olah -memang-- paling tinggi di pulau jawa. Disana, di puncak gunung aku tak merasakan hujan, naungan awan, yang mungkin sedang terjadi di bawah sana. Tak lama kemudian satu per satu rekanrekanku yang lain mulai tiba di puncak, kami bersalaman dan saling berpelukan, bangga dan haru berbaur menjadi satu. Kami habiskan waktu bersama sambil menyantap hidangan yang kami bawa,

TOUGH ! ADVENTURER

105

sambil menikmati indahnya ciptaan Allah itu tentunya. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian kamipun segera turun. Saat turun inilah yang paling mengasyikkan, kami kini bisa seperti orang-orang bule tadi, waduh.. asyik banget, kami tinggal menggerak-gerakkan kaki seperti layaknya orang bermain sepatu roda, kami tak usah kawatir akan meluncur semakin cepat, sebab begitu kami merasa laju, segera kami menjatuhkan diri ke belakang, maka otomatis tubuh kami mengerem, cuman ya itu, debunya juga mak..!, kami harus berjalan berjauhan agar debu-debu yang beterbangan tidak menghalangi pandangan, dan saya berpikir, janganjangan paru-paruku telah penuh dengan butiran-butiran yang terhirup..waduh, ditambah lagi dengan pasir yang makin lama-makin panas oleh terik sinar mentari, sehingga tidak memungkinkan kami untuk berhenti berlama-lama, pokoknya seru dech. Tidak selama sewaktu kami mendaki, kami pun tiba kembali di daerah perbatasan antara "gundukan pasir" dengan hutan. Nah disanalah kami bertemu
SEMERU, Bromo, Tengger

106

dengan rombongan pendaki yang baru akan mendaki, waduh, saya pribadi sih menganggap bila mendaki saat seperti ini sangatlah tidak nyaman, panas, kering, dahaga, tapi yeach up to you lah yaoo. Entah karena lapar atau karena hal lain, kami segera turun menuju base camp, memang sih perjalanan turun kali ini tidaklah terlalu memakan waktu lama. Kami tiba di Base camp, memang, teman kami yang tadi tidak turut mendaki telah menyiapkan makan siang buat kami semua. Kami segera menyantap makanan yang disediakan hingga --tentu-- tandas. Kemudian segera kami membersihkan peralatan masak/makan, dan kemudian packing, setelah itu barulah kami istirahat "sejenak". Tanpa sadar ternyata matahari telah bergulir dari atas ubun-ubun, kami pun segera bangun, dan "cabut" turun. Atas kesepakatan bersama, akhirnya saya (berdua) sepakat berjalan lebih dahulu -kami dikejar waktu--, kembali kami melewati Kali Mati, dan padang edelweis, dari sana kami melihat kembali ke Mahameru, kami amati agak lama, hingga kami menemukan titik kecil, yah, itulah pendaki yang kami temui tadi, waw..nyaris tak terlihat, begitu keciil, yang
TOUGH ! ADVENTURER

107

nampak hanyalah titik kecil --tidak jelas mana kepala, kaki, tangan, hanya bintik kecil berwarna, sesuai dengan pakaian mereka-- dan gumpalan asap tipis yang tertiup angin dari bekas pijakannya. Memang, betapa kecilnya manusia bila dibandingkan dengan kekuasaan, seta ciptaan Allah ini. Perjalanan pulang kali ini ternyata lebih tidak nyaman, sebab kami berjalam menghadang sinar mentari, belum lagi keadaan sekeliling yang gersang, kering, membuat perasaan menjadi "gerah" dan dahaga. Dua kali kami bertemu rombongan pendaki, keduanya nampaknya akan menginap dulu di Kali Mati, mereka adalah rombongan besar --kami sebut rombongan baduy-- dari Surabaya, dan rombongan dari Jakarta --yang satu Jeep dengan kami--. Seperti biasa tatkala mereka bertanya:"Dimana sih Kali Mati ?", maka kamipun menjawab dengan:"Sudah dekat koq, sebentar lagi", tau kan apa yang saya maksud.............................padahal....!! Menjelang sore kami tiba di Ranu Kumbolo, keadaan disana terutama pundok pendakinya kini sepi, meraka
SEMERU, Bromo, Tengger

108

telah berangkat "naik" --yang kami temui di perjalanan tadi--, dan sebagian telah "turun". Disana kami membersihkan tubuh dahulu dari debu-debu renik nan dekil dengan air danau yang segar. Waduh nyaman sekali, sehabis "dibakar" oleh surya, kini dibasuh oleh air, sejuk sekali rasanya, juga debu-debu yang menempel di kaki, tangan, serta muka, kini telah bersih. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali, keadan sore itu indah sekali, danau yang hijau tenang dilapisi kabut tipis di atasnya, sementara mentari sudah mulai condong, namun masih memberi sinar pada pucuk-pucuk bukit, serta -tentu-- pada puncak Mahameru. Kami terus berjalan, menyusuri jalan setapak, hutan, --sama seperti jalan berangkat kami kemarin-- kemudian tiba kembali di "jalan tol" terus..dan terus.. hingga menjelang magrib kami telah tiba di Ranu Pane. Kami segera lapor bahwa kami telah tiba, dan berencana bermalam dahulu di pondok --gratis-- yang disediakan, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan kami,

TOUGH ! ADVENTURER

109

membelah lautan pasir di pegunungan Bromo-Tengger.

kawasan

Di pondok kami temui banyak sekali para pendaki, ada yang dari Bandung, Jember, Semarang, Jogja --yang satu jeep--, bahkan kami mendapat seorang teman asing, Ali namanya, dari negri Turki, walaupun usianya sudah lebih dewasa dari kami, namun kami bisa berkomunikasi --bahasa inggris tentunya--, baik tentang keadan Indonesia, maupun sebaliknya. Kami langsung tidur, tanpa mengisi perut sebelumnya --hanya sekedar soalnya letihh.., mereguk STMJ--, bayangkan mendaki gunung Semeru dalam tempu waktu dua-puluh-empat jam.., menurut kami merupakan prestasi yang luar biasa. Keesokan harinya, 28 July 1993, kami dibangunkan oleh suara-suara para pendaki yang hendak berangkat, kami pun bangun dan melepas mereka dengan ucapan "semoga selamat sampai tujuan". Kemudian kami sendiri mulai bangun, berkemas, mandi --brr dinginnn--, berak dan masak. Sebelunya kami telah diajak
SEMERU, Bromo, Tengger

110

turut oleh rombongan lainnya agar bersama-sama menuju Bromo dengan mengendarai jeep sewaan, namun dengan sangat menyesal, kami menolaknya, sebab kami talah memiliki rencana tersendiri. Akhirnya agak siangan merekapun "cao" dengan "jeep goyang" itu. Pondok itu menjadi sepi, hanya kami berdua, kami habiskan waktu dengan masak-masak, sambil melihat-lihat keadaan pondok itu, seperti halnya pondok pendaki yang ada di setiap gunung, selalu penuh dengan goresan-goresan penuh makna, yang mencerminkan kegagahan, eksistensi, dan yeah.... kami hanya bisa tersenyum, dan tak lama kemudian kamipun turut menggoreskan sesuatu di salah satu dindingnya, sesuatu yang dapat membangkitkan memori bagi kami. Kegiatan kami saat itu santai beeng, bayangin dari pagi ampe sore, kerjanya hanya tiduraaann.... Akhirnya tepat pukul 15.00 kami pun mulai berjalan mengikuti jalan jeep, menuju kawasan Tengger. Kami melewati kampung penduduk, waduh.. mereka tampak dekil-dekil, bukannya menghina, memang begitulah kenyataannya, disana banyak sekali debu
TOUGH ! ADVENTURER

111

yang beterbangan, sehingga keadaan dekil itu sudah lumrah, kemudian penduduk di sana --di kawasan SemeruBromo-Tengger-- baik laki, perempuan, anak-anak, senantiasa menggunakan kain sarung yang diikat di leher, mirip Batman, begitulah, itu sudah menjadi tradisi disana. Nampak pula hewan-hewan piaraan mereka seperti anjing, kucing, kerbau, kesemuanya berbulu tebal, adaptasi barangkali.... Berdasarkan keterangan penduduk, kami bisa menggunakan jalan pintas menuju ke kawasan Tengger, kami mengikuti petunjuk tersebut. Beruntunglah kami tiba di bibir lautan pasir, pada saat mentari masih cukup memperlihatkan sinarnya.. Subhanallah... indah sekali lautan pasir di bawah sana..nampak jalan setapak yang kami lihat mirip kurva -belakangan kami tahu jalan itu tidak sekecil yang kami bayangkan--, kemudian di tengah lautan pasir itu nampak kumpulan gunung-gunung, seperti Gunung Batok, Bromo, Kursi, dan gunung-gunung kecil lainnya. Dari situ kami membayangkan, betapa besarnya gunung semula yang memiliki kepundan seluas padang pasir itu..Maha Besar Allah.
SEMERU, Bromo, Tengger

112

Saat itu bulan terang, kami terus "melipir" bibir lautan pasir, dibawah sana, di lautan pasir, terdengar deru angin bertiup kencang. Keadaan malam itu sepi, kami berjalan sambil berdendang, ngobrol, pokoknya agar suasana tidak vakum. Tiba di suatu persimpangan kami bingung, disana ada beberapa bangunan kecil, mirip gubug, tapi lebih kecil lagi, entah buat apa, nah kemudian ada jalan turun ke bawah, serta jalan terus menyusuri bibir. Saat itu kami ragu, mau jalan turun, terlalu terjal, terlalu berbahaya untuk perjalanan malam itu, walaupun bulan bersinar, kami tak mau ambil resiku --minimal saat itu--, nampaknya kami jalan terus saja, toh dikejauhan sana ada kilauan lampu, rumah penduduk kali -kami tahu, bila pada saat tersesat janganlah tergoda oleh sinar lampu, suara kendaraan, atau bunyi-bunyian lain, tapi ini menggoda sekali cing !--, akhirnya kami terus menyusuri bibir, namun lama kelamaan koq tambah menjauhi bibir, kami membuka peta, ternyata itu sudah diluar jangkauan peta yang kami bawa, tapi tenang koq, di lain pihak jalan yang
TOUGH ! ADVENTURER

113

kami lalui semakin lebar, kiri kanan nampak kebun sayur mayuran, kemudian dibawah sana jelas tampak bahwa kami sedang menuju sebuah perkampungan penduduk. Saat itu kami sadar bahwa kami semakin menjauhi daerah lautan pasir --nota bene semakin menjauhi sasaran-namun dengan berbagai pertimbangan, termasuk daya tahan kami saat itu, kami teruskan perjalanan hingga bertemu perkampungan, setelah itu -mungkin-- keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan. Harapan kami semakin besar, tatkala memang tujuan kami sekarang adalah ke sebuah kampung, entah apa namanya, kami tak peduli, segera kami berjalan. Hingga tibalah kami di penghujung desa, sesaat kami ragu, apakah akan mengunjungi rumah seseorang --kami terbiasa untuk menghubungi dahulu perangkat desa, atau mushola sekalipun--, saat itu sudah pukul 22.00, asumsi kami tentulah sangat mengganggu bila kami membangunkan orang saat itu. Hingga kami menemukan sebuah rumah yang dari luar nampak penghuninya sedang ngobrol, segera kami menuju ke sana, saya yang bisa berbahasa jawa, berusaha
SEMERU, Bromo, Tengger

114

berkomunikasi dengan mereka, kami menanyakan letak mushola, namun mereka tak tahu, saya mulai curiga, jangan-jangan kami dianggap orang asing yang akan berbuat macam-macam, sehingga para penduduk melakukan gerakan tutup mulut, kami mengalah, diputuskan agar kami menginap saja dahulu di pondok kosong, di penghujung desa tadi, kami menuju ke sana, segera menyiapkan sarana tidur, sedapat mungkin tidak membuat suara gaduh --bayangkan setiap barang yang kami bawa dibungkus dengan kantong plastik, sehingga bila kami membongkar ransel..bunyinya.. rame -- tapi ini ada maksudnya lho !!. Kami bersiap tidur, setelah kami akan tidur, terdengar langkah beberapa orang berjalan mendekati kami --ini yang kami tunggu-tunggu he-he-he-- kami mulai waspada, apakah ini hanya orang yang sekedar lewat, atau....akh..--alaa.. purapura waspada... padahal girang...dasar...MPO loe..-- Langkah itu semakin dekat, kini nampak mereka sedang menyorot-nyorotkan lampu senter. Kami tersorot kemudian menuju kami, kami sadar tentulah ini orang baik-baik,
TOUGH ! ADVENTURER

115

sebab mereka begitu sopan ketika mengetahui kami berada di pondok itu. Dengan bahasa jawa mereka menyapa kami, mereka mempersilakan kami untuk "pindah kamar" ke rumah bapak RT. Dengan sedikit basa-basi --shit man !!-kami akhirnya kami pindah juga koq..jangan sia-siakan kesempatan ini. Belakangan kami menyadari bahwa penduduk disitu memeluk agama Hindu, sehingga tatkala kami bertanya letak mushola kepada mereka, mereka tak tau menau, mau terus terang --biasa orang jawa-- namun berjiwa tepo seliro, berdosalah kami saat itu yang telah berprasangka buruk. Singkat cerita, kami diterima di rumah pak RT, rumah di sana sederhana, belum dijangkau aliran listrik, kami menghangatkan tubuh di perapian, bersama pak RT dan beberapa penduduk sekitar yang saat itu sedang berada di rumah pak RT. Agar tidak menimbulkan kecurigaan yang mendalam, kami menceritakan maksud dan tujuan kami -yang secara tak sengaja "terdampar" di desa itu-- kami jalaskan asal mula kami, dan kami beri surat ijin, surat jalan, beserta identitas kami, dan syukurlah, mereka
SEMERU, Bromo, Tengger

116

percaya kepada kami, kami disambut ramah, dijamu makanan seadanya, namun terasa nikmat sekali. Kami mengobrol agak lama, kamipun bertanya tentang nama, keadaan desa tersebut, juga tentang jalan menuju pegunungan Tengger. Ternyata jalan menuju kawasan pegunungan Tengger adalah jalan yang harus kami ambil ke arah bawah, sewaktu kami tiba di persimpangan --bangunan yang kami kira "pondok mungil" sebenarnya adalah tempat keramat, tempat orang-orang meminta wangsit dan sejenisnya--, sehingga besok, kami harus kembali lagi menuju "sanggar keramat". Keesokan paginya kami bangun, ternyata bapak RT sudah bangun, beliau segera mempersilakan kami meminim kopi --kopi tubruk-- dan menyantap kuekue yang disediakannya, kami malu, bayangkan bangun tidur, langsung disuguhi kopi panas...asykk... ketang... Cerita lama, setelah pamit dan basa-basi, kami meninggalkan rumah pak RT dan melanjutkan perjalanan, kembali mengikuti jalan semalaman. Saat itu waktu menunjukkan pukul 06.30, 29 July 1993.
TOUGH ! ADVENTURER

117

Akhirnya kami tiba di tempat sakral itu, bagaimanapun kami harus menghormati tempat itu, dari sana memang sudah nampak lautan pasir terbentang luas, kemudian lambat namun pasti, nampak aliran gumpalan awan yang mengalir dari balik bukit, turun "menyapu" padang pasir. Peristiwa itu kesemuanya terpantau dengan jelas sekali, indah sekali, mirip air bah yang melanda suatu cekungan. Kami sepakat untuk beristirahat di bibir lautan pasir, hingga sore hari, sebab kami tidak mau berjalan di lautan pasir sementara mentari membakar, serta debu-debu yang beterbangan ditiup badai. Kami segera membongkar "muatan", kemudian masak, dan --kembali-- tidur, kali ini tidur-tiduran, sebab kami seakan tiada puas-puasnya memandang keindahan alam ini. lama sekali kami "menganggur", sementara di lautan pasir nampak angin badai menyapu pasir, dan mengaduk-aduk segala sesuatunya kian kemari, sementara panas pun nampaknya menyengat sekali.

SEMERU, Bromo, Tengger

118

Hingga akhirnya, hari dirasa cukup teduh, kami segera berkemas, dan segera mulai menuruni bibir "kawah pasir". Ternyata perjalanan menuruni bibir itu sungguh mendebarkan, beruntunglah tadi malam kami tidak mengambil jalan ini, kalau tidak tentulah sangat menyulitkan kami. Jalannya sangat curam, kadangkala kami tergoda untuk melihat ke bawah, tapi ingat!!, sekali melihat ke bawah, kami akan merasa "gamang", kemungkinan akan jatuh. Agar aman kami berjalan sambil merapatkan tubuh kami ke sisi tebing di sebelah kami, memang mendebarkan, kami tak berucap sepatah katapun, kami sudah cukup berat membawa nyawa kami masing-masing, ditambah dengan ransel yang kami bawa, terombang-ambing angin yang selalu bertiup kencang semakin mengganggu kestabilan kami. Nampak disekeliling kami rumput alang-alang yang habis terbakar, luas sekali, memang daerah itu nampaknya rawan kebakaran. Perjalanan sulit itu berlangsung cukup lama, dua jam kemudian, kami tiba di dasar "kawah pasir" sejenak kami beristirahat, melihat kembali bibir curam yang baru saja kami turuni. Kemudian
TOUGH ! ADVENTURER

119

kami melanjutkan perjalanan kami. Jalan yang kami tempuh adalah hamparan pasir nan luas, sejauh mata memandang hanyalah pasir, kami berpedoman hanya dengan mengikuti bekas jejak kaki orangorang yang melewati jalan itu sebelumnya, lagipula terdapat susunan batu-batu sebagai pedoman jalan. Keadaan itu mengingatkan saya kepada filem-filem tentang padang pasir di timur tengah, wah mengasyikan sekali. Kami berjalan terus..dan terus..kami berjalan menyapu pasir, sejauh mata memandang hanyalah pasir.. hanya ada satu dua pohon yang nampaknya merasa malu tumbuh sendirian, kami berjalan menentang matahari yang sedang menggelincir turun dihadapan kami, sesekali kami menghadap ke belakang, melihat lagi tempat kami istirahat tadi --di bibir kawah, di atas sana-- waduh keciil.. sekali, tidak terlihat sama sekali --kami mencari-cari tempat sakral itu dari bawah-. Hari semakin sore, mentari semakin membuat bayangan kami sangat panjang sekali, juga bayangan bebatuan, pasir, yang kesemuanya terproyeksi pada hamparan pasir nan luas, membuat pesona yang --sekali lagi-- menggetarkan jiwa,
SEMERU, Bromo, Tengger

120

mirip sekali dengan pemandangan di bulan --seperti di filem-filem lho--. Hingga akhirnya kami bertemu dengan jalan berpatok yang menuju gunung Bromo, namun sebelum menuju kesana --hari semakin gelap-- kami sepakat untuk terlebih dahulu mengambil air dari kampung terdekat (pondok wisata), untuk kemudian kembali lagi, dan bermalam di sekitar gununga Bromo. Setelah semuanya Oke, kami mulai memasuki kawasan wisata Gunung peringatan Bromo, terdapat beberapa seperti dilarang membuang-sampah, dilarang mengambil batuan, bunga edelweis, dan yang menarik perhatianku adalah dilarang untuk buang air besar dan kecil dengan menghadap gunung Bromo...apa maksudnya, apakah sudah ada yang kena kutuk sebelumnya..hmm kasihan,..tapi yach..percaya ataupun tidak kami harus menghormati peraturan tersebut. Kami berjalan di padang pasir kembali, kali ini pasir yang kami pijak bersuhu dingin, maklum malam sudah mulai beraksi, ditemani bulan, saat itu kami mencari tempat yang cocok buat bermalam, akhirnya kami menemukan tempat yang cocok, sebuah cekungan
TOUGH ! ADVENTURER

121

yang terlindung dari hamparan pasir yang luas, sehingga kami terlindung dari angin. Segera kami menyiapkan sarana tidur, masak, dan memakannya. Oh ya ada kejadian yang menggelitik hati kami, tadi, sewaktu kami membaca peringatan untuk tidak buang air menghadap Gunung Bromo, kami lakukan juga, Saat kami buang air, kami membelakangi sebuah gunung yang malam itu kami kira adalah gunung Bromo --tak satupun dari kami tahu persis letak gunung Bromo, maklum baru pertama kali--, belakangan kami ketahui keesokan harinya justru kami membelakangi gunung lainnya (gunung Batok), dan di hadapan kami adalah gunung Bromo !!! --asumsi kami gunung Bromo adalah gunung Batok, seperti yang terlihat di iklan-iklan pariwisata--. Waduh, kutukan apa nich, yang bakal kami terima ??. Sebelum tidur kami sempatkan membaca ayat suci Al-Quran, yang kebetulan kami bawa, kami membaca secara bergantian. Memang setelah membacanya kami merasakan ketenangan yang luar biasa, kemudian kamipun tertidur.

SEMERU, Bromo, Tengger

122

30 July 1993, pukul 03.00 kami bangun dan segera packing --makan dahulu tentunya--, sebab menurut informasi untuk bisa melihat "sunrise" biasanya orangorang berangkat menuju Bromo pada dini hari begini. Setelah siap, kami berjalan, waduh dinginnya saat itu, kami terus berjalan, mengikuti patok-patok batu, hingga akhirnya kami sampai pada tangga yang menuju kawah di puncak Gunung Bromo. Setahap-demi setahap kami mulai mendaki. Sesampainya di puncak ... koq masih sepi, tak ada orang, olala, ternyata kami salah mengerti, mungkin saat itu orang-orang (turis) itu baru berangkat dari pondok wisatan sedangkan kita, yang bermalam tepat dikaki gunung Bromo, otomatis hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, ditambah pula dengan korban iklan, kami menyangka pendakian membutuhkan waktu lama, padahal... Bromo tidak sehebat Batok. Mau kembali lagi malas... ya terpaksa kami menunggu di puncak gunung yang gelap dan sepi, hanya sesekali kami melihat ke arah kepundan kawah, nampak nyala api berkobar-kobar dari golakan kawah yang masih aktif. Tak lama kemudian mulailah terlihat iringiringan lampu senter di dasar gunung, di
TOUGH ! ADVENTURER

123

lautan pasir nun jauh di bawah sana, nampaknya orang-orang dari pondok wisata sedang mulai berangkat. Keheningan saat itu mulai diramaikan dengan hiruk-pikuk di bawah sana yang makin lama-makin mendekat, makin jelas. Singkatnya, puncak Gunung Bromo sudah mulai penuh sesak --mirip pasar-dengan orang-orang, seperti di negri asing saja, sebab sekelilingku banyak sekali "wong londo"-nya, orang lokal hanya segelintir saja, termasuk mojangmojang pribumi yang bergelayut manja di lengan oom bule...huh..jengkel aku, bukannya apa-apa...habis pengen sich. Para wisman nampak antusias sekali, mereka berjuang keras menahan dingin -tampak dari gigilan mereka, cukup untuk menandakan penderitaannya, bahkan ada seorang anak kecil yang terus menerus menangis kedinginan sedangkan orang tuanya, yang juga kedinginan, sedang terus momong supaya si kecil diam--, untuk melihat "sunrice" pagi itu. Hingga akhirnya, setelah perjuangan panjang melawan dingin, kami melihat indahnya sang mentari menyembul dari balik cakrawala, merah, bulat, mempesona, indah sekali, belum lagi bila kami
SEMERU, Bromo, Tengger

124

mengalihkan pandanyan ke lautan pasir...nampak hamparan awan kecil, kabut, yang sejajar dengan permukaan pasir, nampak beriak-riak, ibarat air yang sedang mengisi lautan pasir itu... Subhanallah !!!!. Namun dilain pihak, kami merasa menyesal, sebab ternyata untuk mencapai puncak Bromo, tidaklah membutuhkan "perjuangan" yang berat -seperti dugaan kami sebelumya-- tapi yeach.. itung-itung refreshing lah. Kami segera turun gunung, keluar dari arena "wisata" itu, terus menuju desa terdekat, dari sana kami mengendarai kendaraan umum menuju ke Probolinggo, dari sana kami terus menuju ke Surabaya. Sesampainya di Surabaya, sebelum ke "tempat transit" kami mampir dulu ke Stasiun KA untuk memesan tiket, sebab kami akan kembali pulang besok. Malam itu kami menginap dan disuguhi aneka makanan, oleh empunya rumah "persinggahan", esoknya kami pulang juga dibekali dengan berbagai macam oleh-oleh, dan saya sebagai orang yang mempunyai ikatan keluarga, seperti biasannya, "disangoni"...asyik.

TOUGH ! ADVENTURER

125

Selama perjalanan, di Kereta Api, kami mengadakan evaluasi perjalanan -saat itu KA tidak terlalu penuh-- sambil terus awas, siapa tau ada mangsa. Kami sadar banyak hal yang harus dibenahi, mulai perbekalan hingga perlengkapan, namun yang terpenting, kami harus semakin menjadi suatu team yang kompak, kami harus saling mempercayai, sebab percaya adalah modal dasar untuk adanya kekompakan, kamipun harus menjaga serta memelihara fisik serta mental kami, kami harus menjadi team yang tangguh dan tabah...yah..tangguh dan tabah adalah cita-cita kami, agar kami bisa menaklukkan puncak-puncak tinggi yang kini sedang menantang di hadapan kami. Kami tiba di Bandung, 31 July 1993, --saat dimana adik-adik kelas kami "ripuh" menerima pengumuman UMPTN-pukul 21.00, kami pulang ke tempat tinggal masing-masing, dirumah, kami beristirahat, memang inilah kenikmatan dari rangkaian mendaki gunung: tiba di rumah dengan selamat, tidur, sambil membayangkan perjalanan yang baru saja kami tempuh dengan segenap perjuangan....aaahhh....
SEMERU, Bromo, Tengger

126

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingat kata-kata, pesan, renungan yang saya terima sewaktu saya ditempa mejadi anggota Wanadri Kom ITB : "Saat Yang Paling Aman Bagi Sebuah Kapal Adalah Pada Saat Berlabuh, Tapi Kapal Tidak Diciptakan Untuk Itu".***

TOUGH ! ADVENTURER

127

SEMERU, Bromo, Tengger

Mentari Pagi, SLAMET
UNUNG Slamet (3428 m dpl12) merupakan Gunung ketiga yang kami daki dalam rangkaian Tough Adventurer. Dalam perjalanan kali ini kami disertai dengan dua orang rekan kami, dalam hal ini sebagai peliput perjalanan kami ini (keduanya adalah kru Boulevard13) Singkat cerita, kami telah siap di tempat yang telah di janjikan --di kampus-- untuk kemudian bersama-sama menuju terminal bus, saat itu waktu menunjukkan pukul 20.36 WIB, tanggal 4 July 1994, kurang lebih tigapuluh menit, kami tiba di terminal Cicaheum, beberapa saat kami luangkan waktu untuk mengisi perut, di salah satu warung nasi.

G

Mula-mula kami agak riskan ditunggangi oleh para kru yang walaupun dengan alasan reportase, toh mereka hanya
12 13

Lihat Note 1 Tabloid di kampus kami

129

ingin berfoto di puncak sambil memegang spaduk “Boulevard terbit lagi !!”. Terus terang, bukannya kami sombong atau apa, level kita sudah jauh coy.. mereka hanya pendaki gunung baru gede --itu istilah kami--, lihat saja penampilannya, begitu meyakinkan, packing masih berantakan, matras masih tergantung di luar, pakaian lengkap, kemeja rimba, plus celana lapangan --toh nantinya satu persatu akan dilepas--, berbeda dengan kami yang sudah terbiasa bertualang, packing yang efisien, enak dipandang dan gerakan kami gesit, tidak terganggu segala atribut kegunungan. Yah.. lihat saja nanti... Sekitar pukul 21.15 WIB bus yang kami tumpangi, telah mulai meninggalkan terminal, menuju Purwokerto, Jawa Tengah, dan dimulailah perjalanan kami ini, suasana di Bus tidaklah menarik untuk diceritakan, pokoknya, kami tiba di Purwokerto dini hari pukul 03.45 WIB pada keesokan harinya, yaitu pada tanggal 5 July 1994, rencananya kami akan “belanja” dulu, tapi saat itu warungwarung masih tutup, sehingga tanpa menunggu waktu lebih lama, kami pun segera melanjutkan perjalanan, dengan menaiki bus yang menuju Pemalang.
Mentari Pagi, SLAMET

130

Satu jam kemudian kami tiba di pertigaan, Srayu, namanya, memang disanalah biasanya para pendaki yang menggunakan jalur Bangbangan memulai pendakiannya. Saat itu terdapat pula team pendaki lainnya, yang berjumlah dua orang, yang semula kami kira lebih tough dari kami, tapi belakangan masih dibawah standard kualifikasi team kami (tidak termasuk kru lho). Dari Srayu kami naik semacam angkot, yang pagi itu masih sepi penumpang, sehingga tidaklah heran bila tarifnya saat itu dinaikkan dua kali lipat, yeah.. cuex.. lah. Tigapuluh menit kemudian kami tiba di Priatin, dan memang dari sanalah kami mulai melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, namun sebelumnya kami melakukan Shalat Subuh di sebuah Musholla, sambil menikmati pemandangan gunung Slamet di pagi itu yang puncaknya mulai memerah diterpa mentari pagi. Gunung Slamet terkenal dengan Kabutnya, sehingga pemandangan yang langka tersebut segera kami abadikan dahulu. Selesai Shalat kami mulai melakukan perjalanan, kali ini kami
TOUGH ! ADVENTURER

131

menuju Bangbangan, desa terakhir, yang sekaligus tempat kami melaporkan perjalanan ini. Suasana pagi itu sungguh indah, jalan kampung yang kami lalui masih basah oleh embun, mentari yang terbit di belakang kami mulai menerpa punggung-punggung kami yang berat oleh senantiasa kami bertemu knapsack, dengan rombongan penduduk desa yang memikul entah apa --mungkin sayuran-,serta jerigen-jerigen berisi air, sementara dihadapan kami tampak Gunung yang menjulang tinggi, hijau, dan pada puncaknya merah --mulai menguning-terkena matahari, nampak sesaat lagi kabut akan menutupi pemandangan indah kala itu. Entah mujur atau tidak, dari belakang terdengar suara truk yang hendak menuju ke atas, kami menunggu dan yah..nebenglah.... Tapi gak lama koq, hanya beberapa meter, untuk kemudian kami turun di Bangbangan, menuju rumah Kuncen, untuk istirahat dan melapor -coba dari tadi !!--. Ternyata di sana sudah ada team lainnya --selain dua orang dari Bandung tadi--, juga dari Bandung juga, mereka berempat, salah satunya Wanita, team tersebut akan melakukan pemasangan
Mentari Pagi, SLAMET

132

patok --lebih tepat marker-- pada jalur pendakian, wah..trend apa nich, tapi nantinya pada perjalanan emang sih banyak kami temui marker-marker yang mengatasnamakan beberapa perkumpulan pendaki gunung dari berbagai pelosok..weleh-weleh... Kami bertemu Kunceng, ngobrol, beramah-tamah, makan pagi dan salah seorang kru, berangkat mencari air, yang memang sulit di daerah itu. Penduduk di sana ramah, sehingga kami bisa dengan senang hati ngobrol ngaler-ngidul. Setelah dua team berangkat --kami sepakat agar kedua team itu berangkat duluan, supaya kami tidak kesusul, gengsi donk, maka kamipun mulai start tepat pukul 08.30 WIB tanggal 5 July 1994. Perjalanan dimulai dengan menyusuri perkebunan milik penduduk, wah.... kering saat itu... senantiasa kami berpapasan dengan penduduk yang sedang menggotong jerigen-jerigen untuk mengambil air. Lepas dari perkebunan, kami melewati hamparan tanah luas -masih kebun juga--, tetapi memiliki kemiringan yang membuat orang frustrasi. Tanjakan itu kami lalap dengan santai
TOUGH ! ADVENTURER

133

sekali --kami toleran terhadap dua kru lelet kami yang amat sangat terengah-engah--, sebentar-sebentar berhenti...”take the picture.....!!”, katanya, hingga tibalah kami pada sebuah shelter, dan kamipun beristirahat --untuk yang kesekian kalinya-. Sembari beristirahat, kami kembali melihat jalan yang telah kami lalui, yeah, masih terlihat, dan didepan samar-samar terlihat team pemasang patok sedang istirahat kali, wah.. sebentar lagi terkejar tuh.... Setelah itu kami berjalan lagi, hingga akhirnya kami berhenti bersama bakpia.. eh.. team patok, untuk kemudian beristirahat lagi --huh..istirahat melulu sih, dasar kru-kru ini lelet sekali, terus terang kami pun jadi ikut-ikutan payah--, akhirnya kami makan siang dulu, menunya diirit, berhubung persediaan air sedikit, sehingga dimasaklah bubur “bayi” gandum --Quaker-- yang super geuleuh, tapi penuh kalori itu. Salah satu lagi contoh ketidak tangguhan mereka para kru, yaitu tidak terkendalinya emosi mereka, bayangkan betapa marahnya mereka melihat kami yang begitu santainya --menurut versi
Mentari Pagi, SLAMET

134

mereka--, pada saat istirahat --yang benarbenar istirahat--, sayang mereka tidak memperhatikan, betapa sabarnya kami tatkala menunggui mereka yang begitu santainya --sekali-kali berhenti-- pada saat berjalan.. huh huuuhhh..gemeeesss dech!!... Setelah makan, kami jalan lagi, kali ini kami sebagai team utama, tidak mau lagi toleran kepada kru-kru itu, kami tidak mau terbawa-bawa letih, sehingga sepakat kami jalan di depan, perjalanan kami lebih cepat, kami lebih mengutamakan perjalanan yang konstant, biar lambat, asalkan terus-menerus. Hingga kamipun menyusul team pertama yang sudah berangkat lebih dahulu sejak awal pemberangkatan, kami melihat fisik mereka sudah payah entahlah........ Pemandangan siang hingga sore itu bisa dikatakan indah, terutama sore hari, tatkala kedudukan kami sudah tinggi -diatas awan--, kami melihat suasana yang lain dari biasanya, dimana mentari sore terlihat lebih bening, lebih bersih, menerpa daun, pepohonan di samping, di bawah, dikejauhan, begitu tajam dan menusuk kalbu, namun bagaimanapun pemandangan
TOUGH ! ADVENTURER

135

sesaat itu segera sirna oleh kabut. Sementara selama perjalanan itu, kami selalu menikmati burung-burung jenis tertentu yang berloncatan kian kemari, disertai kicauan serta celotehnya yang khas, seolah menyambut kedatangan kami, aduh.. indah sekali sore itu. Akhirnya menjelang malam, kami putuskan untuk menunggu team kru itu, walaupun kami masih sanggup untuk menuju tempat terakhir hingga daerah berpasir, namun kami sadar, semakin jauh kami di depan, semakin kecil pula harapan kru-kru itu mencapai tempat kami ini, padahal kami telah sepakat untuk bermalam bersama kala itu. Agak lama memang, namun satu-persatu kru itu tiba, yang payah adalah kru yang belakangan tiba, kasihan sekali ia, nampaknya diare, hingga perutnya terus-menerus tak bisa diajak kompromi --access denied, katanya-, entahlah, ia keberatan dikatakan tidak biasa naik gunung lah, tidak biasa minum air mentah lah, semua alasan ditepisnya, hanya satu alasannya: nasi soto di terminal Cicaheum...itu penyebabnya !!, heh...,yang pasti ia sempat meninggalkan beberapa isi barang-barang yang dianggapnya tak berguna --akan diambil lagi pada saat
Mentari Pagi, SLAMET

136

pulang, katanya--. Dalam suasana kepayahan itu, kami sepakat untuk istirahat barang satu jam, untuk kemudian menuju batas daerah berpasir, sebab berdasarkan pertimbangan, bila kami beristirahat dan bermalam di sini, maka untuk bisa mengejar sunrice esok hari, kami harus bangun pagi-pagi sekali, sebab, jaraknya masih jauh. Sementara team kru tidur, kami berdua asyik memanaskan diri dengan membuat api, nampak hari mulai gelap, bintang-bintang mulai bermunculan, terlebih saat itu bulan lagi tak ada --bulan muda--, sehingga taburan bintang yang ribuan itu memiliki pesona tersendiri. Satu jam berlalu, kami membangunkan kru, untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Perjalanan malam itu lebih payah oleh tingkah laku kru yang semakin gila, berbagai alasan pun timbul, sakit perutlah, mountain sicknesslah, pusing.. tai lah...,hingga diputuskan untuk segera mencari tempat bermalam, hingga ditemukan suatu daerah, yang belakangan hanya berjarak sepuluh menit dari daerah berpasir, kami segera membuat bivoak, masak sejenak, dan segera tidur. Sebelum tidur, saya sempat menikmati pemandangan ke bawah, nampak lampu
TOUGH ! ADVENTURER

137

kota bersinar, bintang bintang bertaburan, sesekali tampak meteor-meteor melesat berjatuhan, tak lama kemudian kabutpun mulai menyelimuti kota di bawah sana, sementara langit --di ketinggian itu-masih bersih jernih, tatkala satu-persatu rekan saya terlelap kelelahan, saya merasa kesendirian, hening, sepi, hanya hembusan angin malam yang menggigit, dan menerpa sisi kantung tidurku, mataku memandang ke atas, ke taburan bintang yang bejibun sekali, seolah berupa lubang-lubang di hamparan hitam, nampaknya alam maha terang di baliknya sedang mengintip dunia ini, dan sewaktu sebuah meteor nampak membelah angkasa, he..he.. segera kupanjatkan tiga permintaan yang asyikasyik, tak berapa lama akupun tertidur. Nyenyak...?, tidak..juga ! aku hanya tidur sesaat, kemudian aku menanyakan jam kepada rekanku, waduh.. ternyata masih terlalu lama untuk segera bangkit, sudah kesal rasanya meringkuk dalam kantung ini, ingin rasanya melanjutkan perjalanan, tapi yeah.. masih terlalu malam, aku tak bisa tidur, begitu juga rekan sesama team tough, kami kemudian bangun, duduk, ngobrol, sambil

Mentari Pagi, SLAMET

138

menghangatkan diri, panjang.....

malam itu terasa

Entah bagaimana kamipun tertidur pula, betapa kagetnya kami tatkala kami terbangun, dan terlambat tigapuluh menit dari rencana semula, busyet.., saat itu menunjukkna pukul 03.30, wah segera deh, kami siap-siap. Melihat kondisi seorang kru yang makin payah, akhirnya diputuskan untuk berangkat bertiga, sementara sang pesakitan, tinggal di camp sambil menjaga barang-barang. Kami berkemas, hanya membawa barang yang diperlukan, seperti makanan, minuman, kamera, dan nampak kru satu lagi sedang mempersiapkan buntelan, spanduk kali.....he..he.. gak jadi foto duaan dech..... Hari masih gelap, bintang masih bertaburan, kini ditambah dengan munculnya bulan sabit yang masih kemerahan di ufuk timur.....sendu sekali suasana dini hari itu. Kami berjalan, menghabiskan sisa perjalanan route path ini. hingga kami tiba di perbatasan daerah berpasir --tepatnya berbatu--, menjulang tinggi dan besar di hadapan kami. Kamipun mulai merayapi gundukan nan besar itu, bagi kami hal ini mengingatkan
TOUGH ! ADVENTURER

139

kembali kepada kondisi sewaktu kami mendaki Gunung Semeru, bedanya, daerah berpasir yang harus didaki kali ini, lebih pendek jaraknya, juga keadaan pasirnya tidak segila di Semeru. Semakin ke atas, angin semakin berhembus kuat, sesekali kami berhenti, melihat ke sekeliling, masih gelap, hanya bulan sabit yang baru terbit di ufuk timur, merah dan besar sekali, dan bintang. Saya mendaki jauh di depan, sementara di belakang, dua buah cahaya senter, bergerak-gerak seolah mengejar saya, ada rasa kesal karena mesih terus mendaki, dalam kegelapan itu samar-samar saya melihat bayangan puncak gunung yang lebih hitam dari latar belakang langit, sudah mulai merata, pertanda sudah dekat, tapi entahlah, butuh waktu lama untuk akhirnya saya tiba di puncaknya --lebih dahulu ..lho--. Setibanya di daerah yang tertinggi, angin menerpa tubuhku hebat sekali, saya tidak tahan berdiri tegak, labil oleh hembusan angin, agak ngiprit juga saya waktu itu, sehingga segera aku mencari perlindungan di bebatuan, sementara cahaya senter di bawah masih belum terlihat, aku memandang sekeliling.... Subhanallah, ... gelap, sepi, bintang, bulan,
Mentari Pagi, SLAMET

140

lampu kota, semuanya hening, seolah diam tak bergeming --hanya kerlipan-kerlipan yang sama sekali tak memberi arti apa-apa bagi diriku--, angin berhembus kuat, suranya terdengar ribut di telingaku, sejenak aku kumandangkan Takbir... terasa sekali kesendirian yang amat sangat... sepi... sendiri.. mencekam...menggetarkan... dan menentramkan...., tak terasa, ketika aku menarik nafas, terasa sesak, bergetar, dan ,hangat, tear drop hhuaaaaa...akh....cengeng loe !! Tak lama kemudian satu persatu tibalah rekan saya yang lain, kami semua kedinginan, duduk merapat sambil menyantap makanan yang kami bawa tadi....brrrrrr tiriss maneh. Kami terus menunggu, ternyata masih terlalu pagi untuk mendaki pada waktu seperti saat itu, tak ada yang bisa kami kerjakan, mau melakukan sesuatu sangatlah sulit, tangan-tangan kami serasa beku, sakit bila digerakkan, terutama jarijari ini, diam seperti itu sudah bisa dikatakan lumayan.... . Hingga keadaan terus berlangsung, sedikit-demisedikit, mulai timbul sekelebat cahaya di ufuk
TOUGH ! ADVENTURER

141

timur....mula mula semu biru, membentuk garis, memberi warna sepanjang cakrawala, kemudian kuning, merah.......hingga diakhiri dengan kemunculan bola merah yang begitu agung......semuanya saya abadikan melalui kamera, kami melihat sekeliling kami, nampak di bawah masih diliputi hamparan awan nan luas, di sebelah timur nampak dua gunung yang mencolok Sumbing dan Sundoro --Gunung yang bakal kami daki juga--, sementara di barat nampak masih sedikit gelap, dalam kesendiriannya, yang menampakkan kesan gagah, samar-samar sebuah gunung yang menjulang, yeah.. itulah gunung Ciremai, yang telah kami daki, waktu Di Gunung Ciremai, kami pun telah menikmati pemandangan Gunung Slamet serta Sundoro dan Sumbing. Dari puncak gunung itu pula --ke arah Barat-kami melihat bagaimana bayangan Gunung Slamet masih menaungi daerah di bawahnya... betapa besar dan indahnya... seolah di bawah sana terproyeksi bayangan kami bertiga.. Kami berfoto sejenak, jalan-jalan mengelilingi puncak, hingga dirasa matahari mulai terasa panas, kamipun mulai turun. Perjalanan turun dilakukan
Mentari Pagi, SLAMET

142

sangat berhati-hati, inilah bedanya dengan pada saat kami menuruni Gunung Semeru, di sini kami tidak bisa turun meluncur, sebab tanahnya masih cukup keras dan berbatu. Dalam perjalanan turun, tidak banyak yang bisa dinikmati, sebab, dibawah sana Kabut sudah mulai menutupi pemandangan, hanya corak cakrawala yang semakin jelas terbentuk, seolah benar-benar ingin membatasi antara lagit dan bumi. Tak lama kemudian kami tiba di camp, nampak kru yang menjaga camp, sedang asyik sarapan dengan ransumnya, sesaat kemudian kami segera mengemasi barang-barang, telah disepakati untuk tidak memasak bagi sarapan pagi itu, sebab terbatasnya persediaan air, sehingga sebagai pengganjal perut, kami menyantap bahan makanan yang sudah jadi. Sementara kami berkemas, ada diantara kami yang memetiki bunga Edelweis, memang bunga yang legendaris itu masih menarik untuk dipungut, uniknya, pohon Edelweis di Slamet gede-gede sekali, bahkan segede pohon Cengkeh, busyet...gak tuh..

TOUGH ! ADVENTURER

143

Setelah semua siap, kamipun mulai berjalan turun, seperti pada waktu berangkat, kami berjalan duluan, sementara kru di belakang --soalnya mereka menjengkelkan sekali, udah lelet, kicauannya itu, memanaskan kuping--. Tidak seperti pada waktu perjalanan malam hari yang lalu, saat turun --apalagi saat terang--, debu-debu yang beterbangan di jalan baru terasa mengganggunya, sehingga kami harus berjalan berjauhan, atau bahkan sedekat mungkin, sebelum debu dari kaki membumbung tinggi. Di perjalanan, kami bertemu team-team yang kemarin berangkat bersamaan, yang satu bertemu di jalan, sedang dalam perjalanan ke puncak, sedangkan yang satu lagi, masih asyik dalam tendanya.....tangguh...cink.... Mula-mula perjalanan lancar-lancar saja --sesuai dengan anggapan kru bahwa jalan turun akan lebih cepat--, perkataan itu kami pegang, kami berjalan cepat, sampai dimana sih omong besar kru itu, sebab berdasarkan pengalaman kami, justru perjalan turun itu lebih melelahkan, sebab selain harus menyangga berat tubuh serta beban, kita pun harus melawan gaya gravitasi yang berarah sama dengan gerak
Mentari Pagi, SLAMET

144

kami. Entahlah... namun belum setengah perjalanan, seorang kru sudah mulai rewel lagi, Acces denied lah, sakit perut, beribu alasan, nih orang pernah naik gunung kagak sich.... Mula-mula kami kurang peduli, namun pada saat kami tiba di tempat ia meninggalkan barang, dia muntah-muntah, mata merah, muka cekung...waduh kacian sekuale.., tak ada lagi muka gagah yang disandangnya sejak berangkat, sia-sia segala atribut yang selama ini dikenakannya...yah..gimana donk.., malu ente..., mulai disitu kami mulai was-was, kami segera bertindak cari makanan, bahkan air minum tawar yang kami sisakan buat kami berdua terpaksa direlakan sebagai pengganti air minum mereka yang telah dicampur ramuanramuan ‘gak mutu dls...itu. Kami tidak bisa memberi obat-obatan, sebab obat-obatan kami hanya obat merah !! --tangguh gak coy..!!--, untunglah kru satu lagi membawa obat-obatan entah apa placebo kali, dan di gleg.. aja tuh... Keadaan tak memungkinkan bagi kru bersangkutan untuk membawa ransel entengnya. Sehingga kami berbagi beban, namun tetap saja isi ranselnya masih belum terkuras, sehingga kami sepakat untuk
TOUGH ! ADVENTURER

145

membawa ranselnya bergantian. Ranselnya tidak berat sih, tetapi membawa beban tambahan semakin membuat tubuh ini tidak aerodinamis, mengganggu geraklah, sehingga menambah tenaga ekstra untuk melawan momen-momen yang timbul. Ketika giliran team kami yang membawa ranselnya, sang kru satu lagi kami suruh berjalan duluan, menyertai kru yang payah itu, sementari kami bergantian membawa ransel di belakang. Dalam membawa ransel kami punya kisah unik, mula-mula kami membawanya secara bergantian, namun kami punya ide untuk membawanya dengan ditandu, kamipun menebang sebuah dahan, kamudian kami menandu ransel itu bersama, cukup adil khan.....tapi tunggu, ternyata membawa dengan cara itu cukup merepotkan, sebab jalanan turun, sehingga yang kebagian di belakang tidak bisa meletakkan tandu di pundaknya, pikir punya pikir, akhirnya muncul ide gila untuk...menyeretnya...!!!, bah..cuex aja, ini ransel --apalagi orangnya-- sangat menjengkelkan sekali, tak lama kemudian nampaklah saya sedang menyeret ransel itu, sementara rekan saya satu lagi berjalan agak ke depan siapa tau team kru lagi
Mentari Pagi, SLAMET

146

berhenti... Rusak..!!, tidak!, sebab bagaimanapun saya punya perasaaan dan perhitungan, namun ya itu.. debu yang ditimbulkannya lebih membumbung... gilaa. Ketika giliran rekanku menyeret ransel terjadi kesialan yang membuat perubahan dalam hal menangani ransel. Ia tersandung tali ransel, dan terjatuh berguling-guling --maklum jalan turun--, dan saking kesalnya, ia memungut ransel tersebut dan...membantingnya dengan penuh nafsu...bughh!!, a..ha.. aku ada ide......, yeah akhirnya kami tau cara membawa ransel yang tepat......: dilempar...brur.....!!!. Tapi kejadian itu tak lama koq, sebab keburu ketemu team kru yang sedang beristirahat. Akhirnya kamipun menyatakan tidak sanggup lagi membawa ranselnya, dia pikir kami ini porter apa, bah !, akhirnya sang sakit memanggul ranselnya lagi, untung... kalo tidak, kami akan melakukan tindakan lebih lanjut yaitu, membuang ransel tersebut...he..he..he.. Kami semakin lemah, air semakin di irit, makanan hanya biscuit, namun akhirnya kami tiba juga di desa terakhir waktu mendaki, Bangbangan, kami kembali melapor kepada kuncen setempat,
TOUGH ! ADVENTURER

147

kami diberi minum, dan makanan seadanya. Sayang kami tidak bisa berlamalama, sebab kami harus segera tiba di Bandung. Akhirnya setelah kami pamit kepada Kuncen, berjalan menuju Priatin, kemudian berbersih dahulu di Priatin, mandi dan berak, dan jajan di warung, kamipun kembali ke terminal Porwokerto. Setibanya di Terminal kami makan dulu di sebuah warung yang tentu lebih representatif daripada di kampung. Segera setelah Shalat Magrib di warung ibu genit itu, kamipun memilih bus untuk tujuan Bandung. Tak banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan itu, kami semua terlelap kecapaian, seolah tidak ada waktu buat mengenang kegiatan barusan, menyenangkan, menjengkelkan, tidak sempat... kami semua letih, apalagi teombang-ambing oleh laju bis yang begitu membuai bahkan kami sempat tergulingguling di lantai bus, tatkala bus membelok .. membuat kami semakin terlena. Tujuh jam berlalu, singkat kata saya tiba di rumah pukul 04.30 WIB tanggal 7 July 1994, begitu lelahnya saya,
Mentari Pagi, SLAMET

148

sehingga setelah membersihkan badan sejenak, saya segera merebahkan diri di kasur kebanggaan saya, fiuhh, terbetik ingatan saya kembali akan perkataan seorang kru tatkala kecapaian, sementara kami masih menunjukkan kebugaran : ”Hanya orang gila yang menganggap mendaki gunung bukan untuk mendapatkan capai “, hmmm..... dalam hati aku bergumam, aku capek...!! tak lama kemudian akupun tertidur.***

TOUGH ! ADVENTURER

Kabut WELIRANG, ARJUNO

U

NTUK bisa dikatakan tough !, kami harus menjajal berbagai kemungkinan baik kondisi maupun keadaan dalam setiap perjalanan kami. Sehingga atas dasar itulah, kami merencanakan mendaki Gunung Arjuno (3339 mdpl14), dan Welirang (3136 mdpl15), pada musim penghujan, walaupun kondisi seperti itu pernah kami lakukan pada waktu mendaki gunung Ciremai16. Kami berangkat menuju jawa timur dengan menggunakan kereta api jurusan Bandung - Surabaya, tepatnya tanggal 5 Januari 1995, pukul 05.30. Gunung Welirang dan Arjuno merupakan dua buah gunung yang berdekatan, seperti halnya

14 15

Lihat note 1 Lihat note 1 16 Baca : CIREMAI, Perjuangan Keras

150

Gede - Pangrango, areal gunung itu meliputi tiga kabupaten yaitu kabupaten Mojokerto, Pasuruan dan Malang, kesemuanya di Propinsi Jawa Timur. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, maka kami telah menyusun jalur pendakian yang akan kami lakukan, yaitu naik melalui kota Tretes, mendaki gunung Welirang terlebih dahulu, lalu dari sana langsung menuju Arjuno, yang untuk itu kami juga merencanakan melewati gunung kembar I dan Gunung kembar II, dua buah gunung diantara Welirang - Arjuno -seperti yang terlihat pada peta yang kami bawa--, yang memiliki ketinggian masingmasing 3025 dan 3126 mdpl (memenuhi syarat pendakian Tough ! Adventurer) Perjalanan dengan kereta api memang paling saya sukai, apalagi pada bulan-bulan ini, dimana sepanjang perjalanan --melalui jendela--, saya bisa menikmati bagaimana ribuan kupu-kupu beterbangan, tersibak oleh laju kereta api, akh..memberi pesona tersendiri.. Singkatnya, lima belas jam kemudian kami tiba di tujuan, pukul 20.30 WIB, kami tiba di Surabaya, sengaja kami turun di stasiun Wonokromo, sebab dari
TOUGH ! ADVENTURER

151

sana akan banyak kendaraan ke arah terminal bus, setelah turun kereta, kami langsung mencari kendaraan menuju terminal bus, tak susah mendapatkannya, dan lima belas menit kemudian kami telah tiba di terminal bus yang katanya terbesar di asia tenggara itu, dari sana kami langsung naik bus yang menuju ke Malang, rencananya, kami akan turun di Pandaan, untuk kemudian melanjutkan ke Tretes, desa terakhir sebelum kami mulai merayapi tanjakan. Tak banyak yang dilakukan di dalam Bus kala itu, termasuk menonton TV, yang sedang menyiarkan pidato Presiden dalam rangka RAPBN, dasar..bus pemerintahan kali..! Tiga puluh menit kemudian, kami tiba di Pandaan, begitu kami turun, banyak sekali ojeg yang datang menawarkan kami, hanya kami berdua yang turun dari bus itu, tapi sambutannya ..waduh..repot kami menghadapinya... Setelah diyakinkan bahwa tidak ada lagi kendaraan umum yang ke Tretes --dasar tukang dagang--, akhirnya kami memastikan naik ojek, walaupun belakangan diketahui harganya tiga kali lipat harga angkutan umum.

Kabut WELIRANG , ARJUNO

152

Perjalanan dengan motor kala itu benar-benar gila.., motor dipacu habishabisan, menembus kegelapan malam dan jalan tanjakan yang mulus itu, angin berhembus kuat menerpa wajah, tubuh, dingin, lebih dingin dari AC di bus tadi, tatkala motorku menyusul motor rekanku, terlihat selintas olehku, rekanku meringis, entah ngeri, entah asyik, he..he... Hingga kami melewati kota kecil yang cukup ramai, nah terlepas dari informasi yang sebelumnya kami telah terima, kami merasakan memasuki kawasan yang benarbenar asyik masyuk, suasana mesum terasa di mana-mana, yah...Tretes adalah salah satu kota yang terkenal dengan fasilitas prostitusinya.. Lherrrr... Perjalanan maut --terminal velocity-- pun berakhir, tepat di depan pintu gerbang bumi perkemahan...entah apa namanya....ngeres..sich !!, disitulah kata sang supir ojeg, tempat para pendaki memulai pendakian ke gunung Welirang Arjuno. Kami turun, membayar ongkos, dan memasuki jalan yang ditunjuk oleh sang supir. Jalannya mendaki, gelap, sehingga kami mulai menyalakan senter, kami
TOUGH ! ADVENTURER

153

melewati sebuah pos penjagaan, tapi sepi...padahal hari sudah malam, he.he.., kami terus berjalan, hingga kami tiba di sebuah pondok yang sepi, tapi, dari analisa kami, pasti di dalammya ada orangnya, dan kalo pitunya kami ketuk pasti dech keluar yang punya rumahnya. Setelah kami ketuk tidak ada jawaban, kami gedor saja..he..he.. dan itu membuahkan hasil, keluar seorang pria, dengan hanya menggunakan sarung, kami beri salam, dan saya sebagai juru bicara mulai mengutarakan maksud dan tujuan kami. Syukurlah kami diterima dengan baik, namun mungkin karena satu dan lain hal, kami hanya dipersilakan bermalam dulu di teras rumahnya, oke dech, tempatnya memungkinkan koq. Sebelum tidur, kami melakukan masak-masak dulu, dan sambil makan kami menikmati pemandangan lampulampu di hadapan kami. tepat di depan, berdiri sebuah hotel besar, megah...mungkin di dalamnya sedang ada candle light dinner, seperti halnya suasana makan kami saat itu, yang tentu saja menunya jauh berbeda....dan mungkin lagi di sana mereka sedang tidur nikmat,
Kabut WELIRANG , ARJUNO

154

hangat, atau mungkin ‘kelelahan’...he..he.., sementara kami pun tidur, terbungkus kantung tidur, dan alas matras....ironis..?, tidak juga...it’s our life..!! Kami sepakat, untuk bangun pagipagi sekali, sebab kami tidak mau --siapa tau-- bila terlalu siang nanti kami akan mendaki bersama orang-orang di hotel itu yang akan berolahraga pagi, mountain look sekuale, khan !. Kamipun bangun pagipagi, berkemas, sarapan, dan setelah semua siap, kamipun mohon diri dan berterima kasih kepada pemilik pondok itu. Dari beliau, diinformasikan bahwa hingga saat ini belum ada pendaki yang naik, juga para pengambil belerang, tidak ada yang bekerja, karena musim sedang tidak bersahabat, pesannya sich, hati-hati saja. Oke, akhirnya kamipun mulai cao, mengikuti jalan yang ditunjuk oleh pemilik pondok itu. Kondisi saat itu benar-benar santai, mengasyikkan, cocok buat awal perjalanan kami, jalan yang kami lalui masih jalan tol, mirip dengan jalur gunung GedePangrango17, mentari pagi masih terik,
17

Baca : PANGRANGO Gunung Wisata

TOUGH ! ADVENTURER

155

hingga tiba di daerah yang cukup terbuka, kami menikmati pemandangan di lembah sana, indah sekali, hamparan hijau luas, yang dihiasi bangunan-bangunan putih beratap genting jingga, dan lekak-lekuk jalan raya, sementara di kejauhan berdiri puncak mahameru --puncak gunung Semeru--, yang kadangkala mengeluarkan asap dari kepundannya. Tak lama kemudian kamipun melanjutkan perjalanan kami. Keadaan jalan masih terus jalan tol, akh..hingga kapan nich, sementara keadaan flora telah berganti, dari heterogen, alangalang, dan kini memasuki hutan homogen conifer, hingga akhirnya kami tiba di suatu tempat, terdapat banyak sekali tumpukan belerang, serta pondok-pondok yang dibuat sedemikian rupa untuk berlindung dari hujan dan angin oleh para pekerja pengambil belerang dari gunung Welirang, terdapat pula sebuah musholla, yang kecil, asri, bersih. Oh ya, kami membawa persediaan air cukup banyak, setelah sumber air terakhir tadi, sebab katanya -menurut informasi yang kami terima sebelumnya--, tak ada lagi sumber air setelah tempat Welirangan ini. Keadaan “desa” Welirangan kala itu benar-benar
Kabut WELIRANG , ARJUNO

156

sepi, tak ada seorang pekerja pun, mungkin memang pada musim hujan ini mereka sedang libur, aku membayangkan bertemu pekerja belerang yang sedang memikul belerang kuning di pikulannya, seperti yang pernah aku lihat di beberapa mass media. Dari Welirangan terdapat dua jalur, yang satu memliki petunjuk bertuliskan Gunung Arjuno, dan satunya lagi tak memiliki petunjuk. Kami sempat ragu untuk mengambil jalan, bagaimanapun kami ingin mendaki gunung Welirang terlebih dahulu, sehingga setelah melalui proses orientasi, dan analisa terhadap peta yang kami bawa, akhirnya kami memutuskan mengambil jalur yang satunya lagi, yang tak berpetunjuk. Belakangan jalur yang memiliki petunjuk itu nantinya akan bercabang kembali yang satu menuju Puncak Arjuno, dan yang satu lagi menuju Welirang. Keadaan jalan semakin kecil, tanjakan semakin daki, semantara itu kabut mulai turut dalam perjalanan kami kala itu, pekat sekali, kadangkala hujan turun -butir-butir kabut yang terkondensasi, kali-membasahi jalanan dan kami tentunya,
TOUGH ! ADVENTURER

157

dalam jarak pandang yang buruk itu kami memutuskan untuk jalan terus, bagaimanapun, keadaan saat itu masih memungkinkan untuk bergerak. Hingga kami tiba di daerah berbatu, dan dikeliling oleh pohon-pohon cantigi, kami yakin telah berada di daerah yang sudah cukup tinggi, dan memang, setelah melewati daerah luas tak bertumbuhan, akhirnya kami tiba di daerah yang paling tinggi, akh..kabut sialan, kami tak bisa melihat sekeliling, sehingga kami putuskan untuk turun dulu sedikit, untuk cari tempat nge-camp, dan bila hari cerah, kami akan naik lagi ke sini, sambil menikmati puncak Welirangan. Hmmm.., baru kali ini kami mencapai puncak gunung tanpa kesan apaapa, soalnya pandangan kami terganggu oleh kabut ini sich, dan emang pada saat itu tak ada fenomena standard yang bisa kami nikmati, layaknya pada setiap gunung yang kami daki. Sayang sekali, kami hanya bisa menikmati bibir-bibir kawah, nampaknya indah sekali kalau hari cerah. Sesekali terdengar gemuruh longsoran batu-batu belerang di bawah sana, tertutup

Kabut WELIRANG , ARJUNO

158

kanut tebal, membuat tempat kami berpijak bergertar...hmm... Saat turun mencari tempat yang layak untuk ber-camp, saat itu pula hujan turun agak deras, tak banyak yang dapat kami lakukan saat itu, kecuali duduk, berlindung dari siraman hujan yang lumayan deras, sembari menikmati tetestetes hujan serta air yang mengalir di jalanan setapak di hadapan kami. Tak lama kemudian, hari semakin gelap, semakin lama menunggu, perut semakin lapar, sehingga menjelang hari gelap, yang berlangsung lebih cepat dari semestinya, karena kabut yang menggantung, maka kami mengadakan acara masak, dengan menu instant, menu geuleuh yang kaya akan kalori, yang tidak pernah kami santap sewaktu di rumah, he..he.. makan bukan karena kenikmatan, tetapi karena kesadaran...., kali ini kami masih menikmati masakan kami. Semakin malam hujan semakin mengecil, tetapi tetap saja basah di manamana. Akhirnya kami menyiapkan tempat tidur senyaman mungkin, alat tidur kami hanya sleeping bag, dan poncho, tapi itu sudah mencukupi koq. Kamipun mulai
TOUGH ! ADVENTURER

159

tidur, mulai merayapi kegelapan yang lambat laun terus memperluas areanya, seiring dengan semakin redupnya nyala lilin yang kami nyalakan, dan akhirnya kamipun tertidur, sementara malam semakin pekat, diselingi kabut putih, gelap. Dini hari aku terjaga, Subhanallah, indah sekali suasana malam itu, kabut telah sirna, yang tinggal adalah ribuan bintang yang begitu banyaknya, langit serasa penuh dengan bintik putih terang, susana yang tidak pernah ku lihat di perkotaan, apalagi saat itu bulan muda. Aku kembali tertidur, sambil sesekali menikmati, meraba-raba, rasi-rasi bintang yang telah ku kenal --terus terang rasi bintang saat itu lebih kompleks, bintang-bintang yang kecil magnitudo-nya juga keliatan koq--. Semakin pagi, di ufuk timur, tepat dihadapan kami, mulai ada corak memerah, di cakrawala, keadaan ini membuat kami tidak menyia-nyiakan pemandangan indah ini, kami bangkit, naik kembali ke puncak , dan kemudian menikmati saat-saat mentari pagi, akupun segera menyiapkan kamera untuk siap mengabadikan saat-saat yang aku pikir
Kabut WELIRANG , ARJUNO

160

indah ini. Begitulah, setelah puas menikmati saat-saat mentari menyembul dari balik bumi,--nampak pula puncak gunung Semeru, serta dataran tinggi Tengger, beserta kepulan asap dari gunung Bromo--, Subhanallah, kamipun turun kembali, mulai berkemas, masak, dan segera melakukan orientasi terhadap keadaan sekeliling, sebab suasana pagi yang cerah itu, kemungkinan sangat langka pada bulan-bulan mendung seperti saat itu. Setelah melakukan berbagai pertimbangan, segera kami menetapkan titik-titik sebagai acuan perjalanan kami saat itu, maklumlah, untuk menuju gunung Kembar I dan II, kami akan melakukan perjalanan potong kompas, itulah seninya. Setelah semua siap, kami berdo’a sejenak, dan dengan ditemani oleh mentari yang masih menyinari bumi, kami memulai perjalanan kami hari itu. Kami menuju tempat yang telah kami sepakati waktu orientasi tadi, yaitu sebuah batu yang berada tepat di lembah antara gunung Welirang dengan gunung Kembar I. Tak lama memang, hingga kami tiba di tempat yang diharapkan, setelah itu barulah kami menuju puncak kembar I, dengan patokan

TOUGH ! ADVENTURER

161

sebuah kepulan asap fumarole18, nun jauh di atas sana. Keadaan alam masih bersahabat, setidaknya, kabut masih belum mengganggu pandangan kami, kami terus mendaki, menyusuri pohon-pohon cantigi yang banyak disekeliling perjalanan kami, sesaat kami menoleh ke belakang, menikmati puncak Welirang yang ternyata indah sekali dilihat dari sini, uf..nampak bekas kami nge-camp tadi, idihh.... jauh dan kecil woii... Tiba di puncak Kembar I, di sana terdapat kepundan yang sudah mati, tidak aktif lagi, ditumbuhi tumbuhan paku, dan sedikit edelweis yang tak berbunga, beberapa sisinya menyembur uap air panas (fumarole). Perjalanan selanjutnya menuju gunung kembar II, terdapat sedikit masalah dalam menentukan route kali ini, sebab kabut mulai turun, sehingga menghalangi orientasi kami, juga keadaan medan yang lebih curam, namun akhirnya diputuskan untuk menuju lembah terlebih dahulu, untuk kemudian nantinya naik lagi, yeah..walaupun untuk melakukan itu
18

Sumber uap air

Kabut WELIRANG , ARJUNO

162

diperlukan daya tahan fisik dan mental yang tinggi. Begitulah, dengan diselingi berbagai istirahat pendek, akhirnya kami mencapai puncak kembar II, suasana di sana hampir sama dengan keadaan kembar I, gundul, ada kepundan yang mati, tumbuhan paku, dan kini lebih banyak fumarole, sehingga selama perjalanan itu, di kiri kanan kami selalu menyembur uapuap air, hangat memang, aduhh... suasana itu sangat berkesan sekali, fantastis. Karena hari semakin siang, kabut pun mulai menyelimuti daerah itu. Keadaan jadi putih, jarak pandang sangat terbatas, kami terjebak, terkurung dalam lingkupan kabut nan pekat itu, akibatnya, kami tak bisa melanjutkan perjalanan, dan selama itu kami hanya duduk, menikmati alam yang kelam, putih, sendu, kabut bercampur uap fumarole beterbangan kian kemari, dikacau oleh tiupan angin, akh..mecekam, dan membosankan sekali. Sambil menunggu kami selalu siaga, bila sewaktu-waktu kabut sirna, segera kami lakukan orientasi, kami bidikkan kompas ke titik-titik ekstreme yang saat itu mungkin terlihat dengan langkanya. dari
TOUGH ! ADVENTURER

163

sanalah kami bisa memprediksikan posisi dan arah pergerakan kami selanjutnya. Menjelang siang, kabut mulai luluh, kamipun memulai perjalanan, kali ini tetap berpatokan pada arah azimuth kompas yang kami bawa. Jalur yang kami lalui saat awal adalah turunan yang aje gilee, hamparan rumput kering, dan beberapa batang Edelweis nekat --habis tumbuh bukan pada daerah vegetasinya--, tapi bunganya indah, sudah mekar dan alami buanget, juga beberapa rumpun anggrek hutan yang warnanya ungu menggairahkan --warna favorit saya-...menclok di batang-batang pohon besar, tapi...akh...kami sudah tak minat metikmetik bunga yang katanya abadi itu -memang !!--. Agak lama menuruni menuju lembah, harapan kami tepat di bawah sana akan menemukan air, namun sayang keadaan saat itu kering...garing...., adakalanya kami juga menemui rangkarangka yang mengingatkan kami pada rangka-rangka di komik Asterix, yah..itu rangka-rangka babi hutan, masih utuh, tapi sudah putih..kering...., a-ha..siapa yang memangsa babi hutan
Kabut WELIRANG , ARJUNO

164

yach...Obelix..?...atau....., agh.selama kami tak mengganggu mereka, merekapun tak kan menerkam kami...., Oh ya..sempat sewaktu kami menyusuri lembah, megikuti kontur pada sisi gunung, di hadapan kami nampak benda hitam besar sedang berjalan membelakangi kami....hmm babi hutan...nampak kedua taringnya kuning keluar dari sisi-sisi mulutnya yang hitam juga, berjalan dengan merundukrunduk..sementara bokongnya yang penuh lemak bergelambir..berguncangguncang...sexy sekualee.............. Saat itu suasana membosankan sekali, inginnya sich terus menyusuri lembah itu, entah hingga ke mana, soalnya medannya datar-datar saja. Namun akhirnya setelah istirahat sejenak, kami memutuskan segera potong kompas ke arah sisi lereng di kanan kami. Kondisinya terjal dan berbatu pula, kami mulai merayapinya dengan hati-hati, kedua tangan secara aktif turut berperan dalam merayapi bongkahan-bongkahan batu itu. Muncul dalam benak kami akan kondisi seperti itu, bukankan daerah bebatuan ini daerahnya macan kumbang bertengger atau apalah....., terbayang dalam fantasi kami, tatkala kami nongol merayapi sebuah
TOUGH ! ADVENTURER

165

bongkahan batu, telah menunggu seekor binatang...hmmm asyik khan !! Entah berapa lama kami terus bergumul dengan suasana batu-batu itu, hingga akhirnya kami tiba di “atasnya”, suasana berkabut, hari semakin sore, kembali kami terpaksa berhenti memandangi kabut-kabut yang berkeliaran dengan hebatnya di sekeliling kami, dingin juga. Kekhawatiran mulai timbul, lantaran persediaan air mulai semakin menipis, makanan sich masih banyak, tapi kalo tanpa air..apa artinya, kami tidak akan gegabah menjejali perut kami dengan miemie kering, atau apa lah, tanpa ditemani air minumnya. Keadaan sudah agak baikan, segera kami kembali menyusuri perjalan “buta” itu, akh..orientasi peta kompas sudah susah diandalkan, sebab penentuan posisi tanpa referensi ekstrim yang jelas membuat orientasi kami pada peta tidak presisi. Hingga kami tiba di penghujung “gunug batu” itu. Untunglah pandangan kala itu cukup baik, kami bisa segera memprediksikan bahwa dataran menjulang di depan kami itu adalah punggungan tunggal menuju puncak Arjuno. Walaupun
Kabut WELIRANG , ARJUNO

166

dalam pengamatan kami, tak ditemui path di lembah maupun di lerengnya, tetapi kami sepakat akan meng-cross punggungan di hadapan kami, sebab dipastikan akan bertemu dengan path. Kami menuruni bebatuan, lebih sulit dari sewaktu menaikinya tadi, uh..sampai juga di lembah, trus kami mulai mendaki , jalurnya oke banget, mendaki...dikelilingi oleh hutan conifer yang langsing-langsing, rumput hijau...uff asyik sekali..... Kami mulai menemui sampah, aha...hingga akhirnya, sesuai dengan dugaan kami, kami bertemu dengan path kembali...., hmm, senang juga setelah seharian tidak menemukan jalur enteng. Kami istirahat sebentar, hanya dudukduduk, tanpa minum, apalagi makan, dalam rangka penghematan air. Trus...., kamipun mulai berjalan kembali... Suasana berganti-ganti, kadangkala kabut sirna, sehingga pemandangan nun jauh di bawah sana tampak jelas, termasuk puncak Welirang yang galau oleh asap dari kepundannya, kadangkala kabut lewat, membuat suasana putih menyilaukan, ditambah dengan bersahut-sahutannya
TOUGH ! ADVENTURER

167

suara guntur yang menggelegar, ah..menggetarkan sekali, sementara kami terus merayapi tanjakan yang panjang...terus..terus....hingga tibalah kami di daerah yang cukup datar, hmm tempat yang nampaknya biasa digunakan untuk nge-camp, nampak susunan batu-batu yang sengaja dibuat untuk menahan angin. Tempat itu sudah merupakan areal Puncak Arjuno, angin berhembus kuat sekali, dingin, menerpa wajah, suaranya gemuruh di telinga, suasana agak berkabut, namun sesekali mentari senja bisa dinikmati dari tempat itu. Kami berjalan terus, menuju tempat yang paling tinggi, perjalanan sedikit memutar, melewati hamparan pohon-pohon cantigi, serta bebatuan yang kadangkala penuh coretancoretan para vandalis yang katanya penuh makna itu. Kami berencana untuk turun melalui jalur lain, sehingga kami sepakat kali itu untuk mencari dahulu gerbang jalan turun tersebut, kemudian kami akan nge fly camp di tempat yang memungkinkan, baru keesokan harinya, setelah menikmati sun rice, kami akan berjalan turun.
Kabut WELIRANG , ARJUNO

168

Agak skeptis juga menentukan jalan turun yang dimaksud, sebab kali itu banyak sekali jalur-jalur menurun menuju lembah, namun akhirnya kami putuskan untuk mendiskusikannya esok hari, kini kami harus segera mencari tempat bermalam yang nyaman, supaya tau aja, baru kali itu kami bermalam hanya beberapa meter dari puncak tertinggi dari sebuah gunung, tetapi karena berbagai pertimbangan kepraktisan, maka kami putuskan bermalam di sekitar itu juga, sebenarnya ‘gak ada resiko yang terlalu berarti sich, hanya terpaan angin yang gilagilaan aja, itupun dapat kami atasi dengan memilih sebuah ceruk yang cukup nyaman. Hujan turun, barangkali kabut lewat, tidak deras tetapi cukup lama, segera kami membangun bivoak dari poncho, trus kami berusaha menampung air hujan dari wadah-wadah yang kami bawa, untuk nambah-nambah air yang makin menipis itu. Ada peristiwa unik yang kami alami pada saat itu. Selama mendirikan bivoak, kondisi cuaca agak buruk, hujan, dan senantiasa kilat menyambar-nyambar,
TOUGH ! ADVENTURER

169

dekat sekali, terus terang kami ngiprit menghadapinya, apalagi di tempat setinggi, dan se-open itu, bayangkan saat kita berdiri di tempat itu, kemudian ada petir menyambar, entah dimana, namun terasa kilatan cahayanya, maka rambut di kepala kami turut terkena efek elektrostatis, dan rasanya aduh...merinding sekali...seolah turut tersambar petir..brrrtttttt, belum lagi dengan suara menggelegar beberapa saat setelah itu, hingga akhirnya kami tidak berani berdiri lama-lama, barangkali resiko tersambar petir terlalu didramatisir oleh kami saat itu, namun terus terang kami pun gak tahan sama gejala merinding nya itu lho. Hujan tidak berhenti-berhenti, sehingga sepanjang malam itu kami hanya bisa duduk-duduk merapatkan diri, mendengarkan tetes-tetes air di ponco, menikmati kilatan cahaya petir, dan turut bergetar dengan suara gemuruh guruh. Mata sulit terpejam, langit malam yang mendung memberi aksen kemerahmerahan, tapi..akh..sama sekali tidak menarik perhatianku. Nyala lilin mulai meredup, segera ku ganti dengan yang baru.......

Kabut WELIRANG , ARJUNO

170

Kami sepakat akan turun esok hari melalui jalan yang akan diprediksikan esok hari pula, kami targetkan untuk masak dua kali lagi, sekali pada malam ini, dan sekali lagi pada esok hari, untuk perjalanan pulang tidak perlu masak, cukup memakan makanan yang sudah jadi saja, dan kalo perlu hanya minum doang, soalnya persediaan air emang nampaknya hanya cukup untuk hal seperti itu. Hujan reda, suasana segar sekali, saya paling suka saat-saat sehabis hujan, bumi nampak bening, segar, bersih...., kabut sirna, dan seperti biasa bintangbintang menampakkan dirinya begitu telanjang. Di lembah sana nampak hamparan lampu-lampu kota Malang, indah sekali, kelap-kelip...... Segera kami masak untuk malam ini sebelum tidur, menunya seperti biasa kalo kita naik gunung, instant, super geuleuh, tapi gizi dan kalorinya jangan di tanya, bagi kami -sekali lagi-- makan bukan untuk kenikmatan, tetapi kesadaran, tentu saja kalo di rumah kami ‘gak pernah mau menyantap makanan seperti ini. Akh...nikmat sekali ternyata, malam-malam dingin seperti ini,
TOUGH ! ADVENTURER

171

menghirup kopi yang dicampur sereal....panas, sedap, sambil terus berbincang dan menikmati nuansa malam itu, aduh..benar-benar suasana yang asyik sekali, apalagi saat-saat saya menikmati kesendirian menjelang tidur...hmmm....., damai......, sepi.....,, sendiri...... menggetarkan.....dan akhirnya akupun tertidur. Beker berbunyi, kami terbangun, hmmm, masih terlalu pagi, tapi tunggu dulu, tepat di hadapan kami, cakrawala sudah mulai membiru, saya pribadi sangat menginginkan saat saat seperti itu, menanti munculnya matahari dari ufuk timur. Segera kami berkemas, dan pergi ke puncak yang hanya beberapa menit dari camp kami. Jalannya berbatu, suasana masih gelap, sehingga kami dibantu oleh cahaya lampu senter. Dan akhirnya kamipun tiba di puncaknya, brrr angin berhembus begitu kuatnya, kami berpegangan pada bebatuan, ups..batunya dingin sekali, kami mencari tempat yang strategis untuk menikmati alam ini, dan terlindung dari terpaan angin yang bergemuruh suaranya di telinga yang sudah mirip keripik, karena kedinginan ini. Tak sulit, kamipun akhirnya menemuinya
Kabut WELIRANG , ARJUNO

172

dan duduk, menikmati dingin dan suasana fajar yang asyik sekali untuk dinikmati. Kegiatan saat itu standard pisan, foto-foto, memandang fenomena disekeliling puncak yang --seperti di gunung-gunung lainnya-- indah, ‘gak ada istimewanya, trus turun ke camp, memasak dan memakan dengan kesadaran penuh, tapi enak juga koq, dan setelah itu, sembari berkemas-kemas, kami mulai menentukan jalur pulang. Dengan bantuan peta serta orientasi secara visual, akhirnya kami memastikan sebuah jalur yang belakangan memang biasa digunakan oleh para pendaki untuk naik dari kota Lawang. Seperti biasa, berdo’a dulu, trus barulah kami mulai menuruni gunung itu. Jalan turun, tanaman masih rendah, cantigi, serta beberapa rumpun edelweis, terus kami turuni, sesekali kabut menerpa, suasana gelap, sesat, kemudian terang kembali. Memasuki hutan Conifer, berjalan terus, turun....sembari bersenandung kecil, uf..pokoknya riang sekali suasana saat itu. Ada hal istimewa yang kami alami. Di tengah perjalanan menuruni gunung,
TOUGH ! ADVENTURER

173

kami bertemu dengan rombongan besar dari Sidoarjo yang sedang menuju puncak, rombongan besar yang terpecah-pecah, nah..begini ceritanya, mulai sejak pecahan pertama hingga akhir, kami selalu menyapa, ngobrol sebentar, pokoknya ramah dech, e..e.., pas ketemu dengan pecahan terakhir, kami bertemu degan orang yang anyep banget, mendelik, trus maki-maki kami, disangkanya kami menghina, dls hmm..harusnya kami bisa maklum akan kondisinya yang payah, tapi sebelum kami memakluminya, orang tersebut menyergap rekan saya, dan dengan spontan rekanku pun memberikan pukulan telak...bughh !!, begitulah...., untung tidak berlanjut, sempat tegang juga, terus terang kita sama-sama cape, emosi tinggi, tapi dasar orang itu terus maki-maki aja, ya sudah kami ngalah...daripada ngeladeni orang yang lagi hang itu !!. Kami melanjutkan perjalanan, huh...mengesalkan sekali...kesallll. Memasuki kawasan yang habis mengalami kebakaran hutan, uf..nampaknya kebakaran yang hebat, dan luas, kami melewati daerah yang gundul, hitam, dan beberapa masih mengeluarkan asap, pokoknya fantastis sekali, memberi
Kabut WELIRANG , ARJUNO

174

corak yang sama sekali berbeda dengan perjalanan kita tadi, kini hitam, kelam, gundul, dan di beberapa sudut, nampak tumbuhan-tumbuhan perintis sejenis pakupakuan mulai tumbuh, hmm, lengkunganlengkungan hijau muda dilatar belakangi oleh warna hitam kelam, indah banget..., saya pribadi membayangkan berada di kawasan itu pada malam hari, tentu lebih asyik, manakala bara-bara kemerahan dari kayu-kayu yang terbakar akan indah sekali....... Keluar dari wahana hangus, kabut turun dengan hebatnya, menyapu areal perjalanan kami, terus..hingga akhirnya terasa tetes-tetes air mulai turut membasahai kami, oho..ini sich hujan betulan, soalnya semakin lama semakin deras, waduh..tanggung nich..udah basah kuyup, habis dikirain kabut lewat, paling “hujannya” hanya sebentar, ‘gak taunya..byurr..... Tiba-tiba path terputus, barangkali terlalu asyik berjalan sembari menerobos hujan, hingga sadar bahwa pathnya menghilang, tanah yang kami pijak jadi gembur, kini kami berada di alur sungai, licin, terimpit dua punggungan yang gede
TOUGH ! ADVENTURER

175

buanget, semakin turun kami berjalan, semakin tenggelam kami dalam kegelapan lembah tersebut, ditambah dengan guyuran hujan yang busyet banget, aduh...saya jadi ingat waktu di Ciremai19, hujan, bingung, akh terulang lagi dech kayaknya..night mare !!!. Kami terus meraba-raba jalan, mula-mula kami mencari jejak-jejak tanah yang ditinggalkan oleh pendaki yang tadi kami jumpai, masa sich rombongan seabreg gitu ‘gak meninggalkan jejak, but dilain pihak hujan deras seperti itu mudah sekali menghanyutkan material dan menghilangkan jejak-jejak.....uf shit..., tubuh mulai berasap, keringat campur air hujan, untungnya air hujan itu turut memberi suply bagi air minum kami, sehingga masalah kekurangan air bisa tertanggulangi. Keadaan itu berlangsung lama sekali....bayangkan, hujan deras, kami terpuruk di lembah yang gelap, lembab, terus seperti itu.... Sebenarnya dalam kondisi seperti itu kami harusnya sich menuju salah satu punggungan, bagaimanapun, berjalan di
19

Baca : CIREMAI Perjuangan Keras

Kabut WELIRANG , ARJUNO

176

punggungan akan lebih aman, tetapi karena faktor malas untuk mendaki punggungan di kiri kanan kami yang sangar banget, ditambah dengan rasa penasaran kami akan jalur yang tadi dilewati oleh para pendaki yang tadi kami temui, yah...selama itu pulalah kami beringsut-ingsut menerobos tanaman, mencari-cari entah apa. Tapi akhirnya kami luluh juga koq, setelah kondisi semakin gila, saya memutuskan untuk naik ke punggungan, sekedar liat-liat situasi. Ransel saya tinggalkan, trus dengan sedikit segan, saya mulai merayapi, mendaki punggungan di sisi kanan, terus-terus, hingga akhirnya tiba di atasnya, uf..rekanku di bawah sudah tak terlihat lagi, sementara di atas sini tak ada apa-apa, kecewa juga, tapi..tunggu sebentar, nampaknya ada sesuatu yang menarik perhatianku di lembah sana, ng...ng..apa yach...aduh..kacamata ku kotor banget, jadi ‘gak begitu jelas, yah..aku yakin, nampak beberapa botol air mineral berserakan, hmm, pasti bekas para pendaki sebelumnya, ya sudah...aku turun kembali, dan mengajak rekanku menuju ke tempat yang ku maksud. Memang benar, banyak sampah berserakan di sana, dan secara kebetulan pula rekanku menemukan
TOUGH ! ADVENTURER

177

kembali path, oho..asyik..’gak usah susahsusah nebas lagi coy. Setelah ngaso sebentar, kamipun berjalan kembali, menyusuri path yang asyik sekali untuk ditelusuri, lamat-lamat hujanpun berhenti, sinar mentari mulai menampakkan diri, aduh...nyaman sekali, tubuh basah ini mulai hangat terkena mentari, dan suasana indah sekali, abis hujan trus ada matahari, segar, bersih, hijau...hmmmm. Terus kami turun, hingga akhirnya tiba di perkebunan teh, terus..terus..masuk ke perkampugan penduduk, istirahat sebantar, mandi, berak, dan ganti baju, trus naik ojeg ke kota Lawang, dari sana kami naik kereta api ke Surabaya, ehm, dua jam diombang-ambing laju kereta, dikocok kayak dadu, tiba di Surabaya, buangbuang waktu hingga esok hari, pulang ke Bandung. Inilah akhir dari obsesi kami, akhir dari perjalanan panjang kami, akhir dari perjuangan kami, semua gunung di pulau jawa yang berketinggian diatas 3000 m telah kami daki, menyenangkan dan membanggakan sekali.
Kabut WELIRANG , ARJUNO

178

Tak ada yang bisa saya ceritakan lagi, namun yang pasti, kami telah mengalami suatu pengalaman yang besar dan amat berarti bagi hidup kami, Tough ! Adventurer.. Entah, apakah akan ada cerita perjalanan yang lain ?, begitulah, “Kesejatian, tak pernah menuntut, tapi senantiasa m e m b e r i ”.***

TOUGH ! ADVENTURER

MENTARI

Mentari Menyala Di Sini Di Sini, Di Dalam Hatiku Gemuruhnya Sampai Di Sini Di Sini, Di Urat Darahku

Meskipun Tembok Yang Tinggi Mengurungku Berlapis Pagar Duri Sekitarku Tak Satupun Yang Mampu Menghalangiku Menyala Di Dalam Hatiku

Hari Ini Hari Milikku Juga Esok Masih Terbentang Dan Mentari Kan Tetap Menyala Di Sini Di Urat Darahku..