P. 1
SKRIPSI STRES BAB II

SKRIPSI STRES BAB II

|Views: 899|Likes:

More info:

Published by: Ari sandi (jime owam) on Oct 05, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/23/2014

pdf

text

original

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teori 1. Stres a.

Defenisi stres Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresorpsi-kososial (tekanan mental atau beban kehidupan) (Hawari, 2001). Menurut Suliswati, et.al (2005) mendefinisikan stres sebagai gangguan pada tubuh dan fikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, sedangkan stres adalah suatu keadaan dimana terlalu sedikit tuntutan yang merangsang individu yang menyebabkan kebosanan atau frustasi. Stres adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap setiap kebutuhan tubuh yang terganggu, suatu venomena universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak dapat dihindari, setiap orang mengalaminya, stres memberi dampak secara total pada individu yaitu terhadap fisik, psikologis, intelektual, sosial, dan spritual, stres dapat mengancam keseimbangan fisiologis (Rasmun, 2004). Menurut Selye (1976, dalam Potter dan Perry, 2005) stres segala situasi dimana tuntutan non-spesifik mengharuskan seorang individu untuk berespon atau melakukan tindakan. b. Sumber stres Sumber stres dapat berasal dari dalam tubuh dan diluar tubuh, sumber stres dapat berupa biologik/fisiologik, kimia, psikologik, sosial dan spritual, terjadinya stres karena stressor tersebut dirasakan dan dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman sehingga menimbulkan kecemasan yang merupakan

7

8

tanda umum dan awal dari gangguan kesehatan fisik dan psikologik contohnya (Rasmun,2004) :
1)

Stressor biologik, dapat merupakan mikroba, bakteri, virus, dan jasat

renik lainnya, hewan, tumbuhan, dan bermacam mahluk hidup lainnya yang dapat mempengaruhi kesehatan.
2)

Stressor fisik, dapat berupa perubahan iklim, alam, suhu, cuaca,

geografi, demografi, nutrisi, kebisingan dll.
3)

Stressor kimia, dari dalam tubuh dapat berupa serum darah dan

glukosa, sedangkan dari luar tubuh dapat berupa komsumsi obat, alkohol, nikotin, kafein, polusi udara, gas beracun, insektisida, pencemaran lingkungan, bahan kosmetik, pengawet, pewarna, dll.
4)

Stressor psikososial, dapat berupa prasangka, ketidak puasan terhadap

diri sendiri, kekejaman (penganiayaan, pemerkosaan), konflik peran, percaya diri rendah, perubahan status ekonomi dan kehamilan.
5)

Stressor spiritual, yaitu adanya presepsi negatif terhadap nilai-nilai

Ketuhanan. Dibawah ini contoh stressor seperti yang diuraikan oleh Esperanza (1997, dalam Rasmun, 2004): Perubahan patotogi dari penyebab penyakit atau suatu injuri, trauma (injuri, luka bakar, serangan, elektrik, schok), tidak adekuatnya, makanan, kehangatan, dan pencegahan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar (kelaparan, gangguan seksual), program terapi (diet, terapi fisik, psikoterapi), kekacauan hubungan sosial dan keluarga, konflik sosial dan budaya, perubahan fisiologis yang normal (pubertas, menstruasi, kehamilan dan monepouse), peristiwa yang menyebabkan stres full (peristiwa penting dalam kegiatan sosial, ujian, wawancara, diagnostik test), membayangkan ancaman dari

9

injuri (sumber dari stres yang tidak dapat dipastikan), bencana alam (gempa bumi dan banjir), serangan wabah, bakteri, virus atau parasit, isolasi sosial, kompetisi dalam olahraga, perpindahan tempat tinggal, peperangan, kegiatan sehari-hari dari kehidupan (entertaining, pengemudi), situasi positif dari peristiwa kehidupan (menikah, mempunyai bayi, lulus dari kuliah). Faktor yang mempengaruhi efek stressor bagi individu dapat berbedabeda antara individu satu dengan yang lain dalam merespon stressor, hal ini tergantung dari beberapa faktor yang memungkinkannya yaitu (Rasmun, 2004):
1)

Bagaimana

individu

mempersiapkan

stressor,

jika

stressor

dipersiapkan akan berakibat buruk bagi dirinya maka tingkat stres yang dirasakan akan berat, namun jika stressor dipersiapkan tidak mengancam dan individu merasa mampu mengatasinya, maka tingkat stres yang dirasakan maka lebih ringan.
2)

Intensitas serangan stressor terhadap individu, jika intensitas stres

tinggi, maka kemungkinan kekuatan fisik dan mental tidak mampu mengadaptasinya, begitu pula sebaliknya.
3)

Jika stressor yang harus dihadapi pada waktu yang sama. Artinya,

pada waktu yang bersaman bertumpuk sejumlah stressor yang harus dihadapi sehingga stressor kecil dapat menjadi pemicu/pencetus yang mengakibatkan reaksi yang berlebihan. Seiring ditemukan seseorang yang biasanya dapat menyelesaikan pekerjaan yang sangat sederhana dengan baik, namun tiba-tiba ia tidak dapat mengerjakannya. Hal ini disebabkan pada saat yang sama ia sedang menghadapi banyak stressor.
4)

Lamanya

pemaparan

stressor:

memanjangnya

stressor

dapat

menyebabkan menurunnya kemampuan individu mengatasi stres, karna

10

individu telah berada pada fase kelelahan dan kehabisan tenaga untuk mengatasi stres tersebut.
5)

Pengalaman masa lalu, dapat mempengarui kemampuan individu

dalam menghadapi stressor yang sama misalnya, individu yang satu tahun lalu dirawat karna sakit, dengan pengalaman yang negatif, maka saat dirawat kembali individu tersebut akan sangat cemas, demikian pula sebaliknya.
6)

Tingkat perkembangan, pada tingkat perkembangan tertentu terdapat

jumlah dan intensitas stressor yang berbeda sehingga resiko terjadinya stres pada setiap tingkat perkembangan akan berbeda. c. Tahapan stres Menurut Dadang Ambert (1979, dalam Sunaryo, 2004) bahwa tahap stres sebagai berikut: 1) Stres tahap pertama (paling ringan), yaitu stres yang disertai perasan

nafsu bekerja yang besar dan berlebihan, mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki, dan penglihatan menjadi tajam.
2)

Stres tahap kedua, yaitu stres yang disertai keluhan, seperti bangun

pagi tidak segar atau letih, lekas capek pada saat menjelang sore, lekas lelah sesudah makan, tidak dapat rileks, lambung atau perut tidak nyaman (bowel discomfort), jatung berdebar, otot tengkuk dan punggung tegang. Hal tersebut karena cadangan tenaga tidak memadai.
3)

Sters tahap ketiga, yaitu dengan tahap stres dengan keluhan, seperti

defekasi tidak teratur (kadang-kadang diare), otot semakin tegang, emosional, insomnia, mudah terjaga dan sulit tidur kembali (middle insomnia), bangun terlalu pagi dan sulit tidur kembali (late insomnia), koordinasi tubuh terganggu, dan mau jatuh pingsan.

11

4)

Stres tahap keempat, yaitu tahap stres dengan keluhan, seperti tidak

mampu berkeja sepanjang hari (loyo), aktivitas pekerjaan teras sulit dan menjenuhkan, respon tidak adekuat, kegiatan rutin terganggu, gangguan pola tidur, sering menolak ajakan, konsentrasi dan daya ingat menurun, serta timbul ketakutan dan kecemasan.
5)

Stres tahap kelima, yaitu tahap stres yang ditandai dengan kelelahan

fisik dan mental (physical and psychological exhaustion), ketidak mampuan menyelesaikan pekerjaan yang sederhana dan ringan, gangguan pencernaan yang berat, meningkatnya rasa takut dan cemas, bingung dan panik.
6)

Stres tahap keenam (paling berat), yaitu tahap stres dengan tanda-

tanda, seperti jantung berdebar keras, sesak nafas, badan gemetar, dingin, dan banyak mengeluarkan keringat, loyo, serta pingsan atau collaps. Menurut Potter dan Perry (2005), tingkatan stres terdiri dari 3 tingkat, yaitu: Stres ringan adalah stres yang dihadapi setiap orang secara teratur, seperti terlalu banyak tidur, kemacetan lalu lintas, kritikan dari atasan. Situasi seperti ini biyasanya berlangsung beberapa menit atau jam, stres sedang berlangsung lebih lama, dari beberapa jam sampai beberapa hari. Misalnya, perselisihan yang tidak terselesaikan dengan rekan kerja, anak yang sakit atau ketidak hadiran yang lama dari anggota keluarga, stres berat adalah situasi kronis yang dapat berlangsung beberapa minggu sampai beberapa tahun, seperti perselisihan pekawinan terusmenerus, kesulitan pinansial yang berkepanjangan dan penyakit fisik jangka panjang. Sedangkan tingkatan stres menurut Rasmun (2004) dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu: stres ringan, umumnya dirasakan oleh semua orang, contohnya: kemacetan, dikritik. Situasi seperti ini biasanya berakhir dalam beberapa menit

12

atau beberapa jam. Stres ringan tidak akan menimbulkan penyakit atau gangguan fisiologis kecuali jika dihadapi terus menerus, stres sedang, terjadi lebih lama beberapa hari contohnya: pekerjaan atau tugas yang belum selesai, beban kerja yang berlebih. Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa tahun, misalnya, hubungan pernikahan yang tidak harmonis, kesulitan finansial, dan penyakit yang lama. d. Tanda dan gejala Menurut Rasmun (2004), manifestasi psikologis individu terhadap stres dari segi kognitif, vebal dan psikomotor antara lain, kecemasan, marah, menangis, tertawa, teriak, memukul, mengumpat dan berdoa. Tanda dan gejala yang menjadi indikator fisiologis stres menurut Potter dan Porry (2005), adalah kenaikan tekanan darah, peningkatan ketegangan otot dileher, bahu dan punggung, peningkatan denyut nadi dan frekuensi pernafasan, telapak tangan berkeringat, tangan dan kaki dingin, postur tubuh yang tidak tegap, keletihan, sakit kepala, gangguan lambung, suara yang bernada tinggi, mual, muntah dan diare, perubahan nafsu makan, perubahan berat badan, perubahan frekuensi berkemih, gelisa, kesulitan untuk tertidur atau sering terbangun saat tidur, dan dilatasi pupil. Sedangkan indikator emosional dan prilaku stres yaitu ansietas, depresi, perubahan dalam kebiyasan makan, tidur, dan pola aktifitas, kehilangan harga diri, kehilangan motivasi, penurunan produktifitas, kecendrungan untuk membuat kesalahan, mudah lupa, ketidak mampuan berkonsentrasi. e. Faktor predisposisi Menurut Cahyani (2010), beberapa faktor penyebab yang mempengaruhi kejadian stres antara lain:

13

1) Kondisi psikologis Faktor non fisik seorang individu, misalnya sifat, kepribadian, cara pandangan, tingkat pendidikan dapat berpengaruh dalam menghadapi stres. Individu yang memiliki pikiran positif, biasanya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya dengan positif pula. 2) Keluarga Keluarga berperan besar dalam kejadian stres. Jika terdapat masalah dalam keluarga dapat menjadi pemicu stres, misalnya adanya konflik dalam keluarga, hubungan yang tidak harmonis, merasa jadi beban keluarga. Sebaliknya, peran keluarga juga sangat besar dalam menjauhkan stres. Dukungan, penghargaan, rasa hormat dan rasa peduli sangat besar pengaruhnya untuk menjauhkan meredakan stres. 3) Lingkungan Stres juga dapat dipicu oleh hubungan sosial dengan orang lain disekitarnya atau akibat situasi sosial lainnya. Selain itu, seorang individu juga bisa terkena stres karena lingkungan tempat tinggalnya. Lingkungan yang padat, macet, bising, kotor dan tercemar bisa menjadi sumber stres. 4) Pekerjaan Pekerjaan dapat menjadi pemicu stres bagi seorang individu. Penurunan kondisi fisik dan psikis berpengaruh pada turunnya produktifitas. Jika pada waktu mudanya ia telah mempersiapkan cukup bekal untuk masa tua, maka ia bisa menikmati masa pensiunnya. Tetapi jika seseorang merasa belum cukup mempersiapkan bekalnya untuk masa pensiun, maka ia dituntut untuk terus bekerja.

14

Menurut Indriani (2009) bahwa penyebab stres dibedakan menjadi penyebab makro dan penyebab mikro. Penyebab makro adalah hal-hal yang menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian dan pensiun. Sedangkan penyabab mikro yaitu peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, antri, dan lain-lain. Menurut Smet (1994, h. 130-131), faktor yang mempengaruhi stres antara lain: 1) Variabel dalam diri individu

Variabel dalam diri individu meliputi: umur, tahap kehidupan, jenis kelamin, temperamen, faktor genetik, inteligensi, pendidikan, suku, kebudayaan, status ekonomi. 2) Karakteristik kepribadian

Karakteristik kepribadian meliputi: introvert-ekstrovert, stabilitas emosi secara umum, kepribadian ketabahan, locus of control, kekebalan, ketahanan. 3) Variabel sosial-kognitif

Variabel sosial-kognitif meliputi: dukungan sosial yang dirasakan, jaringan sosial, dan kontrol pribadi yang dirasakan. 4) Hubungan dengan lingkungan sosial

Hubungan dengan lingkungan sosial adalah dukungan sosial yang diterima dan integrasi dalam hubungan interpersonal.

Menurut Suliswati (2005), faktor-faktor yang melatar belakangi stres adalah:

15

1)

Pengaruh genetik, yaitu keadaan kehidupan seseorang yang diperoleh

dari keturunan yang meliputi riwayat kondisi psikologis dan fisik keluarga serta temperamen.
2)

Pengalaman masa lalu adalah kejadian-kejadian yang menghasilkan

suatu pola pembelajaran yang dapat mempengaruhi respon penyesuaian individu, termasuk pengalaman sebelumnya terhadap tekanan stres dan tingkat penyesuaian pada tekanan stres sebelumnya.
3)

Kondisi saat ini meliputi faktor kerentanan yang mempengaruhi

kesiapan fisik, psikologis, dan sumber-sumber sosial individu untuk menghadapi tuntutan untuk menyesuikan diri, contoh status kondisi kesehatan saat ini, motivasi, berat dan lamanya stres, pendidikan, umur. Stres belajar merupakan salah satu jenis stres yang banyak dialami oleh mahasiswa (Kustyarini, 2008). Stres sering kali timbul sehingga menyebabkan mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan secara efektif. Stres dan identifikasi stres yang potensial diantara mahasiswa keperawatan telah mendapat perhatian dalam literatur (Nicholl & Timmins, 2005). Mahasiswa keperawatan memiliki kesamaan stres akademik seperti mahasiswa jurusan lainnya, seperti ujian tengah semester dan ujian akhir semester, skripsi dan tugas-tugas lainnya ( Evan & Kelly, 2004 dalam Seyedfatemi, 2007). Akan tetapi, mahasiswa keperawatan memiliki stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa dari jurusan yang lainnya. Dari beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mahasiswa keperawatan akan lebih cenderung mengalami stres dari mahasiswa lainnya. Stres siswa menurut Kompas (2004, dalam farida, 2008) siswa rela mengakhiri hidupnya dengan tragis, hal ini disebabkan oleh persoalan-persoalan

16

yang terjadi dalam lingkungan sekolah baik yang bersumber dari guru, pelajaran maupun lingkungan sosial. Penelitian dari Virginia (1999, dalam farida, 2008) mengungkapkan faktor-faktor penyebab stres mahasiswa dipersentasekan sebagai berikut: stres akademik 26%, konflik dengan orang tua 17%, masalah finansial 10%, pindah rumah dan sekolah 5%. f. Akibat lanjut dari stres Akibat lanjut dari stres menurut Potter dan Perry (2005), stres yang berkepanjangan telah menunjukkan hubungan dengan penyakit kardiovaskuler dan gastrointestinal. Beberapa kanker, gangguan imunologik, sakit kepala migren, kelelahan dan mudah tersinggung berkaitan dengan stressor berkepanjangan dan tidak terselesaikan. Hasil penelitian Sheu dkk (2001), menjelaskan bahwa tingkat stres yang dialami oleh mahasiswa pada tahun ketiga adalah sebesar 44%. Tingkat stres yang tinggi dapat berpengaruh terhadap kesehatan mahasiswa keperawatan. Efek stres yang paling banyak dilaporkan adalah perubahan prilaku dan status fisiopsikologi mahasiswa. Mungkin respon psikologis yang negatif yang terjadi seperti tertekan, putus asa, gugup, marah, tidak senang, kehilangan rasa percaya diri, tidak ceria. Sedangkan pada respon fisik yang negatif akan terjadi seperti lemah, diare atau gangguan gastrointestinal, insomnia, anemia, anoreksia. Menurut Farida (2008) pada siswa SMU 3 di kota Makasar mengalami gejala stres belajar yang sebagai berikut: Bersifat fisiologis, berupa sering beringat, sakit kepala, sakit perut ketika menghadapi situasi tertentu, gejala intelektual, berupa mudah lupa dan tidak dapat konsentrasi dalam mengikuti pelajaran, gejala psikologis, berupa ketidak stabilan emosi yang mengakibatkan mudah marah, pendendam, pasif, dan tertutup menghadapi realita. Dan Farida

17

mengatakan siswa mengalami stres akibat tekanan yang dialaminya disekolah. Tekanan tekanan tersebuat antara lain, tekanan akademik dari banyak beban pelajaran, cemas menghadapi ujian/ulangan, dan tidak dapat mengelola waktu belajar. g. Penanganan stres Penanganan stres menurut Indriyani (2009), strategi menangani stres dibagi menjadi 3 kategori, sebagai berikut:
1)

Rimary prevention, yaitu dengan mengubah cara individu dalam

melakukan sesuatu, misalnya cara mengatur waktu, cara mengorganisasikan dan cara menata sesuatu
2)

Secondary prevention, merupakan strategi individu menghadapi suatu

stressor, misalnya dengan cara latihan, diet, relaksasi dan mediasi.
3)

Tertiary prevention, merupakan strategi individu dalam menangani

dampak stres yang sudah ada biasanya memerlukan bantuan dari orang lain. Menurut Potter dan Perry (2005), menyatakan dengan cara terapi humor dapat melepaskan endorfin dan menghilangkan perasaan stres serta dengan teknik relaksasi dan spiritualitas.
2. Mekanisme koping

a. Pengertian Koping merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik (Rasmun, 2004). Mekanisme koping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan mengatasi situasi stres yang menekan akibat masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun prilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya (Carpenito, 2001).

18

b. Jenis koping Mekanisme koping individu menurut Carpenito (2001), sebagai berikut:
1)

Mekanisme koping destruktif (maladaptif) adalah suatu keadaan

dimana individu mempunyai pengalaman atau mengalami keadaan yang beresiko tinggi dan ketidak mampuan untuk mengatasi stressor. Koping maladaptif menggambarkan individu yang mengalami kesulitan dalam beradaptasi terhadap kejadian-kejadian yang sangat menekan. Misalnya menggunakan alkohol atau obat-obatan (obat penenang), melamun atau menyendiri, merokok, sering menangis dan sering tidur.
2)

Mekanisme koping yang konstruktif (adaptif) merupakan suatu kejadian dimana individu dapat mengatur berbagai tugas mempertahankan konsep diri, mempertahankan hubungan dengan orang lain, mempertahankan emosi dan pengaturan stres. Misalnya, mencari dukungan spiritual (berdoa), berbicara dengan orang lain, teman, dan keluarga tentang masalah yang dihadapi, melakukan latihan fisik (misalnya olahraga) untuk mengurangi

ketegangan/masalah, membuat bebagai alternatif kegiatan dan tindakan untuk mengurangi situasi (melakukkan hobi, dan lain-lain serta mengambil pelajaran dari peristiwa atau pengalaman masa lalu). Menurut Folkman dan Lazarrus (1984, dalam Nursasi & Fitriyani, 2002), menyebutkan dua jenis strategi koping yang digunakan oleh individu:
1)

Koping yang berorientasi pada upaya-upaya penyelesaian masalah

(problem-focused coping)
a) Konfrontasi, yang merupakan upaya-upaya agresif untuk mengubah

keadaan diri.

19

b) Dukungan sosial adalah upaya-upaya memperoleh kenyamanan

emosional dan informasi dari orang lain.
c) Penyelesaian masalah merupakan koping yang secara nyata berfokus

pada upaya penyelesaian masalah untuk mengatasi keadaan yang dihadapi.
2)

Koping yang berfokus pada aspek emosional (emotional- focused

coping): a) Kontrol diri merupakan upaya pengaturan perasaan seseorang. Koping ini dapat bersifat adaptif dan maladaptif.
b) Penanggulangan peristiwa adalah upaya-upaya seseorang untuk

melepaskan diri dari situasi yang mengakibatkan stres.
c) Penilaian positif merupakan upaya-upaya untuk menemukan arti

positif dalam pengalaman hidup dalam dengan berfokus pada pertumbuhan dan perkembangan emosional.
d) Menerima tanggung jawab adalah penerimaan orang lain dalam

penyelesaian masalah. e) Pengingkaran merupakan koping yang menjelaskan tentang harapan hidup dan upaya untuk menghindari atau melarikan diri dari situasi tertentu dengan makan, merokok, minum, dan menggunakan obat-obatan dengan atau tanpa resep dokter. Pengingkran, walaupun berkonotasi negatif juga memiliki nilai positif atau adaptif. c. Macam-macam koping Menurut Rasmun (2004), menyatakan macam-macam koping sebagai berikut: 1) Koping psikologis

20

Pada umumnya gejala yang ditimbulkan akibat stres psikologis tergantung pada dua faktor yaitu:
a) Bagaimana presepsi atau penerimaan individu terhadap stressor,

artinya seberapa berat ancaman yang dirasakan oleh individu tersebut terhadap stressor yang diterimanya.
b) Keefektifan strategi koping yang digunakan oleh individu, artinya

dalam menghadapi stressor jika strategi yang digunakan efektif maka menghasilkan adaptasi yang baik dan menjadi suatu pola baru dalam kehidupan, tetapi jika sebaliknya dapat mengakibatkan gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. 2) Koping psiko-sosial Adalah reaksi psiko-sosial terhadap adanya stimulus yang diterima atau dihadapi oleh klien.
a) Reaksi yang berorientasi terhadap tugas cara ini digunakan untuk

menyelesaikan

masalah,

menyelesaikan

konflik

dan

memenuhi

kebutuhan dasar. Terdapat tiga macam reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu: perilaku menyerangan yaitu individu menggunakan energinya untuk melakukan perlawanan dalam rangka mempertahankan integritas pribadinya, prilaku menarik diri yaitu prilaku yang menunjukkan pengasingan diri dari lingkungan dan orang lain, kompromi yaitu merupakan tindakan konstrutif yang dilakukan oleh individu untuk menyelesaikan masalah. b) Reaksi yang beorientasi pada ego, reaksi ini sering digunakan oleh individu dalam menghadapi stres, atau kecemasan.

21

Macam-macam mekanisme pertahanan ego menurut (Connely, 2009) sebagai berikut:
1)

Proyeksi adalah perbuatan untuk melindungi diri dengan cara

menyalahkan objek lain untuk menutupi kekurangan, kegagalan atau keinginan tidak baik dari individu.
2)

Kompensasi adalah upaya untuk menutupi kelemahan dengan

menonjolkan sifat yang diinginkan atau pemuasan secara frustasi dalam bidang lain.
3)

Represi adalah perbuatan untuk mengurangi stres dengan cara

menekan kembali keinginan-keinginan.
4)

Reaksi formasi adalah perbuatan untuk mengurangi stres atau cemas

dengan cara melakukan perbuatan sebaliknya atau berlawanan dengan kondisi saat sedang mengalami stres.
5)

Regresi

adalah

pertahanan

dengan

cara

mundur

ketahap

perkembangan sebelumnya.
6)

Transkulfasi adalah pertahanan dengan cara mengkambinghitamkan

orang lain atau orang lain dijadikan sebagai sumber permasalahannya.
7)

Fiksasi adalah perbuatan untuk mengurangi cemas dengan cara permasalahan dan tidak mau mencari jalan keluar

mengacuhkan permasalahan.
8)

Rasionalisasi adalah perbuatan untuk mengurangi stres dengan cara

memberikan alasan-alasan yang rasional yang bisa diterima oleh dirinya atau orang lain.
9)

Denail (mengingkari) adalah perbuatan pertahanan dengan cara

menyangkal semua perbuatan yang tidak menyenangkan, dan biasanya

22

individu melarikan diri dari kenyatan yang dialaminya dengan cara melakukan berbagai kegiatan untuk menyibukkan diri.
10)

Displacement

adalah

mengurangi

rasa

cemas

dengan

cara

mengalihkannya kepada prilaku-prilaku yang negatif.
11)

Sublimasi adalah perbuatan untuk mengurangi stres dengan cara

melakukan kegiatan yang bersifat positif atau kegiatan sosial.
12)

Identifikasi adalah upaya untuk menambah rasa percaya diri dengan

menyamakan diri dengan orang lain atau institusi yang mempunyai nama.
13)

Simbolisasi adalah suatu mekanisme yang dilakukan apabila suatu ide

atau objek digunakan untuk mewakili ide atau objek lain, sehingga sering dinyatakan bahwa simbolisme merupakan bahasa dari alam tidak sadar.
14)

Compensation adalah perbuatan untuk menghilangi kecemasan

dengan cara menyibukkan diri atau melakukan suatu perbuatan/kegiatan.
15)

Over cmpensation adalah perbutan untuk mempertahankan diri

dengan cara melakukan banyak kegiatan secara berlebihan.
16)

Procrastination adalah perbuatan untuk mengurangi kecemasan

dengan cara menunda-menunda pekerjaan.
17)

Acting-out adalah perbuatan untuk mengurangi kecemasan dengan

cara berprilaku berlebihan. d. Metode koping Menurut Bell (1977, dalam Rasmus, 2004) menyatakan ada dua metode koping yang digunakan oleh individu yaitu: 1) Metode koping masa panjanng Merupakan konstruktif dan merupakan cara yang efektif dan realistis dalam menangani masalah psikologis untuk kurun waktu yang lama.

23

Contohnya adalah: berbicara dengan orang lain, mencoba mencari informasi yang banyak tentang masalah yang sedang dihadapi, menghubungkan situasi dengan kekuatan supra natural, melakukan latihan fisik, membuat alternatif, dan mengambil pelajaran dr masalah. 2) Metode koping jangka pendek Merupakan untuk mengurangi stres/ketegangan psikologi dan cukup efektif untuk waktu sementara, tetapi tidak efektif jika digunakan dalam jangka panjang contohnya: menggunakan alkohol, melamun, melihat aspek humor dasi situasi yang tidak menyenangkan, banyak tidur, merokok, dan menangis. 3. Kurikulum Berbasis Kompetensi Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaiannya yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar dan mengajar di perguruan tinggi (Mendiknas No. 232/U/2000 Ps. 1 butir 6). Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang menitikberatkan pada pencapaian kompetensi lulusan. Kurikulum berbasis kompetensi merupakan kurikulum yang di disain dengan didasarkan pada pengertian, struktur, dan pelaksanaan kurikulum (Suhono, 2006). Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah kurikulum yang seperti namanya didasari oleh kompetensi. Kompetensi sendiri adalah pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak secara terus-menerus dan konsisten Nurhadi (2004, dalam Sulistyawati, 2006). Ciri –ciri kurikulum berbasis kompetensi (Sailah, 2008): a. Menyatakan secara jelas rincian kompetensi peserta didik sebagai luaran proses pembelajaran

24

b. Materi ajar dan proses pembelajaran dirancang dengan orientasi pada

pencapaian kompetensi dan berfokus pada minat peserta didik (student Centered Learning).
c. Lebih mensinergikan dan mengitegrasikan penguasaan ranah kognitif,

psikomotor, dan efektif d. Proses penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada kemampuan untuk berkreasi secara prosedural atas dasar pemahaman penerapan, analisa, dan evaluasi yang benar pula.
e. Disusun

oleh

penyelenggara

pendidikan

tinggi

dan

pihak-pihak

berkepentingan terhadap lulusan pendidikan tinggi (masyarakat profesi dan pengguna lulusan). Menurut Elgisha (2010) pengembangan kurikulum berbasis kompetensi mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Berorientasi pada pencapaian hasil dan dampaknya (outcome oriented). b. Berbasis pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. c. Bertolak dari Kompetensi Tamatan/ Lulusan. d. Memperhatikan prinsip pengembangan kurikulum yang berdfferensiasi. e. Mengembangkan aspek belajar secara utuh dan menyeluruh (holistik). f. Menerapkan prinsip ketuntasan belajar (mastery learning).

Kompetensi merupakan sebuah konsep yang masih sering diperdebatkan. KBK bersifat individualis, lebih menekankan outcomes (apa yang diketahui dan dapat dilakukan oleh seorang individu). KBK sangat simplistis, berpendekatan

25

kompetensi tunggal, terlalu mahal, birokratis, sarat beban, dan memerlukan banyak waktu. Beberapa kalangan ahli pendidikan berpandangan, bahwa pendidikan berbasis kompetensi (selanjutnya: PBK) merupakan jawaban jitu terhadap permasalahan mutu pendidikan. Sedangkan kalangan ahli lainnya berpandangan bahwa PBK merupakan jawaban yang keliru Harris dkk (1995, dalam Tantra, 2009). Collins (1993, dalam Tantra, 2009) menyebutkan bahwa KBK mengingkari hasil penelitian yang pernah dilakukan selama 100 tahun di bidang psikologi, pendidikan, organisasi, maupun dalam bidang kebudayaan. KBK tidak cocok diterapkan pada lembaga pendidikan tinggi (Hayland, 1994 dalam Dewa, 2009), karena kompetensi meniadakan keberadaan sebuah kurikulum serta mempersempit materi (Jackson dkk,1994 dalam Tantra, 2009). Kurikulum berbasis kompetensi memberikan beban perkuliahan bagi mahasiswa, sehingga dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang tepat waktu maka mahasiswa dituntut untuk dapat membagi waktu serta melaksanakan strategi pembelajaran yang efektif bagi dirinya sendiri. Beban tersebut menimbulkan kecemasan yang tinggi pada mahasiswa, bahkan tidak jarang pada sebagian mahasiswa menjadi stres. Dampak dari KBK bagi mahasiswa adalah keadaan yang melelahkan atau keadaan keletihan fisik, sehingga mahasiswa tidak dapat berkonsentrasi dan fokus. B. Kerangka Konsep Kerangka konsep diartikan sebagai model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Sekaran ,2006 dalam Hidayat, 2007).

26

Berdasarkan teori yang telah dijelaskan diatas, maka kerangka konsep pada penelitian ini adalah: Skema 1 Kerangka konsep penelitian Variabel independen
Tingkat stres Mahasiswa A 2008 Keperawatan Universitas Riau dalam menjalankan kurikulum berbasis kompetensi: 1. Rendah 2. Sedang 3. tinggi

Variabel Dependen
Mekanisme koping Mahasiswa A 2008 Keperawatan Universitas Riau dalam menjalankan kurikulum berbasis kompetensi: 1. 2. positif negatif

C. Hipotesis Hipotesis merupakan sebuah pernyataan tentang hubungan yang diharapkan antara dua Variabel atau lebih yang dapat diuji secara empiris (Notoadmodjo, 2005). Berdasarkan teoritis tersebut, maka hipotesis pada penelitian ini adalah:
1.

Hipotesis Nol (Ho) Tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping

mahasiswa angkatan pertama (A 2008) Program Studi Ilmu Keperawatan yang menjalani kurikulum berbasis kompetensi. 2. Hipotesis Alternatif (Ha) Ada hubungan antara tingkat stres dengan mekanisme koping mahasiswa angkatan pertama (A 2008) Program Studi Ilmu Keperawatan yang menjalani kurikulum berbasis kompetensi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->