12

CERPEN SEORANG GURU

“Jauh tapi Dekat, Dekat Tidak Mau Pulang”
Pagi di Desa Bila Riase, Kecamatan Pitu Riase, Sidrap adalah daerah kawasan timur yang mayoritas area pegunungan dan kawasan yang sejuk.
SUASANA di Desa ini sangat asri dan nyaman untuk berjalan-jalan sore atau paginya, Rabu 29 Agustus 2012. Suatu hari masih gelap gulita tepat pukul 5.00 subuh saatnya untuk menyegerahkan shalat dan membangunkan Akbar dan Fadel untuk berjemaah. Saya juga harus siap untuk menjadi imam bagi seisih rumah karena begitulah cara seorang guru harus bisa menggurui anak didiknya. Saya Suliandi, S.Pd.i biasa dipanggil andi atau andio, sebagai layouter di tabloid metrolacak ini dan juga sebagai stap pengajar di SMP Negeri 1 Watangpulu, harus bisa membagi waktu di rumah dengan keluarga dan konsentrasi di mata pelajaran yang dibawakan. “Ayah bangun cepat kita sembahyang berjamaah, nanti berangkatnya telah lagi”, ujar mantan pacar Aenal Mardia yang kini berbuahkan anak Bilal Andi Ramadhan masih 2 tahun lebih. Tiap pagi membangunkan dua anak tersebut dan menyiapkan keperluannya adalah tanggung jawab seorang ibu namun karena bapaknya dua kali beristri jadi tinggal sama dengan kami. Tepat pukul 6.00 pastinya sudah harus berangkat membonceng dua anak ini sekitar 3 menit sampai di SD Neger 1 Bila, namun sampai di Desa Bila si Nurul siswi SMAN 1 Duapitue masih menunggu saya jika saya cepat datang jika tidak bergegaslah tancap gas sampai di Kecamatan Watangpulu sekitar satu jam lebih lamanya. “Jauhnya bukan main, tapi bila lama di sekolah itu seakan terlupakan dan hilang kepenatan, kepanasan, kehujanan tadi dan semua menjadi satu berkat senyuman, tawa anak-anak itu dalam kelas”, ahhh terasa semua beban hilanglah sudah...”, begitu celoteh saya dalam hati. Namun tatkala jika lesuh dan tidak punya semangat seakan langkahkan kaki itu susah digoyangkan, bayangkan untuk makan aja susah apalagi buang hajat yang jarang biasa 5 hari bokernya. “Ayah cepat pulang yaa Bilal mau dibeliin coklat bulat sama donat yaa, terus jangan bermalam cepatki pulang yaa”, ujar Mardia. Seorang guru mungkin penuh perjuangan, tantangan, dan kisah hidup nyata seperti yang saya alami. Seumur-umur saya baru pertama kali memimpin imam shalat magrib dan isya berjamaah di masjid babul khaerat di Desa Bila Riase. Dulu memang

mantan anak pesantren di Maccopa Maros yang harus berhenti dan pindah jalur ke pendidikan negeri SMP di Tanrutedong. Saat sekolah di SMAN 1 Duapitue harus pindah karena sering bolos masuk dan ke SMAN 11 Makassar tempat pelariann terakhir. Sampai saat ini berkat Fakultas Tarbiyah jurusan bahasa Inggris atau PBI di STAIN Parepare tahun

2009 silam, harus bisa menjadi panutan sesama muslim untuk anak muda dan menegakkan tali persaudaraan. Hari yang indah sering terlewatkan jika hanyut terkubur dalam-dalam pikiran alam kubur jika niat baik tercapai dan seakan terkapar sedalamdalamnya jika hari-hari tanpa berdoa dan berzikir mengingat-Nya.

Ucapan guru adalah perunggu, ucapan orangtua adalah emas, tapi perunggu lebih berat timbangannya karena teguran, sapaan, salaman dan harapan seorang guru sedangkan emas orang tua bisa dipakai hanya untuk perkawinan, jadi mau sekolah atau kawin? Like this take all the positive and negative waste. Ok. (@andi_bila)

Berkat Teknologi, Tunanetra Indonesia Bisa Jadi Dosen
Ternyata kecanggihan teknologi tak hanya membuat hidup orang berfisik sempurna jadi mudah, tapi juga mampu menolong mereka yang tak dikaruniai anggota tubuh dengan fungsi lengkap. Selain dapat membantu aktivitas sehari-hari, keberadaan teknologi ternyata dapat membuka lapangan pekerjaan baru bagi kaum yang selama ini eksistensinya masih minoritas di dunia kerja. Tantangan dalam mengajar Untuk mengajar, penulis menggunakan sebuah notebook dengan jeroan prosesor Intel I7 dan RAM 8GB sehingga cukup untuk menjalankan aplikasiaplikasi terkini. Tentu saja untuk mengoperasikannya memasang aplikasi pembaca layar, sehingga meski tunanetra bisa mengetahui isi notebook dengan mendengarkan informasi yang telah diubah ke bentuk suara. Presentasi materi pun dijalankan tanpa asisten, murni menggunakan PowerPoint dan Youtube. Sebagai tambahan, penulis juga memanfaatkan gadget Android dan iPod Touch untuk mendemonstrasikan pengalaman terkini seputar teknologi informasi. Misalnya saja, bagaimana memanfaatkan GPS, seperti apa aplikasi detektor warna bagi tunanetra, dan lain sebagainya. Tantangan terbesar yang menghadang yaitu saat harus berkomunikasi dengan mahasiswa. Karena penulis tak melihat, maka perlu untuk mengingatingat nama mahasiswa dari suaranya. Well, menghafal lebih dari 100 individu tentu bukan pekerjaan mudah. Cara mengakalinya adalah dengan menandai mahasiswa yang paling banyak bicara, lalu bertahap ke mereka-mereka yang lebih pendiam. Untuk memeriksa absensi mempercayakannya pada pihak akademis. Tentu saja Penulis tetap menyiapkan kolom tersendiri yang formatnya memanfaatkan aplikasi Microsoft Excel. Saat di luar kampus, penulis memanfaatkan media Twitter untuk bercakap-cakap. Ada pun akun yang penulis gunakan adalah @ramadityaknight. Untuk tugas dan ujian, meminta mahasiswa menuliskannya dalam sebuah file yang bisa langsung penulis periksa via komputer. Kalau ujian tugasnya jadi ganda, karena selain menyerahkan tugas tertulis, penulis juga meminta mereka untuk wawancara. Ini agar tahu kualitas individu secara langsung. Supaya lebih mudah, penulis menggunakan voice recorder yang dapat merekam suara mahasiswa lalu menyimpannya ke format MP3. Nantinya penulis dapat melakukan penilaian saat di ruang dosen atau di rumah. Untuk memeriksa pekerjaan yang berupa tulisan tangan, memanfaatkan scanner kampus yang telah dipasang aplikasi OpenBook (www.freedomscientific.com). Aplikasi ini mampu memindai tulisan cetak menjadi dokumen yang selanjutnya dapat diakses menggunakan laptop atau komputer kampus. Syukurlah, proses perkuliahan berjalan dengan lancar. Apalagi penulis menjalankannya dengan konsep serius tapi santai. Tak hanya presentasi materi, terkadang penulis juga memutar film atau memainkan game! (***)

Teliti Pisang Ambon, Fenny Raih Penghargaan
untuk menghambat pembentukan etilen agar pematangan buah bisa lebih lama. “Dengan penelitian tersebut saya berhasil ‘mengganggu’ pembentukan etilen dan akhirnya buah menjadi tidak matang,” kata Fenny saat ditemui INILAH.COM usai menerima penghargaan di di Gedung Merdeka Bandung, Kamis (30/8/ 2012). Sementara itu berkat kegigihannya menekuni kegiatan tersebut, sebelum mendapatkan apresiasi dari Menristek Fenny sempat memperoleh internasional L’Oreal UNESCO for Women in Science serta paper terbaik Hayati Award pada tahun 2009 dan Endeavour Award dari Pemerintah Australia 2010. Fenny mengatakan alasannya memilih pisang sebagai obyek risetnya, yakni dia dan keluarganya sejak kecil adalah penyantap pisang. “Pisang merupakan salah satu makanan favorit karena mudah diperoleh, murah, dan kaya vitamin yang bermanfaat bagi tubuh. Bukan berarti penyuka pisang itu cuma monyet saja yah,” ucapnya sambil menutup mulutnya seraya sambil tertawa. Perempuan asli Bandung tersebut menjelaskan Indonesia merupakan negara yang kaya ragam jenis pisang, dengan sekitar 200 kultivar pisang. Hal itu menjadikan negeri ini sebagai penghasil pisang yang dominan di Asia, bahkan dunia. “Dengan produksi tahunan sekitar 5 juta ton, Indonesia terletak pada peringkat keenam negara penghasil pisang setelah India, China, Brasil, Filipina, dan Ekuador,” paparnya. Di sisi lain cukup mencengangkan, lanjutnya, justru berdasarkan data ekspor yang menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60. “Penelusuran yang dilakukan menunjukkan bahwa rendahnya angka ekspor sudah dimulai dari hulu, yakni perlakuan sebelum panen hingga pascapanen. Faktor distribusi hingga penanganan produksi membuat pisang cepat membusuk,” kata dia dengan nada serius. Menurutnya pisang termasuk buah yang harus mendapatkan perlakuan khusus sejak distribusi hingga dipajang di supermarket. Selama pengiriman, pisang tidak boleh lebam atau kulitnya tergores karena proses pematangan akan berlangsung cepat. Pengaturan suhu tidak bisa bisa dikenakan pada pisang karena justru merusak fisik buah. Selain itu dia menambahkan bahwa etilen pun bergerak layaknya gas. Jika di satu kontainer ada pisang yang sudah busuk, itu akan menyebabkan pisang lain cepat matang dari seharusnya.(****)

FENNY Marha Dwivany salah seorang dosen Institut teknologi Bandung (ITB) hadir dalam acara puncak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Gedung Merdeka Bandung. Dia mendapatkan penghargaan dari Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Mohammad Hatta, dalam bidang biologi dan genetika molekuler untuk holtikultura. Senyum manispun terlontar saat dirinya menerima kado dari Menristek, bersama para peneliti yang lainnya. Pemberian penghargaan tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) didampingi Ani Yudhoyono. Selain itu tampak pula menteri anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Kapolri Jenderal Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dan Gubernur

Jawa Barat Ahmad Heryawan yang hadir dalam acara puncak Hakteknas. Apa yang diperolehnya bukanlah tanpa usaha keras, setidaknya selama dua tahun penelitian tentang proses pematangan pisang ambon itu dilakukan. Dalam proses penelitiannya dia menemukan keberadaan hormon etilen yang berperan dalam membuat buah pisang menjadi matang. Dengan suasana yang masih meriah usai selesainya penutupan Hakteknas di Gedung Merdeka dirinya menuturkan bahwa etilen adalah penyebab gen-gen lain yang terlibat dalam pematangan dan menghasilkan perubahan pada buah yang meliputi perubahan warna, tekstur, aroma, dan rasa. Namun riset yang dilakukan perempuan kelahiran 1972 tersebut tidak berhenti sampai dengan mengetahui runtutan proses pematangan pisang ambon, dia melanjutkan penelitiannya

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful