You are on page 1of 2

[digital image processing

]

August 14, 2012

PERBEDAAN ANTARA LOCAL THRESHOLDING DENGAN GLOBAL THRESHOLDING

Kerap kali kita mendengar, membaca atau diberitahu tentang adanya Global Thresholding dan Local Thresholding. Baik dalam aplikasi pengolahan isyarat 1 dimensi ataupun 2 dimensi, ini bukanlah barang baru. Yang perlu kita tahu adalah apa yang menjadi pembeda dari kedua term di atas. Tujuannya agar kita tidak salah dalam menuliskan teori-teori penelitian sehingga pembaca tidak salah mengerti menerjemahkan isi tulisan kita. Selain itu, ini perlu juga diketahui agar kita dapat dengan mudah mencari tahu apakah global atau local yang kita butuhkan dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Thresholding atau pengambangan merupakan metode yang bisa digunakan dalam segmentasi dalam pengolahan citra digital atau bisa juga pemisahan antara derau dalam pengolahan isyarat 1 dimensi atau juga 2 dimensi. Well, sebenarnya masih banyak implementasi dari thresholding, anda bisa mencari tahu sendiri… ☺

Okay, misalkan kita memiliki sebuah citra digital yang dilambangkan dengan f(x,y) dan nilai pengambangan (threshold) dilambangkan dengan T. Bila nilai T tergantung hanya pada f(x,y) saja maka itu disebut dengan Global Thresholding sedangkan bila nilai T tersebut tergantung pada f(x,y) dan p(x,y) dimana p(x,y) merupakan ciri khusus yang dimiliki untuk tiap piksel maka ini disebut dengan Local Thresholding. Salah satu ciri khusus tersebut adalah nilai rerata tingkat keabuan (gray level) piksel-piksel tetangga yang berpusat di (x,y). Contoh global thresholding yang dapat diandalkan adalah Metode Otsu. Citra g(x,y) yang merupakan hasil Global threshold terhadap citra f(x,y) adalah , = 1 0 , >

Permasalahan yang kita temui dari global thresholding adalah perubahan iluminasi yang dibandingkan dengan nilai T yang sama untuk keseluruhan piksel akan menyebabkan bagian tertentu menjadi lebih terang sedangkan bagian lagi menjadi lebih gelap (misalnya bayangan objek pada citra asli). Namun, dengan menggunakan local thresholding kita bisa menangani permasalahan tersebut.

[janshendry@gmail.com]

Page 1

[digital image processing]

August 14, 2012

Bentuk umum dari Local Thresholding adalah 0 1 , ≤ ,

,

=

Artinya nilai pengambangan (threshold) akan beradaptasi terhadap variasi lokalnya. Teknik yang biasa digunakan adalah dengan membuat blok-blok, artinya kita membuat blok-blok berukuran tetap pada citra lalu untuk tiap blok dicari nilai threshold yang sesuai. Sehingga threshold untuk tiap blok bisa berbeda-beda atau bisa juga sama. Itu yang dimaksud dengan lokal thresholding. Tampak sangat berbeda dengan global thresholding yang memberlakukan 1 buah nilai ambang batas untuk tiap piksel dalam citra. Beberapa rumusan menghitung nilai local threshold adalah White (1983) , Niblack (1986) , Sauvola (2000) , Kelebihan dan kekurangan A. Global thresholding o o Proses hingga seluruh bagian citra selesai adalah cepat Jika iluminasi (tingkat terang) pada citra merata maka hasilnya akan bagus (hanya cocok untuk kasus seperti ini) o Tidak berhasil/gagal jika ada perubahan iluminasi pada bagian-bagian tertentu (lokal) = , 1+ , −1 = , + , = ,

B. Local thresholding o o o Lebih lambat prosesnya bila dibandingkan dengan global thresholding Sangat mampu beradaptasi terhadap perubahan iluminasi Mampu konvergen (berhasil prosesnya) baik pada iluminasi yang uniform (merata) ataupun tidak.

[janshendry@gmail.com]

Page 2