You are on page 1of 5

Puisi Naratif Membalas Budi Pulang dari memondok selesai perayaan kelulusan menuju praja asal.

Jinjing kopor isi penghargaan pun bongkah-bongkah cerita. Tak sabar aku. Di lorong jarak dan tempo besi mesin melesat menerobos menembus lampau. Tak mau menunggu aku. Lapar, haus, kantuk diri dihalau pohon-pohon lorong jarak, gumpalan kelabu, curahan langit, pun kilatan atom di cakrawala. Besi mesin berhenti menurunkan penumpang sekalian. Singgah juga aku di tanah pembesaran. Ibu berdiri tangan menyambut senyum merekah. Aku kecup ya punggung tangannya, ya pipi, ya kening lantas ku peluk ibu. Ku bawa Ibu ke dalam rumah ku tunjukkan si koporku. Gurat bahagia pada paras ibuku membendung kalbu banggaku. Bersua kami di sekat-sekat bata dikelumuni hangat bias lentera. Ibu bilang, “Wisudawatiku dari tanah perantauan.” Tercurah haru sumringah mengalir di jalur pelipis. Betul rinduku luber dalam peluk ibu. Kami tidur bersama mimpikan kebahagiaan lain di ruang tempo lain. Ku rebah malam ku gugah fajar. Ku lipat selimut ku gelar sajadah panjatkan harap pada Rabbku. Ku sentuh lengan ibu. Ia tak bangun. Ku pijat kaki ibu, ia masih tak pula bangun. Ku tepuk pelipis ibu mengapa tiada jua bangun. Ku goyah perut ibu aku heran ia tanpa bangun juga. Ku guncang tubuh ibu. Ia kaku. Ibu tiada.

Balada Balada 28 Oktober Siang bolong kembang raksasa merekah memecah atmosfer memanggang bumi Dua anak Adam duduk bersampingan menggunjing gengsi “Siapa namanya?” “Nama siapa?” “Kau” “Aku? Atau Dia?” “Kau namanya siapa?” “Ah tak tahu aku” “Kau oang asing? Tak mengerti cakapku?” “Okay. What’s your name? Or Wat is je naam? Anata wa namae o dare desu ka” Yang ditanya mendelik mendengus. Pengang telinga kenang silam bangsanya gencat senjata kikis rana Yang bertanya mulai kembali. Yang ditanya masih geram asa memanjat tiang juang laksana

arwah pejuang rasuk batinnya “O, aku tulis saja ya. Ini mungkin kau paham” Lantas gurat ujar pada lembar, menyorongkan lembar ‘Apa ini aksara tak karuan dasar ahli matematika’ ‘Bagaimana berkenalan pakai aljabar’ ‘Setahuku banyak abjad bisa wakili persuaan’ ‘Latin lazim, sobat. Kau poranda kaidah warisan mereka’ Benaknya morat-marit hati mengulum Kembang raksasa bersumbu dengan nalar sejajar dengan tengkorak tegak lurus dengan ulu ati. Menindik-tindik jangat. Lantas datang anak Adam yang lain sapa jua ia bertanya kepada yang sedaritadi ditanya “Oya kawan baru kita, namanya siapa?” Cuai “Kau antap padahal aku tanya” “Mengapa yang satu ini, kawan? Ia tak paham cakapku?” “Ya cakap kita” “Yang kau juga?” “Ya tadi” “Lantas kertas ini” Yang baru datang menulis jua pada lembar gurat ujar seraya pelik, sorongkan ‘Atau ahli manuskrip’ ‘payah sekali coretan ini meliuk-liuk lambang’

“Tak terbaca tak teraba takenal aku ujarmu” Terakuk menahan amara asap batin mendesak dikepulkan melalui rongga mulut. Sejawat ruh pejuang meraung dalam jantung. Degum! Kembang raksasa melebar mengembang menjulur lidahnya menjilat bumi menyapu sejuk. Ada lagi hadir yang paling baru, anak Adam Hadirnya merampas santun kami yang sedaritadi ada Tak tahu bicara apa melotot, menggerung ujarnya, angkat pelipis, unjuk cakar unjuk sangar Bertahan Robek lembar seret kuku pada lembar. Sorongkan Bertebar lebah-lebah antarkan pesan pada telinga-telinga anak Adam. Hingga dengung buat amblas tengkorang merobek selaput berjejalan rasuki nalar. Mengendap “Apanya nama Anda siapa jawab jangan kata tiada bicara bagaimana kami punya darinya kapan b-a-ba-h-a-ha sa-s-a-ut mereka b-e-be-n-a-na-r jalannya” ‘Atau juru acak kata bahkan otak kiri dan kanan bertukar letak?’ ‘Jadi bodoh begitu, mabuk bahasanya’ Murka enggan menjemput bengis. Tumpah ruah lahar dalam dapur bumi Kuncen tak mampu memohon, minta pujangga hentikan. Tiada. Minta guru tenangkan. Akut ‘Aku harap Chomsky, de Saussure, Alisjahbana’ ‘Ke mana mereka? Tak kembali dalam fana kekal dalam sekat bawah gundukan doa dan bunga’

‘Sibuk dengan urusan lampau dunia seteru dengan cemeti kubur lantas bagaimana kami yang berujar betul’ Kembang raksasa pecah. Sembur ludah timah. Hempas anak-anak adam yang berujar Para perusak mengepungku menuntut jawab. Bahasaku namun tak sanggup. Aku hendak pergi ke mana? Atau aku menyusul mereka yang disekat dihujam hutang juang Berurusan dengan lampau dunia Mereka mengejarku gonjang-ganjing buana. Berburu jawaban mearaung dalam bahana mencabik fatamorgana. Tuan lenyapkan aku agar ujar tak lagi terucap Ini revolusi aku mati terbunuh penguasa dan ilmuwan Aku punah, kawan Perusak bahasa jaya