You are on page 1of 3

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PADA SISTEM PERKEMIHAN

http://rioaffandy.blogspot.com/2010/04/pemeriksaan-diagnostik-padasistem.html?zx=96d775eda54e6026 http://totonrofiunsri.wordpress.com/2009/01/28/anatomi-dan-fisiologi-sistem-perkemihan/
A. Urinalisis Urialisis dapat meberikan informasi klinik yang penting. Urinalisis merupakan pemeriksaan rutin pad sebagian besar kondisi klinis, pemeriksaan urin menangkup evluasi hal-hal berikut: 1. Observasi warna dan kejernihan urin. 2. Pengkajian bau urin 3. Pengukuran keasaman dan berat jenis urin. 4. Tes untuk memeriksa keberadaan protein, glukosa, dan badan keton dalam urin (masing-masing untuk proteinuria, glukosuria, da ketonoria) 5. Pemeriksaan mikroskopik sedimen urin sesudah melakukan pemusingan (centrifuging) untuk mendeteksi sel darah erah (hematuria), sel darah putih, slinder (silindruria), Kristal (kristaluria), pus (piuria) dan bakteri (bakteriuria). Cara Pengumpulan Sampel Urin Pengumpulan sampel urin dilakukan sewaktu bangun tidur pagi, karena specimen ini lebih pekat dan lebih besar kemungkinannya untuk mengungkapkan abnormalitas. Spesimen tersebut dikumpulkan dalam wadah yang bersih dan dilindungi terhadap kontaminasi bakteri serta perubahan kimiawai. Semua specimen harus diseimpan dalam lemari pendingin. Karena jika dibiarkan dalam suhu kamar urin akan menjadi alkalis akibat kontaminasi bakteri pemecah ureum dari lingkungan sekitarnya. B. Pemeriksaan Fungsi Ginjal Tes fungsi ginjal dilakukan untuk mengevaluasi beratnya penyakit ginjal dan mengikuti perjlanan klinik. Pemeriksaan ini juga memberikan informasi tentang efektifitas ginjal dalam melaksanakan fungsi ekskresinya. Fungsi ginjal dapat dikaji secara lebih akurat jika dilakukan dibeberapa pemeriksaan dan kemudian asilnya dianalisis bersama. Pemeriksaan fungsi ginjal yang umum dilakukan adalah kemampuan pemekatan ginjal klirens kreatinin, kadar kreatinin serum dan nitrogen urea darah (BUN). C. Ultrasound Ultrasound atau pemeriksaaan USG menggunakan gelombang suara yang dipancarakan ke dalam tubuh untuk mendeteksi abnormalitas. Organ-organ dalam system urinarius akan menghasilkan gambar-gambar ultrasound yang khas. Abnormalitas seperti akumulasi cairan, massa, malformasi, perubahan ukuran organ ataupun obstruksi dapat diidentifikasi. Pemeriksaan USG merupakan teknik noninvasif dan tidak memerlukan persiapan khusus kecuali menjelaskan prosedur serta tujuannya kapada pasien. Karena sensitivitasnya, pemeriksaan USG telah menggantikan banyak prosedur diagnosis lainnya sebagai tindakan diagnostic pendahuluan. D. Pemeriksaan Sinar-X dan Pencitraan lainnya Dalam pemeriksaan ini dibagi ke dalam beberapa macam, yaitu : 1. Kidney, Ureter and Bladder (KUB) Pemeriksaan radiologi abdomen yang dikenal dengan istilah KUB dapat dilaksanakan untuk melihat ukuran, bentuk serta posisi ginjal dan mengidentifikasi semua kelainan seperti batu dalam ginjal atau traktus urinarius, hidronefrosis (distensi pelvis ginjal), kista, tumor atau pergeseran ginjal akibat abnormalitas pada jaringan disekitarnya. 2. Pemindai CT dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) Pemeriksaan pemindai CT dan MRI merupakan teknik noninvasive yang akan memberikan gambar penampang ginjal serta saluran kemih yang sangat jelas. Kedua pemeriksaan ini akan memberikan informasi tentang luasnya lesi invasive pada ginjal. 3. Urografi Intravena (Ekskretori Urogram atau intravenous pyelogram) Pemeriksaan urografi intravena yang juga dikenal dengan nama intravenous pyelogaram(IVP) memungkinkan visualisasi ginjal ureter dan kandung kemih. Media kontras radiopaque disuntikan secara intravena dan kemudian dibersihkan dari dalam darah serta dipekatkan oleh ginjal. Tebal nefrotomogram dapat dilaksanakan sebagai bagian dari pemeriksaan untuk melihat berbagai lapisan ginjal serta struktur difus dalam setiap lapisan dan untuk membedakan massa atau lesi yang padat dari kista didalam ginjal atau trakrus urinarius. Pemeriksaaan IVP dilaksanakan sebagai bagian dari penkajian pendahuluan terhadap semua masalah urologi yang dicurigai, khususnya dalam menegakan diagnose lesi pada ginjal dan ureter. Pemeriksaan ini juga memberikan perkiraan kasar terhadap fungsi ginjal. Sesudah media kontras (sodium diatrisoat atau meglumin diatrisoat) disuntikan secara intravena, pembuatan foto rontgen yang multiple dan seril yang dilakukan untuk melihat struktur drainase.

Sebelum melaksanakan prosedur pemeriksaan dapat diberikan preparat sedativ. 5. Arteri femoralis atau aksilaris ditusuk dengan jarum khusus dan kemudian sebuah kateter disisipkan melalui arteri femoralis serta iliaka ke dalam aorta atau arteri renalis. Pemeriksaan sistoskopi merupakan metode untuk melihat lanngsung uretra dan kandung kemih. oleh karena itu pemantauan akan adanya tanda-tanda dan gejala obstruksi pada pasien juga perlu dilakukan. Pielografi retrograd. Alat sistokop. Penderita hyperplasia prostat harus dipantau dengan cermat akan adanya kemungkinan retensi urin. memiliki system lensa optis yang sudah ada pada alat itu sendiri sehingga akan meemberikan gambar kandung kemih yang diperbesar dan terang. Prosedur ini memungkinkan visualisasi arteri renalis. yang dimasukan melalui uretra ke dalam kandung kemih. Alat endoskop dimasukkan dengan melihatnya secara langsung. memperlihatkan vaskulatur yang abnormal dan membantu membedakan kista renal dengan tumor renal. sistoskopi) perlu dipantau untuk mendeteksi tanda-tanda dan gejala infeksi urinarius. Setelah prosedur pemeriksaan selesai dilakukan. Brush biopsy ginjal dan uretra Teknik brush biopsy akan menghasilkan informasi yang spesifik apabila hasil pemeriksaan radiologi ureter atau pelvis ginjal yang abnormal tidak dapat menunjukan apakah kelainan tersebut merupakan tumor. Kemudian dipasang kateter uretra yang di ikuti oleh tindakan memasukkan alat sikat khusus (biopsy brush) melalui kateter tersebut. Pertama-tama dilakukan pemeriksaan sistoskopik. 6. Sistogram. kandung kemih dan ureter melalui sistoskop. Kelainan yang dicurigai disikat maju mundur secara teratur untuk mendapatkan sel-sel dan fragmen jaringan permukaan untuk pemeriksaan analisis histology. Uretra dan kandunng kemih diinspeksi. Larutan irigasi steril disemprotkan untuk menimbulkan distensi kandung kemih dan membilas keluar semua bekuan darah sehinngga visualisasi menjadi lebih baik. Angiografi memungkinkan evaluasi dinammika aliran darah. Sistogram juga dilakukan bersama dengan perekaman tekanan yang dikerjakan secara bersamaan di dalam kandunng kemih. Batu dapat dikeluarkan dari uretra. Sistouretrogram menghasilkan visualilsasi uretra dan kandung kemih yang bisa dilakukan melalui penyuntikan retrograde media kontras ke dalam uretra serta kandunng kemih atau dengan pemeriksaan sinar X sementara pasien mengekskresikan media kontras. bekuan darah atau hanya artefak. Sebagai alternative lain dapat dilakukan anestesi spinal atau umum. Penggunaan cahaya denngan intensitas tinggi dan lensa yang bisa ditukar-tukar memungkinkan visualisasi yang sangat baik serta memudahkan pembuatan gambar-gambar yang diam dan yang bergerak dari struktur ini. pemberian cairan infus dapat dilakukan untuk membersihkan ginjal dan mencegah pembentukan bekuan darah. sebuah kateter dimasukkan kedalam kandung kemih. 2. batu. Endourologi (prosedur endoskopi urologi) 1.4. Setelah menjalani pemeriksaan sistoskopik. kadang-kadang penderita kelainan patologik obstruktif mengalami retensi urin sebagai akibat dari edema yang disebabkan oleh instrumentasi. Alat forceps dapat dimasukkan melalui sistoskop untuk keperluan biopsi. Sistoskop tersebut dapat dimanipulasi untuk memungkinkan visualisasi uretra dan kandung kemih secara lengkap selain visualisasi orifisium uretra dan uretra pars prostatika. Media kontras disuntikkan untuk menghasilkan opasitas suplai arteri renalis. Kemudian media kontras dimasukkan dengan gravitasi atau penyuntikan melalui kateter. . 7. Urin dapat mengandung darah (yang biasanya menjadi jernih dalam waktu 24-48 jam) akibat perembesan pada tempat penyikatan. 8. melakukan biopsi lesi yang kecil dan membantu menegakan diagnose hematuria serta tumor renal tertentu. Sistoskop juga memungkinkanahli urologi untuk mendapatkan spesimen urin dari setiap ginjal guna mengevaluasi fungsi ginjal tersebut. Pielografi retrograd biasanya dilakukan jika pemeriksaan IVP kurang memperlihatkan dengan jelas system pengumpul. Kateter uretra yang halus dapat dimasukan melalui sistoskop sehingga ureterdan pelvis ginjal dapat dikaji. dan kemudian media kontras disemprotkan untuk mellihat garis besar dinding kandung kemih serta membantu dalam mengevaluasi refluks vesikouretral. Anestesi topical local disemprotkan kedalam uretra sebelum ahli urologi memasukkan alat sistoskop. Dalam pielografi retrograd. kateter uretra dimasukan lewat ureter ke dalam pelvis ginjal dengan bantuan sistoskopi. Edema uretra yang terjadi sekunder akibat trauma local dapat menyumbat aliran urin. Pemberian diazepam (valium) intravena bersama dengan preparat anestesi topical uretra dapat diberikan. Infusion drip pyelography merupakan pemberian lewat infuse larutan encer media kontras dengan volume yang besar untuk menghasilkan opasitas parenkim ginjal dan mengisi seluruh traktus urinarius. Angiografi renal. E. Pasien yang menjalani instrumentasi traktus urinarus (yaitu. Pemeriksaan pielografi retrograd jarang dilakukan dengan semakin majunya teknik-teknik yang digunakan dalam urografi ekskretorik. mengelluarkan batu. 3. Endoskopi renal (nefroskopi) Merupakan pemeriksaan dengan cara memasukkan fiberskop kedalam pelvis ginjal melalui luka insisi (pielotomi) atau secara perkkutan untuk melihat bagian dalam pelvis ginjal. Metode ini berguna bila teknik urografi yang biasa dikerrjakan tidak berhasil memperlihatkan struktur drainase.

Preparat radiofarmaseutikal disuntikan intravena. dan larutan steril dibiarkan mengalir kedalam kandung kemih dengan kecepatan biasanya 1 ml/s. Gambar yang dihasilkan (yang disebut pemindai) menunjukan distribusi preparat radiofarmaseutikal didalam ginjal. i.4. Sistometrogram merupakan rekaman grafik tekanan dalam kadung kemih (intra vesikal) pada berbagai fase pengisian dan pengosongan kandung kemih untukmengkaji fungsinya. Kontras serta relaksasi kandung kemih Tekanan abdominal . Uroflometri (kecepatan aliran) merupakan rekaman volume urin yang mengalir melalui ureter per satuan waktu (ml/s) f. inervasi kandung kemih. kandung kemih diisi dengan media kontras dan pasien berkemih sementara foto-foto spot dibuang dpengn cepat. Pemeriksaan pemindai hippurate memberikan informasi tentang fungsi ginjal. Profil tekanan uretra mengukur resitensi uretra disepanjang uretra. Volume sisa diukur dan kateter tersebut dibiarkan pada tempatnya. Lokasi jarum dapat dipastikan melalui fluuoroskopi atau ultrasound dengan menggunakan teknik khusus.Sebelum biopsi dilakukan. Kulit pada lokasi biopsy diinfiltrasi denngan preparat anestesi local. Gas dan cairan dimasukkan melalui sebuah kateter yang ditarik keluar sambil mengukur tekanan disepanjang dinding uretra. Tekanan kandung kemih pada saat buang air kecil dan saat istirahat c. Berikut ini merupakan pengukuran urodinamik yang paling sering dilakukan : e. Elektromiografi meliputi penempatan elektroda dalam otot dasar panggul dan fingter ani untuk mengevaluasi fungsi neuromuskuler traktus urinarius inferior. Pada biopsi terbuka dilakukan insisi yang kecil didaerah ginjal dapat dilihat secara langsung. Pemeriksaan radio isotop Merupakan tindakan noninvasive yang tidak mengganggu prosesfisiologik normal dan tidak memerlukan persiapan pasien yang khusus. h. j. . Prosedur. Resitensi uretra internal d. aktivitas sfingter. Jika akan dilakukan biopsi jarum pasien diberitahukan agar menahan nafas ketika jarum biopsi ditusukan. Pasien yang sudah dalam keadaan sedasi di tempatkan dalam posisi berbaring telungkup dengan bantal pasir diletakan dibawah perut. khususnya bagi penyakit glomerulus. kekuatan serta kontinuitas aliran urin.telungkup atau duduk. Pada voiding cystourethogram. Pertama-tama pasien diminta untuk berkemih. Selama prosedur pemeriksaan dilakukan. Set infuse dipasang. Kecepatan aliran urin b. Kateterretensi dimasukan melalui uretra kedalam kandung kemih. tonus otot dan reflex sacrum dikaji. Tekanan diatas tingkat nol pada simfisis pubis diukur. Derajat pengisian kandung kemih pada kedua situasi ini dicatat. Sistouretrogram memungkinkan visualisasi uretra dan kandung kemih yang dapat dilakukandengn penyntikan retrograd atau dengan mengeliminasi media kontras. pemeriksan koagulasi perlu dilakukan lebih dahulu untuk mengidentifikasi setiap resiko terjadinya perdarahan pascabiopsi. Ada tidaknnya refluks vesikouretral atau kelainan congenital pada traktus urinarius inferior dapat diperlihatkan. kandung kemih serta detrusor. pasien dipuasakan selama 6 hingga 8 jam sebelum pemeriksaan. dan derajat mengajan serta adanya hesitancy. dan dokter mengamati lamanya waktu yang diperlukan untuk memulai. 6. g. dan pada saat kandung kemih terasa penuh. Pemeriksaan pemindai Tc menghasilkan informasi tentang perfusi ginjal dan sangat berguna untuk menunjukan fungsi ginjal yang buruk. dan tekanan serta volume dalam kandung kemih diukur serta dicatat. Kateter uretral dihubungkan dengan manometer air. 5. jumlah cairan yang dimasukan dan dikeluarkandari kandung kemih disamping rasa penuh pada kandung kemih dan keinginan untuk buang air kecil harus dicatat. pasien memberitahukan dokter pada saat terasa ingin buang air kecil. Pemeriksaan ini berguna untuk mengevaluasi perjalanan penyakit ginjal dan mendapatkan specimen bagi pemeriksaan mikroskopik electron serta imunofluoresen. Pengukuran urodinamik Pengukuran urodinamik menghasilkan berbagai pemeriksaan fisiologik dan structural untuk mengevaluasi fungsi kandung kemih serta uretra dengan mengukur : a. Kemudian semua hasil ini dibandingkandengan tekanan yang diukur dalam kandung kemih selama pengisian kandung kemih dan berkemih. Biopsi ginjal Bopsi ginjal dilakukan dengan menusukan jarum biopsi melalui kulit kedalam jaringan renal atau dengan melakukan biopsi terbuka melalui luka insisi yang kecil didaerah pinggang. Pemeriksaan dilakukan dengan kamera skintilasi yang ditempatkan disebelah posterior ginjal sementara pasien berada dalam posisi telentang. Voidingcystourethrogram juga digunakan untuk menyelidiki kesulitan dalam pengosongan kandung empedu dan inkontinensia. Spesimen urin dikumpulkan dan disimpan untuk dibandingkan dengan specimen pascabiopsi. ukuran.