You are on page 1of 13

ANTIBIOTIK MUSKULOSKELETAL

INFEKSI MUSKULOSKELETAL DIBEDAKAN MENURUT KATAGORI:


Waktu : akut, subakut dan kronis. lokasi anatomi : tulang (osteitis dan osteomielitis), sendi (artritis), otot(miositis), tendon (tendinitis) serta selaput sinovia (sinovitis). Gambaran karakteristiknya : nonspesifik dan spesifik.

MENURUT PENYEBABNYA DIBEDAKAN


-Radang yang disebabkan agen biologis contohnya infeksi piogenik seperti osteomielitis dan artritis piogenik, maupun granulomatosa seperti osteomielitis tuberkulosa atau artritis tuberkulosa. -Radang yang disebabkan agen kimia contohnya artritis metabolik (pirai/gout) -Radang yang disebabkan agen fisik contohnya inflamasi pasca trauma, tenovaginitis stenosan atau bursitis. -Radang yang disebabkan mekanisme imunopatologi contohnya rheumatoid artritis, rheumatoid fever, ankylosing spondylitis dan transient sinovitis.

Osteomyelitis Pyogenik
ETIOLOGI
Staphylococcus Aureus (90%) Streptococcus Remote Infeksi

OSTEOMYELITIS

PRIMER : acute hematogenous SEKUNDER: operasi / luka

Osteomyelitis Pyogenik

LABORATORIUM
Leukosit
LED Kultur

PENGOBATAN Antibiotika parenteral (intravena), spektum luas dengan dosis tinggi selama 4-6 minggu. Antibiotika yang diberikan umumnya kombinasi antara golongan Penicillin yang resiten terhadap penicilinase dengan cefalosporin generasi ketiga. Pada orang dewasa dapat dikombinasikan dengan golongan quinolon (ciprofloxacin). Pada pasien dengan sikle cell anemia, dapat dipilih cefalosporin generasi ke tiga atau pada dewasa dapat dikombinasi dengan golongan fluoroquinolon (tak boleh dipergunakan pada anak-anak).

EVALUASI HASIL PENGOBATAN

Evaluasi hasil pengobatan pada osteomielitis akut harus dilakukan lebih awal, sekurang-kurangnya dalam 24 jam setelah pengobatan, harus dilakukan evaluasi klinis dan laboratorium. Keberhasilan perngobatan ditentukan ada tidaknya perbaikan klinis dan penurunan leukosit darah. Apabila dalam 24 jam terjadi perbaikan klinis dan penurunan leukosit, maka pengobatan diteruskan sampai pemeriksaan leukosit dan laju endap darah darah mingguan dua kali berturut-turut normal dengan pengobatan minimal 4 minggu.

Apabila dalam evaluasi klinis tak terdapat tanda perbaikan klinis, kemungkinan yang pertama antibiotika tak dapat sampai kelokasi infeksi karena adanya tekanan pus intraoseus. Kemungkinan lain adanya resistensi kuman terhadap antibiotika yang diberikan. Karena kemungkinan kedua masih belum diketahui, maka kemungkinan pertama yang bisa diatasi dengan melakukan drainase pada titik lokal nyeri dengan anestesi umum. Pus yang bercampur darah kemudian dikultur untuk mencari jenis kuman sekalian dilakukan tes sensitivitas kuman terhadap antibiotika.

PENCEGAHAN

Osteomielitis akut dapat dicegah dengan memberantas infeksi asal dengan diagnosa yang tepat dan terapi yang adekuat pada infeksi daerah abses kulit, oropharynx, telinga, gigi dan saluran kemih. Pengobatan luka-luka dengan melakukan debridement yang baik serta pemberian antibiotika guna mencegah penyebaran kuman.