BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Data Organisasi Kesehatan Dunia World Health Organization (WHO) mencatat bahwa Indonesia menempati urutan ke-4 dengan jumlah penderita Diabetes terbesar di dunia setelah India, China, dan Amerika Serikat. Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius karena dapat menimbulkan komplikasi seperti: penyakit jantung, gagal ginjal, dan kerusakan sistem saraf. Masalah yang selalu timbul pada penderita DM adalah cara mempertahankan kadar glukosa darah penderita supaya tetap dalam keadaan terkontrol. Penderita DM menghadapi bahaya setiap harinya karena kadar gula darah yang tidak terkontrol tersebut. Glukosa darah mengandung kadar yang berubah-ubah sepanjang hari terutama pada saat makan dan beraktifitas (Pangestu, 2007). Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik yang berlangsung kronik progresif, dengan manifestasi gangguan metabolism glukosa dan lipid, disertai oleh komplikasi kronik penyempitan pembuluh darah, dengan akibat terjadinya kemunduran fungsi sampai dengan kerusakan organ-organ tubuh (Darmono, 2007). Bahaya diabetes sangat besar dan dapat memungkinkan penderita menjadi lemah ginjal, buta, menderita penyakit bagian kaki dan banyak komplikasi serius dan menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Penderita DM menghadapi bahaya setiap harinya karena kadar gula darah yang tidak terkontrol. Glukosa darah mengandung kadar yang berubah-ubah sepanjang hari terutama pada saat makan, dan beraktifitas(Pangestu, 2007).

1

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.2.8 1.2.9 Apa pengertian penyakit Diabetes Mellitus? Apa saja klasifikasi penyakit Diabetes Mellitus? Bagaimana etiologi terjadinya penyakit Diabetes Mellitus? Bagaimana patofisiologi terjadinya penyakit Diabetes Mellitus? Bagaimana WOC (Web Of Causen) penyakit Diabetes Mellitus? Apa gejala klinis penyakit Diabetes Mellitus? Apa komplikasi dari penyakit Diabetes Mellitus? Apa pemeriksaan penunjang penyakit Diabetes Mellitus? Bagaimana penatalaksanaan penyakit Diabetes Mellitus?

1.2.10 Bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit Diabetes Mellitus? 1.3 Tujuan 1.3.1 1.3.2 1.3.3 1.3.4 1.3.5 1.3.6 1.3.7 1.3.8 1.3.9 Menjelaskan pengertian penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan klasifikasi penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan etiologi terjadinya penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan patofisiologi terjadinya penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan WOC (Web Of Causen) penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan gejala klinis penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan komplikasi dari penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan pemeriksaan penunjang penyakit Diabetes Mellitus. Menjelaskan penatalaksanaan penyakit Diabetes Mellitus.

1.3.10 Menjelaskan Asuhan Keperawatan pada pasien dengan penyakit Diabetes Mellitus.

2

1 IDDM (Insulin – Dependent Diabetes Mellitus)/ DM Type I Diabetes tipe I ditandai dengan sekresi insulin oleh pankreas tidak ada dan sering terjadi pada orang muda.2. Pada orang diabetes. terjadi penumpukan didalam darah pada orang diabet dan meluap kedalam urine yang menyebabkan haus dan keluarnya urine dalam jumlah yang banyak.1 Pengertian Diabetes Mellitus Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo. Karena insulin tidak digunakan. lemak dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler. Caranya dengan mengikat dirinya secara kuat pada tempat reseptor pada membran sel. Diabetes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan gangguan metabolisme karbohidrat. 2. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO). Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. Secara normal. Lebih lanjut masalah ini akan menimbulkan komplikasi 3 .BAB 2 PEMBAHASAN 2. mikrovaskuler dan neurologis (Barbara C. protein. Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan gangguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin yang tidak adekuat (Brunner dan Sudart). Efek utama metabolik insulin adalah di otot dan jaringan adiposa.2 Klasifikasi Diabetes Mellitus Klasifikasi Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut: 2. 2002). kekurangan atau ketiadaan insulin menimbulkan kelaparan pada jaringan ini dan ini menjelaskan mengapa pasien menjadi lelah dan berat badan menurun. Long). insulin bekerja untuk menurunkan kadar glukosa darah dengan membolehkan glukosa masuk ke dalam sel untuk dimetabolisme.

tetapi determinan genetik biasanya memegang 4 . Suatu komplikasi yang muncul. artinya terjadi defisiensi relatif insulin. Resitensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati.2. kebiasaan diet. maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Pada kelompok ini diit khusus diajurkan untuk menurunkan BB dan diberikan tablet untuk merangsang pancreas untuk mensekresi lebih banyak insulin.. 1999). diabetes gestasional. riwayat keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe II. Berarti sel β pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa (Mansjoer. Sehingga orang yang menderita DM Tipe I perlu injeksi insulin secara teratur dalam hidupnya untuk mencegah ketosis. A. Sel β tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. dan/atau dengan berat badan bayi lebih dari 4 kg saat dilahirkan 2. DM tipe I dikenal sebagai Diabetes Melitus).2. Untuk alasan ini. wanita dengan hirsutisme. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. kurang berolahraga. kecuali kalau diberikan penggantian insulin. .physiologic. 2.4 Diabetes mellitus gestasional (GDM) 2. obesitas.2 NIDDM (Non – Insulin Dependent Diabetes Mellitus)/ DM Type 2 Type II akibat dari tidak sensitifnya reseptor insulin terhadap insulin yang sudah tersedia.akibat gangguan metabolisme IDDM (Insulin Dependent lemak. dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin. Orang-orang yang DM saat hamil atau gestational diabetes (GDM) biasanya dikenal sebagai type II.3 Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya 2.2. Diabetes Mellitus Tidak Tergantung Insulin disebabkan kegagalan relatif sel β pulau Langerhans dan resisteni insulin.3 Etiologi Diabetes Mellitus DM mempunyai etiologi yang heterogen. Faktor risiko Diabetes Mellitus tipe II antara lain usia. etnis. dan/atau penyakit ovarium polikistik. Karena tidak dibutuhkan insulin maka diabetes tipe II dikenal sebagai NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus).

diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan. 2) Nutrisi a) Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin.peranan penting pada mayoritas DM. 2. Faktor – faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta. Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu : 1. ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8. Kelainan insulin. 96 %. 2. 33 % dan 5. Kelainan sel beta pankreas. terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin. 3. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel – sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel . kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi. obesitas dan kehamilan. 5 . Faktor non genetic 1) Infeksi Virus dianggap sebagai “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetic terhadap diabetes mellitus. berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin. Gangguan sistem imunitas.sel penyekresi insulin. 33 % bila dibandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1. b) Malnutrisi protein c) Alkohol. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : 1. Pada pasien obesitas. Faktor genetic Riwayat keluarga dengan diabetes : Pincus dan White berpendapat perbandingan keluarga yang menderita diabetes mellitus dengan kesehatan keluarga sehat. 4. dianggap menambah resiko terjadinya pankreatitis.

Sebagian besar gambaran patologik dari DM dapat dihubungkan dengan salah satu efek utama akibat kurangnya insulin berikut: 1. Sel B tidak mampu mengimbangi resistensi insulin ini sepenuhnya. artinya terjadi defesiensi relatif insulin. maupun pada rangsangan glukosa bersama bahan perangsang sekresi insulin lain. Berkurangnya pemakaian glukosa oleh sel – sel tubuh yang mengakibatkan naiknya konsentrasi glukosa darah setinggi 300 – 1200 mg/dl. infark miokard. feokromositoma karena kadar katekolamin meningkat Insulin Dependent Diabetes Melitus ( IDDM ) atau Diabetes Melitus Tergantung Insulin (DMTI) disebabkan oleh destruksi sel B pulau langerhans akibat proses autoimun.3) Stres Stres berupa pembedahan. luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara. 6 . 4) Hormonal Sindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi. Sedangkan Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus ( NIDDM ) atau Diabetes Melitus Tidak Tergantung Insulin ( DMTTI ) disebabkan kegagalan relatif sel B dan resistensi insulin. akromegali karena jumlah somatotropin meninggi. feokromositoma karena konsentrasi glukagon dalam darah tinggi. Ketidakmampuan ini terlihat dari berkurangnya sekresi insulin pada rangsangan glukosa. 2. 3. Resistensi insulin adalah turunnya kemampuan insulin untuk merangsang pengambilan glukosa oleh jaringan perifer dan untuk menghambat produksi glukosa oleh hati. Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah penyimpanan lemak yang menyebabkan terjadinya metabolisme lemak yang abnormal disertai dengan endapan kolestrol pada dinding pembuluh darah. Berarti sel B pankreas mengalami desensitisasi terhadap glukosa. Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.

Akibat yang lain adalah astenia atau kekurangan energi sehingga pasien menjadi cepat telah dan mengantuk yang disebabkan oleh berkurangnya atau hilangnya protein tubuh dan juga berkurangnya penggunaan karbohidrat untuk energi. Pada hiperglikemia yng parah yang melebihi ambang ginjal normal ( konsentrasi glukosa darah sebesar 160 – 180 mg/100 ml ). dan pospat. akibatnya muncul gejala kehausan dan keinginan minum yang terus – menerus (polydipsi) dan gejala banyak makan (polypasia). 2. kadar glukosa yang tinggi di dalam darah akan dikeluarkan lewat urin. potasium. karbohidrat dari makanan diubah menjadi glukosa. Glukosa yang tidak dapat dimanfaatkan oleh sel hanya terakumulasi di dalam darah dan beredar ke seluruh tubuh. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang mengurangi dan mengontrol kadar gula darah sampai pada batas tertentu. Hormon insulin mengubah glukosa dalam darah menjadi energi yang digunakan sel. walaupun 7 . DM terjadi akibat produksi insulin tubuh kurang jumlahnya atau kurang daya kerjanya.4 Patofisiolgi Diabetes Mellitus Dalam proses pencernaan yang normal. Proses penyimpanan dan rekonvensi ini membutuhkan insulin. yang berguna sebagai bahan bakar atau energi bagi tubuh manusia. Akibat glukosa yang keluar bersama urine maka pasien akan mengalami keseimbangan protein negatif dan berat badan menurun serta cenderung terjadi polifagi. Jika kebutuhan energi telah mencukupi. kebutuhan glukosa disimpan dalam bentuk glukogen dalam hati dan otot yang nantinya bisa digunakan lagi sebagai energi setelah direkonvensi menjadi glukosa lagi. klorida. Gula yang tidak dikonvensi berhamburan di dalam darah. walaupun jumlah insulin sendiri normal bahkan mungkin berlebihan akibat kurangnya jumlah atau daya kerja insulin.Pasien – pasien yang mengalami defisiensi insulin tidak dapat mempertahankan kadar glukosa plasma puasa yang normal atau toleransi sesudah makan. tingginya glukosa dalam urin membuat penderita banyak kencing (polyuria). Adanya poliuri menyebabkan dehidrasi dan timbul polidipsi. akan timbul glikosuria karena tubulus – tubulus renalis tidak dapat menyerap kembali semua glukosa. Glukosuria ini akan mengakibatkan diuresis osmotik yang menyebabkan poliuri disertai kehilangan sodium.

2.kadar glukosa dalam darah cukup tinggi. Glukosa dalam darah jadi mubazir karena tidak bisa dimasukkan ke dalam sel – sel tubuh.5 WOC (Web Of Causen) Diabetes Mellitus 8 .

4 Berat badan menurun. 2. sehingga untuk mengimbangi klien lebih banyak minum. Tetapi walaupun klien banyak makan. 2. sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Sehingga untuk memenuhinya klien akan terus makan.6.3 Polipagi (banyak makan) Hal ini disebabkan karena glukosa tidak sampai ke sel-sel mengalami starvasi (lapar). Disamping itu gejala yang sering muncul dan mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. sehingga menyebabkan pembentukan katarak.6.2.6. 2. pada diabetes mellitus adalah sebagai berikut : Pada tahap awal sering ditemukan : 2. maka tubuh selanjutnya akan memecah cadangan makanan yang ada di tubuh termasuk yang berada di jaringan otot dan lemak sehingga klien dengan DM walaupun banyak makan akan tetap kurus 2. maka tubuh berusaha mendapat peleburan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein.6 Gejala Klinis Diabetes Mellitus Gejala yang lazim terjadi. lekas lelah. tetap saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah. Akibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa. karena tubuh terus merasakan lapar. tenaga kurang Hal ini disebabkan kehabisan glikogen yang telah dilebur jadi glukosa.6.6.2 Polidipsi (banyak minum) Hal ini disebabkan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan cairan banyak karena poliuri.5 Mata kabur Hal ini disebabkan oleh gangguan lintas polibi (glukosa – sarbitol fruktasi) yang disebabkan karena insufisiensi insulin. 9 .1 Poliuri (banyak kencing) Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukosa sehingga terjadi osmotic diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga klien mengeluh banyak kencing. lemas. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua.

Pruritus Vulvae 6. Penyakit pembuluh darah otak 17.1 Kardiovaskuler : hipertensi. Penyakit koroner 16.7. Infeksi bakteri kulit 7.7.4 Paru – paru : TBC 2. rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim. Gatal seluruh badan 5. Menurut Supartondo. Glaukoma 3.3 Syaraf : neuropati 2. Katarak 2.7. ulkus 10 . katarak 2. Dermatopati 9.7. Ulkus Neurotropik 13.Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak.5 Kulit : gangren. Neuropati visceral 11. Infeksi jamur di kulit 8.7 Komplikasi Diabetes Mellitus Komplikasi Diabetes Mellitus adalah sebagai berikut: 2. Penyakit ginjal 14.2 Mata : retinopati. Penyakit pembuluh darah perifer 15. Amiotropi 12. infak miokard 2. Neuropati perifer 10. gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah : 1. Retinopati 4.7. Hipertensi 2.

Diet 2.8 mmol/L) 3.8.1 2. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl 2.3 Glukosa darah sewaktu Kadar glukosa darah puasa Tes toleransi glukosa Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl). 2. Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes : 1. Terapi (jika diperlukan) 5. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan kegiatan mandiri. lipid dan insulin. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. yaitu: 1.2 2.6 Hati : sirosis hepatis. Pendidikan 11 . Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan.8 Pemeriksaan Penunjang Diabetes Mellitus Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit DM adalah sebagai berikut: 2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11.1 mmol/L) 2. Latihan 3.8. Pemantauan 4.9 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Dalam jangka pendek penatalaksanaan DM bertujuan untuk menghilangkan keluhan atau gejala DM.8.2. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa.7.

yaitu metformin. Jika obat hipoglikemik pelepasan insulin oleh pankreas dan meningkatkan 12 . Akarbos bekerja dengan cara menunda penyerapan glukosa di dalam usus. Berikut ini pembagian terapi farmakologi untuk diabetes. Namun. Obat hipoglikemik per-oral biasanya diberikan pada penderita diabetes tipe II jika diet dan olah raga gagal menurunkan kadar gula darah dengan cukup. yaitu: 2. kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan.1 Obat Hipoglikemik Oral (OHO) Golongan sulfonilurea seringkali dapat menurunkan kadar gula darah secara adekuat pada penderita diabetes tipe II.1 Terapi Farmakologi Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Obat lainnya. Contohnya adalah glipizid. gliburid.2. tolbutamid dan klorpropamid. Diabetes tipe 1 hanya bisa diobati dengan insulin tetapi tipe 2 dapat diobati dengan obat oral. Namun. Jika pengendalian berat badan dan berolahraga tidak berhasil maka dokter kemudian memberikan obat yang dapat diminum (oral= mulut) atau menggunakan insulin. meskipun beberapa penderita memerlukan 2-3 kali pemberian. Karena itu biasanya diberikan terapi sulih insulin atau obat hipoglikemik (penurun kadar gula darah) per-oral.9. Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan. sebagian besar penderita merasa kesulitan menurunkan berat badan dan melakukan olah raga yang teratur. Seseorang yang obesitas dan menderita diabetes tipe 2 tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolah raga secara teratur. tetapi tidak efektif pada diabetes tipe I. tidak mempengaruhi pelepasan insulin tetapi meningkatkan respon tubuh terhadap insulinnya sendiri. Obat ini kadang bisa diberikan hanya satu kali (pagi hari). Obat ini menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang efektivitasnya.9.1. olah raga dan diet.

2. yang bekerja paling cepat dan paling sebentar. Insulin terdapat dalam 3 bentuk dasar.2 Insulin kerja sedang. Insulin kerja cepat seringkali digunakan oleh penderita yang menjalani beberapa kali suntikan setiap harinya dan disutikkan 15-20 menit sebelum makan.1.2 Terapi Sulih Insulin Pada diabetes tipe 1.1. Insulin ini seringkali mulai menurunkan kadar gula dalam waktu 20 menit.9. 2. Pada saat ini. Mulai bekerja dalam waktu 1-3 jam.1 Insulin kerja cepat. paha atau dinding perut. Contohnya adalah insulin reguler. Bentuk insulin yang baru (semprot hidung) sedang dalam penelitian. Pemberian insulin hanya dapat dilakukan melalui suntikan. mungkin perlu diberikan suntikan insulin.1.2. biasanya di lengan.9. bentuk insulin yang baru ini belum dapat bekerja dengan baik karena laju penyerapannya yang berbeda menimbulkan masalah dalam penentuan dosisnya. Digunakan jarum yang sangat kecil agar tidak terasa terlalu nyeri.9. insulin dihancurkan di dalam lambung sehingga tidak dapat diberikan per-oral (ditelan). 13 . pankreas tidak dapat menghasilkan insulin sehingga harus diberikan insulin pengganti. mencapai puncaknya dalam waktu 2-4 jam dan bekerja selama 6-8 jam. mencapai puncak maksimun dalam waktu 6-10 jam dan bekerja selama 18-26 jam. Contohnya adalah insulin suspensi seng atau suspensi insulin isofan. Insulin ini bisa disuntikkan pada pagi hari untuk memenuhi kebutuhan selama sehari dan dapat disuntikkan pada malam hari untuk memenuhi kebutuhan sepanjang malam. Insulin disuntikkan dibawah kulit ke dalam lapisan lemak. masing-masing memiliki kecepatan dan lama kerja yang berbeda: 2. 2.per-oral tidak dapat mengontrol kadar gula darah dengan baik.

2. Contohnya adalah insulin suspensi seng yang telah dikembangkan. Suntikan kedua diberikan pada saat makan malam atau ketika hendak tidur malam.9.1.2. Pemilihan insulin yang akan digunakan tergantung kepada: 1) Keinginan penderita untuk mengontrol diabetesnya 2) Keinginan penderita untuk memantau kadar gula darah dan menyesuaikan dosisnya 3) Aktivitas harian penderita 4) Kecekatan penderita dalam mempelajari dan memahami penyakitnya 5) Kestabilan kadar gula darah sepanjang hari dan dari hari ke hari Sediaan yang paling mudah digunakan adalah suntikan sehari sekali dari insulin kerja sedang. yaitu insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang. Tetapi sediaan ini memberikan kontrol gula darah yang paling minimal. Kontrol yang lebih ketat bisa diperoleh dengan menggabungkan 2 jenis insulin. 14 . Sediaan insulin stabil dalam suhu ruangan selama berbulan-bulan sehingga bisa dibawa kemana-mana. Efeknya baru timbul setelah 6 jam dan bekerja selama 28-36 jam. Kontrol yang paling ketat diperoleh dengan menyuntikkan insulin kerja cepat dan insulin kerja sedang pada pagi dan malam hari disertai suntikan insulin kerja cepat tambahan pada siang hari.3 Insulin kerja lambat.

tanggal masuk rumah sakit dan diagnosa medis. agama. jantung. rasa raba yang menurun. jenis kelamin. penyebab terjadinya luka serta upaya yang telah dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya. obesitas. status perkawinan.1 Pengkajian 2.10.1. Anamnese 1) Identitas penderita Meliputi nama.10 Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Diabetes Mellitus 2. adanya luka yang tidak sembuh–sembuh dan berbau. alamat. 4) Riwayat kesehatan dahulu Adanya riwayat penyakit DM atau penyakit–penyakit lain yang ada kaitannya dengan defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. 6) Riwayat psikososial 15 . adanya nyeri pada luka. 5) Riwayat kesehatan keluarga Dari genogram keluarga biasanya terdapat salah satu anggota keluarga yang juga menderita DM atau penyakit keturunan yang dapat menyebabkan terjadinya defisiensi insulin misal hipertensi. Adanya riwayat penyakit jantung. pendidikan. nomor register.1 Pengumpulan data 1. 3) Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang kapan terjadinya luka.10. pekerjaan.2. tindakan medis yang pernah di dapat maupun obatobatan yang biasa digunakan oleh penderita. maupun arterosklerosis. 2) Keluhan Utama Adanya rasa kesemutan pada kaki/ tungkai bawah. umur. suku bangsa.

dehidrase. diplopia. kelembaban dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren.Meliputi informasi mengenai prilaku. adanya luka atau warna kehitaman bekas luka. nadi perifer lemah atau berkurang. takikardi/bradikardi. keadaan rambut. tekstur rambut dan kuku. sputum. gigi mudah goyah. kemerahan pada kulit sekitar luka. obesitas. adakah gangguan pendengaran. berat badan dan tanda – tanda vital. adakah pembesaran pada leher. 5) Sistem kardiovaskuler Perfusi jaringan menurun. telinga kadang-kadang berdenging. kesadaran. 3) Sistem integumen Turgor kulit menurun. Pada penderita DM mudah terjadi infeksi. peningkatan lingkar abdomen. 7) Sistem urinary 16 . diare. tinggi badan. mual. Pemeriksaan fisik 1) Status kesehatan umum Meliputi keadaan penderita. konstipasi. 6) Sistem gastrointestinal Terdapat polifagi. batuk. perubahan berat badan. 4) Sistem pernafasan Adakah sesak nafas. lidah sering terasa tebal. lensa mata keruh. aritmia. muntah. hipertensi/hipotensi. perasaan dan emosi yang dialami penderita sehubungan dengan penyakitnya serta tanggapan keluarga terhadap penyakit penderita. apakah penglihatan kabur / ganda. 2) Kepala dan leher Kaji bentuk kepala. gusi mudah bengkak dan berdarah. polidipsi. kardiomegalis. suara bicara. nyeri dada. ludah menjadi lebih kental. 2.

10. rasa panas atau sakit saat berkemih. Kebutuhan harga diri 17 . Kebutuhan rasa aman 3. Hasil dapat dilihat melalui perubahan warna pada urine : hijau ( + ). kuning ( ++ ). Kebutuhan cinta dan kasih sayang 4. 9) Sistem neurologis Terjadi penurunan sensoris. 3) Kultur pus Mengetahui jenis kuman pada luka dan memberikan antibiotik yang sesuai dengan jenis kuman. 8) Sistem muskuloskeletal Penyebaran lemak. retensio urine. Kebutuhan dasar atau fisiologis 2. 2. Pemeriksaan dilakukan dengan cara Benedict ( reduksi ). anastesia. Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan adalah : 1) Pemeriksaan darah Pemeriksaan darah meliputi : GDS > 200 mg/dl. adanya gangren di ekstrimitas. merah ( +++ ). parasthesia. kacau mental. mengantuk. letargi. penyebaran masa otot. lemah dan nyeri. 2) Urine Pemeriksaan didapatkan adanya glukosa dalam urine.1.Poliuri. reflek lambat.2 Analisa Data Dalam mengelompokan data dibedakan atas data subyektif dan data obyektif dan berpedoman pada teori Abraham Maslow yang terdiri dari : 1. disorientasi. inkontinensia urine. gula darah puasa >120 mg/dl dan dua jam post prandial > 200 mg/dl. perubahn tinggi badan. 3. cepat lelah. dan merah bata ( ++++ ).

5. Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa/insulin dan atau elektrolit. Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik. 2. penurunan masukan oral. Kebutuhan aktualisasi diri 2.3 Rencana Keperawatan Diagnosa 1 : Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik Tujuan : Kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi dalam 1x24 jam Kriteria Hasil : Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh: .nadi perifer dapat diraba . Kurang pengetahuan tentang penyakit. 3. 18 . Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik. 6.2 Diagnosa keperawatan Berdasarkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori.kadar elektrolit dalam batas normal.tanda vital stabil .haluaran urin tepat secara individu . Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. 5.turgor kulit dan pengisian kapiler baik . Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer) 4. prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajanan/mengingat.10. maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien diabetes mellitus yaitu : 1. kesalahan interpretasi informasi.10. 2.

penurunan masukan oral. dan membran mukosa. Rasional: Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual. 2) Kaji nadi perifer. turgor kulit. 4) Timbang berat badan setiap hari. Rasional: Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik. catat berat jenis urine. Diagnosa 2 : Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin. atau volume sirkulasi yang adekuat. Rasional: Hypovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.Intervensi : 1) Pantau tanda-tanda vital. 2) Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi 19 . Rasional: Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi. Tujuan Kriteria Hasil : Kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi : Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya Intervensi : 1) Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien. 3) Pantau masukan dan keluaran. dan keefektifan dari terapi yang diberikan. fungsi ginjal. Rasional: Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti. 5) Kolaborasi dengan tenaga medis dalam memberikan terapi cairan sesuai indikasi. pengisian kapiler. Rasional: Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti.

Rasional: ahli gizi akan membantu menentukan diet yang sesuai untuk pasien makanan yang disukai/dikehendaki termasuk kebutuhan Diagnosa 3 : Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer) Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan. Kriteria Hasil : Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi Intervensi : 1) Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan. kerjasama ini dapat diupayakan setelah pulang. 5) Berikan health education tentang pentingnya menjaga pola makan sesuai dengan ketentuan. 20 . Rasional: Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat membantu memindahkan glukosa ke dalam sel. Rasional: Jika makanan yang disukai pasien dapat dimasukkan dalam perencanaan makan. memberikan informasi pada keluarga untuk memahami nutrisi pasien. Rasional: Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya. Rasional: agar pasien mengetahui diet apa yang aman bagin pasien. 4) Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi.Rasional: Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorbsi dan utilisasinya). Rasional: Meningkatkan rasa keterlibatannya. 7) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet. hingga nantinya dapat membantu dalam proses penyembuhan 6) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian insulin secara teratur sesuai indikasi. 3) Identifikasi etnik/kultural.

pemeriksaan kultur pus pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. Jika klien berhasil mengatasi diabetes yang dideritanya maka ia akan terhindar dari hiperglikemia dan hipoglikemia. Rasional: merawat luka dengan teknik aseptik. (2) diet dan (3) intervensi farmakologi dengan preparat hipoglikemik oral atau insulin.10.5 Evaluasi Evaluasi dilakukan dengan mengacu pada tujuan dan criteria evaluasi yang telah ditentukan. pemeriksaan kadar gula darah untuk mengetahui perkembangan penyakit. Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah.2) Rawat luka dengan baik dan benar. 2. 5) Pemeliharaan kesejahteraan psikososial. 3) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin. Penatalaksanaan diabetes tergantung pada ketepatan interaksi dari ketiga faktor: (1) aktivitas fisik.4 Implementasi Tujuan utama penatalaksanaan klien DM adalah untuk mengatur glukosa darah dan mencegah timbulnya kompikasi akut dan kronis. 3) Pencegahan manifestasi hiperglikemia. pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan. sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi. 21 . 6) Pencegahan hipoglikemia. 4) Pemeliharaan toleransi latihan. dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul. 2. Tujuan awal untuk klien yang baru didiagnosa diabetes atau klien dengan kontrol buruk diabetes harus difokuskan pada yang berikut ini : 1) Eliminasi ketosis (Jika ada) 2) Pencapaian berat badan yang diiinginkan.10.

tingginya glukosa dalam urin membuat penderita banyak kencing (polyuria). lemas. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya. berat badan menurun. kadar glukosa yang tinggi di dalam darah akan dikeluarkan lewat urin. Kadar glukosa darah puasa. Glukosa yang tidak dapat dimanfaatkan oleh sel hanya terakumulasi di dalam darah dan beredar ke seluruh tubuh. dan Tes toleransi glukosa. Glukosa dalam darah jadi mubazir karena tidak bisa dimasukkan ke dalam sel – sel tubuh. yaitu IDDM (Insulin – Dependent Diabetes Mellitus)/ DM Type I. tenaga kurang. dan Diabetes mellitus gestasional (GDM).1 Kesimpulan Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglikemia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama. polidipsi (banyak minum). 22 . NIDDM (Non Insulin–Dependent Diabetes Mellitus)/ DM Type II. walaupun jumlah insulin sendiri normal bahkan mungkin berlebihan akibat kurangnya jumlah atau daya kerja insulin. dan mata kabur. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penyakit DM adalah Glukosa darah sewaktu. stress. Klasifikasi Diabetes Mellitus ada 4. Menurut banyak ahli beberapa faktor yang sering dianggap sebagai penyebab DM yaitu faktor genetic dan Faktor non genetic. DM terjadi akibat produksi insulin tubuh kurang jumlahnya atau kurang daya kerjanya. Gejala yang lazim terjadi pada diabetes mellitus adalah poliuri (banyak kencing). akibatnya muncul gejala kehausan dan keinginan minum yang terus – menerus (polydipsi) dan gejala banyak makan (polypasia). Yang termasuk factor non genetic adalah infeksi. dan hormonal. Gula yang tidak dikonvensi berhamburan di dalam darah. nutrisi.BAB 3 PENUTUP 3. mempunyai karakteristik hyperglikemia kronis tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (WHO). polipagi (banyak makan). walaupun kadar glukosa dalam darah cukup tinggi. lekas lelah.

Dan untuk terapi farmakologisnya yaitu Obat Hipoglikemik Oral (OHO) dan Terapi Sulih Insulin. dan pendidikan. karena juga mempunyai resiko untuk menderita DM juga. pemakalah menyarankan kepada para pembaca untuk selalu menjaga pola makannya agar dapat terhindar dari bahaya penyakit DM. yaitu diet. Dan bagi orang-orang yang pempunyai riwayat penyakit keluarga dengan DM juga harus tetap berhati-hati dan dutin mengecek. terapi (jika diperlukan). dan kerusakan sistem saraf.2 Saran Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit degeneratif yang memerlukan upaya penanganan yang tepat dan serius karena dapat menimbulkan komplikasi seperti: penyakit jantung.Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes. latihan. Masalah yang selalu timbul pada penderita DM adalah cara mempertahankan kadar glukosa darah penderita supaya tetap dalam keadaan terkontrol. pemantauan. gagal ginjal. Oleh karena itu. 3. 23 .

M (2000). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. 24 . jilid 1. A. Suyono. Jakarta. Jakarta Capernito. B. Tjokroprawiro. ed. bagian 2. Yayasan Essentia Medica dan Andi Offset. Pendekatan Proses Keperawatan. L. (1995).ed. M dan Whelean. A. EGC. (1985). EGC. A. FKUI. Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumnetasian. E. S. Yogyakarta. E (2001). 3. J. 3. ed. EGC. Price. J. dan Mc. FK UNAIR.Pustaka Utama. Bandung. Diabetes Up Date. Jakarta. 2. Soetmadji. Pedoman dan Pengobatan. alih bahasa Yasmin Asih. C. W. Pankreas dan Diabetes Melitus. Jakarta. Surabaya. DJ. ed. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit. Long. (1997). Tjokroprawiro. 6. Corwin. (1997). Penyakit Dalam. (1998). Hidup Sehat dan Bahagia Bersama Diabetes. EGC.FK UNAIR. Woodly. W. Doenges. L. S. Surabaya. (1996).DAFTAR PUSTAKA Anderson. Diabetes Up Date. alih bahasa Yayasan Ikatan Alumni Pnedidikan Keperawatan Bandung. (2001). (1996). Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful