P. 1
Referat Test Kalori Revisi.docx

Referat Test Kalori Revisi.docx

|Views: 132|Likes:
Published by radendibyo

More info:

Published by: radendibyo on Oct 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/18/2012

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Menurut Ann Thomson, keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan tubuh dalam posisi kesetimbangan maupun dalam keadaan statik atau dinamik, serta menggunakan aktivitas otot yang minimal. Sistem keseimbangan merupakan kelompok organ yang selalu bekerja sama dalam mempertahankan tubuh dan keseimbangan baik dalam keadaan statis (diam) maupun dinamis (bergerak). Secara anatomi sistem keseimbangan terdiri dari sistem vestibuler, visual (penglihatan) dan propioseptif (somatosensorik). Sistem vestibuler dibagi menjadi dua yaitu vestibuler perifer dan sentral. Sistem vestibuler perifer terdiri dari organ vestibuler yang terdapat di telinga dalam, nervus vestibularis (N VIII) dan ganglion vestibularis. Sedangkan sistem vestibuler sentral terdiri dari nukleus vestibularis di batang otak, serebelum, talamus dan korteks serebri. Jika sistem keseimbangan kita (vestibuler, visual dan propioseptik) terserang suatu penyakit atau gangguan dan tubuh tidak bisa menanggulanginya (melakukan kompensasi) maka terjadilah gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan dapat diakibatkan oleh gangguan yang mempengaruhi vestibular pathway, serebelum atau sensory pathway pada medula spinalis atau nervus perifer. Orang yang mengalami gangguan keseimbangan dapat mengeluh pusing berputar/pusing tujuh keliling (vertigo), rasa mau jatuh/goyang/sempoyongan (disequilibrium), rasa tidak nyaman di kepala (mumet/dizziness), rasa ringan di kepala/rasa mau pingsan (sinkope). Seringkali keluhan gangguan keseimbangan disertai oleh gejala otonom seperti rasa berdebardebar, keringat dingin, rasa cemas, rasa tidak nyaman di daerah perut, mual sampai muntah. Gejala otonom terjadi terutama bila disebabkan oleh gangguan pada sistem keseimbangan yang terdapat di telinga dalam (perifer). Kenyataan dalam sehari-hari penderita yang mengeluh pusing kepala, sering datang bukan ke dokter ahli THT. Padahal sebagian besar ganggguan keseimbangan (kurang-lebih 80 %) disebabkan oleh kelainan pada sistem keseimbangan yang berada di telinga dalam. Apalagi bila gangguan keseimbangan tersebut disertai gejala gangguan pendengaran dan telinga berbunyi.

Pemeriksaan fisik diarahkan ke kemungkinan penyebab sistemik; tekanan darahdiukur dalam posisi berbaring,duduk dan berdiri; bising karotis, irama (denyut jantung) dan pulsasi nadi perifer juga perlu diperiksa. Pemeriksaan neurologis dilakukan dengan perhatian khusus pada Fungsi vestibuler/serebeler (Uji Romberg, babinsky weil). Pemeriksaan tandem gait, uji unterbreger, past ponting test, uji vestibuler (uji Dix hallpike, Test kalori,

fungsi

Elektronistagmus).

Derivat vesikel otika ini membentuk suatu rongga tertutup yaitu labirin membran yang berisi endolimfe. yang terdiri dari bagian vestibuler (kanalis semisirkularis. Dimana secara anatomi fungsi keseimbangan pada telinga bagian dalam berada di tulang labirin. sacculus) dan bagian koklea. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Labirin membran dikelilingi oleh cairan perilimfe (tinggi natrium rendah kalium) yang terdapat dalam kapsul otika bertulang. Menutupi selsel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengan dung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar . satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah natrium. utriculus.BAB I ANATOMI ORGAN KESEIMBANGAN (TELINGA) A. Organ Keseimbangan pada Telinga Seperti yang telah kita ketahui bahwa telinga merupakan salah satu organ keseimbangan disamping dipengaruhi mata dan alat perasa pada tendon dalam.

Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang sel reseptor.daripada endolimfe. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Sel-sel bipolar dari ganglion vestibularis. Karena pengaruh gravitasi.sel rambut menonjol pada pada suatu kupula gelatinosa. Masing-masing kanalis mempunyai suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Nuklei ke-2 dari Nucleus vestibularis lateralis (inti Deiters) keluar serabut-serabut yang menuju formatio retikularis. ke inti-inti motorik saraf otak ke III. ke Nuclei Ruber dan sebagai tractus vestibulospinalis di dalam batang depan dari medulla spinalis. B. neuron ke-1. maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor. IV dan V (melalui Fasciculus longitudinalis medialis). Sel. saculus dan kanalis semisirkularis membentuk suatu ganglion vestibularis. Jalur keseimbangan terbagi 2 neuron. Vestibularis dari N. Nucleus vestibularis superior (inti Bechterew) mengirimkan antara lain serabut-serabut untuk otak kecil. Persarafan Jalur persarafan yang dilalui dimulai dari nervus-nervus dari utriculus. . Neurit-neurit membentuk N. Vestibulocochlearis pada dasar liang pendengaran dalam dan menuju nuklei vestibularis. Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui suatu duktus yang sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Dari Nuclei vestibularis medialis (inti Schwable) dan Nucleus vestibularis inferior (inti Roller) muncul bagian-bagian tractus vestibulospinal dan hubungan-hubungan ke arah formatio retikularis.

Apparatus Vestibularis Selain perannya dalam pendengaran yang bergantung pada koklea. dan masing-masing kanalis dari satu telinga terletak hampir pada bidang .BAB II FISIOLOGI KESEIMBANGAN A. reseptor vestibularis juga dapat mengalami depolarisasi atau hiperpolarisasi. Seperti sel – sel rambut auditorius. Apartus vestibularis mendeteksi perubahan posisi dan gerakan kepala. tergantung pada arah gerakan cairan. Ketiga kanalis ini hampir tegak lurus satu dengan lainnya. Sel. (utrikulus dan sarkulus). berjungkir balik. Pada kanalis semisirkularis polarisasi sama pada seluruh sel rambut pada tiap kanalis dan pada rotasi sel-sel dapat tereksitasi dan terinhibisi. Juga. Kupula bergoyang sesuai arah gerakan cairan seperti gangang laut yang mengikuti arah gelombang air. Namun tidak seperti sistem pendengaran sebagian besar informasi yang dihasilkan oleh sistem vestibularis tidak mencapai tingkat kesadaran. komponen vestibuler masing – masing mengandung sel rambut yang berespon terhadap perubahan bentuk mekanis yang dicetuskan oleh gerakan – gerakan spesifik endolimfe. Aparatus vestibularis terdiri dari dua set struktur yang terletak di dalam tulang temporalis di dekat koklea. atau memutar kepala. Tiap – tiap telinga memiliki 3 kanalis semisirkularis yang secara tiga dimensi tersusun dalam bidang –bidang yang tegak lurus satu sama lain. yang memberikan informasi yang penting untuk sensasi keseimbangan dan untuk koordinasi gerakan – gerakan kepala dengan gerakan – gerakan mata dan postur tubuh. yaitu aparatus vestibularis. misalnya ketika memulai atau berhenti berputar. serupa dengan organ korti. Rambut – rambut terbenam dalam suatu lapisan gelatinosa seperti topi diatasnya yaitu kupula yang menonjol kedalam endolimfe di dalam ampula. Seperti di koklea. semua komponen aparatus vestibularis mengandung endolimfe dan dikelilingi oleh perilimfe. telinga dalam memiliki komponen khusus lain.sel rambut reseptif di setiap kanalis semisirkularis terletak di atas suatu bubungan (ridge) yang terletak di ampula -suatu pembesaran dipangkal kanalis-.kanalis semisirkularis dan organ otolit. Kanalis semisirkularis mendeteksi akselerasi atau deselerasi anguler atau rotasional kepala.

Namun tentunya dalam mencapai suatu kecepatan tertentu harus ada akselerasi. Dengan demikian. Bila ini dilakukan pada ruangan gelap maka subjek akan merasa bahwa ia berputar ke kiri. Namun cairan didalam kanalis yang tidak melekat ke tengkorak mula – mula tidak ikut bergerak sesuai arah rotasi. Keterlambatan ini disebabkan oleh pengolahan SSP dan inersia kupula serta viskositas endolimfe yang menyebabkan kupula tertinggal dibelakang perubahan sudut kepala. Jika rotasi pada bidang vertikal misalnya rotasi kedepan maka kanalis anterior kiri dan kanan kedua sisi akan tereksitasi sementara kanalis posterior akan terinhibisi. Sebagai contoh adalah efek dari penghentian mendadak setelah suatu rotasi ke kanan searah jarum jam. dan dipengaruhi akselerasi ini akan terus berkurang hingga nol setelah beberapa saat hingga beberapa menit. setelah kupula kembali pada posisi istirahat subjek akan merasa berhenti berputar. tetapi tertinggal di belakang karena adanya inersia (kelembaman). Ketika kepala mulai bergerak saluran tulang dan bubungan sel rambut yang terbenam dalam kupula bergerak mengikuti gerakan kepala. Perlambatan menuju kecepatan nol ini ekuivalen dengan percepatan arah yang berlawanan searah jarum jam. paling tidak disalahsatu kanalis semisirkularis karena susanan tiga dimensi kanalis tersebut. serabut aferen dari kanalis kiri aka tereksitasi sedangkan serabut yang kanan terinhibisi. Perlu diperhatikan bahwa percepatan sudut merupakan rangsangan yang adekuat untuk serabut aferen kanalis semisirkularis. Apabila gerakan kepala berlanjut dalam arah dan gerakan yang sama.yang sama dengan kanalis telinga satunya. Gerakan cairan ini menyebabkan kupula condong kearah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala. endolimfe . Pada waktu rotasi salah satu dari pasangan kanalis akan tereksitasi sementara satunya akan terinhibisi. posterior kiri –anterior kanan. Akselerasi (percepatan) atau deselerasi (perlambatan) selama rotasi kepala ke segala arah menyebabkan pergerakan endolimfe. horisontal kiri-horisontal kanan. endolimfe yang terletak sebidang dengan gerakan kepala pada dasarnya bergeser dengan arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala. membengkokan rambut – rambut sensorik yang terbenam di bawahnya. Misalnya bila kepala pada posisi lurus normal dan terdapat percepatan dalam bidang horisontal yang menimbulkan rotasike kanan maka serabu-serabut aferen dari kanalis horisontal kanan akan tereksitasi sementara serabut serabut yang kiriakan terinhibisi. Suatu kecepatan rotasi yang konstan tidak akan mengeksitasi serabut-serabut tersebut. anterior kiri-posterior kanan. ketika endolimfe tertinggal saat kepala mulai berputar. Dengan demikian terdapat tiga pasang kanalis.

sebaliknya. kinosilium.akan menyusul dan bergerak bersama kepala.sel – sel rambut membentuk sinaps zat perantara kimiawi dengan ujung – ujung terminal neuron aferen yang akson – aksonnya menyatu dengan akson struktur vestibularis lain untuk membentuk saraf vestibularis. Pada saat endolimfe secara bertahap berhenti. yang gerakannya menyebabkan perubahan posisi rambut serta menimbulkan perubahan potensial di sel rambut. Akibatnya kupula dan rambut. pembengkokan kearah yang berlawanan menyebabkan hiperpolarisasi sel. Endolimfe secara singkat melanjutkan diri bergerak searah dengan rotasi kepala. Terdapat banyak kristal halus kalsium karbonat–otolit (batu telinga) yang terbenam dalam lapisan gelatinosa. Ketika kepala melambat dan berhenti. sementara kepala melambat untuk berhenti.rambutnya secara sementara membengkok sesuai dengan arah rotasi semula. rambut – rambut kembali tegak.saraf ini bersatu dengan saraf auditorius dari koklea untuk membentuk saraf vestibulo koklearis. ketika sel – sel rambut mengalami hiperpolarisasi. Rambut – rambut pada sel rambut vestibularis terdiri dari 20 -50 stereosilia yaitu mikrofilus yang diperkuat oleh aktin dan satu silium. Dengan demikian. Secara morfologi sel rambut pada kanalis sangat serupa dengan sel rambut pada organ otolit. Depolarisasi sel rambut meningkatkan kecepatan pembentukan potensial aksi diserat – serat aferen. kanalis semisirkularis mendeteksi perubahan kecepatan gerakan rotasi kepala. Utrikulus dan sarkulus adalah struktur seperti kantung yang terletak di dalam rongga tulang yang terdapat diantara kanalis semisirkularis dan koklea. Sementara kanalis semisirkularis memberikan informasi mengenai perubahan rotasional gerakan kepala kepada SSP. frekuensi potensial aksi diserat aferen menurun. sehingga rambut – rambut kembali ke posisi tegak mereka. Kanalis tidak berespon jika kepala tidak bergerak atau ketika bergerak secara sirkuler dengan kecepatan tetap. yaitu berlawana dengan arah mereka membengkok ketika akselerasi. sehingga sel tersebut mengalami depolarisasi ketika stereosilianya membengkok kearah kinosilium. Rambut–rambut pada sel–sel rambut reseptif di organ–organ ini juga menonjol kedalam suatu lembar gelatinosa diatasnya. sehingga lapisan tersebut lebih berat dan lebih . Setiap sel rambut berorientasi sedemikian rupa. keadaan yang sebaliknya terjadi. organ otolit memberikan informasi mengenai posisi kepala relatif terhadap gravitasi dan mendeteksi perubahan dalam kecepatan gerakan liniear (bergerak dalam garis lurus tanpa memandang arah).

dalam arah yang berlawanan dengan arah gerakan kepala . bagian atas membran otolit yang berat mula – mula tertinggal di belakang endolimfe dan sel – sel rambut karena inersianya yang lebih besar.lembam (inert) daripada cairan di sekitarnya. rambut –rambut membengkok sesuai dengan arah gerakan kepala karena gaya gravitasi yang mendesak bagian atas lapisan gelatinosa yang berat. Masa gelatinosa yang mengandung otolit berubah posisi dan membengkokan rambut–rambut dalam dua cara : 1. Ketika seseorang mulai berjalan kedepan. Ketika kepala digerakkan ke segala arah selain vertikal (yaitu selain tegak dan menunduk ). kebelakang. Dengan demikian SSP menerima pola – pola aktivitas saraf yang berlainan tergantung pada posisi kepala dalam kaitannya dengan gravitasi ) 2. rambut-rambut di dalam utikulus berorientasi secara vertikal dan rambut-rambut sarkulus berjajar secara horizontal. Dengan demikian rambut – rambut menekuk kebelakang. sebagian berkas sel rambut diorientasikan untuk mengalami depolarisasi dan sebagian lagi mengalami hiperpolarisasi ketika kepala berada dalam segala posisi selain tegak lurus. atau kesamping ). Rambut – rambut utrikulus juga berubah posisi akibat setiap perubahan dalam gerakan linier horizontal ( misalnya bergerak lurus kedepan. Ketika seseorang berada dalam posisi tegak. Di dalam utrikulus tiap – tiap telinga.

2. dan otot. sehingga mata tetap terfikasasi ke titik yang sama walaupun kepala bergerak. mengontrol otot mata eksternal. satu kelompok badan sel saraf di batang otak. mata. membengkokan rambut –rambut kearah depan. Denga demikian sel – sel rambut utrikulus mendeteksi akselerasi atau deselerasi linier horizontal. mempersepsikan gerakan dan orientasi. dan ke sereberum. . kecuali bahwa ia berespon secara selektif terhadap kemiringan kepala menjauhi posisi horizontal ( misalnya bangun dari tempat tidur ) dan terhadap akselerasi atau deselerasi liner vertikal ( misalnya meloncat – loncat atau berada dalam elevator ). tetapi tidak memberikan informasi mengenai gerakan lurus yang berjalan konstan. lapisan otolit secara singkat terus bergerak kedepan ketika kepala melambat dan berhenti. dan 3. sendi. untuk : 1.yang kedepan. Jika kecepatan berjalan di pertahankan lapisan gelatinosa segera “menyusul” dan bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kepala sehingga rambut – rambut tidak lagi menekuk. mempertahankan keseimbangan dan postur yang diinginkan. Sarkulus mempunyai fungsi serupa dengan utrikulus.di sini informasi vestibuler diintegrasikan dengan masukan dari permukaan kulit. Ketika orang tersebut berhenti berjalan. Sinyal – sinyal yang berasal dari berbagai komponen apartus vestibularis dibawa melalui saraf vestibulokoklearis ke nukleus vestibularis.

Selanjutnya neuron vestibularis menuju ke bagian lain dari otak. terutama m. Abducens. Peranan Serebellum Serebellum. Komponen cepat berfungsi untuk kembali mengarahkan tatapan ke bagian lain dari lapangan pandangan. RVO diaktifkan oleh sistem vestibular di telinga dalam. Komponen lambat mengkompensasi gerakan kepala dan berfungsi menstabilkan suatu bayangan pada retina. Jalur yang kedua berasal dari nukleus abducens menuju nuklei oculomotor melalui fasiculus longitudinal medial. yang terdiri dari sekumpulan motorneuron yang berperan pada aktifitas otot gerak mata. Jalur yang pertama adalah langsung menuju ke m. serebelum dan lainnya.yang melekat di belakang bagian atas batang otak. Serebelum terdiri dari tiga bagian yang secara fungsional berbeda. di saat kanalis semisircularis dirangsang dan diaktifkan oleh gerakan kepala yang berputar. rectus medial yang dipersarafi N III (Oculomotorius). Refleks Vestibulo-okularis Hubungan-hubungan langsung inti vestibularis dengan motoneuron ekstraokular merupakan suatu jaras yang penting dalam mengendalikan gerakan mata dan reflek vestibulo-okularis (RVO). Dari nuklei ini. Perubahan arah gerakan mata selama rangsang vestibularis merupakan suatu contoh dari nistagmus normal. refleks ini bahkan bekerja saat berada dalam kegelapan total. VIII) melintasi ganglion Scarpa dan berakhir pada nuklei vestibularis di batang otak. Respon terhadap RVO adalah gerakan mata yang terdiri dari dua komponen yaitu komponen ’lambat’. sebagian langsung menuju motoneuron yang mensarafi otot-otot ekstraokular dan motoneuron spinalis yang lain menju formatia retikularis batang otak. C. yang berlawanan arah dengan putaran kepala dan suatu komponen ’cepat’ yang searah dengan putaran kepala. RVO tidak bergantung pada input visual semata.Reflek vestibularis berjalan menuju SSP dan bersinap pada neuron inti vestibularis di batang otak. rectus lateral melalui N. RVO adalah suatu refleks pada organ pengelihatan yang berfungsi untuk menstabilkan bayangan pada retina selama kepala bergerak dengan memproduksi sebuah gerakan mata yang berlawanan dengan gerakan kepala. yang akan mempertahankan bayangan tetap pada pusat bidang visual. Bagian- . terletak di bawah korteks lobus oksipitalis. maka terjadi pengiriman sinyal melalui nervus vestibularis (N. B. serat-serat saraf akan menyilang menuju nucleus N VI (Abducens) kontralateral dimana serat-serat saraf ini akan bersinaps dengan dengan 2 jalur tambahan.

yaitu : 1. Vestibuloserebellum penting untuk untuk mempertahankan keseimbangan dan mengontrol gerak mata. nistagmus. antara lain adalah gangguan keseimbangan. 2. Berbagai gejala yang menandai penyakit serebelum semuanya dapat dikaitkan dengan hilangnya fungsi-fungsi tersebut. Serebroserebelum berperan dalam perencanaan dan inisiasi aktifitas volunter dengan memberikan masukan ke daerah-daerah korteks motorik. 3. penurunan tonus otot tetapi tanpa paralisis. Spinoserebelum mengatur tonus otot dan gerakan volunter yang terampil dan terkoordinasi. .bagian ini memiliki serangkaian masukan dan keluaran sehingga memiliki fungsi yang berbeda-beda. Bagian ini juga merupakan daerah serebelum yang terlibat dalam ingatan prosedural.

Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik. masukan visual dan vestibularis. misalnya pengujian sepasang kanalis semisirkularis atau organ otolit pada saat rotasi seluruh badan dalam ruangan gelap. Pada dua kondisi terakhir. mula-mula dengan kedua mata terbuka kemudian tertutup. Pemeriksaan fungsi keseimbangan dapat dilakukan mulai dari pemeriksaan yang sederhana yaitu uji Romberg dan uji berjalan (Stepping test) sampai dengan pemeriksaan secara obyektif yaitu dengan posturografi dan ENG (elektronistagmografi). yang semuanya dapat terjadi dengan perubahan postur tubuh atau kepala. Pemeriksaan fungsi keseimbangan dapat dilakukan mulai dari pemeriksaan yang sederhana terlebih dahulu. Pada beberapa uji vestibularis perlu pencegahan fiksasi visual dan rangsang optokinetik (gerakan penglihatan sekeliling relatif terhadap subyek). atau meminta subyek mengenakan kacamata +20 dioptri (kacamata Frenzel). Untuk tujuan ini. gerakan terhadap target visual. Beberapa uji dirancang untuk merangsang suatu organ akhir khusus. Ini dapat dilakukan dengan memeriksa gerakan mata spontan dalam keadaan terang dan gelap. gangguan RVO dapat dikurangi . Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya . terdapat pula uji untuk menentukan di mana letak permasalahan. jika tidak.Untuk itu. atau dengan mata tertutup. pemeriksaan-pemeriksaan tersebut antara lain: 1. saccade dan pursuit tracking. rangsangan dapat diberikan dalam ruangan yang sangat gelap. dilakukan pengukuran gerakan mata (respon RVO). Pada berbagai uji fungsi vestibularis. kondisi optimum adalah kegelapan total dengan mata terbuka.BAB III PEMERIKSAAN FUNGSI KESEIMBANGAN Sejumlah uji klinis dapat dilakukan untuk menentukan apakah sistem vestibularis berfungsi normal atau tidak. Uji Romberg Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan. sebelumnya perlu dilakukan evaluasi sistem okulomotorik. Uji yang lain dirancang untuk melihat interaksi antara beberapa masukan sensorik seperti propioseptif otot.

kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Tes Unterberger Berdiri dengan kedua lengan lurus horisontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit. kedua tangan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. 5.Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. Pada kelainan vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah kemudian kembali lagi.dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Sedangkan pada kelainan serebeler badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka maupun pada mata tertutup. penderita disuruh mengangkat lengannya ke atas. tentang gangguan keseimbangan karena gangguan vestibuler. Dengan tes ini dapat ditentukan adanya kanal paresis atau directional . Uji Berjalan (Stepping Test) Berjalan di tempat 50 langkah. Rangsangan Kalori (Uji Kalori) Rangsangan kalori adalah suatu tes yang menggunakan perbedaan temperatur untuk mendiagnosa adanya kerusakan saraf ke delapan yang menyebabkan vertigo.Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang atau berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram. 3. bila tempat berubah melebihi jarak 1 meter dan badan berputar lebih dari 30 derajat berarti sudah terdapat gangguan. pada mata terbuka badan penderita tetap tegak.Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. kepala dan badan berputar ke arah lesi. 4. maka input visual diganggu dengan menutup mata dan input proprioseptif dihilangkan dengan berdiri di atas tumpuan yang tidak stabil. 2.Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi. Past-pointing test (Uji Tunjuk Barany) Dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan.

Tes ini terdiri dari dua cara. Test Nistagmus Spontan Nylen memberikan kriteria dalam menentukan kuatnya nistagmus ini. Nistagmus yang terjadi dicatat masa laten. Pada kelainan sentral sebaliknya. maka kekuatannya disebut Nylen 3. maka disebut Nylen 2.Kursi khusus ini dikenal dengan kursi Barany.Bila nistagmus timbul sewaktu mata melihat ke depan. tidak ada kelelahan dan vertigo ringan saja. dan setelah itu kepala diputar ke kanan. Pada kelainan perifer akan ditemukan masa laten dan terdapat kelelahan dan vertigo biasanya tersasa berat. yaitu tes kalori cara Kobrak dan tes kalori bitermal. dan intensitasnya. 8. maka kekuatan nistagmus itu sama dengan Nylen 1. maka kanalis horisontalis dapat dirangsang secara maksimum. terutama pada posisi akhir. lalu kepala diputar ke kiri.Rotasi dilakukan dengan mata tertutup.Bila nistagmus spontan ini hanya timbul ketika mata melirik searah dengan nistagmusnya. Tes posisi ini dilakukan berkali-kali dan diperhatikan ada tidaknya kelelahan. Caranya adalah.preponderance ke kiri atau ke kanan. Juga ditanyakan kekuatan vertigonya secara subyektif. dalam satu arah dengan percepatan konstan . 7. mula-mula pasien duduk. 6. yaitu tidak ada masa laten. Pada setiap posisi nistagmus diperhatikan.Bila subyek duduk tegak dengan memiringkan kepala 30º ke bawah. yang khusus dibuatuntuk tes ini.Gerakan leher dicegah sehingga rotasi akan menggerakkan tubuh dan kepala bersamaan. dan bila nistagmus tetap ada meskipun mata melirik berlawanan arah nistagmus. Test Rotasi Penderita didudukkan di atas kursi yang diletakkan pada pusat aksis rotasi dari suatu motor torque dan mempunyai perlengkapan untuk menjaga kepala dan kaki. Dengan tes posisi ini dapat diketahui kelainan sentral atau perifer. Test Nistagmus Posisi Tes nistagmus posisi ini dianjurkan oleh Hallpike dan cara ini disebut Perasat Hallpike. kemudian tidur terlentang sampai kepala menggantung di pinggir meja periksa.

3. fixed surface. Ada 3 macam tes posturografi yaitu. sway referenced surface and visual surround. vestibuler dan proprioseptif.Untuk percepatan konstan dilakukan pengukuran amplitudo dan lamanya respon. sedangkan untuk rotasi sinusoid diukur fase serta hasil yang didapat. sway referenced visual surround. Eyes closed. fixed visual surround. Eyes closed. fixed surface and visual surround. Motor Control Test (MCT) Mengukur kemampuan pasien untuk secara cepat dan otomatis pulih dari provokasi eksternal yang tidak terduga. sway referenced surface. 4. Eyes open. Eyes open. Eyes open. 2. a. Sensory Organization Test (SOT) Secara obyektif mengidentifikasikan problem pengontrolan posisi dengan mengukur kemampuan pasien untuk mengefektifkan informasi penglihatan. Eyes open. .undip 9. maka input visual diganggu dengan menutup mata dan input proprioseptif dihilangkan dengan berdiri di atas tumpuan yang tidak stabil. sway referenced surface. dan pada orang normal akan hilang kurang lebih 25 sampai 35-40 detik. 1. 5.dalam waktu singkat (mis. b.Pada tes ini dicatat waktu dalam detik.undip&boies Pada akhir putaran (rotasi) dihentikan mendadak dan penderita langsung disuruh melihat jari pemeriksa yang dilakukan di depan penderita dan terhadap telinga yang diperiksa. 6. Untuk mendapatkan gambaran yang benar tentang gangguan keseimbangan karena gangguan vestibuler. Sinusoid). 20 detik) atau secara osilatorik (mis. lama pasca nistagmus. Posturografi Alat pemeriksaan keseimbangan dapat menilai secara obyektif dan kuantitatif kemampuan keseimbangan postural seseorang. fixed surface.

. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menetukan apakah gangguan keseimbangan tersebut disebabkan oleh penyakit di telinga dalam atau tidak. Tes kalibrasi berguna untuk mengevaluasi rapid eye movements. 3. Sebagai contoh. Elektronigtagmogram Pemeriksaan ini hanya dilakukan di rumah sakit. 10. ENG juga berguna untuk mendiagnosis BPPV dan gangguan keseimbangan bilateral. Tes posisi mengukur nistagmus yang diukurposisikepala.c. Tes Adaptasi Mengukur kemapuan pasien untuk memodifikasi reaksi motorik. 4. Tracking test mengevaluasi pergerakan dari mata selama mengikuti gerakan dari benda target. Tes ENG merupakan gold standar untuk mendiagnosis gangguan telinga yang mengenai satu telinga pada suatu waktu. 2. dengan tujuan untuk merekam gerakan mata pada nistagmus. dengan demikian nistagmus tersebut dapat dianalisis secara kuantitatif. Tes kalori mengukur respon terhadap air panas dan dingin yang dimasukkan ke dalam liang telinga. Ada empat bagian utama tes dari elektronistagmografi: 1. ENG sangat bagus untuk mendiagnosis vestibular neuritis.

Pertama kali dicetuskan oleh Robert Barany pada tahun 1906 yang membuatnya meraih Nobel pada 1917. . Respon yang dihasilkan oleh uji kalori ini berhubungan dengan sistem saraf pusat. pasien dibaringkan sedemikian rupa sehingga kepala pasien membentuk sudut 300. yang berguna untuk membuat kanalis semisircularis horizontal dalam posisi tegak lurus dengan permukaan tanah/lantai. Fitzgerald dan Hallpike meyempurnakannya sehingga dapat diterima secara luas di kalangan praktisi. Fungsi Uji Kalori Uji kalori berfungsi untuk menilai dan merekam fungsi labirin secara terpisah. Sejarah Uji kalori adalah suatu pemeriksaan untuk menguji fungsi keseimbangan. Untuk melakukan uji ini. hingga membuat uji ini sangat penting untuk menentukan apakah gangguan keseimbangan yang terjadi berasal dari sentral atau perifer.BAB IV UJI KALORI A. Patomekanisme Test Kalori adalah suatu percobaan yang dilakukan untuk mengevaluasi fungsi dari kanalis semisircularis horizontal. Beberapa metode stimulasi digunakan untuk mengubah temperature dari kanalis auditoris eksternal. B. Kemudian pada tahun 1942. Test ini didasari atas suatu prinsip bahwa perubahan temperature pada kanalis auditiva eksterna akan ditransmisikan ke kanalis semisirkularis sehingga terjadi perubahan pada densitas endolymph di kanalis semisirkularis horizontal yang secara anatomi lebih dekat ke liang telinga. sehingga membuat pemeriksa menjadi lebih mudah menentukan sisi yang mengalami lesi. Perubahan tadi akan menyebabkan terjadinya aliran dari endolymph dan perubahan posisi kupula. C.

Penggunaan air yang lebih dingin dari suhu tubuh akan menyebabkan terjadinya aliran ampullofugal. 1. serta menginhibisi ambang letup pada sel-sel rambut. Jenis-jenis Test Kalori Test kalori yang biasa dipraktekkan di klinik saat ini terdiri dari dua cara. Test Kobrak Digunakan spuit 5 atau 10 mL. Sebagai akibatnya terjadi transfer panas dari telinga dalam yang menimbulkan suatu arus konveksi dalam endolimfe. Hal ini sering disingkat sebagai COWS (Cold Opposite Warm Same). akan menyebabkan aliran ampullopetal. Suatu cairan dingin yang dialirkan ke liang telinga kanan akan menimbulkan nistagmus dengan fase lambat ke kanan. Aliran ini menjauhkan kinocilium dari utrikulus. dan rangsangan serabut-serabut aferennya. perangsangan dengan air dingin akan menghasilkan deviasi mata ke arah telinga yang dialiri dan mencetuskan nistagmus untuk mengkoreksi arah bola mata ke arah yang berlawanan. Harga normal 120-150 detik. D. dimana endolymph akan mengalir di dalam kanal menuju ke ampulla.Hal ini menyebabkan defleksi kupula dalam kanalis yang sebanding dengan gravitasi. dan yang kedua yaitu dengan test kalori bitermal. . Penggunaan air yang lebih hangat dari suhu tubuh. sejak air mulai dialirkan sampai nistagmus berhenti. dan mencetuskan nystagmus ke arah yang berlawanan. Perangsangan sel-sel rambut pada percobaan dengan air hangat tadi akan menstimulasi nucleus N III ipsilateral dan N VI kontralateral. Nilai dihitung dengan mengukur lama nistagmus. Kecepatan maksimum dari komponen lambat dan lamanya nistagmus diukur bila tidak timbul penglihatan. Menyebabkan terjadinya Refleks Vestibulookular yang menghasilkan deviasi mata ke arah yang berlawanan dari telinga yang dialiri dan mencetuskan nistagmus ke arah telinga yang dialiri. sebanyak 5 mL selama 20 detik ke dalam liang telinga.Penggunaan air hangat (440C) dan air dingin (300C) akan menyebabkan terjadinya aliran endolymph ke satu arah. Begitu juga sebaliknya. yang pertama test kalori dengan cara Kobrak. ujung jarum disambung dengan kateter. Menyebabkan kinocilium bergerak mendekati utrikulus dan juga meningkatkan ambang letup dari sel-sel rambut. Perangsangan dilakukan dengan mengalirkan air es (0ºC).

Setelah liang telinga kiri diperiksa dengan air dingin. dicatat lama nistagmus yang timbul.Harga yang kurang dari 120 detik merupakan bukti defisit perifer atau adanya suatu paresis kanal. Pada cara ini dipakai 2 macam air. Pasien biasanya diminta untuk berpuasa minimal 6 jam sebelum dilaksanakan pengujian. sehingga baik dokter maupun petugas yang akan melaksanakan pengujian ini harus memastikan dengan seksama kondisi pasien sebelum dilaksanakan pengujian. sedangkan suhu air panas adalah 44ºC. lalu telinga kanan. Pada tiap-tiap selesai pemeriksaan (telinga kiri atau kanan atau air dingin atau air panas) pasien diistirahatkan selama 5 menit (untuk menghilangkan pusingnya). Setelah air dialirkan. Langkah-langkah Pelaksanaan Uji Kalori Pelaksanaan uji kalori ini biasanya dilakukan dengan perintah tertulis dari dokter. Test Kalori Bitermal Tes kalori ini dianjurkan oleh Dick & Hallpike. Kondisi tersebut antara lain: . E. diperiksa telinga kanan dengan air dingin juga kemudian telinga kiri dialirkan air panas. myocardial infarction Gangguan psikotik/neurotic Epilepsy Riwayat pembedahan mata dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan Riwayat pembedahan telinga dalam kurun waktu kurang dari 6 bulan Ada juga kondisi-kondisi yang memerlukan perhatian khusus yang bisa menjadi suatu kontraindikasi dilaksanakannya pengujian ini. dingin dan panas. juga pasien diminta untuk menghentikan konsumsi obat selama kurang lebih 48 jam sebelum dilaksanakan pengujian.Suhu air dingin adalah 30ºC. Volume air yang dialirkan ke dalam liang telinga masing-masing 250 mL. angina unstable. Pelaksanaan uji kalori ini juga memiliki beberapa kontraindikasi dalam pelaksanaannya. 2. Beberapa kontraindikasi yang dilaporkan antara lain: Hipertensi Penyakit jantung (arritmia. dalam waktu 40 detik.

detik d. Setelah pasien paham dengan prosedur yang akan dilakukan. maka kanalis semisirkularis horizontal pasien akan berada pada posisi tegak lurus dengan permukaan tanah/lantai. pasien kita posisikan sedemikian rupa sehingga kepala pasien membentuk sudut 300. penguji mengisntruksikan pada pasien supaya pasien tetap nyaman dan tidak tegang selama pemeriksaan berlangsung. …. penguji harus memeriksa keadaan telinga luar dan membrane timpani sebelum dan sesudah dilakukan irigasi dengan menggunakan otoskop. Perforasi membrane timpani Pasien-pasien dengan kavitas pada mastoidnya. Setelah pasien berada dalam posisi yang sesuai. detik c. F. …. detik Hasil tes kalori dihitung dengan menggunakan rumus: . ….- Serumen yang memenuhi liang telinga Otitis eksterna Effusi pada telinga tengah Membrane timpani yang atrofi. Sebelum dilakukan pengujian. informed consent pada pasien harus dilaksanakan karena pengujian ini dapat menyebabkan terjadinya rasa pusing selama beberapa menit setelah dilakukan irigasi. …. Tabel tersebut dapat dilihat sebagai berikut: Langkah Pertama Kedua Ketiga Keempat Telinga Kiri Kanan Kiri Kanan Suhu air 30ºC 30ºC 44 ºC 44 ºC Arah Nistagmus Kanan Kanan Kanan Kanan Kanan Kanan Kanan Kanan Waktu Nistagmus a. Pencatatan Hasil Pencatatan hasil uji kalori secara baku dinilai dengan menggunakan table untuk mencatat lama waktu nistagmus yang terjadi saat liang telinga dialiri oleh baik air dingin maupun air hangat. maka pengujian dapat dilakukan menggunakan cara Kobrak atau dengan pengujian bitermal. Setelah semuanya dilakukan. Dengan posisi seperti ini. detik b.

Labirin yang memiliki respon lebih sedikit pada uji kalori adalah yang lebih parah tingkat kerusakannya. Meniere’s disease. Istilah ini dipublikasikan oleh Jongkees ketika meneliti perbandingan fungsi vestibuler perifer. Labyrinthic predominance Labyrinthic predominace (LP) adalah suatu kondisi dimana terjadinya kehilangan atau penurunan fungsi dari suatu labirin dibandingkan dengan labirin kontralateral. maka berarti yang mempunyai waktu nistagmus lebih kecil mengalami paresis kanal.Bila selisih waktu ini kurang dari 40 detik maka berarti kedua fungsi vestibuler dalam keadaan seimbang.Sensitifitas L – R : (a+c) – (b+d) = <40 detik Dalam rumus ini dihitung selisih waktu nistagmus kiri dan kanan. Intrepretasi Hasil dan Diagnosis Prinsip yang digunakan sebagai dasar dari uji kalori ini adalah bahwa labirin normal cenderung merespon secara spontan dan mencolok terhadap nilai normal yang diketahui sebelumnya. Jongkees menggunakan metode Bitermal dan menegakkan teori bahwa LP merupakan suatu perbedaan respon dalam nystagmografi pada kedua labirin yang lebih dari 20%. Ketiadaan atau penurunan respon mengindikasikan adanya disfungsi vestibuler perifer. G. Sebuah respon yang tidak simetris berkaitan dengan kondisi pasien pada saat sekarang atau pada waktu lampau. dan focus pada analisa terhadap labyrinthic paresis (LP) dan directional predominance (DP). Analisis komparatif yang dilakukan bertujuan untuk mencari asimetrisitas pada respon terhadap uji kalori. tumor pada N VIII. migraine dan penyakit-penyakit serebrovaskuler. Analisa pada nilai-nilai yang didapatkan bertujuan untuk mengevaluasi apakah nilai-nilai tersebut berada lebih tinggi atau lebih rendah dari nilai normalnya.Tetapi bila selisih ini lebih besar dari 40 detik. - Directional preponderance . Penyebab disfungsi vestibuler unilateral yang biasa terjadi adalah.

Cerebellar flocculus akan menginhibisi nucleus dari nucleus-nukleus vestibular. hyperreflexia bisa terlihat pada labirin yang kontralateral dari labirin yang mengalami deficit respon. LP dan DP biasanya normal pada pasien-pasien ini. keadaan ini juga tidak mengindikasikan fungsi vestibular yang normal. Keadaan ini adalah suatu situasi dimana pengujian kalori menginduksi nistagmus melebihi nilai normal.Jongkees pertama kali mendeskripsikan DP sebagai sebuah kecenderungan peningkatan intensitas nistagmus ke beberapa arah jika dibandingkan dengan yang lain. Pada keadaan normal. juga tidak adanya asimetrisitas. Bagaimanapun. . - Hyperreflexia Hiperreflexia sering diasosiasikan sebagai gangguan dari sistem vestibuler sentral maupun perifer. Juga pada pasien dengan gangguan vestibuler sentral maupun perifer atau cedera pada korteks. Lesi pada bagian ini akan berefek pada fungsi inhibisi tersebut. Hal ini menjelaskan kenapa keadaan ini sering terlihat pada pasien multiple sclerosis. - Hyporeflexia Hiporeflexia adalah suatu keadaan dimana nistagmus yang timbul dari pengujian kalori berada di bawah nilai normal. DP juga bisa terjadi pada orang normal. Dengan variable sebanyak itu. Pada gangguan vestibuler perifer. meningkatkan keadaan terkesitasi pada nucleus vestibular dan menyebabkan terjadinya hyperreflexia bilateral. Hyperreflexia bilateral bisa diobservasi pada gangguan vestibuler sentral. DP tidak selalu berkorelasi dengan gangguan vestibuler dan tidak memiliki nilai untuk menunjukkan letak lesi. DP biasa terjadi pada pasien yang mengalami nistagmus spontan. perforasi membrane tympani dan kecemasan bisa berujung pada hyperreflexia. Bahkan pada penelitian disebutkan bahwa uji kalori merupakan penyebab hyperreflexia tersering. yang akan menginhibisi RVO. Seperti perubahan temperature pada telinga akibat uji kalori. Penurunan respon bilateral terhadap pengujian kalori bisa dilihat pada pasien yang menggunakan obat-obatan yang mendepresi fungsi labirin. Perubahan-perubahan pada telinga yang tidak berhubungan dengan lesi labyrin baik sentral maupun perifer bisa menginduksi terjadinya hyperreflexia.

seperti sifilis congenital maupun acquired. benign intracranial hypertension dan ataxia Friedriech. - Arreflexia Arreflexia adalah hilangnya respon terhadap pengujian kalori. Test rotasi diperlukan bila terdapat arreflexia untuk mengetahui apakah terdapat kerusakan pada organ vestibuler perifer bilateral. - Caloric Inversion Respon yang terjadi ke arah yang berlawanan dengan yang diharapkan dinamakan caloric inversion. ada kemungkinan keterlibatan batang otak dan cerebellum. Gangguan metabolic juga dapat menyebabkan hyporeflexia. Jika gangguan yang terjadi bilateral. - Caloric Perversion . juga kemungkinan adanya perforasi membrane tympani. Penyebab lain dari keadaan hyporeflexia ini adalah infeksi sistemik. contohnya adalah gentamicin - Gangguan Supresi Nistagmus Gangguan neurologis yang menyebabkan inhibisi dari supresi nistagmus setelah dilakukan uji kalori biasanya adalah perubahan pada pergerakan okulomotor. gangguan pada SSP. Obat-obatan ototoksik juga dapat menyebabkan arreflexia bilateral. seperti WernickeKorsakoff encephalopathy dan Sindrom Cogan. Sangat jarang terjadi dan dihubungkan dengan gangguan pada batang otak. Arefflexia bilateral yang terjadi setelah pengujian kalori yang disertai dengan absennya respon pada uji rotasi. diassosiasikan dengan penurunan fungsi keseimbangan tubuh. Bisa juga terjadi karena adanya nistagmus congenital yang arahnya berlawanan dengan yang diharapkan pada pemeriksaan. Gangguan pada labirin yang menyebabkan arreflexia tidak serta merta menyebabkan hilangnya fungsi sepenuhnya.Persisten hyporeflexia bisa dihubungkan dengan obat-obatan ototoksik. terutama terlihat pada pasien dengan pengelihatan yang buruk karena hilangnya RVO.

Contohnya adalah multiple sclerosis. Keadaan ini jarang terjadi dan dihubungkan dengan gangguan pada basal ventrikel ke-4 di batang otak. .Caloric perversion adalah nistagmus yang terjadi vertical pada pengujian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->