BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Iman, Islam dan Ihsan adalah rukun “AD-DIEN” yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, kalau ingin sempurna. Dalam sebuah hadist Shahih yang diriwayatkan oleh sebagian besar perawy Hadist, diriwayatkran pada suatu ketika Rasulullah SAW, berada di tengah majelis sahabatsahabatnya. Tiba-tiba datanglah seoarang lelaki, yang setelah memberi salam langsung duduk berhadapan dengan Rasulullah SAW, seraya berkata,”Ya Rasulullah apakah yang di maksud dengan Iman, Islam, dan Ihsan?”.”biasanya orang yang bertanya itu lebih tahu dari pada yang di tanya”. Kata Rasulullah SAW. Merendah (Tawadlu’). Kemudian laki-laki itu berkata,”Baiklah kalau begitu”. “Adapun Iman adalah : 1. Engkau beriman “Tashdiq” kepada Allah 2. Beriman kepada Malaikat-Malaikat Allah 3. Beiman kepada Kitab-Kitab Allah 4. Beriman kepada Rasul-Rasul Allah 5. Beriman kepada Hari Kiamat 6. Beriman kepada Qadla dan Qadar, baik dan buruk datang dari Allah “Adapun Islam itu adalah “ 1. Engkau bersaksi bahwa tidak ada tu hanyang wajib di sembah serta di abdi selain Allah 2. Mendirikan serta menegakkan shalat 3. Berpuasa di bulan Ramadhan 4. Mengeluarkan zakat 5. Berhaji ke Baitullah Al-Haram bagi siapa yang mampu “Adapun Ihsan adalah “engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya, bila engkau tidak sanggup, yakinlah bahwa Allah pasti melihatmu”. Tidak lama sesudah menerangkan hal tersebut, laki-laki tersebut keluar dan menghilang. Kemudian Umar bin Khattab ra, bertanya ,”siapa dia tiu ya Rasulullah?”. Rasulullah menjawab,”itulah dia Jibril as, yang mengajarkan agama kepadamu”1 Dari hadist di atas bisa kita ambil kesimpulan bahwa Iman adalah amaliah bathiniyah kita, dan islam adalah amaliah lahiriah dan Ihsan adalah adab atau aturan bagaimana kita menyembah Allah dengan amaliah bathin dan lahir tersebut. Tapi bagaimana kita bisa mengamalkan amalan tersebut apabila kita tidak mengetahui pengertian dari Iman, Islam, dan ihsan dan perlunya juga kita mengetahui apa itu syirik dan apaapa saja yang bisa dikatakan syririk dan sedikit mebahas tentang doktrin yesus sebagai anak Allah. Jadi dikesempatan ini penulis ingin membahas tentang pengertian Iman. Islam, dan Ihsan dan juga akan di bahas tentang syrik dan pembagiannya, doktrin yesus sebagai anak Allah.
1 Drs.Irfan Fachruzie BETULKANLAH TAUHID ANDA Menguak Rahasia Agama dan KeTuhananberdasarkan Realitas Allah-Tuhan-Hamba (al-ihsan Surabaya)2000 H.16

Page | 1

B. Rumusan Masalah Masalah yang akan di bahas dalam makalah ini adalah : 1. Penjelasan Iman 2. Penjelasan Ihsan 3. Penjelasan Islam 4. Penjelasan dan pengertian Syrik 5. Doktrin yesus sebagai anak Allah C. Tujuan 1. Megetahui tentang bagaimana yang di maksud beriman 2. Mengetahui tentang sifat ihsan dan pengamalannya 3. Mengetahui tentang Islam menurut kaidah syariat 4. Mengetahui apa itu syirik dan macam – macamnya 5. Mengetahui doktrin yesus termasuk syririk apa di dalam islam

BAB II PEMBAHASAN
A.Iman Kata iman berasal dari bahasa Arab,yaitu amana-yukminu imanan,yang secara ethimologi berarti yakin atau percaya. Dalam surat Al baqarah 165, yang berbunyi “Alladziina aamanu asyadu hubban illah” yang artinya orang yang beriman sangat luar biasa cintanya kepada Allah Swt. Iman kepada Allah berarti percaya dan cinta kepada ajaran Allah, yaitu Al – Qur’an dan sunnah Rasul. Apa yang dikehendaki Allah, menjadi kehendak orang yang beriman, sehinga dapat menimbulkan tekat untuk mengorbankan apa saja untuk mewujudkan harapan dan kemauan yang di tuntut Allah kepadanya.2 Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang terpenting dan paling agung. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW bersabda “Engkau beriman kepada Allah.” Iman kepada Allah itu mencakup iman akan wujud Allah (yakin akan adanya Allah), rububiyah-Nya, uluhiyah-nya, serta nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Jadi, bukan hanya iman adanya Allah, tetapi ia harus mencakup keimanan pada kelima hal ini, yaitu mengimani wujud Allah. Rububiyah-Nya, uluhiyah-Nya, nama-nama-Nya, dan sifat-sifat-Nya.3 Jadi ketika kita menyatakan bahwa diri kita adalah orang yang beriman maka kita harus memenuhi hal iman yang lima tersebut, tapi dalam penerapannya sekarang masih jauh terlihat kesempurnaan iman para muslim di indonesia yang mana masih kurangnya iman kerububiyah, uluhiyah, nama- nama, dan sifat-sifat-Nya. Ini bisa dilihat dari masih banyaknya masyarakat di Indonesia menanamkan kepercayaan terhadap sesuatu yang apabila ingin permohonannya terkabul harus memberi sajen atau untuk slametan harus ada kembang tujuh rupa dan lain-lain. B. Sifat ihsan Ihsan itu ialah bahawa “kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya,tetapi jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat kamu”.4 Ihsan juga adalah melakukan ibadah dengan khusyuk,ikhlas dan yakin bahwa Allah senantiasa mengawasi apa yang dilakukannya. Hadist riwayat muslim”dari Umar bin Khatab ia berkata bahwa mengabdikan diri kepada Allah hendaklah dengan perasaan seolah-olah anda melihat-Nya,maka hendaklah anda merasa bahwa Allah melihatmu.” Ihsan ( ‫ناسح‬I ) adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.”
2 Pendidikan Agama Islam (Grasindo) ISBN 9790258623, 9789790258624 3 Imam An Nawawi Dkk syarah hadist Arba’in (Niaga Swadaya) H.85 4 erosandi.blogspot.com

Dalam terminologi agama Islam, Ihsan berarti seseorang yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa sesungguhnya Allah melihat perbuatannya. Islam dibangun di atas tiga landasan utama, yaitu Iman,Islam, dan Ihsan. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari akidah dan bagian terbesar dari keislamannya.Lalu bagaimana caranya? Dalam mengejawantahkan ihsan bagi mahluk sosial seperti manusia, khususnya kaum muslim ialah dengan cara berbuat baik. Karena dengan pemahaman ihsan ini kita merasa selalu diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat, dengan begitu kita tidak akan mau melakukan perbuatan buruk, kalaupun sampai terbersit maka tetap saja kita tidak akan mau mengerjakannya disebabkan Ihsan tadi. Selain berbuat baik Ihsan juga merupakan salah satu cara agar kita bisa khusyuk dalam beribadah kepada Allah. Kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah. Jika tidak bisa, kita harus yakin bahwa Allah SWT yang Maha Melihat selalu melihat kita. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS.Qaaf : 16-18) “Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”(QS.Al Fajr : 14) Orang yang ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. “Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS.Al-Baqarah:284). Dalam Al-Qur`an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-Qur`an. Rasulullah pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab, ia merupakan puncak harapan dan perjuangan seorang hamba. Puncak semua pengajaran yang dilakukan Rasul pun mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Bahkan, di antara hadist-hadist mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah saw. menerangkan mengenai ihsan ketika ia menjawab pertanyaan Malaikat Jibril tentang ihsan dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh Jibril, dengan mengatakan,

“Engkau menyembah Allah seakan- akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”(HR. Muslim ) Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah swt. Di kesempatan yang lain, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kebaikan pada segala sesuatu, maka jika kamu membunuh, bunuhlah dengan baik, dan jika kamu menyembelih, sembelihlah dengan baik.”(HR. Muslim ) “Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan, serta memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(An-Nahl: 90 ) Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam ihsan. 1. Ibadah Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah, Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan dalam ibadahnya.

2. Muamalah

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah An-Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang berhak mendapatkan ihsan tersebut: a. ihsan kepada kedua orang tua b. ihsan kepada karib kerabat c. ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin d. ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman sejawat e. ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya f. ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia g. ihsan dalam hal muamalah h. ihsan dengan berlaku baik kepada binatang 3. Akhlak Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya. Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya, pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri. Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits, “Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.” Ciri-ciri Kelebihan Ihsan : - Mentaati perintah dan larangan Allah SWT dengan ikhlas - Senantiasa amanah ,jujur dan menepati janji - Merasakan nikmat dan haus akan ibadah

- Mewujudkan keharmonisan masyarakat - Mendapat ganjaran pahala dari Allah SWT. Cara Penghayatan Ihsan Dalam kehidupan : - Menyembah dan beribadah kepada Allah - Memelihara kesucian aqidah tidak terbatal - Mengerjakan ibadah fardhu ain dan sunat - Hubungan baik dengan keluarga,tetangga dan masyarakat - Melakukan perkara-perkara yang baik - Mengamalkan sifat-sifat mahmudah - Bersyukur atas nikmat Allah SWT. Kesimpulannya, ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapapun kita, apapun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ketingkat ihsan dalam seluruh sisi dan nilai hidupnya. Semoga kita semua dapat mencapai hal ini, sebelum Allah swt. mengambil ruh ini dari kita5 C. Islam Pengertian Islam secara kaidah bahasa adalah tunduk dan patuh, adapun pengertiannya menurut kaidah syariat dapat ditelaah secara umum dan khusus. Pengertian Islam menurut kaidah syariat secara umum adalah agama yang telah diajarkan oleh semua rasul (para utusan Allah SWT) pada umatnya,yang bertujuan untuk penauhidan, penghambaan diri (tunduk), dan penyembahan kepada Allah SWT (QS Al-An’Am: 162-163). Sedangkan, inti ajarannya adalah menyerahkan segala sesuatuyang ada dan atau dapat memengaruhi kehidupan manusia pada semua ketetapan Allah SWT melalui semua tutunan yang dibawa oleh Rasul-Nya. Pengertian Islam menurut kaidah syariat secara khusus adalah tunduk dan patuh kepada Allah SWT, dan taat kepada Nabi Muhammad SAW yang telah diutus-Nya untuk umat manusia di dunia ini sehingga hari kiamat, serta membebaskan diri dari segala kemusyrikan dan ahli syririk. Pengertian Islam secara khusus ini dapat dikondisikan pada dua keadaan, yaitu jika disebutkan pemakaiannya secara terpisah dari kata “iman” dan jika disebutkan pemakaiannya bersama dengan
5 erosandi.blogspot.com

kata “iman”. Pengertian Islam secara khusus pada keadaan terpisah dari kata “iman”adalah mencakup seluruh syariat agama yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya serta AL-Qura’an diturunkan, baik berhubungan dengan semua hal yang pokok (ushul) maupun yang cabang (furu’) darinya, di antara meliputi akidah (keyakinan), ibadah, perkataan, dan perbuatan Berdasarkan pengertian ini Islam merupakan suatu agama yang menuntut konsekuensi dari setiap manusia untuk diyakini dengan hati, diakui denga lisan, di realisasikan dengan perbuatan, dan berserah diri kepada Allah SWT pada semua hal yang telah ditetapkan dan di takdirkan-Nya (QS Al-Baqarah: 131;QS Ali Imran: 19, 85). Pengertian Islam secara khusus pada keadaan bersamaan dengan kata “iman” adalah semua perkataan dan perbuatan (amalan) lahiriah (dari setiap manusia). Dan, dengannya keadaan dirinya akan senantiasa terjaga (dan dilarang untuk dibunuh), baik dia meyakini Islam tersebut maupun tidak (QS Al-Hujurat: 14).6 Berdasarkan pengertian ini bahwa islam merupakan agama yang mengayomi, ramah, baik dan menjadi rahamat untuk seluruh alam. Dan merealisasikan dengan perbuatan. D. Syirik Syirik adalah menyekutukan Allah ta’ala dalam rububiyah-Nya, Ilahiyah-Nya, Nama-NamaNya, Dan Sifat-Sifat-Nya7 1. SYIRIK YANG MENYELISIHI SIFAT-SIFAT ALLAH TA'ALA a. Syirik Rububiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan atau mematikan dan hal-hal lain dari sifat-sifat rububiyyah. b. Syirik Uluhiyyah, yaitu meyakini bahwa selain Allah ada yang mampu memberikan madharat atau manfaat, memberikan syafaat tanpa izin Allah, dan lainnya yang termasuk sifat-sifat uluhiyyah. c. Syirik Asma' Wa Sifat, yaitu meyakini atau percaya kepada makhluk Allah yang memiliki sifat-sifat khusus yang dimiliki Allah Ta'alla, seperti mengetahui perkara gaib, dan sifat-sifat lain yang merupakan kekhususan Rabb kita yang Maha Suci.

2. SYIRIK MENURUT KADARNYA
6 Dr.H.Hendrik, S.Ked., M.Kes. Sehat dengan Salat (Tiga serangkai) H.91.92 7 TIM Attauhid lil fashlussadis kulliatul mu’allimin al islamiyyah (Darussalam) H.10

A. Syirik Akbar (besar), yaitu syirik dalam keyakinan, dan hal ini mengeluarkan pelakunya dari agama islam. Menurut syaikh Muhammad bin Abdulwahhab, Syirik Akbar itu meliputi empat perkara yaitu: a. Syirkud Dakwah yakni mempersekukan Allah dalam berdoa kepada AllahTa'ala dengan berdoa kepada selain-Nya. Hal ini difirmankan Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 65. b. Syirkun Niyyah wal Iradah wal Qashad yakni mempersekutukan Allah dalam hal niat keinginan dan tujuan, yaitu ibadahnya di samping diniatkan kepada Allah juga diniatkan kepada selain-Nya, menginginkan dengan amalannya itu selain ridha Allah juga keridhaan dari selain-Nya, atau menujukkan ibadahnya kepada Allah juga kepada selain-Nya.Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud ayat 15-16. c. Syirkut Ta'ah yakni mentaati selain Allah dalam hal menyatakan baik dan buruknya sesuatu, halal dan haramnya sesuatu walaupun itu semua diketahui bertentangan dengan syariat Allah. Hal ini dinyatakan dalam firman Allah dalam surat At-taubah:31 (termasuk syirkut ta'ah ialah bila seseorang membuat undang-undang yang melanggar syariat Allah dengan berkeyakinan bahwa undang-undang tersebut lebih baik atau sama baiknya dengan hukum Allah, sehingga mentaati undang-undang yang menyeleweng dengan syariat Allah itu dengan sepenuh-penuh ketaatan). Hal ini dinyatakan Allah dalam surat An Nisa' 65 dan Al An'am 121. d. Syirkul Mahabbah yakni menyekutukan Allah dengan lain-Nya dalam hal mencintai. Karena ibadah itu sendiri adalah merendahkan diri dengan serendah-rendahnya disertai cinta yang sepenuh-penuhnya. Menyikapi selain Allah Ta'ala dengan sikap seperti ini berarti telah melakukan syirkul mahabbah. Hal ini dinyatakan oleh Allah dalam surat Al Baqarah:165. B. Syirik Ashghar (kecil), yaitu Riya', hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama islam, akan tetapi mewajibkan pelakunya untuk bertaubat. Riya' bukan satu-satunya yang termasuk dalam Syirik Ashgar. Atau Riya' memang termasuk Syirik Ashghar namun tidak semua Syirik Ashghar berupa Riya'. C. Syirik Khafi (tersembunyi), yaitu seorang melakukan amal dikarenakan keberadaan orang lain, hal ini pun termasuk dalam Riya', dan hal ini tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, namun pelakunya wajib bertaubat. 3. SYIRIK MENURUT TEMPAT KEJADIAN a. Syirik I'tiqodi, yaitu Syirik yang berupa keyakinan, misalnya meyakini bahwa Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menciptakan kita dan memberi rizki pada kita namun di sisi lain juga percaya bahwa dukun misalnya, dapat mengubah takdir yang telah digariskan Allah SWT kepada

kita. Hal ini termasuk Syirik Akbar yang mengeluarkan pelakunya dari agama islam. b. Syirik Amali, yaitu setiap amalan zahir yang dinilai oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seumpama menyembelih hewan (atau makhluk Allah lainnya) untuk selain Allah, dan bernazar untuk selain Allah dan lain sebagainya. c. Syirik Lafzhi, yaitu setiap lafazh yang dihukumi oleh syari'at islam sebagai sebuah kesyirikan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti misalnya , "Tidak ada bagiku kecuali Allah dan engkau", dan "Aku bertawakal kepadamu", "Kalau bukan karena Allah dan si fulan maka tak akan begini dan begitu jadinya", dan lafazh-lafazh lainnya yang mengandung unsur kesyirikan (menyekutukan Allah SWT).8 E. Doktrin Yesus sebagai anak Allah Dalam surah al-ikhlas ayat ke-3 dikatakan bahwa “Allah tidak ber-anak dan tidak di peranakkan”. Dengan dalil di atas telah jelaslah bahwa doktrin yesus sebagai anak Allah tidak lah di benarkan dalam islam karena Allah tidak mungkin memiliki anak apalagi di peranakkan seperti makhluk ciptaannya. Dan juga ini termasuk syririk akbar yaitu syirik yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.

8 madrasahmassahar.blogspot.com

BAB III PENUTUP
Iman, Islam, dan Ihsan adalah sebuah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk mencapai kesempurnaan sebagai hamba Allah SWT. Jadi begitu pentingnya kita kembali intropeksi diri apakah kita sudah menyempurnakan iman kita apakah kita sudah menjalankan amaliah keislaman kita dengan baik, apakah kita sudah memiliki sifat ihsan di kehidupan kita?. Itulah yang perlu kita pertanyakan kepada diri kita agar bisa memotivasi diri menjadi pribadi yang lebi baik, dan saat kita sudah bisa menjadi orang yang Iman, Islam, dan Ihsan maka kita sudah bisa membentengi diri lebih kuat dari faham atau doktrin-doktrin yang bisa membuat kita syirik walaupun itu hanya syirik Khofi ataupun Ashgar.

DAFTAR PUSTAKA
Drs.Irfan Fachruzie BETULKANLAH TAUHID ANDA Menguak Rahasia Agama dan KeTuhananberdasarkan Realitas Allah-Tuhan-Hamba (al-ihsan Surabaya) 2000 H.16 TIM Pendidikan Agama Islam (Grasindo) ISBN 9790258623, 9789790258624 Imam An Nawawi Dkk syarah hadist Arba’in (Niaga Swadaya) H.85 Sandi (2012) “Pengertian Ihsan” http://erosandi.blogspot.com/2011/04/iman-kepada-allah.html 4 oktober Dr.H.Hendrik, S.Ked., M.Kes. Sehat dengan Salat (Tiga serangkai) H.91.92 TIM (2005) Attauhid lil fashlus sadis kulliatul mu’allimin al islamiyyah (Darussalam) H.10 Hariswan Indra (2011) “Pengertian Syirik” http://madrasahmassahar.blogspot.com/2011/02/pengertian-syirik.html 15 februari

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful