PENGARUH CARA PEMBERIAN PAKAN DAN AMPAS SAGU TERFERMENTASI TERHADAP KINERJA AYAM PEDAGING

I PUTU KOMPIANG dan SUPRIYATI
Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogor 16002, Indonesia (Diterima dewan redaksi 25 Juli 2000)

ABSTRACT KOMPIANG, I.P. and SUPRIYATI. 2001. Effect of feeding system and fermented sago waste on performance of broiler chicken. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(1):14-20. An experiment, with a split plot experimental design, was conducted to determine the effect of feeding system (full vs choice feeding) and fermented sago waste (AST 5 vs 0%) on the performance of broiler chickens. Complete feed was formulated to contain 21% crude protein, 2900 kcal ME/kg, without or with 5% AST. Feed for choice feeding was formulated to contain 2900 kcal ME/kg, without or with 5% AST with crude protein 23 or 17%. Four hundreds DOC broilers were used for each treatment divided into 4 replicates (100 birds/replicate) on litter system. Feed and water were given ad lib. during the 4 weeks trial. Data collected included feed consumption (weekly), body weight (bi-weekly), feed conversion ratio (FCR) and protein efficiency ratio (PER) were calculated biweekly. Feeding system has no significant effect on total feed/energy consumption. Choice feeding reduced total protein consumption (P<0.01; 323.5 vs 354.9 gram/head/4weeks), increased body weight gained (P<0.01; 889.5 vs 835 gram/head/4weeks), improved FCR (P<0.05; 1.90 vs 2.03), and PER (P<0.001; 0.37 vs 0.43). Fermented sago waste (AST) had no significant effect on total feed/energy consumption (P<0.05), reduced total protein consumption (P<0.05; 333.6 vs 349.8 gram/head/4weeks), increased body weight gained (P<0.05; 887.5 vs 837 gram/head/4weeks), improved FCR (P<0.05; 1.88 vs 2.06) and PER (P<0.05; 0.38 vs 0.42). It is concluded that broiler chicken had an ability to determine its protein requirement, and AST supplementation significantly improved performance of the birds. Key words: Choice feeding, fermented sago waste, broiler, FCR, PER ABSTRAK KOMPIANG, I.P. dan SUPRIYATI. 2001. Pengaruh cara pemberian pakan dan ampas sagu terfermentasi terhadap kinerja ayam pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(1):14-20. Satu percobaan, dengan petak terpisah, telah dilakukan untuk menentukan pengaruh cara pemberian pakan (pakan lengkap vs pilihan) dan pemberian ampas sagu terfermentasi, (AST; 5 vs 0%) terhadap kinerja ayam pedaging. Pakan lengkap disusun dengan kandungan protein 21%, energi metabolis (ME) 2900 kcal/kg dengan atau tanpa 5% AST. Pakan untuk pilihan (choice feeding) disusun dengan kandungan energi metabolis 2900 kkal/kg, dengan atau tanpa 5% AST dan kandungan protein 23 atau 17%. Setiap perlakuan menggunakan 400 ekor ayam pedaging umur sehari yang dibagi menjadi 4 ulangan (100 ekor/ulangan) yang dipelihara dengan sistem liter. Pakan dan air minum diberikan secara ad lib. selama berlangsungnya percobaan (4 minggu). Parameter yang diukur meliputi konsumsi pakan (setiap minggu), berat badan (2 minggu sekali), feed conversion ratio (FCR) dan protein efficiency ratio (PER) dihitung setiap 2 minggu. Cara pemberian pakan tidak mempunyai pengaruh terhadap konsumsi pakan/energi. Pemilihan pakan menurunkan total konsumsi protein (P<0,01; 323,5 vs 354,9 gram/ekor/4 minggu), meningkatkan pertambahan bobot badan (P<0,01; 889,5 vs 835 gram/ekor/4 minggu), memperbaiki FCR (P< 0,05; 1,90 vs 2,03) dan PER (P<0,001; 0,37 vs 0,43). Ampas sagu terfermentasi tidak mempunyai pengaruh terhadap konsumsi pakan/energi, namun secara nyata menurunkan total konsumsi protein (P<0,05; 333,6 vs 349,8 gram/ekor/4minggu), menaikkan pertambahan bobot badan (P<0,05; 887,5 vs 837 gram/ekor/4minggu), memperbaiki FCR (P<0,05; 1,88 vs 2,06) dan PER (P< 0,05; 0,38 vs 0,42). Dari penelitian ini disimpulkan bahwa pemilihan pakan dan AST memberikan kinerja (pertambahan bobot badan, FCR dan PER) yang lebih baik. Ayam pedaging mempunyai kemampuan untuk menentukan kebutuhannya akan protein dan suplementasi dengan AST dapat secara nyata meningkatkan kinerja ayam. Kata kunci: Pemilihan pakan, ampas sagu terfermentasi, ayam pedaging, FCR, PER

PENDAHULUAN Sudah diketahui dan disepakati bahwa ayam mengkonsumsi pakan pertama-tama untuk memenuhi

kebutuhannya akan energi dan oleh karenanya, total konsumsi pakan akan ditentukan oleh kandungan energi dari pakan tersebut. Dalam hal kemampuannya untuk menentukan kebutuhan akan protein, laporan yang ada

14

00 17.057 0.057 0. dimana diantara dua pakan pilihan yang berbeda hanya kandungan Tabel 1.02 0. SINURAT dan BALNAVE.84 1. 1976.058 0. 6 No.42 12. energi. 1987) melaporkan bahwa unggas mempunyai kemampuan untuk memilih pakan berdasarkan kandungan protein atau komposisi asam aminonya.02 0. 1979.04 0. 1995).00 10.20 0.05 23. 1986. Pakan nomor 3 dan 5 disusun dengan kandungan protein 23%. masing-masing dengan atau tanpa 5% ampas sagu terfermentasi.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. MASTIKA dan CUMMING.00 19. kalsium (1%).40 55.11 53.06 0.95 51.35 0. Pakan lengkap 1 2 0 10. Untuk menguji kemungkinan kemampuan ayam untuk menentukan kebutuhannya akan protein.058 0. HUGES dan DEWAR. dan atau komposisi asam amino antara pakan pilihan dan lengkap yang diberikan..20 0.20 0.00 0. mungkin karena adanya perbedaan kandungan mineral.20 0.17 15.00 9. vitamin. 1967). askorbat) dapat mempengaruhi total konsumsi pakan (HUGES.02 0. dengan dan tanpa ampas sagu terfermentasi dan pakan nomor 4 dan 6 disusun dengan kandungan protein 17% dengan dan tanpa ampas sagu terfermentasi.022 2901 15 . dan fosfor (0. Ransum percobaan disusun dengan kandungan energi termetabolis (2.02 0.06 0.66 50. 1978. Telah dilaporkan bahwa kandungan mineral (kalsium.6%) yang sama.058 0.47 0.021 2903 6 0 8.02 0.05 23.00 17.022 2901 5 0 10.47 0.93 8. 1990.85 60.20 0.021 2903 Pakan pilihan 4 5 8.. telah dilakukan.02 0. 1983). Sementara itu. Komposisi ransum percobaan Bahan baku Komposisi bahan baku : Ampas sagu terfermentasi (A) Tepung ikan Bungkil kedele Jagung Dedak padi Batu fosfat Garam (NaCl) Vitamin premix Lisin Metionin Kandungan gizi : Protein (%) Lisin/Protein Metionin/Protein ME (kkal/kg) 21. 1989). satu penelitian dengan pilihan pakan bebas. fosfor. KULTU dan FORBES.01 1.00 21.06 0.20 0.84 1. 2001 sangat beragam. Namun SUMMERS dan LEESON (1979) menyatakan bahwa ayam pedaging tidak mempunyai kemampuan untuk memilih pakan berdasarkan kebutuhan nutrisinya.35 0.02 0. dimana faktor utama adalah cara pemberian pakan (pakan lengkap vs pilihan) dan sub faktor adalah kadar ampas sagu terfermentasi (AST. Pada waktu yang sama pengaruh dari penggunaan ampas sagu terfermentasi (AST) juga dilakukan dan hasilnya diuraikan di bawah ini. KIRCHGESSNER et al. Burung sparrow telah ditunjukkan akan memilih pakan yang tidak mengandung protein dari pada pakan yang mengandung protein dengan imbangan asam amino yang sangat jelek (MURPHY dan KING.00 17.00 0.02 0. Perbedaan hasil-hasil penelitian tersebut.. HOLCOMBE et al. merupakan pakan lengkap.02 0. 1971.00 proteinnya saja.22 8.71 13.41 0. Komposisi ransum percobaan disajikan pada Tabel 1. 1 Th.900 kkal/kg).057 0.021 2900 3 5 10.05 0. dengan imbangan asam amino terhadap protein sama. Banyak peneliti (COWAN dan MICHIE.021 2900 5 10.04 0. digunakan dalam percobaan ini.20 2.00 25. Pakan nomor 1 dan 2 mengandung kadar protein kasar sebesar 21%. Ampas sagu terfermentasi (AST) disiapkan seperti diuraikan sebelumnya (KOMPIANG et al. 0 vs 5%) dalam ransum.88 1520 2.81 1. MATERI DAN METODE Rancangan percobaan petak terpisah (CAMPBELL.40 57.02 0. seng) dan vitamin (tiamin. HUGES (1979) melaporkan hasil yang bervariasi pada ayam petelur.00 23.41 0. yang mana tidak diuraikan dengan jelas.

Pengaruh cara pemberian pakan baru nampak pada periode 2 minggu terakhir. Pertambahan bobot badan 2 minggu pertama seperti diharapkan secara nyata lebih rendah (P<0. Analisis sidik ragam total pertambahan bobot badan Keragaman Cara pemberian pakan (F) Ampas sagu terfermentasi (A) FxA Periode (P) FxP AxP FxAxP Residu Total Derajat bebas 1 1 1 1 1 1 1 24 31 pada tingkat rendah akan memperbaiki pertambahan bobot badan (KOMPIANG et al. Dari percobaan ini belum dapat dijelaskan mengapa hal ini terjadi. Namun perlu diketahui bahwa ampas sagu terfermentasi kemungkinan besar masih mengandung spora Aspergillus niger. Tabel 2b. lebih tinggi dari ayam yang memperoleh pakan lengkap (835 gram/ekor/4 minggu). dan perlakuan D memperoleh pakan pilihan nomor 5 dan 6.05 Tidak nyata <0. sehingga disamping sebagai sumber protein. ampas sagu terfermentasi juga mungkin berfungsi sebagai probiotik. niger sebagai inokulan. PER (konsumsi protein/pertambahan bobot badan). dilakukan uji analisa sidik ragam (CAMPBELL. menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak saling tergantung satu sama lainnya.01 Tidak nyata 16 . bobot badan setiap dua minggu. Observasi ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya. SHARIATMADARI dan FORBES (1993) melaporkan bahwa ayam memerlukan waktu sekitar 6 hari untuk dapat menentukan pilihannya.01) maupun oleh ampas sagu terfermentasi (P<0.13 8. b).8 6.I. Pada data yang diperoleh. pakan dan air minum diberikan secara ad lib. 1994. PUTU KOMPYANG dan SUPRIYATI: Pengaruh Cara Pemberian Pakan dan Ampas Sagu Pada percobaan ini digunakan 1600 ekor ayam pedaging umur sehari yang dibagi menjadi 4 perlakuan. (888 gram/ekor/4 minggu).12 0.05).05 <0.05) (Tabel 2a. Tabel 2a. ANTAWIDJAJA. lebih tinggi daripada yang tidak memperoleh ampas sagu terfermentasi (837 gram/ekor/ 4 minggu). Pada periode 2 minggu pertama pengaruhnya belum kelihatan. Penelitian dilakukan selama 4 minggu. masing-masing dengan 4 ulangan (100 ekor tidak diseksi DOC/ulangan).. untuk menentukan pengaruh perlakuan.05). yang mana memerlukan waktu untuk menampakkan pengaruhnya. sedangkan pada 2 minggu pertama tidak terlihat dampaknya.001 <0. 1997).86 0. Data yang dimonitor meliputi konsumsi pakan setiap minggu (untuk pakan pilihan konsumsi masing-masing jenis pakan dijumlahkan). Pada pakan pilihan. P<0. Pengaruh interaksi antara cara pemberian pakan dan ampas sagu terfermentasi tidak nyata. Seperti pengaruh cara pemberian pakan. perlakuan B memperoleh pakan lengkap nomor 2. ayam memerlukan waktu untuk mempelajari kandungan nutrisi dari pakan tersebut. HASIL DAN PEMBAHASAN Pertambahan bobot badan Pertambahan bobot badan dari ayam percobaan secara nyata dipengaruhi oleh perlakuan cara pemberian pakan (P<0. P<0. perlakuan C memperoleh pakan pilihan nomor 3 dan 4.01 <0. dimana ayam dipelihara dengan sistem litter. Pertambahan bobot badan (gram/ekor/periode) Periode (hari) 0-14 15-28 0-28 Pakan lengkap 5% AST 231 637 869 0% AST 234 567 801 Pakan pilihan 5% AST 244 661 906 0% AST 238 634 873 Keterangan: AST = Ampas sagu terfermentasi Jumlah kuadrat 7325 6401 224 1236634 4559 6594 503 17348 1279589 Kuadrat tengah 7325 6401 224 1236634 4559 6594 503 723 Nilai F 10. dan ratio konsumsi protein/energi dihitung setiap minggu. Perlakuan A memperoleh pakan lengkap nomor 1. dimana penambahan bahan baku terfermentasi menggunakan A.001) dari penambahan bobot 2 minggu terakhir. kedua jenis pakan diberikan bersamaan pada tempat yang terpisah. sebesar 890 gram/ekor/4 minggu.31 9. pengaruh ampas sagu terfermentasi juga tergantung pada periode (interaksi antara periode dan ampas sagu terfermentasi pengaruhnya nyata.31 1710. Pengaruh cara pemberian pakan ternyata tergantung pada periode (interaksi antara periode dan cara pemberian pakan pengaruhnya nyata. FCR (konsumsi pakan/pertambahan bobot badan). 1967).7 Probabilitas <0. Pertambahan bobot badan dari ayam yang mempunyai kesempatan untuk memilih pakan. Hal ini menunjukkan bahwa. Pertambahan bobot ayam yang memperoleh ampas sagu terfermentasi 5%. dan baru kelihatan pada periode 2 minggu terakhir.

05) terhadap total konsumsi pakan (Tabel 3a. selama 4 minggu percobaan. Analisis sidik ragam total konsumsi pakan Keragaman Cara pemberian pakan (F) Ampas sagu terfermentasi (A) FxA Periode (P) FxP AxP FxAxP Residu Total Derajat bebas 1 1 1 3 3 3 3 48 63 gram/ekor. 1987). Interaksi antara cara pemberian pakan dan waktu tidak nyata menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak tergantung satu sama lainnya. konsumsi juga secara nyata (P<0. Dari percobaan ini. Total konsumsi pakan (gram/ekor/periode) Periode (minggu) I II III IV I-IV Pakan lengkap 5% AST 110 293 539 705 1647 0% AST 103 310 611 716 1740 Pakan pilihan 5% AST 106 291 548 774 1719 0% AST 113 299 578 694 1683 Keterangan : AST = Ampas sagu terfermentasi Rasio konversi pakan (FCR) Efisiensi penggunaan pakan dipengaruhi secara nyata oleh cara pemberian pakan (P<0.104 (Y adalah jumlah pakan yang dikonsumsi dan X adalah periode dalam minggu).82 4. maka dapat disimpulkan bahwa ayam dapat menentukan kebutuhannya akan protein. Bila diperhatikan konsumsi mingguan. Pada minggu ke-4 pakan dengan 5% AST dimakan. b). lebih banyak dari pada tanpa AST (705 gram/ekor). 6 No. Jumlah kuadrat 51 842 4112 3613201 2969 14767 6400 57956 3700297 Kuadrat tengah 51 842 4112 1204400 990 4922 2133 1207 Nilai F 0. Hal serupa juga telah dilaporkan oleh peneliti lainnya (COWAN dan MICHIE. b).05).001) meningkat dan peningkatannya secara linear dengan persamaan Y = 211X .92) adalah lebih baik dari yang memperoleh pakan lengkap (2. MASTIKA dan CUMMING.51 0. b). Hal ini selaras dengan teori bahwa ayam mengkonsumsi pakan pertama-tama untuk memenuhi kebutuhan energinya. Ampas sagu terfermentasi juga tidak mempunyai pengaruh yang nyata terhadap konsumsi pakan (Tabel 3a.70 3.77 Probabilitas Tidak nyata Tidak nyata Tidak nyata <0. 1986.05 9997.08 1. Mengingat kandungan energi dari semua pakan adalah 2900 kkal/kg maka konsumsi energipun akan sama untuk semua perlakuan. Hal ini menunjukkan bahwa ampas sagu tidak mempunyai masalah palatabilitas. belum dapat dijelaskan kenapa hal ini terjadi. Mengingat perbedaan diantara pakan pilihan hanya pada kandungan proteinnya. 1978. terlepas dari cara pemberian pakan.05 Tidak nyata 17 . Namun konsumsi total selama 4 minggu percobaan. ayam akan mengkonsumsi energi yang sama sesuai dengan kebutuhannya. pakan dengan 5% AST dikonsumsi masing-masing 292 dan 543 gram/ekor lebih rendah daripada pakan tanpa AST yang masing-masing 305 dan 595 gram/ekor. 1997)..04). 1 Th. Pada minggu pertama tidak ada perbedaan konsumsi pakan antara 5% AST (108 gram/ekor) dengan 0% AST (108 gram /ekor). 2001 Konsumsi pakan Cara pemberian pakan tidak mempunyai pengaruh yang nyata (P>0. pada minggu ke-2 dan 3. seperti diharapkan dengan bertambah besarnya ayam. tidak dijumpai perbedaan diantara perlakuan. Tabel 3a.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol. sama seperti laporan sebelumnya (ANTAWIDJAJA et al. 740 Tabel 3b. Antara AST dan waktu diperoleh interaksi yang nyata (P<0. seperti diuraikan di atas. Interaksi antara cara pemberian pakan dan ampas sagu terfermentasi yang tidak nyata menunjukkan bahwa pengaruh mereka tidak saling terkait. Rasio konversi pakan (FCR) dari ayam yang memperoleh pakan pilihan (1.04 0. Hal ini memberikan indikasi bahwa ayam mempunyai kemampuan menentukan kebutuhannya akan nutriennya selain kebutuhan akan energinya.001 Tidak nyata <0. Observasi ini menunjukkan bahwa. SINURAT dan BALNAVE.05) (Tabel 4a. Sementara itu.

4% lebih rendah daripada yang memperoleh pakan lengkap.9 334.3 107.93 Keterangan : AST = Ampas sagu terfermentasi walaupun total konsumsi pakan/energinya sama.102 0.3 56.967 0.967 0. Total konsumsi protein (gram/ekor/periode) Periode (h i) 0-7 8-14 15-21 22-28 0-28 Pakan lengkap 5% AST 23.05 Tidak nyata <0.7 64.035 0. Perbaikan ini diperkirakan karena selama produksi AST.05).73 2.8%. ayam tersebut mempunyai nilai FCR dan pertambahan bobot badan yang lebih baik.5 0% AST 21. secara nyata (P<0. memberikan indikasi bahwa protein tersebut dapat dicerna secara lebih efisien. b) memperbaiki FCR dari 2. mananase.980 Kuadrat tengah 0.563 1.74.6 363. 1998). Analisis sidik ragam FCR Keragaman Cara pemberian pakan (F) Ampas sagu terfermentasi (A) FxA Periode (P) FxP AxP FxAxP Residu Total Derajat bebas 1 1 1 1 1 1 1 24 31 Keterangan : AST = Ampas sagu terfermentasi Pemberian 5% AST menurunkan konsumsi protein sebanyak 4. yang dapat membantu/ mengefisienkan pencernaan protein (DUARTE dan COSTA-FERREIRA. PUTU KOMPYANG dan SUPRIYATI: Pengaruh Cara Pemberian Pakan dan Ampas Sagu Tabel 4a.3 148. terbentuk berbagai enzim yang membantu pencernaan serta terbentuknya unidentified growth factor (UGF).57 1. Hal ini mungkin sebagai akibat ampas sagu terfermentsai mengandung enzim protease.1 136. Rasio konversi pakan (FCR) Periode (minggu) I-II II-IV I-IV Pakan lengkap 5% AST 1.2 61.5 113.90. 1994.75 1.035 0. 1997.7 127.90 0% AST 1. Walaupun konsumsi total proteinnya lebih rendah. Tabel 5a. walaupun total konsumsi pakan/energinya sama (Tabel 5a. Walaupun konsumsi total proteinnya lebih rendah.17 Pakan pilihan 5% AST 1.102 0.76 2.06 menjadi 1.001 Tidak nyata Tidak nyata Tidak nyata 18 . dan fitase (PURWADARIA et al.34 6.0 116.90 0% AST 1. Pada fermentasi singkong dengan Aspergillus niger.05 <0.9 149.01 dan P<0.95 1. Total konsumsi protein Data perhitungan total konsumsi protein kasar disarikan pada Tabel 5a dan b dimana nampak bahwa perlakuan cara pemberian pakan maupun AST mempunyai dampak yang nyata (masing-masing dengan nilai P<0. selama fermentasi dengan Aspergillus niger.2 0% AST 21.5 321.020 0.84 2. Sudah diketahui bahwa semakin tua ayam tersebut akan semakin memburuk FCRnya. tidak mempunyai kesempatan untuk mengatur imbangan antara protein dengan energi.001) lebih baik dari nilai FCR pada 2 minggu terakhir (2.05) (Tabel 4a.06).076 0.49 41. ayam tersebut mempunyai nilai FCR dan pertambahan bobot badan yang lebih baik. b).154 0.063 0..3 60. telah dilaporkan terbentuk berbagai enzim seperti amilase. FCR pada 2 minggu pertama 1. Hal ini memberi indikasi bahwa ada kemungkinan ayam dapat mengefisienkan penggunaan protein dengan mengatur imbangan antara protein dengan energi yang sesuai dengan kebutuhannya.076 0.74 1.69 322 Probabilitas <0.1 Pemberian 5% AST secara nyata (P<0.0235 Nilai F 4.0 344. Tabel 4b. Enzim-enzim pencernaan komersial banyak diproduksi dari hasil fermentasi Aspergillus niger.154 0. Total konsumsi protein dari ayam yang mempunyai pilihan pakan 7. 1997.9 Pakan pilihan 5% AST 21.9 135.020 0. hal tersebut juga terbukti. selulase.95 1.I. dan pada penelitian ini. 1998) Jumlah kuadrat 0.063 0.. sedangkan ayam yang menerima pakan lengkap.02 1. PURWADARIA et al.34 2.18 0.

namun pengaruh dari ampas sagu terfermentasi secara nyata tergantung pada waktu (interaksinya P<0.076 Nilai F 4.40 0% AST 0. Hal serupa juga telah dilaporkan oleh peneliti lainnya (COWAN dan MICHIE 1978.37 0.57 1.05) maupun ampas sagu terfermentasi (P<0. Pengaruh dari cara pemberian pakan tidak dipengaruhi oleh waktu (interaksinya P>0. namun pada minggu ke-2 dan 3 konsumsi protein total lebih rendah dan pada minggu ke-4 tidak dijumpai lagi adanya perbedaan.967 0.43).32 0. b).020 0.035 0.035 0. 6 No. Rasio efisiensi protein (PER) Rasio efisiensi protein (PER) dipengaruhi secara nyata baik oleh cara pemberian pakan (P<0.58 0.05 Tidak nyata Jumlah kuadrat Kuadrat tengah 0.85 2.Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol.38 Keterangan : AST = ampas sagu terfermentasi Jumlah kuadrat 697 264 3 141007 328 377 35 2341 3700297 Kuadrat tengah 697 264 3 47002 109 126 11. Tabel 6a.18 0.001 Tidak nyata Tidak nayata Tidak nyata 19 .36 0% AST 0.102 0.063 0.34 6.35 0.72 (Y adalah jumlah protein yang dikonsumsi dan X adalah periode dalam minggu). 1 Th.49 41.154 0.154 0.46 Pakan pilihan 5% AST 0. 2001 Seperti halnya dengan konsumsi pakan. menunjukkan bahwa ayam mempunyai kemampuan menentukan kebutuhannya akan protein sesuai dengan kebutuhannya.69 3.49 0. Pada minggu pertama tidak dijumpai perbedaan.22 Probabilitas <0.05).01 <0.39 0.980 0. SINURAT dan BALNAVE.29 5. Dari percobaan ini belum dapat dijelaskan kenapa ada fenomena tersebut.001) meningkat secara linear dengan persamaan Y = 1. total konsumsi protein juga secara nyata (P<0.563 1. selama 4 minggu percobaan.37 0.05 Tidak nyata <0. Rasio Tabel 5b.05 <0.020 0.24 2.37) adalah lebih baik daripada yang memperoleh pakan lengkap (0.05).063 0.07 963. Analisis sidik ragam PER Keragaman Cara pemberian pakan (F) Ampas sagu terfermentasi (A) FxA Periode (P) FxP AxP FxAxP Residu Total Derajat bebas 1 1 1 1 1 1 1 24 31 Derajat bebas 1 1 1 3 3 3 3 48 63 efisiensi protein dari ayam yang memilih pakan (0.102 0.84 2.001 Tidak nyata <0.37 0.24 Probabilitas <0.967 0.05) (Tabel 6a. Rasio efisiensi protein (PER) Periode (h i) 0-14 15-28 0-28 Pakan lengkap 5% AST 0. Analisis sidik ragam total konsumsi protein Keragaman Cara pemberian pakan (F) Ampas sagu terfermentasi (A) FxA Periode (P) FxP AxP FxAxP Residu Total Tabel 6b.076 0. MASTIKA dan CUMMING 1987).05 Tidak nyata <0.41 0.02X + 0.41 0. 1986.66 49 Nilai F 14.

35) lebih baik dari nilai 2 minggu berikutnya (0. Freeman).. Selective zinc intake in broilers. Growth and food intake responses to diets of different protein content and a choice between diets containing two level of protein in broiler and layer strains of chicken. SHARIATMADARI. HARYATI. Vol.A. pp. HUGES. In: Food Intake Regulation in Poultry. Edinburgh. 1990. I.H. 1983. DARMA. Free choice feeding of broiler at high temperature. CAMPBELL. U.P. A. 260-282. MURPHY.05) memperbaiki PER dari 0. SUTIKNO. Ilmu dan Peternakan 7:22-25.P.R. and D. (Eds. I. PURWADARIA. 1997. Current status of Agric. DARMA. 1997. J. Edinburgh. Self selection of ascorbic acid in colourd food by heat stressed broiler chicks. 20 .D. In Indonesia. K. K. 12:255-258. KOMPIANG. LEESON 1979. British Poultry Science Ltd.B. yang kemungkinan sebagai akibat tersintesanya berbagai enzim-enzim pencernaan selama proses produksinya. SINURAT. HARYATI. KULTU.A. T. 1994. PURWADARIA et al.P. HARMS. T. BALNAVE. 64:250-260. Appetites for specific nutrients. Ilmu Ternak Vet. 29:557584. T. Boorman and B.M. I. A. SUPRIYATI. pp. 1987.P. 1967.N.N. M. BINTANG. 1993. 55:308-317.P. B.J. 1978. CUMMING. British Poultry Sci. A. HUGES. 1995. Ilmu Ternak Vet. T. Proc.M. 1998) Seperti halnya dengan FCR.. and W. SUPRIYATI. and R.. Farrell)..J. 19:601-605. Vol. I. British Poultry Science Ltd. 3. SINURAT. A. DEWAR. SUMMERS. FORBES. Sparrows discriminate between diets differing in valine or lysine concentration Physiology Behaviour 45:423-430. MICHIE. DARMA. pp. karena ayam mampu mengatur konsumsi protein maupun energinya. Effect of previous experience and environmental variations on the performance and pattern of feed intake of choice fed and complete fed broiler.. J. Poultry Sci.R. Korelasi antara aktifitas enzim mananase dan selulase terhadap kadar serat lumpur sawit hasil fermentasi dengan Aspergillus niger. T. T.P. J.I. perbaikan sekitar 10%.E. DUARTE. 2:175-180.42). NSW. Physiology Behavior 53:103-144. DAFTAR PUSTAKA ANTAWIDJAJA. British Poultry Sci.G. PURWADARIA. Rev. and J. FORBES. Nutritional value of protein enriched cassava: Cassapro. dan J. Proc. SINURAT. Cambridge. 1976. A. and SUPRIYATI. PER juga secara nyata (P<0. disamping sebagai sumber protein. D. SUPRIYATI. KOMPIANG I. Physiology Anim.P. KIRCHGESSNER. Nut. M. T. Perbaikan ini diperkirakan karena selama produksi ampas sagu terfermentasi.. Anim. British Poultry Sci. (Ed.M. Recent Advance in Animal Nutrition in Australia. 3:230-236. University of New England. SINURAT. 1971. ROTH. STEINNICK. dan J.M. S. Biotech. Statistic for Biologist. Jakarta.C. KESIMPULAN DAN SARAN Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa ayam pedaging dapat menentukan kebutuhannya akan protein. and J. terbentuk berbagai enzim yang membantu pencernaan antara lain amilase. 34:959-970. KOMPIANG.001) dipengaruhi oleh waktu.J.K. 1998. COSTA-FERREIRA. COWAN. Dengan pemilihan pakan secara bebas. 141-169. D.O.O. Environmental temperature and broiler performance: the use of diets containing increasing amount of protein. and J. 1979. 1986. D.. dan I. In: Food Intake Regulation in Poultry (Eds. Boorman and B.X. T. juga dapat membantu memperbaiki FCR maupun PER. and M. HARYATI. R. selama fermentasi dengan A niger. J. P. Penggunaan ampas kirai (Metroxylon sago) dan hasil fermentasinya. The correlation between amylase and cellulase activities with starch and fibre contents on the fermentation of cassapro (cassava protein) with Aspergillus niger. and J. KOMPIANG. sesuai dengan kebutuhan. Aspergilli and lignocellulosics: Enzymology and biotechnology application. and W.. Diet presentation and feeding. pp. FEMS Microbiol. HOLCOMBE. The ability of hens to regulate phosphorus intake when offered diets containing different levels of phosphorus. KING. 1997. MASTIKA.38. 1989. J. PURWADARIA. mananase dan phytase (DUARTE dan COSTAFERREIRA.42 menjadi 0. and R. 1994. and R. F. The University Press. PER pada 2 minggu pertama (0. RONALD.C. Bioconversion of sago (Metroxylon sagu) waste. 523-526. akan tetap dapat mengoptimalkan efisiensi penggunaan protein maupun energi. pemeliharaan ayam diberbagai kondisi/suhu lingkungan. SINURAT. Indonesian Biotechnology Conference. A specific appetite for zinc in zinc depleted diet in domestic fowl.A. 445-169. PUTU KOMPYANG dan SUPRIYATI: Pengaruh Cara Pemberian Pakan dan Ampas Sagu Pemberian 5% ampas sagu terfermentasi secara nyata (P<0. Ampas sagu terfermentasi. KOMPIANG. 13:377-386. 379-390. H. and S. B. Freeman). PURWADARIA. pp.P.P. British Poultry Sci. Armidale. protease. I. R. 1994.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful