You are on page 1of 21

BAB II ISI

2.1. INTUBASI ENDOTRAKEAL a. Tujuan Tujuan dilakukannya tindakan intubasi endotrakhea adalah untuk membersihkan saluran trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah pemberian ventilasi dan oksigenasi bagi pasien operasi. Mangku, Gde dan Senapathi, Tjokorda GA. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta : Indeks Jakarta

b. Indikasi Intubasi endotrakeal diindikasikan pada berbagai keadaan saat sakit ataupun pada prosedur medis untuk mempertahankan jalan napas seseorang, pernapasan, dan oksigenasi darah. Pada cakupan tersebut, tambahan oksigen yang menggunakan face mask sederhana masih belum adekuat. Advanced Trauma Life Support Program for Doctors (2004), Committee on Trauma, American College of Surgeons, Head Trauma, pp. 151–76

Indikasi intubasi endotrakeal adalah sebagai berikut.

1. Penurunan kesadaran Kerusakan otak (misalnya stroke massif, cedera kepala nonpenetrasi, intoksikasi atau keracunan) dapat berakibat penurunan kesadaran. Saat keadaan tersebut menjadi lebih buruk menjadi stupor atau koma (didefinisikan sebagai Glasglow Coma Scale (GCS) kurang dari 8). Advanced Trauma Life Support Program for Doctors (2004), Committee on Trauma, American College of Surgeons, Head Trauma, pp. 151–76 Kolaps dinamik pada otot ekstrinsik jalan napas dapat menyumbat jalan napas, yang menunda aliran udara bebas ke dalam paru. Lebih jauh lagi, reflex perlindungan jalan napas seperti batuk dan menelan dapat berkurang atau hilang. Intubasi endotrakeal sering dipilih untuk mengembalikan kepatenan jalan napas dan melindungi cabang trakeobronkial dari aspirasi pulmoner dari isi lambung. Kabrhel, C; Thomsen, TW; Setnik, GS; Walls, RM (2007). "Videos in clinical medicine: orotracheal intubation". The New England Journal of Medicine 356 (17): e15.

2. Hipoksemia Intubasi dapat diperlukan pada pasien dengan penurunan kandungan oksigen dan saturasi oksigen dalam darah yang disebabkan pernapasan yang tidak adekuat (hipoventilasi), apnea atau saat paru tidak dapat

fraktur kosta multipel. Pada pasien dengan peningkatan karbon dioksida arterial. 371–8 Sebagai contoh kondisi tersebut yaitu cedera servikal. acute respiratory distress syndrome (ARDS). pp. Anderson JT and Sena MJ. intubasi dapat dipertimbangkan apabila tekanan arterial parsial oksigen (PaO2) kurang dari 60 mmHg. tekanan arterial parsial dari CO2 (PaCO2) lebih besar dari 45 mmHg pada keadaan asidemia memerlukan intubasi. Secara spesifik. 151–75 3. Trauma tumpul yang berat atau trauma penetrasi pada wajah atau leher dapat menyebabkan bengkak dan . Shock & Acute Pulmonary Failure in Surgical Patients. hal ini khususnya sering terjadi pada bayi dan anak kecil. yang dapat bangun dan terjaga.cukup mentransfer udara ke dalam darah. pneumonia berat. Chapter 15: Indications for tracheal intubation. Doherty (2010). memiliki tipe sakit yang kritis dengan penyakit multisistem. Holcroft JW. pp. Ezri T and Warters RD. Benumof (2007). atau tenggelam. dimana konsentrasi O2 inspirasi (FiO2) sebesar 50% atau lebih besar. Obstruksi jalan napas Obstruksi jalan napas merupakan indikasi yang sering pada intubasi endotrakea. Pertolongan pada obstruksi jalan napas diperlukan saat benda asing menjadi terjepit di jalan napas. Pada beberapa pasien. khususnya pada pengukuran yang memperburuk asidosis respiratorik.

Ezri T and Warters RD. Dachlan. Jakarta : FKUI a. Tak terasa ada udara ekspirasi 4. Latief. SA. trakea maupun bronkus. Petunjuk Praktis Anastesiologi. terapi laser) kadang-kadang dapat menyebabkan ketidakmampuan bernapas. 371–8 Tanda-tanda obstruksi jalan napas adalah sebagai berikut. Retraksi trakea d. 2007. . sehingga intubasi diperlukan pada kondisi tersebut. Napas cuping hidung (flaring of the nostrils) c. KA.. Manipulasi jalan napas Manipulasi jalan napas untuk keperluan diagnostik atau terapeutik (seperti bronkoskopi.. Stridor (mendengkur. Retraksi torak e. atau trauma laring. Obstruksi jalan napas juga sering terjadi pada orang yang sering terpapar inhalasi asap rokok Benumof (2007). Suryadi. R. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. Chapter 15: Indications for tracheal intubation. pp.hematoma. Edisi Kedua. snoring) b.

Gambar. TW.Kabrhel. "Videos in clinical medicine: orotracheal intubation". RM (2007). The New England Journal of Medicine 356 (17): e15. Setnik. Walls. GS. C. Pipa endotrakeal yang telah diinsersi ke dalam trakea dapat dilihat pada gambar berikut. A. Trakea D. Thomsen. Pipa cuff inflasi dengan balon pilot C. Pipa endotrakeal (biru) B. Diagram pipa endotrakeal yang telah diinseri ke dalam trakea. Esofagus .

Arif dkk.Gambar. steteskop). Kontraindikasi Beberapa kontra indikasi bagi dilakukannya intubasi endotrakheal antara lain : Mansjoer. Beberapa keadaan trauma jalan nafas atau obstruksi yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya intubasi. d. 2. 2005. Intubasi Trakea. yaitu S (Scope. Peralatan Sebelum mengerjakan intubasi endotrakea. Tindakan yang harus dilakukan adalah cricothyrotomy pada beberapa kasus. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. peralatan yang harus disiapkan adalah STATICS. Intubasi Endotrakeal c. Trauma servikal yang memerlukan keadaan imobilisasi tulang vertebra servical. laringoskop. sehingga sangat sulit untuk dilakukan intubasi. . Jakarta : Media Aesculapius 1.

penghisap lendir). Jakarta : Indeks Jakarta 1. Mangku. I (Introducer. Secara garis besar dikenal 2 macam laringoskop: a. Laringoskop Fungsi laring adalah mencegah benda asing masuk paru. SA. T (Tape. 2010. Magill) untuk anak besar-dewasa Latief. Jakarta : FKUI. KA. Bilah lengkung (Miller. R. Petunjuk Praktis Anastesiologi. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif.pipa orofaring / nasofaring). mandren).. Gde dan Senapathi. Laringoskop adalah alat yang digunakan untuk melihat laring secara langsung agar dapat memasukkan pipa trakea dengan baik dan benar. pipa endotrakeal).. Bilah.T(Tube. Edisi Kedua. plester). Tjokorda GA. daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa b. sambungansambungan). stilet. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. C (Connector.A (Airway tube. . S (Suction. Dachlan. 2007. Suryadi.

Laringoskop dengan berbagai Macintosh blade (dewasa besar. anak. Laringoskop dengan berbagai Miller blade (dewasa besar. dewasa kecil. anak. dewasa kecil.Gambar. bayi dan neonatus) Gambar. bayi dan neonatus) .

Montecchia. Barzoi. "Tracheal intubation using a Macintosh laryngoscope or a GlideScope in 15 patients with cervical spine immobilization". Hung OR and Stewart RD. 463–75 Agrò. terdapat beberapa tipe stilet yang tersedia. Chapter 20: Intubating stylets. Gambar. Hal ini sering menolong pada orang dengan kesulitan laringoskopi. Stilet Stilet untuk intubasi didesain untuk dimasukkan ke dalam endotracheal tube untuk membuat pipa lebih baik pada anatomi jalan napas atas pada individu yang spesifik.2. Benumof (2007). yang secara spesifik didesain untuk mengikuti sudut blade sebesar 60 derajat pada laringoskop. misalnya stilet Verathon. F (2003). Seperti halnya blade laringoskop. digunakan untuk membantu intubasi orotrakeal . Stilet pipa endotrakeal. pp. G. British Journal of Anaesthesia 90 (5): 705–6. F.

2007. maka untuk bayi anak digunakan tanpa cuff dan untuk anak besar-dewasa dengan cuff. . Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. Ukuran diameter lubang pipa trakea dalam millimeter. Latief. penampang melintang trakea bayi dan anak kecil di bawah usia 5 tahun hamper bulat... Karena penampang trakea bayi. SA. Penggunaan cuff pada bayi-anak kecil dapat membuat trauma selaput lendir trakea dan selain itu jika ingin menggunakan pipa trakea dengan cuff pada bayi harus menggunakan ukuran pipa trakea yang diameternya lebih kecil dan ini membuat risiko tahanan napas lebih besar. R. Pipa trakea (endotracheal tube) Pipa trakea (endotracheal tube) mengantar gas anestetik langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari bahan standar polivinil-klorida. Petunjuk Praktis Anastesiologi.3. Jakarta : FKUI. SA. Jakarta : FKUI. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. dan dewasa berbeda. Edisi Kedua. Pipa trakea dapat dimasukkan melalui mulut (orotracheal tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube). KA. agar tidak bocor. R. 2007.. KA. Dachlan. Suryadi.. Suryadi. Edisi Kedua. anak kecil. sedangkan dewasa seperti huruf D. Dachlan. Latief. Petunjuk Praktis Anastesiologi.

3. Dachlan.Merangsang saraf simpatis (hipertensi-takikardi) 1.Laserasi bibir. 1. R. laring 1.4. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. SA.Trauma gigi geligi 1. Jakarta : FKUI. Komplikasi Latief. Selama intubasi 1. terbuat dari polivinil klorida Gambar. KA.Intubasi bronkus 1.Aspirasi .1. Cuffed endotracheal tube. gusi.. Carlens double-lumen endotracheal tube. Petunjuk Praktis Anastesiologi.5. Suryadi. 2007. digunakan pada pembedahan thoraks seperti lobektomi VATS e.Gambar.6.2. Edisi Kedua.Intubasi esophagus 1..

Dachlan. Setelah ekstubasi 2. R. Ekstubasi Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar. angka terjadinya kesulitan intubasi berkisar 3-18%. faring. Edisi Kedua.1. Jakarta : FKUI. Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari secret dan cairan lainnya. Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif.Aspirasi 2.3. Suryadi.Spasme bronkus 2. 2. Petunjuk Praktis Anastesiologi. trakea f.. 2007. Kesulitan dalam intubasi ini berhubungan dengan komplikasi yang serius.2. jika intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan ataupun pasca ekstubasi ada risiko aspirasi. terutama . Infeksi laring.4.7.Edema glottis-subglotis 2.KESULITAN INTUBASI Selama anestesi.2.5.1.Gangguan fonasi 2. Ekstubasi dikerjakan umumnya pada anesthesia sudah ringan dengan catatan tidak akan terjadi spasme laring. Latief.Spasme laring 2. KA. SA..

kelas ii hanya terlihat epiglotis. Pasien duduk di depan anestetis dan membuka mulutnya lebar. Gambar. serta pergerakan craniocervical junction. Hal ini merupakan salah satu kegawatdaruratan yang akan ditemui oleh dokter anestesi. Salah satu klasifikasi yang luas digunakan adalah klasifikasi oleh Cormack-Lehane yang menggambarkan laring bila dilihat dengan laringoskopi. Apabila anestetis dapat memprediksi pasien yang kemungkinan sulit untuk diintubasi. Kelas I pita suara terlihat. tingkat 1 memprediksi intubasi yang mudah dan tingkat 3 atau 4 mengesankan pasien akan sulit diintubasi. Hasil dari tes ini dipengaruhi oleh kemampuan membuka mulut. dan kelas IV epiglotis tidak terlihat. kelas II pita suara terlihat sebagian. . hal ini mungkin dapat mengurangi resiko anestesi yang lebih besar.bila intubasi tersebut gagal. ukuran dan mobilitas lidah dan struktur intra-oral lainnya. Klasifikasi tampilan pada laringoskopi. Secara klinis. Mallampati merupakan tes skrining simpel yang luas digunakan sekarang.

37-45 Tahun 1993. Bila jaraknya kurang dari 6 cm maka intubasi tidak memungkinkan. Langkah pertama dari algoritma ini meliputi penilaian kesulitan intubasi menggunakan laringoskop. Jarak sternomental 12. Jarak normal adalah 6. . American Society of Anesthesiologists (ASA) menuliskan algoritma American Society of Anesthesiologists Difficulty Airway.5 cm atau lebih dan ini juga tergantung anatomi termasuk posisi laring. Update in Anaesthesia 1998. Hal ini menunjukkan kedalaman mandibula. keterbatasan mobilitas leher. intubasi biasanya mudah. namun hal ini tidak umum dilakukan sebagai tes skrining Wilson IH. Beberapa penelitian mencoba memprediksi kesulitan intubasi dengan melihat anatpomi mandibula dengan sinar X. Sternomental distance diukur dari sternum sampai ujung mandibula dengan kepala ekstensi dan ini dipengaruhi oleh ekstensi leher.Thyromental distance diukur dari thyroid notch ujung rahang dengan kepala yang diekstensikan.5 cm atau kurang diperkirakan akan sulit untuk diintubasi. Kopf A. Tiga gambaran yang dilaporkan berhubungan dengan laringoskopi yang sulit meliputi ukuran lidah dalam faring (Mallampati). Prediction and Management of Difficullt Tracheal Intubation. dan jarak thyromental yang pendek. Penurunan gerakan sendi ini berhubungan dengan kesulitan intubasi. Bila pasien dapat menonjolka gigi bawah. Protrusion of the mandible merupakan gambaran mobilitas dari mandibula. Extension at the atlanto-axial joint dilakukan dengan menyuruh pasien untuk memfleksikan leher mereka dengan menengadahkan dan menundukkan kepala.

usia 40-59. pergerakan kepala dan leher. Karaketristik fisik yang berhubungan kesulitan intubasi meliputi obesitas.44:307-313. dan jarak antara thyroid notch dan dasar mulut sekurangnya 2 jari (2). pendeknya jarak thyromental. gigi palsu (sulit dinilai) E= Evaluate the 3-3-2 rule Hubungan faring. laki-lai.Levitan RM. Yang biasanya dilihat adalah bentuk wajah abnormal (subjektif). pergerakan rahang. Sistem penilaian ini meliputisebagian besar karakteristik yang disebutkan sebelumnya dan diadaptasi untuk digunakan pada ruang resusitasi. gigi tonggos. Jarak antara gigi seri pasien sekurangnya 3 jari (3). Limitations of Difficult Airway Prediction in Patients Intubated in the Emergency Department. Pelatihan manajemen nasional kegawatdaruratan jalan nafas US mencanangkan metode LEMON. . laring dan oral berhubungan dengan intubasi. Ochroch EA. dan leher pendek. gigi seri yang lebar/menonjol. Ann Emerg Med. nilai Mallampati. intubasi. L= Look externally Lihat pasien keseluruhan luar untuk mengetahui penyebab kesulitan laringoskopi. jarak antara tulang hyoid dan dagu sekurangnya 3 jari (3). karakteristik maksilaris. atau ventilasi. Everett WW. penurunan dalam membuka mulut. mandibula. 2004.

dengan nilai maksimal 10 (1 point ditambahkan bila nilai Mallampati 3 atau lebih) dan minimal adalah nol. Selain keadaan epiglotis.Gambar 2. 1 jarak antar gigi seri dalam jari. N= Neck mobility Ini merupakan hal yang vital dalam keberhasilan intubasi. Pasien dengan imobilisasi leher lebih sulit diintubasi Cara penilaian LEMON dapat dilihat dalam tabel berikut. adanya abses peritonsiler dan trauma. 2 jarak hyoidmental dalam jari. dan 3 jarak thyroid ke dasar mulut dalam jari M= Mallampati O= Obstruction Beberapa kondisi dapat menyebabkan obstruksi jalan nafas yang membuat sulitnya laringoskopi dan ventilasi. . Hal ini dapat dinilai mudah dengan menyuruh pasien menundukkan kepala dan kemudian menengadahkannya.

obstruksi jalan nafas. Kriteria ‘evaluasi’ lebih mudah dan prediktabel dalam kesulitan intubasi. Can an airway assessment score predict difficulty at intubation in the emergency department?. Kriteria ‘evaluasi’ hanya dapat dinilai secara keseluruhan dalam 90% populasi dan ‘Mallampati’ hanya mungkin dilakukan dalam 57% pasien. kurangnya jarak antara thyroid dan dasar mulut menghasilkan penglihatan yang kurang dari laringoskopi. Kami melihat di penelitian sebelumnya komponen ‘look’. McKeown DW. Pasien dengan kurangnya jarak hyoid dan dagu.22:99–102 .Pasien dengan gigi seri yang lebar mengurangi pembukaan mulut. Reed MJ. ‘obstruksi’. Emerg Med J 2005. Dunn MJG. dan kurangnya mobilitas leher mempunyai pengaruh dalm penglihatan yang kurang pula walaupun faktor tersebut tidak signifikan. dan ‘mobilitas leher’ dengan mudah dinilai dalam populasi di ruang resusitasi. Seperti yang kami tunjukkan ‘Mallampati’ selain sulit untuk dinilai dan merupakan pendeteksi yang lemah dalam tingakt intubasi di bidang kegawatdaruratan.

Gambar 4. seperti Combes et al untuk menentukan faktor prediksi jalan nafas sulit pada keadaan prehospital. ahli anestesi dapat memperkirakan resiko kesulitan dalam intubasi. Deteksi pre-operasi pasien ada tidaknya resiko kesulitan intubasi adalah langkah awal dalam manajemen jalan nafas. Amathieu et al untuk .Selama kunjungan pre-anestesi. untuk mengantisipasi manajemen jalan nafas yang sulit meliputi peralatan jalan nafas ‘alternatif’. Sejak itu IDS > 5 digunakan untuk definiso intubasi sulit pada populasi yang berbeda. Klasifikasi IDS Skala kesulitan intubasi (IDS) diajukan pada tahun 1997 sebagai karakteristik dan standarisasi dalam intubasi endotrakeal dan secara objektif memberi keseragaman pendekatan untuk membandingkan penelitian yang berhubungan dengan kesulitan intubasi dan dengan tujuan menetapkan nilai relatif faktor resiko dalam kesulitan intubasi.

21. leher pendek.3(1):307 Kesukaran yang sering dijumpai dalam intubasi endotrakheal biasanya dijumpai pada pasien-pasien dengan : . dan Gonzalez et al untuk mengevaluasi faktor resiko intubasi sulit pada pasien yang obesitas. jarak thyromental. Ommid M. Predictors of Difficult Intubation : Study in Kashmiri Population. Riparta J. Nilai IDS ditemukan lebih tinggi pada pasien obesitas : sedikitnya glotis yang terlihat. pergerakan kepala dan leher. Nouvellona E. dan perlunya bantuan tekanan eksternal untuk meningkatkan pandangan glotis (N4. Eur J Anaesthesiol 2009. restriksi dalam membuka mulut. payudara besar. Selain itu. ada tidaknya gigi tonggoss. Naqash I. jenis kelamin. Fabbro-Peraya P. Hermitea JL. Lavi R.menilai faktor resiko intubasi sulit dalam pembedahan thyroid. Cuvillona P.BMPJ 2010. dan resesi mandibula. Nengroo S. Langerond O. 26:1003–1009 Evaluasi jalan nafas untuk setiap pasien meliputi klasifikasi Mallampati modifikasi tanpa fonasi. Mehta A. Ziser A. Pencatatan umur. Predicting difficult airways using the intubation difficulty scale: a study comparing obese and non-obese patients. The Simplified Predictive Intubation Difficulty Score: a new weighted score for difficult airway assessment. dan terbatasnya flexi-ekstensi vertebra servikal dan atlantooccipital mempunyai kontribusi dalam kesulitan intubasi. Lidah lebar. lebarnya membuka mulut. jenis pembedahan dan komorbiditas. meningkatnya kekuatan mengangkat selama laringoskopi. Mallampati 3-4 diprediksikan sulit dalam intubasi pada pasien obesitas. Segal D. status fisik ASA. Pengukuran BB dan TB serta perhitungan BMI. Journal of Clinical Anesthesia 2009. 264–267 Gupta AK. laring yang tinggi dan anterior. N6). N5.

Gigi incisium atas yang menonjol (rabbit teeth). f.Bagian Anastesiologi dan Terapi Intensif. Tjokorda GA. Jakarta : Indeks Jakarta Mansjoer. 2010. Arif dkk. Edisi Kedua. c. dengan pembatasan pergerakan leher atau rahang. adanya pembengkakan akibat luka atau alergi. adanya tumor.a. . Petunjuk Praktis Anastesiologi. Dalam : Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid 2. Beberapa individu memiliki jalan nafas yang tidak sesuai. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap... 2002. spondilitis servical spine. Jakarta : FKUI. abnormalitas perkembangan rahang. Mangku. 2005. Suryadi. Recoding lower jaw dengan angulus mandibula yang tumpul. Intubasi Trakea. Kesukaran membuka rahang. Jakarta : Media Aesculapius Beberapa pasien memerlukan evaluasi berhubungan dengan kesulitan intubasi dan komplikasi. Kontraktur jaringan leher sebagai akibat combusio yang menyebabkan fleksi leher. b. g. tebalnya jaringan lemak wajah dan leher. SA. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang tinggi d. R. Buku Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Abnormalitas pada servical spine termasuk achondroplasia karena fleksi kepala pada leher di sendi atlantooccipital. e. seperti multiple arthritis yang menyerang sendi temporomandibuler. Latief. Gde dan Senapathi. Jarak antara mental symphisis dengan lower alveolar margin yang melebar memerlukan depresi rahang bawah yang lebih lebar selama intubasi. Dachlan. KA.

2000. Airway Management. dan dada atas yang berpotensial menyulitkan intubasi. Adanya riwayat operasi sebelumnya. Gal TJ.Ketika melihat riwayat pasien. terapi radiaso atau tumor di daerah kepala. leher. tanyakan dan lihat gejala atau tanda. . atau cabang trakeobronkial. 1414-51. Stone DJ. hal ini memperkirakan adanya obstruksi pada jalan nafas atas. sepertikesulitan berbicara atau bernafas. Miller. laring. trauma.