Tentang Cintamu!

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Alloh turunkan dari langit berupa air, lalu dengan itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Alloh) bagi kaum yang memikirkan. "Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingantandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya orang-orany yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)" (Q.S Al Baqoroh ayat 163-165) Ikhwah fiLlah RahimakumuLlah, Ada diantara kelompok manusia yang manakah kita ? Saudaraku, Pernahkah terfikir oleh diri, ketika pagi hari kita memulai aktivitas, berapa banyak orang yang mendasarkan seluruh aktivitasnya atas keridhoan Alloh ? Setiap kali fikir itu terlintas, sepenuh syukurlah harusnya kita pada Alloh bahwa saat itu dan saat ini kita masih mendasarkan langkah kita atas ridho Alloh dan senantiasa merasa berada dalam pengawasanNya. Satu kenikmatan untuk bisa diizinkan belajar mencinta Alloh, belajar menghayati setiap hikmah dari tiap kejadian dari kehendaknya, belajar menikmati pemeliharaan-Nya, teguran-teguran-Nya, yang seluruhnya adalah bukti cintaNya. Berapa banyak pelajaran yang menjadikan kita dekat pada-Nya, bersandar pada-Nya dan merasakan pemeliharaan-Nya. Belajar memaknai bahwa seluruh kehidupan yang kita jalani adalah bentuk cinta-Nya pada seluruh makhluk ciptan-Nya dan hamba yang terpilih untuk dicintai secara lebih Dengan seluruh bukti cinta-Nya

Masih adakah ruang yang tersisa untuk yang lain selain Dia Yang pasti satu yang nyata Adalah kebahagiaan untuk bisa membawa seluruh jiwa tunduk pada Alloh Robb yang maha dicinta Seperti tunduknya semesta yang tanpa penolakan sedikitpun Seperti tunduknya raga yang sebenarnya tidak pernah tunduk pada jiwa Teguran untuk diri Malu rasanya menginjak tanah yang begitu tunduk pada Alloh Malu mnginjak-injaknya, sementara dia jauh lebih tunduk dibandingkan kita Malu menginjak rumput, semut yang nyata-nyata jauh lebih tunduk dibanding kita Akhirnya sudah waktunya untuk membawa diri tunduk patuh pada Alloh dengan sebenar-benarnya. Sebuah ketundukkan karena cinta yang benar, cinta yang melingkupi seluruh jiwa dan raga yang tidak menyisihkan tempat sedikitpun untuk yang lain selain Dia Sebuah kepatuhan yang ikhlas yang tidak lagi merasakan sebuah pengorbanan sebagai pengorbanan Karena tidak ada pengorbanan untuk yang Maha Tercinta Yang ada hanya keinginan untuk mencintai agar dicintai oleh Sang Pemilik Cinta Tidak ada pengorbanan dalam da'wah ini, yang ada adalah keinginan membuktikan cinta Yang akhirnya sanggup menggeser kesabaran menjadi sebuah kesyukuran bahwa dalam ujian pun kita merasakan itu adalah karena cinta-Nya dan sebuah kesempatan untuk membuktikan cinta kita pada-Nya Bukankah kesyukuran yang layaknya dirasakan karena pada waktu sempitlah kita bisa merasakan kebenaran cinta-Nya, bahwa pertolonganNya amat dekat, Kasih sayangNya begitu indah dan impian berjumpa dengan Nya adalah sumber kebahagiaan. Sebuah cinta yang jujur seperti dialog tak terlupakan antara empat orang tokoh Rabi'ah Al'adawiyah, Sufyan Attsauri, Syaqiq Albikhi dan Malik Bin Dinar ketika Rabi'ah meminta mereka mendefinisikan kejujuran. "Tak jujur pengakuan cinta seseorang yang tak bersabar menahan pukulan tuannya", ungkap Sufyan Attsauri. "Tak jujur pengakuan seseorang yang tak bersyukur atas pukulan tuannya"' jawab Syaqiq Albikhi. "Tak jujur pengakuan seseorang yang tak bernikmat-nikmat dipukul

tuannya", sergah Malik bin Dinar. "Tak jujur pengakuan seseorang yang tak melupakan pukulan ketika menghadap tuannya"' jabar Rabi'ah Al'adawiyah. Begitu jujurnya CINTA. Ada yang begitu sabar menahan derita hidup. Ada yang begitu tahan menerima derita da'wah. Dan ada yang begitu syukur dan bahkan menikmati derita sebagai karunia. Semuanya indah, terutama pada sang totalis (shahibu't tajrid) yang tak menyadari derita, karena yang ada hanyalah Dia. Saudaraku, mari mencinta Alloh dengan sebenar-benarnya cinta. Mari saling mendoa agar kita semua terpilih untuk memiliki cinta yang Jujur. Semoga Alloh mengumpulkan kita semua dalam satu taman yang disana kita bisa saling bertukar cerita tentang tentang semua pengalaman perang, semua usaha membuktikan kecintaan, dan tentang semua bukti cintaNya. Kau tentang Tuhan dan nampakkan cinta Dia Demi Alloh. ini perkara luar biasa Bila cintamu benar tentulah kau taat Dia Karena setiap kekasih Kepada kekasihnya pastilah setia (imam Syafi'I RA) Wallahu'alam bishshawab. Brandy Korman -----------------------

Serangan 11 September Jadi Inspirasi untuk Masuk Islam
Seorang wanita muda bermata biru dan mengenakan jilbab warna merah terang nampak tekun mengikuti pembicaraan tentang Al-Quran di sebuah perkumpulan warga Muslim, Islamic Society di Michiana. Wanita itu, terkadang terlihat tersenyum dan menganggukanggukan kepalanya mendengarkan tiga orang wanita lain yang bersamanya sedang berdiskusi tentang Al-Qur'an. Di sela-sela kalimat bahasa Inggris yang mereka gunakan, terkadang terdengar kata 'Insha Allah', yang artinya 'Jika Allah Mengizinkan.' Wanita muda berkerudung merah itu bernama Brandy Korman. Namun tak lama lagi, orang akan mengenalnya dengan nama Zahra Abaza. Korman yang baru berusia 21 tahun itu, menggunakan nama Islam, karena memang ia baru saja masuk Islam, pada musim semi yang lalu. Kini Korman tidak lagi mengenakan setelan jeans dan sweaternya. Ia mengganti pakaiannya itu dengan baju Muslimah berupa baju panjang dan tentu saja jilbab yang kini

dikenakannya. Korman bahkan berani memutuskan untuk menjadi istri laki-laki asal Mesir, yang selama ini belum pernah dikenalnya. Kehidupan yang dijalani Brandy Korman atau Zahra Abaza sekarang benar-benar sebuah kehidupan baru dengan keimanannya yang baru. Peristiwa serangan 11 September yang menggegerkan rakyat Amerika bahkan dunia, menjadi titik awal kehidupan baru Korman. Saat itu, ia masih berusia 18 tahun dan seorang pemeluk agama Katolik yang taat. Peristiwa 11 September itu mendorongnya pergi ke Penn State University, di sana ia mulai mencari tahu tentang agama Islam dan kitab suci Al-quran Lewat mesin pencari google di internet, Korman mengetik kata 'Islam' dan 'Quran' dan mulai mencari informasi tentang dua kata itu. "Saat itu, saya bukan hanya sekedar ingin tahu. Apa yang ada di kepala saya, 'agama macam apa yang memerintahkan pemeluknya untuk membunuh orang," kata Korman saat ditanya asal-muasal ia ingin mengenal Islam. Dari situs internet, Korman beralih ke perpustakaan dan membaca buku-buku yang memberikan informasi tentang Islam. Korman pun mulai membaca isi Al-Quran, 'Ribuan halaman saya baca,' katanya. Setelah membaca isinya, anggapan Korman bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan orang untuk membunuh, justru pudar. Korman mulai memahami Islam ajaran Islam yang mengajarkan manusia untuk berserah diri pada Allah, yang melarang membunuh orang yang tidak berdosa meski atas nama agama, ujar Korman. "Ketika saya membaca isi Al-Quran, saya tidak menemukan hal-hal yang tidak saya saya setujui seperti ketika saya membaca Injil," tambah Korman. Misalnya soal prinsip Trinitas yang selama ini selalu menjadi pertanyaan Korman. Kegiatan Korman mencari informasi sebanyak-banyaknya soal Islam sempat terhambat, karena kesibukan sekolahnya. Dalam seminggu, paling hanya beberapa jam saja, Korman kembali menggali informasi tentang Islam lewat internet. Apalagi setelah itu, Korman pindah bersama ibunya dari Pennsylvania ke South Bend. Di South Bend inilah, Korman kembali giat mempelajari Islam, tepatnya sejak akhir Januari kemarin. Korman pun sering bertanya pada sejumlah teman kuliahnya yang Muslim di Jurusan Bisnis, Universita Indiana, South Bend (IUSB). Saat musim semi, Korman mengirimkan email pada teman kuliahnya Osama Abaza, 24 tahun, asal Alexandria, Mesir dan menyatakan keinginannya untuk ke masjid. Korman pun mendatangi sebuah masjid milik komunitas Muslim, Islamic Society of Michiana di South Bend yang terletak di 3310 Hepler St. Di belakang mesjid, Korman berdiri mengamati warga Muslim, laki-laki dan perempuan sholat, berdiri, ruku dan sujud. Karena sudah mengetahui tentang Islam, Korman merasa nyaman berada di masjid, ia tidak melihat atau mendengar ucapan-ucapan yang tidak enak atas keberadaannya di sana dari para pengunjung masjid. Setelah itu, Korman pun rutin datang ke masjid setiap seminggu sekali bersama Abaza dan ia menanyakan banyak hal

tentang Islam pada teman kuliahnya itu. Abaza sendiri, sedang mempelajari kembali agamanya itu. Sebelum ia meninggalkan Mesir menuju AS sekitar 4,5 tahun lalu, Abaza boleh dibilang bukan seorang Muslim yang taat. Baru, pada saat tinggal di AS, Abaza kembali sering ke masjid. "Saya merasa membutuhkan sesuatu di tengah-tengah masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis ini. Tidak perasaan lain yang lebih baik, selain perasaan memiliki Tuhan," kata Abaza. Sementara itu, Korman, setelah banyak mencari tahu soal Islam dan berdiskusi dengan Abaza, sekitar 3 bulan setelah melakukan kunjungan ke masjid, ia menyatakan masuk Islam di hadapan 2 saksi. Awal Kehidupan Baru Tak lama setelah Korman masuk Islam, Abaza mengundangnya makan siang di restaurant Olive Garden. Saat itu Korman sama sekali tidak berfikir bahwa ia sedang kencan, karena Abaza sudah menikah, meski dalam proses perceraian. Namun sepanjang makan siang itu, pembicaraan Abaza sudah mengarah untuk mengajaknya menikah. Dan itu terbukti keesokan harinya, Abaza melamarnya. Korman hanya bisa tercengang dan terlihat sedikit takut, biar bagaimanapun ia belum begitu mengenal Abaza. Abaza mengatakan, lamarannya adalah hal yang sangat rasional. Dengan menikah, ia bisa membantu Korman menjadi seorang Muslimah yang diinginkannya sekaligus bisa menjadi pendamping hidupnya, jelas Abaza. Korman dan Abaza pun akhirnya menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu dua minggu. "Kami menginginkan hal yang sama dan kami menuju ke arah yang sama," ujar Korman. Korman merasa Abaza bisa membimbingnya menjadi Muslimah yang baik. Dia, Abaza, kata Norman, juga punya tujuan hidup yang sama, punya anak, membesarkan dan mendidiknya sebagai Muslim dan tinggal di luar AS. Korman dan Abaza pun menikah dengan cara Islam, tepat satu minggu setelah Korman masuk Islam. Mereka menyebut pernikahan mereka sebagai 'awal' dari hubungan mereka. Mereka memang belum mendaftarkan perkawinan mereka secara resmi berdasarkan undang-undang negara bagian AS. Rencananya mereka akan mendaftarkannya segera ke Las Vegas, namun belum menentukan tanggalnya. Korman dan Abaza kini tinggal di sebuah apartemen di Mishawaka. Meski sudah menjadi muslimah, awalnya Korman masih takut mengenakan jilbab ke sekolah atau ke tempat kuliahnya. Korman hanya mengenakannya kalau pergi ke masjid. Tapi sekarang, Korman mengenakan jilbab ke manapun ia pergi. Ia mengaku kadang merasa tidak nyaman melihat orang-orang memandang ke arahnya. Ditanya apakah ia senang mengenakan jilbab, Korman hanya menjawab,"Saya tidak tahu, tapi Al-Qur'an mengatakan sebagai Muslimah saya seharusnya mengenakan jilbab." "Jilbab memotivasi anda untuk menjauhi hal-hal yang seharusnya dijauhi," tambah Korman. Karena sudah mengenakan jilbab, Korman sekarang tidak bisa sembarangan

ngobrol dengan laki-laki atau pergi ke bar. "Aneh rasanya, pakai jilbab tapi pergi ke bar," ujar Korman sambil tertawa. Keputusan Korman masuk Islam, bukan tanpa hambatan. Korman harus memberikan banyak penjelasan terutama pada keluarganya. "Ibu saya menanyakan, bagaimana bisa saya masuk Islam karena saya bukan berasal dari Timur Tengah," kisahnya sambil tersenyum. Ceritanya lainnya, saat ia pergi ke toko kelontong, kasir di toko itu melirik foto di kartu kredit lalu melihat penampilannya yang berjilbab. Kasir itu bertanya, "Bagaimana nama anda bisa jadi Brandy?" Korman kini sedang memproses pergantian nama depannya dari Brandy menjadi Zahra yang dalam bahasa Arab artinya 'Bunga.' Mengomentari soal agama Islam yang kini menjadi keyakinannya, Korman mengatakan,"Buat saya Islam bukan hanya sekedar agama, tapi sudah menjadi cara hidup saya. Saya harus mengubah gaya hidup saya, cara berpakaian saya." Korman kini tidak lagi merayakan hari Thanksgiving, "Berat memang, ketika keluarga saya menghubungi saya tapi saya tidak bisa berkumpul bersama mereka. Bukan pesta Thanksgivingnya yang saya rindukan, tapi suasana berkumpul bersama keluarga," ujar Korman. Problem Klasik para Mualaf Bagi para mualaf di manapun, perubahan gaya hidup setelah masuk Islam masih menjadi persoalan klasik. Biar bagaimanapun, seorang mualaf butuh waktu untuk beradaptasi mengikuti ajaran agama barunya dan meninggalkan kebiasaan lamanya. Korman juga mengalaminya. Ia mengatakan, tetap akan mengunjungi keluarganya yang kini sudah pindah ke Florida, hari Natal ini. "Saya datang bukan untuk merayakan Natal, tapi untuk menjaga tali ikatan kekeluargaan," kata Korman. Buat Korman, persoalannya bukan hanya harus meninggalkan kebiasaan lamanya. Ia juga merasa perjalanan masih sangat panjang untuk menjadi seorang Muslim. Untuk itu, setiap hari Kamis ia belajar studi Al-Qur'an dan minta suaminya Abaza menggunakan bahasa Arab sehari-hari sesering mungkin. Korman tetap meyakini bahwa Islam tidak mengajarkan umatnya untuk membunuh orang yang tidak berdosa. Di sisi lain, Korman juga menyatakan ketidaksetujuannya dengan kebijakan pemerintah AS yang memborbardir orang di seluruh dunia atas nama kebebasan dan demokrasi, tulis Korman dalam emailnya. (ln/southbend tribune) * http://www.eramuslim.com/br/dn/4c/15992,1,v.html Islam membentuk Eropa Baru Dari Chicago Tribune Online. Alamat situsnya: http://story.news.yahoo.

com/news?tmpl=story&cid=2027&ncid=2027&e=1&u=/chitribts/20041219/ ts_chicagotrib/islamshapinganeweurope

Geliat Islam di Eropa
Lebih 1000 tahun setelah Raja Frankish mengusir tentara muslim dari pusat kota Tours, Perancis, Islam sekarang menjadi agama kedua di Perancis. Jumlahnya 10 kali lipatnya orang Yahudi. 25 tahun yang lalu, ayatullah Khomeini merencanakan revolusi Islam Iran dari Perancis, dan keberhasilannya memberi inspirasi kebangkitan Islam. Sekolah Islam banyak didirikan di Eropa. Masjid semakin ramai dikunjungi jamaah, puasa Ramadhan makin meriah, dibanding satu dekade yang lalu. Geliat Islam di Eropa, bisa jadi juga terjadi di amerika, sebagai agama yang paling pesat perkembangannya. Wajar jika musuh Islam, seperti Joj Bush menerapkan berbagai aturan pelarangan bagi muslim yang hendak berkunjung ke negrinya (Sampai-sampai Cat Steven aja dilarang masuk.) Takut negrinya bernasib sama seperti Eropa! Selamat membaca, asyik lho isinya. Notes: Berita ini sempat ditayangkan sekejap (1-2 jam) oleh Yahoo. Entah kenapa tiba-tiba lenyap. Padahal judul-judul berita yang lain masih nempel beberapa hari. --------------------------------The following article was briefly posted at ... http://story.news.yahoo. com/news?tmpl=story&cid=2027&ncid=2027&e=1&u=/chitribts/20041219/ ts_chicagotrib/islamshapinganeweurope ... but was then unknowingly removed ... --------------------------------Islam shaping a new Europe Sun Dec 19, 9:40 AM ET By Evan Osnos Tribune foreign correspondent A NOTE FROM THE EDITORS: Anyone wondering how the struggle for the soul of Islam could play out in America should look to Europe. Islamic traditions and beliefs are prompting Europeans to re-evaluate practices and laws as well as prized principles, such as the separation of church and state. Nowhere is this more evident than in France, now home to the largest Islamic community on the continent. For the 11th part of this occasional series, a Tribune reporter traveled to a Paris suburb to examine the future that Europe is

straining to handle. Butchered piglets hang in tidy rows at the open-air market, and shoppers haggle over cheese and oysters in a scene hardly altered since the last Bourbon king was buried at the Gothic church on the corner. But slip out of the market on a Friday, and a quarter-mile up the road you will find a very different France: Hundreds of Muslims squeezed hip to hip into an unheated canvas tent, bowing in sacred silence toward Mecca, the birthplace of Islam, which few of them have ever seen. The worshipers at this makeshift mosque on the edge of Paris are men and women, dressed in the latest fashions and traditional robes, Arab, European and African. They are moderate, conservative and fundamentalist. They are first-, second- and third-generation immigrants. They are content and they are enraged. They are the future that Europe is straining to handle. What is happening in Europe may provide a partial preview of what lies ahead for the United States and its fast-growing Muslim population. For the first time in history, Muslims are building large and growing minorities across the secular Western world--nowhere more visibly than in Western Europe, where their numbers have more than doubled in the past two decades. The impact is unfolding from Amsterdam to Paris to Madrid, as Muslims struggle -- with words, votes and sometimes violence--to stake out their place in adopted societies. Disproportionately young, poor and unemployed, they seek greater recognition and an Islam that fits their lives. Just as Egypt, Pakistan and Iran are witnessing the debate over the shape of Islam today, Europe is emerging as the battleground of tomorrow. "The French are scared," said Tair Abdelkader, 38, a regular at the tented mosque whose light blue eyes and ebony beard are the legacy of a French mother and Algerian father. "In 10 years, the Muslim community will be stronger and stronger, and French political culture must accept that." By midcentury, at least one in five Europeans will be Muslim. That change is unlike other waves of immigration because it poses a more essential challenge: defining a modern Judeo-Christian-Islamic civilization. The West must decide how its laws and values will shape and be shaped by Islam. For Europe, as well as the United States, the question is not which civilization, Western or Islamic, will prevail, but which of Islam's many strands will dominate. Will it be compatible with Western values or will it reject them? Center stage in that debate is France, home to the largest Islamic community on the continent, an estimated 5 million Muslims. Here the process of defining Euro-Islam is unfolding around questions as

concrete as the right to wear head scarves and as abstract as the meaning of citizenship, secularism and extremism. In some cases, conservative Muslims have refused to visit co-ed swimming pools, study Darwinism or allow women to be examined by male doctors. One young St.-Denis fundamentalist recently set off for Iraq (news web sites) and was captured fighting American troops in Fallujah. Stunned by stories like that, France is hoping to use the legal system to influence the direction of Islam within its borders. The government has deported 84 people in the past six months on suspicion of advocating violence and drawn wide attention for banning head scarves and other religious symbols in public school. But even supporters of that tough approach concede that the measures can do little more than patch the widening cracks in Europe's image of itself. "I'm not sure we'll go much further than gaining a few months or years" in the effort to limit Islam's imprint on France, said Herve Mariton, a member of the French Parliament who lobbied for the head scarf law. "That may be useful. But there is no way this is the ultimate answer to the challenge." A new France St.-Denis' narrow streets sweep outward from a soaring 12th Century basilica that is the final resting place for generations of French monarchs. But today their snowy stone statues stare down onto a city and nation in transformation. The Muslim migration to Europe began in earnest after World War II, when North African workers arrived by the thousands to help rebuild the continent. A half-century later, no fewer than a third of St.Denis' 90,000 residents are of Arab origin. Arabic script on butcher shops and storefronts touts halal meat, handled to Islamic standards. Couscous restaurants are as plentiful as brasseries. Muslim settlement houses usher in new immigrants, and Muslim funeral homes bid farewell to old ones. Across the country, French Muslims still live more or less where the first arrivals settled a half-century ago, in suburban apartment blocks erected in the 1950s for foreign workers. These suburbs, the banlieues, have become the byword for France's virtually segregated Muslim communities. The complexes used to be integrated, with Polish, Italian and French workers living among North African arrivals, but over time the Europeans moved on--and the Arabs did not. It is a scene repeated across the suburbs of Paris. "Gradually the French people left or died, and they were replaced by more people from North Africa," said Brigitte Fouvez, 55, deputy mayor in the neighboring town of Bondy. "The French people who stayed would say, `You can smell the cooking in the hallways,' and

eventually they left too." Like other ethnic Europeans, Fouvez and her husband moved from Paris in 1978 in search of more room for their two children. She watched Bondy evolve. "Before, we had a charcuterie and a butcher," she said. "Now there are just three halal butchers, no fish shop anymore, no traditional French stores." But those changes weren't nearly as startling as the sight of conservative Muslim women draped head to toe in dark chador robes--to Fouvez's eyes, "as black as crows." Birth of an identity Thirteen hundred years after the Frankish King Charles Martel repelled Muslim armies from the central city of Tours, Islam is now the second religion of France; there are about 10 times as many Muslims as Jews. From the Paris suburbs 25 years ago, Shiite Ayatollah Ruhollah Khomeini planned a revolution that ultimately overthrew the Shah of Iran and, in turn, helped inspire a global Islamic revival. The fallout is easily visible today as the children and grandchildren of Muslim immigrants in Europe increasingly embrace religion. In France and England, polls show greater commitment to daily prayers, mosque attendance and fasting during Ramadan than there was a decade ago. Only one in five Muslims in France say they actively practice the faith, but many who once defined themselves in terms of Tunisian, Iraqi or Turkish descent now consider their primary identity to be Muslim. "Nobody was talking about Muslims in France at the end of the 1990s. People were talking about Arabs or beurs," said French political scientist Justin Vaisse, using the term applied to French of North African immigrant descent. Young French Muslims gravitate toward charismatic spokesmen of a new European Islam, such as controversial Swiss-born philosopher Tariq Ramadan, whose French headquarters here in St.-Denis urges a "silent revolution." In his writings, he advocates using the political process, instead of violence, to win Muslim rights and recognition across Europe. Ramadan's supporters call him a major voice of moderate Islam, but some critics say he is tied to extremists, a charge he denies. He was scheduled to begin teaching this year at the University of Notre Dame until U.S. immigration authorities rescinded his work visa, citing unspecified national security concerns. Unlike earlier immigrants, who were bent on returning home flush with cash, more-recent arrivals have been deterred by the turmoil in their homelands and stayed, building families that are larger than those of their graying ethnic European neighbors. The effect is amplified by the decline of European Christianity. The number of people who call

themselves Catholic, the continent's largest denomination, has declined by more than a third in the past 25 years. The results are stark. Within six years, for instance, the three largest cities in the Netherlands will be majority Muslim. One-third of all German Muslims are younger than 18, nearly twice the proportion of the general population. With that growth, and the deepening strains between the U.S. and the Islamic world, radical Muslim clerics have found no shortage of adherents. A 2002 poll of British Muslims found that 44 percent believe attacks by Al Qaeda are justified as long as "Muslims are being killed by America and its allies using American weapons." Germany estimates that there are 31,000 Islamists in the country, based on membership lists of conservative federations. Year by year, European Islam pulls further away from the cultural traditions of Morocco or Algeria, refashioned all the while by the pressures of life in Europe. For some, the solution is a more liberalized Islam that incorporates Western concepts of individual rights and tolerance. But for others, the answer lies in a stricter interpretation of the core elements of the faith. "It is more fundamentalist in its essence because what you subsist on is personal practice--reading of the Koran, Shariah," Vaisse said. "It can take very humanist forms, but in some cases, it can also lead to political radicalization and terrorism." The potentially serious effects of that radicalization became clear on March 11, when coordinated bombings of four commuter trains in Madrid killed 191 people and wounded more than 1,800. Moroccan and Tunisian suspects later killed themselves in a standoff with police. More recently, the Netherlands is in turmoil after the brutal killing of Theo van Gogh, who made a controversial film about violence against women in Islamic societies. Police arrested a 26-year-old man with Dutch-Moroccan citizenship and charged him with stabbing and shooting van Gogh. The suspect allegedly pinned a note to the body with a knife. Within days, an Islamic school was set ablaze, and retribution followed. Right-wing politicians in Belgium and Germany demanded new curbs on immigration. In time, however, a more ominous fact emerged from the case: It was not the work of newly arrived immigrants with extremist views, but the product of homegrown radicalism. Police say suspect Mohammed Bouyeri wrote the death note in Dutch, not Arabic. "This [cultural] schizophrenia is the most dangerous thing we face in Europe today," said Gilles Kepel, head of Middle East studies at the Institute of Political Studies in Paris and author of several books on Islam in Europe. "It means Madrid. It means Mohamed Atta," he said, referring to one of the Sept. 11 hijackers who lived for some time in Germany.

Two men, two visions Where moderate Muslims ultimately place their loyalty may be the defining--and unpredictable--ingredient in the struggle to fashion an Islam of the West. To understand the choices, visit the men who represent the two competing visions of Islam in France. Dalil Boubakeur, rector of the Grand Mosque of Paris in the heart of the city, is a long-standing voice of moderate Islam in France. On the other side is Lhaj Thami Breze, president of the Union of Islamic Organizations of France, the increasingly powerful Islamist federation. Trained as a dentist, Boubakeur, 64, runs the 1920s-era mosque in the heart Paris. He is prone to quoting Immanuel Kant and is a favorite of French officials and foreign ambassadors. He wears a red rosebud on his lapel signifying membership in the Legion of Honor. And he knows he is losing ground. "Since Sept. 11, the world of Islam is changing faster in the West than other places in the world," he said at his antiques-lined office, his V-neck sweater, rimless glasses and wispy gray hair giving him the air of an English schoolmaster. "Western countries had had a gentleman's agreement with fundamentalists: You can stay here as long as you keep quiet. But the gentlemen are not being as quiet as they used to be." There is no question that Boubakeur's influence is weakening. Last year he was handpicked to be president of the official French Council of the Muslim Faith, a new body established by the government in 2003 to give Muslims a formal voice in dealings with the state. Just as other bodies represent Catholics and Jews, the council speaks for Muslims on issues such as the construction of mosques and the training of clerics. But things didn't go as planned. In the first election, his moderate camp was trounced by conservative candidates who won 70 percent of the 41 seats. The next vote is scheduled for April, and moderates are expected to lose even more to the men he believes are "radicalizing Islam" in France. "The facts are there: Religions that close in on themselves become sects, and that is what is happening to Islam here," Boubakeur said. "And I am very sorry about that." Across town, beside the highway in the tough Paris suburb of La Courneuve, Boubakeur's opponents are confident. Breze greets visitors at his glass-and-steel headquarters with a glossy package of materials and a calm message of "coordination, not confrontation." "We are not extremists," he says, sipping espresso at a conference table. "We practice our beliefs and have respect for the state. We want one thing from Europe and France: that they are faithful to their values." Indeed, Breze and the union have thrived under Western democracy.

Just two decades after its creation, by two foreign students, the union dominates French Islam. In the last elections for the Council of the Muslim Faith, Breze won control of a crucial post representing central France. Breze's federation draws 30,000 people to its annual conference, and the crowd is increasingly vocal in challenging the political powers that be. At last year's convention, the interior minister was booed in the middle of his speech when he suggested that women must remove their head scarves for ID photos. So what does Breze really want for Muslims in France? He and his group carefully calibrate their demands. They demonstrate against the ban on head scarves, for instance, but urge young women to respect the law as long as it is in effect. His federation is part of a broader umbrella group for all of Europe that is known for issuing decisions that help conservative Muslims function in a modern Western society by permitting, for instance, interest-bearing loans that would otherwise be banned under Islam and allowing the consumption of pork-based gelatin. Push Breze on the most sensitive issues--does he seek an Islamic state in France, or the application of strict Islamic law and punishment--and he says no: "Perhaps they are valid in Saudi Arabia or Palestine, but they are not valid here." To some critics, Breze is a "double talker" who says one thing in French and another in Arabic. To others, he is simply a shrewd strategist who understands the coming power of the fast-growing Muslim communities here. For his part, Breze says his mission is to convey a simple message: "France must respect this population." A parallel world By all appearances, she is as French as they come. A law student at the Sorbonne, she has dark brown hair that falls in stylish curls to her shoulders. Dining with friends in downtown Paris, 23-year-old Faten Mansour wears Diesel-brand jeans and red stiletto heels. But she will be the first to point out that she is not just French. "I am a woman, I am an Arab and I come from the suburbs. I have three handicaps," she says. "France is not racist, but it is xenophobic. I can study the law all night, but I don't know if I will find a job-not because I'm not competent, but because I'm an Arab." That feeling of exclusion has emerged as the central issue in the struggle to integrate Islam in Europe. Whether it is Turks in Germany, Indonesians in the Netherlands or Pakistanis in Britain, polls show Muslims feel they live in a parallel world within Europe. There are no Muslims in the French Parliament, no Muslim CEOs of top French companies, and the national news media is overwhelmingly white. Midlevel Muslim politicians routinely recite instances of their careers being diverted by higher-ups.

In an unusually blunt official assessment, the French government's auditing agency in a report released Nov. 23 faulted the republic for failing to combat segregation in housing, workplaces and schools. The same week, France's largest insurer, AXA, presented a report concluding that young immigrants in France experience a rate of unemployment that is 2 to 5 times as high as that of young people who are ethnic European. Moreover, that frustration is getting worse over time. "The first generation came to Europe to work, the second generation was caught in between two cultures. But the third generation is completely French, and they want all the rights of citizenship," said Khalid Bouchama, the St.-Denis representative for Breze's group. For ethnic Europeans, the Muslim migration amounts to a world upended: The continent that for centuries exported its people, culture and religion to the Third World is now being shaped by its former colonies. But for the French establishment, the challenge is to bring Muslims into European society without changing the foundations of secular democracy. No decision has sparked more controversy than the French government's move to ban conspicuous religious symbols from public schools, including Muslim head scarves, Jewish yarmulkes and large crosses. To its opponents, the law was a blunt refusal to accept Muslim immigration. But to its supporters, it was a decisive move to lower the barriers building between France's young people. "It showed you can only go so far, you can't go any further," said Blandine Kriegel, an adviser to President Jacques Chirac on integration issues. "The issue touched a raw nerve. It is a nerve that is at the very heart of our way of life." Kepel, the professor, served on the commission that recommended the law. He originally opposed the idea, he says, until he heard testimony from teachers and young women who described how young fundamentalists used girls' decisions to wear a veil as leverage to pressure them into adopting a more religious lifestyle. "If we were accused of being Islamaphobes, let's take it and not give a damn. It was a time to give those kids the opportunities to interact in the best possible way and not jeopardize their futures in French society," Kepel said. French Muslims responded with mass protests. Terrorists in Iraq abducted two French journalists and demanded that the law be repealed or the captives would be killed. The move backfired--French Muslims roundly denounced the threat. Four months into the first school year under the law, 45 girls across France remain out of school or in mediation over their refusal to remove their scarves. Considering that 2,000 girls were believed to be wearing the veil last year, French officials have been pleased with the outcome.

Other than the veil law, Kriegel said, the government is trying to reduce segregation of Muslim immigrants by expanding access to French language instruction and combating workplace discrimination. The government, she believes, is on the right track. "There are no fires in the banlieues," she said. "There are no riots as there were in the black ghettos in the United States in the 1960s. Why don't we have that? Because we've been rolling up our sleeves and doing something. . . . We have turned the corner." But in St.-Denis and other suburbs, the verdict is less clear. The huddles of young men stand like emblems of 17 percent unemployment, well above the national average. Classrooms and public housing are overcrowded with fast-growing immigrant families. The mosques are busier than ever: the storefront Tawhid Center for young followers of Tariq Ramadan; the Tabligh mosque for the reclusive adherents of Saudi-style conservative Islam; the many basement prayer rooms for whoever stops by. A French intelligence official who monitors fundamentalist groups said he believes the veil controversy and efforts to train imams have pushed French Muslims to an awkward reckoning point: They must decide whether to integrate with Europe or fight back in earnest against official efforts to shape their community. "They are at a crossroads," he said. "They can either go left or right." ---------ON THE INTERNET For more stories and photos in the series "Struggle for the soul of Islam," go to chicagotribune.com/news/ specials/

HUKUM BERBURUK SANGKA MENCARI-CARI KESALAHAN
Oleh Syaikh Abdul Muhsin Bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr

DAN

RIFQON AHLASSUNNAH BI AHLISSUNNAH [Menyikapi Fenomena TAHDZIR & HAJR] Allah Ta’ala berfirman.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencaricar kesalahan orang lain?E[Al-Hujurat : 12] Dalam ayat ini terkandung perintah untuk menjauhi kebanyakan berprasangka, karena sebagian tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus ialah mencari-cari kesalahan-kesalahan atau kejelekankejelekan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara?E[Diriwayatkan oleh AlBukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563] Amirul Mukminin Umar bin Khathab berkata, “Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangkaprasangka yang baik?Eo:p> Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Umar di atas ketika menafsirkan sebuah ayat dalam surat Al-Hujurat. Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata : “Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu?E Disebutkan dalam kitab Al-Hilyah karya Abu Nu’aim (II/285) bahwa Abu Qilabah Abdullah bin Yazid Al-Jurmi berkata : “Apabila ada berita tentang tindakan saudaramu yang tidak kamu sukai, maka berusaha keraslah mancarikan alasan untuknya. Apabila kamu tidak mendapatkan alasan untuknya, maka katakanlah kepada dirimu sendiri, “Saya kira saudaraku itu mempunyai alasan yang tepat sehingga melakukan perbuatan tersebut?E Sufyan bin Husain berkata, “Aku pernah menyebutkan kejelekan seseorang di hadapan Iyas bin Mu’awiyyah. Beliaupun memandangi wajahku seraya berkata, “Apakah kamu pernah ikut memerangi bangsa Romawi??EAku menjawab, “Tidak?E Beliau bertanya lagi, “Kalau memerangi bangsa Sind, Hind (India) atau Turki??EAku juga menjawab, “Tidak?E Beliau berkata, “Apakah layak, bangsa Romawi, Sind, Hind dan Turki selemat dari kejelekanmu sementara saudaramu yang muslim tidak selamat dari kejelekanmu??ESetelah kejadian itu, aku tidak pernah mengulangi lagi berbuat seperti itu?E[Lihat Kitab Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir (XIII/121)]

Komentar saya : “Alangkah baiknya jawaban dari Iyas bin Mu’awiyah yang terkenal cerdas itu. Dan jawaban di atas salah satu contoh dari kecerdasan beliau?E Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-‘Uqala (hal.131), ”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya?E Beliau juga berkata pad hal.133, “Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita?E

[Disalin dari buku Rifqon Ahlassunnah Bi Ahlissunnah Menyikapi Fenomena Tahdzir dan Hajr, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al’Abbad Al-Badr hal 17-21, Terbitan Titian Hidayah Ilahi]

Kasih Ibu
"Nyanyo, bangun... udah azan subuh. Sarapanmu udah mama siapin di meja..." Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang... ga usah repot-repot ma, aku dan adik-adikku udah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan. Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak .... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa. Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku

kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, "Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, mama tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri" Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu?c bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orangtua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing. Diam-diam aku bermuhasabah... Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada mama. Kalian tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orangtua." Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan mamaku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari mama bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh mama ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi... Ah, maafin kami mama ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Allah? "Nyanyo... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah mama siapin di meja.." Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan "terimakasih mama, aku beruntung

sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama..." Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan... Cintaku ini milikmu, Mama... Aku masih sangat membutuhkanmu... Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu.. Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu... ", namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah. Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita ... ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta. Percayalah... kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Wallaahua'lam "Ya Allah,cintai mamaku, beri aku kese mpatan untuk bisa membahagiakan mama .. dan jika saatnya nanti mama Kau panggil,panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Titip mamaku ya Allah" Untuk semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya.

Renungan
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu bangsa,sehingga mereka mengubah keadaan apa yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. 13 :11) "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari(kenikmatan) duniawi" (QS 28:77) Saat ini dunia sangat membutuhkan sebuah sistem perekonomian yang mampu menciptakan pertumbuhan sekaligus pemerataan. Sistem ekonomi kapitalis yang kini mendominasi dunia terbukti telah gagal dalam menciptakan ekonomi yang cukup pesat. Kapitalis mampu mendongkrak pertumbuhan yang realitasnya menimbulkan jurang pemisah yang cukup tajam antara konglomerat dan yang melarat. Sementara itu, khususnya di negara Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, ternyata perekonomiannya dikuasai orang lain. Berdasarkan hasil penelitian yayasan SIDIK Jakarta, 70% perekonomian dikuasai Cina perantauan (Overseas Chinese), padahal

jumlah mereka cuma 3%. Bisa dibayangkan begaimana cara/sistem yang digunakan, yang tidak jarang kita kenal dengan istilah "HALAL, HARAM, HANTAM". Sedangkan produk-produknya (khususnya makanan) dikonsumsi sebagian besar ummat Islam, yang mungkin di dalamnya termasuk kita dan keluarga kita sendiri. Hal ini menjadi tantangan dan ancaman yang sangat besar bagi ummat Islam di masa-masa mendatang, karena tidak mustahil pada puncaknya mereka akan menguasai dan mengendalikan secara mutlak kehidupan perekonomian di bumi persada ini. Kalau kita perhatikan, ekonomi dalam Islam ditegakkan untuk mewujudkan sebesar-besarnya kesejahteraan manusia sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat. Jadi ekonomi menurut pandangan Islam ` ekonomi itu bagi manusia buka bagi individu dan bagi masyarakat bukan bagi kelompok yang tersendiri dari individu-individu'. Islam tidak memisahkan antara apa yang wajib bagi masyarakat dengan upaya mewujudkan kesejahteraan manusia, tetapi justru menjadikannya sebagai dua hal yang berhubungan. Islam memperhatikan kepentingan individu dan masyarakat secara bersamaan. Ketika Islam mengatur masalah masyarakat, ia juga memperhatikan kepentingan individu demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu Islam menjadikan falsafah ekonomi berhubungan dengan perintah Allah swt. serta laranganlarangan-Nya. Dari hal-hal tersebut di atas, dapatlah kita memberikan beberapa pedoman penerapan untuk membangun ekonomi ummat : 1. Bagaimana kekuatan ekonomi ummat dibangun Keberhasilan Rasulullah saw. dalam membangun kekuatan ekonomi ummat Islam adalah sebuah contoh abadi yang senantiasa dapat dimanfaatkan kaum muslimin untuk mengulanginya. Rasulullah menjadi suri tauladan (QS. 33:21) tidak saja dalam karateristik pribadi ayau keluarganya, namun juga dalam membangun kekuatan. Dalam hal ini ada 3 langkah yang diterapkan Rasulullah saw 1). Membangun kekuatan pribadi manusia sehingga menjadi muslim yang benar dan baik. 2). Konsolidasi ummat serta menyempurnakan sendi-sendi kehidupan berjamaah. 3). Mengokohkan budaya dan peradapan Islam sehingga secara sistematis mampu membangun eksistensi di antara peradapan lainnya. 2. Bagaimana kita memerangi serangan perekonomian kapitalis. Amerika, sebagian besar ekonominya dikuasai oleh 500 industri berskala besar, dan jumlah assetnya dikuasai oleh 50 perusahaan papan atas.

3. Bagaimana kita merubah problematika perekonomian ummat yang semakin jauh dari nilai Islam. Di masa kejayaan Islam, semua perekonomian bisa dikontrol dengan baik, ditata dengan baik, jarang sekali terdengar adanya kolusi, korupsi dan manipulasi. Bahkan permainan perdagangan tidak sehat hampir tidak ada. Ini semua karena adanya persatuan ummat yang terhimpun dengan managemen yang mapan. Sebagai contoh a. Di zaman Umar Ibnu Khatab, hampir semua rakyat perekonomiannya bisa diatasi/stabil. b. Di zaman khalifah Umar Abdul Aziz, tidak ada satu oun rakyat yang miskin sampai-sampai khalifah bertanya kepada siapa zakat akan diberikan. Marilah kita segera bersama-sama bangkit melalui suatu kerja kolektif yang terarah, terpadu dan berkesinambungan dalam MEMBANGUN EKONOMI UMMAT MENUJU MARDHOTILLAH". Insya Allah......... Wallahu'alam bishshowab dikutip dari : isnet oleh : Hasbi<hasbi_aziizi@yahoo.com> pemilik : http://www.persadanetwork.com/hasbi

Cerita Seorang Anak Piatu ........
Ceritanya ada seorang anak cowok tunggal yang ditinggal mati nyokapnya pas ngelahirin dia. Sejak itu bokapnya jadi amat sangat workaholic sekali dan nggak married2 lagi. Ini anak tapi baek hati dan lemah lembut walopun cuma bareng pengasuh aja. Pas TK, sementara anak2 laen udah punya sepeda dia masih jalan kaki. Pengasuhnya ngadu ke bokapnya,"Tuan, nggak kasian sama den Bagus ? Masa sepeda nggak punya... apa tuan juga nggak malu?" Iya..nih..bokapnya tuh tajir banget deh. Punya sekian perusahaan.. maka dipanggillah si anak, ditawarin mau sepeda yang kayak gimana merek apa..dan si anak cuma bilang, "Nggak usah repot2 pi, aku dibeliin

bola item & bola putih aja.." Lho kok gitu? Bingung dong bokapnya. "Kenapa bola item dan putih?" "Nggak usah diterangin deh pi. Kalo papi punya uang yaa..beliin itu aja." Yah, mengingat mereka nggak pernah ngobrol jadi papinya nerima2 aja. Nggak berminat lanjutin, maka dibeliin lah tu anak sepeda generasi terbaru saat itu, yang paling canggih, plus bola item dan bola putih. Trus ni anak masuk SD lah. Pas itu musim sepatu roda. Sekian lama pengasuh pratiin, ni anak nggak minta2 dibeliin sepatu roda sama papinya. Sore2 cuma duduk aja. Sepedanya juga ditaruh di gudang. Lagi nggak musim. Pengasuhnya laporan pandangan mata dong ke tuannya hingga si anak dipanggil lagi.

"Nak, kamu mau dibeliin sepatu roda kayak temen2 kamu? kok nggak

bilang2 papi. Nggak masalah cuma beli sepatu roda aja...". Si anak bilang,"nggak pi, bola item dan bola putih saya udah rusak.. dibeliin lagi aja..nggak usah beli sepatu roda. Lagian lebih murah bola kan pi?" Yee..si papi geram dong. Ni anak ngeremehin papinya sendiri, atau sok merendah ? So, tetep si papi beliin sepatu roda, plus bola item dan bola putih. Selang beberapa taun, ni anak masuk SMP. Cerita sama terulang. Sekarang temen2nya musim rollerblade. Tren baru. Sementara sore hari,

dia masih setia sama sepatu rodanya. Pas bokapnya pulang dari luar negri dan ngeliat anaknya doang yang pake sepatu roda, si papi malu banget. Gila, rumah gedong, perusahaan banyak, keluar negri terus...eeh anaknya ketinggalan jaman. Besoknya, di kamar anaknya udah ada sepasang roller blade baru dengan note: "Biar kamu nggak malu". Malemnya di ruang kerja papinya ada note balesan: "Pi, kok nggak beliin bola item dan bola putih? Aku lebih suka itu." Weleh, si papi pas liat note itu dongkol tambah bingung. Apaan sih istimewanya bola item dan bola putih? Emang bisa bikin die beken atau nge-tren? Besoknya dan besoknya lagi si papi berkali2 nemuin note itu...hingga dia nggak tahan dan membelikan anaknya bola item dan bola putih untuk kesekian kalinya. Bener, setelah dapet tu bola, si anak nggak ngerongrong bokapnya lagi.

Pas SMA, yang jaraknya rada jauh, si anak masih berbis ria,temen2nya udah ada yang bawa motor en mobil ke sekolahan. Suatu hari, tumben papinya di rumah, si anak pulang dianterin temennya yang mau ditebengin. Papi malu banget. Masa cuma untuk anak satu nggak bisa beliin mobil? Maka ditawarin anaknya. Si anak nolak dengan alasan mobil kurang praktis, lagian pengen bola item bola putih aja. Si bapak nggak terima penolakan. Karna anaknya udah gede, bisa berunding.

Hingga tercetus keputusan si anak dibeliin motor plus bola item dan bola putih tentunya. Dan si bapak kesel juga donk.Udah berapa taun dia beberapa kali beliin dua macem bola itu tanpa tau kenapa. Tapi si anak nggak ada keinginan dan kemauan ngasih tau sih. Hingga tibalah masa kuliah. Karna seneng dan bangga masuk PTN, si anak dikadoin mobil. Sampe beberapa bulan si anak masih naek motoor aja. Kuliah, pacaran, naek motor aja. Pacarnya juga bingung, kan dia punya mobil? Ditanya sama pacarnya, dijawab, abis papi nggak beliin bola item bola putih. Nggak ngerti anak sendiri sih! So, pas makan malem bersama, si pacar bilang sama papi, kenapa si om nggak beliin bola item bola putih. Si papi sebenernya sensitif sama para bola itu..huh..sampe pacar anak gue nyuruh2..ditanya dong kenapa. Si pacar bilang kalo mobilnya nggak akan dipake selama nggak dikasih bola itu juga. Papi bingung dong, di kamar anaknya udah segitu banyak bola item bola putih. Buat apa sih, pikir papi. Tapi demi gengsi, anak orang lho yang nanya, maka besoknya udah ada bola item bola putih buat anaknya. Suatu hari anaknya gaul ke puncak bawa mobil, sama pacarnya. Yah, namanya anak muda, pas lagi di jalan, sipacar nyium dia en dia jadi grogi dan kecelakaan!!! Segera di bawa ke rumah sakit, si papi juga ditelpon sama rumah sakitnya. Tabrakannya parah. Mereka berdua nggak ada yang pake

seatbelt, yang cewek mati seketika dan ni cowok udah sekarat. Si papi dateng ke RS.."gimana dok, anak saya?" Dokter (dengan tampang empati penuh duka cita) :"Maaf pak, kami tidak dapat berbuat banyak.. sepertinya memang sudah waktunya... sebaiknya bapak manfaatkan waktu terakhir.." Perlahan si bapak masuk, nyamperin anaknya. "Pap, maafin saya..nggak hati2 bawa mobilnya.." si anak juga nangis karna pacarnya nggak tertolong. Si papi nenangin dia...akrablah dua manusia itu beberapa saat. Hingga si papi beranggapan ini saat terakhir. Dia inget penasaran dia tentang kenapa si anak selama ini selalu minta bola item bola putih. "Nak, maafin papi selama ini yang selalu sibuk..kamu jadi kesepian..maafin papi, nak. Nggak sempet jadi orang tua yang baik." Anaknya jawab,"nggak apa-apa pi, saya ngerti kok..Cuma sempet kesel kalo papi punya uang lebih malah beliin yang macem2....saya cuma minta bola item dan bola putih aja kan?" Si papi rasa timing-nya tepat nih, "KENAPA SIH KAMU SELALU MINTA BOLA ITEM BOLA PUTIH... ADA APA DENGAN BOLA2 ITU?"

(pembaca juga penasaran ya..?)

Si anak jawab dengan terpatah2 dan susah banget, abis udah sekarat dan masanya udah hampir sampe...

"sebab pi...saya..." *hep* Kepalanya rebah dan nafasnya ilang. Si anak udah meninggal sebelum kasih tau papinya.

Nah, si papi aja yang udah hidup bareng anaknya nggak tau...apalagi saya yang cuma bercerita?

GIMANA? Kesel ngak sih? Tabokin aja yang pertama kali cerita,tapi maapin yang "forward" in karena saya juga korban en, nggak enak jadi korban sendirian. (",)(",)(",)(",)

Jika Al Qur'an dapat bicara,
>>Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku, dengan wudu' aku kau sentuh dalam keadaan suci,aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari. Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari, setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra >>Sekarang engkau telah dewasa... Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku... Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah... Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu, atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja? >>Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya, aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu. >>Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa, atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian. Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

>>Dulu, pagi-pagi, surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman. Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau. >>Sekarang pagi-pagi sambil minum kopi, engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV. Waktu senggang engkau sempatkan membaca buku karangan manusia. Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa, engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan >>Waktu berangkat kuliah atau kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah) Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi, tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu. Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu. Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku. >>Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja. Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu, jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun. E-mail temanmu yang ada ayatayatkupun kadang kau abaikan, engkau terlalu sibuk dgn urusan duniamu. Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku. >>Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV, menonton pertandingan Liga Italia, musik atau Film dan Sinetron laga. Didepan komputer berjam-jam engkau betah duduk, hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah. >>Waktupun cepat berlalu, aku menjadi semakin kusam dalam lemari, mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu, seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali. Itupun hanya beberapa lembar dariku, dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu >>Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku. Apakah koran,TV,radio komputer,dapat memberimu pertolongan, bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya? >>Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya. >>Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu. Setiap saat berlalu, kuranglah jatah umurmu.... >> Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu. Engkau bisa

kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu. Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu. Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati. Di kuburmu nanti, Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan yang akan membantu engkau membela diri. Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat. Tapi Akulah "Qur'an" kitab sucimu, yg senantiasa setia menemani dan melindungimu >>Peganglah aku lagi, bacalah kembali aku setiap hari, karena ayatayat yang ada padaku adalah ayat suci, yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah. >>Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu. Sentuhilah aku kembali, baca dan pelajari lagi aku.Setiap datangnya pagi dan sore hari. Setiap saat...

Salam, ur sis.... Untuk meraih pengaruh politik, ada tiga langkah: kumpul dana, mendapatkan calon dan mengundi. Ternyata kelakonan umat Islam dalam tiga aspek tadi tidak menonjol dalam pilihan raya tahun ini. Namun masyarakat Islam lebih aktif kali ini. Ini merupakan rahmat sejak peristiwa 9/11, Akta Patriot dan penahanan beramai-ramai. Umat Islam Amerika kian proaktif dan berani menerapkan pendirian dalam proses politik negara kuasa besar ini. Muslim Amerika kini sedar bahawa politik di Amerika ialah mengenai wang yang didermakan kepada calon pilihan atau mendapat undi untuk calon pilihan mereka. Meskipun jumlah pungutan dana umat Islam tidak seberapa, namun semangat keluar mengundi cukup ketara. Jelas umat Islam mengundi secara berpasukan pada 2 November lalu, sama ada akibat pengalaman bersama atau peribadi. Sebab tunggal sokongan besar Muslim dan Arab bagi calon Demokratik Encik John F Kerry ialah hak sivil mereka yang terjejas oleh dasar Presiden George W Bush. Dalam pada itu, umat Islam menunjukkan keghairahan untuk terlibat

dalam proses politik. Ini dibuktikan oleh pelbagai kajian dan ratusan laporan media. Satu tinjauan ke atas Muslim di kota Detroit, daerah tumpuan Muslim terbesar di Amerika, memaparkan umat Islam yang dulunya tersisih kini mula terlibat aktif dalam gerakan politik negara ini. Lebih 60 peratus mereka yang ditinjau menyatakan hak sivil merupakan antara isu paling memprihatinkan, menurut laporan Institut Dasar dan Pemahaman Sosial di Universiti Michigan yang terbit pada April 2004. Media utama telah menonjolkan keprihatinan kaum Arab dan Muslim sepanjang kempen 2004. Media mendorong mereka terlibat dalam proses politik dengan mendaftarkan diri sebagai pengundi. Kempen menyemarakkan penyertaan pengundi Muslim berlaku di pusat Islam dan masjid di seluruh negara. Undi Muslim untuk calon Demoktratik bukan suatu yang baru. Pada 1996, mereka menyokong Bill Clinton. Menurut pakar undi, John Zogby, lebih 50 peratus Muslim mengundi untuk Parti Demokratik dalam dekad 1990an dan baki 16 peratus untuk Parti Republikan. Langkah pertama Muslim Amerika juga menggunakan stretegi undi sepasukan di peringkat nasional ialah pada tahun 2000. Secara tradisi, kaum Arab dan Muslim Amerika mengundi secara besar-besaran. Sekitar 79 peratus mendaftar sebagai pengundi - daripada angka tadi, 85 peratus mengundi. Demikian menurut tinjauan tahun 2001 oleh University Georgetown. Kini umat Islam Amerika sekitar enam hingga lapan juta jiwa. Bilangan ini terus meningkat dan begitulah juga potensi mereka dari segi politik dan sosial. Pandangan umat Islam Amerika terhadap isu pengguguran, solat di sekolah awam, pembaharuan kebajikan, imigresen dan hak sivil agak berlainan. Mereka cendurung ke arah mendukung nilai keluarga, mengatasi jenayah dan penyalah gunaan dadah serta matlamat murni sosial, namun isu hak sivil yang paling meruntun jiwa mereka. Mereka mendapati dasar-dasar selepas 9/11 telah menjejas mereka. Wakil Demokratik di Ohio, Deniis Kucinich, sewaktu melawat masjid di Florida Mosque menyatakan: "Isu menonjol bagi Muslim ialah pembatasan hak kebebasan sivil". Anehnya dalam pilihan raya lalu, badan-badan Muslim Amerika kurang berperanan besar dalam menampilkan isu-isu lain kepada umat Islam. Jadi, umat Islam menganggap undi mereka sebagai satu jaminan hak asasi mereka akan dibela. Kematangan mereka sebagai pengundi kian menyerlah. Walaupun Encik Kerry kalah, ia hanya menunjukkan permulaan suatu perjuangan panjang yang menuntut kemahiran dan azam buat umat Islam.

Sayangnya, seperti pilihan raya 2000, tiada tinjauan mengenai pengundi Islam yang keluar mengundi pada 2004. Satu-satu tinjauan undi dibuat oleh Majlis Hubungan Amerika Islam yang menyatakan 93 peratus pengundi Islam menyokong Encik Kerry. Para pemimpin Islam mendakwa 72 peratus undi Muslim diberikan kepada Encik Bush pada tahun 2000. Para penganalisis undi pula berkata, Encik Bush menerima 50 peratus undi Muslim berbanding 25 peratus untuk lawannya, Encik Al Gore, sedangkan calon bebas Encik Ralph Nader hanya menerima 10 peratus undi Islam. Badan-badan Islam perlu melaksanakan tinjauan persis demi menilai sikap pengundi Muslim dan kelakonan para calon politik Muslim. Bagi pilihan raya empat tahun lagi, umat Islam Amerika perlu lebih cergas di setiap lapisan kempen setempat.

Adab Berjalan Ke Masjid Dan Bacaan Sewaktu Masuk Dan Keluarnya
Adab berjalan ke masjid Dari Abu Qatadah Radhiallahu'anhu : Tatkala kami sedang shalat bersama Nabi Shallallahu'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara berisik orang-orang (yang datang). Maka ketika Nabi Shallallahu'alaihi wasallam telah selesai shalat, ia bertanya : "Ada apa dengan kamu tadi (berisik) ?". Mereka menjawab : "Kami terburu-buru untuk turut (jama'ah)", Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : "Janganlah kamu berbuat begitu !. Apabila kamu mendatangi shalat, hendaklah kamu berlaku tenang ! Apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan, sempurnakanlah !" [Hadits Shahih Riwayat : Bukhari, Muslim dan Ahmad] Dari Abu Hurairah Radhiallahu'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Apabila kamu mendengar qamat, maka pergilah kamu ke tempat shalat itu, dan kamu haruslah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat, dan janganlah kamu tergesa-gesa, apa yang kamu dapatkan (dari shalatnya Imam), maka shalatlah kamu (seperti itu) dan apa yang kamu ketinggalan sempurnakanlah". [Hadits Riwayat : Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa'i dan Ahmad] Kedua hadits ini mengandung beberapa hukum : [1]. Kita diperintah berlaku tenang dan bersikap sopan/terhormat apabila mendatangi tempat shalat (masjid).

[2]. Kita dilarang tergesa-gesa/terburu-buru apabila mendatangi tempat shalat, seperti berlari-lari, meskipun qamat telah dikumandangkan. [3]. Kita dilarang berisik apabila sampai di tempat shalat, sedang shalat (jama'ah) telah didirikan. Ini dapat mengganggu orang-orang yang sedang shalat jama'ah. [4]. Imam masjid perlu menegur (memberikan pelajaran/nasehat) kepada para jama'ah (ma'mum) yang kelakuannya tidak sopan di masjid, seperti berisik, mengganggu orang shalat, melewati orang yang sedang shalat, shaf tidak beres, berdzikir dengan suara keras, yang dapat mengganggu orang yang sedang shalat atau belajar atau lain-lain. [5]. Apa yang kita dapatkan dari shalatnya Imam, maka hendaklah langsung kita shalat sebagaimana keadaan shalat imam waktu itu. (ruku’ ketika imam ruku’, sujud ketika imam sujud, atau duduk tahiyat ahir ketika imam sedang tahiyat ahir, ed) [6]. Setelah imam selesai memberi salam ke kanan dan ke kiri, barulah kita sempurnakan apa-apa yang ketinggalan. Diantara hikmahnya kita diperintahkan tenang dan sopan serta tidak boleh tergesa-gesa, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, "Karena sesungguhnya salah seorang diantara kamu, apabila menuju shalat, maka berarti dia sudah dianggap dalam shalat". [Hadits Shahih Riwayat : Muslim]. Bacaan ketika masuk dan keluar masjid dari Ibnu Abbas Radhiallahu'anhu, "....Kemudian muadzin adzan (Shubuh), lalu Nabi keluar ke (tempat) shalat (masjid), dan beliau mengucapkan : "ALLAHUMMAJ 'AL FI QALBY NUURAN dan seterusnya (yang artinya) : "(Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, dan didalam ucapakanku cahaya, dan jadikanlah pada pendengaranku cahaya, dan jadikanlah pada penglihatanku cahaya, dan jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku cahaya, dan jadikanlah dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya, ya Allah berikanlah kepadaku cahaya". [Hadits Riwayat : Muslim dan Abu Dawud] Dari Abi Humaid Radhiallahu'anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu'anhu, bahwasanya Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka ucapkanlah : "ALLAHUMMAF TAHLII ABWAABA RAHMATIKA (Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu)". Dan apabila keluar (dari masjid), maka ucapkanlah : "ALLAHUMMA INNI AS ALUKA MIN FADLIKA (Ya Allah, sesungguhnya aku minta kepada-Mu dari karunia-Mu) ".[Hadits Shahih Riwayat : Muslim, Ahmad dan Nasa'i]. Dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallm, apabila masuk masjid, beliau mengucapkan : "AUDZU BILLAHIL 'AZHIMI WABIWAJHIHIL KARIIMI WA SULTHANIHIL QADIIMI MINASY SYAITHANIR RAJIIM" (Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung

dan dengan wajah-Nya yang Mulia serta kekuasaan-Nya yang tiada yang mendahuluinya, dari (gangguan) syaithan yang terkutuk)". Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata : Apabila ia mengucapkan demikian (do'a di atas), syaithanpun berkata : Dipeliharalah ia dari padaku sisa harinya" [Hadits Shaih Riwayat Abu Dawud] (adapun yang masyhur di kalangan kaum muslim Indonesia adalah hadits ke dua di atas, dari Abi Humaid Radhiallahu'anhu atau dari Abi Usaid Radhiallahu'anhu, ed) [Disalin dari kitab Al-Masaa-il (Masalah-Masalah Agama)- Jilid ke satu, Penulis AlUstadz Abdul Hakim bin Amir Abdat, Terbitan Darul Qolam - Jakarta]

DOA KETIKA BERSIN DAN MENGUAP
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda : " Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menyukai bersin dan membenci menguap. Jika salah seoarang dari kalian bersin, maka hendaklah ia menucapkan Alhamdulillah. Bagi kaum muslimin yang mendengar pujian tersebut hendaknya mengatakan 'Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu rahmat)', sedangkan menguap merupakan pekerjaan setan. Jika salah seorang dari kalian hendak menguap, maka sebisa mungkin hendaklah ia tahan. Sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menguap, maka setan akan mentertawakannya." Masih dalam riwayat Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : "Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan 'Alhamdulillah' dan saudaranya atau orang yang bersamanya mengatakan kepadanya 'Yarhamukallah (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikan rahmat-Nya kepadamu)'. Jika salah seorang mengucapkan 'Yarhamukallah', maka orang yang bersin tersebut hendaklah menjawab 'Yahdiikumullah wayushlih baalakum (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberikanmu petunjuk dan memperbaiki keadaanmu)." Kedua hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari Radhiallahu anhu dalam kitabnya. Abu Musa Al Asy'ari Radhiallahu anhu mendengar Rasululah Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda : "JIka salah seorang dari kalian bersin, maka hendaklah ia membaca 'Alhamdulillah', dan hendaklah kalian bertasymit (mengucapkan Yarhamukallah). Jika yang bersin tidak mengucapkan pujian kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka janganlah kalian bertasymit." (HR Muslim) Sumber : Doa-doa Rasulullah oleh Ibnu Taimiyah dengan muhaqqiq (peneliti) syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.

Kristenisasi
JAKTIM - Kristenisasi di berbagai kampus perguruan tinggi muncul menyeruak. Tapi seperti gunung es, kasus yang nampak sesungguhnya lebih kecil dari apa yang terjadi. Sebut saja namanya Adam. Ia mahasiswa cerdas asal Sumatera Barat yang lulus ujian saringan masuk ke Institut Pertanian Bogor. Ia berasal dari sebuah keluarga yang sederhana. Untuk membiayai sekolahnya saja, ada banyak hal yang harus dikorbankan keluarga Adam di kampung halaman. Di kampusnya, Adam terbilang mahasiswa yang cukup berprestasi. Sampai suatu ketika, ia terjebak dalam sebuah situasi yang membuatnya benar-benar tak berdaya. Adam terbelit urusan dengan jaringan NII yang memang diketahui banyak bermasalah. Seperti kasus-kasus yang lain, NII meminta Adam memberikan infaq dengan jumlah yang terbilang besar untuk ukurannya. Menghadapi situasi seperti ini, meminta bantuan pada orangtua di kampung halaman jelas bukan sebuah pilihan. Alhasil, Adam hanya bisa melamun dan kebingungan. Pada kondisi seperti itu, tiba-tiba ada seorang mahasiswi Kristen yang menawarkan bantuan kepada Adam dengan segala keramahannya. Tentu saja ia menjelma bak dewa penolong di mata Adam. Tapi ujung dari pertolongan itu membuat Adam seperti terlepas dari mulut harimau, jatuh ke moncong srigala. Ia terjebak dan terkepung dalam usaha Kristenisasi yang mengincar mahasiswa di berbagai kampus. Awalnya, sang mahasiswi Kristen tampil dengan performance penuh kasih dan penolong. Penampilan seperti itu membuat Adam sedikit demi sedikit bergeser dari simpati menjadi akrab dan tak berjarak. Singkat cerita, Adam pun pindah tempat kos ke lingkungan mahasiswa Kristen di dekat kampus IPB Darmaga, Bogor. Merasa mangsa sudah masuk dalam jebakan, usaha pun kian digalakkan. Tak hanya berpindah tempat kos, Adam bahkan sempat disekap selama lebih dari tiga bulan. Dalam penyekapan ini, otak Adam benar-benar dicuci. Doktrin-doktrin Kristus dan Injil menjadi santapan sehari-hari. Sedangkan akidah dan ajaran Islam di benak Adam, hilang entah ke mana. Tak hanya didoktrin dan dicuci otaknya, dalam penyekapan ini pun Adam mendapat perlakuan tak senonoh dari orang-orang yang menyebut dirinya “penyelamat domba-domba”. Adam disodomi, entah berapa kali. Selepas dari penyekapan, Adam benar-benar menjadi “manusia baru”. Ia tak hanya berpindah agama, tapi sudah menjadi penginjil yang militan. Sebagai penginjil baru, beberapa kampus sempat menjadi ladang misinya. Ia sempat menjalankan tugas di Universitas Diponegoro, Universitas Jenderal Sudirman, Surabaya, Malang dan beberapa universitas lain di Pulau Jawa. Tapi alhamdulillah, kini Adam telah insaf. Ia mendapat hidayah Allah dan kembali pada jalan yang benar. Kini ia kembali dan menetap di kampung halaman, Sumatera Barat.

Lain Adam, lain lagi yang dialami Rahmi, juga bukan nama sebenarnya. Rahmi adalah mahasiswi tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi yang terkenal dengan pendidikan ilmu komputernya di daerah Depok. Suatu ketika, Rahmi diajak mojok oleh seorang mahasiswa Kristen yang ia kenal. Mahasiswa tersebut ngobrol dan menyediakan diri sebagai tempat curhat dan bercerita tentang masalah dan problem yang dihadapi Rahmi. Tapi lama-lama, acara curhat jadi sebuah diskusi tentang agama dan ketuhanan. “Saya lama-lama seperti dihipnotis oleh mahasiswa Kristen itu,” ujar Rahmi pada SABILI. Pertemuan pertama dilanjut dengan beberapa pertemuan lainnya. Dan akhirnya, dibaptislah Rahmi. Proses pembaptisan itu sendiri dilakukan oleh seorang mahasiswa yang diawasi oleh seorang seniornya. Menurut Rahmi, senior tersebut bertugas memastikan sang junior tak mengalami masalah. Setelah dianggap telah menjadi seorang Kristiani, Rahmi beberapa kali diajak untuk mengikuti kebaktian dan pembekalan. Mendengarkan ceramah dan kaset-kaset berisi lagu rohani menjadi program dari pemantapan iman yang dijalani Rahmi. Sejak itu, Rahmi menjadi asing dengan teman-temannya yang Muslim, bahkan dengan orangtuanya sendiri. Masih menurut Rahmi, selain dirinya ada lima teman sekampus yang ia kenal telah berpindah agama. “Lima orang tersebut, termasuk saya, dibaptis oleh satu orang. Jika satu orang mampu membaptis lima orang, saya tidak bisa membayangkan berapa yang sudah mereka baptis jika mempunyai tenaga lebih dari 50 orang,” ujar Rahmi ngeri. Seperti Adam, Rahmi telah diselamatkan Allah dan kembali memeluk Islam. Tapi sayang, tidak dengan empat orang lainnya. Menurut Rahmi, sebenarnya tidak empat orang yang ia kenal. Ia bercerita, dirinya sempat memergoki daftar nama mahasiswa Muslim yang telah menjadi target dan incaran mereka. Rahmi tak bisa menyebutkan jumlahnya. “Yang jelas banyak banget,” katanya. Yang membuat Rahmi gerah, para pelaku pemurtadan itu seolah punya keberanian lebih yang luar biasa. “Orang yang membaptis saya hingga saat ini masih berkeliaran di kampus dengan bebasnya. Mereka berlindung di dalam organisasi keagamaan yang ada di kampus,” terang Rahmi. Masih di Jakarta. Sebuah kampus di bilangan Senayan, Jakarta Selatan, konon disebutsebut sebagai sasaran besar yang mahasiswanya menjadi incaran pemurtadan. Sama dengan dua nama sebelumnya, korban pemurtadan di kampus swasta yang terbilang favorit meminta SABILI untuk merahasiakan identitasnya. Sebut saja wanita berumur 26 tahun dengan nama Wati. Kisah Wati berawal dari masalah keluarga yang ia hadapi. Saat ia menghadapi masalah di dalam keluarganya, ia membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Seorang teman pria Wati yang dikenal sebagai seorang Katolik taat, menjadi tempat untuk bercerita. Berawal dari curhat-curhatan, lama-lama hubungan keduanya bertambah akrab. Keakraban ini membuat Wati memilih tinggal di sebuah tempat kos dekat sang pria dan tidak lagi

tinggal di rumah orangtuanya. Beberapa bulan tinggal berdekatan, pria Katolik tersebut banyak mengenalkan Wati dengan teman-temannya. Mereka berdiskusi tentang agama, tentang tuhan, dan tentang doktrin-doktrin Katolik. Akhirnya, pendek kata, Wati jadi hidup serumah dengan sang pria. Layaknya suami-istri, itulah kehidupan baru yang dijalani Wati. Selama proses tersebut, tak sedikitpun Wati memberi kabar keberadaannya pada orangtua. Wati menjalani proses bina iman, yang disebut dengan Katekis di sebuah gereja di daerah Slipi. Akhir dari semua proses tersebut, 8 Maret 2002 silam, Wati menemui orangtuanya yang tinggal di bilangan Tebet, Jakarta Selatan untuk meminta izin nikah dan pindah agama. Sang ibu tentu saja shock berat mendengar itu semua dan tak menyetujui niat Wati. Akhir Oktober tahun lalu, Wati dibaptis dan dinikahkan dalam keadaan hamil di paroki tempatnya dibina. Bahkan menurut pengakuan Wati, kini ia menjalani proses menjadi penginjil untuk mencari domba-domba yang hilang. Selain kasus Wati, ada dua kasus lain di kampus yang sama yang terlacak oleh Tim SABILI. Keduanya menimpa dua orang Muslimah belia yang baru berusia 23 tahun. Satu di antaranya bahkan sempat hilang diculik dan dimurtadkan. Satu lagi kasus yang lebih mengerikan menimpa keluarga Dwi Suryo di Lampung. Yoppi Aryana, anak gadis yang sedang tumbuh dan berkembang, digarap oleh pelaku Kristenisasi dengan keji saat ia berkuliah di Universitas Lampung. Bak cerita dalam novel-novel detektif, sempat terjadi baku culik antara orangtua Yoppi dan pelaku Kristenisasi yang tampaknya telah mempunyai jaringan yang rapi. Kini Yoppi telah hilang, ditelan monster pemurtadan yang mengerikan. (baca: Hilang Dicaplok Monster) Mari kita beralih ke Bandung. Berbagai kampus yang tersebar di Kota Kembang ini disebut-sebut menjadi garapan serius para misionaris dan penginjil busuk. Satu di antara yang berhasil SABILI temukan adalah pemurtadan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI dulu IKIP, red). Kasus yang terjadi di UPI mencerminkan bahwa gerakan Kristenisasi yang menyerbu kampus-kampus ini memang terorganisir dengan rapi. Cerita ini terkuak agak terlambat, karena beberapa mahasiswa dan mahasiswi di Fakultas Teknik dan Bahasa yang tadinya berjilbab dan menutup aurat tiba-tiba murtad. Beberapa waktu sebelum peristiwa itu terjadi, ada beberapa orang yang berpenampilan layaknya seorang Muslim bertandang ke kampus dan melakukan dialog. Yang pria mengenakan baju koko, bahkan yang perempuan mengenakan jilbab rapi menutupi auratnya. Salah satu di antara mereka mengaku telah bersyahadat dan disaksikan oleh KH. Miftah Faridl di Pusat Dakwah Indonesia. Ia mengaku mahasiswa lulusan Oxford, Harvard dan beberapa perguruan tinggi terkemuka bertaraf internasional. Menurut salah seorang sumber SABILI di UPI, orang-orang seperti mereka

melaksanakan aksinya dengan mendekati mahasiswa-mahasiswi dan mengajak mereka berdiskusi. Dengan penampilan sebagai seorang Muslim yang mengaku muallaf dan bercerita tentang suka dukanya memeluk Islam, orang-orang seperti ini langsung mendapat simpati. Simpati yang mereka dapat lalu dimanfaatkan sebagai pintu masuk lebih jauh mendekati para mahasiswa. “Awalnya mereka mengajak diskusi tentang Ka’bah. Kenapa Ka’bah itu disembah? Bukankah sama dengan berhala kalau menyembah Ka’bah? Lalu diskusi pelan-pelan dialihkan menjadi pembahasan tentang Yesus dan sebagainya,” ujar sumber SABILI. Pelaku permutadan di UPI tersebut sebenarnya sempat ditangkap dan diinterograsi oleh para aktivis dakwah kampus. Tapi ia akhirnya berhasil meloloskan diri dan tak pernah nongol lagi. Beberapa aktivis sempat melacak orang yang mengaku bernama Daniele Andrian Pangestu alias Salman Al Farisi ini. Kabar terakhir yang didapat, ia telah mendekam di dalam sel kepolisian wilayah Cianjur. Konon ia tersangkut masalah penipuan dan menjadi polisi gadungan. Beberapa kampus lain di Bandung yang diindikasikan terjadi kasus pemurtadakan adalah ITB, STPDN dan STT Telkom. Untuk mengantisipasi kegiatan pemurtadan yang sudah pada tingkat meresahkan di kalangan mahasiswa ini, beberapa aktivis dakwah kampus akhir Maret lalu membentuk sebuah organisasi. Organisasi tersebut bernama JAMAAT atau Jaringan Mahasiswa Anti Pemurtadan yang dideklarasikan di STPDN, 30 Maret 2003. Penelusuran yang dilakukan SABILI, selain gerakan yang bersifat perorangan ada dua organisasi yang berada di balik aksi pemurtadan di kampus. Organisasi pertama disebut PERKANTAS (Persekutuan Antar Universitas). Yang kedua, LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia). PERKANTAS nyaris tak bisa terdeteksi, selain karena gerakan mereka bersifat di bawah tanah alamat yang digunakan pun hanya Po. Box belaka. Sementara itu, LPMI disebutsebut bernaung di bawah nama Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Namun, Pdt. Natan Setiabudi, Ketua PGI menolak keras LPMI berada di bawah organisasinya. “Kami tidak mengenal LSM itu sama sekali,” terangnya pada SABILI. Ia juga menerangkan, tak bisa memberikan komentar tentang kasus Kristenisasi yang marak terjadi di kampus. “Bagi saya, informasi itu tidak jelas dan akan semakin menjauhkan kita dari fakta yang sebenarnya jika dibahas. Informasi itu kurang menarik,” ujarnya. Natan menambahkan, karena LPMI tak bersangkut-paut dengan lembaga yang dipimpinnya, maka PGI juga tidak bisa diminta pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan oleh LPMI. Jika Natan dalam jawabannya mengisyaratkan tak ada gerakan Kristenisasi di berbagai kampus, dan menganggap informasi tersebut tak menarik maka berbeda dengan yang diungkapkan Ustadz Abu Deedat. Kristolog yang aktif menangkal gerakan Kristenisasi ini mengatakan ada gerakan sistematis yang mengancam mahasiswa Muslim di kampus-

kampus seluruh nusantara. “Dari kasus-kasus yang saya tangani, mencerminkan gerakan mereka terstruktur dan terorganisir dengan rapi. Hampir di seluruh universitas di Indonesia, baik swasta maupun negeri, terjadi aksi Kristenisasi,” ujar Abu Deedat. Kampus dengan kasus Kristenisasi yang saat ini sedang ditangani oleh Ustadz Abu Deedat adalah: Universitas Diponegoro di Semarang, Universitas Jenderal Sudirman di Purwokerto, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, ITB, STT Telkom dan STPDN di Bandung. Bahkan menurut Ust. Abud, demikian ia akrab dipanggil, STPDN tergolong sekolah tinggi dengan angka terbesar kasus Kristenisasi di kota Bandung. Selain universitas di Pulau Jawa, ia juga menangani kasus Kristenisasi di Universitas Andalas, Universitas Lampung dan masih banyak lagi. Menurut Taufiqurohman, salah seorang aktivis FAKTA (Forum Anti Gerakan Pemurtadan) selama ini korban-korban pemurtadan banyak yang terjadi di kampus universitas-universitas swasta. “Di banding dengan perguruan tinggi dan universitas negeri, universitas swasta sepertinya lebih banyak menjadi sasaran aksi Kristenisasi,” terang Taufiqurohman. Taufiqurohman menambahkan, kasus-kasus yang saat ini muncul dan bisa dideteksi oleh publik sebenarnya adalah fenomena gunung es. “Kasus yang tidak diketahui, sebenarnya jauh lebih besar lagi. Belum lagi ditambah dengan jumlah orang-orang tidak merasa bahwa dirinya korban pemurtadan,” tuturnya. Yang dimaksud korban yang tak merasa jadi korban oleh Taufiqurohman adalah, mereka yang tak menganggap lunturnya akidah atau kawin beda agama sebagai hal yang berbahaya. Gerakan pemurtadan ini benar-benar tak pandang bulu. Tak hanya di sekolah dan perguruan tinggi umum yang menjadi incaran aksi Kristenisasi. Sekolah-sekolah tinggi Islam seperti IAIN dan Unisba di Bandung pun telah menjadi ladang yang mereka garap pula. Menanggapi hal ini, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia, Ichwan Sam mengatakan, ada pihak-pihak yang telah bermain kayu dan melanggar hukum yang berlaku. “Tapi mereka itu selalu berkelit dan berlindung di bawah hukum internasional yang mengatakan menyebarkan agama dan berpindah agama adalah bagian dari hak asasi manusia,” tandas Ichwan. Lebih lanjut Ichwan Sam mengatakan, hal mendasar yang harus dilakukan oleh umat Islam adalah membentengi diri sekuat-kuatnya. “Keluarga harus menjadi gerbang pertama pertahanan akidah dan pemahaman Islam kita. Keluarga harus menjadi benteng utama mempertahankan akidah. Setiap anggota keluarga, wajib menjaga anggota keluarganya yang lain dari bahaya yang mengancam akidah,” ujar Ichwan geram. Ichwan Sam memperingatkan, gerakan-gerakan seperti ini akan terus ada dan selalu mengancam. “Karena itu, keluarga Muslim harus senantiasa waspada,” pesannya. Ya, aksi Kristenisasi dan gerakan pemurtadan akan selalu ada dan mengancam kita sepanjang zaman. Upaya-upaya menjauhkan Muslim dari ajaran Islam akan terus

dilancarkan oleh musuh-musuh Allah. Dan untuk insan kampus, sebentar lagi tahun ajaran baru akan dimulai. Tahun ajaran baru berarti mahasiswa baru. Mahasiswa baru sama dengan mangsa baru untuk mereka. Waspadalah! (sabili)

What the Bible says about Muhammad, The Prophet of Islam
SAY: "DO YOU SEE ? WHETHER THIS MESSAGE BE FROM ALLAH (God Almighty), AND YET YOU REJECT IT, AND A WITNESS FROM AMONG THE CHILDREN OF ISRAEL BORE WITNESS OF ONE LIKE HIM......." (Al-Qur'an 46:10). Mr.Chairman, Ladies and Gentlemen, The subject of this evening's talk - "What the BIBLE says about MUHAMMED" will no doubt come as a surprise to many of you because the speaker is a Muslim. How does it come about that a Muslim happens to be expounding prophecies from the Jewish and Christian Scriptures ? As a young man, about 30 years ago, I attended a series of religious lectures by a Chriatian theologian, a certain Rev. Hiten, at the "Theatre Royal", Durban in South Africa.

Pope or Kissinger?

This Reverend gentleman was expounding Biblical prophecies. He went on to prove that the Christian Bible foretold the rise of Soviet Russia, and the Last Days. At one stage he went to the extent of proving that his Holy Book did not leave even the Pope out of its predictions. He expatiated vigo rously in order to convince his audience that the "Beast 666" mentioned in the Book of Revelation the last book of the New Testament was the POPE, who was the Vicar of Christ on earth. It is not befitting for us Muslims to enter into this controversy between the Roman Catholics and the Protestants. By the way, the latest Christia exposition of the "Beast 666" of the Christian Bible is Dr.Henry Kissinger(2). Christian scholars are ingenious and indefatigable in their efforts to prove their case. Rev. Hiten's lectures led me to ask that if the Bible foretold so many things - not even excluding the "Pope" and "Israel" - then surely it must have something to say about the greatest benefactor of mankind(3) , the Holy Prophet Muhammed (may the peace of Allah be upon him). As a youngster I set out to search for an answer. I met priest after priest, attended

lectures, and read everything that I could lay my hands relating to the fields of Bible prophecies. Tonight I am going to narrate to you one of these interviews with a dominee(4) of the Dutch Reformed Church.< P> Lucky Thirteen I was invited to the Transvaal(5) to deliver a talk on the occasion of Birthday celebration of the Holy Prophet Muhammed. Knowing that in that province of the Republic, the Afrikaans language is widely spoken, even by my own people, I felt that I ought to acquire a smattering of this language so a s to feel a little "at home" with the people. I opened the telephone directory and began phoning the Afrikaansspeaking Churches. I indicated my purpose to the priests that I was interested in having a dialogue with them, but they all refused my request with "Plausible" excuses. No.13 was my lucky number. The thirteenth call brought me pleasure and relief. A dominee Van Heerden agreed to meet me at his home on the Saturday afternoon that I was to leave for Transvaal. He received me on his verandah with a friendly welcome. He said if I did not mind, he would like his father-in-law from the Free State (a 70 year old man) to join us in the discussion. I did not mind. The three of us settled down in the dominee's library. Why nothing? I posed the question: "What does the Bible say about Muhummed?" Without hesitation he answered, "Nothing!" I asked: "Why nothing? According to your interpretation the Bible have so many things to say about the rise of Soviet Russia and about the Last Days and even about the Pope of the Roman Ca tholics?" He said, "Yes, but there was nothing about Muhummed!" I asked again, "Why nothing? Surely this man Muhummed who had been responsible for the bringing into being a world-wide community of millions of Believers who, on his authority, believe in: (1) the miraculous birth of Jesus, (2) that Jesus is the Messiah,(note 6) (3) that he gave life to the dead by God's permission, and that he healed those born blind and the lepers by God's permission. Surely this book (the Bible) must have something to say about this great Leader of men who spoke so well of Jesus and his mother Mary?"

The old man from the Free State replied. "My son, I have been reading the Bible for the past 50 years, and if there was any mention of him, I would have known it." Not One by name! I enquired: "According to you, are there not hundreds of prophecies regarding the coming of Jesus in the Old Testament." The dominee interjected: "Not hundreds, but thousands!" I said, "I am not going to dispute the 'thousand and one' prophecies in the Old Testament regarding the coming of Jesu s Christ, because the whole Muslimworld has already accepted him without the testimony of any Biblical prophecy. We Muslims have accepted the de facto Jesus on the authority of Muhummed alone, and there are in the world today no less than 900,000,000 followers of Muhummed who

love, respect and rev ere Jesus Christ as a great Messenger of God without having the Christians to convince them by means of their Biblical dialectics. Out of the 'thousands' of prophecies referred to, can you please give me just one single prophecy where Jesus is mentioned by name? The term 'Messiah', translated as 'C hrist', is not a name but a title. Is there a single Prophecy where it says th at the name of the Messiah will be JESUS, and that his mother's name will be MARY, that his supposed father will be JOSEPH THE CARPENTER; that he will be born in the reign of HEROD THE KING, etc. etc.? No! There are no su ch details! Then how can you conclude that those 'thousand' Prophecies refer to Jesus (Peace be upon him)?" What is Prophecy? The dominee replies: "You see, prophecies are word-pictures of something that is going to happen in the future. When that thing actually comes to pass, we see vividly in these prophecies the fulfilment of what had been predicted in the past." I said: "What you actually do is that you deduce, yo u reason, you put two and two together." He said: "Yes." I said: "If this is what you have to do with a 'thousand' prophecies to justify your claim with regards to the genuineness of Jesus, why should we not adopt the very same system for Muhummed?" The dominee agreed that it was a fair proposition , a reasonable way of dealing with the problem. I asked him to open up Deuteronomy, chapter 18, verse 18, which he did. I read from memory the verse in Afrikaans, because this was my purpose in having a little practice with the language of the ruling race in South Africa. (8) 'N PROFEET SAL EK VIR HULLE VERWEK UIT DIE MIDDE VAN HULLE BROERS, SOOS JY IS, EN EK SAL MY WOORDE IN SY MOND LE, EN HY SY SAL AAN HULLE SE ALLE WAT EK HOM BEVEEL. Deut.18: 18. The English translation reads as follows:"I will raise them up a Prophet from among their brethren, like unto thee, and I will put my words in his mouth; and he shall speak unto them all that I shall command him." Deut.18:18. Prophet Like Moses

Area of Comparison
• •

Moses

Muhammad

Jesus

Birth

Usual

Usual

Unusual

Family Life Married, children Married, children No marriage,

no children
• • •

Death Career

Usual

Usual

Unusual

Prophet/Statesman Prophet/Statesman Prophet To Madinah None

Forced To Median Emigration (in adulthood) Encounter with Enemies Results of encounter Hot pursuit

Hot pursuit/Battles No similar encounter

Moral/Physical Victory

Moral/Physical Victory

Moral Victory

Writing In his Lifetime down of (Torah) Revelation Nature of teachings Spiritual/Legal

In his lifetime (Al- After him Qur'an)

Spiritual/Legal

Mainly Spritual Rejected (by most Israelites)

Acceptance Rejected then of Accepted Leadership by his people

Rejected then Accepted

Having recited the verse in Afrikaans, I apologised for my uncertain pronunciation, The dominee assured me that I was doing fine. I enquired: "To whom does this prophecy refer?" Without the slightest hesitation he answered: "JESUS!" I asked: "Why Jesus?... his name is not mentioned here." The domin ee replied: "Since prophecies are word-pictures of something that is going to happen in the future, we find that the wordings of this verse adequately describe him. You see the most important words of this prophecy are 'SOOS JY IS' (like unto thee), - LIKE YOU like Moses, and Jesus is like Moses. " I questioned: "In which way is Jesus like Moses?" The answer was: "In the first place Moses was a JEW and Jesus was also a JEW; secondly, Moses was a PROPHET and Jesus was also a PROPHET - therefore Jesus is like Moses and that is exactly what God had foretold Moses - "SOOS JY

domi nee said that he could not think of any. I replied: "If these are the only two criteria for discovering a candidate for this prophecy of Deuteronomy 18:18, then in that case the criteria could fit any one of the following Biblica l personages after Moses:- Solomon, Isaiah, Ezekiel, Daniel, Hosea, Joel, Malachi, John the Baptist etc., because they were also ALL Jews as well as Prophets. Why should we not apply this prophency to any one of these prophets, and why only to Jesus? Why should we make fish of one and fowl of anoth er?" The dominee had no reply. I continued: "You see, my conclusions are that Jesus is most unlike Moses, and if I am wrong I would like you to correct me." Three Unlikes So staying, I reasoned with him: "In the FIRST place Jesus is not like Moses, because, according to you - 'JESUS IS A GOD', but Moses is not God. Is this true?" He said: "Yes." I said: "Therefore, Jesus is not like Moses! SECONDLY, according to you - 'JESUS DIED FOR THE SINS OF THE WORLD', but Mose s did not have to die for the sins of the world. Is this true?" He again said: "Yes." I said: "Therefore Jesus is not like Moses! THIRDLY, according to you - 'JESUS WENT TO HELL FOR THREE DAYS', but Moses did not have to go there. Is this true?" He answered meekly: "Y-e-s." I concluded: "Therefore Jesus is not like Moses!" "But dominee," I continued: "these are not hard facts, solid facts, they are mere matters of belief over which the little ones can stumble and fall. Let us discuss something very simple, very easy that if your little ones are called in to hear the discussion, would have no difficulty in following it, shall we?" The dominee was quiet happy at the suggestion. Father and Mother (1) "Moses had a father and a mother. Muhummed also had a father and a mother. But Jesus had only a mother, and no human father. Is this true?" He said: "Yes." I said: "DAAROM IS JESUS NIE SOOS MOSES NIE, MAAR MUHUMMED IS SOOS MOSES!" Meaning: "Therefore Jesus is not like Moses, but Muhummed is lik e Moses!" (By now the reader will realise that I was using the Afrikaans language only for practice purposes. I shall discontinue its use in this narration). Miraculous Birth (2) "Moses and Muhummed were born in the normal, natural course, i.e. the physical association of man and woman; but Jesus was created by a special miracle. You will recall that we are told in the Gospel of St.Matthew 1:18".....BEFORE THEY CAME TOGETHER,(Joseph the Carpenter and Mary) SHE WAS FOUND WITH CHILD BY THE HOLY GHOST.' And St.Luke tells us that when the good news of the birth of a holy son was announded to her, Mary reasoned:'.......HOW SHALL THIS BE, SEEING I KNOW NOT A MAN? AND THE ANGEL ANSWERED AND SAID UNTO HER, THE HOLY GHOST SHALL COME UPON THEE, AND THE POWER OF THE HIGHEST SHALL OVERSHADOW THEE:......'(Luke 1:35). The Holy Qur'an confirms the miraculous birth of Jesus, in nobler and sublimer terms. In answer to her logical question: " O MY LORD! HOW SHALL I HAVE A SON WHEN NO MAN HATH TOUCHED ME? " The angel says in reply: "EVEN SO: ALLAH CREATETH WHAT HE WILLETH:

WHEN HE HATH DECREED A PLAN, HE BUT SAITH TO IT "BE," AND IT IS " (9) (HOLY QUR'AN, 3:47).

It is not necessary for God to plant a seed in man or animal. He merely wills it and it comes into being. This is the Muslim conception of the of birth of Jesus. (When I compared the Qur'an and the Biblical versions of the birth of Jesus to the head of the Bible Society in our largest City, and when I enquired: "Which version would you prefer to give your daughter, the QUR'ANIC version or the BIBLICAL version?" The man bowed his head and answered: "The Qur'anic.") In short, I said to the dominee: "Is it true that Jesus was born miraculously as against the natural birth of Moses and Muhummed?"He replied proudly:"Yes!" I said:"Therefore Jesus is not like Moses, but Muhummed is like Moses. And God says to Moses in the Book of Deuteronomy 18:18 "LIKE UNTO THEE" (Like You, Like Moses) and Muhummed is like Moses." Marriage Ties (3) "Moses and Muhummed married and begat children, but Jesus remained a bachelor all his life. Is this true?" The dominee said: "Yes." I said: "Therefore Jesus is not like Moses, but Muhummed is like Moses." Jesus Rejected by his People (3) "Moses and Muhummed were accepted as prophets by their people in their very lifetime. No doubt the Jews gave endless trouble to Moses and they murmured in the wilderness, but as a nation, they acknowledged that Moses was a Messenger of God sent to them. The Arabs too made Muhummed's life imposs ible. He suffered very badly at their hands. After 13 years of preaching in Mecca, he had to emigrate from the city of his birth. But before his demise, the Arab nation as a whole accepted him as the Messenger of Allah. But according to the Bible: 'He (Jesus) CAME UNTO HIS OWN, BUT HIS OWN RECEIVED HIM NOT.' (John 1:11). And even today, ofter two thousand years, his people- the Jews, as a whole, have rejeted him. Is this true?" The dominee said: "Yes." I said: "THEREFORE JESUS IS NOT LIKE MOSES, BUT MUHUMMED IS LIKE MOSES." "Other-Wordly" Kingdom (5) "Moses and Muhummed were prophets as well as kings. A prophet means a man who receives Divine Revelation for the Guidance of Man and this Guidance he conveys to God's creatures as received without any addition or deletion. A king is a person who has the power of life and death over his people. It is immaterial whether the person wears a crown or not, or whether he was ever addressed as king or monarch: if the man has the prerogative of inflicting capital punishment - HE IS A KING. Moses possessed such a power. Do you remember the Israelite who was found picking up firewood on Sabbath Day , and Moses had him stoned to death? (Numbers- 15:13). There are other crimes also mentioned in the Bible for which capital punishment was inflicted on the Jews at the behest of Moses. Muhummed too, had the power of life and death over his people. There are instances in the Bible

of persons who wer e given gift of prophecy only, but they we re not in a position to implement their directives. Some of these holy men of God who were helpless in the face of stubborn rejection of their mesage, were the prophets lot, Jonah, Daniel, Ezra, and John the Baptist. They could only deliver the message, but could not enforce the Law. The Holy Prophet Jesus (Peace b.u.h) also belonged to this category. The Christian Gospel clearly confirms this: when Jesus was dragged before the Roman Governor, Pontius Pilate, Charged for sedition, Jesus made a convincing point in his defence to refute the false charg e: JESUS ANSWERED, "MY KINGDOM IS NOT OF THIS WORLD': IF MY KINGDOM WERE OF THIS WORLD, THEN WOULD MY SERVANTS FIGHT, THAT I SHOULD NOT BE DELIVERED TO THE JEWS; BUT NOW IS MY KINGDOM NOT FROM HENCE"(John 18:36) This convinced Pilate (A Pagan) that though Jesus might not be in full possessio n of his mental faculty, he did not strike him as being a danger to his rule. Jesus claimed a spiritual Kingdom only; in other words he onl y claimed to be a Prophet. Is this true?" The dominee answered:"Yes." I said:"Therefore Jesus is not like Moses but Muhummed is like Moses." No New Laws (6) "Moses and Muhummed brought new laws and new regulations for their people. Moses not only gave the Ten Commandments to the Israelites, but a very comprehensive ceremonial law for the guidance of his people. Muhummed comes to a people steeped in barbarism and ignorance. They married their step-m others; they buried their daughters alive; drunkenness, adultery, idolatry, and gambling were the order of the day. Gibbon describe the Arabs before Islam in his "Decline and Fall of the Roman Empire", THE HUMAN BRUTE, ALMOST WITHOUT SENSE, IS POORLY DISTINGUISHED FROM THE REST OF THE ANIMAL CREATI ON.' There was hardly anything to distinguish between the "man" and the "animal" of the time; they were animals in human form. "From this abject barbarism, Muhummed elevated them, in the words of Thomas Carlysle, 'into torch-bearers of light and learning.' 'TO THE ARAB NATION IT WAS AS A BIRTH FROM DARKNESS INTO LIGHT. ARABIA FIRST BECAME ALIVE BY MEANS OF IT. A POOR SHEPHERD PEOPLE, ROAMING UNNOTICED IN ITS DESERTS SINCE THE CREATION OF THE WORLD. SEE, THE UNNOTICED BECOMES WORLD NOTABLE, THE SMALL HAS GROWN WORLD-GREAT. WITHIN ONE CENTURY AFTERWARDS ARABIA WAS AT GRANADA ON ONE HAND AND AT DELHI ON THE OTHER. GLANCING IN VALOUR AND SPLENDOUR, AND THE LIGHT OF GENIUS, ARABIA SHINES OVER A GREA SECTION OF THE WORLD. ...' The fact is that Muhummed gave his people a Law and Order they never had before. "As regards Jesus, when the Jews felt suspicious of him that he might be an imposter with designs to pervert their teachings, Jesus took pains to assure them that he had not come with a new religion - no new laws and no new regulations. I quote his own words: 'THINK NOT THAT IAM COME TO DESTROY THE LAW, OR THE PROPHETS: IAM NOT COME TO DESTROY, BUT TO FULFIL. FOR VERILY I SAY UNTO YOU, TILL HEAVEN AND EARTH PASS, ONE JOT OR ONE TITLE SHALL IN NO WISE PASS FROM THE LAW, TILL ALL BE

FULFILLED.'(Mathew 5:17-18). In other words he had not come with any new laws or regulation he came only to fulfil the old law. This what he gave the Jews to understand- unless he was speaking with the tongue in his cheek trying to bluff the Jews into accepting him as a man of God and by subterfuge trying to ram a new religion down their throats. No! This Messenger of God would never resort to such fo ul means to subvert the Religion of God. He himself fulfilled the laws . He observed the commandments of Moses, and he respected the Sabbath. At no time did a single Jew point a finger at him to say, 'why don't you fast' or 'why don't you wash your hands before you break bread',which charges they al wasy levied against his disciples, but never against Jesus. This is because as a good Jew he honoured the laws of the prophets who preceded him. In short, he had created no new religion and had brought no new law like Moses and Muhummed. Is this true?" I asked the dominee, and he answered: "Yes." I said:"Therefore, Jesus is not like Moses but Muhummed is like Moses." How they Departed (7) "Both Moses and Muhummed died natural deaths, but according to Christianity, Jesus was violently killed on the cross.(10) Is this true?" The dominee said: "Yes." I averred: "Therefore Jesus is not like Moses but Muhummed is like Moses." Heavenly Abode (8) "Moses and Muhummed both lie buried in earth, but according to you, Jesus in heaven. Is this true?" The dominee agreed. I said: "Therefore Jesus is not like Moses but Muhummed is like Moses." Ishmael The First Born Since the dominee was helplessly agreeing with every point, I said, "Dominee, so far what I have done is to prove only one point out of the whole prophecy- that is proving the phrase 'LIKE UNTO THEE' - 'Like You' 'Like Moses'. The Prophecy is much more than this single phrase which reads as follows : "I WILL RAISE THEM UP A PROPHET FROM AMONG THEIR BRETHREN LIKE UNTO THEE......." The emphasis is on the words- "From among their brethren." Moses and his people, the Jews, are here addressed as a racial entity, and as such their 'brethren' would undoubtedly be the arabs. You see, the Holy Bible s peaks of Abraham as the "Friend of God". Abraham had two wives - Sarah and Hagar. Hagar bore Abraham a son - HIS FIRST-BORN- '......And Abraham(11) called HIS SON'S name, which Hagar bare Ishmael.' (Genesis 16:15). 'And Abraham took Ishmael HIS SON......" (Genesis 17:23). 'And Ishmael HIS SON was thirteen years old, when he w as circumcised in the flesh of his foreskin.'(Genesis 17:25). Up to the age of THIRTEEN Ishmael was the ONLY son and sed of Abraham, when the covenant was ratified between God and Abraham. God grants Abraham another son through Sarah, named Isaac, wh o was very much the junior to his brother Ishmael. Arabs and Jews If Ishmael and Isaac are the sons of the same father Abraham, then they are brothers. And so the children of the one are the BRETHREN of the children of the other. The children of Isaac are the Jews and the Children of Ishmael are the Arabs - so they are BRETHREN to one another. The Bible affirms, 'AND HE (ISHMAEL) SHALL

DWELL IN THE PRESENCE OF ALL HIS BRETHREN.' (Genesis 16:12). 'AND HE (ISHMAEL) DIED IN THE PRESENCE OF ALL HIS BRETHREN.(Genesis 25:18). The children of Isaac are the brethren of the Ishmaelites. In like manner Muhummed is from among the brethren of the Israeli tes beause he was a descendant of Ishamel the son of Abraham. This exactly as the prophecy has it- 'FROM AMONG THEIR BRETHREN'.(Deut.18:18). There the prophecy distinctly mentions that the coming prophet who would be like Moses, must arise NOT from the 'children of Israel' or from 'among the mselves', but from among their brethren. MUHUMMED THEREFORE WAS FROM AMONG THEIR BRETHREN! Words in the Mouth "The prophecy proceeds further:'.......AND I WILL PUT MY WORDS INTO HIS MOUTH.......' What does it mean when it is said 'I will put my words in your mouth'? You see, when I asked you (the dominee) to open Deuteronomy chapter 18, verse 18, at the beginning, and if I had asked you to read, and if you had read: would I be putting my words into your mouth?" The dominee answered: "No." "But," I continued: "If I were to teach you a language like Arabic about which you have no knowledge, and if I asked you to read or repeat after me what I utter i.e.: "SAY: HE IS ALLAH THE ONE AND ONLY; ALLAH, THE ETERNAL ABSOLUTE; HE BEGETTETH NOT, NOR IS HE BEGOTTEN: AND THERE IS NONE LIKE UNTO HIM. (Holy Qur'an 112:1-4)( I read them in Arabic ) Would I not be putting these unheard words of a foreign tongue which you utter, into your mouth?" The dominee agreed that it was indeed so. In an identical manner, I said, the words of the Holy Qur'an, the Revelation vouchsafed by the Almighty God to Muhummed, were revealed. History tells us that Muhummed was forty years of age. He was in a cave some three miles north of the City of Mecca. It was the 27th night of the Muslim month of Ramadaan. In the cave the Archangel Gabriel commands him in his mother tongue:'IQRA' which means READ! or PROCLAIM! or RECITE! Muhummed w as terrified and in his bewilderment replied that he was not NOT LEARNED! The angel commands him a second time with the same result. For the third time the angel continues. Now Muhummed, grasps, that what was required of him was to repeat! to rehearse! And he repeats the words as they were put into his mouth: "READ! IN THE NAME OF THE LORD AND CHERISHER, WHO CREATEDCREATED MAN, FROM A (MERE) CLOT OF CONGEALED BLOOD: READ! AND THY LORD IS MOST BOUNTIFUL,HE WHO TAUGHT (THE USE OF) THE PEN, TAUGHT MAN THAT WHICH HE KNEW NOT". (Holy Qur'an 96:1-5)

These are the first five verses which were revealed to Muhummed which now occupy the beginning of the 96th chapter of the Holy Qur'an. The Faithful Witness Immediately the angel had departed, Muhummed rushed to his home. Terrified and sweating all over he asked his beloved wife Khadija to 'cover him up!' He lay down, and she watched by him. When he had regained his composure, he explained to her what he had seen and heard. She assured him of her faith in him and that Allah would not allow any terrible thing to happen to him. Are these the confessions of an imposter? Would imposters confess that when an angel of the Lord confronts them with a Message from on High, they get fear-stricken, terrified, and sweating all over, run home to their wives? Any critic can see that his reactions and confessions are that of an honest, sincere man, the man of Truth- 'AL-AMIN' - THE Honest, the Upright, the Truthful. During the next twenty-three years of his prophetic life, words were 'Put into his mouth', and he uttered them. They made an indeliable imp ression on his heart and mind: and as the vol ume of the Sacred Scripture (Holy Qur'an) grew, they were recorded on palm-leaf libre, on skins and on the shoulder-blades of animals; and in the hearts of his devoted disciples. Before his demise these words were arranged according to his instructions i n the order in which we find them today in the Holy Qur'ann. The words (revelation) were actually put into his mouth, exactly as foretold in the prophecy under discusiion: 'AND I WILL PUT MY WORDS IN HIS MOUTH.'(Deut. 18:18). Un-lettered Prophet Muhummed's experience in the cave of Hira, later to be known as Jabal-un Noor The Mountain of Light, and his response to that first Revelation is the exact fulfilment of another Biblical Prophecy. In the Book of Isaish. Chapter 29, verse 12, we read: "AND THE BOOK" (al-Kitaab,al-Qur'an the 'Readin g', the 'Recitation') "IS DELIVERED TO HIM THAT IS NOT LEARNED," (Isaiah 29:12) "THE UNLETTERED PROPHET " (Holy Qur'an 7:158) and the biblical verse continues : "SAYING, READ THIS, I PRAY THEE:" (the words "I pray thee", are not in the Hebrew manuscripts; compare with the Roman Cathol ics' "Douay Version and also with the "Revised Standard Versions") "AND HE SAITH, I AM NOT LEARNED." ("I am not learned." is the exact translation of the Arabic words which Muhummed uttered twice to the Holy Ghose - the Archangel Gabriel, when he was commanded : "READ!"). Let me quote the verse in full without a break as found in the "King James Version," or the "Authorised version" as it is more popularly know "AND THE BOOK IS DELIVERED TO HIM THAT IS NOT LEARNED, SAYING, READ THIS I PRAY THEE: AND HE SAITH, I AM NOT LEARNED." (Isaiah 29:12). Important note : It may be noted that there were no Arabic Bibles(12) in existence in the 6th Century of the Christian Era when Muhummed lived and preachedl Besides, he was absolutely unlettered and unlearned. No human had ever taught him a word. His teacher was his Creator:

"HE DOES NOT SPEAK (AUGHT), OF (HIS OWN) DESIRE: IT IS NO LESS THAN INSPIRATION SENT DOWN TO HIM: HE WAS TAUGHT BY ONE MIGHTY IN POWER," (Holy Qur'an 53:3-5). Without any human learning, 'he put to shame the wisdom of the learned'. Grave Warning "See!" I told the dominee, "how the prophecies fit Muhummed like a glove. We do not have to stretch prophecies to justify their fulfilment in Muhummed." The dominee replied, "All your expositions sound very well, but they are of no real consequence, because we Christians have Jesus Christ the "incarnate" God, who has redeemed us from the Bondage of Sin!" I asked, "Not important?" God didn't think so! He went to a great deal of trouble to have His warnings recorded. God knew that there would be people like you who will flippantly, light-heartedly discount his words, so he followed up Deuteronomy 18:18 with a dire warning: "AND IT SHALL COME TO PASS, " (it is going to happen) "THAT WHOSOEVER WILL NOT HEARKEN UNTO MY WORDS WHICH HE SHALL SPEAK IN MY NAME, I WILL REQUIRE IT OF HIM. (in the Catholic Bible the ending words are - "I will be the revenger", I will take vengeance from him - I will take revenge!) "Does not this terrify you? God Almighty is threathening revenge! We shake in our pants if some hoodlum threathens us, yet you have no fear of God's warning?" "Miracle of Miracles! in the verse 19 of Deuteronomy chapter 18, we have a further fulfilment of the prophecy in Muhummed! Note the words-'.....MY WORDS WHICH HE SHALL SPEAK IN MY NAME," In whose name is Muhummed speaking?" I opened Yusuf Ali's translation of the Holy Qur'an, at chapter 114- 'Sura Nas', or Mankind - the last chapter, and showed him the formula at the head of the charpter: and the meaning: "IN THE NAME OF GOD, MOST GRACIOUS, MOST MERCIFUL." And the heading of chapter 113: and the meaning: "IN THE NAME OF GOD, MOST GRACIOUS, MOST MERCIFUL". And every chapter downwards 112 , 111, 110.......was the same formula and the same meaning on every page, because the end SURAS (chapters) are short and take about a page each. "And what did the prophecy demand?' ......WHICH HE SHALL SPEAK IN MY NAME and in whose name does Muhummed speak?'IN THE NAME OF GOD, MOST GRACIOUS MOST MERCIFUL.' The Prophecy is being fulfilled in Muhummed to the letter "Every chapter of the Holy Qur'an except the 9th begin with the formula: IN TH E NAME OF GOD, MOST GRACIOUS, MOST MERCIFUL.' The Muslim begins his every lawful act with the Holy formula. But the Christian begins: "In the name of the Father, son and holy ghost.'"(13) Concerning Deuteronomy chapter eighteen, I have given you more than 15 reasons as to how this prophecy refers to Muhummed and NOT to Jesus. Baptist Contradicts Jesus

In New Testament times, we find that the Jews were still expecting the fulfilment of the prophecy of 'ONE LIKE MOSES', refer John 1:19-25. When Jesus claimed to be the Messiah of the Jews,the Jews began to enquire as to where was Elias? The Jews had a parallel prophecy that before the coming of the Messiah, Elias must come first in his second coming. Jesus confirms this Jewish belief: ".......ELIAS TRULY SHALL FIRST COME, AND RESTORE ALL THINGS. BUT I SAY UNTO YOU, THAT ELIAS IS COME ALREADY, AND THEY KNEW HIM NOT,...THEN THE DISCIPLES UNDERSTOOD THAT HE SPAKE UNTO THEM OF JOHN THE BAPTIST."(Matthew 17:11-13). According to the New Testament the Jews were not the ones to s wallow the words of any would-be Messiah. In their investigations they underwent intense difficulties in order to find their true Messiah. And this the Gospel of John confirms: "AND THIS IS THE RECORD OF JOHN,"(the Baptist) "WHEN THE JEWS SENT PRIESTS AND LEVITES FROM JERUSALEM TO ASK HIM, WHO ART THOU? AND HE CONFESSED AND DENIED NOT; BUT CONFESSED, I AM NOT THE CHRIST." (This was only natural because there can't be two Messiahs (14) at the same time. If Jesus was the Christ then John couldn't be the Christ!) "AND THEY ASKED HIM, WHAT THEN? ART THOU ELIAS? AND HE SAITH, I AM NOT." (Here Joh n the Baptist contradicts Jesus! Jesus says that John is "Elias" and John denies that he is what Jesus ascribes him to be. One of the TWO (Jesus or John), God forbid!, is difinitely not speaking the TRUTH! On the testimony of Jesus himself, John the Baptist was the greatest of the Israelite prophet s:"VERILY I SAY UNTO YOU, AMOUNG THEM THAT ARE BORN OF WOMEN THERE HAS NOT RISENA GREATER THAN JOHN THE BAPTIST:... (Matthew 11:11). We Muslims know John the Baptist as Hazrut YAHYAA Alai-his-salaam (peace be upon him). We revere him as a true prophet of Allah. The Holy Prophet Jesus known to us as Hazrut ISAA Alai-his-salaam (peace be upon him), is also esteemed as one of the mightiest messenger of the Almighty. How can we Musl ims impute lies to either of them? We leave this problem between Jesus and John for the Christians to solve, for their "sacred scriptures abound in discrepancies which they have been glossing over as the "dark sayings of Jesus"(15). We Muslims are really interested in the last questions posed to Jo hn the Baptist by the Jewish elite- "ART THOU THAT PROPHET? AND HE ANSWERED, NO."(John 1:21) Three Questions! Please note that three different and distinct questions were posed to John the Baptist and to which he gave three emphatic "NO'S" as answers. To recapitulate:1) ART THOU THE CHRIST? 2) ART THOU ELIAS? 3) ART THOU THAT PROPHET? But the learned men of Christendom somehow only see two questions implied here. To make doubly clear that the Jews definitely had T-H-R-E-E separate prophecies in their minds when they were interogating John the Baptist, let us read the remonstrance of the Jews in the verses following: "AND THEY ASKED HIM, AND SAID UNTO HIM, WHEY BAPTIZEST THOU

THEN, IF THOU BE a) NOT THAT CHRIST, b) NOR ELIAS, c) NEITHER THAT PROPHET?" (John 1:25) The Jews were waiting for the fulfilment of THREE distinct prophecies: One, the coming of CHRIST. Two the coming of ELIAS, and Three, the coming of THAT PROPHET. "That Prophet" If we look up any Bible which has a concordance or cross-references, the we will find in the marginal note where the words "the Prophet", or "that Prophet" occur in John 1:25, that these words refer to the prophecy of Deuteronomy 18:15 and 18. And that 'that prophet' - 'the prophet like Moses' - "L IKE UNTO THEE", we have proved through overwhelming evidence that he was MUHUMMED and not Jesus! We Muslims are not denying that Jesus was the "Messiah", which word is translated as "Christ".(16) We are not contesting the "thousand and one prophecies" which the Christians claim abound in the Old Testament foretelling the coming of the Messiah. What we say is that Deuteronomy 18:18 does NOT ref er to Jesus Christ but it is an explicit prophecy about the Holy Prophet MUHUMMED!" The dominee, very politely parted with me by saying that it was a very interesting discussion and he would like me very much to come one day and address his congregation on the subject. A decade and half has passed since then but I am still awaiting that privilege. I believe the dominee was sincere when he made the offer, but prejudices die hard and who would like to loose his sheep? The Acid Test To the lambs of Christ I say, why not apply that acid test which the Master himself wanted you to apply to any would be claimant to prophethood? He had said: "BY THEIR FRUITS YE SHALL KNOW THEM. DO MEN GATHER GRAPES FROM THE THORNS, OR FIGS FROM THE THISTLES? EVERY GOOD TREE WILL BEAR GOOD FRUIT AN D EVERY EVIL TREE WILL BEAR EVIL FRUIT....BY THEIR FRUITS YE SHALL KNOW THEM. (Matthew 7:16-20). Why are you afraid to apply this test to the teachings of Muhummed? You will find in the Last Testament of God - the Holy Qur'an - the true fulfilment of the teachings of Moses and Jesus which will bring to the world the much-needed peace and happiness. "IF A MAN LIKE MOHAMED WERE TO ASSUME THE DIC TATORSHIP OF THE MODERN WORLD, HE WOULD SUCCEED IN SOLVING ITS PROBLEMS THAT WOULD BRING IT THE MUCH NEEDED PEACE AND HAPPINESS."(George Bernard Shaw) The Greatest! The Weekly Newsmagazine "TIME" dated July 15, 1974, carried a selection of

opinions by various historians, writers, military men, businessmen and others on the subject: "Who Were History's Great Leaders?" Some said that it was Hitler; others said-Gandhi, Buddha, Lincoln and the like. But Jules Mass erman, a United States psychoanalyst put the standards straight by giving the correct criteria wherewith to judge. He said: "LEADERS MUST FULFIL THREE FUNCTIONS:(1) Provide for the well-being of the led, (2) Provide a social organization in which people feel relatively secure and (3) Provide them with one set of beliefs." With the above three criteria he searches history and analyses - Hitler, Pasteur, Gaesar, Moses, Confucius and the lot, and ultimately concludes: "PEOPLE LIKE PASTEUR AND SALK ARE LEADERS IN THE FIRST SENSE. PEOPLE LIKE GANDHI AND CONFUCIUS, ON ONE HAND, AND ALEXANDER, CAESAR AND HITLER ON THE OTHER, ARE LEADERS IN THE SECOND AND PERHAPS THE THIRD SENSE. JESUS AND BUDDHA BELONG IN THE THIRD CATEGORY ALONE. PERHAPS THE GREATEST LEADER OF ALL TIMES WAS MOHAMMED, WHO COMBINED ALL THREE FUNCTIONS. To a lesser degree, MOSES DID THE SAME." According to the objective standards set by the Professor of the Chicago University, whome I believe to be Jewish, - JESUS and BUDDHA are now - here in the picture of the "Great Leaders of Mankind", but by a queer coincidence groups Moses and Muhummed together thus adding further weight to the argu ment that JESUS is not like MOSES, but MUHUMMED is like MOSES: Deut.18:18 "LIKE UNTO THEE" - Like MOSES! In conclusion, I end with a quotation of a Christian Reverend the commentator of the Bible, followed by that of his Master: "THE ULTIMATE CRITERION OF A TRUE PROPHET IS THE MORAL CHARACTER OF HIS TEACHING."(Prof.Dummelow.) "BY THEIR FRUITS YE SHALL KNOW THEM." (Jesus Christ) A concluding suggestion : Come let us reason together ! SAY:"O PEOPLE OF THE BOOK! COME TO COMMON TERMS AS BETWEEN US AND YOU: THAT WE WORSHIP NONE BUT GOD; THAT WE ASSOCIATE NO PARTNERS WITH HIM; THAT WE ERECT NOT, FROM AMONG OURSELVES, LORDS AND PATRONS OTHER THAN GOD." IF THEN THEY TURN BACK, SAY:"BEAR WITNESS THAT WE (AT LEAST) ARE MUSLIMS (BOWING TO GOD'S WILL)." (Al-Qur'an 3:64) "PEOPLE OF THE BOOK" is the respectful title given to the Jews and the

Christians in the Holy Qur'an. The Muslims is here commanded to invite - "O People of the Book!" - O Learned People! O People who claim to be the recipients of Divine Revelation, of a Holy Scripture; let us gather together onto a common platform "that we worship none but God", because none but God is worthy of worship, not because "THE LORD THY GOD IS A JEALOUS GOD VISITING THE INIQUITY OF THE FATHERS UPON THE CHILDREN UNTO THE THIRD AND FOURTH GENERATION OF THEM THAT HATE ME."(Exodus 20:25). But because He is ou r Lord and Cherisher, our Sustainer and Evolver, worthy of all praise, prayer and devotion. In the abstract the Jews and the Christians would agree to all the three propositions contained in this Qur'anic verse. In practice they fail. Apart from doctrinal lapses from the unity of the One True God, (ALLAH_ Subha-nahu wa ta-ala) there is the question of a consecrated Priesthood (among the J ews it was hereditary also), as if a mere human being - Cohe or Pope, or Priest, or Brahuman, - could claim superiority apart from his learning and the purity of his life, or could stand between man and God in some special sense. ISLAM DOES NOT RECOGNISE PRIESTHOOD! The Creed of Islam is given to us here in a nutshell from Holy Qur'an: Say ye: "We believe in Allah, And the revelation given to us, And to Abraham, Isma'il, Isaac, Jacob, and the Tribes, And that given to Moses and Jesus And that given to (all) Prophets from their Lord: We make no difference Between one and another of them: And we bow to Allah (in Islam)." (Al-Qur'an 2:136). The Muslim position is clear. The Muslim does not claim to have a religion peculiar to himself. Islam is not a sect or an ethnic religion. In its view all Religion is one, for the Truth is one. IT WAS THE SAME RELIGION PREACHED BY ALL THE EARLIER PROPHETS. (Al-Qur'an 42:13). It was the truth taug ht by all the inspired Books. In essence it amounts to a consciousness of the Will and Plan of God and a joyful submission to that Will and Plan. IF ANYONE WANTS A RELIGION OTHER THAN THAT, HE IS FALSE TO HIS OWN NATURE, AS HE IS FALSE TO GOD'S WILL AND PLAN. Such a one cannot expect guidance, for he has deliberately renounced guidance. Ahmed Deedat

Makkah
Oleh: Haji Michael Wolfe (Penulis tinggal di Amerika, nukilan ini digubah dari bukunya The Hadj, 1994 oleh Dzikrullah) Sumber: Hidayatullah Online "Amerika perlu memahami Islam, karena inilah suatu agama yang menghapus problem ras dari masyarakatnya." —Malcolm X

Ibadah haji membuat orang memahami lebih baik kehidupan masa lalunya. Demikianlah yang terjadi pada diriku. Mulanya aku seorang Yahudi, semata-mata karena ayahku Yahudi dan ibuku Kristen. Aku dibesarkan di lingkungan yang mementingkan soal ras. Islam memberiku sesuatu yang sangat berbeda. Pada awal usia 20 tahunan aku melancong ke Maroko di Afrika Utara dan merasakan nikmatnya bergaul rapat dengan orang-orang kulit berwarna dari berbagai suku bangsa. Arab, Badui, bahkan orang Eropa, dan mereka semua Muslim. Berbeda dengan orang Eropa dan Amerika, Muslim mengkelas-kelaskan orang menurut iman dan akhlaknya. Aku merasa ini sesuatu yang wahyuis dan menyegarkan. Karena latar belakang yang campur aduk, waktu remaja secara bergantian aku mengikuti acara-acara keagamaan menurut agama ayah dan ibu. Efek kedua agama ini bagiku sama mendalamnya. Tetapi yang satu selalu menekankan ide "Ummat Pilihan" yang selalu kutentang; sementara yang satunya, yang dianut berdasarkan misteri, membuatku jengah. Seabad sebelumnya, nama nenek buyut canggah dari ibuku sudah diabadikan di kaca jendela Gereja Kristus High Street di Hamilton, Ohio. Saat berusia 20 tahun, kebanggaan itu sudah tak berarti apa-apa bagiku. Di Makkah, saat melantunkan talbiya perasaan itu semakin mantap. Tak seperti di Maroko, di Arab Saudi aku tak punya seorang temanpun. Tapi perasaan nyaman berada di antara ribuan orang yang bertujuan hidup

sama lebih-lebih terasa lagi. Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, Aku penuhi panggilan-Mu! Aku penuhi panggilan-Mu karena tak ada sekutu bagi-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu! Sungguh segala puji, segala kenikmatan, dan seluruh kerajaan ini hanya bagi-Mu. Tak ada sekutu bagi-Mu. Bait ini adalah simbol suci ibadah haji, sebagaimana ihram. Aku mendengarnya terus berulang-ulang siang dan malam selama berminggu-minggu. Talbiya artinya “bersiaga untuk seruan, perintah, atau arahan”. Salah satu fungsinya untuk menjernihkan pikiran, dan mempersiapkan diri menghadapi apapun. Sejak dalam van yang kami tumpangi meninggalkan bandara internasional Jeddah, bait ini sudah kami lantunkan. Lama kelamaan di dalam tidur pun aku mendengarnya. Saat-saat ihram juga memberi kesan kuat bagi diriku. Ia seakan-akan mengakhiri semua lembaran hidup yang sebelumnya. Pakaian seragam yang amat bersahaja ini menghapus semua perbedaan kelas dan kebiasaan budaya. Kaya miskin sama-sama dibalut olehnya. Ihram ini pakaian yang sangat demokratis bagaikan kain kafan. Memang demikianlah maksudnya. Sebagian orang Barat menganggap Makkah kota yang terlarang bagi orang asing. Nyatanya, kota ini justeru ada untuk menerima sebanyak mungkin orang asing, kecuali non-Muslim. Sebagian besar penduduknya adalah para pendatang dari berbagai penjuru dunia sejak 13 abad yang lalu. Mereka menunaikan haji dan tak pernah pulang ke negeri asalnya lagi. Walhasil, Makkah merupakan kota kosmopolitan, semua bangsa menanam akar di sini. Mereka semua Muslim. Tak sabar rasanya kami membereskan berbagai urusan barang dan masuk hotel di jalan Umm Al-Qura di dekat Masjidil Haram. Kami menuju masjid ditemani Syeikh Ibrahim, seorang professor ilmu hadits di sebuah universitas di kota ini. Ia lembut dan pendiam.

Dalam perjalanan Ibrahim berkata, "Harap diingat: Ka'bah itu sebuah rumah suci. Tapi tidak sesuci orang-orang yang mengelilinginya." Jarinya menunjuk ke tanah, membentuk lingkaran. "Apapun yang Anda lakukan di sini, jangan melukai seseorang, bahkan tanpa sengaja sekalipun. Kita akan melakukan 'umrah sekarang. Kita akan menyapa masjid ini, mengelilingi Ka'bah, berjalan tujuh kali di antara kedua bukit itu, seperti Siti Hajar. Anggaplah ini gladi resik haji. Tak usah tergesa-gesa, tak usah mendorong-dorong. Santai saja. Kalau ada yang srudak-sruduk menyingkir saja. Kalau Anda menyakiti seseorang, ibadah bisa tidak diterima. Percuma saja." Kebanyakan jama'ah haji yang tiba di Makkah memasuki Masjidil Haram melalui Baabus Salaam, "Pintu Keselamatan". Penjelajah Muslim ternama Ibnu Battutah masuk lewat pintu ini; juga pendahulunya, Ibnu Jubair, yang menulis kisah terkenal tentang perjalanan hajinya di tahun 1184 Masehi. Malam ini orang begitu ramai, kami tak bisa melakukan apa yang dilakukan Ibnu Battutah. Kami masuk lewat Baabul Malik. Beberapa menit kemudian aku sudah berada di tengah pusaran emosi dan kekhusyukan massal yang mengelilingi Ka'bah. Pemandangan pertama tentang Ka'bah begitu mengagumkan. Puluhan lelaki menangis menggumamkan doa di tempat mereka berdiri. Beberapa wanita menyandarkan lengannya ke dinding Ka'bah, memeras air mata mereka. Kumulai langkah kakiku tepat di garis yang sejajar dengan batu hitam Hajarul Aswad yang pernah dicium Nabi, sambil menggumam: Ya Allah, aku berniat mengelilingi rumah suci-Mu. Mudahkanlah bagiku, dan terimalah tujuh putaran ini dalam nama-Mu. Pelan-pelan, dua tetes air hangat mengaliri kedua pipiku.

I GOT EID BEFORE EID !!!!!!
A FACT ! A STORY ! AN EXPERIENCE !!!

It was as usual the evening to jubiliation ! Night full of Fragrance and Light ! The Night of Moon ( Chaand Raat). We call it Channd Raat here in India. The night before the day of Eid . I travelled all the way long to Allahabad ( Native Town) from my place of working. It was only late before midnight that I reached there. All the people were waiting for my arrival. They became happy to find me there amongst them........... Since I went there after a long span , I intended to visit the Bazaars ( Market) of the city more of because I had to buy a lot of things for me also than to see it........One of my aunt said that If I am going to a stroll to the market , I might bring some dry fruits and sweeteners also for her which she could not get so far..........I was happy to help her this way ...... I went out to the market . Everything seemed to be shining. Everybody seemed to be jubiliant.......There was no glooom , no darkness no distress........Everybody running to fetch something for himself.......People flocking at some places asking for their desired things.........There were two rows of sellers.........Everything except an Aeroplance was available I think , Girls were mad over the jewellery and dresses. Boys were trying Kurtas and other garments.........Somebody testing goggles at night .........Someone testing the shoes .........Someone crying for return of money..........some crying to take the money.........so it was all businss a real busy ness..........I walked down the main Road which was famous for its Chand Raat Bazaar......... I purchased the required sweetners for Sweet dish and dry fruits etc as per the demand and while I was passing through the street I noticed that a girl, a small girl with her burqa clad mother was looking a garment for herself . She was so happy to touch that garment that her eyes were shining and was looking at the garment again and again and showing to her mother..........i saw the daughter and her mother with curiousity for a moment and then I proceeded further in to the market.......... While walking on I was lost in memories of past , I visualized how happy we used to be while we were small children, how mad we went when used to see the cresent of Eid ul Fitr....I was thinking what a lovely thing this childhood is,,,,,,A child is just like a prince, his parents treat him lilke a prince, whatever he wishes is arranged for him , her mother stares at the face of her child waiting for his demand to be fulfilled as soon as possible..........In childhood we have no fear, no worry , nothing to broil about...... I remembered those lines of Christopher Morley "

The greatest poem ever known Is one all poets have outgrown: The poetry, innate, untold, Of being only four years old. I strolled down on and on and but actually I was in deep thoughs of the days bygone, I thought why is it so that the same Eid was much more jubiliant and memorable some years ago when we were a child than the Eid of today, why is it so that we have lost those spirit of happines those actual happines......where have gone those immaculate and naive feeling of true happiness.........I realized that we are losing the true spirit of our happiness day by day , now everything and every occasion is just a formality , the true spirit and sense has lost...................... The reason to me is that we have gone far away from our Deen , we have forgot the ways of our Prophet SAW , we have placed DUNYA in our heart and and have displaced LOVE OF ALLAH AND RASOOL SAW out of our heart.......... We have accumulated wealth of this world and let the wealth of the Deen go away.........We have stored money in our house and have lost everything in our life,True love, affection, coutesy ,submission, care, sympathy, realtions, mother, father, brother, sister, home, mosque, Deen , Sunnah , modesty we have lost everything at the cost of this wordly wealth, .....Ah where we have come ...........and where we had been ...........Ya Allah .........if this worldy wealth costs us so much , we were much better a poor but Pious and a firm believer thatn a wealthy but weightless muslim only a paper , a muslim by name.............O Allah we have money and only money in our pocket and our heart are dirty with the lust of the worldy and temporary filths..........O Allah make us a Muslim not by name but by actions,,,,, Make Muslim at heart........ I remmeber the words of our Beloved Prophet SAW which the Prophet made to Abuzar about valuing five things: Value youth before old age, sound health before sickness, wealth before want, leisure before occupation, and life before death ... But we never seem to pay attention to these wise words..........we are losing everything day by day but never care to think for even a while....... while travelling in these thoughts I forgot that I have left the market way back and I must return immeidately in order to reach home in time........I stopped at once and turned myself again to the way back............Once agian I was in the bazaar ( Market ) ,,,,,,I saw that the crowd has doubled ....people are pouring from all directions.....on and on...........and while passing by the market I once again saw that girl and mother .......at the same shop but with a different scene........Now the mother was arguing with the shopkeeper, the face of the girl was disturbed one, she was just about to cry and drops of tears shining at the border of the eyes..........and then I saw that the shopkeeper snatched that garment from the hands of that girl............now the girl ....broke dwon......she was in tears now.......the mother was now furious but at the same time i heard her voice like a

weeping mother .she was cursing that shopkeeper .........that shopkeeper too seemed to be a ill-bred guy, by this time I had reached at the very shop and i was just before that shopkeeper.. and i sensed the whole matter .......I understood that the garment was cosltly and expensive and the girl is bent upon taking the same but the shopkeeper is refusing and besides he is misbehaving...and treating badly...... Now i was before that guy......A youngman..........I asked the shopkeeper without any prior introduction ......... how much is this suit ? He put that garment before me .........Three hundred rupees ........I took that garment in my hand touched it,,,,,,,,it was a very nice fabric embroidered with a very fine and beautiful carvings and designs........it was really a marvellous one..........Both the girl and her mother were looking at me..........too curious ......fearful that I might purchase that garment ........I without any further argument........put three hundred rupees to the shopkeeper and the shopkeeper immediately packed that suit in a nice small box and handed over to me........now the girl was weeping as the hopes of getting that garment were gone........and the shopkeeper was happy to show the mother that this is how he sells his suits.............i threw a cursory glance at the burqa ( Black veil from top to bottom worn by muslim women in Indian subcontinent) it was torn from different places and was a clear sign that she was a very poor lady .....the girl was also shabbily clad....with almost worn out chappals......Ah....poverty sometimes plays this way......how pitiful one becomes...... Now the girl's face was like a blown off lamp..........withered flower......tears rolling down the eyes.....I stepped forward and asked .... " Kya Naam hai Apka ? ( What is your name ) Fatima She replied.........I was rememberd of Hadhrat Fatima Bint MUhammad Radhiallah u anhu........ Once our prophet SAW returned from a journey outside Madinah. He went to the mosque first of all and prayed two rakats as was his custom. Then, as he often did, he went to Fatimah's house before going to his wives. Fatimah welcomed him and kissed his face, his mouth and his eyes and cried. "Why do you cry?" the Prophet asked. "I see you, O Rasul Allah," she said, "Your color is pale and sallow and your clothes have become worn and shabby." ."O Fatimah," the Prophet replied tenderly, "don't cry for Allah has sent your father with a mission which He would cause to affect every house on the face of the earth whether it be in towns, villages or tents (in the desert) bringing either glory or h umiliation until this mission is fulfilled just as night (inevitably) comes." I asked that girl ----Aaapko ye suit pasand hai ..( Do you like this suit) haan ( Yes) She replied Agar Aaapk ye suit mil jaye to ( IF you get this one ?) ye bohat mahnga .......she could not complete ( It is too costly ) and started weeping.

Roiye nahi ! Agar aap Allah se mangey to wo aapko zarur dega InshaAllah ( Dont cry ! If you ask Allah swt for this He will award yu surely Insha Allah )I saw she raised her hands and made dua..... I handed over the suit to her........and said " Ye Allah pak ne aapko diya hai " Allah has given you this one ........she was stunned..........she said nahi .......No and steppd back.........I told him that I am like her elder brother....and she should accept this. She saw in the eyes of her mother for the approval....... I turned to her mother and said " Khala ! Kya main apke betey jaisa nahi hoon ? (Aunt Am i not like your son ?) She too started weeping.......she nodded in positive........and the girl took the packed from my hands..........the mother started to tell that her husband was a truck driver who died in a road accident and now she as a house maid to feed herself with this girl........beta ! Jeetey raho Allah tumhe khush rakhe ! ( Long live my son and May Allah keep you happy ! ) .She had no words to speak and both of them were in tears..........I said ab aap jayen aur Eid ka kuchh intezam hai ki nahi ( Now you go and tell me whether you have arranged somethig for eid or not ?) she said " Han beta ....Allah ka shukr hai (Yes Thanks to Allah ) ....... Now I was getting late and asked for leave "Now I must go .........and turned back.......the girl screamed ......Bhaiya ....Bhaiya aapka nam kya hia( Brother what is your name.............) .... I had to turn my face to reply " Fatima ka Bhai " Brother of Fatima.." I saw tears of joy ......tears of happiness coming out of the eyes of the girl........But I didnt stop and kept walking on..... Now I realized that I had to purchase one cap for my self and I had no money in my pocket........... I increased my pace to return home soon ..........I had a look in the sky .......it looked that stars were smiling and whole sky was enjoying Eid......I was feeling ecstasic........My heart was full of light and true happiness...It seemed I was walking over skies ........ ........ I shall remember his Eid always which made me aware of true happiness...I had got eid before Eid. There was no one happier than me at that moment . I thanked Allah . I was reminded of a saying "your true happiness is the result of your efforts in making others happy" Learning to make others happy with the purest love you ever can let flow through you is one of the most divine experiences on earth while having a physical body. .

Remember ALLAH is with you every single second - every single second - whatever you do, however you do what you do, ALLAH loves you every single second, ALLAH is ready "to take your hand" and help you, to heal you from any damage you have done to yourself, to uplift you with his infinite Love. I shall remeber this Eid always as I had tasted Eid before the day of Eid. True happiness is not in getting something for us but in giving to others.

KARIR WANITA DAN WANITA KARIR
Sumber : http://groups.yahoo.com/group/salafiyyin/message/11 Diskursus tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, terutama di negeri ini dan mendapatkan dukungan serta perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya yang menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita. Mereka selalu mengangkat tema “pengungkungan” Islam terhadap wanita dan mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa kecuali atau yang belakangan lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki ‘basic’ keagamaan yang kuat dan memadai. Karena merupakan masalah yang urgen dan berimplikasi serius, maka tulisan kita kali ini mengangkat tema tersebut. Semoga tulisan ini menggugah wanita-wanita muslimah untuk kembali kepada fithrah mereka. Amîn. Kondisi Wanita di Dunia Barat 1. Dari sisi historis, terjunnya kaum wanita ke lapangan untuk bekerja dan berkarir semata-mata karena unsur keterpaksaan. Ada dua hal penting yang melatarbelakanginya : Pertama, terjadinya revolusi industri mengundang arus urbanisasi kaum petani pedesaan, tergiur untuk mengadu nasib di perkotaan, karena himpitan sistem kapitalis yang melahirkan tuan-tuan tanah yang rakus. Berangkat ke perkotaan, mereka berharap menda-patkan kehidupan yang lebih layak namun realitanya, justru semakin sengsara. Mereka mendapat upah yang rendah. Ke dua, kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah yang rakus sengaja mengguna-kan momen terjunnya kaum wanita dan anak-anak, dengan lebih memberikan porsi kepada mereka di lapangan pekerjaan, karena mau diupah lebih murah daripada kaum lelaki, meskipun dalam jam kerja yang panjang.

2.

Kehidupan yang dialami oleh wanita di Barat yang demikian mengenaskan, sehingga menggerakkan nurani sekelompok pakar untuk membentuk sebuah organisasi kewanitaan yang diberi nama “Humanitarian Movment” yang bertujuan untuk membatasi eksploitasi kaum kapitalis terhadap para buruh, khususnya dari kalangan anak-anak. Organisasi ini berhasil mengupayakan undang-undang perlindungan anak, akan tetapi tidak demikian halnya dengan kaum wanita. Mereka tetap saja dihisap darahnya oleh kaum kapitalis tersebut. Hingga saat ini pun, kedudukan wanita karir di Barat belum terangkat dan masih saja mengenaskan, meskipun sudah mendapatkan sebagian hak mereka. Di antara indikasinya, mendapatkan upah lebih kecil daripada kaum laki-laki, keharusan membayar mahar kepada laki-laki bila ingin menikah, keharusan menanggung beban penghidupan keluarga bersama sang suami, dan lain sebagainya.

3.

Beberapa Dampak Negatif dari Terjunnya Wanita untuk Berkarir Di antara dampak-dampak negatif tersebut adalah: 1. Penelitian kedokteran di lapangan (dunia Barat) menunjukkan telah terjadi perubahan yang amat signifikan terhadap bentuk tubuh wanita karir secara biologis, sehingga menyebabkannya kehilangan naluri kewanitaan, tetapi tidak berubah jenis kelamin menjadi laki-laki. Jenis wanita sema-cam ini dijuluki sebagai jenis kelamin ke tiga. Menurut data statistik, kebanyakan penyebab kemandulan para istri yang bekerja sebagai wanita-wanita karir tersebut bukan karena penyakit yang biasa dialami oleh anggota badan, tetapi lebih diakibatkan oleh ulah wanita di masyarakat Eropa yang secara total, baik dari aspek materil, pemikiran maupun biologis lari dari fithrahnya (yakni sifat keibuan). Penyebab lainnya adalah upaya mereka untuk mendapatkan persamaan hak dengan kaum laki-laki dalam segala bidang. Hal inilah yang secara perlahan melenyapkan sifat keibuan mereka, banyaknya terjadi kemandulan serta mandegnya ASI sebagai akibat perbauran dengan kaum laki-laki. Di Barat, muncul fenomena yang mengkhawatirkan sekali akibat terjunnya kaum wanita sebagai wanita karir, yaitu terjadinya tindak kekerasan terhadap anak-anak kecil berupa pukulan yang keras, sehingga dapat mengakibatkan mereka meninggal dunia, gila atau cacat fisik. Majalah-majalah yang beredar di sana menyebutkan nama penyakit baru ini dengan sebutan Battered Baby Syn (penyakit anak yang dipukul). Majalah Hexagon dalam volume No. 5 tahun 1978 menyebutkan bahwa banyak sekali rumah sakit-rumah sakit di Eropa dan Amerika yang menampung anak-anak kecil yang dipukul secara keras oleh ibu-ibu mereka atau terkadang oleh bapak-bapak mereka. DR. Ahmad Al-Barr mengatakan, “Pada tahun 1967, lebih dari 6500 anak kecil yang dirawat di beberapa rumah sakit di Inggris yang berakhir dengan meninggal sekitar 20% dari mereka, sedangkan sisanya mengalami cacat fisik dan mental secara akut. Ada lagi, sekitar ratusan orang yang mengalami kebutaan dan lainnya

2.

3.

ketulian…setiap tahunnya, ada yang mengalami cacat fisik, ediot dan lumpuh akibat pukulan keras”. 4. Para wanita karir yang menjadi ibu rumah tangga tidak dapat memberikan pelayanan secara kontinyu terhadap anak-anak mereka yang masih kecil, karena hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk karir mereka. Berkurangnya angka kelahiran, sehingga pemerintah negara tersebut saat ini menggalakkan kampanye memperbanyak anak dan memberikan penghargaan bagi keluarga yang memiliki banyak anak. Hal ini tentunya bertolak belakang dengan kondisi yang ada di dunia Islam.

5.

Saksi Mereka Berbicara 1. Seorang Filosof bidang ekonomi, Joel Simon berkata, “Mereka (para wanita) telah direkrut oleh pemerintah untuk bekerja di pabrik-pabrik dan mendapatkan sejumlah uang sebagai imbalannya, akan tetapi hal itu harus mereka bayar mahal, yaitu dengan rontoknya sendi-sendi rumah tangga mereka”. Sebuah lembaga pengkajian strategis di Amerika telah mengadakan ‘polling’ seputar pendapat para wanita karir tentang karir seorang wanita. Dari hasil ‘polling’ tersebut didapat kesimpulan: “Bahwa sesungguhnya wanita saat ini sangat keletihan dan 65% dari mereka lebih mengutamakan untuk kembali ke rumah mereka…”.

2.

Karir Wanita dalam Perspektif Islam Allah Ta’ala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerja-an yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak. Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disitir di dalam Al-Qur’an , “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” (QS. Luqman: 14). Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya.

Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan. Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya. Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (‘iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita. Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa ‘iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut. Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin. Solusi Islam Terhadap Diskursus Karir Wanita Ada kondisi yang teramat mendesak yang menyebabkan seorang wanita terpaksa bekerja ke luar rumah dengan persyaratan sebagai berikut: Disetujui oleh kedua orangtuanya atau wakilnya atau suaminya, sebab persetujuannya adalah wajib secara agama dan qadla’ (hukum). Pekerjaan tersebut terhindar dari ikhtilath (berbaur dengan bukan mahram), khalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan laki-laki asing; Sebab ada dampak negatif yang besar. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat (bersunyi-sunyi, menyendiri) dengan seorang wanita, kecuali bila bersama laki-laki (yang merupakan) mahramnya”. (HR. Bukhari). Menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua hal yang berindikasi fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangiwangian (menggunakan parfum). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar menuju masjid, maka shalatnya tidak diterima hingga ia mandi.” (HR. Ibnu Majah). Dalam riwayat lain : “Siapapun wanita yang memakai wangi-wangian kemudian keluar, lalu melewati sekelompok kaum lelaki agar mereka mencium baunya maka wanita itu adalah seorang pezina.” (HR. Abu Daud, Nasa’i, Tirmidzi, Ahmad, dan Darimi)

-

-

-

Komitmen dengan akhlaq Islami dan hendaknya menampakkan keseriusan dan sungguh-sungguh di dalam berbicara, alias tidak dibuat-buat dan sengaja melunaklunakkan suara, sebagaimana Firman Allah subhanhu wata’ala terhadap umumul mukminin junjungan kita, “Hai istri-istri Nabi, kalian tidak sama dengan siapapun perempuan lain jika kaian benar-benar bertaqwa, maka janganlah kamu tunduk (lembut, merendahkan suara) dalam berbicara sehingga orang-orang yang hatinya berpenyakit punya hasrat tidak baik (kepada kalian), tetapi katakanlah (kepada lakilaki) perkataan yang lugas.” .(Al-Ahzab: 32) Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabi’at dan kodratnya seperti dalam bidang pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

Penutup Sudah waktunya kita memahami betapa agungnya dien ini di dalam setiap produk hukumnya, berpegang teguh dengannya, menjadikannya sebagai hukum yang berlaku terhadap semua aturan di dalam kehidupan kita serta berkeyakinan secara penuh, bahwa ia akan selalu cocok dan sesuai di dalam setiap masa dan tempat. ***************************************************************** Saudaraku, setiap Muslim punya kewajiban untuk menyampaikan ajaran Islam. Kesempatan kita untuk berdakwah saat ini adalah : Anda sampaikan artikel ini kepada Saudara kita yang belum mengetahuinya.

Ada Apa Dengan Bencana
Bencana.. bencana.. dan bencana. Itulah yang sedang terjadi di berbagai tempat di tanah air ini. Banjir... air pun menampakkan keperkasaannya. Menelan dan menghanyutkan apa yang dijumpainya. Riau, Semarang, Medan, Jakarta dan banyak lagi kota-kota bahkan kota-kota besar yang rentan bakal tenggelam. Beberapa tempat bahkan dilengkapi dengan gempa, tanah longsor dan bencana yang lainnya. Ribuan orang terpaksa mengungsi. Mereka kehilangan rumah dan hartanya yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Wabah penyakitpun segera akrab dengan keadaan itu. Malaria, demam berdarah, diare dan beragam penyakit menular lainnya datang seolah melengkapi serangkaian bencana yang terjadi di negeri ini. Sebelumnya, ribuan hektar hangus terbakar, kereta api bertabrakan, pesawat terbang tergelincir dan jatuh, dan kecelakaan terjadi dimana-mana. Jauh lagi sebelum itu, tragedi Ambon, Galela, Sampit, Poso menambah gelap sejarah bangsa Indonesia. Lalu kita bertanya, ada apa dengan semua ini? Mengapa tragedi dan bencana seolah begitu kerasan menghuni tanah ini? Al Qur’an menjawabnya:

“Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, ....”. (QS. Asy-Syuura’ : 30) Ya... kitalah sebenarnya yang menjadi penyebabnya. Tak terhitung banyaknya perbuatan penduduk negeri ini yang telah menjadikan kita tergolong kaum yang pantas mendapatkan musibah. Di negeri inilah kemusyrikan dijadikan sebagai agama, kemaksiatan dijual sebagai komoditi, tak ada lagi perasaan berdosa. Di negeri ini juga kebenaran dan keadilan telah dimusnahkan. Kita sudah lupa bahwa kaum-kaum terdahulu telah dimusnahkan Allah karena sebab yang hampir sama dengan kita. Banjir telah menenggelamkan kaum Nabi Nuh yang menolak bertauhid dan memilih berhala, gempa dahsyat memusnahkan kaum Luth yang homoseks, kaum ‘Ad dan Tsamud dihancurkan karena kufur atas nikmat Allah dan bermegah-megahan di dunia. Allah juga telah menghancurkan para pemimpin negeri seperti Fir’aun yang mengaku Tuhan dan Namrudz yang memudayakan berhala. Bukankah kita melakukan semua yang dilakukan mereka? Kita lebih memilih berhala demokrasi dan menolak hukum Allah, kita lebih mencari kemegahan dunia dan melupakan nikmat akhirat, kita banyak menolak fitrah-fitrah manusia dan bertingkah seperti penguasa alam raya. Awal kehancuran bangsa ini sebenarnya sudah nampak sejak ditolaknya syari’at Islam sebagai pondasi ideologi. Sejak itu bom waktu berdetak menunggu saat meledak. Kini, bangsa ini sudah mengalami kehancuran akidah, kebejatan moral dan ketidakpastian hukum. Sebuah kerusakan yang sempurna. Maka satu-satunya jalan untuk lepas dari ancaman musibah Allah adalah bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat. Meninggalkan dosa-dosa masa lalu, memperbaiki keimanan dan meningkatkan ketaqwaan dibawah undang-undang Allah. Jika itu dilakukan, niscaya bumi dan langit akan kembali mengeluarkan isinya dalam bentuk kenikmatan dan bukan musibah. Sebagaimana Allah telah berjanji : “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf : 96) Seringkali kita bingung memikirkan bagaimana caranya agar mampu mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah. Tak jarang kita merasa sulit sekali memikirkan usaha untuk berada di posisi tersebut. Padahal kalau saja kita mengetahui begitu mudahnya untuk mendapatkan tempat yang mulia itu, Insya Allah mungkin sebagian besar dari kita akan berada di sana. Ternyata, hanya dengan mencintai dan mempersaudarakan karena Allah kita bisa mencapai posisi yang selalu kita impikan itu. Membina hubungan dengan saudara dan teman di atas fondasi ukhuwah karena Allah, merupakan ikatan yang paling luhur antara

dua insan, baik seorang muslim maupun muslimah. Karena ikatan ini merupakan ikatan iman yang dijadikan Allah antar orang beriman. Renungi dengan sepenuh sungguh firman-Nya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara." (QS Al-Hujurat: 10) Bahkan kita sering mendengar, salah satu cara agar kita bisa merasakan lezatnya iman adalah bila kita dapat mencintai seseorang semata-mata karena Allah. "Di manakah mereka yang saling mencintai karena kebesaran-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku, hari yang tidak ada naungan selain naungan-Ku." (HR Muslim) Subhanallah, sungguh besar kemuliaannya! Betapa tinggi kedudukan mereka yang saling mencintai karena Allah dan semata-mata bertujuan mencari ridha-Nya, hingga Allah menyediakan sebuah naungan di hari paling berat itu. Memang sangat berat dan sulit untuk mendapatkannya, kecuali orang yang bersih jiwanya, suci rohaninya dan memandang dunia sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya dan murah. Tapi harus ada kata permulaan, harus ada perbuatan awal karena kalau tidak, selamanya kita akan mengatakan kalau hal itu sulit sekali dan kita tidak akan mampu untuk melakukannya. Maka sekaranglah masanya. Mulailah untuk mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada sesama, bukan hanya dengan perbuatan saja tapi ungkapkan dengan bahasa yang indah yang mampu mengungkapkan semua rasa cinta kita yang tentu saja semuanya karena Allah. Lalu seperti apa cara menumbuhkan cinta kepada orang lain?, Nabi SAW telah memberikan contoh yang nyata kepada kita. "Demi Allah yang Jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidaklah beriman sehingga kalian saling mencintai. Tidak maukah kamu kutunjukkan suatu amal yang jika kamu melakukannya, kamu menjadi saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu." (HR Muslim) Salam. Subhanallah ternyata begitu mudah untuk memasuki surganya Allah, hanya mengucapkan salam setiap bertemu dengan semua saudara-saudara kita. Tapi apakah dalam prateknya semudah teori di atas? Insya Allah, jika ada kasih sayang dalam hati serta bersihnya jiwa dan tentu saja senyum yang ikhlas yang benar-benar tulus, menyebarkan salam bukanlah hal yang sulit dan tentu saja dengan berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku untuk berzikir kepada Mu dan bersyukur kepada Mu, dan tolonglah aku dalam melakukan ibadah secara baik kepada Mu." Insya Allah keinginan untuk berada di tempat yang mulia di sisi Allah bukan hanya sekedar impian belaka. Doaku selalu terucap agar kita bisa berada di sana bersama-sama. Amin.

Allah Azza wa Jalla berfirman, "Orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKu, akan mendapat mimbar dari cahaya, di mana para Nabi dan syuhada iri kepadanya (ingin mendapatkannya)." (HR Mu’adz bin Jabal RA)

Akhirnya, "Aku benar-benar mencintaimu semua karena Allah saudaraku!"
source :eramuslim Pekan lalu, satu lagi sahabat saya menikah. Setelah melalui berbagai pertimbangan yang sempat memberatkannya, dengan penuh keyakinan ia jalani dengan mantap tekadnya untuk mengakhiri masa sendirinya. Sore hari beberapa bulan yang lalu, saya menemuinya dalam keadaan tak bersemangat. Pasalnya, orang tua, kakak, adik, tante dan nyaris semua orang yang sejak awal diharapkan memberikan dukungan dan restunya atas rencana pernikahannya justru menentang dengan berbagai alasan. "Dengan penghasilan yang masih pas-pasan, mau dikasih makan apa isteri kamu nanti …" satu pertanyaan pamungkas dari ibunya. Sebelumnya, ayahnya menilai sahabat saya itu belum waktunya menikah, masih ada beberapa adiknya yang membutuhkan bantuan biaya pendidikan. Belum lagi alasan lain yang terlontar dari anggota keluarga yang lain. Semua itu membuatnya semakin bingung, resah sekaligus merasa tertekan, sementara di sisi lain hasratnya untuk menikah semakin kuat. Tidak hanya pada saat seperti yang dialami sahabat saya tersebut. Setiap orang, sebagian dari mereka bahkan orang-orang terdekat kita,pernah mengalami satu posisi dimana ia berdiri di bibir jurang sementara di belakangnya juga terdapat bibir jurang yang tak kalah lebar ternganganya. Segunung keraguan bertengger di pundaknya. Segunung keraguan yang sebagian kecil datang dari dalam dirinya, sebagian besarnya justru ia dapati dari orang-orang maupun keadaan sekitarnya. Bayang-bayang kegagalan dari sejarah masa lalu yang pernah tercatat, yang terus menerus ia dapati dari seluruh referensi, cemoohan dan setumpuk kata juga alasan negatif dari orang-orang yang semestinya memberikan dukungan, seperti merantai kuat kedua kakinya sehingga tak mampu melangkah sedikit pun untuk maju. Di saat seperti itu, ada dua kemungkinan yang akan dipilih, mundur –yang artinya ia mungkin akan jatuh lebih dalam dari jurang yang ada di depannya- atau mengurungkan niatnya, duduk terdiam dan menunggu mukjizat datang menghampirinya.

Sementara kekuatan untuk melangkah lebih jauh tak berani dicobanya. Saya pernah mengalami masa seperti itu, dan dalam hati terbersih saya, saya yakin sebagian besar orang di atas bumi ini juga pernah menghadapi situasi yang demikian. Tak berani maju karena jurang menganga, mundur pun berarti terjerumus lebih dalam. Di detik-detik terakhir sebelum akhirnya setiap kita kehabisan energi di ambang putus asa, di saat itulah kita berpasrah kepada Allah berharap ia mengirimkan seseorang yang bisa membantunya keluar dari masalah. Di detik terakhir, seorang sahabat menepuk pundak saya dan meminta saya duduk menenangkan diri menceritakan semua yang saya alami. Tidak ada yang ia lakukan kecuali mendengarkan setiap huruf yang keluar dari mulut saya. Tak ada bantahan, tak ada selaan, tak ada kernyit dahi, juga mata yang melengah darinya. Yang ada hanya tatapan mata penuh perhatian, telinga yang terbuka seluas langit dan senyum yang menyiratkan kasih. Tahukah Anda apa yang terjadi setelah itu? Sebuah jembatan seperti terbentang antara bibir jurang di sedepa langkah saya dengan tanah pijakan di seberang yang sebelumnya tak mampu tertangkap oleh mata. Ya, ternyata yang saya butuhkan hanyalah seseorang yang mau mendengarkan –sekali lagi, mendengarkan- dengan hatinya. Dan saya yakin, dia lah sahabat yang dikirimkan Allah dari sepenggal doa saya di ambang keputusasaan. Kepada sahabat saya yang tampak murung menghadapi kesulitan dengan rencana pernikahannya, saya hanya menyediakan hati saya untuk mendengarkannya. Saya ingin membangun sebuah jembatan baginya. Sungguh, saya hanya menepuk pundaknya dan mendengarkan apa pun yang keluar dari mulutnya hingga tak satu pun huruf tersisa. Wallaahu `a'lam.

source ; daruut-tauhid Ps. kepada sdrku...jng pernah berhenti berdoa kpdNya...Remember NashruLLah is NEAR..Ishbir ya

Belajar Tiada Henti
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar Semoga Allah Yang Mahatahu segala-galanya membimbing kita untuk mengenal diri, mengenal Allah dan mengerti apa yang seharusnya dilakukan dalam hidup ini. Tanpa ilmu dan pengetahuan kita tidak akan mengetahui siapa diri kita, siapa Allah, dan jalan untuk pulang kepada Allah. Makin sedikit pengetahuan, makin pahit hidup ini karena tak banyak

masalah yang bisa diselesaikan. Oleh karena itu jikalau kita ingin sukses ingatlah janji Allah. "... Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS Al Mujadilah [58]: 11) Juga sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menginginkan dunia, maka wajiblah baginya dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan dunia dan akhirat, maka wajib baginya untuk mencari ilmu." Artinya, kalau kita ingin mengetahui tingkat kesuksesan kita, maka lihatlah sejauh mana kecintaan kita kepada ilmu. Dalam 7B (kiat menjadi sukses), B yang ketiga adalah belajar tiada henti, sampai akhir hayat. Kalau kita ingin sukses, selain ibadah harus tangguh dan akhlak harus dijaga, juga buatlah program belajar tiada henti. Kita tahu bahwa segala sesuatu dalam hidup ini selalu berubah. Umur bertambah tua, tubuh bertambah lemah, kebutuhan bertambah banyak, hingga masalah dan potensi konflik pun bertambah. Bagaimana mungkin kita menyikapi segala sesuatu yang selalu bertambah tanpa ilmu yang bertambah pula. Mari kita terus menerus meng-up-grade diri dan memperbaiki diri. Kalau ilmu kita luas, maka akan seperti orang yang berada di puncak gunung, dia akan bisa melihat pemandangan di bawahnya lebih luas. Begitupun, orang yang luas ilmunya, ia akan lebih arif dan bijak dalam melihat kehidupan. Atau seperti kapal selam di lautan yang dalam, walau dari sana sini air menekan, dia tak pernah kandas tenggelam. Begitupun, orang yang mengerti arti kehidupan dapat menyelami kehidupan ini dengan tenang, tidak panik. Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya seperti perahu di permukaan laut yang selalu terombang ambing ombak. Orang yang tidak berilmu tak bisa menyelami arti hidup, dalam kesenangan membabi buta, dalam kesedihan terpuruk dan putus asa. Ciri-ciri orang yang kurang ilmu adalah hilangnya kearifan, misalnya menyelesaikan masalah dengan mengandalkan kekuatan otot atau amarah. Kalau semuanya berubah, tetapi ilmu kita tak berubah dan bertambah, maka seringkali yang bertambah adalah peningkatan emosi dan tensi. Betapa sering kita melihat orang-orang yang terpuruk karena kurang ilmunya. Walau dia mempunyai kedudukan, tetapi jika kemampuannya tidak sesuai dengan amanahnya, maka ia akan menjadi hina justru oleh

kedudukannya itu. Jika kita ingin mempunyai masa depan yang baik, maka kita harus mencintai belajar, setiap waktu harus sekuat tenaga menambah ilmu. Jadikan belajar sebagai program harian kita. Setiap hari harus mencari buku-buku untuk dibaca. Kalau melihat televisi, lihatlah program yang bisa menjadi ilmu. Kalau mempunyai uang lebih, ikutilah kursus yang bisa menambah ilmu, wawasan, dan pengalaman. Kemudian, berkumpullah dengan orang-orang yang mencintai ilmu. Tekadkan dalam hati, "Setiap hari saya harus bertambah ilmu. Saya harus mencari uang lebih banyak agar saya bisa menambah ilmu. Saya harus meluangkan waktu untuk mencari ilmu. Saya harus membebaskan diri saya dari belenggu kebodohan dengan mendapatkan ilmu." Rumah bisa terbakar, mobil bisa hilang, tetapi kalau ilmu melekat pada diri dan diamalkan, maka tak akan ada yang dapat mencurinya. Orang yang lumpuh pun jikalau ilmunya luas, maka dia akan dimuliakan. Syekh Ahmad Yasin badannya lumpuh tak berdaya, tapi ilmunya luas hingga menggetarkan dunia, menjadi pemimpin Hammas di Palestina. Walau dikatakan teroris, tetapi yang terbukti adalah tak ada yang diinginkan beliau melainkan kebaikan. Kalau kita berilmu, dunia akan datang kepada kita. Firman Allah dalam hadits Qudsi, "Hai dunia, layani orang yang hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada-Ku dan perbudak orang-orang yang hidupnya hanya sibuk mencari dunia." Semoga mulai Ramadhan kali ini, dengan pertolongan Allah kita bisa melakukan amal perbuatan apapun dalam hidup yang hanya sekalikalinya di dunia ini dengan ilmu pengetahuan yang benar. Amin. Sumber : http://republika.co.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful