DASAR-DASAR TERAPI CAIRAN DAN ELEKTROLIT

PENDAHULUAN
Gangguan cairan dan elektrolit dapat membawa penderita dalam kegawatan, yang kalau tidak dikelola dengan cepat dan tepat dapat menimbulkan kematian. Usaha pemulihan kembali volume serta komposisi cairan dan elektrolit tubuh dalam kondisi yang normal disebut resusitasi cairan dan elektrolit. Penyebab utama gangguan cairan dan elektrolit adalah diare, muntahmuntah, peritonitis, ileus obstruktif, puasa, terbakar, atau karena pendarahan yang banyak. Tiap penyakit memiliki gangguan tersendiri sehingga sasaran terapinya juga berbeda. Agar terapi cairan dan elektrolit kena pada sasarannya, diperlukan selain pengatahuan tentang patofisiologi penyakit, juga fisiologi dari cairan dan elektrolit tubuh kita. Berikut ini akan dibahas tentang dasar-dasar terapi cairan dan elektrolit agar sasaran terapi sesuai dengan kebutuhan penderita. KANDUNGAN CAIRAN DALAM TUBUH Jumlah total cairan tubuh (Total Body Water = TBW) seseorang bervariasi antara 55-70% dari berat badannya. Variasi ini tergantung dari banyaknya lemak yang dikandung tubuhnya. Semakin gemuk seseorang semakin kurang air yang dikandungnya, sebab lemak kurang mengandung air. Oleh karena itu, cairan tubuh pada wanita relatif kurang dibandingkan dengan pria, sebab wanita umumnya memiliki lemak lebih banyak dari pria (1). Rata-rata TBW: * Pria : 60% BB * Wanita : 55% BB Secara anatomis, cairan tubuh kita dibagi atas dua kompartemen, yakni : • Cairan intraseluler (intracellular fluid = ICF) : 40% BB • Cairan ekstraseluler (extracellular fluid = ECF) : 20% BB Kedua kompartemen tersebut di atas dipisahkan oleh dinding sel yang bersifat semipermeabel, artinya permeabel terhadap air tetapi tidak atau kurang permeabel terhadap elektrolit maupun zat -zat lainnya. Selanjutnya cairan ekstraseluler sendiri terbagi atas cairan interstisial (interstitial fluid) 15% BB, yaitu cairan yang berada diantara sel, dan cairan intravaskuler (intravascular fluid) 5% BB yaitu cairan yang berada dalam pembuluh darah. Keduanya dipisahkan oleh dinding kapiler yang terdiri dari selapis endotel. Oleh karena itu zat-zat dengan molekul kecil seperti : air,

cairan tersebut adalah cairan transeluler (transcellulair fluid) : 2% BB. cairan dalam korpus vitreum. cairan peritoneal. Pemberian cairan kristaloid isotonis. namun peranannya amat penting dalam mempertahankan hemodinamik tubuh kita. maka dapat dimengerti bahwa : 1. Sebenarnya masih ada lagi kompartemen cairan yang oleh karena jumlahnya relatif kecil dan tidak banyak berperan dalam perubahan cairan tubuh sehingga secara fungsional dapat diabaikan dalam perhitungan jumlah cairan tubuh. Jadi pemberian infus cairan tersebut akan berakhir di ruang interstisial. Anatomi cairan tubuh 2. protein plasma. atau eritrosit tidak dapat melewati dinding kapiler tersebut.elektrolit. traktus biliaris. • cairan intravaskuler : 5 % BB ♦ Cairan transeluler : 2 % BB Walaupun cairan intravaskuler atau cairan plasma hanya 5% dari BB. Dextrose 5% di dalam sel akan segera mengalami metabolisme menjadi H20 dan CO2. Pemberian cairan dextrose 5% dapat dengan mudah melewati baik dinding endotel kapiler maupun dinding sel. Dengan mengetahui struktur anatomi cairan tubuh tersebut di atas. yang terdiri dari : • cairan interstisial : 15 % BB. sedangkan zatzat dengan molekul besar seperti koloid. seperti Ringer laktat atau NaCl 0. dan glukosa mudah melewati dinding kapiler tersebut. Jadi pemberian infus dextrose 5% akan berakhir di dalam sel. pleura. cairan dalam sendi (sinovial). Cairan intraseluler Cairan ekstraseluler ! ! ! 15% ! 5% ! 12 L ! ! 4L ! Interstisiel Intravaskuler Dextrose 5% Ringer laktat NaCl 0. 2 .) ♦ Cairan intraseluler : 40 % BB ♦ Cairan ekstraseluler : 20 % BB. dan lain-lain.9% fisiologis akan mudah melewati dinding endotel kapiler tetapi tidak mudah melewati dinding sel. misalnya cairan serebrospinal. Jadi secara anatomis cairan tubuh dibagi atas : (lihat Gambar 1.9% Koloid Protein plasma Darah 40% 20 L Gambar 1.

30 SO43 PO4-Organicacids 5 Proteins 1 200 mEq/L 200 mEq/L Kation K+ 150 Anion Cl103 HCO3. sedangkan K+ dan PO4. 154 mEq/L 154 mEq/L Kation Na+ 142 153 mEq/L Kation Na+ 144 153 mEq/L Anion Cl114 HCO3. atau darah akan menetap di dalam intravaskuler.10 Proteins 40 K+ Ca++ Mg++ 4 5 3 K+ Ca++ Mg++ 4 5 2 Mg++ 40 Na+ 10 PLASMA INTERSTITIEL FLUID INTRASEL FLUID Gambar 2. TEKANAN OSMOTIK 3 .3. sebaliknya konsentrasi K+ intraseluler adalah 150 mEq/L dan Na+ 10 mEq/L. sehingga praktis dalam keadaan normal Na+ lebih banyak diluar sel dan K+ lebih banyak di dalam sel.merupakan elektrolit utama dari cairan intraseluler. Untuk menjalankan pump ini dibutuhkan energi yang diperoleh dari adenosin triphosphat (ATP). di bawah ini. Disini jelas bahwa Na+ dan Cl.27 SO4Organicacids 5 Proteins 16 Anion HPO4-SO4HCO HCO3. Komposisi elektrolit kompartemen cairan tubuh (dalam mEq/liter) Tingginya konsentrasi Na+ di luar sel dan tingginya konsentrasi K+ di dalam sel disebabkan karena setiap kali Na+ masuk ke dalam sel selalu dipompakan keluar melalui mekanisme “sodium potassium pump“. Pemberian cairan koloid. Jadi dalam keadaan normal cairan ini akan menetap dan menambah volume intravakuler untuk jangkah waktu yang cukup lama. KOMPOSISI CAIRAN TUBUH Komposisi cairan tubuh dapat dilihat pada Gambar 2. Konsentrasi Na+ cairan ekstraseluler adalah 142 mEq/L sedangkan K+ 5 mEq/L. sebab tidak dapat melewati dinding endotel kapiler kecuali dalam keadaan patologis misalnya pada keadaan kombusio.merupakan elektrolit utama dari cairan ekstraseluler. plasma.

> 1 ion Na + 1 ion Cl 1 mol Na2SO4 ------------. 1 mol NaCl ------------. Meskipun total tekanan osmotik suatu larutan merupakan penjumlahan tekanan dari masing-masing zat terlarut dalam suatu larutan.akan menghasilkan 3 milliosmol. di lain pihak 1 molekul Na2SO4 yang berionisasi penuh menjadi 2 ion Na+ dan 1 ion SO4. Oleh karena Na+ merupakan ion yang terbanyak dalam cairan + ekstraseluler. Jadi tekanan osmotik ditentukan oleh banyaknya partikel yang larut bukan tergantung pada besar molekul yang terlarut. Sebagai contoh.Tekanan osmotik suatu larutan dinyatakan dengan osmol atau milliosmol/liter. Tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh protein yang tidak dapat melewati dinding kapiler inilah yang disebut colloid osmotic pressure. Dengan kata lain tekanan onkotik dalam plasma ditentukan oleh konsentrasi protein yang larut dalam plasma. Air akan mengalir atau berpindah dari tekanan osmotik rendah ke tekanan osmotik yang tinggi sampai pada gilirannya yang kedua kompartemen tersebut memiliki effective osmotic pressure yang sama. demikian pula sebaliknya. Disamping itu zat-zat seperti protein dan glukosa yang tidak bebas melewati dinding sel juga akan menambah effective osmotic pressure.> 2 ion Na + 1 ion SO4 1 mol Glukosa ------------. Kedua kompartemen tersebut memiliki tekanan osmotik yang sama sekitar 300 milliosmol. Jadi bila terjadi kenaikan effective osmotic pressure pada cairan ekstraseluler yang biasanya akibat dari naiknya konsentrasi Na+ (hipernatremia) akan menyebabkan mengalirnya air dari intraseluler ke ekstraseluler. namun effective osmotic pressure tergantung dari partikel-partikel yang tidak dapat melewati suatu dinding yang bersifat semipermeabel. Perbedaan komposisi ion antara cairan intraseluler dan ekstraseluler dipertahankan oleh dinding sel yang bersifat semipermiabel.akan menghasilkan 2 milliosmol. misalnya : suatu molekul NaCl berionisasi penuh menjadi 1 ion Na+ dan 1 ion Cl. maka Na memegang peranan terpenting dalam menentukan tekanan osmotik cairan ekstraseluler.> 1 mol Glukosa Walaupun besar molekul glukosa lebih besar dari Na2SO4 namun tekanan osmotik yang ditimbulkan oleh 1 mol Na2SO4 lebih besar dari 1 mol glukosa. Tekanan osmotik suatu larutan ditentukan oleh banyaknya partikel yang larut dalam suatu larutan. Itulah sebabnya protein yang terlarut dalam plasma yang tidak melewati dinding kapiler merupakan faktor penentu effective osmotic pressure antara plasma (cairan intravaskuler) dengan cairan interstisiel. Air secara bebas melewati dinding sel sehingga effective osmotic pressure antara kedua kompartemen tersebut dianggap sama sehingga setiap keadaan yang mengganggu atau mengubah effective osmotic pressure kedua kompartemen akan menghasilkan redistribusi air antara keduanya. Demikian pula halnya dengan satu molekul glukosa yang tidak berionisasi menghasilkan 1 milliosmol dari suatu larutan. Dengan kata lain makin banyak partikel yang larut makin tinggi tekanan osmotik yang ditimbulkannya. Akan tetapi seandainya terjadi kehilangan volume cairan ekstraseluler tanpa perubahan konsentrasi maka hampir tidak akan terjadi 4 .

Cairan tersebut disebut sebagai cairan isotonik terhadap cairan ekstraseluler. akan tetapi senyawa ini dapat menaikkan tekanan onkotik karena tidak dapat melewati dinding kapiler.perpindahan air. Tekanan osmotik suatu larutan tergantung atas banyaknya partikel yang terlarut.7). aminofusin dan lain-lain.000 tidak dapat menaikkan tekanan osmotik yang tinggi. semakin tinggi tekanan osmotik yang ditimbulkannya. Sedangkan cairan yang lebih rendah osmolaritasnya disebut cairan hipotonik. dekstran yang memiliki berat molekul sekitar 80. KLASIFIKASI PERUBAHAN CAIRAN TUBUH Gangguan cairan tubuh dapat berupa perubahan : 1.5. Larutan garam fisiologis (NaCl 0. diare 5 . Konsentrasi 3. Namun demikian dapat juga terjadi secara terpisah atau tersendiri yang memberi gejala-gejala tersendiri pula (4. tetapi hampir tidak mempengaruhi tekanan osmotik plasma darah. TONISITAS Istilah tonisitas menggambarkan osmolaritas suatu larutan dibanding dengan larutan-larutan lainnya.Puasa yang lama .9%) dan Ringer laktat. Volume 2. infus albumin atau dekstran dapat menaikkan tekanan onkotik plasma darah. jadi semakin kecil partikelnya semakin banyak yang dapat terlarut. senyawa seperti albumin. Sebaliknya. yang terjadi hanyalah perubahan volume cairan ekstraseluler saja. Oleh karena itu. Yang paling sering dijumpai dalam klinik adalah gangguan volume. Istilah tekanan osmotik harus dibedakan dengan tekanan onkotik (oncotic pressure atau colloid osmotic pressure). tekanan onkotik diukur dengan mmHg sedangkan tekanan osmotik diukur dengan mmOsm. Selain itu.Muntah-muntah. Komposisi Ketiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. misalnya memiliki osmolaritas yang sama dengan cairan esktraseluler yakni sekitar 300 milliosmol. Sebagai contoh misalnya manitol memiliki berat molekul yang kecil sehingga dapat meningkatkan tekanan osmotik bila diberikan secara intravena. Gangguan volume dapat dalam bentuk : Hipovolemik : * Dehidrasi : . Cairan yang memiliki osmolaritas yang lebih tinggi dari osmolaritas cairan ekstraseluler disebut cairan hipertonik misalnya aminovel.

Pemberian cairan hipotonis yang berlebihan.. maka akan terjadi perubahan volume baik volume cairan ekstraseluler maupun volume cairan intraseluler. ileus obstruktif.ekstraseluler Cairan ekstraseluler 140 mEq 15 ltr Normal C. maka yang berubah atau berkurang adalah volume ekstraseluler sebab cairan yang hilang pada keadaan tersebut di atas dianggap isotonis. Dengan kata lain baik cairan ekstraseluler maupun intraseluler terjadi perubahan volume (lihat Gambar 3).intraseluler + 3 L Dex 5% C. intraseluler C. Dengan kata lain tidak akan terjadi perpindahan cairan dari ruang ekstraseluler ke intraseluler sepanjang osmolaritas kedua kompartemen tersebut tetap sama.Peritonitis.Pemberian cairan isotonis. ileus obstruktiva * Hipovolemi : . peritonitis dan lain-lain. sebab air akan mengalir dari ekstraseluler masuk ke dalam intraseluler sampai terjadi kesamaan tekanan osmotik.Kombusio Hipervolemik : * Overload : .Perdarahan akut . koloid. maka yang berubah atau bertambah adalah volume cairan ekstraseluler saja.ekstraseluler 140 mEq 30 ltr 140 mEq 18 ltr 130 mEq 32 ltr 130 mEq 16 ltr 6 .9% fisiologis atau Ringer laktat. PERUBAHAN VOLUME Apabila seorang mendapat infus berupa cairan elektrolit yang isotonis misalnya NaCl 0. Lain halnya bila penderita mendapat infus yang banyak dengan cairan hipotonis misalnya air atau Dextrose 5% (glukosa bila telah mengalami metabolisme tinggal air). Sebaliknya bila tubuh seseorang kehilangan cairan isotonis misalnya pada diare. plasma atau darah yang berlebihan * Intoksikasi air : . Cairan intraseluler 140 mEq 30 ltr + 3 L Ringer Laktat C.

konsentrasi Na+ = 130 mEq berarti terjadi defisit sebanyak 10 mEq. maka disebut hipernatremia bila konsentrasi ion Na+ lebih dari 140 mEq dan sebaliknya hipernatremia bila konsentrasi ion Na+ kurang dari 140 mEq. PERUBAHAN KOMPOSISI Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler. Normal konsentrasi ion Na+ dalam cairan ekstraseluler sebanyak 140 mEq. Hiponatremia dapat dikoreksi dengan menggunakan rumus seperti di bawah ini. Demikian pula halnya dengan gangguan ion kalsium. maka dibutuhkan Na + sebanyak = 0. tetapi sudah cukup menganggu otot jantung. apabila seseorang mendapat infus air atau glukosa 5% (glukosa setelah masuk dalam tubuh akan mengalami metabolisme sehingga tinggal air saja). PERUBAHAN KONSENTRASI Berbeda dengan keadaan di atas. tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler. Oleh karena ion Na+ merupakan ion yang terbanyak dalam cairan ekstraseluler. Sebagai contoh. Perubahan volume cairan intraseluler dan ekstraseluler. Contoh. KEBUTUHAN DASAR AIR DAN ELEKTROLIT Yang dimaksud dengan kebutuhan dasar cairan dan elektrolit ialah kebutuhan cairan dan elektrolit yang diperlukan dalam sehari tanpa aktifitas yang 7 . Jika BB = 50 kg. misalnya kenaikan konsentrasi K+ dalam darah dari 4 mEq/L menjadi 8 mEq/L. juga ion Na+ merupakan penentu perubahan konsentrasi sehingga dikenal istilah hiponatremia atau hipernatremia. maka selain Na+ merupakan ion penentu tekanan osmotik.6 x BB x 10 mEq.6 x 50 x 10 mEq = 300 mEq. Untuk mengembalikan konsentrasi Na+ menjadi normal dibutuhkan : 0. Turunnya konsentrasi Na+ dalam ekstraseluler akan menurunkan osmolaritas cairan tersebut sehingga air akan mengalir dari ruang ekstraseluler ke ruang interstisiel sampai terjadi keseimbangan kembali. khususnya Na+. dimana pada keadaan hipokalsemia (kadar Ca kurang dari 8 mEq/L).Infus 3 liter cairan isotonis hipotonis Infus 3 liter air Gambar 3. maka akan terjadi perubahan konsentrasi zat yang terlarut. sudah akan timbul kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan perubahan osmilaritas.

Pada penderita dengan febris. yaitu cairan pemeliharaan.berlebihan guna mengganti cairan yang hilang baik yang melalui urine dan faeces maupun yang hilang melalui kulit dan paru-paru yang lazim disebut sebagai insensible loss. Cairan pemeliharaan (maintenence) Cairan pemeliharaan adalah cairan yang diberikan pada seseorang sesuai dengan kebutuhan mereka selama 24 jam.3 m ) • Air bersama faeces : 100 ml --------------------------------Jumlah : 2. Telah ditetapkan bahwa jumlah kebutuhan minimal cairan selama 24 jam pada penderita dewasa tanpa febris adalah 2.500 ml = 2. Kebutuhan minimal untuk dipertahankan hemodinamik yang adekuat. 8 . maka setiap kenaikan suhu 1o Celcius. sedangkan air yang hilang melalui faeces sekitar 100 ml/hari. berat badan dan suhu.000 ml perhari. 1. Jumlah produksi urine dianggap cukup untuk membuang ampas-ampas tubuh sebagai hasil metabolisme. dan cairan koloid. cairan non. Dengan kata lain kebutuhan dasar adalah kebutuhan minimal yang dibutuhkan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang setiap harinya.500 ml Sedangkan air yang diproduksi tubuh sebagai hasil metabolisme sebanyak 350 /m2 BSA : 1. ditentukan oleh air yang hilang bersama urine dan faeces. Berdasarkan penggunaannya.000 ml/ 24jam.elektrolit. menyebabkan kenaikan kebutuhan air sebanyak 10%-15% dari total kebutuhannya. khususnya urea adalah sebanyak 1500 ml/24 jam. Jumlah cairan pemeliharaan yang dibutuhkan tergantung pada bebarapa faktor antara lain umur.500 ml • Insensible loss 1.rata 1.500 ml . JENIS CAIRAN YANG DIGUNAKAN Cairan yang umum digunakan adalah cairan elektrolit (kristaloid). dikurangi dengan air yang diproduksi tubuh sebagai hasil metabolisme. Jadi seorang penderita dengan BB = 65 kg membutuhkan air sebanyak 65 x 35 ml = 2.000 ml (penderita tanpa febris). Jadi jumlah air yang harus hilang selama 24 jam adalah : • Produksi urine per 24 jam : 1. Kebutuhan air dalam 24 jam dapat disederhanakan menjadi 35 ml/kgBB.3 x 700 ml : 900 ml 2 (luas permukaan tubuh orang Indonesia rata. cairan pengganti dan cairan defisit. Jadi jumlah kebutuhan minimal air dalam 24 jam : 2. serta yang hilang melalui kulit dan paru-paru. cairan ini dibagi atas beberapa golongan . sedangkan insensible loss untuk daerah tropis tanpa keringat : 700 ml/m2 BSA/hari.3 x 350 ml = 500 ml.

Kadar Kalium dalam plasma sangat dipengaruhi oleh keadaan asam basa dalam tubuh. terutama pada penderita yang mendapat digitalis. Kebutuhan Kalium perhari 1-2 mEq/kgBB. fascia atau ke dalam ruang interstisiel. Cairan pengganti (replecement) Cairan pengganti yang hilang oleh karena faktor sekuestrasi atau proses patologis seperti fistula. baik pada hiperkalemia maupun pada hipokalemia. yang distribusinya terutama dalam cairan intraseluler. Oleh karena itu pemberian Kalium dosis tinggi harus memenuhi beberapa persyaratan. jaringan kolagen. masih dalam perdebatan. Kadar Kalium dalam plasma berkisar 3. Kalium sebagian besar keluar tubuh bersama urine dan sebagian kecil hilang bersama faeces. Pengganti cairan yang hilang melalui drainage. asites. Cairan pengganti darah yang hilang c. Keadaaan ini dapat ditemukan pada penderita dehidrasi. sedangkan point c merupakan cairan pengganti pascabedah. Point a dan b merupakan cairan pengganti selama pembedahan. diberikan perinfus dengan 9 . • Pada operasi yang kecil diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi sebanyak 4 cc/kgBB/jam. yakni : produksi urine harus cukup. hanya sedikit yang keluar bersama faeces. Keadaaan asidosis biasanya menyertai hiperkalemia dan sebaliknya keadaan alkalosis menyertai hipokalemia.5-5 mEq/L. b. Konsentrasi K+ sangat mempengaruhi otot jantung. sebab akan memudahkan timbulnya fibrilasi ventrikel sampai henti jantung (cardiac arrest). Cairan ini dapat masuk ke dalam jaringan lemak. Natrium keluar dari tubuh bersama urine dan keringat.2. • Pada operasi yang besar diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi sebanyak 8 cc/kgBB/jam. fistel atau maag slang dan sebagainya. hipovolemik oleh karena kombusio atau pendarahan akut. Cairan pengganti ini dapat dibagi atas : a. Kadar Natrium dalam plasma berkisar 135-145 mEq/L. Cairan defisit Cairan defisit adalah kekurangan cairan yang terjadi pada seseorang sebelum melakukan tindakan. Pengganti cairan third space (sekuestrasi) Cairan third space adalah cairan yang hilang oleh karena faktor stress atau karena manipulasi pada pembedahan. • Pada operasi yang sedang diperkirakan cairan yang mengalami sekuestrasi sebanyak 6 cc/kgBB/jam. drainase lambung dan sebagainya. Kemana cairan ini hilang. KEBUTUHAN NATRIUM DAN KALIUM Kebutuhan Natrium perhari 2-3 mEq/kgBB. yang distribusinya terutama dalam cairan ekstraseluler. 3.

jika defisit cairan interstisiel diikuti dengan defisit cairan intravasculer maka gejala selain gangguan kulit dan mukosa juga disertai dengan gangguan hemodinamik . sebab setiap keadaan dehidrasi. maka gejala yang menonjol akibat defisit cairan interstisiel adalah gangguan kulit dan mukosa dengan gejala : • Turgor kulit yang jelek • Mata cekung • Ubun-ubun cekung (pada bayi dan anak) • Mukosa bibir dan kornea kering Selanjutnya.000 ml • jumlah Na / 24 jam = 65 x 2 mEq = 130 mEq • jumlah K / 24 jam = 65 x 1 mEq = 65 mEq • Pemberian kalium pascabedah dapat ditunda sampai hari ke-3 jika pada waktu itu penderita belum dapat intake oral. Dengan demikian untuk hari ke-1 dan 2 pascabedah cukup diberikan air 2.7).6.0 ml x 20 tetes = 27.000 ml dan Natrium 130 mEq.5.000 ml Ringer Laktat dan sisanya 1. Secara anatomis dehidrasi berarti defisit cairan ekstraseluler utamanya cairan interstisiel yang pada gilirannya diikuti dengan berkurangnya cairan intravaskuler.000 ml dengan jumlah tetesan : 2. Jadi dehidrasi berarti defisit air dan elektrolit.000 ml lagi dari Dextrose 5%. DEHIDRASI Perdefinisi dehidrasi berarti kekurangan atau defisit air saja tetapi dalam praktek keadaan ini hampir tidak pernah ditemukan. Gejala gangguan hemodinamik berupa : • Hipotensi • Takikardi 10 .kecepatan tidak melebihi 20 mEq/jam.7 tetes/menit = 28 tetes/menit 24 x 60 Umumnya 1 ml cairan melalui infus set biasa setara dengan 20 tetes. dan tidak lebih 200 mEq dalam 24 jam (4. Oleh karena cairan interstisiel merupakan bantalan dari jaringan dan mukosa. selain kehilangan air juga senantiasa disertai dengan kehilangan elektrolit utamanya ion natrium. Contoh Perhitungan Kebutuhan Cairan Maintenance Penderita dengan BB = 65 kg membutuhkan : • jumlah air / 24 jam = 65 x 35 ml = 2. sedangkan transfusi set setara dengan 15 tetes dan infus pediatrik (microdrips) setara dengan 60 tetes. Jadi perbandingan Dextrose 5% dan Ringer Laktat adalah 2 : 2 = 2. Natrium sebanyak 130 mEq dapat diperoleh dari 1.

Cairan yang mengalami translokasi tersebut umumnya bersifat isotonis sehingga harus diganti dengan cairan yang isotonis pula (4. sedangkan tanda-tanda intravaskuler belum nampak.5 m2 sehingga setiap penebalan peritoneum 2-3 mm saja dapat mengandung cairan dan elektrolit sebanyak 3-5 liter. Sedangkan pada peritonitis. Pada kasus ileus obstruktif. translokasi cairan dan elektrolit terjadi dalam peritoneum. translokasi cairan dan elektrolit terjadi pada lumen usus yang dapat mencapai 5-8 liter. Output yang banyak : • Penguapan dari kulit dan paru -paru : febris tinggi. Dehidrasi sedang (defisit 8% BB) Tanda-tanda interstisiel jelas disertai tanda-tanda intravaskuler yang minimal. Tergantung dari jenis cairan yang hilang maka dehidrasi dapat dibedakan atas dehidrasi isotonis. 1. maka dehidrasi dapat dibagi atas : 1. berkeringat banyak • Diuresis yang banyak • Muntah-muntah. peritonitis Pada keadaan ileus obstruktif dan peritonitis. Seperti diketahui bahwa luas peritoneum sekitar 1-1. 2. Dehidrasi ringan (defisit 4% BB) Tanda-tanda interstisiel minimal. misalnya pada : • Ileus obstruktif • Peritonitis • Diare • Berkeringat banyak 11 .• • • • Vena-vena mengkerut (kolaps) Capillary refilled time memanjang Oliguri Syok (renjatan) Etiologi dari suatu dehidrasi dapat disebabkan oleh karena intake air dan garam yang kurang atau oleh karena output air dan garam terlalu banyak. walaupun tak nampak adanya cairan elektrolit yang keluar dari tubuh. Intake kurang : • Tidak minum dan makan .6).5. Jenis-jenis dehidrasi dan penyebabnya. dehidrasi hipertonis dan dehidrasi hipotonis (lihat Tabel 1). Syok (defisit lebih dari 12% BB) Tabel 1. 3. 4. Dehidrasi isotonis. namun dehidrasi berat dapat terjadi akibat banyak cairan dan elektrolit yang mengalami perpindahan tempat (translokasi). 2. diare • Translokasi air dan elektrolit pada : ileus obstruktif. Ditinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan elektrolit yang hilang. Dehidrasi berat (defisit 12% BB) Tanda-tanda interstisiel dan intravaskuler semakin jelas.

000 ml) diberikan dalam 8 jam pertama. RESUSITASI CAIRAN DAN ELEKTROLIT PADA LUKA BAKAR Kalau luka bakar luasnya 20% pada orang dewasa dan kurang dari 10% pada anak-anak. Yang terpenting dari segalanya adalah pemantauan (monitoring) yang ketat tentang keadaan penderita selama terapi dilakukan (7).000 ml.000 ml) diberikan dalam 16 jam berikutnya. misalnya pada : • Rehidrasi dengan Dextrose 5% yang belum cukup • Gangguan reabsorpsi Na Perlu ditekankan disini bahwa perkiraan defisit di atas tidak selalu tepat. misalnya pada : *0 Febris yang tinggi *1 Puasa *2 Trakeostomi tanpa humadifikasi *3 Hiperelementasi lama *4 Poliuri • dan lain-lain Dehidrasi hipotonis. Contoh kasus : Seorang laki-laki umur 35 tahun dengan BB = 50 kg menderita peritonis dan mengalami dehidrasi berat. 12 . Jumlah perkiraan defisit = 12% BB (dehidrasi berat). 2. b) Agar gangguan hemodinamik cepat teratasi maka 1 jam pertama diberikan 20 ml/kgBB. Sedangkan 50% sisanya (3.000 ml. 3. sebab yang penting adalah adanya pedoman atau patokan untuk segera memulai tindakan. Jadi jumlah defisit = 50 kg x 12% = 6 liter = 6. maka umumnya tidak diperlukan resusitasi cairan. Resusitasi cairan dan elektrolit dilakukan bila luas luka bakar lebih dari 20% pada orang dewasa atau lebih dari 10% pada anak-anak.• • Fistel usus dan lain-lain Dehidrasi hipertonis. Bagaimana resusitasi cairannya ? caranya : 1. Pemilihan jenis cairan adalah Ringer laktat oleh karena yang terjadi adalah dehidrasi isotonis. maka dalam 1 jam pertama diberikan = 20 ml x 50 = 1.000 ml (3. Teknik pemberian cairan adalah : a) Setengah (50%) dari 6.

Keuntungan dari Ringer Laktat ialah : • Ringer Laktat adalah larutan garam yang seimbang. Contoh : Seorang dengan BB = 50 kg mengalami luka bakar dengan luas luka bakar 50%. Cara pemberian cairannya adalah sebagai berikut : Jumlah cairan yang dibutuhkan = 4 ml x 50 x 50 = 10.5 ml/kgBB/% Dextrose 5% 2. permeabilitas tadi sudah pulih kembali dalam 18 jam sehingga pemberian koloid diberikan lebih awal. Jadi.000 ml 2. • Cairan RL gampang diperoleh. maka luas luka bakar diperhitungkan maksimal 50%. Separuh diberikan dalam 16 jam berikutnya. sepanjang kehilangan Hb tidak melebihi 10% dari keseluruhannya. Pemberian koloid dalam 24 jam pertama menurut banyak ahli tidak dapat dibenarkan.000 ml (10 liter/24 jam). • Kadar K+ dalam RL sebesar 4 mEq/L dapat ditolerir oleh tubuh.5 ml/kgBB/% 2. • Dengan NaCl 0. Pada anak-anak. permeabilitas kapiler-kapiler sudah hampir pulih kembali dan pemberian koloid baru dapat dibenarkan untuk dapat mempertahankan tekanan osmotik koloid dengan batas normal. Elektrolit + koloid + dextrose : Elektrolit Evans (1952) 1 ml/kgBB/% NaCl 0. Separuh dari volume tersebut diberikan dalam 8 jam pertama setelah terjadi kebakaran dan bukan setelah saat permulaan pengobatan. Dengan cara ini diperlukan monitoring berupa produksi urin dan 13 .000 ml b.000 ml 2. Dengan menggunakan formula di atas. 5 liter harus habis dalam 8 jam pertama dan 5 liter dalam 16 jam berikutnya.9% (kadar Na+ 145 mEq) maka kadar Na+ dalam serum akan meninggi dapat menambah beratnya asidosis. Pemberian darah dalam 24 jam pertama tidak diperlukan walaupun pada luka bakar terjadi hemolisis. asidosis dapat dikurangi. • Dengan pemberian RL.9% Brooke (1953) 1. Ini mendekati komposisi dari cairan ekstraseluler. sebab zat-zat koloid akan lolos melalui kapiler-kapiler yang rusak tadi. Caranya : jumlah cairan yang dipergunakan diperhitungkan menurut persentase luas luka bakar.4.5 ml/kgBB/% Ringer Laktat Mount Vermon Koloid 1 ml/kgBB/% 0. Hanya Ringer Laktat : cara yang populer dilakukan adalah : Formula Baxter / Parkland (1974) : 4 ml/kgBB/% luka bakar.Berbagai formula yang dapat dipakai antara lain : a. sebab penambahan darah akan meninggikan viskositas darah. • Perbandingan laktat (sebagai Bikarbonat) terhadap klorida adalah 27 : 103 dan pHnya 7. Sesudah 24 jam.

500 ml. Baxter menganjurkan : a. cairan sedapat mungkin diberikan secara oral pada hari ke-2.5 ml/kgBB/% luka bakar Setelah 48 jam. Dan ini harus diganti.000 ml/24jam. sedangkan pada luka bakar lebih dari 70% diberikan koloid 1. Jika cairan per os belum memungkinkan. 2. 14 .7 = 125 ml/jam atau 24 x 125 = 3. Pemilihan cairan dan elektrolit yang tersedia didasarkan atas patofisiologi penyakit yang diderita oleh penderita. 3.3 ml/kgBB/% luka bakar • pada luka bakar lebih dari 70% adalah 0. koloid sudah dapat diberikan karena permeabilitas membran kapiler sudah pulih kembali. Pada luka bakar kurang dari 50% diberikan koloid 500 ml. Pemahaman tentang anatomi cairan tubuh yang terdiri atas cairan intraseluler dan cairan ekstraseluler dengan komposisi elektrolit yang berbeda.000 ml/24 jam. Hal yang perlu diperhatikan dalam resusitasi cairan adalah : monitoring ketat sangat diperlukan pada 24 jam pertama untuk mengetahui apakah resusitasi cairan yang dilakukan cukup atau tidak. b. Pada 24 jam kedua.5 . dan terutama produksi urine (0. KESIMPULAN Prinsip dasar terapi cairan dan elektrolit adalah : 1. Untuk memperhitungkan jumlah cairan yang menguap tadi dapat digunakan formula : (25 + % luas luka bakar) x m2 luas permukaan tubuh = perkiraan jumlah cairan yang menguap perjam dalam mililiter.tekanan vena sentralis (CVP) untuk mengetahui apakah perfusi tetap terjadi dan tidak overload cairan.1 ml/kgBB/jam) merupakan parameter yang obyektif. Pada hari ke 2. Tekanan darah. Formula lain dari pemberian koloid ini adalah : • pada luka bakar 30-50% adalah 0. Koloid diberikan dalam bentuk Dextran atau Plasma. maka tubuh masih kehilangan plasma melalui luka bakar. apabila kehilangan akut sudah diatasi.5. Pemberian glukosa bertujuan untuk : • kebutuhan metabolisme • mengganti cairan yang hilang melalui sekuestrasi • memudahkan ekskresi sodium sehingga kadar serum sodium menjadi normal (138-142 mEq/L) c. Contoh : luas luka bakar 50% dengan luas permukaan tubuh 1.000 . maka infus dipertahankan dengan Dextrose 5% sebanyak 2. Penambahan atau pengurangan cairan dan elektrolit tubuh ditujukan untuk mengembalikan volume cairan dan komposisi elektrolit kebatas yang normal. nadi.7 m2 maka penguapan = (25 + 50) x 1. disamping kebutuhan cairan seharinya. Jika keadaan umum memungkinkan.

15 .4. Keberhasilan terapi cairan dan elektrolit dapat dilihat dari hasil pengamatan hemodinamik dan komposisi elektrolit darah dari penderita.

ASA refresher course in Anaesthesiology. 4. Medical post graduate. 6. Ahlgen EW. Makalah “Simposium Cairan Tubuh”. Seattle. 2. Effect of Counterpressureon Haemodymanic During Shock. Mengatasi Perdarahan dalam Pembedahan dengan Cairan. Revision. Surgery. Vigilio RW. 1979. 5. Messmer K. Post Operative Autoblood Transfusion. September 1981. 1970. University of Washington. Anaesthesiology. Surgery Under Hemodilution. Crystalloid vs Colloid Resuscitation. 1979 : 1. Crystalloid versus Colloid Fluid Theraphy in Hemorrhagic Shock. Massion WH. 1979. 85:2 : 129-139. 16 . 1969: 4326.DAFTAR PUSTAKA 1. 15 : 6. September 1981. Universitas Airlangga. is one letter. 7. Rational Fluid Theraphy for Children. Scribner BH. Anaesthesiology. University Book Store. Wirjoatmojo K. 55 : 3. Masud ZK. 3. 55 : 3. Fluid and Electrolyte Balance.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful