Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Sistem koloid berhubungan dengan proses – proses di alam yang mencakup berbagai bidang. Hal itu dapat kita perhatikan di dalam tubuh makhluk hidup, yaitu makanan yang kita makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh tubuh. Namun lebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid. Juga protoplasma dalam sel – sel makhluk hidup merupakan suatu koloid sehingga proses – proses dalam sel melibatkan sitem koloid. Dalam kehidupan sehari-hari ini, sering kita temui beberapa produk yang merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat bercampur secara merata/ homogen. Misalnya saja saat ibu membuatkan susu untuk adik, serbuk/ tepung susu bercampur secara merata dengan air panas. Kemudian, es krim yang biasa dikonsumsi oleh orang mempunyai rasa yang beragam, es krim tersebut haruslah disimpan dalam lemari es agar tidak meleleh. Kesemuanya merupakan contoh koloid. Udara mengandung juga sistem koloid, misalnya polutan padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap dan debu. Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut merupakan sistem koloid. Mineral – mineral yang terdispersi dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh – tumbuhan juga merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran yang melekat (minyak). Campuran logam selenium dengan kaca lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna merah merupakan sistem koloid. Selain itu, sistem koloid juga dapat berguna bagi tanah, baik secara langsung maupun tidak langsung.

1

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

1.2.Tujuan Koloid memiliki banyak kegunaan. Salah satu diantaranya adalah koloid dapat berguna bagi tanah. Aplikasi koloid akan dibahas lebih lanjut terkait pada hubungannya dengan keadaan tanah. Hal ini ditujukan agar pemahaman akan hubungan koloid dengan ilmu tanah dapat lebih ditingkatkan lagi.

2

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Koloid Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm. Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang, lebar, maupun tebal dari suatu partikel. Contoh lain dari sistem koloid adalah adalah tinta, yang terdiri dari serbuk-serbuk warna (padat) dengan cairan (air). Selain tinta, masih terdapat banyak sistem koloid yang lain, seperti mayones, hairspray, jelly, dll. Keadaan koloid atau sistem koloid atau suspensi koloid atau larutan koloid atau suatu koloid adalah suatu campuran berfasa dua yaitu fasa terdispersi dan fasa pendispersi dengan ukuran partikel terdispersi berkisar antara 10-7 sampai dengan 10-4 cm. Besaran partikel yang terdispersi, tidak menjelaskan keadaan partikel tersebut. Partikel dapat terdiri atas atom, molekul kecil atau molekul yang sangat besar. Koloid emas terdiri atas partikel-partikel dengan bebagai ukuran, yang masing-masing mengandung jutaan atom emas atau lebih. Koloid belerang terdiri atas partikel-partikel yang mengandung sekitar seribu molekul S8. Suatu contoh molekul yang sangat besar (disebut juga molekul makro) ialah haemoglobin. Berat molekul dari molekul ini 66800 s.m.a dan mempunyai diameter sekitar 6 x 10-7 Ciri-ciri koloid yaitu : • Terdiri dari 2 fase • Keruh • Terdapat diantara homogen dengan heterogen • Memiliki diameter partikel: 1 nm<d<100 nm
3

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

• Tidak dapat disaring dengan penyaring biasa, melainkan dengan penyaring ultra • Tidak memisahkan jika didiamkan 2.2. Koloid Tanah Koloid tanah adalah bahan organik dan bahan mineral tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat. Koloid tanah terdiri dari liat (koloid anorganik) dan humus (kolod organik). Koloid berukuran kurang dari 1 µ, sehingga tidak semua fraksi liat (kurang dari 2 µ) termasuk koloid. Sifat-sifat koloid tanah:   Koloid : Ukuran partikel semakin kecil luas permukaan akan semakin besar. Efeknya adalah proses-proses yang penting dalam tanah terjadi misal penyerapan hara, penyerapan air

Koloid didominasi oleh mineral phyllosilicates, koloid organik, hydrous oxides dari Fe, Al dan Mn

2.2.1. Koloid Anorganik Koloid anorganik terdiri dari mineral liat Al-silikat, oksida-oksida Fe dan Al, mineral-mineral primer. Mineral liat Al-silikat mempunyai bentuk kristal yang baik misalnya kaolinit, haolisit, montmorilonit, ilit. Kaolinit dan haolisit banyak ditemukan pada tanah-tanah merah (coklat) yaitu tanah-tanah yang umumnya berdrainase baik, sedangkan montmorilonit ditemukan pada tanah-tanah yang mudang mengembang dan mengerut serta pecah-pecah pada musim kering misalnya tanah vertisol. Ilit ditemukan pada tanah-tanah berasal dari bahan induk yang banyak mengandung mika dan belum mengalami pelapukan lanjut. Adanya muatan negatif pada mineral

4

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

liat disebabkan oleh beberapa hal yaitu : (1) Kelebihan muatan negatif pada ujungujung patahan kristal baik pada Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron, (2) Disosiasi H+ dari gugus OH yang terdapat pada tepi atau ujung kristal, (3) Substitusi isomorfik. Pada mineral liat Kaolinit masing-masing unit melekat dengan unit lain dengan kuat (oleh ikatan H) sehingga mineral ini tidak mudah mengembang dan mengerut bila basah dan kering bergantian. Substitusi isomorfik sedikit atau tidak ada sehingga kandungan muatan negatif atau KTK rendah. Muatan negatif hanya pada patahan-patahan kristal atau akibat disosiasi H bila pH naik. Karena itu, muatan negatif mineral ini meningkat bila pH naik (muatan tergantung pH). Keadaan ini berbeda dengan mineral liat Montmorilonit dimana masingmasing unit dihubungkan dengan unit lain oleh ikatan yang lemah (oksigen ke oksigen) sehingga mudah mengembang (bila basah) dan mengerut (bila kering). Hal ini karena air (dan kation-kation) dan masuk pada ruang-ruang antar unit tersebut. Dalam proses pembentukan montmorilonit banyak Al3+ dalam Al-oktahedron yang disubstitusi oleh Mg2+ sehingga banyak menghasilkan kelebihan muatan negatif. Kecuali itu ruang-ruang antar unit yang mudah dimasuki air internal surface yang aktif disamping sisi-sisi luar (external surace) dan ujung-ujung patahan. Karena itu montmorilonit mempunyai muatan negatif yang tinggi (KTK tinggi). Mineral ini pada pH kurang dari 6,0 hanya mengandung muatan tetap hasil substitusi isomorfik, tetapi bila pH lebih dari 6,0 maka terjadi muatan tergantung pH. Illit umumnya terbentuk langsung dari mika melalui proses alterasi. Mineral ini dapat menfiksasi K yang diberikan atau yang ada dalam larutan tanah. Adanya substitusi Si4+ dari Si-tetrahedron oleh Al3+ menyebabkan muatan negatif mineral ini cukup tinggi. Pada mineral lempung, ada beberapa sifat kembang kerut mineral lempung seperti :

Terjadi jika air masuk ke dalam lapisan clay mineral sehingga bertambah beberapa nanometer; akan meningkatkan volume dari clay.

5

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7  

Untuk terjadinya swelling, air harus masuk ke interlayer. Swelling artinya (1) pada interlayer memungkinkan proses seperti KPK, penyerapan air. (2) clay akan mengembang sehingga luas permukaan lebih besar per unit berat terhadap larutan tanah sehingga lebih rekatif secara kimia.

Swelling tergantung pada tipe mineral, unit-layer charge of the clay* dan sifat alami dari cation interlayer.

Mineral 1:1

Satu permukaan adalah oksigen (dari tetrahedra), satu permukaan adalah hydroxyl (dari oktahedra)

 

Oksigen merupakan elemen yang bersifat elektrofilik (electron-loving) Terjadi ikatan hidrogen (kalau tunggal lemah, tetapi banyak akan sangat kuat) yang mencegah mineral 1:1 untuk berkembang kerut

Mineral 2:1 

Satu permukaan oksigen, permukaan yang lain juga oksigen Pada mineral 2:1 unsubstitute, lapisan yang berdekatan akan saring menarik karena adanya gaya van der Waals yang lemah

Pada mineral 2:1 substitute, layer yang berdekatan saling menarik karena adanya tarikan pada kation interlayer dan gaya van der Waals

Swelling akan sangat tergantung pada ikatan antar 2 lapisan yang berdekatan. Pada mineral 2:1 unsubstitute ikatan tersebut lemah sehingga air tidak masuk ke interlayer.

Mineral 2:1 unsubtitute secara alami bersifat hidrofobic (water repelling). Karena tidak ada kation di interlayer yang menjadi subyek untuk terhidrasi maka sifat hidrofilik-nya (water-loving) terletak pada >SiOH (hasil dari ketidakteraturan kristal)

6

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7 

Pada mineral 2:1 substitute, affinitas tergantung dari tarikan muatan negatif (pada 2 sisi) dengan kation interlayer. Derajad ikatan merupakan fungsi dari banyaknya isomorphous substitution dan ukuran kation interlayer terhidrasi

Jika affinitas layer ke kation interlayer kuat, akan terjadi air tidak dapat masuk ke interlayer, menghidrasi kation interlayer dan mengikat bagian hidrofilik. Jika affinitas lemah, air akan masuk dan terjadi swelling karena meningkatnya hidrasi kation interlayer dan pembasahan bagian hidrofilik. Hidrofilik pada interlayer berupa penarikan/pengikatan air oleh kation sebagai hidrasi air dan adanya >SiOH

Mika  Mempunyai unit-layer charge tinggi (k.l. 2) karena banyaknya isomorphous substitution 

Negatif charge diimbangi oleh adanya kation misal K atau Ca Besarnya unit-layer charge menyebabkan kation terikat kuat, air tidak dapat masuk sehingga tidak terjadi swelling dan kation tidak dapat tertukar (non exchangeable) (kecuali ada pelapukan)

Smectites atau Montmorilonit

Mempunyai unit-layer charge rendah (0.5-0.9) sehingga kekuatan penarikan lebih rendah dari illit, vermikulit dan mika

Kation akan terikat lemah dalam interlayer sehingga semua kation akan mudah tertukar

Illit dan Vermiculites

7

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

Unit-layer charge rendah (1.0-1.5) sehingga bersifat hanya mengikat kation ukuran tertentu saja dengan sangat kuat, air tidak masuk dan mencegah swelling.

K+ dan NH4+ karena ukuran hidrasi kecil maka dapat masuk “hole” (hole merupakan hasil dari ring pattern pada tetrahedron dalam lembar terahedral). Karena itu, kation akan dekat dengan sumber muatan negatif, jarak antar layer akan dekat sehingga pengikatannya sangat kuat.

Ca+ dan Mg+ karena ukuran hidrasinya besar maka tidak dapat masuk ke “hole”. Selain itu akan menyebabkan jarak antar layer jauh sehingga penarikan kation rendah, air dapat masuk dan terjadi swelling. Kation akan dapat terukar.

Illit ditemukan dalam tanah umumnya mengikat K+ sehingga mineral ini tidak berswelling. Vermiculite sangat banyak mengandung Ca+ dan Mg+ sehingga mineral ini berswelling. Vermikulit tidak berswelling kalau kationnya tertukar oleh K.

2.2.2. Koloid Organik Koloid organik adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organik (humus) dengan koloid anorganik (liat) adalah bahwa koloid organik (humus) terutama tersusun oleh C, H dan O sedangkan liat terutama tersusun oleh Al, Si dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai KTK yang lebih tinggi daripada mineral liat (lebih tinggi dari montmorilonit), dan lebih mudah dihancurkan jika dibandingkan dengan liat. Sumber muatan negatif dari humus terutama adalah gugusan karboksil dan gugusan phenol. Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Dalam keadaan masam, H+ dipegang kuat dalam gugusan karboksil atau phenol, tetapi iktan tersebut menjadi kurang kekuatannya bila pH menjadi lebih tinggi. Akibatnya disosiasi H+ meningkat dengan naiknya pH, sehingga muatan negatif dalam koloid humus yang dihasilkan juga meningkat. Berdasar atas

8

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

kelarutannya dalam asam dan alkali, humus diperkirakan disusun oleh tiga jenis bagian utama, yaitu asam fulvik, asam humik dan humin. Humus menyusun 90% bagian bahan organik tanah (Thompson & Troeh, 1978). Humus adalah campuran senyawa yang kompleks (tersusun oleh asam fulfat, humat, humin, ligno protein, dan lainnya), mempunnyai sifat cukup resisten terhadap perombakan jasad renik (mikroorganisme), bersifat amorf (tidak mempunyai bentuk tertentu), berwarna coklat hitam, bersifat koloid (< 1 µm dan bermuatan) dan berasal dari proses humifikasi bahan organik oleh mikroba tanah. Humus terdiri dari dua senyawa utama yaitu substansi non humus (seperti lipid, asam amino, dan karbohidrat) dan substansi humus (seperti senyawa amorf dengan berat molekul tinggi, warna coklat sampai hitam, hasil pembentukan kedua dari dekomposisi). Substansi humus mempunyai kontribusi dalam pertukaran anion dan kation, kompleks atau khelat beberapa ion logam, berperan sebagai pH buffer, sebagai pembentuk horison tanah, pembentukan struktur tanah melalui sementasi, sebagai mantel partikel sehingga tidak dapat terlapukkan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, substansi humus dibagi menjadi 3 yaitu :

Humid acid atau asam humik Berwarna gelap dan amorf, dapat diekstrasi (larut) dengan basa kuat, garam netral dan tidak larut dalam asam, mengandung gugus fungsional asam seperti phenolic dan carboxylic, aktif dalam reaksi kimia.

Fulvic acid atau asam fulvat Dapat diekstrasi dengan basa kuat menjadi gugus fungsional asam, dapat larut dalam asam karena mengandung gugus fungsional basa, aktif dalam reaksi kimia, paling kecil.

Humin

9

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

Tidak larut dalam asam dan basa, tidak aktif, warna paling gelap, berat molekul paling besar dibandingkan asam humik dan asam fulvat. Table. Composition of humic and fulvic acids (percent)

Element C O H N S

Humic acid 50-60 30-35 4-6 2-6 0-2

Fulvic acid 40-50 44-50 4-6 <2-6 0-2

Adsorption Adsorption adalah proses di mana atoms, molekul, atau ion terbawa ke atas dan ditahan di atas permukaan tanah oleh ikatan kimia atau fisik (e.g., the adsorption of cations by negatively charged minerals) (Glossary of Soil Science Terms, SSSA, 1987) Berbagai gaya yang mempengaruhi adsorpsi adalah : 1. van der Waals forces
2. Coulombic or Electrostatic Attraction : gaya elektrostatik yang dihasilkan

dari tarik menarik antara 2 ion yang berbeda muatan, contohnya tarik menarik kation dengan muatan negatif pada clay minerals

10

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7 3. Charge Trasfer : terjadi karena adanya kompleks donor-acceptor antara

molekul electron-donor dan molekul electron-acceptor. Contohnya : ikatan hidrogen dan ikatan π
4. Dipole-Dipole and Dipole-Induced Dipole. Dipole adalah molekul yang

mempunyai muatan positif dan negatif yang dipisahkan oleh jarak tertentu (misal molekul air). Hasilnya adalah unequal sharing of electrons Cation Exchange Capacity (CEC/KPK)
 

Merupakan hasil netralisasi muatan negatif koloid tanah Kation diikat oleh permukaan koloid dengan Coulombic attraction, van der Waals forces, dan induced dipoles

KPK berguna untuk mengetahui kesuburan tanah, kemungkinan pemberian pupuk, mengethaui tipe clay mineral

Pengukuran KPK dengan menggunakan (1) 1 M ammonium acetate pada pH 7 dan (2) 0.25 barium chloride dengan triethanolamine pada pH 8.2 (see

Hardjowigeno, 1987 p. 65-66; Sanchez, 1976 for further explanation)

KPK dinyatakan dalam me/100 gr tanah atau me/100 gr clay atau me% Untuk tanah dengan BO rendah, KPK diekspresikan sebagai proporsi dari clay: KPK (me/100 g clay) = KPK (me/100 g tanah) x 100% clay

Satu ekuivalen merupakan jumlah yang setara dengan 1 g hidrogen. Jumlah atom dalam setiap ekuivalen = 6.02 x 1023

  

1 me = 1 mg H = 6.02 x 1020 1 me dapat diubah menjadi satuan berat misal ppm. Contoh
11

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

1 me H = 1 mg (BA H = 1; valensi 1) 1 me Na = 23 mg (BA Na = 23; valensi 1) 1 me Ca = 40/2 (BA Ca = 40; valensi 2) Bila, K = 0,6 me/100 g = 0,6 x 39 mg/100 g = 23,4 mg/100.000 mg = 234 mg/1.000.000 mg = 234 ppm Kejenuhan Basa/KB (Base Saturation)

Konsentrasi suatu kation dikontrol oleh konsentrasi kation tersebut terhadap konsentrasi semua kation pada kompleks pertukaran

Misal konsentrasi H+ merupakan fungsi dari perbandingan H+ dengan semua kation pada kompleks pertukaran

Note : H+ dapat diproduksi dengan menghidrolisis air dengan Al3+ umumnya terjadi pada tanah dengan pH<5.5 (Lihat exchangeable Al). Jadi konsentrasi H+ pada kompleks pertukaran merupakan fungsi pertukaran H+ dan Al3+.

Maka, H+ dan Al3+ merupakan kation asam (acidic cations) sedang Ca2+, Mg2+, Na+, K+, atau NH4+ merupakan kation basa (basic cation)

Kejenuhan basa menunjukkan kesuburan tanah. Menurut FAO-UNESCO (1974):

KB berdasar extraksi ammonium acetate pada kedalaman 20-50 cm digolongkan menjadi (1) > 50% : eutric (tanah subur), (2)> 50% : dystrics (tanah kurang subur).

12

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

Penggolongan yang umum adalah (1) <20 : rendah, (2) 20-60 sedang, (3) >60 : tinggi

KB (%) = konsentrasi kation basa tertentu x 100% KPK (CEC) Anion Exchange  Adsorbsi anion dikarenakan tarikan elektrostatik dari muatan positif permukaan koloid atau reaksi spesifik anion dengan permukaan adsorbsi (misal penggantian hidroksil dari hidroksida logam)

Permukaan oksida-hidroksida logam (Fe dan Al hidroksida dan oksida) dan juga muatan bergantung pH pada clay mineral merupakan senyawa amphoter

Muatan sangat tergantung dari perubahan pH. Misalnya hematit (αFe2O3) bermuatan netral pada pH mendekati 7. Jika pH lebih dari 7 maka >FeOH akan terdisosiasi menghasilkan muatan negaif dan ion hidrogen. Jika pH kurang dari 7 maka >FeOH akan bereaksi dengan ion hidrogen sehingga menghasilkan muatan positif yang akan menarik anion (lihat gambar)

Oksida-hidroksida logam sering berada sebagai mantel (coating) bagi permukaan clay dan juga pada lapisan interlayer

Adsorption of Organic Compounds  Organic compounds : herbisida dan pestisida dapat dibedakan secara kimia menjadi 3 : kation, netral, anion  Kemampuan clay mineral mengikat organic compound tergantung dari kemampuan mineral untuk berswelling dan klas dari organic compounds (bentuk kation, anion atau netral)
13

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7 

Adsorpsi dikarenakan adanya Coulombic attraction/electrostatic dan dipole-induced dipole forces

Adsorpsi pada external surface (reversible) tidak kuat dibanding pada interlayer (irreversible)

Organic netral : organic netral harus mempunyai derajad polaritas. Semakin tinggi polaritas maka semakin mudah masuk interlayer

Penyerapan organic compound oleh soil organic matter dipengaruhi oleh pH dependent charge; bersifat reversible (karena tidak ada interlayer)

Model pertukaran kation. 1. Kation mempunyai energi panas sehingga terdapat seperti hemisphere of motion disekitar permukaan koloid

Pertukaran kation terjadi apabila ion yang berada dalam larutan tanah bergerak ke hemisphere motion (hemisphere motion dihasilkan oleh kation yang terikat oleh koloid) suatu kation bertepatan dengan kation tersebut jaraknya jauh dari permukaan koloid. Akhirnya ion tadi tertangkap oleh muatan negatif sedang kation akan bergerak ke larutan tanah

Faktor yang berpengaruh terhadap distribusi kation antara larutan tanah dengan permukaan koloid adalah (1) konsentrasi kation dalam larutan tanah, (2) valensi dari kation yang tertukar, (3) hydrated-size dari kation, (4) kepadatan muatan pada permukaan koloid

Model 2 : Mass-Action Model

Misal, 2Na-clay + Ca2+ (aq) ↔ Ca-clay + 2 Na+ (aq)

14

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

Apabila konsentrasi Ca2+ (aq) pada larutan tanah meningkat maka reaksi bergerak ke kanan, sehingga konsentrasi Ca pada clay meningkat sambil melepaskan ion Na ke larutan tanah.

Jika konsetrasi ion Ca menurun, maka reaksi bergerak ke kiri sehingga ion Ca terlepas ke larutan tanah

2.3. Aplikasi Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Seperti yang telah dibahas sebelumnya, humus merupakan koloid organik pada tanah yang tersusun dari tiga substansi yaitu asam humik, asam fulvat, dan humin. Berdasarkan penelitian Minardi (2006) dinyatakan bahwa asam fulvat mempunyai peran yang lebih besar daripada asam humat dalam pelepasan unsur fosfat (P) dalam tanah. Hal ini sebabkan akibat mobilitas asam humat yang lebih rendah dari asam fulvat. Selain itu, substansi humus juga mempunyai kontribusi dalam pertukaran anion dan kation, kompleks atau khelat beberapa ion logam, berperan sebagai pH buffer, berperandalam pembentukan horison tanah dan pembentukan struktur tanah melalui sementasi, sebagai mantel (coat) partikel sehingga tidak dapat terlapukkan. Humic acid (asam humik) dan Fulvic acid (asam fulvat) merupakan koloid hidrofilik sehingga mempunyai affinitas tinggi terhadap air. Hal ini diakibatkan keduanya mempunyai muatan negatif karena adanya disosiasi gugus fungsional karboksil dan phenolic. Muatan negatif akan dinetralisir oleh kation misalnya Ca2+ dan Mg2+. KPK (Kapasitas Tukar Kation) atau CEC (Cation Exchange Capacity) merupakan hasil netralisasi muatan negatif koloid tanah. KPK itu sendiri dapat berguna untuk mengetahui kesuburan tanah, kemungkinan pemberian pupuk, dan mengetahui tipe clay mineral.

BAB III

15

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

KESIMPULAN

koloid berhubungan dengan proses – proses di alam yang mencakup berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pertanian didalam tanah. Koloid itu sendiri merupakan suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Koloid tanah adalah bahan organik dan bahan mineral tanah yang sangat halus sehingga mempunyai luas permukaan yang sangat tinggi persatuan berat. Koloid tanah terdiri dari liat (koloid anorganik) dan humus (kolod organik). Koloid anorganik terdiri dari mineral liat Al-silikat, oksida-oksida Fe dan Al, mineral-mineral primer. Sedangkan koloid organik adalah humus. Perbedaan utama dari koloid organik (humus) dengan koloid anorganik (liat) adalah bahwa koloid organik (humus) terutama tersusun oleh C, H dan O sedangkan liat terutama tersusun oleh Al, Si dan O. Humus bersifat amorf, mempunyai KTK yang lebih tinggi daripada mineral liat (lebih tinggi dari montmorilonit), dan lebih mudah dihancurkan jika dibandingkan dengan liat. Sumber muatan negatif dari humus terutama adalah gugusan karboksil dan gugusan phenol. Muatan dalam humus adalah muatan tergantung pH. Koloid memiliki banyak peranan dalam tanah, seperti kontribusi substansi humus dalam pertukaran anion dan kation, kompleks atau khelat beberapa ion logam, berperan sebagai pH buffer, berperandalam pembentukan horison tanah dan pembentukan struktur tanah melalui sementasi, sebagai mantel (coat) partikel sehingga tidak dapat terlapukkan.

DAFTAR PUSTAKA

16

Kimia Koloid Tanah dalam KTNT Kelompok 7

Agrica. 2008. Koloid Tanah. Available at http://agrica.wordpress.com/ diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 21.08. Anonim. 2009. Koloid Tanah. Available at http://ilmutanahuns.files.wordpress.com/ diakses pada 10 Oktober 2009 pukul 10.10. Ariyanto, Dwi Priyo. 2006. Ikatan Antara Asam Organik Tanah dengan Logam. Available at http://ariyanto.staff.uns.ac.id/ diakses pada 10 Oktober 2009 pukul 07.29. Cahyono, Agus. Koloid Tanah. Available at http://elisa.ugm.ac.id/files/cahyonoagus/2jXCfyXq/KOLOID %20TANAH.ppt diakses pada 10 Oktober 2009 pukul 10.30. Libraryon. 2009. Sistem Koloid. Available at http://libraryon.blogspot.com/ diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 21.12. Wahyinungsih, Fajriyatin. 2009. Koloid, Suspensi, Larutan (Kimia). Available at http://nuranimahabbah.woedpress.com/ diakses pada 9 Oktober 2009 pukul 21.10.

17

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful